20 Desember 2012

Menristek: Indonesia Akan Produksi Pesawat N219, N245 dan N270

20 Desember 2012

CN-235NG-Jika N-219 model pesawatnya telah sering dipamerkan, maka pesawat N-245 diperkirakan sebagai CN-235NG sedangkan N-270 diperkirakan merupakan pengembangan dari pesawat N-250 (photo : pushakadidit)

Menristek: Indonesia Produksi Pesawat N219 pada 2014

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, Indonesia akan memproduksi pesawat N219 pada 2014.

"Tahun ini masih dalam tahap desain, kemudian 2013 dibuatkan prototype dan 2014 akan diproduksi," ujar Menristek dalam lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Jakarta, Kamis.

Pesawat yang mempunyai kapasitas 19 penumpang tersebut, akan melayani wilayah pegunungan dan sulit dijangkau.

Pesawat N219 adalah pesawat yang mempunyai dua baling-baling dan hanya membutuhkan landasan 500 meter.

"Angkutan udara memang diperlukan karena cepat, sarana mempersatu bangsa, menjangkau daerah terpencil, dan juga menunjang sektor lain."

Kemristek sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp310 miliar yang digunakan untuk pembuatan prototype.

Untuk memproduksi pesawat tersebut melibatkan sejumlah lembaga seperti Lapan, PT DI, dan BPPT, katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tejasukamana, mengatakan bahwa pada tahun 2013 akan diproduksi empat pesawat prototype yang digunakan untuk uji terbang dan uji struktur.

"Hampir 70 persen bandara di Indonesia mempunyai landasan di bawah 800 meter," ujar Bambang.
Pesawat N219 tersebut, lanjut dia, sudah dipesan oleh sejumlah maskapai penerbangan sebanyak 50 unit. Namun sebelum dijual, kata Bambang, pihaknya akan melakukan sertifikasi terhadap pesawat tersebut.

Bambang mengatakan, pesawat yang dibuat tersebut lebih murah dibandingkan pesawat sejenis yang diproduksi negara lain.

Selain itu, pada tahun 2016 juga menargetkan akan memproduksi N245 dan pada 2017 memproduksi N270, katanya.(rr)


Baca Juga :

Lapan Siapkan 4 Prototype Pesawat Perintis N 219 Seharga Rp 310 M

Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan membuat empat buah pesawat prototype pesawat perintis N 219 pada awal tahun depan. Untuk proyek itu, Kementerian Riset dan Teknologi RI mengucurkan dana sebesar Rp 310 miliar.

"N 219 dikerjakan Lapan dan DI (PT Dirgantara Indonesia), proses power on sudah selesai dan sekarang menuju ke prorotyping," ujar Kepala Lapan, Bambang S Tejasukmana di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Dengan dana Rp 310 miliar, akan dihasilkan empat prototipe pesawat N 219. "Akan dibangun 4 prototype. Yang diujiterbangkan 2, diuji struktur 2 (tanpa mesin). Uji struktur seperti uji tabrakan," lanjutnya.

Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini dinilai akan menjawab kebutuhan daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki akses transportasi darat.

"Dia bisa mendarat di landasan pendek. Di lapangan rumput dan tanah juga bisa mendarat," jelas Bambang.

Hal ini diamini oleh Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta. "Yang mengerjakan Lapan, yang mengujinya BPPT, kita ristek yang mengkoordinir semuanya," kata Hatta.

"Untuk penumpang saja, tapi bisa sekalian barang juga," imbuhnya.

Pesawat ini ditargetkan selesai sertifikasi pada tahun 2014 mendatang. (sip/rmd)

3 komentar:

  1. sebenarny kita sudah terlambat jauh, kalau saja apa yang dimimpikan BJ Habibie kita jalankan, sekarang kita sudah memproduksi N250. Sehingga untuk mengejar ketertinggalan tersebut pemerintah harus terus memacu dan mendukung

    BalasHapus
  2. Tdk ada kata terlambat, PT DI hrs terus berkarya utk menghasilkan suatu produk yg bermanfaat utk rakyat dan memberikan sumbangsih utk kemanusiaan. Pemerintah hrs memikirkan bagi anak2 bangsa yg bekerja utk rakyat, bangsa dan negara mendapatkan Tanda Jasa Pengabdian Bekerja RI

    BalasHapus
  3. awal IPTN kita sudah mempu buat pesawat Gelatik, dll, tak salah jika N 219 diproduksi 2015, walau terlambat 50 tahun bisa diperpendek terlambat 10 tahun. P Habibie tahun 1982 sudah menyampaikan ide pesawat tempur IPTN di produksi 2005, sedang jet tempur IFX semoga akan dicoba pasca 2015. kita tunggu juga produk sublimasi N 250 atau N 245 . Kita bisa menghebatkan diri, apalagi dengan konsep dwi kewarganegaraan yang akan bisa di laksanakan , maka ahli-ahli yang tersebar didunia kita bisa ditarik kembali ke kandang kita. Bravo IPTN, LAPAN dan ITB, mungkin Fakultas Teknik Pesawat Terbang perlu dibuka khusus di ITB dan institut teknik lain.

    BalasHapus