29 Agustus 2021

Kohanudnas Kirim 22 Peserta Ikuti Training Radar ke Leonardo, Italia

29 Agustus 2021

Pembekalan oleh Pangkohanudnas kepada peserta training (photo : Kohanudnas)

Pangkohanudnas Memberikan Pembekalan Peserta Training Maintenance Radar Medium Range

Pangkohanudnas Marsda TNI Ir. Novyan Samyoga, M.M, memberikan pembekalan kepada 22 peserta training maintenance radar group 1 yang akan berangkat ke Italia untuk melaksanakan training selama 3 bulan dari tanggal 30 Agustus sampai 30 November 2021 di Leonardo Italia, bertempat di Gedung Serbaguna Leo Watimena Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat, 27 Agustus 2021. Peserta training terdiri dari, 3 personel Techrep, 15 personel dari TNI AU, 2 personel training maintenance dan 2 personel pendamping dari PT LEN (Persero) Industri.

TNI AU akan mendapatkan 1 radar Leonardo RAT 31-D/L/M untuk memperkuat deteksi udara (photo : Leonardo)

Dalam pembekalannya Panglima mengatakan, "Kita sebagai User disana harus tanamkan kebanggaan diri kita masing-masing bukan hanya belajar mengoperasikan atau maintenance radar saja tetapi kita harus menyerap sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya ilmu dan teknologi untuk bisa mengatasi problem wiring sistemnya, dengan memelihara atau memperbaiki sendiri itu lebih bagus apabila kita putus komunikasi nanti, agar kita bisa menguasai teknologi radar itu sendiri. Karena ilmu dan teknologi tidak akan dikasihkan ke kita semua, tapi kita harus berusaha menggali dan mencari cara untuk bisa memperbaiki dan memeliharanya" tegas Pangkohanudnas.

Turut hadir dalam pembekalan tersebut Kaskohanudnas Marsma TNI H. Haris Haryanto, S.IP, Askomlek Kaskoopsau I Kolonel Lek . M. Rusli selaku Kasatgas Radar GCI dan Radar Medium Range, para pejabat Kohanudnas, serta perwakilan dari PT. LEN (Persero) sebagai mitra penyedia pengadaan proyek radar medium range.

Communications Upgrade for the NZ Frigates Gets Underway

29 Agustus 2021

Anzac-class frigates of RNZN (photo : NZDF)

Work is underway to upgrade the communications systems on board New Zealand’s two Anzac-class frigates, HMNZS Te Kaha and Te Mana, the Minister of Defence Peeni Henare announced today.

Cabinet has approved the $21.2 million design of a new frigate communications system, which will include a new control system, modern radios, data and voice communication systems.

“The advances in communications technologies since the frigates were built in the mid-90s have been huge, so this is a great opportunity to future proof their communications systems,” said Peeni Henare.

“This communications upgrade will ensure the naval combat force can keep pace with changes in technology, and continue to carry out the broad range of tasks requested of it by the Government.”

The upgrade will ensure the ships can handle the increasing volume of data generated by modern communications systems, and operate with other New Zealand Defence Force (NZDF) capabilities and coalition partners.

“The frigate systems upgrade undertaken in Canada has seen the operational life of the frigates extended out to the mid-2030s, with enhanced combat capabilities, surveillance and counter measures,” said Peeni Henare.

“This upgrade will ensure our personnel have the equipment and capability they rely on to deliver what the people of New Zealand need.”

Following completion of the design, the project will deliver a phased build and integration of the new equipment and systems on board each ship, with new capability available from 2024.

The two Anzac-class frigates are the only Royal New Zealand Navy ships capable of operating across the full-spectrum of NZDF operations, including combat roles with coalition partners, search and rescue, and humanitarian aid and disaster relief operations.

TNI AD Bangun Tactical Satcom

29 Agustus 2021

Satcom TNI AD (photos : Hubad)

Kasad sebut "Tactical Integrated Satcom" dukung tugas-tugas TNI AD

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa menyebutkan keberadaan "Tactical Integrated Satellite Communication" dapat menunjang seluruh tugas pokok Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. 

Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa dalam siaran TNI AD diterima di Jakarta Senin, mengatakan Tactical Satcom TNI AD tersebut akan membuat komunikasi antarsatuan TNI AD se-Indonesia bisa terintegrasi dengan lebih baik. 

"Dengan adanya Tactical Integrated Satcom TNI Angkatan Darat, maka secara tidak langsung membantu mempermudah serta mendukung tugas pokok TNI AD, salah satunya menjaga keamanan negara serta melindungi masyarakat," kata Kasad.


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat membangun proyek Tactical Integrated Satellite Communication di Markas Batalyon Perhubungan Pushubad, Kota Depok, Jawa Barat.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa, bersama istri Hetty Andika Perkasa sempat meninjau seluruh infrastruktur Tactical Integrated Satcom TNI AD yang telah selesai dikerjakan. 

Perkembangan teknologi digital semakin masif dan berkontribusi dalam banyak hal di era revolusi industri 4.0, termasuk sektor pertahanan. Jenderal TNI Andika Perkasa, dalam merespons hal tersebut, terus berupaya melakukan inovasi nyata, seperti pembangunan proyek Tactical Integrated Satellite Communication TNI AD.


Kepala Bagian Multimedia Subditbinkom Pushubad Letkol Chb Ahmad Farid menyampaikan sebelumnya TNI AD belum memiliki teknologi komunikasi berbasis satelit.

 “Dalam komunikasi memiliki 3 sistem komunikasi berbasis kabel, berbasis radio dan satelit. Sampai sejauh ini kita belum memiliki namun berkat ide bapak Kasad. Beliau menginginkan kita memiliki Hub Station dimana dengan keberadaannya dapat memanajemen operasional VSAT yang berada di satuan jajaran kita," katanya.

Kemendag: Rencana Imbal Beli Sukhoi dengan Rusia Masih Mandek

29 Agustus 2021

Pesawat tempur Su-35 (photo : SputnikNews)

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan realisasi pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia dengan skema imbal beli yang ditawarkan Indonesia belum memperlihatkan kemajuan berarti sampai saat ini. Nota kesepahaman barter telah ditandatangani antara Indonesia dan Rusia sejak 2017. 

“Sudah tiga tahun posisi Indonesia harus ada kepastian lanjut atau tidak, itu yang pertama,” kata Koordinator Bidang Peningkatan Akses Pasar Kemendag Bambang Jaka dalam webinar, Kamis (29/7/2021). 

Bambang menjelaskan bahwa seluruh instrumen terkait proses imbal beli sudah siap. Kemendag juga telah memetakan ulang perusahaan-perusahaan RI yang akan memasok produk-produk yang ditawarkan dalam skema barter. 

Sebagaimana diketahui, Kemendag pada 2019 melaporkan bahwa terdapat 16 komoditas yang diajukan sebagai komoditas ‘barter’ dengan Rusia. Produk tersebut mencakup minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, karet, biskuit, dan kopi. 

Dalam kerja sama perdagangan tersebut, Rusia diwajibkan untuk membeli komoditas asal Indonesia sebesar 50 persen dari nilai pembelian Sukhoi. Total nilai pembelian untuk 11 unit alat tempur tercatat mencapai US$1,14 miliar, sementara kontribusi dari imbal beli mencapai US$570 juta. 

“Poinnya adalah masih berproses. Tinggal bagaimana pimpinan-pimpinan di Republik ini berani mengambil, bukan mengambil risiko dalam konteks gambling, tetapi memutuskan take it or leave it untuk Sukhoi,” kata Bambang. 

Kementerian Pertahanan sebelumnya menyebutkan kontrak pembelian telah bisa efektif sejak Agustus 2018. Namun dengan berlanjutnya pembahasan mengenai komoditas untuk imbal beli, terjadi keterlambatan pada kedatangan 2 unit pesawat pada 2019. 

Apabila transaksi kedua negara berjalan lancar, pesawat tempur dengan spesifikasi persenjataan lengkap (full combat) akan datang secara bertahap, yakni kloter pertama dua pesawat, lalu kloter kedua empat pesawat dan kloter ketiga lima pesawat.

Australia, India, Japan, U.S. Kick Off Exercise Malabar 2021

29 Agustus 2021

Malabar 2021 has started since Aug 26 (photo : PACOM)

PHILIPPINE SEA -- Maritime forces from Australia, Japan, India, and the United States begin phase 1 of cooperative maritime exercise MALABAR 2021 in the Philippine Sea, Aug. 26.

MALABAR is an annual maritime exercise that enhances planning, training, and employment of advanced warfare tactics between the Royal Australian Navy (RAN), Indian Navy (IN), Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF), and U.S. Navy which demonstrates the commitment between like-minded nations to upholding a rules-based maritime order in the Indo-Pacific.

USS Barry-DDG 52 (photo : DVIDS)

This year’s exercise is hosted by the U.S. Navy and will take part in two phases. The first phase is an opportunity for the four Indo-Pacific navies to operate together in the Philippines Sea to strengthen their skills in combined maritime operations, anti-submarine warfare operations, air warfare operations, live-fire gunnery events, replenishments-at-sea, cross-deck flight operations, and maritime interdiction operations.

This year the exercise includes Naval Special Warfare forces during phase 1 to address irregular maritime threats and enhance integration with traditional naval forces.

INS Shivalik F47 (photo : PACOM)

"MALABAR 21 is an excellent opportunity to conduct multi-national training to hone warfighting and maritime security skillsets,” said Capt. Chase Sargeant, commander, CTF 71. "U.S. destroyers closely integrating with our partners and allies builds the foundation for regional security and stability that benefits all Indo-Pacific nations."

U.S. participants for phase one include Pacific Fleet’s top sub hunter, Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Barry (DDG 52), Naval Special Warfare forces, maritime patrol and reconnaissance aircraft from Task Force 72, and Military Sealift Command’s (MSC) Henry J. Kaiser-class underway replenishment oiler USNS Rappahannock (T-AO 204).

HMAS Warramunga F152 (photo : RAN)

"MALABAR 21 provides a wonderful opportunity to bolster our international partnerships," said Cmdr. Chris Gahl, commanding officer, USS Barry. "Our team is excited to demonstrate [anti-submarine warfare] capabilities and to collaborate alongside our Indo-Pacific partners and allies. The lessons and tactics we share will enhance our strength and capabilities in supporting the common vision of a free and open Indo-Pacific."

Elements of the Royal Australian, Indian, Japanese, and American maritime forces routinely operate together in the Indo-Pacific, fostering a cooperative approach toward regional security and stability to deter malign influence.

JS Kaga DDH 184 and two destroyers (photo : Seaforces)

Representing the Indian Navy is Shivalik-class multi-role stealth frigate INS Shivalik (F 47), and Kamorta-class anti-submarine warfare corvette INS Kadmatt (P 29). Representing the JMSDF is Izumo-class multi-purpose operation destroyer JS Kaga (DDH 184), Murasame-class destroyers JS Murasame (DD 101) and JS Shiranui (DD 120). Representing Australia is Anzac-class frigate HMAS Warramonga (FFH 152). Maritime patrol and reconnaissance aircraft are scheduled to include an IN P-8, JMSDF P-1, and U.S. P-8A.

Under Commander, U. S. Pacific Fleet, 7th Fleet is the U.S. Navy's largest forward-deployed numbered fleet, and routinely interacts and operates with 35 maritime nations in preserving a free and open Indo-Pacific region.

28 Agustus 2021

Saat 2 Kapal Kolinlamil Asah Kemampuan dalam Kogasgabratmin

28 Agustus 2021

KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Teluk Banten 516 (photo : Kolinlamil)

Saat Lintas Laut Menuju Daerah Sasaran Satgas Kogasgabratmin Asah Kemampuan

Dua Kapal Perang TNI AL, yaitu KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Teluk Banten 516 berhasil lolos dari ancaman ranjau yang disebar oleh pasukan musuh di Perairan Pontianak.

Tapi jangan salah, ranjau yang ada di Laut Natuna itu bukanlah ranjau asli.

