03 Juni 2020

Besides Army, Philippine Navy also Eyes BrahMos Cruise Missile System

03 Juni 2020


Brahmos in coastal defence (photo : bharat rakshak)

The Philippine Navy, just like the Philippine Army, is eyeing to acquire BrahMos cruise missile system. According to MaxDefense Philippines, the Navy, under Shore-based Anti-ship Missile System Acquisition Project, is planning to acquire 3 batteries.

The Army, under Land-based Missile System Acquisition Project, is looking to acquire 2 batteries.


Philippine need 5 batteries to cover all area (graphic : Maxdefense)

In December 2019, Department of National Defense (DND) Secretary Delfin Lorenzana said contract for Army’s BrahMos could possibly be signed first half of 2020.

However, COVID-19 pandemic affected many of the projects under the Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program.

“The Philippine Army is interested in acquiring this type of missile as it will strengthen our coastal defense operations,” the Philippine Army said in October 2019.

(Mintfo)

Spek Elang Hitam Kombatan akan Menyamai Drone CH-4 Rainbow

03 Juni 2020


Drone Elang Hitam (photo : BPPT)

Drone Tempur Buatan RI Bakal Jadi 'CCTV' Terbang

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau drone tempur jadi pilihan Presiden Jokowi. Program drone akhirnya menggantikan dukungan pemerintah dalam pengembangan pesawat baling-baling R80 yang digagas BJ Habibie dalam program strategis 2020-2024.

Pengembangan PUNA atau Drone Elang Hitam Kombatan, Elang Hitam (EH-4) dan EH-5. Spesifikasi tersebut akan menyamai Drone CH-4 Rainbow buatan China.

PUNA dibangun oleh konsorsium PUNA MALE Kombatan yang terbentuk pada tahun 2017 lalu, antara lain Kementerian Pertahanan yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, BPPT, TNI-AU (Dislitbangau), ITB (FTMD), BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia dan PT Len Industri. Pada tahun 2019, LAPAN baru masuk sebagai anggota konsorsium, dan bersama sama ambil bagian dalam pengembangan PUNA MALE Kombatan.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan langkah percepatan pengembangan Drone buatan lokal untuk mendapatkan PUNA MALE dengan spek Kombatan atau Unmaned Combat Aerial Vehicle (UCAV), dalam jangka waktu yang dipercepat dari tahun 2024 menjadi 2022.

"Diperlukan percepatan agar PUNA MALE Kombatan tersertifikasi, dapat digeber untuk siap terbang pada Tahun 2022. Dengan adanya isu seperti kedaulatan di Natuna, maka kesiapan misi pesawat PUNA MALE Kombatan ini sangat diperlukan. Sehingga PUNA MALE Kombatan diperlukan sesegera mungkin," kata Kepala BPPT Hammam Riza dikutip dari laman resmi BPPT, Selasa (2/6).

Ancaman militer maupun non militer berupa pelanggaran batas wilayah perbatasan, terorisme, dan separatisme, kerap terjadi karena kurangnya antisipasi. Oleh karena itu, kebutuhan akan PUNA MALE Kombatan sangat diperlukan dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Drone CH-4 Rainbow TNI AU (photo : Roby Aeros)

Percepatan pembuatan MALE Kombatan ini dilakukan dengan melengkapi desain Drone Elang Hitam (EH-1), dengan sistem persenjataan, menjadi desain PUNA MALE Kombatan EH-4 dan EH-5.

Awalnya program PUNA MALE Kombatan EH-4 dan EH-5, targetnya tersertifikasi di Tahun 2024, dan EH-1 sampai EH-3, adalah pengembangan di tahun 2020-2022.

"Dengan persetujuan Presiden Joko Widodo pada Ratas tadi, maka Drone Elang Hitam Kombatan EH-4 dan EH-5, akan dikembangkan pada tahun 2020-2022 juga bersama dengan EH-1,2,3. Disinilah terjadi percepatan pengembangan," kata Hammam.

"Jadi Drone Elang Hitam juga dilengkapi fungsi ISTAR, yaitu Intelligence, Surveillance, Target Acquisition and Reconnaissance, dan sistem persenjataan," ujarnya.

Dengan kelengkapan fungsi tersebut tentu Drone Elang Hitam dapat menjadi wahana penting Indonesia, dalam menjaga kedaulatan wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara.

"Drone Elang Hitam ini akan menjadi semacam 'CCTV di Langit Nusantara', guna menjaga kedaulatan. Khususnya terkait pengawasan baik di wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara. Khususnya untuk mengintai di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia. BPPT bersama konsorsium dengan semangat merah putih tentu siap mewujudkannya," tegas Hammam.

Selain drone, ia mengusulkan agar juga pemerintah memikirkan pengembangan sistem pertahanan atau Alutsista anti Drone.

"Hal ini seperti yang sudah dilakukan Turki, sistem pertahanan anti Drone nya terus dikembangkan. Seperti dengan menggunakan laser. Kami sudah mulai melakukan kliring atau penguasaan teknologi untuk sistem tersebut," katanya.

