13 Juli 2024

Menhan Malaysia Sampaikan Hasrat Perolehi FA-18C/D Kepada Duta Besar Kuwait

13 Juli 2024

Pesawat FA-18/D Kuwaiti Air Force (photo: Stephan de Bruijn)

Kuala Lumpur - YB Khaled Nordin, Menteri Pertahanan Malaysia telah menerima kunjungan hormat daripada Tuan Yang Terutama Rashed Mohammed Rashed AlSaleh, Duta Besar Kuwait ke Malaysia di Pejabat Menteri Pertahanan.

Dalam pertemuan tersebut, YB Menteri Pertahanan dan TYT Duta Besar Kuwait bersetuju untuk meningkatkan kerjasama pertahanan dua hala melalui Memorandum Persefahaman (MoU) dalam bidang Kerjasama Pertahanan dan supaya dipercepatkan proses bagi memuktamadkan draf MoU agar dapat dimeterai antara kedua-dua negara pada awal tahun 2025.

Menteri Pertahanan Malaysia Duta Besar Kuwait (photo: Mal MoD)

YB Menteri Pertahanan juga mengesahkan hasrat Malaysia bagi memperolehi F/A-18C/D Legacy Hornet milik Kuwait Air Force (KAF) dan hasrat ini disambut baik oleh TYT Duta Besar Kuwait. 

Perolehan Legacy Hornet KAF ini dijangka akan dapat mengukuhkan lagi hubungan kerjasama pertahanan antara Malaysia dengan Kuwait selain bertukar-tukar maklumat berkaitan geopolitik dan keselamatan di rantau Asia Barat mengambil kira pendirian Kuwait yang tidak mengambil pihak mirip kepada pendirian Malaysia.

YB Menteri Pertahanan dan TYT Duta Besar Kuwait juga bersetuju supaya program pertukaran pegawai tentera diaktifkan semula melalui tawaran kursus dan latihan terutamanya di kalangan tentera udara kedua-dua negara.

(Mal MoD)

RTAF Memilih Saab Gripen E Dibandingkan LockhedMartin F-16 Block 70

13 Juli 2024

Saab Gripen E/F atau yang dulu dikenal sebagai Gripen NG (photo: SAAB)

Royal Thai Air Force (RTAF)/Angkatan Udara Kerajaan Thailand memilih model Saab Gripen E sebagai jet barunya, daripada F-16 Block 70 milik Amerika Serikat. Setelah Swedia dan Brazil, JAS-39 Gripen E akhirnya dapat menemukan calon pelanggan baru:

Hal inilah yang ditunjukkan oleh laporan yang disampaikan oleh Marsekal Phanphakdee Phattanakul, komandan RTAF, kepada Menteri Pertahanan Sutin Klungsang dan Perdana Menteri Srettha Thavisin. Dokumen tersebut menempatkan Gripen E sebagai pilihan terbaik, kata sumber RTAF kepada Bangkok Post.

Menurut pihak militer, Marsekal dan pimpinan seniornya berada di Parlemen pada Rabu (10) ini untuk menjelaskan rencana anggaran tahun anggaran 2025. Ketika ditanya tentang kemajuan pembelian pesawat baru tersebut, Marsekal Phattanakul mengatakan dia berbicara dengan Menteri Sutin dan menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan pro dan kontra dari Gripen dan F-16, termasuk dukungan tambahan yang akan diberikan oleh angkatan udara yang telah menerima perspektif dari produsennya masing-masing.

Thailand sedang mencari pengganti 12 pesawat tempur veteran F-16A/B Fighting Falcon miliknya. Pengganti alaminya adalah F-16 Block 70, versi terbaru dari jet Amerika yang populer. Amerika bahkan menawarkan model tersebut dalam bentuk sewa, namun tingkat suku bunga operasi membuat Thailand enggan melakukannya, yang juga sudah mengoperasikan pesawat tempur Saab Gripen dalam versi JAS-39C/D.

Meskipun RTAF telah menetapkan Gripen sebagai favoritnya, keputusan akhir ada di tangan Menteri Pertahanan. Menurut Marsekal Phattanakul, setelah keputusan dibuat, Perdana Menteri akan memutuskan apakah dia atau Menteri Sutin yang akan menjelaskan keputusan mengenai pembelian pesawat tempur baru tersebut kepada publik.

Sebelumnya bernama Gripen NG, Gripen E hanya menemukan dua pelanggan sejak diluncurkan. Swedia mengakuisisi 60 pesawat, sementara Angkatan Udara Brasil membeli 36 jet dan sedang mencari pembelian batch baru. Brazil telah menerima delapan pesawat, tujuh di antaranya dalam pelayanan dengan Força Aérea Brasileira-FAB/Angkatan Udara Brazil.

