31 Desember 2021

Philippina Mulai Terima Atmos 2000 SPH

31 Desember 2021

ATMOS 2000 155mm SPH Philippine Army (photo : PDFF)

Philippine Army dilaporkan telah menerima kedatangan Elbit Systems Soltam ATMOS 2000 Self Propelled Howitzer (SPH) pada tanggal 30 Desember 2021. Foto kedatangannya telah muncul di beberapa medsos. 

Kedatangan howitzer sebanyak 8 dari jumlah pesanan 12 unit howitzer 155mm/52 cal diatas platform truk 6x6 sudah menjawab pertanyaan publik tentang platform truk beroda berapa yang digunakan, kendaraan ini kemudian dikirim ke kamp Fort Andres Bonifacio. 

Philippina menjadi negara kedua di kawasan yang mengoperasikan SPH ATMOS 2000 setelah Thailand, namun Thailand mengoperasikan 2 tipe ATMOS 2000 yaitu berbasis truk 6x6 dan 8x8.

Pembiayaan bagi pesanan howitzer ini telah diterbitkan oleh Department of Budget and Management (DBM) Philippina pada bulan December 2019 berupa Special Allotment Release Order (SARO) untuk pembayaran Down Payment sebesar 15% senilai PHP339,867,865.00 dan selanjutnya pada bulan April 2021 sisanya sebesar PHP835,128,700.00 dikelurkan SARO lanjutan oleh DBM.

Keduabelas SPH ini akan menemani 12 howitzer tarik (Towed Howitzer) Elbit-Soltam M-71 155mm/39cal yang telah datang sebelumnya pada pertengahan 2017 yang diperoleh dengan biaya PHP410.84 million.

Angkatan Bersenjata Philippina terus memodernisasi diri tidak hanya pada Angkatan Darat-nya (Philippine Army) saja namun juga pada Angkatan Laut (Philippine Navy) dan Angkatan Udaranya (Philippine Air Force), termasuk dalam hal ini adalah Philippine Marines Corps (PMC).

(Defense Studies)

Turki Akan Ekspor Kapal Patroli Ke Indonesia

31 Desember 2021

KPC-65 Large Patrol Craft 65 meter (image : TAIS)

Setelah sebelumnya mengekspor kapal angkatan laut ke Pakistan, Qatar, UEA, India, Turkmenistan, Georgia, Nigeria, Mesir dan Ukraina, Turki kini muncul di jalur untuk memasuki pasar baru di Asia Tenggara. Dalam sebuah wawancara dengan SavunmaTR, Duta Besar Indonesia untuk Turki Dr. Lalu Muhammad Iqbal mengungkapkan bahwa negosiasi telah dimulai pada pengadaan kapal perang dari Turki, menyatakan bahwa akan ada "peningkatan serius kerjasama dengan Turki pada sistem Angkatan Laut" dan bahwa "kita perlu berbuat lebih banyak untuk meningkatkan hubungan industri pertahanan [...] Itu sebabnya beberapa pembicaraan dimulai tentang kemungkinan Indonesia untuk mendapatkan kapal perang dari Turki.''
Model kapal KPC 65 buatan TAIS (photo : OryxSpioenko)

Desain angkatan laut Turki pertama yang diminati Indonesia adalah KPC 65 (Large Patrol Craft - 65 meter) oleh TAIS Shipyards. Jangan terkecoh dengan penamaannya sebagai kapal patroli, karena kapal sepanjang 65 meter itu memiliki alat pemukul yang serius. Ini datang dalam bentuk meriam 76mm, turret meriam 35mm ganda, dua stasiun senjata jarak jauh (RWS) STAMP 12,7mm, peluncur roket ASW Roketsan, dan delapan rudal anti-kapal ATMACA (AShM). Tentu saja, persenjataan ini dapat diubah tergantung pada kebutuhan pelanggan, dengan kemungkinan Indonesia akan mengganti ATMACA dengan Exocet.

Persenjataan KPC 65 dari kiri ke kanan, dua 12.7mm RWS, AShMs, ASW rocket launcher dan kanon 35mm gun, hanya dua AShMs pada tipe ini (photo :  OryxSpioenko)

Salah satu sistem senjata yang kemungkinan akan dipertahankan adalah peluncur roket ASW Roketsan. Angkatan Laut Indonesia terus mengoperasikan empat belas kelas Kapitan Pattimura (kelas Parchim) dalam peran anti-kapal selam (ASW) dari enam belas yang dibeli dari Jerman pada tahun 1992. Angkatan Laut Jerman telah mewarisi kapal-kapal ini dari Volksmarine Jerman Timur setelah reunifikasi kedua Jerman pada tahun 1991, tetapi memiliki sedikit kebutuhan untuk mengoperasikan kapal setelah berakhirnya Perang Dingin. Sementara sempat memperkuat kemampuan patroli dan ASW Angkatan Laut Indonesia pada saat itu, sonar dan sistem senjata kelas itu sementara itu ketinggalan zaman dan membutuhkan penggantian: KPC 65 mampu memenuhinya.


Indonesia diyakini tertarik pada akuisisi awal dua KPC 65 untuk Angkatan Lautnya. Duta Besar Dr. Lalu Muhammad Iqbal menyatakan bahwa ''kita akan melangkah lebih jauh di industri pertahanan dan kita akan melihat peningkatan yang signifikan dalam kerja sama kita, terutama di bidang sistem Angkatan Laut [...] dan juga pengembangan, desain bersama antara kedua negara. ''Apakah ini berarti jika KPC 65 akan mengalami perubahan desain berdasarkan kebutuhan Indonesia dan akan diproduksi di galangan kapal di Indonesia masih belum diketahui, meskipun yang terakhir tampaknya masuk akal.

Guided Missile Fast Patrol Boat 67 (GMFPB) dengan desain stealth (image : TAIS)

Selain KPC 65, Galangan Kapal TAIS menawarkan berbagai kapal yang mencakup desain LHD asli pertama Turki, beberapa desain FAC, OPV, korvet dan fregat, kapal pendarat, dan kapal pengisian ulang. Konsorsium TAIS mencakup Galangan Kapal Anadolu (yang saat ini sedang membangun TCG Anadolu LHD), Galangan Kapal Istanbul, Galangan Kapal Sedef, Galangan Kapal Sefine dan Galangan Kapal Selah. Setelah membangun beberapa kapal pendarat besar dan kapal pendarat tank kelas Bayraktar untuk Angkatan Laut Turki, TAIS juga menemukan keberhasilan ekspor dengan pembangunan lima kapal tambahan untuk India dan dua kapal pelatihan kadet dan tiga kapal pendarat untuk Qatar.

Multi Mission Frigate 140, kapal permukaan terbesar dari TAIS Shipyards (image : TAIS)

Apakah Galangan Kapal TAIS mampu menembus pasar Indonesia dengan desain kapal patroli KPC 65, hal ini dapat mengarah pada kerjasama pertahanan yang lebih dalam antara Turki dan Indonesia. Kedua negara saat ini sedang berkolaborasi dalam proyek tank Modern Medium Weight Tank (MMWT), dan Indonesia juga telah menyuarakan minatnya untuk mengakuisisi UCAV Turki.

LHD Anadolu adalah termasuk Juan Carlos class seperti halnya Canberra class milik AL Australia (photo : Weapon Detective)

Pada tahun 2021 Indonesia menguraikan rencana untuk menginvestasikan USD125 miliar untuk memodernisasi militernya. Rencana tersebut memprioritaskan pengadaan peralatan dari industri pertahanan lokal dan mengamankan transfer teknologi dari luar negeri. KPC 65 juga cocok dengan rencana ini, dengan kemungkinan batch pertama dibangun di Turki dan sisanya di Indonesia (seperti yang terlihat pada proyek MMWT). Kerja sama di masa depan dapat melampaui industri pertahanan. Industri teknologi tinggi Turki juga memungkinkan negara tersebut untuk berpartisipasi dalam beberapa proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan Indonesia.

Lihat artikel lengkap OryxSpioenkop

30 Desember 2021

Offset A400M dan Penjualan Pesawat Terbang Indonesia

30 Desember 2021

Manufacturing pesawat A400M (photo : Airbus)

Kementerian Pertahanan dan Airbus Defence and Space (ADS) telah menandatangani kontrak akuisisi dua A400M dan opsi empat pesawat pada 10 Oktober 2021 di Jakarta dan dilanjutkan kegiatan seremonial serupa saat Dubai Airshow 2021 pada 18 November 2021. Kontrak dua A400M memanfaatkan slot Pinjaman Luar Negeri (PLN) senilai US$ 700 juta dalam Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) sebesar US$ 5,8 miliar yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan pada 26 April 2021. Indonesia bersedia menyisihkan dana sebesar €484 juta kepada ADS untuk mendapatkan dua pesawat angkut yang material airframe-nya menggunakan aluminium alloy, titanium alloy dan carbon fiber ini.

Tercakup pula dalam kontrak, yaitu paket offset yang ditujukan kepada PT GMF AeroAsia Tbk dan PT Dirgantara Indonesia. Dibandingkan dengan kontrak akuisisi 36 Rafale dari Dassault Aviation Prancis dan 6 fregat FREMM dari Fincanteri Italia, sasaran offset A400M lebih bagus karena semua firma penerima offset adalah perusahaan yang bonafit, dapat diandalkan dan memiliki rekam jejak yang jelas dalam bisnis dirgantara maupun pertahanan. Lalu bagaimana detail offset yang didapatkan oleh Indonesia dari ADS sehingga negeri ini akan tercatat sebagai operator ke-10 A400M di dunia?

A400M cutaway (image : Airbus)

Pabrikan pesawat terbang Pan-Eropa sepakat memberikan direct offset kepada PT GMF AeroAsia Tbk terkait dengan kemampuan maintenance, repair and overhaul (MRO) A400M, termasuk dokumen-dokumen technical publication dan peralatan ground support equipment. Hal ini selaras dengan kepentingan anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) untuk memperluas lini bisnis ke sektor pertahanan melalui GMF Defense yang kini sedang melaksanakan program penggantian center wing box (CWB) sejumlah pesawat C-130 TNI Angkatan Udara. Kemampuan MRO yang diberikan oleh ADS kepada PT GMF AeroAsia Tbk terbatas pada airframe dan tidak mencakup mesin dan avionik.

Paket indirect offset ditujukan kepada PT Dirgantara Indonesia dan terkait dengan CN235 dan NC212i. Apabila kontrak pengadaan dua A400M telah efektif, BUMN industri dirgantara ini akan mendapatkan autonomous right CN235, sehingga semua komponen pesawat terbang yang memiliki endurance delapan jam itu dapat diproduksi sepenuhnya di Bandung. Cakupan autonomous right CN235 di antaranya produksi CWB dan engine mounting, cowling dan eductor. ADS akan memberikan pula jig dan fixture CWB CN235 yang diambil dari fasilitas di Spanyol untuk mendukung produksi CWB dan komponen terkait di Bandung.

CN235 manufacturing (image : PTDI)

ADS setuju memberikan design and sales authorization kepada PT Dirgantara Indonesia untuk NC212i. Pabrikan pesawat terbang Indonesia diperbolehkan untuk memasarkan NC212i ke seluruh pasar dunia, termasuk negara-negara yang tidak tercakup dalam perjanjian yang ada saat ini dengan ADS. Sebelumnya, BUMN ini harus mendapatkan izin dari ADS untuk memasarkan NC212i di luar kawasan Asia Tenggara. Selain itu, ADS akan menghapus pembagian keuntungan yang disepakati secara kontraktual untuk setiap NC212i yang dijual oleh firma yang didirikan pada 23 Agustus 1976 ini.

