01 Januari 2026

Progress of the Royal Thai Navy's Submarine Procurement Project

01 Januari 2026

Royal Thai Navy delegation visited China (photo: RTN)

The Royal Thai Navy wishes to inform the public that from December 9-19, 2025, Admiral Nares Wongtrakul, Assistant Commander-in-Chief of the Royal Thai Navy and Chairman of the Submarine Procurement Project Executive Committee, along with his delegation, was assigned by Admiral Pairoj Fuengchan, Commander-in-Chief of the Royal Thai Navy, to travel to the People's Republic of China to monitor the progress of the submarine procurement project and discuss military cooperation with relevant agencies.

The delegation visited the Shanghai Marine Diesel Engine Research Institute (SMDERI) in Shanghai, an agency that designs and researches submarine and surface ship propulsion systems. They received a presentation on technology from representatives of the China State Shipbuilding Corporation (CSSC) and the Air-Independent Propulsion (AIP) Institute, reflecting the technological readiness of the manufacturers.


Subsequently, on December 12, 2025, the delegation traveled to Wuchang Shipbuilding Industry Group Co., Ltd. (WSIG) in Wuhan to monitor the progress of the construction of the S26T submarine. Confirmation of the operational plan and quality control was received. The delegation also received a briefing on the project's timeline from senior executives of China Shipbuilding Trading Co., Ltd. (CSTC) and WSIG.

In addition, the delegation visited the Royal Thai Navy Engineering University in Wuhan, a leading institution for submarine personnel development. They observed demonstrations of submarine escape training, surface ship damage control training, submarine simulation training systems, and various course instruction. The university demonstrated its readiness to accommodate Royal Thai Navy personnel for training according to international standards.

The Royal Thai Navy affirmed that the submarine procurement project is a crucial national security project, being conducted with prudence, transparency, and prioritizing national interests. This progress monitoring reflects the Royal Thai Navy's commitment to pushing the project forward according to plan, in order to strengthen national defense capabilities and sustainably safeguard national maritime interests.

Paparan Hasil Pelatihan BUK Air Defense Bagi Personel TNI AD yang telah Dilaksanakan di Belarusia

01 Januari 2025

Paparan hasil pelatihan BUK Air Defense bagi personel TNI AD di Belarusia dilakukan di markas Kohanudnas, Jakarta (photos: Kohanusnas)

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono P., S.I.P. menerima paparan hasil pelatihan Battalion Level Commanders of BUK Air Defense Training bagi personel TNI AD yang dilaksanakan di Belarusia. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025), sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan modernisasi kemampuan satuan pertahanan udara TNI AD.


Dalam paparan disampaikan bahwa sistem pertahanan udara BUK merupakan salah satu unsur strategis dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional. Personel yang telah mengikuti pelatihan internasional tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan satuan Arhanud, khususnya dalam aspek taktik penggelaran, integrasi sistem radar peringatan dini, serta penerapan prosedur komando dan pengendalian tingkat batalyon dalam menghadapi spektrum ancaman udara modern.

Belarusia saat ini mengoperasikan BUK MB2K sistem pertahanan udara jarak menengah dan sewaktu gelaran Indo Defence 2025 lalu ditawarkan kepada Indonesia (photo: Vodogray)

Pangkohanudnas menegaskan bahwa hasil pelatihan ini harus ditindaklanjuti secara nyata melalui penguatan doktrin, prosedur, dan kesiapan satuan di lapangan. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari Belarusia dinilai memberikan nilai tambah dalam pengembangan kemampuan pertahanan udara nasional. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Staf Kohanudnas Mayjen TNI Trias Wijanarko, S.I.P., M.H.I. beserta para pejabat utama Kohanudnas.

Penentuan Nasib Program KF-21 Indonesia di Tahun 2026

01 Januari 2026

KF-21 merupakan pesawat tempur generasi 4.5 yang telah dipersiapkan untuk menjadi pesawat tempur gnerasi 5.0 (photo: KAI)

Setelah berlangsung selama 10 tahun, kegiatan Engineering, Manufacturing and Development (EMD) tahap pertama pesawat tempur KF-21 akan selesai pada 2026. Fase tersebut merupakan babak penuh tantangan baik dari aspek engineering, teknologi maupun politik bagi program yang dibiayai bersama oleh Korea Selatan dan Indonesia.

