07 Oktober 2014

Panglima TNI : Su-35 Menjadi Pilihan Pertama dan Saab JAS 39 Gripen Pilihan Kedua

07 Oktober 2014


Sukhoi Su-35 (photo : wallpaperup)

Helikopter Apache dan Sukhoi Su-35 Segera Perkuat TNI

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI terus dilakukan. Untuk TNI AD, dalam beberapa tahun ke depan akan diperkuat helikopter AH-64D Apache Longbow. Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, pengadaan helikopter serang buatan Amerika Serikat tersebut segera memperkuat jajaran TNI AD.

"Apache, sudah berjalan. Uang muka sudah ada, uang cicilan sudah ada. Sudah kontrak, semoga terpenuhi pada 2019, sebanyak delapan unit," ujar Moeldoko di Markas Koarmatim pada akhir pekan lalu.

Menurut dia, pengadaan helikopter AH-64D Apache Longbow sudah masuk ke dalam rencana strategis (Renstra) II pada 2015-2019. Dia berharap, pemerintahan baru nanti ikut mendukung penguatan alutsista TNI. Dengan begitu, lima tahun lagi delapan unit helikopter serang terbaik di kelasnya itu bisa semakin meningkatkan daya gentar TNI dalam menjaga kedaulatan NKRI.

"Apabila pemerintahan baru tidak mengubah kebijakan. Kalau dilanjutkan terus, ini bisa dipenuhi," kata mantan kepala staf Angkatan Darat (KSAD) itu.

Moeldoko juga menyinggung bakal terjadi pergantian pesawat F-5 Tiger milik TNI AU. Menurut dia, jet tempur buatan negeri Paman Sam itu sudah tidak layak pakai lantaran teknologinya sudah ketinggalan zaman. Karena itu, sedang dikaji oleh Mabes TNI AU beberapa pesawat sejenis yang akan dibeli dalam waktu segera untuk menjaga wilayah udara Indonesia.

Moeldoko menyatakan, terdapat tiga opsi sebagai pengganti F-5 Tiger, yaitu pesawat buatan Rusia, Swedia, dan AS. "Untuk udara, ada pengajuan penggantian F-5. Sukhoi Su-35 menjadi pilihan pertama, Saab JAS 39 Gripen pilihan kedua, dan pesawat F-16 pilihan ketiga," kata mantan wakil gubernur Lemhannas itu.

Sedangkan untuk TNI AL, Moeldoko menyebut, saat ini sedang dilakukan pembuatan tiga kapal selam Changbogo buatan Daewoo Shipbuilding, Korea Selatan. Karena dilakukan transfer of technology, maka satu kalap selam dibuat di PT PAL. Dia mengharapkan, rencana itu berjalan sesuai target dan 2017, tiga kapal selam baru bisa memperkuat jajaran TNI AL.

"Saya yakin kemampuan TNI di kawasan semakin diperhitungkan, walapaun baru 30 persen dalam konteks MEF (minimum essential forces), perubahan ini sangat signifikan. Kalau kapal selam datang, pasti memiliki daya gentar," ujar Moeldoko.

(Republika)

12 komentar:

  1. Mari mengulangi apakah F-5E Tiger II itu sebenarnya..

    F-5E adalah pesawat tempur ringan produksi tahun 1970-an, dengan 2 mesin turbojet kecil yang sangat efektif. Kesiapan terbangnya sangat tinggi, supersonic, murah dan mudah untuk dibeli dan dirawat.

    Perlu ditambahkan, Hawk-209 Indonesia yang dibeli di tahun 1990-an juga sudah berumur 20 tahun lebih, dan sebentar lagi akan membutuhkan pengganti -- pesawat tempur ringan juga. Dari jumlah 32 unit yang dibeli, sekarang ini tinggal tersisa 23 unit saja.

    Hawk 209 adalah pesawat yang subsonic (tidak bisa terbang melebihi kecepatan suara), dengan biaya perawatan dan operasional yang sama murah. Tetapi dari segi kemampuan dan persenjataan, sama seperti F-5E, sudah bukan lagi tandingan pesawat-pesawat tempur kelas utama yang dipakai negara-negara tetangga (F-16, F-18A/B/D/F, Su-30MKM, dan F-15SG).

    Sebaiknya pembelian F-5E ini harus melihat kebutuhan untuk mengganti Hawk 209 di masa depan juga. Jadi Indonesia bisa mengganti kedua tipe ini dengan hanya satu tipe saja.

    Dua kata kunci dari kedua tipe ini: Murah dan mudah; dalam segi biaya operasional dan perawatan.

    Su-35 dengan biaya operasional yang mungkin antara US$25,000 dan US$30,000 per jam (Rp300 - Rp500 juta) tidak akan memenuhi persyaratan itu. Setiap jam Su-35 beroperasi di udara, Indonesia sebetulnya bisa menerbangkan 5 Hawk 209 atau F-5E.

    Hanya ada satu pilihan yang memenuhi syarat dari tiga alternatif di atas: Gripen-E.
    SAAB juga satu-satunya yang sudah menawarkan 100% Tehnologi Transfer.

    Indonesia justru harus belajar dari pengalaman Brazil, Switzerland, dan Thailand. Sama seperti Indonesia, ketiganya sama-sama mencari F-5E mereka yang sudah semakin uzur.

    Ketiganya menolak alternatif pesawat tempur berat. Brazil mengugurkan Su-35 dan Typhoon di ronde pertama, Dassault Rafale di babak akhir. Thailand sempat berpikir untuk membeli Su-30 karena semua negara tetangganya memakai Flanker (India, Vietnam, China, Malaysia). Sedangkan Switzerland mengugurkan dua pilihan Eurocanard yang lain yang bermesin ganda: Typhoon dan Rafale.

    Ketiga angkatan udara ini juga bisa melirik pilihan Amerika, teapi juga menolaknya. Brazil menolak Super Hornet di babak akhir. Switzerland sudah mengoperasikan Hornet, tetapi tidak mengikutsertakan Super Hornet. Thailand dapat saja menambah F-16 lagi.

    Ini dikarenakan Amerika terkenal "pelit" dalam transfer tehnologi, dan satu kata lagi: "Source Code" - Software code untuk mengontrol sistem persenjataan modern di setiap pesawat tempur. Pembelian senjata dari Amerika, berarti kita tidak AKAN PERNAH mendapat Source Code dari mereka.

    Itu artinya F-16 Indonesia tidak akan pernah bisa menandingi F-16 Singapore, atau F18F Super Hornet Australia. Semua pembelian F-16 Indonesia hanya akan menjadi "anak bawang" dibandingkan negara2 tetangga "kesayangan" Amerika.

    BalasHapus
  2. Apakah Anda lupa kalau beberapa subsistem pada Gripen E dibuat oleh atau masih berbasis dari buatan AS? Bagaimana bisa Anda mengedepankan pelitnya AS soal transfer teknologi sementara Anda justru menawarkan sistem dengan subistem yang masih kuat pengaruh AS-nya? Contohnya mesin. Apakah Gripen E memakai mesin buatan Swedia sendiri? Gripen E memakai mesin General Electric F414 buatan AS. Pemakaiannya tentu tergantung dari “kebaikan” AS merestui penjualan suku cadangnya. Sehingga justru jika Indonesia memilih Gripen E, maka lagi-lagi Indonesia akan dijadikan “anak bawang” lagi seperti klaim Anda. Gripen E tidak akan meningkatkan daya gentar Indonesia di antara para tetangganya dan hanya akan jadi tertawaan. Jangan Anda bandingkan Thailand dan Indonesia, karena luas wilayah Indonesia jauh lebih luas dibanding Thailand. Thailand tak terlalu perlu penempur berjangkauan jauh. Indonesia justru SANGAT perlu. Jangan juga sebut2 soal Switzerland? Baca berita, dong! Rakyat Switzerland dalam referendum lalu menolak membeli Gripen E.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Anto,

      ## Sub-system paling penting di pesawat tempur adalah "Source Code" dan persenjataan. Ini adalah nomor satu yang PASTI dikontrol paman Sam, apalagi kalau kita membeli F-16.
      Saat ini memang dengan sudah rontoknya jaman Orde Baru, kemungkinannya kecil AS bisa kembali mem-embargo militer kita lagi, tetapi selama mereka tetap mengontrol kedua komponen di atas, F-16 kita tetap berada dalam kontrol mereka hampir sepenuhnya.

