04 Juni 2025

Bagaimana Progres Rencana RI Beli Kapal Selam Interim Saat Tunggu Scorpene?

04 Juni 2025

Kapal selam KRI Nagapasa (photo: TNI AL)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan pemerintah belum membuat keputusan negara tempat pembelian kapal selam penggunaan sementara (interim). 

Adapun Indonesia membutuhkan kapal selam sementara sembari menunggu pengerjaan kapal selam Scorpene selesai.

"Jadi, untuk interim kapal selam belum ditentukan, belum ada keputusan dari negara mana," kata Laksamana Muhammad Ali di Aula Gedung Yos Sudarso, Markas Komando Seskoal, Jakarta Selatan, Selasa (3/6/2025).

Pihaknya masih mempelajari sejumlah produsen kapal selam interim.

"Tapi kita melihat beberapa produsen kapal selam, kita mempelajari dulu, mengevaluasi kira-kira mana yang cocok. Tapi belum ada keputusan," kata Ali.

Sementara itu, terkait pembelian kapal selam Scorpene, menurutnya, prosesnya tidaklah cepat. 

“Untuk Scorpene kan memakan waktu yang cukup lama ya. Mungkin tujuh sampai delapan tahun," kata Ali.

Diketahui, Indonesia menandatangani kontrak pengadaan dua unit kapal Scorpene. 

Tanda tangan kontrak dilakukan oleh Kementerian Pertahanan RI, Naval Group, dan PT PAL Indonesia di Kantor Kemenhan, Jakarta Pusat, pada 28 Maret 2024 lalu. 

Dua kapal selam Scorpene itu dibangun dengan tenaga baterai Lithium-Ion.

“Naval Group dan PT PAL Indonesia telah menandatangani kontrak dengan Kemenhan RI untuk dua kapal selam LiB ‘Scorpene Evolved', yang akan dibangun di Indonesia melalui ToT dari Naval Group guna memperkuat kemampuan,” tulis akun X @navalgroup. 

Siaran pers PT PAL menulis, dua kapal selam Scorpene itu akan dibangun di galangan kapal PT PAL melalui transfer teknologi.

Sembari menunggu kapal selam Scorpene itu, Ali sebelumnya menyebut Indonesia membutuhkan kapal selam sementara. 

“Untuk membangun Scorpene membutuhkan waktu 7 tahun, 5–7 tahun. Untuk itu kita harus ada kapal selam interim, itu tidak menutup kemungkinan,” kata Ali menjawab pertanyaan Kompas.com saat acara doorstop di sela-sela seminar “Future Submarine” di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, 14 Mei 2024 lalu.

(Kompas)

03 Juni 2025

Mengenal Drone Kamikaze Vietnam EME31 (BXL.01)

03 Juni 2025

Drone kamikaze Vietnam EME31 atau disebut juga BXL.01 (photos: QPVN, Viet+)

Berikut ini adalah informasi lebih lanjut tentang desain pesawat nirawak kamikaze EME31 atau disebut juga UAV-BXL.01, yang mirip dengan ZALA Lancet buatan Rusia yang sangat efektif.

Drone kamikaze ini merupakan produk dari Factori Z131 milik Industri Pertahanan Vietnam/ Vietnam Defence Industry (VDI) yang juga dikenal juga sebagai EME31. BXL.01 dipandu oleh pencari EO/IR yang mampu mengenai target yang bergerak.


Sementara itu, hulu ledak BXL.01 seberat 1,2 kg pada dasarnya adalah amunisi B41 (RPG-7 Vietnam) yang telah diadaptasi dengan pendorong dan kerucut hidungnya dilepas agar pas dengan UAV kecil ini, yang cukup untuk menembus lapisan baja setebal 250 mm.


Dengan sayap yang dapat dilipat, MTOW 10 kg, jangkauan 10 km, dan kecepatan jelajah hingga 120 km/jam, UAV-BXL.01 akan menjadi upaya baru Vietnam untuk mengembangkan peperangan anti-tank.

RNZAF NH90 Fleet’s Software Upgrade a World First

03 Juni 2025

The Royal New Zealand Air Force’s (RNZAF) NH90 helicopter fleet has just been updated with software and equipment that will now allow the aircraft to better integrate into New Zealand’s controlled airspace – and it was done in record time at Base Ohakea (photos: RNZAF)

“We're the first country to do it, and it's happened incredibly quickly,” Capability Development Officer Squadron Leader Austin Smith said. 

