16 Agustus 2026

HIMARS Arrives at the School of Artillery

16 Agustus 2026

HIMARS arrives at the Australian Army - School of Artillery (photo: Australian Army

The School of Artillery has welcomed the arrival of High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) platforms, marking another significant step in the evolution of the Australian Army’s long-range fires capability.

With HIMARS now incorporated into full-time training at the School of Artillery, our people will develop the knowledge and skills required to operate, support and employ this capability as it continues to be introduced into service.

The integration of HIMARS into training represents an important shift for Australian Artillery—building the workforce, expertise and readiness required to deliver long-range precision fires in support of the future force.

New capability. New skills. Greater reach.

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV) PT PAL Indonesia

16 Agustus 2026

USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (photos & video:  PAL)

Surabaya, (13/08) – Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.


Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.


“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.


“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.


Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

(PAL)

15 Agustus 2026

Australia dan AS Uji Kemampuan Komunikasi dan Wahana Bawah Laut Nirawak

15 Agustus 2026

ADV Guidance dalam RIMPAC 2026 (photos: dvids)

Australia dan Amerika Serikat bersama-sama menguji wahana maritim nirawak serta teknologi terkait—termasuk sistem komunikasi akustik—selama Latihan 'Rim of the Pacific' ('RIMPAC') 2026 yang berlangsung dari 24 Juni hingga 31 Juli di wilayah Kepulauan Hawaii dan sekitarnya.


Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memajukan kemampuan peperangan bawah laut gabungan di bawah Pilar 2 kemitraan AUKUS yang melibatkan Australia, Inggris, dan AS, demikian disampaikan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada 13 Agustus.


DoD menyatakan bahwa personel dari Defence Science and Technology Group (DSTG), Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN), dan Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) bersama-sama mendemonstrasikan operasi wahana maritim nirawak dari kapal Australian Defence Vessel (ADV) Guidance.

USV Seasats Lightfish (photo: Seasats)

Menurut DoD, kapal Guidance yang memiliki panjang 107 meter ini mendukung pengerahan dan pengujian platform bawah laut robotik dan otonom serta sistem pengawasan bawah laut. Kapal ini memiliki lebar 22 meter dan bobot benaman (displacement) sebesar 7.400 ton.

UUV Hugen Superior (photo: Kongsberg)

Sistem milik Australia yang diuji coba selama latihan tersebut meliputi wahana bawah laut nirawak (UUV) Kongsberg Hugin Superior, remotely operated vehicle (ROV) kelas kerja Schilling, wahana permukaan nirawak (USV) Seasats Lightfish, serta sistem relai komunikasi akustik bawah laut yang dapat dikerahkan, Rock Lobster.

ROV Schilling (photo: Schiling Robotics)

DoD menyebutkan bahwa Hugin Superior dan ROV Schilling dikerahkan secara bersamaan untuk melaksanakan misi navigasi dan pencarian bawah laut yang kompleks di dalam area latihan. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana mitra AUKUS meningkatkan kemampuan mereka dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman maritim.

APMM Terima Helikopter AW-189 Pertamanya

15 Agustus 2026
 
APMM total akan menerima empat AW189 medium lift helicopter (infographic: APMM)

Penerimaan AW189 perkukuh keupayaan Maritim Malaysia jaga kseselamatan kedaulatan perairan negara
SUBANG – Menteri Dalam Negeri, YB Datuk Seri Saifuddin Nasution, hari ini menyempurnakan Majlis Penerimaan Helikopter AW189 Maritim Malaysia, menandakan penerimaan helikopter pertama daripada empat buah helikopter Medium Lift AW189 yang diperoleh Kerajaan bagi memperkukuh keupayaan udara Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia).

Majlis tersebut menjadi satu lagi langkah penting dalam usaha Kerajaan MADANI memodenkan aset keselamatan negara serta memperkukuh keupayaan Maritim Malaysia dalam melaksanakan penguatkuasaan, pengawasan udara, operasi mencari dan menyelamat (CARILAMAT), MEDEVAC dan operasi khas.

Dalam ucapan pada majlis berkenaan, Menteri Dalam Negeri berkata penerimaan AW189 bukan sekadar penambahan aset kepada armada Maritim Malaysia, tetapi mencerminkan iltizam Kerajaan untuk memastikan keselamatan rakyat, kedaulatan negara dan kepentingan nasional sentiasa terpelihara.

“Pelaburan dalam keselamatan merupakan pelaburan strategik bagi mempertahankan kedaulatan, melindungi rakyat serta menyokong kestabilan dan kemakmuran ekonomi negara.” Beliau berkata, Malaysia sebagai sebuah negara maritim dengan keluasan Zon Maritim Malaysia mencecah 556,285 kilometer persegi memerlukan keupayaan pengawasan dan tindak balas yang pantas bagi menghadapi cabaran keselamatan maritim yang semakin kompleks.

