11 Februari 2017

Murky AW101 Delivery Perplexes Indonesian Defence Officials

11 Februari 2017


AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 09 February 2017, at Halim AFB Jakarta - Indonesia (photo : Inilah)

Jakarta will launch an investigation into the delivery of a Leonardo Helicopters AgustaWestland AW101 VIP helicopter, part of a deal that was apparently cancelled.

Flight Fleets Analyzer shows that the Indonesian air force ordered three AW101’s in a VIP configuration on 24 November 2015.


AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 19 January 2017, without TNI-AU's logo, in Yeovil - England (photo : Rich Pittman)

So far, only one of the helicopters, MSN 50248, is shown as having being delivered. This aircraft had previously been destined for the Indian Air Force as part of a 12 aircraft deal, but this was scuppered in 2014 by allegations of corruption around the Indian procurement. It was delivered to the Indonesian air force on 15 January 2017.


AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 19 December 2016, with TNI-AU's logo, in Yeovil - England (photo : Rich Pittman)

The Indonesian delivery supposedly took place despite a presidential decision in late 2015 to cancel the requirement.


AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 13 Januari 2015, in VIP configuration with AgustaWestland logo, Ground run at Newquay Cornwall airport, South West England - England (photo : Pete M)

Indonesian president Joko Widowo reportedly favours the Airbus Helicopters H225, for which Indonesian Aerospace (IAe) produces the upper and lower fuselage. IAe also conducts MRO work for Airbus Helicopters rotorcraft operated in the country.


AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 14 September 2014, in VIP configuration with AgustaWestland logo, during NATO summit in Wales - England (photo : AgustaWestland)

The precise whereabouts of 50248 are unclear. State news agency Antara says that the aircraft has been delivered to Halim air base outside of Jakarta, although FlightGlobal was unable to confirm this.

AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 20 August 2013, in VIP configuration without Indian Air Force's logo, at Newquay Cornwall airport, South West England (photo : Chris England)


In TV interviews, Indonesian defence officials have expressed dismay about the delivery. The air force chief of staff says the order was placed by his predecessor, and adds that the aircraft has, in fact, not been handed over. An investigation will be made into the purchase.

The country’s armed force’s chief says that he was not aware of the order in the first place. The defence minister, meanwhile, says that the finance ministry has paid for the aircraft.


AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 15 May 2013, in VIP configuration with Indian Air Force's logo, at Newquay Cornwall airport, South West England (photo : Chris England)


FlightGlobal requested comment from the manufacturer, but had yet to receive a response at publishing time.

AW101 Mk.641 registration ZR343 construction number MSN 50248, 04 January 2013 (photo : Rick Ingham)

Flight Fleets Analyzer shows that Jakarta’s rotary-winged VIP fleet comprises three assets: an H225M that is less than one year old, and a Bo105 that is 30 years old. It also has an 15 year old AS332 in storage.

(FlightGlobal)

42 komentar:

  1. Jangan-jangan dibayari pake duitnya "dimas kanjeng"...

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Enghhh...barang bekas juga!!!

    Kalo gitu tempo hari ada yang bohong kayaknya:

    Yang satu (suara perempuan, intonasinya berat, dg nada tinggi):"Memang spesifikasi heli yang kita beli sama dengan spesifikasi india?!!!"

    Satunya lagi (suara bapak2): "Heli yang kita pesan ini adalah heli baru...saya sendiri yang memerintahkan untuk mengawasi pengerjaannya selama 3 shift"

    Aduuuuh...siapa ya mereka ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau enggak salah rencana mau beli 9. Yang 3 ngambil dari order dari india yang dibatalin (tetep aja namanya baru)
      Sisanya mungkin emang bener2 baru

      Hapus
    2. Yang "mungkin" biarlah tetap menjadi misteri, tapi seperti yang diungkapkan dalam artikel ini, seperti yang sering om bilang, adalah "pembohongan publik" ketika mengatakan yang dibeli heli varian sar+ab tapi ternyata yang datang sosoknya adalah platform heli VVIP

      Hapus
    3. Yg dapet komisi dari ini beli enak banget ini hehehe

      Hapus
    4. Ternyata bekas vvip NATO.
      Berarti yang baru catnya....