12 Juli 2024

Nova Systems Tests AI-Enabled Drones

12 Juli 2024

AI technology which enables drones to detect landmines from above (photos: Nova Systems)

AI-enabled drones tested in Latrobe Valley

Cutting-edge Artificial Intelligence (AI) technology which enables drones to detect landmines from above has been tested in Latrobe Valley.

The image recognition technology equips Uncrewed Aerial Vehicles (UAVs or drones) with the ability to detect and differentiate between real landmines and other objects such as rocks or debris, with the potential to significantly minimise risk for Defence personnel and civilians. 

Developed in-house by Nova Systems engineers, the AI tool has been undergoing testing at Latrobe Valley within the company’s deployable UAV Testing Range as a part of ongoing capability development and system improvement.  

Veteran-founded and Australian-owned company Nova Systems is a leading Australian provider of Test and Evaluation (T&E) services and has been a trusted T&E partner to Defence for more than 20 years 

Through its T&E Centre of Excellence initiative – a collaboration with academia, industry and government - the company has been investing in both physical and synthetic methods for performing T&E on autonomous and uncrewed systems-of-systems. This also includes underwater autonomous vehicles.  

Nova Systems CEO Dean Rosenfield says as UAVs can cover large areas quickly, they provide real-time surveillance without endangering human lives. 

“The integration of artificial intelligence and autonomous systems into the Australian Defence Force is not just a strategic choice, but an imperative,” Mr Rosenfield explained.  

“Testing UAVs and other complex systems in a real-world environment provides the ability to assess the full potential of the capability.  

“The ability to innovate, develop and test our own AI technology for UAVs in Australia is a strategic advantage.  

“It helps secure the nation’s advanced technological capabilities and the long-term sustainability of the Australian specialist workforce through contemporary training and development.” 

Through its T&E Centre of Excellence collaborations, Nova is supporting the acceleration of testing capabilities of emerging technologies such as AI, machine learning and uncrewed systems.

(Nova Systems)

Exercise Pitch Black 2024 Takes Off

12 Juli 2024

Thailand send five JAS-39 Gripen fighter (photo: RTAF)

Australia’s biggest international air combat training activity, Exercise Pitch Black, will take to the skies over the Northern Territory from 12 July to 2 August.

With approximately 140 aircraft and over 4000 personnel from 20 nations participating, this year’s iteration of Exercise Pitch Black is the largest participation in its 43-year history.

Singapore send F-16 C/D and F-15 SG fighters (photo: Aus DoD) 

This exercise exposes participants to complex scenarios whilst utilising some of the most advanced aircraft and battlespace systems, in one of the biggest areas of military training airspace in the world.

For the first time, aircraft and personnel from Philippines, Spain, Italy, and Papua New Guinea and embedded personnel from Fiji and Brunei will participate in the exercise.

Philippine send four FA-50PH fighter (photo: Aus DoD)

In addition, aircraft from France, Germany, India, Indonesia, Japan, Malaysia, Republic of Korea, Singapore, Thailand, United Kingdom, United States; and embedded personnel from Canada and New Zealand will also participate.

Aircraft will operate from RAAF bases Darwin and Tindal in the Northern Territory, with additional tanker and transport aircraft at RAAF Base Amberley in Queensland.

Malaysia send three FA-18D fighter (photo: Aus DoD)

“Exercise Pitch Black is our premier activity for international engagement, held every two years to build stronger ties with like-minded nations,” Exercise Director Air Commodore Peter Robinson said.

Papua New Guinea send PAC P-750XL aircraft (photo: Aus DoD)

“Training with our partner nations throughout Exercise Pitch Black demonstrates our commitment to the shared value of sustaining peace and stability across the region.

Japand send F-2 fighter (photo: Aus DoD)

“The Northern Territory is a big part of what makes this exercise a success, and allows visitors a unique opportunity to experience Australia.”

Italy send AV-8B Harrier, F-35A, and Eurofighter Typhoon fighters (photo: Aus DoD)

“Air Force will show its sincere thanks to our local community through the Mindil Beach flying display on 18 July, and the RAAF Base Darwin Open Day on 20 July.” (Aus DoD)

F-16 of the Indonesian Air Force (photo: Aus DoD)

Delegasi TNI AU Tiba di RAAF Base Darwin

Delegasi TNI AU pada latihan Air Manuever Exercise (AMX) Pitch Black 2024 tiba di Royal Australian Air Force (RAAF) Base Darwin, Northern Territory, Australia, Kamis (11/7/24).

Setibanya di RAAF Base Darwin, delegasi TNI AU yang dipimpin oleh Head of Delegation, Kolonel Pnb M. Anjar Legowo dan Exercise Director, Kolonel Pnb Marcellinus Ardha Kilat Dirgantara, MMSc disambut oleh Direktur Latihan AMX Pitch Black 2024, Air Commodore Peter Robinson.

Indonesia send six F-16 A/B/C/D fighter (photo: Aus DoD) 

Latihan Pitch Black merupakan latihan perang multinasional yang diselenggarakan RAAF dua tahun sekali dengan tujuan meningkatkan kemampuan dan interoperabilitas angkatan udara negara-negara peserta.

Latihan melibatkan 140 pesawat dari 20 negara, termasuk Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Fiji, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Papua Nugini, Filipina, Korea Selatan, Spanyol, Singapura, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat.


Dalam latihan ini, TNI AU mengerahkan enam pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan 107 personel, yang terdiri dari 12 personel Kolat, 22 penerbang, dan 73 ground crew.

Partisipasi TNI AU menunjukkan komitmen untuk memperkuat kerjasama militer dan diplomasi pertahanan, serta meningkatkan kemampuan tempur dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan di masa depan. (TNI AU)

TNI AU Tempatkan Radar-radar Baru di Sekitar IKN dan Indonesia Timur

12 Juli 2024

Thales Groundmaster 400 Alpha versi truck mounted (photo: Thales)

Jakarta (ANTARA) - TNI Angkatan Udara berencana menempatkan radar-radar baru buatan Thales dan Retia di beberapa lokasi di Indonesia, diantaranya di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) dan di wilayah Papua seperti di Sorong dan Jayapura.

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Andyawan Martono Putra saat ditemui di kompleks Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu, menjelaskan radar-radar buatan Thales, Perancis, nantinya ditempatkan di kawasan yang berbeda dengan radar-radar buatan Retia, Ceko.

“Kami ada dua (pengadaan, red.), ada pengadaan dari Thales, satu lagi dari Eropa Timur sehingga nanti kita bagi yang di Eropa Timur di mana dan sebagian dari Eropa (Barat, red.) sehingga nanti semua terkelompok,” kata Andyawan menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers selepas acara Kasau Awards 2024.

Dia menyebutkan beberapa tempat yang direncanakan menjadi lokasi radar, diantaranya di Sorong, Papua Barat Daya; Jayapura, Papua; dan Tambolaka, Nusa Tenggara Timur.

“Ada daerah Sumatera, ada lengkap semuanya,“ kata Wakil KSAU.

Dia menambahkan beberapa radar baru yang dibeli Indonesia dari Perancis dan Ceko juga akan menggantikan radar-radar lama yang saat ini memperkuat pertahanan udara Indonesia.

“Ada beberapa yang nanti mengganti radar-radar kita yang lama. Radar kita yang lama teknologinya dari 1970-an, 1980-an, kita ganti,” kata Andyawan.

Sementara itu, terkait penempatan radar untuk pertahanan udara di IKN, Wakil KSAU menyatakan radar untuk IKN tidak ditempatkan di Ibu Kota Nusantara, melainkan di sekitar IKN.

“Penempatannya, sudah kami rapatkan, tentunya tidak di IKN, tetapi sekitar IKN sehingga nanti bisa mem-back up wilayah udara sekitar IKN. Kami juga sudah punya perspektif pertahanan udara di sekitar IKN. Tidak hanya radar, tetapi ada penugasan pesawat di sana, air defense weapon ada di sana,” kata Wakil KSAU.

Kementerian Pertahanan RI membeli 13 radar GCI dari Thales dan 12 radar dari Retia Ceko untuk memperkuat pertahanan udara Indonesia. Dalam pengadaan radar GCI, Thales bekerja sama dengan PT Len Industri untuk memproduksi 13 radar tersebut.

Octopath diproduksi di PT Len 
Direktur Utama PT Len Industri Bobby Rasyidin dalam sesi jumpa pers bersama jajaran direksi Defend ID di Jakarta, awal Juli 2024, menjelaskan pengadaan radar GCI pesanan Indonesia saat ini masuk tahap produksi. “Progress-nya bisa dibilang 70–80 persen,” kata Bobby.

Dia melanjutkan dalam kerja sama produksi radar GCI, PT Len juga memproduksi komponen utama radar yang disebut octopath.

“Octopath itu kita produksi sendiri. Jadi, komponen utamanya radar itu produksi dalam negeri,” kata dia.

