18 Februari 2017

Australia to Save 25% on JSF under New Trump Deal

18 Februari 2017

RAAF F-35A Lightning II JSF (photo : RAAF)

Minister for Defence Industry Christoper Pyne has confirmed a 25 per cent reduction in price of the Joint Strike Fighters (JSF) from 2014.

In address to Parliament, Minister Pyne confirmed he had spoken with the newly appointed US Secretary of Defense James Mattis about the cost reduction of the JSF program.

The new price agreement marks the first time that the unit price of these jets, which are being manufactured by prime contractor Lockheed Martin, is below US$100 million.

The previous order, which included 55 jets for the US and 35 for partners and Foreign Military Sale customers, was US$102 million per jet. The price now stands at around US$95 million per jet, a total reduction of US$7 million per jet.

"We [James Mattis and Christopher Pyne] talked about the fact that the price for lot 10 of the Joint Strike Fighter has been recently announced and has dropped below US$100 million for the first time," Minster Pyne said.

"For Australia this is hugely significant and represents a 25 per cent reduction from the price of the fighter in 2014, showing the program is on track in terms of delivery and efficiency."

The new agreement comes after US President Trump tweeted about the project on 12 December 2016, saying the spending was "out of control".

Lockheed said, "President Trump's personal involvement in the F-35 program accelerated the negotiations and sharpened our focus on driving down the price."

(Defence Connect)

26 komentar:

  1. Kita beli kalau udah banting harga aja deh 😅

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kokoh trump, kalu ambil lapan dikasih gak harga segitu ples telolet??

      kalu boleh, kira2 goyah gak kemhan kita yak haha! lama lama dech skaliyan, adu lama nunggu bareng kfx/ifx dpt telolet horelah

      hadeuu, ntar keknya ada geng embargo yg ngancem, bakar..bakar haha!

      Hapus
    2. Hla kan kfx juga bagian dari TOT korsel beli F-35 kan ?
      Kita enggak perlu ikutan beli noh malah, hehe

      Hapus
    3. @Palu Gada: Kita bahkan ga bakal dikasih beli kayanya walaupun mau dan punya duitnya. Yang dikasih beli cuma yang 100% sekutu US macam UK, Singapore, Israel, dll. UAE aja yang duitnya unlimited dicuekin US waktu mereka nanya boleh beli F-35 atau ngga.

      @Caan: KF-X kecipratan sedikit teknologinya F-35 tapi bukan yang inti macam AESA, IRST, dll.

      Hapus
    4. Kita terlalu muluk kalau minta teknologi kuncinya. Toh udah diajarin buat pespur dah bagus banget. Kita kalau jadi mereka juga enggak bakal gampang ngasih tot

      Hapus
    5. Well considering mereka udah keluar 1.5 trilyun dollar lebih buat F-35, ga heran sama sekali kalau mereka tolah transfer 4 teknologi itu. Rugi bandar kalau mereka kasih 4 teknologi itu ke Korsel dan Indonesia buat KF-X haha

      Hapus
    6. *tolak
      Nasib jari gede di keyboard hp.

      Hapus
    7. Nah kan, yang penting kita bisa buat pespur dulu

      Hapus
    8. guwe hanya berandai2 bung anonymous.
      betul, intinya mrk mau penuhi dulu smua kebutuhan patner joinan ini.
      mungkin gegara kanada batal beli 3 negara bisa masuk, macam korsel.

      faktor produksi jg dipikirken, krn hanya bbrp puluh pesawat pertahun dari target ganti ribuan f16+f18 amrik.

      mungkin dimasa depan nanti kita bisa punya, kayak dulu kita bisa pesan f16 setlah berumur 15taunan produksi. apapun bisa terjadi didunia mendatang, bukan tidak mungkin caina dan rusia pun bisa pesen haha!

      Hapus
  3. Trump is sharpening the teeth

    BalasHapus
    Balasan
    1. and everbody including Lockheed martin avoiding his two famous words, u fired! lol.

      btw do you know the differences between us secretary of defence and us minister of defence?

      Hapus
  4. Apa sih hebatnya F35?
    Kan teknologi radar anti siluman sudah ada.
    Dogfight sama ep nembelas ajah keok, sama rafale keok juga, apalagi sama SU35, jadi tak ada yang ditakuti dng mainan satu ini.
    Kalo hanya elektronik warefare yang diunggulkan ane rasa produk dari rusky masih bisa bersaing tentang kecanggihannya.
    Untuk itulah TNI berminat mengakuisisi pesawat aewcs dari indihe biar sukro ame falkon bisa halo halo.
    Berharap sukro35 segera teken kontrak & kita bisa tidur nyenyak... 😁
    Iki pendapate wong awam lho broo...😎 hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nope. Radar AESA/PESA bisa deteksi stealth? Ya. Tapi Su-35 bukan stealth dan F-35 stealth artinya di BVR Su-35 bakal tetap terdeteksi duluan sama F-35. Dengan teknologi misil anti air sekarang, F-35 menang mutlak di BVR.

      Apalagi F-35 punya sensor fusion. Artinya kalau F-35 terbang formasi, mereka bisa gantian nyalain radar supaya bisa deteksi konstan tapi tetap sulit dideteksi lawan. Kenapa penting? Karena begitu radar nyala, sestealth apapun pesawat, tetap gampang dideteksi lewat radiasi gelombang radarnya.

      Soal dogfight? Semua pilot yang udah uji coba F-35 versi A dan B setuju bahwa F-35 versi ini lebih lincah dari F-16 (salah satu pesawat terlincah di dunia) dan F-18 (low speed dogfight fighter terbaik USN). Artinya di dogfight, F-35 ga bakal segampang itu kalah. Contoh:
      https://theaviationist.com/2016/03/01/heres-what-ive-learned-so-far-dogfighting-in-the-f-35-a-jsf-pilot-first-hand-account/

      Di bidang elektronik ga ada pesawat ruski yang lebih canggih dari F-35 yang didesain dengan electronic warfare sebagai salah aatu fokus.

      Kalau pake AWACS, negara manapun yang punya pasti punya keunggulan karena radar AWACS berkali lipat lebih kuat dari radar fighter apapun. Tapi AWACS itu pasti priority target dimana-mana. Singapur dan Aussie punya AWACS dan lebih canggih dari AWACS indihe.

      Kalau F-35 sejelek yang anda bilang, ga mungkin semua negara yang ditawarin mau (negara-negara ini jauh lebih tajir dari Indonesia dan mereka pasti cuma peduli kualitas). Bahkan Arab Saudi dan UAE sampai tanya ke US boleh beli apa ngga dan dicuekin.

      Alasan yang mungkin kenapa F-35 ga cocok buat kita? 1. Kemahalan, kita ga ada duitnya. dan 2. Kita mungkin ga dikasih beli sama Amerika walaupun duitnya ada.

      Hapus
    2. Seriusan tanya apa sarkas om ?
      Baca di jkgr pasti, haha
      Kemakan iklan om.
      Saya persingkat deh penjelasan di atas,

      "Kagak mungkin f-16,F-15, su-30, su-35 dan semua pespur lain menang dengan gampang"

      Bnyak faktor, selain yg di jelasin diatas. Dibilang paling canggih bukan pepesan kosong, emang nyatanya begitu. F-35 itu bagaikan bawa markas komando kemana-mana, tapi enggak bisa kita apa-apain.

      Dogfight f-35 bakal kalah ? 😂
      F-35 terbang lurus juga bakal lock su-35 duluan.

      Rusia masih kalah jauh dari amerika kalau masalah elektronik.

