Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Kogabwilhan I) bersama Pasmar 1 berkolaborasi mengembangkan drone serbu otomatis sebagai inovasi teknologi pertahanan. Alutsista ini rencananya akan diuji pada Latihan TNI Terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Danpasmar 1 Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., meninjau langsung uji coba di Lapangan Tembak Jusman Puger, Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (29/07/2026). Kolaborasi ini wujud sinergi modernisasi pertahanan untuk meningkatkan kesiapan operasional prajurit menghadapi tantangan tugas yang dinamis.
(PasMar1)
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
BalasHapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
Mantap
BalasHapusBisa di uji coba ke kkb
BalasHapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
BalasHapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
----------------------------------
Status Realisasi Alutsista (Data SIPRI)
Indonesia (Dominasi Kawasan): Memiliki daftar belanja satu lembar penuh mencakup Rafale F4, A400M Atlas, Kapal PPA, Rudal Khan/Bora, dan drone ANKA-S. Terdaftar sebagai importir senjata ke-18 dunia.
MALAYSEWA (Vakum Total): Laporan SIPRI menunjukkan angka KOSONG selama dua tahun berturut-turut (2024-2025). Status merosot dari fase Planned (2020) hingga nihil transfer senjata berat.
Kegagalan Strategis: Pembatalan akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali menjadi bukti hilangnya daya beli cash, bahkan untuk aset bekas.
-
Model Pengadaan: Kepemilikan vs Sewa
Indonesia (Buying): Skema pembelian tunai/kredit ekspor untuk kepemilikan penuh aset guna menjamin kedaulatan operasional jangka panjang.
MALAYSEWA (Leasing): Krisis likuiditas memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing) untuk 32+ item, termasuk 31 helikopter (Blackhawk, AW139, AW149), pesawat latihan L39, hingga kendaraan polisi.
-
Kondisi Fiskal & Perangkap Utang
Indonesia (Stabil): Rasio utang pemerintah sehat (40% GDP), utang rumah tangga rendah (16% GDP), dan defisit terkendali di 2,9%.
MALAYSEWA (Kritis): Utang pemerintah menembus 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di 84,3% GDP.
Siklus Gali Lubang: 58% pinjaman baru pada 2026 hanya digunakan untuk membayar cicilan dan bunga utang lama (Debt-Servicing).
-
Peringkat Militer ASEAN (GFP 2026)
Peringkat 1: Indonesia (Peringkat 13 Dunia) – Pemimpin mutlak kawasan.
Peringkat 6: Filipina (Peringkat 41 Dunia) – Berhasil menyalip MALAYSEWA melalui modernisasi aktif.
Peringkat 7: MALAYSEWA (Peringkat 42 Dunia) – Merosot ke posisi terendah di antara negara utama ASEAN akibat stagnasi belanja.
-
Krisis Administrasi & Degradasi Aset
Pembekuan Total: PM Anwar Ibrahim menginstruksikan Procurement Freeze 2026 guna menghentikan kebocoran anggaran akibat korupsi proyek.
Aset Karatan/Hilang: Skandal mangkraknya proyek LCS & OPV, ditambah catatan buruk hilangnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang negara.
Status Grounded: Mayoritas armada udara (MiG-29, MB339CM, Nuri) tidak bisa terbang karena keterbatasan biaya perawatan.
Tuku we rak uwes......🤷
BalasHapusLak gak kerjo malihan....mas'e
Hapus🤤😤
"..mitra internasional..." Catat
BalasHapus😁🤟
=====
"...Langkah percepatan uji coba ini merupakan bagian dari garis waktu strategis militer Turki untuk memulai pengiriman perdana unit serial KAAN kepada Angkatan Udara Turki maupun mitra internasional, dengan target operasional skuadron Angkatan Udara Turki (Turkish Air Force) pada tahun 2028 mendatang..."
https://indomiliter.com/kaan-p1-prototipe-jet-tempur-siluman-generasi-kelima-turki-sukses-jalani-uji-powered-taxi/
Mau terketawa tapi takut berdosa..... tapi saya tak mampu menahan ketawa........ HAHAHAHAHAHHAHAHA
BalasHapusBerita apa ni woiiiiiiii..... akibat sepi Shoping....HAHAHAHAHA
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Analisa Geopolitik & Pertahanan: "Stagnasi Total"
Vakum SIPRI (2024-2025): Laporan impor senjata KOSONG selama dua tahun berturut-turut. MALAYSEWA kini sejajar dengan negara ekonomi kecil seperti Laos dan Kamboja dalam hal transfer alutsista berat.
Kegagalan Proyek Strategis: Pembatalan F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali menunjukkan hilangnya kredibilitas finansial di pasar pertahanan internasional.
Penurunan Daya Gentar: Berada di Peringkat 42 GFP (Posisi ke-7 di ASEAN), kini resmi berada di bawah Filipina (Peringkat 41).
Perbandingan Kontras: Indonesia memimpin di Peringkat 13 dunia dengan daftar belanja "satu lembar penuh" (Rafale F4, A400M, KF-21 Boramae, Kapal PPA, dan Rudal Khan/Bora).
-
Analisa Ekonomi & Fiskal: "Spiral Utang Kronis"
Fenomena Gali Lubang Tutup Lubang: Proyeksi 58% pinjaman baru di tahun 2026 hanya digunakan untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang lama (Debt-Servicing Cycle).
Beban Utang Nasional: Total utang dan liabilitas diproyeksikan menyentuh RM 1,79 Triliun, dengan rasio utang terhadap GDP melampaui ambang batas aman (>70%).
Hambatan Dagang Global: Tekanan dari Amerika Serikat melalui Section 301 (kenaikan tarif 10-25%) dan ancaman IEEPA (pemblokiran transaksi) oleh USTR yang memukul sektor manufaktur dan E&E.
-
Analisa Model Pengadaan: "Negara Penyewa" (Leasing)
Krisis Likuiditas: Ketiadaan dana tunai memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing) untuk 32+ item strategis (Helikopter Blackhawk, AW139, simulator, hingga kendaraan taktis).
Barter Komoditas: Pengadaan yang tersisa terpaksa menggunakan skema Barter Kelapa Sawit (CPO) seperti pada kesepakatan FA-50 (Korea Selatan) dan PT-91M (Polandia).
Aset Karatan & Hilang: Proyek LCS mangkrak melibatkan 17 kreditor, diperparah dengan catatan buruk hilangnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet jet tempur.
-
Analisa Reputasi & Diplomasi Internasional
Runtuhnya Prestasi Olahraga: Kekalahan di CAS terkait 7 pemain naturalisasi ilegal dan sanksi AFC (Kalah WO 0-3) mencerminkan kegagalan administrasi sistemik.
Kehilangan Posisi Regional: Resmi gagal lolos ke Piala Asia 2027, di mana posisi tersebut kini diambil alih oleh Vietnam, mempertegas penurunan pengaruh MALAYSEWA di ASEAN.
Krisis Identitas: Kritik internal dari pemimpin nasional (Mahathir & Anwar Ibrahim) mengenai kemiskinan struktural dan korupsi proyek negara memperburuk citra di mata investor global.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
----------------------------------
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Krisis Administrasi & Tekanan Internasional
Sanksi Olahraga: Kekalahan WO 0-3 dan sanksi AFC/CAS akibat pemain naturalisasi ilegal mencerminkan kegagalan birokrasi sistemik.
Kehilangan Pengaruh: Posisi di Piala Asia 2027 resmi direbut oleh Vietnam, mempertegas mundurnya pengaruh diplomasi regional.
Tekanan Ekonomi AS: Ancaman sanksi tarif Section 301 (10-25%) dan IEEPA oleh USTR menghantam sektor manufaktur utama (E&E).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
----------------------------------
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Krisis Administrasi & Tekanan Internasional
Sanksi Olahraga: Kekalahan WO 0-3 dan sanksi AFC/CAS akibat pemain naturalisasi ilegal mencerminkan kegagalan birokrasi sistemik.
Kehilangan Pengaruh: Posisi di Piala Asia 2027 resmi direbut oleh Vietnam, mempertegas mundurnya pengaruh diplomasi regional.
Tekanan Ekonomi AS: Ancaman sanksi tarif Section 301 (10-25%) dan IEEPA oleh USTR menghantam sektor manufaktur utama (E&E).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
KAUM FFBNP NOT PAID = LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
18 FA50Murah = DI TIPU KOREA (CONNED KOREA)
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
-
Korea Aerospace Industries won the LCA / LIFT competition (which suffered a competitive challenge attempt) to supply the Royal MALAYSEWAn Air Force (RMAF or TUDM) with 18 light combat and advanced trainer aircraft. Eight of these aircraft are to be configured primarily as Lead Advanced Trainer (LIFT), while the remaining ten would be Light Fighter Aircraft (LCA) combat aircraft.
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------
SIPRI 2023 MALAYSEWA =
RADAR EM/L-2032 FOR FA50M
RADAR EM/L-2032 FOR FA50M
RADAR EM/L-2032 FOR FA50M
-
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHJzxwXoi9JJ1en5IoKmLuxc1T9FaY6kvLCSuuQGnjIQMypgAwlGYK_SxGU9es-QwOkQDFp1dEXNQ9OTDqU8rul1nQ_uD6kXLqMAz3dDvdl9N0uANjU1AdYs5Jg3hV64lYusPLIsnHnMFVm9_zrRlbkcK_onpmxfCEG9WhqO-mQSzKXE_H87PHNXJniAUN/s1553/MY-2.jpg
------
POLANDIA MEMBER NATO = AMRAAM
MALAYSEWA NON NATO = BLOKIR AMRAAM BANNED NSM
-
🛡️ Polandia (Anggota NATO)
Status: Sekutu garis depan Eropa Timur.
Kebijakan AS: Izin integrasi rudal AIM-120C AMRAAM (FA-50PL).
Hak Akses: Prioritas pelepasan source code enkripsi taktis.
Fasilitas: Berpengalaman dengan infrastruktur keamanan F-16 AS.
Kondisi: Modernisasi cepat demi memperkuat sayap timur aliansi.
-
🌐 Malaysewa (Non-NATO)
Status: Negara bebas-aktif non-aliansi utama AS.
Kebijakan AS: Pemblokiran rudal NSM dan penahanan AMRAAM (FA-50M).
Hambatan ITAR: Veto mutlak AS atas komponen giroskop Raytheon.
Birokrasi: Pemeriksaan transfer teknologi ketat akibat risiko kebocoran.
.
PANTAS PESAWAT DAN HELI JATUH =
HapusDIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALAYSEWA berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALAYSEWA bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALAYSEWA. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
NASIB 🦧GORILA TERIAK HUTANG RINGGIT KUAT =
1. TIAP TAHUN = ASET MILITER SEWA
2. TIAP TAHUN = HUTANG GOVERMENT BERTAMBAH
3. TIAP TAHUN = HUTANG HOUSEHOLD BERTAMBAH
4. TIAP TAHUN = DEFISIT
5. TIAP TAHUN = HANYA BAYAR FAEDAH
-----
2025 = HUTANG PEMERINTAH (GOVERNMENT DEBT)
Hingga akhir kuartal ketiga (September 2025), hutang pemerintah nasional MALAYSEWA tercatat sebesar USD 312,8 miliar.
Rasio Hutang terhadap PDB: Pada September 2025, rasionya berada di angka 66,1%.
Nilai dalam Ringgit: Per Juni 2025, hutang kerajaan dilaporkan mencapai RM 1,304 triliun.
Total Liabilitas: Jika menyertakan komitmen kewangan lainnya, total hutang dan liabilitas pemerintah mencapai 84,1% dari PDB pada pertengahan 2025.
-----
2025 = HUTANG LUAR NEGERI (EXTERNAL DEBT)
Berdasarkan data kuartal kedua 2025, hutang luar negeri bruto MALAYSEWA sempat mencapai puncaknya di angka RM 1,403 triliun.
------------------
MALAYSEWA ........
GOVERNMENT DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84.3% OF GDP
FEDERAL GOVERNMENT DEBT
• END OF 2024: RM 1.25 TRILLION
• END OF 2025: RM 1.3 TRILLION
• PROJECTED DEBT-TO-GDP: 69% BY THE END OF 2025
HOUSEHOLD DEBT
2025 : RM1.73 TRILLION, OR 85.8% OF GDP
-
MALAYSEWA = BATAS LIMIT 65%
GOV. DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84,3% OF GDP
DEFISIT : 3,8%
GDP = USD 416,90 MILIAR
============
============
INDONESIA = BATAS LIMIT 60%
GOV. DEBT : 40% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 16% OF GDP
DEFISIT : 2,9%
GDP = USD 1,44 TRILIUN
Lon, jelas sangat bodohmu..
BalasHapusTanpa tertawapun kau sudah berdosa karena MEMBUAL tiap hari
Malaydesh TOLOL..Bodoh pula
🤣🤣😂😂😂😭😛😛😛
FA50 BLOCK 20 MALAYSIA...😎😎🇲🇾🇲🇾
BalasHapus1. RADAR AESA
PHANTOMSTRIKE ✅
2. SNIPER PODS ✅
3. IFF SYSTEM ✅
4. AIM 120 AMRAAM ✅
--------------------------------
T50 BASIC INDIANESIA... 🤣🤣
1. RADAR AESA
PHANTOMSTRIKE ❌
2. SNIPER PODS ❌
3. IFF SYSTEM ❌
4. AIM 120 AMRAAM ❌
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
JENDERAL KORUPSI
HapusANAK BUAH = MANTAB-MANTAB WANITA
-
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
DIAYAM-AYAMKAN = YE YE
----------
Sumber Berita Utama
Tribun Jateng (7 Januari 2026)
Melaporkan video viral yang memperlihatkan sejumlah personel militer MALAYSEWA berpesta bersama wanita panggilan di dalam kamp. Kasus ini memicu sorotan publik dan kritik terhadap disiplin militer.
----------
Kompas.com (6 Januari 2026)
Menyebut bahwa masyarakat MALAYSEWA bereaksi keras setelah video pesta tersebut tersebar. Kementerian Pertahanan menegaskan akan melakukan investigasi dan menindak sesuai aturan jika terbukti.
----------
YouTube – Tribun Video
Menayangkan rekaman pesta di barak militer MALAYSEWA. Disebutkan beberapa anggota yang terlibat sudah berkeluarga, sehingga menambah kontroversi
--------------------------
2026 JENDERAL UANG KOPI SEDAP .....
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
UANG KOPI 17 PERUSAHAAN
• iNews.id – Mantan Panglima Angkatan Darat MALAYSEWA Ditangkap Dugaan Korupsi Tender Militer Pada 7 Januari 2026, Hafizuddeain Jantan ditahan MACC bersama dua istrinya. Penangkapan ini terkait penyelidikan tender kontrak militer yang diduga penuh praktik suap.
-
• Utusan MALAYSEWA – Kes tender TDM: Hafizuddeain tiba di SPRM dirakam keterangan Hafizuddeain terlihat hadir di kantor pusat SPRM pada 7 Januari 2026 untuk memberikan keterangan. Media melaporkan adanya aliran dana besar di rekening pribadinya yang menjadi fokus penyelidikan.
-
• New Straits Times (NST) – Ex-army chief, two wives among five held in graft probe MACC mengonfirmasi penahanan Hafizuddeain, dua istrinya, serta tiga orang lainnya. Mereka diduga terlibat dalam konspirasi memindahkan dana sebesar RM2,4 juta terkait proyek pengadaan militer.
-
• ANTARA News – Imbas isu rasuah, MALAYSEWA ganti Panglima Angkatan Darat Pada 1 Januari 2026, Jenderal Datuk Azhan Md Othman resmi dilantik sebagai Panglima Angkatan Darat MALAYSEWA menggantikan Hafizuddeain. Pergantian ini dilakukan setelah Hafizuddeain diminta cuti sejak 27 Desember 2025.
-
• VIVA.co.id – MALAYSEWA Ganti Panglima Angkatan Darat Imbas Isu Korupsi Proyek Militer Pelantikan Azhan Md Othman disebut sebagai langkah menjaga integritas dan kesinambungan komando Angkatan Darat MALAYSEWA di tengah skandal rasuah.
-
• Tempo.co – Dugaan Rasuah, Kepala Angkatan Darat MALAYSEWA Diganti Media ini menyoroti bahwa pergantian jabatan dilakukan karena Hafizuddeain sedang diperiksa atas dugaan korupsi proyek militer
KAUM FFBNP NOT PAID = LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
18 FA50Murah = DI TIPU KOREA (CONNED KOREA)
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
Korea Aerospace Industries won the LCA / LIFT competition (which suffered a competitive challenge attempt) to supply the Royal MALAYSEWAn Air Force (RMAF or TUDM) with 18 light combat and advanced trainer aircraft. Eight of these aircraft are to be configured primarily as Lead Advanced Trainer (LIFT), while the remaining ten would be Light Fighter Aircraft (LCA) combat aircraft.
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------
POLANDIA MEMBER NATO = AMRAAM
MALAYSEWA NON NATO = BLOKIR AMRAAM BANNED NSM
-
🛡️ Polandia (Anggota NATO)
Status: Sekutu garis depan Eropa Timur.
Kebijakan AS: Izin integrasi rudal AIM-120C AMRAAM (FA-50PL).
Hak Akses: Prioritas pelepasan source code enkripsi taktis.
Fasilitas: Berpengalaman dengan infrastruktur keamanan F-16 AS.
Kondisi: Modernisasi cepat demi memperkuat sayap timur aliansi.
-
🌐 Malaysewa (Non-NATO)
Status: Negara bebas-aktif non-aliansi utama AS.
Kebijakan AS: Pemblokiran rudal NSM dan penahanan AMRAAM (FA-50M).
Hambatan ITAR: Veto mutlak AS atas komponen giroskop Raytheon.
Birokrasi: Pemeriksaan transfer teknologi ketat akibat risiko kebocoran.
=============
=============
33 F16 : MRCA
33 F16 : MRCA
33 F16 : MRCA
-
TNI AU mengoperasikan sekitar 33 unit pesawat tempur F-16.
23 Unit F-16C/D (Block 25/52): Merupakan varian yang lebih modern, hasil program refurbishment dan peningkatan "Peace Bima-Sena II" dari Amerika Serikat.
10 Unit F-16A/B (Block 15): Merupakan unit lama yang telah melalui program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) dan eMLU (Enhanced Mid-Life Update), membuat kemampuan avionik dan strukturnya setara dengan varian C/D.
Pangkalan Utama: Ditempatkan di Skadron Udara 3 (Lanud Iswahyudi, Magetan) dan Skadron Udara 16 (Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru).
-------
36 AMRAAM
36 AMRAAM
36 AMRAAM
-
Hingga Februari 2026, status utama terkait pengadaan rudal AIM-120 AMRAAM oleh Indonesia melalui skema Defense Security Cooperation Agency (DSCA) adalah sebagai berikut:
Persetujuan Utama (2016): Departemen Luar Negeri AS memberikan persetujuan Foreign Military Sale (FMS) untuk Indonesia pada Maret 2016. Paket tersebut mencakup 36 unit AIM-120C-7 dengan estimasi nilai USD 95 juta.
Integrasi Alutsista: Rudal ini telah dioperasikan oleh TNI AU untuk melengkapi armada jet tempur F-16C/D Block 52ID. Selain itu, Indonesia juga menggunakan varian AMRAAM dalam sistem pertahanan udara titik NASAMS 2 yang menjaga wilayah Jakarta
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG FOR SUBSIDI BBM
MALAYSEWA bisa membiayai subsidi dengan hutang negara:
1. Anggaran Pemerintah dan Defisit:
• Anggaran Tahunan: SeTIAP TAHUN TIPU-TIPU, pemerintah MALAYSEWA menyusun anggaran yang menguraikan perkiraan pendapatan dan pengeluaran. Subsidi adalah salah satu komponen pengeluaran yang signifikan, meliputi subsidi bahan bakar, listrik, makanan, dan lain-lain.
• 🦧GORILA IQ BOTOL = DEFISIT ANGGARAN: Jika total pengeluaran melebihi total pendapatan yang diperkirakan, pemerintah mengalami 🦧GORILA IQ BOTOL = DEFISIT ANGGARAN. Untuk menutupi defisit ini, pemerintah harus mencari sumber pendanaan tambahan.
2. Mekanisme Pembiayaan Defisit (dan Subsidi):
Ketika pemerintah memutuskan untuk memberikan subsidi tetapi tidak memiliki cukup uang tunai dari pendapatan saat ini, mereka akan meminjam. Berikut adalah cara-cara utama:
• Penerbitan Obligasi Pemerintah:
o Apa itu Obligasi? Obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan oleh pemerintah untuk meminjam uang dari investor (individu, institusi keuangan, bank, dll.). Investor membeli obligasi ini dengan janji akan menerima pembayaran bunga secara berkala dan pengembalian pokok pada saat jatuh tempo.
o Bagaimana Terkait Subsidi? Dana yang terkumpul dari penjualan obligasi ini kemudian dapat digunakan untuk mendanai berbagai program pemerintah, termasuk pembayaran subsidi. Ini secara efektif berarti pemerintah meminjam uang untuk membayar subsidi, dan pinjaman ini menjadi bagian dari hutang negara.
o Contoh di MALAYSEWA: MALAYSEWA secara rutin menerbitkan obligasi pemerintah seperti MALAYSEWAn Government Securities (MGS) dan MALAYSEWAn Government Investment Issues (MGII) untuk membiayai pengeluaran dan proyek pembangunan.
• Pinjaman dari Lembaga Keuangan:
o Pemerintah juga dapat meminjam langsung dari bank domestik atau lembaga keuangan internasional (misalnya, Bank Dunia, Asian Development Bank), meskipun ini kurang umum untuk pembiayaan subsidi rutin dan lebih sering untuk proyek-proyek besar atau saat krisis.
3. Dampak terhadap Hutang Negara:
• Peningkatan Hutang: Setiap kali pemerintah meminjam uang untuk membiayai subsidi (atau pengeluaran lain), jumlah total hutang negara akan meningkat.
• Beban Bunga: Peningkatan hutang berarti pemerintah juga harus membayar bunga atas pinjaman tersebut. Pembayaran bunga ini menjadi pengeluaran tahunan dalam anggaran pemerintah, yang berarti sebagian dari pendapatan negara harus dialokasikan untuk membayar bunga hutang daripada untuk program lain.
• Risiko Fiskal: Jika rasio hutang terhadap PDB menjadi terlalu tinggi atau jika beban bunga menjadi tidak berkelanjutan, ini dapat menimbulkan risiko fiskal bagi negara, seperti:
o Penurunan Peringkat Kredit: Lembaga pemeringkat kredit dapat menurunkan peringkat kredit negara, yang membuat biaya pinjaman di masa depan menjadi lebih mahal.
o Tekanan Inflasi: Jika pemerintah mencetak uang untuk membayar hutang (meskipun jarang terjadi di MALAYSEWA), ini bisa menyebabkan inflasi.
BADUT MSIKIN = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
-------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Bukti "Hutang Bayar Hutang" (Debt-Servicing Cycle)
Data resmi menunjukkan MALAYSEWA terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang kronis:
2018 (Fase Verifikasi): Utang menembus RM1 Triliun; pemerintah meluncurkan Tabung Harapan (donasi rakyat) untuk mencicil utang negara.
2019–2020: Ketergantungan meningkat; 59% hingga 60% pinjaman baru hanya untuk melunasi utang lama.
2023 (Rekor Terburuk): 64,3% dari total pinjaman kasar (RM145,8 Miliar) digunakan hanya untuk membayar utang jatuh tempo.
2025–2026: Proyeksi tetap kritis di angka 58%. Ruang fiskal untuk pembangunan dan alutsista praktis terkunci oleh cicilan utang.
-
Bukti "Vakum SIPRI" (2020–2025)
Kontras dengan klaim belanja "Cash", data SIPRI menunjukkan kekosongan aktivitas:
2020–2021: Berstatus Planned (Hanya rencana/dijangka).
2022–2023: Berstatus Not Yet Ordered (Terpilih tapi tidak ada kontrak/pesanan).
2024–2025: Status resmi KOSONG (Nihil transfer senjata berat selama 2 tahun berturut-turut).
Posisi Regional: MALAYSEWA kini sejajar dengan Laos dan Kamboja dalam hal nihilnya modernisasi alutsista berat.
-
Timeline "Prank" Alutsista (Janji vs Realitas)
Daftar kegagalan kontrak strategis yang mencoreng kredibilitas pertahanan:
Prank F/A-18 Hornet: Upaya akuisisi dari Kuwait Batal 4 Kali hingga resmi dihentikan pada 2026 karena masalah logistik dan dana.
Prank Dassault Rafale: Mangkrak sejak 2014 akibat krisis anggaran (kini diborong Indonesia).
Prank Kapal MRSS: Janji kontrak dengan PT PAL (Indonesia) pada 2018 yang tidak pernah terwujud.
Prank Helikopter Blackhawk: Proses sewa (leasing) yang mangkrak dan berbelit hingga 2025.
-
Perangkap Utang & Liabilitas (Eskalasi RM 1,79 Triliun)
Pertumbuhan beban finansial yang melumpuhkan negara:
2010: RM 407,1 Miliar.
2018: RM 1,19 Triliun (Ledakan pasca-transparansi 1MDB).
2026: Proyeksi RM 1,79 Triliun (Titik kritis manajemen utang).
Rasio Utang: Diproyeksikan menyentuh 69,54% dari PDB pada 2029 (Data Statista), melampaui batas aman.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi
Global Firepower (GFP) 2026: MALAYSEWA (Peringkat 42) resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41) di ASEAN.
Status "Military-for-Rent": Karena tidak mampu membeli (Buying), beralih ke skema Sewa (Leasing) untuk 32+ item (Heli, simulator, hingga motor polisi).
Administrasi: Sanksi naturalisasi ilegal dan kekalahan WO 0-3 di bidang olahraga menjadi simbol runtuhnya tata kelola birokrasi nasional.
-
Kesimpulan Strategis
Indonesia: Berstatus "The Giant" dengan modernisasi agresif (Rafale, A400M, PPA) dan rasio utang pemerintah yang sehat (40% GDP).
MALAYSEWA: Berstatus "The Stagnant" yang terjebak dalam delusi klaim "Shopping Cash" sementara kenyataannya hanya mampu membayar bunga utang lama.
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
FA50 BLOCK 20 MALAYSIA...😎😎🇲🇾🇲🇾
BalasHapus1. RADAR AESA
PHANTOMSTRIKE ✅
2. SNIPER PODS ✅
3. IFF SYSTEM ✅
4. AIM 120 AMRAAM ✅
--------------------------------
T50 BASIC INDIANESIA... 🤣🤣
1. RADAR AESA
PHANTOMSTRIKE ❌
2. SNIPER PODS ❌
3. IFF SYSTEM ❌
4. AIM 120 AMRAAM ❌
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
Status Kelumpuhan Pertahanan (SIPRI & Alutsista)
Vakum SIPRI (2024–2025): Status KOSONG total selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer senjata berat yang tercatat, menempatkan MALAYSEWA setara dengan Laos dan Kamboja.
Tren Mundur: Penurunan konsisten dari fase Planned (2020), Selected Not Yet Ordered (2022), hingga nihil aktivitas (2024–2025).
Kegagalan Simbolik: Pembatalan resmi akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali bukti hilangnya kredibilitas finansial di pasar global.
Procurement Freeze (2026): Instruksi PM Anwar Ibrahim untuk pembekuan total pengadaan guna menghentikan korupsi sistemik dan kebocoran anggaran.
-
Model "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Ketiadaan uang tunai memaksa militer beralih dari kepemilikan aset menjadi skema Leasing (Sewa):
Aset Sewaan (32+ Item): Mencakup 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39 ITCC, simulator jet tempur MKM, hingga motor polisi.
Skema Barter: Pengadaan yang tersisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan Barter Kelapa Sawit (CPO) karena krisis devisa.
Aset Mangkrak: Proyek LCS & OPV yang karatan di galangan melibatkan 17 kreditor dengan bunga yang terus membengkak.
-
Spiral Utang "Gali Lubang Tutup Lubang"
Debt-Servicing Cycle: 58% hingga 64,3% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang lama.
Ledakan Liabilitas: Utang nasional melonjak drastis dari RM 407 Miliar (2010) menjadi proyeksi RM 1,79 Triliun (2026).
Rasio Kritis: Utang pemerintah menyentuh 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di angka 84,3% GDP.
Tabung Harapan (2018): Bukti historis keputusasaan fiskal melalui penggalangan dana rakyat untuk membayar utang negara.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
BADUT MSIKIN = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Skandal Aset Hilang: Catatan memalukan raibnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang militer.
Degradasi Armada: Banyak aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri) atau mogok saat parade (Tank PT-91M).
-
Krisis Administrasi & Tekanan Internasional
Sanksi Olahraga: Kekalahan WO 0-3 dan sanksi AFC/CAS akibat pemain naturalisasi ilegal mencerminkan kegagalan birokrasi sistemik.
Kehilangan Pengaruh: Posisi di Piala Asia 2027 resmi direbut oleh Vietnam, mempertegas mundurnya pengaruh diplomasi regional.
Tekanan Ekonomi AS: Ancaman sanksi tarif Section 301 (10-25%) dan IEEPA oleh USTR menghantam sektor manufaktur utama (E&E).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki "Lembar Belanja Penuh" (Rafale F4, A400M, Rudal Khan, Kapal PPA).
Kesehatan Fiskal: Rasio utang pemerintah jauh lebih sehat (40% GDP) dengan ekonomi 4,24x lebih besar secara PDB PPP dibandingkan MALAYSEWA.
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
1. DENDA= USUSD83,8 juta
Seperti dikutip The Edge MALAYSEWA (19/9/2025), Kontraktor pertahanan Aerotree Defence and Services Sdn Bhd telah mengajukan gugatan sebesar RM353 juta (USUSD83,8 juta) terhadap pemerintah dan Kementerian Pertahanan MALAYSEWA atas pembatalan perjanjian sewa lima tahun
-------------
2. SKANDAL KAPAL TEMPUR PESISIR (LITTORAL COMBAT SHIP/LCS)
Ini adalah salah satu skandal pengadaan militer terbesar dan paling kontroversial di MALAYSEWA.
Proyek: Pengadaan enam kapal tempur pesisir untuk Angkatan Laut Kerajaan MALAYSEWA (Royal MALAYSEWAn Navy/RMN).