PT Dirgantara Indonesia akan pula menerima current design data package NC212i dari ADS, selain transfer teknologi untuk kustomisasi yakni standar konfigurasi EE92 yang sudah mendapatkan sertifikasi EASA. Standar konfigurasi EE92 merupakan kode untuk NC212 yang di antaranya mencakup kalkulasi tentang stress dan strain dan sebarannya, suatu hal yang sangat penting dalam desain, produksi maupun modifikasi pesawat terbang. Semua paket terkait NC212i diperlukan karena produksi pesawat yang ditenagai oleh mesin TPE-331-12JR-701C buatan Honeywell hanya dilakukan di Bandung saja.

Perakitan pesawat NC212 di PTDI (photo : Tempo)

Autonomous right CN235 dapat mempercepat penyerahan pesanan ke konsumen firma ini karena CWB dan komponen lainnya akan diproduksi di Bandung. Namun 2017 merupakan tahun terakhir BUMN yang pernah dipailitkan oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mendapatkan pesanan CN235 dari konsumen. Dalam kurun waktu 2018-2021, PT Dirgantara Indonesia gagal mendapatkan pesanan CN235 lagi konsumen, sehingga penyerahan CN235-220 MPA N70 untuk TNI Angkatan Laut pada tiga bulan pertama 2022 akan menjadi penyerahan backlog order terakhir. Secara otomatis, lini produksi CN235 di Bandung akan tutup sementara sampai mendapatkan pesanan baru dari konsumen.

Mengapa tidak ada pesanan baru untuk CN235 kepada BUMN ini selama empat tahun berturut-turut? Apakah masalah kemampuan pemasaran? Apakah ada persaingan antara ADS dan PT Dirgantara Indonesia pada ceruk pasar yang hampir sama, yaitu antara C295 versus CN235? Ataukah perpaduan antara kedua faktor tersebut?

Penjualan CN235 dan NC212 oleh PTDI hingga 2016 (image : PTDI)

Untuk NC212i, backlog order kini terdiri atas tujuh unit pesanan Kemhan berdasarkan kontrak 2017 dan dua buah pesanan Ministry of Agriculture and Cooperative Thailand yang ditandatangani pada 2020. Sementara pada 2021 tidak ada pesanan NC212i dari konsumen. Meskipun offset dari ADS cukup menguntungkan bagi PT Dirgantara Indonesia, tetapi kemampuan manajemen PT Dirgantara Indonesia untuk menjual CN235 dan NC212i perlu dibenahi. Rekor empat tahun berturut-turut tanpa ada pesanan CN235 jelas akan mempengaruhi cash flow perseroan antara tiga tahun hingga lima tahun mendatang. (Alman Helvas)

Myanmar Air Force Received Six More Yak-130 Combat Training Aircraft

30 Desember 2021

Six new Yak-130 of the Myanmar Air Force (photos : MRTV-Dambiev)

It is reported that on December 15, 2021, at the already traditional ceremony dedicated to the 74th anniversary of the Myanmar (Burmese) aviation at the airfield of the Myanmar Air Force Flight School Meithil (near Mandalay), 17 different aircraft and helicopters were officially introduced to the Myanmar Air Force, including six new Russian-made Yak-130 combat training aircraft. As can be judged, the Yak-130 planes put into operation at the ceremony have Myanmar side numbers from "1815" to "1820", which brings the total

number of Yak-130s received by the Myanmar Air Force to 20 units, making Myanmar the largest foreign operator of this type.

In addition to six Yak-130s, four Chinese K-8W combat trainers, four Chinese Y-12 light transport aircraft and one ATR 72-600 regional turboprop passenger aircraft and two Airbus AS365N2 Dauphin 2 helicopters purchased from the secondary market were also handed over to the Myanmar Air Force.


Recall that a publicly unannounced contract for the supply of an unnamed number of Yak-130 aircraft to Myanmar was signed by Rosoboronexport on June 22, 2015. The first three Yak-130 aircraft built by the Irkutsk Aviation Plant (a branch of Irkut Corporation PJSC ) under this contract were delivered to Myanmar at the end of 2016 and were transferred to the Myanmar Air Force in February 2017, having received Myanmar side numbers "1801", "1802" and "1803" (serial numbers from 130.12.03-0101 to 130.12.03-0103). In the fall of 2017, the Myanmar Air Force received the next batch of three Yak-130 aircraft with side numbers "1804", "1805" and "1806" (serial numbers from 130.12.03-0104 to 130.12.03-0106). The official ceremony of entering the first six received Yak-130s into the Myanmar Air Force took place on December 15, 2017, at the Meithila airfield.

In December 2018, the following six Yak-130 aircraft with tail numbers from "1807" to "1812" (serial numbers from 130.12.03-0107 to 130.12.03-0112) were delivered to Myanmar. They were put into operation in Myanmar Air Force at a ceremony at the airport Meiktila December 15, 2019.
AS-365N2 Dauphin and Y-12 light transport (photo : MWD)

Two more Yak-130 aircraft with tail numbers "1813" and "1814" (presumptive serial numbers 130.12.03-0113 and 130.12.03-0114) were apparently delivered to Myanmar in late 2019 or early 2020. There is no data on their commissioning, but, most likely, this also took place at the next ceremony in Meithila on December 15, 2020.

The additional six Yak-130 aircraft, with tail numbers from "1815" to "1820," put into operation by the Myanmar Air Force, were, according to known data, built at the IAP in 2020 and, presumably, delivered to Myanmar at the end of the same year. Their alleged serial numbers are apparently from 130.12.03-0115 to 130.12.03-0120.

Thus, now Myanmar has received a total of 20 Yak-130 aircraft. Other foreign recipients of the Yak-130 produced by IAP are Algeria (17 aircraft), Bangladesh (16), Belarus (12), Vietnam (six out of 12 ordered), Laos (four).

MTX-1A piston light trainer made by Mtanmar (photo : Myanmar Air Force)

It should be noted that at the ceremony on December 15, 2021 at the Meithila airfield, the MTX-1A piston light trainer aircraft of Myanmar national production was also demonstrated in the air for the first time. In fact, it is localized in Myanmar Chinese Nanchang CJ-6 trainer aircraft, which in turn is a modified clone of the old Soviet Yak-18 trainer aircraft.

As for the four Chinese K-8W combat trainers handed over at the ceremony on December 15, 2021, to the Myanmar Air Force, we recall that Myanmar previously received 12 K-8 aircraft under a 1998 contract, and in 2009 signed an agreement with the Chinese side regarding the acquisition 48 (according to other sources, 50) modified K-8W aircraft with their assembly in Myanmar. As can be judged, the implementation of this agreement was very delayed, and the assembly of K-8W aircraft from vehicle kits supplied from the PRC was started at the Myanmar Air Force aircraft repair plant in Meithila only in 2016. The exact number of K -8W aircraft already assembled there is unknown, but, according to one of the reports, before the ceremony on December 15, 2021, it was 20 units.

KAPA K-61 Batalyon Kapa 2 Marinir Selesai Uji Verifikasi

30 Desember 2021

Serah terima kembali 3 ranpr Kapa K-61 Korps Marinir (all photos : PasMar 2)

Dispen Kormar (Surabaya) -- Guna meningkatkan fungsi dan kelayakan kendaraan tempur (Ranpur) untuk melaksanakan tugas pokok, 3 unit Ranpur Kapa K-61 telah selesai melaksanakan pemeliharaan dan uji kalayakan manuver darat di Bogor dan manuver laut di Ancol Jakarta. Minggu (26/12/2021).


