25 April 2017

Thailand's Cabinet Approves US$393m Purchase of Chinese Submarines

25 April 2017


Royal Thai Navy aims to equip the naval fleet with three subs in 11 years, with the total price of 36 billion baht. (image : TAF)

[BANGKOK] Thailand's Cabinet has approved the first of three planned submarine purchases from China worth US$393 million, a government spokesman said on Monday.

The plan to buy the three Chinese-built submarines worth 36 billion baht (S$1.46 billion) was confirmed in July, signalling warming ties with the regional superpower since relations with the United States cooled after a May 2014 military coup.

The first submarine purchase was approved last week. "The Cabinet approved one submarine purchase on April 18,"spokesman Sansern Kaewkamnerd told Reuters, adding that a budget of 13.5 billion baht has been earmarked for the Yuan Class S26T submarine over a six-year period.

The media were not told about the purchase following a Cabinet meeting last week because it was a matter of national security, he added.


Public criticism and questions have arisen as to whether Thailand really needs new submarines. "In the current situation, where the government cannot successfully solve economic problems, buying expensive submarines is completely unnecessary," Watchara Petchthong, a politician with the Democrat Party, told Reuters.

Navy spokesman Admiral Jumpol Loompikanon said the Thai navy owned four Japanese submarines nearly 60 years ago, so new submarines were necessary to protect the country's maritime interests. "Thai people can rest assured that the navy's submarine spending will be worth it and beneficial to Thailand," Admiral Jumpol told Reuters.

Thailand's navy chief, Admiral Na Arreenich, will visit China soon to finalize the government-to-government purchase, a source at the defence ministry, who declined to be named because of the sensitivity of the matter, told Reuters.

Maritime security is a hot issue in Southeast Asia, given competing claims over the South China Sea, but Thailand is not a claimant in that dispute.

Thailand's defence budget this year is more than 210 billion baht, about 9 per cent more than the year the military took power.

(BusinessTimes)

23 komentar:

  1. malaysia & pinoy dah merapat ke china

    thailand dah menyusul

    indonesia on da way..

    BalasHapus
    Balasan
    1. No way , Malaysia merapat ke China setelah Najib tersinggung dengan AS . Langkah Malaysia yang disebut Perdana Menteri Najib Razak sebagai keputusan bersejarah ini muncul setelah hubungan Malaysia dan Amerika Serikat (AS) tegang Juli/2016 lalu ketika Departemen Kehakiman AS mengusik skandal dugaan korupsi lembaga keuangan Malaysia (1MDB).
      Dalam sebuah editorial yang diterbitkan di surat kabar China Daily. Najib mengkritik negara negara kolonialis dan negara besar yang memperlakukan negara kecil seenaknya .
      ”Ini termasuk mantan penguasa kolonial. Hal ini tidak berlaku bagi mereka untuk menguliahi negara yang pernah mereka eksploitasi tentang bagaimana mengurus urusan internal mereka sendiri hari ini,” kata Najib.
      Najib seperti tersadar betapa tidak enaknya minta perlindungan pada negara besar ,bahkan mereka merasa berhak ikut campur urusan dalam negri .

      Hapus
    2. tung tung tung, kebalik tong, negara baru luh tuch yg barusan nyusul haha!

      kita mah uda dari dolo keles: radar, mlrs, apc(WMZ-551)rudal anti kapal (c802-c705), manpad anti pesawat(QW-3)ciws 630/730, aa guns dll.
      kalo jd bentar lagi medium merad sistem .

      makanya punya negara jgn norak & muna, bilang engga taunya maumaumau haha!
      noh suruh britis nyusul aje dach haha!

      Hapus
    3. @Palu gada ,kita tidak merapat ke China.Indonesia berdiri ditengah dan tidak kemana-mana. Alasan pembelian senjata lebih bersifat prakmatis dan realistis sesuia dengan kebutuhan.
      Beda halnya dengan malaysia yang sekarang condong ke China karena alasan politik praktis ditandai dengan pembelian 4 kapal perang .Andai Najib tidak lagi terpilih nanti kebijakan ini bisa saja berubah karena tidka punya alasan yang logis ,lebih bersifat subjektif terhadap Najib sendiri .Dan saya yakin diam diam AS akan berusaha Najib tidak lagi terpilih di pilihan raya dalam waktu dekat ini .

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. emang engga kok secara politik, kita kan non-blok murni. tp yg disebrang ngaku non blok tp teken faiv pawa difens haha!

      konteks diatas ngomongin soal persenjataankan.
      guwe rasa tulisan guwe gak ada nyenggol2 politikan, jd gak perlu mlebar ke politiklah om.
      mknya guwe kasi contoh,kita uda deket uda lama soal senjata2 mah.

      oiya, itu reply khusus buat si anak kerokan om, bkn buwat om unknow. guwe malah gak tau ada reply si om nyelip haha!

      Hapus
    6. @palu gada

      siapa bilang "merapat" itu berarti membeli alat tempur??? ini bukan soal beli alat tempur bro..


      @unknow


      1MDB itu masih baru bro..masih hingusan.Agenda asean merapat ke china udah jauh lebih lama dari itu..

      cari ini..

      Link klang-kuantan port

      East Coast Rail Link(ECRL)

      malaysia-china industrial park,kuantan pahang


      Bercakap pasal china bukan berarti aku pro-china












      Hapus
    7. @palu gada ,merapat maksudnya condong ke China ditandai pembelian persenjataan . Saya cuma mau tegaskan kita tidak condong kemana-mana .