The fleet’s serviceability rate is the highest in the world, thanks to the work of the squadron’s maintainers, which has assisted in the rapid upgrade across the fleet.

NH Industries’ (NHI) original plan was for the upgrade to be completed by the company’s own technicians in Europe. 

The upgrade was initially expected to take three years, from the time the first of eight aircraft left New Zealand to the time the last one arrived back.


However, due to the high work standards undertaken by the New Zealand Defence Force’s Deeper Maintenance team, NHI agreed that the work could be completed at RNZAF Base Ohakea, instead of in Europe. 

Furthermore, the Ministry of Defence was successful in securing equipment from an Australian Defence Force’s retired NH90, meaning modifications to New Zealand’s NH90 fleet could be done without grounding the fleet, allowing for the whole upgrade project of eight aircraft to be completed in just four weeks. 

One of the advantages of the upgrade is that NH90s can now be identified by coalition forces as a friendly aircraft through the use of modern combat identification, Squadron Leader Smith said.

“The upgrade includes the latest generation of secure inter-aircraft communications, Saturn, to enable secure communications between aircraft in a combat environment.”


Another aspect is the software brings the fleet into compliance with New Zealand Civil Aviation regulations on aircraft identification broadcasts – called ADS-B OUT. 

“We've had a dispensation for the Air Force to operate without ADS-B OUT, but this now enables us to operate without restriction.” 

The software will also allow the helicopters to automatically maintain a hover position all the way to touchdown, rather than to 15 feet, before it was installed. 

This is useful during “brownout conditions” when flying debris, dust or snow whipped up by the rotor downwash leads to poor visibility, Squadron Leader Smith said. 

“It also allows us to hover automatically over water lower than previously able, enhancing the safety of activities like Special Forces entering the water from the helicopter.” 


Ministry of Defence Domain Director Pete Fitness said the software contract meant the NH90s would be safer to operate. 

The requirement to upgrade aircraft which are more than a decade old was to be expected. 

While other countries which operated NH90s signed up for the upgrade earlier, New Zealand was the first country to have its entire fleet fitted with the new software, Mr Fitness said.

“In the future we will look at delivering more software and hardware that will enable additional communication functions and performance-based navigation. 

“This will allow the helicopter to operate more efficiently in civil air traffic control environments.”

02 Juni 2025

China Mulai Memproduksi UAV Lepas Landas Vertikal AR-36

02 Juni 2025

AR-36 VTOL UAV (photo: Janes)

Aviation Industry Corporation of China (AVIC) tengah memproduksi kendaraan udara nirawak (UAV) untuk pengintaian dan komunikasi dengan kemampuan vertical take-off UAV/lepas landas vertikal (VTOL) baru, yang memiliki aplikasi militer dan sipil, kata seorang pejabat proyek.

Disebut sebagai AR-36, UAV tersebut dirancang untuk peran seperti "pengawalan melalui kapal, patroli pengintaian, komunikasi relai, antiterorisme perkotaan, dan pengawasan titik tetap/fixed-point surveillance", menurut brosur yang diterbitkan AVIC tentang UAV tersebut.

Berbicara kepada Janes di Pameran Dirgantara dan Maritim Internasional Langkawi (LIMA) 2025 di Malaysia, seorang pejabat dari Lembaga Penelitian Kontrol Otomatis Penerbangan/Flight Automatic Control Research Institute (FACRI) Xi'an milik AVIC, yang turut mempresentasikan pesawat tersebut di pameran mengatakan bahwa "UAV tersebut dikembangkan selama delapan tahun".

"UAV tersebut kini telah memasuki tahap produksi, dengan 100 unit yang mampu diproduksi setiap tahunnya," pejabat tersebut menambahkan.

AR-36 VTOL UAV (photo: MilitaryDrone)

Menurut data yang dipublikasikan oleh AVIC, AR-36 ditenagai oleh "sistem tenaga hibrida bensin-listrik" dan memiliki sistem penerbangan yang sepenuhnya otonom. UAV tersebut tampaknya memiliki satu pembangkit listrik berbahan bakar bensin di bagian belakang badan pesawat utama (dalam konfigurasi pendorong), dengan empat mesin listrik dalam konfigurasi penarik (tractor configuration), menurut penilaian Janes.

