24 Januari 2021

Mengenal Torpedo SUT Buatan Dirgantara Indonesia

24 Januari 2021

Torpedo SUT yang sudah dibuat oleh PT DI berdasarkan lisensi Jerman (photo : Kaskus Militer)

Bisnis.com, JAKARTA - Di antara banyak alat utama sistem pertahanan atau alutsista terkenal buatan Indonesia adalah Torpedo SUT Dirgantara Indonesia. Ia pun punya ciri khusus yang membedakannya dengan torpedo lain.

Torpedo SUT (Surface and Underwater Target) buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) ini menjalani uji tembak dari KRI Cakra-401 saat Latgab TNI Juni 2008. Senjata taktis ini pun sukses menghantarkan eks-KRI Karang Galang ke peraduan terakhirnya di dasar laut.

"Dengan berat hulu ledak 260 Kg, Torpedo SUT mampu menjangkau sasaran dengan jarak tembak efektif maksimal 40 Km," seperti dikutip dari keterangan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), Sabtu (16/1/2021).

Torpedo SUT punya ciri khusus yang membedakan dengan torpedo lainnya. Salah satu yang paling menonjol bisa dilihat dari adanya kabel sebagai pemandu bidikan ke target. Kabel berfungsi memberikan data-data akustik guna mengendalikan arah tujuan torpedo, dan berfungsi sebagai penangkal jamming karena datalink dipandu dua arah.

Loading torpedo SUT ke dalam kapal selam (photo : Kaskus Militer)

Torpedo SUT digerakkan dengan motor listrik, dengan tingkat kebisingan rendah. Setelah torpedo dirasa aman dari reduksi jamming sonar lawan, kabel akan terlepas dan kendali diambil alih secara mandiri oleh data prosesor yang ada di dalamnya.

Sebagai perusahaan besar dalam industri pertahanan, Dirgantara Indonesia memang membuat produk torpedo yang memiliki spesifikasi hebat. SUT Torpedo ini dirancang untuk menghadapi target kapal selam dan kapal permukaan.

Torpedo SUT tidak hanya dapat diluncurkan dari kapal selam dengan metode swim-out, melainkan juga dari kapal permukaan dengan metode pneumatic push-out.

Berikut ini spesifikasi Torpedo SUT Dirgantara Indonesia :

- AEG SUT 533mm : Heavyweight Torpedo Dengan Pemandu Sonar Pasif Dan Aktif
- Panjang tanpa casket : 6,150mm (6.620mm dengan casket)
- Diameter : 533mm
- Berat versi tempur : 1,413.6Kg (tempur), 1,224.00Kg (latihan)
- Berat isian tempur : 255Kg
- Pendorong : motor listrik
- Jarak jangkau maks. : 12Km (kecepatan 35Kts)
- Jarak jangkau optimal : 28Km (kecepatan 23Kts)

Dalam industri teknologi alutsista, SUT hasil karya PT Dirgantara Indonesia ini adalah salah satu pengembangan teknologi terbaik. Dengan modal lisensi dari AEG (Allgemeine Elektrizitäts-Gesellschaft), Telefunken, Jerman, membuat teknologi dari SUT ini sangat diperhitungkan.

Torpedo SUT TNI AL dalam gelar alutsista Koarmatim (photo : Kaskus Militer)

Bagaimana cara kerja torpedo?

Sesaat setelah ditembakkan dari dalam peluncur torpedo, tangki muatan pendorong akan memberikan muatannya kepada mesin pendorong dan mesin akan bekerja memutar twin screw counter rotating propeller.

Torpedo akan meluncur menuju sasaran dengan kecepatan minimal sekitar 20 knot. Torpedo akan berjalan lurus, sesuai arah, kecepatan dan kedalaman menuju sasaran yang telah diprogramkan terlebih dahulu melalui bilik hitung penembakan torpedo.

Peluncuran torpedo ke arah sasarannya didorong oleh twin screw counter rotating propeller-nya, yang dapat menjamin torpedo tidak akan mengalami momen puntir dari putaran motornya sendiri, dan ditahan pada kedalaman yang dikehendaki dengan diatur oleh membrane pengukur kedalaman yang dilaksanakan oleh sirip horisontalnya, serta dijaga pada arah haluannya dengan dikendalikan oleh gyro kompas, yang pelaksanaanya dilakukan oleh kemudi tegaknya.

Ledakan torpedo sendiri akan dipicu dari beberapa macam fuze detonator, baik contact, proximity fuze, maupun magnetic fuze.