Apalagi Indonesia sebagai mitra junior dalam EMD jet tempur generasi 4.5 tidak dapat dipandang sebagai rekan yang dapat diandalkan karena sejumlah isu yang menjadi perbedaan pendapat dengan Korea Selatan. Sementara itu, Indonesia mempunyai harapan yang tinggi terkait alih teknologi dari Korea Selatan dalam program KF-21, terlepas apakah ekspektasi itu semuanya telah diakomodasi dalam kesepakatan kedua negara atau tidak.

Tahun 2026 nampaknya akan menjadi tahun yang menentukan bagi Indonesia terkait dengan partisipasi dalam EMD fase pertama program KF-21. Apakah Indonesia bisa memanfaatkan peluang yang masih tersedia ataukah membiarkan kesempatan demikian berlalu begitu saja? Peluang yang tersedia sesungguhnya mengandung pula aspek ekonomi dan bukan semata aspek politik yang sulit untuk dikuantifikasikan secara finansial.

Andaikata pengambil keputusan di Indonesia mampu berpikir obyektif yang bersifat visi jangka panjang serta bukan berdasarkan pertimbangan subyektif dan emosional, peluang ekonomi tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh negeri ini setidaknya hingga 30 tahun mendatang.

Dari aspek diplomatik, topik KF-21 masih menjadi salah satu isu strategis dalam hubungan antara Korea Selatan dan Indonesia. Isu KF-21 merupakan salah satu topik utama yang selalu diusung oleh Korea Selatan interaksi dengan Indonesia, sebagaimana tercermin ketika isu demikian diangkat dalam dua sesi pertemuan Presiden Lee Jae Myung dan Presiden Prabowo Subianto di sela-sela KTT APEC 31 Oktober 2025.

Lawatan sejumlah pejabat senior Korea Selatan ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir di antaranya selalu mengangkat pokok bahasan KF-21 yang diduga didorong oleh keraguan terhadap komitmen Indonesia dalam program jet tempur bermesin ganda itu.

Prototipe KF-21 nomor 005 (photo: ZBAA_zhang)

Apalagi setelah Indonesia secara serampangan memutuskan hendak membeli pesawat tempur yang diklaim sebagai generasi kelima dari Turki, di saat tidak ada data-data empiris yang mendukung klaim tersebut dan banyaknya pertanyaan tidak terjawab terkait kemampuan dan keandalan teknologi Turki dalam melakukan engineering dan produksi penempur tipe itu.

Sedangkan dari aspek teknis, beberapa isu terkait dengan KF-21 bagi Indonesia pada 2026 adalah sebagai berikut. Pertama, transfer purwarupa KF-21 oleh Korea Selatan kepada Indonesia. Terdapat sejumlah topik terkait rencana pengalihan prototipe pesawat tempur itu yang harus disepakati oleh kedua belah pihak, termasuk bahasan mengenai keamanan teknologi dan jenis KF-21 yang akan dikirim ke Indonesia.

Mengenai keamanan teknologi, Korea Selatan sangat mewaspadai kemungkinan bocornya teknologi KF-21 ke pihak ketiga seperti Korea Utara, Cina dan Turki, di mana konsekuensi bila terjadi kebocoran adalah ramifikasi diplomatik mengingat banyak teknologi yang berasal dari Amerika Serikat.

Walaupun dalam kesepakatan resmi antara Indonesia dan Korea Selatan menyatakan bahwa kedua negara sepakat untuk melakukan pengalihan purwarupa KF-21 berkursi tunggal yakni KF-21 005, saat ini terdapat aspirasi Indonesia untuk melakukan negosiasi ulang terhadap kesepakatan demikian.

Muncul kembali pemikiran di Indonesia agar prototipe yang ditransfer adalah pesawat tempur berkursi tandem, suatu aspirasi yang sempat mencuat di masa lalu akan tetapi tidak pernah dituangkan dalam bentuk kesepakatan resmi.

Secara teori, Indonesia harus melaksanakan perundingan ulang dengan Korea Selatan andaikata menghendaki transfer KF-21 kursi tandem, di mana hal tersebut amat sukar untuk disetujui oleh Seoul. Apalagi Korea Selatan pada 2025 sudah bermurah hati menyepakati pengurangan nilai cost share Indonesia dari KRW1,7 triliun menjadi US$600 milyar dalam EMD tahap pertama.

KF-21 akan menjadi pesawat tempur generasi kelima dengan penambahan internal weapon bay (image: KAI)

Kedua, akuisisi KF-21 oleh Indonesia. Pengadaan KF-21 oleh Indonesia ialah salah satu hal yang selalu menjadi topik diskusi dalam relasi kedua negara, termasuk dalam interaksi yang bersifat informal.

Menjadi pertanyaan apakah pada 2026 Indonesia secara resmi akan memutuskan akuisisi penempur yang akan dikembangkan menjadi generasi kelima tersebut atau tidak. Memang suatu hal yang aneh bila salah satu negara yang terlibat dalam program pengembangan bersama malah tidak melakukan pembelian produk yang dihasilkan oleh kerja sama tersebut.

Seperti pernah ditulis sebelumnya, Korea Selatan saat ini sedang menyiapkan fasilitas kredit ekspor untuk Indonesia guna mendukung pengadaan KF-21. Fasilitas pembiayaan yang berasal dari lembaga keuangan milik Korea Selatan merupakan permintaan resmi Indonesia sebagaimana disampaikan dalam perhelatan pemimpin kedua negara pada akhir Oktober 2025.

Dengan tersedianya fasilitas kredit ekspor, Indonesia tidak akan mempunyai tantangan dari aspek finansial guna membeli KF-21. Apalagi tenor, suku bunga dan resiko fasilitas kredit ekspor jauh lebih menguntungkan bagi Indonesia daripada menggunakan skema Kreditur Swasta Asing.

Ketiga, perakitan KF-21 di Indonesia. Pengadaan KF-21 oleh Indonesia secara otomatis membuka peluang niaga bagi Indonesia terkait dengan perakitan KF-21 di Indonesia. Sudah sepantasnya Jakarta meminta kepada Seoul agar partisipasi PT Dirgantara Indonesia dalam produksi KF-21 tidak terbatas pada aerostructure saja, namun pula kegiatan perakitan dan uji terbang atau Final Assembly and Check-Out (FACO).

Menurut sudut pandang ekonomi, FACO akan menguntungkan secara finansial bagi PT Dirgantara Indonesia jika dikelola dengan baik dan benar, apalagi seandainya Indonesia mampu meyakinkan Korea Selatan agar FACO tersebut bukan saja bagi KF-21 pesanan Indonesia, tetapi mencakup pula pesanan negara-negara Asia Tenggara.

TFX Kaan vs KF-21 Boramae (image: yerlivemilisayfa)

Sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina dan Malaysia ialah pasar potensial bagi KF-21 mengingat negara-negara itu senasib dengan Indonesia yakni tidak diberikan akses oleh Amerika Serikat untuk menjadi operator F-35. Mempertimbangkan peta jalan pengembangan KF-21 menjadi KF-21EX pada pertengahan 2030-an yang merupakan penempur generasi kelima, peluang sejumlah negara Asia Tenggara guna mengimpor KF-21 generasi 4.5 cukup besar.

KF-21 generasi 4.5 akan menjadi jembatan bagi negara-negara tersebut dan juga Indonesia guna menjadi pemakai KF-21EX di awal 2040-an. Inilah salah satu peluang ekonomis jangka panjang bagi Indonesia bila mempunyai FACO KF-21 dalam beberapa tahun ke depan.