      Hapus
    5. @caan

      Soal "baru-bekas" tampaknya om caan tidak nangkep maksud kita (21.08)

      Heli kepresidenan+ec-725 csar aja "belum" dilengkapi dg defense suites...lha kok ini ada heli (sar+angkut berat) yang berdasar skala aancamannya dibawah 2 heli tsb malah datang lengkap dg defense suites?

      Idenya siapa ini....ya jelas "bekas" idenya india

      Hapus
    6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Pembelian alutsista dari saman orba yg harus di benahi system tidak jalan karna buruk nya management . Ada peraturan permenhan 2015 harus di revisi tni harus di ikutkan pegang buku harian belli senjata harga berapa dan kualitas senjata mau di belli bagus tidaknya hanya tni yg tahu bukan makelar om ...dana pertahanan indonesia pertahun $$$ puluhan milyar us dolar lumayan jumbo untuk ukuran negara asia .

    BalasHapus
    Balasan
    1. onde mande...mager disni rupanyo si om anti embalgo haha!

      masih ngemengin permenhan 2015 rupanyo. haiyah, makanya jangan kaburrr dari lapak sebelah woy!

      lapak sebelah: https://defense-studies.blogspot.com/2017/02/ini-penampakan-heli-agustawestland-101.html?showComment=1486977893696#c5625248275208170030

      Hapus
    2. itu permen uda bner, kan dari dulu jg begetoh ujar opah rr. Kalo smuanya dikasih ke panglima tni, kan kasihan pe ernya super banyak banyak bayangken 3 angkatan ntar diurus dari pakaian, sepatu bot sampe senjatanya, kan repot, jadi cukup mengetahui saja seharusnya.

      karena seorang panglima dimana2 tugas utamannya itu bertempur!
      tugas2 penyedia alusista ini domain kementrian pertahanan dengan berkoordinasi bersama level kastaff ad, au, al

      Lihat ini youtube:https://www.youtube.com/watch?v=1lPwCTPXOAo
      Cek dimenit 4:35, TB hassanudin mengatakan, ada perbedaan fungsi & wewenang antara panglima tni dan menhan, sesuai uu pertahanan,

      panglima tni sebagai pengguna kekuatan sementara kementrian pertahanan sebagai penyedia kekuatan termasuk dalam proses pengadaannya termasuk penganggaran. Itu jelas ada dalam UU pertahanan pasal 16 ayat 6

      bunyinya cari disini link:http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_3_02.htm

      dan tugas seorang panglima tni tertulis jelas dalam pasal 18 terdiri dari 4 pasal. Disitu guwe baca, gak ada urusan ttg penganggaran.

      Dan uu ini lbh tinggi dari permen2 tadi. Sperti yg dikatakan pak JK harus mengacu UU yg lbh tinggi utk mengetahui yg mana yg bner

      Nah setelah membaca smua ini, Buat si om embalgo silakan baca, yang lama, dimengerti terus diliat, renungi, trus ngaca, kira2..keren gak mukenye haha!

      Hapus
    3. Mnurut guwe, salahkan ke media, yg nanya mlulu ke panglima tni, harusnya kan media bertanya ke dpr komisi 1, kstaf au ato menhan soal alutsista bginian, jalurnya jelas. Kan kasian panglima dibenturkan mlulu ama menhan.

      makanya sejak semua alutsista terpusat di dephan sebagai bagian purchasing. kalo ada barang yg tiba2 datang dpt dipastikan itu bukan melalui jalur dephan tong!

      Om antiembalgo silakan reply balik, kalo ga ada bukti entar ente dijemput maut lho..haha!
      Jgn tatut duyu itu supirnya namanya ma’ut kok nama pendek, nama panjangnya ma’utauajelokh haha!

      Hapus
    4. sori pemirsa yang atas repos,
      ini yg baru:buat om anti embalgo serta ekstremis kayak yg bekoar dibawah ntu haha!

      Hapus
    5. Om antiembalgo, mana nich jawabannya!
      Masih krng mengerti bisa menanyakan lagi kuo? Gak ngertinya dimana nich?

