Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri senegal. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri senegal. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

21 April 2018

Senegal Berniat Membeli Kapal Tanker, Kapal Kargo dan Kapal Patroli dari PT PAL

21 April 2018


Kapal angkatan laut 60m yang difungsikan oleh TNI AL sebagai Kapal Cepat Rudal (photo : TLDM)

Senegal pesan kapal tanker dan kargo dari Indonesia

London (ANTARA News) - Setelah membeli pesawat dan kereta dari Indonesia, Senegal akan membeli kapal tanker dan kargo seberat 18.500 ton dan berminat membeli dua kapal patroli ukuran 60 meter untuk mengawasi wilayah pesisirnya sepanjang 700 km.

Hal itu disampaikan Menteri Urusan Pengembangan Jaringan Perkeretaapian Nasional Senegal, Abdou Ndene Sall, mewakili Pemerintah Senegal dalam kunjungannya ke PT. PAL dan Indonesia-Africa Forum (IAF) di Bali pekan lalu.

Pensosbud KBRI Doha, Dimas Prihadi dalam keterangan kepada Antara London, Jumat menyebutkan bahwa keinginan pemerintah Senegal membeli kapal tanker dari Indonesia di konfirmasi oleh Direktur Utama PT. PAL Indonesia, Budiman Saleh yang mengatakan Senegal akan membeli kapal tanker dan kargo seberat 18.500 ton.

Selain itu, Senegal juga berminat membeli dua kapal patroli ukuran 60 meter untuk mengawasi wilayah pesisirnya sepanjang 700 km.

Menurut Budiman Saleh, Senegal juga berniat akan membeli beberapa kapal lainnya dari PT. PAL, antara lain kapal VIP 50 penumpang untuk presiden, kapal feri 250 penumpang untuk transportasi ke Pulau Goree dan kapal feri cepat kapasitas 500 dan 2000 penumpang untuk transportasi ke Provinsi Ziguinchor dan wilayah sekitarnya dengan spesifikasi kelas ekonomi, bisnis dan first class.

Dubes RI di Dakar, Mansyur Pangeran, mengatakan saat ini kapal yang digunakan untuk mengangkut penumpang dari Dakar ke Ziguinchor adalah kapal dari Korea Selatan.

"Kami harap Indonesia dapat segera merealisasikan kerja sama ini untuk memenuhi kebutuhan transportasi laut di Senegal karena antara Indonesia dan Senegal sudah pernah ada ikatan sejarah di bidang ini," kata Dubes Mansyur Pangeran.

Dikatakannya proses pembelian kapal ini sudah dimulai sejak tahun 2017 dan instansi menangani yaitu Conseil d`Administration du Conseil S n galais des Chargeurs (COSEC) pun sudah melakukan kunjungan ke PT. PAL, kebutuhan kapal di Senegal sangat besar.

Menurut Dubes Mansyur, Indonesia dan Senegal memiliki ikatan historis ketika kapal Senegalle Joola" dengan trayek Dakar - Ziguinchor tenggelam dan digantikan kapal feri Wilis yang disewa dari Indonesia (Pelni) lengkap dengan kapten kapal dan awaknya.

"Ikatan historis ini membuktikan komitmen yang tinggi dari Pemerintah Indonesia untuk membina kerja sama dengan Senegal,"ujarnya.

Budiman menyambut baik minat Senegal, dan perusahaannya akan menyampaikan proposal dengan spesifikasinya untuk mendapatkan tanggapan resmi dari Senegal. Budiman juga menawarkan kapal tunda atau tug boat dan meminta agar Menteri Ndene Sall dapat menyampaikan kepada pihak terkait di Senegal.

10 Juni 2017

Senegal Berminat Beli CN-235 ke 3 dan 4, Kapal dan Kereta Api Buatan Indonesia

10 Juni 2017

Pesawat CN-235 # 2 Angkatan Udara Senegal (photo : Tempo) 

Senegal berminat beli pesawat, kapal dan kereta Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Senegal dalam Forum Bisnis Indonesia-Senegal pertama di Dakar pada Rabu (7/6) menyampaikan minat untuk membeli pesawat CN-235, kapal feri dan kapal tanker, serta kereta api buatan Indonesia.

Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dalam pertemuan bisnis tersebut, pihak Senegal menunjukkan minat yang besar terhadap pembelian pesawat CN-235 yang ke-3 dan ke-4, serta penjajakan pemesanan kapal feri penumpang 500 kursi dan kapal tanker, kata Duta Besar RI untuk Senegal Mansyur Pangeran.

Selain itu, lanjut Dubes Mansyur, Senegal juga berminat untuk membeli kereta api buatan PT. INKA untuk proyek pembangunan prioritas "Plan Senegal Emergent" (PSE) di sektor perkeretaapian yang menghubungkan Dakar-Tambacounda dan Dakar-St. Louis.

Dia menambahkan, dalam pertemuan antarpelaku bisnis di Forum Bisnis Indonesia-Senegal itu Presiden Dewan Perkapalan Senegal juga menyampaikan keinginan untuk membeli tiga kapal buatan PT. PAL, yaitu satu kapal tanker ukuran 10 ribu ton dan dua kapal kargo ukuran 20 ribu ton. 

Pesawat CN-235 # 1 Angkatan Udara Senegal (photo : K. Bell)

Dubes Mansyur menyampaikan bahwa forum bisnis itu bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Senegal, khususnya di bidang perdagangan dan bisnis. 

"Peristiwa ini menjadi catatan sejarah tersendiri, karena selama lebih dari sepuluh tahun menjalin hubungan bilateral, forum sejenis baru pertama kali diadakan," ujar dia.

Forum bisnis itu diharapkan dapat meningkatkan interaksi dan kegiatan saling kunjung antarpelaku bisnis untuk mencari peluang yang sangat terbuka antara kedua negara.

Forum bisnis tersebut dihadiri oleh sekitar 100 pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian, obat-obatan dan kosmetik, pesawat terbang, kereta api, tekstil, agro-industri, mainan anak, kelapa sawit, konstruksi, dan lainnya.

Peserta forum tidak hanya berasal dari Senegal, tetapi juga wakil-wakil kamar dagang dan industri (Kadin) dari negara-negara sekitar, yaitu Pantai Gading, Mali, Gambia, Cabo Verde dan Sierra Leone. 

Forum bisnis di Dakar, Senegal itu merupakan bagian dari rangkaian "Africa Tour" kedua yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Nigeria dan dilanjutkan oleh Wamenlu RI A.M. Fachir di Senegal. "Africa Tour" tersebut akan dilanjutkan oleh pemerintah RI dengan kunjungan ke Kenya dan Ethiopia. 

(Antara)

09 Januari 2017

Pesawat CN-235 Pesanan Senegal Tiba di Dakar

09 Januari 2017


Pesawat CN-235 Angkatan Udara Senegal (all photos : PTDI)

London (ANTARA News) - Pesawat CN-235 Produksi PT. Dirgantara Indonesia (DI) pesanan Senegal tiba di Pusat Airforce Senegal, Dakar, setelah menempuh perjalanan panjang selama 11 hari dengan jarak lebih dari16.000 km, Jumat (6/1/2017) tepat pukul 14.15 waktu setempat. 

Pesawat CN 235 220M Multi Purpose, pesawat kedua pesanan Pemerintah Senegal yang telah ditunggu-tunggu sejak Oktober tahun lalu itu, tiba bersama 15 crew yang terdiri atas empat pilot, yang salah satunya adalah WN Senegal, satu flight test engineer dan sepuluh mechanic, demikian Pelaksana Fungsi Ekonom KBRI Dakar- Senegal Rahmat Azhari kepada Antara London, Minggu.

Kedatangan pesawat yang dipiloti Kapten Esther Gayatri Saleh tersebut disambut Dubes RI Dakar Mansyur Pangeran beserta Staf, Jenderal Birame Diop, Chief of Senegalese AirForce atau KSAU Senegal beserta jajaranya Mr. Pierre Baudechon, Regional Manager ADTrade Belgium bersama jajarannya dan perwakilan dari PT. DI serta Indonesian MilitaryAirworthiness Authority (IMAA) yang sehari sebelumnya telah tiba di Dakar.

KSAU Senegal Jenderal Birame Diop sangat senang dengan datangnya pesawat CN-235 tersebut yang telah lama ditunggu untuk memperkuat armada angkatan udaranya. 

KSAU juga menyampaikan kesan baiknya selama kunjungannya ke Indonesia saat menghadiri serah terima pesawat dari PT. DI kepada AD Trade Belgium, dan pelepasan ferry flight CN-235 dari Bandung tanggal 27 Desember tahun lalu. Dalam kesempatan tersebut,KSAU Senegal berkesempatan bertemu dengan KSAU RI atas fasilitasi KBRI Dakar.



Dubes Mansyur Pangeran mengatakan kedatangan pesawat CN-235 itu di Dakar merupakan kebanggaan sebagai hasil karya anak bangsa Indonesia yang menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memproduksi dan bersaing di bidang teklogi kedirgantaraan dengan negara-negara maju lainnya. 

Dubes Mansyur menegaskan, kedatangan CN-235 tersebut dapat dijadikan contoh dalam mempromosikan produk PT.DI ke tujuh negara-negara rangkapan KBRI Dakar lainnya yaitu Gambia, Guinea, Guinea Bissau, Mali, Pantai Gading,Sierra Leone dan Cabo Verde. 

Rencananya Senegal akan membeli satu lagi pesawatCN-235 yang akan digunakan untuk kepentingan armada Angkatan Lautnya yang direncanakan sesuai jadwal akan tiba di Dakar tahun 2018.

Dubes Mansyur menyatakan di antara negara rangkapan yang telah menyatakan keinginannya membeli pesawat CN-235 produsksi PT.DI yang sama adalah Republik Guinea sebagaimana yang disampaikan langsung oleh Presiden AlphaConde kepada Presiden Joko Widodo ketika berkunjung ke Indonesia bulan Agustus lalu.

Informasi kedatangan pesawat CN-235 tersebut disampaikan langsung Dubes Mansyur Pangeran kepada Presiden Senegal, Macky Sall pada sore hari-nya, pada saat Dubes menghadiri Resepsi Tahun Baru 2017 di Istana Kepresidenan di Dakar. Presiden sangat senang dan menyampaikan terima kasih atas hubungan kerjasama yang telah terjalin dengan baik selama ini dan meminta untuk ditingkatkan di masa-masa mendatang.

Pesawat yang diterbangkan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, tanggal 27 Desember lalu dalam perjalanannya ke Dakar, Senegal mengambil rute ferry flight Medan, Colombo (Sri Lanka), Maldives, Karachi (Pakistan), Riyadh (Arab Saudi), Khartoum (Sudan), Ndjamena (Chad), Ouagadougou (Burkina Faso), dan Dakar.

(Antara)

01 April 2021

Pesawat CN235-220 Buatan PT Dirgantara Indonesia Tiba di Dakar, Senegal

01 April 2021

Pesawat CN235 MPA untuk AU Senegal telah tiba di Dakar, Senegal (photos : Kemlu)

Pesawat terbang CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tiba di Dakar, Senegal, Selasa (30/03/2021) waktu setempat. Kedatangan pesawat yang dibeli oleh Angkatan Udara (AU) Senegal ini disambut oleh Kepala Staf Angkatan Udara Senegal BG Papa Souleymane SARR dan Duta Besar (Dubes) RI untuk Senegal Dindin Wahyudin.

Pada kesempatan itu Dubes RI untuk Senegal menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan Angkatan Udara negara tersebut untuk menggunakan pesawat produksi Indonesia. Hal ini merupakan simbol bagi peningkatan kerja sama di antara kedua negara, khususnya di sektor industri strategis dan militer.

“Kerja sama ini merupakan bukti penting dari hubungan Indonesia dan Senegal yang kuat, seperti yang telah dibangun sejak Konferensi Asia-Afrika pada 65 tahun yang lalu,” ujar Dindin.

Sebelum tiba di Dakar, pesawat CN235-220 MPA yang berangkat dari Bandung, Jawa Barat tersebut melalui rute yang melintasi 12 negara dan singgah di India, Qatar, Sudan, Chad, dan Niger. Waktu yang ditempuh mencapai 12 hari dan mengangkut 10 orang kru pesawat.


Pesawat produksi PT DI ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain dapat lepas landas dengan jarak yang pendek dengan kondisi landasan yang belum beraspal dan berumput, mampu terbang selama delapan jam dengan sistem avionik glass cockpit, autopilot, dan adanya winglet di ujung sayap agar lebih stabil dan irit bahan bakar.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan Tactical Console (TACCO), 360-degree Search Radar yang dapat mendeteksi target yang kecil sampai 200 NM (Nautical Mile) dan Automatic Identification System (AIS), sistem pelacakan otomatis untuk mengidentifikasi kapal sehingga dapat diperoleh posisi objek yang mencurigakan.

Kemudian terdapat juga Forward Looking Infra Red (FLIR) untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan target, serta mampu merekam situasi di sekitar wilayah terbang untuk evaluasi misi, baik dalam kondisi siang maupun malam hari.

Pesawat CN235-220 MPA ini rencananya akan digunakan dalam patroli AU Senegal. Sebelumnya, Senegal telah membeli pesawat serupa pada 2011 dan 2014. Untuk pembelian ketiga ini, kontrak telah dilaksanakan pada tahun 2017 dan pada awalnya direncanakan untuk diserahkan pada September tahun lalu. Namun, pengiriman pesawat ditunda hingga Maret tahun ini akibat pandemi COVID-19.

18 Februari 2017

Senegal Order Pesawat CN235 MPA

18 Februari 2017


Pesawat CN-235 MPA (photo : Hindawan)

Puas dengan Produk PTDI, Kali Ini Senegal Order CN235 MPA

Pemerintah Senegal berencana akan kembali order CN235-220 dari PTDI. Pesawat yang diminati kali ini adalah konfigurasi Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang akan digunakan untuk Patroli Maritim wilayah Senegal. Hal tersebut terutama didasari pasca ditemukan sumber minyak wilayah laut Senegal.

Tahun ini, kontrak pembelian pesawat CN235-220 MPA sedang dipersiapkan oleh kedua belah pihak, yang nantinya akan ditandatangani dalam waktu dekat. Kepercayaan yang telah diberikan oleh pemerintah Senegal, merupakan bukti bahwa produk nasional dapat bersaing di pasar global.

Pesawat CN235-220 MPA buatan PTDI mampu mengakomodasi 4 mission console dan mendeteksi target yang kecil. Pesawat ini juga dilengkapi dengan FLIR (Forward Looking Infrared) untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan target serta mampu merekam situasi di sekitar wilayah terbang untuk evaluasi misi.


Pesawat CN-235 AU Senegal (photo : BUMN)

Pesawat terbang CN235-220 generasi terbaru buatan PTDI ini memiliki beberapa keunggulan, yakni adanya penambahan berat maksimum yang dapat diangkut mencapai 16,550 kg. selain itu, pesawai ini juga memiliki sistem avionik yang lebih modern, autopilot, radar pendeteksi turbulensi dan penambahan winglet di ujung sayap CN235-220. Penggunaan winglet akan membuat pesawat lebih stabil dan lebih irit bahan bakar.

Sebelumnya, PTDI telah mengirim pesawat multiguna CN235-220M ke Senegal yang telah diserahterimakan ke Angkatan Udara Senegal pada 27 Desember 2016. “Pesawat ini sangat mudah digunakan dan memiliki fitur glass cockpit terbaik sehingga memudahkan pekerjaan kami karena mudah digunakan,’’ kata Kepala Operasi Angkatan Udara Senegal, Ndiaye Amadou.

Menurut informasi dari Angkatan Udara Senegal, pesawat tersebut langsung digunakan untuk Cooperation Assistant Operasi Gambia setibanya di Dakar.

Operasi Gambia merupakan operasi atas adanya sedikit kegaduhan di Gambia karena presiden incumbent tidak mau mundur dari jabatan untuk digantikan oleh presiden terpilih yang baru. Operasi Gambia berjalan dengan sukses sehingga tidak terjadi pertumpahan darah.

(Angkasa)

19 Maret 2021

Menhan Prabowo Serahkan Pesawat CN235-220 Kepada AU Senegal

19 Maret 2021

Pesawat CN-235MPA Angkatan Udara Senegal (photos : NusantaraNews, Kemhan)

Bandung – Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menyerahkan Pesawat karya anak bangsa CN235-220 MPA ke Angkatan Udara Republik Senegal, dari Hanggar Fixed Wing PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Kamis (18/3).

Turut hadir dalam acara tersebut Chief of Air Force of Senegal BG Papa Souleymane SARR, Direktur Utama (Dirut) PTDI Elfien Goentoro, dan Dirut PT NTP Tarmizi Kemal Fasya Lubis.

Menhan Prabowo dalam sambutannya mengatakan bahwa penyerahan Pesawat CN235-220 MPA kepada AU Republik Senegal ini patut dibanggakan karena pesawat kali ini adalah pesawat ketiga yang dibeli oleh negara tersebut.

“PT DI adalah kebanggaan bagi Indonesia. PT DI adalah harapan bangsa Indonesia, Kita sangat membutuhkan teknologi kedirgantaraan, aerospace industry. Ini adalah industri masa depan, Industri yang paling sulit dan yang paling canggih,” tegas Menhan RI.

Menhan Prabowo melanjutkan dalam sambutannya, PTDI sebenarnya pernah jadi pelopor dalam kebangkitan industri Indonesia pada tahun 90an tetapi akibat dinamika politik dunia, arah pengembangan PTDI mengalami rintangan-rintangan. Namun patut disyukuri, di tengah tantangan selama 20 tahun terakhir ini, PTDI berhasil bertahan dan masih berhasil untuk menjual produk pesawat dan helikopternya. Kementerian Pertahanan bertekad agar PTDI dapat bangkit kembali ke tempat semula.


“Presiden telah menginstruksikan Kementerian Pertahanan untuk mendorong PTDI dan industri pertahanan lainnya. Untuk bersungguh-sungguh mendukung agar PTDI bisa mengambil tempat sebagai pelopor kembali di Asia Tenggara bahkan Asia”, ujar Menhan Prabowo.

Sementara itu Chief of Air Force of Senegal Papa Souleymane SARR menyatakan dalam kesempatan tersebut bahwa Republik Senegal telah menggunakan pesawat produksi PTDI selama 10 tahun dan pesawat kali ini adalah yang ketiga.

Pesawat CN235-220 MPA ini menurutnya adalah salah satu yang spesial karena digunakan sebagai patrol airplane, berbeda dengan dua pesawat sebelumnya.

“Kami berharap mendapatkan kepuasan yang sama dengan yang dua pesawat sebelumnya” jelas Kasau Senegal.

Chief of Air Force of Senegal melanjutkan, kerjasama Senegal dan Indonesia selama ini telah terjalin sangat baik karena terdapat kesamaan kultur antara kedua negara. Senegal terus berupaya mencari peluang terbaik untuk bertukar pengalaman dan kerjasama ke depannya dengan Indonesia. 

10 Desember 2020

CN235 MPA Pesanan Senegal Sukses Jalani Terbang Perdana

10 Desember 2020

CN235 MPA untuk Senegal sedang menjalani uji coba di PT DI pada 8 Desember 2020 (photo : PTDI)

Mantap! Pesawat Made in Bandung Siap Diekspor ke Senegal

Jakarta - Kabar menggembirakan datang dari BUMN PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI. Perusahaan pelat merah yang bermarkas di Bandung ini baru saja melakukan uji coba untuk pesawat CN235 dan siap untuk dikirim ke Senegal.

Direktur Niaga PTDI Ade Yuyu Wahyuna mengatakan, pesawat yang akan dikirim pada tahun ini 1 unit. Pesawat ini ditujukan untuk Senegalese Air Force. Rencananya, pesawat tersebut dikirim sebelum Natal atau pada 23 Desember 2020.

"Pesawatnya sekarang lagi uji di sini, uji terbang di sini. Rencananya itu akhir Desember mungkin sebelum Natal 23-an lah itu kita delivery ke Senegal, delivery flight dianterin ke sana. Nanti di sana penerimaan dan lain-lain di Senegal," katanya kepada detikcom, Rabu (9/12/2020).

Kontrak 1 pesawat CN235 MPA telah diperoleh dari Senegal pada pertengahan 2019, order 1 lagi pesawat MPA terhambat karena pandemi covid-19, diharapkan tahun depan kontraknya ditanda-tangani sekaligus pesanan pesawat transpor yang lebih kecil seri NC 212 400 (photo : PT DI)

CN235 MPA kedua dan pesawat transpor NC212

Dia melanjutkan, PTDI juga tengah mengejar potensi kontrak 1 pesawat pada tahun depan.

"Saat ini, yang ini, satu dulu tahun ini yang sedang kita deliver, InsyaAllah kalau ini sudah, tahun depan mungkin kita satu lagi katanya, untuk sama-sama delivery Maritime Patrol Aircraft MPA," ujarnya.

Bukan hanya itu, dia melanjutkan, pihaknya tengah menjajaki pesawat dengan ukuran yang lebih kecil dengan Senegal yakni untuk NC212.

"Sampai tahun depan InsyaAllah di Senegal 2, bahkan ada potensi lagi yang pesawat lebih kecil 212 kita lagi coba juga. Mereka jajaki kebutuhan untuk transportnya itu, lagi saya coba juga dengan Senegal," ujarnya.

Tambahnya, untuk 1 unit pesawat CN235 nilainya sekitar US$ 30 juta. Jadi, potensi untuk pesawat yang dikirim tahun ini dan potensi kontrak tahun depan ialah US$ 60 juta. "Kalau 2 unit, kalau 1 unit ya US$ 30 juta sekitar gitu ya, tergantung konfigurasi," ujarnya.

(Detik)

17 Oktober 2016

N219 PT Dirgantara Indonesia Dilirik Senegal

17 Oktober 2016


Prototipe pesawat N219 (photo : BUMN)

Infopenerbangan.com, -Produk pesawat milik PT Dirgantara Indonesia dilirik oleh Kamar dagang dan Industri Negara Senegal. Sergine Mboup, selaku ketua Kamar Dagang dan Industri Senegal mengatakan minatnya ingin membeli pesawat guna mempermudah mobilisasi perusahaannya di Negara tersebut.

Hal tersebut disampaikan saat bertemu dengan Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, di TEI 2016, Jiexpo, Kemayoran, demikian Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Dakar – Senegal, Dimas Prihadi, Sabtu, 15 Oktober 2016.

Pertemuan dihadiri Dubes RI untuk Senegal, Mansyur Pangeran, dan Ketua Komite Tetap Afrika Kadin Indonesia, Mintardjo Halim, serta Direktur Eksekutif Kadin Indonesia, Dubes Jamtomo Rahardjo, dan Dubes Andradjati, mantan Dubes RI untuk Senegal.

Keinginan Ketua Kadin Senegal hadir di TEI 2016 dalam rangka mengembangkan usahanya dengan perusahaan “Wings” dengan mengimpor produk sabun “So Klin” ke Senegal yang telah berlangsung selama lebih dari 15 tahun, dan menjajaki peluang usaha baru di berbagai bidang, antara lain, kelapa sawit, serta membeli pesawat dari PT. Dirgantara Indonesia.

Sementara itu Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani menyatakan keinginan untuk memperkuat dan menjajaki berbagai peluang kerja sama di berbagai bidang dengan Kadin Senegal.

Dalam kesempatan ini pula, Manajer Produk dan Jasa PT Dirgantara Indonesia Krisnan,, menyampaikan profil singkat dan keunggulan pesawat N 219, antara lain, berkapasitas 19 penumpang, dapat lepas landas dan mendarat di landasan 500 meter serta harga bersaing senilai 6 juta dolar AS per unit.

Namun, pesawat tersebut masih dalam tahap penyempurnaan dan akan dipasarkan pada 2018. Terkait hal tersebut, Ketua Kadin menginginkan agar dapat dikirim brosur dan detail lengkap pesawat tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk membeli apabila telah dipasarkan.

(Info Penerbangan)

15 Februari 2018

Senegal Berencana Beli Pesawat NC-212

15 Februari 2018


Pesawat NC-212 Thailand (photo : Kittitat)

Senegal Berencana Beli Pesawat dan Kereta Buatan Indonesia

JAKARTA - Duta Besar Indonesia untuk Senegal, Mansyur Pangeran menyatakan, pemerintah Senegal tertarik unuk kembali membeli pesawat buatan Indonesia dan berencana membeli kereta buatan Indonesia. 