Program KF-21 tercatat sebagai low hanging fruit bagi Indonesia dari aspek pertahanan, industri pertahanan dan ekonomi dengan peluang yang bersifat jangka panjang. Berdasarkan dinamika mutakhir program KF-21 antara Indonesia dan Korea Selatan, tahun 2026 nampaknya menjadi tahun yang menentukan bagi Indonesia ketika sejumlah peluang sudah hadir di depan mata, pertanyaannya ialah apakah peluang itu akan direbut ataukah dibiarkan berlalu demi ilusi yang lain? (Alman Helvas Ali)

31 Desember 2025

Bintang 2025: PT PAL dan Kaharuddin Djenot

31 Desember 2025

Fregat Merah Putih dan KSOT (kapal selam otonom tempur) (photo: FMI)

Berita terbaik sepanjang tahun 2025 adalah ini: PT PAL dengan dirutnya, Kaharuddin Djenot. Itulah ''Bintang 2025''. Anda bisa punya bintang sendiri. Silakan pilih.

Perusahaan pembuat kapal perang itu berubah drastis: bukan hanya kinerja perusahaannya, juga artinya bagi Indonesia.

Lokasi perusahaan itu di dekat pangkalan TNI-AL, Ujung, Perak, Surabaya. Saat Kaharuddin menerima amanah sebagai dirut baru, PT PAL dalam kondisi Kol 5 (kolektibilitas 5). Artinya: macet. Sudah waktunya dinyatakan pailit, dilelang, dan dilikuidasi. PT PAL sudah lama tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada bank dan pihak ketiga lainnya.

Hanya dalam tiga tahun keuangan PT PAL bisa kembali sehat. Bukan saja sembuh tapi sudah bisa lari cepat.

Dibanding zaman paling sehatnya dulu pun sudah lebih baik 10 kali lipatnya. PT PAL pernah sehat, lalu sakit kronis yang amat akut –saya pun tidak mampu menyehatkannya.

Loading torpedo ke KSOT (photo: Kemhan)

Baru-baru ini saya meninjau PT PAL –sebelum Natalan ke Sidikalang, Sumut. Saya bertemu Dirut Kaharuddin Djenot. Saya ingin tahu apakah yang dikatakan Kaharuddin empat tahun lalu berhasil diwujudkan. Waktu itu saya ajak Kaharuddin podcast. Ia mengungkapkan begitu banyak rencana kerja. Sangat muluk. Ambisius.

Ternyata semua yang ia katakan terlaksana. Bahkan jauh lebih maju. Ia seperti menyulap rongsokan PT PAL menjadi emas. Itu karena ia bukan dirut biasa. Ia dirut perusahaan kapal yang punya keahlian mendesain kapal. Kapal apa saja. Termasuk kapal perang. Bahkan mahkotanya kapal perang: kapal selam.

Ibarat petani ia bisa mencangkul, membajak, menyemai benih, menanam, memanen, menggilingnya jadi beras, memasaknya jadi nasi, sekaligus mampu menjual nasi itu.

Menuju produksi 30 kapal selam tanpa awak
Kalau yang ia buat kapal selam konvensional mungkin tidak tercipta sejarah baru. Yang ia buat di PT PAL adalah kapal selam era baru: kapal selam tanpa awak atau kapal selam autonomous (KSOT). Biaya produksinya pun menjadi sangat murah. Biaya membuat satu kapal selam konvensional bisa untuk memproduksi 30 kapal selam tanpa awak made in Kaharuddin.

KSOT dalam kondisi menyelam (image: Medef)

Tahun depan, dimulai lusa, PT PAL akan memproduksi 30 kapal selam tanpa awak. Produk pertamanya sudah selesai diuji coba Oktober lalu. Sukses. Termasuk ketika meluncurkan senjata torpedo ke sasaran tembak di bawah permukaan air.

Bayangkan: tiba-tiba saja Indonesia punya 30 kapal selam. Siapa yang mengira. Negara konsumen ini bisa menjadi produsen.

Dengan 30 kapal selam praktis semua ''pintu masuk'' perairan Indonesia bisa dijaga oleh kapal selam bertorpedo.

Di produk pertama yang saya lihat itu, satu kapal selam membawa empat torpedo. Dua di kanan, dua di kiri. Di produksi selanjutnya, satu kapal selam bisa membawa delapan torpedo. Torpedonya pun buatan PAL sendiri.

KSOT nomor 003 (photo: IKMI)

Kapal selam tanpa awak itu bisa diparkir di bawah laut berbulan-bulan. Tanpa perlu mengapung. Tidak perlu takut kehabisan oksigen. Atau kehabisan bahan pangan. Tidak ada manusia di dalamnya. Mata dan telinga di kapal itu semuanya artificial intelligence.

Tenaga di kapal itu mengandalkan baterai. Tidak perlu takut low bat. Kalau isi baterainya berkurang bisa di-charging di bawah laut. Charging terjadi otomatis setiap saat diperlukan.

Di bagian bawah kapal selam dilengkapi turbin. Penggerak turbinnya alami: arus bawah laut. Arus air laut itulah yang memutar turbin. Turbin yang memutar membuat generator memutar: menghasilkan listrik –dipakai charging baterai kapal selam tanpa awak.

Tiba-tiba saja Indonesia menjadi negara produsen kapal selam. Secara masif pula. Tiba-tiba saja kapal selam model lama tidak begitu relevan lagi. Negara-negara yang tidak kaya pun akan bisa membeli kapal selam. Indonesia langsung bisa menjadi eksporter kapal selam.

Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (photo: FMI)

Menuju produksi 100 blok kapal perbulan
Kini seluruh galangan kapal yang ada di PT PAL sedang diperbarui. Kapasitasnya dinaikkan. Kalau dulu sebulan hanya bisa membuat 15 blok, kini sudah bisa 40 blok. Tahun 2027 meningkat menjadi 100 blok/bulan.

Kalau itu terwujud, kata Kaharuddin, PT PAL sudah setara dengan galangan kapal terbesar milik Jepang –tempat Kaharuddin memperoleh gelar S-1, S2, dan S-3 di bidang perkapalan.

Anda sudah tahu: pembuatan kapal itu dilakukan per blok. Dikerjakannya di atas tanah. Setelah semua blok selesai dibuat, barulah disambung-sambung menjadi satu kapal. Satu kapal kecil terdiri dari 20 blok. Kapal besar, kelas Panamax (bisa melewati terusan Panama), terdiri dari sekitar 110 blok.

Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (photo: FMI)

Rencana PAL selanjutnya: seluruh galangan kapal milik BUMN digabung ke dalam PT PAL. Bahkan PAL berencana menggandeng seluruh galangan kapal swasta di Indonesia. Mereka akan menjadi satu koordinasi: Indonesia Maritime Incorporated.

Pasar kapal Indonesia sangat besar. Selama ini lebih banyak impor. Kalau semua kapal yang diperlukan Indonesia buatan Indonesia maka industri maritim akan hidup –BUMN maupun swastanya.

Diam-diam saya bersyukur Kaharuddin Djenot batal jadi pimpinan Danantara. Ia sudah pernah di-SK-kan menjadi CEO Danantara. Tapi batal sebelum dilantik.

"Bolehkah saya bersyukur seperti itu –meskipun Anda sendiri mungkin sempat kecewa?"

"Boleh," katanya lantas tersenyum. Saya sulit memaknai senyumannya itu.(Dahlan Iskan)

Project Summary: “Completion of the Design and Manufacturing of the XCB-01 Infantry Fighting Vehicle”

31 Desember 2025

General Pham Hoai Nam and delegates visited the XCB-01 infantry fighting vehicle models on display at the sidelines of the conference (photo: QDND)

On the morning of December 30th, at the Z189 Factory in Hai Phong, the General Department of Defense Industry held a conference to summarize the Ministry of Defense-level science and technology project "Completing the design and manufacturing of the XCB-01 infantry fighting vehicle". Lieutenant General Pham Hoai Nam, Member of the Central Committee of the Communist Party of Vietnam and Deputy Minister of Defense, attended and delivered a speech at the conference.

This project is of great political, military, and scientific-technological significance, and has received special attention and trust from the Central Military Commission and the Ministry of National Defense  , who have assigned the General Department of Defense Industry to lead and coordinate with units throughout the military in its implementation.

XCB-01 infantry fighting vehicle (photo: Kỹ thuật quân sự Hải Quân)

The project "Completing the design and manufacturing of the XCB-01 infantry fighting vehicle  " has basically completed its objectives and contents approved by the Ministry of National Defence. For the first time, Vietnam has researched, designed, and manufactured a complete, integrated infantry fighting vehicle, a strategically significant piece of equipment with a very high localization rate and modern technical features.

