02 Maret 2026

Chief of Defence Force Visited 150 SQN in France

02 Maret 2026

150 SQN airmen and women, as well as their counterparts from the French Air and Space Force (FASF) in front of RSAF’s M-346 advance jet trainer (photos: RSAF)

Earlier this month, Chief of Defence Force (CDF) VADM Aaron Beng visited 150 SQN at Cazaux Air Base, France.

VADM Beng toured the squadron’s facilities, where he observed various learning tools and tried the flight simulators. He rounded off the visit with an engagement session with detachment personnel, interacting with them and gaining insights into their training experiences.

At the Cazouk Airbase, France stationed 12 Alenia Aermacchi M-346 Master as Overseas Detachment (photo: RSAF)

Cazaux Air Base is home to 150 SQN and its personnel, including Pilots, Air Force Engineers, trainees and support staff.

The RSAF has conducted flying training in France since 1998, and the airspace is 32 times Singapore's size! This allows our pilots to hone their flying and combat skills.


Uji Fungsi ROV dan AUV, Satran Koarmada II Tingkatkan Kesiapan Tindakan Perlawanan Ranjau

02 Maret 2026

KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732 (photo: TNI AL)

TNI AL. Koarmada II -- Satuan Kapal Ranjau Koarmada II melaksanakan percobaan dan uji fungsi Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) yang melibatkan KRI Pulau Fani-731, KRI Pulau Fanildo-732, KRI Pulau Rupat-712, serta Satkoppeba Koarmada II pada 24–25 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan personel dan material dalam mendukung operasi Tindakan Perlawanan Ranjau.

KRI Pulau Rupat-712 (photo: TNI AL)

Pada hari pertama, seluruh unsur melaksanakan pengoperasian ROV yang diawali dengan pengecekan awal, pemasangan peralatan, hingga uji operasional di Kolam Renang Tirto Segoro dan Kolam Base In. ROV yang digunakan antara lain tipe Teledyne Seabotix vLBV 300 pada KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732, Teledyne Seabotix vLBV 950 pada KRI Pulau Rupat-712, serta Exail R7 milik Satkoppeba.


Memasuki hari kedua, KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732 melaksanakan percobaan AUV di Dermaga Halong dengan dukungan prajurit Satkoppeba serta pengawasan teknis dari personel Dissenlek Koarmada II. Kegiatan diawali dengan perangkaian sistem, pre-flight check, kalibrasi, hingga tahap peluncuran AUV sebagai bagian dari prosedur standar pengoperasian.


ROV dan AUV merupakan wahana penting dalam operasi pemburuan ranjau laut. AUV berfungsi sebagai sarana deteksi awal saat mine hunting, sedangkan ROV digunakan untuk identifikasi serta netralisasi ranjau apabila dilengkapi bahan peledak (Mine Disposal Vehicle). Melalui uji fungsi ini, diharapkan kesiapan tempur unsur Satran Koarmada II semakin optimal dalam menghadapi potensi ancaman ranjau di wilayah perairan.


Di tempat terpisah, Dansatran Koarmada II Kolonel Laut (P) M. Sati Lubis menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi penekanan Pangkoarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., agar seluruh unsur jajaran Koarmada II senantiasa menjaga kesiapan operasional baik personel maupun alutsista.

Military Equipment... 'Made in Thailand'

02 Maret 2026


Ada 14 produk peralatan pertahanan yang ingin dikuasai teknologinya dan dibangun di dalam negeri Thailand saat ini (photo: TH MoD)

Kebijakan Menteri Pertahanan: Jenderal Natthaphon Nagpanich adalah Membangun sistem kerja 'National Defense industry' menuju komersialisasi bekerjasama dengan sektor pemerintah terkait dan mendorong partisipasi sektor swasta untuk menjadi bagian dalam mendorong ekonomi negara dan mengurangi ketergantungan pada impor.


01 Maret 2026

SYOS Awarded Contract to Boost New Zealand Defence Force Capability

01 Maret 2026

SYOS will deliver SM300 USV to NZDF (photo: SYOS)

We’re proud to share a new agreement with the New Zealand Defence Force NZDF | Defence Science & Technology (DST) to strengthen advanced uncrewed systems capability, and ensure NZDF are fully equipped to integrate, operate and evaluate emerging technologies.

SYOS will deliver SG400 UGV to NZDF (photo: SYOS)

SYOS will deliver a portfolio of air, land and sea uncrewed autonomous vehicles, supported by a programme of structured experimentation, evaluation, and development.

