22 Juli 2018

Lanud El Tari Kupang Jadi Lokasi Sukhoi Subjec Method Expert Exchange (SMEE)

22 Juli 2018


Sukhoi SU-30MKI Indian Air Force (photo : Tribun)

Pangkalan Udara (Lanud) El Tari Kupang menjadi tuan rumah Sukhoi Subject Method Expert Exchange (SMEE) antara angkatan udara Negara India (Indian Air Force/IAF) dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU) selama empat hari yang dimulai pada Jumat (20/7/2018).

Armada pertama angkatan udara India (IAF) tiba di Apron Lanud El Tari Kupang menggunakan sebuah pesawat angkut Indian Air Force dengan nomor penerbangan C-130 J pada Jumad (20/7/2018) sekira pukul 13.50 Wita.

Kemudian menyusul empat pesawat tempur canggih Sukhoi 30MKI milik IAF sekira satu jam sesudahnya. Pesawat tempur pertama Sukhoi 30MKI dengan nomor penerbangan SB 307 tiba dahulu pada pukul 15.00 Wita.

Kemudian berturut turut Sukhoi SB 323, Sukhoi SB 048 dan terakhir Sukhoi SB 184 tiba pada 15.30 Wita. Sedangkan sebuah pesawat pendukung lainnya milik IAF baru tiba di Lanud El Tari pada Jumad petang.

Komandan Lanud El Tari Kolonel (Pnb) Arif Hartono SH kepada wartawan usai menyambut rombongan tim penerbang Sukhoi Indian Air Force (IAF) di Apron Lanud El Tari Kupang, Jumad 920/7/2018) siang mengungkapkan, kedatangan tim penerbang IAF ke Lanud El Tari Kupang dalam rangka kerjasama dengan TNI Angkatan Udara untuk diskusi dan sharing bersama penerbang TNI AU.

Kegitan ini merupakan bagian kerjasama pelatihan bersama diantara angkatan udara Negara India dan Indonesia dalam bentuk Sukhoi Subjec Method Expert Exchange (SMEE).

"Kita banyak bekerjasama dengan Australia dan Singapura, tetapi sekarang kita join dengan India dalam SMEE, dimana yang expert dalam bidang penerbangan Sukhoi kemudian berdiskusi di Kupang (Lanud El Tari) untuk mendiskusikan tentang manufer, keselamatan terbang, dan segala macam hal (terkait penerbangan), sehingga dapat meningkatkan profesionalisme penerbang," ungkapnya.


Sukhoi SU-30MKI Indian Air Force (photo : defensenews alert)

Arif melanjutkan, dari kegiatan SMEE ini, Mabes AU mengharapkan kemampuan dari para penerbang di Squadron 11 Hasanudin dapat bertambah karena adanya diskusi dan sharing.

"Diharapkan oleh Mabes AU, penerbang dari Squadron 11 yaitu di Hasanudin ini kemampuannya bertambah karena ada diskusi dan sharing. Kemudian diharpakan juga ke depannya apabila personelnya hebat, maka tujuan pertahanan dan keamanan yaitu menjaga keamanan dirgantara akan semakin sukses," ungkapnya.

Makanya besok kita rencana akan diskusi, tukar pendapat, sharing, berbicara tentang taktikbertempur dan lain sebagainya sehingga kita bisa saling melengkapi, tujuannya dari diskusi itu adalah meningkatkan profesionalisme baik angkatan udara Indonesia maupun angkatan udara India

Komandan Squadron Sukhoi Indonesia / Squadron 11 Hasanudiin Makasar Letnan Kolonel (Pnb) Anton Palaguna yang menjadi komandan tim Sukhoi Indonesia dalam kegiatan ini mengungkapkan, dari hasil pertemuan dan diskusi ini, akan dilihat poin-point hasil yang dapat menjadi bahan kerjasama selanjutnya yang lebih advance untuk kedua angkatan.

"Dalam rangka Sukhoi SMEE ini, yang dianggapexpert dalam hal penerbangan khususnya penerbangan Sukhoi India dan Sukhoi Indonesia, kami akan melakukan pertemuan dan melaksanakan diskusi, bertukar pikiran sehingga dari sana akan dilihat apa saja poin-poin yang bisa ditingkatkan, karena ke depan kita akan tindaklanjuti kerjasama ini dengan yang lebihadvance," ungkapnya.

Pilihan lokasi kegiatan Sukhoi SMEE Indian Air Force dan Squadron 11 Hasanudin Makasar jatuh ke Kupang, karena pertama, ini (Lanud El Tari) adalah pangkalan acu yang strategis bagi mereka dan yang kedua, armada Sukhoi IAF menginginkan tukar pikiran dengan pilot-pilot Sukhoi Indonesia sebelum bertolak ke Darwin untuk melaksanakan latihan Internasional bersama 160 negara.

Kegiatan SMEE sendiri akan dilaksanakan selama empat hari sejak Jumad (20/7/2018) hingga Senin (23/7/2018).

Setelah SMEE, armada pasukan IAF akan melanjutkan perjalanan ke Darwin untuk latihan Internasional tersebut. Dalam armada yang terdiri dari 130 personel itu, terdapat airman, marshal ground serta team support IAF. (*)

(TribunNews)

Tingkatkan Pertahanan, Bangun Lanal Tipe D di Pangandaran

22 Juli 2018


Dermaga BojongSalawe (photo : KabarPriangan)

PANGANDARAN – Pos Angkatan Laut (AL) akan ditingkatkan menjadi Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) tipe D. Peningkatan status itu untuk meningkatkan pertahanan di kawasan perairan Pangandaran yang berdekatan dengan Australia.

