31 Januari 2026

Kapal Fregat TCG İzmir dan TCG İçel dari Turki Bakal Perkuat TNI AL

31 Januari 2026

Fregat kelas I TCG Izmir 516 (photo: Donanim Haber)

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Kapal fregat kelas I (I class, Istanbul class atau Istif class) TCG Izmir dan TCG Icel yang menjadi kebanggaan Angkatan Laut Turki, meraih kesuksesan besar di panggung internasional. Kini, di bidang industri pertahanan, Turki telah menjadi salah satu pengekspor senjata terpenting di dunia.

Platform-platform megah itu yang dikembangkan dalam lingkup proyek MILGEM, pertama kalinya akan diekspor ke Indonesia untuk dioperasikan TNI AL. Konsorsium galangan kapal Turki, TAIS telah menandatangani perjanjian senilai 1 miliar atau sekitar Rp 16,7 triliun dengan perusahaan Barzan Holdings dari Qatar. Berdasarkan perjanjian ini, dua fregat kelas İstif, setara dengan TCG Izmir dan TCG Icel, akan dikirim ke Indonesia.

Fregat kelas I TCG Icel 518 (photo: Haluk Görgün on NSosyal)

Dikutip dari Mirathaber, ekspor itu menandai penjualan luar negeri pertama kelas İstif dan sekali lagi menunjukkan daya saing global Turki di industri pertahanan. Model kerja sama trilateral ini, yang difasilitasi oleh Qatar, juga merupakan cerminan keberhasilan Turki dalam diplomasi dan ekonomi.

Di bawah kepemimpinan Erdoğan, Turki terus menulis kisah-kisah epik di industri pertahanan: Lebih banyak lagi TCG Izmir dan TCG Icel akan dengan bangga mengibarkan bendera Turki di tanah air dan di luar negeri! Perjanjian ini adalah salah satu bukti paling nyata tentang seberapa jauh Partai AK telah membawa industri pertahanan dalam lebih dari 20 tahun kekuasaannya.

Kapal fregat kelas I (I class, Istanbul class atau Istif class) adalah fregat dengan panjang 113,2m dan berat 3.100ton (image: Donanim Haber)

Sekretaris Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Gorgun menjelaskan, program MILGEM sebagai "simbol nyata tekad Turki untuk mandiri di industri pertahanan, kapasitas tekniknya yang tinggi, dan visinya untuk produksi dalam negeri." Merujuk pada proyek tersebut yang dikerjakan dengan kontribusi lebih 200 lembaga, organisasi, dan perusahaan, Gorgün mengatakan, proyek kapal fregat terus menghadirkan hal-hal pertama bagi Turki.

Dia mencatat, Turki termasuk di antara negara-negara terkemuka di dunia dalam hal pembangunan kapal militer secara simultan. Menurut Gorgun, TCG IÇEL mengandung banyak solusi lokal di berbagai subsistem, dari radar dan sonar hingga sistem pengendalian tembakan dan rudal anti-kapal, dengan tingkat kandungan lokal mencapai hingga 80 persen.

"Pencapaian ini adalah hasil dari visi bersama bukan hanya dari Angkatan Laut Turki tetapi juga dari semua pemangku kepentingan di industri pertahanan kita," katanya dikutip dari Stm.

LCS 1 KD Maharaja Lela Sea Going

31 Januari 2026

First sea going of KD Maharaja Lela on 28 January (photos: LUNAS)

The first Littoral Combat Ship officially underwent Sea Going on 28 January 2026, with Lumut Naval Shipyard (LUNAS) Chief Executive Officer, Ir. Azhar Jumaat, on-site to witness this significant milestone. The operation was led by our talented local team, reflecting strong esprit de corps, professionalism and unwavering commitment.


Kudos to the entire LCS team for their dedication and collective effort in making this achievement possible. Bravo Zulu!

PAF Restores Sikorsky S-76A, Reinforcing Operational Capability

31 Januari 2026

Sikorsky S-76A of the PAF (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF), through the 505th Search and Rescue Group (505th SRG), formally welcomed the return of the recovered Sikorsky S-76A during a Blessing Ceremony held on January 26, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City. The event marked a significant milestone in the PAF’s sustained efforts to restore and strengthen its air assets in support of national defense, humanitarian assistance, and disaster response missions.


The ceremony was graced by the Commanding General of the PAF, Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, along with the Commander of Air Mobility Command, Major General Ramil G Oloroso PAF, and the Group Commander of the 505th SRG, Colonel Jonathan B Gastardo PAF (MNSA). In his message, Lieutenant General Cordura underscored the dedication, technical expertise, and professionalism of PAF maintenance personnel and aircrew, emphasizing that the successful recovery and restoration of the Sikorsky S-76A reflect the Air Force’s growing self-reliance and firm commitment to operational readiness.


After the extensive repair, the Sikorsky S-76A has been fully restored and declared operational, significantly enhancing the PAF’s search and rescue, air transport, and disaster response capabilities. Its return strengthens the PAF’s ability to safeguard lives and deliver timely air support, underscoring its enduring mission to serve and protect the nation, especially during emergencies and critical operations.

(PAF)

Reublikorp dan Aselsan Teken Perjanjian ToT untuk HYBRA Digital Mobile Radio (DMR)

31 Januari 2026

Penanda-tanganan Aselsan-HYBRA Digital Mobile Radio (DMR) (photo: Republikorp)

Republikorp dan ASELSAN Perkuat Kerja Sama Pertahanan lewat Perjanjian Alih Teknologi untuk Sistem Komunikasi Aman HYBRA DMR
Jakarta, – PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), anak perusahaan Republikorp, secara resmi meresmikan Technology Cooperation Agreement terkait Alih Teknologi (Transfer of Technology/ToT) untuk HYBRA Digital Mobile Radio (DMR) dari ASELSAN. Penandatanganan ini berlangsung pada ajang Doha International Maritime Defence Exhibition and Conference (DIMDEX) 2026, menandai langkah operasional penting bagi joint venture Republikorp–ASELSAN yang baru dibentuk.

Perjanjian ini memulai kerangka komprehensif untuk alih teknologi bertahap, technical knowledge sharing, serta advanced training. Langkah-langkah tersebut dirancang untuk mendukung produksi lokal tactical communication systems di Indonesia yang memenuhi standar kualitas internasional yang ketat.

Norman Joesoef, Founder Republikorp, menyoroti dua arti strategis utama dari perjanjian ini, yaitu memperkuat hubungan diplomatik industri serta meningkatkan kapabilitas intelijen nasional (termasuk kebutuhan secure communications dan enkripsi). “Kolaborasi dengan ASELSAN ini merupakan kelanjutan dari kerja sama teknologi Indonesia yang telah terjalin lama dengan Türkiye, namun sekaligus menandai era baru dengan tingkat lokalisasi yang lebih tinggi dan alih teknologi yang lebih substansial,” ujar Norman Joesoef.


“Kami secara khusus memprioritaskan HYBRA DMR karena tantangan modern membutuhkan solusi modern. Sebagai sistem highly portable dan secure communications, HYBRA DMR akan membekali komunitas intelijen militer kami dengan kelincahan operasional serta enkripsi krusial agar dapat beroperasi efektif di lingkungan yang kompleks.”

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut langsung dari peluncuran PT Republik-Aselsan Indonesia, sebuah perusahaan patungan yang diumumkan pada 9 September 2025 di DSEI, London. Perjanjian pendirian ditandatangani oleh Norman Joesoef dan Ahmet Akyol, President & CEO ASELSAN, yang menjadi landasan untuk integrasi industri yang lebih mendalam.

Kemitraan ini mendukung peta jalan strategis Indonesia menuju kemandirian industri pertahanan, memastikan infrastruktur pertahanan kritikal berlabel “Made in Indonesia.” Secara bersamaan, kemitraan ini juga memberikan ASELSAN akses strategis jangka panjang ke pasar pertahanan Asia Tenggara.

PT Republik Aselsan Indonesia diproyeksikan menjadi regional hub untuk advanced defense communication systems, memproduksi solusi high-tech yang melayani kebutuhan keamanan nasional Indonesia dan kawasan ASEAN secara lebih luas.

30 Januari 2026

Radar AESA untuk Jet Tempur KF-21 Memasuki Fase Pengujian

30 Januari 2026

Model radar active electronically scanned array (AESA) untuk peasawat KF-21 Boramae (photo: ADD)

SEOUL (Yonhap) -- Agency for Defense Development (ADD) Korea Selatan mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka akan meluncurkan fase pengujian untuk sistem radar canggih yang sedang dikembangkan untuk dipasang pada jet tempur KF-21 dalam upaya untuk memungkinkan misi udara, darat, dan maritim.

Pengumuman tersebut dibuat ketika Agency for Defense Development (ADD) mengadakan pertemuan untuk meluncurkan fase evaluasi untuk active electronically scanned array radar (AESA), bersama dengan kementerian pertahanan, badan pengadaan senjata negara, dan badan-badan terkait lainnya.

Sistem radar baru ini dapat mendeteksi dan melacak target di darat atau laut dalam mode udara-ke-permukaan dan udara-ke-laut, dan ADD berupaya mengintegrasikannya ke dalam jet tempur KF-21 buatan dalam negeri pada Desember 2028.

Setelah pengujian selesai dan jet tempur KF-21 dilengkapi dengan sistem radar, misi serbaguna segala cuaca yang melibatkan udara, darat, dan laut akan menjadi mungkin.

Mode udara-ke-udara, yang telah melalui fase pengujian, diharapkan akan diterapkan pada jet KF-21 akhir tahun ini.

KRI Prabu Siliwangi-321 Laksanakan Uji Coba Penembakan Meriam 127 mm

30 Januari 2026

Uji kesiapan tempur fregat KRI Prabu Siliwangi-321 (photos: TNI AL)

TNI AL kembali melaksanakan uji penguatan kemampuan alutsista dan kesiapan tempur melalui structural firing Meriam 127 mm milik KRI Prabu Siliwangi-321 dalam rangkaian pelayaran Sea Going terakhir sebelum bertolak menuju Indonesia, Selasa (27/1/2026).