Tidak hanya itu, perakitan akhir (final assembly) dari 13 radar Ground Control Interception (GCI) GM-403 pesanan Indonesia dari Thales juga berlangsung di fasilitas milik PT Len Industri di Len Technopark, Subang, Jawa Barat.

Pertemuan Kedua, CSSC Memberi Diskon Besar Kapal Perusak Jika Jakarta Membeli Kapal Selam S26T

12 Juli 2024

Kapal perusak Type 052D (photo: Zona Militar)

Pejabat dari China State Shipbuilding Corporation (CSSC) telah menghadiri pertemuan kedua dengan Kementerian Pertahanan Indonesia (MoD) untuk membahas tawaran kapal selam diesel-listrik (SSK) S26T yang awalnya dibuat untuk Thailand.

Dokumen yang diberikan kepada Janes oleh sumber yang dekat dengan masalah tersebut menunjukkan bahwa pertemuan kedua berlangsung pada tanggal 4 Juli di kantor Kementerian Pertahanan yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat di Jakarta.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pejabat senior Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut Indonesia, namun yang tidak hadir dalam daftar hadir adalah para flag officers/perwira bendera dari dinas tersebut.

Janes juga mengetahui bahwa pejabat CSSC kini telah mempermanis tawaran mereka kepada Kementerian Pertahanan dan akan memasok kapal perusak Tipe 052D kepada Angkatan Laut Indonesia dengan harga diskon besar jika Jakarta membeli S26T SSK.

S26T mempunyai panjang 77,6m dan bobot penuh 3.600 ton lebih besar dari Scorpene yang mempunyai panjang 70,62m dan bobot penuh 1.900 ton (photo: ChinaMil)

Janes pertama kali melaporkan pada bulan Januari 2024 bahwa China tampaknya sedang mencari pembeli baru untuk kapal selam tersebut, dan perusahaan tersebut telah menyampaikan undangan kepada Panglima Angkatan Laut Indonesia, Laksamana Muhammad Ali, untuk mengunjungi fasilitas tempat kapal tersebut sedang dibangun.

Mengingat undangan ini tidak ditanggapi, CSSC membuat janji untuk bertemu dengan pejabat Kementerian Pertahanan Indonesia pada tanggal 28 Juni, di mana presentasi resmi mengenai tawaran ini dilakukan kepada pejabat senior Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut Indonesia.

Sebagai bagian dari tawarannya, CSSC telah menyiapkan paket modifikasi yang memungkinkan S26T SSK untuk mengerahkan dan meluncurkan rudal jelajah anti-kapal yang diluncurkan dari tabung torpedo YJ-18 buatan Tiongkok.

11 Juli 2024

Embraer and TAI Signed MoU for MRO of C-390 Millennium and ERJ 135/ERJ 145 Transport Aircraft

11 Juli 2024

Signing MoU between Embraer and TAI (photo: TAI)

Thai Aviation Industries Co.,Ltd (TAI) signed a Memorandum Of Understanding (MOU) on developing business cooperation with Embraer Defense & Security 

Air Chief Marshal Phibun Worawanpreecha, Managing Director, signed a memorandum of understanding on the development of business cooperation between TAI and Embraer on 2 April 2024 in Brazil to increase capabilities and develop skills to become a Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) center for aircraft manufactured by Embraer Defense & Security, including C-390 Millennium and ERJ 135/ERJ 145 transport aircraft in the future.

Embraer Defense & Security also visited TAI facilities at Wing 4 Takhli Royal Thai Air Force Base in Nakhon Sawan Province, Thailand on 27 May 2024. 

There are already Thai government agencies that are users of aircraft manufactured by Brazil's Embraer, including the Royal Thai Army's ERJ 135 LR general aviation aircraft and the ERJ 135 LR transport aircraft of Squadron 201, Wing 2, Royal Thai Navy. The establishment of a Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) center in Thailand will greatly benefit the Thai aviation industry.

The signing of the Memorandum of Understanding (MOU) on April 2, 2024 in Brazil and the visit to the Takhli Aircraft Maintenance Center, Wing 4 in Nakhon Sawan Province, Thailand on May 27, 2024, show that Embraer Brazil sees opportunities for its C-390 Millennium transport aircraft with the Royal Thai Air Force.

However, the latest Royal Thai Air Force White Paper 2024 does not provide details on the project to procure a new transport aircraft to replace the C-130H. There is also a project to improve the capabilities of the C-130H Phase 3 as mentioned above. This makes it seem that there is still no sign indicating that there will be a project to procure a new transport aircraft anytime soon.

(AAG)