22 Mei 2011

Purnomo: RI-Korsel Sudah Teken MoU Barter Pesawat

22 Mei 2011

Pesawat CN-235 Angkatan Udara Korea Selatan (photo : Airliners)

JAKARTA: Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia dan Korsel sudah meneken kesepakatan barter pembelian pesawat latih tempur T-50 milik Korsel dengan CN-235 milik PT Dirgantara untuk kepentingan pengadaan alutsista kedua negara.

"Yang meneken [nota kesepahaman] saya kok. Kalau jumlah barter pembeliannya akan dikaji secara teknis," katanya menanggapi bantahan pihak Korsel soal kesepakatan itu di Jakarta, hari ini.

Dia menambahkan bahwa rencana kontrak bisnis pesawat dengan pola barter itu telah dibahas di sela-sela pertemuan antarmenhan se-Asean di Bali pada pekan ini.

Menurut dia, tim dari kedua negara akan menindaklanjuti untuk melakukan pembahasan secara teknis atas kapasitas pembelian yang akan dilakukan oleh masing-masing negara.

Sebelumnya, TNI Angkatan Udara menyatakan segera membeli satu skuadron pesawat T50 Golden Eagle dari Korea Selatan pada tahun depan, untuk meningkatkan kemampuan para penerbang matra udara.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan pengadaan pesawat tersebut merupakan salah satu program pengembangan kekuatan TNI Angkatan Udara hingga 2024 berdasarkan kekuatan dasar minimum (minimum essential force).

Pesawat T-50 Angkatan Udara Korea Selatan (photo : Scramble)

"Kebijakan dari Presiden [Susilo Bambang Yudhoyono] untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan alutsista, khususnya untuk mengganti pesawat-pesawat berusia di atas 30 tahun," ujarnya belum lama ini.

Pesawat latih T50 Golden Eagle rencananya menggantikan Hawk 53 MK buatan Inggris yang segera dipensiunkan. Selain T50, TNI Angkatan Udara juga akan membeli pesawat Super Tucano untuk menggantikan OV-10 Bronco.

Menurut Imam, pengadaan pesawat tersebut sudah masuk dalam anggaran Kementerian Pertahanan.

"Proses pengadaan T50 sudah ditetapkan oleh Kemhan. Proses pengadaan sudah dimulai," tuturnya.

Untuk membeli satu skuadron T50, pemerintah harus menyiapkan biaya US$400 juta. Pesawat tersebut rencananya mulai dikirim ke Indonesia pada 2012.

"Normalnya sebenarnya 18 bulan, tapi kami minta perusahaannya untuk mempercepat," kata Imam.

Kasau menambahkan bahwa pesawat T50 cocok untuk latihan pilot pesawat Sukhoi dan memiliki kemampuan mirip F 16.

Militer Korea Selatan juga sudah membeli CN-235 buatan PT DI untuk kebutuhan operasional militer dengan jumlah pesanan pesawat buatan PT DI itu mencapai belasan unit.(er)

(Bisnis Indonesia)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar