19 November 2018

Satuan Artileri Perkenalkan Sistem Deteksi Tembakan Musuh dengan Sensor Akustik

18 November 2018


Kendaraan pendeteksi tembakan musuh dengan sensor suara/akustik, perlu 3 kendaraan sekaligus yang bekerja secara bersama-sama untuk dapat mendeteksi lokasi asal penembakan secara akurat (photos : Defense Studies) 

Satuan Artileri Indonesia telah mengembangkan kendaraan 4x2 buggy ultralight yang dilengkapi dengan sistem deteksi yang dapat menemukan tembakan musuh dengan sensor akustik. Di IndoDefence 2018, proyek yang diprakarsai dan dimulai pada tahun 2016 ini ditampilkan dengan nama Komodo.

Enam prototipe telah menjalani uji coba di jalur hutan yang dipenuhi lumpur lembek, seperti gambar yang ditampilkan di stan artileri, namun demikian ground clearance dan dimensi ban akan diperbesar untuk lebih meningkatkan kinerja off-road yang sudah mengesankan. Kekuatan yang diperlukan untuk mengoperasikan sensor akustik dan sistem pelacakan yang dipasang pada tiang di bagian belakang kendaraan disediakan oleh baterai yang dapat diisi ulang oleh panel surya yang dipasang di atap buggy.



Mesin kendaraan ini adalah bensin empat langkah, 250cc, menghasilkan tenaga 17,6 Nm pada 5.500 rpm yang dilengkapi dengan transmisi otomatis. Buggy dapat mencapai kecepatan 60 km/jam di tanah dengan permukaan keras tetapi bobotnya yang ringan (320 kg, dengan muatan 250 kg) membuatnya menjadi kendaraan yang sangat mobile di lingkungan hutan juga. Untuk kebutuhan mendesak, winch listrik kecil dapat disediakan.


Pengujian Komodo buggy 4x2 (photo : Daily News)

Pekerjaan pendeteksian tembakan musuh yang diperlukan oleh artileri dapat dibantu oleh pesawat tak berawak yang dioperasikan oleh penumpang kendaraan dua awak ini, sebuah drone yang dapat disimpan di atap, di atas panel surya.

(Indodefence Daily News)

Australian Firm TAE Expands Through Engine Support Facility for F-35A

19 November 2018


RAAF F-35A aircraft (photo : Shane Gidall)

Australian firm TAE Aerospace has started building a facility in Queensland positioned to support the engines that power the Royal Australian Air Force’s (RAAF’s) Lockheed Martin F-35 fighter aircraft.

Announcing the development, the Australian Department of Defence (DoD) said that the facility will start operations in July 2019. It confirmed that the department will be a “major but not exclusive customer” of the new facility.

Within the new complex will be a warehouse dedicated to support the F-35’s Pratt & Whitney F135 engine as well as other facilities to undertake component repairs, aluminium vacuum brazing, and to support other engines including the General Electric F414 that powers the RAAF’s Boeing F/A-18E/F Super Hornet and the Honeywell AGT1500 engines that power the Australian Army’s Abrams main battle tanks.

(Jane's)

17 November 2018

MoU PT RAI - PT Tehnika Ina Produksi Pesawat R80 Versi Militer

17 November 2018


R80 military transport aircraft (photo : Defense Studies)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Langkah baru kembali diambil PT Regio Aviasi Industry (RAI) selaku perusahaan pembuat pesawat R80. Tak lama lagi, pesawat yang diinisiasi oleh Presiden RI ketiga, BJ Habibie ini akan punya versi militernya.

“Kita bekerjasama dengan PT Tehnika Ina dalam pengembangan dan pemasaran bersama pesawat R80 versi militer sebagai bagian dari industri pertahanan,” ujar Direktur Utama PT RAI, Agung Nugroho usai penandatanganan kerjasama dengan PT Tehnika Ina di sela-sela ajang Indo Defence Expo 2018 di Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Dijelaskan Agung, dalam pengembangan versi militer ini, kedua pihak secara bersama akan merumuskan platform pengembangannya lebih lanjut.


R80 maritime patrol aircraft (photo : Defense Studies)


“Tehnika Ina juga akan membantu sosialisasi R80 di industri pertahanan serta mengindetifikasikan potensi pasar dan mitra untuk R80 versi militer,” ujar Agung yang didampingi Direktur Utama PT Tehnika Ina, Panca Tazakka.

Direktur Utama PT RAI, Agung Nugroho bersama saat penandatanganan kerjasama dengan Direktur Utama PT Tehnika Ina, Panca Tazakka di ajang Indo Defence Expo 2018.
Untuk diketahui, selain untuk pesawat angkut sipil, R80 dapat dikembangkan untuk kebutuhan militer. Salah satunya adalah bagi kebutuhan pesawat patroli maritim dan udara.

“Pesawat penumpang yang bisa menjadi ‘platform’ (dasar) untuk beberapa misi, bisa bikin full penumpang, full kargo, setengah penumpang dan setengah kargo. Bisa juga sebagai untuk patroli udara dan maritim. Jadi ‘submarrine killer’,” kata Agung.

(TribunNews)

Sathar 14 Depohar 10 Koharmatau Selesaikan Check D Pesawat Boeing 737 A-7307

17 November 2018


Pesawat Boeing 737 A-7307 TNI AU (photo : justsomewritings)

Penghargaan Kasau kepada Sathar 14 Depohar 10 Koharmatau

TNI AU.  Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M.,  didampingi para pejabat teras TNI Angkatan Udara  memberikan penghargaan kepada Sathar 14 Depohar 10 Koharmatau atas prestasi  kinerja dalam pelaksanaan pemeliharaan berat Check D pesawat Boeing 737-500 A-7307 yang telah dilaksanakan mulai pada tanggal 23 Juli dan dapat diselesaikan pada tanggal 15 November 2018 (3 bulan lebih 3 minggu), yang artinya pelaksanaan Check  D  berjalan lebih cepat dari target waktu yang telah direncanakan yaitu empat bulan, dengan hasil yang sangat membanggakan bagi Koharmatau khususnya dan TNI Angkatan Udara pada umumnya yang dilaksanakan di Hanggar Sathar 14 Depohar 10 Bandung, Kamis (15/11).

Pelaksanaan pemeliharaan berat Boeing ini tidak terlepas dari berbagai kendala dan kekurangan ataupun keterbatasan baik berupa sucad, bit and pieces, personel, sarana prasarana, fasilitas dan dukungan lainnya, namun demikian dengan support yang tinggi dari Kepala Staf TNI Angkatan Udara, pejabat terkait Mabesau, dan dukungan dari PT GMF Aero Asia sebagai supervisi yang membuat semangat dalam melaksanakan tugas ini dengan penuh percaya diri.  Demikian yang disampaikan Komandan Koharmatau Marsekal Muda TNI Dento Priyono dalam sambutannya

Karena atas ketulusan dan semangat pengabdian yang tinggi tandas Komandan Koharmatau, dan kepercayaan Kepala Staf TNI Angkatan Udara  kepada Koharmatau khususnya para teknisi Sathar 14 Depohar 10, dalam melaksanakan tugas pemeliharaan berat pesawat Boeing 737-500 sebagai Pilot Project terhadap pesawat Boeing 737 series yang telah dioperasionalkan oleh TNI AU sejak tahun  1982 dapat diselesaikan dengan hasil yang sangat membanggakan bagi Koharmatau khususnya dan TNI Angkatan Udara pada umumnya.

(TNI AU)

At Least 13 States Mull Buying Russia’s S-400 Despite US Sanctions - Reports

17 September 2018


S-400 air defence missile system (photo : SputnikNews)

MOSCOW (Sputnik) – At least 13 countries have expressed their interest in purchasing the Russian S-400 Triumph surface-to-air missile systems instead of US equipment despite the likelihood of provoking Washington’s sanctions, media reported citing people with first-hand knowledge of a US intelligence assessment.

Algeria, Egypt, Iraq, Morocco, Qatar, Saudi Arabia and Vietnam were among the countries that had already engaged in talks on buying the Russian missile systems, the CNBC broadcaster reported on Wednesday.

Washington expected that several countries would yield to the US pressure and abandon their plans to purchase the Russian equipment, the outlet added.

Another source noted that S-400 had been more powerful, in terms of capability, than the US most capable Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) system.

Sanctions over the purchase of the Russian military equipment could be triggered under the US Countering America's Adversaries Through Sanctions Act, which came into force in 2017 and is set to punish Moscow for it alleged meddling in the US 2016 presidential election, something vehemently denied by Russia.

In September, Washington imposed sanctions on China over its purchase of Su-35 fighter jets in 2017 and S-400 system-related equipment in 2018.

Apart from China, India and Turkey have also reached agreements on the purchases of the missile systems from Russia. Turkey’s plans have, particularly, been a point of concern for the United States since Ankara is Washington’s NATO ally.

The Saudi authorities have also been openly engaged in talks with Russia on the missile system purchase.

S-400 is the next-generation mobile missile system which can carry three different types of missiles capable of destroying a variety of aerial targets at a short-to-extremely-long range, from reconnaissance aircraft to ballistic missiles.

(SputnikNews)

Panser Badak Pindad Segera Masuk Jalur Produksi

17 November 2018


Panser Badak dengan turret (kubah senjata) buatan CMI Defence Belgia jenis CSE90LP (Low Pressure) dengan kanon 90mm akan menggantikan peran panser Alvis FV-601 Saladin 6x6 dengan kanon 76mm (all photos : BMPD)

Kontrak pengadaan panser kanon Badak akan segera dijalankan. Produksi akan dimulai tahun 2019 hingga 2020 dalam dua batch, jumlahnya berkurang hingga menjadi kisaran 14 unit saja. Namun demikian panser kanon badak yang akan diproduksi spesifikasinya terutama level proteksinya jauh lebih baik dari purwarupa sebelumnya yang telah lulus sertifikasi dari Dislitbang AD.



Badak baru akan mendapatkan baju zirah rangkap (add-on) yang menjadikannya tahan terhadap peluru senapan mesin kaliber 12,7 dan 14,5 mm. Selain itu juga tahan terhadap hantaman serpihan munisi artileri.



Untuk penanggulangan terhadap ranjau, meskipun belum diuji coba langsung di lapangan, digadang panser kanon Badak dapat menghadapi ranjau darat hingga tingkat ledakan dibawah 6 kg TNT.

See full article Angkasa Review

16 November 2018

General Atomics Reaper Selected for Australia's First Armed Remotely Piloted Aircraft System

16 November 2018

Reaper UCAV (photo : General Atomics)

Minister for Defence, the Hon Christopher Pyne MP, and Minister for Defence Industry, the Hon Steven Ciobo MP, today announced the selection of the General Atomics MQ-9 Reaper variant as the system which best meets the capability requirements for Australia’s first armed remotely piloted aircraft system.

Minister Pyne said the medium altitude long endurance aircraft can be integrated within the Australian Defence Force (ADF) and would be fully interoperable with our allies.

“These new aircraft will provide enhanced firepower and intelligence, surveillance and reconnaissance support to a range of missions,” Minister Pyne said.

“Medium altitude, long endurance, remotely piloted aircraft have a far greater range than smaller remotely piloted aircraft and can continuously observe an area of interest for much longer than manned reconnaissance aircraft.” 

The aircraft will be used to watch and protect ADF and coalition land forces, and provide reconnaissance support for search and rescue, humanitarian assistance and disaster relief operations.

“Remotely piloted aircraft allow military commanders to make more informed decisions faster whilst providing the option to conduct strike and reconnaissance operations without risking the safety of aircrew.”

“The aircraft will be operated under the same laws of armed conflict, international human rights law and rules of engagement as manned aircraft”, Minister Pyne said.

Minister Ciobo said the project provides opportunities for Australian industry with associated infrastructure development and sustainment activities.

“General Atomics, as the original equipment manufacturer of the Reaper, has partnered with a large number of Australian companies who provide a range of innovative sensor, communication, manufacturing and life-cycle support capabilities,” Minister Ciobo said. 

“This is a great opportunity for Australian industry and demonstrates Australia’s world-class capability to support cutting-edge technologies.”

The Government will now request pricing and availability data from the United States on Reaper variants to support future decision-making on the acquisition.

(Aus DoD)