29 September 2014

Sodoran Gripen untuk Indonesia

29 September 2014


Gripen NG, pesawat demonstrator untuk Gripen seri E (photo : SaabGroup)

Seorang pembaca Defense Studies dengan id Gripen for Indonesia pada tanggal 22 September 2014 lalu memposting tulisan di Defense Studies. Apakah dia adalah representasi dari SaabGroup yang sekarang membuka website dalam bahasa Indonesia ataukah bukan, namun tulisannya layak untuk dibaca. Berikut ini adalah tulisannya mengenai Gripen E yang kadang membuat komparasi terhadap kompetitor lainnya.
--------------------------------------------------------------------------

Gripen E adalah pesawat tempur terbaik di dunia ini


Biaya operasional per jam
Indonesia bisa menerbangkan 4 Gripen E dengan biaya per jam yang sama untuk menerbangkan Su-27/30/35. Biaya operasional Gripen per jam hanya $4800 per jam, ini berarti juga hanya 59% dibanding biaya F-16.

Rudal Jarak jauh MBDA Meteor
Gripen adalah pesawat pertama yang dipersenjatai missile jarak jauh ini. Meteor dengan teknologi Ramjet dianggap lebih baik / lebih modern dibanding AMRAAM C7 tipe terbaru yang bisa diekspor Amerika (kalau Indonesia bisa dapat ijinnya). Meteor juga lebih unggul dibanding R77 tipe konvensional Russia (kecuali tipe R-77PD, tapi ini belum operasional).

Logistik/Fleksibilitas
Gripen dirancang untuk bisa operasional di landasan "darurat" di masa perang. Dia bisa mendarat di jalan raya, asalkan ada cukup 800 meter jalan yang lurus. Gripen juga dirancang untuk bisa dipersenjatai/diisi bahan bakar (dalam keadaan perang) hanya dengan 5 orang yang terlatih dan 1 truk pengangkut.

Di masa perang, Indonesia dengan puluhan ribu pulau, berpotensi bisa "menyembunyikan" Gripen E mereka di jutaan tempat. Sekarang ini, kalau Lanud Sultan Hassanudin, Pekan Baru, dan Iswayudhi berhasil di bom di hari pertama, TNI-AU mungkin sudah akan berantakan.

Supercruise
Gripen E adalah salah satu tipe yang bisa melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner. Su-27/30/35 dan F-16 mungkin bisa melaju lebih cepat, tapi tidak bisa lama-lama karena afterburner memboroskan bensin. Ini artinya, Gripen lebih mudah untuk melakukan "interception" (penyergapan). Merek juga bisa menembakan Meteor dari jarak yang lebih jauh dibanding negara lain yg punya F-35, F-18E, atau F-15SG.

Radar
Gripen E sudah membawa Selex AESA radar, dan juga memiliki IRST (Infra-Red Search & Tracking) - ini memudahkan untuk bisa mencari pesawat tipe F-35 (yang akan dibeli Singapore/ Australia) di udara. Jika TNI-AU membeli Gripen E, ini untuk pertama kalinya Indonesia bisa memiliki akses ke radar AESA yg akan menjadi standar untuk 50 tahun ke depan.

Networking
"Gripen E is a Networked Fighter". Sampai sekarang, hanya Su-27/30 di Indonesia yang mempunyai Airborne Network (TSK-2), ini pun tidak compatible dengan transfer data dari radar-radar TNI-AU di darat. Dengan membeli Gripen-E, Indonesia bisa mengintegrasikan  pesawat ini dengan semua radar di darat, dan juga Indonesia bisa membuka kemungkinan pembelian pesawat AWACS.

Support
Dengan teknologi transfer 100%, kedaulatan Indonesia lebih terjamin dibanding sekarang, yang menghandalkan F-16 buatan Amerika (yg pernah memblokade spare part). Mesin F414 memang masih buatan Amerika, tapi dari segi support akan mirip dengan tipe F404 yang sekarang dipakai dengan T-50i TNI-AU. Indonesia bisa berinvestasi untuk mensupport dua mesin ini dengan lebih lancar terlepas dari support Amerika.

Pengganti F-5E dan Hawk 109/209
Biaya operasional sama-sama murah, jarang jangkau jauh lebih baik, Gripen juga jauh lebih modern dan lebih cepat dari F-5E. 

Pembaca juga harus memperhatikan, sebentar lagi Hawk 209 / 109 yang dibeli TNI-AU di tahun 1990-an juga akan memasuki usia uzur. Ini membuka kemungkinan bahwa setelah membeli 16 pesawat (menggantikan F-5E), Indonesia bisa membeli 32 pesawat lagi untuk menggantikan Hawk 209 di Skuadron 1 dan 12.

Proyek KF-X
Terakhir, proyek KF-X dengan Korea, masa depannya masih meragukan. Sekarang ini Korea sudah berkomitmen utk membeli F-35 (harga selangit & memakan biaya anggaran AU Korea). Banyak orang di Korea juga menyatakan bahwa kemungkinan besar KF-X akan menelan biaya yg sama dibanding membeli F-15SE. 

Korea juga belum cukup punya kemampuan/pengalaman untuk mengembangkan pesawat dengan target ambisius seperti ini.

Sebanding 

Gripen E adalah pilihan terbaik untuk TNI-AU saat ini untuk menjaga kedaulatan bangsa di saat krisis. Pesawat ini akan memiliki keunggulan secara teknologi, network, support, kinematis, dan ongkos operasional dibanding potensial lawan-lawan regional seperti F-15SG dan F-16C/D Block 52 Singapore, F-18E Super Hornet Australia, dan Su-30MKM Malaysia.

(Gripen for Indonesia @ Defense Studies)

33 komentar:

  1. Tidak setuju dengan artikel ini. Judulnya saja “Gripen E adalah pesawat tempur terbaik di dunia ini” sudah menyesatkan. Tolong di dukung dengan data2 yg valid.
    Januari 2014 TNI-AU setelah perrtimbangan yg sangat komprehensif, secara resmi telah mengusulkan pengganti F-5 berturut-turut adalah SU-35, F-16, F-15SE dan terakhir Gripen.

    Jadi Gripen adalah pilihan paling akhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. "Gripen-E adalah pesawat tempur terbaik di dunia" adalah pendapat saya. Bukanlah menyesatkan, tapi point-point yang mendukung pendapat saya itu sudah bisa dilihat di atas.

      Su-35 sebagai pilihan pertama, memiliki bbrp kendala. Pertama, kita akan men-support 25% jumlah Su-35 di seluruh dunia. Ini berarti faktor resiko support dan maintenance mahal utk 30 tahun ke depan utk men-support pesawat yang tidak banyak dipakai negara lain.

      Harap diketahui juga, Su-30MKI di India, banyak mengalami kendala. Beberapa Su-30MKI salah satu mesin AL-31FP-nya bisa mati di udara, dan terpaksa mendarat hanya dgn satu mesin. Kalau Su-30MKI yg sudah diproduksi sampai ratusan unit saja bisa punya resiko spt itu, bagaimana dgn Su-35 yg hanya akan diproduksi 48 unit?

      Support dari Russia ke negara konsumennya terkenal kurang baik.Ini bisa dibaca di artikel berikut:

      http://www.defenseindustrydaily.com/india-ordering-modernizing-su-30mkis-05852/

      Faktor terakhir, biaya operasional. Ongkos operasional per jam Su-35 bisa mencapai $25 ribu per jam. Bandingkan dengan ongkos operasional Gripen-E yg hanya $4800 per jam.

      Bukankah lebih penting kita bisa menerbangkan 10 Gripen-E ke udara di saat krisis, dibanding hanya cukup uang utk menerbangkan 2 Su-35 saja?

      Kalau kita menanggap pembelian Su-35 tampak spt "langkah berikut" yg tepat setelah memiliki Su-27 SK/SKM dan Su-30MK/MK2 ini juga menyesatkan. Su-35 dari segi avionic, komputer, radar, dan mesin berbeda jauh dgn Su-27/Su-30 yg dipakai Indonesia. Sama saja dgn membeli pesawat tempur dari tipe yg sama sekali baru, dgn faktor2 resiko di sebut di atas.

      Lagipula, perlu juga diperhatikan kondisi RAPBN dalam 5 tahun kedepan. Mnrt saya, pemerintah tidak akan punya cukup uang untuk men-support 32 Sukhoi maksimal. Saat ini ancaman fiskal RAPBN masih terpicu ke subsidi BBM.

      Dari segi ini, Gripen-E kelihatan pilihan yg lebih murah kan? Tapi apakah Gripen hanya mempunyai 25% kemampuan Su-35?

      Hapus
  2. broker gripen supsonic mulai melanglang buana loby sana sini... target multi jutaan dolar untung di kantong .
    akusisi senjata pemungkas sclass indonesia nan luas butuh jet tempur kemampuan terbang jauh , radar dan punya terbang di atas 3 ribu kaki ...bellom langka nya suku cadang buat masa panjang . kalau ke mampuan NG gripen di atas sukhoi 35 ms layak untuk segera di akusisi .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya penulis artikel di atas, dan saya sama tidak ada hubungan dgn SAAB atau pemerintah Swedia; saya hanya pengamat awam :)

      Gripen-E jarak jangkaunya sudah mencapai 4.000 km dgn 3 external tank. Lagipula Gripen-E dapat mengisi bahan bakar di udara dari 2 KC-130B milik TNI-AU; sedangkan F-16 tidak bisa.

      Jarak dari Sabang sampai Merauke itu sekitar 5,200 km, dan setahu saya, pengawasan udara di Indonesia wilayah Timur masih kurang.

      Ingat faktor fleksibilitas di atas. Hanya dgn membeli 16 Gripen-E, kita bisa memangkalkan mereka hampir di semua tempat di Indonesia, ini akan memudahkan mengawasi daerah2 yg selama ini kurang di awasi, spt daerah Indonesia Timur.

      Dari segi suku cadang, Gripen-E tidak perlu dikhawatirkan. Ingat juga, kalau Gripen-E dirancang utk operasional di Swedia yg tertutup salju. Dari soal reliability dan maintenance, mereka selalu memprioritaskan support jangka panjang, dan ongkos yg semurah mungkin.

      Sebaliknya, kita justru perlu khawatir dgn ongkos perawatan dan spare part dari Sukhoi.

      Hapus
    2. Saya bingung dngan ongkos terbang, perawatan dan spare part dari Sukhoi yg pernah disebut mencapai angka 500 jt rph, yg kalau dianggap 1 USD = Rp. 12000, menjadi USD 41.667 per jam. Fantastis besar sekali mendekati F-35 dan F-22!!

      Saya coba menghitung dulu biaya komponen fuel yg mudah dihitung :
      Max internal fuel SU-35 adalah 11,500 kg. Asumsi tipikal training sortie diisi 50% (ini sdh lebih dari cukup) yaitu 5750 kg JP8, atau sekitar 1897 USgallon. Dengan harga 1 USgallon = USD 3,13, maka komponen bahan bakar adalah USD 5936 atau sekitar Rph. 71.230.000,-.
      Total biaya komponen2 lainnya (spare part, perawatan, gaji pilot + ground crew dll) adalah selisih USD 41.667 – USD 5936 = 35.731; apa iya sedemikian besar? Manhour rate pilot + ground crew kita sudah jelas sangat kecil.

      Kesimpulannya angka 500 jt rph/ flight hour itu sangat patut diragukan. Kemungkinan diembuskan broker pesawat saingan.

      (BTW cek lagi perhitungan saya, mungkin salah).

      Saya ingin juga menampilkan Fuel fraction dari beberapa pespur modern.
      Fuel fraction adalah angka yg dihitung untuk mengekspresikan bahan bakar internal sebagai bagian berat pesawat (dengan asumsi konfigurasi bersih). Aturan praktis bagi pespur modern dengan afterburner, minimum fuel fraction = 0,25. Kurang dari itu tidak akan cukup untuk pertempuran dog fighting atau bahkan untuk waktu di CAP (combat air patrol).

      Super Hornet F/A-18E - 0.31

      F/A-18C Hornet - 0.22

      F/A-22A Raptor - 0.45

      F-14D Tomcat - 0.26

      Boeing F-15C Eagle - 0.30

      F-16C Fighting Falcon - 0.26

      JAS 39A/E Gripen - 0.26 / 0.27

      MiG-29M Fulcrum - 0.27

      MiG-31 Foxhound - 0.40

      Su-30 Flanker - 0.29
      Su-35 Flanker E - 0.39 ~ 0.41

      Dassault Rafale M - 0.31

      EF2000 Typhoon - 0.29

      Chengdu F-7MG - 0.27

      AV-8B Harrier II - 0.32

      Fuel fraction SU-35 itu hampir 1,5 kali Gripen.
      Masing2 negara memerlukan pespur yg cocok dengan kondisi geografisnya. Misalnya EU banyak negara2 yg kecil wilayahnya, sehingga fuel fraction bukan faktor penting. Sebaliknya negara Rusia, China, USA, Australia dan last but not least Indonesia, dengan wilayah yg sangat luas, fuel fraction adalah faktor utama dalam pespur.

      Ingat bahwa fuel fraction adalah rasio. Jadi misalnya SU-30, Rafale dan Typhoon punya fuel fraction sama (0.29-0.31), namun karena lebih besar badannya, SU-30 dapat mengusung lebih banyak internal bahan bakar.

      Jadi dibandingkan dengan Gripen, jelas SU-35 paling cocok untuk Indonesia.

      Hapus
    3. http://www.stratpost.com/gripen-operational-cost-lowest-of-all-western-fighters-janes

      Menurut IHS Jane's, biaya operasional per jam pesawat tempur tidak hanya terbatas pada konsumsi bensin.
      "pre-flight preparation and repair, and scheduled airfield-level maintenance together with associated personnel costs’"

      Su-35 dengan mesin 2 x AL41F1 termasuk di kelas berat, sama dengan F-15E/SE yang memakai 2 x F100 atau GE-132. Konsumsi bensin kedua tipe ini pasti bisa dihitung paling sedikit 1.7x lipat dibanding F-16.

      Biaya operasional utk Sukhoi tidak tertulis dimana2, tapi saya setuju dengan anda, perhitungan dari TNI-AU Rp500 juta per jam, mungkin terlalu mahal. Menurut saya lebih mendekati angka F-15 C/E USAF yang kira2 $20 ribuan per jam. Tapi jangan lupa juga, TNI-AU masih dalam tahap mengintegrasikan Sukhoi mereka. Setahu saya, biar bagaimanapun juga, Sukhoi Flanker kurang compatible dengan sistem persenjataan/radar/komunikasi TNI-AU yg rata2 dibangun di tahun 1980-an dan berbasis tehnologi negara Barat.

      Jangan lupa juga, tidak seperti India atau Vietnam (sesama pengguna Flanker), Indonesia kurang berpengalaman dalam memakai senjata2 buatan Russia.

      Saat ini, menurut saya, Sukhoi Flanker di Skuadron-11 dan F-16 Block 15 & 52ID di Skuadron-03 seperti dua kekuatan yang terpisah. Kedua jenis pesawat ini tidak bisa "sharing" data atau target melalui sistem network yg modern, artinya koordinasi pemakaian kedua tipe ini di lapangan, hanya bisa dilakukan melalui radio, dan ground radar.

      Memang di atas kertas, Su-35 adalah pesawat yg sangat bagus. Tapi Indonesia perlu melihat dari sudut pandang; bagaimana pesawat tempur baru pengganti F-5E ini bisa memajukan TNI-AU dari segi Training, Infrastruktur, dan Equipment.

      Su-35 adalah pesawat yg hebat, tapi apakah TNI-AU bisa memakainya secara efektif? Saya rasa meragukan.

      Pembelian Su-27SK/SKM dan Su-30MK/MK2 sudah men-split armada Flanker kita ke 4 sub-type, yg agak berbeda. Avionic Su-27 SK dan Su-30MK lebih tua. Su-27 SK (TS2701 & TS2702) tidak memiliki nozzle utk pengisian bahan bakar di udara. Pembelian Su-35 hanya akan men-split lagi armada Sukhoi kita menjadi 5 subtype. Ini akan menyulitkan pemeliharaan, support dan sysyem upgrade, bukan hanya bahan bakar.

      Indonesia tidak perlu pesawat tempur yg paling cepat, yg memiliki mesin paling besar, daya jangkau paling jauh, atau bisa membawa paling banyak senjata. Pesawat2 sekaliber Su-35 dan F-15E/SE tidak hanya mahal di ongkos akuisisi, tapi juga di ongkos operasional.

      Kita memerlukan sistem persenjataan yg lebih efektif, yg lebih sesuai dengan budget, dan dapat memajukan TNI-AU lebih pesat drpd kondisi skrg ini, yg ketinggalan sekitar 20 - 30 tahun dibanding RSAF (Singgapore) dan RAAF (Australia).

      Pembelian Su-35 tidak akan menutup "gap" dgn kedua Angkatan Udara tersebut. Sebaliknya, saya rasa Angkatan udara negara2 tetangga akan lebih menyegani Indonesia kalau kita memilih Gripen-E dan menggunakan kesempatan ini juga utk membangun infrastuktur dan mengejar ketinggalan kita dalam masalah training.

      Hapus
    4. Sebetulnya kita beli pespur kan bukan cuma urusan efisiensi operasional saja, tapi yg jauh lebih penting adalah urusan efek deteren terhadap potensi lawan di sekitar kita, yg nyata2 sekarang adalah pespur F-35. BTW, SU-30SK dan MK dapat di-upgrade kok sama dengan SU-30MK2.

      Tentang efek deteren, sebagai seorang awam/ fan boys saya coba buat skenario penyerangan F-35 Ossie ke Makasar. Belum tentu benar, kalau salah tolong dikoreksi.

      Armada Ossie:
      -48 F-35 u/ konfigurasi AtoA dan AtoG
      -16 SuperHornet u/ CAP pengawal Wedgetail dan A-330 MRTT Tanker
      -1 Wedgetail
      -6 Tanker A-330 MRTT

      Armada Indonesia:
      -16 Flanker SU-27/30.

      Dilihat dari jumlahnya mau diutak-atik bagaimanapun sudah jelas kita akan kalah. Ditambah 12 Viper pun sama (yg 12 lagi menjaga wilayah Barat). Disamping itu, kapan kita akan boleh beli AMRAAM (mengharap terus…).

      Skenario yg kita harapkan :
      Meskipun misalnya radar Kohanudnas kita belum bisa mengendus F-35, tapi pasti bisa detect kumpulan SuperHornet, Wedgetail dan Tanker. Utk 600 km terakhir, F-35 juga harus re-fuel, bisa dideteksi.

      Misalnya kita sdh punya 32 SU-35, mungkin kita bisa menang dengan taktik yg tepat. Taktiknya yaitu formasi tembok oleh SU-35 mengusung 6 RVV-AE, 2 R-73, , mungkin 1 drop tank, passive mode vs F-35. Dan SU-27/30 dengan hi-altitude formasi melambung, passive mode, kombinasi Kh-31P, RVV-AE, R-73 plus 1 drop tank menyasar A-330 MRTT Tanker dan Wedgetail.

      SU-35 dengan hi-altitude formasi tembok. Formasi ini adalah beberapa elemen (2 pswt) masing2 berjarak 40-50 km satu sama lain. Kalau 1 skadron (16) berarti lebar tembok ini sekitar 280-350 km. Semua dalam passive mode, kecuali yg diujung/ tengah dalam intermittent active mode. Semua pesawat terkoneksi dalam data link. Dengan data link, semua info dari 2 pswt SU-35 dalam active mode menggunakan Irbis E disebar ke semua pesawat kawan.

      Bila jumlah pswt cukup, bisa ditambahkan masing-masing 2 flight (8 pswt), atau bahkan 1 skadron di kedua ujung tembok dengan tugas utama menyerang Tanker dan AEWS lawan. Posisi AEWS kira2 konstan 100 km di belakang F-35. Posisi Tanker fixed 500-600 km dari sasaran F-35 (pangkalan udara), dilindungi CAP Super Hornet.

      Menurut saya, konsentrasikan penghancuran Tanker daripada AEWS, sehingga pespur lawan sudah “bingo” tapi nggak bisa balik ke pangkalannya, akhirnya jatuh ke laut. Supaya lebih pasti, ada baiknya yg menghadapi F-35 hanya 16 SU-35, 16 lagi ikut SU-27/30 menyasar Wedgetail, dan A-330 MRTT Tanker. Disitulah titik lemah Osssie.

      Itulah gunanya punya SU-35 dengan fuel fraction yang besar.

      F-35 pasti juga dalam passive mode (selain dibantu AEWS). Mungkin F-35 akan bisa search & track SU-35 sebelum sebaliknya SU-35 search & track F-35. Namun dalam jarak tembak AMRAAM, Irbis E pasti bisa detek F-35 atau detek penembakan AMRAAM (internal bay door F-35 terbuka dan AMRAAM diluncurkan).

      Setelah ini ada 2 opsi: SU-35 balas menembak dengan masing-masing 2 RVV-AE dan balik kanan, atau langsung balik kanan evasive action (flare dll) kemudian setelah aman balik kanan lagi mengejar F-35 yang, apapun opsi yg diambil, F-35 sudah “Winchester” dan terpaksa balik pulang nyusu ke Tanker (Ingat bahwa dalam stealth mode, F-35 hanya bisa bawa 2 AMRAAM internal).

      Tapi Tanker-nya mungkin sudah rontok karena dalam selang waktu yg sama diserang oleh SU-35 lain yg melambung!

      Kesimpulannya kita tidak usah kawatir menghadapi F-35 asalkan punya SU-35 yang cukup. Sesuai dengan skenario di atas, pilihan Gripen tidak cukup kuat untuk menghadapi F-35, terutama dalam hal combat persistance.

      Bayangkan kalau kita punya bukan 32 tapi 48 (3 skadron ) SU-35. Lebih fleksibel kita menghadapi lawan.

      Bila kualitas (pilot) dianggap sama, maka kuantitas akan menentukan.

      Hapus
    5. Saya setuju dengan pendapat anda. Idealnya, memang Indonesia perlu mengoperasikan sekitar 32 Su-35. Saya mungkin perlu mengklarifikasi. Menurut pendapat saya, saat ini bukan pilihan yg baik untuk Indonesia membeli Su-35 secepat mungkin, apalagi sebagai pengganti F-5E. Jadi saya lebih melihat kebutuhan Su-35 sebagai pilihan jangka-panjang.

      Su-27SK dan Su-30MK yang dibeli di tahun 2003, tidak bisa digunakan selama bbrp tahun, krn sistem komunikasinya tidak compatible. Setelah membeli Su-27SKM dan Su-30MK2 di thn 2007, Indonesia tidak kunjung melengkapi 16 pesawat di Skuadron-11 sampai 2012. Selama hampir 12 tahun, kita juga sudah mengoperasikan Flanker ”tanpa senjata”. Dan sampai sekarang, kita masih juga belum memilih untuk membeli simulator Flanker yg sesuai.

      Ingat juga spt saya sebut di atas. Sistem TSK-2 airborne network di Sukhoi Flanker, walaupun bagus, penggunaannya akan sangat terbatas di TNI-AU krn compatibility issue. Saya belum pernah mendengar kalau ada upaya integrasi yg berarti dalam hal ini.

      Ini artinya, dalam jangka dekat pun, sepertinya Sukhoi Flanker di Skuadron-11 saat ini, belum memenuhi "Initial Operating Capability" status -- artinya, belum siap tempur.

      Pembelian Su-35 hanya akan memperburuk masalah ini, karena kita akan menambah lagi satu variant Flanker yg baru. Lebih baik kita melihat lebih lama sejarah pemakaian Su-35 di AU Rusia, supaya kita juga memahami bahwa tidak ada biaya terselubung di masa depan. Pembelian senjata dari Russia cenderung murah dibanding dari Amerika atau Eropa, tapi masalah support selalu susah.

      Menurut saya, memang TNI-AU mengambil pilihan yg “aman” dengan membeli Su-27 dan Su-30 yg standar. Sejarah pesawatnya jelas, dan Russia masih bisa mengoperasikan Flanker mereka yg di buat di tahun 1980-an. Pilihan yg aman, bukan yg terbaik. Padahal, Su-30MKI, Su-30MKA (Algeria), dan Su-30MKM kemampuannya jauh lebih unggul dibanding Su-27SKM/Su-30MK2, dengan Trust-Vectoring, dan N-011M BARS PESA radar. (Su-35 belum dibuat sampai 2008!)

      Sebagai perbandingan, RAAF (Australia) butuh 18 bulan untuk mencapai IOC F-18F Super Hornet mereka yg baru. Ini walaupun Super Hornet membagi banyak commonality dgn Hornet A/B mereka, dan Australia memang sudah terbiasa dgn penggunaan persenjataan top-spec buatan Amerika.

      Menurut saya, pembelian Gripen-E dan integrasi Networked-Gripen-fighter-system bisa meningkatkan kualitas fundamental skill, training, infrastruktur, dan capability dari TNI-AU. Saya rasa, ini jauh lebih penting dibanding membeli pesawat tempur yg memang memiliki kemampuan yg “WoW”, tapi belum tentu kita bisa pakai dengan maksimal.

      Patut dicatat juga, dari segi kualitas pilot, TNI-AU masih akan kalah jauh dibanding Australia dan Singapura pertama, Malaysia dan Thailand kedua. Keempat negara ini mempunyai terlalu banyak pengalaman training bersama angkatan udara lain. Jam terbang pilot Australia dan Singapura terutama juga sesuai dengan standar NATO yg tinggi. Apalagi ingat juga, kalau RAAF Australia berpengalaman banyak mengikuti deployment di misi2 internasional ke Timur Tengah dan Afganistan.

      Biaya operasional yg murah dari Gripen-E berarti kita bisa menambah jam terbang pilot kita, dan kita bisa lebih fleksibel untuk mengikuti banyak training bersama negara lain seperti Ausindo dengan Australia. Ini juga akan meningkatkan kualitas SDM kita, bukan hanya sekadar tehnologi yg kita tidak bisa pakai.

      Perlu dilihat juga bahwa armada TNI-AU sebelum Sukhoi, semuanya adalah tipe pesawat tempur ringan. F-16 adalah benchmark di tahun 1980-an dan 1990-an. Setelah itu, TNI-AU memiliki F-5E/F, Hawk-53/109/209, dan A4 Skyhawk. Kecuali F-5 yg bermesin ganda, semua tipe lain bermesin tunggal. Ini karena disesuaikan juga dengan anggaran pemerintah dari tempo dulu.

      Mengenai masalah apakah Gripen-E bisa menandingi F-35 atau tidak, bisa dibahas lebih lanjut kelak. Sekadar info singkat, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan Australia dan Singapura membeli F-35.

      Hapus
    6. Pilot kita tidak kalah, bahkan dengan SU bisa merajalela., di Pitch Black 2012, bahkan menjadi bintang, ditantang 1-vs-1 SU lawan Super hornet, menang. Diberi peran sweeper, seluruh armada lawan shot down. Benar2 jadi bintang dan berita, sampai media Ossie sarankan apakah lebih baik beli SU-35 dari F-35!

      Hapus
    7. Saya juga senang dgn partisipasi Indonesia di Pitch Black 2012. Latihan spt ini akan menambah pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman ke semua personil yang terlibat.

      Setahu saya tidak ada pernah ada berita kalau Australia jadi berpikir utk beli Su-35 drpd F-35.

      Utk hasil Sukhoi vs RAAF Hornet & Superhornet, (pasti ada 1 atau 2 duel) semua pihak yg resmi cenderung tidak banyak memberi informasi yg mendalam pihak mana yg lebih unggul. Sepertinya kedua pihak cukup berimbang.

      http://www.asiapacificdefencereporter.com/articles/250/Exercise-Pitch-Black

      Digaris bawahi disana bahwa Indonesia masih kurang pengalaman dalam latihan2 spt itu. Jadi dlm bbrp hal diperlakukan spt "anak baru" atau "anak bawang." Komentar pihak Australia ttg Sukhoi Indonesia cukup adem ayem. Dngn kata lain, mereka tidak merasa Sukhoi adalah ancaman bagi kekuatan udara mereka.

      Menurut saya, biar bagaimanapun juga anggaran (A$4.76 milyar per tahun), latihan, infrastruktur, perlengkapan, dan organisasi RAAF jauh lebih bagus dibanding TNI-AU. F-18 Hornet mereka memang secara kinematis tidak akan bisa mengalahkan Flanker; tetapi kalau menghitung dari perlengkapan (mrk punya Link-16), organisasi dan pilot, ditambah Wedgetail AWACS, kita belum bisa menandingi RAAF.

      Terlepas dari itu, walaupun kita harus membangun kekuatan udara kita utk menandingi RAAF, latihan spt Pitch Black bagus utk membina hubungan kita juga dengan Australia & negara2 lain.

      Sayang, sejak 2012, TNI-AU tidak ikut Pitch Black 2014 (latihan ini setiap 2 tahun).

      Hapus
    8. Kita juga bisa melihat website ini. Analisis Australia ttg sistem pertahanan TNI.

      http://www.aspistrategist.org.au/why-a-stronger-indonesian-military-is-good-for-australia-but-is-still-a-long-way-off/

      Intinya mereka mengharap militer Indonesia akan menjadi lebih kuat dr sekarang, tapi ini masih jauh.

      Mereka jg menggaris-bawahi yg sudah saya lihat ttg Sukhoi Flanker di Skuadron 11:

      "But its new fighters are largely incompatible with other assets and it lacks key enablers for modern air combat operations, such as airborne early warning and control (AEW&C) systems."

      Sukhoi Flanker saat ini bukanlah senjata yg efektif di tangan TNI-AU.

      Penulis artikel juga menambahkan hal berikut:
      "Major TNI acquisitions such as 100 German Leopard main battle tanks and eight US Apache attack helicopters reflect more prestige thinking than the development of real military capability"

      Saya setuju dgn apa yang ditulis di atas.

      Inilah sebabnya, Indonesia harus mengkaji ulang apa yang dibutuhkan utk membangun kekuatan strategisnya dengan lebih efektif.

      Sekalilagi saya menekankan pembelian Gripen-E akan meningkatkan kualitas TNI-AU akan jauh lebih baik dibanding pembelian Su-27/30. Penambahan Su-35, justru hanya akan membuat situasi semakin runyam.

      Kita akan punya senjata2 yg hebat (Flanker, Apache, Leopard), tapi kita tidak akan pernah benar2 mahir menggunakannya. Jadi buat apa?

      Hapus
    9. Rupanya anda belum baca ya buku “Satu Dekade Sukhoi Indonesia” sehingga berani ambil kesimpulan pilot kita kalah unggul.

      Kontak di http://arc.web.id/berita/653-kini-giliran-caesar.html utk mendapatkan buku “Satu Dekade Sukhoi Indonesia” kalau belum habis terjual.

      Lihat juga :
      http://in.rbth.com/blogs/2013/04/08/why_australia_should_scratch_the_f-35_and_fly_sukhois_23629.html
      http://www.ausairpower.net/APA-NOTAM-030907-1.html
      http://www.xairforces.net/newsd.asp?newsid=2409&newst=6#.VC6P-GeSw0w
      http://www.businessinsider.com/sukhoi-su-35-competes-with-the-f-35-2013-4?IR=T&op=1

      Hapus
    10. Terima kasih atas link-nya.

      Ausairpower sbnrnya adalah salah satu website favorit saya. Dua link2 yg lain jg saya sudah pernah baca. Sampai bbrp tahun yg lalu sebenarnya Su-35 juga merupakan pesawat favorit saya, dan saya juga berharap Indonesia akan membelinya.

      Untuk menganalisa website2 Australia ini, kita harus mengambil perspektif sebagai berikut:

      Ada rasa frustasi krn pemerintah Australia memutuskan utk mem-pensiunkan F-111C. Walaupun memakai suffix "F-", F-111C sebenarnya ada pesawat pembom yg bisa mencapai jarak jangkau jauh, dan terbang rendah dengan kecepatan supersonic memakai Terrain-Following-Radar.

      Dengan jarak jangkau yg jauh, F-111C dapat menghancurkan Lanud Hassanudin, dan Iswayudhi dengan sekali pukul di hari pertama. F-18F Super Hornet adalah pesawat tempur kelas menengah dgn jarak jangkau terbatas, dianggap tidak bisa menandingi kemampuan ini.

      Tetapi kita kembali ke masalah anggaran.
      F-111C dipensiunkan, karena setiap 1 jam terbang, membutuhkan 180 jam maintenance.

      http://www.dailytelegraph.com.au/news/f-111-the-raafs-white-elephant-in-the-sky/story-e6freuy9-1225757243738

      Jadi kalaupun kita bisa mempunyai pesawat yg efek gentarnya luar biasa, sama seperti Australia, bukan berarti kita bisa punya uang utk men-support mereka. Apalagi F-111C compatible dgn sistem persenjataan mereka, Sukhoi Flanker tidak.

      Menurut saya, 16 Sukhoi yg sekarang pun sudah menekan anggaran Indonesia. Kemungkinannya tipis dengan situasi ekonomi-politik yg skrg saat ini, Indonesia bisa men-support lebih banyak lagi Flanker di bbrp tahun ke depan.

      Saya belum baca "Satu Dekade Sukhoi Indonesia"; Seberapapun bagus dan meyakinkan isinya, sekali lagi saya menekankan point2 tadi di atas.
      - Su-27SK & Su-30MK sempat tidak operasional bbrp tahun
      - Skuadron-11 butuh 10 tahun utk memperlengkapi 1 squadron Flanker, dgn 4 variant yg berbeda.
      - Selama 10 tahun ini juga Flanker Indonesia tidak ada persenjataan atau Training missile (spt sistem Barat), jadi tidak mungkin bisa berlatih keampuhan R-74 jarak dekat, atau R-77 jarak menengah yg sebanding dgn AIM-9X dan AIM-120C-7 Amerika.
      - Sebelum pembelian Su-30, Indonesia tidak pernah bisa melatih WSO (Weapon System Officer).
      - Tidak ada simulasi Sukhoi, dan mahalnya ongkos operasi berarti latihan pilot Skuadron-11 tidak akan bisa benar2 merata. Mungkin kita sudah melahirkan bbrp pilot yg benar2 "ahli", tp spt di atas, krn kita tidak pernah beli senjata selama 10 tahun, Flanker kita sebenarnya tidak pernah siap tempur.

      Saya belajar bahwa saat ini, kalau Indonesia membeli Flanker, seperti orang yg pas2an tapi bisa membeli mobil Ferrari. Cepat, mewah, dan tak tertandingi. Tapi jalan2 di kota2 yg berlubang2 dan penuh polisi tidur. Konsumsi Ferrari di jalan macet bisa 1 liter 3-4 km. Ferrari juga tidak bisa membawa keluarga kita jalan2.

      Ferrari baru akan menjadi tambahan yg bagus, kalau memang kita sudah mapan betul. Utk kebutuhan sehari2, mobil semacam itu akan terasa terlalu berlebih.

      Sekali lagi, (salah satu) argumen saya dalam pembelian Gripen-E adalah, Indonesia harus membeli sesuai kemampuan, dan kegunaannya.

      Untuk diskusi lebih lanjut, coba click saja profile saya. Kunjungi blog gripen-Indonesia. Saya akan mem-post beberapa artikel lagi dalam jangka dekat.

      Hapus
    11. Tambahan: Liat kembali link ttg F-111C di atas.

      Kalau kita membeli Su-35 sekarang, kemungkinan besar kita akan berada di posisi yg sama dengan Australia 10 tahun ke depan.

      "Australia is the only country operating the long-range, supersonic, two-seat F-111 strike aircraft and as such bears the entire cost of operating the planes. "

      Budget militer Indonesia tidak sebanding dgn India. Tidak akan ada fokus utk pengembangan pesawat2 berat sekaliber Sukhoi.

      Sebaiknya malah kita melirik kembali ke pesawat2 tempur kelas ringan. 40 - 50 tahun yg lalu, semua negara memilih MiG-21 dan F-5E; dua2nya kelas ringan. 30 tahun yg lalu, F-16 adalah standar di pasar, MiG-29 ada di peringkat dua, ttp tertinggal cukup jauh (krn biaya operasi mahal, dan tdk reliable). Di awal abad ke-21 ini, pilihan tidaklah lagi sebanyak dulu. Kita bisa beli F-16 tapi dikekang Amerika, atau kita membeli Gripen-E dan turut serta mengembangkannya.

      Hapus
    12. Kita bisa membahas lebih lanjut disini:
      http://gripen-indonesia.blogspot.com/2014/10/membandingkan-gripen-e-dengan-pilihan.html

      Saya akan mulai membahas perbandingan Su-35S dan JAS-39E; dan peran kedua tipe ini di dalam masa depan TNI-AU. Saya mengundang masukan saudara dalam hal ini.

      Hapus
    13. Su-35 Flanker-E buat gantikan F-5 Tiger
      JAS-39 Grippen NG buat gantikan Hawk Mk.53

      juossssss tenan iki wes... ^_^

      Hapus
  3. setuju dgn artikel ini.........dari pada pespur amerika rentan embargo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memangnya Gripen tidak rawan embargo? Tahukah bahwa hampir semua komponennya di outsource dari US/EU? Tinggal airframe + wing dan sedikit komponen lain yg asli Swedia.

      Hapus
    2. Tapi mas, Gripen ada komitmen untuk TOT yang akan penting untuk keberlangsungan dan kemandirian kita.

      Hapus
    3. mmg pesawat rusia gak rawan embargo jg tah, bknya dl kt jg pernah di embargo

      Hapus
  4. Opsi pertama SU-35, kedua Typhoon.....dual engine better.....oh ya apalagi kl ada ToT utk buat engine dibawah lisensi....itu baru maknyusss......

    BalasHapus
  5. setuju dengab artikel ini, kecuali ttg KFX nya..

    tapi saya tetap lebih suka kalau F-16 block 60/62 yg dipilih.. Gripen E pilihan kedua lah...

    salam dari admin Analisismiliter.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bung Admin,
      Belum jelas yg diusulkan tipe C/D atau E/F/NG.Tipe C/D sdh banyak dipublikasikan speknya, semuanya kalah dari SU-35.

      Tipe E/F/NG cuma 1/7 lebih besar dari C/D dan baru dikembangkan belum produksi, spec nya masih abu2 tapi diperkirakan tidak beda jauh.

      Kalau jadi dipilih SU-35, 30 tahun ke depan TNI AU hanya akan punya 3 jenis pespur SU-27/30/35, KFX/IFX dan F-16 C Blok52/ID. Sesuatu yang cukup ideal menghindari logistical nightmare, dan menghindari embargo, seimbang blok Barat dan Timur. Pilihan Gripen akan menafikan semua yg tersebut tadi.

      Selain itu, kita sedang dalam proses ToT KFX/IFX yg akan menyita sebagian besar kapabilitas PT DI, kok malah mau ditambah ToT Gripen? Lebih baik selesaikan dulu KFX/IFX.

      Hapus
    2. Hati2 dengan mitos F-16 Block 52ID.

      http://www.defenseindustrydaily.com/indonesia-adding-f-16-falcon-fighters-to-join-flankers-07205/

      Lihat apa yg kurang dari apa yg dimasukkan ke daftar pesanan Indonesia?

      Link-16 Data Network.

      Ini memperlengkapi pesawat2 Block 52 yg dibeli Pakistan atau Maroko.

      Faktor yg lain kenapa F-16 bukanlah pilihan yg bagus? Dari segi persenjataan.

      Sebaiknya kita jangan berharap banyak F-16 Block52ID atau F-16 Block-62 akan bisa diperlengkapi dan dipersenjatai dengan cukup untuk bisa berhadapan dngn F-16 Block 60+ Singapura atau F-18F Super Hornet Australia.

      Perhatikan juga pembelian F-16 Block-52ID tidak termasuk JHMCS (Joint-Helmet-Mounted Cueing System). Ini adalah targeting system di helm pilot utk bisa menembakkan AIM-9X bisa dari sudut lebih besar dari 90 derajat arah pesawat.

      Ini juga artinya senjata kita di F-16 akan inferior dibanding pesawat2 negara tetangga. Maksimal AIM-9M dan AIM120 C5.

      Faktor terakhir adalah Source Code. Mnrt saya, F-16 Indonesia sudah diprogram utk "tidak cukup baik" utk menandingi AU Singgapura atau Australia.

      Yah, itulah faktor resiko kalau kita membeli pesawat dari Amerika.

      Dngn Gripen-E kita tidak mempunyai masalah2 diatas. Kita bisa membeli missile IRIS-T utk jarak dekat, dan Meteor untuk jarak jauh. Dan Meteor dianggap jauh lebih baik dibanding AMRAAM-D sekalipun (yg belum selesai development-nya).

      Hapus
    3. @ Antonov:

      Hanya sekadar klarifikasi:
      Kaj Rosander, head of marketing and sales in Saab Asia Pacific dalam interview dengan IHS Jane; menkonfirmasi kalau tipe yang ditawarkan ke Indonesia adalah Gripen-E.

      Setahu saya juga produksi untuk Gripen-C juga sudah berakhir, karena Saab sudah berkonsentrasi ke development untuk Gripen-E.