      Hapus
    3. Saya kira terlalu naif membandingkan pesawat head to head. Konsep pertempuran tidak lagi satu lawan satu.
      SU-35,seperti keluarga sukhoi lainnya terkenal super manuver seperti pugachev kobra-nya yang terkenal. Pertanyannya, apa sempat melakukan macam-macam manuver dalam pertempuran.
      F-35 terkenal karena stealth dan kemampuan EW nya. Apa bener kemampuan EW nya efektif dengan sistem elektronik blok timur? Ada beberapa cerita tentang pesawat blok barat yang di lock duluan sama sistem elektronik blok timur.
      Stealth? Baru F22 yang diakui teknologi stealth terbaik. F-35 dalam latihan tempur lawan F-16 difungsikan sebagai pusat komando dengan F-22 sebagai penggebuknya. Dengan kroyokan begini, F-16 masih bisa menggebuk musuhnya dengan perbandingan 1:15. Artinya F-35 belum sepenuhnya stealth.
      Jangan lupa, teknologi terus berkembang. Yang hari ini stealth, besuk dah bisa terlacak. Dalam pertempuran, masih ada lagi arhanud yang harus dilewati pesawat tempur. Jadi bukan semata-mata head to head.
      Hari ini teknologi pesawat tempur, USA lebih unggul dari Rusia. F-22 sudah lama mengangkasa, Rusia belum selesai dengan riset PAK-FA. Namun kemungkinan pesawat tercanggih yang bisa dimiliki Indonesia saat ini adalah SU-35.

      Hapus
    4. Panji perlu diingat manuver ekstrim macam Pugachev Cobra di dogfight = bunuh diri. Kenapa? Pugachev cobra membuang hampir semua energi kinetik dari pesawat untuk mencapai manuver itu. Efeknya setelah manuver selesai, pesawat berubah jadi sitting duck dan rawan dihajar pesawat lawan. Manuver macam Pugachev Cobra bagus buat show off super manouverability tapi bukan suatu hal yang bakal dilakukan pilot manapun di dogfight.

      EW F-35 itu yang tercanggih di inventaris USA sekarang dan pesawat Rusia/Soviet dari dulu selalu kalah di avionik dan EW. Radarnya lebih bagus dari F-22 dan sensornya jauh lebih lengkap + punya sensor fusion. Plus dengan off boresight missile dan HMD super manuver bukan masalah karena ga ada pesawat dengan awak manusia yang lebih cepat dan lincah dari missile air to air.

      Kualitas stealthnya mungkin ga sebagus F-22 karena ulah USMC yang maksa harus dapet versi STOVL sehingga F-35 lebih tambun dari F-22 tapi teknologi materialnya pasti lebih bagus karena lebih baru. Dan walaupun lebih tambun F-35 tetap lincah dan punya angle of attack yang tinggi jadi moncongnya lebih mudah diarahkan.

      Urusan F-35 vs F-16. F-35 yang kalah itu bukan versi operasional dan ga ada F-22 yang terlibat. Itu benar-benar dogfight 1v1. Itu pun F-35nya masih tanpa cat radar absorbent dan dengan software yang membatasi manuverabilitas F-35. Software operasionalnya beda dan pasti dilengkapin cat radar absorbent. Hasil ujicoba terakhir pilot Denmark bilang bahwa F-35 lebih lincah dari F-16 dan F-18. Entah dengan software versi keberapa.

      Dan ga ada satupun pesawat di bumi ini yang benar-benar "stealth". Bahkan F-22 sekalipun. Istilah yang lebih cocok itu low observable yang berarti "hanya" jauh lebih sulit terdeteksi dibanding pesawat biasa. Stealth bukan berarti ga bisa dideteksi sama sekali.

      Urusan arhanud F-35 bisa dilengkapin missile anti radiation yang khusus buat menghajar SAM sites. Walaupun bukan solusi 100%.

      Su-35 pesawat yang canggih dan mungkin salah satu yang tercanggih yang bisa dibeli Indonesia sekarang. Tapi kalau dibanding F-35 yang bakal dimilikin Aussie dan Singapore, well, jelas kalah canggih dan kalah jumlah.

      Hapus
    5. Gara 2 indonesia akusisi su 35 ++ punya jangkuan radar electronic warfare 400km ..australia rada kurang percaya diri minta ke us air force f22 raptor segera buka pangkalan di australia . F35 sampai sekarang bellom siap tempur lamban dan canada pun menolak tawaran lockheed martin...lebih memilih f18 s hornet growel .

      Hapus
    6. 400 km untuk radar cross section sebesar 3m2 ke atas atau pesawat non stealth. Radar cross section F-35 itu 0.00143m2/segede bola golf. Artinya jarak efektifnya jauh berkali lipat dibawah 400 km.

      Canada ga mungkin ganti F-35 (multirole fighter) ke Growler (EW aircraft) tugasnya beda jauh oon. Kalaupun mereka beli Growler itu habya untuk pelengkap sekaligus stopgap sampai F-35 siap. Aussie juga terakhir udah memuji performa versi terakhir F-35. Tunggu aja sampai versi operasionalnya keluar.

      F-35 jelas lama proyeknya. Itu pesawat paling kompleks dan canggih sejagat dengan jutaan baris code program C buat softwarenya, sedangkan programmer profesional paling bisa tulis 100 baris code/hari dan belum kalau ada bug/error. Jelas lama. Dikira bikin pesawat sekarang kaya di perang dunia 1 kali ya, tinggal rakit. Idiot bener dah.

      Hapus
    7. Udah deh, sama-sama enggak pernah lihat juga 😁
      Intinya f-35 pesawat terbaik bukan omong kosong.

      Hapus
    8. @20.05 : Boleh puja pujaa jadi probaganda barat tapi jangan ke baplasan gitu loh mirip orang kesurupan haha untung jauh dekat tak siraam ama air beras ....soal ausi minta gabungan tentara america buka pangkalan di austalia sudah terbukti dan f22 raptor sudah mendarat di tindal northern territory itu karna efek ketakutan ausi indonesia belli jet tempur su 35++ .

      Hapus
    9. Kagaklah tong, amrik geser pasukan gare2 pilipin ngundang ngundang caina buat nguber abu gosok tuch di selatan pilipin.

      program pangkalan uda dari dulu jaman anak menteng berkwasa di amrik. kemana aja sich si om, sibuk mejenk di monas yach haha!

      eh itu tengtara kita lagi ketemuan sm tengtara amrik, dapat bisikan blekhauk siyap dikirim asal duitnya setor dulu haha!
      jadi ingat kata ksad yg dolo..ruski gak dech(no more ruski)

      tapi guwe tetep yakun loh om, yakun strong!

      Hapus
  5. Sebagai tambahan....

    General Dynamics divisi pesawat tempur yang mendesain dan memproduksi F-16 Fighting Falcon, diakuisisi oleh Lockheed Martin.

    T-50 Golden Eagle buatan KAI yang mengambil sebagian basis F-16 itu juga bekerja sama dengan Lockheed Martin sebagai empunya F-16 Fighting Falcon.

    Lockheed Martin adalah produsen F-117A Nighthawk sebagail salah satu pesawat stealth pertama yang operasional.

    Lockheed Martin adalah pendesain dan produsen F-22 Raptor. Di mana desain F-22 juga mengakomodasi desain F-16 (misalnya kelincahan dan canopy ).

    Kemudian, Lockheed Martin adalah pendesain dan produsen F-35 Lightning II. Tentunya di dalam F-35 ini ada unsur desain dari F-16, F-22, F-117 dll ya tentu saja sebagai desain terbaru maka akan mengambil seluruh keunggulan desain sebelumnya.

    BalasHapus
  6. Sejak berhasilnya F-16 menggunakan sistem Fly-by-wire, pesawat tempur sesudahnya juga berbondong-bondong menggunakan sistem Fly-by-wire.

    Sistem Fly-by-wire itu adalah memberikan sistem komputer di tengah-tengah antara pilot dan sistem aerodinamika pesawat.

    Jadi pilot itu sebenarnya adalah memerintahkan sistem untuk menerbangkan pesawat. Jadi pilot tidak langsung mengendalikan pesawat.

    Inti dari sistem adalah hardware dan software.

    Jadi kalau software belum disesuaikan atau di tingkatkan maka pilot juga akan terbatasi oleh software ini.

    BalasHapus