31 Agustus 2026

Kemhan Pastikan RI Belum Teken Kontrak Pengadaan Jet Tempur F-15 Eagle dari AS

31 Agustus 2026

Pesawat tempur F-15EX (photo: QEAF)

Jakarta, IDM – Kementerian Pertahanan RI memastikan pemerintah Indonesia belum meneken kontrak pengadaan jet tempur F-15 Eagle atau F-15EX produksi perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat (AS), Boeing.

Hal ini disampaikan Kemhan RI menanggapi daftar kontrak industri-industri pertahanan AS terkait penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Daftar itu dirilis oleh Departemen Perang AS melalui laman mereka, Senin (24/8).

“Terkait F-15, sampai saat ini belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai rencana pengadaannya. Kemhan juga belum memiliki kontrak aktif maupun LOA (letter of offer and acceptance) yang diaktifkan untuk pengadaan F-15,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangannya, Jumat (28/8).

Dalam rilis yang disampaikan Departemen Perang AS, disebut Indonesia sebagai salah satu negara yang dilibatkan dalam kontrak pengadaan pesawat tempur F-15EX.

“Pekerjaan (pembuatan F-15 Eagle) akan dilakukan di St. Louis, Missouri, dan diharapkan selesai pada Agustus 2037. Periode pemesanan diperkirakan akan berakhir pada 24 Agustus 2031, dengan opsi perpanjangan periode pemesanan hingga 24 Agustus 2036. Kontrak ini melibatkan penjualan ke Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, Indonesia, dan Polandia,” tulis Departemen Perang AS.

Kontrak tersebut meliputi produksi pesawat, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan kemampuan, retrofit, pemeliharaan, dan pembentukan kemampuan pemeliharaan depot terhadap pesawat F-15.

“Pencantuman Indonesia dalam rilis kontrak F-15 dari pihak AS tersebut tidak dapat diartikan bahwa Indonesia telah melakukan atau mengaktifkan kontrak pengadaan F-15,” kata Rico.

(IDM)

HMAS Hobart Rampungkan Upgrade Sistem Aegis dan Tomahawk

31 Agustus 2026

HMAS Hobart - AWD 39 (photo: Aus DoD)

Angkatan Laut Kerajaan Australia (Royal Australian Navy) telah mencapai tonggak sejarah penting dalam pertahanan laut dengan rampungnya tahap pengerjaan di galangan kapal untuk program peningkatan kemampuan kapal perusak berpeluru kendali HMAS Hobart. Kapal ini dimodernisasi di Galangan Kapal Angkatan Laut Osborne di bawah inisiatif SEA 4000 Fase 6 senilai A$4,29 miliar. HMAS Hobart merupakan kapal pertama dari tiga kapal perusak kelas Hobart milik Australia yang menerima sistem pertahanan rudal Aegis yang canggih serta senjata serangan jarak jauh Tomahawk.

Pembaruan paruh baya (*mid-life refit*) ini mengubah HMAS Hobart dari kapal pertahanan udara menjadi kapal kombatan permukaan multi-misi. Inti dari peningkatan ini adalah transisi ke sistem tempur Aegis Baseline 9, yang diintegrasikan dengan antarmuka tempur baru buatan Australia.

Rudal SM-6 (photo: US Navy)

Kapal ini kini mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk yang dapat menghantam target darat pada jarak lebih dari 1.500 kilometer, sementara integrasi pencegat Standard Missile 6 (SM-6) memberikan kemampuan pertahanan terhadap rudal balistik pada fase terminal. Naval Strike Missile yang diluncurkan dari tabung peluncur (*canister*) juga ditambahkan untuk memperkuat kemampuan anti-kapal tanpa memakan ruang di dalam sel peluncur vertikal internal kapal.

Dari sisi pengadaan pertahanan, peningkatan ini menciptakan keseragaman perangkat lunak tempur di seluruh armada permukaan utama Australia. Peningkatan ketiga kapal perusak secara bertahap memastikan Angkatan Laut tetap dapat menjaga cakupan operasional armada sembari melakukan modernisasi. Inisiatif ini juga memperkuat kemampuan pemeliharaan armada dalam negeri dengan memanfaatkan infrastruktur galangan kapal lokal, yang nantinya akan mendukung pembangunan fregat kelas Hunter di masa depan.

Rudal jelajah Tomahawk (photo: Navair)

Secara geopolitik, penggunaan kemampuan serangan presisi jarak jauh dan pencegat rudal balistik sejalan dengan strategi Australia untuk mencegah agresi regional di kawasan Indo-Pasifik. Rudal jarak jauh memungkinkan komandan angkatan laut untuk mengancam aset musuh dari jarak aman (*standoff*), melindungi jalur perdagangan vital, serta mendukung misi operasi gabungan bersama armada Amerika Serikat dan sekutunya.