”Karena di sini (Pangandaran) juga kan sedang dibangun dermaga (Bojongsalawe), maka akan dibangun Lanal Tipe D dengan pangkat mayor,” jelas Danlantamal III Jakarta Laksamana Pertama Denih Hendrata kepada wartawan Kamis (19/7). Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Pangandaran sudah mendukung rencana tersebut dengan menyediakan lahan seluas tiga hektare.

Lanjut dia, ke depan untuk penambahan kekuatan, armada di Pangandaran bukan tidak mungkin ditambah. Menurut dia, Pangandaran yang berbatasan langsung dengan Australia harus memiliki alutsista yang lebih untuk pertahanan. ”Ke depan barangkali perlu disiapkan mulai dari kapal patroli dan lain-lainnya. Tentunya ini demi kedaulatan negara kita,” tegasnya.

Sementara itu, dalam kunjunganya ke Pangandaran, Danlantamal III juga mengisi kegiatan bakti sosial, sosialisasi proxy war dan bahaya narkoba serta penerimaan prajurit TNI AL. ”Kami harapkan ke depan penerus prajurit TNI AL itu dari Pangandaran yang istimewa, yang dikenal sebagai anak pantai,” ungkapnya.

(Radar Tasikmalaya)

RMN's KD Mutiara Decommissioned After 41 Years of Service

22 Juli 2018


The KD Mutiara has travelled 220,000 kilometres – which is equal to sailing six times around the world. (photo : NST)

LUMUT: After serving the Royal Malaysian Navy (RMN) for 41 years, the hydrographic vessel KD Mutiara was decommissioned today.

The official decommissioning ceremony was a nostalgic event, said RMN chief Admiral Tan Sri Ahmad Kamarulzaman Ahmad Badaruddin.

“This ceremony is (in honour of KD Mutiara’s service to the country). Such ceremonies (are held) by navies around the world when vessels reach their ‘expiry dates,” he said at a post-ceremony press conference at Tambatan Pangkalan TLDM, here, today.

The ship, which was built in 1975 and launched on Nov 13, 1976, is equipped with technology to carry out offshore operations and oceanographic studies in tropical seas.

“The ship served (for) 41 years, which is a long period. In some developed countries, ships only (serve) for 20 years.

“The KD Mutiara was kept in service thanks to a cost-effective cost maintenance plan,” he said, adding that he congratulated the navy for maintaining the ship well.

KD Mutiara hydrographic vessel (photo : Malaysian Times)

“I feel so proud, because the ship (still) looks good. A good maintenance-culture has been embraced by the navy. (It sends the message that) we always take care of government assets,” Kamarulzaman added.

Asked about what lies ahead for the ship, the RMN chief said it may be taken over by “several interested parties.”

The KD Mutiara has travelled 220,000 kilometres – which is equal to sailing six times around the world.

It carried out 146 Hydrographic Instructions covering 68,598 square kilometres of the ocean.

Most notably, the ship was part of a fleet assigned to search for MH370 in the Indian Ocean after it went missing on March 8, 2014.

In addition, the KD Mutiara assisted in the search of the YTC M5, which collided with a trading vessel and capsized near Kuantan, Pahang on Nov 2, 2014. It successfully detected the wreckage at a depth of 29 metres, 9.2 nautical miles from Tanjung Gelang, Kuantan.

(NST)

21 Juli 2018

Marinir Indonesia – Amerika Berlatih Menembak Senjata Bantuan di Hawaii

21 Juli 2018


Latihan tembak senjata bantuan dalam RIMPAC 2018 (photos : TNI AL)

Dispen Kormar (Hawaii). Prajurit Korps Marinir TNI AL yang tergabung dalam Satgas Latma Multilateral Rim Of The Pacific (Rimpac) 2018 melaksanakan latihan menembak Senjata Bantuan (Senban) di pusat latihan militer US Army di Pohakuloa Training Area, Hawaiian Island, Hawaii, Amerika Serikat. Jumat (20/07/2018).


Materi menembak Senjata Bantuan yang dilatihkan meliputi menembak Mortir 60 mm, General Purpose Machine Gun (GPMG), GLM, Rocket Propelled Grenade (RPG)-7 dan Senjata Mesin Ringan (SMR). Dalam menembak senjata bantuan tersebut selain diikuti prajurit Marinir TNI AL dan USMC, juga diikuti prajurit dari Malaysia dan Srilanka.

Dalam materi menembak RPG-7, Komandan Kompi Pasrat Mayor Marinir Afrison Taufik didampingi Kopka Marinir Y. Haryo menjelaskan karakteristik dan penggunaan senjata serta penanganan bila mengalami gangguan, kemudian dilanjutkan dengan praktek menembak senjata RPG-7.


Selain menembak RPG-7, juga dilaksanakan menembak GLM dan Mortir 60 mm, didahului dengan penyampaian materi pengenalan karakteristik senjata, penggunaan senajata dan penanganan bila mengalami gangguan granat tidak keluar dari laras (pesenta) yang dipraktekkan langsung oleh prajurit Marinir TNI AL Serka Mar Gonggo Triyono, Serda Mar Fredy Laluas, Kopda Mar Cecep Supriyadi, dan Praka Mar Dobi Marta Kusuma.

Mayor Marinir Afrison Taufik saat memimpin dan mengawasi penembakan mengatakan, menembak senjata bantuan merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilatihkan dalam Latma Multilateral Rimpac 2018. Selain menembak senjata bantuan juga dilaksanakan menembak sniper, menembak reaksi dan manuver pasukan tingkat kelompok hingga regu.


