26 Januari 2021

Australia Terminates Submarine Rescue Contract

26 Januari 2021

ADF submarine escape and rescue (photo : US Navy)

Submarine escape, rescue and abandonment system contract termination

In April 2018, following an open tender process, Phoenix International Australia was selected to deliver a deployable submarine rescue system for use with both the Collins and Attack class submarine fleets.

Following a series of delays in 2019 and 2020, the Department of Defence initiated an independent review of the project in August 2020.

The Government has considered the outcomes and recommendations of the review and has agreed to terminate the contract with Phoenix International Australia by mutual agreement.

The Government has directed the Department of Defence and the Department of the Prime Minister and Cabinet to conduct a comprehensive investigation to inform lessons learnt into procurement practices and relevant accountabilities which is underway.

The Department of Defence will now work with Phoenix to reach settlement, which will include addressing arrangements with Phoenix and its subcontractors.

The Royal Australian Navy retains a suitable submarine rescue system supporting the Collins class submarines under an existing contract with James Fisher Defence Australia. This system can be sustained into the late 2020s, affording the Government time to consider the acquisition of a replacement system, which will be required to support the larger crew size of the Attack class submarine.

PTDI Kirim Pesawat NC212i Pesanan Kemhan

26 Januari 2021

Pesawat NC212i yang diserah-terimakan (photos : PTDI)

Bandung (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI kembali mengirim langsung (Ferry Flight) satu unit Pesawat Terbang NC212i Troop Transport pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan pengguna akhir TNI Angkatan Udara dari Hanggar Delivery Center PTDI, Jalan Pajajaran Kota Bandung, menuju Skadron Udara 4, Wing Udara 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. 

Direktur Produksi PTDI, M Ridlo Akbar, Selasa, melepas ferry flight pesawat terbang NC212i Troop Transport yang kemudian akan dioperasikan oleh Skadron Udara 4, Wing Udara 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. 

“Alhamdulillah, hari ini tanggal 26 Januari kita baru mengantarkan pesawat pertama dari kontrak sembilan untuk TNI AU. 

Pesawat ini adalah pesawat dengan konfigurasi Troop Transport. Jadi dari 9 unit, 4 pesawat dengan dengan konfigurasi Troop Transport, 4 pesawat dengan konfigurasi foto udara dan hujan buatan dan 1 pesawat dengan konfigurasi Navigation Training," kata Ridlo Akbar. 

Penandatanganan kontrak pengadaan 9 unit pesawat terbang NC212i telah dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2017 antara PTDI dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan end user TNI Angkatan Udara.


Sisa delapan unit pesawat dari kontrak pengadaan sembilan unit pesawat terbang NC212i rencananya akan diserahterimakan secara bertahap. 

Ridlo mengatakan Pesawat terbang NC212i ini dapat digunakan sebagai passenger transport, troop/paratroop transport, rain making, navigation training dan foto udara yang dapat dipasang bergantian sesuai dengan kebutuhan operasional TNI Angkatan Udara. 

Sejak tahun 2014, PTDI merupakan satu-satunya industri pesawat terbang di dunia yang memproduksi pesawat NC212i. PTDI sampai saat ini telah berhasil melakukan pengiriman pesawat dan helikopter, baik dalam dan luar negeri, sebanyak 450 unit. 

PTDI telah berhasil memproduksi pesawat NC212 sebanyak 117 unit untuk dalam negeri maupun luar negeri, dari total sebanyak 588 unit populasi pesawat NC212 series di dunia. 

Adapun operator dalam negeri yang menggunakan pesawat NC212 series adalah TNI AU, TNI AD, TNI AL, Kepolisian, BPPT, dimana pesawat NC212 series tersebut digunakan untuk pesawat angkut sipil, militer dan Maritime Surveillance Aircraft (MSA). 

Sedangkan operator luar negerinya adalah negara Thailand untuk pesawat angkut militer dan modifikasi cuaca (rain making), Filipina dan Vietnam untuk pesawat angkut militer.

2 Kapal LST Buatan PT Bandar Abadi-Batam Masuki Tahap Finishing

26 Januari 2021

Progres kapal LST baru ke-8 dan 9 untuk TNI AL (photo : Firman Fariansyah)

Jika pada bulan Juli 2020 lalu progress 2 kapal LST ini telah menampakkan sebagian besar badan kapal, maka kali ini melalui posting Firman Fariansyah pada 23 Januari 2021 terlihat bahwa kedua LST ini telah memasuki tahapan finishing.

Kedua kapal angkut tank (LST) ini dibuat oleh galangan kapal PT Bandar Abadi Shipyard di Tanjung Uncang, Batam. Sebelumnya Kementerian Pertahanan juga telah mempercayakan pembuatan kapal perangnya di galangan kapal Batam juga yaitu : PT. Batamec (kapal tanker), dan PT. Palindo Shipyard Marine (KCR-40).


Dua kapal LST ke-8 dan ke-9 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI AL senilai Rp 360 miliar ini penanda-tanganan kontraknya dilakukan pada bulan April 2019. Sebelumnya 7 Kapal LST baru  telah dilaksanakan serah terima yaitu melalui galangan kapal PT. DKB Jakarta (518, 519), PT DRU Lampung tahap satu (520, 521) dan tahap dua (522, 523, 524). Besar kemungkinan kedua LST baru ini akan mempunyai nomor lambung 525 dan 526.

Atas rencana TNI AL untuk melakukan pembelian 12 LST baru hingga tahun 2024 maka dengan selesainya kapal ke-8 dan 9 ini tinggal 3 LST lagi dibutuhkan untuk 3 tahun ke depan, dan semakin banyak pilihan galangan kapal dalam negeri yang mampu mengerjakan kapal dengan bobot 2.800 ton ini. 

(Defense Studies)

Kontrak Tiga Helikopter Operasi Maritim Telah Dimeterai

26 Januari 2021

Helikopter Operasi maritim yang dipilih kemungkinan adalah AW139 maritime (photo : Estelle's Aviation)

TLDM bakal terima dua lagi kapal LMS - Mohd Reza

KUALA LUMPUR -- Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dijangka menerima baki dua lagi Kapal Misi Pesisir (LMS) pada Ogos serta November, tahun ini.

Panglima TLDM Laksamana Tan Sri Mohd Reza Mohd Sany berkata, LMS pertama (KD Keris) telah menyertai Armada TLDM pada 17 Jan tahun lepas bagi melaksanakan tugas rondaan dan pengawasan maritim, manakala LMS kedua (Sundang) baru diterima pada 14 Jan.

Beliau berkata kesemua LMS itu bakal menyertai Skuadron LMS Ke-11, turut sama melakukan tugasan mencari dan menyelamat di samping menguatkuasakan undang-undang maritim Malaysia.

“Jadi baki kapal salah satu daripada lima kelas kapal di dalam Program Transformasi Armada 15to5 akan diterima pada tahun ini, seperti yang dirancang.

Tiga buah Helikopter Operasi Maritim

“Selain itu, TLDM juga akan menerima tiga buah Helikopter Operasi Maritim (HOM) secara berperingkat iaitu bermula pada tahun hadapan,” katanya dalam perutusan tahun baharu tahun 2021, hari ini.

Mohd Reza berkata sebanyak tiga buah HOM, menerusi kontrak perolehan dimeterai pada 2 Sept tahun lepas, dengan yang pertama akan diterima pada 30 Okt 2022, kedua pada 31 Mei 2023 dan terakhir pada 28 Feb 2024.

Scaneagle Unmanned Aerial System (UAS)

“Selain itu, sebanyak enam daripada 12 buah ‘Vertical Take-off and Landing (VTOL) Unmanned Aerial System (UAS) ScanEagle’ telah diterima setakat ini, manakala baki lagi enam pihak TLDM akan terima pada Jun tahun ini.

“Selaras dengan pelan pembangunan dan keperluan operasi masa hadapan, TLDM turut merancang untuk melaksanakan perolehan menerusi Rancangan Malaysia Kedua Belas (RMK12) bermula tahun ini hingga 2025,” katanya.

Beliau dalam masa sama memaklumkan sebanyak RM2.9 bilion diperuntukkan tahun ini buat TLDM, iaitu peningkatan sebanyak RM164 juta (5.96 peratus) berbanding tahun lepas.

“Daripada jumlah berkenaan, RM1.683 bilion diperuntuk bagi Belanja Mengurus dan RM1.233 bilion untuk Belanja Pembangunan,” katanya.

(Bernama)

Australia Boosts Maritime Security with Long Range Missiles

26 Januari 2021

Standard Missile SM-6 Block 1, surface-to-air-missiles (photo : US Navy)

Morrison Government boosts maritime security

The Morrison Government will invest $1 billion to commence the early development of advanced guided weapons to enhance Australia’s maritime security.

This significant commitment will modernise the Navy’s platforms to project and maintain sea control.

This project will provide Navy with leading-edge long-range anti-ship missiles, extended range surface-to-air missiles, advanced light weight torpedoes, and maritime land strike capabilities.

With ranges in excess of 370 kilometres for anti-ship and surface-to-air missiles, and 1,500 kilometres for maritime land strike missiles, these new weapons will enhance the protection of our maritime resources and borders, and hold adversaries at risk at much greater distances.

Long Range Anti Ship Missile LRASM (photo : USAF)

Minister for Defence, Senator the Hon Linda Reynolds CSC said new investments would be made across the current and future submarine and surface combatant fleets, to provide the Australian Defence Force with more options to protect Australia’s interests.

“These new capabilities will provide a strong, credible deterrent that will ensure stability and security in the region,” Minister Reynolds said.

“The planned acquisitions – when aligned with the ongoing state-of-the-art combat system development and National shipbuilding programs – represent an investment of up to $24 billion, which will build a lethal and highly responsive Navy for decades to come.

Towahawk Land Attack Missiles has a range of up to approximately 1,500 miles (about 2,400 km) (photo : Military Aerospace)

“The project also seeks opportunities to broaden Australia’s weapons manufacturing base, reinforcing this Government’s long-term commitment to Australian industry and delivering sovereign industrial capabilities.

“This investment is part of the Morrison Government’s $183 billion Naval Shipbuilding Plan, which will see up to 23 classes of vessels built here in Australia, creating thousands of jobs and significant opportunities for Australian industry.”

As part of SEA 1300, Defence will continue its long-term investment and key contribution to the Evolved SEASPARROW Block 2 missile program, and commence investment in developing the Standard Missile 2 Block IIIC and the Standard Missile 6 Block 1, to meet Australia’s surface-to-air missile capability requirements.

25 Januari 2021

KKIP Tinjau Kesiapan Program Medium Tank dan Munisi Pindad

25 Januari 2021

Kunjungan KKIP mengecek kesiapan produksi medium tank Pindad (photos : Pindad)

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad (Persero), Ade Bagdja didampingi oleh Direktur Bisnis Hankam, Wijil Jadmiko beserta para GM menerima kunjungan Kepala Bidang Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (Kabidren KKIP), Laksda TNI (Purn.) Darwanto beserta jajaran pejabat KKIP pada Jumat, 22 Januari 2021 di Kantor Pusat Pindad, Bandung.

Ade Bagdja menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kunjungan Kabidren KKIP beserta jajaran. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan paparan mengenai produk Pindad yang dijelaskan oleh Direktur Bisnis Hankam, Wijil Jadmiko.


Kabidren KKIP, Laksda TNI Darwanto menyampaikan, kunjungan KKIP kali ini dalam rangka untuk mempelajari kegiatan terkait dengan program nasional, yang dalam hal ini adalah mengenai Medium Tank dan produk Munisi yang kemudian nantinya akan dijadikan acuan dalam membuat kebijakan atau keputusan untuk perkembangan industri pertahanan kedepannya. 

Dalam kunjungan hari ini KKIP juga ingin mengetahui sudah sejauh mana perkembangan industri pertahanan itu sendiri dan bagaimana kebijakan yang ada dilaksanakan. Laksda TNI Darwanto berharap dari pertemuan ini KKIP mendapatkan pemahaman yang jelas dan komprehensif guna pengembangan kemajuan industri pertahanan kedepannya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan melakukan kunjungan ke fasilitas produksi serta mencoba produk Pindad dengan menembak.

KAI FA-50 fighter Jet Equipped with 'Sniper ATP' to Succeed in Test

25 Januari 2021

KAI TA-50 with Sniper Advanced Targeting Pod (Sniper ATP) (photo : KAI)

Korean defense company Korea Aerospace Industries (KAI) successfully tested the flight with the "Sniper Advanced Targeting Pod (Sniper ATP)" installed on the FA-50 fighter.

Foreign media such as Reuters reported on the 22nd that KAI successfully completed the aerial test with a Sniper ATP mounted on the FA-50.

The ATP Sniper is a targeting system developed by Lockheed Martin. This product identifies enemy targets and selects targets in all weather conditions, such as day and night, improving missile accuracy. This system can be used up to an altitude of 151,000 m, so it is also powerful in air combat.

The FA-50 is a fighter aircraft produced by KAI in cooperation with US defense company Lockheed Martin since 2002. Since many Lockheed Martin technologies have been applied to the FA-50, KAI's FA-50 is expected to be used in this Sniper ATP test. The countries in which the FA-50/TA-50 operated are Korea, Indonesia, Philippines, Iraq, and Thailand.

Lockheed Martin said the flight test was an opportunity to demonstrate the performance of the new advanced equipment.

An industry insider said, “Korea and other related countries will be interested in integrating the existing equipment (FA-50) with the Sniper ATP.”

(G ENews)