Secara operasional, peningkatan ini menghadirkan pertimbangan strategis antara daya tembak multi-misi dan kapasitas penyimpanan senjata internal (*magazine*). Meskipun radar dan perangkat lunak kapal mampu melacak dan menghadapi berbagai ancaman udara, darat, dan rudal balistik secara bersamaan, kapal ini tetap mempertahankan sistem peluncur vertikal 48-sel yang sudah ada. Komandan angkatan laut harus menyeimbangkan komposisi muatan senjata berdasarkan profil misi, dengan memilih antara rudal jelajah serangan darat, pencegat pertahanan udara, atau rudal anti-balistik. 

Peningkatan kemampuan HMAS Hobart memberikan kemampuan serangan jarak jauh yang strategis serta pertahanan terhadap rudal balistik pada fase terminal bagi Angkatan Laut Kerajaan Australia, guna memperkuat keamanan kawasan Indo-Pasifik.

(TMC)

Media Jepang Laporkan Indonesia Tertarik Akuisisi Fregat Mogami Upgrade

31 Agustus 2026

Fregat Mogami varian Upgrade (image: Naval Power)

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- The Japan Times melaporkan, Jakarta juga telah menyatakan minat untuk membeli fregat kelas Mogami dari Jepang yang telah ditingkatkan (New FFM). Namun, keputusan mengenai kapal-kapal tersebut diperkirakan baru akan diambil setelah kesepakatan kapal perusak kelas Asagiri diselesaikan untuk dikirimkan ke Indonesia.

Tokyo telah memasok tiga kapal pertama dari rencana armada 11 fregat kelas Mogami yang telah ditingkatkan untuk menggantikan kapal perang kelas Anzac ke Angkatan Laut Australia yang sudah tua. Mogami termasuk ke dalam pembicaraan trilateral antara ketiga menteri pertahanan (menhan), dengan Tokyo memberikan wawasan kepada Jakarta mengenai pembelian serupa.

Sebelumnya, Menhan Shinjiro Koizumi, Menhan RI, dan Menhan Australia Richard Marles menggelar pembicaraan trilateral. Ketiganya sepakat untuk mempromosikan kerja sama pertahanan bilateral dan trilateral, menurut Kementerian Pertahanan di Tokyo.

Langkah Menhan Koizumi dilakukan tidak lama setelah Menhan RI menggelar pertemuan dengan Menhan China Laksamana Dong Jun di Jakarta. Pun sebelumnya Angkatan Laut China dan TNI AL menggelar latihan melewati laut timur Taiwan, sepulang kapal perang Indonesia dari Vladivostok, Rusia.

Jepang telah melonggarkan aturan mengenai transfer alutsista ke-17 negara, termasuk Indonesia. Langkah itu dilakukan Jepang untuk semakin mendekatkan diri dengan negara-negara yang bisa diajak kerja sama, khususnya dalam mengantisipasi ancaman China. Menhan Koizumi secara pribadi juga memperkuat hubungan personal dengan Menhan Sjafrie.

30 Agustus 2026

New Zealand Launches Long-range Uncrewed Aircraft Acquisition Programme

30 Agustus 2026

The Long range UAVs will supplement four P-8A Poseidon aircraft and several King Air platforms in the intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) role (photo: USAF)

Defence launches market research into long-range uncrewed aircraft systems
Defence has issued a request for information to industry focused on long-range uncrewed aircraft systems (UAS), which can operate up to 1,400 nautical miles from base for at least six hours.

The information gathered will provide Defence with indicative costs and timeframes for the potential delivery of a system to conduct maritime surveillance activities across the South West Pacific. The UAS will not be armed. 

“This request for information is a market research tool that aims to inform the next stage of the Persistent Surveillance Air project. It does not initiate a procurement process nor a commitment to acquire new systems. No decisions have been made,” Sarah Minson, Deputy Secretary, Capability Delivery, said.  

“We are looking for solutions that have high-definition imaging systems and a maritime search radar, with the ability to provide near real time imagery back to the ground control station in all weather conditions, and during the day or night. We are currently planning a commercially owned and commercially operated delivery model.  

“Defence encourages New Zealand businesses to provide a response to this request for information, describing how they could meet the needs of the New Zealand Defence Force.” 

The notice has been published on the Government Electronic Tender Service.

Kisah Pesawat Lockheed T-33 T-Bird TNI AU

30 Agustus 2026

Satu skadron pesawat Lockheed T-33 T-Bird yang terdiri dari 16 pesawat diserahkan kepada TNI AU (photos: TNI AU)

Satu skadron Lockheed T-33 T-Bird resmi diserahkan kepada Indonesia sebagai penguat kemampuan pembinaan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara. Pesawat ini kemudian berperan penting dalam pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kemampuan tempur, bahkan berhasil dimodifikasi menjadi pesawat bersenjata oleh insan TNI AU.

Meski telah mengakhiri masa operasionalnya pada 1980, jejak pengabdian Lockheed T-33 T-Bird tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah kekuatan udara Indonesia dan kini diabadikan sebagai koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Pada 23 Agustus 1973, TNI Angkatan Udara menerima satu skadron pesawat latih jet Lockheed T-33 T-Bird di Lanud Iswahjudi, Madiun. Pesawat-pesawat tersebut diterbangkan langsung oleh pilot-pilot Angkatan Udara Amerika Serikat dalam empat gelombang yang tiba pada 17 April hingga 22 Juni 1973.

Sebagai pesawat latih, Lockheed T-33 T-Bird semula direncanakan berada di bawah Komando Pendidikan Angkatan Udara (Kodikau). Namun berdasarkan kebutuhan organisasi dan kondisi operasional saat itu, pesawat ini kemudian ditempatkan di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Melalui Keputusan Kasau Nomor Kep/33/V/1974 tanggal 1 Mei 1974, Lockheed T-Bird ditetapkan sebagai pesawat untuk proficiency training bagi penerbang jet tempur serta transition training bagi penerbang yang akan mengoperasikan pesawat F-86 Sabre. 

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Pangkohanudnas Nomor Skep/A/V/1974 tanggal 10 Mei 1974, pesawat tersebut dimasukkan ke dalam unsur organik Komando Satuan Buru Sergap dengan nama Satuan Buru Sergap (Satsergap) T-33 T-Bird. 

T-33 T-Bird ketika mengemban misi tempur (photo: Marsda Holki BA)

Pada tahun 1978, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara berhasil memodifikasi pesawat Lockheed T-33 T-Bird menjadi pesawat yang mampu mengemban misi tempur. 

Melalui serangkaian uji coba para peneliti berhasil mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan, meliputi peluncur roket KB-13 yang menggunakan roket FFAR, bom udara serta senapan mesin kaliber 12,7mm. Keberhasilan tersebut merupakan tonggak penting dalam pengembangan kemandirian teknologi pertahanan TNI Angkatan Udara, karena mampu mengintegrasikan sistem persenjataan yang tidak termasuk dalam konfigurasi asli T-33 T-Bird.

Fungsi asalnya, pesawat T-33 T-Bird digunakan untuk transition training bagi penerbang F-86 Sabre sebagaimana foto diatas (photo: Gideon PY)

Pada tahun 1979, Satsergap T-33 direorganisasi menjadi Skadron Tempur T-33 di bawah Wing Tempur 300, kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Skadron Operasional T-33 Bird. Setelah memberikan kontribusi dalam pembinaan kemampuan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara, pesawat Lockheed T-33 T-Bird resmi mengakhiri masa operasionalnya pada tahun 1980.

Kini salah satu diantaranya menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta sejak tahun 1985 sebagai warisan sejarah perkembangan kekuatan udara Indonesia.

(TNI AU)

Royal Australian Navy Commissions New Patrol Boats to Protect Australia's Maritime Security

30 Agustus 2026

HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke (photos: Aus DoD)

The Royal Australian Navy has welcomed HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke into service, in a commissioning ceremony at HMAS Cairns.

The 58.1-metre long Evolved Cape class patrol boats will strengthen the Australian Defence Force’s ability to protect Australia's maritime approaches and contribute to maritime security.

Commander Surface Force, Commodore Antony Pisani, said the dual commissioning ceremony marked an important milestone in Navy’s ongoing growth and modernisation.

"Today's commissioning formally welcomes HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke into service and represents another important step in growing and modernising Navy’s fleet to meet Australia’s future maritime security requirements,” Commodore Pisani said.

“The ceremony today recognises the commitment and professionalism of the sailors who will take these ships to sea and deliver outcomes for their country.

"Every new ship brought into service contributes to a more lethal and resilient Navy, ensuring we are ready to respond to emerging challenges across our maritime domain."

Evolved Cape Class patrol boats support Australia's maritime security objectives through border protection, maritime constabulary operations, law enforcement support, and international engagement activities.


With a range of more than 4,000 nautical miles, these new boats provide increased endurance and improved accommodation, enabling crews to remain at sea longer.First commanding officer of HMAS Cape Spencer, Lieutenant Commander Marita Knack, reinforced the significance of the occasion.

"The commissioning of HMAS Cape Spencer marks the beginning of the ship's service to Australia and is a significant occasion for not only every member of the crew but all who supported this journey," Lieutenant Commander Knack said.

Commanding officer HMAS Cape Hawke, Lieutenant Commander Harrison Ingham continued this sentiment and said it was a proud day for his ship’s company.

“This is a big moment for our commissioning crew who are ready to contribute to the important work Navy undertakes every day in protecting Australia's interests,” Lieutenant Commander Ingham said.

A commissioning ceremony is one of Navy's oldest traditions and signifies a ship's transition into active service as part of the Royal Australian Navy Fleet.