Sementara itu, Komandan Satgas Rimpac Mayor Marinir Aristoyuda mengatakan, kemampuan menembak perorangan maupun menembak senjata bantuan merupakan materi yang dilatihkan dalam Latma Multilateral Rim Of The Pacific (Rimpac) 2018. Di Pohakuloa Training Area ini, prajurit Marinir Indonesia melaksanakan tahap Force Integration Training (FIT) di mana Korps Marinir TNI AL mengirimkan 218 prajurit, 8 unit amphibious assault vehicles LVT-7 dan 2 pucuk meriam howitzer 105 mm.

Materi latihan tersebut, lanjutnya, merupakan rangkaian kegiatan prajurit Korps Marinir TNI AL bersama-sama dengan prajurit Marinir dari beberapa negara lain yang telah melewati tahap Harbor Phase di Marine Corps Base Hawaii (MCBH) yang pada puncak latihan akan diakhiri dengan kegiatan pendaratan amfibi di Pyramid Rock Beach yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2018.


“Secara umum, rangkaian kegiatan latihan dalam Rimpac 2018 ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan taktis prajurit dalam mencapai profesionalisme dan mempererat hubungan Marinir di kawasan Asia – Pasifik sesuai dengan motto Rimpac 2018 capable, adaptive and partners,” pungkasnya.

(Marinir)

BPPT Serahkan Rekomendasi Desain Standardisasi Kapal Cepat Rudal (KCR-60) ke Kementerian Pertahanan

21 Juli 2018


KRI Halasan 630, Kapal Cepat Rudal TNI AL jenis KCR-60M (all photos : Jamil Jaafar)

Masih dalam rangkaian Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2018, kali ini di bidang teknologi industri pertahanan dan keamanan (Hankam), BPPT menyampaikan dokumen rekomendasi desain untuk standardisasi Kapal Cepat Rudal 60 meter (KCR-60).

Penyerahan Rekomendasi desain KCR-60 ini digelar pada sesi Sidang KTN Bidang Teknologi Hankam, Selasa (18/07/2018).  Rekomendasi desain ini langsung diberikan Kepala BPPT Unggul Priyanto kepada Menteri Pertahanan RI selaku Ketua Harian Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmadja.

Disampaikan Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa  (TIRBR) BPPT, Wahyu Widodo Pandoe, sebagai ketua sidang KTN bidang Teknologi Hankam, bahwa TNI AL membutuhkan kapal kombatan untuk mendukung tugas operasional.

“Salah satu jenis kapal kombatan yang dibutuhkan adalah Kapal Cepat Rudal 60 meter yang  sesuai dengan kebutuhan operasi dan spesifikasi teknik. BPPT melalui hasil kajian review design mengembangkan dan menyusun desain standar KCR-60 yang mengacu pada operational requirement, spesifikasi teknis  TNI AL serta aturan dan regulasi yang berlaku, sehingga memiliki performa kapal yang lebih baik,” jelasnya.

Desain standar ini lanjutnya, merupakan upaya mendukung TNI AL dalam mewujudkan penyeragaman (commonality) produk Alpalhankam beserta komponennya, sehingga industri nasional mampu memiliki daya saing.



“Diharapkan desain standar ini dimanfaatkan oleh TNI AL sebagai pedoman dalam melakukan pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan KCR-60 agar lebih efisien dan efektif oleh galangan kapal nasional di Indonesia,” ujarnya.

Perlu diketahui, Desain KCR-60 dikembangkan BPPT berdasarkan hasil review design terhadap 3 unit KCR batch 1 yang dibangun oleh PT PAL. Desain ini diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan operasional dan spesifikasi teknik dari TNI AL, terutama untuk memenuhi kecepatan maksimum 28 knot dengan menggunakan mesin penggerak utama dengan daya yang lebih besar dan desain baling-baling yang sesuai.

Sebagai konsekuensi dari bertambah besarnya mesin penggerak utama tersebut, maka dilakukan optimalisasi pengaturan tata letak (general arrangement) dari pembagian kompartemen, ruang mesin, ruang akomodasi, tangki bahan bakar, tangki-tangki lainnya, dan sebagainya. Selain itu, desain pengembangan ini telah mendapat persetujuan (approval) dari klasifikasi kapal Lloyd's Register (LR). Sehingga dari desain pengembangan ini diharapkan performa kapal lebih baik.

Terkait gelaran KTN 2018, Deputi TIRBR menegaskan pentingnya pengembangan industri pertahanan nasional. Menurutnya, kekuatan militer suatu negara harus didukung oleh industri pertahanan berteknologi maju. Dengan kata lain pengembangan industri pertahanan nasional merupakan bagian dari upaya mewujudkan kemandirian bangsa.

“Karena teknologi Hankam bersifat termutakhir (_state of the art_), strategi penguasaan teknologi pertahanan dan keamanan perlu diupayakan secara serius. Penguasaan teknologi merupakan keniscayaan, agar cita-cita kemandirian bangsa dengan dukungan industri Hankam yang berdaya-saing dapat dicapai,” urainya.

See full article BPPT

Airbus and DSTA to Co-Develop Digital Services for Military Aircraft

21 Juli 2018


A330 MRTT Singapore Air Force (photo : Eurospot)

Farnborough – Airbus and Singapore’s Defence Science and Technology Agency (DSTA) have agreed details of the first initiative under their recently announced digital technology collaboration – the development of 3D-printing of spare parts to be initially trialled on Singapore’s new fleet of A330 Multi Role Tanker Transport (A330-MRTT) aircraft.
                                                      
Under the terms of an implementation agreement signed at the Farnborough Airshow, Airbus Defence and Space will support DSTA in designing and certifying parts produced by additive manufacturing for the Republic of Singapore Air Force (RSAF) aircraft.

