10 Februari 2026

Brigif 1 Marinir Selenggarakan Pelatihan Penembakan Mortir Berbasis Komputer

10 Februari 2026

Penembakan mortir berbasis komputer di Pasmar 1 (photo: Pasmar 1)

TNI AL, Dispen Kormar, Pasmar 1 -- Prajurit Brigade Infanteri 1 Marinir (Brigif 1 Mar) telah melaksanakan pelatihan sistem penembakan Mortir berbasis komputer yang diselenggarakan oleh PT. Hariff Dipa Persada. Kegiatan ini resmi ditutup oleh Asisten Logistik Komandan Pasmar 1 (Aslog Danpasmar 1) Kolonel Marinir Yasri Sani Pulungan bertempat di Brigif 1 Marinir, Kesatriaan Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, kamis (05/02/2026).

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit dalam mengoperasikan sistem penembakan mortir secara modern, akurat, dan efektif dengan memanfaatkan teknologi berbasis komputer. Melalui pelatihan ini, prajurit diharapkan mampu mengaplikasikan sistem penembakan mortir secara tepat guna mendukung tugas pokok satuan di medan operasi.


Di lain tempat, Danbrigif 1 Marinir Kolonel Marinir Alim Firdaus, S.H., M.T.r Hanla., M.M., menyampaikan bahwa perkembangan teknologi militer menuntut setiap prajurit Marinir untuk terus meningkatkan kemampuan dan wawasan, khususnya dalam penguasaan alutsista berbasis teknologi.

“Manfaatkan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan ini dengan sebaik-baiknya. Terus berlatih dan tingkatkan kemampuan agar senantiasa siap melaksanakan tugas operasi maupun latihan,” tegas Danbrigif 1 Marinir.

KAI Raih Kontrak Pemeliharaan Jet FA-50PH Senilai 101,4 Miliar Won dari Filipina

10 Februari 2026

Pesawat FA50 dalam pengecekan akhir sebelum serah terima (photo: Defense24)

SEOUL (Yonhap) -- Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd. pada hari Jumat mengumumkan telah mengamankan kontrak logistik berbasis kinerja/performance-based logistics (PBL) senilai 101,4 miliar won (US$69,1 juta) dari Filipina untuk menyediakan dukungan pemeliharaan dan logistik jangka panjang bagi jet tempur FA-50PH yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Filipina.

Berdasarkan kontrak tiga tahun tersebut, KAI akan menyediakan dukungan pemeliharaan dan logistik untuk jet tempur tersebut hingga tahun 2028. FA-50PH adalah varian modifikasi dari jet FA-50 KAI yang dirancang khusus untuk militer Filipina.

PBL dianggap sebagai model dukungan logistik canggih yang dirancang untuk memastikan dukungan yang stabil dan efisien sepanjang masa pakai pesawat sekitar 30 hingga 40 tahun.

Kesepakatan ini menyusul kontrak percontohan PBL satu tahun sebelumnya senilai sekitar 27 miliar won yang ditandatangani KAI dengan Filipina pada Desember 2024.

KAI mengatakan keberhasilan pelaksanaan program percontohan tersebut mengarah pada penandatanganan kontrak terbaru ini.

Filipina adalah salah satu operator luar negeri utama pesawat FA-50 KAI. Negara ini awalnya membeli 12 unit FA-50PH pada tahun 2014 dan telah memesan tambahan 12 unit tahun lalu.

Singapura Akan Membeli Radar Giraffe 1X

10 Februari 2026

(photo: Saab)

Singapura membeli Saab Giraffe 1X untuk menggantikan Radar Pencarian dan Akuisisi Target Portabel/Portable Search and Target Acquisition Radar (PSTAR) miliknya.

Pengembangan ini diungkapkan oleh Kepala Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) Mayor Jenderal Kelvin Fan Sui Siong, dalam jawaban tertulis atas pertanyaan dari media menjelang Singapore Airshow 2026.

“Giraffe 1X akan meningkatkan kemampuan kita untuk mendeteksi berbagai ancaman udara yang lebih luas, termasuk drone kecil, dan akan memberikan pengawasan jarak pendek yang vital untuk mendukung operasi militer,” kata Mayjen Fan.

“Untuk lebih meningkatkan mobilitas dan memperluas cakupan pertahanan udara, kami juga akan mengakuisisi kendaraan URO Vehículo de Alta Movilidad Táctico (VAMTAC), yang akan memasang RBS-70 atau Giraffe 1X kami,” tambah kepala tersebut.

