13 Januari 2026
RTN Received the SENTINEL 30 Machine Gun Mounts for the Two Tor 997-class Patrol Boats
KRI Prabu Siliwangi 321 Jalani Sea Trial Perdana di Italia
12 Januari 2026
The Philippines is Likely to be the First Southeast Asian Country to Acquisition of KF-21
12 Januari 2025
The KF-21 Boramae Block 1 fighter jet costs around US$ 83 million, while the KF-21 Block 2 is around US$ 112 million. Its price competitiveness to be around half that of the F-35 stealth fighter (approximately 200 million dollars) (photo: Reddit)The Philippines is pushing to purchase the KF-21 using foreign loans through a legal amendment this year, and is reportedly hoping for delivery after 2027 following news that Korea has begun full-scale mass production.
The Philippines has been negotiating to purchase the KF-21 since October of last year, and has previously signed a contract worth $700 million to purchase 12 FA-50PH fighters, which will be delivered at a faster pace than the usual three-year or more production period for the fighter jets.
An industry insider explained, “Based on its experience operating the FA-50, the Philippines is demonstrating a high level of trust in Korean fighter jets,” and “Negotiations for the export of the KF-21 are progressing smoothly.”
The next-generation weapon system development is reaching the stage of perfecting combat power
As global attention on the KF-21 grows, Korea is accelerating the development of advanced weapon systems specifically for the KF-21.
The Defense Acquisition Program Administration (DAPA) is currently reviewing the development of hypersonic weapons, which are expected to be next-generation weapons systems launched from the KF-21 and capable of striking key targets. The development of long-range, blackout guided missiles is also being considered.
The blackout missile is a soft-kill weapon that neutralizes the enemy's operational capabilities by striking substations, power facilities supporting national command centers, and military communications command systems. The concept is to paralyze the power grid from a long distance outside the air defense network.
KF-21 and FA-50 will equip PAF (photo: RoKAF)A military official said, “We will complete a truly independent combat capability by developing a Korean missile that can be equipped with American and European missiles while surpassing them.”
In addition, the Defense Acquisition Program Administration (DAPA) held a launch meeting for the Short-Range Air-to-Air Missile-II research and development project at the Agency for Defense Development (ADD) on the 2nd, and decided to invest a total of 435.9 billion won from 2025 to 2032 to develop a domestically produced short-range air-to-air guided missile.
Major defense companies such as LIG Nex1, Hanwha Aerospace, and KAI will participate in this project and collaborate.
A Predicted Change in the Global Defense Market Landscape
The KF-21 is currently in export negotiations with several countries.
In particular, large-scale negotiations are underway with Middle Eastern countries, and negotiations are accelerating with the goal of selecting a preferred bidder within the year. The Middle East is reportedly focusing on the KF-21's price-performance ratio as an alternative to American and European fighters.
The KF-21, with its first mass-produced aircraft slated for delivery in March 2026, is expected to see a total of 120 aircraft deployed to the ROK Air Force by 2032. The unit price is estimated at approximately 130-140 billion won (approximately 130-140 billion won) for Block 1, securing price competitiveness compared to competing aircraft such as the F-16V (approximately 150 billion won) and Rafale (approximately 180 billion won).
A Defense Acquisition Program Administration official emphasized, “Following the development of the KF-21, securing various aerial weapons, including short-range air-to-air guided missiles, with our own technology will be a significant turning point in the development of Korea’s aviation weapons systems and the development of defense export markets.” He added, “By completing an independent aviation power system that combines domestically produced fighter jets and domestically produced missiles, we will lead the change in the global defense market landscape.”
(Reportea)
Lawatan Kemajuan Projek Perolehan Multi Purpose Mission Ship (MPMS) Bagi APMM
12 Januari 2026
Progres MPMS 1 untuk APMM (MMEA) di galangan kapal Desan, Istanbul, Turki (photos: KDN)DESAN SHIPYARD, ISTANBUL, TURKIYE - Kementerian Dalam Negeri (KDN) yang diketuai oleh YBhg. Datuk Haji Makhzan bin Mahyuddin, Timbalan Ketua Setiausaha (Dasar dan Kawalan) telah mengadakan lawatan ke Desan Shipyard, Istanbul, Turkiye pada 9 Januari 2026 bagi meninjau kemajuan pembinaan kapal pertama Multi Purpose Mission Ship (MPMS) bagi Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia.
Lawatan ini adalah susulan daripada sesi penyerahan Surat Setuju Terima (LOA) kapal MPMS yang kedua (MPMS 2) kepada pihak syarikat yang telah berlangsung pada 7 Januari 2026 di Ankara, Turkiye.
Lawatan ini turut disertai oleh YBhg. Laksamana Madya (M) Datuk Saiful Lizan bin Ibrahim, Timbalan Ketua Pengarah (Logistik), Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) serta Tuan Azroul Hisham bin Azulan, Penasihat Undang-Undang KDN.
Melalui sesi ini, pihak syarikat telah membentangkan status terkini projek dengan kemajuan yang mendahului jadual pelaksanaannya.
Kemajuan positif ini menunjukkan komitmen dan keupayaan syarikat dalam melaksanakan projek dengan baik. Pelaksanaan projek MPMS 1 dijangka akan memberikan impak besar dalam memperkukuh keupayaan aset dan pengoperasian APMM di lapangan.
Perolehan kedua-dua kapal MPMS 1 dan MPMS 2 ini diharapkan dapat meningkatkan keupayaan pemantauan maritim negara oleh APMM secara lebih strategik dan menyeluruh.
(KDN)
Kunjungi Aselsan, Menhan Dapat Helm Pilot KAAN
12 Januari 2026
Menhan Sjafrie diberikan cenderamata helm pilot KAAN (photo: Kemhan)REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin melakukan kunjungan ke kompleks industri pertahanan Aselsan, Ankara, Turki, Jumat (10/1/2026). Sjafrie melihat berbagai produk Aselsan, termasuk sistem antidrone, sistem pertahanan udara (hanud), radar dan torpedo, hingga mock up jet tempur KAAN.
Dalam video yang dilihat Republika, didampingi Menhan Turki Yasar Guler, Sjafrie dengan saksama memerhatikan berbagai produk terkini Aselsan. Kunjungan diakhiri dengan pemberian cenderamata helm pilot jet tempur generasi kelima KAAN yang diserahkan Guler ke Sjafrie. Bahkan, helm karya Aselsan tersebut tertulis nama "Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin" dan bendera Turki-Indonesia.
"Helm pilot (KAAN)," kata Karo Infohan Setjen Kemenhan Brigjen Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi Republika di Jakarta, Sabtu (10/1/2026). Momen penyerahan helm dilakukan Guler ke Sjafrie didampingi CEO Aselsan Ahmet Akyol dan Sekretaris Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Gorgun.
Dik urip dari akun X @avionot, kontrak pembelian 48 unit jet KAAN sudah mencakup masalah mesin. "Indonesia bergantung pada persetujuan mesin AS untuk menerima pengiriman pesawat KAAN yang telah dibelinya? Perjanjian ekspor final yang ditandatangani dengan Indonesia merencanakan pengiriman pesawat tersebut dengan mesin TEI-TF35000 buatan Turki," demikian keterangannya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas penguatan kerja sama pertahanan Indonesia-Turki yang telah terjalin erat selama ini. Baik Sjafrie dan Guler sepakat mengembangkan industri pertahanan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta penguatan hubungan antarlembaga pertahanan kedua negara.
Indonesia dan Turki menegaskan komitmen untuk terus mendorong kerja sama yang saling menguntungkan dan berorientasi jangka panjang. Menhan Sjafrie menekankan, Indonesia memandang Turki sebagai mitra strategis dalam upaya memperkuat kemandirian pertahanan nasional.

Menteri Luar Negeri turut serta membahas kerjasama pertahanan (photo: Kemlu)
"Kerja sama diarahkan untuk mendukung pembangunan ekosistem industri pertahanan yang berkelanjutan, peningkatan profesionalisme prajurit, serta penguatan kapasitas pertahanan dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis global," ucap Sjafrie dalam siaran pers.
Sekretaris SSB Haluk Gorgun di akun media sosialnya menjelaskan tentang makna kehadiran Menhan Sjafrie di fasilitas Aselsan. Menurut dia, selama kunjungan tersebut, kedua pihak melakukan penilaian komprehensif terhadap kemampuan pengembangan dalam negeri Turki di industri pertahanan.
"Kami membahas kolaborasi yang ada serta peluang kemitraan baru yang dapat diimplementasikan dalam waktu dekat. Kami percaya bahwa peningkatan dialog antara Turki dan Indonesia di bidang industri pertahanan akan semakin diperkuat berdasarkan kepercayaan timbal balik dan visi strategis jangka panjang. Teknologi, infrastruktur produksi, dan keahlian teknik yang ditampilkan di Aselsan memberikan landasan penting untuk mengembangkan kolaborasi yang berkelanjutan, konkret, dan saling menguntungkan di industri pertahanan antara kedua negara. Saya berterima kasih kepada Menteri atas kunjungan dan penilaian konstruktifnya," kata Gorgun.
Kunjungan Sjafrie ke Ankara didampingi wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Dubes RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama, Kabaloghan Kemenhan Marsdya Yusuf Jauhari, Dirjen Strahan Kemenhan Mayjen Agus Widodo, serta delegasi Kemenhan. Adapun agenda Sjafrie dan Menlu Sugiono di Turki adalah melakukan pertemuan perdana 2+2 dengan Menhan Guler dan Menlu Turki Hakan Fidan.

