HMA Ships Cape Spencer and Cape Hawke will join the six commissioned Evolved Cape Class Patrol Boats already in service: Cape Schanck, Cape Solander,Cape Pillar, Cape Naturaliste, Cape Woolamai, and Cape Capricorn.

All vessels are named after prominent capes around Australia’s coastline.

29 Agustus 2026

Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired, PAF Completes Delivery of 32 S-70i Black Hawak Helicopters

29 Agustus 2026

Acceptance, Turnover and Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired Black Hawk Helicopters at Colonel Jesus Villamor Air Base in Pasay City on August 26, 2026 (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF) has completed the delivery of all 32 S-70i Black Hawk helicopters during the Acceptance, Turnover, and Blessing Ceremony for seven newly acquired S-70i Black Hawk helicopters with Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, Commanding General, PAF, as Guest of Honor on August 26, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City.

The acquisition forms part of Horizon 2 of the Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program, pursuant to Republic Act No. 10349, which aims to develop and modernize the AFP’s capabilities.


With the completion of the 32-aircraft acquisition, the PAF further strengthens its capability to conduct air transport, humanitarian assistance and disaster response, search and rescue, medical evacuation, and other critical air operations.

The full delivery underscores the PAF’s continuing commitment to modernization and mission readiness, providing the nation with a more capable and responsive rotary-wing fleet in support of national defense and the Filipino people.

With 32 Black Hawks now in its fleet, the Philippine Air Force takes another significant step toward a more credible, agile, and mission-ready air force—ready to protect, respond, and serve whenever and wherever needed.

(PAF)

New Zealand Membeli Recoilless Rifle Carl Gustaf M4

29 Agustus 2026

Carl-Gustaf M4 Multi-Role Weapon System (photo: Reddit)

Kementerian Pertahanan (MoD) New Zealand telah memberikan kontrak kepada Saab untuk memasok 26 sistem senjata tanpa tolak balik Carl Gustaf M4 bagi Angkatan Darat New Zealand; hal ini disampaikan oleh juru bicara New Zealand Defence Force (NZDF) kepada Janes.

Sistem tersebut diperkirakan akan dikirimkan pada kuartal pertama tahun 2027, tambah juru bicara tersebut. Nilai kontrak, yang juga mencakup peralatan pendukung, tidak diungkapkan.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa setelah mulai digunakan oleh Angkatan Darat New Zealand, M4 akan menggantikan varian M3 yang telah beroperasi sejak awal tahun 2010-an. "Sistem M3 telah mencapai akhir masa pakainya yang telah dijadwalkan," tambah juru bicara itu.

Menurut juru bicara tersebut, M4 akan menggantikan M3 di seluruh unit Angkatan Darat New Zealand  yang saat ini dilengkapi dengan senjata tersebut, termasuk Batalion ke-1 dan Batalion ke-2/1 dari Resimen Infanteri Kerajaan New Zealand (Royal New Zealand Infantry Regiment), Resimen Lapangan ke-16 (16 Field Regiment), dan Sekolah Tempur (Combat School).

Pengadaan ini mendukung program modernisasi pertahanan New Zealand yang lebih luas di bawah Rencana Kapabilitas Pertahanan 2025 (2025 Defence Capability Plan), yang mengalokasikan dana sebesar NZD12 miliar (USD7,1 miliar) untuk investasi kapabilitas dari tahun 2025 hingga 2028. Belum ada pengumuman mengenai pesanan lanjutan untuk M4.

Kedua varian tersebut menggunakan amunisi kaliber 84 mm dan mampu menyerang kendaraan lapis baja, bangunan, serta personel. M4 memiliki berat 6,7 kg dan panjang kurang dari 1 meter, dibandingkan dengan M3 yang memiliki berat sekitar 10 kg dan panjang 1,13 meter.

Kapal LCS Keempat akan Diluncurkan pada Januari 2027

29 Agustus 2026

Progres kapal LCS keempat pada Januari lalu (photo: LUNAS)

Lumut Naval Shipyard (LUNAS) milik Malaysia berencana meluncurkan kapal tempur pesisir (*littoral combat ship*/LCS) kelas Maharaja Lela keempat pada Januari 2027—sebuah tonggak pencapaian yang mengindikasikan bahwa program yang sempat tertunda lama ini tetap berjalan sesuai jadwal revisi terbaru.


Rencana peluncuran pada Januari 2027 ini menyusul serangkaian pencapaian penting yang diraih pada tahun 2026, termasuk peluncuran kapal ketiga (calon KD Sharif Mashor) pada bulan Februari, serta dimulainya uji coba laut (*sea trials*) oleh kapal pertama (calon KD Maharaja Lela) pada awal tahun yang sama.


Program LCS Malaysia ini mengadopsi desain dasar Gowind dari Naval Group dan menjadi elemen kunci dalam upaya modernisasi armada permukaan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (RMN).


Kapal ini memiliki panjang keseluruhan sekitar 111 meter dengan bobot benaman (*displacement*) sekitar 3.000 ton pada muatan standar.


Persenjataan yang melengkapi kapal ini meliputi rudal pertahanan udara MBDA VL MICA, meriam laut BAE Systems 57 mm Mk 3, meriam MSI-Defence Seahawk 30 mm, serta peluncur torpedo tiga tabung J+S 324 mm.


Awalnya, kapal-kapal ini direncanakan untuk dipersenjatai dengan rudal Naval Strike Missile buatan Kongsberg, namun rencana tersebut terdampak oleh peraturan pengendalian ekspor terbaru dari Norwegia.


Perangkat sensor kapal ini mencakup radar Thales SMART-S Mk 2, sistem kendali tembakan Rheinmetall TMEO Mk 2 TMX/EO, serta sonar frekuensi rendah dengan kedalaman variabel Thales Captas-2 untuk operasi peperangan anti-kapal selam.


(Jane's)

28 Agustus 2026

BrahMos Memasuki Tahap Akhir Pengiriman

28 Agustus 2026

Pengiriman rudal tahap terakhir ke Filipina (photos: Reddit)

Sistem rudal BrahMos dilaporkan sedang dikirim ke Filipina seiring dengan hampir rampungnya pengiriman tahap akhir dalam kesepakatan pertahanan pesisir.

Sistem ini merupakan bagian dari kontrak India untuk memasok baterai pertahanan pesisir BrahMos kepada Manila.


Pengiriman terbaru ini menandakan bahwa proses penyerahan sedang memasuki tahap akhir.

Pengerahan ini akan memperkuat kemampuan pertahanan pesisir anti-kapal jarak jauh Filipina.

Kesepakatan ini juga menyoroti peningkatan ekspor pertahanan India serta kemitraan strategisnya dengan Filipina.

PT BIBU Panji Sakti Teken Kontrak Pembelian Tiga N219 Amfibi dari PTDI

28 Agustus 2026

Pesawat N219 versi amfibi (image: Antara)

Denpasar (ANTARA) - PT. BIBU Panji Sakti sebagai inisiator atau penggagas utama Bandara Internasional Bali Utara menandatangani kontrak pembelian tiga unit pesawat N219 Amfibi dari PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) di Kantor PTDI Bandung, Rabu.

Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo dalam keterangannya di Denpasar, Rabu, mengatakan penandatanganan kontrak menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun sistem logistik yang menghubungkan sentra produksi perikanan dengan pasar.

"Dengan ditandatanganinya kontrak pembelian, kami masuk ke tahap implementasi. Kami ingin membangun sistem logistik yang menghubungkan laut dan udara sehingga hasil perikanan dari wilayah-wilayah kepulauan dapat bergerak lebih cepat menuju pasar," kata Erwanto.

Menurutnya, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan sistem transportasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur darat.

N219 Amfibi dinilai dapat menjadi salah satu solusi karena pesawat tersebut dirancang mampu beroperasi dari landasan darat maupun permukaan air.

Erwanto mengatakan kecepatan distribusi menjadi faktor penting, khususnya untuk komoditas perikanan bernilai tinggi seperti ikan segar, tuna kualitas ekspor dan live seafood.

"Kecepatan adalah bagian penting dari nilai ekonomi komoditas laut. Produk seperti ikan segar dan tuna kualitas ekspor tidak bisa terlalu lama menunggu. Karena itu, kami membutuhkan moda transportasi yang bisa mendekatkan sentra produksi dengan pasar," ujarnya.

Tiga pesawat tersebut nantinya akan dioperasikan oleh PT BIBU Agro Maritim, anak usaha PT BIBU Panji Sakti yang bergerak di bidang pengembangan dan pengelolaan rantai pasok komoditas maritim.

Sementara itu, Direktur Utama PT BIBU Agro Maritim Anak Agung Ngurah Alit Kakarsana mengatakan karakteristik komoditas perikanan bernilai tinggi membutuhkan sistem distribusi yang cepat dan efisien.

Menurut Kakarsana, N219 diharapkan dapat menjadi penghubung antara wilayah produksi perikanan di kawasan timur Indonesia dengan pusat perdagangan serta pasar ekspor.

"Produk seperti live seafood dan tuna kualitas sashimi-grade membutuhkan sistem distribusi yang cepat agar memperoleh nilai terbaik di pasar," katanya.

Kerja sama PT BIBU Panji Sakti dengan PTDI sendiri telah dimulai sejak Desember 2025.

Saat itu, kedua perusahaan menandatangani MoU pengadaan tiga unit N219 konfigurasi kargo di Hanggar Aircraft Services PTDI, Bandung.

Dalam kesepakatan awal tersebut, N219 dirancang sebagai feeder aircraft untuk mengangkut komoditas laut dari sejumlah titik sebelum diteruskan menggunakan pesawat berkapasitas lebih besar menuju pasar ekspor.

Direktur Utama PTDI Marsda TNI (Purn.) Gita Amperiawan mengatakan penguatan pasar N219 menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan industri pesawat nasional.

"Kontrak ini menunjukkan bahwa N219 bukan hanya sebuah produk teknologi, tetapi mulai menjadi solusi nyata bagi kebutuhan konektivitas Indonesia," kata Gita.

Ia menilai kebutuhan pesawat yang mampu beroperasi di wilayah kepulauan, daerah terpencil dan kawasan dengan keterbatasan infrastruktur masih cukup besar.

Gita juga mengatakan pengembangan industri dirgantara nasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari produsen pesawat, operator, pengguna jasa, pemerintah hingga sektor swasta.

N219 Amfibi memiliki kapasitas hingga 19 penumpang dan dapat dikonfigurasi untuk berbagai kebutuhan, termasuk angkutan kargo, evakuasi medis, patroli maritim dan pencarian serta pertolongan (SAR).

Angkatan Darat Australia Mengerahkan AS9 Huntsman dalam Latihan untuk Pertama Kalinya

28 Agustus 2026

AS9 Hunstman SPH beroperasi bersama AS10 Armoured Ammunition Resupply Vehicle (AARV) (photos: Aus DoD)

Angkatan Darat Australia telah mengerahkan howitzer swa-gerak (SPH) beroda rantai AS9 Huntsman kaliber 155 mm/52—yang diproduksi di dalam negeri—dalam latihan lapangan untuk pertama kalinya; hal ini diumumkan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada tanggal 20 Agustus.

Menurut DoD, AS9 tersebut berpartisipasi dalam Latihan 'Pozieres Run', sebuah kegiatan Divisi ke-1 (Australia) yang diselenggarakan di Area Latihan Lapangan Townsville, Queensland, mulai 30 Juli hingga 23 Agustus.


Personel dari Resimen ke-4 Artileri Kerajaan Australia (4 RAA) di bawah Brigade ke-3 menguji platform tersebut dalam serangkaian kegiatan latihan terintegrasi selama latihan berlangsung. Resimen ini bermarkas di Barak Lavarack, Townsville.

Letnan Kolonel Simon Frewin, komandan 4 RAA, menyatakan bahwa transisi dari artileri tarik (*towed artillery*) ke platform swa-gerak akan meningkatkan kemampuan resimen serta memberikan fleksibilitas operasional yang lebih besar bagi para komandan.

Menurut Letkol Frewin, AS9 menawarkan mobilitas dan daya tanggap yang lebih baik dibandingkan howitzer tarik M777 yang saat ini digunakan, sekaligus meningkatkan kemampuan dukungan tembakan brigade.


"Kendaraan ini dapat bergerak dari posisi perlindungan ke posisi tembak dalam hitungan detik, menembakkan peluru lebih cepat daripada M777, dan kembali dengan sangat cepat ke posisi perlindungan. Artinya, jika musuh mendeteksi keberadaan kami, mereka tidak akan sempat merespons sebelum AS9 berpindah ke posisi baru," ujar Letkol Frewin.

Sebelumnya pada bulan Agustus 2026, sebuah upacara resmi di Barak Lavarack, Townsville, menandai dimulainya masa tugas Baterai 106, 4 RAA, sebagai baterai tembakan bergerak terlindung pertama Angkatan Darat Australia. Baterai tersebut telah menerima enam unit SPH AS9 dan satu kendaraan lapis baja pengangkut amunisi AS10.

27 Agustus 2026

Helikopter TNI AU untuk Pertama Kalinya Mendarat di Helideck KRI TNI AL

27 Agustus 2026

Pelaksanakan take off-landing di helideck simulator LPD KRI Makassar di Dermaga Batoe Poron (photos: Skadron Udara 6)



Pelaksanaan Ship Board Operation (SBO) yang dilaksanakan secara terintegrasi dan melibatkan tiga matra TNI (AD, AL dan AU) dilaksanakan di Puspenerbal, Surabaya selama 3 hari pada tanggal 24 s.d. 26 Agustus 2026.


For the first time, main wheel Helikopter TNI AU mendarat di LPD (Landing Platform Deck) KRI Makassar yang berada di Koarmada II.


H-3218 Skadron Udara 6 dengan PIC Letkol Pnb Sofan Hasani, S.E. sebagai perwakilan TNI AU dalam latihan Integrasi SBO di Puspenerbal dan disupervisi langsung oleh Danwingud 2.1 Grup 2 Heli, Kolonel Pnb A. Mauludin Mulyono, S.E.


Kegiatan yang diawali dengan kegiatan Klasikal/Ground school di Skadron Udara 400, kemudian dilanjutkan hari berikutnya melaksanakan take off-landing di helideck simulator serta siluet Kapal Induk Garibaldi, dan diakhiri dengan take off-landing di LPD KRI Makassar di Dermaga Batoe Poron.