Head of Military Aircraft Services at Airbus Defence and Space, Stephan Miegel, said: “It is absolutely clear that digitalisation represents the future of military aircraft services and we are now at a point where we can begin to explore the most promising techniques on operational fleets. We greatly appreciate the innovative approach of DSTA in going on this journey with us.

“Following this first agreement on 3D-printing, we have further agreed to collaborate on data analytics for predictive maintenance. The collaboration will add on to the development of Airbus’s new SmartForce suite of maintenance data analytics launched at Farnborough.”

SmartForce is a suite of services to enable operators to exploit aircraft data to improve troubleshooting, optimize maintenance effort, predict maintenance actions and plan smartly for material demand.

The RSAF has acquired the A330 MRTT and the first aircraft will be delivered to Singapore in the coming months.

(Airbus Defence)

Menengok Rencana Strategis PT PAL

21 Juli 2018

Rencana strategis PT PAL (all photos : PAL)

Perhelatan Kongres Teknologi Nasional tahun 2018 (KTN 2018) telah diselenggarakan pada 17-19 Juli 2018 lalu di Aula Gedung BPPT Jakarta. Pada tahun ini KTN fokus pada Teknologi Material, Teknologi Kebencanaan dan Teknologi Hankam.

Khusus untuk materi Teknologi Hankam, KTN 2018 menyodorkan tema "Mendorong Kemandirian Bangsa Melalui Penguasaan Teknologi Industi Pertahanan". Tentu saja tema ini menarik perhatian karena sejumlah industri pertahanan dalam negeri turut menjadi pembicara.


Market leader industri pertahanan nasional yaitu PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan PT LEN turut jadi pembicara, dan tidak tanggung-tanggung yang menyampaikan presentasi adalah Direksinya sendiri.

Salah satu materi yang menarik adalah presentasi PT PAL, karena didalamnya memuat rencana strategis perseroan ini setelah mendapatkan kucuran dana Penanaman Modal Negara (PMN) sebesar Rp 1.500 miliar (Rp 1,5 triliun).


Submarine Facility
Fasilitas produksi kapal selam PT PAL adalah fasilitas paling baru yang dimiliki perusahaan ini, pengadaan peralatannya dilakukan atas asistensi Korea Selatan untuk melaksanakan kesepakatan Transfer of Technology (ToT) dalam kontrak pembelian tiga kapal selam kelas DSME 1400 (Nagapasa class) atau versi Korea dari kapal selam Type 209.

Meskipun baru, namun PAL menargetkan untuk mampu memproduksi kapal selam sendiri untuk memenuhi pesanan TNI AL. Tahap pertama pekerjaan yang dilakukan disini adalah "joint section production" kapal selam ketiga dari DSME 1400 yaitu KRI 405 Alugoro.


Terkait rencana TNI AL untuk memiliki 8 kapal selam hingga tahun 2024, maka kekurangan tiga kapal selam dapat diproduksi semua di PT PAL dari seri DSME 1400 ini. Kapal selam ke-4 masih akan dilaksanakan dengan joint production dengan DSME, karena peralatan torpedo alignment machine belum dimiliki sehingga dari total 6 modul, 1 modul akan dikerjakan di Korea. 

PAL menargetkan ajuan PMN sebesar Rp 1,29 triliun dapat segera cair sehingga untuk kapal selam ke-5 dan ke-6 dapat sepenuhnya dikerjakan di dalam negeri. Demikian juga MRO kapal selam juga dapat dilakukan di PAL. Kedepan PAL siap melayani pesanan TNI untuk melanjutkan pengadaan kapal selam hingga target ideal yaitu 12 unit, dan juga ekspor kapal selam ke negara lain.


Surface Combatant Facility
Saat ini fasilitas produksi ini mengerjakan kapal fregat PKR-105 (Sigma 10514) dan kapal cepat rudal KCR-60M pesanan TNI AL.

Hingga tahun 2024 TNI AL membutuhkan kapal fregat baru untuk menggantikan 6 kapal Van Speijk class dan 24 kapal cepat rudal yang akan dipasok dari 2 tipe yaitu KCR-60 (dikerjakan oleh PAL) dan KCR-40 (dikerjakan di galangan kapal lain).


Untuk fregat PKR sampai saat ini baru terealisasi 2 unit yang dikerjakan secara joint production dengan Damen Schelde Belanda. PAL menyatakan kesiapannya untuk membangun fregat ke-3 dan ke-4 dari tipe PKR-105 yang sepenuhnya akan dibangun di Surabaya. Untuk fregat ke-5 dan ke-6 dimana TNI AL ingin menaikkan kelas kapal menjadi destroyer, PAL juga siap untuk melakukan joint production dengan mitra yang terpilih.

Multirole Ship Facility
Fasilitas produksi kapal multirole dimulai dengan produksi 2 kapal LPD 122m (Landing Platform Dock) hasil kesepakatan ToT dalam kontrak pengadaan 4 LPD kelas Makassar dengan Korea Selatan.

Tidak berhenti disitu PAL kemudian mendapatkan pesanan 2 kapal SSV dengan basis Makassar class dan tambahan pesanan 2 LPD dari TNI AL. PAL melanjutkan pengembangan kapal tipe ini dari semula panjang 122m lalu 143m dan kemudian mendesain panjang 163m sebagai pengajuan kapal MRSS untuk tender bagi AL Malaysia (TLDM).


Atas pengalaman itulah maka PAL mengajukan desain kapal Landing Helicopter Dock/Landing Platform Helicopter  (LHD/LPH) dengan panjang 244m untuk melengkapi armada kapal TNI AL. Desain kapal ini bahkan lebih besar dari kapal serupa milik tetangga yaitu Canberra class-Australia, HTMS Chakri Naruebet-Thailand dan Endurance 170-Singapore, juga lebih besar dari Mistral class-Prancis.

LPH/LHD merupakan kapal yang digunakan untuk pendaratan amfibi, dimana kapal dapat membawa 2 batalyon pasukan, 1 skuadron helikopter, 1 batalyon kendaraan lapis baja beserta peralatan tempur lainnya. Dalam masa damai, kapal ini dapat digunakan pada misi kemanusiaan untuk membantu daerah yang terkena bencana alam.


Serangkaian program dari rencana strategis PAL tersebut adalah bagian dari keinginan perusahaan untuk menaikkan utilisasi fasilitas produksi PT PAL. Kenaikan utilisasi akan membawa galangan kapal ini mencapai skala ekonomis sehingga profit perusahaan akan meningkat.

Penguasaan teknologi industi pertahanan yang dilakukan PAL Indonesia benar-benar dapat mendorong kemandirian bangsa, sehingga Indonesia akan mampu memproduksi sendiri alutsista untuk menjaga negeri tercinta ini.

(Defense Studies)

Turkey Expected to Receive First Locally-Made Aircraft Carrier on 2021

21 Juli 2018

TCG Anadolu LHD (image : Anadolu)

The Turkish Navy is expected to receive the first nationally built aircraft carrier, the TCG Anadolu, which can be configured as a light aircraft carrier on 2021, said ahaber.com.tr on 18 July.

Turkish news website reported on 18 July that the TCG Anadolu multipurpose amphibious assault ship will be delivered to the Naval Forces Command in April 2021.

With the multipurpose amphibious assault ship joining the navy, Turkey will be one of 14 countries in the world with an aircraft carrier. The TCG Anadolu, which is being produced with a local content ratio of 68 percent, will be one of the world’s most advanced aircraft carriers. The 32-meter-wide giant ship will be capable of moving 9,000 miles (14,500 kilometers) without refueling.

TCG Anadolu LHD (image : Southfront)

The production of the highly anticipated attack ship, which consists of 114 blocks, will boost the capacity of Turkish naval forces and increase the operational capability of the Turkish Navy.

Officials said in March approximately 90 percent of the [building] blocks were at the end of production, adding that immediately after the manufacturing phase, fittings will be carried out.

The construction works began on 30 April 2016 at the shipyard of Sedef Shipbuilding Inc. in Istanbul, with the keel being laid 7 February 2018.

TCG Anadolu LHD (image : Turkish Navy)

The TCG Anadolu multipurpose amphibious assault ship is based on the Spanish LHD Juan Carlos I and Australian Canberra-class landing helicopter docks and can be configured as a light aircraft carrier.

It will be capable of operating up to 12 F-35B STOVL stealth multirole combat aircraft and 12 helicopters in “light aircraft carrier” configuration.

TCG Anadolu LHD (image : Anadolu)

The new multipurpose amphibious assault ship has a 5,440m² flight deck and a 990m² aviation hangar which can accommodate either 12 medium-size helicopters or 8 CH-47F Chinook heavy-lift helicopters. Additionally, the ship will have a 1,880m² light cargo garage for TEU containers and 27 Amphibious Assault Vehicles (AAV); a 1,165m² dock which can host four Landing Craft Mechanized (LCM) or two Landing Craft Air Cushion (LCAC), or two Landing Craft Vehicle Personnel (LCVP); and a 1,410m² garage for heavy loads, which can host 29 Main Battle Tanks (MBT), The ship’s crew will consist of 261 personnel: 30 officers, 49 NCOs, 59 leading seamen and 123 ratings.

With a displacement of 28,000 tonnes at full load and a length of 225 meters, the ship will be capable of reaching speeds of up to 21 knots.

(Defence Blog)

Keel Laying for 4 Tugboats for Vietnam Coast Guard

20 Juli 2018


Song Thu STU 1606 tugboat design by Damen (photos : SongThu)

(Canhsatbien.vn)  - Danang , the Coast Guard Command and General Song Thu Company/General Department of Defense Industry held a keel laying ceremony of new building 4 tugboats STU 1606  by the Group Damen / Netherlands set for the operation of the Marine Police. Major General Nguyen Van Son - Commander of the Marine Police attended and delivered instructions.

These towing ships are designed to perform the following tasks: towing, pushing, towing vessels; Take ships, floating means into port and repair; fire brigade, rescue of waterway vehicles, infrastructure in the coastal port area. This is the tow boat type of vessel STU 1606 Damen Group/Netherlands designed to meet the norms of BV, adjusted and supplemented to meet the specific requirements and technical features of the ship has been approved by Chief of General Staff of the People's Army of Vietnam. Song Thu Corporation is the general contractor for the construction of 4 towing ships for the Coast Guard on the basis of receiving technical design documents, packages of materials, equipment, technology transfer from the Group. Damen/Netherlands.



Speaking at the ceremony, Major General Nguyen Van Son praised the solidarity, unanimity, careful preparation, enthusiasm of leaders, engineers, workers and workers of Song Thu Corporation. and the close cooperation with the Damen Group / The Netherlands helped to start the construction of four towing ships of the Coast Guard on schedule.

For the project to be completed on schedule, quality assurance, the Coast Guard commander asked the Song Thu Corporation to determine that this is an important political task; In close coordination with the Client's standing body (Marine Submarine Construction Project Management Sub-committee), the Construction Supervision Consultant Company, Damen Group, the right type of supplies, equipment and configurations; Strictly commits the cooperation between the Coast Guard and the Factory. Commander of Marine Police trust with traditional achievements, capacity, brand as well as production experience of Song Thu Corporation and partners will implement tight construction, quality assurance, aesthetic industrial, safe, efficient,

(Vietnam Coast Guard)

20 Juli 2018

5 Pesawat Tempur Golden Eagle Berangkat Jaga Ambalat

20 Juli 2018


Pesawat T-50i TNI AU (photo : Ardian MK)

MADIUN - Lima pesawat T-50i Golden Eagle dari Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun, diberangkatkan ke Ambalat, untuk melaksanakan operasi Garda Nusa dan operasi Lintas Kaswari.

Pesawat-pesawat tempur ini, juga akan menjalankan misi terbang jelajah dan mendukung kegiatan karya bakti ke-71 TNI AU. Dalam menjalankan misinya selama 14 hari, pesawat tempur ini akan berada di Lanud Anang Bursa, Tarakan, Kalimantan Utara.

Kepala Penerangan Lanud Iswahjudi Madiun, Mayor Sus Hamdi Londong Alo menyebutkan, kelima pesawat tempur ini lepas landas dari Lanud Iswahjudi, Kamis (19/7/2018). "Rombongan pesawat, singgah terlebih dahulu di Lanud Balikpapan, Kalimantan Timur, untuk mengisi bahan bakar," ujarnya.


Pesawat T-50i TNI AU (photo : Ismail Hasan)

Dalam menjalankan misi operasi ini, ada sebanyak 44 personel yang terlibat. Selain penerbang tempur, misi ini juga melibatkan para teknisi pesawat T-50i Golden Eagle yang diangkut menggunakan pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 32, Lanud Abdulrachman Saleh Malang.

Komandan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun, Letkol Pnb Hendra Supriadi mengatakan, operasi ini dilaksanakan lima pesawat yang terbagi dua penerbangan. Dua pesawat dengan flight leader Letkol Pnb IG Widi Nugroho; dan tiga pesawat dengan flight leader Mayor Pnb Gultom. 

"Misi operasi ini dilaksanakan selama 14 hari. Kelima pesawat, melaksanakan patroli di sekitar Ambalat, untuk menjaga keamanan udara di wilayah perbatasan Indonesia," ujarnya.

(SindoNews)

Marand Delivers its 50th Vertical Tail for Joint Strike Fighters

20 Juli 2018


JSF vertical tail (photo : Aus DoD)

The Minister for Defence Industry, the Hon Christopher Pyne MP, today congratulated Victorian based company, Marand Precision Engineering, on delivering its 50th Vertical Tail in support of the global F-35 Joint Strike Fighter (JSF) Program.

Minister Pyne said Marand’s achievement, with the support of BAE Systems PLC, demonstrated the strength of Australia’s defence industry in a competitive global market and the importance of international collaboration.

“Through its partnership with BAE Systems PLC, and with the support of its Australian and European supply chain, Marand has delivered its 50 Conventional Take-Off and Landing Vertical Tails all to schedule and without a single customer quality issue,” Minister Pyne said.

“This is an outstanding achievement and typifies the significance of Australian defence industry’s involvement in the global F-35 Program – Australian industry has been collectively awarded over $1 billion in production contracts to date.”

Marand, which has been involved in the F-35 Program since 2002, is now an established supplier of F-35 Vertical Tails, with Australian-produced tails on the aircraft of several Partner Nations, including Australia.

Last year BAE Systems Australia delivered more than 1,700 titanium parts into the F-35 program through Marand. Currently 300 components for the F-35 vertical tail are being produced per month.

“In what was a major milestone for the Australian F-35A Project, an Australian-made Vertical Tail – produced by Marand – was fitted to Australia’s third F-35A aircraft as it neared completion at Lockheed Martin’s production facility in Fort Worth, Texas, in August 2017,” Minister Pyne said.

Minister Pyne said the strength of Australia’s defence industry had made it a significant and crucial contributor to the global F-35 Program, which will support up to 5000 Australian jobs by 2023.

The Australian Government has approved the acquisition of 72 F-35A JSF aircraft. Australia’s first six JSFs are currently operating at the international Pilot Training Centre at Luke Air Force Base in Arizona, US, with four more aircraft expected to be delivered by the end of this year.

Two of Australia’s F-35A aircraft are scheduled to arrive for permanent basing at RAAF Base Williamtown near Newcastle in New South Wales in December this year.

(Aus DoD)

Airbus Defence Unit Close to A400M Export Deal

20 Juli 2018


A400M airlifter (photo : Airforce Technology)

After enduring a tough time with its A400M tactical transport, Airbus Defence & Space appears poised to secure its first new export order for the Atlas.

"The tide has turned now, with the [partner] nations using the aircraft in operational and humanitarian relief missions," says Fernando Alonso, the company's head of military aircraft.

"Now is the right time to go for export," he told FlightGlobal at the Royal International Air Tattoo on 13 July. "We have some export campaigns active: one of them is very active, and I think that in the next months we can probably sign a first contract."

Alonso will not identify the potential buyer, but the programme's strongest recent signal of interest came in March, when Jakarta's state-owned Indonesia Trading Company announced plans to acquire two A400Ms to ferry goods around the nation. The aircraft would be operated by Indonesian air force pilots, it said.

The Atlas was developed for European partners Belgium, France, Germany, Luxembourg, Spain, Turkey and the UK, which will take a combined 170 examples. Airbus's only other success with the type so far has been with Malaysia, which has received four of the airlifters.

"The aeroplane deserves to be exported, there is a need for the aeroplane, and now is the time to go for it," says Alonso, who notes that the company is receiving "very good support from the nations" in supporting its marketing efforts.

Airbus in early March announced an agreement with its A400M launch customers to slow output from 19 deliveries last year to producing eight per year from 2020. In addition to enabling it to stabilise the programme while completing development work on advanced capabilities, it said the step would safeguard production until 2030 and enable it to "pursue export opportunities".

(FlightGlobal)

RSS Daring and RSS Resilience Retire After Decades of Distinguished Service

20 Juli 2018


RSS Resilience (photo : Martin Klingsick)

The Republic of Singapore Navy (RSN) decommissioned two Fearless-class Patrol Vessels (PVs) RSS Daring and RSS Resilience at a sunset ceremony at Tuas Naval Base this evening. Officiated by Chief of Navy Rear-Admiral (RADM) Lew Chuen Hong, the ceremony marked the progressive handing over of duties from the PVs to the new Littoral Mission Vessels (LMVs).

The Fearless-class PVs, which have been operational since 1996, were the first warships that were designed and built in Singapore. RSS Daring and RSS Resilience were commissioned by then Deputy Prime Minister and Minister for Defence Dr Tony Tan on 3 May 1997 and 7 February 1998 respectively. Over the years, the ships had safeguarded Singapore's maritime interests and territorial integrity through numerous operations at sea, such as maritime surveillance, and patrol and escort operations. They also participated in bilateral and multilateral exercises with foreign navies.


RSS Daring (photo : David Chua)

Commander Maritime Security Task Force Colonel Seah Poh Yeen, who delivered the citations, paid tribute to the two ships and to the generations of its crew members. He said, "The success of these two PVs would not have been possible without the unwavering dedication, professionalism, tenacity and sacrifices of many generations of officers and crew who served on board. The RSN salutes RSS Daring and RSS Resilience for their decades of unwavering service. Their qualities, values and contributions shall continue to inspire the men and women of the RSN for generations to come."

The operational duties of RSS Daring and RSS Resilience will be handed over to the new LMVs. The LMVs, which are more versatile and equipped with sharper capabilities, will be fully operational by 2020.

Also present at the decommissioning ceremony were past and present crew members of RSS Daring and RSS Resilience as well as senior RSN officers.

(Sing MoD)

PHL Studying Deal with Russia for RPG Launchers

20 Juli 2018


RPG-7 grenade launcher (photo : quora)

The Philippine government will be studying the possible implications of purchasing 744 units of Rocket Propelled Grenade (RPG) launcher worth 408 million pesos from Russia with regards to United States imposed sanctions against Russian intelligence and defense firms.

“Let me state the official position: We will study the matter,” Presidential Spokesperson Harry Roque said during the July 19 press briefing in MalacaƱang when asked to comment on report that the Philippines could breach US sanctions if the said Russian arms deal proceeds.

National Defense Secretary Delfin Lorenzana and Director General of JSC Rosoboronexport Alexander Mikheev signed the deal for supply and delivery of RPG-7V grenade launchers and ammunition in October 2017 at the sidelines of 4th ASEAN Defence Ministers-Plus Meeting in in Clark, Pampanga.

Delivery is yet to be made.

US Sanctions

Rosoboronexport is included in the list of US Countering America’s Adversaries Through Sanctions (CAATSA) Act of 2017 under Section 231(d).

However, Roque said as professor of international law, he does not know how can US enforce its domestic law on a sovereign state like the Philippines. He added that the transaction will not occur on a US soil.

“The Philippines is a sovereign state, we have immunity, and we are free to enter into contracts as we please and we are not bound by any domestic law particularly the transaction will not occur in US soil,” he said when asked if the government is concerned on the possibility of the deal affecting US-Philippine alliance.

“The official stand is we will study the matter, but off hand I’m giving the legal position of the Palace, that we do not see how we are bound by a US extra-territorial piece of legislation,” he said.

(Mintfo)

Honeywell Pasok Teknologi Avionik untuk Pesawat N219

20 Juli 2018


Kokpit pesawat N219 Nurtanio (photo : Bambang Haryanta)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejak kehadirannya di aswal 19i70-an, kiprah perusahaan teknologi perangkat keras dan lunak Honeywell merambah berbagai sektor usaha di Indonesia.

Selain di industri pertambangan oil and gas, bisnis teknologi Honeywell juga merambah berbagai sektor lainnya seperti industri dirgantara sampai industri manufaktur dan hunian dan apartemen.

Di industri dirgantara, Honeywell sejak lama menjalin kerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Bandung, untuk memasok berbagai kebutuhan perangkat keras dan lunak untuk pesawat ringan bermesin propeller N219 yang diproduksi PT DI.

"Dengan PT Dirgantara Indonesia kita bekerja sama untuk pembuatan pesawat N219. Honeywell memasok kebutuhan perangkat avionik," ungkap Roy Kosasih, Presiden Honeywell Indonesia dalam paparan di sela ajang Honeywell Indonesia Technology Summit 2018 di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Roy menjelaskan, Honeywell memiliki peran sangat besar di industri kedirgantaraan dunia, karena perusahaaan yang berbasis di Morris Plains, New Jersey, Amerika Serikat, ini menjadi mitra utama bagi sejumlah pabrikan pesawat ternama dunia seperti Boeing dan Airbus.

