04 Agustus 2019

Pemberitahuan

Pembaca blog yang budiman
Karena kegiatan di luar negeri
Maka kami tidak akan mengupdate berita pada blog ini,
hingga akhir bulan Agustus 2019
Demikian dan terima kasih

Admin

Vietnam Develops New Mobile Self Propelled Artillery

04 Agustus 2019


Vietnamese new mobile self propelled artillery (photo : QPVN)

Vietnam has developed a new experimental self propelled artillery platform using the D-44 85mm field gun as the platform's primary weapon. 

This image was screenshotted from a news report on Vietnam's National Defense Television. 

In the past, Vietnam developed another SPAAG platformed that combined a 105mm howitzers on Ural trucks.

(VietDefense)

Raih Certiticate PUSLAIK, Ini Keunggulan Bom P-100L dan P-250L Produksi Dahana

04 Agustus 2019


Bom P-250L produksi Dahana (photo : Dahana)

Jakarta, Bumntrack.com - Setelah sekian lama berusaha, akhirnya Bom P-100L dan Bom P-250L mendapatkan Type Certificate dari Pusat Kelaikan (PUSLAIK) Kementerian Pertahanan RI. Penyerahan Type Certificate dilaksanakan di PUSLAIK BARANAHAN KEMHAN.

"Dengan adanya sertifikat PUSLAIK diharapkan user atau calon pembeli akan lebih percaya pada produk Dahana, terutama bom P-100L dan P-250L. Dokumen ini dapat juuga sebagai dokumen penjamin untuk berjualan di luar negeri," ujar Yusep Nugraha R, GM Divisi Minyak & Gas PT DAHANA (Persero) dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (31/7).

Menurutnya, proses yang dilalui oleh DAHANA begitu panjang dan kompleks hingga diterbitkannya Type Certificate. Proses dimulai sejak membuat desain bersama PT Sari Bahari dan Dislitbang AU, uji statis, uji dinamis, kemudian penerbitan sertifikat kelaikan oleh Dislitbang AU. Proses kemudian berlanjut dengan pengecekan casing, proses produksi, dokumen dan lainnya oleh PUSLAIK KEMHAN.

Bom pengembangan dari tipe P-100L ini diperuntukkan bagi pesawat tempur Sukhoi yang dimiliki oleh TNI AU. Bom ini menjadi pilihan karena spesifikasinya yang telah memenuhi standar pesawat NATO dan Rusia. Selain itu, Bom P-100L dan Bom P-250L termasuk dalam jenis bom High Drags General Purpose (HDGP) yang memiliki kemampuan untuk meledak dan efek pecahannya dapat digunakan untuk menghancurkan bangunan dan fondasi bunker, juga dapat menghancurkan benda hidup di area yang luas.


Bom P-100L produksi Dahana (photo : Dahana)

"Kelebihan lainnya, bom ini mudah dalam perawatan dan penyimpanan di gudang. Penggunaan jenis bom ini terbilang efisien karena tidak menggunakan bahan peledak untuk melepaskan bom dari bomb rack (impulse cartridge). Dengan terbitnya Type Certificate, DAHANA diharapkan menjadi lebih mudah dalam pemasarannya karena mendapat kepercayaan dari konsumen," jelasnya.

Selain itu, rasa syukur turut disampaikan oleh perwakilan PT Sari Bahari yang mencetak casing dari kedua bom tersebut dan ikut terlibat pada setiap proses pengujian.

"Akhirnya, setelah proses sekian lama, kita mendapatkan Type Certificate ini," ungkap Putra Egam, General Manager PT Sari Bahari.

Turut hadir dalam penyerahan Type Certificate Bom P-100L dan Bomb P-250L, Kepala PUSLAIK BARANAHAN KEMHAN Laksamana Pertama (TNI) Teguh Sugiono, SE, MM., General Manager Divisi Migas  PT DAHANA (Persero) Yusep Nugraha, dan Putra Egam General Manager PT Sari Bahari.

(BUMN Track)

Hobart and MH-60R Combine

04 Agustus 2019


HMAS Hobart’s embarked MR-60R helicopter ‘COBRA 16’ during first-of-class flight trials off the east coast off Australia (photo : RAN)

The Green Ghost and Cobra 16 combine

Two of Navy’s newest cutting-edge platforms have combined, with the air warfare destroyer HMAS Hobart embarking an MH-60R Seahawk helicopter and standing up an aviation department for the first time for first-of-class flight trials.

Hobart - nicknamed the ‘Green Ghost’ - has been carrying out trials with the aircraft from 816 Squadron - dubbed ‘COBRA 16’ - off the coast of New South Wales, establishing operating limits and testing recent upgrades to the ship under the AIR9000 project.

Personnel from Navy’s Aircraft Maintenance and Flight Trials Unit (AMAFTU) collected real-time data on different ways an MH-60R can approach and land on Hobart’s flight deck in different conditions at sea, as well as perform vertical replenishments and on-deck handling.

