07 Januari 2026

Kasau Resmikan Tower Satrad 404 Congot

07 Januari 2025

Tower radar Satrad 404 Congot (photos: TNI AU)

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., meresmikan tower Satuan Radar (Satrad) 404 Congot, Senin (5/1/2026).

Pembangunan tower ini merupakan bagian dari upaya memperkuat infrastruktur Satrad 404 Congot yang berada di bawah naungan Kosek IV, sehingga kemampuan pengawasan udara di wilayah tanggung jawabnya semakin efektif.


Keberadaan tower tersebut diharapkan dapat menambah kesiapsiagaan satuan dalam melaksanakan tugas pengawasan dan penjagaan wilayah udara nasional.

Official Visit of the PM to the Republic of Turkiye

07 Januari 2026

One Multi-Purpose Mission Ship (MPMS) 2 for MMEA (photos: MMEA)

Prime Minister Dato’ Seri Anwar Ibrahim will undertake an official visit to the Republic of Türkiye from 6 to 8 January 2026, at the invitation of President of the Republic of Türkiye Recep Tayyip Erdoğan. The visit is to reciprocate the official visit of President Erdoğan to Malaysia in February 2025.

The Prime Minister will be accompanied by Minister of Foreign Affairs Dato’ Seri Utama Haji Mohamad bin Haji Hasan; Minister of Higher Education Senator Dato' Seri Diraja Dr. Zambry bin Abd Kadir; Minister of Investment, Trade and Industry Datuk Seri Johari bin Abdul Ghani and senior government officials.

An official welcoming ceremony is scheduled for 7 January 2026 at the Presidential Complex in Ankara, followed by a four-eye meeting between the Prime Minister and President Erdoğan to discuss bilateral cooperation as well as regional and international issues of mutual concern.

Following the four-eye meeting, both leaders will co-chair the inaugural Malaysia–Türkiye High-Level Strategic Council (HLSC). The HLSC serves as a platform to review bilateral cooperation, assess ongoing initiatives, and explore new avenues of collaboration. Discussions are expected to cover trade and investment, agriculture and commodities, defence, security, energy, semiconductor, health, tourism, education and people-to-people exchange, as well as regional and international matters.

Both Leaders will also witness the exchange of several key documents, including Memorandum of Understanding (MoU) on Cooperation in the Field of Information and Communication Technologies; MoU on Cooperation between the Malaysian Investment Development Authority (MIDA) and the Investment and Finance Office of the Presidency of the Republic of Türkiye; MoU on Cooperation between EXIM Bank Malaysia and Turk Eximbank; Memorandum of Understanding and Cooperation between the Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia and the Foundation for Political, Economic and Social Research (SETA); and Letter of Acceptance for the Procurement of One (1) Unit of Multi-Purpose Mission Ship (MPMS) 2.

As part of the programme, the Prime Minister will participate in a Business Roundtable Meeting with leading Turkish industry captains to promote trade and investment opportunities in Malaysia. He will also deliver a public lecture entitled “Power Shift: Strategic Choices for Malaysia and Türkiye” in collaboration with Türkiye’s leading think-tank, SETA, outlining Malaysia’s foreign policy priorities and exploring avenues for aligned cooperation with Türkiye.

The official visit underscores Malaysia’s ongoing commitment to deepening ties with the Republic of Türkiye, following the elevation of bilateral relations to a Comprehensive Strategic Partnership in July 2022.  

From January to November 2025, Malaysia’s total trade with Türkiye amounted to RM21.2 billion (USD4.92 billion). The Republic of Türkiye continues to be an important economic partner for Malaysia. In 2024, Türkiye was Malaysia’s third largest trading partner, largest export destination, and fourth largest import source among West Asia countries with total trade valued at RM24.15 billion (USD5.28 billion).

(KLN)

Batalyon Parako 471 Pasgat Terima Dua Unit Kendaraan Pendukung Baru

08 Januari 2026

Penyerahan kendaraan taktis Maung (photos: Kopasgat)

MADIUN — Yon Parako 471 Pasgat menerima dua unit kendaraan dinas baru berupa kendaraan taktis Maung dan kendaraan khusus M3CS (Multi Mission Mobile Communication System). Penerimaan tersebut ditandai dengan acara tasyukuran yang dipimpin langsung Komandan Batalyon Parako 471 Pasgat, Letkol Pas Jemy Pria Utama, S.H., Senin (29/12/2025).

Penerimaan kendaraan dinas ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesiapan operasional satuan. Kehadiran kendaraan Maung dan M3CS diharapkan dapat mendukung mobilitas, efektivitas, serta kesiapsiagaan Yon Parako 471 Pasgat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi satuan pada berbagai penugasan.

Penyerahan kendaraan khusus M3CS (photo: Kopasgat)

Dalam sambutannya, Letkol Pas Jemy Pria Utama, S.H. menyampaikan bahwa penambahan kendaraan dinas tersebut merupakan bentuk perhatian dan dukungan pimpinan terhadap kesiapan operasional satuan Korpasgat. Danyon menegaskan agar kendaraan Maung dan M3CS dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh prajurit guna menunjang kelancaran tugas serta meningkatkan profesionalisme dalam setiap kegiatan operasional.

Sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan tasyukuran dilaksanakan dengan pemecahan kendi dan pemotongan tumpeng, yang dilanjutkan dengan makan bersama seluruh prajurit. Kegiatan ini diharapkan semakin mempererat kebersamaan dan soliditas prajurit dalam mendukung kesiapan satuan ke depan. (Kopasgat)

Kendaraan khusus M3CS (photo: Palpos)

Mengenal M3CS Milik Kopasgat TNI AU: Inovasi Terbaru dalam Komunikasi dan Pengawasan Militer

NASIONAL, PALPOS.ID-Teknologi semakin memainkan peran yang vital dalam dunia militer, dan salah satu inovasi terbaru yang patut diperhatikan adalah Kendaraan Tempur Multi Mission Mobile Communication System (M3CS) milik Kopasgat TNI AU.

M3CS dirancang dengan tujuan utama sebagai kendaraan komando mobile yang dilengkapi dengan teknologi radar canggih yang mampu mendeteksi berbagai objek yang memantulkan gelombang elektromagnetik dengan luas penampang tertentu.

Salah satu fitur utama yang membuat M3CS begitu penting adalah kemampuannya untuk terhubung dengan berbagai perangkat seperti HT (Handy Talky) dan drone, baik untuk tangkapan suara maupun video secara real-time.

Kendaraan khusus M3CS (photo: Kopasgat)

Hal ini memungkinkan pengguna untuk memantau situasi lapangan dengan lebih akurat dan cepat, melalui percakapan langsung maupun rekaman video yang diterima secara instan.

Kehadiran M3CS menjadi sebuah keuntungan besar dalam pelaksanaan pengamanan acara-acara penting kenegaraan, karena kendaraan ini mampu membuka jalur komunikasi yang efektif antara posko lapangan dengan markas komando.

Dengan demikian, kondisi riil di lapangan dapat termonitor secara visual secara langsung, memungkinkan para komandan dan personel militer untuk mengambil keputusan yang tepat dengan cepat dan akurat.

Selain itu, M3CS juga memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi militer secara keseluruhan.

Kendaraan khusus M3CS (photo: Puspen TNI)

Dengan teknologi yang dimilikinya, kendaraan ini dapat menjadi tulang punggung dari sistem komunikasi dan pengawasan di medan perang, memastikan bahwa informasi penting dapat diterima dan diproses dengan cepat, sehingga meminimalkan risiko dan meningkatkan keselamatan bagi para personel militer.

Dengan segala fitur canggih dan manfaatnya, M3CS milik Kopasgat TNI AU tidak hanya menjadi sebuah inovasi teknologi yang impresif, tetapi juga menjadi simbol dari komitmen Indonesia dalam mengembangkan kemampuan militer yang modern dan tangguh.

Diharapkan, kehadiran M3CS ini dapat memberikan kontribusi positif dalam menjaga kedaulatan dan keamanan negara, serta melindungi kepentingan nasional Indonesia di masa depan. (Palpos)

06 Januari 2026

Marsun Shipyard Designed Multirole Patrol Vessel Royal Thai Navy

07 Januari 2026

Commander of the Coast Guard Squadron, Royal Thai Navy, and his delegation visited Marsun Public Co Ltd to discuss ways to develop capabilities regarding Multi-purpose Patrol Vessels to replace decommissioned vessels in the future, as well as approaches to developing and improving vessels in the Coast Squadron that were built by Marsun Public Company Limited (photo: Royal Thai Navy)

During the Defense & Security 2025 exhibition of defense equipment and technology, held at Challenger Hall 1-2, IMPACT Exhibition Center, Muang Thong Thani, Nonthaburi, Thailand, from November 10-13, 2025, Marsun Public Company Limited (Thailand) discussed its business development strategy to focus more on export markets.

Marsun Thailand also informed that it is currently developing and designing a new "multirole patrol vessel" to meet the needs of the Royal Thai Navy, which has a strategic plan to reduce its ship classes and ship types in the future, as well as exploring the possibility of exporting, but did not provide further details.

The development of multi-purpose patrol vessels by Marsun has been clearly stated as a reality, as evidenced by the Coast Guard Squadron (CGS) of the Royal Thai Fleet (RTF) visiting Marsun on December 1, 2025, to discuss ways to develop capabilities for multi-purpose patrol vessels to replace decommissioned ones.

M21 Patrol Boat (infographic: Marsun)

Patrol Boat
Currently, the main naval forces of the Coast Guard Fleet are all ships built in Thailand, almost all using the Marsun Thai design, with the exception of the three T.81-class coastal patrol boats, the three T.111-class coastal patrol boats, and the two T.114-class coastal patrol boats with M36 Patrol Boat.

The coastal patrol vessels of the T.991 series (3 vessels), the coastal patrol vessels of the T.994 series (3 vessels), and the coastal patrol vessels of the T.997 series (2 vessels), the coastal patrol vessel of the T.227 series (1 vessel), and the coastal patrol vessels of the T.228 series (3 vessels).

The coastal patrol boats of the T.232 series (6 vessels), the coastal patrol boats of the T.261 series (4 vessels), the coastal patrol boats of the T.265 series (5 vessels), and the coastal patrol boats of the T.270 series (5 vessels) with M21 Patrol Boat.

M36 Patrol Boat (infographic: Marsun)

Missle Boat
Currently, the Coast Guard Fleet (CGF) likely has the full number of coastal patrol vessels (CPTs) and inshore patrol vessels (INVs) required for operational use. The Gulf Patrol Squadron (PS), another key naval force of the Royal Thai Fleet, is facing decommissioning and has a large number of its warships of various types nearing retirement in recent years. These vessels include:
-The three guided missile attack craft of the HTMS Prabparapak class (HTMS Prabparapak 311, HTMS Hanhaksatru 312, and HTMS Suphairin 313), and 
-The three guided missile attack craft of the HTMS Rajariddhi class (HTMS Rajariddhi 321, HTMS Wittayakhom 322, and HTMS Udomdet 323) have all been decommissioned.

Fast Attack Craft (FAC)
The fast gunboat (FAC) class of fast gunboats includes the three ships of the HTMS Chonburi class (HTMS Chonburi 331, HTMS Songkhla 332, and HTMS Phuket 333). The latest, HTMS Phuket, was decommissioned on October 1, 2025. HTMS Chonburi and HTMS Songkhla are expected to be gradually decommissioned in the following years, marking the end of the FAM class of fast gunboats in the Royal Thai Navy.

M58 Patrol Gun Boat (infographic: Marsun)

Patrol Craft (PC)
The patrol gunboat type is another type of ship under the Gulf Patrol Fleet, Royal Thai Navy, that is all built in Thailand, except for one patrol gunboat of the HTMS Laem Sing class (M58 patrol gun boat) built by the Thai shipyard Marsun, and three patrol gunboats of the HTMS Hua Hin class (HTMS Hua Hin 541, HTMS Klaeng 542 and HTMS Sriracha 543) which entered service in 2016 and 2001 respectively.

The six Sattahip-class gun patrol ships (HTMS Sattahip 521, HTMS Khlong Yai 522, HTMS Tak Bai 523, HTMS Kantang 524, HTMS Thepa 525, and HTMS Thaimueang 526) were commissioned from 1983-1986. This may also include the three Kamronsin-class anti-submarine patrol ships (HTMS Kamronsin 531, HTMS Thayan Chon 532, and HTMS Longlom 533), which were commissioned in 1992 under the 1st Frigate Squadron (1st FS).