(CNBC)

Vympel R-27 Missiles in Use with Vietnam Air Force Su-30MK2V

03 Juni 2020


Two VPAF Su-30MK2V with R-27 AAM (photo : Dong Nai)

Quite rare! Two Không quân Nhân dân Việt Nam (Vietnamese Air Force) Su-30MK2V Flankers, serial 8536 and 8540, equipped with Vympel R-27 air-to-air missiles. The fighter aircraft were seen on recent footage from the Đồng Nai provincial online newspaper. Both Sukhois are part of the 935th Fighter Bomber Regiment based at Biên Hòa Airbase in Dong Nai Province, some 35 kilometers from Ho Chi Minh City.

Vietnam first signed a contract for the procurement of four Sukhoi Su-30MK2 fighter aircraft in 2003. This was followed up by two other deals with Sukhoi in 2009 and 2010 for the purchase of eight and twelve additional fighter jets respectively. The final contract between Moscow and Hanoi was signed in 2013 and involved a batch of twelve aircraft for USD 600 million.


Variants of R-27 from R-27T with range 40km until R-27EM with range 170km (photo : DongNai)

The Vympel R-27 (NATO reporting name AA-10 Alamo) medium-to-long range range air-to-air missile was developed by the Soviet Union in 1983 and is capable of speeds up to Mach 4.5. Each missile weighs approximately 250 kilogram, while its war head has a mass of almost 40 kilogram.

(Scramble)

02 Juni 2020

Thai Army Plans to Improve the Bofors 40mm L/70 AAA

02 Juni 2020


Royal Thai Army's L/70 Bofors 40mm AAA and Signaal Flycatcher fire control radar (photos : AAG)

According to the Army Ordnance Department Royal Thai Army announces a project to repair a 40mm L/70 Bofors anti-aircraft artillery gun, fixing the reference mid price on February 26, 2020 valued 446,500,000 baht ($ 13,996,873.07), unit price 23,500,000 baht ($ 736,677.53), source middle price (reference price), to the Armisys Supply Company Limited.

The project announcement corresponds to the document. Thai Innovation Account Additional March 2020, which registered the Security Equipment Code 13020008, the 40mm L/70 type anti-aircraft artillery equipment, which is a Thai innovation work of Thai Armisys Supply.



It is understood that the Thai Army has a map will repair, improve, enhance the efficiency of the Swedish Bofors 40mm L/70, which has been used for decades to extend the service life and remain active.

Currently, the unit depends directly on Air defense units such as the Royal Thai Air Force Artillery Battalion The 1st Anti-Aircraft Artillery Regiment, with AA Bofors 40mm L/70 stationed with radar, and fire control radar the Hollandse Signaal Flycatcher since the 1980s.



Before that, the Office of Army Military Research and Development, together with Kasetsart University developed, designed and manufactured a set of waterproof rubber ring used in the heavy-duty, smooth-moving round cannon, the GOR. 34 GHN45A1, the medium-curvy trajectory cannon, the cover of the C25 M198, and the smooth-grind heavy-duty gun 20 M71 of the 155 mm replacement type. The production line has been discontinued.

(AAG)

Paket Terma C-Flex CMS dan Radar Hensoldt Terpilih Melengkapi Fregat Iver-class Indonesia

02 Juni 2020


Konsol CMS C-Flex lansiran Terma Denmark (photo : Terma)

C-Flex Combat Management System (CMS) dan paket radar Terma-Hensoldt terpilih untuk melengkapi fregat Iver Huitfeldt class untuk Indonesia. Demikian disampaikan sumber yang dekat dengan kalangan pengambil keputusan di Kementerian Pertahanan Indonesia. Paket CMS Terma C-Flex akan terdiri dari 16 konsol multi fungsi dan 3 layar lebar.

Pilihan atas CMS Terma C-Flex dari Denmark memang merupakan kejutan mengingat sebagian besar kapal surface combatant besar dan modern TNI AL menggunakan CMS Thales Tacticos, sebutlah fregat dan korvet Martadinata class (Thales-Tacticos), Diponegoro class (Thales-Tacticos), Bung Tomo class (Thales-Tacticos) serta Fatahillah class (campuran Thales-Tacticos dan Navantia-Catiz), artinya hampir semua menggunakan Thales Tacticos CMS.

CMS merupakan komponen utama Combat System suatu kapal perang. CMS mengintegrasikan sistem sensor dan sistem persenjataan sehingga dapat mempermudah operator CMS dalam mendeteksi, melokalisasi, mengklasifikasi, tracking, hingga penembakan sasaran secara terintegrasi.

Pengembangan C-Flex CMS bermula sejak 2001, ketika Angkatan Laut Kerajaan Denmark  (RDN) pertama kali meminta upaya untuk meningkatkan CMS Angkatan Laut Denmark. Terma sebagai perusahaan Denmark menyambut tawaran ini dan telah berinvestasi secara signifikan dalam pengembangan CMS berdasarkan pada sistem Open Architecture dan sepenuhnya memanfaatkan berbagai sistem operasi dan komputer yang tersedia secara komersial. Dengan demikian sistem dapat dipertahankan dan tetap up to date dengan adanya evolusi teknologi dengan harga yang terjangkau.

