05 Februari 2026

PTDI Tanda-tangani 2 Kesepakatan dengan ShinMaywa dan FROGS Indonesia

05 Februari 2026

Penanda-tanganan Purchase Agreement PT DI-ShinMaywa Industries (photo: PT DI)

PTDI-ShinMaywa Jepang Teken Kontrak Pengadaan Komponen Aerostructure Untuk Pesawat Komersil
Singapura  – Pada perhelatan Singapore Airshow 2026 hari kedua, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tanda tangani Purchase Agreement (PA) dengan ShinMaywa Industries, