10 Oktober 2014

TNI AU Perkuat Alutsista dan Perang Informasi

10 Oktober 2014


Pesawat Su-27/30 Flanker TNI AU (photo : Kaskus Militer)

Penguasaan informasi menjadi penekanan pertama sebelum melaksanakan operasi militer perang (OMP). Bagaimana kita akan melakukan suatu penyerangan terhadap kekuatan musuh kalau tidak menguasai informasi mengenai seberapa besar kekuatan musuh dan apa yang akan dilakukan musuh terhadap kita. Asisten Operasi KSAU Marsda TNI Sudipo Handoyo menjabarkan hal tersebut kepada Angkasa di kantornya bulan lalu. Menurut Sudipo, upaya penguasaan berbagai macam informasi tengah dan harus dilakukan TNI AU. Untuk mencapai taraf ini, TNI AU harus melengkapi beragam perangkat perang informasi yang dibutuhkan.

Dalam melaksanakan kampanye perang udara, seperti telah dilakukan dalam format latihan gabungan, TNI AU telah mengedepankan faktor perang informasi. Informasi kekuatan musuh dikumpulkan sebanyak-banyaknya dan kemudian digunakan sebagai dasar melaksanakan strategi penyerangan. “Jangan sampai kita berniat mau melakukan pengeboman terhadap kekuatan musuh di suatu pangkalan, ternyata musuh telah memindahkan alutsista dan kekuatan tempurnya lebih dulu,” ujarnya mencontohkan.


Menghancurkan musuh di basis kekuatannya sendiri, seringkali dianggap sebagai suatu tindakan agresi. “Pemahaman kita yang salah, yang akhirnya melahirkan opini bahwa kalau kita menyerang musuh di luar wilayah NKRI maka kita dianggap menjadi negara agresor. Padahal itu bukan agresi, sejatinya ini merupakan bagian dari suatu operasi perang udara,” tandas mantan Komandan Seskoau ini.

TNI AU lanjut Sudipo, memiliki doktrin operasi udara strategis, yaitu menghancurkan musuh di negaranya. “Kalaupun musuh masih lolos juga masuk ke wilayah udara kita, maka kita lawan dengan operasi lawan udara ofensif. Di situ para penerbang tempur kita berjibaku menghadang mereka,” paparnya. Kekuatan musuh yang berhasil masuk, akan memungkinkan terjadinya peperangan di laut dan daratan. Hal ini yang sering diskenariokan dalam latihan gabungan, dimana musuh dari suatu negara berhasil masuk menguasai beberapa wilayah NKRI, dan baru setelah itu dihancurkan melalui suatu operasi gabungan.

Jet Tanker

Mengenai penambahan alutsista, Asops KSAU menjelaskan. Sesuai rencana strategis yang dituangkan dalam Minimum Essential Force (MEF) tahap I (2009-2014), TNI AU saat ini tengah menunggu beberapa pesawat yang sudah dibeli namun belum datang semua. Di antaranya F-16C/D 52ID yang akan lengkap datang 24 unit tahun depan. Pesawat ini akan mengisi Skadron Udara 16 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru dan sebagian lagi mengisi Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi, Magetan. Fasilitas Skadron Udara 16 saat ini sudah lengkap, mulai dari shelter, hanggar, perkantoran hingga perumahan dinas. (Pada saat artikel ini diturunkan, Skadron Udara 16 rencananya akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir September 2014).

Selain Skadron Udara 16, TNI AU akan membangun Skadron Udara 33 di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar. Skadron ini akan diisi pesawat C-130H yang merupakan hibah dan beli dengan harga murah dari Australia. 

TNI AU juga akan membentuk Skadron Udara 27 di Lanud Halim Perdanakusuma untuk pesawat CN295 yang menggantikan Fokker 27. Saat ini tujuh CN295 dari PT DI sudah diserahkan kepada TNI AU dan akan terus ditambah hingga menjadi 16 unit.



Sementara Skadron Udara 2 yang saat ini menaungi CN295, tetap akan mengoperasikan CN235.

Rencana berikutnya, adalah pembentukan Skadron Udara 9 di Kalijati yang akan diisi helikopter Combat SAR EC725 Cougar. Tahun ini dijadwalkan empat Cougar akan tiba di Tanah Air. 

Ke depan TNI juga akan membentuk Skadron Udara 18 di Manado yang akan diisi pesawat intai taktis. "Mungkin sekelas CN235 atau CN295," ujar Sudipo Handoyo.

Sementara Skadron Udara 5 akan diisi pesawat intai strategis B737-200 Surveiller, namun perangkat pesawatnya akan ditingkatkan.

Pesawat lain yang masih ditunggu adalah EMB-314 Super Tucano dari Brasil yang baru datang empat unit dari pembelian 16 unit. 



Sementara pesawat latih Grob G120TP-A telah lengkap datang 18 unit berikut simulatornya dan akan ditambah lagi enam unit.

Kemudian Skadron Udara UAV telah siap di Lanud Supadio, Pontianak. Dua unit UAV yang dibeli dari luar negeri saat ini telah datang dan akan memulai latihan pengoperasiannya.

Rencana lain dalam waktu dekat adalah pembentukan Lanud Tipe C di Liku, Sambas, Kalimantan Barat. TNI AU telah mendapatkan tanah pemerintah daerah setempat seluas 100 hektar. "Seluas 60 hektar akan digunakan untuk apron, aerodrome, dan perkantoran. Sedangkan 40 hektar lagi untuk perumahan personel lanud," ujar Sudipo yang telah meninjau langsung daerah ini. Disebutkan, di Liku saat ini terdapat landasan pacu sepanjang 750 m dan akan diperpanjang menjadi 2.500 m sehingga dapat didarati pesawat C-130 maupun B737 series.

Pembentukan lanud baru juga akan dilaksanakan di Sorong atau Manokwari. Pertimbangannya, karena antara Morotai dan Biak tidak ada lanud penyangga. "Sorong juga akan menjadi balancing TNI AU dan TNI AL yang akan membangun komando armada maritim baru. Selain juga untuk mendukung kegiatan operasi di Papua Barat," papar Asops KSAU.

Memasuki tahun 2015 atau MEF II, TNI AU telah mencanangkan pengganti F-5E/F Tiger II. Pesawat apa yang akan dibeli, masih dibahas di Kementerian Pertahanan.



"Intinya, kami ingin yang terbaik di eranya. Tapi, apapun keputusan pemerintah, kami harus loyal," ujarnya. Saat ini beredar kabar Su-30 atau Su-35 yang akan dipilih. Pertimbangan dari sisi pemeliharaan dan operasi, TNI AU sudah familiar. Sementara untuk simulator Su-27/30 TNI AU merencanakan pembangunannya tahun ini di Makassar.

TNI AU juga akan mengganti pesawat Fokker F28 dan B737-400 dengan pesawat B737-700 BBJ. 

Berikutnya adalah rencana pembelian jet tanker. "Opsinya dua, KC-767 dari AS atau Il-78 dari Rusia. Jet tanker diperlukan untuk mendukung operasi jet tempur sehingga bisa beroperasi penuh di udara dari Sabang hingga Merauke."

Selain melengkapi armada penempur, TNI kini juga tengah menambah jumlah radar. Dari 32 radar yang dibutuhkan, saat ini sudah terpenuhi 23 radar. Selain pembentukan satuan radar, TNI AU juga menambah mobile radar sebagai gap filler seperti di Nunukan, Kalimantan Utara. 

Berbagai upaya peningkatan alutsista dan kemampuan ini, kata Sudipo, adalah untuk meningkatkan deterens. TNI AU yang kuat akan dapat menghadapi berbagai ancaman, baik perang konvensional maupun perang informasi.

(Angkasa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar