19 Juli 2018

Indonesia Incar Pasar Komponen Pesawat Global

19 Juli 2018


Peningkatan ekspor komponen pesawat diharapkan meningkat (photo : detik)

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyasar peningkatan ekspor komponen pesawat yang saat ini baru US$ 83 juta. Padahal, potensi pasarnya mencapai US$ 88 miliar.

“Langkah peningkatan nilai ekspor nasional menjadi salah satu kebijakan pemerintah saat ini, terutama dalam mengatasi neraca perdagangan yang sedang defisit,” kata Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, Rabu (18/7).

Untuk memperluas akses ekspor, lanjut Putu, Kemenperin telah memfasilitasi keikutsertaan industri komponen pesawat pada pameran tingkat internasional, yakni Farnborough International Airshow (FIA) 2018 di Farnborough. Keterlibatan dalam ajang FIA 2018 merupakan bagian dari desain besar dukungan pemerintah kepada industri nasional untuk mengakses rantai suplai global industri komponen pesawat terbang. Diharapkan pula dalam jangka panjang, industri nasional dapat terhubung dengan komunitas global industri aeronautika dan menjadi subkontraktor pengerjaan komponen pesawat terbang dunia.

“Industri komponen pesawat terbang merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan melalui pemanfaatan rantai suplai global,” jelas dia.

Oleh karena itu, kata Putu, Kemenperin berkolaborasi dengan KBRI Brussels untuk ikut berpartisipasi di ajang FIA 2018. Ajang ini diharapkan dapat menjadi sarana perluasan kerja sama bagi industri nasional di tingkat internasional.

Menurut dia, perusahaan-perusahaan yang terpilih untuk mengikuti FIA 2018 berasal dari beragam sektor, mulai yang bergerak di bidang aero structure, component, tools and gauge, avionics, precision parts, rubber-based components, hingga engineering services. Perusahaan tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia, PT Pudak Scientific, PT Santoso Teknindo, PT Chroma International, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Yogya Presisi Tehniktama Industri, dan PT Indonesia Polyurethane Industry.

"Secara umum, para pelaku industri komponen nasional memiliki potensi yang memadai untuk mengakses rantai suplai industri pesawat terbang dunia. Namun demikian, masih banyak yang perlu dibenahi, terutama sertifikasi dan dukungan pada kegiatan promosi internasional untuk membangun jejaring kerja dan memperkenalkan kemampuan industrinya," pungkas dia.

(Berita Satu)

Thales Australia is Looking to Develop Sonar Testing Facility

19 Juli 2018


Tasmania to established as location for trials and test facility for submarine and surface ship sonar systems (image : Naval Group)

Sonar Trials and Testing Facility in Tasmania

Thales Australia is looking to make Tasmania the home of a state-of-the-art trials and test facility for submarine and surface ship sonar systems.

Thales Australia, the University of Tasmania, Australian Maritime College and AMOG Consulting today signed a memorandum of understanding (MOU) to investigate the establishment of the facility.

The potential locations being investigated for the facility are located in the federal seat of Braddon and will create jobs and develop world leading expertise for the region. 

The Minister for Defence Industry, the Hon Christopher Pyne MP, who witnessed today’s signing, said this initiative further demonstrates the Turnbull Government’s investment in shipbuilding capability and sustainment is a truly national enterprise.

“Sonar systems are the eyes and ears of our submarines and ships and are key to giving them the edge they need,“ Minister Pyne said.  

“The Collins class sonar upgrade program is boosting defence industry confidence around Australia.”

“Contributions to Australia’s military capability from our defence industry come from all around the country and are not confined to our big cities.”

“Congratulations to everyone involved in delivering this great opportunity for the region.” 

“Initiatives like this help build Australia’s capability to deliver the Turnbull Government’s Naval Shipbuilding Plan,” said Minister Pyne.

Thales Australia advises the use of Tasmania’s deep, cold and acoustically quiet lakes for the proposed acoustic testing capability could enable sonar systems, including those currently delivered by Thales to be tested to new levels of accuracy.

(Aus DoD)

Lanal Balikpapan Dapat Kiriman 2 RIB

19 Juli 2018

2 unit kapal Sea Rider Rigit Inflatable Boat (RIB) untuk Lanal Balikpapan (photo : TribunNews)

Danlanal Balikpapan Tes 2 kapal RIB Sea Rider TNI AL di Perairan Teluk Balikpapan

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Lanal Balikpapan kedatangan 2 kapal baru untuk menjaga wilayah hukum di perairan mereka.

Kapal dengan kemampuan quick respon alias reaksi cepat sandar di Pelabuhan Semayang Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selasa (17/7/2018) Danlanal Balikpapan Kolonel Laut (p) Dewa Gede Oka mengecek langsung kemampuan 2 unit kapal Sea Rider Rigit Inflatable Boat (RIB).

Pemegang tongkat komando Lanal Balikpapan langsung menaiki RIB ditemani beberapa pejabat utama.

Ia duduk di seat paling depan, persis di sebelah Pasops Lanal Balikpapan Mayor FJ Da Costa selaku juru mudi.

"Kamis malam lalu datang. Kapal ini pemberian dari Dinas Perbekalan Angkatan Laut (Disbekal)," kata Kolonel Laut (P) Dewa Gede Oka.

Kapal buatan asli Indonesia dengan cepat membelah laut di perairan Teluk Balikpapan.

Kapal ini mampu melaju hingga kecepatan 45 knot di atas laut.

Dengan kecepatan tinggi kapal RIB angkatan laut ini, masih stabil membelah laut.

Gelombang laut yang saat itu cukup tinggi, tak memperlambat laju RIB TNI AL.

"Saya langsung coba, hasilnya kita cukup puas dengan performa kapal yang diberikan ke Lanal Balikpapan," tuturnya.

Kapal jenis Sea Rider RIB TNI AL, untuk reaksi cepat kejadian di laut. Bisa untuk menangkal kejahatan yang terjadi di laut, insiden kecelakaan, maupun dipergunakan untuk SAR dan Rescue.

Rencananya 2 kapal RIB tersebut bakal ditempatkan terpisah.

"Satu kita tempatkan di perairan Lanal Teluk Balikpapan. Satu lagi kita tempatkan di Samarinda," ujarnya.

Kendati baru saja mendapatkan alutsista baru dari Disbekal, Danlanal mengatakan untuk menjaga perairan seluas 53 ribu km di wilayah hukumnya, masih dirasa kurang.

"Ya, untuk alut kita masih kurang dengan wilayah peraian yang kita miliki," tuturnya.

Ia berharap dengan kedatangan 2 unit RIB TNI AL, bisa meningkatkan kesiapan dan kesiagaan merespon kejadian di perairan wilayah hukum Balikpapan.

(TribunNews)

Meggitt Signs Official Contract for Supply of Fire Detection Systems to KF-X Jet Fighter

19 Juli 2018


KF-X fighter (image : KAI)

 Meggitt PLC, a leading international company specialising in high performance components, has signed a contract with Korea Aerospace Industries (KAI) for the supply of Fire Detection and Bleed Air Leak Detection systems for the KF-X jet fighter. The contract signing took place in the Meggitt chalet at Farnborough Air Show.

The KF-X is South Korea’s first indigenous jet fighter and is scheduled to start production in the mid 2020s. This contract follows a number of other business awards on this platform.

In February this year Meggitt announced it had secured a contract for the supply of wheels and lightweight carbon brakes and more recently, Meggitt Sensing Systems finalised a multi-million dollar contract for the design, development and supply of standby flight displays, engine displays and heading sensors for this multirole fighter jet.

Meggitt Sensing Systems President, Chris Allen commented: “These awards are proof of the excellent relationship we have with KAI, which has been developed on the KT-1 turboprop family and the Surion and Light Attack helicopters. We look forward to working with KAI on their Multirole KF-X fighter.”

(Meggitt)

SoKor Eyes Supplying PHL with Helicopters, Submarines

19 Juli 2018


Surion helicopter (photo : KAI)

SoKor to help modernize PH defense capability

MANILA -- One of the Philippines’ closest allies, South Korea, will help the country modernize its defense capability, particularly the acquisition of new helicopters and submarines.

This was confirmed by South Korean Ambassador to the Philippines Han Dong-Man in an exclusive interview over the weekend with the Philippine News Agency (PNA).

“Korea is now looking to provide helicopters, small firearms and eventually submarines, since Korean military gear and arsenal are cost-effective and would contribute to enhancing the defense capability of the Philippines,” Han said.

The Philippines had bought a dozen of brand new FA-50 jetfighters from South Korea for the Philippine Air Force (PAF).

The FA-50s were extensively used during the Marawi siege last year, blasting away ISIS-linked Maute terror group that occupied the southern Philippine city for almost five months before they were crushed by the Armed Forces of the Philippines (AFP) and the Philippine National Police (PNP).

During the interview, Han said Korea is “very happy to be part of the modernization of the Philippine military by reinforcing the capability of the Air Force.”


Type 209 submarine (photo : south korean military)

“Even President Duterte and Defense Secretary Lorenzana were pleased with the Korean FA-50 fighter planes, which proved to be very effective in fighting terrorists in Marawi last year,” Han said.

“Korea will continue to be part of this modernization program by providing more military equipment,” he added.

Han thanked the Philippines anew for helping South Korea during the Korean War in 1950-1955, when the Philippines sent more than 7,000 combat troops that comprised the Philippine Expeditionary Force to Korea (PEFTOK).

“Today’s Korea would not be enjoying peace, democracy, and economic prosperity without the great and noble sacrifice of the Filipino Korean War veterans,” Han pointed out.

“When I met former President Fidel V. Ramos, who is a Korean War veteran, I, on behalf of the Korean people and government, expressed my deep gratitude to all the Korean War veterans as deserve the title of a “hero,” he added.

Han also acknowledged that “after the Korean War, many Filipino engineers and technicians came to Korea to help (build) a gymnasium and government complex, adding that “Koreans cannot forget their contribution in the process of Korean development.” 

(PNA)

18 Juli 2018

Taylor Bros Marine Signs OPV Contract

18 Juli 2018

12 OPV 80 will be built in Australia (photo : L├╝rssen Defence)

In a win for Tasmanian defence industry, Taylor Bros Marine has today announced the signing of a major contract with Luerssen Australia.

Taylor Bros will be involved in the design, production and installation of the accommodation spaces on Australia’s 12 Offshore Patrol Vessels.

“I’m pleased Luerssen Australia has brought Taylor Bros Marine on board for the 12 vessels,” Minister Pyne said.

“This marks the ongoing involvement of Taylor Bros in Australia’s continuous naval shipbuilding enterprise which has seen the company work on projects such as the LHD Amphibious Assault Ships and Air Warfare Destroyers.”

“This latest announcement provides Taylor Bros employee’s ongoing security and allows the company to retain its expertise in naval outfitting.”

The company currently employs 90 personnel with around 60 per cent of its work Defence related.

Luerssen Australia was selected by the Turnbull Government in November 2017 to design and build the Navy’s 12 OPVs.

The project, which is worth $3.6 billion, will be delivered by Australian workers, in Australian shipyards, using Australian steel.

Minister Pyne said it’s estimated the OPV project will employ up to 1000 Australian workers - 400 direct and 600 in the supply chain.

“Construction of the first OPV will commence this year at Osborne in South Australia using ASC.”

“The investment in our Navy, such as the OPVs, is a key part of the Turnbull Government's commitment to a safe and secure Australia.”

“The OPVs will have an important role protecting our borders with greater range and endurance than the existing patrol boat fleet.”

(Aus DoD)

PT PAL Fokus Garap Pasar Asia

18 Juli 2018

Produk LPD PT PAL (image : PAL)

RMOL. Produsen peralatan sistem pertahanan laut, PT PAL Indonesia (Persero) makin serius melebarkan sayap bisnisnya ke luar negari. Perusahaan sekarang konsentrasi bikin kapal perang.

Kapal perang yang sedang dirancang oleh perusahaan terse­but adalah kapal jenis Landing Platform Dock (LPD). Direktur Utama PT PAL Indonesia (Per­sero), Budiman Saleh menjelas­kan, usaha menarik pasar luar tidak mulus, karena ada kom­petitor untuk PT PAL.
"Saingan kita Singapura," tutur Direktur Utama PT PAL Indonesia (Per­sero) Budiman Saleh dalam keterangannya, kemarin.

Menurutnya, untuk merebut kepercayaan pasar ekspor tentu yang harus dilakukan perusahaan menjaga kualitas baik, bahkan meningkatkannya. "Kapal yang dirancang memiliki spesifikasi yang berbeda sesuai jenisnya," katanya. 

Budiman mengungkapkan, kapal perang jenis LPD menarik minat negara tetangga. Minat itu antara lain datang dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Untuk Malaysia sudah ada kontrak pesanan kapal perang jenis LPD yang dinamakan Multirole Sup­port Ship (MRSS). Kapal MRSS sudah dibuat sejak tahun lalu dengan panjang 163 meter.

"Ada 2 unit LPD MRSS yang dibutuhkan Malaysia, bahannya berkualitas dan lebih panjang yang memiliki kemampuan di antaranya pendaratan pasukan dan melakukan pendaratan pa­sukan helikopter serta tank," jelasnya.

Dia menyebutkan bahwa nama besar PT PAL dipertaruhkan dalam produk yang dibuatnya. Untuk itu perusahaan berhati-hati menjaga kualitas produksi. "Dan LPD MRSS ini paling besar di ASEAN, alhamdulillah dalam beberapa putaran ranking 1," katanya.

Budiman berharap proyek kapal terbesar tetap menjadi proyek prioritas pemerintahan Malaysia di bawah Mahathir Mohammad. "Kita berharap pe­merintahan baru, Pak Mahathir masih menganggap project ini project prioritas. Karena ada pergeseran dari Pak Najib ini prioritas dan sekarang ada yang diubah, ada yang dibatalkan. Kita berharap RMSS prioritas nomor 1," harap dia.

PT PAL juga sedang berusaha mendapatkan kontrak kerja pem­buatan kapal perang Pemerintah Thailand dan bersaing dengan negara Singapura. "Thailand butuh 143 meter, saingan kita Singapura. Thailand sedikit ber­beda dari pesanan lain karena dia harus mampu untuk penurunan pasukan, bisa suplai bahan bakar dari air serta kapal selam serta charging baterai dan submarine rescue," ungkapnya.

Untuk Thailand, pihaknya berharap dalam waktu dekat ada kunjungan langsung ke PT PAL. Tujuannya agar negeri Gajah Putih itu bisa melihat langsung produk kapal jenis LPD. 

"Kalau kita berharap supaya di September sampai Oktober ada sinyal dari mereka agar mereka berkunjung dan melihat LPD kita langsung, karena see­ing is believing," katanya.

Budiman bilang jika calon konsumen tidak melihat lang­sung maka peluang untuk mem­beli buatan Indonesia sangat tipis. Kenapa?

Karena negara kompetitor menurutnya akan mengagung­kan buatan negerinya sendiri dan menilai kualitas Indonesia di bawah mereka.

"Kompetitor kita selalu cerita PT PAL belum punya kemam­puan yang multiplatform seperti itu. Padahal, secara engineering kapabiltiti menggunakan soft­ware bisa kita lakukan," ujar Budiman.

Sedangkan di Filipina beren­cana membeli 2 unit kapal jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) dengan spesifikasi sama dengan kapal yang sebelumnya dibuat oleh PT PAL. "Tapi mereka me­nanyakan ke Korea dan Belanda. Tentu kami melakukan peruba­han baik geometrik, desain dan kemampuan spesifikasinya. Teknologi kan berubah dan makin maju," tambah dia.

Ia pun optimistis Filipina akan melakukan pemesanan kapal jenis SSW ke PT PAL. Budiman sudah bertemu dengan Men­teri Pertahanan Filipina yang bangga dengan dua kapal SSV sebelumnya buatan PT PAL. Untuk investasi, anggaran dana talangan sudah ada dan siap digunakan kapan saja dengan nilai Rp 5,7 Triliun.

"Investasi kita sudah ada, modal kerja kita punya dukungan ekspor-impor, Jasindo dan Askrindo Rp 5,7 triliun yang siap dipakai kapanpun," katanya.

(RMOL)