PSTAR adalah radar medan perang portabel yang dikembangkan oleh Lockheed Martin dan juga disebut sebagai AN/PPQ-2.

Ini adalah radar pita L yang ringkas dan ringan yang dirancang untuk tujuan peringatan dini dan akuisisi target.

Dalam layanan Angkatan Darat Singapura, PSTAR biasanya bekerja bersama unit yang menggunakan sistem pertahanan udara jarak pendek portabel RBS-70.

Sementara itu, Giraffe 1X adalah radar yang ringkas dan ringan yang dirancang untuk penyebaran cepat dan mobilitas tinggi.

Dengan berat kurang dari 150 kg dan mampu dipasang pada kendaraan ringan seperti VAMTAC, ia menawarkan kemampuan pengawasan 360° terhadap berbagai ancaman udara termasuk drone kecil yang terbang rendah; helikopter; dan pesawat terbang yang bergerak cepat.

Radar Giraffe 1X juga dapat memberikan peringatan dini terhadap roket, artileri, dan mortir yang datang.

(Jane's)

09 Februari 2026

Alih Bina KRI, Untuk Efektifkan Operasi dan Pemeliharaan

09 Februari 2026

Alih Bina KRI tiga tipe kapal ke Komando Armada I (photo: Komando Armada RI)

TNI Angkatan Laut, Koarmada RI -- Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada RI) Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M., meresmikan alih bina dua kapal buru ranjau kelas KRI Pulau Rengat (PRE 711) KRI Pulau Rupat (PRP 712) dari Komando Armada II ke Komando Armada I.

Alih bina dua unit Kapal Korvet kelas KRI Fatahilah (FTH 361) KRI Malahayati (MLH) 362 dari Koarmada III ke Koarmada I.

Alih bina dua unit kapal latih KRI Arung Samudera (ARS 930), KRI Dewaruci (DWR 900) dari Koarmada II ke Koarmada I Jumat (6/2/2026 ) bertempat di Geladak KRI Dewaruci yang sandar di Kesatrian Pondok Dayung Jakarta Utara yang dihadiri Pangkoarmada I II dan III beserta jajaran.

Pangkoarmada RI dalam amanatnya menyampaikan bahwa alih bina KRI merupakan langkah strategis Koarmada RI dalam rangka menata kekuatan, mengoptimalkan pola operasi, serta meningkatkan kesiapsiagaan unsur TNI Angkatan Laut guna menjamin keamanan wilayah laut dan jalur pelayaran strategis Nasional.

Lebih lanjut disampaikan bahwa seluruh unsur yang dialihbina agar segera menyesuaikan diri,meningkatkan soliditas, serta melaksanakan tugas dengan profesional, disiplin, dan penuh tanggung jawab demi mendukung keberhasilan tugas pokok TNI Angkatan Laut.

Royal Thai Navy Begins Submarine Crew Recruitment

09 Februari 2026

China State Shipbuilding Corporation (CSSC) S26T submarine is 2,600 ton equipped with Air-independent propulsion (AIP) (photo: CSSC)

The Submarine Squadron, Royal Thai Fleet (RTF), has opened applications for the selection of submarine personnel, instructor training courses, and combat staff training courses under the S26T submarine procurement project to fill 42 vacant positions. Applications will be accepted from December 30, 2025 to January 9, 2026.

The submarine crew consists of 28 personnel, including 11 commissioned officers: Navigation Officer and Third Navigator, and Weapons Officer (5 positions); Second Engineer and Third and Fourth Engineer (3 positions); Medical Officer (2 positions); and Sonar Officer, with ranks between Lieutenant Commander and Lieutenant. And 17 non-commissioned officer positions: 1 Quartermaster, 1 Underwater Weapons Technician, 11 Engineer Technicians, 2 Petty Officers, 1 Radio Operator, and 2 Sonar Operators, with ranks between Chief Petty Officer First Class and Petty Officer First Class.

The instructor training course has 2 positions, including a submarine escape instructor (Safety Training Section, rank of Lieutenant Commander) – 1 position, and a mechanical engineering instructor (Electrical and Electronics Training Section, rank of Lieutenant Commander) – 1 position. There are also 12 positions for the combat staff course, with ranks between Commodore and Lieutenant Commander.