Nilai Proyek: Kontrak senilai RM9 miliar (sekitar USUSD2 miliar) ditandatangani pada tahun 2011.
Masalah Utama:
Tidak ada kapal yang selesai: Meskipun pemerintah telah membayar lebih dari RM6 miliar, hingga kini belum ada satu pun dari enam kapal yang selesai dan dikirimkan.
Penyalahgunaan dana: Laporan investigasi menemukan adanya dugaan penyalahgunaan dana, pembayaran yang tidak semestinya, dan penggelembungan harga (mark-up). Dana yang seharusnya digunakan untuk proyek justru digunakan untuk tujuan lain.
Politik dan korupsi: Skandal ini menyeret sejumlah nama pejabat tinggi, termasuk mantan menteri pertahanan, yang diduga terlibat dalam praktik korupsi dan nepotisme.
-------------
3. SKANDAL KAPAL SELAM SCORPENE
Skandal ini telah menjadi berita utama selama bertahun-tahun, bahkan melibatkan pengadilan di Prancis.
Proyek: Pembelian dua kapal selam kelas Scorpene dari perusahaan Prancis, DCNS (sekarang Naval Group), pada tahun 2002.
Nilai Proyek: Sekitar RM5,4 miliar.
Masalah Utama:
Komisi besar-besaran: Terdapat dugaan pembayaran komisi sebesar 114 juta Euro kepada sebuah perusahaan yang terkait dengan pejabat senior MALAYSEWA.
Kasus pembunuhan: Skandal ini juga terkait dengan pembunuhan seorang penerjemah wanita asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu, yang diduga memiliki informasi terkait kontrak tersebut. Kasus ini telah menjadi salah satu babak tergelap dalam sejarah politik MALAYSEWA.
-------------
4. KONTROVERSI PENGADAAN JET TEMPUR A-4 SKYHAWK
Kasus ini sering diangkat kembali, termasuk oleh Raja MALAYSEWA sendiri, sebagai contoh kegagalan pengadaan di masa lalu.
Proyek: Pembelian 88 unit jet tempur A-4 Skyhawk bekas dari Amerika Serikat pada tahun 1980-an.
Masalah Utama:
Kondisi buruk: Dari 88 unit yang dibeli, hanya sekitar 40 unit yang bisa digunakan dan sisanya dianggap tidak layak terbang.
Tingkat kecelakaan tinggi: Jet-jet yang dioperasikan mengalami tingkat kecelakaan yang tinggi, membahayakan nyawa pilot, dan akhirnya dipensiunkan. Raja MALAYSEWA menyebutnya sebagai "peti mati terbang" (flying coffin), istilah yang juga digunakan untuk mengkritik rencana pengadaan helikopter Black Hawk yang usianya sudah tua.
-------------
5. SKANDAL PENCURIAN MESIN PESAWAT TEMPUR F-5E
Kasus ini adalah salah satu contoh nyata kelemahan dalam pengawasan aset militer.
Kasus: Hilangnya dua mesin pesawat tempur Northrop F-5E milik Angkatan Udara Kerajaan MALAYSEWA (RMAF) senilai sekitar USUSD29 juta.
Masalah Utama: Investigasi mengungkapkan bahwa mesin-mesin tersebut telah dicuri dari pangkalan militer dan kemudian dijual kepada perusahaan di Amerika Selatan.
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
1. DENDA= USUSD83,8 juta
Seperti dikutip The Edge MALAYSEWA (19/9/2025), Kontraktor pertahanan Aerotree Defence and Services Sdn Bhd telah mengajukan gugatan sebesar RM353 juta (USUSD83,8 juta) terhadap pemerintah dan Kementerian Pertahanan MALAYSEWA atas pembatalan perjanjian sewa lima tahun
-------------
2. SKANDAL KAPAL TEMPUR PESISIR (LITTORAL COMBAT SHIP/LCS)
Ini adalah salah satu skandal pengadaan militer terbesar dan paling kontroversial di MALAYSEWA.
Proyek: Pengadaan enam kapal tempur pesisir untuk Angkatan Laut Kerajaan MALAYSEWA (Royal MALAYSEWAn Navy/RMN).
Nilai Proyek: Kontrak senilai RM9 miliar (sekitar USUSD2 miliar) ditandatangani pada tahun 2011.
Masalah Utama:
Tidak ada kapal yang selesai: Meskipun pemerintah telah membayar lebih dari RM6 miliar, hingga kini belum ada satu pun dari enam kapal yang selesai dan dikirimkan.
Penyalahgunaan dana: Laporan investigasi menemukan adanya dugaan penyalahgunaan dana, pembayaran yang tidak semestinya, dan penggelembungan harga (mark-up). Dana yang seharusnya digunakan untuk proyek justru digunakan untuk tujuan lain.
Politik dan korupsi: Skandal ini menyeret sejumlah nama pejabat tinggi, termasuk mantan menteri pertahanan, yang diduga terlibat dalam praktik korupsi dan nepotisme.
-------------
3. SKANDAL KAPAL SELAM SCORPENE
Skandal ini telah menjadi berita utama selama bertahun-tahun, bahkan melibatkan pengadilan di Prancis.
Proyek: Pembelian dua kapal selam kelas Scorpene dari perusahaan Prancis, DCNS (sekarang Naval Group), pada tahun 2002.
Nilai Proyek: Sekitar RM5,4 miliar.
Masalah Utama:
Komisi besar-besaran: Terdapat dugaan pembayaran komisi sebesar 114 juta Euro kepada sebuah perusahaan yang terkait dengan pejabat senior MALAYSEWA.
Kasus pembunuhan: Skandal ini juga terkait dengan pembunuhan seorang penerjemah wanita asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu, yang diduga memiliki informasi terkait kontrak tersebut. Kasus ini telah menjadi salah satu babak tergelap dalam sejarah politik MALAYSEWA.
-------------
4. KONTROVERSI PENGADAAN JET TEMPUR A-4 SKYHAWK
Kasus ini sering diangkat kembali, termasuk oleh Raja MALAYSEWA sendiri, sebagai contoh kegagalan pengadaan di masa lalu.
Proyek: Pembelian 88 unit jet tempur A-4 Skyhawk bekas dari Amerika Serikat pada tahun 1980-an.
Masalah Utama:
Kondisi buruk: Dari 88 unit yang dibeli, hanya sekitar 40 unit yang bisa digunakan dan sisanya dianggap tidak layak terbang.
Tingkat kecelakaan tinggi: Jet-jet yang dioperasikan mengalami tingkat kecelakaan yang tinggi, membahayakan nyawa pilot, dan akhirnya dipensiunkan. Raja MALAYSEWA menyebutnya sebagai "peti mati terbang" (flying coffin), istilah yang juga digunakan untuk mengkritik rencana pengadaan helikopter Black Hawk yang usianya sudah tua.
-------------
5. SKANDAL PENCURIAN MESIN PESAWAT TEMPUR F-5E
Kasus ini adalah salah satu contoh nyata kelemahan dalam pengawasan aset militer.
Kasus: Hilangnya dua mesin pesawat tempur Northrop F-5E milik Angkatan Udara Kerajaan MALAYSEWA (RMAF) senilai sekitar USUSD29 juta.
Masalah Utama: Investigasi mengungkapkan bahwa mesin-mesin tersebut telah dicuri dari pangkalan militer dan kemudian dijual kepada perusahaan di Amerika Selatan.
INDONESIA=
HapusMRCA✔️
AMRAAM✔️
METEOR✔️
HAMMER✔️
FREGAT✔️
SIPRI SHOPPING✔️
===============
===============
MALAYSEWA =
NSM BANNED❌
AMRAAM BLOKIR❌
F18 BATAL❌
UH60A BATAL❌
REWORK 4000 PIPA DAN KABEL❌
SIPRI KOSONG❌
--------------------------------
2026
POPULASI: 36.38 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.79 TRILIUN (70.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.65 TRILIUN (84.3%)
BEBAN PER KAPITA: RM 94,544
-
2025
POPULASI: 35.97 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.30 TRILIUN (-%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.65 TRILIUN (-%)
BEBAN PER KAPITA: RM 81,998
-
2024
POPULASI: 34.67 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.22 TRILIUN (64.6%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.53 TRILIUN (84.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 79,315
-
2023
POPULASI: 35.12 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.17 TRILIUN (64.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.45 TRILIUN (81.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 74,587
-
2022
POPULASI: 34.69 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.08 TRILIUN (60.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.38 TRILIUN (80.9%)
BEBAN PER KAPITA: RM 70,901
-
2021
POPULASI: 34.28 JUTA
DEBT GOVT: RM 979.81 MILIAR (63.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.34 TRILIUN (89.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 67,667
-
2020
POPULASI: 33.87 JUTA
DEBT GOVT: RM 879.56 MILIAR (62.0%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.27 TRILIUN (87.5%)
BEBAN PER KAPITA: RM 63,464
-
2019
POPULASI: 33.45 JUTA
DEBT GOVT: RM 793.00 MILIAR (52.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.22 TRILIUN (82.5%)
BEBAN PER KAPITA: RM 60,179
-
2018
POPULASI: 33.00 JUTA
DEBT GOVT: RM 741.00 MILIAR (52.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.16 TRILIUN (82.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 57,605
-
2017
POPULASI: 32.54 JUTA
DEBT GOVT: RM 686.80 MILIAR (51.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.10 TRILIUN (83.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 54,910
-
2016
POPULASI: 32.04 JUTA
DEBT GOVT: RM 648.50 MILIAR (52.7%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.04 TRILIUN (86.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 52,699
-
2015
POPULASI: 31.52 JUTA
DEBT GOVT: RM 630.50 MILIAR (55.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 985.00 MILIAR (86.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 51,253
-
2014
POPULASI: 30.98 JUTA
DEBT GOVT: RM 582.80 MILIAR (55.0%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 902.00 MILIAR (85.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 47,927
-
2013
POPULASI: 30.42 JUTA
DEBT GOVT: RM 547.70 MILIAR (54.7%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 821.00 MILIAR (82.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 44,992
-
2012
POPULASI: 29.85 JUTA
DEBT GOVT: RM 501.60 MILIAR (53.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 732.00 MILIAR (77.8%)
BEBAN PER KAPITA: RM 41,326
-
2011
POPULASI: 29.26 JUTA
DEBT GOVT: RM 456.10 MILIAR (51.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 653.00 MILIAR (74.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 37,904
-
2010
POPULASI: 28.65 JUTA
DEBT GOVT: RM 407.10 MILIAR (52.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 581.00 MILIAR (74.8%)
BEBAN PER KAPITA: RM 34,488
-
2009
POPULASI: 28.04 JUTA
DEBT GOVT: RM 362.40 MILIAR (51.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 516.00 MILIAR (72.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 31,326
-
2008
POPULASI: 27.45 JUTA
DEBT GOVT: RM 258.00 MILIAR (41.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 460.00 MILIAR (73.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 26,155
-
2007
POPULASI: 26.86 JUTA
DEBT GOVT: RM 266.00 MILIAR (41.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 414.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 25,316
-
2006
POPULASI: 26.26 JUTA
DEBT GOVT: RM 242.00 MILIAR (41.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 372.00 MILIAR (63.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 23,381
-
2005
POPULASI: 25.66 JUTA
DEBT GOVT: RM 228.00 MILIAR (43.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 335.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 21,940
-
2004
POPULASI: 25.06 JUTA
DEBT GOVT: RM 217.00 MILIAR (45.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 298.00 MILIAR (62.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 20,550
-
2003
POPULASI: 24.46 JUTA
DEBT GOVT: RM 189.00 MILIAR (45.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 265.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 18,560
-
2002
POPULASI: 23.87 JUTA
DEBT GOVT: RM 165.00 MILIAR (44.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 236.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 16,798
-
2001
POPULASI: 23.28 JUTA
DEBT GOVT: RM 146.00 MILIAR (42.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 207.00 MILIAR (60.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 15,162
-
2000
POPULASI: 22.69 JUTA
DEBT GOVT: RM 126.00 MILIAR (36.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 182.00 MILIAR (52.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 13,574
-
1999
POPULASI: 22.11 JUTA
DEBT GOVT: RM 113.00 MILIAR (40.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 157.00 MILIAR (56.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 12,210
-
1998
POPULASI: 21.53 JUTA
DEBT GOVT: RM 98.00 MILIAR (35.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 135.00 MILIAR (49.3%)
BEBAN PER KAPITA: RM 10,821
Lon, jelas sangat bodohmu..
BalasHapusTanpa tertawapun kau sudah berdosa karena MEMBUAL tiap hari
🤣🤣😂😂😂
Malaydesh pernah Membual dapatkan aproval pengecualian pasal NSM dari US, ternyata KERAjaan buka tender pengganti NSM...
😂😂🤣🤣😭
Malaydesh membual dapatkan Hornet Rongsokan Kuwait..ternyata GHOIB..
🤣🤣😂😂😂😂
DOSA kau banyak lon...TOLOL
FA50 BLOCK 20 MALAYSIA...😎😎🇲🇾🇲🇾
BalasHapus1. RADAR AESA
PHANTOMSTRIKE ✅
2. SNIPER PODS ✅
3. IFF SYSTEM ✅
4. AIM 120 AMRAAM ✅
--------------------------------
T50 BASIC INDIANESIA... 🤣🤣
1. RADAR AESA
PHANTOMSTRIKE ❌
2. SNIPER PODS ❌
3. IFF SYSTEM ❌
4. AIM 120 AMRAAM ❌
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
REVENUE: RM334.1 BILLION
HapusEXPENDITURE: RM470 BILLION
RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
2026 MALAYSEWA = FITTED FOR BUT NOT PAID
2026 MALAYSEWA = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
2026
POPULASI: 36.38 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.79 TRILIUN (70.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.65 TRILIUN (84.3%)
BEBAN PER KAPITA: RM 94,544
-
2025
POPULASI: 35.97 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.30 TRILIUN (-%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.65 TRILIUN (-%)
BEBAN PER KAPITA: RM 81,998
-
2024
POPULASI: 34.67 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.22 TRILIUN (64.6%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.53 TRILIUN (84.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 79,315
-
2023
POPULASI: 35.12 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.17 TRILIUN (64.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.45 TRILIUN (81.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 74,587
-
2022
POPULASI: 34.69 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.08 TRILIUN (60.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.38 TRILIUN (80.9%)
BEBAN PER KAPITA: RM 70,901
-
2021
POPULASI: 34.28 JUTA
DEBT GOVT: RM 979.81 MILIAR (63.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.34 TRILIUN (89.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 67,667
-
2020
POPULASI: 33.87 JUTA
DEBT GOVT: RM 879.56 MILIAR (62.0%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.27 TRILIUN (87.5%)
BEBAN PER KAPITA: RM 63,464
-
2019
POPULASI: 33.45 JUTA
DEBT GOVT: RM 793.00 MILIAR (52.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.22 TRILIUN (82.5%)
BEBAN PER KAPITA: RM 60,179
-
2018
POPULASI: 33.00 JUTA
DEBT GOVT: RM 741.00 MILIAR (52.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.16 TRILIUN (82.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 57,605
-
2017
POPULASI: 32.54 JUTA
DEBT GOVT: RM 686.80 MILIAR (51.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.10 TRILIUN (83.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 54,910
-
2016
POPULASI: 32.04 JUTA
DEBT GOVT: RM 648.50 MILIAR (52.7%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.04 TRILIUN (86.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 52,699
-
2015
POPULASI: 31.52 JUTA
DEBT GOVT: RM 630.50 MILIAR (55.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 985.00 MILIAR (86.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 51,253
-
2014
POPULASI: 30.98 JUTA
DEBT GOVT: RM 582.80 MILIAR (55.0%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 902.00 MILIAR (85.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 47,927
-
2013
POPULASI: 30.42 JUTA
DEBT GOVT: RM 547.70 MILIAR (54.7%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 821.00 MILIAR (82.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 44,992
-
2012
POPULASI: 29.85 JUTA
DEBT GOVT: RM 501.60 MILIAR (53.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 732.00 MILIAR (77.8%)
BEBAN PER KAPITA: RM 41,326
-
2011
POPULASI: 29.26 JUTA
DEBT GOVT: RM 456.10 MILIAR (51.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 653.00 MILIAR (74.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 37,904
-
2010
POPULASI: 28.65 JUTA
DEBT GOVT: RM 407.10 MILIAR (52.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 581.00 MILIAR (74.8%)
BEBAN PER KAPITA: RM 34,488
-
2009
POPULASI: 28.04 JUTA
DEBT GOVT: RM 362.40 MILIAR (51.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 516.00 MILIAR (72.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 31,326
-
2008
POPULASI: 27.45 JUTA
DEBT GOVT: RM 258.00 MILIAR (41.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 460.00 MILIAR (73.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 26,155
-
2007
POPULASI: 26.86 JUTA
DEBT GOVT: RM 266.00 MILIAR (41.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 414.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 25,316
-
2006
POPULASI: 26.26 JUTA
DEBT GOVT: RM 242.00 MILIAR (41.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 372.00 MILIAR (63.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 23,381
-
2005
POPULASI: 25.66 JUTA
DEBT GOVT: RM 228.00 MILIAR (43.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 335.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 21,940
-
2004
POPULASI: 25.06 JUTA
DEBT GOVT: RM 217.00 MILIAR (45.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 298.00 MILIAR (62.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 20,550
-
2003
POPULASI: 24.46 JUTA
DEBT GOVT: RM 189.00 MILIAR (45.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 265.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 18,560
-
2002
POPULASI: 23.87 JUTA
DEBT GOVT: RM 165.00 MILIAR (44.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 236.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 16,798
-
2001
POPULASI: 23.28 JUTA
DEBT GOVT: RM 146.00 MILIAR (42.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 207.00 MILIAR (60.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 15,162
-
2000
POPULASI: 22.69 JUTA
DEBT GOVT: RM 126.00 MILIAR (36.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 182.00 MILIAR (52.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 13,574
-
1999
POPULASI: 22.11 JUTA
DEBT GOVT: RM 113.00 MILIAR (40.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 157.00 MILIAR (56.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 12,210
-
1998
POPULASI: 21.53 JUTA
DEBT GOVT: RM 98.00 MILIAR (35.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 135.00 MILIAR (49.3%)
BEBAN PER KAPITA: RM 10,821
KAUM FFBNP NOT PAID = LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
T50i = STANDAR FA50
T50i = STANDAR FA50
T50i = STANDAR FA50
-
Another feature of the Indonesian T-50i is that it was produced to FA-50 standards rather than the standard T-50 specifications. It is equipped with a Radar Warning Receiver (RWR) in consideration of deployment for combat missions in times of emergency, enhancing operational flexibility for future forces.
Cooperation on the T-50 series between South Korea and Indonesia has already yielded results once. In May 2011, an export contract worth approximately 400 billion won was signed for a total of 16 aircraft, including 12 T-50s and 4 TA-50s. According to local Indonesian media, the contract reportedly included a condition for South Korea to purchase four Indonesian-made CN-235 transport aircraft in return.
The Indonesian Air Force currently operates some T-50i aircraft exclusively for its special flight team, the 'Elang Biru' (Blue Eagle), and has also conducted an upgrade project to equip the introduced T-50i with radar and machine guns.
https://kdefensenews.com/m/view.php?idx=1033&mcode=m37525y
--------------------------------
PESAWAT LATIH T50i :
RADAR 2018
2021 KONTRAK TAMBAHAN 6 UNIT
16 unit pesawat T-50i diterima pada Januari 2014. Dilengkapi dengan meriam dan radar EL/M-2032 di tahun 2018.14 unit aktif digunakan hingga Agustus 2020.Pada Juli 2021, Indonesia menandatangani kontrak pembelian senilai USUSD240 juta untuk 6 unit tambahan dan akan diterima pada Oktober 2024. RADAR T50i EL/M-2032 Performance: Max Range - 222 km
---------------------------------
RADAR F16 EMLU Radar AN/APG-68(V)9 adalah pengembangan terbaru. Selain peningkatan rentang scan dibandingkan dengan versi sebelumnya, radar ini memiliki radar apertur sintetik. Radar AN/APG-68 adalah radar Pulse-doppler long range 296 KM
--------------------------------
GAME OVER
-
2026: GAME OVER (CAS/FIFA) – Banding ditolak, terbukti TIPU dokumen naturalisasi. Denda Rp7,5 M & sanksi 1 tahun.
-
2024: Prank Turki (Yavuz) – Rencana beli meriam MKE kembali DITINJAU ULANG (PHP lagi).
-
2022: Prank PT PAL (Indonesia) – Janji kontrak kapal MRSS bulan Agustus, status tetap GANTUNG.
-
2021: Prank India & Slovakia – PHP jet Tejas & meriam EVA, hasil akhirnya MENGUAP.
-
2019: Prank Pakistan (JF-17) – Pura-pura minat jet tempur saat kunjungan kenegaraan, berujung DIBANTAH.
-
2017: Skandal PSIM Palsu – Pasang modul mast PALSU/DUMMY pada kapal LCS saat peluncuran demi pamer ke Sultan.
-
2016: Prank Nexter (Prancis) – Sudah TTD Letter of Intent (LoI) meriam Caesar, tapi akhirnya BATAL.
-
2007: Prank Rafale (Prancis) – Wacana beli 18 jet tempur senilai $2M, berakhir PHP bertahun-tahun.
--------------------------------
POLANDIA MEMBER NATO = AMRAAM
MALAYSEWA NON NATO = BLOKIR AMRAAM BANNED NSM
-
🛡️ Polandia (Anggota NATO)
Status: Sekutu garis depan Eropa Timur.
Kebijakan AS: Izin integrasi rudal AIM-120C AMRAAM (FA-50PL).
Hak Akses: Prioritas pelepasan source code enkripsi taktis.
Fasilitas: Berpengalaman dengan infrastruktur keamanan F-16 AS.
Kondisi: Modernisasi cepat demi memperkuat sayap timur aliansi.
-
🌐 Malaysewa (Non-NATO)
Status: Negara bebas-aktif non-aliansi utama AS.
Kebijakan AS: Pemblokiran rudal NSM dan penahanan AMRAAM (FA-50M).
Hambatan ITAR: Veto mutlak AS atas komponen giroskop Raytheon.
Birokrasi: Pemeriksaan transfer teknologi ketat akibat risiko kebocoran.
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
DENDA= USUSD83,8 juta
RM17.5 million in special damages
RM38.7 million in further damages
USUSD38.7 million (about RM297.3 million) in additional compensation
-------------
Defence contractor Aerotree Defence & Services Sdn Bhd has filed a RM353 million lawsuit against the MALAYSEWAn government and Defence Ministry for cancelling a five-year lease agreement involving four US-made Blackhawk UH-60A helicopters for the MALAYSEWAn army's air force unit.
Filed through Messrs Hafarizam, Wan Aisha & Mubarak at the Kuala Lumpur High Court, the suit names the Defence Ministry secretary general, the ministry, and the federal government as defendants.
In the statement of claim sighted by The Edge, Aerotree Defence is asking the court to order the Defence Ministry and the government to follow through with the helicopter lease deal based on the acceptance letter dated April 17, 2023. If the deal can’t be carried out, the company wants:
RM17.5 million in special damages
RM38.7 million in further damages
USUSD38.7 million (about RM297.3 million) in additional compensation
Aerotree is also seeking to block the government from using a RM1.87 million bank guarantee it provided, and is asking for general damages for loss of reputation, plus exemplary and aggravated damages to be decided by the court.
In its 31-page claim, Aerotree said the government had agreed to lease four Blackhawk helicopters for five years at RM187.5 million. The deal was a Private Finance Initiative, meaning the government wouldn’t bear any cost or risk, as Aerotree would own, operate, and maintain the helicopters. The company said the helicopters were fully mission-capable, including for air force transport operations.
Aerotree is seeking a court declaration that the government’s termination of the agreement on Oct 31, 2024, is null and void.
-----------------
Helicopter deal timeline and delays
Under the agreement, Aerotree was to deliver two helicopters within six months of the April 2023 acceptance letter, and the remaining two within nine months. The company also had to provide a non-cancellable RM1.87 million implementation bond, which it secured from Perwira Affin Bank in June 2023.
Aerotree was also required to run a training and industrial collaboration programme. For this, it requested access to the Kuantan Air Force base to prepare a maintenance manual and obtain certification as an Approved Maintenance Organisation.
In July 2023, Aerotree signed a deal with Turkey’s Havelsan for Blackhawk simulator training for 14 RMAF pilots. The following month, it signed a sales agreement with Slovakia’s Training Academy to purchase and upgrade four Blackhawk helicopters.
BADUT MSIKIN = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------
Bukti "Hutang Bayar Hutang" (Debt-Servicing Cycle)
Data resmi menunjukkan MALAYSEWA terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang kronis:
2018 (Fase Verifikasi): Utang menembus RM1 Triliun; pemerintah meluncurkan Tabung Harapan (donasi rakyat) untuk mencicil utang negara.
2019–2020: Ketergantungan meningkat; 59% hingga 60% pinjaman baru hanya untuk melunasi utang lama.
2023 (Rekor Terburuk): 64,3% dari total pinjaman kasar (RM145,8 Miliar) digunakan hanya untuk membayar utang jatuh tempo.
2025–2026: Proyeksi tetap kritis di angka 58%. Ruang fiskal untuk pembangunan dan alutsista praktis terkunci oleh cicilan utang.
-
Bukti "Vakum SIPRI" (2020–2025)
Kontras dengan klaim belanja "Cash", data SIPRI menunjukkan kekosongan aktivitas:
2020–2021: Berstatus Planned (Hanya rencana/dijangka).
2022–2023: Berstatus Not Yet Ordered (Terpilih tapi tidak ada kontrak/pesanan).
2024–2025: Status resmi KOSONG (Nihil transfer senjata berat selama 2 tahun berturut-turut).
Posisi Regional: MALAYSEWA kini sejajar dengan Laos dan Kamboja dalam hal nihilnya modernisasi alutsista berat.
-
Timeline "Prank" Alutsista (Janji vs Realitas)
Daftar kegagalan kontrak strategis yang mencoreng kredibilitas pertahanan:
Prank F/A-18 Hornet: Upaya akuisisi dari Kuwait Batal 4 Kali hingga resmi dihentikan pada 2026 karena masalah logistik dan dana.
Prank Dassault Rafale: Mangkrak sejak 2014 akibat krisis anggaran (kini diborong Indonesia).
Prank Kapal MRSS: Janji kontrak dengan PT PAL (Indonesia) pada 2018 yang tidak pernah terwujud.
Prank Helikopter Blackhawk: Proses sewa (leasing) yang mangkrak dan berbelit hingga 2025.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Status SIPRI: Vakum vs. Agresif
MALAYSEWA (Lembar Kosong): Mencatat status KOSONG selama dua tahun berturut-turut (2024–2025). Tidak ada transfer senjata berat yang terealisasi.
Indonesia (Lembar Penuh): Realisasi masif mencakup Rafale F-4, A400M Atlas, Rudal Khan/Bora, hingga mesin kapal PPA-L-Plus.
-
Kegagalan Pengadaan & Skandal Finansial
Skandal LCS: Proyek RM 9 Miliar yang belum mengirimkan satu pun kapal meski RM 6 Miliar telah dibayarkan. Terdeteksi penyimpangan dana RM 400 Juta untuk bayar utang perusahaan.
Sistem "Middlemen": Ketergantungan pada agen/makelar politik menyebabkan harga alutsista melambung tidak wajar dan spesifikasi yang tidak sesuai kebutuhan militer.
Drama SPH 155mm: Proyek tertunda sejak 2010 dan akhirnya dibatalkan Kemenkeu karena krisis anggaran.
-
Kesenjangan Kemampuan (Capability Gap)
Ketiadaan Pesawat COIN: Menggunakan jet mahal (Su-30MKM) untuk operasi anti-gerilya yang seharusnya menggunakan pesawat ringan. Pengganti (FA-50M) baru akan tiba paling cepat 2026.
Logistik Terfragmentasi: Standarisasi alutsista yang buruk (campuran Rusia, AS, Polandia, China) menciptakan biaya pemeliharaan tinggi dan kesiapan operasional rendah.
Absennya Korps Marinir: Kemampuan amfibi yang terpecah antara AD dan AL melemahkan pertahanan kedaulatan di Laut China Selatan.
-
Krisis Fiskal & "Negara Penyewa"
Spiral Utang: Rasio utang pemerintah (69% GDP) dan rumah tangga (84,3%) yang ekstrem memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing).
Aset Sewaan: Mencakup Helikopter Blackhawk, AW139, pesawat latihan L39, hingga kapal hidrografi dan motor patroli.
Efek Domino: Pembatalan F-18 Hornet Kuwait (2026) menjadi simbol hilangnya kredibilitas finansial di pasar pertahanan global.
-
Penurunan Daya Gentar (GFP 2026)
Peringkat Merosot: Turun ke posisi 42 Dunia (Peringkat 7 di ASEAN), kini berada di bawah Filipina (41) dan jauh tertinggal dari Indonesia (13).
Status Armada: Banyak aset utama berstatus grounded atau tidak layak selam (seperti kasus KD Rahman) akibat kekurangan suku cadang dan teknisi.
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Analisa Kekuatan Udara: Buying vs. Prank
Indonesia melakukan modernisasi masif dengan kontrak resmi (Firm Order), sementara MALAYSEWA terjebak dalam pembatalan dan wacana:
Indonesia (Realisasi & Kontrak G2G):
42 Rafale: Kontrak lunas dan efektif (Dassault Aviation).
48 KAAN (Gen-5): Kerja sama strategis G2G dengan Turki (TAI).
48 KF-21 Boramae (Block II): Kesepakatan tahap akhir dengan Korea Selatan (KAI).
24 M-346F: Penandatanganan Letter of Award (LOA) dengan Leonardo.
MALAYSEWA (Pembatalan & Kegagalan):
F-18 Kuwait: Resmi BATAL (2026) setelah 4 kali upaya negosiasi (New Straits Times).
Status "Prank": Wacana JF-17, Rafale, Typhoon, dan Tejas berakhir tanpa kontrak.
MiG-29N: Pensiun tanpa pengganti (Tiada Ganti).
FA-50: Mengalami hambatan blokir/lisensi dari AS.
-
Analisa Geografis & Jangkauan Tempur
Jarak Pekanbaru ke KL (291 KM) dan Pontianak ke Sarawak (498 KM) sangat pendek dibandingkan radius tempur jet tempur baru Indonesia:
Rafale: ±1.852 KM (Sanggup menjangkau seluruh wilayah semenanjung dan Kalimantan).
KAAN & KF-21: ±1.100–1.400 KM (Dominasi ruang udara regional).
-
Analisa Fiskal: Disiplin vs. Spiral Utang
Perbedaan fundamental dalam cara membiayai pertahanan:
Indonesia (Procurement/Buying): Rasio utang pemerintah sehat (40% GDP). Membeli aset untuk menjadi pemilik penuh.
MALAYSEWA (Leasing/Sewa): Rasio utang kritis (69% GDP) dengan utang rumah tangga ekstrem (84,3%). Karena krisis kas, MALAYSEWA berubah menjadi "Negara Penyewa":
Aset Sewaan: Helikopter Black Hawk (Aerotree), AW139, EC120B, Pesawat L39, Kapal Hidrografi, hingga Motor BMW R1250RT.
Status SIPRI: Indonesia mencatat "Lembar Belanja Penuh", MALAYSEWA KOSONG/ZONK selama 2 tahun berturut-turut (2024-2025).
-
Beban Rakyat & Masa Depan
Beban Per Kapita: Setiap warga MALAYSEWA menanggung beban utang kumulatif sebesar RM 81.998.
Gali Lubang Tutup Lubang: Tren utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama sejak 2010, menyebabkan kemandekan pembangunan militer (LCS mangkrak, MRCA vakum).
Ini LAWAK.....HAHAHAHHA....BEZA KASTA si KAYA dengan SI MISKIN.....HAHAHAHAHAH
BalasHapusMisil NSM dibatalkan sepihak oleh Norway walaupun sudah dibayar 95% oleh MALAYSIA....
makala INDIANESIA di KICK dari program KFX kerana bertahun tahun NUNGGAK HUTANG dengan pelbagai alasan untuk mengelak membayar dan ketahuan MENCURI maklumat KFX....HAHAHAHHA
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Status SIPRI: Vakum vs. Agresif
MALAYSEWA (Lembar Kosong): Mencatat status KOSONG selama dua tahun berturut-turut (2024–2025). Tidak ada transfer senjata berat yang terealisasi.
Indonesia (Lembar Penuh): Realisasi masif mencakup Rafale F-4, A400M Atlas, Rudal Khan/Bora, hingga mesin kapal PPA-L-Plus.
-
Kegagalan Pengadaan & Skandal Finansial
Skandal LCS: Proyek RM 9 Miliar yang belum mengirimkan satu pun kapal meski RM 6 Miliar telah dibayarkan. Terdeteksi penyimpangan dana RM 400 Juta untuk bayar utang perusahaan.
Sistem "Middlemen": Ketergantungan pada agen/makelar politik menyebabkan harga alutsista melambung tidak wajar dan spesifikasi yang tidak sesuai kebutuhan militer.
Drama SPH 155mm: Proyek tertunda sejak 2010 dan akhirnya dibatalkan Kemenkeu karena krisis anggaran.
-
Kesenjangan Kemampuan (Capability Gap)
Ketiadaan Pesawat COIN: Menggunakan jet mahal (Su-30MKM) untuk operasi anti-gerilya yang seharusnya menggunakan pesawat ringan. Pengganti (FA-50M) baru akan tiba paling cepat 2026.
Logistik Terfragmentasi: Standarisasi alutsista yang buruk (campuran Rusia, AS, Polandia, China) menciptakan biaya pemeliharaan tinggi dan kesiapan operasional rendah.
Absennya Korps Marinir: Kemampuan amfibi yang terpecah antara AD dan AL melemahkan pertahanan kedaulatan di Laut China Selatan.
-
Krisis Fiskal & "Negara Penyewa"
Spiral Utang: Rasio utang pemerintah (69% GDP) dan rumah tangga (84,3%) yang ekstrem memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing).
Aset Sewaan: Mencakup Helikopter Blackhawk, AW139, pesawat latihan L39, hingga kapal hidrografi dan motor patroli.
Efek Domino: Pembatalan F-18 Hornet Kuwait (2026) menjadi simbol hilangnya kredibilitas finansial di pasar pertahanan global.
-
Penurunan Daya Gentar (GFP 2026)
Peringkat Merosot: Turun ke posisi 42 Dunia (Peringkat 7 di ASEAN), kini berada di bawah Filipina (41) dan jauh tertinggal dari Indonesia (13).
Status Armada: Banyak aset utama berstatus grounded atau tidak layak selam (seperti kasus KD Rahman) akibat kekurangan suku cadang dan teknisi.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
---------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Status SIPRI: Vakum Total vs. Dominasi Regional
MALAYSEWA (Zonk): Mencatatkan status KOSONG pada lembar laporan SIPRI selama dua tahun berturut-turut (2024–2025). Tidak ada kontrak atau transfer senjata berat yang terealisasi.
Indonesia (Full Shopping): Memiliki lembar belanja penuh dengan aset strategis seperti Rafale F-4, A400M, Rudal Khan/Bora, drone Anka-S, hingga mesin kapal PPA-L-Plus.
-
Alutsista Usang & Krisis Pemeliharaan
Armada Tua: Mengoperasikan aset berusia 30–40 tahun seperti panser Condor (1980-an) dan kapal Lekiu-class (1990-an).
Masalah Kesiapan: Jet tempur utama (Su-30MKM & F/A-18D) memiliki jumlah armada kecil dan biaya perawatan yang mencekik anggaran.
Pensiun Tanpa Pengganti: Mundurnya MiG-29 pada 2017 tanpa pengganti langsung meninggalkan celah pertahanan udara yang lebar.
-
Skandal Korupsi & Kegagalan Pengadaan
Tragedi LCS: Proyek RM 9 Miliar yang meledak biayanya (cost overrun) hingga RM 1 Miliar, namun belum mengirimkan satu pun kapal meski dana telah terserap masif.
Sistem Makelar: Ketergantungan pada agen dan "middlemen" politik menyebabkan harga alutsista menjadi tidak masuk akal dan spesifikasi yang seringkali tidak sesuai kebutuhan militer.
Drama SPH 155mm: Pengadaan artileri medan yang tertunda sejak 2010 dan akhirnya dibatalkan oleh Kementerian Keuangan karena krisis kas.
-
Hambatan Fiskal & Ketergantungan Asing
Anggaran Defisit: Belanja pertahanan hanya 1,0–1,5% PDB, di mana sebagian besar tersedot untuk gaji dan pensiun, menyisakan sedikit ruang untuk modernisasi.
Strategi Sewa (Leasing): Karena tidak mampu membeli tunai, militer terpaksa menyewa helikopter (Blackhawk, AW139) dan pesawat latihan (L39) dari pihak swasta.
Kerentanan Suku Cadang: Ketergantungan penuh pada pemasok luar negeri membuat militer rentan terhadap sanksi politik atau gangguan rantai pasok global.
-
Kelemahan Geopolitik & Operasional
Ancaman Laut China Selatan: Armada laut yang menua dan kecil (hanya 2 kapal selam) membuat MALAYSEWA sulit menghalau intrusi kapal penjaga pantai China di wilayah Luconia Shoals.
Absennya Integrasi: Kurangnya sistem Komando Gabungan yang kuat dan tidak adanya Korps Marinir yang terdedikasi melemahkan respon terhadap ancaman hibrida.
Penurunan Peringkat (GFP 2026): Berada di posisi 42 dunia, kini resmi disalip oleh Filipina (41) dan tertinggal jauh di bawah Indonesia (13).
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG BARTER
-------------
Barter & Hutang Pengadaan Alutsista MALAYSEWA
1. Kapal Selam Scorpene
Skema: Loan agreement + offset industri
Detail:
Dibeli dari Naval Group (Prancis) dengan nilai sekitar RM 3.4 miliar.
Pembayaran dilakukan melalui pinjaman luar negeri (PLN) yang disetujui oleh Kementerian Keuangan MALAYSEWA.
Termasuk offset berupa pelatihan awak, pembangunan fasilitas, dan kerja sama dengan PT PAL2.
-----------------
2. Kapal LCS (Littoral Combat Ship)
Skema: Loan agreement + milestone payment
Detail:
Proyek LCS melibatkan Boustead Naval Shipyard (BNS) dan Thales.
Pembayaran dilakukan bertahap sesuai progres pembangunan.
Menggunakan pinjaman dalam negeri dan luar negeri, namun proyek ini mengalami keterlambatan dan audit karena masalah manajemen.
-----------------
3. Kapal NGPV (New Generation Patrol Vessel)
Skema: Loan agreement + offset lokal
Detail:
Dipesan dari BNS dengan desain MEKO A-100 dari Jerman.
Pembayaran dilakukan melalui pinjaman pemerintah dan milestone kontrak.
Offset berupa pembangunan galangan kapal dan pelatihan teknisi lokal.
-----------------
4. Tank PT-91M Pendekar
Skema: Loan agreement bilateral
Detail:
Dibeli dari Polandia dengan nilai sekitar USD 370 juta.
Pembayaran dilakukan melalui pinjaman bilateral antara pemerintah MALAYSEWA dan Polandia.
Termasuk pelatihan awak dan dukungan teknis dari Bumar Labedy.
-----------------
6. Pesawat FA-50M
Skema: Loan agreement + offset industri
Detail:
MALAYSEWA menandatangani kontrak dengan Korea Aerospace Industries (KAI).
Pembayaran dilakukan melalui pinjaman luar negeri dan milestone pengiriman.
Offset berupa pelatihan pilot dan teknisi serta kerja sama industri dirgantara.
🔁 Tabel Ringkasan Skema Pembayaran
Alutsista Skema Pembayaran Hutang
Scorpene Loan agreement + offset ✅
Kapal LCS Loan + milestone ✅
Kapal NGPV Loan + offset ✅
Tank PT-91M Loan bilateral ✅
FA-50M Loan + offset ✅
KAUM FFBNP NOT PAID = LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
---------------
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
-
angsuran untuk proyek Jet Tempur FA-50 Block 20 dengan skema Hybrid (Kredit & Barter) yang sangat unik:
Parameter Simulasi
Total Kontrak: US$ 920.000.000 (Sekitar RM 4,08 Miliar).
Pembagian Skema (50:50):
50% Kredit (Hutang): US$ 460.000.000
50% Barter (Sawit): US$ 460.000.000
Tenor (Jangka Waktu): 10 Tahun.
Estimasi Bunga KEXIM: 4,5% per tahun (mengikuti standar OECD CIRR)..
============
============
PEKANBARU - KL : 291 KM
PONTIANAK - SERAWAK : 498 KM
--------------------------
1. RAFALE ± 1852 KM
2. KF-21 Boramae ± 1.000–1.100 km
3. F-16C/D Block 50/52 ± 1.000–1.300 km
4. KAAN ± 1.100–1.400 km
--------------------------
GORILA PANAS LOA M346FA .....
-
LOA M346F
LOA M346F
LOA M346F
LOA M346F
-
https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2026/02/Photo_Signing-Ceremony_Letter-of-Award_Indonesia_Leonardo_M-346F.jpg
-
https://img-s-msn-com.akamaized.net/tenant/amp/entityid/AA1VIflp.img?w=768&h=432&m=6&x=395&y=259&s=215&d=76
-
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM_xCoQ3XFRdymrLVwgcKBAjWnMy_8pl7m4Gmyk9T4hEteLXwgKlita-YflWudvDvkNqAe53qX3BNhze7VlNiCH5EoEWknHL7ZqC-p2bFZUUj8X3PoHNMchCnDDJ37nNrGS0FkoXeCPQp8jB_O3K7Q7FME9YNkbk62rsuauglHS6C1x374Zt7foRRirU1x/s567/Photo_Signing%20Ceremony_Letter%20of%20Award_Indonesia_Leonardo_M-346F.jpeg
---------------------------
KONTRAK KAAN =
-
https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2025/07/Gwx4UFQW4AAHLqg.jpg
-
https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/_250726191324-889.png
---------------------------
USD 20 MILIAR versus
2025 TAI DAN KEMENHAN RI =
48 KAAN GEN 5
48 KAAN GEN 5
48 KAAN GEN 5
11 Haziran 2025 tarihinde Endonezya Savunma Bakanlığı ile imzaladığımız ve toplamda 48 adet KAAN uçağına yönelik iş birliğini kapsayan “Devletten Devlete (G2G) Tedarik Anlaşması” doğrultusunda; bu anlaşmanın tüm detaylarını ve teknik eklerini içeren ticari sözleşmenin imza törenini bugün itibarıyla gerçekleştirdik.
--------------------------
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
6 RAFALE SEPTEMBER 2022
18 RAFALE AGUSTUS 2023
18 RAFALE JANUARI 2024
DASSAULT AVIATION = 42 RAFALE
(Saint-Cloud, le 8 Janvier 2024) – La dernière tranche de 18 Rafale pour l’Indonésie est entrée en vigueur ce jour. Elle fait suite à l’entrée en vigueur, en septembre 2022 et en août 2023, de la première et de la deuxième tranche de 6 et 18 Rafale, et vient ainsi compléter le NOmbre d’avions en commande pour l’Indonésie dans le cadre du contrat signé en février 2022 pour l’acquisition de 42 Rafale.
SEWA 53 HELI BEKAS
HapusTUDM SEWA =
12 AW149
4 AW139
5 EC120B
TLDM SEWA =
2 AW159
TDM SEWA =
4 UH-60A
12 AW149
BOMBA SEWA =
4 AW139
POLIS SEWA =
7 BELL429
JABATAN PM SEWA =
1 AW139
MMEA SEWA =
2 AW159
===================
2026
POPULASI: 36.38 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.79 TRILIUN (70.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.65 TRILIUN (84.3%)
BEBAN PER KAPITA: RM 94,544
-
2025
POPULASI: 35.97 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.30 TRILIUN (-%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.65 TRILIUN (-%)
BEBAN PER KAPITA: RM 81,998
-
2024
POPULASI: 34.67 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.22 TRILIUN (64.6%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.53 TRILIUN (84.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 79,315
-
2023
POPULASI: 35.12 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.17 TRILIUN (64.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.45 TRILIUN (81.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 74,587
-
2022
POPULASI: 34.69 JUTA
DEBT GOVT: RM 1.08 TRILIUN (60.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.38 TRILIUN (80.9%)
BEBAN PER KAPITA: RM 70,901
-
2021
POPULASI: 34.28 JUTA
DEBT GOVT: RM 979.81 MILIAR (63.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.34 TRILIUN (89.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 67,667
-
2020
POPULASI: 33.87 JUTA
DEBT GOVT: RM 879.56 MILIAR (62.0%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.27 TRILIUN (87.5%)
BEBAN PER KAPITA: RM 63,464
-
2019
POPULASI: 33.45 JUTA
DEBT GOVT: RM 793.00 MILIAR (52.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.22 TRILIUN (82.5%)
BEBAN PER KAPITA: RM 60,179
-
2018
POPULASI: 33.00 JUTA
DEBT GOVT: RM 741.00 MILIAR (52.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.16 TRILIUN (82.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 57,605
-
2017
POPULASI: 32.54 JUTA
DEBT GOVT: RM 686.80 MILIAR (51.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.10 TRILIUN (83.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 54,910
-
2016
POPULASI: 32.04 JUTA
DEBT GOVT: RM 648.50 MILIAR (52.7%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 1.04 TRILIUN (86.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 52,699
-
2015
POPULASI: 31.52 JUTA
DEBT GOVT: RM 630.50 MILIAR (55.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 985.00 MILIAR (86.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 51,253
-
2014
POPULASI: 30.98 JUTA
DEBT GOVT: RM 582.80 MILIAR (55.0%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 902.00 MILIAR (85.1%)
BEBAN PER KAPITA: RM 47,927
-
2013
POPULASI: 30.42 JUTA
DEBT GOVT: RM 547.70 MILIAR (54.7%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 821.00 MILIAR (82.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 44,992
-
2012
POPULASI: 29.85 JUTA
DEBT GOVT: RM 501.60 MILIAR (53.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 732.00 MILIAR (77.8%)
BEBAN PER KAPITA: RM 41,326
-
2011
POPULASI: 29.26 JUTA
DEBT GOVT: RM 456.10 MILIAR (51.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 653.00 MILIAR (74.2%)
BEBAN PER KAPITA: RM 37,904
-
2010
POPULASI: 28.65 JUTA
DEBT GOVT: RM 407.10 MILIAR (52.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 581.00 MILIAR (74.8%)
BEBAN PER KAPITA: RM 34,488
-
2009
POPULASI: 28.04 JUTA
DEBT GOVT: RM 362.40 MILIAR (51.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 516.00 MILIAR (72.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 31,326
-
2008
POPULASI: 27.45 JUTA
DEBT GOVT: RM 258.00 MILIAR (41.3%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 460.00 MILIAR (73.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 26,155
-
2007
POPULASI: 26.86 JUTA
DEBT GOVT: RM 266.00 MILIAR (41.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 414.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 25,316
-
2006
POPULASI: 26.26 JUTA
DEBT GOVT: RM 242.00 MILIAR (41.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 372.00 MILIAR (63.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 23,381
-
2005
POPULASI: 25.66 JUTA
DEBT GOVT: RM 228.00 MILIAR (43.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 335.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 21,940
-
2004
POPULASI: 25.06 JUTA
DEBT GOVT: RM 217.00 MILIAR (45.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 298.00 MILIAR (62.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 20,550
-
2003
POPULASI: 24.46 JUTA
DEBT GOVT: RM 189.00 MILIAR (45.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 265.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 18,560
-
2002
POPULASI: 23.87 JUTA
DEBT GOVT: RM 165.00 MILIAR (44.9%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 236.00 MILIAR (64.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 16,798
-
2001
POPULASI: 23.28 JUTA
DEBT GOVT: RM 146.00 MILIAR (42.5%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 207.00 MILIAR (60.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 15,162
-
2000
POPULASI: 22.69 JUTA
DEBT GOVT: RM 126.00 MILIAR (36.1%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 182.00 MILIAR (52.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 13,574
-
1999
POPULASI: 22.11 JUTA
DEBT GOVT: RM 113.00 MILIAR (40.4%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 157.00 MILIAR (56.0%)
BEBAN PER KAPITA: RM 12,210
-
1998
POPULASI: 21.53 JUTA
DEBT GOVT: RM 98.00 MILIAR (35.8%)
DEBT HOUSEHOLD: RM 135.00 MILIAR (49.3%)
BEBAN PER KAPITA: RM 10,821
Malaydesh membual shoping sniperpod untok Hornet Rongsokan Kuwait..ternyata Hornetnya GHOIB..
BalasHapusMalaydesh membual KD LCS senjata lengkap, ternyata FFBNPaid....
🤣🤣😂😂😂😂
DOSA kau banyak lon...TOLOL
Ini LAWAK.....HAHAHAHHA....BEZA KASTA si KAYA dengan SI MISKIN.....HAHAHAHAHAH
BalasHapusMisil NSM dibatalkan sepihak oleh Norway walaupun sudah dibayar 95% oleh MALAYSIA....
makala INDIANESIA di KICK dari program KFX kerana bertahun tahun NUNGGAK HUTANG dengan pelbagai alasan untuk mengelak membayar dan ketahuan MENCURI maklumat KFX....HAHAHAHHA
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
PALING MURAH = LIGHT ....
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
--------------------------------------------
2026
Populasi: 36.38 juta
Utang Govt: RM 1.79 Triliun (70.5%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (84.3%)
Beban per Kapita: RM 94,544
-
2025
Populasi: 35.97 juta
Utang Govt: RM 1.30 Triliun (-%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (-%)
Beban per Kapita: RM 81,998
-
2024
Populasi: 34.67 juta
Utang Govt: RM 1.22 Triliun (64.6%)
Utang Household: RM 1.53 Triliun (84.2%)
Beban per Kapita: RM 79,315
-
2023
Populasi: 35.12 juta
Utang Govt: RM 1.17 Triliun (64.3%)
Utang Household: RM 1.45 Triliun (81.2%)
Beban per Kapita: RM 74,587
-
2022
Populasi: 34.69 juta
Utang Govt: RM 1.08 Triliun (60.1%) [1]
Utang Household: RM 1.38 Triliun (80.9%)
Beban per Kapita: RM 70,901 [1]
-
2021
Populasi: 34.28 juta
Utang Govt: RM 979.81 Miliar (63.3%)
Utang Household: RM 1.34 Triliun (89.1%)
Beban per Kapita: RM 67,667
-
2020
Populasi: 33.87 juta
Utang Govt: RM 879.56 Miliar (62.0%)
Utang Household: RM 1.27 Triliun (87.5%)
Beban per Kapita: RM 63,464
-
2019
Populasi: 33.45 juta
Utang Govt: RM 793.00 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 1.22 Triliun (82.5%)
Beban per Kapita: RM 60,179
-
2018
Populasi: 33.00 juta
Utang Govt: RM 741.00 Miliar (52.5%)
Utang Household: RM 1.16 Triliun (82.0%)
Beban per Kapita: RM 57,605
-
2017
Populasi: 32.54 juta
Utang Govt: RM 686.80 Miliar (51.9%)
Utang Household: RM 1.10 Triliun (83.2%)
Beban per Kapita: RM 54,910
-
2016
Populasi: 32.04 juta
Utang Govt: RM 648.50 Miliar (52.7%)
Utang Household: RM 1.04 Triliun (86.1%)
Beban per Kapita: RM 52,699
-
2015
Populasi: 31.52 juta
Utang Govt: RM 630.50 Miliar (55.1%)
Utang Household: RM 985.00 Miliar (86.0%)
Beban per Kapita: RM 51,253
-
2014
Populasi: 30.98 juta
Utang Govt: RM 582.80 Miliar (55.0%)
Utang Household: RM 902.00 Miliar (85.1%)
Beban per Kapita: RM 47,927
-
2013
Populasi: 30.42 juta
Utang Govt: RM 547.70 Miliar (54.7%)
Utang Household: RM 821.00 Miliar (82.0%)
Beban per Kapita: RM 44,992
-
2012
Populasi: 29.85 juta
Utang Govt: RM 501.60 Miliar (53.3%)
Utang Household: RM 732.00 Miliar (77.8%)
Beban per Kapita: RM 41,326
-
2011
Populasi: 29.26 juta
Utang Govt: RM 456.10 Miliar (51.8%)
Utang Household: RM 653.00 Miliar (74.2%)
Beban per Kapita: RM 37,904
-
2010
Populasi: 28.65 juta
Utang Govt: RM 407.10 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 581.00 Miliar (74.8%)
Beban per Kapita: RM 34,488
-
2009
Populasi: 28.04 juta
Utang Govt: RM 362.40 Miliar (51.1%)
Utang Household: RM 516.00 Miliar (72.0%)
Beban per Kapita: RM 31,326
-
2008
Populasi: 27.45 juta
Utang Govt: RM 258.00 Miliar (41.3%)
Utang Household: RM 460.00 Miliar (73.0%)
Beban per Kapita: RM 26,155
-
2007
Populasi: 26.86 juta
Utang Govt: RM 266.00 Miliar (41.1%)
Utang Household: RM 414.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 25,316
-
2006
Populasi: 26.26 juta
Utang Govt: RM 242.00 Miliar (41.5%)
Utang Household: RM 372.00 Miliar (63.0%)
Beban per Kapita: RM 23,381
-
2005
Populasi: 25.66 juta
Utang Govt: RM 228.00 Miliar (43.8%)
Utang Household: RM 335.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 21,940
-
2004
Populasi: 25.06 juta
Utang Govt: RM 217.00 Miliar (45.1%)
Utang Household: RM 298.00 Miliar (62.0%)
Beban per Kapita: RM 20,550
-
2003
Populasi: 24.46 juta
Utang Govt: RM 189.00 Miliar (45.9%)
Utang Household: RM 265.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 18,560
-
2002
Populasi: 23.87 juta
Utang Govt: RM 165.00 Miliar (44.9%)
Utang Household: RM 236.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 16,798
-
2001
Populasi: 23.28 juta
Utang Govt: RM 146.00 Miliar (42.5%)
Utang Household: RM 207.00 Miliar (60.0%)
Beban per Kapita: RM 15,162
-
2000
Populasi: 22.69 juta
Utang Govt: RM 126.00 Miliar (36.1%)
Utang Household: RM 182.00 Miliar (52.0%)
Beban per Kapita: RM 13,574
-
1999
Populasi: 22.11 juta
Utang Govt: RM 113.00 Miliar (40.4%)
Utang Household: RM 157.00 Miliar (56.0%)
Beban per Kapita: RM 12,210
-
1998
Populasi: 21.53 juta
Utang Govt: RM 98.00 Miliar (35.8%)
Utang Household: RM 135.00 Miliar (49.3%)
Beban per Kapita: RM 10,821
PALING MURAH = LIGHT ....
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
--------------------------------------------
2026
Populasi: 36.38 juta
Utang Govt: RM 1.79 Triliun (70.5%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (84.3%)
Beban per Kapita: RM 94,544
-
2025
Populasi: 35.97 juta
Utang Govt: RM 1.30 Triliun (-%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (-%)
Beban per Kapita: RM 81,998
-
2024
Populasi: 34.67 juta
Utang Govt: RM 1.22 Triliun (64.6%)
Utang Household: RM 1.53 Triliun (84.2%)
Beban per Kapita: RM 79,315
-
2023
Populasi: 35.12 juta
Utang Govt: RM 1.17 Triliun (64.3%)
Utang Household: RM 1.45 Triliun (81.2%)
Beban per Kapita: RM 74,587
-
2022
Populasi: 34.69 juta
Utang Govt: RM 1.08 Triliun (60.1%) [1]
Utang Household: RM 1.38 Triliun (80.9%)
Beban per Kapita: RM 70,901 [1]
-
2021
Populasi: 34.28 juta
Utang Govt: RM 979.81 Miliar (63.3%)
Utang Household: RM 1.34 Triliun (89.1%)
Beban per Kapita: RM 67,667
-
2020
Populasi: 33.87 juta
Utang Govt: RM 879.56 Miliar (62.0%)
Utang Household: RM 1.27 Triliun (87.5%)
Beban per Kapita: RM 63,464
-
2019
Populasi: 33.45 juta
Utang Govt: RM 793.00 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 1.22 Triliun (82.5%)
Beban per Kapita: RM 60,179
-
2018
Populasi: 33.00 juta
Utang Govt: RM 741.00 Miliar (52.5%)
Utang Household: RM 1.16 Triliun (82.0%)
Beban per Kapita: RM 57,605
-
2017
Populasi: 32.54 juta
Utang Govt: RM 686.80 Miliar (51.9%)
Utang Household: RM 1.10 Triliun (83.2%)
Beban per Kapita: RM 54,910
-
2016
Populasi: 32.04 juta
Utang Govt: RM 648.50 Miliar (52.7%)
Utang Household: RM 1.04 Triliun (86.1%)
Beban per Kapita: RM 52,699
-
2015
Populasi: 31.52 juta
Utang Govt: RM 630.50 Miliar (55.1%)
Utang Household: RM 985.00 Miliar (86.0%)
Beban per Kapita: RM 51,253
-
2014
Populasi: 30.98 juta
Utang Govt: RM 582.80 Miliar (55.0%)
Utang Household: RM 902.00 Miliar (85.1%)
Beban per Kapita: RM 47,927
-
2013
Populasi: 30.42 juta
Utang Govt: RM 547.70 Miliar (54.7%)
Utang Household: RM 821.00 Miliar (82.0%)
Beban per Kapita: RM 44,992
-
2012
Populasi: 29.85 juta
Utang Govt: RM 501.60 Miliar (53.3%)
Utang Household: RM 732.00 Miliar (77.8%)
Beban per Kapita: RM 41,326
-
2011
Populasi: 29.26 juta
Utang Govt: RM 456.10 Miliar (51.8%)
Utang Household: RM 653.00 Miliar (74.2%)
Beban per Kapita: RM 37,904
-
2010
Populasi: 28.65 juta
Utang Govt: RM 407.10 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 581.00 Miliar (74.8%)
Beban per Kapita: RM 34,488
-
2009
Populasi: 28.04 juta
Utang Govt: RM 362.40 Miliar (51.1%)
Utang Household: RM 516.00 Miliar (72.0%)
Beban per Kapita: RM 31,326
-
2008
Populasi: 27.45 juta
Utang Govt: RM 258.00 Miliar (41.3%)
Utang Household: RM 460.00 Miliar (73.0%)
Beban per Kapita: RM 26,155
-
2007
Populasi: 26.86 juta
Utang Govt: RM 266.00 Miliar (41.1%)
Utang Household: RM 414.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 25,316
-
2006
Populasi: 26.26 juta
Utang Govt: RM 242.00 Miliar (41.5%)
Utang Household: RM 372.00 Miliar (63.0%)
Beban per Kapita: RM 23,381
-
2005
Populasi: 25.66 juta
Utang Govt: RM 228.00 Miliar (43.8%)
Utang Household: RM 335.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 21,940
-
2004
Populasi: 25.06 juta
Utang Govt: RM 217.00 Miliar (45.1%)
Utang Household: RM 298.00 Miliar (62.0%)
Beban per Kapita: RM 20,550
-
2003
Populasi: 24.46 juta
Utang Govt: RM 189.00 Miliar (45.9%)
Utang Household: RM 265.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 18,560
-
2002
Populasi: 23.87 juta
Utang Govt: RM 165.00 Miliar (44.9%)
Utang Household: RM 236.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 16,798
-
2001
Populasi: 23.28 juta
Utang Govt: RM 146.00 Miliar (42.5%)
Utang Household: RM 207.00 Miliar (60.0%)
Beban per Kapita: RM 15,162
-
2000
Populasi: 22.69 juta
Utang Govt: RM 126.00 Miliar (36.1%)
Utang Household: RM 182.00 Miliar (52.0%)
Beban per Kapita: RM 13,574
-
1999
Populasi: 22.11 juta
Utang Govt: RM 113.00 Miliar (40.4%)
Utang Household: RM 157.00 Miliar (56.0%)
Beban per Kapita: RM 12,210
-
1998
Populasi: 21.53 juta
Utang Govt: RM 98.00 Miliar (35.8%)
Utang Household: RM 135.00 Miliar (49.3%)
Beban per Kapita: RM 10,821
PALING MURAH = LIGHT ....
