12 Februari 2014

Kodam IM Terima 30 Unit Alutsista untuk Arhanud Rudal-011

12 Februari 2014

Peluncur rudal sistem pertahanan udara TD-2000B (photo : Defense Studies)

Lhokseumawe, (Analisa). Kodam Iskandar Muda (IM) menerima dan menepungtawari (peusijuk) 30 alat utama sistem persenjataan (Alutsista) terintegrasi TD 2000 B Detasemen Arhanud Rudal-001 dalam suatu upacara yang dipimpin langsung Pangdam IM, Mayjen TNI Pandu Wibowo, di lapangan helipad Arhanud, Aceh Utara, Rabu (29/1).

TD 2000 B merupakan senjata pertahanan udara gabungan antara rudal dan meriam buatan China.

Komposisi sistem persenjataan ini yaitu satu unit radar SR-74 yang memiliki jarak tangkap sasaran hingga 60 km, empat unit FCDV alat kendali tembak yang dilengkapi pengarah optik dengan jarak jangka hingga 14 km beserta simulator, delapan unit FCV-1 yang dilengkapi rudal QW-3 dan mampu menembak sasaran secara efektif dalam jarak 7 km beserta simulator.

Selanjutnya 12 pucuk meriam 57 mm/AA yang dapat dioperasikan baik otomatis maupun manual dengan jarak tembak efektif 6 km serta satu unit FCC kendaraan yang dipergunakan untuk memeriksa misil yang akan ditembakkan dalam penugasan maupun latihan penembakan.

Mayjen Pandu Wibowo dalam sambutannya mengungkapkan, kehadiran alutsista baru ini merupakan perkuatan TNI AD dalam melaksanakan tugas pokoknya sesuai Undang-Undang (UU) No 34/2004 tentang TNI, yakni menegakkan kedaulatan, melindungi dan mempertahankan NKRI.

Alutsista terintegrasi TD 2000 B merupakan persenjataan andalan terbaru yang dimiliki Detasemen Arhanud Rudal-001 Kodam IM sebanyak 30 unit. Alusista ini menjadi kunci bagi TNI AD dalam melaksanakan pertahanan negara dan dukungan operasional bagi Arhanud dalam menyelenggarakan pertahanan udara aktif terhadap objek vital nasional dengan menghancurkan dan meniadakan daya serangan musuh melalui pesawat terbang, rudal maupun balistik dalam mendukung tugas pokok Kodam IM.

Bukan “tebar pesona”

Menurutnya kehadiran senjata ini bukan untuk tujuan pasang aksi dan tebar pesona, tetapi menjadi pengobat dahaga bagi Detasemen Arhanud yang telah lama mendambakan kehadiran alutsista baru untuk menggantikan senjata lama yang telah dipensiunkan.

“Saya berharap dengan penambahan perlengkapan ini akan semakin meningkatkan pengamanan wilayah di jajaran Kodam IM sehingga kinerja pengamanan akan semakin maksimal,” ujarnya.

Diakuinya, saat ini banyak alutsista di jajaran Kodam IM sudah tua dan membutuhkan pembaruan dan perbaikan. Namun, dopastikannya bahwa pasukan TNI selalu siaga menjaga tiap jengkal wilayah NKRI.

Sesuai arahan KSAD, lanjutnya, alutsista yang tiba harus segera disalurkan untuk mengisi satuan utama di jajaran TNI AD agar dapat digerakkan sewaktu-waktu.

“Hari ini kita menerima persenjataan baru terintegrasi yang merupakan dukungan dari pusat untuk melaksanakan pertahanan udara aktif guna melindungi objek vital nasional maupun titik rawan lainnya di Aceh,” sebutnya.

Saat ditanya wartawan, Pangdam IM mengungkapkan, kehadiran alutsista TD 2000-B untuk menggantikan rudal lama yang sudah berumur 30 tahun.

Akurasi senjata ini mencapai 98 persen dan cukup baik dioperasikan di daerah tropis, ujarnya seraya mengharapkan penambahan satu detasemen di Banda Aceh untuk melindungi kota ini dari serangan musuh.

Penerimaan sekaligus peusijuk ini dihadiri Wadan Pusat Senjata Arhanud, Kolonel ARH Fahrudin; Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Hipdizah, Bupati Aceh Utara, M Thaib, Dandim 0103/Aceh Utara, Dan Arhanud 001, Mayor ARH Hari Purnomo; dan jajaran pejabat sipil dan militer lainnya.

Acara diakhiri dengan atraksi pemanfaatan alusista tersebut oleh prajurit TNI Detasemen Arhanud 001 ketika menghadapi serangan musuh dari udara.

(AnalisaDaily)

6 komentar:

  1. Gitu Dong... Ditempatkan di dekat perbatasan dengan negara tetangga. Jangan di Jawa mulu...

    BalasHapus
  2. maaf saja bung, kalo cuma senjata QW 3 apalagi meriam 57 mm itu samasekali tidak cukup untuk mempertahankan kedaulatan udara indonesia. minimal harus punya S 300 itu baru bisa bikin gentar tetangga kalo pesawatnya mau nyusup ke wilayah kita. kalo cuma rudal jarak dekat hanya bisa buat nembak heli Bell atw super puma

    BalasHapus
    Balasan
    1. noh nih s 300 kebanggan ente gan : https://www.youtube.com/watch?v=QtuN8UuAWTg

      Hapus
  3. Kalo urusan itu, serahkan ke TNI aja.... TNI cukup cerdas untuk mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan sesuai dengan budget negara.

    BalasHapus
  4. kalo cerdas F 16 TNI ga akan di lock oleh F 18 nya USAF, kalo cerdas MIG 21 TNI ga akan mau ditukar dengan F 86 sabre bekas australia di tahun 70 an, yang notabene kalah kelas (hanya selevel mig 15), kalo cerdas kapal induk amerika gakan berani berlayar dekat2 perairan bali, TNI hebat itu tahun 1960an sampe konon, Amerika menghimbau Belanda untuk membatalkan niatnya perang terbuka dengan Indonesia pada operasi pembebasan irian. tanya kenapa??? tahun 60an saja indonesia sudah punya rudal SA 2..kenapa tahun 90an cuma punya rapier dan bangga sama bofors?? kalo cerdas g akan memborong senjata buatan barat kaya F 16, soalnya barat itu hebat kalo embargo..ga belajar sama kasus tahun 50an pesawat de havilland TNI buatan inggris yang dipake buat numpas PRRI di embargo& dilarang dipake buat operasi militer?ga belajar untuk kedua kalinya tahun 90an F 16 kita g boleh dipake buat operasi rencong menumpas GAM? kenapa sampai tahun 2014 indonesia g punya arhanud jarak jauh??masalah budget??satupun rudal jarak jauh g kebeli??itu baru cerdas

    BalasHapus
  5. Gak di kasih salah, di kasih disalahin juga..apa ga inget thn 60-an ABRI juga kena embargo senjata oleh Soviet, gara2 peristiwa pemberontakan PKI? sehingga senjata2 blok timur yg kata ente hebat itu cuma jadi pajangan doang gara2 gada suku cadangnya?
    Beli senjata dari luar pasti ada resiko2 kayak gitu, gan. Lain lagi kalo kita sendiri yg bikin, paling 2 kena pelanggaran HAM.
    he..he

    BalasHapus