07 Februari 2017

Pengembangan Jet Tempur KFX/IFX Tunggu Lisensi AS

07 Februari 2017


Pesawat tempur KFX/IFX (image : Aviation)

Indonesia-Korsel siap buat jet tempur, tunggu lisensi AS

Jakarta (ANTARA News) - Kerja sama pembuatan jet tempur KF-X/IF-X antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan masih harus menunggu persetujuan lisensi dari Amerika Serikat, kata Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir. 

"Joint development untuk pesawat ini ada beberapa pending, terutama soal lisensi dari AS. Bukan penundaan kerja sama tetapi kita minta AS sebagai negara yang memiliki lisensi, dia harus memberikan izin dulu," ujar Wamenlu Fachir di Jakarta, Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan Wamenlu RI usai pertemuan pertama Dialog Strategis Kerja sama Tingkat Tinggi (HWLSD) Indonesia-Korsel di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI. 

KF-X / IF-X adalah program Korea Selatan dan Indonesia untuk mengembangkan pesawat tempur multiperan canggih untuk angkatan udara kedua negara.

Namun, Fachir menyebutkan kerja sama pembuatan pesawat tempur KF-X/IF-X itu masih terhambat masalah izin lisensi dari Amerika Serikat.

"Untuk persetujuan lisensi dari AS, tahun kemarin delegasi dari Kementerian Pertahanan RI sudah ke AS. Ada baiknya kali ini kita, Indonesia dan Korsel, sama-sama. Ini kan untuk keberlangsungan proyek ini," ujar dia. 

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan bahwa Indonesia akan mengandalkan pertahanan udara kepada pesawat tempur KF-X/IF-X buatan bersama dengan Korea Selatan pada lima tahun mendatang.

Indonesia dan Korea Selatan pada Januari 2016 menandatangani perjanjian senilai 1,3 miliar dolar AS untuk pengembangan jet tempur baru.

Berdasarkan atas perjanjian itu, yang ditandatangani dengan Korea Aerospace Industries (KAI), Kementerian Pertahanan Indonesia akan menanam sekitar 1,6 triliun won (sekitar Rp13 triliun) dalam program Korea - Indonesia Fighter Experimental (KFX/IFX). 

(Antara)

23 komentar:

  1. Wow! I hope this project will be successful. This is a first of its kind, joint development of a fighter jet by a southeast Asian country.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. semua. kalo separo mana jadi

      Hapus
  3. mengapa pesawat ini perlu license dr amerika?..jika benar,pesawat ini juga blh diembargo oleh amerika

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua pesawat bisa diembargo. minimal kalo assembly lokal msh ada keuntungan daripada full beli. tidak ada ilmu yang gratis tanpa usaha dan pengorbanan.

      Hapus
  4. Engine..avionics..EWS...DASS...all from US...

    BalasHapus
    Balasan
    1. andai benar semua komponen utama dan sub-system diambil dari amerika,apa inovasi korsel dalam proyek kfx ini??

      Hapus
    2. the aesa radar,aircraft design,cockpit and composite materials are from the korean.

      Hapus
    3. the main challenge would be developing AESA..even Russia still struggle with this technology and rely mostly on PESA!

      USA have many types of AESA but refused to transfer such technology to Korea. The viale and faster solution would be to acquire its from European radar makers.

      Hapus
    4. Ofcourse they refused. They've spent 1,45 trillion dollars on the F-35 project (the AESA radar S. Korea wanted is from this project as they've bought F-35s themselves).

      This AESA radar is supposedly THE best AESA radar the US has ever made, presumable costing them millions if not billions of dollars and naturally a top secret tech. It's only natural they refused to give it to SK and Indonesia.

      The latest news is that S. Korea is developing their own AESA for the KFX/IFX program with european assistance (Hanwa Thales) due for 2026. Assuming the project is supposed to be done in 2025, the first gen of KFX/IFX might not have this indigenous AESA. But only the scientists developing the fighter would really know.

      Hapus
  5. Karena apa yg dilakukan Indonesia (PT.DI) selama ini hanya merakit/assembling saja, jd jgn terlalu bangga.. Apalagi berita tentang industri dirgantara Indonesia selalu diblow up media yg membius kita seolah2 kita sudah benar2 mandiri/nggak bakal bisa diembargo. Inti sebenarnya kita belum bisa bikin sendiri

    BalasHapus
  6. Booommm.....
    This project is very sensitive so need extra effort to realize.

    BalasHapus
  7. Indonesia dan Korsel harus meminta lisensi dari AS, karena direncanakan pesawat tempur KFX/IFX akan memakai 4 komponen utama teknologi jet tempur yang dimiliki Negeri Paman Sam, yaitu electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer.

    Dari warung sebelah (liputan 6)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 4 main component itu udah ditolak. Korsel akhirnya kembangin sendiri 4 teknologi itu dan sekarang kalau ga salah tinggal radar AESA. Kemungkinan lisensi ini buat teknologi-teknologi lainnya yang diperoleh Korsel setelah beli F-35.

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lagi bagus kiranya dana 13triliun Rp itu diguna biaya proyek pakfa atau beli aja pesawat gen-5..emang pesawat rusky setanding ama blok western.

      Hapus
    2. Terus sampai kapan mau beli tok? Uang yang dikeluarin Indonesia masih 1/1000 biaya Amerika bust proyek F-35 mereka dan waktu yang udah dipakai baru 7 tahun dibanding 24 tahun proyek F-35.

      Sabar sedikit. Lebih baik nunggu dan dapat pengetahuan jadi kita bisa develop fighter jet sendiri kedepannya. Daripada habisin uang dengan jumlah yang sama tapi mentok jadi buyer doang.

      Hapus
  9. Berkaca ke jet bekas f16 di bungkus hibah sampai sekarang gak kelar kelar apa lagi bikin jet tempur baru semua perang utama harus se ijin america ...Dahh capek dahh pesawat tempur nya gak bakal kelar kelar om .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cung ga usah bawel. Kalau ga nunggu izin Amerika bakal makan waktu dan uang lebih banyak lagi.

      Dikira ngembangin pesawat tempur stealth murah? Indonesia baru keluar uang kurang lebih 1,5 miliar dollar dan waktu 7 tahun buat KFX/IFX. Amerika udah keluarin uang 1,45 triliun dollar (1000x biaya Indonesia), makan waktu 24 tahun sampai sekarang, dan belum selesai. Itupun dengan pengalaman luar biasa banyak dari program F-22 yang Indonesia dan Korsel ga punya.

      Sekarang proyek KFX/IFX mau pakai teknologi-teknologi yang udah dikembangin Amerika dengan biaya dan waktu yang sangat besar supaya proyeknya lebih cepat selesai dan lebih murah dan banyak teknologi di bidang itu sifatnya top secret. YA JELAS AMERIKA ENGGAN BANTU DAN MAU LISENSI DAN LAIN-LAIN.

      Masih untung cuma disuruh nunggu izin lisensi dan bukan kembangin sendiri dari 0. Harusnya at least bisa sabar sedikit lah. Tolol banget dah Muarif.

      Hapus
    2. Ya maklumlaah mas, rata2 yg komen pengaggum Bumi datar, emang dia kira seperti Rusia, China, atau swedia (eropa) mau dgn mudah membagi teknologinya.....Indonesia sudah di trek yg benar.

      Hapus
    3. Bellom embargo nya ...bisa 2 mirip turki proyek mbt tank altay bersama austria di embargo .mangkrak .

      Hapus
    4. waks bumi datar??? itu artinya sekolah dasarnya si om embalgo, zaman viking nyerbu inggris kali yak haha!

      Hapus