The Wuchang shipyard in Wuhan, China, has completed the construction of the first four of eight Hangor-class submarines for the Pakistan Navy (PN) during the 2024-2025 period. Three submarines are expected to be launched in 2025, and sea trials are currently underway before the first delivery in 2026. It is understood that Wuchang will now have more time, manpower, and resources available to construct the first S26T submarine for the Royal Thai Navy.

Thailand signed an amendment to the contract in September 2025 to accept the CHD620 diesel engine for the generator instead of the German MTU 396. A Thai Navy delegation recently visited China from December 9-19, 2025, to monitor the project's progress. The launching ceremony for the Royal Thai Navy's first S26T submarine may take place sooner than expected if no further problems arise.

(AAG)

TLDM akan Operasikan Dua Jenis Misil Antipermukaan Pengganti Exocet - Khaled Nordin

09 Februari 2026

Rudal Kongsberg NSM berjangkauan 250km dan kecepatan Mach 0,93 dengan hulu ledak 120 kg (photo: Kongsberg)

KUALA LUMPUR: Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) akan mengoperasikan dua jenis Surface to Surface Missiles (SSM) atau misil antipermukaan termasuk Naval Strike Missile (NSM) dari Norway yang akan diterima pada Mac ini.

Kementerian Pertahanan (MINDEF) memaklumkan selain itu misil ATMACA dari Turkiye pula sedang dalam proses perolehan dan dijangka diterima pada 2028.

"MINDEF telah merangka pelan penggantian secara berperingkat bagi keupayaan peluru berpandu antikapal TLDM, dengan menilai platform peluru berpandu generasi baharu termasuk NSM yang mempunyai keupayaan jarak lebih jauh, kebolehan menghindari radar yang lebih tinggi serta integrasi rangkaian sensor moden.

"Pendekatan berperingkat dan berhemah ini mencerminkan komitmen kerajaan untuk memodenkan keupayaan TLDM secara realistik dan mampan, selaras dengan keperluan keselamatan maritim negara dan kemampuan fiskal semasa," menurut MINDEF dalam jawapan bertulis menerusi laman rasmi Parlimen.

Rudal Roketsan Atmaca berjangkauan 220km dan kecepatan Mach 0,90 dengan hulu ledak 250kg (image: DefTurk)

Jawapan itu dikemukakan kepada Datuk Seri Ikmal Hisham Abdul Aziz (PN-Tanah Merah) yang ingin tahu rancangan penggantian peluru berpandu jenis Exocet MM40 Blok II (berusia 29 tahun) yang usang dan tidak relevan lagi digunakan untuk kapal tempur milik TLDM serta jangkaan program penggantian itu selesai.

Dalam soalan berasingan, MINDEF memaklumkan jadual pentauliahan Kapal Tempur Pesisir 1 (LCS 1) dipinda ke Disember 2026 manakala LCS 2 pula pada Ogos tahun hadapan, berdasarkan maklum balas oleh Lumut Naval Shipyard (LUNAS) yang dikemukan kepada Pasukan Projek LCS TLDM.

Menurut kementerian itu, bagi kapal berikutnya pentauliahan LCS 3 kekal pada Disember 2027, LCS 4 (Ogos 2028) dan LCS 5 (April 2029).

"Hingga 25 Dis 2025, kementerian dimaklumkan oleh LUNAS bahawa kemajuan keseluruhan Projek LCS telah mencapai 75.73 peratus sebenar berbanding 81.57 peratus perancangan," menurut jawapan MINDEF kepada Nik Nazmi Nik Ahmad (PH-Setiawangsa) yang ingin tahu status terkini proses ujian dan pentauliahan LCS.

08 Februari 2026

PTDI dan Sari Bahari Jajaki Ekspansi Pasar Global Roket Nasional

08 Februari 2026

Penanda-tanganan LoI PT DI dan PT Sari Bahari (photo: PT DI)

Singapura  – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Sari Bahari menyepakati penandatanganan Letter of Intent (LoI) pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, dan Vice President Director PT Sari Bahari, Putra Prathama Nugraha, bertempat di booth PTDI A-L31.

Kesepakatan ini mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan. “Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen PTDI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai lead integrator industri dirgantara nasional, PTDI memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan dan integrasi sistem senjata, termasuk pada platform udara dan sistem pendukungnya. Dengan kapabilitas rekayasa, pengujian, serta sertifikasi yang dimiliki, PTDI terus mengembangkan perannya tidak hanya sebagai produsen pesawat, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan sistem persenjataan terpadu. Kerja sama dengan PT Sari Bahari ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing produk pertahanan nasional di pasar global.