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
--------------------------------------------
2026
Populasi: 36.38 juta
Utang Govt: RM 1.79 Triliun (70.5%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (84.3%)
Beban per Kapita: RM 94,544
-
2025
Populasi: 35.97 juta
Utang Govt: RM 1.30 Triliun (-%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (-%)
Beban per Kapita: RM 81,998
-
2024
Populasi: 34.67 juta
Utang Govt: RM 1.22 Triliun (64.6%)
Utang Household: RM 1.53 Triliun (84.2%)
Beban per Kapita: RM 79,315
-
2023
Populasi: 35.12 juta
Utang Govt: RM 1.17 Triliun (64.3%)
Utang Household: RM 1.45 Triliun (81.2%)
Beban per Kapita: RM 74,587
-
2022
Populasi: 34.69 juta
Utang Govt: RM 1.08 Triliun (60.1%) [1]
Utang Household: RM 1.38 Triliun (80.9%)
Beban per Kapita: RM 70,901 [1]
-
2021
Populasi: 34.28 juta
Utang Govt: RM 979.81 Miliar (63.3%)
Utang Household: RM 1.34 Triliun (89.1%)
Beban per Kapita: RM 67,667
-
2020
Populasi: 33.87 juta
Utang Govt: RM 879.56 Miliar (62.0%)
Utang Household: RM 1.27 Triliun (87.5%)
Beban per Kapita: RM 63,464
-
2019
Populasi: 33.45 juta
Utang Govt: RM 793.00 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 1.22 Triliun (82.5%)
Beban per Kapita: RM 60,179
-
2018
Populasi: 33.00 juta
Utang Govt: RM 741.00 Miliar (52.5%)
Utang Household: RM 1.16 Triliun (82.0%)
Beban per Kapita: RM 57,605
-
2017
Populasi: 32.54 juta
Utang Govt: RM 686.80 Miliar (51.9%)
Utang Household: RM 1.10 Triliun (83.2%)
Beban per Kapita: RM 54,910
-
2016
Populasi: 32.04 juta
Utang Govt: RM 648.50 Miliar (52.7%)
Utang Household: RM 1.04 Triliun (86.1%)
Beban per Kapita: RM 52,699
-
2015
Populasi: 31.52 juta
Utang Govt: RM 630.50 Miliar (55.1%)
Utang Household: RM 985.00 Miliar (86.0%)
Beban per Kapita: RM 51,253
-
2014
Populasi: 30.98 juta
Utang Govt: RM 582.80 Miliar (55.0%)
Utang Household: RM 902.00 Miliar (85.1%)
Beban per Kapita: RM 47,927
-
2013
Populasi: 30.42 juta
Utang Govt: RM 547.70 Miliar (54.7%)
Utang Household: RM 821.00 Miliar (82.0%)
Beban per Kapita: RM 44,992
-
2012
Populasi: 29.85 juta
Utang Govt: RM 501.60 Miliar (53.3%)
Utang Household: RM 732.00 Miliar (77.8%)
Beban per Kapita: RM 41,326
-
2011
Populasi: 29.26 juta
Utang Govt: RM 456.10 Miliar (51.8%)
Utang Household: RM 653.00 Miliar (74.2%)
Beban per Kapita: RM 37,904
-
2010
Populasi: 28.65 juta
Utang Govt: RM 407.10 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 581.00 Miliar (74.8%)
Beban per Kapita: RM 34,488
-
2009
Populasi: 28.04 juta
Utang Govt: RM 362.40 Miliar (51.1%)
Utang Household: RM 516.00 Miliar (72.0%)
Beban per Kapita: RM 31,326
-
2008
Populasi: 27.45 juta
Utang Govt: RM 258.00 Miliar (41.3%)
Utang Household: RM 460.00 Miliar (73.0%)
Beban per Kapita: RM 26,155
-
2007
Populasi: 26.86 juta
Utang Govt: RM 266.00 Miliar (41.1%)
Utang Household: RM 414.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 25,316
-
2006
Populasi: 26.26 juta
Utang Govt: RM 242.00 Miliar (41.5%)
Utang Household: RM 372.00 Miliar (63.0%)
Beban per Kapita: RM 23,381
-
2005
Populasi: 25.66 juta
Utang Govt: RM 228.00 Miliar (43.8%)
Utang Household: RM 335.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 21,940
-
2004
Populasi: 25.06 juta
Utang Govt: RM 217.00 Miliar (45.1%)
Utang Household: RM 298.00 Miliar (62.0%)
Beban per Kapita: RM 20,550
-
2003
Populasi: 24.46 juta
Utang Govt: RM 189.00 Miliar (45.9%)
Utang Household: RM 265.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 18,560
-
2002
Populasi: 23.87 juta
Utang Govt: RM 165.00 Miliar (44.9%)
Utang Household: RM 236.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 16,798
-
2001
Populasi: 23.28 juta
Utang Govt: RM 146.00 Miliar (42.5%)
Utang Household: RM 207.00 Miliar (60.0%)
Beban per Kapita: RM 15,162
-
2000
Populasi: 22.69 juta
Utang Govt: RM 126.00 Miliar (36.1%)
Utang Household: RM 182.00 Miliar (52.0%)
Beban per Kapita: RM 13,574
-
1999
Populasi: 22.11 juta
Utang Govt: RM 113.00 Miliar (40.4%)
Utang Household: RM 157.00 Miliar (56.0%)
Beban per Kapita: RM 12,210
-
1998
Populasi: 21.53 juta
Utang Govt: RM 98.00 Miliar (35.8%)
Utang Household: RM 135.00 Miliar (49.3%)
Beban per Kapita: RM 10,821
PALING MURAH = LIGHT ....
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
--------------------------------------------
2026
Populasi: 36.38 juta
Utang Govt: RM 1.79 Triliun (70.5%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (84.3%)
Beban per Kapita: RM 94,544
-
2025
Populasi: 35.97 juta
Utang Govt: RM 1.30 Triliun (-%)
Utang Household: RM 1.65 Triliun (-%)
Beban per Kapita: RM 81,998
-
2024
Populasi: 34.67 juta
Utang Govt: RM 1.22 Triliun (64.6%)
Utang Household: RM 1.53 Triliun (84.2%)
Beban per Kapita: RM 79,315
-
2023
Populasi: 35.12 juta
Utang Govt: RM 1.17 Triliun (64.3%)
Utang Household: RM 1.45 Triliun (81.2%)
Beban per Kapita: RM 74,587
-
2022
Populasi: 34.69 juta
Utang Govt: RM 1.08 Triliun (60.1%) [1]
Utang Household: RM 1.38 Triliun (80.9%)
Beban per Kapita: RM 70,901 [1]
-
2021
Populasi: 34.28 juta
Utang Govt: RM 979.81 Miliar (63.3%)
Utang Household: RM 1.34 Triliun (89.1%)
Beban per Kapita: RM 67,667
-
2020
Populasi: 33.87 juta
Utang Govt: RM 879.56 Miliar (62.0%)
Utang Household: RM 1.27 Triliun (87.5%)
Beban per Kapita: RM 63,464
-
2019
Populasi: 33.45 juta
Utang Govt: RM 793.00 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 1.22 Triliun (82.5%)
Beban per Kapita: RM 60,179
-
2018
Populasi: 33.00 juta
Utang Govt: RM 741.00 Miliar (52.5%)
Utang Household: RM 1.16 Triliun (82.0%)
Beban per Kapita: RM 57,605
-
2017
Populasi: 32.54 juta
Utang Govt: RM 686.80 Miliar (51.9%)
Utang Household: RM 1.10 Triliun (83.2%)
Beban per Kapita: RM 54,910
-
2016
Populasi: 32.04 juta
Utang Govt: RM 648.50 Miliar (52.7%)
Utang Household: RM 1.04 Triliun (86.1%)
Beban per Kapita: RM 52,699
-
2015
Populasi: 31.52 juta
Utang Govt: RM 630.50 Miliar (55.1%)
Utang Household: RM 985.00 Miliar (86.0%)
Beban per Kapita: RM 51,253
-
2014
Populasi: 30.98 juta
Utang Govt: RM 582.80 Miliar (55.0%)
Utang Household: RM 902.00 Miliar (85.1%)
Beban per Kapita: RM 47,927
-
2013
Populasi: 30.42 juta
Utang Govt: RM 547.70 Miliar (54.7%)
Utang Household: RM 821.00 Miliar (82.0%)
Beban per Kapita: RM 44,992
-
2012
Populasi: 29.85 juta
Utang Govt: RM 501.60 Miliar (53.3%)
Utang Household: RM 732.00 Miliar (77.8%)
Beban per Kapita: RM 41,326
-
2011
Populasi: 29.26 juta
Utang Govt: RM 456.10 Miliar (51.8%)
Utang Household: RM 653.00 Miliar (74.2%)
Beban per Kapita: RM 37,904
-
2010
Populasi: 28.65 juta
Utang Govt: RM 407.10 Miliar (52.4%)
Utang Household: RM 581.00 Miliar (74.8%)
Beban per Kapita: RM 34,488
-
2009
Populasi: 28.04 juta
Utang Govt: RM 362.40 Miliar (51.1%)
Utang Household: RM 516.00 Miliar (72.0%)
Beban per Kapita: RM 31,326
-
2008
Populasi: 27.45 juta
Utang Govt: RM 258.00 Miliar (41.3%)
Utang Household: RM 460.00 Miliar (73.0%)
Beban per Kapita: RM 26,155
-
2007
Populasi: 26.86 juta
Utang Govt: RM 266.00 Miliar (41.1%)
Utang Household: RM 414.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 25,316
-
2006
Populasi: 26.26 juta
Utang Govt: RM 242.00 Miliar (41.5%)
Utang Household: RM 372.00 Miliar (63.0%)
Beban per Kapita: RM 23,381
-
2005
Populasi: 25.66 juta
Utang Govt: RM 228.00 Miliar (43.8%)
Utang Household: RM 335.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 21,940
-
2004
Populasi: 25.06 juta
Utang Govt: RM 217.00 Miliar (45.1%)
Utang Household: RM 298.00 Miliar (62.0%)
Beban per Kapita: RM 20,550
-
2003
Populasi: 24.46 juta
Utang Govt: RM 189.00 Miliar (45.9%)
Utang Household: RM 265.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 18,560
-
2002
Populasi: 23.87 juta
Utang Govt: RM 165.00 Miliar (44.9%)
Utang Household: RM 236.00 Miliar (64.0%)
Beban per Kapita: RM 16,798
-
2001
Populasi: 23.28 juta
Utang Govt: RM 146.00 Miliar (42.5%)
Utang Household: RM 207.00 Miliar (60.0%)
Beban per Kapita: RM 15,162
-
2000
Populasi: 22.69 juta
Utang Govt: RM 126.00 Miliar (36.1%)
Utang Household: RM 182.00 Miliar (52.0%)
Beban per Kapita: RM 13,574
-
1999
Populasi: 22.11 juta
Utang Govt: RM 113.00 Miliar (40.4%)
Utang Household: RM 157.00 Miliar (56.0%)
Beban per Kapita: RM 12,210
-
1998
Populasi: 21.53 juta
Utang Govt: RM 98.00 Miliar (35.8%)
Utang Household: RM 135.00 Miliar (49.3%)
Beban per Kapita: RM 10,821
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
LOAN-BASED PROCUREMENT IN MALAYSEWA’S MILITARY
MALAYSEWA often uses loan agreements to finance large-scale defense acquisitions, especially when the cost exceeds annual defense budgets. These loans can be sourced from foreign governments, international banks, or domestic financial institutions, and are structured to support long-term modernization goals.
🔑 Key Features of Loan Procurement
Feature Description
Source of Loan Foreign governments (e.g., Poland, France, Korea), export credit agencies, or domestic banks.
Tenor & Terms Typically 5–15 years, with grace periods and interest rates negotiated based on bilateral ties.
Repayment Structure Paid in installments tied to delivery milestones or operational readiness.
Currency Often denominated in USD, EUR, or local currency depending on supplier.
Guarantees May involve sovereign guarantees or performance bonds.
Offset Clauses Includes industrial participation, technology transfer, or local assembly.
🛡️ Examples of Loan-Based Military Procurement
1. Scorpene Submarines (France)
Loan Type: Foreign loan via French financial institutions.
Value: RM3.4 billion.
Offset: Training, infrastructure, and technology transfer to Boustead Naval Shipyard.
2. PT-91M Pendekar Tanks (Poland)
Loan Type: Bilateral loan agreement with Poland.
Value: USD 370 million.
Offset: Crew training and maintenance support.
3. FA-50M Fighter Jets (South Korea)
Loan Type: Export credit facility from Korean financial institutions.
Value: RM4.08 billion.
Offset: Pilot training, simulator systems, and potential local maintenance hub.
4. NGPV Patrol Vessels (Germany)
Loan Type: Structured financing with German partners.
Value: RM5.35 billion.
Offset: Local shipbuilding capacity and technology transfer.
-------------------
FA-50M FIGHTER JET PROCUREMENT: FINANCIAL BREAKDOWN
🔹 Overview
Contract Value: USD 920 million (≈ RM4.08 billion)
Quantity: 18 FA-50M Block 20 light combat aircraft
Supplier: Korea Aerospace Industries (KAI)
Contract Signed: May 2023 at LIMA (Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition)
Delivery Timeline: First batch expected in 20262
💰 Financial Structure
Component Description
Loan Source Export credit facility from South Korean financial institutions, likely backed by KEXIM (Korea Export-Import Bank).
Loan Type Government-to-government structured loan with sovereign guarantee.
Tenor Estimated 10–15 years, with grace period during manufacturing phase.
Interest Rate Preferential rate negotiated under bilateral defense cooperation.
Repayment Schedule Milestone-based: tied to aircraft delivery and acceptance testing.
Currency USD-denominated, with hedging options to mitigate forex risk.
BADUT MSIKIN = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------
Analisa Kekuatan Udara: Buying vs. Prank
Indonesia melakukan modernisasi masif dengan kontrak resmi (Firm Order), sementara MALAYSEWA terjebak dalam pembatalan dan wacana:
Indonesia (Realisasi & Kontrak G2G):
42 Rafale: Kontrak lunas dan efektif (Dassault Aviation).
48 KAAN (Gen-5): Kerja sama strategis G2G dengan Turki (TAI).
48 KF-21 Boramae (Block II): Kesepakatan tahap akhir dengan Korea Selatan (KAI).
24 M-346F: Penandatanganan Letter of Award (LOA) dengan Leonardo.
MALAYSEWA (Pembatalan & Kegagalan):
F-18 Kuwait: Resmi BATAL (2026) setelah 4 kali upaya negosiasi (New Straits Times).
Status "Prank": Wacana JF-17, Rafale, Typhoon, dan Tejas berakhir tanpa kontrak.
MiG-29N: Pensiun tanpa pengganti (Tiada Ganti).
FA-50: Mengalami hambatan blokir/lisensi dari AS.
-
Analisa Geografis & Jangkauan Tempur
Jarak Pekanbaru ke KL (291 KM) dan Pontianak ke Sarawak (498 KM) sangat pendek dibandingkan radius tempur jet tempur baru Indonesia:
Rafale: ±1.852 KM (Sanggup menjangkau seluruh wilayah semenanjung dan Kalimantan).
KAAN & KF-21: ±1.100–1.400 KM (Dominasi ruang udara regional).
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Inventaris Transfer Senjata (SIPRI 2024-2025)
Indonesia (Aktif):
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, Sistem Air Refuel, Drone ANKA-S.
Laut: PPA-L-Plus, Ship Engine (LM-2500).
Darat/Rudal: Rudal BORA, Rudal KHAN.
Mesin: TP400-D6.
MALAYSEWA (Kosong): Tidak ada catatan transfer signifikan dalam periode 2 tahun tersebut.
-
Akar Masalah Modernisasi (Structural Causes)
Anggaran: Dana pertahanan di bawah 1,5% PDB (lebih rendah dari Singapura & Thailand).
Skandal Pengadaan: Proyek LCS (Littoral Combat Ship) senilai RM9 miliar yang gagal kirim dan helikopter MD530G.
Ketergantungan Asing: Kurangnya industri pertahanan domestik memicu kerentanan terhadap fluktuasi mata uang dan sanksi.
Instabilitas Politik: Prioritas pertahanan sering berubah setiap pergantian pemerintah.
-
Tantangan Operasional & Internal
Alutsista Tua: Ketergantungan pada Su-30MKM dan F/A-18D yang mulai menua; pensiunnya MiG-29 tanpa pengganti instan.
Keamanan Maritim: Kewalahan menghadapi intrusi di Laut China Selatan (LCS) dan Selat Malaka akibat kurangnya kapal patroli.
SDM: Gaji rendah dan kurangnya minat generasi muda menyebabkan sulitnya retensi tenaga ahli (pilot & insinyur).
Koordinasi Rendah: Kurangnya integrasi operasi gabungan antara Angkatan Darat, Laut, dan Udara.
-
Sorotan Skandal & Opini Publik
Kritik Kerajaan: Sultan Ibrahim menyebut helikopter Black Hawk tua sebagai "peti mati terbang".
Korupsi Internal: Operasi Sohor (2025) mengungkap intelijen militer yang membocorkan data ke penyelundup.
Kasus Kekerasan: Insiden penganiayaan kadet di UPNM yang memicu kemarahan publik di media sosial (#ReformATM).
Konspirasi: Keterlibatan sindikat yang membayar petugas hingga RM50.000 per perjalanan untuk aktivitas ilegal.
-
Kesimpulan Perbandingan
Indonesia: Fokus pada pengadaan besar-besaran (Big Ticket Items) dari berbagai negara (Perancis, Turki, AS).
MALAYSEWA: Mengalami stagnasi akibat jeratan utang proyek lama, skandal korupsi, dan krisis kepercayaan publik terhadap manajemen pengadaan.
Malaydesh membual 3X OPV Damen, ternyata 1 jee, itupon MIRING
BalasHapusTOLOL
🤣🤣😂😂😂
DOSA kau banyak lon...TOLOL
Mana bukti keluar dari KFX?
BalasHapusMembual lagi...😂😂🤣🤣🤣
DOSA kau banyak lon...tanpa tertawapun kau banyak dosA...TOLOL
Ini LAWAK.....HAHAHAHHA....BEZA KASTA si KAYA dengan SI MISKIN.....Bukan saja GAGAL BAYAR HUTANG tapi juga GAGAL BAYAR SEWA...........HAHAHAHAHAH
BalasHapusMisil NSM dibatalkan sepihak oleh Norway walaupun sudah dibayar 95% oleh MALAYSIA....
makala INDIANESIA di KICK dari program KFX kerana bertahun tahun NUNGGAK HUTANG dengan pelbagai alasan untuk mengelak membayar dan ketahuan MENCURI maklumat KFX....HAHAHAHHA
INDIANESIA juga akibat GAGAL BAYAR SEWA aset milik negara INDIANESIA siap di SITA oleh NAVAYO di Perancis...
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Status SIPRI: Vakum Total vs. Dominasi Regional
MALAYSEWA (Zonk): Mencatatkan status KOSONG pada lembar laporan SIPRI selama dua tahun berturut-turut (2024–2025). Tidak ada kontrak atau transfer senjata berat yang terealisasi.
Indonesia (Full Shopping): Memiliki lembar belanja penuh dengan aset strategis seperti Rafale F-4, A400M, Rudal Khan/Bora, drone Anka-S, hingga mesin kapal PPA-L-Plus.
-
Alutsista Usang & Krisis Pemeliharaan
Armada Tua: Mengoperasikan aset berusia 30–40 tahun seperti panser Condor (1980-an) dan kapal Lekiu-class (1990-an).
Masalah Kesiapan: Jet tempur utama (Su-30MKM & F/A-18D) memiliki jumlah armada kecil dan biaya perawatan yang mencekik anggaran.
Pensiun Tanpa Pengganti: Mundurnya MiG-29 pada 2017 tanpa pengganti langsung meninggalkan celah pertahanan udara yang lebar.
-
Skandal Korupsi & Kegagalan Pengadaan
Tragedi LCS: Proyek RM 9 Miliar yang meledak biayanya (cost overrun) hingga RM 1 Miliar, namun belum mengirimkan satu pun kapal meski dana telah terserap masif.
Sistem Makelar: Ketergantungan pada agen dan "middlemen" politik menyebabkan harga alutsista menjadi tidak masuk akal dan spesifikasi yang seringkali tidak sesuai kebutuhan militer.
Drama SPH 155mm: Pengadaan artileri medan yang tertunda sejak 2010 dan akhirnya dibatalkan oleh Kementerian Keuangan karena krisis kas.
-
Hambatan Fiskal & Ketergantungan Asing
Anggaran Defisit: Belanja pertahanan hanya 1,0–1,5% PDB, di mana sebagian besar tersedot untuk gaji dan pensiun, menyisakan sedikit ruang untuk modernisasi.
Strategi Sewa (Leasing): Karena tidak mampu membeli tunai, militer terpaksa menyewa helikopter (Blackhawk, AW139) dan pesawat latihan (L39) dari pihak swasta.
Kerentanan Suku Cadang: Ketergantungan penuh pada pemasok luar negeri membuat militer rentan terhadap sanksi politik atau gangguan rantai pasok global.
-
Kelemahan Geopolitik & Operasional
Ancaman Laut China Selatan: Armada laut yang menua dan kecil (hanya 2 kapal selam) membuat MALAYSEWA sulit menghalau intrusi kapal penjaga pantai China di wilayah Luconia Shoals.
Absennya Integrasi: Kurangnya sistem Komando Gabungan yang kuat dan tidak adanya Korps Marinir yang terdedikasi melemahkan respon terhadap ancaman hibrida.
Penurunan Peringkat (GFP 2026): Berada di posisi 42 dunia, kini resmi disalip oleh Filipina (41) dan tertinggal jauh di bawah Indonesia (13).
ASEAN : MRCA = MALAYDESH : LCA DOWNGRADE
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
-
HUTANG BAYAR HUTANG (2026–1998):
-
PENDAPATAN : RM334,1 Miliar
PENGELUARAN : RM470 Miliar
BUDGET MINUS : RM334,1 - RM470 = - RM135,9
--------------------------------
PENDAPATAN VS PENGELUARAN MALAYSEWA
PENDAPATAN : RM334,1 Miliar
PENGELUARAN : RM470 Miliar
BEBAN SUBSIDI 23,9%
PANTAS HUTANG BAYAR HUTANG : RM470 – RM334,1 = MINUS RM135,9 ......
--------------------------------------------
PENDAPATAN NEGARA:
Berkisar RM334,1 Miliar hingga RM343,1 Miliar (75,8% dari pajak dan 24,2% non-pajak/Petronas).
-
TOTAL PENGELUARAN:
Mencapai RM419,2 Miliar hingga RM470 Miliar.
-
ALOKASI BELANJA:
Sebesar RM338,2 Miliar habis untuk operasional (gaji, pensiun, subsidi) dan hanya RM81 Miliar untuk pembangunan infrastruktur.
-
ALASAN UTAMA HARUS BERUTANG
PENDAPATAN HABIS TOtal: Biaya operasional murni (RM338,2 Miliar) langsung menelan hampir 100% dari seluruh pendapatan negara yang masuk.
-
DEFISIT ANGGARAN KRONIS: Selisih besar antara pendapatan dan total belanja menciptakan lubang defisit 3,5% hingga 3,6% dari PDB.
-
PENERBITAN UTANG BARU: Pemerintah terpaksa menarik utang baru senilai puluhan miliar ringgit karena tidak ada sisa dana bersih untuk membiayai proyek pembangunan dan subsidi.
--------------------------------------------
HUTANG & LIABILITAS MALAYSEWA 1998–2026
-
1998: RM 103,1 Miliar – Dampak Krisis Keuangan Asia dan dimulainya defisit anggaran berkepanjangan.
-
1999: RM 116,6 Miliar – Penerbitan instrumen obligasi domestik baru untuk stimulus ekonomi.
-
2000: RM 125,6 Miliar – Restrukturisasi sektor korporasi dan perbankan pasca-krisis selesai.
-
2001: RM 145,7 Miliar – Peningkatan belanja pembangunan guna menopang pertumbuhan domestik.
-
2002: RM 165,0 Miliar – Rasio utang terhadap PDB mulai merangkak naik secara perlahan.
-
2003: RM 188,8 Miliar – Batas plafon utang resmi pertama kali dinaikkan menjadi 40% dari PDB.
-
2004: RM 216,6 Miliar – Pengeluaran publik meluas demi mendukung proyek infrastruktur baru.
-
2005: RM 228,7 Miliar – Konsolidasi fiskal awal di bawah manajemen kepemimpinan baru.
-
2006: RM 242,2 Miliar – Pengendalian defisit secara ketat di tengah lonjakan harga komoditas global.
-
2007: RM 266,7 Miliar – Posisi keuangan masih stabil menjelang gejolak finansial global.
-
2008: RM 306,4 Miliar – Kenaikan plafon utang menjadi 45% akibat dampak awal krisis finansial global.
-
2009: RM 362,4 Miliar – Batas utang melonjak ke 55% demi mendanai paket stimulus ekonomi besar.
-
2010: RM 407,1 Miliar – Pertumbuhan awal pasca-krisis finansial global.
-
2011: RM 456,1 Miliar – Rasio utang mulai meningkat stabil.
-
2012: RM 501,6 Miliar – Melewati ambang batas RM 500 miliar.
-
2013: RM 547,7 Miliar – Ekspansi belanja infrastruktur nasional.
-
2014: RM 582,8 Miliar – Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Federal 2014.
-
2015: RM 630,5 Miliar – Penyesuaian ekonomi akibat fluktuasi harga minyak.
-
2016: RM 648,5 Miliar – Konsolidasi fiskal di bawah pemerintahan saat itu.
-
2017: RM 686,8 Miliar – Data tercatat dalam Laporan Tahunan Bank Negara MALAYSEWA 2017.
-
2018: RM 1,19 Triliun – Transparansi Baru: Termasuk liabilitas 1MDB & proyek PPP. [
-
2019: RM 1,25 Triliun – Laporan pengungkapan utang menembus RM 1 triliun.
-
2020: RM 1,32 Triliun – Lonjakan akibat paket stimulus pandemi COVID-19.
-
2021: RM 1,38 Triliun – Akumulasi utang federal selama masa pemulihan ekonomi.
-
2022: RM 1,45 Triliun – Posisi utang sebelum pergantian pemerintahan.
-
2023: RM 1,53 Triliun – Dikonfirmasi oleh PM Anwar Ibrahim sebagai warisan utang & liabilitas.
-
2024: RM 1,63 Triliun – Berdasarkan Belanjawan (APBN) 2024.
-
2025: RM 1,71 Triliun – Proyeksi dalam Tinjauan Fiskal 2026 (Kementerian Kewangan).
-
2026: RM 1,79 Triliun – Target manajemen utang dalam Economic Outlook 2026.
------------------------------
2026 MALAYSEWA = FITTED FOR BUT NOT PAID
ASEAN : MRCA = MALAYDESH : LCA DOWNGRADE
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
-
HUTANG BAYAR HUTANG (2026–1998):
-
PENDAPATAN : RM334,1 Miliar
PENGELUARAN : RM470 Miliar
BUDGET MINUS : RM334,1 - RM470 = - RM135,9
--------------------------------
PENDAPATAN VS PENGELUARAN MALAYSEWA
PENDAPATAN : RM334,1 Miliar
PENGELUARAN : RM470 Miliar
BEBAN SUBSIDI 23,9%
PANTAS HUTANG BAYAR HUTANG : RM470 – RM334,1 = MINUS RM135,9 ......
--------------------------------------------
PENDAPATAN NEGARA:
Berkisar RM334,1 Miliar hingga RM343,1 Miliar (75,8% dari pajak dan 24,2% non-pajak/Petronas).
-
TOTAL PENGELUARAN:
Mencapai RM419,2 Miliar hingga RM470 Miliar.
-
ALOKASI BELANJA:
Sebesar RM338,2 Miliar habis untuk operasional (gaji, pensiun, subsidi) dan hanya RM81 Miliar untuk pembangunan infrastruktur.
-
ALASAN UTAMA HARUS BERUTANG
PENDAPATAN HABIS TOtal: Biaya operasional murni (RM338,2 Miliar) langsung menelan hampir 100% dari seluruh pendapatan negara yang masuk.
-
DEFISIT ANGGARAN KRONIS: Selisih besar antara pendapatan dan total belanja menciptakan lubang defisit 3,5% hingga 3,6% dari PDB.
-
PENERBITAN UTANG BARU: Pemerintah terpaksa menarik utang baru senilai puluhan miliar ringgit karena tidak ada sisa dana bersih untuk membiayai proyek pembangunan dan subsidi.
--------------------------------------------
HUTANG & LIABILITAS MALAYSEWA 1998–2026
-
1998: RM 103,1 Miliar – Dampak Krisis Keuangan Asia dan dimulainya defisit anggaran berkepanjangan.
-
1999: RM 116,6 Miliar – Penerbitan instrumen obligasi domestik baru untuk stimulus ekonomi.
-
2000: RM 125,6 Miliar – Restrukturisasi sektor korporasi dan perbankan pasca-krisis selesai.
-
2001: RM 145,7 Miliar – Peningkatan belanja pembangunan guna menopang pertumbuhan domestik.
-
2002: RM 165,0 Miliar – Rasio utang terhadap PDB mulai merangkak naik secara perlahan.
-
2003: RM 188,8 Miliar – Batas plafon utang resmi pertama kali dinaikkan menjadi 40% dari PDB.
-
2004: RM 216,6 Miliar – Pengeluaran publik meluas demi mendukung proyek infrastruktur baru.
-
2005: RM 228,7 Miliar – Konsolidasi fiskal awal di bawah manajemen kepemimpinan baru.
-
2006: RM 242,2 Miliar – Pengendalian defisit secara ketat di tengah lonjakan harga komoditas global.
-
2007: RM 266,7 Miliar – Posisi keuangan masih stabil menjelang gejolak finansial global.
-
2008: RM 306,4 Miliar – Kenaikan plafon utang menjadi 45% akibat dampak awal krisis finansial global.
-
2009: RM 362,4 Miliar – Batas utang melonjak ke 55% demi mendanai paket stimulus ekonomi besar.
-
2010: RM 407,1 Miliar – Pertumbuhan awal pasca-krisis finansial global.
-
2011: RM 456,1 Miliar – Rasio utang mulai meningkat stabil.
-
2012: RM 501,6 Miliar – Melewati ambang batas RM 500 miliar.
-
2013: RM 547,7 Miliar – Ekspansi belanja infrastruktur nasional.
-
2014: RM 582,8 Miliar – Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Federal 2014.
-
2015: RM 630,5 Miliar – Penyesuaian ekonomi akibat fluktuasi harga minyak.
-
2016: RM 648,5 Miliar – Konsolidasi fiskal di bawah pemerintahan saat itu.
-
2017: RM 686,8 Miliar – Data tercatat dalam Laporan Tahunan Bank Negara MALAYSEWA 2017.
-
2018: RM 1,19 Triliun – Transparansi Baru: Termasuk liabilitas 1MDB & proyek PPP. [
-
2019: RM 1,25 Triliun – Laporan pengungkapan utang menembus RM 1 triliun.
-
2020: RM 1,32 Triliun – Lonjakan akibat paket stimulus pandemi COVID-19.
-
2021: RM 1,38 Triliun – Akumulasi utang federal selama masa pemulihan ekonomi.
-
2022: RM 1,45 Triliun – Posisi utang sebelum pergantian pemerintahan.
-
2023: RM 1,53 Triliun – Dikonfirmasi oleh PM Anwar Ibrahim sebagai warisan utang & liabilitas.
-
2024: RM 1,63 Triliun – Berdasarkan Belanjawan (APBN) 2024.
-
2025: RM 1,71 Triliun – Proyeksi dalam Tinjauan Fiskal 2026 (Kementerian Kewangan).
-
2026: RM 1,79 Triliun – Target manajemen utang dalam Economic Outlook 2026.
------------------------------
2026 MALAYSEWA = FITTED FOR BUT NOT PAID
KAUM FFBNP NOT PAID = LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
BLOCK 70 MAHAL versus BLOCK 20 MURAH
-
FA-50 Block 70 lebih canggih dibandingkan Block 20 karena merupakan varian kursi tunggal (single-seat) yang dioptimalkan sepenuhnya untuk misi tempur, sementara Block 20 tetap merupakan pesawat kursi ganda (dual-seat) yang memiliki kapabilitas tempur tinggi.
Berikut adalah perbandingan utama tingkat kecanggihannya:
-
1. Kapasitas Bahan Bakar & Jangkauan
FA-50 Block 70: Menghapus kursi belakang dan menggantinya dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 300 galon. Hal ini meningkatkan radius tempur sebesar 20-30% dibandingkan varian sebelumnya.
FA-50 Block 20: Tetap memiliki dua kursi, sehingga kapasitas bahan bakar internal lebih terbatas, meski sudah dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling).
-
2. Sensor dan Radar (AESA)
FA-50 Block 70: Dilengkapi dengan radar AESA tercanggih, seperti Raytheon PhantomStrike, yang memberikan deteksi target lebih jauh dan presisi tinggi dalam berbagai cuaca.
FA-50 Block 20: Menggunakan radar AESA (seperti EL/M-2032 atau radar buatan Korea Selatan) yang sudah sangat mumpuni untuk kelas pesawat tempur ringan, namun Block 70 memiliki integrasi sensor yang lebih mendalam untuk peran multi-role.
-
3. Persenjataan dan Peran
FA-50 Block 70: Dirancang sebagai platform serangan strategis yang lebih murah daripada jet tempur berat. Mendukung integrasi penuh rudal udara-ke-udara jarak jauh (BVR) seperti AIM-120 AMRAAM dan rudal jelajah seperti Taurus KEPD 350K-2.
FA-50 Block 20: Fokus pada fleksibilitas misi Light Combat Aircraft (LCA) dan pelatih tempur. Kapasitas angkut senjata dan durasi terbangnya tidak sekuat Block 70 karena faktor ruang kursi kedua. Veto AMRAAM 120 USA
-------------
POLANDIA MEMBER NATO = AMRAAM
MALAYSEWA NON NATO = BLOKIR AMRAAM BANNED NSM
-
🛡️ Polandia (Anggota NATO)
Status: Sekutu garis depan Eropa Timur.
Kebijakan AS: Izin integrasi rudal AIM-120C AMRAAM (FA-50PL).
Hak Akses: Prioritas pelepasan source code enkripsi taktis.
Fasilitas: Berpengalaman dengan infrastruktur keamanan F-16 AS.
Kondisi: Modernisasi cepat demi memperkuat sayap timur aliansi.
-
🌐 Malaysewa (Non-NATO)
Status: Negara bebas-aktif non-aliansi utama AS.
Kebijakan AS: Pemblokiran rudal NSM dan penahanan AMRAAM (FA-50M).
Hambatan ITAR: Veto mutlak AS atas komponen giroskop Raytheon.
Birokrasi: Pemeriksaan transfer teknologi ketat akibat risiko kebocoran.
Geopolitik: Batasan senjata jarak jauh demi mencegah perlombaan senjata.
FAKTA 5x RAJA BADUT = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM BADUT = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF BADUT= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM KAYA CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
MALAYSEWA's approach to financing large-scale defense acquisitions often involves the use of loan agreements :
1. The Need for Loan Agreements
• High Cost of Modern Defense Systems: Modern military equipment, such as fighter jets, naval vessels, submarines, air defense systems, and advanced armored vehicles, are extremely expensive. A single major acquisition can easily exceed MALAYSEWA's annual defense budget.
• Budgetary Constraints: While MALAYSEWA allocates a significant portion of its budget to defense, there are always competing demands from other sectors like education, healthcare, infrastructure, and social welfare. This limits the amount that can be immediately spent on defense acquisitions.
• Long-Term Modernization Goals: MALAYSEWA has a continuous need to modernize its armed forces to maintain regional security, protect its sovereignty, and respond to evolving threats. Loan agreements facilitate these long-term strategic objectives by spreading the financial burden over several years.
-----------------
2. Sources of Loans
MALAYSEWA can tap into various sources for these defense-related loans:
• Foreign Governments (Government-to-Government Loans):
o Direct Financing: Often, a selling country's government (e.g., France, the UK, Germany, South Korea) will offer direct government-backed loans or credit lines to MALAYSEWA to facilitate the purchase of their defense products. This can be part of a larger diplomatic or trade package.
o Export Credit Agencies (ECAs): Many countries have ECAs (e.g., UK Export Finance, COFACE in France, Euler Hermes in Germany) that provide guarantees or direct loans to support their national defense industries' exports. These loans often come with favorable terms.
o Advantages: These loans can sometimes offer lower interest rates, longer repayment periods, and more flexible terms than commercial loans, as they are often intertwined with strategic partnerships.
• International Banks/Financial Institutions:
o Commercial Loans: MALAYSEWA can secure loans from large international commercial banks or consortia of banks. These are typically market-rate loans, but for large sums, they might involve syndicated lending (multiple banks pooling resources).
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Realitas SIPRI 2025: Belanja Nyata vs Lembar Kosong
Perbandingan realisasi transfer senjata internasional (2024–2025):
INDONESIA (1 Lembar Penuh): Sukses mengamankan aset strategis:
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, Anka-S UAV, Air Refuel System.
Laut: PPA-L-Plus, Ship Engines, Mesin LM-2500.
Rudal/Darat: Rudal BORA, Rudal KHAN, Mesin TP400-D6.
GRUP "SALAM KOSONG": Tidak mencatatkan aktivitas belanja/transfer senjata signifikan di SIPRI:
MALAYSEWA (Stagnasi total 6 tahun).
Timor Leste, Kamboja, Laos, Brunei.
-
Peringkat Kekuatan Militer ASEAN (GFP 2026)
Dominasi Indonesia di puncak hirarki regional:
Indonesia (Peringkat 13 Dunia) – Hegemon Mutlak
Vietnam (Peringkat 23)
Thailand (Peringkat 24)
Singapura (Peringkat 29)
Myanmar (Peringkat 35)
Filipina (Peringkat 41)
MALAYSEWA (Peringkat 42) – Terlempar ke papan bawah
-
Analisa Ekonomi: "The Great Decoupling"
Indonesia secara resmi keluar dari level persaingan regional menuju elit global:
Kasta Elit Dunia: Indonesia Peringkat 6 Dunia (PDB PPP), melampaui Brasil, Inggris, dan Prancis.
Jurang Ekonomi: Ekonomi Indonesia secara riil (PPP) adalah 4,24 kali lipat lebih besar dari MALAYSEWA.
Kesehatan Fiskal: Rasio utang Indonesia sehat (~40%), sementara MALAYSEWA kritis (~69%) dengan proyeksi utang RM 1,79 Triliun pada 2026.
-
Status Pertahanan: Modernisasi vs Demiliterisasi
Indonesia (Modernisasi Masif): Melakukan hilirisasi ekonomi untuk membiayai alutsista premium (Rafale, Scorpene, KF-21).
MALAYSEWA (Demiliterisasi De Facto):
Siklus Prank: Kegagalan kontrak berulang (Rafale, Tejas, F-18 Kuwait).
Negara Leasing: Bergantung pada sewa (Black Hawk, AW139) karena tidak mampu beli tunai.
Pembekuan Total: PM Anwar Ibrahim menghentikan pengadaan akibat skandal korupsi dan krisis utang.
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Status Transfer Senjata (SIPRI 2024-2025)
INDONESIA (Agresif & Ekspansif):
Udara: Akuisisi Rafale F-4, pesawat angkut A400M Atlas, sistem Air Refuel, dan drone ANKA-S.
Laut: Mesin kapal LM-2500, kapal perang PPA-L-Plus, dan Ship Engine lainnya.
Darat/Rudal: Rudal balistik BORA dan KHAN, serta mesin TP400-D6.
MALAYSEWA (Stagnan/Kosong):
Tidak ada catatan transfer alutsista utama baru dalam database SIPRI periode tersebut.
-
Skandal & Masalah Struktural MALAYSEWA
Skandal LCS (Littoral Combat Ship): Dana RM9 miliar cair, namun tidak ada kapal yang dikirim hingga 2025.
Kegagalan MD530G: Pembayaran uang muka 35% untuk helikopter "hantu" yang pengirimannya terus tertunda.
Korupsi Internal: Operasi Sohor (2025) mengungkap intelijen militer yang menjual data klasifikasi ke sindikat penyelundup.
Krisis Anggaran: Pengeluaran pertahanan di bawah 1.5% PDB, jauh di bawah standar regional.
-
Kontroversi Strategi "Leasing" (Sewa) Helikopter
Beban Finansial: Sewa 28 helikopter AW149 (RM16.5 miliar/15 tahun) dianggap lebih mahal dibanding Polandia yang membeli 32 unit seharga USD 1.83 miliar.
Kedaulatan Aset: Aset tidak dimiliki penuh, membatasi kemampuan upgrade, modifikasi, dan konfigurasi ulang untuk misi darurat.
Ketergantungan Swasta: Kesiapan tempur bergantung pada kontraktor (Weststar Aviation), berisiko jika terjadi sengketa hukum atau kegagalan servis.
Nihil Transfer Teknologi: Skema sewa mematikan peluang pertumbuhan industri pertahanan domestik dan penyerapan tenaga ahli lokal.
-
Kondisi Alutsista "Outdated" (Usang)
Laut (RMN): 28 kapal berusia di atas 40 tahun dengan sistem radar analog yang sulit mendeteksi drone atau kapal selam modern.
Udara (RMAF): Ketergantungan pada avionik lama; biaya perawatan melonjak karena suku cadang sudah diskontinu.
Darat (Army): Kendaraan lapis baja dan artileri kekurangan sistem kontrol tembakan berbasis GPS dan komunikasi semi-digital.
-
Kesimpulan Analisis
Indonesia bergerak menuju kekuatan regional dengan diversifikasi pemasok (Prancis, Turki, AS).
MALAYSEWA terjebak dalam "lingkaran setan" pengadaan: skandal masa lalu → anggaran terbatas → memilih opsi sewa yang mahal → ketergantungan teknologi asing yang kronis.
FAKTA...INDIANESIA GAGAL BAYAR SEWA....HAHAHAHAHA
BalasHapusAset RI Terancam Disita di Paris Akibat Sengketa Satelit Kemhan
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/66582/aset-ri-terancam-disita-di-paris-akibat-sengketa-satelit-kemhan
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Sektor Pertahanan (SIPRI 2024-2025)
Indonesia (Ekspansi Alutsista): Memiliki daftar panjang transfer senjata modern (1 Lembar Penuh) termasuk:
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, ANKA-S (Drone), Air Refuel System.
Laut: PPA-L-Plus, Mesin Kapal LM-2500.
Rudal/Mesin: Rudal BORA & KHAN, Mesin TP400-D6.
MALAYSEWA (Stagnasi): Catatan transfer senjata KOSONG (Zero). Tidak ada pengadaan alutsista utama baru yang terdaftar.
-
Krisis Ketahanan Pangan MALAYSEWA
Ketergantungan tinggi pada impor akibat rendahnya tingkat kemandirian lokal:
Krisis Beras: Mengimpor 500.000 ton beras dari Indonesia (via Kalimantan Barat) per Mei 2025 untuk stok Sarawak.
Krisis Protein:
Unggas: Menjadi net importer ayam (Juli 2025) dan penghapusan total subsidi telur (Agustus 2025) demi hemat anggaran RM1,2 miliar.
Genetika: Terpaksa impor Ayam GPS (Grand Parent Stock) dari Amerika Serikat untuk memperbaiki kualitas indukan.
Daging Merah: Ketergantungan impor mencapai 90% (Sapi/Kambing) dengan tingkat kemandirian di bawah 15%.
-
Krisis Hutang & Beban Rakyat MALAYSEWA (2025)
Beban finansial yang mencapai titik kritis secara nasional maupun personal:
Hutang Pemerintah: Proyeksi melonjak hingga RM1,71 Triliun (69% dari PDB).
Hutang Rumah Tangga: Sangat tinggi di angka RM1,73 Triliun (85,8% dari PDB).
Beban Per Kapita (Rata-rata per orang):
Tanggungan Hutang Pemerintah: RM36.139 / orang.
Tanggungan Hutang Rumah Tangga: RM45.859 / orang.
Total Beban Hutang Gabungan: Mendekati RM82.000 per warga negara.
-
Perbandingan Strategis
Indonesia: Fokus pada penguatan kedaulatan militer dan menjadi eksportir pangan (beras) bagi tetangga.
MALAYSEWA: Menghadapi "Triple Crisis" (Hutang, Pangan, dan Alutsista). Prioritas anggaran bergeser dari modernisasi militer ke stabilitas perut rakyat dan pembayaran bunga hutang.
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
---------------------------------
Perbandingan Status Strategis (SIPRI 2024–2025)
Indonesia (Status Dominan): Memiliki "Daftar Belanja Penuh" mencakup aset mutakhir seperti Rafale F4, KF-21 Boramae, A400M Atlas, dan Kapal PPA. Masuk dalam daftar 40 besar importir senjata dunia (Peringkat 18).
MALAYSEWA (Status Vakum): Laporan SIPRI menunjukkan angka KOSONG selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada transfer alutsista berat yang terealisasi, menempatkan posisinya setara dengan negara ekonomi kecil seperti Laos dan Kamboja.
-
Dikotomi Model Pengadaan (Buying vs Leasing)
Indonesia (Buying/Pemilik): Menggunakan skema Procurement (Pembelian) yang memberikan kedaulatan penuh atas aset. Fokus pada kepemilikan teknologi generasi 4.5 ke atas.
MALAYSEWA (Leasing/Penyewa): Akibat krisis likuiditas, militer beralih ke skema Sewa (Leasing) untuk 32+ item strategis (Blackhawk, AW139, simulator). Status ini menurunkan derajat militer menjadi "Military-for-Rent".
-
Ketimpangan Fiskal & Kapasitas Belanja
Indonesia (Ekonomi Sehat): PDB mencapai USD 1,44 Triliun dengan rasio utang pemerintah yang terjaga di 40% (batas aman 60%). Defisit fiskal hanya 2,9%.
MALAYSEWA (Ekonomi Kritis): Rasio utang pemerintah menembus 69% (melampaui batas limit 65%). Utang rumah tangga sangat ekstrem di angka 84,3% PDB.
Spiral Utang: 58% pinjaman baru pada 2026 hanya digunakan untuk membayar bunga dan cicilan utang lama (Debt-Servicing Cycle).
-
Siklus Operasional: Modernisasi vs Pensiun Dini
Indonesia: Melakukan regenerasi alutsista tua secara sistematis melalui program MEF yang berkelanjutan.
MALAYSEWA: Terjebak dalam tren Retirement (Pensiun Dini) tanpa pengganti. Aset strategis seperti MiG-29, MB339CM, dan helikopter Nuri berhenti beroperasi karena biaya perawatan yang tidak terjangkau.
-
Penurunan Daya Gentar & Reputasi (GFP 2026)
Indonesia: Kokoh sebagai pemimpin ASEAN di Peringkat 13 Dunia.
MALAYSEWA: Merosot ke Peringkat 42 Dunia, resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Kredibilitas: Pembatalan akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali dan pembekuan total pengadaan (Procurement Freeze 2026) memperburuk citra pertahanan di mata internasional.
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50M VERSI DOWNGRADE FA50PL✔️
LMS B2 VERSI DOWNGRDE BABUR CLASS✔️
MD530G VERSI SIPIL DOWNGRADE AH-6i✔️
DOWNGRADE = SPEK TERMURAH BAWAH hahahaha
-
FA50 PL USD 60 JUTA vs FA50Murah USD 50 JUTA+VERSI BARTER
BABUR CLASS USD 300 JUTA vs LMS B2 USD 150 JUTA+VERSI NO TORPEDO NO SONAR
AH=6I USD 20 JUTA vs MD530G USD 12 JUTA+VERSI TRAINING
-
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
---------------
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
-
angsuran untuk proyek Jet Tempur FA-50 Block 20 dengan skema Hybrid (Kredit & Barter) yang sangat unik:
Parameter Simulasi
Total Kontrak: US$ 920.000.000 (Sekitar RM 4,08 Miliar).
Pembagian Skema (50:50):
50% Kredit (Hutang): US$ 460.000.000
50% Barter (Sawit): US$ 460.000.000
Tenor (Jangka Waktu): 10 Tahun.
Estimasi Bunga KEXIM: 4,5% per tahun (mengikuti standar OECD CIRR)..
--------------
18 FA50Murah = DI TIPU KOREA (CONNED KOREA)
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
-
Korea Aerospace Industries won the LCA / LIFT competition (which suffered a competitive challenge attempt) to supply the Royal MALAYSEWAn Air Force (RMAF or TUDM) with 18 light combat and advanced trainer aircraft. Eight of these aircraft are to be configured primarily as Lead Advanced Trainer (LIFT), while the remaining ten would be Light Fighter Aircraft (LCA) combat aircraft.
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50M VERSI DOWNGRADE FA50PL✔️
LMS B2 VERSI DOWNGRDE BABUR CLASS✔️
MD530G VERSI SIPIL DOWNGRADE AH-6i✔️
DOWNGRADE = SPEK TERMURAH BAWAH hahahaha
-
FA50 PL USD 60 JUTA vs FA50Murah USD 50 JUTA+VERSI BARTER
BABUR CLASS USD 300 JUTA vs LMS B2 USD 150 JUTA+VERSI NO TORPEDO NO SONAR
AH=6I USD 20 JUTA vs MD530G USD 12 JUTA+VERSI TRAINING
-
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
---------------
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
-
angsuran untuk proyek Jet Tempur FA-50 Block 20 dengan skema Hybrid (Kredit & Barter) yang sangat unik:
Parameter Simulasi
Total Kontrak: US$ 920.000.000 (Sekitar RM 4,08 Miliar).
Pembagian Skema (50:50):
50% Kredit (Hutang): US$ 460.000.000
50% Barter (Sawit): US$ 460.000.000
Tenor (Jangka Waktu): 10 Tahun.
Estimasi Bunga KEXIM: 4,5% per tahun (mengikuti standar OECD CIRR)..
--------------
18 FA50Murah = DI TIPU KOREA (CONNED KOREA)
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
-
Korea Aerospace Industries won the LCA / LIFT competition (which suffered a competitive challenge attempt) to supply the Royal MALAYSEWAn Air Force (RMAF or TUDM) with 18 light combat and advanced trainer aircraft. Eight of these aircraft are to be configured primarily as Lead Advanced Trainer (LIFT), while the remaining ten would be Light Fighter Aircraft (LCA) combat aircraft.
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Realitas SIPRI 2025: Belanja Nyata vs Lembar Kosong
Perbandingan realisasi transfer senjata internasional (2024–2025):
INDONESIA (1 Lembar Penuh): Sukses mengamankan aset strategis:
Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, Anka-S UAV, Air Refuel System.
Laut: PPA-L-Plus, Ship Engines, Mesin LM-2500.
Rudal/Darat: Rudal BORA, Rudal KHAN, Mesin TP400-D6.
GRUP "SALAM KOSONG": Tidak mencatatkan aktivitas belanja/transfer senjata signifikan di SIPRI:
MALAYSEWA (Stagnasi total 6 tahun).
Timor Leste, Kamboja, Laos, Brunei.
-
Peringkat Kekuatan Militer ASEAN (GFP 2026)
Dominasi Indonesia di puncak hirarki regional:
Indonesia (Peringkat 13 Dunia) – Hegemon Mutlak
Vietnam (Peringkat 23)
Thailand (Peringkat 24)
Singapura (Peringkat 29)
Myanmar (Peringkat 35)
Filipina (Peringkat 41)
MALAYSEWA (Peringkat 42) – Terlempar ke papan bawah
-
Analisa Ekonomi: "The Great Decoupling"
Indonesia secara resmi keluar dari level persaingan regional menuju elit global:
Kasta Elit Dunia: Indonesia Peringkat 6 Dunia (PDB PPP), melampaui Brasil, Inggris, dan Prancis.
Jurang Ekonomi: Ekonomi Indonesia secara riil (PPP) adalah 4,24 kali lipat lebih besar dari MALAYSEWA.
Kesehatan Fiskal: Rasio utang Indonesia sehat (~40%), sementara MALAYSEWA kritis (~69%) dengan proyeksi utang RM 1,79 Triliun pada 2026.
-
Status Pertahanan: Modernisasi vs Demiliterisasi
Indonesia (Modernisasi Masif): Melakukan hilirisasi ekonomi untuk membiayai alutsista premium (Rafale, Scorpene, KF-21).
MALAYSEWA (Demiliterisasi De Facto):
Siklus Prank: Kegagalan kontrak berulang (Rafale, Tejas, F-18 Kuwait).
Negara Leasing: Bergantung pada sewa (Black Hawk, AW139) karena tidak mampu beli tunai.
Pembekuan Total: PM Anwar Ibrahim menghentikan pengadaan akibat skandal korupsi dan krisis utang.
BANANA REPUBLIC : ZONK MRCA SPH LCS NSM =
Hapus5x Ganti RAJA
5x Ganti PM
6x Ganti Menteri Pertahanan
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM LCS CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
1. Tata Kelola dan Korupsi yang Buruk:
Skandal Korupsi: Ini adalah akar masalah utama. Proyek LCS telah dirundung tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana, dan konflik kepentingan sejak awal. Penyelidikan oleh berbagai badan, termasuk Komite Akuntan Publik (PAC) parlemen MALAYSEWA dan Komisi Anti-Korupsi MALAYSEWA (MACC), telah mengungkap banyak anomali.
Pengambilan Keputusan yang Meragukan: Keputusan-keputusan penting dalam proyek, seperti pemilihan desain kapal (Gowind class dari Naval Group Prancis), seringkali dipertanyakan apakah didasarkan pada pertimbangan teknis terbaik atau kepentingan lain.
Kurangnya Transparansi: Kurangnya transparansi dalam kontrak, pengadaan, dan alur pembayaran telah mempersulit pengawasan dan akuntabilitas.
-----------------
2. Masalah Finansial dan Pembengkakan Biaya:
Pembengkakan Anggaran: Biaya proyek telah melonjak jauh dari perkiraan awal. Kontrak senilai RM9 miliar (sekitar USUSD2,1 miliar) untuk enam kapal LCS pada tahun 2011 kini diperkirakan membutuhkan lebih banyak lagi, padahal belum ada satu pun kapal yang selesai.
Misappropriasi Dana: Sebagian besar uang yang dibayarkan di muka kepada kontraktor utama, Boustead Naval Shipyard (BNS), diduga tidak digunakan untuk pembelian komponen atau pembangunan kapal, melainkan dialihkan atau disalahgunakan. Ini menyebabkan BNS gagal membayar sub-kontraktor dan pemasok.
Ketergantungan pada Pinjaman: Karena masalah aliran kas dan dugaan penyalahgunaan dana, BNS dan entitas terkait harus bergantung pada pinjaman dari berbagai lembaga keuangan. Keterlibatan 17 kreditor menunjukkan betapa parahnya masalah keuangan yang dihadapi BNS dan betapa rumitnya struktur utang proyek ini. Ini juga mengindikasikan bahwa dana awal dari pemerintah tidak cukup atau tidak dikelola dengan baik.
-----------------
3. Ketidakmampuan Kontraktor Utama (Boustead Naval Shipyard - BNS):
Kurangnya Kapabilitas Teknis dan Manajerial: Meskipun BNS memiliki pengalaman dalam pembangunan dan perbaikan kapal, proyek LCS dengan skala dan kompleksitas ini mungkin di luar kapasitasnya. Ada dugaan bahwa BNS tidak memiliki keahlian teknis yang memadai untuk mengelola proyek sebesar ini secara efektif.
Manajemen Proyek yang Buruk: Penjadwalan, pengadaan material, dan koordinasi antara berbagai pihak (desainer, pemasok, sub-kontraktor) sangat buruk. Ini menyebabkan penundaan yang signifikan dalam setiap tahap pembangunan.
Masalah Rantai Pasokan: Kegagalan BNS membayar sub-kontraktor dan pemasok menyebabkan terhentinya pasokan komponen penting. Banyak peralatan yang sudah dipesan tidak dapat dikirim karena pembayaran yang tertunda.
FAKTA...INDIANESIA GAGAL BAYAR SEWA....HAHAHAHAHA
BalasHapusAset RI Terancam Disita di Paris Akibat Sengketa Satelit Kemhan
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/66582/aset-ri-terancam-disita-di-paris-akibat-sengketa-satelit-kemhan
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BANANA REPUBLIC : ZONK MRCA SPH LCS NSM =
Hapus5x Ganti RAJA
5x Ganti PM
6x Ganti Menteri Pertahanan
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM LCS CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
1. Tata Kelola dan Korupsi yang Buruk:
Skandal Korupsi: Ini adalah akar masalah utama. Proyek LCS telah dirundung tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana, dan konflik kepentingan sejak awal. Penyelidikan oleh berbagai badan, termasuk Komite Akuntan Publik (PAC) parlemen MALAYSEWA dan Komisi Anti-Korupsi MALAYSEWA (MACC), telah mengungkap banyak anomali.
Pengambilan Keputusan yang Meragukan: Keputusan-keputusan penting dalam proyek, seperti pemilihan desain kapal (Gowind class dari Naval Group Prancis), seringkali dipertanyakan apakah didasarkan pada pertimbangan teknis terbaik atau kepentingan lain.
Kurangnya Transparansi: Kurangnya transparansi dalam kontrak, pengadaan, dan alur pembayaran telah mempersulit pengawasan dan akuntabilitas.
-----------------
2. Masalah Finansial dan Pembengkakan Biaya:
Pembengkakan Anggaran: Biaya proyek telah melonjak jauh dari perkiraan awal. Kontrak senilai RM9 miliar (sekitar USUSD2,1 miliar) untuk enam kapal LCS pada tahun 2011 kini diperkirakan membutuhkan lebih banyak lagi, padahal belum ada satu pun kapal yang selesai.
Misappropriasi Dana: Sebagian besar uang yang dibayarkan di muka kepada kontraktor utama, Boustead Naval Shipyard (BNS), diduga tidak digunakan untuk pembelian komponen atau pembangunan kapal, melainkan dialihkan atau disalahgunakan. Ini menyebabkan BNS gagal membayar sub-kontraktor dan pemasok.
Ketergantungan pada Pinjaman: Karena masalah aliran kas dan dugaan penyalahgunaan dana, BNS dan entitas terkait harus bergantung pada pinjaman dari berbagai lembaga keuangan. Keterlibatan 17 kreditor menunjukkan betapa parahnya masalah keuangan yang dihadapi BNS dan betapa rumitnya struktur utang proyek ini. Ini juga mengindikasikan bahwa dana awal dari pemerintah tidak cukup atau tidak dikelola dengan baik.
-----------------
3. Ketidakmampuan Kontraktor Utama (Boustead Naval Shipyard - BNS):
Kurangnya Kapabilitas Teknis dan Manajerial: Meskipun BNS memiliki pengalaman dalam pembangunan dan perbaikan kapal, proyek LCS dengan skala dan kompleksitas ini mungkin di luar kapasitasnya. Ada dugaan bahwa BNS tidak memiliki keahlian teknis yang memadai untuk mengelola proyek sebesar ini secara efektif.
Manajemen Proyek yang Buruk: Penjadwalan, pengadaan material, dan koordinasi antara berbagai pihak (desainer, pemasok, sub-kontraktor) sangat buruk. Ini menyebabkan penundaan yang signifikan dalam setiap tahap pembangunan.
Masalah Rantai Pasokan: Kegagalan BNS membayar sub-kontraktor dan pemasok menyebabkan terhentinya pasokan komponen penting. Banyak peralatan yang sudah dipesan tidak dapat dikirim karena pembayaran yang tertunda.
BANANA REPUBLIC : ZONK MRCA SPH LCS NSM =
Hapus5x Ganti RAJA
5x Ganti PM
6x Ganti Menteri Pertahanan
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM LCS CASH = HUTANG BAYAR HUTANG
1. Tata Kelola dan Korupsi yang Buruk:
Skandal Korupsi: Ini adalah akar masalah utama. Proyek LCS telah dirundung tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana, dan konflik kepentingan sejak awal. Penyelidikan oleh berbagai badan, termasuk Komite Akuntan Publik (PAC) parlemen MALAYSEWA dan Komisi Anti-Korupsi MALAYSEWA (MACC), telah mengungkap banyak anomali.
Pengambilan Keputusan yang Meragukan: Keputusan-keputusan penting dalam proyek, seperti pemilihan desain kapal (Gowind class dari Naval Group Prancis), seringkali dipertanyakan apakah didasarkan pada pertimbangan teknis terbaik atau kepentingan lain.
Kurangnya Transparansi: Kurangnya transparansi dalam kontrak, pengadaan, dan alur pembayaran telah mempersulit pengawasan dan akuntabilitas.
