11 Oktober 2014

Jokowi Disebut Sudah Siap Beli 3 "Drone" Global Hawk dari Amerika

11 Oktober 2014

UAV RQ-4 Global Hawk (photo : USAF)

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden terpilih Joko Widodo dinilai telah memahami konsep pertahanan negara kuat yang harus diterapkan di negara maritim seperti Indonesia ini. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi wilayah laut dan udara Indonesia ialah dengan memiliki pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle-UAV) atau drone.

"Generasi perang mendatang dibutuhkan integrated power, beliau (Jokowi) sudah paham soal perlunya powerful defence," kata pengamat militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia: Dari Negara Kepulauan Menuju Negara Maritim di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Kamis (9/10/2014).

Connie mengaku, beberapa waktu lalu, ia sempat berbincang dengan Jokowi soal rencana pembelian pesawat drone tersebut. Kepada dirinya, Jokowi mengaku hendak membeli tiga unit drone sejenis Global Hawk, yang dibuat Amerika Serikat.

Ia menuturkan, harga satu unit drone tersebut terbilang cukup fantastis, mencapai Rp 4,3 triliun. Karena itu, dibutuhkan anggaran sebesar Rp 12 triliun sampai Rp 13 triliun untuk membeli ketiga drone tersebut.

"Harga itu tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh karena bisa melindungi potensi kerugian Rp 300 triliun atas aksi pencurian ikan dan sumber daya alam yang terjadi di negara kita," kata Connie menirukan pernyataan Jokowi.

(Kompas)

15 komentar:

  1. Saya berharap pak Jokowi terlebih dahulu melihat drone2 buatan putra-putri bangsa sebelum memutuskan membeli drone buatan luar negeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indonesia sama sekali BELUM PERNAH membuat drone yang military-grade. Memang sudah ada kemajuan untuk membuat drone2 yang sederhana, tetapi ini sama sekali berbeda dengan drone2 bertehnologi modern yang sudah ada di pasar.

      Bahkan negara2 Eropa Barat dan Russia yang dari segi industri pesawat terbang, elektronik, dan persenjataannya jauh lebih maju daripada Indonesiapun, belum ada satu juga negara yang bisa berhasil sebagai pembuat UAV (drone) kelas satu.

      Saat ini, semua negara dunia hanya bisa berpaling ke dua negara yang memproduksi military-grade UAV yang sudah teruji di medan tempur; Amerika dan Israel.

      Bukankah Indonesia baru saja membeli IAI Heron untuk dipangkalkan di Pontianak?

      Hapus
  2. Lantas karya putra putri indonesia mau di kemanakan?

    BalasHapus
  3. Na kan sotoy.... Konsultasi dulu sama tni dan dep pertahanan... Bukan konsultasi sama makelar....

    BalasHapus
  4. Ya itulah...pemborosan uang....kalau cuma untuk penamatan maritim uav dalam negeri bisa..mending buat beli pespur..su35...kacau ni negara....jokowi..jokowi.....jd takut saya gimana indonesia 5 tahun ke depan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga usah takut mas. jokowi bakalan pangkas tuh KORUPTOR2x jadinya Indonesia banyak pemasukan dan para pengemplang pajak dan tender2x ga jelas pasti dikikis abis

      Hapus
  5. nah loh ini baru drone!! mantap, kalo mau pake dron jangan tanggung2x. beli sekalian 20 biji.

    BalasHapus
  6. drone ini bisa langsung nenteng rudal makannya mahal. soalnya kalo ngelihat kapal nyuri ikan lebih baik langsung dirudal saja biar JERA sekalian. Itu maksud jokowi

    BalasHapus
  7. Maaf nyela dikit.....US TIDAK JUAL Global Hawk, bahkan ke negara sekutunya sekalipun.....buakakakakakkkkkkkkkkkk.......

    BalasHapus
  8. Oh ya satu lagi ttg drone karya Putra Putri Indonesia.....semasa kita belum bisa buat engine yg senyap.....karena ini drone utk militer....maka lupakan lah.....Drone lokal masih pakai Engine Aeromodelling dan aktual nya itu suaranya sangat berisik.....jarak 1-2 km kita sudah bisa lacak dimana ada "MESIN POTONG RUMPUT TERBANG" itu.....maaf saya panggil MPRT.....karena suaranya perrrssiiissss suara Mesin Potong Rumput nan berisik.....

    BalasHapus
  9. Global Hawk harganya lebih mahal daripada pesawat tempur. Infrastrukturnya juga lebih rumit, dan... memang benar, sepertinya Amerika tidak akan menjual Global Hawk ke Indonesia.

    Lagipula masalah lain dengan Global Hawk: proyek ini sudah terancam pembatalan.

    KALAU kita bisa membeli Global Hawk, berarti kita akan menanggung biaya support / maintenance yang luar biasa mahal di kemudian hari.

    BalasHapus
  10. Walah - walah kok ada ya yg membandingkan global hawk dgn drone nasional macam wulung......kan fungsi dan teknologinya beda banget.....global hawk jauh lebih besar dari F16 mgkn sebesar Sukhoi....sementara wulung cuma segede pesawat aeromodeling.......sama2 bermanfaat tapi beda banget

    BalasHapus
  11. Rp.4,3triliun seharga kapal selam kelas kilo dong..atau sebanding dg 7 su 35 bm...bisa kah industri dlm negri membuat drone super canggih dg budget yg luar biasa itu...??? kalo bisa ya ada baiknya tu anggaran jangan ampe keluar negri mending buatan dlm negri aja...itu juga kan uang rakyat toh

    BalasHapus
  12. indonesia emang perlu drone yang banyak klo bisa di setiap perbatasan di haruskan ada drone. negara kita kaya raya sda nya jadi wajar klo punya banyak drone.

    BalasHapus