Hobart is the first of three new Destroyers built in Australia, while COBRA 16 is one of 24 anti-submarine and anti-surface warfare helicopters based at the Fleet Air Arm in Nowra.

Hobart’s Commanding Officer, Commander Ryan Gaskin said the flight trials required the ship’s flight and deck teams to work closely with AMAFTU to ensure the ship was ready to deploy overseas later this year.


HMAS Hobart AAW (photo : Oukas) 

“The trials have proven highly successful with day and night sorties flown to test and expand our operating limits,” Commander Gaskin said.

“The expanded operating limits will be a pivotal capability multiplier as Hobart prepares for her maiden task group deployment to North East Asia later this year.

“Beyond this year, the findings from AMAFTU’s trials will be converted into procedures for how we can best use the MH-60R on our sister ships Brisbane and Sydney.”

Leading Seaman Aviation Technician Aircraft Carlos Chu said the trials had shaped many aspects of how the ship and aircraft would work together, from high-end warfighting and flight elements to practical considerations like upkeep and repairs.

“We have had the usual lessons that help all newly embarked flights and ship’s companies work together and on top of that we’ve learned how the systems of a new ship like Hobart interact with a new type of aircraft like the MH-60R,” Leading Seaman Aviation Technician (Avionics) Chu said.

“Some of the biggest lessons so far have centred on how our maintenance regime will function at sea in a hanger like Hobart’s to keep an aircraft flying and mission-capable,” he said.

HMAS Hobart is based at Garden Island in Sydney and will deploy in September as the lead ship in a task group deployment through Asia.

(RAN)

HTMS Prachuap Khiri Khan - Second Krabi-Class OPV was Lauched

04 Agustus 2019


HTMS Prachuap Khiri Khan 552 (photo : RTN)

2nd Krabi-Class OPV Launched For Royal Thai Navy

The second Krabi-class offshore patrol vessel (OPV) for the Royal Thai Navy (Kong Thap Ruea Thai) was launched on Friday.

The launching ceremony took place at the local Bangkok Dock Limited shipyard in presence of HRH Princess Maha Chakri Sirindhorn, second daughter of King Bhumibol Adulyadej.

The vessel, HTMS Prachuap Khiri Khan (pennant number 552) was built locally just like first ship of the class, HTMS Krabi (551) with technology transfer from the United Kingdom. The class is based on the British River-class OPV design in use by the Royal Navy.

Krabi was launched on 3 December 2011 and commissioned with the Royal Thai Navy fleet on 26 August 2013. The class is 91 meters in length with a displacement of about 2,000 tons. It is fitted with a Leonardo 76mm main gun and two MSI Defence 30mm remote weapon stations.

Pictures from Prachuap Khiri Khan launching ceremony show that the second ship in the class is fitted with 4x RGM-84 Harpoon anti-ship missiles (in place of a satellite dish in the same location aboard Krabi).

(NavalNews)

03 Agustus 2019

PHL Marines Getting New 81mm Mortars

04 Agustus 2019


The Philippine Marines still use the old M29 81mm mortar, which has been in service since the 1960s (photo : Sputnik).

The Department of National Defense/Armed Forces of the Philippines (DND/AFP) under the AFP Modernization Program is acquiring 81mm mortars worth PHP185,891,600.00.

The fund for 81mm mortars will be from the PHP694,452,000.00 allocated to also acquire 60mm and 120mm mortars for the Philippine Navy-Philippine Marine Corps.

The DND will be holding the Pre-Bid Conference on August 13, 2019 for the 81mm acquisition project, PN Mortars – Lot 2 (81mm).

Bid opening is scheduled on August 27, 2019.

“Lessons learned from previous encounters prompted the Corps to pursue the need to employ a mortar system in order to have the capability to easily provide the necessary combat power for the Marine Rifle Company in support of its units waiting for, or in absence of the Battalion combat support,” says in the description under the Technical Specification of the project.

“Another reason is that apart from being vintage, the current 81mm mortar system in the PMC (Philippine Marine Corps) inventory have been used overtime which makes its quality no longer the same as it was before,” it says.

“Technological advancement is also a prime factor that was considered for this procurement. The advent of the Ballistic Computer will enable our mortar crews to react faster than the manual computation which gives the end user a quick and responsive indirect fire support,” it adds.

The acquisition involves the 81mm Mortar units, ballistic computers, forward observer systems, accessories and spare kits, and integrated logistic support (ILS).