Pemeliharaan Ranpur Kapa K-61 TA. 2021 dilaksanakan secara bertahap dan berkala dengan memperbaiki disetiap kerusakan yang ada pada Ranpur, diharapkan dapat mengembalikan kondisi dan kemampuan Ranpur secara prima, selanjutnya di laksanakan uji kelaikan manuver baik di darat maupun di laut.


Komandan Batalyon Kapa 2 Marinir Letkol Mar Yudha Fahruliyan, S.H., M.Tr. Opsla menyampaikan perawatan yang maksimal adalah syarat mutlak dalam kesiapan operasional kendaraan tempur.


Seperti halnya pada Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri Kapa K-61, Ranpur yang dipergunakan sebagai mengangkut Artileri saat melaksanakan Pendaratan Amfibi oleh Korps Marinir TNI AL, juga dapat dipergunakan untuk mendukung Operasi Militer selain perang.


Walaupun usia Ranpur yang sudah tidak muda lagi namun performa kendaraan masih layak operasional, hal tersebut tak terlepas dari mutu pemeliharaan dan perawatan dilaksanakan.


Dengan adanya pemeliharaan dan uji kelaikan diharapkan seluruh kendaraan tempur Batayon Kapa 2 Marinir dinyatakan siap untuk mendukung tugas-tugas pokok Satuan.

Contracts for Black Hawk Choppers, OPVs Possibly Out by January

30 Desember 2021

Austal OPV for Philippine Navy (photo : NavalNews)

MANILA – Department of National Defense (DND) Secretary Delfin Lorenzana expressed hope that the contracts for the additional 32 Polish-made S-70i "Black Hawk" combat utility helicopters and six offshore patrol vessels (OPVs) will be finalized and signed by January.

"Those (Black Hawks and OPVs) could be the last two contracts to be signed next month," Lorenzana said when asked if there will be other major modernization contracts signed, shortly after the signing of the PHP28 billion contract for two missile corvettes with South Korean shipbuilder Hyundai Heavy Industries (HHI) on Tuesday.

Lorenzana earlier said the government has allocated a total of PHP62 billion for the acquisition of 32 "Black Hawk" combat utility helicopters for the Air Force and six OPVs for the Philippine Navy.

"Newly approved funding for capital assets acquisition: 32 units 'Black Hawk' helicopters - PHP32 billion and six units of OPV - PHP30 billion," he added.

Asked where the country intends to acquire the additional helicopters and OPVs, Lorenzana replied, "OPV with Austal (the Australian defense manufacturer and shipbuilder) and 'Black Hawk' from PZL Mielec, Poland."

He, however, clarified that there is still no contract issued for these assets as it is “still under negotiation.”

Shore-Based Anti-Ship Missile System (photo : Economic Times)

SARO for Shore-Based Anti-Ship Missile System

Meanwhile, the Department of Budget and Management (DBM) on December 27 released two Special Allotment Release Orders (SAROs) to cover the initial funding requirements of the "Shore-Based Anti-Ship Missile System Acquisition Project of the Philippine Navy under the Revised Armed Forces of the Philippines Modernization Program."

The first SARO is worth PHP1.3 billion while the second is worth PHP1.535 billion.

Earlier reports said the medium-range ramjet supersonic BrahMos cruise missile system is being eyed for this project.

The BrahMos cruise missile can be launched from a ship, aircraft, submarine, or land and has a top of Mach 3 and is capable of carrying warheads weighing 200 kg. to 300 kg.

The acquisition of a land-based missile system is under Horizon Two of the Revised Armed Forces of the Philippines Modernization Program, which is slated for 2018 to 2022 and geared for the acquisition of equipment for external defense. It has a budget of PHP300 billion.

(PNA)

29 Desember 2021

Dua Kapal Perang Baru Jenis LST Perkuat Koarmada III untuk Mengamankan Perairan Indonesia Timur

28 Desember 2021

KRI Teluk Weda-526 dan KRI Teluk Wondama-527 perkuat Koarmada 3 TNI AL (photos : TNI AL)

Panglima Koarmada III Laksamana Muda TNI Irvansyah,S.H.,CHMRP.,M.TR.(Opsla) menyambut kedatangan dua kapal perang baru yang akan menambah kekuatan operasional dan pertahanan TNI AL/ Koarmada III  khususnya di wilayah Indonesia Timur. Dua kapal perang baru tersebut adalah KRI Teluk Weda-526 dengan Komandanya Letkol Laut (P) Thomas Riyanto, M.Si (Han) dan KRI Teluk Wondama-527 dengan Komandanya Letkol Laut (P) Rizkal Fadlul Kamal, S.E., M.Tr.Hanla, dimana kedua kapal tersebut masuk Dinas Aktif TNI Angkatan Laut Tanggal 26 Oktober 2021.

Kedua kapal ini merupakan Kapal Perang Jenis Landing Ship Tank (LST) ke-8 dan ke-9 yang dipesan TNI Angkatan Laut kepada Galangan Kapal, PT. Bandar Abadi, Batam yang selanjutnya akan memperkuat dan bergabung dengan Satuan Kapal Amfibi Koarmada III  yang mampu membawa Prajurit Pasukan Pendarat, Main Battle Tank (MBT) jenis Leopard dan Tank BMP-3F serta Helikopter. Dimana kedua kapal tersebut dirancang untuk melaksanakan tugas sesuai Fungsi Asasi sebagai pengangkut pasukan pendarat lengkap dengan kendaraan amfibi dan peralatan tempurnya untuk didaratkan di pantai yang dikuasai musuh dalam suatu Operasi Amfibi.

Dalam acara penyambutan dua kapal perang baru tersebut turut hadir Kepala Staf Koarmada III Laksamana Pertama TNI Yeheskiel Katiandagho S.E., M.M., M.H., Inspektur Koarmada III Laksamana Pertama TNI DR. Toto Dwijaya Saputra S.T., M.SI(Han)., M.TR.Opsla., Kapok Sahli Koarmada III Laksamana Pertama TNI Budi Jatmiko, S.T., M.A.P., CHRMP, pejabat utama Koarmada III dan pejabat unsur Forkopimda Provinsi Papua Barat, Kota/ Kabupaten Sorong serta Ketua Daerah Jalasenastri Koarmada III beserta Pengurus Daerah Jalasesanstri Armada III juga Ketua dan Pengurus Korcab XIV Sorong.


Dikatakan Panglima Koarmada III, nama KRI Teluk Wondama-527 diambil dari nama teluk yang terletak di daerah Kepala Burung Pulau Papua sebagai Daerah Konservasi Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih (TNLTC) yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna serta pemandangan alam khas Papua, baik yang berada dilaut maupun di darat sehingga Teluk Wondama merupakan primadona pariwisata indonesia masa depan.

Sementara nama KRI Teluk Weda-526 diambil dari nama sebuah teluk yang terletak di Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara yang terkenal akan keindahan taman bawah laut yang menakjubkan dengan kehidupan ikan yang melimpah dimana salah satunya adalah spesies hiu kaki langka (Hemisayllium Halmahera).

Lebih lanjut dikatakan Panglima Koarmada III ada satu hal yang paling membanggakan kita semua bahwa awak KRI Teluk Wondama-527 dan KRI Teluk Weda-526, sebagian Bintara dan Tamtamanya merupakan lulusan Satdik 3 Kodiklatal yang berada di Katapop, Distrik Salawati, Kabupaten sorong.

Untuk kita ketahui bersama bahwa Satdik 3 Kodiklatal yang berdiri pada tahun 2020 telah berhasil meluluskan 449 orang prajurit yang merupakan gagasan dan terobosan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Yudo Margono, sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan personel TNI AL, khususnya yang bersumber dari Pemuda dan Pemudi Provinsi Papua Barat, Papua, Maluku serta Maluku Utara.