Helikopter AW189 pertama APMM (photo: APMM)

Helikopter AW189 mempunyai jarak operasi sehingga 1,166 kilometer, kelajuan maksimum 313 kilometer sejam dan endurance sehingga lima jam, serta mampu beroperasi siang dan malam dalam pelbagai keadaan cuaca. Dikendalikan oleh lima kru dan mampu membawa sehingga 14 penumpang, aset berkenaan memberikan keupayaan dan fleksibiliti lebih tinggi, khususnya bagi operasi di perairan yang jauh dari pesisir.

Menurut Menteri Dalam Negeri, keupayaan tersebut amat penting dalam operasi CARILAMAT kerana setiap minit amat berharga dalam usaha menyelamatkan nyawa di laut. Penerimaan empat buah AW189 ini merupakan sebahagian daripada usaha berterusan Kerajaan memodenkan aset udara Maritim Malaysia agar kekal relevan dengan keperluan operasi semasa.

Sehingga 24 Julai 2026, Maritim Malaysia telah melaksanakan 116,192 pemeriksaan, 26,253 penggeledahan dan 562 tangkapan, dengan nilai rampasan melebihi RM4.38 bilion. Bagi operasi CARILAMAT pula, sebanyak 129 kes melibatkan 638 mangsa telah dilaksanakan.
Perolehan empat buah AW189 diluluskan melalui Rolling Plan Keempat (RP4), Rancangan Malaysia Kesebelas (RMKe-11) dengan tempoh kontrak dari 19 Januari 2024 hingga 18 Januari 2029.

Menteri Dalam Negeri berkata peningkatan keupayaan aset ini akan memberi manfaat kepada nelayan, komuniti maritim, industri perkapalan, sektor pelancongan serta semua pengguna perairan negara melalui peningkatan tahap keselamatan dan keupayaan tindak balas terhadap kecemasan di laut.

Beliau turut merakamkan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam menjayakan proses perolehan, penghantaran, penerimaan dan pengoperasian helikopter AW189 Maritim Malaysia.

“Aset boleh dibeli, teknologi boleh diperoleh tetapi yang menentukan kejayaan sesebuah organisasi ialah profesionalisme, integriti dan semangat juang warganya.” Penerimaan AW189 ini diharap dapat terus memperkukuh Maritim Malaysia sebagai benteng hadapan negara dalam memastikan keselamatan perairan, menyelamatkan nyawa serta mempertahankan kedaulatan Malaysia di lautan.

14 Agustus 2026

TNI AL Melaksanakan Uji Tembak MLRS Pertama dari Flight Deck Kapal PPA

14 Agustus 2026

Flight deck kapal PPA KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

TNI Angkatan Laut telah melaksanakan uji tembak pertama sistem peluncur roket ganda (multiple-launch rocket system atau MLRS) dari geladak penerbangan salah satu kapal perang kelas Brawijaya, yakni jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA).

Uji tembak tersebut dilakukan dari kapal kedua di kelasnya, KRI Prabu Siliwangi 321, dalam sebuah latihan angkatan laut di wilayah Kepulauan Riau antara akhir Juli dan awal Agustus 2026.

MLRS RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir TNI AL menembakkan roket dari flight deck/geladak penerbangan KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

Gambar-gambar yang dirilis oleh TNI AL menunjukkan bahwa MLRS yang dikerahkan di atas kapal PPA tersebut adalah sistem RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir Indonesia, yang sebelumnya telah terlihat di atas kapal tersebut sejak Mei 2026.

RM-70 Vampire merupakan sistem roket artileri berbasis truk yang dikembangkan dari keluarga BM-21 Grad.

Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa uji tembak MLRS ini menggunakan roket kendali TRG-122 yang pada bulan Mei 2026 lalu baru diterima dari Turkiye (photo: Roketsan) 

Sistem ini menembakkan roket kaliber 122 mm dalam salvo cepat untuk menyasar target area, memberikan daya tembak masif (saturation fire) terhadap posisi pertahanan dan sasaran darat lainnya.

KRI Prabu Siliwangi adalah satu dari dua kapal PPA yang dibeli Indonesia dari perusahaan galangan kapal Italia, Fincantieri, melalui kesepakatan senilai 1,18 miliar euro (1,36 miliar dolar AS).

Spesifikasi teknik TRG-122 roket kendali kaliber 122mm buatan Roketsan, Turkiye (image: Roketsan)

Kapal ini mulai beroperasi secara resmi pada Desember 2025, sementara kapal saudaranya yang merupakan kapal pertama di kelas tersebut, KRI Brawijaya 320, telah lebih dulu masuk dalam jajaran armada Indonesia pada Juli 2025.

Kedua kapal tersebut dilengkapi dengan meriam utama kaliber 127 mm, meriam kaliber 76 mm, serta sel sistem peluncur vertikal (vertical launch system atau VLS) yang mampu meluncurkan senjata anti-udara dan anti-permukaan.

Leonardo can Customize PH Multi-role Fighters

14 Agustus 2026

Leonardo Eurofighter Typhoon (photo: Ismael Jorda)

MANILA – Multinational aerospace and defense manufacturer Leonardo S.p.A (Leonardo) is very capable of customizing its twin-engine Eurofighter Typhoon to suit Philippine operational standards and conditions once the country formalizes an order for its multi-role fighter (MRF).

"The Eurofighter program has consistently configured the aircraft to meet each operator's specific environmental and operational conditions, a reflection of the platform's design flexibility and the depth of engineering experience behind it," Enrico Fossatti, head of Leonardo's Eurofighter Export Campaigns for marketing and sales, said in an email reply to the Philippine News Agency on Tuesday.

Eurofighter Typhoon, manufactured by the consortium of Leonardo, Airbus and BAE System, is among the options being looked into by the Department of National Defense (DND) for its MRF program.

Other options are Sweden's SAAB JAS-39 "Gripen", South Korea's KF-21 "Boramae", US-based Lockheed's F-16V "Viper" MRF, the Rafale of France-based Dassault Aviation.

Fossatti said the Eurofighter Typhoon's twin-engine configuration and safety record were built to demonstrate strength in demanding weather conditions such as operations over water and in extreme weather.

"So far, the Eurofighter (has) been flying in very different climate environments, from the Falklands to Iceland, from the Baltic to Australia, with demonstrated exceptional track records. The Philippines' tropical, maritime setting would naturally inform any configuration work. Should the Philippines proceed with the program, Leonardo and the partner nations would work directly with the Department of National Defense and the Philippine Air Force to tailor the aircraft accordingly, subject to possible bilateral agreements and the relevant approvals," he said.

Advanced weaponry
Aside from this, Fossatti said the Eurofighter Typhoon's weapons package or systems is one of the platform's core strengths.

He said the fighter jet is made to work "beyond-visual-range air-to-air missile for long-range engagement, alongside a comprehensive electronic warfare suite that allows the aircraft to operate effectively across a wide range of threat environments."

He said the precise composition of the weapons package for the Philippines will be determined by the final requirements and agreements reached with the Philippine government should the contract be finalized.

"What we can assure is that the aircraft will be equipped to fulfill the full range of missions required by the Philippine Air Force, drawing on a weapons integration pedigree that has been proven across multiple Eurofighter operators, subject to applicable approvals," he added.

Earlier, DND Secretary Gilberto Teodoro Jr. said the Philippines is looking for at least five possible suppliers for its MRF program to further improve the AFP's defensive capabilities.

He said the program is pegged to have an initial PHP60 billion to PHP150 billion budget and is under the Armed Forces of the Philippines Rehorizon Three. 

(PNA)

13 Agustus 2026

Kunjungan Kerja Komandan Batalyon Ranratfib 2 Marinir Di Skuadron Udara 700 Puspenerbal

13 Agustus 2026

Kunjungan kerja Komandan Batalyon Ranratfib 2 Marinir di Skuadron Udara 700 Puspenerbal (photos: PasMar2)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Surabaya). menyongsong era modernisasi Alutsista berbasis teknologi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) Komandan Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi 2 Marinir (Yonranratfib 2 Mar), Mayor Mar Ferry Prasetiadi menyambangi Skuadron Udara 700 Puspenerbal yang merupakan satuan khusus Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) / Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di bawah jajaran Wing Udara 2 Puspenerbal yang berlokasi di Juanda Surabaya Jawa timur. Senin (10/08)


Langkah strategis ini diambil untuk mempelajari dan menyerap kapabilitas teknologi drone intai guna memperkuat referensi kebutuhan taktis Kavaleri Marinir di medan operasi.


​Kegiatan ini selaras dengan misi komandan, yaitu membangun batalyon yang profesional, berkarakter, modern dan siap terintegrasi dengan teknologi mutakhir.

F-16 RSAF yang Digunakan dalam Pitch Black 2026 adalah Varian Upgrade F-16DU+

13 Agustus 2026

Pesawat tempur RSAF F-16DU+ (photo: Aviation Week)

DARWIN, Australia—Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) memanfaatkan kemampuan yang telah ditingkatkan pada pesawat tempur Lockheed Martin F-16C/D Blk. 52 mereka selama Latihan Pitch Black, sekaligus menggunakan latihan multinasional ini untuk bersiap menyambut kedatangan Lockheed Martin F-35B mulai akhir tahun 2026.

Pesawat yang telah ditingkatkan kemampuannya—dengan kode varian F-16CU/DU/DU+—ini dilengkapi dengan radar Northrop Grumman AN/APG-83 Scalable Agile Beam Radar (SABR) dan avionik yang diperbarui, serta telah disertifikasi untuk menggunakan rudal udara-ke-udara jarak pendek Rafael Python 5 dan bom berpemandu presisi Joint Direct Attack Munition (JDAM).

"Ini adalah radar yang bagus dan memiliki jangkauan deteksi target yang baik," ujar Kolonel Benjamin Fu, direktur latihan RSAF, kepada Aviation Week di lokasi Latihan Pitch Black.

"Pitch Black secara khusus mencakup wilayah udara yang sangat luas," tambah Fu. "Anda bisa tersesat jika tidak memiliki kesadaran situasional yang memadai. Peningkatan ini memungkinkan kami bertempur secara lebih efektif dengan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai posisi kami dan posisi ancaman."

F-16DU+ dalam Pitch Black 2026 (photo: Aus DoD)

Radar Active Electronically Scanned Array (AESA) AN/APG-83 SABR dilaporkan mampu memindai dan melacak antara 20 hingga 35 target secara bersamaan, sehingga secara signifikan meningkatkan kesadaran situasional F-16 dalam skenario pertempuran udara yang kompleks.

Fu tidak membahas kinerja operasional rudal Python 5, seraya mencatat bahwa penggunaannya "dibatasi" selama latihan multinasional yang bersifat tidak rahasia (unclassified) ini. Ia mengatakan bahwa sebagian besar pertempuran selama fase pengerahan kekuatan besar (large-force employment) dalam Pitch Black dilakukan menggunakan rudal jarak jauh (beyond-visual-range) RTX AIM-120 AMRAAM dan MBDA Meteor pada jarak sekitar 30-40 mil.

Python 5 terutama digunakan selama fase awal latihan manuver tempur dasar (basic fighter maneuver), meskipun Fu menyebutkan bahwa kombinasi antara Python 5 dan AIM-120 memberikan kemampuan tempur udara yang seimbang bagi F-16, baik dalam pertempuran jarak dekat (within-visual-range) maupun jarak jauh (beyond-visual-range). Pesawat F-16 tersebut juga menjatuhkan bom GBU-49 Enhanced Paveway dan GBU-31 JDAM dalam kondisi "lingkungan yang diperebutkan" (contested environments).

Rudal Rafael Python 5 (image: AeroContact)

Selain untuk memvalidasi peningkatan kemampuan F-16, RSAF juga memanfaatkan latihan Pitch Black untuk mempelajari penggunaan pesawat tempur generasi kelima menjelang penerimaan F-35B pertama mereka akhir tahun ini.

"Bagaimana cara kita mengintegrasikan pesawat tempur generasi keempat dengan generasi kelima? Terkait taktiknya—siapa yang berada di depan, siapa di belakang, serta bagaimana kita mengintegrasikan pertempuran secara efektif sebagai satu tim," ujar Fu.

Angkatan udara tersebut juga mengamati bagaimana operator F-35 yang lebih berpengalaman merencanakan dan melaksanakan operasi dengan formasi campuran (mixed-force packages), yang mencakup aspek di luar taktik udara, seperti perencanaan misi serta proses komando dan kendali.

"Hal ini akan memberikan kami keunggulan saat menerima F-35 nanti pada akhir tahun ini," kata Fu.

(Aviation Week)

12 Agustus 2026

Vietnam Memulai Pembangunan Korvet Anti-kapal Selam Serbaguna

12 Agustus 2026

Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menyampaikan pidato pengarahan (photos: QDND)

Pada pagi hari tanggal 10 Agustus, Song Thu Corporation (di bawah naungan Departemen Umum Industri Pertahanan), bekerja sama dengan Angkatan Laut Rakyat Vietnam, menyelenggarakan upacara peletakan batu pertama pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna. Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam—Anggota Komite Sentral Partai, Anggota Komite Tetap Komisi Militer Pusat, dan Wakil Menteri Pertahanan Nasional—hadir serta menyampaikan pidato pengarahan.

Para hadirin dalam upacara tersebut antara lain: Letnan Jenderal Le Ngoc Hai, Anggota Komite Sentral Partai dan Komandan Wilayah Militer 5; Laksamana Madya Tran Thanh Nghiem, Anggota Komite Sentral Partai dan Komandan Angkatan Laut Rakyat Vietnam; Nguyen Khac Toan, Anggota Komite Sentral Partai dan Wakil Sekretaris Tetap Komite Partai Kota Da Nang; Letnan Jenderal Dinh Quoc Hung, Sekretaris Komite Partai dan Komisaris Politik Departemen Umum Industri Pertahanan; serta Mayor Jenderal Pham Thanh Khiet, Wakil Direktur dan Kepala Staf Departemen Umum Industri Pertahanan.


Korvet anti-kapal selam serbaguna ini merupakan kapal perang terbesar dan paling modern yang pernah dibangun oleh Vietnam. Kapal ini merupakan produk yang dirancang dan dibangun secara mandiri oleh Vietnam, di mana negara tersebut menguasai sebagian besar teknologi persenjataan dan peralatan yang dipasang di dalamnya. Proyek ini mencerminkan kecerdasan, ketangguhan, aspirasi, serta semangat kemandirian dan penguatan diri bangsa; proyek ini menandai tonggak sejarah penting dalam pengembangan industri pembuatan kapal pertahanan dan militer, serta dalam kemampuan menguasai teknologi inti dan dasar, serta kemampuan meneliti, merancang, dan memproduksi senjata dan peralatan teknis di dalam negeri.

Pada saat yang sama, proyek ini menegaskan kebijakan tepat dari Partai dan Negara terkait pengembangan industri pertahanan yang "otonom, mandiri, memperkuat diri, memiliki fungsi ganda, dan modern." Ini merupakan peristiwa penting di bidang pembuatan kapal militer yang menunjukkan kemampuan sumber daya manusia Vietnam—termasuk para pejabat, ilmuwan, insinyur, dan tenaga teknis—dalam merancang, membangun, dan mengintegrasikan sistem senjata serta peralatan modern yang sangat terpadu di atas kapal tersebut. Dalam pidato utamanya pada upacara peletakan batu pertama, Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menegaskan bahwa tugas pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna ini telah dipercayakan kepada Song Thu Corporation oleh Kementerian Pertahanan Nasional, Departemen Umum Industri Pertahanan, dan Angkatan Laut Rakyat Vietnam. Song Thu Corporation merupakan salah satu fasilitas pembuatan kapal militer terkemuka, dengan sejarah pengembangan dan pertumbuhan selama 50 tahun yang membanggakan. Sepanjang kiprahnya, perusahaan ini terus berupaya mencapai keunggulan, membangun merek dan reputasi yang kuat dalam pembangunan serta pemeliharaan teknis kapal militer, maupun dalam pengembangan ekonomi dan ekspor, sehingga memberikan kontribusi vital bagi pertumbuhan industri pertahanan.


Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam sangat mengapresiasi tekad yang ditunjukkan oleh Angkatan Laut Rakyat Vietnam, Departemen Umum Industri Pertahanan, serta berbagai badan dan unit di bawah Kementerian Pertahanan Nasional; beliau memuji upaya cepat dan proaktif mereka dalam melaksanakan prosedur investasi yang sepenuhnya mematuhi peraturan. Beliau juga mengakui kerja keras dan dedikasi Song Thu Corporation dalam mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna tersebut. Terpilihnya Song Thu Corporation untuk membangun kapal perang strategis ini merupakan kehormatan besar, sekaligus menegaskan kompetensi, reputasi, dan posisi merek perusahaan tersebut, baik di sektor pembuatan kapal militer secara khusus maupun dalam industri pembuatan kapal dalam negeri secara keseluruhan.

Untuk memastikan pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna berjalan sesuai jadwal serta memenuhi seluruh persyaratan teknis dan kualitas, Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menginstruksikan badan dan unit terkait untuk memandang hal ini sebagai misi politik prioritas, serta mendesak mereka untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang ada dan melakukan koordinasi erat selama pelaksanaan. Terkait Angkatan Laut, Wakil Menteri Pertahanan Nasional menginstruksikan agar kekuatan tersebut menjalankan peran dan tugasnya secara efektif selaku pemilik proyek. Mereka harus terus berkoordinasi erat dengan badan-badan Kementerian Pertahanan Nasional dan unit-unit terkait untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, mereka diwajibkan untuk menerapkan manajemen yang ketat atas proses pembuatan kapal—memastikan konsistensi dan kesinambungan mulai dari tahap desain, manufaktur, integrasi sistem, pengujian, penerimaan, hingga serah terima—sembari memperkuat inspeksi dan pengawasan selama masa pembangunan, serta segera mengidentifikasi dan mengusulkan solusi atas setiap kesulitan atau masalah yang mungkin timbul.


Song Thu Corporation didesak untuk terus menjunjung tinggi tradisi solidaritas, kreativitas, dan disiplin, serta memandang kualitas produk sebagai cerminan kehormatan dan reputasi unit tersebut. Perusahaan harus mengerahkan seluruh sumber daya serta mendayagunakan kecerdasan kolektif, tekad, dan warisan pengalamannya; menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi teknis dalam produksi; serta mendorong inovasi dan transformasi digital dalam manajemen konstruksi. Selain itu, perusahaan wajib meninjau dan mengoptimalkan tahapan produksi secara berkala, mematuhi prosedur teknis secara ketat, menjamin keselamatan mutlak, serta memenuhi seluruh persyaratan teknis dan estetika sepenuhnya.

Military Industry-Telecoms Group (Viettel) beserta unit-unit yang bertanggung jawab atas penelitian, produksi, manufaktur, dan pemasangan peralatan, persenjataan, serta perangkat keras militer harus berkoordinasi erat dengan Angkatan Laut dan Song Thu Corporation selama proses pelaksanaan berlangsung. Mereka ditugaskan untuk mempercepat penelitian dan manufaktur produk, merampungkan prosedur yang diperlukan agar siap melakukan pemasangan, serta memastikan kualitas, kepatuhan terhadap ketentuan hukum, dan keselarasan dengan jadwal pembangunan kapal.


Instansi-instansi di bawah Kementerian Pertahanan Nasional ditugaskan untuk mengelola, membimbing, dan mengarahkan Angkatan Laut serta Song Thu Corporation guna memastikan proyek dilaksanakan secara cermat dan sepenuhnya mematuhi peraturan; mereka juga harus segera mengajukan solusi untuk mengatasi setiap kesulitan atau hambatan yang muncul demi menjamin keberhasilan pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna sesuai dengan rencana yang telah disetujui.

Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menyatakan keyakinannya bahwa berkat solidaritas, persatuan, dan tekad seluruh pihak yang terlibat—terutama melalui keahlian dan kecerdasan para pembuat kapal di Song Thu—misi pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna yang diamanatkan oleh Partai, Negara, dan Militer akan berhasil dituntaskan.

Fregat Kelas Formidable Singapura Telah Dilengkapi dengan Rudal Blue Spear

12 Agustus 2026

Rudal permukaan-ke-permukaan Blue Spear (image: ST Engineering)

Janes dapat mengonfirmasi bahwa fregat kelas Formidable milik Singapura telah dilengkapi dengan rudal permukaan-ke-permukaan (SSM) Blue Spear.

Rudal ini dipasang sebagai bagian dari program peningkatan paruh baya (mid-life upgrade atau MLU) untuk kelas kapal tersebut, menggantikan rudal anti-kapal Harpoon yang lama.

Sistem rudal Blue Spear terlihat terpasang di kapal ketiga dari kelas ini, RSS Steadfast, yang akan dibuka untuk tur publik dengan pemandu di Tokyo International Cruise Terminal pada tanggal 21-22 Agustus.

Singapura pertama kali mengungkapkan rencana untuk melengkapi kelas Formidable dengan rudal Blue Spear dalam sebuah wawancara dengan Janes menjelang pameran IMDEX 2023. Komandan Armada Pertama Angkatan Laut Republik Singapura (RSN) saat itu, Kolonel Ng Kok Yeng Daniel, memaparkan rencana tersebut dalam acara pratinjau pameran.

Kementerian Pertahanan Singapura kemudian menyatakan bahwa program MLU tersebut juga akan mencakup peningkatan pada sistem manajemen tempur, komunikasi, dan sistem teknik fregat.

RSS Steadfast at RIMPAC 2026 (photo: dvids)

Rudal Blue Spear dipasarkan oleh Proteus Advanced Systems, sebuah perusahaan patungan antara Israel Aerospace Industries (IAI) dan perusahaan Singapura, ST Engineering.

Senjata ini merupakan pengembangan dari keluarga rudal anti-kapal Gabriel dan dirancang untuk misi serangan laut maupun darat.

Berdasarkan spesifikasi yang dirilis oleh Proteus Advanced Systems, rudal subsonik ini memiliki jangkauan sekitar 290 km dan mampu menyerang target di luar jangkauan pandang langsung (beyond line of sight).

Rudal ini dilengkapi dengan sistem pencari sasaran (seeker) dan pemandu yang dirancang untuk beroperasi di lingkungan dengan kepadatan sinyal elektromagnetik tinggi serta menghadapi lawan yang menggunakan tindakan penanggulangan elektronik (electronic countermeasures).

Pihak industri sebelumnya menyampaikan kepada Janes bahwa senjata ini dapat menyerang target maritim maupun darat serta menyesuaikan jalur penerbangannya secara dinamis saat menghadapi target yang bergerak.

Blue Spear juga menggunakan profil penerbangan rendah yang menyusuri permukaan laut (sea-skimming) untuk menyulitkan deteksi dan intersepsi.

11 Agustus 2026

KRI Golok-688 Kunjungi Kodaeral VI di Makassar

11 Agustus 2026

Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Golok-688 (photos: Kodaeral VI)

Pada hari Minggu tanggal 09 Agustus 2026, KRI Golok-688, Kapal Cepat Rudal (KCR) berteknologi trimaran (tiga lambung) yang punya kemampuan siluman (stealth), menyapa langsung masyarakat di NBOD Kodaeral VI.

Buat warga Kota Makassar yang penasaran sama kekuatan maritim Indonesia, ini adalah kesempatan langka buat kenal lebih dekat dengan alutsista canggih milik TNI Angkatan Laut.


Kapal luar biasa ini dibangun menggunakan bahan komposit serat karbon pilihan yang membuatnya super ringan, tahan korosi, dan yang paling keren: sulit dideteksi oleh radar musuh! Gak cuma itu, KRI Golok-688 juga dibekali spesifikasi sangar yang mempunyai kecepatan maksimum: 28 knot (Kecepatan jelajah 16 knot) dengan sistem persenjataan: Meriam kaliber 30 mm, Senapan mesin 12,7 mm, serta diproyeksikan membawa rudal anti-kapal modern.


Komandan Kodaeral VI (Dankodaeral VI) Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M., menyampaikan bahwa kehadiran KRI Golok-688 di Makassar merupakan wujud nyata keterbukaan TNI AL sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk melihat langsung kemajuan teknologi pertahanan laut Indonesia.

"Kehadiran KRI Golok-688 di tengah masyarakat Makassar bukan sekadar pameran alutsista, tetapi juga wujud kecintaan dan kebanggaan kita bersama terhadap kekuatan maritim TNI Angkatan Laut. Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya para generasi muda, untuk datang, melihat langsung, dan menumbuhkan semangat kebaharian di dalam diri mereka," ujar Dankodaeral VI.


Adapun rangkaian acara dan atraksi spektakuler lainnya pada event NBOD ini antara lain Fun Bike, Open Ship, Atraksi Terjun Payung, Joy Sailing, Penampilan Drumb Band dan Stand Bazar Kuliner UMKM.

Lockheed Martin Partners With Australian Submarine Agency on Combat Systems Integration for Virginia‑Class Fleet

11 Agustus 2026

Virginia class submarine (photos: ASA)

Bethesda, Md., – The Australian Submarine Agency (ASA) has awarded Lockheed Martin (NYSE: LMT) a two‑year AUD$26.5 million contract to create a sovereign Combat Systems Integration (CSI) capability for Australia’s future Virginia‑class submarines under the AUKUS partnership.

Australian engineers will be supported by U.S.-based Virginia-class submarine subject-matter experts, to accelerate capability development and build a sustainable, sovereign integration capability for the future force.

“Australia is building a sovereign undersea capability that will serve its national security for decades to come,” said Devon Rodgers, vice president and general manager of Undersea Mission Systems at Lockheed Martin. “We’re honored to support that effort by applying our extensive combat system integration expertise to the AUKUS alliance, supporting the technical foundation for Australia’s future nuclear-powered submarines.”


Together with the ASA, Lockheed Martin will conduct a market analysis of Australia’s supply‑chain needs for the Virginia‑class combat system integration effort, identifying opportunities for existing and new local suppliers to join the global supply chain and deepen industry partnerships.

The contract will add more than 20 CSI engineering jobs to support initial work in Western Australia, expanding the company’s maritime combat‑systems and integrated air‑and‑missile‑defense workforce of over 470 specialists.

“Combat systems integration is fundamental to delivering a highly advanced, secure and operationally dominant submarine fleet.” said Jeremy King, Lockheed Martin Australia and New Zealand chief executive.

“This partnership will strengthen our ability to operate seamlessly with allies and deepen the AUKUS industrial base collaboration while contributing to a secure and stable Indo-Pacific.”

10 Agustus 2026

Filipina Menerima Kiriman Terakhir Helikopter Blackhawk

10 Agustis 2026

Lima helikopter S-70i PAF tiba setelah diangkit dengan pesawat Antonov An-124 Ruslan (photo: Antonov Airlines)

Angkata Udara Filipina masih memiliki batch terakhir yang terdiri dari lima unit helikopter combat utility S-70i Black Hawk, bagian dari total 32 unit yang dipesan oleh Departemen Pertahanan Nasional dari PZL Mielec, anak perusahaan Lockheed Martin di Polandia.

Sebuah pesawat angkut kargo berat komersial Antonov An-124 Ruslan mendarat kemarin di Pangkalan Udara Clark membawa kelima helikopter terakhir tersebut. Helikopter-helikopter ini selanjutnya akan menjalani perakitan akhir dan pemasangan perlengkapan, uji darat dan uji terbang, serta pemeriksaan lainnya sebelum resmi masuk dalam jajaran operasional Angkatan Udara Filipina (PAF).

Setelah resmi beroperasi, jumlah total armada S-70i Black Hawk milik PAF akan mencapai 47 unit. Selain itu, PAF masih mengoperasikan satu unit helikopter S-70A-5 Black Hawk era 1980-an yang digunakan oleh Grup Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue Group)  ke 505.

Kapal Ketiga LMS Batch 2 Tunku Osman Jewa Diluncurkan

10 Agustus 2026

Seremoni peluncuran LMS Batch 2 kapal ketiga KD Tunku Osman Jewa 143 (photos: TLDM)

ISTANBUL - Industri pertahanan dan ketenteraan maritim negara melakar satu lagi pencapaian bersejarah hari ini dengan terlaksananya Majlis Penamaan dan Pelancaran kapal ketiga Littoral Mission Ship Batch 2 (LMSB2) bagi Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM). 

Majlis penuh tradisi ketenteraan ini telah berlangsung di Istanbul Shipyard, Türkiye dengan disaksikan oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Sultan Kedah, Al Aminul Karim Sultan Sallehuddin Ibni Almarhum Sultan Badlishah, dan disempurnakan oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Sultanah Kedah, Sultanah Maliha binti Almarhum Tengku Ariff selaku Royal Sponsor. Kerabat diraja Negeri Kedah turut berangkat mengiringi baginda berdua.

Delegasi Kementerian Pertahanan pula diketuai oleh Panglima Angkatan Tentera, Jeneral Tan Sri Dato’ Seri Haji Malek Razak bin Sulaiman, dan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Datin Roszanina binti Wahab dan Timbalan Panglima Tentera Laut, Laksamana Madya Datuk Ts. Badarudin bin Taha mewakili Panglima Tentera Laut.


Kapal perang moden ketiga dalam siri LMSB2 ini secara rasminya dinamakan sebagai "TUNKU OSMAN JEWA" dengan nombor pennant 143. Penamaan ini merupakan penghormatan tertinggi negara bagi mengenang jasa serta mengabadikan legasi Almarhum Jeneral Tan Sri Tunku Osman bin Tunku Mohammad Jewa, seorang kerabat diraja Kedah dan merupakan Panglima Angkatan Tentera pertama yang dilantik di kalangan anak watan.

Upacara bersejarah pada hari ini melengkapkan tiga siri pelancaran bagi kapal LMSB2 di Istanbul Shipyard. Kemuncak pelancaran kapal ketiga ini menyaksikan ketiga-tiga aset tempur strategik tersebut iaitu TUNKU LAKSAMANA ABDUL JALIL (141), RAJA LAUT (142), dan TUNKU OSMAN JEWA (143) kini bersedia sepenuhnya untuk melangkah ke fasa seterusnya secara serentak.

Kesemua kapal ini akan mula menjalani fasa integrasi sistem penderia, pemasangan sistem peperangan dan persenjataan moden, serta melalui siri penilaian ujian pelabuhan (Harbour Acceptance Trials) dan ujian laut (Sea Acceptance Trials). Momentum pembinaan mengikut jadual ini meletakkan ketiga-tiga kapal ini berada pada landasan yang tepat untuk diserahkan secara rasmi kepada TLDM pada penghujung tahun hadapan.

09 Agustus 2026

Profesionalisme Tim Pendukung Jadi Penentu Kesiapan Misi TNI AU di Exercise Pitch Black 2026

09 Agustus 2026

Kontingen TNI Angkatan Udara pada Exercise Pitch Black 2026 (photos: TNI AU)

Darwin, Australia-Dispenau. Profesionalisme dan sinergi personel pendukung menjadi faktor penting dalam menjaga kesiapan misi Kontingen TNI Angkatan Udara pada Exercise Pitch Black 2026 di Darwin, Australia. Ground crew, tim ACMI, teknisi pemeliharaan, dan staf administrasi bekerja terpadu memastikan pesawat T-50i Golden Eagle selalu siap melaksanakan latihan.


Ground crew bertugas menyiapkan dan memeriksa pesawat sebelum maupun setelah penerbangan, sementara tim ACMI mendukung pemantauan serta evaluasi manuver udara.


Para teknisi memastikan kondisi pesawat laik terbang sesuai SOP, sedangkan staf administrasi mendukung perencanaan dan koordinasi operasional.


Sinergi seluruh unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjamin kelancaran latihan dan mencerminkan kesiapan TNI AU dalam melaksanakan operasi udara bersama negara sahabat.

Angkatan Laut Kamboja Mulai Pelayaran dengan Fregat Barunya

09 Agustus 2026

Fregat RCNS Koh Kong Senchey 622 (photos: TV Siam Rep)

Sabtu, tanggal  8 Agustus 2026 Yang Mulia Jenderal Tea Seiha, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Nasional, meninjau pelatihan para pelaut Angkatan Laut Kerajaan Kamboja. 

Pelatihan Angkatan Laut berlangsung dengan kapal fregatnya, No. 622 (Koh Kong Senchey), sedang berpatroli di perairan Kamboja—di bawah arahan Yang Mulia Samdech Pichey Sena, Jenderal Bintang Lima (Bintang Emas), Tea Banh, Penasihat Tertinggi bagi Raja Kamboja.

(TV Siam Rep)

08 Agustus 2026

Australia Successful First Flight-test of KR3.0 Solid Rocket Motor

08 Agustus 2026

Koonibba Rising 3.0 solid rocket moto (photos: Aus DoD)

The first successful test flight of a fully Australian-designed and manufactured advanced solid rocket motor has taken place at the Koonibba Test Range near Ceduna, South Australia.

This milestone marks another significant step towards Australia’s sovereign guided weapons capability, demonstrating the ability of Australian industry to design, manufacture, integrate and test rocket motor technologies relevant to future tactical missile systems.

Key facts about the Koonibba Rising 3.0 solid rocket motor: 
-A 100kg-class solid rocket motor.
-Incorporates technologies and design features required for high-performance, military-relevant applications.
-Launched in a flight test conducted by Southern Launch, a South Australian industry partner.
-Rocket motors are a critical component of most missile systems, providing propulsion during flight. 
-Solid rocket motors are generally used for military applications due to their simplicity, high energy density and ability to be stored for extended periods while remaining ready to launch at short notice.


Post-flight analysis confirmed the rocket motor performed as designed throughout the test. The test also successfully demonstrated real-time monitoring of flight vehicle and rocket motor performance data and enabled the recovery of the flight vehicle for inspection and data validation.

This test builds on the successful static firing of the larger-scale DRACO solid rocket motor at Woomera in February 2026.

Koonibba Rising 3.0 was developed through the Advanced Rocket Motor Technology Demonstrator Program program, a partnership between the Defence Science and Technology Group and Thales Australia. The program brings together a network of Australian industry partners involved in component design and manufacturing.


This achievement demonstrates a viable pathway for the domestic development, manufacture, testing and evaluation of future rocket motors, reinforcing Australia’s sovereign industrial capabilities and supporting the delivery of advanced defence technologies.

Quotes attributable to Minister for Defence Industry Pat Conroy:
“This is a significant achievement for Australia’s defence industry and a major step forward in our ability to design, develop and test advanced rocket motor and missile system technologies right here in Australia.

“It showcases the strength of collaboration between Defence, Australian industry and research organisations in delivering cutting-edge capabilities that support our national security and sovereign industrial resilience.”