-----------------
2. Masalah Finansial dan Pembengkakan Biaya:
Pembengkakan Anggaran: Biaya proyek telah melonjak jauh dari perkiraan awal. Kontrak senilai RM9 miliar (sekitar USUSD2,1 miliar) untuk enam kapal LCS pada tahun 2011 kini diperkirakan membutuhkan lebih banyak lagi, padahal belum ada satu pun kapal yang selesai.
Misappropriasi Dana: Sebagian besar uang yang dibayarkan di muka kepada kontraktor utama, Boustead Naval Shipyard (BNS), diduga tidak digunakan untuk pembelian komponen atau pembangunan kapal, melainkan dialihkan atau disalahgunakan. Ini menyebabkan BNS gagal membayar sub-kontraktor dan pemasok.
Ketergantungan pada Pinjaman: Karena masalah aliran kas dan dugaan penyalahgunaan dana, BNS dan entitas terkait harus bergantung pada pinjaman dari berbagai lembaga keuangan. Keterlibatan 17 kreditor menunjukkan betapa parahnya masalah keuangan yang dihadapi BNS dan betapa rumitnya struktur utang proyek ini. Ini juga mengindikasikan bahwa dana awal dari pemerintah tidak cukup atau tidak dikelola dengan baik.
-----------------
3. Ketidakmampuan Kontraktor Utama (Boustead Naval Shipyard - BNS):
Kurangnya Kapabilitas Teknis dan Manajerial: Meskipun BNS memiliki pengalaman dalam pembangunan dan perbaikan kapal, proyek LCS dengan skala dan kompleksitas ini mungkin di luar kapasitasnya. Ada dugaan bahwa BNS tidak memiliki keahlian teknis yang memadai untuk mengelola proyek sebesar ini secara efektif.
Manajemen Proyek yang Buruk: Penjadwalan, pengadaan material, dan koordinasi antara berbagai pihak (desainer, pemasok, sub-kontraktor) sangat buruk. Ini menyebabkan penundaan yang signifikan dalam setiap tahap pembangunan.
Masalah Rantai Pasokan: Kegagalan BNS membayar sub-kontraktor dan pemasok menyebabkan terhentinya pasokan komponen penting. Banyak peralatan yang sudah dipesan tidak dapat dikirim karena pembayaran yang tertunda.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Realitas SIPRI 2025: Belanja Nyata vs Lembar Kosong
Perbandingan aktivitas transfer senjata internasional berdasarkan laporan terbaru:
INDONESIA (1 Lembar Penuh - Aktif): Berhasil mengamankan aset strategis:
Matra Udara: Rafale F-4, A400M Atlas, Anka-S UAV, Air Refueling System.
Matra Laut: PPA-L-Plus, Ship Engines, Mesin Gas Turbin LM-2500.
Rudal/Darat: Rudal BORA, Rudal KHAN, Mesin TP400-D6.
MALAYSEWA (Lembar Kosong - Lumpuh): Status pengadaan 6 tahun terakhir:
2020–2021: Planned (Hanya wacana).
2022: Selected Not Yet Ordered (Pilih tapi tidak beli).
2023: Not Yet Ordered (Tanpa pesanan).
2024–2025: KOSONG (Absen total dari radar SIPRI).
-
Hirarki Kekuatan Militer ASEAN (GFP 2026)
Pergeseran peringkat yang menunjukkan penurunan drastis kredibilitas pertahanan MALAYSEWA:
Indonesia – Peringkat 13 Dunia (Nomor 1 ASEAN)
Vietnam – Peringkat 23
Thailand – Peringkat 24
Singapura – Peringkat 29
Myanmar – Peringkat 35
Filipina – Peringkat 41
MALAYSEWA – Peringkat 42 (Kalah dari Filipina & Myanmar).
-
Analisa "The Great Decoupling" (Pemisahan Kasta Ekonomi)
Indonesia keluar dari level regional dan masuk ke elit global:
Skala Ekonomi (PPP): Indonesia Peringkat 6 Dunia (US$ 5,69 Triliun). Secara riil, ekonomi Indonesia 4,24 kali lipat lebih besar dari MALAYSEWA.
Kesehatan Fiskal: Rasio utang Indonesia aman (<40%), sedangkan MALAYSEWA kritis (>60%) dengan beban bunga utang yang mencekik belanja alutsista.
Leverage Global: Indonesia mengontrol 60% nikel dunia dan menjadi pusat gravitasi energi kawasan (Batu Bara).
-
Fenomena Demiliterisasi De Facto MALAYSEWA
Kondisi yang menyebabkan kelumpuhan pertahanan tetangga:
Negara Tukang Sewa (Leasing State): Akibat gagal bayar tunai, mobilitas militer bergantung pada sewa (Helikopter Black Hawk/AW139).
Siklus "Prank" Pertahanan: Kegagalan kontrak berulang sejak 2005 (Rafale, Tejas, hingga F-18 Kuwait yang resmi batal pada 2026).
Pembekuan Total: Kebijakan PM Anwar Ibrahim untuk menghentikan seluruh pengadaan akibat skandal korupsi sistemik di Kemenhan.
-
Kesimpulan Strategis 2026
Indonesia: Menjadi Hegemon Mutlak di Asia Tenggara dengan kekuatan finansial dan militer yang setara dengan negara G7 (Prancis/Inggris).
MALAYSEWA: Terjebak dalam Stagnasi Permanen dan penurunan kelas menjadi negara berkekuatan militer lemah di level ASEAN (Grup "Salam Kosong").
BADUT MALON = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------
Status SIPRI: Vakum Total vs. Dominasi Regional
MALAYSEWA (Zonk): Mencatatkan status KOSONG pada lembar laporan SIPRI selama dua tahun berturut-turut (2024–2025). Tidak ada kontrak atau transfer senjata berat yang terealisasi.
Indonesia (Full Shopping): Memiliki lembar belanja penuh dengan aset strategis seperti Rafale F-4, A400M, Rudal Khan/Bora, drone Anka-S, hingga mesin kapal PPA-L-Plus.
-
Alutsista Usang & Krisis Pemeliharaan
Armada Tua: Mengoperasikan aset berusia 30–40 tahun seperti panser Condor (1980-an) dan kapal Lekiu-class (1990-an).
Masalah Kesiapan: Jet tempur utama (Su-30MKM & F/A-18D) memiliki jumlah armada kecil dan biaya perawatan yang mencekik anggaran.
Pensiun Tanpa Pengganti: Mundurnya MiG-29 pada 2017 tanpa pengganti langsung meninggalkan celah pertahanan udara yang lebar.
-
Skandal Korupsi & Kegagalan Pengadaan
Tragedi LCS: Proyek RM 9 Miliar yang meledak biayanya (cost overrun) hingga RM 1 Miliar, namun belum mengirimkan satu pun kapal meski dana telah terserap masif.
Sistem Makelar: Ketergantungan pada agen dan "middlemen" politik menyebabkan harga alutsista menjadi tidak masuk akal dan spesifikasi yang seringkali tidak sesuai kebutuhan militer.
Drama SPH 155mm: Pengadaan artileri medan yang tertunda sejak 2010 dan akhirnya dibatalkan oleh Kementerian Keuangan karena krisis kas.
ASEAN : MRCA = BADUT MALON : 10 LCA MURAH
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
-
INDONESIA .....
11 SU-35 > 42 RAFALE
12 MIRAGE 2000-5 > 48 KAAN
42 J-10CE > 48 KF-21 BORAMAE BLOCK II
24 F-15IDN > 24 M-346F
-
INDONESIA .....
BATAS LIMIT 60%
GOV. DEBT : 40% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 16% OF GDP
DEFISIT : 2,9%
GDP = USD 1,44 TRILIUN
=============
=============
MALAYSEWA.......
F18 KUWAIT = CANCELLED
JF17 = PRANK
RAFALE = PRANK
TYPHOON = PRANK
GRIPEN = PRANK
TEJAS = PRANK
MIG29N = TIADA GANTI
FA50MURAH = DIBLOKIR USA
-
MALAYSEWA.......
BATAS LIMIT 65%
GOV. DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84,3% OF GDP
DEFISIT : 3,8%
GDP = USD 416,90 MILIAR
5X PM 6X MOD = 2026 FREEZES - 2023 CANCELLED
--------------------------------
5X PM 6X MOD = 2026 FREEZES - 2023 CANCELLED
-
2017:
MiG-29N → PENSIUN
Operasional berhenti total; tidak ada pengganti kelas berat hingga kini.
-
2018 - 2022:
RAFALE, TYPHOON, GRIPEN, JF-17 → WACANA
Semua batal karena masalah anggaran dan peralihan fokus ke jet tempur ringan.
-
2023:
TEJAS → GAGAL
Kalah saing dalam tender jet tempur ringan (FLIT-LCA).-
-
2023:
FA-50 (M) → DEAL
Kontrak 18 unit dari Korea Selatan (RM4 miliar) resmi ditandatangani.
-
2026: FA-50 → VETO USA
AS dilaporkan memblokir integrasi rudal jarak menengah AMRAAM; jet terancam hanya bersenjata jarak pendek.
-
2026:
F-18 KUWAIT → BATAL
Pembelian 33 unit Hornet bekas resmi dibatalkan karena masalah teknis dan jadwal.
________________________________________
BUKTI HUTANG BAYAR HUTANG
BUKTI PRANK 🦧GORILA ....
-
KLAIM SHOPPING CASH = 2018-2026 .....
-
HUTANG BAYAR HUTANG
HUTANG BAYAR HUTANG
HUTANG BAYAR HUTANG
-
Daftar tren "Hutang Bayar Hutang" MALAYSEWA dari tahun 2018 hingga proyeksi 2025 berdasarkan data Kementerian Kewangan MALAYSEWA (MOF) dan Jabatan Audit Negara:
-
2018: FASE "OPEN DONASI"
Pemerintah meluncurkan Tabung Harapan MALAYSEWA untuk mengumpulkan sumbangan rakyat guna membantu membayar utang negara yang menembus angka RM1 triliun (80% dari PDB).
-
2019: 59% HUTANG BAYAR HUTANG
Laporan Ketua Audit Negara mengungkapkan bahwa 59% dari pinjaman baru digunakan hanya untuk melunasi utang yang sudah ada (gali lubang tutup lubang).
-
2020: 60% HUTANG BAYAR HUTANG
Ketergantungan meningkat; hampir 60% pinjaman baru dialokasikan untuk membayar utang lama, memicu kekhawatiran karena anggaran pembangunan semakin terhimpit.
-
2021: 50,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Dari total pinjaman baru sebesar RM194,55 miliar, sebanyak RM98,05 miliar digunakan untuk pembayaran kembali prinsipal utang yang telah matang.
-
2022: 52,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Realisasi pembayaran prinsipal mencapai RM113,7 miliar. Total pinjaman meningkat 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya akibat pemulihan pascapandemi.
-
2023: 64,3% HUTANG BAYAR HUTANG
Persentase tertinggi dalam periode ini. Dari total pinjaman kasar RM226,6 miliar, sebesar RM145,8 miliar lari ke pembayaran utang lama.
-
2024: 58,9% HUTANG BAYAR HUTANG
Pemerintah mulai melakukan konsolidasi. Pinjaman digunakan untuk melunasi utang matang sebesar RM121,3 miliar dari total pinjaman RM206 miliar.
-
2025: 58% HUTANG BAYAR HUTANG
Berdasarkan Tinjauan Fiskal 2025, pemerintah memproyeksikan pinjaman kasar sebesar RM184 miliar, di mana RM106,8 miliar disiapkan untuk membayar prinsipal utang matang.
-
2026 = HUTANG BAYAR HUTANG
Dokumen Resmi Pemerintah (Kementerian Kewangan MALAYSEWA - MOF)
Data utama berasal dari laporan tahunan yang diterbitkan bersamaan dengan pembentangan anggaran negara:
Laporan Tinjauan Fiskal 2025 & 2026: Memuat angka proyeksi pinjaman kasar (gross borrowing) dan alokasi pembayaran kembali prinsipal utang yang matang.
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
BLOCK 70 MAHAL versus BLOCK 20 MURAH
-
FA-50 Block 70 lebih canggih dibandingkan Block 20 karena merupakan varian kursi tunggal (single-seat) yang dioptimalkan sepenuhnya untuk misi tempur, sementara Block 20 tetap merupakan pesawat kursi ganda (dual-seat) yang memiliki kapabilitas tempur tinggi.
Berikut adalah perbandingan utama tingkat kecanggihannya:
-
1. Kapasitas Bahan Bakar & Jangkauan
FA-50 Block 70: Menghapus kursi belakang dan menggantinya dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 300 galon. Hal ini meningkatkan radius tempur sebesar 20-30% dibandingkan varian sebelumnya.
FA-50 Block 20: Tetap memiliki dua kursi, sehingga kapasitas bahan bakar internal lebih terbatas, meski sudah dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling).
-
2. Sensor dan Radar (AESA)
FA-50 Block 70: Dilengkapi dengan radar AESA tercanggih, seperti Raytheon PhantomStrike, yang memberikan deteksi target lebih jauh dan presisi tinggi dalam berbagai cuaca.
FA-50 Block 20: Menggunakan radar AESA (seperti EL/M-2032 atau radar buatan Korea Selatan) yang sudah sangat mumpuni untuk kelas pesawat tempur ringan, namun Block 70 memiliki integrasi sensor yang lebih mendalam untuk peran multi-role.
-
3. Persenjataan dan Peran
FA-50 Block 70: Dirancang sebagai platform serangan strategis yang lebih murah daripada jet tempur berat. Mendukung integrasi penuh rudal udara-ke-udara jarak jauh (BVR) seperti AIM-120 AMRAAM dan rudal jelajah seperti Taurus KEPD 350K-2.
FA-50 Block 20: Fokus pada fleksibilitas misi Light Combat Aircraft (LCA) dan pelatih tempur. Kapasitas angkut senjata dan durasi terbangnya tidak sekuat Block 70 karena faktor ruang kursi kedua. Veto AMRAAM 120 USA
-------------
RADAR EM/L-2032 FOR FA50M
RADAR EM/L-2032 FOR FA50M
RADAR EM/L-2032 FOR FA50M
-
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHJzxwXoi9JJ1en5IoKmLuxc1T9FaY6kvLCSuuQGnjIQMypgAwlGYK_SxGU9es-QwOkQDFp1dEXNQ9OTDqU8rul1nQ_uD6kXLqMAz3dDvdl9N0uANjU1AdYs5Jg3hV64lYusPLIsnHnMFVm9_zrRlbkcK_onpmxfCEG9WhqO-mQSzKXE_H87PHNXJniAUN/s1553/MY-2.jpg
-------------
18 FA50Murah = DI TIPU KOREA (CONNED KOREA)
10 LCA
8 FLIT
Korea Aerospace Industries won the LCA / LIFT competition (which suffered a competitive challenge attempt) to supply the Royal MALAYSEWAn Air Force (RMAF or TUDM) with 18 light combat and advanced trainer aircraft. Eight of these aircraft are to be configured primarily as Lead Advanced Trainer (LIFT), while the remaining ten would be Light Fighter Aircraft (LCA) combat aircraft.
-------------
POLANDIA MEMBER NATO = AMRAAM
MALAYSEWA NON NATO = BLOKIR AMRAAM BANNED NSM
-
🛡️ Polandia (Anggota NATO)
Status: Sekutu garis depan Eropa Timur.
Kebijakan AS: Izin integrasi rudal AIM-120C AMRAAM (FA-50PL).
Hak Akses: Prioritas pelepasan source code enkripsi taktis.
Fasilitas: Berpengalaman dengan infrastruktur keamanan F-16 AS.
Kondisi: Modernisasi cepat demi memperkuat sayap timur aliansi.
-
🌐 Malaysewa (Non-NATO)
Status: Negara bebas-aktif non-aliansi utama AS.
Kebijakan AS: Pemblokiran rudal NSM dan penahanan AMRAAM (FA-50M).
Hambatan ITAR: Veto mutlak AS atas komponen giroskop Raytheon.
Birokrasi: Pemeriksaan transfer teknologi ketat akibat risiko kebocoran.
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
---------------------------------
Status Alutsista SIPRI (2020–2025): "Dua Tahun Kosong"
Vakum Total: Laporan SIPRI 2024–2025 menunjukkan status KOSONG. MALAYSEWA resmi sejajar dengan Timor Leste, Laos, dan Kamboja dalam hal nol transfer senjata berat.
Tren Mundur: Berawal dari fase Planned (2020), lalu Selected Not Yet Ordered (2022), hingga akhirnya vakum total (2024–2025) karena ketiadaan dana tunai.
Kegagalan Simbolik: Pembatalan akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali menjadi bukti ketidakmampuan finansial, bahkan untuk membeli barang bekas sekalipun.
-
Model Pengadaan: "Negara Penyewa" (Military-for-Rent)
Krisis likuiditas memaksa militer beralih dari kepemilikan menjadi penyewa aset (Leasing):
Daftar Sewa: Mencakup 32+ item strategis, termasuk 31 Helikopter (Blackhawk, AW139, AW149, Bell 429), pesawat latihan L39, kapal hidrografi, hingga simulator jet tempur MKM.
Logistik Sipil: Pengadaan kendaraan operasional (Honda Civic, BMW R1250RT, truk 3 ton) kini sepenuhnya menggunakan skema sewa.
Barter Komoditas: Pengadaan sisa (FA-50, PT-91M, Scorpene) terpaksa menggunakan skema Barter Kelapa Sawit (CPO) karena minimnya cadangan devisa.
-
Analisa Fiskal: "Spiral Debt-Servicing"
MALAYSEWA terjebak dalam siklus "Gali Lubang Tutup Lubang" yang kronis:
Siklus Utang: Proyeksi 2025–2026 menunjukkan 58% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar bunga dan pokok utang lama.
Ledakan Utang: Dari RM 407,1 Miliar (2010) melonjak ke RM 1,79 Triliun (2026).
Beban Rakyat: Utang rumah tangga mencapai 84,3% dari PDB, dengan fakta menyedihkan bahwa 84% masyarakat tidak memiliki tabungan setiap bulannya.
-
Degradasi Militer & Reputasi (GFP 2026)
Peringkat GFP: Merosot ke posisi 42 dunia (Peringkat ke-7 di ASEAN), secara resmi disalip oleh Filipina (Peringkat 41).
Aset Karatan & Hilang: Skandal mangkraknya proyek LCS & OPV, ditambah catatan hilangnya 48 pesawat Skyhawk serta 2 mesin jet tempur dari gudang negara.
Status Armada: Mayoritas aset utama berstatus Grounded (MiG-29, MB339CM, Nuri, Lynx) atau beroperasi dengan keterbatasan suku cadang (Tank mogok/berasap).
-
Perbandingan Kontras: Indonesia (The Giant)
Status SIPRI: Memiliki lembar belanja penuh (Rafale F4, KAAN, PPA, A400M, Rudal Khan).
Ketahanan: Ekonomi Indonesia 4,24x lebih besar secara PDB PPP dengan rasio utang pemerintah yang jauh lebih sehat (40% vs 69%).
Ini LAWAK.....😂😂🤣🤣🤣....BEZA KASTA si KAYA dengan SI MISKIN.....Bukan saja GAGAL BAYAR HUTANG tapi juga GAGAL BAYAR SEWA...........😂😂🤣🤣🤣
BalasHapusMisil NSM dibatalkan sepihak oleh Norway walaupun sudah dibayar 95% oleh MALAYSIA....
makala INDIANESIA di KICK dari program KFX kerana bertahun tahun NUNGGAK HUTANG dengan pelbagai alasan untuk mengelak membayar dan ketahuan MENCURI maklumat KFX....HAHAHAHHA
INDIANESIA juga akibat GAGAL BAYAR SEWA aset milik negara INDIANESIA siap di SITA oleh NAVAYO di Perancis...
Otak keledai 😅😅😂
HapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
----------------------------------
Status Realisasi Alutsista (Data SIPRI)
Indonesia (Dominasi Kawasan): Memiliki daftar belanja satu lembar penuh mencakup Rafale F4, A400M Atlas, Kapal PPA, Rudal Khan/Bora, dan drone ANKA-S. Terdaftar sebagai importir senjata ke-18 dunia.
MALAYSEWA (Vakum Total): Laporan SIPRI menunjukkan angka KOSONG selama dua tahun berturut-turut (2024-2025). Status merosot dari fase Planned (2020) hingga nihil transfer senjata berat.
Kegagalan Strategis: Pembatalan akuisisi F/A-18 Hornet Kuwait sebanyak 4 kali menjadi bukti hilangnya daya beli cash, bahkan untuk aset bekas.
-
Model Pengadaan: Kepemilikan vs Sewa
Indonesia (Buying): Skema pembelian tunai/kredit ekspor untuk kepemilikan penuh aset guna menjamin kedaulatan operasional jangka panjang.
MALAYSEWA (Leasing): Krisis likuiditas memaksa militer beralih ke skema Sewa (Leasing) untuk 32+ item, termasuk 31 helikopter (Blackhawk, AW139, AW149), pesawat latihan L39, hingga kendaraan polisi.
-
Kondisi Fiskal & Perangkap Utang
Indonesia (Stabil): Rasio utang pemerintah sehat (40% GDP), utang rumah tangga rendah (16% GDP), dan defisit terkendali di 2,9%.
MALAYSEWA (Kritis): Utang pemerintah menembus 69% GDP (melewati limit 65%) dan utang rumah tangga ekstrem di 84,3% GDP.
Siklus Gali Lubang: 58% pinjaman baru pada 2026 hanya digunakan untuk membayar cicilan dan bunga utang lama (Debt-Servicing).
-
Peringkat Militer ASEAN (GFP 2026)
Peringkat 1: Indonesia (Peringkat 13 Dunia) – Pemimpin mutlak kawasan.
Peringkat 6: Filipina (Peringkat 41 Dunia) – Berhasil menyalip MALAYSEWA melalui modernisasi aktif.
Peringkat 7: MALAYSEWA (Peringkat 42 Dunia) – Merosot ke posisi terendah di antara negara utama ASEAN akibat stagnasi belanja.
-
Krisis Administrasi & Degradasi Aset
Pembekuan Total: PM Anwar Ibrahim menginstruksikan Procurement Freeze 2026 guna menghentikan kebocoran anggaran akibat korupsi proyek.
Aset Karatan/Hilang: Skandal mangkraknya proyek LCS & OPV, ditambah catatan buruk hilangnya 48 pesawat Skyhawk dan 2 mesin jet tempur dari gudang negara.
Status Grounded: Mayoritas armada udara (MiG-29, MB339CM, Nuri) tidak bisa terbang karena keterbatasan biaya perawatan.
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
BLOCK 70 MAHAL versus BLOCK 20 MURAH
-
FA-50 Block 70 lebih canggih dibandingkan Block 20 karena merupakan varian kursi tunggal (single-seat) yang dioptimalkan sepenuhnya untuk misi tempur, sementara Block 20 tetap merupakan pesawat kursi ganda (dual-seat) yang memiliki kapabilitas tempur tinggi.
Berikut adalah perbandingan utama tingkat kecanggihannya:
-
1. Kapasitas Bahan Bakar & Jangkauan
FA-50 Block 70: Menghapus kursi belakang dan menggantinya dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 300 galon. Hal ini meningkatkan radius tempur sebesar 20-30% dibandingkan varian sebelumnya.
FA-50 Block 20: Tetap memiliki dua kursi, sehingga kapasitas bahan bakar internal lebih terbatas, meski sudah dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling).
-
2. Sensor dan Radar (AESA)
FA-50 Block 70: Dilengkapi dengan radar AESA tercanggih, seperti Raytheon PhantomStrike, yang memberikan deteksi target lebih jauh dan presisi tinggi dalam berbagai cuaca.
FA-50 Block 20: Menggunakan radar AESA (seperti EL/M-2032 atau radar buatan Korea Selatan) yang sudah sangat mumpuni untuk kelas pesawat tempur ringan, namun Block 70 memiliki integrasi sensor yang lebih mendalam untuk peran multi-role.
-
3. Persenjataan dan Peran
FA-50 Block 70: Dirancang sebagai platform serangan strategis yang lebih murah daripada jet tempur berat. Mendukung integrasi penuh rudal udara-ke-udara jarak jauh (BVR) seperti AIM-120 AMRAAM dan rudal jelajah seperti Taurus KEPD 350K-2.
FA-50 Block 20: Fokus pada fleksibilitas misi Light Combat Aircraft (LCA) dan pelatih tempur. Kapasitas angkut senjata dan durasi terbangnya tidak sekuat Block 70 karena faktor ruang kursi kedua. Veto AMRAAM 120 USA
-------------
POLANDIA MEMBER NATO = AMRAAM
MALAYSEWA NON NATO = BLOKIR AMRAAM BANNED NSM
-
🛡️ Polandia (Anggota NATO)
Status: Sekutu garis depan Eropa Timur.
Kebijakan AS: Izin integrasi rudal AIM-120C AMRAAM (FA-50PL).
Hak Akses: Prioritas pelepasan source code enkripsi taktis.
Fasilitas: Berpengalaman dengan infrastruktur keamanan F-16 AS.
Kondisi: Modernisasi cepat demi memperkuat sayap timur aliansi.
-
🌐 Malaysewa (Non-NATO)
Status: Negara bebas-aktif non-aliansi utama AS.
Kebijakan AS: Pemblokiran rudal NSM dan penahanan AMRAAM (FA-50M).
Hambatan ITAR: Veto mutlak AS atas komponen giroskop Raytheon.
Birokrasi: Pemeriksaan transfer teknologi ketat akibat risiko kebocoran.
Geopolitik: Batasan senjata jarak jauh demi mencegah perlombaan senjata.
ASEAN : MRCA = BADUT MALON : 10 LCA MURAH
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
-
INDONESIA .....
11 SU-35 > 42 RAFALE
12 MIRAGE 2000-5 > 48 KAAN
42 J-10CE > 48 KF-21 BORAMAE BLOCK II
24 F-15IDN > 24 M-346F
-
INDONESIA .....
BATAS LIMIT 60%
GOV. DEBT : 40% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 16% OF GDP
DEFISIT : 2,9%
GDP = USD 1,44 TRILIUN
=============
=============
MALAYSEWA.......
F18 KUWAIT = CANCELLED
JF17 = PRANK
RAFALE = PRANK
TYPHOON = PRANK
GRIPEN = PRANK
TEJAS = PRANK
MIG29N = TIADA GANTI
FA50MURAH = DIBLOKIR USA
-
MALAYSEWA.......
BATAS LIMIT 65%
GOV. DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84,3% OF GDP
DEFISIT : 3,8%
GDP = USD 416,90 MILIAR
5X PM 6X MOD = 2026 FREEZES - 2023 CANCELLED
--------------------------------
PRANK 🦧GORILA = 2005 – 2026
-
2005: Prank China (KS-1A)
Najib Razak menyatakan MALAYSEWA setuju secara prinsip membeli rudal jarak menengah KS-1A dari China dengan imbalan transfer teknologi. Hasil: Tidak ada realisasi pembelian hingga saat ini.
-
2014: Prank Prancis (Dassault Rafale)
MALAYSEWA dilaporkan mempersempit pilihan ke Dassault Rafale untuk pengadaan 18 jet tempur senilai USD 2 miliar. Hasil: Proyek ditunda tanpa batas waktu karena kendala anggaran.
-
2016: Prank Prancis (Nexter Caesar)
Penandatanganan Letter of Intent (LoI) di DSA 2016 untuk 20 unit artileri Caesar 155mm. Hasil: Kontrak resmi tidak pernah ditandatangani; MALAYSEWA akhirnya memilih unit lain.
-
2017: Prank Pakistan (JF-17 Thunder)
“The MALAYSEWA government has shown interest in buying the JF-17 Thunder aircraft from Pakistan but the deal is yet to be finalized,” a senior Pakistan Ministry of Defense Production official told Arab News. Hasil: MALAYSEWA tiada akusisi jet tersebut.
-
2018: Prank Indonesia (PT PAL MRSS)
Klaim bahwa kontrak kapal MRSS akan ditandatangani Agustus 2018. Hasil: Hingga saat ini, kontrak tersebut tidak pernah terealisasi dengan PT PAL.
-
2022: Prank India (HAL Tejas)
MALAYSEWA mengidentifikasi Tejas sebagai kandidat kuat pengganti MiG-29 dan masuk tahap negosiasi lanjut. Hasil: MALAYSEWA justru memilih FA-50 Block 20 dari Korea Selatan pada 2023.
-
2022: Prank Turki (MKE Yavuz)
Kemenhan MALAYSEWA meninjau ulang rencana akuisisi artileri Yavuz 155mm setelah sebelumnya dikabarkan akan dibeli. Hasil: Dibatalkan/diganti dengan sistem lain.
-
2022: Prank Slovakia (EVA 155mm)
MALAYSEWA diharapkan menyelesaikan kesepakatan untuk pasokan EVA 155mm. Hasil: Senasib dengan Yavuz, tidak ada kelanjutan kontrak yang nyata.
=
2023: Prank PBB (IAG Guardian)
Sembilan kendaraan IAG Guardian yang dikirim untuk misi PBB (UNIFIL) dinyatakan tidak memenuhi persyaratan operasional, berujung pada sanksi pemotongan biaya operasional.
-
2024–2025 Prank Black Hawk
Ini menjadi salah satu "prank" terbesar baru-baru ini. MALAYSEWA berencana menyewa empat helikopter UH-60A Black Hawk dari perusahaan lokal Aerotree Defence & Services untuk menggantikan helikopter Nuri yang sudah tua.
-
2024–2025 Prank Kuwait - Jet Tempur F/A-18 Hornet
MALAYSEWA menunjukkan ketertarikan kuat untuk membeli jet tempur F/A-18 Hornet bekas milik Angkatan Udara Kuwait untuk menambah kekuatan udara mereka secara instan.
-.
2026 Pembekuan Pengadaan Massal
Kejadian: Pada awal 2026, PM Anwar Ibrahim mengumumkan pembekuan semua keputusan pengadaan militer karena adanya penyelidikan dugaan korupsi dan kartel dalam kementerian pertahanan. Ini berdampak pada rencana-rencana yang sedang dibahas sepanjang 2024 dan 2025.
________________________________________
DIBATALKAN/CANCELLED
-
F/A 18C/D Hornet bekas Kuwait (2025–2026)
Dibatalkan resmi oleh Kabinet MALAYSEWA pada Februari 2026 setelah evaluasi teknis RMAF menunjukkan masalah ketersediaan, logistik, dan biaya jangka panjang.
-
UH 60 Blackhawk (1990 an)
Rencana mengganti helikopter Nuri dengan Blackhawk tidak diteruskan karena biaya tinggi dan faktor politik/industri. MALAYSEWA akhirnya memilih EC725 Cougar/H225M sebagai pengganti.
FAKTA 5x RAJA MALON = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM MALON = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF MALON= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM LCS CASH = LOAN
💰 1. LIMITED DOMESTIC DEFENSE BUDGET
MALAYSEWA’s defense budget is modest — around 1% of GDP, which restricts large-scale acquisitions.
Instead of upfront payments, MALAYSEWA often negotiates deferred payment schemes, installment plans, or loans backed by export credit agencies (ECAs) from supplier countries.
These financing models allow MALAYSEWA to acquire high-value assets without immediate fiscal strain.
-----------------
⚙️ 2. Need for Advanced Technology and Capabilities
MALAYSEWA lacks the domestic capacity to produce high-end military platforms, so it turns to foreign suppliers:
Country Asset Procured Financing/Support Mechanism
🇰🇷 South Korea FA-50 Light Combat Aircraft Industrial offsets, local assembly, favorable terms
🇮🇹 Italy ATR-72 Maritime Patrol Aircraft G2G deal, possible ECA-backed financing
🇹🇷 Turkey ANKA MALE Drones Strategic partnership, tech transfer
These deals often include training, maintenance, and technology sharing, which MALAYSEWA cannot yet provide internally.
-----------------
🏭 3. Desire to Build Local Defense Industry
MALAYSEWA wants to reduce dependency and stimulate its own defense ecosystem:
Offsets: Foreign suppliers agree to invest in MALAYSEWA’s defense industry or transfer technology.
Joint Ventures: Local firms like Boustead Naval Shipyard (BNS) are involved in assembly and integration.
Local Assembly: 14 of the FA-50 jets will be assembled in MALAYSEWA, building technical capacity.
💸 Role of Loans in Defense Procurement
While not always disclosed as “loans,” MALAYSEWA’s defense deals often involve:
Export Credit Agency (ECA) Financing: Countries like Italy and South Korea use ECAs to offer low-interest loans or guarantees to support defense exports.
G2G Agreements: These bypass middlemen and commissions, reducing corruption risks and allowing for more favorable financing terms3.
Strategic Installment Plans
--------------------
1️⃣ DATA YANG MALAYSEWA 2025
Utang akhir 2024: RM 1.25 triliun
Utang akhir Juni 2025: RM 1.30 triliun
Jumlah penduduk MALAYSEWA 2025 (perkiraan pertengahan tahun): 35,977,838 jiwa
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2025
1.30 triliun = 1,300,000,000,000
Per Orang = 1,300,000,000,000/35,977,838 : RM 36,139 per orang
--------------------
1️⃣ DATA YANG MALAYSEWA 2025
Utang rumah tangga (akhir Maret 2025): RM 1.65 triliun
Persentase terhadap PDB: 84.3%
Jumlah penduduk MALAYSEWA pertengahan 2025: 35,977,838 jiwa
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2025
Utang per orang =1,650,000,000,000/35,977,838 : RM 45,859 per orang
FAKTA DI KICK sama Korea....HAHAHAHAHAH
BalasHapusIndonesia Berhenti Ikut Produksi Jet KF-21 Boramae
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/113345/indonesia-berhenti-ikut-produksi-jet-kf-21-boramae
Link zamanbehaula🤣🤣🤣
HapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
FAKTA DI KICK sama Korea....HAHAHAHAHAH
BalasHapusIndonesia Berhenti Ikut Produksi Jet KF-21 Boramae
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/113345/indonesia-berhenti-ikut-produksi-jet-kf-21-boramae
Otak keledai😅😅
HapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
FAKTA 5x RAJA MALON = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM MALON = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF MALON= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM LCS CASH = LOAN
1. Budget Allocation for Defence:
Annual Budget: Each year, the MALAYSEWAn government allocates a portion of its national budget to the Ministry of Defence (MINDEF). This allocation covers operational expenses (salaries, maintenance, training), procurement of new equipment, and infrastructure development.
Priorities: The size of the defence budget is determined by various factors, including the perceived security threats, regional geopolitical landscape, economic conditions, and the government's overall strategic priorities.
Transparency: Details of the defence budget, particularly specific procurement projects and their funding sources, are not always fully transparent, which can make it challenging to track the exact correlation with loans.
2. Military Procurement and Modernization:
High Costs: Modern military equipment (fighter jets, naval vessels, armoured vehicles, advanced weaponry) is extremely expensive.
Modernization Plans: MALAYSEWA, like many nations, has ongoing military modernization plans to replace aging assets and enhance its defence capabilities. These plans often span several years and require significant investment.
"Buy MALAYSEWAn" vs. Imports: While there's a push to support local defence industries, many high-tech systems still need to be imported from foreign manufacturers.
3. Impact on the National Budget and Economy:
Debt Servicing: Repaying military loans (principal and interest) becomes a recurring expenditure in the national budget. This can divert funds from other critical sectors like education, healthcare, or infrastructure development.
Fiscal Space: Excessive reliance on military loans can constrain the government's fiscal space, limiting its ability to respond to economic shocks or invest in other priorities.
Currency Fluctuations: If loans are denominated in foreign currencies, fluctuations in exchange rates can increase the cost of repayment in Ringgit.
Opportunity Cost: Every Ringgit spent on military loans is a Ringgit that cannot be spent elsewhere, representing an opportunity cost for the nation's development.
4. Factors Influencing Loan Decisions:
Urgency of Need: Geopolitical tensions or perceived immediate threats can accelerate procurement decisions, making loans a more attractive option to acquire equipment quickly.
Cost-Benefit Analysis: Governments are supposed to conduct a cost-benefit analysis before taking out loans, considering the strategic importance of the equipment versus the financial implications.
Diplomatic Relations: Loan offers, especially from foreign governments, can be tied to broader diplomatic and strategic relationships.
Transparency and Accountability: The level of transparency in procurement processes and loan agreements is crucial for public accountability and ensuring that funds are used efficiently and without corruption.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Dominasi Skala Ekonomi: Indonesia sebagai Gajah Asia
Indonesia telah melakukan decoupling (pemisahan kasta) dari ekonomi regional ASEAN:
PDB PPP (Daya Beli Riil): Dengan angka US$ 5,69 Triliun, Indonesia menempati Peringkat 6 Dunia, melampaui Jerman, Inggris, dan Prancis.
Skala Banding: Ekonomi riil Indonesia setara dengan gabungan Thailand + Vietnam + Filipina.
Rasio vs MALAYSEWA: Indonesia 4,24x lebih besar.
PDB Nominal (Nilai Pasar): Indonesia mencapai US$ 1,69 Triliun (Peringkat 15 Dunia).
Rasio vs MALAYSEWA: Indonesia 3,67x lebih besar.
-
Kontras Kesehatan Fiskal & Profil Risiko
Perbedaan fundamental dalam pengelolaan keuangan negara:
Indonesia (Pruden & Sehat):
Rasio Utang: Terjaga stabil di kisaran 40%, jauh di bawah batas aman UU (60%).
Utang Rumah Tangga: Sangat rendah (16%), memberikan ruang konsumsi domestik yang kuat tanpa beban cicilan ekstrem.
MALAYSEWA (Zona Merah Fiskal):
Rasio Utang: Melonjak hingga 69% - 70,4% (2024-2025), melewati limit internal 65%.
Bom Waktu Rumah Tangga: Rasio utang rumah tangga mencapai 84,3%, salah satu yang tertinggi di Asia, yang mencekik daya beli rakyat.
-
Trajektori Utang MALAYSEWA (2010–2026)
Data menunjukkan akumulasi utang yang tidak terkendali:
Era Transparansi (2018): Lonjakan drastis dari RM 686 Miliar ke RM 1,19 Triliun terjadi karena inklusi liabilitas tersembunyi (kasus 1MDB & proyek PPP).
Beban Pandemi & Pasca-Pandemi: Utang terus mendaki dari RM 1,32 T (2020) hingga diproyeksikan menyentuh RM 1,79 Triliun pada 2026.
Defisit Fiskal: Meskipun menyusut ke 3,8% (2025), nominal defisit tetap tinggi (± USD 17,8 Miliar), memaksa penambahan utang baru setiap tahun.
-
Implikasi Geopolitik & Pertahanan
Kesenjangan ekonomi ini berdampak langsung pada postur militer:
Indonesia: Memiliki Fiscal Space luas untuk modernisasi alutsista (Rafale, Scorpene) karena beban bunga utang yang rendah.
MALAYSEWA: Terjebak dalam siklus "Hutang Bayar Hutang". Beban bunga utang yang masif memaksa pemerintah melakukan pembekuan total pengadaan militer dan beralih ke skema sewa (leasing) karena ketidaksediaan dana tunai.
-
Kesimpulan Utama: Indonesia kini berada di liga elit ekonomi global (G20 Top 6 PPP), sementara MALAYSEWA menghadapi risiko sistemik akibat beban utang pemerintah dan rumah tangga yang ekstrem, yang berujung pada stagnasi nasional.
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
BLOCK 70 MAHAL versus BLOCK 20 MURAH
-
FA-50 Block 70 lebih canggih dibandingkan Block 20 karena merupakan varian kursi tunggal (single-seat) yang dioptimalkan sepenuhnya untuk misi tempur, sementara Block 20 tetap merupakan pesawat kursi ganda (dual-seat) yang memiliki kapabilitas tempur tinggi.
Berikut adalah perbandingan utama tingkat kecanggihannya:
-
1. Kapasitas Bahan Bakar & Jangkauan
FA-50 Block 70: Menghapus kursi belakang dan menggantinya dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 300 galon. Hal ini meningkatkan radius tempur sebesar 20-30% dibandingkan varian sebelumnya.
FA-50 Block 20: Tetap memiliki dua kursi, sehingga kapasitas bahan bakar internal lebih terbatas, meski sudah dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling).
-
2. Sensor dan Radar (AESA)
FA-50 Block 70: Dilengkapi dengan radar AESA tercanggih, seperti Raytheon PhantomStrike, yang memberikan deteksi target lebih jauh dan presisi tinggi dalam berbagai cuaca.
FA-50 Block 20: Menggunakan radar AESA (seperti EL/M-2032 atau radar buatan Korea Selatan) yang sudah sangat mumpuni untuk kelas pesawat tempur ringan, namun Block 70 memiliki integrasi sensor yang lebih mendalam untuk peran multi-role.
-
3. Persenjataan dan Peran
FA-50 Block 70: Dirancang sebagai platform serangan strategis yang lebih murah daripada jet tempur berat. Mendukung integrasi penuh rudal udara-ke-udara jarak jauh (BVR) seperti AIM-120 AMRAAM dan rudal jelajah seperti Taurus KEPD 350K-2.
FA-50 Block 20: Fokus pada fleksibilitas misi Light Combat Aircraft (LCA) dan pelatih tempur. Kapasitas angkut senjata dan durasi terbangnya tidak sekuat Block 70 karena faktor ruang kursi kedua. Veto AMRAAM 120 USA
-------------
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
-
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
-
angsuran untuk proyek Jet Tempur FA-50 Block 20 dengan skema Hybrid (Kredit & Barter) yang sangat unik:
Parameter Simulasi
Total Kontrak: US$ 920.000.000 (Sekitar RM 4,08 Miliar).
Pembagian Skema (50:50):
50% Kredit (Hutang): US$ 460.000.000
50% Barter (Sawit): US$ 460.000.000
Tenor (Jangka Waktu): 10 Tahun.
Estimasi Bunga KEXIM: 4,5% per tahun (mengikuti standar OECD CIRR)..
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
Kelumpuhan Matra Pertahanan (Analisis SIPRI)
Data menunjukkan adanya degradasi progresif dari perencanaan ke ketiadaan aktivitas total:
Vakum Total (2024–2025): Status "KOSONG" pada SIPRI mengonfirmasi tidak adanya kontrak baru atau transfer senjata berat. Ini menandakan hilangnya daya beli di pasar alutsista global.
Kegagalan Akuisisi: Pembatalan berulang (seperti F/A-18 Kuwait) dan status Selected Not Yet Ordered mencerminkan ketidakpastian anggaran yang kronis.
Model "Military-for-Rent": Pergeseran dari kepemilikan menjadi skema Leasing (Sewa) pada lebih dari 32 item (Helikopter, Simulator, dll.) menunjukkan militer hanya mampu membiayai operasional jangka pendek tanpa investasi aset strategis jangka panjang.
-
Krisis Fiskal: "Debt-Servicing Trap"
Struktur ekonomi terjebak dalam siklus utang yang tidak sehat:
Gali Lubang Tutup Lubang: Sejak 2019, rata-rata di atas 50% hingga 64% pinjaman baru hanya digunakan untuk membayar pokok dan bunga utang lama (principal repayment), bukan untuk pembangunan produktif.
Rasio Kritis: Utang nasional yang diproyeksikan menyentuh RM 1,79 Triliun (2026) dengan rasio utang pemerintah 69% GDP telah melampaui batas aman fiskal.
Ketergantungan Barter: Penggunaan CPO (Kelapa Sawit) sebagai alat bayar alutsista (FA-50, Scorpene) mengonfirmasi keterbatasan cadangan devisa tunai.
-
Degradasi Kredibilitas Internasional & Domestik
Global Firepower (GFP) 2026: Penurunan ke peringkat 42 (disalip Filipina) adalah konsekuensi logis dari banyaknya aset yang grounded (MiG-29) dan skandal hilangnya inventaris (mesin jet/Skyhawk).
Kritik Kepemimpinan: Pernyataan keras Mahathir (tentang etos kerja) dan fokus Anwar Ibrahim pada "Tata Kelola" (pemberantasan korupsi proyek banjir) menunjukkan bahwa masalah utama bukan sekadar teknis, melainkan sistemik dan administratif.
Tekanan Eksternal: Ancaman sanksi tarif AS (Section 301) menambah beban pada sektor manufaktur yang merupakan tulang punggung ekonomi.
FAKTA...INDIANESIA GAGAL BAYAR SEWA....HAHAHAHAHA
BalasHapusAset RI Terancam Disita di Paris Akibat Sengketa Satelit Kemhan
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/66582/aset-ri-terancam-disita-di-paris-akibat-sengketa-satelit-kemhan
Otak keledai 😅😅😂
HapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
BEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
FFBNP NOT PAID - MALAYDESH: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaydesh karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaydesh:
Tuntutan Hukum: Malaydesh menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaydesh membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaydesh: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaydesh (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaydesh), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
BUKTI HUTANG BAYAR HUTANG
BUKTI PRANK 🦧GORILA ....
-
KLAIM SHOPPING CASH = 2018-2026 .....
-
HUTANG BAYAR HUTANG
HUTANG BAYAR HUTANG
HUTANG BAYAR HUTANG
-
Daftar tren "Hutang Bayar Hutang" MALAYSEWA dari tahun 2018 hingga proyeksi 2025 berdasarkan data Kementerian Kewangan MALAYSEWA (MOF) dan Jabatan Audit Negara:
-
2018: FASE "OPEN DONASI"
Pemerintah meluncurkan Tabung Harapan MALAYSEWA untuk mengumpulkan sumbangan rakyat guna membantu membayar utang negara yang menembus angka RM1 triliun (80% dari PDB).
-
2019: 59% HUTANG BAYAR HUTANG
Laporan Ketua Audit Negara mengungkapkan bahwa 59% dari pinjaman baru digunakan hanya untuk melunasi utang yang sudah ada (gali lubang tutup lubang).
-
2020: 60% HUTANG BAYAR HUTANG
Ketergantungan meningkat; hampir 60% pinjaman baru dialokasikan untuk membayar utang lama, memicu kekhawatiran karena anggaran pembangunan semakin terhimpit.
-
2021: 50,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Dari total pinjaman baru sebesar RM194,55 miliar, sebanyak RM98,05 miliar digunakan untuk pembayaran kembali prinsipal utang yang telah matang.
-
2022: 52,4% HUTANG BAYAR HUTANG
Realisasi pembayaran prinsipal mencapai RM113,7 miliar. Total pinjaman meningkat 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya akibat pemulihan pascapandemi.
-
2023: 64,3% HUTANG BAYAR HUTANG
Persentase tertinggi dalam periode ini. Dari total pinjaman kasar RM226,6 miliar, sebesar RM145,8 miliar lari ke pembayaran utang lama.
-
2024: 58,9% HUTANG BAYAR HUTANG
Pemerintah mulai melakukan konsolidasi. Pinjaman digunakan untuk melunasi utang matang sebesar RM121,3 miliar dari total pinjaman RM206 miliar.
-
2025: 58% HUTANG BAYAR HUTANG
Berdasarkan Tinjauan Fiskal 2025, pemerintah memproyeksikan pinjaman kasar sebesar RM184 miliar, di mana RM106,8 miliar disiapkan untuk membayar prinsipal utang matang.
-
2026 = HUTANG BAYAR HUTANG
Dokumen Resmi Pemerintah (Kementerian Kewangan MALAYSEWA - MOF)
Data utama berasal dari laporan tahunan yang diterbitkan bersamaan dengan pembentangan anggaran negara:
Laporan Tinjauan Fiskal 2025 & 2026: Memuat angka proyeksi pinjaman kasar (gross borrowing) dan alokasi pembayaran kembali prinsipal utang yang matang.
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
HapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
FA-50 BLOCK 70 = PINOY
FA-50Murah BLOCK 20 = MALAYSEWA
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
BLOCK 70 MAHAL versus BLOCK 20 MURAH
-
FA-50 Block 70 lebih canggih dibandingkan Block 20 karena merupakan varian kursi tunggal (single-seat) yang dioptimalkan sepenuhnya untuk misi tempur, sementara Block 20 tetap merupakan pesawat kursi ganda (dual-seat) yang memiliki kapabilitas tempur tinggi.
Berikut adalah perbandingan utama tingkat kecanggihannya:
-
1. Kapasitas Bahan Bakar & Jangkauan
FA-50 Block 70: Menghapus kursi belakang dan menggantinya dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 300 galon. Hal ini meningkatkan radius tempur sebesar 20-30% dibandingkan varian sebelumnya.
FA-50 Block 20: Tetap memiliki dua kursi, sehingga kapasitas bahan bakar internal lebih terbatas, meski sudah dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling).
-
2. Sensor dan Radar (AESA)
FA-50 Block 70: Dilengkapi dengan radar AESA tercanggih, seperti Raytheon PhantomStrike, yang memberikan deteksi target lebih jauh dan presisi tinggi dalam berbagai cuaca.
FA-50 Block 20: Menggunakan radar AESA (seperti EL/M-2032 atau radar buatan Korea Selatan) yang sudah sangat mumpuni untuk kelas pesawat tempur ringan, namun Block 70 memiliki integrasi sensor yang lebih mendalam untuk peran multi-role.
-
3. Persenjataan dan Peran
FA-50 Block 70: Dirancang sebagai platform serangan strategis yang lebih murah daripada jet tempur berat. Mendukung integrasi penuh rudal udara-ke-udara jarak jauh (BVR) seperti AIM-120 AMRAAM dan rudal jelajah seperti Taurus KEPD 350K-2.
FA-50 Block 20: Fokus pada fleksibilitas misi Light Combat Aircraft (LCA) dan pelatih tempur. Kapasitas angkut senjata dan durasi terbangnya tidak sekuat Block 70 karena faktor ruang kursi kedua. Veto AMRAAM 120 USA
-------------
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
-
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
-------------
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
-
angsuran untuk proyek Jet Tempur FA-50 Block 20 dengan skema Hybrid (Kredit & Barter) yang sangat unik:
Parameter Simulasi
Total Kontrak: US$ 920.000.000 (Sekitar RM 4,08 Miliar).
Pembagian Skema (50:50):
50% Kredit (Hutang): US$ 460.000.000
50% Barter (Sawit): US$ 460.000.000
Tenor (Jangka Waktu): 10 Tahun.
Estimasi Bunga KEXIM: 4,5% per tahun (mengikuti standar OECD CIRR)..
FAKTA 5x RAJA MALON = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM MALON = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF MALON= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
KLAIM LCS CASH = LOAN
Fenomena "Galakan Pinjaman" atau meminjam untuk menutupi pinjaman lama
Peningkatan Utang Nasional:
Ketika pemerintah secara konsisten meminjam untuk membayar utang lama, ini dapat menyebabkan peningkatan kumulatif dalam utang nasional. Tanpa peningkatan pendapatan yang seimbang atau restrukturisasi utang yang efektif, beban utang dapat terus membengkak.
Dampak pada Anggaran:
Pembayaran pokok dan bunga utang menjadi pos pengeluaran yang signifikan dalam anggaran negara. Jika sebagian besar pendapatan negara dialokasikan untuk melayani utang, ini dapat membatasi kemampuan pemerintah untuk berinvestasi dalam sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pembangunan ekonomi.
Ketergantungan pada Pasar Keuangan:
Praktik ini membuat pemerintah lebih bergantung pada pasar keuangan untuk pembiayaan. Volatilitas pasar, perubahan suku bunga, dan persepsi investor tentang kesehatan fiskal negara dapat memengaruhi kemampuan pemerintah untuk mendapatkan pinjaman baru dengan kondisi yang menguntungkan.
Tingkat Utang Pemerintah MALAYSEWA:
Pemerintah MALAYSEWA telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk menjaga tingkat utang pada batas yang wajar. Batas statuta untuk utang federal seringkali menjadi tolok ukur penting. Meskipun demikian, ada perdebatan yang berkelanjutan mengenai 🦧GORILA IQ BOTOL = DEFISIT ANGGARAN dan tingkat utang pemerintah. Misalnya, pada masa pandemi COVID-19, pemerintah terpaksa meminjam lebih banyak untuk membiayai paket stimulus dan dukungan ekonomi.
Penyebab:
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan "galakan pinjaman" termasuk:
🦧GORILA IQ BOTOL = DEFISIT ANGGARAN yang Persisten: Pengeluaran lebih besar dari pendapatan.
Kewajiban Jangka Panjang: Proyek infrastruktur besar atau komitmen masa lalu yang memerlukan pembiayaan berkelanjutan.
Perlambatan Ekonomi: Penurunan pendapatan pajak akibat aktivitas ekonomi yang melambat.
Guncangan Eksternal: Krisis keuangan global, pandemi, atau harga komoditas yang bergejolak yang memengaruhi pendapatan negara.
FAKTA 5x RAJA MALON = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM MALON = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF MALON= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
ANALISIS PROYEKSI PELUNASAN HUTANG MALAYSEWA 2053 VS. TREN PENAMBAHAN HUTANG TERKINI
1. Latar Belakang Proyeksi 2053
MALAYSEWA meramalkan dapat melunasi seluruh hutang pemerintah pada 2053 dengan asumsi tidak ada pinjaman baru untuk defisit atau refinancing mulai 2024.
Per akhir 2022, total hutang pokok pemerintah Persekutuan tercatat RM 1,079.6 miliar atau 60.4% dari PDB; jika memasukkan liabilitas lain, jumlahnya mencapai RM 1.45 triliun (80.9% PDB).
===========
Faktor Pemicu Penambahan Hutang
Pembiayaan 🦧GORILA IQ BOTOL = DEFISIT ANGGARAN yang terus berlangsung
Perpanjangan/rollover surat utang yang matang
Kenaikan biaya layanan hutang (Debt Service Charges naik dari RM 30.5 miliar 2018 ke RM 41.3 miliar 2022)
Kontinjensi liabilitas: jaminan pemerintah, 1MDB, dan liabilitas lainnya
Penurunan pertumbuhan pendapatan pajak saat ekonomi melambat
===========
Kesimpulan
Proyeksi pelunasan 2053 bersandar pada “nol pinjaman baru” — skenario yang saat ini jauh dari kenyataan. Tren pembiayaan defisit dan refinancing terus mengerek total hutang ke rekor baru. Tanpa langkah konsolidasi fiskal dan reformasi struktural yang tegas, target 2053 akan terus tertunda.
===========
📊 Hutang Isi Rumah MALAYSEWA – Gambaran & Implikasi
Data yang anda kongsikan daripada Bank Negara MALAYSEWA (BNM) memang mencerminkan satu realiti penting dalam ekonomi serantau:
Nilai: RM1.65 trilion (setakat Mac 2025)
Nisbah terhadap KDNK: 84.3%
Kedudukan: Tertinggi di ASEAN untuk nisbah hutang isi rumah/KDNK
🔍 Kenapa angka ini tinggi?
Akses mudah kepada kredit – Kad kredit, pinjaman peribadi, dan skim pembiayaan kenderaan/perumahan yang meluas.
Harga rumah yang meningkat – Ramai bergantung pada pinjaman jangka panjang.
Kos sara hidup yang tinggi, memaksa sebahagian isi rumah bergantung kepada hutang untuk menampung perbelanjaan.
Pertumbuhan pendapatan yang perlahan berbanding kenaikan kos dan komitmen hutang.
📈 Implikasi kepada ekonomi & rakyat
Kerentanan kewangan – Isi rumah lebih terdedah jika kadar faedah naik atau ekonomi meleset.
Kesannya kepada penggunaan – Perbelanjaan pengguna mungkin berkurangan kerana sebahagian pendapatan digunakan untuk membayar hutang.
Kestabilan kewangan negara – Bank pusat perlu mengimbangi pertumbuhan ekonomi dengan risiko kredit.
Ini LAWAK.....😂😂🤣🤣🤣....BEZA KASTA si KAYA dengan SI MISKIN.....Bukan saja GAGAL BAYAR HUTANG tapi juga GAGAL BAYAR SEWA...........😂😂🤣🤣🤣
BalasHapusMisil NSM dibatalkan sepihak oleh Norway walaupun sudah dibayar 95% oleh MALAYSIA....
makala INDIANESIA di KICK dari program KFX kerana bertahun tahun NUNGGAK HUTANG dengan pelbagai alasan untuk mengelak membayar dan ketahuan MENCURI maklumat KFX....HAHAHAHHA
INDIANESIA juga akibat GAGAL BAYAR SEWA aset milik negara INDIANESIA siap di SITA oleh NAVAYO di Perancis...
Otak keledai 😅😅😅
HapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
FAKTA 5x RAJA MALON = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM MALON = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF MALON= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
THE MAIN KNOWLEDGE GAPS IN MALAYSEWA MILITARY WITHOUT A DEDICATED MARINE CORPS STEM FROM A LACK OF A UNIFIED DOCTRINE, fragmented command, and limited indigenous expertise in the complex field of amphibious warfare.
Fragmentation of Doctrine and Training
A dedicated Marine Corps provides a single, cohesive doctrine for amphibious operations. In MALAYSEWA , this expertise is distributed across the MALAYSEWA Army and the Royal MALAYSEWA Navy (RMN), leading to several problems:
No Single Amphibious Doctrine: There is no single, codified doctrine that governs how land and sea forces should work together in an amphibious assault. While some units, like the Army's 10th Parachute Brigade, have amphibious training, they are primarily land-centric. This creates a disconnect between the Army's maneuver doctrine and the Navy's ship-to-shore logistics.
Reliance on Foreign Partners: MALAYSEWA heavily relies on joint exercises with countries that have a Marine Corps, such as the U.S. and the Philippines. These exercises, like CARAT and Bersama Warrior, are crucial for developing skills and interoperability. However, this reliance means that MALAYSEWA forces are not constantly developing their own expertise and can only practice these complex operations during limited, often ad-hoc, training periods.
Gaps in Expertise and Personnel
A dedicated Marine Corps cultivates a deep bench of personnel with specialized knowledge in all aspects of amphibious warfare. The absence of this creates several key gaps in expertise:
Limited Specialist Roles: Amphibious warfare requires a wide range of specialized skills, from beach reconnaissance and hydrographic surveying to coordinating ship-to-shore fire support and managing logistics in a contested littoral environment. Without a Marine Corps, MALAYSEWA lacks a consistent, institutionalized way to train and retain personnel in these niche roles.
Challenges in Joint Operations: The lack of a shared understanding and common language between the Army and Navy can hinder effective joint operations. In a real-world scenario, this can lead to delays in decision-making, poor communication, and a lack of synchronized action—all of which are critical for the success of an amphibious landing.
Weakened Expeditionary Capability: A Marine Corps is an expeditionary force by nature, designed to deploy quickly and project power from the sea. MALAYSEWA military, without this dedicated component, lacks the ability to rapidly deploy a self-sustaining force for missions like humanitarian assistance, disaster relief, or securing remote territories. This is a significant vulnerability for an archipelagic state with a vast maritime domain.
=============
GOVERNMENT DEBT : 69% of GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84.3% of GDP
Federal Government Debt
End of 2024: RM 1.25 trillion
End of June 2025: RM 1.3 trillion
Projected Debt-to-GDP: 69% by the end of 2025
Household Debt
2025 : RM1.73 trillion, or 85.8% of GDP GDP
FAKTA 5x RAJA MALON = FFBNP =ZONK MRCA SPH LCS NSM
HapusFAKTA 5x PM MALON = FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
FAKTA 6x MINDEF MALON= FFBNP = ZONK MRCA SPH LCS NSM
-
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
MALON NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
--------------------------------
1️⃣DATA UTANG MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1,79 triliun
-
Utang Rumah Tangga: RM 1,65 triliun
-
Rasio Utang Pemerintah/PDB: 70,5% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Rasio Utang Rumah Tangga/PDB: 84,3% (Overlimit Batas 65%/PDB)
-
Jumlah Penduduk MALAYSEWA 2026 : 36.385.115 jiwa
--------------------------------
2️⃣ PERHITUNGAN UTANG PER PENDUDUK MALAYSEWA 2026
-
Utang Pemerintah: RM 1.790.000.000.000 / 36.385.115 = RM 49.196
-
Utang Rumah Tangga: RM 1.650.000.000.000 / 36.385.115 = RM 45.348
-
➡️Total Beban Kumulatif Per Warga MALAYSEWA : RM 49.196 + RM 45.348 = RM 94.544
--------------------------------
1. KETERBATASAN TEKNOLOGI DAN Modernisasi Armada
Sistem Sonar Usang: Beberapa kapal perang permukaan Angkatan Laut MALAYSEWA (TLDM) masih menggunakan sistem sonar yang mungkin sudah berusia. Sonar yang lebih tua memiliki jangkauan deteksi yang lebih terbatas dan kurang efektif dalam membedakan target asli dari kebisingan latar belakang atau umpan (decoy). Kesenjangan teknologi ini menjadi signifikan jika dibandingkan dengan kapal-kapal modern yang dilengkapi dengan sonar digital canggih, yang mampu melacak banyak target secara simultan dan menyaring kebisingan laut dengan algoritma pembelajaran mesin.