Latihan ini merupakan rangkaian HUT TNI memdatang dalam rangka mempersiapkan Naval Parade dan peresmian Kapal Induk Garibaldi yang nantinya akan berubah nama menjadi KRI Gajah Mada.


Kualifikasi Ship Board Operation dengan legalitas Fly deck certificate yang diterima penerbang Grup 2 Heli khususnya bagi Skadron Udara 6 menjadi modal matang untuk menjawab tantangan bagi kesiapan operasi di masa yang akan datang.

MOF Tinjau Tadbir Urus dan Kesiapsiagaan Aset Su-30MKM di Gong Kedak

27 Agustus 2026

Rudal udara-ke-udara, rudal anti radiasi dan rudal anti kapal yang melengkapi Su-30MKM (photo: TUDM)

GONG KEDAK - Pengurusan aset, alat ganti serta tahap kesiapsiagaan pesawat Su-30MKM menjadi fokus lawatan pemantauan Bahagian Pengurusan Aset Awam (PAM), Kementerian Kewangan (MOF) ke Pangkalan Udara Gong Kedak.

Pemantauan dilaksanakan bagi menilai aspek tadbir urus, pengurusan dan penyelenggaraan aset agar terus mematuhi dasar serta tatacara pengurusan aset Kerajaan yang berkuat kuasa. Lawatan ini juga memberi peluang kepada MOF untuk melihat secara langsung peranan aset TUDM dalam mendukung keupayaan pertahanan udara serta menjaga keselamatan dan kedaulatan negara.

Delegasi seramai 20 orang pegawai itu diketuai oleh Setiausaha Bahagian Pengurusan Aset Awam, YBhg. Datuk Alan bin Abdul Rahim serta melibatkan wakil Bahagian Perolehan Kerajaan (BPK) dan Pejabat Belanjawan Negara (NBO).

Lawatan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Kementerian Pertahanan (MINDEF), YBhg. Datin Roszanina binti Wahab bersama Timbalan Setiausaha Bahagian Kewangan, Puan Mas Sakdah binti Kamaruzzaman dan Ketua Penolong Setiausaha Cawangan Pengurusan Aset, Encik Zul Azri bin Abdullah.

TUDM pula diwakili oleh Panglima Operasi Udara, Leftenan Jeneral Dato’ Masro bin Kaliwon TUDM, Panglima Bantuan Udara, Mejar Jeneral Dato’ Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM dan Asisten Ketua Staf Materiel, Brigedier Jeneral Norizan binti Wahab TUDM.

Ketibaan delegasi telah disambut oleh Komander Pangkalan Udara Gong Kedak, Kolonel Hasfa Nyzam bin Abdul Hamid TUDM bersama Pegawai Eksekutif Pangkalan.

Selepas menerima taklimat ringkas mengenai pengoperasian pangkalan, delegasi dibawa meninjau pesawat Su-30MKM di Tactical Shelter No. 12 Skn dan Sistem Misil di Terminal Peluru 4.

Delegasi turut meninjau kemudahan Automated Storage and Retrieval System (ASRS) di MATRA 3 yang digunakan bagi pengurusan alat ganti serta Pusat Simulator Su-30MKM.

Tinjauan secara langsung ini memperkukuh kefahaman bersama antara MOF, MINDEF dan TUDM mengenai keperluan pengurusan aset pertahanan, sekali gus memastikan aset strategik negara diurus secara berkesan, berintegriti dan sentiasa berada pada tahap kesiapsiagaan yang optimum.

Singapore MINDEF Signs Contract to Acquire Two Landing Crafts

27 Agustus 2026


Vessels built by Penguin International shipyard (photo: Dymon Asia)

The Ministry of Defence (MINDEF) has signed a contract with Penguin International Limited to construct two landing crafts, intended to progressively replace the Republic of Singapore Navy’s (RSN) ageing Fast Craft Equipment and Personnel (FCEP) and Fast Craft Utility (FCU) vessels, which have been in service for more than 30 years.


 

The landing craft will be assessed for its suitability to meet the RSN’s operational requirements before any decision is made on the full replacement of the FCEP and FCU. This reflects MINDEF’s progressive approach towards capability development, ensuring that new platforms are rigorously evaluated before full fleet replacement.

 

Delivery of the craft is expected from 2029.


(RSN)

26 Agustus 2026

PAF Menerima 9 Kendaraan Tempur KLTV K152 Versi APC

26 Agustus 2026

Kendaraan angkut personel lapis baja KLTV K152 (photo: AFPMPU)

Angkatan Udara Filipina/Philippine Air Force (PAF) telah menerima kendaraan angkut personel lapis baja (APC) 4x4 baru—tepatnya sebanyak sembilan unit.

Foto yang memperlihatkan kendaraan angkut personel lapis baja KLTV K152 baru milik Angkatan Udara Filipina ini dibagikan oleh seorang anggota komunitas.