The project's product has successfully completed task A80 and has been selected by the Ministry of Science and Technology as one of the outstanding achievements in science, technology, and innovation of the country in 2025.

XCB-01 infantry fighting vehicle during a joint training exercise of forces performing A80 duties, July 17 (photo: Phu Son)

In his remarks at the conference, Lieutenant General Pham Hoai Nam emphasized: "The project's results have affirmed the effectiveness and capability of mastering the research, design, and manufacturing of new weapons and technical equipment, creating a highly integrated combat system; mastering several core and foundational technologies and gradually achieving self-reliance in the design and manufacturing of modern weapons and technical equipment."

According to General Pham Hoai Nam 's assessment  , the project's results provide a solid practical basis for building mechanisms and policies for the Law on National Defense and Security Industry and Industrial Mobilization, as well as regulations on mechanisms and policies to promote science and technology activities and innovation serving the national defense industry, and to promote the development of strategically important weapons and technical equipment.

On this occasion, Lieutenant General Pham Hoai Nam and other leaders of the General Department of Defense Industry presented Certificates of Commendation from the Minister of National Defense to 22 collectives and 41 individuals for their outstanding achievements in implementing the project (photo: QDND)

On behalf of the Central Military Commission and the Ministry of National Defence, Senior General Pham Hoai Nam congratulated and commended the General Department of Defence Industry, the Department of Military Science, the Project Management Board, and the units in charge of and leading the research topics and tasks under the project for their efforts in overcoming difficulties, being proactive, innovative, and implementing effective solutions to achieve the project's objectives.

In the coming period, the need for research, design, and manufacturing of new weapons and technical equipment, integrated combat systems, guided weapons, and high-tech weapons to meet the requirements of building a modern army is enormous. Emphasizing this, Lieutenant General Pham Hoai Nam requested that agencies and units within the Ministry of National Defense continue to build upon achievements, overcome all difficulties, and proactively improve the effectiveness of scientific and technological research, contributing to building a self-reliant, self-sufficient, dual-use, and modern Vietnamese defense industry that is increasingly closely integrated and becomes a spearhead of the national industry.

Peningkatan Kekuatan PAF di Tahun 2025 dan 2026

31 Desember 2025

Filipina akan memiliki 32 helikopter S-70 Black Hawk (photo: AFP)

Helikopter Black Hawk Tambahan
MANILA – Angkatan Udara Filipina (PAF) menghabiskan tahun 2025 secara diam-diam untuk meningkatkan kemampuannya dalam melindungi wilayah udara negara yang luas, serta kapasitasnya untuk melakukan misi bantuan bencana.

Selama tahun tersebut, PAF menerima 10 helikopter tempur utilitas S-70 Black Hawk tambahan – lima di antaranya diresmikan pada 13 Agustus dan lima lainnya pada 14 November.

Kesepuluh helikopter tersebut — yang dikirim pada 15 Juli dan 20 Oktober — merupakan pengiriman ketiga dan keempat dari 32 unit S-70i Black Hawk yang diperoleh melalui Program Modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), kata juru bicara PAF Kolonel Ma Christina Basco dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Dua pengiriman sebelumnya dilakukan pada 10 Juni dan 9 Desember tahun lalu. Kontrak senilai PHP32 miliar untuk pengadaan tersebut ditandatangani pada 22 Februari 2022 oleh Menteri Pertahanan saat itu, Delfin Lorenzana.

"Melalui Rencana Penerbangan PAF 2040 dan penyelarasan dengan Program Modernisasi AFP, Angkatan Udara mengikuti jalur yang jelas dan disiplin menuju pengembangan kemampuan jangka panjang," kata Basco.

Filipina telah mempersiapkan pembelian tambahan 8 helikopter Bell 412 EP yang akan direalisasikan tahun 2026 (photo: Noel Morota)

"Ini memastikan bahwa upaya modernisasi mendukung kebutuhan operasional dan berkontribusi pada AFP yang kredibel, tangkas, dan siap menjalankan misi."

Rencana Penerbangan PAF 2040 adalah peta jalan strategis jangka panjang untuk menjadi angkatan udara yang modern, kredibel, dan tangkas pada tahun 2040.

"Dengan penambahan terbaru ini, PAF terus memperkuat kemampuan mobilitas udaranya dan memenuhi mandatnya untuk melindungi bangsa dan melayani rakyat Filipina — baik dalam masa krisis kemanusiaan maupun konflik," kata Basco.

Saat ini, PAF memiliki armada sekitar 35 helikopter Black Hawk, yang dikenal karena keserbagunaan, kecepatan, dan keandalannya, dan biasanya digunakan untuk bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, pengangkutan pasukan dan kargo, serta operasi dukungan taktis.

Beberapa helikopter digunakan dalam pengiriman bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak siklon dahsyat Uwan, Nando, dan Tino, antara lain, tahun ini.

Filipina telah menanda-tangani tambahan 12 unit FA-50PH pada Juni 2025 lalu (image: KAI)

Pesawat tempur ringan FA-50 PH
Untuk tahun 2026, Basco mengatakan PAF tetap berkomitmen untuk memperkuat kemampuannya.

Secara khusus, Basco mengatakan PAF berharap dapat meningkatkan aset pesawat tempur dan pengawasannya melalui perluasan armada FA-50PH dan sensor serta sistem pendukungnya.

"Ini telah memulihkan kemampuan jet tempur cepat yang andal untuk pertahanan udara, patroli maritim, dan dukungan udara jarak dekat, membantu AFP melindungi wilayah kita dengan lebih baik," katanya.

Pada 3 Juni, PAF menandatangani kontrak dengan Korea Aerospace Industries (KAI) untuk 12 jet tempur ringan FA-50PH berkemampuan Mach 1.5 tambahan, sebuah perkembangan yang menyoroti tekad Filipina untuk mempertahankan wilayah udaranya.

Filipina telah menanda-tangani pesanan tiga C-130J pada 2023 (photo: Lockheed Martin)

Bernilai sekitar USD700 juta atau sekitar PHP40 miliar pada saat penandatanganan, kontrak tersebut mencakup dukungan logistik yang komprehensif.

Unit FA-50PH baru — lebih canggih daripada 11 unit yang saat ini dimiliki PAF — akan menampilkan peningkatan signifikan seperti kemampuan pengisian bahan bakar di udara, sistem radar canggih, dan integrasi senjata yang lebih baik. Pengiriman diharapkan dari tahun 2026 hingga 2030.

A-29B Super Tucano
Sementara itu, sejalan dengan pergeseran menuju pertahanan teritorial di bawah Konsep Pertahanan Kepulauan Komprehensif, Basco mengatakan PAF mengharapkan kedatangan lebih banyak pesawat pendukung udara jarak dekat A-29B Super Tucano.

Filipina telah menanda-tangani pesanan enam NC-212i tambahan pada 2023 (photo: Gerard Belvis)

"Unit-unit ini akan semakin memperkuat kemampuan serangan presisi dan pencegahan maritim kami," katanya.

Pesawat Lainnya
Pesawat tambahan seperti C-130J, NC-212i, dan Bell 412, serta batch terakhir helikopter Black Hawk juga diharapkan akan tiba pada tahun 2026 dan seterusnya.

Dengan pesawat-pesawat ini, Basco mengatakan PAF pasti akan meningkatkan kapasitasnya untuk pergerakan pasukan, logistik, dan operasi kemanusiaan.

(PNA)

30 Desember 2025

SIPER: Langkah Turki Membina Pengganti S-400 Rusia

30 Desember 2025

S-400 rudal anti pesawat udara jarak jauh (photo: AA)

Turki sedang berada di fasa kritikal dalam membangunkan sistem pertahanan udara jarak jauh generasi baharu yang dikenali sebagai SIPER. Sistem yang dibangunkan secara bersama oleh ASELSAN, ROKETSAN dan TÜBİTAK SAGE, ini akan menjadi tonggak utama usaha Ankara untuk memiliki perisai udara strategik yang sepenuhnya dihasilkan dalam negara.

Projek pembangunan sistem pertahanan ini bermula sebagai respons terhadap keperluan strategik Turki bagi mengurangkan kebergantungan kepada pembekal asing, khususnya selepas ketegangan diplomatik yang tercetus berikutan pembelian sistem S-400 pada 2019. Melalui SIPER, Ankara berhasrat untuk membina keupayaan tempatan yang tidak terikat dengan sekatan atau kawalan eksport luar.



SIPER direka sebagai komponen lapisan tertinggi dalam rangkaian pertahanan udara bersepadu Turki, dengan keupayaan memintas pelbagai ancaman termasuk pesawat pejuang generasi kelima, peluru berpandu jelajah, peluru berpandu balistik jarak sederhana serta dron berkelajuan tinggi.

Sistem ini disasarkan mencapai jarak efektif sehingga 100 kilometer dengan altitud operasi melebihi 30 kilometer, meletakkannya setara dengan kategori sistem jarak jauh antarabangsa berpotensi menjadi alternatif kepada S-400 Triumf buatan Rusia yang kini dioperasikan oleh Angkatan Bersenjata Turki.

SIPER sistem pertahanan udara jarak jauh Turki (photo: Turdef)

Kerjasama antara ASELSAN, ROKETSAN dan TÜBİTAK SAGE membolehkan setiap pihak memberi sumbangan kepakaran tersendiri.ASELSAN bertanggungjawab membangunkan radar pelbagai fungsi, sistem kawalan tembakan dan pautan data taktikal. ROKETSAN memfokuskan pembangunan peluru berpandu termasuk sistem pendorong dan kepala peledak, manakala TÜBİTAK SAGE menyumbang kepakaran dalam teknologi panduan, penderiaan sasaran dan perlindungan terhadap gangguan elektronik.

Ujian penerbangan pertama SIPER dilaksanakan pada 2021, diikuti siri penembakan pada 2022 yang berjaya memintas sasaran udara pada jarak yang signifikan. Sejak itu, prototaip sistem terus ditambah baik dari segi jangkauan, ketepatan dan daya tahan terhadap serangan peperangan elektronik. Pihak industri menyasarkan ujian akhir sistem dapat dilaksanakan sebelum penghujung dekad ini.

SIPER sistem pertahanan udara jarak jauh (image: SSB)

SIPER akan diintegrasikan bersama sistem pertahanan udara lain seperti HİSAR-A, HİSAR-O, Korkut dan Gökdeniz, membentuk pertahanan berlapis yang mampu memberikan liputan penuh dari jarak dekat sehingga jarak jauh. Integrasi ini akan membolehkan Turki mempertahankan aset strategik, pangkalan udara, pusat industri dan kawasan bandar utama daripada serangan udara berskala besar.

Selain kepentingan domestik, SIPER berpotensi membuka ruang eksport ke negara-negara yang memerlukan sistem pertahanan udara moden tetapi berdepan sekatan politik untuk mendapatkan teknologi Barat atau Rusia. Walaupun begitu, penganalisis menjangka pemasaran ke luar negara akan dikawal secara ketat bergantung kepada polisi eksport senjata Turki dan sensitiviti geopolitik serantau.

Komponen rudal SIPER (infographic: Kaan Azman)

Kejayaan projek ini akan memberi Ankara satu kelebihan strategik yang signifikan. Ia bukan sahaja mengurangkan risiko diplomatik seperti yang dialami ketika pembelian S-400, malah membuktikan kemampuan industri pertahanan tempatan menghasilkan sistem kompleks bertaraf global. Lebih penting, SIPER bakal menjadi simbol kedaulatan teknologi dan daya tahan strategik Turki di tengah-tengah landskap keselamatan antarabangsa yang semakin tidak menentu.

Sekiranya semua mengikut jadual, SIPER dijangka memasuki perkhidmatan operasi penuh menjelang 2026, menggantikan secara berperingkat peranan S-400 dalam perkhidmatan Angkatan Bersenjata Turki.

Rudal SIPER block 1 dan block 2 (image: Secret Projects)

Apabila siap sepenuhnya, sistem ini akan mengukuhkan kedudukan Turki sebagai antara pemain utama dalam bidang pertahanan udara jarak jauh di peringkat global.