SYOS will deliver SA7 UAV to NZDF (photo: SYOS)

We’ll also provide specialist services to the NZDF Capability Branch, including advanced testing, technical services, training, and operational support. Conducting trials in a range of scenarios, such as transporting supplies, performing maritime patrols, and completing route reconnaissance.

SYOS will deliver SA2 UAV to NZDF (photo: SYOS)

Samuel Vye SYOS: “We’re delighted to contribute to the growth of New Zealand’s defence‑technology ecosystem – with solutions that are mission ready, combat proven and scalable.  The NZDF’s structured experimentation aligns with how we operate – working shoulder to shoulder with customers and end users to tackle complex, real‑world challenges.”

OCEA Akan Mengirimkan Batch Pertama Kapal Patroli Baru ke Philippine Coast Guard Tahun Ini

01 Maret 2026

Model skala photo: NavalNews)

Perusahaan pembuat kapal Prancis, OCEA, diperkirakan akan mulai mengirimkan batch pertama kapal patroli cepat tahun ini ke Philippine Coast Guard (PCG), bagian dari pesanan 40 kapal, menurut komandan PCG Ronnie Gil Gavan.

“Jika semuanya berjalan sesuai rencana, pengiriman awal akan dimulai pada akhir tahun ini. Kami belum berada di tahap akhir,” katanya kepada wartawan dalam sebuah pengarahan baru-baru ini.

Departemen Transportasi Filipina dan perusahaan Prancis tersebut menandatangani kontrak pada Mei 2025 untuk 40 unit kapal multi-fungsi berkecepatan tinggi sepanjang 35 meter senilai $438 juta (P25,8 miliar) dalam upaya untuk meningkatkan kehadiran maritim PCG di seluruh kepulauan. Dua puluh kapal akan dibangun secara lokal, sementara sisanya akan dibangun di Prancis.

Bagian dari kontrak tersebut mencakup rencana Dukungan Logistik Terpadu/Integrated Logistics Support (ILS) selama sembilan tahun untuk memastikan kesiapan operasional yang berkelanjutan dan pemeliharaan aset jangka panjang. Perusahaan Prancis itu juga membangun BRP Gabriela Silang milik PCG yang berukuran 83 meter, yang diakui sebagai salah satu kapal berbadan aluminium terbesar di dunia.

Kapal patroli cepat FPB-110 Philippine Coast Guard (image: OCEA)

Gavan mengatakan PCG juga mengharapkan lima kapal dari Jepang, merujuk pada lima kapal respons multi-peran berukuran 97 meter yang dijadwalkan akan dikirim antara tahun 2027 dan 2028.

“Secara keseluruhan, kami akan menambah 50 kapal ke armada Penjaga Pantai dalam lima tahun ke depan,” katanya.

Minggu lalu, PCG mengumumkan bahwa mereka akan segera menerima tiga pesawat Beechcraft King Air dari Amerika Serikat. Manila dan Pentagon menandatangani Surat Penawaran dan Penerimaan untuk pesawat-pesawat tersebut pada 16 Februari lalu.

Gavan mengatakan badan tersebut juga baru-baru ini membentuk unit sistem tanpa awak untuk armada penerbangan dan permukaannya, tetapi menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Philippine Coast Guard (PCG) sedang menjalani modernisasi cepat pada armada dan kemampuannya untuk memperkuat kehadirannya di Laut Filipina Barat — zona ekonomi eksklusif Manila di Laut Cina Selatan — dan memperkuat kemampuannya untuk mempertahankan wilayah maritim negara tersebut.

Government Seeks Parliamentary Approval to Transfer Garibaldi Ship to Indonesia, New Orders for the National Industry on the Horizon

01 Maret 2026

ITS Giuseppe Garibaldi aircraft carrier (photo: Reuters) 

The aircraft carrier Garibaldi will be transferred free of charge to the Navy of the Republic of Indonesia within the year. The government has presented the proposal developed by the Defense General Staff for the transfer of what was the Navy's flagship for two decades, before the arrival of the Cavour, which has been out of service since 2024 and is currently in Taranto awaiting a future that now seems clear. 

It will continue to sail under the flag of the Southeast Asian nation, whose navy has already completed the purchase of two multipurpose offshore patrol vessels Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) in recent years, the last of which left La Spezia a few weeks ago. This proposal is the subject of an interministerial decree between the Defense and Foreign Affairs Committees that will soon be submitted for approval to the Defense Committees of the Chamber of Deputies and the Senate.

PPA class Multi Purpose Combat Ship (MPCS) (photo: Dante Flore)

The free transfer
The ship, now obsolete by national standards, is currently valued at €54 million—would allow the Navy to save on maintenance costs, estimated at €5 million in 2025, including electricity, surveillance, security, and integrity maintenance.

