21 Maret 2026

New Zealand Army's Bushmaster Live Firing

21 Maret 2026

Bushmaster live firing at Exercise Nui Dat 2026 (photos: RNZ Army)

Whiskey Company, 1RNZIR live firing on Exercise NUI DAT, employing the Bushmaster at section and platoon level.

Integration of vehicles, weapons, and soldiers working together to deliver combat effects when it matters. Train hard. Be ready.

Victor, Whiskey, and Support Companies are steadily building toward platoon-level combined live-fire exercises—day and night- incorporating both NZLAV and Bushmaster vehicles by the end of the exercise.

This training is a key step in maintaining the Battalion’s combat readiness, bringing infantry, armour, and support elements together as a cohesive, capable team—ready for operations when called upon.

(RNZAC, 1 RNZIR)

Transformasi 15-to-5: TLDM Sasar 31 Platform Baharu Menjelang 2040

21 Maret 2026

Pangkalan angkatan laut Lumut (photo: TLDM)

KUALA LUMPUR – Kementerian Pertahanan (MINDEF) menegaskan komitmennya dalam memperkasakan kedaulatan maritim negara melalui pelan transformasi Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) 15-to-5, yang kini disusun semula sebagai Force Structure 2040 (FS40).

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin memaklumkan, melalui pelan tersebut TLDM merancang memperoleh sebanyak 31 platform baharu daripada pelbagai jenis secara berperingkat sehingga tahun 2040.

Perkara itu dinyatakan oleh beliau, bagi menjawab pertanyaan Senator Datuk Rosni Sohar mengenai status semasa program berkenaan di Dewan Negara.

Menurut beliau, dalam Rancangan Malaysia Ke-12 (RMK12), kerajaan telah meluluskan semua perolehan aset baharu mengikut perancangan TLDM.

“Dalam RMK12, kerajaan telah meluluskan perolehan 5 buah Littoral Combat Ship (LCS), 4 buah Littoral Mission Ship (LMS) dan 3 buah LMS Batch 2,” katanya dalam jawapan lisan di Dewan Negara.

Selain itu, TLDM turut menerima beberapa aset sokongan yang berfungsi sebagai force multiplier, seperti Helikopter Operasi Maritim (HOM), sistem pesawat tanpa pemandu ScanEagle serta Fast Interceptor Craft (FIC) yang diterima secara berperingkat.

Bagi Rancangan Malaysia Ke-13 (RMK13), kerajaan telah meluluskan perolehan 2 buah Multi-Role Support Ship (MRSS) melalui Rolling Plan 1 (RP1).

Dalam masa sama, kementerian berharap cadangan perolehan 3 buah LMS Batch 4 turut dapat dipertimbangkan dan diluluskan selaras dengan perancangan TLDM dalam RMK13.

Bagi memastikan kesiapsiagaan armada kekal pada tahap optimum, TLDM turut melaksanakan beberapa langkah termasuk penyenggaraan kapal secara berjadual, latihan yang konsisten serta sokongan logistik berterusan.

Program 15-to-5 sebelum ini diperkenalkan bagi merasionalisasikan struktur armada TLDM daripada 15 kelas kapal kepada lima kelas utama. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kecekapan operasi, penyelenggaraan dan pengurusan logistik dalam jangka panjang.

Prajurit Marinir Setia Menjaga Pulau Batek Yang Tidak Berpenghuni

21 Maret 2026

Operasi Pengamanan Pulau Terluar RI (photos: Korps Marinir)

Menjelang Idul Fitri, Satgasmar Ops Pengamanan Pulau Terluar XXlX Pulau Batek Tingkatkan Kewaspadaan
Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Kupang) Prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut Satgasmar Ops Pengamanan Pulau Terluar XXlX meningkatkan kewaspadaan dalam melaksanakan pengamanan perbatasan  Negara Kesatuan Republik Indonesia di Pulau Batek, Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Senin (16/03)


Pulau Batek merupakan pulau yang tidak berpenghuni dengan luas ±0.5 Kilometer persegi dan berbatasan langsung dengan Timor Leste.


Peningkatan kewaspadaan yang dilaksanakan oleh prajurit TNI tersebut, dilaksanakan melalui peningkatan intensitas patroli dan pemantauan sebagai langkah proaktif untuk menjamin keamanan, stabilitas, dan ketertiban wilayah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, serta merespons cepat terhadap kemungkinan adanya perubahan situasi.