      Pemerintah Swedia juga sudah memutuskan kalau mereka akan membuat 60 - 80 Gripen-E baru, dan meralat keputusan mereka sebelumnya untuk meng-upgrade unit dari Gripen-C/D yang sekarang sudah operasional.

      Ini juga membuka kemungkinan, kalau Indonesia mengambil pembelian Gripen-E, kita bisa menyewa terlebih dahulu 16 pesawat Gripen-C ex-Swedia untuk melatih pilot kita ke Gripen System terlebih dahulu.

      Ini akan menjadi deal yang sangat menguntungkan, karena hanya dalam waktu 1 - 2 tahun, Skuadron-14 sudah bisa menguadara lagi dengan Gripen-C/D.

      Brazil kemungkinan juga akan mengambil langkah yang sama.

      Info tambahan tentang mesin:
      Mesin F414G memang dipakai untuk test di Gripen NG 2-seater demonstrator, tetapi ada kemungkinan, mesin standar di Gripen-E akan memakai derivative dari Volvo RM12 -- Ini sebenarnya dibuat berdasarkan tipe GE F404 yang sudah diproduksi di Swedia under license; dan sudah dimodifikasi semaksimal mungkin untuk penggunaan di pesawat tempur bermesin satu.

      Dengan offer Technology Transfer 100%, sepertinya Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan kemungkinan embargo spare part urusan mesin dari paman Sam.

      Hapus
  6. Setuju dengan artikel di atas. Point-point teknis dan strategis yang diunggulkan masuk akal.
    Tapi untuk masalah KFX sepertinya terlalu berlebihan.
    Mengenai pilihan TNI AU pastinya ada pertimbangan politis juga nantinya. Seperti misalnya kalau Typhoon yg dipilih maka akan menguntungkan PT. DI.

    BalasHapus
  7. Sebagai informasi, saya BUKAN representatif dari SAAB Indonesia sebagai disebut diatas.

    Saya tidak kenal satu pun orang dari Swedia; jadi tidak ada affliasi apa2 dgn pemerintah Swedia atau SAAB.

    Apa yg saya tuliskan hanya berdasarkan analisa saya pribadi selama beberapa tahun terakhir.

    Menurut saya, Gripen-E lebih sesuai untuk kebutuhan Indonesia, berdasarkan dari apa yang saya sudah tulis di atas. Kelebihan2 yg saya tulis berdasarkan fakta yg saya kumpulkan di Internet, bukan semata2 pendapat yg dibuat2.

    Trmksh

    BalasHapus
  8. bicara alutsista dan. ke daulatan negara bongkarno dan kawan 2 patut di tieru ...tidak pernah megeluh soal biayaya perawatan alutsista asal bisa di pakai buat perang masa panjang dan punya efek getar buat kawasan langsung di akusisi ...saman bongkarno dan kawan kawan 2 pilih mati dari pada krupsi ..hasil nya luar biasa belanda dan sekutu langsung angkat dari bumi papua .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini harus menjadi diskusi terpisah ttg sejarah TNI-AU. Mnrt saya, proyek Bung Karno dan TNI-AU di tahun 1960-an memang bisa menjadi panutan, tapi tidak layak utk dicontoh.

      Tidak ada satupun persenjataan buatan ex-Uni Soviet itu masih bisa dipakai setelah tahun 1970-an. Ini justru memperlihatkan kalau efek gentar yg besar itu percuma, kalau tidak bisa bertahan lama.

      Tentu saja mereka tidak pernah mengeluh biaya perawatan, krn memang sudah tidak ada lagi yg bisa dirawat.

      Biaya akuisisi biasanya) hanyalah 25% dari total ongkos pemakaian pestur selama 30 tahun. 75% ongkos yg lebih besar adalah dalam maintenance, support, upgrade, dan training.

      Hapus
  9. kl gw sih pribadi mmg suka sm gripen, tp mmg su gw jg demen setgh idup, cm ada faktor laen yg gw anggep sangat prioritas utama tujuan pembelian gripen bkn sekedar pesawat tp intinya adalah management tempur yg menggabungkan antara pesawat2 tempur dan kemampuan radar, mengingat selama ini sukhoi kt masi terasa kurang, saat pitch black kmrn kan ketauan kelemahan f-18 bisa ditutup sm pesawat awacs, nah itu yg di perlukan negara kt, dlm posisi siap perang management itu sangat2 di perlukan, kl perekrutan gripen + full TOT kt kan dapet banyak belajar soal pengembangan yg lain, mulai dr teknologi awacs sampai teknologi software CMS (combat management system) ibarat pepatah sekali mendayung 2-3 pulau terlewati

    BalasHapus
  10. saya suka blok ini semuanya punya pendapat masing-masing demi NKRI. tapi apakah kita tahu rahasia strategi militer indonesia. menurut saya kita hanya tau yang di publikasikan/ kulitnya saja. dan yang teman-teman bicarakan semuanya sudah diantisipasi oleh ahlinya masing-masing pihak. sebelum pemerintah membeli pastikan di presentasikan terlebih dahulu kelemahan dan kekurangannya. seperti sebuah klub sepak bola apabila membeli pemain pasti ada scoutnya untuk meneliti pemain bola itu apakah pantas atau tidak. kita punya sukoi pasti ada kelemahannya dan kita membeli gripen pasti ada kelemhannya juga. kalau kita punya kedua-duanya kelemahan itu bisa tertutupi. dan menambah nilai plus. jadi jangan lupa setiap kerjasama ada tot. bagus untuk teknologi kita.dan generasi-generasi selanjutnya yang menuai hasilnya

    BalasHapus
  11. buset, kagum bener sama yg pada komen disini, hebat2 euy lo pada tong. besok pada masuk militer aja, pasti pada keterima deh, lo pada kan jaguh urusan strategi militer, ada yg bisa jelasin panjang lebar taktik menangkal serangan sonotan lagi. panglima TNI aja belom tentu bisa. lima jempol buat kalian semua

    BalasHapus