The armed forces also want to avoid the need to dispose of a 180-meter-long, 14,000-ton vessel. This operation "is estimated to last no less than 24 months, with total costs estimated at approximately €18.7 million," according to the dossier from the logistics and infrastructure department of the General Staff.

M346 training and light combat aircraft (photo: Alamy)

"These charges could also be added to the administration's costs if the demolition were to be carried out for a fee, if—as has already been observed in previous experiences—no economic operator submitted valid offers for the acquisition of the hull slated for demolition," the document continues. This is an aspect that has already been addressed in the attempt to dispose of the wrecks in the San Vito and Varicella area of ​​the La Spezia naval base to free up space for the Basi Blu project.

New orders are also on the horizon
Indonesia is expected to purchase: 
-six DGK-class submarines manufactured by Drass for €480 million over the next few years, 
-24 Leonardo M346 trainer aircraft for approximately €600 million, and 
-three ATR72 patrol aircraft for €450 million.

DGK-class midget submarine (image: Drass)

Furthermore, the Garibaldi is expected to undergo a series of renovations before being transferred to Asia, involving Fincantieri and its Italian shipyards, although no further details are currently available. The vessel would be "made available without offensive operational capabilities as its weapons systems are not operational."

"The Indonesian government has not yet allocated a budget for the ship's retrofitting," General Rico Ricardo Sirait, head of the Indonesian Ministry of Defense's information office , stated recently.

ATR-72 MPA long range maritime patrol (photo: DepositPhotos)

The work is expected to involve the propulsion system, avionics, safety certification, and integration of sensors and weapons systems "so that it can be used in accordance with the Indonesian Navy's needs." Upon completion of the operation, the Garibaldi is expected to be reborn as a helicopter and drone carrier. 

The Italian government plans to finalize the transfer by December 2026, while Indonesia hopes to have it in Jakarta by October 5, the anniversary of the founding of the armed forces, which will be celebrated with a parade.

28 Februari 2026

Kemhan: 100 Personel TNI AL Calon Awak Kapal Induk Dilatih di Italia

28 Februari 2026

ITS Giuseppe Garibaldi (photos: Nara Dvids)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan 100 personel TNI AL akan dikirim ke Italia untuk menjalani pelatihan sebelum menjadi awak kapal induk Giuseppe Garibaldi.

"Sekitar 100 personel direncanakan akan mengikuti pelatihan di Italia, termasuk pelatihan langsung di kapal selama proses pelayaran dari Italia menuju Indonesia," kata Rico saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Rico mengatakan, pelatihan ini merupakan tahapan awal pembinaan calon awak kapal sebelum kapal tersebut beroperasi di bawah TNI AL.

Namun demikian, Rico tidak menjelaskan kapan pelatihan tersebut akan berlangsung. Dia hanya memastikan para personel yang dipilih merupakan prajurit terbaik TNI AL yang memiliki pengalaman di bidang perkapalan baik secara teknis maupun praktik.

Sebelumnya, Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muda Yayan Sofiyan mengatakan TNI AL harus menyiapkan kurang lebih 500 pelaut untuk menjadi awak calon kapal induk Indonesia Giuseppe Garibaldi.


"Personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki. Dari mulai sekarang sampai level perwiranya harus memiliki kompetensi kompetensi khusus sebagai pengawak kapal induk," kata Yayan dalam diskusi bertajuk Indonsia's Blue Water Transition: Why High-Value ASW/ AAW Assets Will Decide Its Credibility yang digelar secara daring, Rabu (25/2).

Yayan melanjutkan jumlah kru kapal bahkan diperkirakan bisa lebih dari 500 karena belum mencakup kru tidak inti yakni di luar kru navigasi hingga penerbang.

Selain kru, jajarannya juga harus mempersiapkan infrastruktur pendukung kapal induk seperti tempat bersandar dan kebutuhan teknis lain yang harus dimiliki kapal.

Belum lagi kebutuhan logistik untuk para kru yang akan bertugas di kapal dalam waktu lama.

"Bisa kita bayangkan sandar di suatu tempat membutuhkan dukungan logistik kru yang 500. Itu hanya kru inti saja. Kru untuk penerbangan, sistem aviation dan sebagainya," kata Yayan.

Walau harus melakukan banyak persiapan, Yayan meyakini TNI AL siap untuk memenuhi kebutuhan tersebut demi pengoperasian kapal induk maksimal.

Hingga saat ini, TNI Al masih menunggu proses akuisisi yang berjalan di tingkat Kementerian Pertahanan dan pihak Italia dan juga Fincantieri selaku galangan kapal.