UAV tersebut memiliki "desain muatan modular", yang dapat digunakan untuk mendukung pemasangan berbagai jenis sistem, menurut brosur AVIC.

FACRI dan China National Aero-Technology Import & Export Corporation (CATIC) memamerkan model UAV skala 1:1 di LIMA 2025, yang diselenggarakan dari tanggal 19 hingga 24 Mei di provinsi Kedah, Malaysia.

The PN's Ocean-going Tugboat was Awarded as the Best Naval Tugboat for 2024 by Baird Maritime and Work Boat World

02 Juni 2025

AT 010 – Ocean-going Tugboat designed by Robert Allan Ltd and built locally by Josefa Slipways (JSI) (photo: Baird Maritime)

Best Naval Tug – AT 010 – Robert Allan Ltd & Josefa Slipways

This 62-tonne-bollard-pull tug is one of two Robert Allan Ltd designs built locally by Josefa Slipways (JSI) for the Philippine Navy. AT 010 is the larger of the two and is designed for oceanic operations while the smaller vessel will focus on harbour operations.

Well-built, equipped and outfitted, the larger tug has been conceived to handle every imaginable task an increasingly busy navy might possibly ask of it.

"AT 010 is powerful, highly manoeuvrable, and built specifically for operation even in extreme conditions using the most modern and reliable machinery," Arturo Balahadia, JSI's VP for Operations and Marketing Manager told Baird Maritime.

The builder said that manufacture of the tug posed some challenges primarily in the area of logistics, as delivery lead times for machinery and equipment became factors in meeting production schedules.

When asked about trends impacting shipbuilding in the present, Balahadia remarked that, "technological advancements and environmental regulations," are the ones driving transformation in the industry.

"The year 2024 was a strong year for us. We have seen solid growth across key markets particularly in supporting government agencies' vessel acquisitions just like in previous years, and we are on track to surpass several strategic goals."

Balahadia believes that, as it works towards supporting government agencies' acquisition programs in 2025, there will be "notable improvements" as most of the company's new conceptual proposals will be given importance and therefore prioritised for funding by the Philippine Government.

"This is a benefit of renewed customer confidence, operational efficiencies and an excellent track record," Balahadia told Baird Maritime. "Looking ahead, we are very optimistic and well-positioned to take the lead in the Philippine shipbuilding industry."

In Balahadia's view, the tug industry will evolve steadily, especially when considering maritime modernisation, safety and environmental regulations, port expansions, and growing demand within the global shipping industry.

As for the Philippines' own workboat industry, Balahadia expects it will experience, "a significant transformation over the next few years." This will be driven by shipping modernisation efforts and the sustainability initiatives brought about by continuing industrialisation in ports and in coastal areas.

"We have the maritime industry development plan that aims to modernise the local shipbuilding industry by adopting digital shipyard solutions," said Balahadia.

(Baird Maritime)

01 Juni 2025

Skuadron Udara 200 Wing Udara 2 Lakukan Latihan Terbang Malam dengan Pesawat Piper PA28 Archer DX

01 Juni 2025

Pesawat Piper PA28 Archer DX TNI AL (photo: Ign Admiral Indrawan, TNI AL)

Skuadron Udara 200 Wing Udara 2 Dukung Latihan Terbang Malam Pasis Dikpabang XXIX

TNl AL-Dispen Puspenerbal --- Skuadron Udara 200 Wing Udara 2 Puspenerbal Juanda mendukung latihan yang cukup krusial, yakni Latihan Terbang Malam Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Perwira Penerbang (Dikpabang) TNI AL Angkatan XXIX yang dilaksanakan pada Selasa malam (28/5/2025).

Komandan Skuadron Udara 200, Mayor Laut (P) Bani Safangat mengatakan, latihan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari "Kawah Candradimuka" bagi para calon penerbang TNI AL, yang didukung penuh oleh Skuadron Udara 200 Wing Udara 2 Puspenerbal menggunakan pesawat Piper PA28 Archer DX.


Latihan terbang malam ini lanjut Bani, sangat penting untuk mengasah kemampuan navigasi dan penerbangan dalam kondisi minim cahaya, sekaligus melatih ketepatan dan kesiapan mental para siswa.

"Pada latihan malam tadi, kita menggunakan Pesawat Piper PA28 Archer DX yang terbukti handal untuk mendukung latihan dasar ini," ungkapnya.

Komandan Skuadron Udara 200 menyatakan rasa puasnya dengan kelancaran latihan tersebut.


"Latihan ini fundamental untuk membentuk mental dan kemampuan siswa. Kami berkomitmen penuh mendukung setiap fase Dikpabang agar mereka siap menghadapi tugas penerbangan yang lebih kompleks," ujarnya.

Sementara itu Komandan Wing Udara 2 Puspenerbal, Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah menegaskan pentingnya Dikpabang sebagai fondasi kekuatan udara maritim TNI AL.

"Latihan terbang malam ini bukan sekedar rutinitas, melainkan investasi strategis. Kami bangga dengan dedikasi Skuadron Udara 200 yang telah melaksanakan dukungan latihan ini dengan sangat baik," kata Kolonel Adam.


Ia juga berharap para siswa dapat menyerap ilmu maksimal sebagai bekal sebelum mengoperasikan pesawat operasional Puspenerbal yang lebih canggih.

"Latihan terbang malam ini menegaskan komitmen Puspenerbal dalam mencetak penerbang tangguh yang siap menjaga kedaulatan maritim Indonesia," pungkasnya.

Penampakan Kapal Selam Mini TN-75 Vietnam

01 juni 2025

Kapal selam HQ-43 Angkatan Laut Vietnam (photo: Jane Nguyen)

Tanggal 11 Mei 2025 yang baru lalu di beberapa media sosial Vietnam bermunculan gambar dan video mengenai kemunculan kapal selam mini dengan nomor lambung 43 (HQ-43).  Betapa tidak mengherankan karena Vietnam hanya mempunyai 2 kalam selam mini Yugo class dengan nomor lambung 41 dan 42 yang dibeli pada tahun 1997 dan dibayar dengan 20,000 ton beras.

Kapal selam mini dengan nomor lambung 43 ini terlihat sedang melakukan pelatihan bersama kapal tender yang akan membawanya ke laut lepas.

Kapal selam HQ-43 Angkatan Laut Vietnam bersama kapal tender ditarik ke laut lepas (photo: Jerryanchay77)

Jika kita berkunjung ke Museum Angkatan Laut di Haiphong - kota dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Vietnam - maka kita dapat melihat model kapal selam mini yang diberi nama "TN-75" sebagai kapal selam yang sedang dikembangkan oleh Naval Technical Institute dan dibagun oleh Factory 51 di Vietnam. 

Mengenai nama TN-75 tersebut, dalam bahasa Vietnam, kapal selam adalah "Tàu Ngầm" (TN). Sedangkan angka "75" dalam TN-75 kemungkinan merujuk pada bobot kosong kapal selam ini sekitar 75 ton. Memang kapal selam ini lebih kecil dari Yugo class yang mempunyai bobot 90-110 ton.

Kapal selam mini TN-75 di Museum Angkatan Laut di Haiphong (photos: Ann Quann)

Dari model kapal selam TN-75 terdapat informasi teknis sebagaimana yang ditampilkan pada papan displai dengan spesifikasi:
Crew: 6-7 orang,
Penumpang: 6 orang pasukan komando,
Kedalaman selam maks: 200 meter,
Endurance: 7 hari,
Senjata: 2 torpedo SET-40EU. 

SET-40 adalah torpedo ringan berdiameter 400mm buatan Uni Sovyet pada tahun 1960-an. Ini agak berbeda dengan Yugo class yang memiliki torpedo kelas berat berdiameter 533mm.


Dengan kemunculan kapal selam TN-75 ini sekarang telah terlihat bahwa Vietnam melalui Factory 51 telah dapat membuat kapal selam mini sendiri. Rupanya kepemilikan 2 kapal selam mini Yugo class dan 6 kapal selam modern Improved Kilo Project 636.1 telah mendorong Vietnam untuk menguasai teknologi kapal selam dan diwujudkan dalam pembuatan kapal selam mini.