C-Flex berjalan pada platform perangkat lunak yang disebut T-Core, yang dikembangkan Terma sebagai platform untuk semua perintah dan sistem kontrol baik itu untuk AL, AD dan AU. T-Core memiliki semua fungsi dasar C4I yang diperlukan dalam sistem apa pun dan dirancang untuk memenuhi standar yang ditetapkan dalam “US Navy Open Architecture
Computing Capability and Environment”. Aplikasi T-Core bahkan telah sukses digunakan pada AD Denmark dan AD Austria.

Terma C-Flex CMS telah dipakai oleh Angkatan Laut di beberapa negara, Untuk armada Surface Combatant tercatat dipakai pada 3 fregat Iver Huitfeldt class  (Denmark), 1 fregat/destroyer Marasesti (Romania), dan 4 fast attack craft-missile KCR-60 class (Indonesia). Untuk kapal bantu/ Auxilary Ship CMS ini sudah dipakai pada 2 kapal Absalon class (Denmark), 1 LPD Angthong (Thailand) dan 1 training vessel Sycamore (Australia).



Radar utama

Paket radar Terma-Hensoldt akhirnya mengalahkan paket radar NS-200 ajuan Thales yang cukup mahal dan melampaui anggaran. Paket radar Terma-Hensoldt ini terdiri dari Hensoldt fixed array TRS-4D, Hensoldt MSSR 2000 I, Terma SC 4603 dan Terma navigation radar yang belum ditentukan tipenya.

Paduan Hensoldt TRS-4D dan MSSR 2000 I sebagai Multifunction radar (MFR) dan Volume Search Radar sebagai radar pertahanan udara sudah pernah kita bahas sebelumnya.


Panel IFF interogator pada radar Hensoldt MSSR 2000 I (photo : Hensoldt)

Kombinasi radar tersebut sudah cukup untuk memandu rudal pertahanan udara yang kemungkinan besar merupakan kombinasi Mica dan Aster, semuanya dari MBDA. Jumlah sel peluncur vertikal asli fregat ini adalah 8x4 unit ditambah 2x12 unit, total 56 unit sel.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, jumlah fregat Iverr Huifeldt class yang akan diakuisisi adalah 2 unit menggunakan anggaran MEF ke-3 periode 2014-2019. Pada periode anggaran 2014-2019 tersebut TNI AL juga mendapatkan 2 fregat Sigma 10514. 

Pada periode MEF ke-4 atau terakhir (2020-2024) TNI AL masih akan belanja 4 fregat lagi. Jika mengacu kepada ketentuan baru bahwa 1 Divisi Kapal minimal 4 unit kapal (Divisi Kapal adalah penamaan organisasi tepat dibawah Satuan, dalam hal ini adalah Satuan Eskorta) maka yang akan berpeluang adalah 2 Sigma 10514 lagi dan 2 Iver class lagi, jadi Iver class mempunyai peluang ditambah 2 unit lagi sebelum tahun 2024 sehingga menjadi 4 unit.

(Defense Studies)

Myanmar Navy Adds More MPA to Maximize the Security of its Huge Maritime Area

02 Juni 2020


ATR-72 of the Myanmar Navy (photo : Myanmar and AMU)

Myanmar inducts a ATR 72 MPA, bigger version of existing ATR-42 MPA of navy. The type of installed system is still unknown. 

Myanmar will have total 3 Maritime Patrol Aircrafts after inducting this and it will expend capability of Myanmar Navy beyond its boundary.

(Myanmar and AMU)

01 Juni 2020

Mission System Discussion for CN235 MPA Senegal's Order was Halted due to Covid-19

01 Juni 2020


First CN235 hand over to Senegal Air Force in 2011, the second was in Januari 2017, while the third order was MPA variant (photo : Yudhistira Adityawardhana)

Indonesia's discussion with Senegal for second CN-235 halted amid travel bans

Negotiations between aerospace company PT Dirgantara Indonesia (PTDI) and the Senegalese Air Force (Armée de l’Air du Senegal) for a second CN-235 aircraft have been put on hold amid Covid-19-related travel bans.

These negotiations, which were last described at the Singapore Airshow 2020 in February as reaching the final stages, are now not expected to resume again until 2021, said a PTDI representative who spoke to Janes on 26 May.


Design of CN235 MPA with magnetic anomaly detector (MAD) (image : PTDI)

Senegal signed for its first CN-235 with PTDI in November 2014 and the airframe was subsequently delivered in January 2017. The aircraft was delivered in the quick-change configuration, and can take on a variety of missions including medical evacuation, general transport duties, and VIP transport.

For the second airframe, the Armée de l’Air du Senegal is considering a maritime patrol aircraft (MPA) variant of the CN-235 that is similar to those in service with the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL), said the PTDI representative.

The Armée de l’Air du Senegal has yet to convey their preferences for mission systems that will go onboard the MPA but in TNI-AL service, the CN-235’s sensors include the CAE AN/ASQ-508 magnetic anomaly detector (MAD), and Thales Ocean Master or Telephonics APS-143C(V)3 (Batch 2) radar.

(Jane's)