03 Januari 2014

US$ 45 Juta Disiapkan untuk Simulator Sukhoi

03 Januari 2014


Su-27 dan Su-30 milik TNI AU telah genap satu skadron (photo : Kaskus Militer)

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertahanan melanjutkan rencana pembelian simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Pagu anggaran yang ditetapkan, menurut Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Rachmad Lubis, sebesar US$ 45 juta atau sekitar Rp 540 miliar. ”Pagu tersebut hanya untuk satu unit simulator Sukhoi,” ujar Rachmad kepada Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

Ia mengatakan, Kementerian kini tengah memproses evaluasi dokumen penawaran simulator Sukhoi. Selanjutnya, pemaparan oleh peserta lelang. Rachmad enggan menyebutkan pihak-pihak yang sudah mengajukan penawaran ke Kementerian Pertahanan. Namun dia membenarkan jika PT Dirgantara Indonesia masuk sebagai penawar simulator Sukhoi dari dalam negeri.

Dari pemaparan setiap produsen simulator, dia melanjutkan, Kementerian akan menyeleksi dan menuangkan dalam daftar peringkat peserta lelang. Setelah itu dipilih beberapa produsen simulator berdasarkan urutan peringkat tertinggi. Tahapan selanjutnya, kata Rachmad, ”Akan ditinjau fasilitas produksi dari beberapa peserta yang paling potensial.”

Rachmad mengatakan, pertimbangan pihak Kementerian dalam penentuan pemenang adalah berdasarkan kemampuan produsen memproduksi simulator yang paling menyerupai kemampuan asli pesawat tempur Sukhoi. Pertimbangan lainnya, lama waktu pembuatan dan pengiriman serta jaminan purnajual. ”Termasuk alih teknologi apabila pemenangnya dari luar negeri,” ujar dia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengungkapkan rencana pemerintah membeli simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-27 dan SU-30. Kementerian Pertahanan tengah memilah produsen simulator Sukhoi tersebut. Soalnya, ada tiga negara yang bisa memproduksinya, yakni Rusia, Cina, dan Kazakstan.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, menyarankan pemerintah agar tidak membeli simulator pesawat tempur Sukhoi dari luar negeri. Ia mengatakan, misi utama simulator banyak berisi pelatihan-pelatihan menjalankan misi pesawat tempur, dan banyak yang bersifat universal. ”Di dalamnya adalah doktrin tempur TNI AU,” kata dia.

Menurut Andi, semua negara pengguna pesawat tempur Sukhoi memilih membuat sendiri simulator kemudinya, dengan pertimbangan untuk melindungi rahasia negaranya. Contohnya, kata dia, Cina dan Malaysia yang membuat sendiri simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia itu.

Adapun Rizal Dharma Putra, pengamat militer, menilai harga simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi yang akan dibeli pemerintah terlampau mahal. Menurut dia, jika pemerintah tetap membeli simulator berbiaya tinggi tersebut, harus diperhitungkan langkah jangka panjangnya. Sebab, pesawat tempur yang Indonesia punya bukan cuma Sukhoi. ”Indonesia punya pesawat tempur F-16, F-5 Tiger, dan pesawat tempur latih T-50 Golden Eagle,” kata Rizal saat dihubungi Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

Menurut Rizal, pemerintah terlalu membuang duit jika membeli satu jenis simulator pesawat tempur, sementara penggunaan pesawat tempur Indonesia berbagai jenis. Rizal melanjutkan, kepemilikan satu skuadron atau 16 pesawat Sukhoi SU-24 dan SU-30 Indonesia belum perlu untuk membeli simulator.

Jika nekat beli simulator Sukhoi, dia melanjutkan, pemerintah harus konsisten ketika membutuhkan penambahan pesawat tempur. Pemerintah mau tak mau harus membeli pesawat tempur jenis Sukhoi lagi.

Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan membantah jika dikatakan bahwa harga simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi itu kemahalan. Menurut Kementerian, pagu anggaran US$ 45 juta untuk satu unit simulator Sukhoi sudah sesuai harga pasaran. ”Simulator yang rumit, risiko tinggi dengan kecepatan supersonik, harganya pun hampir sama dengan pesawat asli,” kata Rachmad. Karena alasan itu, kata dia, pemerintah baru berani membeli simulator setelah pesawat tempur Sukhoi SU-27 dan SU-30 yang dimiliki TNI Angkatan Udara genap satu skuadron atau 16 unit.

(Tempo)

3 komentar:

  1. kenapa harus simulator sukhoi? itu karena biaya per jam sukhoi yg paling tinggi, sekitar 25000 dollar/jam atau 260 juta rupia per jam terbang. belum lagi usia pakai sukhoi yg pendek TBO--time between overhaulnya; setiap 1000 jam terbang harus overhaul, setiap 2000 jam harus ganti mesin. kalau nggak pakai simulator, maka jam terbang pilot sukhoi akan sgt terbatas, karena biaya operasionalnya yg sgt tinggi itu. bandngkan dgn f-16, yg biaya perjamnya 15000 dolar, serta TBO nya setiap 5000jam terbang dan tdk perlu ganti mesin.

    BalasHapus
  2. iya betul, indonesia juga katanya udah punya simulatornya f-16 knapa harus beli lg.. kata rizal terlalu membuang duit kalo beli 1 simulator untuk sukhoi aja lha terus suruh beli berapa.. masa pengamat militer ngomongnya kayak gitu.. lucu bin aneh.. yang jelas butuh ya simulator sukhoi karna biaya operasionalnya tinggi..

    BalasHapus
  3. Butuh penghasilan lebih? yuk bergabung bersama kami di Anapoker dan Agens128
    minimal deposit hanya 10rb dan proses yang kurang dari 3 menit!
    Kalian bisa juga melakukan transaksi deposit via pulsa loh
    tunggu apa lagi segera bergabung bersama kami dan nikmati promo menariknya !!

    Contact Kami :
    BBM : D8B84EE1 / AGENS128
    WhatsApp : 0852-2255-5128
    Line id : agens1288
    Telegram : AgenS128 / https://t.me/AgenS128
    Poker Deposit Pulsa
    Poker Pulsa
    Sabung Ayam Online
    link sbobet

    BalasHapus