Lolosnya dua kapal perang TNI AL dari unsur Komando Lintas Laut Milter (Kolinlamil) dan Koarmada II dari ranjau itu terjadi dalam sesi latihan operasi pendaratan (Latopsratmin) 2021 saat lintas laut menuju daerah operasi pendaratan di Lampung.

Dua kapal perang yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Pendaratan Administrasi (Kogasgabratmin) tersebut berhasil keluar dari pelabuhan dengan selamat dan langsung melancarkan operasi di perairan terbuka setelah melakukan Mine Field Transit (MFT). MFT adalah suatu prosedur melewati medan ranjau atau proses penuntunan melewati alur terobos pada medan ranjau demi keamanan dan keselamatan personel dan kapal itu sendiri.

KRI Teluk Banten 516 (photo : MO Roy)

Latihan diawali dengan Communication Check dimana Komandan KRI Teluk Bintuni 520 sebagai Officer Conducting Serial (OCS) yang akan mengendalikan semua jaring komunikasi radio dan melaksanakan pencocokan waktu. Kemudian dilanjutkan dengan Departure Harbour berturut-turut KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Teluk Banten 516. Setelah keluar dari pelabuhan, seluruh unsur-unsur melaksanakan Latihan Mine Field Transit (MFT).

Tidak hanya itu, latihan ini juga melakukan Tactical manouvering (Tacman) dimana semua unsur melaksanakan manuver taktis dengan berbagai formasi yang telah ditentukan oleh OCS.

Bahkan, dalam lintas laut menuju daerah operasi pendaratan ini kali ini juga melakukan latihan Publication Exercise (Pubex) dan Replenishment At Sea (RAS).

KRI Teluk Bintuni 520 (photo : Frans Tedjakusuma)

Replenishment at Sea adalah kegiatan untuk memperbekali logistik pasukan antar kapal perang, mengisi bahan bakar, hingga proses evakuasi penumpang kapal.

Dan latihan RAS ini merupakan latihan yang tidak mudah dilakukan. Sebab, latihan transfer logistik antar kapal itu dilakukan di tengah laut lepas dan di tengah kondisi cuaca laut yang tidak pernah menentu.

Dalam latihan itu, KRI Teluk Bintuni 520 melaksanakan pengisian bahan bakar ke KRI Teluk Banten 516 dengan posisi di lambung kiri.

Berbagai latihan yang dilakukan KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Teluk Banten 516 sebagai bagian dari Kogasgabratmin yang mendukung tugas Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) TNI.

(TNI)

RSAF A330 MRTT Deployed to Assist US Evacuation Operations

28 Agustus 2021

The Republic of Singapore Air Force's A330 Multi-Role Tanker Transport aircraft taking off from Changi Air Base (East) this evening (photo : Sing Mindef)

The United States (US) Government has accepted Prime Minister Lee Hsien Loong's offer of assistance conveyed during US Vice President Kamala Harris's visit to Singapore earlier this week, for a Republic of Singapore Air Force (RSAF) A330 Multi-Role Tanker Transport (A330 MRTT) aircraft to assist in the evacuation of Afghanistan evacuees. The A330 MRTT will be deployed to transport evacuees currently relocated in Qatar to Germany or other receiving countries.

Minister for Defence Dr Ng Eng Hen was at Changi Air Base (East) to meet and send off Singapore Armed Forces (SAF) personnel deployed for this mission, together with senior SAF officers including Chief of Defence Force Lieutenant-General Melvyn Ong and Chief of Air Force Major-General Kelvin Khong. A total of 77 SAF personnel, comprising pilots, aircrew, engineers and Singapore Army security personnel, will be involved in this humanitarian mission.

On Singapore's participation in the evacuation efforts, Dr Ng said, "The urgent need is to protect evacuees and other civilians, and Singapore is making a direct contribution to this humanitarian cause. We cannot imagine the fear and terror that these displaced people are facing, arising from the situation in Afghanistan. But we take some comfort that the SAF, through this mission, can play a part in providing for a more secure and safe future for some displaced families and individuals".