Kegiatan ini sekaligus menjadi uji coba penembakan perdana Meriam 127 mm sebagai bagian dari pengujian sistem senjata dan struktur kapal. Pencapaian tersebut menandai pertama kalinya kapal perang TNI Angkatan Laut mengoperasikan meriam dengan kategori Large Caliber Gun (kaliber di atas 120 mm) secara operasional, setelah sebelumnya senjata sekelas pernah dioperasikan pada korvet kelas Fatahillah.


Structural firing Meriam 127 mm dilaksanakan untuk memastikan kekuatan dan respons struktur kapal terhadap beban serta getaran akibat tembakan, sekaligus memverifikasi kesiapan sistem senjata dari aspek mekanis, elektrikal, dan keselamatan. Seluruh tahapan kegiatan dilaksanakan secara profesional dengan menerapkan prosedur keselamatan yang ketat serta melibatkan personel sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing.


Keberhasilan penembakan perdana Meriam 127 mm menjadi bukti kesiapan KRI Prabu Siliwangi-321 sebagai salah satu unsur tempur modern TNI AL, sekaligus mencerminkan profesionalisme prajurit Jalasena dalam mengoperasikan sistem persenjataan utama secara aman, terukur, dan andal.


Pencapaian ini sejalan dengan perintah harian Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali dalam meningkatkan kesiapan operasional terutama alutsista untuk membangun kekuatan laut yang modern, berdaya gentar, dan siap menjaga kedaulatan wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kerajaan Setujui Pemasangan Misil NSM Pada 6 Kapal Kelas KEDAH

30 Januari 2026

Kedah class NGPV saat ini berjumlah 6 kapal dalam armada TLDM (photo: Dvids)

Kerajaan lulus pasang sistem pelancar misil antipermukaan atas 6 kapal TLDM Kelas KEDAH
KUALA LUMPUR: Kerajaan meluluskan pemasangan sistem pelancar misil antipermukaan atau 'Surface to Surface Missiles' (SSM) ke atas semua enam kapal Kelas KEDAH milik Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM).

Menteri Pertahanan, Datuk Sri Mohamed Khaled Nordin, berkata pemasangan itu dirancang secara berfasa, mengambil kira kesiapsiagaan teknikal kapal, keperluan operasi serta implikasi kos.

"Pada masa ini, TLDM sedang melaksanakan tinjauan harga bagi mengenal pasti kos sebenar keseluruhan projek," katanya melalui jawapan bertulis di laman web Parlimen.

Beliau menjawab soalan Nordin Ahmad Ismail (PN-Lumut) mengenai usaha pemasangan peluru berpandu NSM di atas kapal milik TLDM kelas Kedah di bawah Bajet 2026.

Mengulas lanjut, beliau berkata cadangan pemasangan peluru berpandu jenis Naval Strike Missile (NSM) ke atas kapal milik TLDM Kelas KEDAH adalah sebahagian inisiatif peningkatan keupayaan tempur permukaan bagi menangani keperluan operasi semasa dan masa hadapan.

NSM rudal permukaan ke permukaan (photo: Kongsberg)

"Pada peringkat awal, penilaian dan integrasi keupayaan ini memberi tumpuan kepada kapal utama sebagai platform perintis, sebelum dipertimbangkan peluasan kepada kapal-kapal lain dalam kelas yang sama, tertakluk keberkesanan pelaksanaan, keperluan operasi TLDM dan kelulusan peruntukan kerajaan," katanya.

Kapal Kelas KEDAH juga dikenali Kapal patrol Generasi Baharu (NGPV) adalah satu daripada lima kelas yang digariskan dalam Perancangan Transformasi 15-to-5 TLDM.

Dengan panjang 91.1 meter dan berat anggaran 1,650 tan, kapal ini mempunyai ruang dan berat simpanan untuk sistem persenjataan tambahan, namun tidak dipasang semasa ditauliahkan.

Ketika ini terdapat enam buah kapal dalam Kelas KEDAH iaitu KD Kedah, KD Pahang, KD Perak, KD Terengganu, KD Kelantan dan KD Selangor.

Dalam pada itu, Mohamed Khaled berkata, pendekatan berperingkat ini mencerminkan usaha Kementerian Pertahanan untuk memastikan peningkatan keupayaan tempur TLDM dilaksanakan secara berhemah, berkeutamaan dan memberikan nilai terbaik kepada kerajaan, selaras keperluan keselamatan maritim dan kemampuan fiskal negara.

29 Januari 2026

Kapal BHO-105 Jalani Sea Trial di Jerman

29 Januari 2026

Kapal bantu hidro-oseanografi berkemampuan ocean going bakal KRI Canopus 936 TNI AL (photos: Marine Traffic, Bernd U)

KRI Canopus (936) adalah sebuah kapal bantu hidro-oseanografi (BHO) milik TNI Angkatan Laut. Pada awal proyek pembangunan, kapal ini sering disebut dengan kode BHO-105.


Kapal ini dibangun di galangan kapal swasta PT. Palindo Marine di Batam dengan asistensi dan desain dari Fassmer, tetapi untuk proses pemasangan sistemnya (fitting out) dilakukan di Jerman melalui galangan kapal Abeking & Rasmussen.


Upacara pemotongan baja pertama (first steel cutting) dilakukan pada 15 September 2023 dan peletakan lunas pertamanya pada tanggal 14 Desember 2023. Lalu pada 25 September 2024 dilakukan proses peluncuran kapal ke badan air di dermaga PT. Palindo Marine di Batam, Kepulauan Riau.


Dengan dimensi panjang yang mencapai 105 meter dan lebar hingga 17,4 meter, KRI ini memiliki kemampuan ocean going atau mampu menjelajahi samudra lepas.

Kini di bulan Desember 2015 dan Januari 2026, kapal ini memasuki tahapan sea trial yang berlangsung di Jerman sebelum dikirimkan ke Indonesia.

TNI AU Siapkan Tiga Skadron untuk Pesawat Tempur Rafale

29 Januari 2026

Pesawat tempur Rafale TNI AU (photos: Swiderek Maciejka)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) bakal menyiapkan tiga skadron udara untuk mengoperasikan pesawat tempur terbaru mereka, Rafale.

Hal tersebut diungkap oleh Panglima Komando Operasi Udara Nasional (Pangkoopsudnas) Marsdya TNI Minggit Tribowo seusai upacara peringatan HUT ke-4 Koopsudnas yang digelar di Lapangan Upacara Makoopsudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (28/1).


“Sesuai dengan perencanaan dan kedatangan, Rafale ini tidak cuma satu skadron, tapi kita siapkan menjadi tiga skadron,” jelas Minggit kepada awak media.

Meski demikian, Minggit tidak merinci skadron udara mana saja yang akan menjadi home base pesawat produksi pabrikan Prancis, Dassault Aviation.

Namun, salah satu satuan yang telah disiapkan untuk mengoperasikan Rafale adalah Skadron Udara 12 yang bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.


Informasi tersebut disampaikan Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Abdul Haris saat upacara tradisi pelepasan pesawat Hawk 109/209 pada 7 Januari 2026.

“Ke depan, Skadron Udara 12 akan diperkuat dengan kehadiran pesawat tempur Rafale yang direncanakan tiba pada akhir Januari 2026, sebagai bagian dari modernisasi alutsista untuk semakin meningkatkan daya tangkal dan kesiapsiagaan TNI Angkatan Udara,” ujar Marsma TNI Abdul Haris dikutip dari unggahan Instagram @lanud_roesmin_nurjadin.

(IDM)

Pengiriman Kapal LCS-1 Ditunda Hingga Desember 2026

29 Januari 2026

Persiapan akhir LCS 1 untuk tahap sea trial (photos: LUNAS)

Hadir di Dewan Rakyat pada Rabu 28/01 untuk menjawab pertanyaan mengenai status pembangunan Kapal Tempur Pesisir (LCS) 1, yang memang terus menjadi perhatian berbagai pihak.

Pada tanggal 25 Desember 2025, Kementerian diinformasikan oleh Lumut Naval Shipyard (LUNAS) bahwa kemajuan keseluruhan proyek LCS telah mencapai 75,75% aktual dibandingkan dengan 81,57% menurut rencana. Sementara LCS 1 berada di angka 82,9%.

Kapal LCS 1 telah berhasil diluncurkan ke air dan sekarang berada dalam fase instalasi dan integrasi sistem utama. Uji coba laut tingkat galangan kapal dimulai pada tanggal 20 Januari 2026, dengan "first sea going" dijadwalkan pada tanggal 28 Januari 2026 untuk pengujian mesin, pembangkit listrik, pendingin udara, dan sistem propulsi.


Pengiriman LCS 1 telah direvisi menjadi Desember 2026 dengan penundaan sekitar 4 bulan, sementara jadwal pengiriman kapal berikutnya tetap hingga 2029. Nilai total proyek LCS adalah RM11,2 miliar dengan pengeluaran saat ini sekitar RM8,3 miliar atau 74% dari total kontrak.

Kementerian Pertahanan terus melakukan pemantauan ketat dengan Angkatan Laut Malaysia (RMN) sebagai pengguna akhir dan pihak pelaksana untuk memastikan bahwa setiap fase pengembangan, pengujian, dan pengiriman kapal dilakukan sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan operasional.

Prioritas Kementerian adalah untuk memastikan bahwa aset yang diterima sepenuhnya aman, berfungsi dengan baik, dan memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

28 Januari 2026

Keel Laying Ceremony for Second MRCV

28 Januari 2026

Keel Laying Ceremony for second Multi-Role Combat Vessel (MRCV) at ST Engineering Marine Limited (photos: RSN)

Today, Chief of Defence Force Vice Admiral (VADM) Aaron Beng officiated the Keel Laying Ceremony for our second Multi-Role Combat Vessel (MRCV) at ST Engineering Marine Limited. The ceremony was also attended by Chief of Navy Rear Admiral (RADM) Sean Wat and senior officials and representatives from the RSN, DSTA and ST Engineering Marine.


The keel laying ceremony is a time-honoured tradition in shipbuilding, commemorating the ‘birth’ of a new ship cradled in its shipyard.