Kendaraan ini memiliki kapasitas delapan penumpang, serta dilengkapi perlindungan standar STANAG Level 2 hingga 3 (tergantung pada spesifikasi yang diajukan oleh PAF) dan perlindungan terhadap ledakan ranjau.

Kendaraan ini dapat dipasangi senapan mesin 7,62 mm, peluncur granat, atau sistem senjata anti-tank. APC ini kemungkinan besar akan ditugaskan ke unit 710th SPOW.

TNI AL Uji Coba HC-545 VTOL Fixed Wing UAV Buatan China

26 Agustus 2026

HC-545 VTOL fixed wing UAV buatan China (photos: TNI AL)

Kadislitbangal Laksma TNI Danny Hotler Bachtera, S.T., M.Tr. Opsla., memimpin kegiatan Uji Coba Litbang HC-545 VTOL Fixed Wing UAV buatan Honeycomb Aerospace China oleh PT Orela Shipyard bertempat di Lapangan Terbang R.E.B.O Tjokroadirejo, Grati, Pasuruan, Jawa Timur. (20/8/2026).


Pengujian HC-545 VTOL Fixed Wing UAV di Lapangan Terbang TNI AL Pasuruan berjalan lancar (20/8/2026). Kegiatan bersama Kadislitbangal dan jajaran ini menjadi bagian dari penguatan teknologi dan pertahanan matra laut.


Honeycomb UAV adalah perusahaan teknologi tinggi asal China yang berbasis di Beijing dan bergerak di bidang desain, pengembangan, serta produksi sistem pesawat nirawak (UAV) dan perangkat lunak drone industri.

XCB01 Resmi Bergabung dengan Divisi ke-308 AD Vietnam

26 Agustus 2026

Sekretaris Jenderal PKV dan Presiden To Lam dan para delegasi mengunjungi kompi infanteri mekanis yang sedang berlatih melewati rintangan air di Divisi Infantri Mekanis Ke-308 AD Vietnam (photos: QDND)

Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) dan Presiden Vietnam ke-13 yang menjabat saat ini To Lam melaksanakan kunjungan kerja ke Divisi Infanteri Mekanis ke-308 Korps Angkatan Darat Vietnam Ke-12.

Divisi ke-308 mengeluarkan persenjataannya untuk latihan tembak langsung. Fokus perhatian tidak lain adalah kendaraan tempur infanteri XCB01 yang berlatih berenang melewati rintangan air.


Informasi paling berharga kali ini bukanlah uji coba kendaraan, tetapi jumlahnya. Batch pertama sebanyak 18 kendaraan XCB01 telah resmi diserahkan kepada unit ini untuk kesiapan tempur. Itu berarti kendaraan tersebut telah melewati semua tahap pengujian penerimaan yang paling ketat dan menyelesaikan standar kualitas untuk dioperasikan secara aktual. 

Divisi ke-308 Korps Angkatan Darat ke-12 adalah kekuatan utama angkatan darat. Unit elit dengan sejarah panjang sejak 1949 yang bertempur sengit di Khe Xanh, dan medan perang Quang Tri pada tahun 1972.


Untuk melengkapi kekuatan yang begitu dahsyat, peralatannya harus benar-benar berkualitas tinggi. Seperti yang kita ketahui, jumlah kendaraan tempur infanteri beroda rantai kita saat ini cukup sedikit.

Kendaraan tempur BMP1 hanya sekitar 200 hingga 300 unit, BMP2 sedikit lebih dari satu batalion. Jika kita menerapkan jadwal pengerahan pasukan standar untuk membangun divisi infanteri mekanis, itu tentu tidak cukup. Proses desain dan produksi XCB01 adalah bagian untuk mengisi kesenjangan peralatan ini.


Dari segi asal, proyek ini dimulai pada tahun 2021, berawal dari kenyataan bahwa angkatan darat Vietnam jelas melihat situasi medan perang modern. 

Tank lapis baja berat Barat memang memberikan perlindungan yang baik, tetapi terlalu berat di medan yang lemah atau area perkotaan yang sempit, sehingga mudah menjadi sasaran empuk bagi UAV atau drone FPV bunuh diri. Oleh karena itu, tantangan bagi XCB01 adalah fleksibilitasnya.


Dibandingkan dengan M113 atau BMP1 dalam hal ukuran dan berat, XCB01 sama sekali tidak kalah. Meskipun tidak mengklaim sepenuhnya lebih unggul dalam setiap aspek dibandingkan kendaraan impor, kuncinya adalah kami 100% mandiri mulai dari desain hingga manufaktur, sehingga menurunkan biaya hingga hanya 50% dibandingkan dengan membelinya.

Oleh karena itu, memprioritaskan pengiriman pertama XCB01 untuk Divisi ke-308 Korps ke-12 bukan hanya keputusan peralatan sederhana, tetapi juga memiliki makna simbolis dan strategis yang sangat signifikan.