19 September 2014

Saab Offers "100% Technology Transfer" in Bid to Secure TNI Gripen Deal

19 September 2014


JAS-39 Gripen (photo : Saab)

Saab is offering "100% technology transfer" in its bid to supply the Indonesian Air Force (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara - TNI-AU) with its JAS 39 Gripen combat aircraft, a company executive has told IHS Jane's .

The TNI-AU is understood to be considering the Gripen along with other fighter aircraft, including the Boeing F/A-18 Super Hornet and the Sukhoi Su-35, to replace its ageing Northrop F-5E Tiger II fleet before the end of the decade.

The programme will procure 16 aircraft and is projected to be valued at more than USD1 billion.

Speaking to IHS Jane's on 15 September, Kaj Rosander, head of marketing and sales in Saab Asia Pacific, said the company had a "number of discussions" with the TNI-AU and the Indonesian government in which Saab had "shared the capabilities" of the Gripen E, the single-seat derivative of the two-seat JAS 39 Gripen NG.

(Jane's)

3 komentar:

  1. Teknologi ini terpaksa mereka berikan kepada Indonesia supaya Indonesia tidak membeli SU 34 yang bisa menyaingi F 35. Lagipula teknologinya mungkin sebentar lagi sudah ketinggalan jaman, sementara Indonesia memiliki pengembangan pesawat tempur dengan Korea. Kalau ini diterima, rasanya kok adaa yang aneh.

    BalasHapus
  2. Gripen E adalah pesawat tempur terbaik di dunia ini.

    Biaya operasional per jam - Indonesia bisa menerbangkan 4 Gripen E dengan biaya per jam yg sama utk menerbangkan Su-27/30/35. Biaya operasional Gripen per jam hanya $4800 per jam, ini berarti juga hanya 59% dibanding biaya F-16.

    MBDA Meteor - Gripen adalah pesawat pertama yg dipersenjatai missile jarak jauh ini. Meteor dgn tehnologi Ramjet dianggap lebih baik / lebih modern dibanding AMRAAM C7 tipe terbaru yg bisa di ekspor Amerika (kalau kita bisa dapat ijinnya). Meteor juga lebih unggul dibanding R77 tipe konvensional Russia (kecuali tipe R-77PD, tp ini belum operasional).

    Logistik/Fleksibilitas: Gripen dirancang utk bisa operasional di landasan "darurat" di masa perang. Dia bisa mendarat di jalan raya, asalkan ada cukup 800 meter jalan yg lurus. Gripen jg dirancang utk bisa dipersenjatai/diisi bahan bakar (dlm keadaan perang) hanya dgn 5 orang yg terlatih dan 1 truk pengangkut.

    Di masa perang, Indonesia dgn puluhan ribu pulau, berpotensi bisa "menyembunyikan" Gripen E mereka di jutaan tempat. Sekarang ini, kalau Lanud Sultan Hassanudin, Pekan Baru, dan Iswayudhi berhasil di bom di hari pertama, TNI-AU kita mungkin sudah akan berantakan.

    Supercruise - Gripen E ada salah satu tipe yg bisa melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner. Su-27/30/35 dan F-16 mungkin bisa melaju lebih cepat, tp tidak bisa lama2 krn afterburner memboroskan bensin. Ini artinya, Gripen lebih mudah utk melakukan "interception" (penyergapan). Mrk juga bisa menembakan Meteor dari jarak yg lebih jauh dibanding negara lain yg punya F-35, F-18E, atau F-15SG.

    Radar - Gripen E sudah membawa Selex AESA radar, dan juga memiliki IRST (Infra-Red Search&Tracking) - ini memudahkan utk bisa mencari pesawat tipe F-35 (yg akan dibeli Singapore/Australia) di udara. Jika TNI-AU membeli Gripen E, ini utk pertama kalinya kita bisa memiliki akses ke radar AESA yg akan menjadi standar utk 50 tahun kedepan.

    Networking - Gripen E is a Networked fighter. Sampai skrg, hanya Su-27/30 di Indonesia yg mempunyai airborne Network (TSK-2), ini pun tdk compatible dgn transfer data dari radar2 TNI-AU di darat. Dengan membeli Gripen-E, kita bisa mengintegrasi pesawat ini dgn semua radar di darat, dan juga kita bisa membuka kemungkinan pembelian pesawat AWACS.

    Support - Dgn tehnologi transfer 100%, kedaulatan Indonesia lebih terjamin dibanding skrg, yg menghandalkan F-16 buatan Amerika (yg tukang blokade spare part). Mesin F414 memang masih buatan Amerika, tapi dari segi support akan mirip dgn tipe F404 yg skrg dipakai dgn T-50i TNI-AU. Kita bisa berinvestasi utk mensupport dua mesin ini dgn lebih lancar terlepas dari support Amerika.

    Pengganti F-5E - Biaya operasional sama2 murah, jarang jangkau jauh lebih baik, Gripen juga jauh lebih modern dan lebih cepat. Pembaca jg harus memperhatikan, sebentar lagi Hawk 209 / 109 yg dibeli TNI-AU di tahun 1990-an juga akan memasuki usia uzur. Ini membuka kemungkinan bahwa setelah membeli 16 pesawat (menggantikan F-5E), Indonesia bisa membeli 32 pesawat lagi utk menggantikan Hawk 209 di Skuadron 1 dan 12.

    Terakhir, proyek KF-X dengan Korea, saya rasa masa depannya sangat diragukan. Skrg ini Korea sudah berkomitmen utk membeli F-35 (harga selangit & memakan biaya anggaran AU Korea). Banyak org di Korea jg menyatakan bahwa kemungkinan besar KF-X akan menelan biaya yg sama dibanding membeli F-15SE.
    Korea jg belum cukup punya kemampuan/pengalaman utk mengembangkan pesawat dgn target ambisius spt ini.

    Gripen E adalah pilihan terbaik utk TNI-AU saat ini utk menjaga kedaulatan bangsa di saat krisis. Pesawat ini akan memiliki keunggulan secara tehnologi, network, support, kinematis, dan ongkos operasional dibanding potensial lawan2 regional seperti F-15SG dan F-16C/D Block 52 Singapore, F-18E Super Hornet Australia, dan Su-30MKM Malaysia.

    BalasHapus
  3. ini kalau ga diambil keterlaluan bodoh bgt...daripada dipaksa nerima rongsokan F 16 terus mending bikin gripen trus di upgrade sendiri..kaya senapan FNC yang sekarang jadi SS 2

    BalasHapus