The RSN’s MRCVs will progressively replace our Victory-class Missile Corvettes (MCVs), which have been in service since 1989. The MRCVs are expected to be delivered from 2028 onwards.

(RSN)

KAAN Pakai Mesin TF35000, Turki Jamin Bebas ITAR

28 Januari 2026

KAAN akan memakai mesin TF35000 (photo: IDEF)

Pakai Mesin TF35000, Kontrak 48 Jet KAAN Indonesia Rp 251 Triliun
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- CEO Turkish Aerospace Industries (TAI/TUSAS) Mehmet Demiroglu menjelaskan tentang penting mengenai proyek Pesawat Tempur Nasional (MMU) KAAN dalam saluran Youtube SAHA Istanbul. Demiroglu menyatakan, prototipe uji pertama KAAN dalam konfigurasi sebenarnya, yang disebut P1, direncanakan melakukan penerbangan perdananya pada akhir April, Mei, atau paling lambat Juni 2026.

Dia menekankan, jet tempur generasi 5 itu mewakili titik balik strategis bagi Turki. "Kami memproduksi total tiga prototipe. P0 adalah pesawat uji teknik dan telah melakukan dua penerbangan. Sekarang, dengan P1, kami memulai uji penerbangan dalam konfigurasi sebenarnya. Pesawat kami akan terbang pada akhir April, Mei, atau paling lambat Juni," ucap Demiroglu dikutip dari Aerohaber.

Dia menjelaskan, aktivitas pengujian KAAN berjalan secara paralel. Menurut Demiroglu, prototipe P2 akan melakukan penerbangan pertama pada akhir 2026 dan prototipe P3 dijadwalkan pada akhir 2026 atau awal 2027.

Dia menggarisbawahi, setiap prototipe menjalani setidaknya dua sampai tiga bulan pengujian darat intensif sebelum penerbangan. Demiroglu menekankan, tidak ada penerbangan yang dilakukan sebelum validasi sistem selesai.

Demiroglu mencatat, mesin F110, yang juga digunakan pada jet F-16, akan diutamakan untuk penerbangan uji Blok 10 KAAN. Dia menambahkan, permintaan Turki kepada Kongres Amerika Serikat (AS) untuk 80 mesin untuk produksi serial belum disetujui.

Mesin TEI TF35000 buatan Turki (photo: TEI)

Demiroglu menyatakan, pengujian akan terus dilakukan menggunakan 10 mesin F110 yang dipasok dari AS. Dia pun menyebut, tujuan jangka panjangnya adalah mesin turbofan TF35000 buatan dalam negeri yang sedang dikembangkan oleh TEI, digunakan untuk KAAN.

Menurut Demiroglu, teknologi mesin adalah salah satu bidang yang paling menantang dalam industri pertahanan. Dia merangkum peta jalan untuk TF35000 yang dikembangkan.

"Untuk TF35000, proses pengujian dan produksi akan dimulai pada tahun 2031. Tujuan kami adalah menyelesaikan mesin pada tahun 2032 dan menyelesaikan sebagian besar integrasi pada tahun yang sama," kata Demiroglu.

Fakta bahwa Demiroglu adalah seorang insinyur mekanik yang sebelumnya bekerja di BMC Power dan TEI membuat penilaiannya tentang pengembangan mesin menjadi lebih penting. Demiroglu menjelaskan, mesin TF35000 direncanakan akan digunakan pada versi KAAN yang akan diekspor ke Indonesia.

Dia membagikan detail proyek penjualan 48 unit jet KAAN ke Indonesia. Di antaranya, total nilai proyek 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 251,8 triliun. Demiroglu mengungkapkan, fase pertama kontrak ditandatangani di IDEF, Istanbul pada pertengahan 2025 dan fase kedua diteken pada 2026.

Demiroglu menerangkan, pihak Indonesia meminta mesin bebas ITAR, yang berarti mesin sepenuhnya buatan dalam negeri tanpa batasan ekspor. Dia mencatat bahwa pekerjaan terus berlanjut sesuai dengan persyaratan.

"Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa proyek KAAN telah memasuki fase kritis dalam hal pengujian penerbangan, pengembangan mesin, dan potensi ekspor. Penerbangan prototipe konfigurasi nyata pertama dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting dalam tujuan Turki untuk mengembangkan pesawat tempur generasi ke-5," jelas Demiroglu.

ST Engineering Secures MINDEF Contract for Next Gen Infantry Fighting Vehicles

28 Januari 2026

Terrex s5 8x8 next generation Infantry Fighting Vehicles (IFVs) (photo: ST Eng)

Singapore – ST Engineering announced today that its Land Systems business had been awarded a contract by the Ministry of Defence (MINDEF) in December 2025 for the production and supply of the next generation Infantry Fighting Vehicles (IFVs). This milestone underscores ST Engineering’s leadership in delivering advanced defence solutions to meet evolving operational needs. 

The IFVs, scheduled for progressive delivery from 2028 onwards, will be based on ST Engineering’s Terrex s5, the latest addition to the Group’s family of 8x8 armoured fighting platforms. Designed for future-ready operations, the Terrex s5’s capabilities are designed around five core pillars - Smartness, Superiority, Sustainability, Survivability and Serviceability.

