12 Agustus 2020

Koarmada III Uji Ketangguhan Pertahanan Pangkalan

12 Agustus 2020

KRI Teluk Lada di Koarmada III (all photos : TNI AL)

Sorong, Suasana kawasan Mako Komando Armada (Koarmada) III yang berlokasi di Jl. Bubara No. 1 Kel. Klaligi, Distrik Sorong Manoi Kota Sorong, Papua Barat, Kamis pagi (6/8/2020) lebih ramai dari biasanya. Kendaraan bermotor Polisi Militer, Ambulance, dan PMK Lantamal XIV Sorong meraung-raung sebagai sinyalemen adanya bahaya serangan darat dan udara. Artileri pertahanan udara melaksanakan steling dan pasukan pengendali huru hara disiagakan. 

Berbagai bentuk serangan tersebut merupakan uji ketangguhan pertahanan pangkalan Koarmada III dalam menghadapi serangan musuh. Kegiatan tersebut merupakan serial simulasi pertahanan pangkalan Gladi Tugas Tempur Tingkat III “L-3 Terpadu” Koarmada III. Simulasi dipimpin Komandan Satuan Kapal Eskorta Koarmada III Kolonel Laut (P) Dados Raino sebagai Perwira Penyelanggara Latihan dan Komandan Satuan Kapal Cepat Koarmada III Kolonel Laut (P) Wisnu Kusardianto, S.E., M.,H., sebagai Perwira Pelaksana Latihan.


Serial latihan sebelumnya, Dinas Penyelamatan Bawah Air Koarmada III telah melaksanakan recovery kobocoran kapal. Yang tidak kalah menariknya adalah serial latihan “Sabotase Bawah Air” yang dilaksanakan anggota Komando Pasukan Katak Koarmada III  dan “Lawan Sabotase Bawah Air” yang dilaksanakan unsur-unsur peserta latihan  tersebut selama 24 jam.

Glagaspur Tingkat III “L-3 Terpadu” yang dibuka Panglima Koarmada III Laksda TNI Dadi Hartanto, M.Tr. (Han), kemarin (5/8/2020) ini, akan berlangsung selama enam hari di beberapa tempat dan wilayah, masing-masing Mako Koarmada III Sorong - perairan Sorong – Selat Sagewin – Laut Seram – Perairan Arar - Selat Sele – Mako Koarmada III Sorong.


Latihan tersebut melibatkan kurang lebih 700 prajurit dan sejumlah alutsista, antara lain lima KRI (Kapal Perang RI) yakni KRI Teluk Lada-521, KRI Sura-802, KRI Tatihu-853, KRI Layaran-854, KRI Albakora-867,  KAL Wayag dan dua Sea Rider, dua pesawat udara (helly dan CN 235), Pasukan Marinir, Satuan Komando Pasukan Katak, Dinas Penyelamatan Bawah Air, dan Pangkalan Utama TNI AL (Lantanal XIV) Sorong.

Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) III, Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto, M.Tr. (Han)., dalam sambutannya mengatakan latihan “L-3 Terpadu” yang diselenggarakan kali ini merupakan implementasi dari kebijakan pembinaan kemampuan tempur TNI AL bagi personel, unsur-unsur KRI, pesawat udara, kendaraan tempur dan unsur kesenjataan Marinir sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan prajurit pengawak SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu).

(TNI AL)

Royal Thai Army Starts to Deploy Spike MR Into Service

12 Agustus 2020

Spike MR anti-tank missile of Royal Thai Army (photos : Defense & Security 2021)

The long overdue Anti-Tank Missile program to replace the Dragon of the RTA began a decade ago when they were selected the Spike as a winner. But budget shortfall see the project postponed year after year until RTA received the budget to procure an initial batch of the Spike MR.


SPIKE Precision Tactical Guided Missiles Family is the highly reliable, multi-purpose missiles strike with the utmost accuracy, incorporating advanced technology, high reliability and low LCC. SPIKE'S broad deployment enables customers to collaborate with full commonality and interoperability between all the NATO and EU user groups on operational and logistics levels.

There are 33 user nations worldwide. The missile was developed by the leading Israeli defense company Rafael who was a familiar face inDefense and Security 2021.

(Defense and Security 2021)


11 Agustus 2020

Menristek: Drone Tempur Elang Hitam Mulai Terbang Januari 2021

11 Agustus 2020

MALE UCAV Elang Hitam (image : BPPT)

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) Elang Hitam untuk kombatan akan mulai terbang pada Januari 2021.

Dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25, Menristek  mengatakan pesawat itu telah mendapatkan Sertifikat Tipe dari Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA).

"Hasil pengembangan akan diproduksi oleh PT DI (Dirgantara Indonesia) dengan target penerbangan atau first flight bulan Januari 2021," ujarnya dalam acara Peringatan Hakteknas ke-25 yang ditayangkan dalam jaringan, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2020.

Sebagai upaya kemandirian teknologi pertahanan nasional, drone tempur Elang Hitam yang berkemampuan terbang selama 24 jam akan dilengkapi dengan senjata hasil produksi PT Dirgantara Indonesia.

Pesawat itu merupakan hasil konsorsium Kemristek/BRIN dan Kemhan (Kementerian Pertahanan) yang dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

PUNA MALE Kombatan memiliki kemampuan terbang selama 24 jam dan berfungsi dalam sistem pertahanan maritim sebagai penginderaan, pemantauan, pengawasan, pengintaian dan intelijen (P4I), serta penindakan terhadap ancaman maritim.

Empat dari 49 Prioritas Riset Nasional yang telah dikembangkan oleh Kemristek/BRIN dan dalam proses masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional, yaitu Katalis Merah Putih, Garam Industri Terintegrasi, PUNA MALE Kombatan, dan Pesawat N219A.

(Tempo)

NZDF Supporting Pacific Fisheries

11 Agustus 2020

Fisheries contribute approximately US$1 billion annually to the economies of Pacific countries and generate about 25,000 jobs. Fisheries revenue is particularly important at the moment due to the significant reduction in tourism revenue for many Pacific Island countries (all photos : NZDF)

Our maritime surveillance patrols in partnership with Pacific nations and other agencies are operating well within the new normal of COVID-19 considerations.

With border closures and other restrictions in place as a response to the global COVID-19 pandemic, there have been concerns about illegal fishing activity.

Crew on our Royal New Zealand Air Force Orion aircraft covered more than 735,000 square nautical miles on Pacific patrols including over the Exclusive Economic Zones (EEZ) of Fiji, Niue, the Cook Islands, the Solomon Islands, with further patrols to come. 

Royal New Zealand Navy ship HMNZS Otago was recently on patrols with Republic of Fiji Navy ships in Fiji. A Seasprite helicopter on board the ship provided aerial support, in addition to surveillance by the Orion. 

The opportunity to work with our Pacific partners and other agencies safely in a COVID environment has been a real success. The safety, security and prosperity of the Pacific is important to us.

(NZDF)

Tiga Uji Critical Berhasil Dilalui N219 Nurtanio

 11 Agustus 2020

Pesawat N-219 Nurtanio ketika melakukan uji terbang di Pangandaran, Jawa Barat (photo : PT DI)

Ada beberapa materi uji dinamis yang cukup critical pada proses sertifikasi pesawat angkut ringan N-219 Nurtanio rancangan LAPAN, materi tersebut adalah Uji One Engine Out, Uji Flutter serta Uji Stall.

PT DI telah membuat 4 pesawat N-219 untuk dipergunakan pada pengujian, 2 dibuat untuk uji darat dan 2 dibuat untuk uji terbang. 2 pesawat yang digunakan untuk uji terbang diberi kode PD1 (warna putih) dan PD2 (warna kuning kehijauan).

Rangkaian uji dinamis pesawat N-219 disampaikan oleh Ir Agus Aribowo, MEng Kepala Bidang Program dan Fasilitas, Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN dalam program Tanya LAPAN edisi Pesawat N219 Amfibi yang diposting di channel Youtube pada 4 Maret 2020 yang baru lalu.

Uji One Engine Out

Pesawat PD1 menjalani uji One Engine Out saat terbang, terlihat mesin kanan pesawat dalam kondisi mati (photo : LAPAN) 

Pengujian dengan salah satu mesin mati telah dilakukan pada tanggal 18 Desember 2019 lalu di bandara Kalijati, Jawa Barat. Pengujian One Engine Out dilakukan dengan dua cara yaitu mematikan satu mesin ketika pesawat sedang take off dan mematikan satu mesin ketika pesawat sedang terbang. 

Uji terbang dengan satu mesin menggambarkan keadaan darurat yang dialami pesawat ketika salah satu mesinnya mati. N-219 telah sukses dalam uji ini sebagaimana pernah dimuat dalam blog ini tanggal 24 Desember lalu.

Uji Flutter

Pesawat PD1 menjalani uji Flutter, lihat marking pada sayapnya untuk pengamatan (photo : LAPAN) 

Fenomena flutter akan terjadi apabila ada gaya dan momen aerodinamika yang berinteraksi berlebihan di permukaan sayap pesawat. Sayap akan bergetar dan berosilasi, jika bertambah besar maka akan menuju pada keadaan tidak stabil. Efek dari osilasi hingga flutter ini dapat lebih mudah terlihat pada model separuh sayap, oleh karena itulah digunakan model separuh sayap dari pesawat N219 yang diuji pada terowongan angin kecepatan rendah BBTA3 di  Serpong. 

Hasil uji flutter pada model separuh sayap telah diterbitkan pada Jurnal Perhubungan Udara Warta Ardhia pada tahun 2016, dimana kecepatan flutter terjadi pada 40,5 m/s pada hasil analisis komputasional dan hasil pengujian di terowongan angin sebesar 40,83 m/s.

Peralatan uji flutter pada wing-tip pesawat N-219 Nurtanio (photo : Bambang Haryanta)

Saat pengujian pesawat dikondisikan agar mengalami flutter pada saat kecepatan maksimal. Uji ini telah beberapa kali dilakukan, termasuk yang dilaporkan oleh Airspace Review pada akhir tahun 2019 lalu. Pada uji flutter ini di wingtip pesawat N-219 dipasang alat khusus untuk bisa menimbukan flutter, melalui alat ini frekuensi flutter dapat diatur dari 1 hz hingga 45 hz dan periode flutter bisa diatur waktunya.

Mulai 31 Juli 2020 selama seminggu di kawasan sekitar bandara Nusawiru, Pangandaran, kembali pesawat N-219 menjalani uji flutter, kali ini pesawat ditemani 2 pesawat Grob no 25 dan 27 yang bertindak sebagai pesawat chaser. Kegiatan ini selesai pada tanggal 06 Agustus 2020 yang baru lalu dan pesawat berhasil melewati uji flutter ini.

Uji Stall

Uji stall saat penerbangan ke-100 pesawat PD1 (photo : LAPAN)

Stall merupakan keadaan ketika pesawat kehilangan daya angkat. Stall terjadi ketika pesawat bergerak dengan bagian hidung yang mengarah ke atas (nose up) dengan sudut lebih dari 15 derajat yang dipengaruhi juga oleh kecepatan angin dan arah terbang pesawat. Pada sudut kemiringan ini, gaya tekan ke bawah pesawat berubah menjadi lebih besar dari pada gaya angkatnya. Lama-kelamaan pesawat ini akan kehilangan daya angkat dan pesawat menjadi terancam. 

Kondisi Stall pada pesawat terbang (image : CFI Notebook)

Dalam
dalam kondisi stall, pada pesawat besar fitur auto-pilot lah yang sangat berperan. Auto-pilot dapat mengarahkan pesawat agar dapat kembali melayang dan bergerak ke arah yang tepat, setelah itu tugas pilot untuk mengambil alih pesawat secara manual. Pada pesawat kecil tugas ini diemban pilot sepenuhnya.

