19 Juni 2019

Viking Air Wins Launch Order for CL-515 Water Bomber

19 Juni 2019

The new CL-515 is a state-of-the-art amphibious aircraft with enhanced firefighting capabilities (photo : Longview)

Viking Air has secured a launch order for its new-generation CL-515 water bomber from Indonesia, with a seven-unit deal that also includes a single modernised CL-415EAF.

Jakarta will acquire four CL-515s in a "first responder" multimission configuration, and two examples delivered in a configuration optimised for aerial firefighting missions. Deliveries are set for 2024. No value was disclosed for the transaction.

In addition, the agreement provides for the enhancement of a CL-215 to the new CL-415 Enhanced Aerial Firefighter standard.

Upgrade work is to be performed by Viking sister company Longview Aviation Services.

Although the agreement with Indonesia is a firm one, it still hinges on parent company Longview Aviation Capital approving the launch of production.

The CL-series programme was acquired by Longview from Bombardier in 2016.

"We are thrilled to welcome Indonesia as the first customer for this extraordinary aircraft," says David Curtis, chief executive of Longview Aviation Capital, describing the contract as a "major milestone" in bringing the twin-turboprop to market.

"The confidence of a sovereign government in our programme is matched by our own confidence in our ability to deliver this new aircraft platform to the world."

Curtis says it is nearing a decision on manufacturing and final assembly sites for the CL-515 and expects to "complete the remaining programme milestones in the near future".

(FlightGlobal)

Two New PHL Corvettes are More Expensive than Jose Rizal Class

19 Juni 2019


Two new corvettes would cost US$535 million (photo : weaponews)

Philippines To Beef Up Navy With Two New Corvettes

Philippine President Rodrigo Duterte has green-lighted an acquisition plan for two new corvettes and other naval assets, the Philippine Navy chief Vice Admiral Robert Empedrad said on June 17, 2019 - Naval News.

In a speech celebrating the Philippine Navy’s 121st founding anniversary in Sangley Point in Cavite province, Empedrad said the two corvette vessels plus other assets will cost about US$669 million.

Empedrad stated the two warships, which costs about US$535 million, are more expensive but more capable than the two brand new frigates which are currently being constructed by the South Korean shipyard Hyundai Heavy Industries for US$344 million. Hyundai is expected to deliver the ships in April and September next year.

The Philippine Navy currently operates three classes of corvette vessels belonging to the the Rizal, the Malvar and the Jacinto classes.

Besides the two corvettes, Empedrad said the President Duterte also approved the acquisition of eight fast attack interdiction boats equipped with anti-boat missile systems with an approved budget of US$191 million.

Empedrad said other projects are in the pipeline, including the upgrade of the navy’s two patrol vessels, acquisition of two submarines, and shore-based missile systems.

He said a second-hand Pohang-class corvette donated by South Korea is due to arrive next month. Empedrad said the deployment of BRP Condrado Yap and other multi-purpose attack craft of the Navy “will hasten the end of the 50-year-old (communist) insurgency problem.”

(NavalNews)

Presiden Teken Perpres Pengadaan Alat Pertahanan-Keamanan Jangka Panjang

19 Juni 2019


Jenis alutsista untuk kontrak jangka panjang ditetapkan oleh KKIP (photo : Chris Cavas)

Jokowi Luncurkan Perpres Pengadaan Alat Pertahanan-Keamanan

Jakarta, Gesuri.id - Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2019 tentang Syarat dan Tata Cara Pengadaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan Produk Industri Pertahanan dengan Kontrak Jangka Panjang.

Hal itu untuk melaksanakan ketentuan Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan yang selanjutnya disebut Alpalhankam, menurut Perpres tersebut adalah segala alat perlengkapan untuk mendukung pertahanan negara serta keamanan dan ketertiban negara.

Disebutkan dalam Perpres tersebut, Industri Pertahanan menghasilkan Alpalhankam yang terdiri atas: 
a. alat utama sistem senjata; 
b. alat pendukung; dan 
c. alat perlengkapan.

“Pengadaan Alpalhankam sebagaimana dimaksud huruf a dilakukan dengan Kontrak Jangka Panjang,” bunyi Pasal 2 ayat (2) Perpres tersebut.

Sedangkan untuk pengadaan Alpalhankam sebagaimana dimaksud huruf b dan c, menurut Perpres ini, dilakukan dengan Kontrak Jangka Panjang jika memenuhi kriteria: a. digunakan sebagai alat material khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri); dan b. digunakan sebagai alat utama dalam rangka melaksanakan tugas pokok kementerian dan/atau lembaga.

“Jenis produk Alpalhankam yang dilakukan dengan Kontrak Jangka Panjang ditetapkan oleh Ketua KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) dengan mempertimbangkan usulan pengguna melalui mekanisme pengambilan keputusan KKIP,” bunyi Pasal 2 ayat (4).

Selain Alpalhankam, menurut Perpres ini, pengadaan Alpalhankam dapat dilakukan dengan Kontrak Jangka Panjang sepanjang memenuhi kriteria: 
a. proses produksi lebih dari 1 (satu) tahun; 
b. memenuhi persyaratan operasional; 
c. memiliki spesifikasi teknis sama selama kurun waktu 5 (lima) tahun atau lebih; dan/atau 
d. bernilai strategis sesuai kebutuhan pengguna.

Pengadaan

Pengadaan Alpalhankam dengan Kontrak Jangka Panjang, menurut Perpres ini, harus memenuhi persyaratan: 
a. tercantum dalam Rencana Induk Pemenuhan Kebutuhan Alpalhankam yang ditetapkan oleh Ketua KKIP; 
b. dilakukan oleh Menteri (yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan), menteri, atau pimpinan lembaga; dan 
c. dapat diproduksi oleh Industri Pertahanan.

“Pengadaan Alpalhankam untuk pertahanan negara dilakukan oleh Menteri, pengadaan Alpalhankam untuk keamanan dan ketertiban masyarakat dilakukan oleh menteri, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), atau pimpinan lembaga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” bunyi Pasal 5 ayat (2) Perpres ini.

Disebutkan dalam Perpres ini, pengadaan Alpalhankam dengan Kontrak Jangka Panjang dilakukan dalam bentuk: 
a. pengadaan barang pemerintah; atau 
b. penugasan pemerintah.

Pengadaan barang pemerintah sebagaimana dimaksud dengan huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sementara penugasan pemerintah sebagaimana dimaksud dengan huruf b dapat digunakan untuk: 
a. Alpalhankam dengan tingkat kerahasiaan tinggi; 
b. penelitian dan pengembangan untuk prototipe Alpalhankam; dan/atau 
c. tahap lanjutan dari prototipe untuk menghasilkan produk yang siap untuk diproduksi massal (first article) Alpalhankam.

Selanjutnya pengendalian dan pengawasan Pengadaan Alpalhankam dengan Kontrak Jangka Panjang, menurut Perpres ini, dilaksanakan oleh Ketua Harian KKIP, yang diatur dengan Peraturan Menteri.

“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 12 Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2019, yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada 2 Mei 2019 itu.

(Gesuri)

The Future of DTI's AAPC 01 Prototype

19 Juni 2019


Prototype of DTI AAPC01 8x8 wheeled vehicle (all photos : Sompong Nondhasa)

The future of AAPC 01 cars, the prototype of the rubber wheel vehicle for the mission of the Marine Corps, according to Defense Technology Institute (DTI) with the Navy. What will it be, will it be just a research result, or will it be built to be used in the duty.



AAPC 01 is a amphibious water vessel for transporting personnel, weapons, and various devices of the battle. Land on the move from ship to shore, truck to the ship and tactical operation, land from the sea. The coast goes to the destination of the beach and continuation in the battle area.



Weight 21-30 tons, length 7-8 meters, width 2-3 meters, speed on the road 80km/h, water speed 10-15 km/h, operation range on the terriers 600 km. The Chief of the car. Car 1 Mr. Pol Drive 1 Mr. Pol 1, you can carry the infantry for less than 11 troops.



The weapon system is 30 mm, firearm system 7.62 mm, and the 400 horsepower engine,  smoke bomb machine for driven on the terriers and in water, which is currently in progress and evaluation by the Marine.

(Sompong Nondhasa)

18 Juni 2019

Philippines Opens Landing Dock Acquisition Project

18 Juni 2019


PN currently operates two LPD from PT PAL (photo : Wiki)

The Department of National Defense (DND) has released the invitation to bid for two units of landing docks for the Philippine Navy with approved budget for contract of PHP5,560,000,000.00.

The Philippine Navy is currently operating two Tarlac-class landing platform docks acquired under Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program First Horizon.

This new landing dock acquisition project is under the AFP Modernization Program Second Horizon.