Built on the proven lineage of the Terrex family of IFVs, the vehicle offers cutting-edge capabilities, including: 

-Digitalised systems for enhanced situational awareness and operational efficiency
-Cyber-secure Generic Vehicle Architecture providing robust protection against cyber threats
-Advanced vehicle electronics and enhanced firepower.

Terrex s5 8x8 next generation Infantry Fighting Vehicles (IFVs) (photo: EDR Magz)

ST Engineering will also be partnering MINDEF and the Defence Science and Technology Agency to integrate additional capabilities into the IFVs.

This next-generation platform represents a significant leap in land defence technology, combining superior mobility, lethal firepower and advanced survivability to meet the demands of modern warfare.  

“MINDEF’s selection of the Terrex s5 as its next generation IFV reaffirms our ability in designing and building advanced armoured mobility platforms. With our multi-domain expertise and engineering depth, we are confident that the new IFV will deliver outstanding mobility, advanced smart technologies and unmatched adaptability to support Singapore’s future fighting force,” said Lim Kok Ann, President of Land Systems business at ST Engineering.

“As we continue to innovate and address the evolving needs of the modern armed forces, the Terrex s5 will strengthen our portfolio of integrated defence offerings for nations seeking proven and robust solutions to expand their national defence capabilities,” he adds.

Kemhan Sebut Gelombang Kedua Kedatangan Rafale di Pertengahan 2026

28 Januari 2026

3 Rafale batch pertama (photo: Swiderek Maciejka)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan gelombang kedua kedatangan pesawat Rafale baru milik TNI AU akan terjadi pada pertengahan 2026.

"Untuk gelombang kedua dipastikan pertengahan tahun ini," Kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Sirait saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Namun demikian, Rico belum bisa memastikan jumlah pesawat yang akan datang pada gelombang kedua tersebut.

Adapun saat ini, tiga pesawat Rafale yang merupakan bagian dari kedatangan gelombang pertama sudah berada di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.

Pesawat tersebut sudah berada di sana sejak diterbangkan dari Prancis oleh penerbang tempur TNI AU pada pertengahan Januari 2026.

"Tiga unit pesawat tempur Rafale telah tiba di Indonesia dan saat ini berada di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Secara administratif dan teknis, pesawat tersebut telah diserahterimakan dan sudah dapat digunakan oleh TNI AU," kata Rico.

Dengan adanya pesawat tempur Rafale, dia memastikan TNI AU akan semakin kuat dalam menjaga wilayah udara Indonesia.

Sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu pelanggan pesawat tempur jenis Rafale yang diproduksi Prancis.

Tercatat Kementerian Pertahanan telah memborong sebanyak 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan yang kala itu dijabat Brigadir Jenderal TNI Edwin Adrian Sumantha menyampaikan kontrak efektif itu menjadi dasar Dassault Aviation mulai memproduksi 18 unit terakhir jet tempur Rafale pesanan Indonesia.

"Kemenhan RI sebelumnya telah mengefektifkan kontrak pengadaan tahap pertama dengan Dassault Aviation pada September 2022 sejumlah enam unit dan Agustus 2023 sejumlah 18 unit. Totalnya pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Kementerian Pertahanan RI berjumlah 42 unit," kata Edwin.

Dia menyebut pesawat tempur Rafale pertama pesanan Indonesia dijadwalkan tiba di tanah air pada awal 2026.


27 Januari 2026

3 Pesawat Rafale Datang, Kemhan Pastikan TNI Sudah Bisa Gunakan Pesawat Tempur Rafale

27 Januari 2026

3 pesawat Rafale TNI AU batch pertama (photos: Swiderek Maciejka)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Sirait memastikan TNI AU sudah bisa mengoperasikan tiga pesawat tempur Rafale yang sudah sampai di Indonesia.

"Tiga unit pesawat tempur Rafale telah tiba di Indonesia dan saat ini berada di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Secara administratif dan teknis, pesawat tersebut telah diserahterimakan dan sudah dapat digunakan oleh TNI AU," kata Rico saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Kedatangan tiga pesawat tempur itu merupakan gelombang pertama dari total 42 Rafale yang telah dipesan Indonesia.

Namun demikian, Rico tidak menjelaskan secara rinci kapan persisnya pesawat gelombang kedua dan ketiga akan datang.

Dengan adanya pesawat tempur Rafale, dia memastikan TNI AU akan semakin kuat dalam menjaga wilayah udara Indonesia.

Sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu pelanggan pesawat tempur jenis Rafale yang diproduksi Prancis.

Tercatat Kementerian Pertahanan telah memborong sebanyak 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan yang kala itu dijabat Brigadir Jenderal TNI Edwin Adrian Sumantha menyampaikan kontrak efektif itu menjadi dasar Dassault Aviation mulai memproduksi 18 unit terakhir jet tempur Rafale pesanan Indonesia.

"Kemenhan RI sebelumnya telah mengefektifkan kontrak pengadaan tahap pertama dengan Dassault Aviation pada September 2022 sejumlah enam unit dan Agustus 2023 sejumlah 18 unit. Totalnya pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Kementerian Pertahanan RI berjumlah 42 unit," kata Edwin.

Dia menyebut pesawat tempur Rafale pertama pesanan Indonesia dijadwalkan tiba di tanah air pada awal 2026.

'Gatling Guns' Boost Black Hawk Choppers’ Self-defense Capabilities

27 Januari 2026

M-134D-H "Gatling Guns" support S-70i "Black Hawk" combat utility helicopters (photos: PAF)

MANILA – With the arrival of the versatile and powerful M-134D-H "Gatling Guns" in its inventory, the Philippine Air Force (PAF) gets to boost the "self-defense and mission support capabilities" of its S-70i "Black Hawk" combat utility helicopters.

"The installation of 'Gatling Guns' significantly enhances the 'BH' (Black Hawk) helicopters' self-defense and mission support capabilities. These armaments provide suppressive fire that improves aircraft survivability during operations in hostile or high-risk environments," PAF spokesperson Col. Ma. Christina Basco told the Philippine News Agency (PNA) when asked about enhancements to their S-70i fleet.

This weapon system, Basco said, will also allow the S-70is to better support ground forces, secure landing zones, and ensure safe insertion and extraction of troops during tactical and contingency operations.


Last Jan. 23, the PAF received eight units of eight M134D-H "Gatling Guns" and five more S-70is during turnover ceremonies in Villamor Air Base, Pasay City.

These types of weapons are known for their high-rate of fire.

"The 'BH' (Black Hawk) equipped with 'GGs' (Gatling Guns) will primarily support combat and non-combat opns (operations) requiring increased protection and fire support. Among the roles include tactical troop transport, escort operations, air assault support and security for humanitarian assistance and disaster response missions in areas with potential security threats," she added.

Basco also said that the armament enhances mission effectiveness while maintaining the aircraft's versatility for both military operations and emergency response. 

(PNA)

Boustead Signed MoU with Four Partners to Advance Malaysia’s Defence Industrialisation

27 Januari 2026

Partnership with Otokar as potential production of tracked and wheeled armoured platforms in Malaysia (photo: Otokar)

Boustead Partners Otokar, PT Komodo, Huanghu Science & Technology and Chengdu Hanguang Sifang to Advance Malaysia’s Defence Industrialisation

KUALA LUMPUR – Boustead Holdings Berhad (“Boustead”), a strategic investment holding company owned by the Lembaga Tabung Angkatan Tentera (LTAT), today announced the signing of a series of strategic Memorandum of Understanding (MoUs) with leading defence technology partners from Turkey, Indonesia, and China, reinforcing Malaysia’s long-term agenda to develop a resilient, self-reliant and technologically advanced national defence industry.

The collaborations were formalised in conjunction with the launch of Malaysia’s Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN), and collectively span small arms and ammunition manufacturing, armoured land systems, high-energy laser technologies and precision-guided systems, with a strong emphasis on technology transfer, localisation and domestic capability building.

Malaysia–Turkey: Strengthening Land Systems and Armoured Vehicle Capabilities

Under a strategic partnership with Otokar, Turkey’s largest land systems exporter, to explore cooperation in support of the Malaysian Armed and Security Forces’ armoured vehicle and land systems requirements.

The collaboration covers the promotion, localisation and potential production of tracked and wheeled armoured platforms in Malaysia, as well as long-term repair, maintenance, overhaul and modernisation (RMOM) support for existing and future land systems. This initiative builds on the broader Government-to-Government defence cooperation framework between Malaysia and the Republic of Türkiye.

Indonesia–Malaysia: Localisation of Advanced Small Arms and Ammunition Manufacturing

Boustead also entered a strategic partnership with PT Komodo Armament, to explore the establishment of local production capabilities in Malaysia for lightweight polymer ammunition, polymer-based assault rifles, and single and double-base propellants, engineered specifically for tropical operating environments.

The collaboration aims to reduce reliance on foreign-sourced materials by leveraging locally available raw inputs, enhancing supply-chain security and ensuring continuity for Malaysia’s defence forces while positioning the country as a regional manufacturing hub for advanced small arms and ammunition.

China–Malaysia: High-Energy Laser Technology Localisation

In parallel, Boustead signed an MoU with Huanghu Science and Technology Co., Ltd. to explore the localisation of high-energy laser systems in Malaysia.

The collaboration focuses on joint research and development, knowledge exchange and feasibility studies for the production, manufacturing and development of high-energy laser technologies, supporting Malaysia’s ambition to develop advanced, next-generation defence capabilities through structured technology transfer and domestic talent development.

China–Malaysia: Precision-Guided Kit (PGK) Systems Capability Development

Boustead further signed an MoU with Chengdu Hanguang Sifang Technology Co., Ltd. to explore cooperation in the localisation of PGK technologies in Malaysia.

This collaboration seeks to advance local engineering expertise, system integration capabilities and applied R&D, reinforcing Malaysia’s long-term defence modernisation roadmap while supporting domestic industry participation in advanced weapons systems development.

Strategic National Alignment

Commenting on the series of partnerships, Boustead Group Managing Director Dato’ Indera Ir. Dr. Hj. Ahmad Sabirin Arshad FASc, said: “These strategic collaborations reflect Boustead’s role as a national enabler in advancing Malaysia’s defence industrial ecosystem.

“By partnering with proven international technology leaders, we are accelerating the transfer of critical capabilities into Malaysia—strengthening self-reliance, enhancing operational readiness, and ensuring that our defence forces are supported by resilient, locally anchored supply chains. This approach is fully aligned with the objectives of the Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) and Malaysia’s long-term security interests.

(Boustead)

26 Januari 2026

Elbit Systems Secures $275 Million Contracts to Equip an Asia-Pacific Country Helicopter Platform with Advanced EW and DIRCM Self-Protection Solution

26 Januari 2026

DIRCM for Apache (photo: WarThunder)

HAIFA, Israel -- Elbit Systems Ltd (NASDAQ: ESLT) (TASE: ESLT) ("Elbit Systems" or the "Company") announced today that it has been awarded contracts totaling approximately $275 million, for the supply of advanced airborne self-protection electronic warfare (EW) suite, including its Direct Infra-Red Counter-Measure (DIRCM) system, to a country in the Asia-Pacific region. The contracts will be performed over a period of 5 years.

Under these contracts, Elbit Systems will provide a comprehensive EW suite designed to protect the helicopter platform from missile threats, enhance aircraft survivability, and increase mission effectiveness. The solution integrates state-of-the-art electronic sensing, signal processing, and countermeasure capabilities, providing early warning, threat identification, and automated response to a broad range of threats. In addition, the company will supply its Mini-MUSIC™ DIRCM system, designed to protect small and medium-sized rotary and fixed-wing aircraft, including helicopters, against threats, using advanced laser and tracking technologies. Built on years of proven experience and hundreds of thousands of flight hours in military environments, the Mini-MUSIC detects and disrupts incoming missiles, keeping the safety of the aircraft and its occupants.

DIRCM for Black Hawks (photo: TWZ)

The systems will be tailored to the customer's specific helicopter platform and operational needs, providing robust protection across complex combat environments. These contracts add to the numerous agreements the Company has secured in recent years in the field of airborne self-protection solutions, spanning various countries, including NATO and European nations.

Bezhalel (Butzi) Machlis, President and CEO of Elbit Systems: "These contracts reflect the growing trust of our Asia-Pacific customers in Elbit Systems' advanced, combat-proven self-protection solutions for helicopters. Our integrated EW and DIRCM systems provide highly advanced threat detection and countermeasure capabilities, enhancing aircraft survivability and operational effectiveness in complex mission environments. We are proud to continue strengthening our partnerships and supporting our customers' evolving needs in this important region."

Menhan RI Laksanakan Kunjungan Resmi ke Kemhan Bosnia dan Herzegovina untuk Penguatan Kerja Sama Pertahanan

26 Januari 2026

Kunjungan Menhan RI ke Bosnia dan Herzegovina (photo: Kemhan)

Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina — Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin melaksanakan kunjungan resmi ke Bosnia dan Herzegovina dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Bosnia dan Herzegovina H.E. Zukan Helez, di Kementerian Pertahanan Bosnia dan Herzegovina, Sarajevo, Minggu (11/1/2026).

Kunjungan bilateral ini bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral serta menjajaki pengembangan kerja sama strategis di bidang pertahanan.


Dalam diskusi pertahanan, kedua Menhan membahas dinamika lingkungan strategis regional dan global serta menegaskan pentingnya kerja sama pertahanan dalam menjaga stabilitas, perdamaian, dan keamanan dunia.

Selanjutnya, dalam konferensi pers pertemuan antara Menteri Pertahanan Indonesia dan Menteri Pertahanan Bosnia dan Herzegovina menghasilkan komitmen kuat untuk meningkatkan kerja sama bilateral di berbagai bidang pertahanan. Fokus utama mencakup penguatan industri pertahanan, pendidikan militer, transfer teknologi, serta dukungan bersama bagi upaya misi kemanusiaan dan perdamaian, di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai wujud kontribusi bersama terhadap perdamaian dan stabilitas global.

Kunjungan ke Pretis d.d. yang merupakan produsen munisi kaliber besar sebagai bagian dari Unis Group (photo: Kemlu)

Sebagai hasil konkret dari pertemuan tersebut, pejabat tinggi pertahanan kedua negara menandatangani Joint Statement yang menegaskan kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama pertahanan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama Pertahanan dalam waktu sesegera mungkin, dan penjajakan penempatan atase pertahanan Bosnia di Indonesia, sebagai langkah peningkatan hubungan diplomatik militer kedua negara. Hal ini menjadi bukti keseriusan kedua negara membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan dan berbasis kepercayaan.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangkaian kunjungan kerja di Bosnia dan Herzegovina, Menteri Pertahanan RI beserta delegasi juga melaksanakan kunjungan ke fasilitas industri pertahanan Pretis.


Kunjungan Menhan Sjafrie ini menegaskan kebijakan pertahanan Indonesia yang terbuka terhadap penguatan kerja sama pertahanan dengan mitra internasional, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, serta diharapkan segera ditindaklanjuti guna mendukung kepentingan pertahanan kedua negara dan perdamaian dunia.