20 Maret 2026

Pemeriksaan Tahunan Mawilud 1 ke Pangkalan Udara Kuantan, Calon Markas Pesawat FA-50M

20 Maret 2026

Panglima Markas Wilayah Udara 1 melakukan kunjungan ke Pangkalan Udara Kuantan ibu kota negara bagian Pahang, Malaysia yang menghadap ke Laut China Selatan (photos: TUDM)

KUANTAN -- Markas Wilayah Udara 1 (MAWILUD 1) telah melaksanakan pemeriksaan tahunan ke Pangkalan Udara Kuantan bermula 9 hingga 13 Mac 26 bagi menilai tahap kesiagaan pangkalan serta memastikan setiap operasi dan senggaraan dilakukan mengikut prosedur operasi standard (SOP) yang telah ditetapkan oleh TUDM.


Pemeriksaan tahunan ini diketuai Panglima Wilayah Udara 1 (PANGWILUD 1), Mej Jen Dato’ Mahadzer bin Amin TUDM. Sebaik ketibaan, PANGWILUD 1 telah diberikan taklimat pengoperasian oleh Komander Pangkalan, Kol Baharin bin Mohamad TUDM di Bilik Mesyuarat Pangkalan.


Usai taklimat, PANGWILUD 1 membuat lawatan ke No 10 Skuadron, Skuadron 320, Skuadron 401 serta melawat tapak projek bagi perolehan pesawat Light Combat Aircraft (LCA) dan Maritime Patrol Aircraft (MPA).


Lawatan ini penting bagi melihat tahap kemajuan projek supaya pengoperasian aset-aset TUDM dapat dilakukan mengikut garis masa yang telah dirancang sekaligus meningkatkan kesiagaan bagi melindungi kedaulatan ruang udara negara.


Turut serta semasa lawatan adalah Ketua Staf MAWILUD 1, Brig Jen Ahmad Edros bin Ahmad Osman TUDM dan Pengarah A4 MAWILUD 1, Kol Khairul Anuar bin Abdul Razak TUDM.

First Export of Korean Fighter KF-21 Confirmed, 16 Units to Indonesia

20 Maret 2026

Contract will sign during President Prabowo Subianto make a state visit to South Korea on Maret, 31 to April, 20 2026 (photo: DAPA)

The Korean fighter jet KF-21 is being exported for the first time. This comes 11 years after development began in 2015, and the first export destination is Indonesia.

On the 19th, a government official stated, "Indonesian President Prabowo Subianto will make a state visit to Korea on the 1st of next month, visit Korea Aerospace Industries (KAI), and sign an export contract for the KF-21," adding, "We plan to sign an implementation contract during the first half of the year after coordinating the final agreement amount." Indonesia initially intended to acquire 48 KF-21 fighter jets. However, due to budget constraints, the plan is to initially acquire 16 units.

The South Korean government and Indonesia are currently coordinating final negotiations regarding technology transfer and MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul). Both countries plan to sign a contract within the first half of the year. The Indonesian side is reportedly planning to hold the implementation contract signing ceremony locally.

Starting with exports to Indonesia, KAI anticipates exports not only to Southeast Asia but also to the Middle East, including Saudi Arabia and the United Arab Emirates (UAE). As countries like Saudi Arabia and the UAE pursue the modernization of their air forces, there is a steady demand for next-generation fighter jets. The KF-21 is considered to have an advantage in securing orders due to its price competitiveness and flexibility in technology transfer compared to U.S. and European models.

"A government official said, 'When the first mass-produced KF-21 for our Air Force is rolled out on the 25th of this month, all of our Air Force's aging fighter jets will be replaced,' adding, 'It appears that we will be able to achieve the feat of exporting the KF-21 in line with the mass production of domestic fighter jets.'"

Meanwhile, South Korea's defense industry exports are expected to expand further in conjunction with changes in the international security environment. Poland also signed a comprehensive defense export contract worth $44.2 billion (approximately 63 trillion won) with the South Korean government in 2022. Since then, it has been sequentially proceeding with the first phase of export implementation contracts worth $12.32 billion (180 K2 tanks, 212 K9 self-propelled howitzers, and 48 FA-50 light attack aircraft).