"(Di atas langit) setiap detik ada 2.200 pesawat yang sedang mengudara, dan hampir 90 persen teknologi di dalam kokpit dan kabin pesawat tersebut dipasok oleh Honeywell," ungkapnya.

Honeywell memasok sistem navigasi dan sensor, propulsi dan power system, teknologi flight data recorder, satellite wifi di kabin pesawat, teknologi turbo charger, air dan therma management, cockpit and flight management system, komponen mekanikal, dan lain-lain.

"Perusahaan produsen pesawat seperti Boeing dan Airbus setiap kali  akan meluncurkan produk baru, untuk pengembangan sistem dan komponennya pasti berbeda," ungkapnya. Di sanalah, Honeywell berperan masuk.

Masih di industri kedirgantaraan, Roy menyatakan, Honeywell juga memiliki teknologi Connected Enterprise, yang salah satunya mengkoneksikan aktivitas pesawat terbang dengan Internet of Things (IoT).

"Saat pesawat diketahui mengalami gangguan atau ada komponen yang bermasalah saat mengudara, informasi ini langsung terhubung dengan bandara dan petugas di darat, dan bisa langsung diantisipasi sebelum pesawat mendarat," dia mencontohkan.

Honeywell sudah menjalankan bisnisnya di Indonesia sejak tahun 1970-an, dengan memasok teknologi pengeboran minyak dan gas untuk Pertamina. Teknologi ini kini juga dipasok Honeywell ke sejumlah perusahaan kontraktor kerjasama migas lainnya di Indonesia seperti Chevron. 

"D bidang teknologi pengambilan (lifting) minyak dan gas bumi dari bawah tanah. Kami sejak lama bekerja sama dengan Pertamina, Chevron, dan lain lain," ungkapnya.

Di bidang advance material, Honeywell juga memasok freon dan refrigerant untuk kebutuhan pendinginan dan industri kosmetik.

"Kami juga memproduksi jaket anti-peluru, dan saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan TNI," sebut Roy Kosasih.

Sebuah gedung tertinggi di Indonesia yang sedang dibangun di Jakarta, lanjut Roy, akan mengaplikasikan teknologi face recognition dengan teknologi yang sepenuhnya dipasok oleh Honeywell dari divisi bisnis Home and Building Technologies, untuk kontrol akses masuk karyawan dan pengunjung.

"Tapi saya belum bisa sebutkan sekarang nama gedungnya karena alasan etis," ungkapnya.

Dengan cakupan bisnis yang begitu luas dirambah di Indonesia, termasuk ke industri manufaktur, ritel dan warehouse dan logistik, bisnis Honeywell di Indonesia memberi kontribusi terbesar terhadap pendapatan bisnis Honeywell jika dibandingkan pendapatan bisnis yang diraih Honeywell dari negara-negara lainnya di kawasan regional ASEAN.

(TribunNews)

19 Juli 2018

Indonesia Incar Pasar Komponen Pesawat Global

19 Juli 2018


Peningkatan ekspor komponen pesawat diharapkan meningkat (photo : detik)

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyasar peningkatan ekspor komponen pesawat yang saat ini baru US$ 83 juta. Padahal, potensi pasarnya mencapai US$ 88 miliar.

“Langkah peningkatan nilai ekspor nasional menjadi salah satu kebijakan pemerintah saat ini, terutama dalam mengatasi neraca perdagangan yang sedang defisit,” kata Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, Rabu (18/7).

Untuk memperluas akses ekspor, lanjut Putu, Kemenperin telah memfasilitasi keikutsertaan industri komponen pesawat pada pameran tingkat internasional, yakni Farnborough International Airshow (FIA) 2018 di Farnborough. Keterlibatan dalam ajang FIA 2018 merupakan bagian dari desain besar dukungan pemerintah kepada industri nasional untuk mengakses rantai suplai global industri komponen pesawat terbang. Diharapkan pula dalam jangka panjang, industri nasional dapat terhubung dengan komunitas global industri aeronautika dan menjadi subkontraktor pengerjaan komponen pesawat terbang dunia.

“Industri komponen pesawat terbang merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan melalui pemanfaatan rantai suplai global,” jelas dia.

Oleh karena itu, kata Putu, Kemenperin berkolaborasi dengan KBRI Brussels untuk ikut berpartisipasi di ajang FIA 2018. Ajang ini diharapkan dapat menjadi sarana perluasan kerja sama bagi industri nasional di tingkat internasional.

Menurut dia, perusahaan-perusahaan yang terpilih untuk mengikuti FIA 2018 berasal dari beragam sektor, mulai yang bergerak di bidang aero structure, component, tools and gauge, avionics, precision parts, rubber-based components, hingga engineering services. Perusahaan tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia, PT Pudak Scientific, PT Santoso Teknindo, PT Chroma International, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Yogya Presisi Tehniktama Industri, dan PT Indonesia Polyurethane Industry.

"Secara umum, para pelaku industri komponen nasional memiliki potensi yang memadai untuk mengakses rantai suplai industri pesawat terbang dunia. Namun demikian, masih banyak yang perlu dibenahi, terutama sertifikasi dan dukungan pada kegiatan promosi internasional untuk membangun jejaring kerja dan memperkenalkan kemampuan industrinya," pungkas dia.

(Berita Satu)