Begitu pentingnya masalah stall ini, pada awal 2014 FAA memberikan ijin pemasangan Angle of Attack (AOA) Indicator pada pesawat kecil sebagai pelengkap dari airspeed indicator dan stall warning systems sebagai peringatan dini bagi pilot agar stall dapat dihindari.
Uji stall pesawat N-219 (photo : LAPAN) 

Uji stall N-219 telah dilaksanakan pada pesawat PD1 saat penerbangan ke-100, pesawat N-219 berhasil terbang normal kembali dengan mengembalikan gaya angkat setelah pesawat dalam posisi stall. Pelaksanaan uji stall ini diunggah oleh LAPAN pada tanggal 26 September 2019 lalu.

Uji terbang oleh Kementerian Perhubungan

Apabila semua proses uji darat dan uji terbang telah dilaksanakan, tahap akhir pengujian adalah uji terbang yang dilakukan oleh pilot yang berasal dari Kementerian Perhubungan untuk membuktikan bahwa pesawat N-219 aman.

Pesawat N-219 selesai menjalani uji flutter di Pangandaran (photo : Bambang Haryanta)

Pembuatan Laboratorium DO-160

Pada saat ini kandungan komponen lokal pada pesawat N-219 mencapai 40%, dan Pemerintah menargetkan nilai komponen lokal pada pesawat ini dapat mencapai 60%. Dalam rangka itulah maka LAPAN sekarang sedang membangun laboratorium baru yang bernama DO-160, laboratorium ini diperuntukkan bagi pengujian semua komponen pesawat sipil yang akan dipasang pada pesawat. 

Dengan laboratorium ini maka industri lokal dapat mengadakan uji berkali-kali bila melakukan litbang dengan biaya yang murah. Industri komponen lokal seperti karpet, kursi pesawat, peralatan navigasi dan industri pendukung lainnya dapat menjadi penyuplai pesawat N-219 Nurtanio. Diharapkan dalam 5 tahun kandungan lokal 60% ini dapat tercapai.

Dari gambaran tersebut diatas maka proses sertifikasi pesawat N-219 berjalan on-track dan target kandungan komponen lokal 60% sudah menampakkan progresnya. Semoga pesawat N-219 sukses dalam produksi dan penjualan.

(Defense Studies)

RAAF Hawk Fit to Fly into the Late 2020

11 Agustus 2020

RAAF Hawk 127 trainer aircraft (photo : Aus DoD)

Hawk airframe fit to fly for decades to come

A Hawk aircraft, the advanced jet trainer used to prepare Australian pilots for life in a fast jet cockpit, has completed the equivalent of 50,000 'flying' hours as part of a major structural testing program in a joint project involving BAE Systems and DST Group.

The world first test program was conducted at DST Group’s Fishermans Bend facility in Victoria where for 14 years a Hawk air frame was subjected to the range of loads that it would experience in actual flight, simulating real life fleet usage based on projected operational requirements.

 The 33 Hawk aircraft operated by the Royal Australian Air Force have a clearance of 10,000 flying hours - 50,000 flying hours of structural testing is five times the current clearance of the most modern Hawks in air forces across the world and more than ten times the current flying hours on most of the Australian fleet.

 Based on current usage, the fatigue life remaining in the Hawk airframe would allow the aircraft to continue operations well into the late 2040s.

 BAE Systems Australia Director Aircraft Sustainment and Training Andrew Chapman said:

“The Full Scale Fatigue Test is a hugely important achievement for the Australian Lead In Fighter program and was made possible by the collaboration of a small dedicated team across many thousands of kilometres.

 “The Hawk is the world’s most successful and proven military aircraft trainer, built on more than 35 years of fast jet training experience.

 “The 2019 completion of Hawk (LIFCAP) upgrade ensures the aircraft is freshly updated and available for service in the RAAF for many more years.”

10 Agustus 2020

Koarmada III Asah Kemampuan Pertempuran Modern

10 Agustus 2020

Manuvra lapangan Koarmada III (all photos : TNI AL)

Komando Armada (Koarmada) III mengasah kemampuan pertempuran modern di laut dengan melaksanakan Gladi Tugas Tempur Tingkat III  “L-3 Terpadu”. Latihan ini memasuki tahap manuvra lapangan di perairan Sorong – Selat Sagewin – Laut Seram – Perairan Arar - Selat Sele, selama tiga hari.

Manuvra lapangan latihan berbasis komunikasi terintigrasi ini disaksikan Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) III, Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto, M.Tr. (Han)., on board di KRI Teluk Lada-521. 


Latihan tersebut melibatkan kurang lebih 700 prajurit dan sejumlah alutsista, antara lain lima KRI (Kapal Perang RI) yakni KRI Teluk Lada-521, KRI Sura-802, KRI Tatihu-853, KRI Layaran-854, KRI Albakora-867,  KAL Wayag dan dua Sea Rider, dua pesawat udara (helly dan CN 235), Pasukan Marinir dan tank amfibi, Satuan Komando Pasukan Katak, Dinas Penyelamatan Bawah Air, dan Lantanal XIV Sorong.

Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) III, Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto, M.Tr. (Han)., mengatakan latihan “L-3 Terpadu” yang diselenggarakan kali ini merupakan implementasi dari kebijakan pembinaan kemampuan tempur TNI AL bagi personel, unsur-unsur KRI, pesawat udara, kendaraan tempur dan unsur kesenjataan Marinir sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan prajurit pengawak SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu).


Latihan tersebut bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan  keterampilan prajurit, baik perorangan maupun kelompok dalam mengawaki pos-pos tempurnya, meningkatkan kemantapan komando dan pengendalian operasi serta meningkatkan kemampuan dan kehandalan kapal, pesud, ranpur dan material Marinir.

Sasaran latihan ini yakni tercapainya kesiapan tempur unsur-unsur Koarmada III dan Pasmar 3, meningkatkan keterampilan dan kemampuan prajurit di bidang peperangan anti kapal permukaan, peperangan anti udara, manuvra taktis, LSBA (Lawan Sabotase Bawah Air) dan SBA (Sabotase Bawah Air), pertahanan pangkalan, salvage bawah air, pendaratan khusus dan operasi pendaratan amfibi, serta terwujudnya kerja sama taktis dalam satu operasi terpadu antar unsur-unsur Koarmada II dan Pasmar 3.


Sebelum manuvra lapangan, telah dilaksanakan uji ketangguhan pertahanan pangkalan Koarmada III dalam menghadapi serangan musuh, serial recovery kobocoran kapal, dan serial “Sabotase Bawah Air” dan “Lawan Sabotase Bawah Air”.

Puncaknya manuver lapangan. Selama manuver lapangan,  berbagai materi peperangan dilaksanakan, antara lain manuver taktis,  peperangan ranjau, peperangan anti-permukaan, anti-kapal selam, pertahanan udara, pemeriksaan di laut, evakuasi medis udara, pendaratan khusus, dan pendaratan Pasukan Marinir.

Australia Boosts Investment in Army's Autonomous Vehicle Fleet

 10 Agustus 2020

Army autonomous demostration (all photos : Aus DoD)

The Morrison Government is increasing Army’s experimentation, prototyping and exploration of autonomous vehicle and emerging technologies with a $12.2 million boost in Australian industry contracts.

Minister for Defence, Senator the Hon Linda Reynolds CSC said the development of robotic and autonomous systems are central to meeting Australia’s future operational challenges, including humanitarian assistance and disaster relief, and combat operations.

“These technologies are ‘disruptive technologies’ that provide marked advantages on the modern battlefield by bolstering ADF capability while protecting Australian personnel,” Minister Reynolds said.

“In the 2020 Force Structure Plan, I set out how Defence plans to seize these opportunities through greater development and implementation of robotic and autonomous systems.”

Thecontracts will be delivered over the next three years and include:

-$7.7 million contract with BAE Systems Australia to convert 16 M113AS4 Armoured Personnel Carriers into Optionally Crewed Combat Vehicles (OCCVs), increasing the OCCV fleet available to 20 vehicles and support experimentation over two years. Conversions will be conducted in South Australia by BAE and in regional Victoria by Defence’s Joint Logistic Unit (Victoria).

 -$3.5 million contract with the Institute for Intelligent Research and Innovation (IISRI) at Deakin University for the expansion of Army’s leader-follower vehicle technology prototyping.

 -$135,000 contract with QinetiQ Australia for the modelling of the value of conversion of a Bushmaster Protected Mobility Vehicle to hybrid-electric drive.

 -$897,000 contract with EPE for small wheeled robots to experiment with human and machine teaming in reconnaissance roles.

Minister for Defence Industry Melissa Price said the investment will boost robotic and autonomous vehicle studies and help to build opportunities for local defence companies.

“These are exciting times for developing world-class, cutting-edge technology right here in Australia,” Minister Price said

“We are investing $12 million to boost Defence’s experience and understanding of new and emerging technologies in partnership with Australian industry and academia.

“There is a global increase in the use of these types of technologies and investments like these ensure both Defence and Australian industry are well positioned to take advantage and further develop these state-of-the-art technologies.”

Army’s Robotic & Autonomous Systems Implementation & Coordination Office (RICO) was launched in March 2020 to explore, coordinate and develop concepts for disruptive technology in pursuit of its Robotic and Autonomous Systems Strategy.

(Aus DoD)

Thai Cabinet Approved Budget to Improve Capacity of C-130 Aircraft

10 Agustus 2020

C130H aircraft of the RTAF (photo : Ratchapon Pipitsombat)

Thai Enquirer said that the cabinet meeting on August 4 approved a budget of 952 million baht earmarked for 2020-2022 to improve capacity of C-130 aircraft.

Last year RTAF update its C-130H transport fleet with the Rolls-Royce T56 Series 3.5 engine upgrade. The Series 3.5 upgrade allows T56 engines to operate at greatly reduced temperatures, extending parts life and improving reliability by 22 per cent. It is available for installation on T56 engines powering either C-130 or P-3 legacy aircraft.

The Series 3.5 upgrade will help the Royal Thai Air Force to reduce operational costs due to reduced maintenance requirements and potential fuel savings exceeding 12 per cent. It will also enable the fleet to remain in service until at least 2040.

No details about this year's C-130 improvements, it is expected that it could be a structural upgrade or other necessary improvements.

According to World Air Forces 2020 data Royal Thai Air Force operates 12 C-130H aircraft.

(Defense Studies)


LAPAN Gandeng Lundin untuk Pembuatan Float N-219 Amfibi

10 Agustus 2020

Pesawat N219 Amfibi (image : PT DI)

Pesawat N-219 Amfibi dirancang oleh LAPAN untuk dapat mendarat di dua media yaitu di darat dan di perairan. Untuk medan di perairan, sesuai karakterisitik yang ditemui di Indonesia maka dapat berupa pantai, laut, danau dan sungai yang lebar. Untuk menjadi amfibi maka roda pendarat pesawat N-219 diganti dengan float atau pengapung yang terbuat dari composite/komposit sehingga pesawat dapat mendarat di perairan. Di dalam float juga ada roda pendarat (landing gear) yang dikeluarkan pada saat melakukan pendaratan di darat, sedangkan saat mendarat di air maka roda pendarat ini akan disimpan dan pesawat mendarat sepenuhnya dengan float.

Demikian disampaikan Ir Agus Aribowo, MEng Kepala Bidang Program dan Fasilitas, Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN dalam program Tanya LAPAN edisi Pesawat N219 Amfibi yang diposting di channel Youtube pada 4 Maret 2020 yang baru lalu.
Pengujian aerodinamika model pesawat N-219 Amfibi di terowongan angin (photo : LAPAN)

Pesawat N-219 adalah pesawat dengan kapasitas 19 penumpang dengan payload sekitar 1,2 ton dengan jarak jangkau 450 NM hingga 1.000 NM. Berat peralatan float pada N-219 Amfibi ini sekitar 1 ton, untuk mengkompensasikan berat float ini maka N-219 Amfibi dikurangi kapasitas bahan bakarnya sehingga jarak jangkaunya turun menjadi 200 km saja dengan kapasitas penumpang tetap 19 orang.