Multi-purpose Patrol Vessel
To replace these vessels, the new multi-purpose patrol vessel will be larger than gun patrol boats but smaller than offshore patrol vessels, such as the two Pattani-class offshore patrol boats (HTMS Pattani 511 and HTMS Narathiwat 512) and the two Krabi-class offshore patrol boats (HTMS Krabi 551 and HTMS Prachuap Khiri Khan 552). They feature a modular design capable of supporting the installation of various mission modules adaptable to diverse missions in both peacetime and wartime, including unmanned surface vehicles (USVs).

(AAG)

Meninjau Program Akuisisi Jet Tempur Indonesia Tahun 2026

06 Januari 2026

Pesawat tempur Rafale untuk Indonesia versi satu tempat duduk dengan nomor registrasi T-0317 (photo: Swiderek Maciejka)

Walaupun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas sudah menyetujui Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM) 2025-2029 untuk Kementerian Pertahanan sebesar US$28 miliar, masih terdapat misteri terkait rencana belanja pemerintah tersebut.

Hal demikian karena sistem senjata yang akan dibeli dalam Blue Book masih bersifat pilihan-pilihan, di mana keputusan akhir tentang satu di antara sekian opsi yang diimpor akan ditentukan oleh pengambil keputusan. Masih tersedianya sejumlah pilihan membuat dokumen itu lebih mirip Rencana Kebutuhan yang diajukan oleh Kementerian Pertahanan daripada DRPLN-JM itu sendiri.

Kuota belanja senilai US$ 28 miliar pun sangat boleh jadi hanya bersifat sementara, mengingat karakter pemerintahan saat ini yang dapat mengubah rencana belanja di tengah jalan. Dari alokasi US$28 miliar, belum diketahui pasti berapa jatah belanja untuk TNI Angkatan Udara, sebab DPRPLN-JM 2025-2029 nampaknya diperlakukan sebagai rahasia negara.

Padahal sumber pembiayaan kegiatan tersebut akan berasal dari pinjaman lembaga keuangan asing, selain bahwa pihak-pihak pabrikan asing yang menerima kontrak tidak pernah merahasiakan pesanan dari Indonesia.

Nilai Pinjaman Luar Negeri
Di samping itu, Kementerian Keuangan secara periodik selalu menerbitkan laporan tentang penarikan Pinjaman Luar Negeri (PLN), di mana nilai utang yang ditarik, lender dan kementerian pengguna utang tercantum. Mengacu pada tiga Blue Book yang diterbitkan selama periode 2010-2020 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, TNI Angkatan Udara selalu menerima alokasi PLN terbesar dibandingkan dua angkatan lain.

Mengingat bahwa sampai saat ini belum diketahui berapa besar alokasi PLN yang diperuntukkan bagi TNI Angkatan Udara, secara otomatis belum terungkap pula berapa dana utang yang akan dibelanjakan untuk akuisisi jet tempur pada periode 2025-2029.

Pada periode sebelumnya, secara keseluruhan besaran kuota PLN guna mendukung pengadaan pesawat tempur jet, termasuk pesawat tempur latih, adalah US$ 11,2 miliar. Dari angka tersebut, US$ 8,4 miliar telah dibelanjakan dalam bentuk kontrak kepada Dassault Aviation dan Korea Aerospace Industries (KAI), sedangkan sisanya senilai US$2,8 milyar belum dibelanjakan.

Model pesawat Rafale untuk Indonesia pada Indo Defence 2025 (photo: Defense Studies)

Alokasi PLN sebesar US$2,8 miliar dimaksudkan untuk membiayai program pembelian kontroversial yang tidak melalui perencanaan matang, yaitu impor 12 J-10B+ bekas dari Cina dan pengadaan purwarupa pesawat dari Turki yang diklaim sebagai generasi kelima namun tidak memiliki sistem pendorong sama sekali.

Memperhatikan dinamika sejak semester kedua 2025 sampai hari-hari awal 2026, terdapat kecenderungan kuat bahwa Kementerian Pertahanan akan kembali meneruskan modernisasi kekuatan udara Indonesia, khususnya bagi jenis pesawat tempur.

Pertanyaannya ialah pesawat tempur asal negara mana yang memiliki peluang besar untuk diakuisisi pada periode 2025-2029? Apakah penempur buatan Amerika Serikat, Prancis, Korea Selatan ataukah Rusia? Rencana akuisisi jet tempur buatan Rusia kini tidak dapat diabaikan lagi, sebab Indonesia terbukti tidak takut dengan ancaman sanksi CAATSA sebagaimana tercermin dari aktivasi kontrak pengadaan 11 Su-35 pada 2025.

Tambahan Rafale dan pengadaan KF-21
Terkait dengan pertanyaan tentang pesawat tempur apa yang akan dibeli Indonesia pada 2026 atau antara 2026 sampai 2029, jawaban atas pertanyaan tersebut mengacu pada parameter perkembangan yang terjadi sejak periode enam bulan kedua 2025 hingga empat hari pertama 2026.

Pertama, pengadaan lanjutan Rafale sebagai perwujudan Letter of Intent yang diteken pada 28 Mei 2025. Kementerian Pertahanan setidaknya akan melakukan pengadaan 18 unit jet tempur yang mengadopsi sistem propulsi ganda tersebut setelah sebelumnya telah memberikan kontrak akuisisi 42 Rafale kepada Dassault Aviation. Kejelasan mengenai tambahan Rafale nampaknya akan terlihat dalam 31 hari pertama tahun ini bila tidak ada perubahan perkembangan.

Kedua, akuisisi KF-21 sebagai kelanjutan Engineering, Manufacturing and Development (EMD) fase pertama. Tipe KF-21 yang akan dibeli oleh Indonesia adalah Block 2 dengan kemampuan serangan udara ke darat dan udara ke udara.

Saat ini Indonesia dan Korea Selatan tengah menempuh sejumlah langkah guna mewujudkan pengadaan penempur bermesin ganda tersebut, baik secara bilateral maupun unilateral. Seumpama tidak ada aral melintang, bisa saja kontrak pengadaan KF-21 Block 2 akan ditandatangani pada tahun ini sehingga pesawat pertama dapat diserahkan pada 2028 alias sebelum pemilu 2029.

Model pesawat KF-21 untuk Indonesia pada Indo Defence 2025 (photo: Defense Studies)

Dari sisi biaya, diperkirakan rencana akuisisi Rafale dan KF-21 akan membutuhkan PLN sekitar US$5 milyar hingga US$6 milyar dengan memasukkan faktor dukungan logistik, pelatihan dan pengadaan persenjataan. Angka perkiraan demikian juga berangkat dari asumsi bahwa Indonesia akan membeli sekitar satu skadron jet tempur untuk setiap tipe pesawat tempur tersebut. 

Faktor dukungan logistik dan pembelian rudal dan bom penting untuk diperhatikan berdasarkan pengalaman Indonesia saat melakukan pengadaan 42 Rafale yang terlalu memberikan fokus kepada wahana terbang.

Sebaliknya, Indonesia tidak dapat sepenuhnya bertumpu pada periode jaminan yang diberikan oleh pabrikan, sebab periode itu memiliki klausul "xxx jam terbang atau dua tahun kalender", di mana salah satu klausul yang tercapai terlebih dahulu akan membuat masa jaminan berakhir.

Secara teknis, apakah Indonesia akan menandatangani kontrak pembelian Rafale dan KF-21 pada 2026 sangat tergantung pada keputusan politik yang dikeluarkan oleh pengambil keputusan. Dari sisi alur birokratis, penandatanganan kontrak dapat dilakukan setelah Menteri Keuangan mengeluarkan Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP), di mana dokumen tersebut dapat terbit setelah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas merumuskan Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri, dan Daftar Kegiatan Khusus.
Namun mengingat rekam jejak beberapa tahun lampau, Kementerian Pertahanan dapat saja meneken kontrak akuisisi walaupun tidak didukung oleh PSP. Di sisi lain, eksekutif pabrikan seperti Dassault Aviation dan KAI sudah mempunyai pemahaman tentang bagaimana alur akuisisi sistem senjata di Indonesia, sehingga dapat dipastikan mereka akan menolak meneken kontrak yang dari sudut pembiayaan belum disetujui oleh Menteri Keuangan.

Pesawat tempur tipe lain
Di samping Rafale dan KAI, apakah ada jet tempur lain yang akan diakuisisi antara 2026 sampai 2029? Jawaban atas pertanyaan demikian hanya dapat dijawab oleh pengambil keputusan mengingat bahwa perencanaan yang matang tidak lagi menjadi bagian dalam belanja sistem senjata. Kondisi tersebut sebenarnya membuat TNI Angkatan Udara dalam posisi yang sulit, sebab angkatan itu harus menyiapkan segala hal yang berkenan dengan operasional penempur-penempur baru.