AU Singapura Selesaikan Latihan Brightfire 2025

20 Maret 2026

Latihan Brightfire 2025 adalah latihan menembak langsung dengan sistem RBS 70 NG di Overberg Test Range di Afrika Selatan (photos: RSAF)

Selama tiga minggu terakhir, Divisional Air Defense Group (DAG) RSAF ditempatkan di Overberg Test Range di Afrika Selatan untuk latihan menembak langsung dengan sistem RBS 70 Ground- Based Air Defense (GBAD). 


Latihan tahun ini juga menampilkan penembakan perdana dengan RBS 70 NG dipasang pada kendaraan URO Vehículo de Alta Movidad Táctico (VAMTAC).


Melalui aktivitas menembak langsung, para peserta memperkuat kepercayaan diri dan kesiapan mereka dalam menghadapi ancaman udara.


Latihan ini memberikan kesempatan berharga bagi angkatan udara dan wanita kami untuk mengasah keterampilan operasional mereka dalam lingkungan pelatihan yang realistis.

19 Maret 2026

Drone Interceptor STING Ukraina Jadi Incaran Negara Teluk

19 Maret 2026

Drone interceptor STING buatan Ukaina (photo: Wild Hornets)

KYIV - Drone pencegat buatan Ukraina mulai menarik perhatian negara-negara Teluk, seiring meningkatnya ancaman serangan drone di kawasan Timur Tengah.

Seperti dikutip Reuters, dikembangkan oleh perusahaan swasta Wild Hornets, drone interceptor ini awalnya dianggap konsep ambisius.

Namun kini, teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam pertahanan Ukraina melawan drone Rusia, dan berpotensi digunakan untuk menghadapi drone Iran di Teluk.

Isi drone interceptor STING (photo: The Telegraph)

Pemerintah di Kyiv menyebut Amerika Serikat dan sekutunya mulai melirik teknologi ini untuk menghadapi serangan drone Shahed yang semakin intens di Timur Tengah.

Meski begitu, Wild Hornets menegaskan belum akan mengekspor produknya tanpa persetujuan resmi pemerintah Ukraina.

Salah satu produk andalannya, STING, menawarkan solusi murah dibanding sistem pertahanan udara mahal seperti MIM-104 Patriot.

Drone interceptor STING dalam kondisi siaga (photo: militarnyi)

Drone ini mampu melesat hingga 280 km/jam dengan jangkauan sekitar 37 km, dan dirancang untuk mengejar serta menghancurkan target dengan tabrakan berkecepatan tinggi.

Teknologi ini juga relatif mudah dioperasikan. Pilot drone FPV hanya membutuhkan beberapa hari pelatihan untuk menguasainya.

Peluncuran drone interceptor STING (photo: AP)

Sejak mulai digunakan secara luas pada Juni 2025, STING diklaim telah menjatuhkan lebih dari 3.000 drone Shahed milik Rusia.

Produksinya pun mencapai lebih dari 10.000 unit per bulan, dengan harga sekitar US$2.000 per unit, jauh lebih murah dibanding drone Shahed yang bernilai US$20.000 hingga US$50.000.
Drone interceptor STING mengejar sasaran (photo: AP)

Wild Hornets juga telah mengembangkan generasi kedua yang lebih cepat dan dirancang untuk menghadapi drone jet yang lebih canggih, meski detail teknisnya dirahasiakan.

Sejak pecahnya konflik Iran pada akhir Februari, negara-negara Teluk dilaporkan menghadapi lebih dari 2.000 serangan drone dan rudal yang menyasar berbagai target, mulai dari fasilitas minyak hingga kawasan sipil.

Komparasi ukuran STING dan Shahed UCAV Pembom buatan Iran (photo: SaintJavelin)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan negaranya siap membantu negara Timur Tengah, dengan imbalan dukungan dana dan teknologi.

Ia juga mengungkapkan bahwa tim spesialis pertahanan udara telah dikirim ke kawasan tersebut.

Spesifikasi STING drone interceptor (infographic: Wild Hornets)

Namun, Ukraina menegaskan fokus utamanya tetap pada kebutuhan dalam negeri. Ekspor drone interceptor hanya akan dilakukan jika mendapat persetujuan pemerintah, terutama jika Ukraina juga memperoleh tambahan sistem pertahanan dari sekutu Barat.

Meski permintaan dari luar negeri terus berdatangan, produsen saat ini memilih menahan diri sambil memprioritaskan kebutuhan militer domestik.