12 Februari 2015

Seoul Forced to Re-Tender KFX Bidding

12 Februari 2015


KFX fighter aircarft (image : Korea Times)

Seoul has been forced to re-tender its bid for a developmental contract related to the country’s KFX fighter aircraft programme.

Since only one bidder, Korea Aerospace Industries (KAI), showed up to submit a bid on Monday 9 February, procurement laws have forced a retendering of the programme, says a report by state news agency Yonhap.

On 10 February, the country’s Defence Acquisition Procurement Agency (DAPA) posted the new tender for the KRW8.5 trillion ($8.3 billion) programme, which is to run from 2015 to 2025. The deadline for bidding has been pushed back to 24 February 2015.

The KFX is envisaged as a two-engined fighter that is more advanced than the Lockheed Martin F-16, but not up to the standard of types such as the F-35 Lightning II. It will replace obsolescent types in the Korean air force’s inventory, namely the McDonnell Douglas F-4 Phantom and Northrop F-5.

KAI would partner with Lockheed Martin on the project, in which the Indonesian government has a 20% share. Seoul is expected to order 120 examples of the KFX, and Indonesia 80.

Media reports indicate that the other likely bidder will be Korean Air through a partnership with Airbus Defence & Space. Although Airbus is primarily concerned with larger types such as the A400M tactical transport and A330 multi-role tanker transport (MRTT), it has a 46% shareholding in the Eurofighter Consortium.

The Eurofighter Typhoon was a failed bidder for Seoul’s F-X III competition, which was ultimately won by the F-35 in late 2013. The other failed bidder was Boeing’s F-15 Silent Eagle.

A hallmark of the intense – and often acrimonious - F-X III competition was the degree of industrial cooperation rival bidders were willing to offer in relation to KFX.

Both KAI and Korean Air have strong defence backgrounds, but KAI has more experience in developing and manufacturing fighter aircraft. Apart from collaborating with Lockheed to develop the T-50 family of trainer/light attack jets, it also produces the forward fuselage of the F-15, and has been involved in the manufacturing and re-manufacturing of other military types.

Korean Air, for its part, provides extensive MRO services for military aircraft at its Pusan facility.

In late 2014, Indonesia’s defence ministry said that Jakarta had signed an agreement with Seoul that set the stage for KFX to move into the “engineering and manufacturing phase” – the second of the programme’s three phases.

The statement said the first phase, which covered technology development, was completed in December 2012. The third and final phase of the programme covers the development of production capabilities.

(FlightGlobal)

3 komentar:

  1. bangsa lebih sennang di tipu asing itu indonesia ...proyek kfx akal akalan sudah makan biayaya jutaan dolar tehnologinya ga jellas kapan di mulai ,akibat terlalu proo kapitalis sampai lupa mana kerja sama bikin untung nkri atau hanya jadi keledai barat .

    BalasHapus
  2. Menurut peraturan Korea; harus ada 2 bidder untuk tender KF-X. Motivasi dari aturan ini saja sudah cukup aneh?!?

    Masalah utama: industri pesawat terbang utk SEMUA negara diluar US dan Russia, biasanya adalah industri pesawat terbang nasional. Sudah harus ada kejelasan dari awal, kalau industri pesawat nasional SUDAH PASTI akan menjadi pembuat utama dari setiap proyek pesawat.

    Negara-negara Eropa saja tidak se-BODOH Korea:

    Perancis tidak pernah mengajukan tender sewaktu akan membuat Mirage III, Mirage F1, Mirage-2000, dan akhirnya Rafale. Pembuatnya sudah PASTI harus Dassault.

    Di tahun 1980-an, negara-negara Eropa (UK, Italy, Jerman, dan Spanyol) sudah memutuskan dini hari, kalau membuat pespur baru itu terlalu mahal / beresiko tinggi sendirian. Keempat negara ini hanya perlu mempertimbangkan, apakah mereka akan melanjutkan impor pespur dari Amerika, atau bekerja sama membuat pesawat sendiri? Mereka memutuskan untuk membuat Eurofighter Typhoon.

    Tidak pernah ada tender yg dilakukan untuk memilih siapa yang akan membuat Typhoon!

    Sama spt negara Eropa lain, Swedia juga hanya menimbang, apakah akan import pespur dari Amerika, atau membuat sendiri. Mereka memilih membuat Gripen.

    Tidak pernah ada tender untuk menentukan siapa yg akan membuat Gripen! SAAB adalah satu2nya builder pespur untuk Swedia.

    Orang2 Korea ini mungkin seperti bermimpi, kalau industri pesawat negara mereka itu sebanding dengan Russia (yg mempunyai MiG dan Sukhoi), atau Amerika (Boeing, Lockheed, dan Northrop-Grumman). Perbedaan utama disini, industri pesawat US, Russia, dan negara2 Eropa sudah jauh lebih matang dan berpengalaman. Sedangkan Korean Aerospace -- masih "anak kemaren sore"!

    Sekali lagi ini hanyalah sandiwara politik yg tidak lucu dari Korea.

    Bahwa Korea masih mengajukan tender "gila" seperti ini hanyalah lampu kuning berikutnya kenapa Indonesia sebaiknya mengundurkan diri dari proyek yang tidak karuan seperti ini.

    Lagipula, kalau melihat proyek F-35 saja; pemerintah Amerika baru mengundang partnership SESUDAH Lockheed-Martin memenangkan kompetisi JSF, bukan SEBELUM.

    Kalau Korea bahkan belum dapat mengambil keputusan, siapa yg akan membuat KF-X, kenapa sudah sibuk mengundang partner?

    BalasHapus
  3. wah disini juga ada mas @Gripen-Indonesia, terkait kenapa ada dua tender ini sudah saya jelaskan dengan gamblang di perdebatan kita di blog AnalisisMiliter.com beberapa waktu lalu.

    jadi sebenarnya ga ada yang aneh mas, semua sudah terang kok. hanya saja kita harus sabar menunggu siapa yang menjadi pemenang tender kontraktor utama project KFX ini. karena ini berpengaruh besar terhadapp kelangsungan project pembuatan pesawat tempur ini kedepannya.

    kita doakan saja lah yang terbaik untuk Indonesia kedepannya.

    BalasHapus