Pesawat N-219 Amfibi memakai desain pesawat N-219 basic yang telah tersertifikasi yang kemudian dilakukan modifikasi sehingga memenuhi regulasi sebagai pesawat yang dapat  mendarat di perairan. Untuk material float ini LAPAN menggandeng vendor dari Amerika sebagai konsultan dan juga menggandeng PT DI dan BPPT untuk penelitian, pengembangan dan perekayasaan komposit sebagai bahan float.
Pengujian hidrodinamika model float pesawat N-219 Amfibi (photo : LAPAN)

Pesawat penumpang N-219 seri basic diproyeksikan dapat memperoleh type certicate pada tahun 2020 ini. Rencananya pesawat jenis amfibi ini akan dilakukan roll out pada tahun 2022, kemudian hingga tahun 2023 pesawat amfibi ini akan menjalani uji terbang selama 250 jam untuk mendapatkan type certificate atau amandment type certificate untuk N-219 Amfibi oleh Kementerian Perhubungan RI. Instansi yang mengeluarkannya adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPP) Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Saat ini LAPAN, PT DI dan BPPT mengembangkan spesimen-spesimen dasar dari bahan komposit agar float pesawat amfibi ini dapat dibangun atas hasil kerjasama tersebut. Rencananya untuk pembuatannya akan menggandeng industri lokal yaitu PT Lundin Industry Invest dari Banyuwangi akan diajak memproduksi float dari bahan komposit tersebut. Float pesawat amfibi ini juga membutuhkan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan sebelum dipasang pada pesawat N-219. 

LAPAN juga telah melakukan studi tentang kebutuhan pesawat ini untuk sektor pariwisata, tercatat daerah-daerah seperti Danau Toba, Kepulauan Riau, Pulau Bawah, Pulau Moyo, Labuan Bajo, Raja Ampat dan beberapa titik di daerah Kalimantan dan Sulawesi akan dapat memanfaatkan pesawat ini untuk sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan atau turis dari luar negeri yang datang dari bandara international, akan bisa langsung disambung dengan pesawat N-219 amfibi ke resort atau wisata bahari yang ada di daerah perairan tersebut. Dengan adanya pesawat ini maka perjalanan menuju lokasi yang semula ditempuh dengan perjalanan darat yang memakan waktu 4-5 jam dapat dipersingkat menjadi 30 menit saja.

(Defense Studies)

09 Agustus 2020

PT DI Sebut Pasar Industri Dirgantara Masih Terbuka Lebar

09 Agustus 2020

Pesawat Boeing 737 milik maskapai Indonesia yang telah selesai dilakukan maintenance di PT DI (photo : PT DI)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI melihat masih banyak peluang bagi pasar industri dirgantara di Indonesia. Direktur Utama PTDI Elfien Guntoro mengatakan masih banyak peluang pasar di dalam negeri mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. 

Menurut dia, negara kepulauan membutuhkan transportasi melalui moda transportasi laut dan udara. "Kalau menurut data dari Pricewaterhouse Coopers (PwC), kita melihat terdapat sekitar lebih dari 4.000 rute penerbangan pengumpan atau spoke to spoke namun yang terisi baru 529 rute dengan 223 rute di antaranya masih banyak yang utilisasi load factor-nya rendah," ujar Elfien dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (7/8).

Dia yakin produk-produk pesawat PTDI seperti pesawat NC212 maupun CN-235 maupun nanti N245 sangat kompetitif untuk mengisi rute penerbangan spoke to spoke tersebut.

"Selain itu bisnis yang bisa juga kita tingkatkan yakni bisnis perawatan dan perbaikan atau maintenance, repair, and overhaul (MRO)," kata dia.

Elfien menyampaikan MRO ini perlu ditingkatkan karena ini satu-satunya yang bisa recurring income sehingga bisnis MRO sangat bagus bagi PTDI.

(Republika)

Why Su-30 MKI from India More Expensive than Russian-Made Su-30 ?

 09 Agustus 2020

Su-30 MKI with Brahmos missile (photo : Financial Express)

According to Eurasia Times, the Su-30MKI fighter aircraft was developed by Russian company Sukhoi and manufactured under license at India's Hindustan Airlines (HAL), much more expensive than Su -30 made in Russia or Su-30MKK of China.

The Indian government claims that the higher cost of the Su-30MKI compared to China's Su-30MKK and the Russian Su-30 is due to factors such as differences in specifications, small production scale. and India must pay for the technology transfer license fee.

However, the high cost of the Su-30MKI fighter , manufactured by Hindustan Airlines Limited (HAL), has also been suspected of being transferred by the Indian Parliament.

In response to these doubts, Subhash Bamley, an Indian Defense Ministry official said that the main reason for the higher cost of the Su-30MKI was due to the specifications of the Russian Su-30 and the Su-30MKI of India is not the same. The above comparison may not be appropriate.

HAL Aviation Company currently produces Su-30MKI, estimated cost per Su-30MKI is about 62 million USD. Meanwhile, the price of the Russian-made Su-30 is about 40 million USD, so the Su-30MKI is 22 million USD higher than the Russian Su-30.

Su-30MKI fires Astra BVR missile (photo : Economic Times)

In response to lawmakers' questions, Mr. Bamley stated that the Su-30MKI fighters manufactured in India had some modifications to enhance combat performance, to meet the requirements of No. Indian army.

Since the output of India's Su-30MKI is lower than that of the Russian Su-30, the advantage of size also causes the price of Indian fighter aircraft higher. Furthermore, the production of Su-30MKI in India also includes the payment of the license fee for Russia.

The Indian company HAL imports raw materials and special components from Russia and assembles them at the Su-30MKI manufacturing plant in Nashik, the Indian state of Maharashtra.