“The DND/AFP, sealed bids for the Acquisition of Two (2) units New Construction Landing Docks Vessels with Four (4) units Landing Craft Utility (LCU) and Four (4) units Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) with Integrated Logistics Support (ILS) for the Philippine Navy. Delivery of Goods or the contract duration should not be later than 1,095 calendar days as per Bidding Documents. Similar contract shall refer to the construction and delivery of Military Vessel with a minimum gross tonnage of 7,000 tons,” the DND said in its invitation to bid.

“The Philippine Navy requires tie-up with local companies or shipyard so that a minimum of one (1) unit of the LD will be constructed in-country,” it added.

A pre-bid conference is set on June 20, 2019. The bid opening is scheduled on July 04, 2019.

(Mintfo)

TNI AU-USAF Gelar Latma Cope West 2019

18 Juni 2019


USAF menyertakan 6 pesawat tempur F-16 (photo : PACAF)

TNI AU. MANADO – DISPENAU. Meningkatkan profesionalisme prajurit angkatan udara, sekaligus memperkokoh persahabatan dua negara yang telah terjalin selama 70 tahun, menjadi tujuan TNI AU dan Angkatan Udara Amerika Serikat (United States Air Force-USAF) menggelar latihan bersama (latma), di Lanud Sam Ratulangi (Sri) Manado, Sulawesi Utara.

Latma bersandi “Cope West 2019” ini dibuka secara resmi dengan upacara militer dan bertindak selaku inspektur upacara (Irup) Komandan Wing Udara 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb M. Satriyo Utomo, yang didampingi Vice Commander 35th Fighter Wing, Colonel Paul Donald Kirmis selaku Exercise Director dari TNI AU dan USAF, Senin (17/6/2019).

Kolonel Pnb M. Satriyo dalam sambutannya menyampaikan latihan ini memberikan kesempatan bagi kedua angkatan udara untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalitas personel, baik TNI AU maupun USAF yang terlibat dalam latihan ini.

“Yang terpenting adalah untuk mempererat hubungan bilateral, tidak hanya antara kedua angkatan udara, tetapi juga antara kedua negara, yang akan sangat berguna bagi kita di masa yang akan datang,” ujar Danwing 3.


TNI AU menyertakan 7 pesawat F-16 (photo : Jurnal Jakarta)

Pada kesempatan ini Danwing 3 juga mengingatkan agar seluruh peserta latihan selalu mengedepankan keselamatan terbang dan kerja (lambangja) sehingga seluruh latihan dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Senada dengan Danwing 3, Colonel Paul D. Kirmis juga mengatakan bahwa latihan ini akan memberikan kesempatan untuk memperkuat persahabatan yang sudah ada seraya mengasah kemampuan dan keterampilan personel yang terlibat.

“Kami semua sangat bersemangat untuk melaksanakan latihan ini. Bersama kita akan mendorong keamanan, stabilitas dan kemakmuran di seluruh wilayah Indo-Pasifik,” ujarnya.

Selain melibatkan 13 pesawat tempur dari TNI AU dan USAF, Cope West 2019 juga didukung hampir 300 personel dari kedua Angkatan Udara.

TNI AU mengerahkan 7 pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun sementara USAF mengerahkan 6 pesawat dari 14th Fighter Squadron yang berpangkalan di Misawa Jepang.

Hadir dalam pembukaan latihan, Duta Besar AS untuk Indonesia YM. Joseph R. Donovan Jr., Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, S.E., Pangdam XIII/Merdeka, Kapolda Sulut, Danlanud Iswahjudi, Danlantamal VIII, Danrem 131/Santiago, jajaran Forkopimda Sulut, Paban III/Lat Sopsau, Danlanud Samratulangi serta pejabat TNI-Polri wilayah Manado lainnya.

(TNI AU)

Australia Progressing Plans to Upgrade Cocos Keeling Islands Airport to Support P-8A MPA Operations

18 Juni 2019


Cocos Keeling and Christmast Island in Indian Ocean (image : Google Maps)

Australia is moving ahead with plans to upgrade facilities at the Cocos Keeling Islands airport to support operations using P-8A Poseidon maritime patrol aircraft (MPA): a move that will significantly extend the country’s surveillance capability in the northern Indian Ocean.

A Department of Defence (DoD) Request for Tender released on 14 June sought planning proposals by 8 August under Project 8129 for the strengthening and widening of runways, taxiways and aprons, improvements to airfield stormwater infrastructure, and refurbishment of airfield ground lighting “to meet [the Department of] Defence’s operational and support requirements”.

The estimated value of the upgrade was put at AUD190–220 million (USD133–154 million).

(Jane's)