05 Juni 2011

Rusia Mundur dari Tender Kapal Selam RI

05 Juni 2011

Kapal selam produksi DSME Korea Type 209-1450 Mod yang dipamerkan dalam Indodefence 2010 (photo : Defense Studies)

Pembelian Kapal Selam TNI dalam Tahap Memilih Negara Produsen

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tim Evaluasi Pengadaan (TEP) Kementerian Pertahanan saat ini tengah menggodok rencana pembelian kapal selam untuk memperkuat armada TNI Angkatan Laut. Penggodokan sudah memasuki tahap memilih satu di antara tiga negara produsen yang telah mengajukan penawaran. "Tiga negara itu adalah Jerman, Prancis, dan Korea," kata Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Soeparno kepadaTempo, Minggu, 5 Juni 2011.

Sebelumnya, ada empat negara yang mengajukan penawaran kepada TNI. Namun, satu negara produsen, yakni Rusia, akhirnya mundur karena produk kapal selam yang ditawarkan tak sesuai dengan spesifikasi teknis yang dibutuhkan TNI AL. "Mereka menawarkan kapal selam besar," ujar Soeparno. Kapal selam yang dibutuhkan TNI AL, kata dia, tidak terlampau besar dan yang sesuai dengan kondisi perairan Indonesia.

Selain itu, pembelian kapal selam juga disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. "Kalau kapal selam besar, anggarannya tidak mencukupi," ujarnya. Sayangnya, Soeparno enggan menyebut berapa jumlah anggaran yang disiapkan untuk membeli kapal selam itu. Namun, menurut dia, rencana membeli kapal selam sudah dianggarkan sejak tahun 2005 lalu.

Sebelumnya, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Susilo mengatakan bahwa pada tahun ini pemerintah setidaknya akan membeli dua unit kapal selam. "Tahun ini kami harapkan bisa eksekusi," kata Susilo di kantornya, Jakarta, akhir Mei lalu.

Senada dengan Soeparno, Susilo mengatakan pembelian kapal selam disesuaikan dengan anggaran yang tersedia, mengingat mahalnya harga kapal selam. Ia mencontohkan kapal selam jenis Scorpene produk Prancis yang dibeli oleh negeri jiran, Malaysia, harganya mencapai 550 juta Euro atau lebih dari US$ 700 juta. Selain Prancis yang menawarkan Scorpene, Jerman menawarkan kapal selam jenis U-209 dan Korea Selatan menawarkan Chang Bogo.

Menurut Soeparno, TNI AL paling tidak membutuhkan sekurang-kurangnya enam buah kapal selam. Saat ini, TNI AL baru memiliki dua kapal selam, yakni KRI Cakra dan KRI Nanggala yang dimiliki sejak tahun 1980-an. Itu pun, KRI Cakra masih dalam perbaikan dan baru rampung Januari tahun depan. Untuk memenuhi jumlah miminal itu, "TNI AL butuh empat buah kapal selam lagi," katanya.

Namun, untuk dapat memenuhi jumlah ideal itu masih dibutuhkan waktu yang cukup lama. Pasalnya, setelah dipesan, proses pembuatan kapal selam butuh waktu bertahun-tahun. "Minimal tiga tahun," ujarnya.

7 komentar:

  1. BELI YG U 214 AIP AJA PAK BAGUS ITUUUU

    BalasHapus
  2. kayaknya bakal milih ginseng......tapi mdh2an U-214....bener2 tarik ulur,permainan tingkat tinggi....padahal Amur 950 n amur 1650 ukurannya kecil dibawah Kilo 636....very dissapointed

    BalasHapus
  3. Saya setuju pendapat Tenno kelas Amur lebih kecil. Sebenarnya kapal selam buatan Rusia lebih handal terutama kelas kilo termasuk kapal selam siluman yang ditaktutin karena noise kecil. Bandingkan buatan Jerman dan Korea terlalu berisik Diselnya. Mundurnya Rusia karena fee kurang, jangan kaget.
    Pernah ada kru kapal selam 209 bercerita kepada saya kalau naik kapal selam gantian dan karena terbatas suku cadang cuman bolak balik pulau seribu buat latihan pendaratan pasukan khusus.
    Pertanyan mengapa tidak memanfaatkan fasilias kredit export dari Rusia? Bisa dapat kapal selam bandel, canggih, handal dan siluman.
    Beli buatan Jerman nanti kena embargo dari Eropa (jerman masuk negara eropa ditekan untuk mengembargo Indonesia), beli dari korea tehnologi nanggung, beli dari perancis mahal dan harus bangun dermaga kapal selam.
    Kalau kapal selam Rusia Jenis Kilo type Lada dan Armur masuk jajaran TNI AL. Negara Malaysia dan Australia ketar ketir dan berpikir 1000 kali untuk memprovokasi Indonesia
    Semoga anggota DPR arif bijaksana dapat mempertanyakan ini ke Dephamkam dan TNI AL.

    BalasHapus
  4. semoga kebijakan ini lebih di pikirkan matang2!
    klo menurut saya TNI-AL seharusnya lebih memilih kilo class daripada jenis yang lain karena kapal ini memiliki kehandalan dan persenjataan yang canggih daripada harus membeli dari produsen yang lain karena saya setuju dengan pendapat bung Dodi tentang embargo dari negara eropa juga harus kita ketahui bahwa korea selatan juga merupakan sekutu as di asia selain jepang.hal ini sangat berpengaruh dan apabila kita membeli dari russia kita jauh hal yang namanya embargo karena kita dapat lihat dari d embargonya f-16 oleh as pada waktu itu

    BalasHapus
  5. Setuju.. dgn pendapat teman2...
    Kenapa alasan Pemerintah (Kemenkue) selalu anggaran yang mepet?? dan mengorbankan kecanggihan alutsista yg akan dibeli?? jika suatu saat terjadi lagi "gesekan" dg negara tetangga, baru koar-koar,"knp dulu g beli yg canggih y ??" Inilah Indonesia,.. hufffhh...
    Mestinya TNI AL harus lebih "ngeyel" donk! klo g canggih, mending g usah beli!! BRAVO TNI AL!!

    BalasHapus
  6. aku setuju dengan pendapat kalian, TNI AL harus ngeyel bila tidak beli KPL SELAM klass Kilo atau Amur tak usah beli. Aneh Petinggi Negeri ini ngak ada kapoknya udah di Embargo Negara Barat masih juga beli kalau kena lagi baru saling menyalahkan. susah yah cari yang LURUS .

    BalasHapus
  7. mengingat wilayah perairan kita yang luas harusnya kita memilih kapal selam yang mempunyai daya jelajah yang tinggi dengan teknologi yang canggih. mengingat doktrin pertahanan modern adalah menghancurkan musuh sebelum memasuki wilayah kita bila perlu masih di wilayahnya sendiri. jadi tidak nunggu musuh masuk baru kita hancurkan.jangan kelamaan dalam mengambil keputusan dan jangan terlalu banyak rapat. jalesviva jayamahe.

    BalasHapus