      Hapus
    8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    9. @anak peneroka ,sangat menarik 2 link yang anda bagi .Mantap .
      Indonesia juga membangun 3 pelabuhan Internasional ,satu sudah jadi 2 lagi menyusul .Singapure akan kekurangan income kalau proyek China di Malaysia berhasil . Ditambah pembangunan pelabuhan Indonesia ,singapure akan makin ditinggalkan sebagai tempat transit Internasional .

      http://www.thestar.com.my/news/nation/2017/01/15/china-projects-to-hit-singapore-the-giant-republics-aggressive-investments-in-ports-and-rail-links-i/

      Hapus
    10. "
      siapa bilang "merapat" itu berarti membeli alat tempur??? ini bukan soal beli alat tempur bro..
      "

      lha, kan guwe yg ngemenk ituuw om anak kerokan(gpp panggilannya kuubah yach soalnya lutu buatku haha!)


      guwe ulang lg yak, soalnye konteks brita diatas ngomongin soal persenjataankan. kalo klian lbh suka ngemenk politik berandai2, guwe skip aza dach,krn uda kutulis ituw soal nonblok kantri haha!

      awaas mrapattt rrrapattt blakang ... tarriiik truuss hey, blo em blo eemm haha!

      Hapus
    11. buat om unknow, iya guwe ngerti kok, cmn beda tafsiran soal kata mrapat rapaatt tareek teruss pirr haha!

      tapi tetep persenjataan kita lbh dulu mrapat ke rrc dan soal senjata gak ada hubungannya dgn politik, layaknya kita bli senjata dan upgrade teknologi dari isroil. apa kita condong kesana?tentu tidak kan haha!
      nach cara berpikir menanggapi soal rrc sich, guwe begitu aza, gak perlu repot2 ke ranah politik. kalo yg disebelah itu pada dasarnya muna, bilang engga tp pengen, tul kan om haha!
      kan enakan jd negara non blok murni bebas euyyyy!hidup om anti embalgo

      Hapus
  2. Indonesia merapat ke cina?
    Yang ada malah sebaliknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. @zaka

      dalam proses bos....yg pro US masih kuat

      apakah china akan berhasil ??? tungguuuuu

      Hapus
    2. Betul semua ingin merapat ke Indonesia .Dan kita harus tetap teguh berdiri ditengah sebagai penyeimbang . Karena posisi netralnya semua menghargai dan mengawasi apa yang dilakukan Indonesia.Makanya harus tetap netral mtapi aktif mempromosikan perdamaian dunia.

      Hapus
    3. Kita bukan netral, tapi bebas aktif, boleh tanya ke seluruh duta besar indonesia yg disebar, ga akan ada yg jawab kita netral. Analoginya, kalo kita netral, ngapain kita capek-capek mediasi china-asean? Ga ada hubungannya di kita... Jangan salah kaprah mas, arti bebas aktif itu bukan netral.

      Hapus
    4. @unknow

      netral??

      Pro china vs Pro US...ini yg sedang berjalan di indonesia sekarang bos..
      ya boleh di bilang situasi imbang lah..tapi proses masih berlangsung kan...


      Hapus
    5. @unknow

      indonesia adalah key player dlm asean..

      jadi indonesia akan jadi negara terakhir yg akan merapat ke china...

      makanya sekarang ini anda lihat indonesia diberi perhatian lebih oleh US..kerana US tak rela negara sumber utamanya di asean terlepas...

      tapi proses masih akan terus berjalan..

      yakin lah..pasti acara2 yg lebih besar akan menyusul di indonesia..

      demo tolak ahok itu baru mukodimah nya aja bro...

      Hapus
    6. @anak peneroka ,yang jelas kami punya undang -undang dan peraturan yang baku .Siapapun presidennya tidak bisa berbuat sesukanya . Indonesia karena sudah menghadapi bermacam situasi maka sudah matang dan jelas arahnya .Tak peduli siapa presidennya .
      Dulu Singapure meminta pada Habibie untuk bisa menyewa pulau-pulau sekitar singapure delam jangka panjang .Habibie tidak mengabulkan karena terbentur undang-undang ditambah dia sendiri tidak menyetujui sekalipun waktu itu Indonesia lagi kesulitan keuangan karena habis kena krisis ekonomi .

      Hapus
    7. @unknow

      mungkin Pak habibie lagi mikir timor leste waktu itu?? siapa tau..

      presiden tak perlu melanggar undang2 bro..cukup belenggu rakyatnya..klu itu sudah...undang2 sudah dalam tangan..





      Hapus
    8. Indonesia sudah matang sistem bernegaranya . Sama seperti AS ,siapapun presidennya tidak bisa membuat kebijakan sesuai seleranya .Contoh kebijakan imigrasi Trump bisa dibatalkan hakim federal .Di Indonesia juga bisa terjadi seperti itu ,kebijakan presiden bisa dibatalkan Mahkamah Konstitusi(MK) .Contohnya pengangkatan Jaksa Agung oleh SBY dibatalkan oleh MK,Pengangkatan mentri ESDM terancam dibatalkan MK ,jokowi buru-buru memperhentikan mentri untuk memperbaiki kesalahannya.
      Sistemnya sudah jalan dan matang . Any way ..senang diskusi dengan anda ,tapi saya harus keluar untuk urusan bisnis untuk sementara.Salam .

      Hapus
  3. Anak@ ente bilang merapat? Indikasinya apa?

    Merapat ke cina?tapi waktu ada kasus CG cina ama TNI AL malah presiden kita berdiri di depan kapal...kok bisa gitu

    BalasHapus