Masnyur menyatakan, PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) sudah mengirim dua pesawat pesanan Senegal beberapa waktu lalu. Senegal, lanjut Mansyur, saat ini berencana untuk membeli dua pesawat lagi dari Indonesia.

Selain itu, papar Mansyur, Senegal juga saat ini memiliki rencana untuk membeli kereta buatan PT. Industri Kereta Api Indonesia (PT. INKA).

"Kalau PT. DI sudah dua pesawat dikirim ke sana, kalau PN INKA mereta tertarik beli gerbong. Mereka sedang mempelajari, jadi dari PT INKA sudah menyampaikan spesisfikasnya," ucap Mansyur.

"Sekarang saya dengan dengar pihak mereka akan mengambil pesawat yang lebih kecil dua, N-212 300, seperti yang dibeli oleh Royal Thai," sambungnya saat ditemui di sela-sela rapat kerja perwakilan Indonesia di kantor Kementerian Luar Negeri di bilangan Gambir, Jakarta Pusat pada Selasa (13/2).

Sementara itu ketika disinggung apakah Senegal juga tertarik membeli senjata buatan Indonesia, Mansyur mengatakan belum ada ketertarikan, namun pihaknya akan menawarkan produk PT. Pindad saat Menteri Pertahanan Senegal melakukan kunjungan ke Indonesia pada bulan depan.

"Kalau Pindad masih belum, mereka harus lihat dulu. Makanya kemungkinan kalau nanti akhir bulan ini atau bulan depan Menhan datang, diharapkan datang ke PT. Pindad, sekalian, sekaligus biasanya ke PT. DI lalu ke PT. Pindad itu akan tertarik," tukasnya.

(SindoNews)

31 Mei 2021

PT PAL Siap Tembus Pasar Afrika

31 Mei 2021

Makassar class LPD sekarang ini menjadi andalan PT PAL untuk ekspor (photo : PN)

primaradio.co.id – Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Dakar bersama dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mengadakan kegiatan Temu Bisnis Indonesia – Senegal dengan fokus pembahasan strategi ekspor ke Senegal dan Negara-negara Afrika Barat. Dalam kesempatan tersebut Duta Besar Indonesia untuk Dakar, Dindin Wahyudin membuka langsung kegiatan tersebut. Hadir pula Direktur KPE dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Marolop Nainggolan dan beberapa perwakilan industri dalam negeri.

Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Dakar, Didin Wahyudin mengatakan bahwa akan meningkatkan potensi penjualan produk-produk Indonesia di pasar negara-negara Afrika Barat termasuk Senegal.

“Potensi kerjasama ekonomi Indonesia dengan Senegal juga akan menjajaki pada sektor industri pertahanan, “katanya.

Ketertarikan tersebut juga didasari pada pernyataan Menteri Senegal bahwa Senegal tertarik untuk menggunakan alutsista yang dibangun oleh Indonesia.

Dalam Temu Bisnis Indonesia – Senegal, Direktur KPE Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Marolop Nainggolan mengatakan komitmen pemerintah didalam mendukung produk-produk Indonesia memasuki pasar Negara-negara Afrika Barat.

“Sejauh ini negara tujuan ekspor non-migas utama Indonesia yaitu China, USA, Jepang, India dan Malaysia. Namun di tahun 2021, fokus peningkatan kerjasama ekonomi akan diperkuat di kawasan Afrika Barat termasuk pada bidang sektor pertahanan, “jelasnya.

Hal inilah yang dijawab oleh PT PAL Indonesia (Persero) sebagai BUMN Industri Pertahanan di bidang matra laut guna menjangkau pasar Afrika Barat melalui konsolidasi industri dalam negeri dan peran pemerintah didalamnya.

Sebelumnya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Senegal, Dindin Wahyudin telah mengadakan pertemuan dengan Presiden Guinea-Bissau salah satu Negara Afrika Barat sekaligus dalam rangka menyerahkan surat kepercayaan.

Dalam pertemuan tersebut, Duta Besar RI Bapak Dindin mengharapkan penguatan kerja sama bilateral di berbagai bidang termasuk dalam bidang pertahanan dengan Negara-negara Afrika Barat termasuk Guinea-Bissau. Menteri Pertahanan Guinea-Bissau Fati menyatakan sebagai Negara kepulauan tertarik dengan produk Indonesia termasuk produk Alutsista demi penguatan pertahanan nasional.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kadep Pengembangan Produk dan Pasar Kapal Bapak R. Joza Emerald Nouvantoro dan Kadep Humas Bapak Utario Esna Putra. Dalam kesempatan tersebut, PT PAL Indonesia (Persero) melalui Kepala Departemen Humas menyampaikan kesiapan memasuki pasar Afrika Barat dan kesiapan menjadi global partnership bagi negara-negara Afrika Barat.

19 Mei 2020

Senegal Kembali Pesan Pesawat CN-235 untuk Patroli Maritim

19 Mei 2020

CN235 versi Patroli Maritim (photo : Fransesco Andrae)

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Senegal melakukan pemesanan pesawat CN-235 untuk ketiga kalinya kepada PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk kepentingan patroli maritim.

Pemesanan itu ditandai lewat penandatanganan kesepakatan pembelian pesawat di Dakar oleh perwakilan PT DI dan AD Trade dari Belgia. Perusahaan ini mewakili Pemerintah Senegal sebagai penyandang dana kredit.

Dikutip dari keterangan resmi, Minggu (17/5/2020), Duta Besar Republik Indonesia untuk Senengal Mansyur Pangeran menjelaskan pada Maret, Menteri Plan Senegal Emergence Dr. Cheikh Kante telah melakukan kunjungan kerja ke Pabrik PT DI di Bandung, Jawa Barat. Kante juga mengunjungi PT Pindad untuk melihat berbagai produk peralatan persenjataan.

Dalam kunjungan itu, Kante mengatakan bahwa pihaknya mengharapkan Pindad dapat bersedia merakit escavator buatan sendiri dan mendirikan pabrik pabrik tabung gas di Senegal. Menurutnya, alat berat dibutuhkan untuk pekerjaan penggalian berbagai tambang mineral di Afrika Barat.

Pemerintah Senegal juga telah menjalin kerjasama infrastruktur dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan Exim Bank Indonesia tentang Pembangunan Gedung Multi-Fungsi Menara Goree (Tour de Goree) 33 Lantai di Dakar dengan nilai kontrak US$250 juta.

Selain itu, Pemerintah Senegal turut menawarkan kerjasama di bidang pertambangan emas dan fosfat serta pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 200 MW. Dia mengarapkan korporasi swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dapat memanfaatkan peluang investasi dan kerja sama dengan negaranya.

(Bisnis)

11 April 2018

Senegal dan Pantai Gading Beli 4 Pesawat Buatan Indonesia

11 April 2018


Pesawat CN-235 TNI AU (photo : PosKota)

TEMPO.CO, Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menandatangani kerangka kesepakatan penjualan pesawat CN-235 dan NC-212 senilai US$ 75 juta dengan mitra bisnis Angkatan Udara Senegal dan Pantai Gading.

"Pasar Afrika itu menjanjikan karena terdiri dari banyak negara dan secara geografis sama dengan Indonesia, jadi kebutuhan pesawat turboprop ringan dan medium itu masih banyak," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro di BNDCC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa, 10 April 2018.

Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Elfien Goentoro dan pemimpin perusahaan Perdagangan Pertahanan Udara dari Belgia, Gaby Peretz, selaku mitra bisnis dari dua negara di Afrika itu di sela-sela Forum Indonesia Afrika (IAF) 2018 di Bali.

Kesepakatan tersebut untuk penjualan dua unit pesawat NC-212 seri 200 yang digunakan untuk pengawasan maritim dan satu unit CN-235 seri 220 untuk pesawat patroli maritim Angkatan Udara Senegal, serta satu unit CN-235 seri 220 untuk transportasi militer Angkatan Udara Pantai Gading.


NC-212 TNI AD (photo : defence.pk)

Elfien menambahkan penandatanganan kontrak lebih lanjut akan dilakukan pada Juli atau Agustus 2018 dan rencananya akan dikirim ke negara pembeli dalam waktu sekitar 1,5 tahun setelah melalui proses pengerjaan di Indonesia.

Sebelumnya, pada 27 Desember 2017 PT DI telah berhasil mengirimkan pesawat CN-235 seri 220 yang bisa dimanfaatkan multiguna untuk Angkatan Udara Senegal yang diterbangkan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung menuju Dakar.

Kemudian, pada 08 Agustus 2017 mitra bisnis Senegal kembali menandatangani kontrak pembelian satu unit pesawat CN-235 seri 220 untuk patroli maritim untuk Angkatan Udara Senegal.

Selain Senegal, pesawat CN-235 buatan PT DI juga telah digunakan oleh Burkina Faso dan Guinea.

(Tempo)

01 Juni 2020

Mission System Discussion for CN235 MPA Senegal's Order was Halted due to Covid-19

01 Juni 2020


First CN235 hand over to Senegal Air Force in 2011, the second was in Januari 2017, while the third order was MPA variant (photo : Yudhistira Adityawardhana)

Indonesia's discussion with Senegal for second CN-235 halted amid travel bans

Negotiations between aerospace company PT Dirgantara Indonesia (PTDI) and the Senegalese Air Force (Armée de l’Air du Senegal) for a second CN-235 aircraft have been put on hold amid Covid-19-related travel bans.

These negotiations, which were last described at the Singapore Airshow 2020 in February as reaching the final stages, are now not expected to resume again until 2021, said a PTDI representative who spoke to Janes on 26 May.


Design of CN235 MPA with magnetic anomaly detector (MAD) (image : PTDI)

Senegal signed for its first CN-235 with PTDI in November 2014 and the airframe was subsequently delivered in January 2017. The aircraft was delivered in the quick-change configuration, and can take on a variety of missions including medical evacuation, general transport duties, and VIP transport.

For the second airframe, the Armée de l’Air du Senegal is considering a maritime patrol aircraft (MPA) variant of the CN-235 that is similar to those in service with the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL), said the PTDI representative.

The Armée de l’Air du Senegal has yet to convey their preferences for mission systems that will go onboard the MPA but in TNI-AL service, the CN-235’s sensors include the CAE AN/ASQ-508 magnetic anomaly detector (MAD), and Thales Ocean Master or Telephonics APS-143C(V)3 (Batch 2) radar.

(Jane's)

16 Desember 2016

CN235 Senegal Terbang untuk Pertama Kalinya

16 Desember 2016

Uji terbang CN-235 pesanan Senegal (photos : PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mulai menjajal kemampuan terbang pesawat CN235 bikinannya yang dipesan oleh Senegal, Rabu (14/12/2016). Dua orang penerbang dan dua orang enjinir ikut serta dalam uji terbang ini

Uji terbang CN-235 Senegal yang dipimpin oleh Kepala Pilot Uji PTDI Capt Esther Gayatri Saleh ini terbang selama sekitar 2 jam 25 menit dari hangar PTDI Bandung, Jawa Barat.

Seluruh kru yang ikut uji terbang terlihat mengenakan perlengkapan terjun. Ini merupakan prosedur tetap agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kru masih memiliki kesempatan untuk terjun dan menyelamatkan dirinya.



Setelah rangkaian uji terbang rampung, CN235-220 Senegal rencananya pesawat akan dikirim 26 Desember mendatang. Pengiriman akan dilakukan dengan ferry flight. Pengalaman pengiriman CN-235 pertama milik Senegal memakan waktu sekitar satu minggu.

Saat ini Senegal telah mengoperasikan satu unit CN235-220 untuk digunakan di beragam misi, mulai dari angkut VVIP, hingga misi evakuasi medis. Sebelumnya, di akhir November lalu PTDI juga telah berhasil menyelesaikan pesawat CN235 pesanan Royal Thai Police.

(Angkasa)

27 Desember 2016

PTDI Kirim Pesawat CN235-220M Pesanan Angkatan Udara Senegal

27 Desember 2016


Pesawat CN235-220M pesanan Angkatan Udara Senegal (all photos : PTDI)

Bandunng - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali melakukan terbang kirim (ferry flight) satu unit pesawat terbang tipe CN235-220M Multi Purpose Aircraft dari Bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Dakar, Senegal, Selasa (27/12/2016).

Sebelumnya, PTDI pernah melakukan terbang kirim satu unit pesawat tipe serupa pesanan Aircraft Royal Thai Police (RTP) atau Polisi Kerajaan Thailand dari Bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Bandara Internasional Hat Yai, Thailand Jumat (25/11/2016).

Kali ini, pesawat buatan PTDI tersebut dipesan oleh A.D. Trade Belgia untuk Angkatan Udara (AU) Senegal. Pengadaan pesawat CN235-220M ini berdasarkan penandatanganan kontrak antara PTDI dengan Deputy General Director A.D. Trade, Belgia, pada event Indodefence Expo 6 Nomember 2014.

Kontrak kerja sama ini merupakan pembelian yang keempat kalinya. Sebelumnya, A.D. Trade Belgia juga telah membeli tiga unit CN235 dari PTDI. Ketiga unit pesawat CN235-220M ini telah dioperasikan oleh Burkina Faso 2 unit dan Venezuela sebanyak 1 unit.



"Pesawat CN235-220M produk PTDI sudah dikenal luas di berbagai negara sebagai pesawat multi guna yang efektif dan efisien dan dapat beroperasi dari landasan dengan kondisi terbatas," ungkap Dirut PTDI Budi Santoso di Hanggar Final Assy Fixed Wing PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa (27/12/2016).

CN235-220M Multi Purpose Aircraft untuk Angkatan Udara Senegal ini memiliki konfigurasi yang dapat diubah dengan cepat seperti paratroop, medical evacuation, VIP transport dan passenger transpon. Sehingga mampu menjawab kebutuhan di negara-negara Asia dan Afrika. 

"Ini adalah bukti kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai teknologi tinggi," jelas Budi

Ia menuturkan, pesawat CN235-220M Multi Purpose Aircraft dilengkapi pintu depan yang bisa dipakai sebagai pintu masuk/keluar untuk VIP/WIP dan pintu belakang khusus yang dibuka ke arah dalam. Sehingga, sambung dia, cukup besar untuk dipakai saat operasi terjun payung.



"Selain itu ramp door yang ukurannya cukup besar dan tetap ada untuk keluar masuk barang bahkan dapat digunakan untuk memasukkan kendaraan kecil," kata Budi.

Kegiatan terbang kirim pesawat terbang CN235-220M Multi Purpose Aircraft tersebut juga turut dihadiri oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.

Untuk diketahui, PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan 62 unit pesawat terbang CN235, baik dalam negeri maupun luar negeri. 

PTDI sudah mengekspor sebanyak 35 unit pesawat terbang CN235 kepada pemesannya di luar negeri, yaitu Venezuela, Senegal, Burkina Faso, Uni Emirat Arab, Pakistan, Turki, Malaysia, Korea Selatan, Thailand dan Brunei Darussalam. Sedangkan pelanggan dalam negeri adalah TNI AU, TNI AL dan Merpati Nusantara Airlines. 

(Detik)

13 November 2018

Indonesia Signs Agreement to Sell Aircraft to Senegal and Ivory Coast

13 November 2018

CN-235 maritime patrol aircraft (photo : PT DI)

Military gains for Indonesia in Africa

During the Indonesia-Africa Forum held earlier this year in Bali, Indonesia announced the $75 million sale of two NC-212-200 maritime surveillance aircraft and a CN235-220 maritime patrol aircraft to Senegal, plus a transport-configured CN235-220 to the Ivory Coast.

Formal contracts for the sales were expected to be signed as African Aerospace was going to press.

Close links between Spanish aircraft manufacturer, CASA, and Indonesian Aerospace – or PT Dirgantara Indonesia, also known as Persero (IPTN) – led to Indonesian licence production of the CASA C-212 Aviocar. This is now known as the C212, or as the NC-212 in Indonesian-built form.

It also led to the co-development of the larger CN-235 tactical transport (now designated as the CN235 when offered by Airbus).

Some 477 C212s and NC-212s have been produced for 92 operators over a 43-year production lifespan.

This total includes at least 103 NC212-200s produced by PT Dirgantara Indonesia (PTDI), the successor to IPTN.

In 2010, Airbus Military (Airbus Defence succeeded CASA) said that it could no longer afford to produce the C212 in Europe and the last C-212 produced in Spain was delivered in late December 2012. All necessary jigs and production tooling for the NC212-400 was relocated from San Pablo to Bandung and PTDI became the sole source for the C212/NC-212 family.

PTDI stopped production of the NC212-200 and NC212-400 in 2014, concentrating on the more advanced NC212i, which has new digital avionics and a cabin for up to 28 passengers.

On the CN-235, PTDI manufactures the outer wings, horizontal stabilisers, vertical fins and doors, while Airbus produces noses, cockpit sections, and centre wing boxes.

C212s serve in Angola, Botswana, Chad, Djibouti, Equatorial Guinea, Lesotho, South Africa and Zimbabwe. Aircraft delivered to Bophuthatswana, Transkei, and Venda were absorbed into the South African Air Force.

NC-212i aircraft (photo : PT DI)

CN235s are in service in Botswana, Burkina Faso, Cameroon, Gabon, Guinea, Morocco and Senegal, and were also delivered to the Bophuthatswana and South African air forces, which have retired the type with civilian aircraft going to Madagascar’s Tiko Air and Air Namibia.

The C295 is a derivative of the CN235 with a stretched fuselage, 50% more payload capability and new Pratt & Whitney Canada PW127G turboprop engines. Airbus has delivered significant numbers to African air arms, including those of Algeria, Angola, Egypt, Equatorial Guinea, Ghana and Mali.

PTDI is now seeking to increase its share of this lucrative market. Company president, Elfien Goentoro, said “the African market is promising”, explaining: “Geographically, African countries and Indonesia have similarities, so they need several light and medium turboprop aircraft. We are offering countries in Africa the development of human resource skills and knowledge in the aircraft manufacturing industry.”

He also noted there were opportunities for African countries in the upgrade, modification and maintenance and overhaul of the NC-212 and CN-235.

PTDI delivered a CN235-220 transport aircraft to the Senegal Air Force in December 2016, following a November 2014 order placed via AD Trade Belgium. It was delivered in a quick-change configuration with a reconfigurable interior, allowing it to undertake VIP, transport, paratrooping, and medical evacuation missions.

In August 2017, Senegal placed a further order with AD Trade Belgium for a single CN235-220 maritime patrol aircraft.

The next customer for an Indonesian-built CN-235 was Burkina Faso, which acquired two aircraft from PTDI and AD Trade Belgium.

The latest orders were again signed with the Belgian company and formed the basis of the framework agreement during the Indonesia-Africa Forum in April 2018.

The addition of two NC-212-200 maritime surveillance aircraft and a CN235-220 maritime patrol aircraft to the Armée de L'Air du Senegal will transform the west African nation’s surveillance capabilities. The aircraft are expected to be based at Dakar/Yoff.

Force Aérienne de la Côte d'Ivoire (previously known as the Groupement Aérien de Transport et de Liaison) is another small air arm, and the addition of a CN-235 at Base Aérienne de Abidjan will mark a major improvement in capability. The unit currently operates only Cessna 402s and 421s and SA365 and IAR330 helicopters. 

24 Maret 2021

LPEI Biayai Ekspor Pesawat CN-235 Milik PT DI Senilai Rp354 Miliar

24 Maret 2021

Pesawat CN235 MPA untuk AU Senegal (photo : Detik)

jpnn.com, JAKARTA - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memberikan pembiayaan kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk ekspor pesawat CN-235 ke Nepal dan Senegal, kawasan Asia Selatan dan Afrika senilai Rp354 miliar. 

Pembiayaan kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) itu dilakukan dengan skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) dari pemerintah, sebagai bentuk komitmen mendukung peningkatan ekspor produk unggulan. 

Bagi PTDI, ekspor ke Senegal ini merupakan yang ke-dua setelah ke Nepal pada 2019.

Sekretaris Lembaga LPEI Agus Windiarto menyampaikan, dukungan LPEI tersebut penting untuk meningkatkan nilai ekspor, baik dari sisi volume  maupun tujuan.

Perluasan pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional, seperti Afrika dan Asia Selatan sangat terbuka. 

Namun kawasan-kawasan tertentu memiliki risiko yang sering dihindari, baik oleh pelaku industri maupun perbankan nasional.

Pemerintah memastikan akan menyediakan semua fasilitas untuk menembus pasar tersebut. 

“Peran Pemerintah melalui LPEI untuk memberikan pembiayaan ekspor khususnya ke negara non-tradisional dapat menstimulus industri strategis dalam melakukan perdagangan (ekspor) ke negara-negara tersebut,” ucap Agus Windiarto, dalam acara Ferry Flight Pesawat CN 235 PT Dirgantara Indonesia ke Senegal, beberapa waktu lalu.

Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, LPEI terbukti mampu menjembatani PTDI sebagai salah satu industri strategis nasional untuk menembus pasar non tradisional. 

Perluasan pasar itu diyakini bisa berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Ekspor pesawat terbang ke Senegal memiliki nilai strategis bagi industri nasional karena supply record-export order dan kepuasan pelanggan luar negeri menjadi salah satu syarat utama dalam evaluasi pada tender-tender internasional. 

Proyek ini merupakan salah satu langkah strategis untuk memasuki pasar negara Asia Selatan dan Kawasan Afrika. 

Manfaat pembiayaan LPEI kepada PTDI turut memengaruhi puluhan industri dalam negeri yang memasok kebutuhan industri pesawat terbang, antara lain bidang usaha machining for landing gear, tube forming, polyurethane, heat treatment, thermo forming of acrylic, tool and jig dan puluhan industri lainnya.

(JPNN)

07 Juni 2018

PT DI Selesai Kirimkan Lima Pesawat Pesanan Filipina dan Vietnam

07 Juni 2018


Pesawat NC-212i pesanan Filipina (photo : Kompas)

PTDI ekspor 5 pesawat jenis NC-212 ke Filipina dan Vietnam

Merdeka.com - Dirut PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Elfien Goentoro menyebut bahwa pihaknya telah mengekspor 5 pesawat jenis NC-212 ke Filipina dan Vietnam hingga akhir bulan ini.

"Yang jelas kita baru deliver pesawat ke Filipina sama Vietnam. Jenisnya tetap NC-212. Total deliver 5, 3 Vietnam, 2 Filipina," ungkapnya ketika ditemui, di Kemenko Maritim, Jakarta, Rabu (6/6).
Selain ke-5 pesawat tersebut, Elfien menargetkan akan mengekspor 1 pesawat NC212 lagi ke Senegal pada Desember nanti.

"Kalau ekspor sudah 5, rencana ada 1 di Desember. Nanti saya cek, apakah siap ke Senegal atau belum," jelasnya.

Dia berharap ke depan jumlah negara yang meminati pesawat produksi perseroannya makin meningkat. "Kita harapkan Filipina ada kontrak lagi, Korea juga, Malaysia dan masih banyak. Nepal, senegal," tandasnya.


Pesawat NC-212i pesanan Vietnam (photo : PTDI)

Sebelumnya, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani kerangka kesepakatan penjualan pesawat CN-235 dan NC-212 dengan mitra bisnis Angkatan Udara Senegal dan Pantai Gading senilai USD 75 juta atau Rp 1,07 triliun.

Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro menyampaikan, penjualan dua unit pesawat NC-212 seri 200 yang digunakan untuk pengawasan maritim dan satu unit CN-235 seri 220 untuk pesawat patroli maritim Angkatan Udara Senegal serta satu unit CN-235 seri 220 untuk transportasi militer Angkatan Udara Pantai Gading.

"Kami menawarkan kepada negara-negara di Afrika untuk pengembangan keterampilan sumber daya manusia dan pengetahuan dalam industri manufaktur pesawat terbang," kata Elfien dalam Forum Indonesia-Afrika (Indonesia-Afrika Forum/IAF) 2018 di Bali, Selasa (10/4).

Dalam melakukan penetrasi pasar di negara-negara Afrika, PTDI dibantu oleh KBRI atau Kantor Perwakilan Republik Indonesia di negara-negara yang menjadi target pasar PTDI dan membangun kerja sama dengan Industrial Partner atau business partner luar negeri yang mempunyai akses ke negara-negara yang menjadi target pasar PTDI.

"Pasar Afrika itu menjanjikan karena terdiri dari banyak negara dan secara geografis sama dengan Indonesia jadi kebutuhan pesawat turboprop ringan dan medium itu masih banyak," imbuhnya.

(Merdeka)