Sementara di sisi lain muncul kritik dari sejumlah kalangan bahwa diversifikasi sumber pesawat tempur Indonesia sudah melampaui batas, apalagi diversifikasi lebih sering diartikan sebagai "asal bukan buatan Amerika Serikat" dan mengabaikan fakta tentang rantai pasok global dalam pasar penempur global saat ini dan ke depan. (Alman Helvas Ali)


PT PAL Indonesia Raih Kontrak Rp 48 Triliun, Bukti Sukses Transformasi Industri Maritim Nasional

06 Januari 2026

KRI Balaputradewa 322 dalam penyelesaian di PT PAL (photo: IMI)

PT PAL Indonesia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor galangan kapal, berhasil mencatatkan nilai kontrak berjalan (on hand) sebesar Rp 48 triliun. Angka ini melonjak drastis dari sebelumnya hanya Rp 2,5 triliun, menandai keberhasilan transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyatakan optimismenya terhadap prospek pertumbuhan ekosistem industri maritim dan bisnis galangan kapal di Indonesia. Menurutnya, komitmen Presiden Prabowo untuk terus mendorong langkah strategis demi kemandirian sektor maritim RI menjadi pendorong utama.

Tahun 2025 menjadi periode krusial pembuktian bagi transformasi PT PAL Indonesia. Perusahaan sukses mengembangkan teknologi sistem Informasi Manajemen Aset Gadget (IM4) yang telah diimplementasikan kepada 1.553 pegawai, menunjukkan peningkatan kinerja sumber daya manusia. Selain itu, kapasitas produksi juga meningkat signifikan dari 15 blok per bulan menjadi 100 blok per bulan.

Mureks mencatat bahwa percepatan proses pembangunan Fregat, kapal kombatan untuk patroli, juga menjadi salah satu capaian penting. Waktu pengerjaan yang sebelumnya memakan 22 bulan kini berhasil dipersingkat menjadi 8 bulan.

Di sisi keuangan, PT PAL Indonesia berhasil memperbaiki kinerja secara drastis, mencapai Koletibilitas 1 (KOL 1) dari sebelumnya berada di KOL 5 selama 20 tahun. Perbaikan ini menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan dan ekspansi bisnis perusahaan ke depan.

05 Januari 2026

10th FAB Conducts 6th FAGPT Live Fire Exercise 02-2025 in Kalasungay, Malaybalay City

05 Januari 2026

10th FAB conducted FAGPT at Malaybalay City (photos: 10th FAB)

The 10th Field Artillery “Rolling Thunder” Battalion successfully conducted the 6th Field Artillery Gunnery Proficiency Training (FAGPT) Live Fire Exercise 02-2025 from 28–30 November 2025 at Brgy. Kalasungay, Malaybalay City, Bukidnon.


The event was closely supervised and facilitated by LTC STEEVE M. ESPINOZA GSC (ART) PA, Executive Officer, 10FAB, and the Designated Safety Officer of the Live Fire Exercise, ensuring the precise execution of fire missions and strict adherence to safety protocols throughout the 3-day activity. The exercise aims to enhance the unit’s operational effectiveness by strengthening the technical proficiency, accuracy, and tactical readiness of the ATMOS 2000 and its artillery personnel.


The activity was further highlighted by the presence of key local leaders, including Hon. Jonathan Keith T. Flores, Representative of the 2nd District of Bukidnon, and Hon. Jason Chad Ayala, City Councilor of Malaybalay City, whose attendance underscored their support for the Army’s training initiatives and community partnership efforts.


The conduct of the training was made possible through the unwavering support of Hon. Rogelio Neil P. Roque, Governor of Bukidnon, and the participation of partner units and agencies, including the 8th Infantry Battalion, 4th Field Artillery Battalion, 4th CMO Battalion, 403rd Brigade Medical Team, Bureau of Fire Protection (BFP) Malaybalay City, and 4th CAV (S), Armor Division, which provided essential operational, armored support, and safety assistance.


The successful completion of this gunnery exercise reaffirms the Philippine Army’s commitment to maintaining a highly capable and mission-ready artillery force, consistent with its mandate to uphold peace, security, and stability across the region.