Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) meningkatkan kesiapan personelnya dalam sistem radar sebelum pengujian penerimaan pabrik di Spanyol.
Mulai tanggal 6 hingga 26 September 2026, Kapten Yutthanavee Mungthanya, Atase Angkatan Laut/Madrid dan Pelaksana Tugas Atase Militer/Madrid, bersama dengan personel dari kantor tersebut, menyambut dan memfasilitasi personel RTAF yang mengikuti pelatihan Inspeksi Sistem OJT (Sebelum FAT).
Para peserta termasuk Komandan Wing Saranchai Maisuk, Komandan Wing Jare Othong, dan Letnan Kolonel Kraisorn Kingthong, di Indra Sistemas, Spanyol.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan personel RTAF dalam inspeksi, pengoperasian, dan pemeliharaan sistem radar, sebagai persiapan untuk Factory Acceptance Test (FAT) dengan personel perusahaan di pabrik Indra Sistemas.
Pada kesempatan ini, Atase Angkatan Laut/Madrid mengadakan makan malam di kediamannya untuk mempererat hubungan baik antar personel Thailand yang bertugas di luar negeri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk mendukung dan mengkoordinasikan pelatihan dan penerimaan peralatan antara lembaga-lembaga Thailand dan produsen di Kerajaan Spanyol. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa personel memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk tugas mereka, dan untuk menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh pada misi Angkatan Udara Kerajaan Thailand.


Aplot min, Breking Niuuusss
BalasHapusSALAM 2035 GOWING SALAH FOTONG TETAP OMFONG TOTAL haha!πππ€£
Taon segituw...kita uda punyak
✅️kapal induk☢️
✅️Kruiser 180 meter
✅️SKOR EVO kita uda FULL Aktiv
✅️KAAN GEN 5
Kahsiyan kl, KALAH LAAGIIII haha!πππ
Swadikap...
BalasHapusthai lagi deket ama sepanyol keknya nich, radar pake indra, cms dan kawan2 kontraktornya navantia buat type 71e haha!πππ
tp sayang..frigat kalah ama kppp haha!π€π€π
LON ..2035 LCS = BUAT UANG TIDAK BISA
BalasHapus-
RINGGIT DAN PASPOR : MADE IN INDONESIA
IMPOR ALAT MILITER : MADE IN INDONESIA
-
πͺ Cetakan Mata Uang & Dokumen Negara Luar Negeri (PERURI INDONESIA)
• Malaysia: Mata uang (Ringgit) & Paspor (sejak 2010).
• Sri Lanka: Mata uang (Rupee) & Paspor.
• Nepal: Mata uang (Rupee), Pita Cukai, & Prangko.
• Peru: Mata uang (Soles).
• Bangladesh: Mata uang (Taka).
• Somalia: Mata uang (Shilling).
• Argentina: Mata uang (Peso).
• Guinea: Dokumen Negara (Paspor).
• Pakistan: Dokumen Negara (Pita Cukai).
• Filipina: Dokumen Negara (Prangko).
--------------------------------------------
π¦ EKSPOR ALAT MILITER INDONESIA
• CN235 (PESAWAT): Diekspor ke Brunei (1), Malaysia (8), Korsel (12), Pakistan (4), UEA (7), Burkina Faso (1), dan Senegal (3).
• RHIB (KAPAL PATROLI): Dibeli Singapura (18) dan Malaysia (24); Brunei berminat (12).
• PARASUT & TENDA: 7.000 unit tenda dipesan oleh militer Malaysia.
• MPCD HAWK (AVIONIK): Komponen kokpit buatan Surabaya diekspor ke Malaysia.
• FAST PATROL BOAT (FPB 57): Kapal patroli cepat PT PAL diadopsi oleh Malaysia.
• SENJATA & AMUNISI: Senapan SS2, amunisi, dan alutsista PT Pindad diekspor ke Malaysia dan Bangladesh.
• SERAGAM & ATRIBUT: PDL dan rompi antipeluru buatan lokal (Sritex) digunakan militer Malaysia.
--------------------------------------------
• Risiko Tanpa Senjata: Kapal LCS-1 terlambat 7,55% dan berisiko diserahkan ke TLDM dalam kondisi kosong tanpa senjata dan latihan tuntas.
• Operasional Desember 2035: Kesiapsiagaan tempur baru tercapai akhir 2035 karena integrasi senjata terikat Kontrak Pelengkap yang molor dari target April 2030.
• Dampak Berantai: Penundaan fisik pada kapal LCS-1 ini otomatis memundurkan jadwal penyelesaian untuk kapal LCS-2 hingga LCS-5.
--------------------------------------------
KLAIM CASH = HUTANG ASET MILITER
-
1. πΉπ· Turki (LMS Batch 2)
Model: G2G (Antar Pemerintah) via SSB.
Bunga: 4% – 6% (Fixed/OECD CIRR).
Tenor: 10 – 15 Tahun.
-
2. π°π· Korea Selatan (Pesawat FA-50)
Model: Hybrid (Kredit KEXIM & Barter CPO 50%).
Biaya: Management Fee sangat rendah (0,10% - 0,50%).
-
3. π¬π§ Inggris (Standar UKEF - Pesawat Hawk)
Syarat: Wajib DP 15% (Standar OECD).
Bunga: Stabil, mengikuti National Loans Fund.
-
4. π¨π³ China (LMS Batch 1)
Model: 100% Kredit Ekspor (China Eximbank).
Bunga: Sangat murah (3,5% Fixed).
Tenor: 10 Tahun.
-
5. π΅π± Polandia (Tank PT-91M)
Model: DP 15% + Barter CPO (30-40%).
Tenor: 10 Tahun cicilan.
-
6. π©πͺ Jerman (Kedah-Class)
Model: Kredit Komersial dijamin negara (Euler Hermes).
Pendana: Deutsche Bank & Konsorsium.
-
7. Kredit Sindikasi (Proyek LCS - 17 Kreditor/Hutang)
Model: Konsorsium Bank Domestik/Intl (Skala Masif).
Bunga: 6% (Saldo Menurun).
Tenor: 15 Tahun (Akibat penundaan proyek
2035 = LCS (LELET CUAN SONGLAP)
BalasHapus-
MAHARAJALELET ....... 2035 - 2011 = 24 TAHUN
LCS-1 = TAHUN 2035
--------------------------------
• Risiko Tanpa Senjata: Kapal Tempur Pesisir pertama Malonsia, LCS-1 KD Maharaja Lela, mengalami keterlambatan fisik sebesar 7,55%. Kapal berisiko besar diserahkan kepada Tentera Laut Diraja Malonsia (TLDM) dalam kondisi "lompong" (tanpa sistem persenjataan lengkap dan latihan yang tuntas).
-
• Target Operasional Penuh (Desember 2035): Kesiapsiagaan tempur penuh kapal baru bisa tercapai pada Desember 2035. Hal ini dikarenakan penyelesaian integrasi senjata bergantung pada Kontrak Pelengkap yang waktunya molor jauh melampaui akhir Kontrak Utama (April 2030).
-
• Dampak Berantai: Keterlambatan serah-terima fisik (Physical Handover/PHO) pada LCS-1 ini secara otomatis ikut menunda jadwal penyelesaian untuk kapal LCS-2 hingga LCS-5.
--------------------------------
Sumber Berita Resmi:
Informasi ini dirilis secara resmi oleh Ketua Audit Negara Malonsia, Datuk Seri Wan Suraya Wan Mohd Radzi, melalui pembentangan Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) 2/2026 di Parlimen Malonsia pada 5 Oktober 2026. Kasus ini telah dilaporkan secara luas oleh berbagai media nasional Malonsia seperti Berita Harian, Utusan Malonsia, dan Sinar Harian.
--------------------------------
1. Krisis Rudal NSM Norwegia
• Masalah: Pemerintah Norwegia membatalkan izin ekspor rudal Naval Strike Missile (NSM) secara permanen. Malonsia pun menuntut ganti rugi hingga Rp4,46 triliun.
• Dampak Teknis: Integrasi rudal pengganti (seperti Exocet atau Harpoon) ke Sistem Manajemen Tempur (SETIS) buatan Prancis sangat rumit. Butuh waktu 36 bulan untuk pengkodean ulang software dan modifikasi peluncur fisik.
--------------------------------
2. Efek Domino Kapal Lain (LCS-2 s.d LCS-5)
• Masalah: Pembangunan paralel berbasis modul di galangan Lumut Naval Shipyard (LUNAS) terhambat akibat keterlambatan fisik LCS-1 sebesar 7,55%.
• Dampak: Jadwal serah-terima fisik (Physical Handover) LCS-2 hingga LCS-5 otomatis mundur berantai, memicu pembengkakan biaya overhead galangan.
--------------------------------
3. Jebakan Jeda Anggaran (5 Tahun)
• Masalah: Ada mismatch hukum antara Kontrak Utama fisik (berakhir April 2030) dan Kontrak Pelengkap persenjataan (baru selesai Desember 2035).
• Dampak: Malonsia terjebak menanggung biaya pemeliharaan dan retensi keahlian kontraktor yang sangat mahal selama 5 tahun jeda hanya untuk "menunggu" kapal siap tempur.
--------------------------------
4. Kesenjangan Kemampuan di Laut China Selatan
• Masalah: Tanpa sistem pertahanan udara jarak menengah dan rudal antikapal, LCS-1 yang diserahkan akhir 2026 hanya akan berfungsi sebagai kapal patroli lepas pantai (OPV) mahal tanpa taring militer.
• Dampak: Terjadi Capability Gap (kesenjangan kemampuan) yang masif bagi armada Tentera Laut Diraja Malonsia (TLDM) yang kini didominasi kapal tua, membuat wilayah maritim mereka rentan di tengah ketegangan Laut China Selatan.
WOY MMW BERUK MELAYU TOLOL AHLI MINIM OTAK DAN LITERASI.........TAK MALU KE PUNYA PMX AHLI LGBT CUMA JADI BAHAN TERTAWAAN DUNIA.....KONON NEGARA MUSLIM TAPI KELAKUAN KAYA DAJAL .....JUDI, DADAH DAN LGBT DISOKONG NEGARA MELAYU TOLOL π·π·π·π·π·π·π·π²πΎπ©π©π©π©π©π©π©π©π²πΎ
BalasHapusPASAL TU ORG TUA DULU² SELALU PESAN.. BODOH,TOLOL DAN HAL MEMALUKAN JANGAN TUNJUK KAT ORG...APALAGI REKAM JEJAK DIGITAL
π€‘π€‘π€‘π€‘π€£π€£π€£π€£π€£
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20150210145127-106-31025/kronologi-kasus-sodomi-anwar-ibrahim
TAMATLAH SUDAH ALKISAH KAMI, TERIMA KASIH DAN MALU LAGI π€£π€£π€£π€£π€‘π€‘π€‘π€‘π²πΎπ²πΎπ²πΎπ©π©π©π©