Ketiadaan AIP pada Kapal Selam: Dua kapal selam kelas Scorpene milik MALAYSEWA tidak dilengkapi dengan sistem Air-Independent Propulsion (AIP). Sistem AIP memungkinkan kapal selam untuk tetap berada di bawah air lebih lama tanpa harus naik ke permukaan untuk mengisi ulang baterai. Tanpa AIP, kapal selam MALAYSEWA harus lebih sering "snorkeling" (mengoperasikan snorkel di permukaan) untuk mengisi ulang baterainya, yang secara signifikan meningkatkan risiko terdeteksi oleh radar dan sonar musuh. Hal ini membatasi durasi operasi rahasia dan jangkauan patroli bawah air mereka.
2. Tantangan Operasional dan Lingkungan
Kondisi Lingkungan Laut: Kinerja sonar sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Faktor-faktor seperti suhu, salinitas, dan kedalaman air dapat mempengaruhi kecepatan suara dan menciptakan "lapisan" di dalam air (thermocline) yang dapat membelokkan atau memblokir gelombang suara sonar. Kemampuan untuk mengimbangi variasi ini, yang dikenal sebagai "acoustic masking", memerlukan teknologi sonar yang sangat canggih dan kru yang terlatih.
Kebisingan Latar Belakang: Laut adalah lingkungan yang bising, penuh dengan suara dari kehidupan laut, aktivitas kapal komersial, dan bahkan hujan. Sonar pasif, yang hanya "mendengarkan" suara dari target, harus mampu membedakan suara mesin kapal selam dari kebisingan-kebisingan ini. Sonar yang kurang canggih atau kru yang tidak terlatih dengan baik akan kesulitan dalam melakukan klasifikasi target secara akurat, meningkatkan risiko kesalahan identifikasi atau gagal deteksi.
3. Kendala Anggaran dan Pemeliharaan
Anggaran Pertahanan yang Terbatas: Meskipun MALAYSEWA memiliki tantangan keamanan maritim yang signifikan, anggaran pertahanannya cenderung lebih kecil dibandingkan beberapa negara tetangga. Keterbatasan anggaran ini memengaruhi kemampuan TLDM untuk secara rutin memutakhirkan sistem sonar pada kapal-kapalnya dan untuk melakukan pemeliharaan yang memadai pada armada yang sudah ada. Kurangnya perawatan rutin dapat mengurangi efektivitas sistem sonar dan mempercepat keausan komponen.
Kurangnya Kesiapan Alutsista: Beberapa laporan menunjukkan adanya masalah dalam kesiapan alutsista TLDM, termasuk sistem persenjataan dan sensor seperti sonar. Ini mungkin disebabkan oleh kombinasi masalah pembiayaan, logistik suku cadang, dan kurangnya personel yang terlatih untuk melakukan pemeliharaan.
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Kegagalan Finansial: Skandal "Belum Bayar" Petronas
Kasus sengketa gas Lapangan Kepodang menjadi bukti nyata tekanan likuiditas:
Kekalahan Internasional: Petronas (PCML) kalah gugatan di ICC Arbitrase Hong Kong (Juni 2024).
Gagal Bayar: Kewajiban denda Ship-or-Pay senilai US$ 32,2 Juta (± Rp500 Miliar) kepada PGN (Pertamina) belum tuntas dieksekusi.
Implikasi: Menjatuhkan kredibilitas Petronas sebagai mitra global di tengah beban dividen untuk menutup utang negara MALAYSEWA yang mencapai RM 1,79 Triliun.
-
Krisis Pangan: Bergantung pada Beras Indonesia
Ketahanan pangan MALAYSEWA berada di titik kritis (Defisit 50-60%):
Impor Masif: MALAYSEWA resmi mengimpor 500.000 Ton beras dari Indonesia (via Kalimantan Barat) pada 2025 untuk menstabilkan stok Sarawak.
Kapasitas Rendah: Produksi domestik hanya 1,44 juta metrik ton, sementara kebutuhan mencapai 3 juta metrik ton.
Solusi Putus Asa: Pejabat tinggi (Speaker Dewan Rakyat) menyarankan rakyat mengonsumsi Singkong (Cassava) sebagai pengganti nasi.
-
Kelumpuhan Protein: Krisis Ayam & Unggas
Kemandirian pangan hewani (SSL) MALAYSEWA merosot tajam:
Impor Genetik: Terpaksa impor 580.000 ekor ayam Grand Parent Stock (GPS) dari AS karena ketiadaan fasilitas pembibitan mandiri.
Krisis Harga: Penurunan SSL dari 100,2% menjadi 90,2% memicu kelangkaan daging ayam dan telur di pasar domestik pada 2025.
Ketergantungan Pakan: Produksi lokal lumpuh akibat ketergantungan 100% pada pakan ternak impor.
BADUT MALON = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------Tantangan Operasional & Internal
Alutsista Tua: Ketergantungan pada Su-30MKM dan F/A-18D yang mulai menua; pensiunnya MiG-29 tanpa pengganti instan.
Keamanan Maritim: Kewalahan menghadapi intrusi di Laut China Selatan (LCS) dan Selat Malaka akibat kurangnya kapal patroli.
SDM: Gaji rendah dan kurangnya minat generasi muda menyebabkan sulitnya retensi tenaga ahli (pilot & insinyur).
Koordinasi Rendah: Kurangnya integrasi operasi gabungan antara Angkatan Darat, Laut, dan Udara.
-
Sorotan Skandal & Opini Publik
Kritik Kerajaan: Sultan Ibrahim menyebut helikopter Black Hawk tua sebagai "peti mati terbang".
Korupsi Internal: Operasi Sohor (2025) mengungkap intelijen militer yang membocorkan data ke penyelundup.
Kasus Kekerasan: Insiden penganiayaan kadet di UPNM yang memicu kemarahan publik di media sosial (#ReformATM).
Konspirasi: Keterlibatan sindikat yang membayar petugas hingga RM50.000 per perjalanan untuk aktivitas ilegal.
-
Kesimpulan Perbandingan
Indonesia: Fokus pada pengadaan besar-besaran (Big Ticket Items) dari berbagai negara (Perancis, Turki, AS).
MALAYSEWA: Mengalami stagnasi akibat jeratan utang proyek lama, skandal korupsi, dan krisis kepercayaan publik terhadap manajemen pengadaan.
FAKTA DI KICK sama Korea....HAHAHAHAHAH
BalasHapusIndonesia Berhenti Ikut Produksi Jet KF-21 Boramae
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/113345/indonesia-berhenti-ikut-produksi-jet-kf-21-boramae
INI LAGI BERUK BOTOL MEMBUAL TERUS, KING INDO SENDIRI YANG MEMUTUSKAN BERHENTI IKUT PRODUKSI KF 21 KALO DI KICK TAK MUNGKIN BENDERA MERAH PUTIH MASIH TERPASANG DI PESAWAT KF 21 ...LOL 😂😂🤣🤣🤣😂😂🤣🤣🤣
HapusBEDA KASTA - KONGSBERG, NORWEGIA =
HapusINDONESIA NASAMS = DIKIRIM AKTIF
MALAYDESH NSM = BANNED CANCELLED
--------------------------------
INDONESIA: NASAMS 2 (TERKIRIM & AKTIF)
-
Status: Pembelian berhasil, sistem terkirim, dan aktif digunakan.
Komponen Buatan Norwegia (Kongsberg):
Pusat Kendali: Pos komando taktis Fire Distribution Center (FDC) untuk deteksi dan eksekusi target.
Peluncur Rudal: Unit peluncur multi-rudal berbasis darat.
Sistem Komunikasi: Jaringan radio taktis dan integrasi sistem.
Komponen Buatan Amerika Serikat (Raytheon):
Radar: Sistem pengintai AN/MPQ-64 Sentinel untuk melacak target.
Amunisi Utama: Rudal aktif AIM-120 AMRAAM.
Skema Pengadaan: Dibeli terpisah lewat kesepakatan antarpemerintah (Government-to-Government / G2G) dengan AS.
=======================
=======================
MALAYSIA: NAVAL STRIKE MISSILE / NSM (BATAL & DIBLOKIR)
-
Status: Pemerintah Norwegia membatalkan sepihak lisensi ekspor rudal dan peluncur NSM ke Malaysia karena alasan geopolitik.
Dampak & Respon Malaysia:
Tuntutan Hukum: Malaysia menuntut kompensasi sebesar RM1,05 miliar dari Kongsberg.
Sanksi Balasan: Malaysia membekukan semua pengadaan pertahanan dari Norwegia.
Bukti Pemberitaan Media:
Media Nasional Malaysia: Berita Harian (kronologi pembatalan), New Straits Times (negosiasi klaim kompensasi), dan Air Times Malaysia (rincian angka tuntutan RM1,05 miliar).
Media Internasional: Associated Press (konfirmasi sikap resmi Oslo), USNI News (analisis pembatalan dari sisi militer maritim), Defence Security Asia (pembekuan pengadaan oleh Malaysia), dan The New Arab (analisis alasan geopolitik pembatalan).
--------------------------------
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
GLOBAL FIREPOWER (GFP) 2026 – ASEAN :
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php
-
1. INDONESIA – PERINGKAT 13
-
2. VIETNAM – PERINGKAT 23
-
3. THAILAND – PERINGKAT 24
-
4. SINGAPURA – PERINGKAT 29
-
5. MYANMAR – PERINGKAT 35
-
6. FILIPINA – PERINGKAT 41
-
7. MALAYSEWA – PERINGKAT 42
-
8. KAMBOJA – PERINGKAT 83
-
9. LAOS – PERINGKAT 125
---------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.htm
2025-2024 SIPRI KOSONG = NOT PAID FFBNP
Hapus-
INDONESIA 1 LEMBAR = RAFALE F-4 | TP400-D6 | SHIP ENGINE | PPA-L-PLUS | A400M ATLAS | BORA | KHAN | ANKA-S | AIR REFUEL SYSTEM | LM-2500
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke.html
-
MALAYSEWA 1 LEMBAR = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708590043
--------------------------------------------------
2025 = KOSONG
Https://defense-studies.blogspot.com/2026/03/transfer-persenjataan-dari-dan-ke_17.html?lr=1773708518608
-
2024 = KOSONG
https://defense-studies.blogspot.com/2025/03/order-dan-transfer-persenjataan-ke-dan_14.html
-
2023 = NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2024/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_15.html
-
2022 = SELECTED NOT YET ORDERED
https://defense-studies.blogspot.com/2023/03/transfer-persenjataan-ke-dan-dari_17.html
-
2021 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2022/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2021.html
-
2020 = PLANNED
https://defense-studies.blogspot.com/2021/03/transfer-persenjataan-ke-MALAYSEWA-2020.html
---------------------------------
Status Impor Senjata Global (SIPRI 2021–2025)
Data menunjukkan realisasi belanja nyata berdasarkan pangsa pasar global:
Peringkat 1 ASEAN: Indonesia (1,5%) — Urutan 18 Dunia. Fokus pada Jet Rafale, Kapal Selam Scorpène, dan Kapal PPA.
Peringkat 2 ASEAN: Filipina (1,2%).
Peringkat 3 ASEAN: Singapura (1,1%).
Peringkat 5 ASEAN: MALAYSEWA (0,3%) — Hanya mengandalkan pengadaan FA-50 dalam jumlah terbatas.
-
Lembar Fakta SIPRI 2024–2025
INDONESIA (1 Lembar Penuh): Kontrak aktif untuk Rafale F-4, Mesin TP400-D6, Kapal PPA-L-Plus, A400M Atlas, Rudal BORA & KHAN, Drone Anka-S, serta Air Refuel System.
MALAYSEWA (Lembar Kosong): Absen total dari realisasi pengadaan baru di radar SIPRI selama 2 tahun terakhir.
-
Peringkat Kekuatan Militer (GFP 2026)
Kesenjangan kekuatan yang semakin melebar di Asia Tenggara:
Indonesia – Peringkat 13 Dunia (Skor: 0,2582) — Hegemon Mutlak.
Vietnam – Peringkat 23.
Thailand – Peringkat 24.
Singapura – Peringkat 29.
Myanmar – Peringkat 35.
Filipina – Peringkat 41.
MALAYSEWA – Peringkat 42 (Kalah dari Filipina).
-
Daftar Alutsista Indonesia "On Progress"
Indonesia sedang membangun kekuatan pemukul masif:
Udara: 42 Rafale, 48 KAAN (Turki), 48 KF-21 Boramae, 2 A400M, 22 Black Hawk.
Laut: 2 Fregat Brawijaya, 2 Fregat Merah Putih, 2 Fregat Istif, 2 Kapal Selam Scorpène Evolved, 1 Kapal Induk Garibaldi (Eks-Italia).
Darat/Rudal: 3 Baterai Rudal KHAN, 3 Baterai Rudal Trisula, 12 Drone Anka, 60 Drone TB3.
-
Timeline "Prank" Pertahanan MALAYSEWA (2005–2026)
Rentetan kegagalan kontrak dan wacana yang berakhir "Zonk":
2014: Jet Rafale (Mangkrak anggaran).
2018: Kapal MRSS PT PAL (Zonk/Batal).
2022: Jet HAL Tejas India (Batal).
2024–2025: Sewa Black Hawk (Mangkrak, unit tidak tiba).
2026: F/A-18 Hornet Kuwait (Resmi Batal karena biaya logistik & evaluasi buruk).
2026: Pembekuan Total oleh PM Anwar Ibrahim terhadap seluruh pengadaan militer akibat korupsi.
-
Analisa "Salam Kosong" SIPRI (2020–2025)
Status pengadaan MALAYSEWA yang terjebak dalam retorika:
2020–2021: Planned (Dijangka/Rencana).
2022: Selected Not Yet Ordered (Pilih tapi tidak beli).
2023: Not Yet Ordered (Tanpa pesanan).
2024–2025: KOSONG (Amnesia belanja).
BADUT MALON = GOVT DEBT 70,5% HOUSEHOLD 84,3% TO GDP = NOT PAID FFBNP
HapusREVENUE: RM334.1 BILLION
EXPENDITURE: RM470 BILLION
SUBSIDY BURDEN: 23.9%
BORROWING TO REPAY DEBT: RM470 – RM334.1 = DEFICIT OF RM135.9
------------------------------
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
BADUT NOT PAID = FITTED FOR BUT NOT PAID
------------------------------
GOVERNMENT REVENUE =
Ranges from RM334.1 Billion to RM343.1 Billion (75.8% from taxes and 24.2% non-tax/Petronas).
-
TOTAL EXPENDITURE =
Reaches RM419.2 Billion to RM470 Billion.
-
BUDGET ALLOCATION =
RM338.2 Billion is spent on operations (salaries, pensions, subsidies) and only RM81 Billion for infrastructure development.
-
MAIN REASONS FOR BORROWING =
REVENUE COMPLETELY DEPLETED:
Pure operating costs (RM338.2 Billion) directly consume nearly 100% of all incoming government revenue.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The massive gap between revenue and total spending creates a deficit hole of 3.5% to 3.6% of GDP.
-
CHRONIC BUDGET DEFICIT:
The wide gulf between total revenue (~RM343 billion) and total expenditure (~RM419–RM470 billion) creates a budget deficit ranging from 3.5% to 3.6% of the country's GDP. The only way for the MALAYSEWA government to plug this tens-of-billions-of-ringgit funding gap is by ISSUING NEW GOVERNMENT BONDS.
--------------------------------------------
MALAYSEWA DEBT DATA 2026
Government Debt: RM 1.79 trillion (Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5% - Statutory Limit: 65%)
Household Debt: RM 1.65 trillion (Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3% - Statutory Limit: 65%)
MALAYSEWA Population 2026: 36,385,115 people
-
DEBT PER CAPITA CALCULATION FOR MALAYSEWA 2026
Government Debt: RM 1,790,000,000,000 / 36,385,115 = RM 49,196
Household Debt: RM 1,650,000,000,000 / 36,385,115 = RM 45,348
➡️ TOTAL CUMULATIVE BURDEN PER CITIZEN: RM 49,196 + RM 45,348 = RM 94,544
---------------------------------
Kontroversi Strategi "Leasing" (Sewa) Helikopter
Beban Finansial: Sewa 28 helikopter AW149 (RM16.5 miliar/15 tahun) dianggap lebih mahal dibanding Polandia yang membeli 32 unit seharga USD 1.83 miliar.
Kedaulatan Aset: Aset tidak dimiliki penuh, membatasi kemampuan upgrade, modifikasi, dan konfigurasi ulang untuk misi darurat.
Ketergantungan Swasta: Kesiapan tempur bergantung pada kontraktor (Weststar Aviation), berisiko jika terjadi sengketa hukum atau kegagalan servis.
Nihil Transfer Teknologi: Skema sewa mematikan peluang pertumbuhan industri pertahanan domestik dan penyerapan tenaga ahli lokal.
-
Kondisi Alutsista "Outdated" (Usang)
Laut (RMN): 28 kapal berusia di atas 40 tahun dengan sistem radar analog yang sulit mendeteksi drone atau kapal selam modern.
Udara (RMAF): Ketergantungan pada avionik lama; biaya perawatan melonjak karena suku cadang sudah diskontinu.
Darat (Army): Kendaraan lapis baja dan artileri kekurangan sistem kontrol tembakan berbasis GPS dan komunikasi semi-digital.
-
Kesimpulan Analisis
Indonesia bergerak menuju kekuatan regional dengan diversifikasi pemasok (Prancis, Turki, AS).
MALAYSEWA terjebak dalam "lingkaran setan" pengadaan: skandal masa lalu → anggaran terbatas → memilih opsi sewa yang mahal → ketergantungan teknologi asing yang kronis.
ASEAN : MRCA = BADUT MALON : 10 LCA MURAH
Hapus-
RI RAFALE F4 + KAAN
SG F35 A/B
THAILAND GRIPEN E/F
PINOY GRIPEN C/D
MYANMAR SU30SME
MALAYSEWA FA50 TRAINER AIRCARFT
-
INDONESIA .....
BATAS LIMIT 60%
GOV. DEBT : 40% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 16% OF GDP
DEFISIT : 2,9%
GDP = USD 1,44 TRILIUN
=============
=============
MALAYSEWA.......
F18 KUWAIT = CANCELLED
JF17 = PRANK
RAFALE = PRANK
TYPHOON = PRANK
GRIPEN = PRANK
TEJAS = PRANK
MIG29N = TIADA GANTI
FA50MURAH = DIBLOKIR USA
-
MALAYSEWA.......
BATAS LIMIT 65%
GOV. DEBT : 69% OF GDP
HOUSEHOLD DEBT : 84,3% OF GDP
DEFISIT : 3,8%
GDP = USD 416,90 MILIAR
5X PM 6X MOD = 2026 FREEZES - 2023 CANCELLED
--------------------------------
PRANK 🦧GORILA = 2005 – 2026
-
2005: Prank China (KS-1A)
Najib Razak menyatakan MALAYSEWA setuju secara prinsip membeli rudal jarak menengah KS-1A dari China dengan imbalan transfer teknologi. Hasil: Tidak ada realisasi pembelian hingga saat ini.
-
2014: Prank Prancis (Dassault Rafale)
MALAYSEWA dilaporkan mempersempit pilihan ke Dassault Rafale untuk pengadaan 18 jet tempur senilai USD 2 miliar. Hasil: Proyek ditunda tanpa batas waktu karena kendala anggaran.
-
2016: Prank Prancis (Nexter Caesar)
Penandatanganan Letter of Intent (LoI) di DSA 2016 untuk 20 unit artileri Caesar 155mm. Hasil: Kontrak resmi tidak pernah ditandatangani; MALAYSEWA akhirnya memilih unit lain.
-
2017: Prank Pakistan (JF-17 Thunder)
“The MALAYSEWA government has shown interest in buying the JF-17 Thunder aircraft from Pakistan but the deal is yet to be finalized,” a senior Pakistan Ministry of Defense Production official told Arab News. Hasil: MALAYSEWA tiada akusisi jet tersebut.
-
2018: Prank Indonesia (PT PAL MRSS)
Klaim bahwa kontrak kapal MRSS akan ditandatangani Agustus 2018. Hasil: Hingga saat ini, kontrak tersebut tidak pernah terealisasi dengan PT PAL.
-
2022: Prank India (HAL Tejas)
MALAYSEWA mengidentifikasi Tejas sebagai kandidat kuat pengganti MiG-29 dan masuk tahap negosiasi lanjut. Hasil: MALAYSEWA justru memilih FA-50 Block 20 dari Korea Selatan pada 2023.
-
2022: Prank Turki (MKE Yavuz)
Kemenhan MALAYSEWA meninjau ulang rencana akuisisi artileri Yavuz 155mm setelah sebelumnya dikabarkan akan dibeli. Hasil: Dibatalkan/diganti dengan sistem lain.
-
2022: Prank Slovakia (EVA 155mm)
MALAYSEWA diharapkan menyelesaikan kesepakatan untuk pasokan EVA 155mm. Hasil: Senasib dengan Yavuz, tidak ada kelanjutan kontrak yang nyata.
=
2023: Prank PBB (IAG Guardian)
Sembilan kendaraan IAG Guardian yang dikirim untuk misi PBB (UNIFIL) dinyatakan tidak memenuhi persyaratan operasional, berujung pada sanksi pemotongan biaya operasional.
-
2024–2025 Prank Black Hawk
Ini menjadi salah satu "prank" terbesar baru-baru ini. MALAYSEWA berencana menyewa empat helikopter UH-60A Black Hawk dari perusahaan lokal Aerotree Defence & Services untuk menggantikan helikopter Nuri yang sudah tua.
-
2024–2025 Prank Kuwait - Jet Tempur F/A-18 Hornet
MALAYSEWA menunjukkan ketertarikan kuat untuk membeli jet tempur F/A-18 Hornet bekas milik Angkatan Udara Kuwait untuk menambah kekuatan udara mereka secara instan.
-.
2026 Pembekuan Pengadaan Massal
Kejadian: Pada awal 2026, PM Anwar Ibrahim mengumumkan pembekuan semua keputusan pengadaan militer karena adanya penyelidikan dugaan korupsi dan kartel dalam kementerian pertahanan. Ini berdampak pada rencana-rencana yang sedang dibahas sepanjang 2024 dan 2025.
________________________________________
DIBATALKAN/CANCELLED
-
F/A 18C/D Hornet bekas Kuwait (2025–2026)
Dibatalkan resmi oleh Kabinet MALAYSEWA pada Februari 2026 setelah evaluasi teknis RMAF menunjukkan masalah ketersediaan, logistik, dan biaya jangka panjang.
-
UH 60 Blackhawk (1990 an)
Rencana mengganti helikopter Nuri dengan Blackhawk tidak diteruskan karena biaya tinggi dan faktor politik/industri. MALAYSEWA akhirnya memilih EC725 Cougar/H225M sebagai pengganti.
-
MRCA (Multi Role Combat Aircraft, 2010 an)
Program besar untuk mengganti MiG 29 dengan Rafale/Eurofighter/Gripen dibatalkan/ditunda berulang kali karena kekangan fiskal.
ADA BERUK BOTOL IQ WONDALEAF MALAYDESH HOBBY MEMBUAL HAQIQI 😂😂🤣🤣🤣
BalasHapusAkhir kasus sengketa antara pemerintah Indonesia dan Navayo International AG di Prancis ditandai dengan kemenangan hukum bagi Indonesia, di mana Tribunal de Paris menolak seluruh gugatan serta permohonan penyitaan aset.
Putusan Pengadilan ParisPenolakan Gugatan:
- Tribunal de Paris menolak gugatan dan klaim pembayaran Navayo senilai jutaan dolar pada 18 Desember 2025.
Gagal Buktikan Kewajiban:
- Hakim menyatakan pihak Navayo tidak memiliki dasar hukum dan gagal membuktikan pelaksanaan kewajiban kontrak.
Perlindungan Aset:
- Pengadilan memutuskan aset-aset milik Indonesia di Paris dilindungi imunitas diplomatik dan batal disita.Dampak dan PerkembanganAset Aman:
- Seluruh properti dan aset diplomatik Indonesia di Prancis dinyatakan aman dari eksekusi.
https://www.kompas.id/artikel/pengadilan-tolak-gugatan-navayo-international-aset-ri-di-perancis-sementara-aman
MALAYDESH MISKIN SUDAH HEBOH SENDIRI PADAHAL KING INDO TENANG SAJA 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
BalasHapusBERITA MALAYDESH : 2 Frigate ISTIF Indonesia dikirim Tahun 2027, DIgunakan Kawal Kapal Induk Garibaldi
https://youtu.be/wJtgFbREMaM?si=OSsZilRwBGlzuqAq
TAK HANYA PANGLIMA PTD MALAYDESH YANG HOBBY UANG HARAM, PILOT MALAYDESH JUGA HOBBY BARANG HARAM 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
BalasHapusBlak-blakan Kasus Pilot MALAYDESH Bawa Narkoba !!!!
https://youtu.be/ldIIh3kBMIQ?si=s_EpqJrAa1HTNt51
BADUT FFBNP NOT PAID = 10 LCA DOWNGRADE TERMURAH
BalasHapusFA50PL = US$64 juta/unit
FA50PH = US$58 juta/unit
FA50Murah = US$51 juta/unit
-
POLANDIA MEMBER NATO : AMRAAM
MALAYDESH NON NATO N: BANNED (BANANA REPUBLIC)
________________________________________
MENGAPA POLANDIA DIIZINKAN MENGINTEGRASIKAN AIM-120 AMRAAM?
-
Pemerintah AS telah memberikan persetujuan integrasi rudal Beyond Visual Range (BVR) AIM-120C AMRAAM untuk armada FA-50PL Polandia. Kebijakan ini didasari oleh tiga faktor kunci:
-
STATUS KEANGGOTAAN NATO:
Polandia adalah sekutu lini depan NATO di daerah penyangga strategis Eropa Timur. Standardisasi interoperabilitas teknologi militer antar sesama anggota NATO merupakan syarat mutlak, sehingga AS memprioritaskan pelepasan kode enkripsi taktis (source code) pesawat agar selaras dengan infrastruktur pertahanan aliansi.
-
PENGGUNA F-16 EKSTENSIF:
Angkatan Udara Polandia telah lama mengoperasikan armada F-16 C/D Block 52+. Mereka sudah memegang lisensi, infrastruktur penyimpanan, serta protokol keamanan rahasia militer AS untuk rudal AMRAAM varian terdahulu.
Urgensi Geopolitik: Invasi Rusia ke Ukraina memaksa Polandia mempercepat modernisasi militernya untuk mengganti armada uzur peninggalan Soviet (MiG-29 dan Su-22). AS menggunakan persetujuan AMRAAM sebagai instrumen geopolitik guna memperkuat sayap timur aliansi.
________________________________________
MENGAPA MALAYSEWA MENGHADAPI HAMBATAN DAN PENOLAKAN?
-
Sebaliknya, pengadaan rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg (Norwegia) untuk kapal korvet/LCS Malaysewa resmi dibatalkan sepihak oleh Norwegia akibat intervensi lisensi komponen dari AS. Sementara itu, integrasi AIM-120 AMRAAM pada FA-50M Malaysewa juga masih tertahan. Kondisi ini terjadi karena beberapa hal:
-
KOMPONEN PEMBATAS BERTEKNOLOGI TINGGI (AS):
Meskipun NSM diproduksi oleh Norwegia, rudal tersebut menggunakan komponen giroskop (gyroscope) canggih berpemandu presisi buatan perusahaan Amerika Serikat (Raytheon). Berdasarkan hukum ITAR, AS memegang hak veto mutlak terhadap penjualan komoditas pertahanan yang mengandung komponen sensitif miliknya ke negara ketiga.
-
KATEGORI NON-NATO:
Malaysewa bukanlah anggota NATO maupun aliansi militer utama AS (Major Non-NATO Ally), melainkan negara bebas-aktif yang menjaga kedekatan diplomatik secara seimbang dengan blok Barat dan Timur. Akibatnya, pelepasan transfer teknologi tingkat tinggi atau integrasi source code senjata strategis menghadapi proses pemeriksaan birokrasi Washington yang jauh lebih ketat dan lama.
Kebijakan Keamanan Kawasan: AS menerapkan batasan ketat terhadap penjualan senjata ofensif jarak jauh di kawasan Asia Tenggara guna menghindari perlombaan senjata tak terkendali.
________________________________________
18 FA50Murah = DI TIPU KOREA (CONNED KOREA)
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
10 LCA + 8 FLIT
-
Korea Aerospace Industries won the LCA / LIFT competition (which suffered a competitive challenge attempt) to supply the Royal MALAYSEWAn Air Force (RMAF or TUDM) with 18 light combat and advanced trainer aircraft. Eight of these aircraft are to be configured primarily as Lead Advanced Trainer (LIFT), while the remaining ten would be Light Fighter Aircraft (LCA) combat aircraft.
________________________________________
FA50M VERSI DOWNGRADE FA50PL
-
Harga pesawat FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan bervariasi antar negara:
1. Polandia: US$700 juta untuk 12 unit GF (±US$58 juta/unit) + US$2,3 miliar untuk 36 unit FA-50PL (±US$64 juta/unit).
-
2. Filipina: US$700 juta untuk 12 unit (±US$58 juta/unit).
-
3. MALAYSEWA : US$920 juta untuk 18 unit (±US$51 juta/unit).
________________________________________
ANGSURAN FA50M = 10 TAHUN
-
angsuran untuk proyek Jet Tempur FA-50 Block 20 dengan skema Hybrid (Kredit & Barter) yang sangat unik:
Parameter Simulasi
Total Kontrak: US$ 920.000.000 (Sekitar RM 4,08 Miliar).
Pembagian Skema (50:50):
50% Kredit (Hutang): US$ 460.000.000
50% Barter (Sawit): US$ 460.000.000
Tenor (Jangka Waktu): 10 Tahun.
Estimasi Bunga KEXIM: 4,5% per tahun (mengikuti standar OECD CIRR)..