      ## Memang Gripen masih memakai komponen buatan AS, tetapi ini hanya akan mempengaruhi mesin F414G-nya saja. Indonesia bisa men-stock beberapa mesin F414G untuk spare part. Ini artinya pembelian 16 pesawat disertai 4 atau 6 mesin cadangan.

      Semua komponen lain yang lebih penting di Gripen-E, persenjataan, radar, software, dibuat di Eropa, yang biasanya tidak angot2an main embargo (kecuali Inggris).

      Pembelian Gripen-E tidak ada permasalahan yang sama. Embargo penggunaan mesin masih bisa dilingkari. Lihat, F-14A Tomcat masih bisa operasional di Iran (IRIAF).... Padahal mesin TF30 sudah tidak diproduksi lagi.

      Lagipula F414G adalah mesin yang sudah tergolong sangat reliable dan aman. Dan jangan lupa, kita sudah ditawarkan 100% Technology Transfer. Itu artinya kebanyakan kerusakan atau maintenance di F414 juga bisa kerjakan sendiri.

      ## Semasa embargo militer AS, paling tidak, kita juga masih bisa melihat kalau TNI-AU masih mampu mengoperasikan sekurang-kurangnya 2 pesawat F-16 yang dipersenjatai lengkap (Lihat Insiden Pulau Bawean).

      Berkaitan dengan Insiden Pulau Bawean diatas, kalau kita memakai F-16 Block 52ID, apa akan berbeda keadaannya? Tidak juga.
      F-18 Hornet Amerika pasti tetap akan mem-lock F-16 kita dengan lebih mudah. Ingat, Amerika bisa mendikte sejauh mana kemampuan F-16 di TNI-AU dengan mengontrol persenjataan, dan ratusan barisan software code.

      Hapus
    2. ## Tambahan untuk di atas:
      Paling tidak Software code untuk Gripen, pasti akan Indonesia pegang sendiri. Dan inilah yang terpenting.

      Hapus
    3. ## Referendum Switzerland;Anda harus bisa membedakan dua hal yang terpisah.

      Apa yang saya tuliskan adalah keputusan Angkatan Udara Switzerland untuk membeli Gripen-E. Keputusan ini didukung pemerintah dan industri pertahanan disana.

      Referandum rakyat tidak ada kaitannya dengan keputusan ini. Tipe demokrasi disana yang memang mengijinkan rakyat untuk melakukan referendum dalam bermacam isu tertentu. Ini kebetulan memang referendum ini dilakukan sayap kiri disana yang memang menentang pembelian semua jenis senjata. Kalau Swiss memilih jenis tipe yang lain, referendum ini akan tetap jalan....

      Jadi hal ini tidak ada hubungannya dengan keputusan Pemerintah dan Angkatan Udara Swiss untuk memilih Gripen-E berdasarkan kualitas, kemampuan, dan nilai ekonomis tinggi di kemudian hari.

      Nah, coba kalau Indonesia juga bisa referendum seperti di Swiss, kita juga harus melakukan referendum, bukankah kita juga menolak Pilkada lewat DPRD dan kembali ke Pilkada langsung?

      Itu contohnya.... :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. ## Terakhir, efek gentar Gripen-E.
    Untuk hal ini, saya sudah pernah tuliskan di defense-studies blog ini dan di-post-kan sebagai entry pd tgl 29-Sep-2014. Pelajari dahulu entry yang itu. Kalau tidak setuju, silahkan membuat analisa sendiri, cari fakta2 baru, dan baru menuliskan entry: "Kenapa Gripen-E tidak mempunyai efek gentar!"

    ## Anda memfavoritkan Su-35, bukan? Ada beberapa masalah dgn pilihan ini:

    Pertama, biaya untuk 30 tahun kedepan.
    Saat ini hanya ada 48 Su-35 yang sudah dipesan AU Russia. Pembelian Indonesia yang 16 pesawat, berarti kita bertanggung jawab dengan maintenance dan support untuk 25% jumlah yg ada di dunia ini.

    Biasanya biaya akuisisi pesawat tempur Barat hanya sekitar 25% dari biaya yang harus dikeluarkan negara. 75% lain adalah biaya maintenance, support, dan upgrade selama 30 tahun masa pakai pesawat tempur.

    Untuk kasus Su-35, saya rasa biaya akuisisi mungkin hanya 10% dari biaya keseluruhan yang harus dibayar Indonesia dalam 30 tahun ke depan.

    Ini karena industri militer Russia sendiri kurang bisa untuk men-support negara client-nya. Kita bisa melihat dari contoh Su-30 MKI milik India:

    http://www.defenseindustrydaily.com/india-ordering-modernizing-su-30mkis-05852/

    Kerap kali salah satu dari dua mesin AL-31FP di Su-30 MKI mereka bisa mati di udara, dan terpaksa mendarat dengan 1 mesin operasional.

    Masih mau mengambil resiko dengan mesin AL-41F1 yang sama sekali baru?

    Kedua, pertanyakanlah, apakah Su-27/30 yang kita miliki di Skuadron-11 sudah benar2 siap tempur?

    Sejak 2003, butuh 10 tahun untuk memperlengkapi 16 pesawat di Skuadron-11. Dan senjatanya sendiri barusan diterima di tahun 2012. Simulator untuk Flanker, Indonesia masih belum punya.

    Su-27/30 memakai sistem data network yang cukup modern, tipe TSK-2. Tapi kita juga tidak pernah mendengar pemakaiannya di Skuadron-11. Ini dikarenakan TSK-2 juga tidak compatible dengan sarana telekomunikasi radar / pesawat tempur lain yang dimiliki TNI-AU.

    Kenyataannya Indonesia belum cukup pengalaman menggunakan pesawat2 tempur Russia, atau memakai missile buatan Russia yang filosophy dan penggunannya sama sekali asing dibandingkan tehnologi Barat yang kita sudah terbiasa.

    Negara2 lain biasanya langsung membeli pesawat tempur dengan paket lengkap; jumlah 1 - 2 skuadron, peralatan training, persenjataan, dan perlengkapan lain.

    Contoh #1:
    Pakistan membeli 18 F-16 Block 52+ yang senilai US$5 miliar dalam 3 tahapan.
    http://www.defenseindustrydaily.com/51b-proposed-in-sales-upgrades-weapons-for-pakistans-f16s-02396/

    Contoh #2; Australia membeli 24 F18F Super Hornet dalam paket senilai US$10 milyar
    http://www.defenseindustrydaily.com/australia-to-buy-24-super-hornets-as-interim-gapfiller-to-jsf-02898/

    Ini bukan perlombaan siapa yang bisa keluar duit paling banyak, atau membeli senjata yang paling "wah"; tetapi siapa yang bisa membeli paket yang lengkap, spy senjata itu bisa dipakai dengan baik.

    Dengan sejarah Su-27/30 yang seperti tambal sulam sebegitu dibandingkan dua contoh di atas, apa menurut anda saat ini Su-27/30 memiliki efek gentar yang berarti?

    Apakah negara2 seperti Malaysia dan Singapura lebih menyegani kemampuan udara Indonesia?

    Apakah pembelian Su-35 akan meningkatkan kemampuan semua Flanker di Indonesia?

    Walaupun bentuknya mirip, Su-35 sama sekali berbeda dengan Su-27/30 yang sudah kita miliki. Airframe, computer, avionic, elektronik, mesin, dan spare part; semuanya sama sekali baru. Ini akan menyulitkan support, maintenance, dan biaya.

    Jangan salah, menurut saya, Su-35 adalah pesawat yang luar biasa bagus, KALAU kita bisa mahir memakainya.
    Indonesia harus terlebih dahulu meningkatkan kemampuan, training, infrastruktur, dan organisasi sistem pertahanan udara.
    Kita juga harus bisa belajar dan memilih -- sistem pertahanan Russia tidak compatible dengan buatan Barat yang mewarnai 95% sistem pertahanan udara kita.

    Bagaimana bisa mengintegrasi sistem buatan Russia ke dalam sistem yang sudah ada?
    Atau apakah Indonesia akan membentuk sistem pertahanan kita menurut sistem Russia?

    BalasHapus
  5. ## Klarifikasi tipe Gripen yg ditawarkan:

    Kaj Rosander, head of marketing and sales in Saab Asia Pacific dalam interview dengan IHS Jane; menkonfirmasi kalau tipe yang ditawarkan ke Indonesia adalah Gripen-E.

    Setahu saya juga produksi untuk Gripen-C juga sudah berakhir, karena Saab sudah berkonsentrasi ke development untuk Gripen-E.

    ## Info tambahan tentang mesin:
    Mesin F414G memang dipakai untuk test di Gripen NG 2-seater demonstrator, tetapi ada kemungkinan, mesin standar di Gripen-E akan memakai derivative dari Volvo RM12 -- Ini sebenarnya dibuat berdasarkan tipe GE F404 yang sudah diproduksi di Swedia under license; dan sudah dimodifikasi semaksimal mungkin untuk pengurangan RCS, maintenance yang lebih mudah, dan daya dorong lebih kuat. Kabarnya Swedia bisa memodifikasi RM12 agar mempunyai daya dorong yang sebanding dengan F414G.

    Hanya 50% komponen di Volvo RM12 masih di-source langsung dari GE; sisanya semua produksi Swedia dan dirakit disana.

    Dengan offer Technology Transfer 100%, sepertinya Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan kemungkinan embargo spare part urusan mesin dari paman Sam.

    ## Indonesia juga bisa menyewa Gripen-C/D dahulu sebelum Gripen-E selesai diproduksi

    Pemerintah Swedia sudah memutuskan kalau mereka akan memproduksi 60 - 80 Gripen-E baru untuk Angkatan Udara mereka, dan meralat keputusan mereka sebelumnya untuk meng-upgrade unit dari Gripen-C/D yang sekarang sudah operasional.

    Ini juga membuka kemungkinan, kalau Indonesia mengambil pembelian Gripen-E, kita bisa menyewa terlebih dahulu 16 pesawat Gripen-C ex-Swedia untuk melatih pilot kita ke Gripen System terlebih dahulu.

    Ini akan menjadi deal yang sangat menguntungkan, karena hanya dalam waktu 1 - 2 tahun, Skuadron-14 sudah bisa menguadara lagi dengan Gripen-C/D.

    Brazil kemungkinan juga akan mengambil langkah yang sama.

    BalasHapus
  6. bung grippen memang pilihan yang sangat bagus mengingat speknya yang pas dan harga murah tapi.... buat swedia..bukan buat indonesia!!! setelah saya lihat2 selama ini nato selalu menawarkan negara2 kelas 3(menurut politik barat yang didefinisikan sebagai negara yang masih bisa bergejolak menentang barat seperti philipine, thailand dan indonesia) mereka selalu gencar menawarkan rongsokan dengan tipe yang sama agar jika suatu saat bergejolak dapat dikalahkan dengan mudah karena persenjataanya adalah rongsokan yang spek nya saja sudah dibawah mayoritas negara barat..lihat super tucano, T 50 & F 16 dipake dan dibeli negara mana saja?? mereka tampaknya belajar banyak dari indonesia yang pada tahun 60 an sempat membuat nato& sekutunya kelabakan dan terpaksa melepas papua karena persenjataan kita yang garang (sayang kita masih lemah dalam politik dalam negeri sehingga mereka tinggal menyusupkan agen intelejen menciptakan isu sara agama dimana isu itu yang paling mudah di sulut di nkri dengan membenturkan komunis nasionalis dan agama sehingga terjadi gejolak dan akhirnya sukarno dapat digulingkan..sayang sekali) ada kalanya kita harus belajar dari sejarah pula jangan mengulangi kesalahan dari orde baru dan argentina yang ketika mereka akan merebut hak mereka yang dicaplok mereka dengan sangat mudah dihancurkan..tanya kenapa?? karena senjatanya rongsokan dari barat semua!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. @dadang sunara,

      Kalau anda masih khawatir dengan embargo militer, skrg kemungkinannya terjadi lagi spt tahun 1990-an sudah hampir tidak mungkin! Kenapa?

      Indonesia sudah menjadi negara yg demokratis, dan sudah tidak ada lagi propinsi Indonesia yg tidak diakui integrasinya di dunia internasional spt dahulu kala.

      ## Asal tahu saja, Swedia, negara pembuat SAAB Gripen, bukanlah anggota NATO, melainkan negara netral yg sama2 mencari kemandirian sistem pertahanan sendiri.

      ## Maaf, tapi pengalaman kita di tahun 1960-an itu tidak bisa dijadikan contoh yg baik utk ditiru.

      Tidak tahukah anda, kalau MiG-21 Indonesia itu hanya dipakai dari 1962 - 1969?

      Website TNI-AU memuat sejarah singkat ttg penggunaan MiG-21:
      http://tni-au.mil.id/pustaka/mig-21-fishbed-auri-benteng-indonesia-yang-ampuh

      Dengan kata lain, semua senjata buatan Soviet yg dibeli besar2an di tahun 1960-an itu semuanya hilang berantakan dalam kurang dari 10 tahun. Ini artinya, tidak seperti India dan Vietnam, Indonesia tetap saja kurang berpengalaman memakai senjata buatan Russia.

      Tambahan informasi lagi; 13 MiG-21 ex-Indonesia sebenarnya di-hibahkan ke US; sebagai gantinya kita mendapat F-5E Tiger II di tahun 1980. Apa Russia sudah melupakan kejadian ini?

      ## Memangnya juga Su-35S (ini favorit anda bukan?) sudah dipakai negara mana saja?
      Sekali lagi, tipe ini sama sekali baru dan belum benar2 teruji seperti Su-27, Su-30, dan Su-30MKI yg sudah mengumpulkan ratusan ribu jam terbang.

      ## Sekarang saja sudah banyak petinggi yg mulai resah dengan biaya operasional Flanker yg Rp 400 juta - Rp 500 juta per jam. Padahal pilot2 Indonesia memerlukan latihan sekurang2nya 150 - 170 jam terbang per tahun, utk menyamai standar jam terbang pilot Australia dan Singapore. Ini artinya, 16 Sukhoi Flanker saja akan menyedot biaya hampir Rp 1 Triliun per tahun untuk latihan.

      ## Utk pesawat tempur, Indonesia tidak benar2 punya banyak pilihan. Russia dan US sama saja dalam hal ini. US akan mengontrol apa yg kita BOLEH pakai, sedangkan buatan Russia tidak terjamin mutunya, dan tidak pernah tahan lama. Lihat saja MiG-29N Malaysia yg sudah akan dipensiunkan -- padahal baru beli di tahun 1995.

      Saatnya mengambil jalan tengah.

      Swedia adalah negara netral tanpa agenda politik (spt US); Gripen adalah produk yg sudah terbukti kualitas dan kemampuannya. Pembelian Gripen-NG akan bisa mendorong kemungkinan perakitan bisa dilakukan di Bandung; dan juga membuka kesempatan utk PT DI bekerja-sama dgn SAAB Swedia dan Embraer Brazil.

      Hapus
    2. ## Tambahan ttg efek gentar di tahun 1960-an

      Ingat juga, konteksnya operasi Trikora di tahun 1962 harus dilihat dari sudut politik internasional karena Perang Dingin di kala itu.

      Kita tidak bisa meng-klaim, karena AURI dipersenjatai luar biasa dikala itu, Belanda dan negara sekutu2nya "menjadi kelabakan", dan mundur.

      Ada 2 pemain yg lebih besar di belakang layar: Uni Soviet dan USA. Sementara pemerintah Soviet menghadiahi Indonesia dgn beraneka ragam senjata (dgn motivasi menarik Indonesia ke kubu Timur / Komunis), pemerintah US tentu saja mau menarik Indonesia ke pihak mereka, dan tidak mau Indonesia berubah menjadi komunis.

      Inilah yg mendorong US utk secara diplomatis menekan Belanda agar melepas Irian Barat ke dalam tangan PBB terlebih dahulu, dan akhirnya masuk ke NKRI.

      Lagipula di tahun 1960-an ini, (tanpa support dari US) publik di Belanda sudah agak segan utk melakukan perang kolonial lagi ribuan kilometer dari Amsterdam. Buat apa? Jaman juga sudah berubah. Pemikiran kolonial di negara2 Barat sudah berakhir.

      ## Jadi tidak ada motivasi baik dari US dan Belanda utk maju perang utk konflik di Irian Barat.

      Bandingkan dengan konfrontasi Malaysia bbrp tahun kemudian, dimana Inggris sudah bersiap utk menghadapi Indonesia di kala itu.

      ## Sedangkan Russia jaman skrg berbeda dgn Uni Soviet di tahun 1960-an. Tidak ada lagi motivasi politik dalam menjual senjata. Mereka hanyalah salah satu dr banyak penjual di dunia. Dan dewasa ini, sbg penjual, customer service mereka jg sudah termasyur jelek.

      ## Jadi apa yg sudah terjadi di tahun 1960-an, bukanlah sesuatu yg mungkin kita bisa ulangi lagi.

      Saat ini, apa yg harus di cari Indonesia adalah sistem pertahanan yg mandiri, yg lebih efektif dan memiliki daya gentar, karena sudah direncanakan dgn baik sesuai dngn kemampuan yg ada.

      ** SAAB Gripen E/F mempunyai kemampuan supercruise, dipersenjatai MBDA Meteor & IRIS-T; dgn biaya operasional lebih murah dari F-16, aerial networking yg plg modern di dunia, bisa dipangkalkan darurat di mana saja, dan memiliki sortie rate yg sangat tinggi -- hanya perlu 10 menit utk dipersenjatai dan diisi bahan bakarnya kembali setelah mengudara & mendarat.

      Technology Transfer dan kemampuan support SAAB sudah memiliki reputasi yg tinggi. Ini juga membuka kesempatan kerjasama yg lebih luas antara PT DI dgn SAAB dan Embraer -- tiga negara netral yg sama2 mencari kemandirian pertahanan.


      Apalagi kalau Gripen bisa dirakit sendiri di Bandung, kenapa tidak?
      (Jangan pernah mimpi bisa dapat deal sebaik ini dgn Su-35 atau F-16 Block-60+)

      Hapus
  7. Bung gripen bilang pengalaman 1960 tidak baik untuk di tiru? Anda tidak menghargai jalan hidup sebuah bangsa ini dimana harkat martabat sebuah bangsa di junjung tinggi, anda disini hanya mempromosikan produk yg anda miliki. Konsen pada produk anda saja jangan membuat suatu opini yg menyesatkan, terlepas indonesia mau pilih yg mana itu hak indonesia yg di wakili tni dan mentri pertahanan. Jika anda tidak mengetahui seperti apa kronologi cepat hilang nya senjata soviet di indonesia pada era tersebut lebih baik anda tidak membicarakan nya karna nanti malu sendiri atas wawasan nya yg kurang itu. Sudah jelas orde baru itu bentukan Amerika Serikat secara otomatis ssemua perlengkapan akan di ganti buatan amerika itu yg ada di orde baru, anda tidak mempelajari dalam seluk beluk bangsa ini. Memang ToT yg di tawarkan anda itu menjadi pertimbangan tapi bukan berarti anda berhak memaksa untuk membeli, jadilah promotor yg punya etika. Ini indonesia bukan swedia, saya disini tidak membicarakan yg mana pilihan yg harus di ambil Tni karna mereka sendiri yg lebih tau, orang awam hanya bisa memandang spek dan tampang pesawat aja. Tapi saya lihat komentar anda satu persatu sepertinya anda ini memandang rendah bangsa ini dalam kemampuan bermandi, memandang rendah jalan hidup bangsa ini. Ini yg tidak perlu anda keluarkan, karna produk yg anda tawarkan juga blm tentu yg terbaik "menurut tni" bukan menurut "umum dan anda sendiri" yg mau perang itu tni bukan komentator alutsista jadi lebih cermatlah dalam berbicara soal bangsa ini.

    BalasHapus