Terkadang beberapa fuze diaktifkan bersama untuk memperoleh 100 persen kepastian ledak. Hulu ledaknya yang berisi sekitar 200 kg TNT, dipastikan akan dapat menjebol dan mematahkan hull kapal perang jenis manapun yang kena hantamannya.

Apalagi bila ledakkannya itu disetel pada suatu jarak kedalaman tertentu dari lunas kapal sasaran dalam rangka memperoleh keuntungan double blast effect.

C-130 Aircraft For Philippine Air Force Spotted

24 Januari 2021

C-130H wit tail number 5125 for PAF (photo : SBGrad)

The first of 2 refurbished C-130H Hercules transport aircraft from United States acquired for Philippine Air Force (PAF) was spotted at Naval Air Station North Island in San Diego, California last week.

The said acquisition is funded jointly by the Philippine government and US through its Foreign Military Financing program.

Arrival of the first aircraft was scheduled last year but was affected by the ongoing pandemic.

On December 8, 2020, visiting then Acting US Secretary of Defense Christopher Miller mentioned that the delivery of first aircraft is taking place December 17.

Miller, at that time, turned over to National Defense Secretary Delfin Lorenzana PHP1.38 billion ($29 million) worth of defense gears, including snipers and anti-IED equipment.

“We are grateful for the support provided by the United States as we continuously work on the enhancement of the Philippines’ defense capabilities,” Lorenzana said during the turn over of defense gears.

“The modernization of the AFP will ultimately allow us to respond more effectively to both traditional and non-traditional security threats to our maritime nation. Our government expresses our deep appreciation for the US government’s assistance in protecting our borders from external threats,” he added.

Prajurit Yonmarhanlan IX Siap Amankan Pulau-Pulau Terselatan NKRI Di Wilayah Maluku Barat Daya

24 Januari 2021

Pemberangkatan pasukan Marinir menuju pulau-pulau terluar (photo : Kops Marinir)

Dalam rangka menjaga gugusan pulau-pulau terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), personel Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) IX Ambon yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terluar (Satgas Pam Puter) VI Wilayah Maluku Barat Daya (MBD) tahun 2021 dilepaskan dengan upacara pelepasan anggota Yonmarhanlan IX Satgas Pam Puter VI MBD di Lapangan Apel Markas Komando Yonmarhanlan IX Ambon. Selasa, (19/01/2021).

Danyonmarhanlan IX Ambon Letkol Marinir Syahrial Isnadie yang diwakili oleh Perwira Staf Operasi (Pasiops) Yonmarhanlan IX Kapten Marinir Patrick Pattiasina, lepas 15 personel Yonmarhanlan IX dibawah pimpinan Letda Marinir Sulaiman, yang terlibat dalam Satgas Pam Pulau Terluar, dalam rangka pengamanan wilayah terselatan NKRI diwilayah Propvinsi Maluku.

Dimana personel Yonmarhanlan IX nantinya di tempatkan dan memperkuat Pos-pos TNI AL (Posal) di Pulau-pulau Terselatan, khususnya pada pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Pulau Leti dan Pulau Moa berbatasan dengan Negara Australia di bagian Selatan maupun Pulau Romang, Pulau Kisar, Pulau Lirang dan Pulau Wetar yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) di bagian Barat Daya.


Dalam amanatnya Danyonmarhanlan IX menyampaikan bahwa laksanakan tugas pokok Pam pulau terluar ini dengan baik, serta bina hubungan baik dengan semua instansi TNI-Polri, Instansi Sipil, serta Masyarakat yang ada di daerah penugasan. Hindari masalah yang dapat merugikan diri sendiri, keluargamu, satuanmu, Korpsmu dan TNI AL pada umumnya, juga yang pasti Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Harapan Danyonmarhanlan IX agar prajurit selalu memperhatikan protokol kesehatan dengan tetap memakai masker bila beraktifitas diluar dan jaga jarak, sebab Pandemi covid 19 belum berakhir.

Turut hadir pada upacara pelepas yaitu Pasiops, Pjs. Pasintel, Pjs. Pasipers, Dantonma dan segenap prajurit Yonmarhanlan IX.

(Korps Marinir)

RMAF Unveils DJI Matrice UCAV Prototype

24 Januari 2021

DJI Matrice with atwo M4 assault riffles, effective for person target (photo : MFH)

The Royal Malaysian Air Force (RMAF) has unveiled a prototype of its Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) which uses DJI Matrice small Unmanned Aerial System (sUAS) as its platform.

The Drone is equipped with two SMEO/Colt M4 Carbine assault rifles. It is not known whether this is really an actual UCAV prototype or simply just an ‘experiment’ conducted by the Air Force.

23 Januari 2021

Russia to Supply Air Defense Systems Pantsir-S1 to Myanmar

23 Januari 2021

Pantsir-S1 air defense systems (photo : AA)

NAY PYI TAW/TASS/. Russia will supply to Myanmar a batch of missile and artillery air defense systems Pantsir-S1, unmanned aerial vehicles Orlan-10E and radars.

The agreement was signed at a ceremony attended by Russian Defense Minister Sergey Shoigu, who is in Myanmar on an official visit, and the Commander-in-Chief of Myanmar’s armed forces, Min Aung Hlaing. Russia’s Deputy Defense Minister Alexander Fomin inked the agreement for Russia.

Since 2001 a legal and regulatory base has been created for effective and mutually beneficial military-technical cooperation, which makes steady progress. Russia has supplied to Myanmar 30 planes MiG-29, twelve combat training jets Yakolev-130, ten helicopters Mi-24 and Mi-35P, eight air defense missile systems Pechora-2M and also radars, armored vehicles and artillery pieces. A contract has been concluded for providing six Sukhoi-30SME planes. Some have been delivered already.

Orlan-10E UAV (photo : ruaviation)

Military hardware undergoes repairs and maintenance at Myanmar’s joint special center for all types of equipment, both aircraft and armored vehicles.

Bilateral cooperation saw intensive development over the past five years. Myanmar’s delegations regularly participate in the international army games and combat training activities. Last year Myanmar’s contingent took part in the Kavkaz-2020 exercise. Also, in 2018 an inter-governmental agreement was concluded on simpler procedures for Russian naval ships visiting Myanmar’s ports.

The command of Myanmar’s armed forces has shown interest in other advanced weapon systems of Russian manufacture.

Masuki Tahap Keel Laying, Progress Kapal BRS Kedua Capai 26%

23 Januari 2021

Keel laying kapal bantu Rumah Sakit TNI AL (photo : PAL)

Surabaya - Produksi Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) Kedua pesanan TNI AL memasuki tahapan keel laying atau pemasangan lunas kapal. Keel Laying dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Januari 2021 bertempat di Grand Assembly Divisi Niaga PT PAL Indonesia (Persero) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. 

Acara tersebut dihadiri oleh Koorsahli Kasal, Laksda TNI Dr. Suyono Thamrin didampingi Plt. Direktur Utama Ibu Etty Soewardani, disaksikan para pejabat TNI AL beserta jajaran Manajemen PT PAL Indonesia (Persero).

Tahapan keel laying ini penting karena nantinya usia kapal akan dihitung sejak pertama kali pemasangan lunasnya. Hingga tahapan keel laying, progress produksi hingga akhir Desember 2020 sebesar 26,071% dari rencana progress yakni 26,052% dan tepat waktu. Dalam sambutannya, Koorsahli Kasal mengucapkan pembangunan Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) merupakan respon atas tindak lanjut direktif Presiden pasca gempa bumi Palu. 

Disampaikan pula harapan untuk PT PAL Indonesia (Persero) dapat terus meningkatan kualitas dan kemampuan pembangunan kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) sehingga dapat terus menjadi mitra strategis TNI AL dalam pemenuhan alutsista di masa yang akan datang.

(PAL)

3 Black Hawk S-70i Helicopters Land At Tactical Operations Group 2

23 Januari 2021

PAF S-70i Black Hawk helicopter (photo : BNCY)

Three Black Hawk S-70i helicopters landed at Tactical Operations Group (TOG) 2 in Cuayan, Isabela, 92.9 Brigada News Cauayan City reported January 19.

TOG 2 is a Philippine Air Force (PAF) unit operating under Tactical Operations Wing (TOW) Northern Luzon.

Earlier this month, Black Hawk helicopters also landed at Loakan Airport in Baguio City for proficiency training and familiarization of landing zone for pilots. 

The said Black Hawk S-70i helicopters are part of the first six helicopters delivered under the 16-helicopter order from Polish company PZL Mielec.

Remaining helicopters are expected to be delivered this year.

“The purchase of 16 S-70i combat-utility helicopters manufactured by the Polish Aviation Works-Mielec (PZL-Mielec) is an excellent example of cooperation between our two countries,” said Jarosław Szczepankiewicz, chargé d’affaires of the Embassy of the Republic of Poland in Manila.

The Polish embassy noted that 16 Black Hawks were ordered under PAF’s Combat Utility Helicopter (Phase 3) Acquisition Project, which is a Horizon 2 phase priority project under the current Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Project.