The Ministry of Defense also said that the manufacture of Su-30MKI in India also gives the country a very advanced technology, which is a step towards the localization of weapons and equipment.

Self-made domestically will reduce the production cost of fighter jets, reduce dependence on foreign equipment manufacturers and shorten delivery times, greatly supporting the Indian Air Force.

The Su-30MKI fighter started to be developed at the request of the Indian Air Force in 1995. Sukhoi and the Irkutsk Aircraft Manufacturing Association (now Irkutsk) are responsible for the design and manufacture of the aircraft. From 1995 to 1998, Sukhoi built two Su-30MKI prototypes for flight testing.

Su-30MKI fully loaded (photo : Reddit)

The first prototype flew in a test flight in July 1997, mass production of the Su-30MKI began at the Irkutsk plant in 2000. The mass-produced Su-30MKI completed its maiden flight in November 2000. In October 2000, India signed a memorandum of understanding with Russia to begin production of the Su-30MKI at a HAL factory in India.

The Indian version of Su-30MKI is equipped with Israel's more advanced electronic air and electronic coping systems, making it different from the standard Russian Su-30 or China's Su-30MKK. In addition, the Su-30MKI can also carry a variety of missiles, including the R73, R77 air-to-air missiles and Brahmos cruise missiles produced by the Russia-India joint venture.

In addition, the Indian-made Astra long-range air-to-air missile has expanded the combat range of the Su-30MKI, making it more dangerous than ever. Su-30MKI is also equipped with thrust vector engine, so it is more maneuverable than Su-30MKK of China.

The Indian Air Force currently has 260 Su-30MKIs and last month, amid border tensions with China, India ordered 12 more Su-30MKIs from Russia; and the number Su-30MKI is the backbone of the Indian Air Force.

Compared to the PLAAF's Su-30MKK, the Indian Su-30MKI is more maneuverable; compared to Russia's Su-30, India's Su-30MKI has better weapons. Therefore, it is easy to understand why India's Su-30MKI price is higher than that of Russia and China.

(KienThuc)

08 Agustus 2020

Tingkatkan Kemampuan Sebagai Pasukan Elit, KOPASKA Koarmada II Latihan Malam Hari

 08 Agustus 2020

Latihan malam hari KOPASKA (all photos : TNI AL)

Guna meningkatkan kemampuan dan naluri tempur Satuan KOPASKA, Komandan Satkopaska Koarmada II, Kolonel Laut (T) Ariyadi memerintahkan prajuritnya untuk melatih latihan pada waktu malam, Rabu (6/8).

Dalam pelaksanaan latihan kali ini peserta dibagi menjadi 4 tim, masing-masing tim dipimpin seorang Dantim. Kegiatan diawali dengan briefing Mayor Arif Sugiono selaku Dandenlat kepada seluruh peserta latihan. Selesai briefing, seluruh peserta mulai melaksanakan latihan Renang Kompas Bawah Air (RKBA) dan latihan sabotase .

Kolonel Ariyadi menyampaikan “Dalam skenario latihan kali ini, Prajurit Satkopaska Koarmada II melaksanakan RKBA malam hari sebagai upaya sabotase dengan mine pad untuk penghancuran kapal sasaran”, jelas Ariyadi – sapaan karib Dansatpaska Koarmada II.

Ariyadi menambahkan bahwa “Kegiatan Latihan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam mendukung peperangan sekaligus untuk K2 Combat Swimmer Satkopaska 2020. Dan pelaksanaan latihan ini sesuai dengan arahan Pangkoarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto untuk terus melaksanakan pembinaan dalam rangka meningkatkan profesionalisme Prajurit KOPASKA Koarmada II”, pungkas Ariyadi.

(TNI AL)

Australia Invests in New Unmanned Aircraft Systems Development Program

08 Agustus 2020

Defence plans to acquire new UAS with 25 to 300kg in weight and equipped with maritime surveillance (photo : Global)

The Morrison Government is investing up to $1.3 billion in a new Unmanned Aircraft Systems (UAS) development program to enhance situational awareness across Australia’s vast maritime environment.

The Maritime UAS Continuous Development program will ensure Defence maintains leading-edge maritime surveillance capabilities.

Minister for Defence, Senator the Hon Linda Reynolds CSC said Defence requires leading-edge maritime surveillance capabilities to better understand and adapt to the complex and rapidly changing maritime domain.

“As detailed in the 2020 Defence Strategic Update, launched by the Prime Minister and I in July, Australia is at the centre of a dynamic strategic environment,” Minister Reynolds said.

“Now, more than ever, Defence requires an agile acquisition strategy to take advantage of state-of-the-art technology.

“This acquisition heralds a new intelligence, surveillance, reconnaissance and targeting capability for Defence to ensure Australia keeps pace in this rapidly developing technology domain.”

Through this program, Defence plans to acquire air vehicles between approximately 25 to 300kg in size that will enhance the situational awareness and response options of Royal Australian Navy ships.

To keep pace with rapidly developing technology in this domain, Defence will adopt a five yearly investment cycle to upgrade the Maritime UAS capability commencing in 2024.

An Invitation to Register will be released for industry to investigate the capability and capacity of Australian industry to deliver all elements of the Maritime UAS, including air vehicles, sensor payloads, integration, training and sustainment.
“Developing sovereign industrial capability through projects like this is critical to enhancing Australia’s industrial base and maritime security,” Minister Reynolds said.

“To ensure we are positioned to respond to future challenges, the Morrison Government will continue to invest in Australia’s UAS industry through Defence Innovation and Technology initiatives.

“This program will provide opportunities for Australian industry to innovate, develop and grow.”

Detailed advice on the Invitation to Register will be released on AusTender in August 2020.

NanoMalaysia, Pulsar UAV Inks JV to Produce Hydrogen-Powered Drone

 08 Agustus 2020

Pulsar H2 UAV, one of Pulsar UAV's made (photo : uasvision)

KUALA LUMPUR -- NanoCommerce Sdn Bhd (NSCB), a subsidiary of NanoMalaysia Bhd has inked a Joint venture (JV) agreement with Pulsar UAV Sdn Bhd (Pulsar UAV) to commercialise a hydrogen-powered drone known as the High Endurance Fuel Cell UAV Powered UAV (Unmanned Aerial Vehicle).

The JV agreement will see NSCB taking a 20 per cent stake in Pulsar UAV.

NCSB and NanoMalaysia chief executive officer Dr Rezal Khairi Ahmad said NanoMalaysia places an intrinsic value on the project through a congregation of project investments, intellectual properties and market validation and access.

“The JV will also enable NanoMalaysia Berhad to further develop the existing Hydrogen Paired Hybrid Energy Storage System  (H2SS) - which is currently powered Pulsar’s drones - for another project: Malaysia’s first locally developed electric motorsports vehicle, the Hydrogen Paired Electric Racecar (HyPER),”

“The onboard hydrogen-powered drone has already been sandboxed for precision agriculture with a level of success,”  he said in a statement here today.

HyPER according to him, aims to mobilise the Malaysian automotive and transportation sectors in the direction of renewable energy, specifically green hydrogen as the first step towards a Hydrogen Economy.

The global electric vehicle market stood at US$39.8 billion (RM167 billion) in 2018 and is projected to reach US$1.5 trillion (approximately RM6.4 trillion) by 2025.

Meanwhile, Pulsar UAV chief executive officer, Izmir Yamin said the JV agreement will help the company to validate the needs of drone services in various sectors, particularly agriculture.

“The market validation gives us reason to further improve our drone services by developing an on-board hydrogen generator,” he said in a statement today.

"Now, with our in-house hydrogen technology, we are not only improving the drone services, but we are also able to venture into other sectors like energy and transportation," he said.

(Bernama)

07 Agustus 2020

HENSOLDT UK Delivers Radar Suite to the Philippine Navy Frigate BRP Jose Rizal

07 Agustus 2020
HENSOLDT equips the Philippine Navy frigate BRP Jose Rizal with a radar suite (photo: Philippine Navy)

Enfield, UK – HENSOLDT UK has supplied a radar suite consisting of Kelvin Hughes Mk11 S and X Band radar systems to the Philippine Navy frigate BRP Jose Rizal, recently delivered by Hyundai Heavy Industries.

The SharpEye Mk11 radars are approved by the International Maritime Organization (IMO) and take advantage of the Kelvin Hughes’ advanced solid state SharpEye Doppler technology that brings full situational awareness to the users even in the most severe weather conditions.

Hensoldt TRS-3D radar (photo : Hensoldt)

The solid-state SharpEye transceivers are located upmast in the carbon composite turning unit housing and bring additional benefits such as ease of installation and high reliability. The use of a direct drive motor system, rather than the traditional antenna rotator gearbox, reduces maintenance.

This is one of the first complete HENSOLDT radar suites to be delivered and includes HENSOLDT’s TRS-3D, a three-dimensional multimode naval radar for air and sea surveillance. The TRS-3D includes a secondary radar MSSR 2000 I for Identification-friend-or-foe (IFF) as well as the SharpEye Mk11 radars.
Kelvin Hughes Mk11 S and X Band radar (photo : Hendsoldt)

Adrian Pilbeam, Head of Sales at HENSOLDT UK, commented: “HENSOLDT UK is pleased to be part of the modernisation of the Philippine Navy. The supply radar sensor suite from HENSOLDT demonstrates the strength of the combined group in providing complete Naval radar solutions.”

A sister ship, BRP Antonio Luna, is still under construction at Hyundai Heavy Industries and will be delivered later this year.

Australia Invests in New Anti-Submarine Training Capability

07 Agustus 2020
AUV62-AT, modular target for ASW training (all images : SAAB)

The Morrison Government will invest around $11 million to acquire an advanced anti submarine warfare capability for Defence.

Minister for Defence, Senator the Hon Linda Reynolds CSC said the new AUV62-AT, Intermediate Anti-Submarine Warfare Training Target will enhance Australia’s warfighting capabilities.
“This advanced technology training target will simulate submarines and torpedos, providing highly realistic live training scenarios for submariners, aviators and surface vessel combat teams,” Minister Reynolds said.

“As well as being a cost-effective capability, it provides exciting delivery opportunities to grow Defence’s warfighting skills now, and as anti-submarine warfighting technology develops.
“In the 2020 Force Structure Plan announced by the Prime Minister and I on July 1, we have set out plans to enhance our regional anti submarine warfare capabilities, including the provision of training sub systems.

“This capability will improve the ADF’s Anti Submarine Warfare proficiencies for more complex operations and environments.”
Navy will partner with Saab Australia to bring the new capability into service, providing opportunities for local industry to contribute to the project.

Australian companies, including locally-owned company BlueZone Group, which has facilities in Newcastle, Perth and Melbourne, will have the opportunity to support and manage the operation, repair and maintenance of the AUV62-AT for Defence.

KSAU Tinjau Pembangunan Satuan Peluru Kendali NASAMS

07 Agustus 2020
Kendaraan Battery Command Vehicle sistem NASAMS (photo : TNI AU)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo meninjau pembangunan infrastruktur Satuan Peluru Kendali (Satrudal) National Advanced Surface to Air Missile System (NASAMS) TNI AU di Teluk Naga, Tangerang, Banten, Rabu (5/8/2020). 

Fadjar mengatakan TNI AU akan terus mengembangkan sistem keamanan dan pertahanan udara, termasuk pembangunan Satrudal TNI AU dengan tetap memperhatikan faktor taktisnya.

"Pembangunan sarana dan prasarana Satrudal TNI AU dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat difungsikan sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan," ujar Fadjar dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (6/8/2020). 
Kendaraan lainnya dari paket NASAMS masih dibungkus kain putih (photo : TNI AU)

Dalam kegiatan tersebut, Fadjar juga meninjau fasilitas pendukung, antara lain perkantoran, gudang amunisi dan peluncur rudal. 

Kemudian pos komando, instalasi listrik, ruang briefing dan pembangunan perumahan. 

Adapun Satrudal NASAMS TNI AU merupakan sistem pertahanan udara untuk melindungi Jakarta dengan persenjataan rudal jarak sedang.
Kendaraan pengusung rudal NASAMS TNI AU akan sama dengan yang dipakai Lithuania yaitu Mercedes Benz Actros 8x8 (photo : LTU Army)

Pertahanan udara tersebut terdiri dari radar, peluncur rudal, dan pos komando untuk mendeteksi ancaman serta mengeksekusi dengan rudal Advanced Medium Range Air to Air Missile (AMRAAM). 

Turut hadir mendampingi KSAU, antara lain para Asisten KSAU Pangkoopsau I, Pangkohanudnas, Kadiskonau, Kadiskomlekau dan Danlanud Halim Perdanakusuma.

Perkhidmatan Beechcraft akan Tamat 2024 kerana Jangkau Usia hampir 30 tahun – Menteri

07 Agustus 2020

Beechcraft Super King Air B200T TUDM (photo : presiic)
 
KUALA LUMPUR – Menteri Pertahanan, Datuk Seri Ismail Sabri hari ini menjelaskan rancangan penamatan khidmat pesawat Beechcraft Super King Air B200T milik Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) adalah pada tahun 2024.

“Ini adalah selari dengan Dasar Perintah Am Angkatan Tentera,” kata Ismail Sabri semasa Pengulungan Bahas.

Menurut beliau, peranan pesawat tersebut akan digantikan dengan Pesawat Rondaan Maritim (Maritime Patrol Aircraft, MPA) yang lebih berkeupayaan. Pengantian pesawat tersebut adalah selari dengan pelan Capability 55 (CAP 55) TUDM.

“Perolehan MPA telah diluluskan oleh kerajaan. Pesawat tersebut adalah lebih berkemampuan untuk melakukan rondaan maritim secara menyeluruh dan berkesan,” ujarnya.

Ismail Sabri menambah, Beechcraft telah berkhidmat dalam TUDM semenjak tahun 1994 dengan melakukan rondaan maritim secara terhad di Zon Ekonomi Esklusif negara.

“Ini kerana had jangkauan, jarak, saiz kabin, kuantiti platform yang terhad serta sistem pengawasan terbatas,” jelasnya.

Sebelum ini, TUDM mengoperasikan sebanyak 4 buah pesawat tersebut namun salah sebuah daripadanya telah musnah dalam nahas udara pada 21 Disember 2016.

Kejadian tersebut telah mengorbankan seorang juruterbang, Leftenan Kolonel Kayamboo Chellam TUDM.

“Menyentuh kejadian nahas tersebut, TUDM telah mengklasifikasikan insiden tersebut sebagai training hazard (kemalangan latihan) dan bukannya isu teknikal,

“TUDM telah membuat kajian dan penambahbaikan latihan sedia ada bagi menggelakkan sebarang kejadian sama berlaku,

“Penambahbaikan telah dimasukkan dalam prosedur operasi pesawat yang digunakan sehingga hari ini,” jelasnya lagi.

Program CAP55 telah diperkenalkan pada tahun 2018 dan menggariskan rancangan pembangunan jangka panjang TUDM sehingga tahun 2055.

Melalui rancangan tersebut, TUDM telah bercadang untuk membentuk satu skuadron pesawat MPA.

06 Agustus 2020

Menhan Kunjungi Perusahaan Galangan Kapal PT Tesco Indomaritim di Babelan Bekasi

07 Agustus 2020
Dalam kunjungannya ke Tesco Indomaritim  juga terlihat bahwa Menhan sedang mengamati produk USV (Unmanned Surface Vehicle) 12 meter (photos : Kemhan)
 
Bekasi – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke PT Tesco Indomaritim, Rabu (5/8) di Babelan, Bekasi, Jawa Barat. PT Tesco Indomaritim merupakan perusahaan galangan kapal swasta nasional yang juga termasuk dalam perusahaan industri strategis pertahanan dalam negeri.

Melalui kunjungan ini, Menhan ingin melihat secara langsung kapasitas, kemampuan dan kesiapan Industri pertahanan swasta salah satunya adalah PT Tesco Indomaritim dalam turut serta memenuhi kebutuhan Alutsista TNI khususnya kapal perang.

Pemenuhan Alutsista TNI memprioritaskan produksi industri pertahanan dalam negeri sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dalam upaya mewujudkan kemandirian industri pertahanan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menhan Prabowo Subianto yang dalam kunjungan ini didampingi Rektor Universitas Pertahanan Laksdya TNI Dr. A. Octavian, S.T., M.Sc., DESD dan Wakasal Laksda TNI Ahmadi Heri Purwono, disambut langsung oleh Direktur Utama PT Tesco Indomaritim Jamin Basuki.

Menhan berkesempatan berkeliling meninjau fasilitas produksi dan menerima penjelasan singkat beberapa produk kapal yang telah berhasil diproduksi PT Tesco Indomaritim.

PT Tesco Indomaritim adalah perusahaan galangan kapal nasional mampu membuat kapal plat baja dan aluminium berkinerja tinggi yang ditenagai dengan sistem Waterjet atau sistem Propeller.
PT Tesco juga saat ini sedang mengikuti tender untuk kapal OPV dengan mengajukan desain OPV-95 (photo : Putut Reza)

Galangan kapal yang terletak di Desa Muarabakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi ini produksi kapalnya selama ini telah digunakan secara baik di lingkungan TNI.

Beberapa kapal pesanan dari TNI AD telah dikerjakannya yakni Kapal Cepat KMC Komando, termasuk TNI AL seperti Landing Craft Vehicle Personel 12 Meter, Fast Patrol Boat 28 Meter, Landing Carrier Utilities 24 Meter, KAL 28 meter, RFIB dan kapal pesanan TNI panjang 38 meter.