(Mintfo)

ACMI Sukhoi TNI AU yang Sukses dalam Angkasa Yudha 2019

03 Agustus 2019


Pod ACMI terpasang di Pesawat Sukhoi TS-3011 (photos : Kemhan)

ACMI Sukhoi Produk Anak Bangsa yang Sukses Berpartisipasi dalam Latihan Angkasa Yudha TNI AU

ACMI adalah sistem instrumentasi yang mampu memonitor, menampilkan (2 dimensi maupun 3 dimensi), merekam pergerakan, dan posisi pesawat secara real time yang nantinya digunakan sebagai bahan evaluasi serta mampu mensimulasikan pertempuran air to air dan air to ground. ACMI Sukhoi ini merupakan program Bangtekindkan hasil kerjasama Ditjen Pothan Kemhan dengan PT. TRESS (Teknologi Rekatama Solusi Indonesia). Keunggulan dari ACMI ini adalah murni karya anak bangsa, terjamin kerahasiaannya, mampu mendukung latihan penerbang Sukhoi dengan tepat sasaran, upgrade lebih mudah karena hasil penelitian bersama dengan Dislitbang TNI AU, sehingga mudah dalam perawatan dan troubleshooting.

Secara umum, spesifikasi teknis yan diterapkan pada ACMI Sukhoi ini dapat digunakan untuk semua jenis latihan pilot pesawat tempur, antara lain:
-Latihan terbang perorangan dan element,
-Latihan terbang satu skadron atau lebih,
-Latihan gabungan antar skadron,
-Latihan gabungan dengan negara lain, dan
-Latihan composite strike.

Dan dari hail uji dinamis, ACMI Sukhoi ini telah melampaui spesifikasi teknis yang tertuang dalam kontrak, antara lain mampu digunakan bermanuver melebihi 6,5 G, mencapai ketinggian di atas 30.000 ft, dan suhu antara -30⁰C hingga 70⁰C.

Perhatian yang sangat luar biasa diberikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara dan Dirjen Pothan yang telah mendukung penuh Tim Waspro dan PPHP serta Puslaik Baranahan Kemhan dalam kegiatan uji statis maupun uji dinamis yang dilaksanakan di Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Hasanuddin Makassar. Atas dukungan dan kerjasama semua pihak, kini ACMI Sukhoi Program Bangtekindhan Ditjen Pothan Kemhan telah mengantongi Sertifikat Tipe Produk Aeronautika Klas II Militer dan siap untuk diproduksi massal guna mendukung kegiatan TNI AU, compatible dengan pesawat-pesawat TNI AU lainnya (sebelumnya TNI AU telah memiliki ACMI KITS buatan Cubic dan P5 buatan Cubic & DRS Tecnologies untuk pesawat F-5, F-16 dan Hawk 100/200).



Selain sukses mebangun ACMI Sukhoi, pada tahun ini Ditjen Pothan Kemhan berhasil pula meluncurkan Roket R-Han 122B Tahap II yang merupakan hasil kerjasama dengan Konsorsium Reverse Engineering R-Han 122B yang terdiri dari PT. Pindad (Persero) selaku Lead Integrator, didukung oleh anggota konsorsium yaitu PT. Dahana (Persero), PT. Dirgantara Indonesia (Persero), dan LAPAN. Selain itu, Dtjen Pothan juga telah mendapatkan sertifikat tipe untuk berbagai program Bangtekindhan lainnya, yaitu:

-First Article Senjata Serbu Bawah Air 5,66 mm,
-First Article Mekatronik Mortir 81 mm, dan
-First Article Remote Control Weapon System (RCWS),

Program MALE UAV dan Sistem Rudal C-705

Sedangkan untuk program Pembinaan Potensi Teknologi Industri Pertahanan (Binpottekindhan), Puslaik Baranahan juga telah menerbitkan type certificate untuk program Reverse Enginering Inertial Navigation System (INS) Rudal dan Program Penyusunan Tabel Tembak Roket R-Han 122B.

Saat ini Ditjen Pothan Kemhan tengah melaksanakan program Bangtekindhan TA. 2019 yang teridiri dari:

-First Article Alat Kendali Tembak Senjata FFAR Heli Serang Mi 35-P,
-First Article Sistem Penembakan Mortir Berbasis Komputer,
-First Article Senjata Otomatis Kal. 5,56 mm
-First Article Data Distribution Unit,
-First Article Depth Personal Vehicle, dan
-First Article Card Module Radar Thomson.

Rudal permukaan ke permukaan/rudal anti kapal C705 (photo : thepaper)

Selain itu, melalui Binpottekindhan, Ditjen Pothan Kemhan juga tengah bekerjasama dengan Industri Pertahanan (BUMN dan BUMS), antara lain:

-Program Tank Boat Tahap II,
-Program Joint Production PTTA Kelas MALE Tahun I, dan
-Program Reverse Engineering Sistem Rudal C-705.

Dengan bantuan semua pihak, semoga Program Bangtekindhan dan Binpottekindhan Ditjen Pothan Kemhan mampu membina Industri Pertahanan dalam negeri, baik BUMN maupun BUMS, untuk menjadi industri yang mandiri, handal, dan berdaya saing baik di lingkup nasional maupun internasional.

(Kemhan)