04 November 2014

TNI AU Tambah Tiga Skuadron Tempur di Tahun 2019

04 November 2014


3 skuadron tempur tambahan akan dibangun di kawasan timur (photo : Kaskus Militer)

Skuadron TNI AU Belum Ideal untuk Amankan Wilayah NKRI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU Marsma TNI Hadi Tjahjono menyatakan kekuatan udara yang dimiliki TNI AU saat ini masih belum cukup ideal untuk bisa meliputi semua wilayah NKRI. 

Hingga saat, pasukan TNI AU memiliki total delapan squadron yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun jumlah ini dianggap belum cukup untuk bisa menindak semua potensi ancaman yang bisa muncul terkait pelanggaran di ruang udara NKRI, terutama yang terjadi di kawasan Indonesia timur.

Alhasil cara untuk mengoptimalkan kekuatan yang ada dan menyiasati kekurangan squadron ini, ada beberapa pesawat dan pasukan yang di-deploy di wilayah-wilayah udara yang kerap dimasuki musuh.

Seperti yang terjadi saat pesawat sipil asal Arab Saudi melintasi wilayah NKRI, kemarin. Pesawat jenis Sukhoi, yang digunakan untuk menyergap pesawat tersebut, diterbangkan dari Makassar.

''Bisa dibilang belum ideal (jumlah squadron). Namun, kami akan membangun tiga squadron tambahan, khususnya untuk mengamankan wilayah timur,'' ujar Hadi kepada Republika Online (ROL), ketika dihubungi lewat telepon, Selasa (4/11).

Penambahan jumlah squadron ini baru akan disusun di Rencana Strategis (Renstra) Pertahanan yang ketiga, yaitu pada 2019 hingga 2024 mendatang. Termasuk rencana penambahan radar militer.

Hingga kini, TNI AU memiliki 24 radar militer yang tersebar di seluruh wilayah NKRI. Rencananya, TNI AU akan menambah jumlah radar militer menjadi 32 buah pada 2019. ''Radar-radar ini nantinya ditempatkan untuk menutup semua kemungkinan pelanggaran udara di wilayah-wilayah yang mungkin masih belum terdeteksi,'' tutur Hadi.

Saat ini, terkait sistem radar, TNI AU telah bekerja sama dengan pihak sipil terkait penggunaan radar-radar tersebut. Dengan adanya radar-radar dari pihak sipil, setidaknya semua wilayah udara NKRI masih bisa terpantau.

2 komentar:

  1. ## Penambahan 3 Skuadron pesawat tempur seperti yang direncanakan, tentunya sudah TIDAK BISA lagi diisi pesawat jenis Sukhoi Flanker, yang biaya operasionalnya Rp 400 juta per jam, seperti sudah marak diberitakan akhir2 ini.

    India baru saja melaporkan kalau dari 193 Su-30MKI mereka hanya 55% yang selalu operasional (atau siap mengudara) setiap saat. Bagaimana dengan 87 pesawat sisanya? Sedang menjalankan maintenance dan repair.

    Su-35S tidak akan banyak berbeda dgn kasus Su-30MKI, apalagi tipe ini belum mengumpulkan ratusan ribu jam terbang seperti MKI.

    Kalau Indonesia membeli 16 Su-35S saja, tidak hanya Anggaran TNI-AU akan "disandera" biaya operasional Sukhoi, tapi hanya DELAPAN pesawat yg siap mengudara setiap saat, sedang sisanya menghabiskan waktu terlalu banyak di bengkel.

    Apalagi ditengah2 keadaan APBN Indonesia skrg yg masih harus berkutat dengan subsidi BBM.... Sukhoi Flanker adalah pilihan yang JELEK.

    ## Kesiapan tempur hanya 55% adalah benar2 rendah, dibandingkan Gripen dan F-16 yang mempunyai kesiapan operasional antara 80 - 90%.

    ## Saatnya mempertimbangkan kembali pembelian SAAB Gripen-E/F yang biaya operasionalnya hanya Rp 50 juta / jam. Gripen tidak dibuat oleh US atau Russia, tapi dari Swedia, yang adalah negara netral, BUKAN anggota NATO.

    Dengan tawaran ToT yg murah hati, bukan tidak mungkin Gripen-E/F bisa dirakit di PT DI di Bandung. Pembelian bertahap dalam jumlah besar akan menjadikan Gripen sebagai salah satu hasil karya bangsa sendiri.

    ## Brazil baru saja memutuskan untuk membeli 108 Gripen-E/F dalam 3 tahapan terpisah (masing2 36 pesawat).

    http://www.janes.com/article/45878/brazil-requires-at-least-108-gripen-fighters

    Ada baiknya Indonesia mempertimbangkan pilihan yang sama dengan Brazil. Membeli dulu 32 pesawat di tahap pertama, untuk mengganti F-5E dan menambah Skuadron baru.

    Lalu membeli lagi 32 pesawat untuk pembentukan 2 Skuadron baru di tahun 2019.

    Kemudian disusul oleh pembelian 32 pesawat lagi di tahun 2025 untuk menggantikan 23 Hawk-209 di Skuadron-01 dan -12 yang sudah uzur dan ketinggalan jaman.

    BalasHapus