      Kok jadi diem lagi asik main kapsul selam ajaib yach haha!
      Begini supaya lebih gampang, kan diatas uda ade

      Peraturan menhan no.28 tahun 2015 itu dibuat sebenernya untuk memperkuat Undang –undang Pertahanan No 3 tahun 2002 pasal 16 ayat 6 tentang kementrian Pertahanan dan pasal 18 tentang tugas panglima TNI.

      Dimana uu pertahanan yang tanda tangan adalah Panglima Tertinggi Republik Indonesia dalam hal ini, President RI.

      Hapus
    6. Nach tinggi mana UU pertahanan sm Permenhan! Coba difikirkan bae2 buat si om dan formiler bahkan media tipi, cetak maopun rediyo.
      Om antiembalgo harus jawab ini segra, kalo engga guwe bakal tatar si om sampe kemanapun jg. Karena bahaya ini kalo si om kemana2 nge hoaks tapi sumbernya salah ato dungdung! Maka dari itu bisa dianggap subversif dan kata bang aji, sungguh TERLALUH!!!

      Hapus
    7. Tinggal jawab om, tinggi manaUU ato permen!
      Hukumannya bisa di godem seumur idup lho Haha!

      Ini link Undang –undang Pertahanan No 3 tahun 2002 pasal 16 ayat 6 tentang kementrian Pertahanan dan pasal 18 tentang tugas panglima TNI. untuk ketiga kalinya guwe munculin, kalo gak bisa nemu ato baca, mohon angkat bicara yach om


      Link: http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_3_02.htm

      Hapus
    8. kalo si om antiembalgo gak tau / gak bisa buka, bilang yach, ntar guwe tarik data soal uu / permen kesini. biar ente / smua tau masalah tugas kemenhan dan panglima tni!

      jgn triak2 permen2 kalo gak tau isinya loh

      Hapus
    9. isi uu guwe tebar disini aje dech, biar om antimodar dan si al kapun kagak tersesat, serta sluruh jajaran medsoc onlen yg males donlot bisa baca moga2 insap, klo gak ude siyep nich pilih mana palu ape gada haha!


      Rujukan dari Permen no 28 tahun 2015 adalah, Undang –undang Pertahanan No 3 tahun 2002. Dalam pasal 16 ayat 6 secara jelas tertulis tentang kedudukan menteri pertahanan dan tugasnya, serta pasal 18 ayat 1-4 untuk menyatakan tugas seorang panglima tni.

      Undang–undang Pertahanan No 3 tahun 2002 pasal 16 ayat 6 tentang Kementrian Pertahanan

      (6)Menteri menetapkan kebijakan penganggaran, pengadaan, perekrutan, pengelolaan sumber daya nasional, serta pembinaan teknologi dan industri pertahanan yang diperlukan oleh Tentara Nasional Indonesia dan komponen pertahanan lainnya.

      Hapus
    10. sedangkan Undang–undang Pertahanan No 3 tahun 2002 pasal 18 berisi tentang wewenang panglima tni

      Pasal 18

      (1)Panglima memimpin Tentara Nasional Indonesia.

      (2) Panglima menyelenggarakan perencanaan strategi dan operasi militer, pembinaan profesi dan kekuatan militer, serta memelihara kesiagaan operasional.

      (3) Panglima berwenang menggunakan segenap komponen pertahanan negara dalam penyelenggaraan operasi militer berdasarkan undang-undang.

      (4) Panglima bertanggung jawab kepada Presiden dalam penggunaan komponen pertahanan negara dan bekerja sama dengan Menteri dalam pemenuhan kebutuhan Tentara Nasional Indonesia.

      Hapus
    11. diatas sudah ditulis ttg kewenangan masing2, bisa liat yg punya tugas tempur dan yg punya tugas penyedia.

      hal ini juga diperkuat oleh Undang undang no 34 tahun 2004 tentang TNI, bab III pasal 3 & 4.

      BAB III
      KEDUDUKAN

      Pasal 3
      (1)Dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan militer, TNI berkedudukan di bawah Presiden.
      (2)Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi, TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan.

      Pasal 4
      (1)TNI terdiri dari atas TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara yang
      melaksanakan tugasnya secara matra atau gabungan di bawah pimpinan Panglima.
      (2)Tiap-tiap angkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kedudukan yang sama dan
      sederajat.

      Hapus
  6. heli kepresidenan yg super mewah...pasti indonesia sudah tidak ada lagi kemiskinan,pengangguran,...tidak ada inflasi dan kelaparan....dan tidak ada pekerja asing tiongkok yg masuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai deh, om Soangdaru liyer baca artikel pake bahasa bule...

      Hapus
  7. Something fishy around this 'deals'...someone from TNI definitely will be blamed by political powerhouse in Jakarta!

    BalasHapus
  8. Beginilah kl presiden nya petugas partai, kacau balau

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg penting helinya super mewah dan megawati bahagia

      Hapus
    2. waahh ada yg blom muv oon haha!

      Hapus
  9. Beginilah kl presiden nya petugas partai, kacau balau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mahdi berak lancar bang? lo goblok apa tolol nih? kuasa pembelian anggaran ada di Menhan, pengajuan dari masing2 angkatan. Udah jelas ditolak Presiden kok, gobloknya Supri aja yg ngeyel tetep beli. Sama kek lo 11:12 gobloknya bang..

      Hapus
  10. Tidak ada yg namanya kuasa pembelian anggaran, yg ada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), di bawahnya ada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), bawahnya lagi ada Pejabat Pengadaan atau Tim Pengadaan.
    Menhan yg sekarang adalah dr bawahan mega dulu, sama " petugas partai
    lewat Permenhan 28 2015 jadi sengkarut

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup betul, duid gede, mau dikangkangi semua sama menhan, keluarin PP baru, supaya Panglima TNI ga ngeributin penggunaan dana yg begitu gede, tanpa pengawasan.

      Hapus
    2. Wah kayaknya abang2 diatas perlu baca2 dulu alasan keluarnya permen ini. Linknya ada di detik news...ketik aja: permenhan 18 2015

      Hapus
  11. Sebelumnya, Gatot mengatakan keluarnya peraturan Menhan No.28 tahun 2015 menghapus kewenangannya untuk memantau alur perencanaan pembelanjaan alutsista di masing-masing matra. Dengan Permenhan No.28 tahun 2015, kewajiban TNI hanya membuat perencanaan jangka panjang, menengah, pendek.

    "Untuk diketahui saya sebagai panglima sama dengan detasemen markas mabes. Saya tidak kendalikan AD, AL, AU. Mengapa? Pada UU 25/2004 mengatakan alur perencanaan visioner menggunakan mekanisme bottom up, top, down secara terpadu. Semua keputusan pertahanan sudah benar ketat sistematis," kata Gatot di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/2).

    "Tapi begitu muncul peraturan Menhan No.28 tahun 2015 kewenangan saya tidak ada. Harusnya ini ada. Sekarang tidak ada. Kewajiban TNI membuat perencanaan jangka panjang, menengah, pendek," sambungnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. trus knp emgnya? si om al bisa tunjukin gak undang2 mana pasal & ayat berapa yg menunjukan tugas dan kewajiban seorang panglima tni?

      tolong dijabarin disini segra. guwe tungguin

      Hapus
    3. Silahkan di download , cr di google bisa kan??

      Hapus
    4. enggak, kan luh kagak sebut???uu tentang apa no berapa tahun berapa?

      krn diatas luh nuduh, Menhan yg sekarang adalah dr bawahan mega dulu, sama " petugas partai
      lewat Permenhan 28 2015 jadi sengkarut.

      guwe pgn tau atas dasar apa & sejauh mana pengetahuan luh tentang wewenang dari panglima tni yg gak ada di permenhan 28/2015 itu?

      klo pun ada mnurut luh, sblomnya dimana wewenang yg luh maksud itu tercantum apakah permen/uu, sebut detailnya begitchu? guwe tungguin lg dech

      Hapus
    5. woy mana pe'er nya om al kapun, uda 2 hare kagak dikumpulin. lg sibuk di tps yach om haha!

      Hapus
  12. Uda ahh yg gni aja pd di ributin..yg penting sekarang indonesia uda pnya helikopter siluman...Ngeri lah pokoke...wwkkkwwkk

    BalasHapus
  13. Jangan terlalu girang, kalau tiba-tiba negara kita membeli sesuatu!

    Delivery AW101 ini justru harus mendorong kita supaya lebih mawas diri.

    Perhatikan kembali artikel Flightglobal ini:
    ==========
    Flight Fleets Analyzer shows that the Indonesian air force ordered three AW101’s in a VIP configuration on 24 November 2015.
    ==========

    Kenyataan Pertama:
    Kontraknya sudah ditandatangani sebelum 24-November-2015.

    Ini artinya, siapapun juga yang menandatangan kontrak, tidak pernah mendapat persetujuan Pemerintah, atau Komisi I DPR; dan entah darimana bisa mengucurkan dana....

    =============
    http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151124105655-20-93665/komisi-i-harga-helikopter-antipeluru-canggih-tni-us-55-juta/
    =============

    Kenyataan Kedua: Harganya $55 juta, atau Rp 725 milyar... hanya untuk satu helikopter yang... kosong.

    List price utk AW101 sebenarnya hanya di kisaran di bawah $30 juta (tanpa training / atau Initial Provision Package). Kelihatannya harganya sudah "digelembungkan", sama seperti akusisi 6 Su-30MK2 di tahun 2010.


    ==============
    http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38456287
    ==============

    Kenyataan Ketiga: Tidak hanya pemerintah, dan Komisi I DPR sudah menolak proposal pembelian AW101 di akhir 2015 --- pada Desember-2016 lalu, ketika MSN 50248 "tertangkap basah" mengudara di Yeovil, kontrak pembelian (yang ternyata sudah ada), sudah langsung dibatalkan.

    Jadi:
    ## ... tidak pernah ada persejutuan resmi pemerintah eh... ternyata memang sudah ada kontrak;

    ## Kontraknya sudah dibatalkan 29-Desember-2016 yg lalu, eh, barangnya masih tiba2 datang....

    ## .... ini artinya, ada satu pihak yg sudah menutup kontrak (dan kemungkinan besar) sudah menyetor pembayaran ke Augusta-Westland, dengan harga yang overpriced.

    Kenapa demikian?

    Semenjak dahulu kala, penjual Alutsista akan selalu murah hati menawarkan pesangon "kickback" ke pejabat dari negara pembeli untuk memperlancar transaksi, dan memastikan barangnya terbeli.

    Transparancy International sudah menunjuk dalam pernyataannya di 22-Januari-2016 yg lalu, kalau transaksi alutsista di Indonesia itu memang sudah selalu diperkaya dengan transaksi2 miring. Kerugian negara bisa mencapai 30 - 40% dari nilai transaksi, karena harus membayar harga yg kemahalan.

    TI menilai pengawasan negara belum mencukupi; bahkan kalaupun transaksinya tidak disetujui pemerintah / DPR; tetap saja, seperti kasus AW101 ini, transaksinya berhasil ditandatangani pihak tertentu, yg sudah mendapat "kickback" dari penjual.

    Alutsista itu bukan mainan.
    Sudah saatnya meningkatkan transparansi dalam setiap pola akuisisi di Indonesia!

    Seperti sudah diumumkan oleh Presiden Jokowi, 20-Juli-2016, yang lalu, sudah saatnya pembelian alutsista menurut Kebutuhan Nasional, bukan asal beli menurut keinginan, yg malah akan menjerumuskan negara ke kasus semacam ini.

    ========
    Antara News: Membeli Alutsista harus berdasarkan kebutuhan
    ========

    Kita tunggu saja penyidikan lebih lanjut dalam kasus AW101 ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah akhirnya si om penunggang kegelapan nongol.
      aku sich gak heran, tepatnya uda kuduga kedatangannya sich, krn yg di incer arahnya bukan si awewe kan? tapi si S3S BM dari moskwa haha!

      silakan om lgs ke sebelah

      Hapus