28 Agustus 2015

Russia's New MiG-35 May Replace Vietnam's Aging Fighter Jets

28 Agustus 2015



Russia may sell new MiG-35 fighter jets to Vietnam as a replacement for its aging fighter jets, as Southeast Asian countries are expressing growing interest in the planes.

Russia's MiG-35 multirole fighter jets may be coming to Vietnam, where the useful life of the country's third-generation MiG-21 fighter jets is coming to an end, the head of MiG aircraft manufacturer Sergei Korotkov told RIA Novosti.

The MiG-35 is a new multirole fighter which includes fifth-generation information and sighting systems. According to Korotkov, Southeast Asia is an "interesting region" for the aircraft manufacturer when it comes to prospective sales.

"According to our evaluation, there are definite prospects for MiG-35s in Vietnam, where the expected life of MiG-21 fighter jets is coming to an end," Korotkov told RIA Novosti.


Korotkov added that interest in MiG-35 planes is growing in India, in part because French Rafale fighter jet shipments are limited. The purchase of MiG-35s to replace India's aging fighter jet fleet is being discussed in India's professional circles, according to Korotkov.

"Unlike the 'classic' MiG-29, from which the MiG-35 inherited its aerodynamic concepts, the new machine is multirole. It can employ high-precision weaponry on any targets, air, ground or sea. It can even perform some functions which were earlier entrusted to reconnaissance planes," Korotkov added.

MiG is currently modernizing India's MiG-29 planes in collaboration with the local aerospace industry to the MiG-29UPG standard under a $1.2 billion 2010 contract. MiG is also supplying MiG-29K carrier-based fighter jets to the country.

(SputnikNews)

27 Agustus 2015

Singapore and Indonesia Co-Host Multilateral Exercise for 16 Navies

27 Agustus 2015


Some of the participating ships from the 6th WP MCMEX berthed at Changi Naval Base. (photo : Sing Mindef)

The Republic of Singapore Navy (RSN) and Indonesian Navy (TNI AL) are co-hosting the 6th Western Pacific Mine Countermeasure Exercise (WP MCMEX) from 25 to 31 August 2015. The Singapore's Chief of Navy, Rear-Admiral (RADM) Lai Chung Han, officiated at the opening ceremony of the exercise at the Changi Command and Control Centre this morning.

More than 800 personnel, 13 ships and five underwater vehicle teams from 16 countries are participating in this year's exercise. The exercise includes professional exchanges, and will culminate in a five-day mine-hunting and mine-sweeping sea phase in the Singapore Strait and the waters off the Indonesian island of Pulau Bintan.

Speaking at the opening ceremony, RADM Lai highlighted the importance of multilateral cooperation in maintaining the freedom of navigation in the sea lines of communication, and the need to remain vigilant and ready to respond to a myriad of threats. RADM Lai said, "As navies, we not only need to be on top of today's challenges - and we have many - we also need to be in time for the future...the activities carried out in the 6th WP MCMEX will build capacity and strengthen interoperability between exercise participants. Beyond delivering professional benefits, multilateral exercises such as this are useful platforms for forging friendships and strengthening mutual understanding."

The WP MCMEX is conducted under the ambit of the Western Pacific Naval Symposium (WPNS), which promotes mutual understanding, friendship, professionalism and interoperability among the personnel of the participating navies. The participation of the WPNS countries in the exercise reflects their strong commitment to multilateral cooperation and the promotion of regional security. The co-hosting of the exercise by the RSN and the TNI AL also reflects the close and long-standing cooperation between the two navies.

(Sing Mindef)

Metis-M Senjata Anti Tank Angkatan Tentera Malaysia

27 Agustus 2015


9K115-2 Metis-M Tentera Darat Malaysia (photos : Bertiwi)

Zon Kenali Senjata ATM : Metis-M

ATGM (Anti Tank Guided Missile) atau Misil Anti Kereta Kebal buatan Rusia yang dikeluarkan oleh KBP Instrument Design Bureau. Mula beroperasi pada tahun 1992 dan digunakan hampir 17 buah negara di seluruh dunia termasuk Malaysia.

Sistem ATGM METIS-M ini di reka khusus untuk menembusi dan memusnahkan kenderaan berperisai moden yang mempunyai bahan pelindung tambahan seperti ERA (explosive reative armour), kubu pertahanan dan juga tempat letak senjata, serta sasaran-sasaran yang terpilih. Sistem peralatan Metis-M terdiri dari 9M131 (9M131F) ATGM; Pelancar 9P151 ; 1PBN86-VI thermal sight.

Sistem yang digunakan oleh Metis-M ATGM ialah "semiautomatic guidance system transmitted over wire link" iaitu sistem yang tidak memerlukan peralatan yang terlalu canggih dan mahal seperti gyroscopic coordinator, elektronik unit dan bateri pakai buang.

Sistem Metis-M ini hanya dikendalikan oleh seorang anggota, manakala anggota yang lain boleh membawa peluru dan lain-lain peralatan tambahan.



Jenis-jenis peluru berpandu anti kereta kebal yang digunakan oleh ATGM ini ialah HEAT 9M131 yang berupaya merobek perisai yang dilindungi Oleh ERA (Explosive Reactive Armour) setebal 850mm, Kenderaan berperisai ringan, kubu-kubu pertahanan (bunker) dan pos-pos kawalan senjata.

Peluru anti-tank thermobaric (HE) yang mampu memusnahkan sasaran seperti bangunan, struktur bangunan dan sebagainya. Penembakan Metis-M hanya dilakukan oleh seorang anggota tentera. Sistem ini terbukti berkesan apabila ianya digunakan dalam perang Palestin antara pejuang Hizbullah dan Regim Israel pada 2006. Menurut sumber dari Israel, sistem ini digunakan untuk memusnahkan kereta kebal Merkava Israel.

Pada Julai 2001 Malaysia telah menandatangani kontrak pembelian ATGM AT-13 Metis(M) dengan KBP Instrument Design Bureau,dari Rusia. Nilai kontrak yang ditandatangani ialah USD 30juta. 

Dengan pembelian Metis(M) ini, inventori ATGM dalam ATM telah bertambah dan dapat mempertingkatkan lagi kuasa pemusnah kereta kebal pada masa akan datang.

Jarak operasi adalah 80 meter sehingga 2000 meter, seberat 13.8Kg. Bagi perkhidmatan dalam Malaysia, ianya dipasang diatas kenderaan G-Wagon 4x4 dan digunakan sebagai senjata bantuan batalion.

(Bertiwi)

Two More C-295 Medium-Lift Transport Aircraft Arriving Before Year-End

27 Agustus 2015


Airbus Military C-295 medium-lift transports aircraft (photo : bworldonline)

The Philippine Air Force’s transport capabilities will be boosted greatly with the scheduled arrival of two more EADS CASA C-295 medium-lift transports before the end of 2015. PAF chief Lt. Gen. Jeffrey Delgado said the aircraft will be delivered during the last quarter of the year.

Earlier, Col. Enrico Canaya, PAF spokesperson, said “the additional C-295s will enhance the overall capability of the PAF in providing airlift requirements of the Armed Forces of the Philippines during humanitarian assistance and disaster response operations.”

The Air Force’s first C-295 was commissioned last March 31. It joins the three other Lockheed C-130 “Hercules” heavy transports being operated by the PAF.

The Philippine contract for the three C-295 is worth PhP5.29 billion. It was signed last year.

The C-295 is categorized as medium lift aircraft equivalent to the Fokker F-27 aircraft being maintained by the 220th Airlift Wing. The C-295s have rear ramp door similar to that of the C-130s for easier access and loading/unloading of passengers and cargoes.

It can carry as much as 71 passengers, 50 paratroops, 24 stretchers with five to seven attendants or up to about 20,000 pounds of cargoes.

(Ang Malaya)

Cegah Gangguan di Perairan, TNI AL dan AU akan Latihan Perang di Natuna

27 Agustus 2015


KCR-40 class FAC-M (photo : TNI AL)

Pontianak - Tingginya eskalasi ancaman kedaulatan laut di perairan perbatasan Indonesia di Laut Tiongkok Selatan, dan klaim Tiongkok terhadap perairan Laut Tiongkok Selatan, TNI AL akan mengelar latihan perang bersinergi dengan TNI AU di perairan Pulau Natuna, bagian utara wilayah laut Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (27/8/2015).

"Latihan perang ini dilakukan secara gabungan dan sinergi dengan TNI AU terutama Lanud Supadio Pontianak, dimana nanti tak hanya tiga kapal perang TNI AL yang dilibatkan namun juga skuadron Elang Khatulistiwa di Lanud Supadio Pontianak," kata Kepala Asiten Operasi TNI AL, Kolonel Laut (P) Bambang S kepada detikcom di Lantamal XII Pontianak, Selasa (25/8/2015).

Latihan perang digelar bersamaan dengan munculnya masalah hubungan Indonesia-Malaysia terkait perairan Temajuk, Kabupaten Sambas, yang diklaim oleh Malaysia. Malaysia mendirikan menara suar di perairan itu.

"Kita harus siap terhadap segala ancaman, karena kita tidak ingin kasus hilangnya Sipadan dan Ligitan terulang," tegasnya.

Skenario latihan perang ini dipadukan antara kekuatan militer laut dan udara. "Secara rinci skenario belum diketahui, tapi yang jelas latihan perang ini melibatkan unsur kekuatan TNI AL dan TNI AU," tambah Komandan Satuan Keamanan Laut, Mayor Laut M. Homsin.

Homsin menjelaskan latihan bersama ini melibatkan tiga KRI yakni KRI Kujang 642 dan KRI Sembilang 850 yang bertolak dari Batam menuju ke perairan sekitar Natuna. Sementara KRI Silas Papare 386 bertolak dari Pontianak pada esok, Rabu (26/8/2015) menuju ke perairan Natuna dari Lantamal XII Pontianak.

"Dalam skenario nanti KRI Silas Papare buatan Jerman dijadikan sebagai kapal asing yang memasuki perairan Indonesia, sementara dua KRI yakni Kujang dan Sembilang melakukan operasi penyergapan di wilayah ALKI Satu perairan Natuna," jelas Homsin.

Setelah melakukan penyergapan ini, dua KRI melakukan kontak ke Pusat Komando untuk melakukan langkah-langkah dan tindakan nyata.

"Apabila dalam operasi penyergapan dua KRI ini tidak mampu mengatasi ancaman dari kapal asing, maka dua KRI akan meminta bantuan ke TNI AU dengan meminta dukungan operasi udara menggunakan pesawat tempur Hawk dari Lanud Supadio Pontianak," ujarnya.

Latihan bersama terintegrasi ini untuk meningkatkan kesiapan TNI AL dan TNI AU terhadap ancaman kedaulatan maritim Indonesia yang berada di perbatasan dengan negara lain, termasuk klaim Tiongkok terhadap Laut Tiongkok Selatan dan ilegal fishing di perairan Zona Ekonomi Eklusif Indonesia (ZEEI). 

(Detik)

First Vietnamese Sail Training Ship Undergoes Sea Trial

27 Agustus 2015

Le Quy Don first sail training ship of Vietnamese Navy (all photos : Marine Projects)

Website of the private shipyard Marine Projects (Poland) recently announced the sail training vessel image of Vietnam Navy voyage perform testing.

Estimated ship Le Quy Don will be brought to Vietnam by a mixed crew, including Vietnam and Poland. Voyage will begin in late August and will ship passing Cape of Good Hope instead of Suez.



This is an opportunity for sailors to Vietnam with more training opportunities before returning to Nha Trang, where the Naval Academy (ship owners) stationed.

Sail training ship Le Quy Don , designed by engineering company Choren Ship Design & Consulting (Poland) and began closing in private shipyards Marine Projects to date 02/07/2014.



Tau will play the role of training skills most basic sailing for the sailors of the Naval Academy in Nha Trang. Besides, on the train can also be digitized classrooms with modern equipment.

Le Quy Don's first sail training ship of the Vietnam People's Navy, enabling us to integrate with the general trend of the world.

(Soha)

26 Agustus 2015

Boeing Siap Penuhi Skema Offset Dalam Pengadaan Helikopter Chinook

26 Agustus 2015

Kemhan berencana membeli empat Helikopter Chinook untuk memperkuat Alutsista di jajaran TNI AD (photo : Tobin Polderman)

Jakarta, DMC - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menerima Regional Director South East Asia Boeing Young Tae Pak, Selasa (25/8) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Pertemuan ini membahas mengenai kelanjutan rencana pengadaan Helikopter Chinook.

Dalam kesempatan tersebut, Regional Director South East Asia Boeing menyampaikan bahwa dalam pengadaan Helikopter Chinook nantinya, pihak Boeing siap memberikan dan memenuhi persyaratan skema offset yang diinginkan Indonesia.

Guna membicarakan lebih detail bagaimana mekanisme skema offset tersebut, maka saat ini pihak Boeing telah mengirimkan tim ke PT. DI di Bandung. Regional Director South East Asia Boeing juga menyampaikan siap membantu sepenuhnya untuk kelancaran proses pengadaan ini dan akan memberikan harga yang terbaik untuk Indonesia.

Sebagaimana diketahui, bahwa Kemhan berencana membeli empat Helikopter Chinook untuk memperkuat Alutsista di jajaran TNI AD. Pembelian ini disesuaikan dengan ancaman nyata yang dihadapi Indonesia, terutama masalah penanganan bencana alam.

Helikopter Chinook merupakan salah satu jenis helikopter yang memiliki keunggulan multifungsi. Selain dapat mengangkut personil militer dalam jumlah banyak, helikopter ini juga mampu mengangkut logistik dalam jumlah banyak.

Selain itu, helikopter ini didesain untuk bisa mengangkut (sling) pesawat tempur, kapal tempur, kendaraan tempur (Ranpur), hingga tank tempur kelas ringan. Tidak hanya itu, dengan kemampuan daya angkut yang besar, helikopter ini banyak diturunkan untuk mendukung kebutuhan nasional, seperti evakuasi bencana alam dan kegiatan Search and Rescue.  

(DMC Kemhan)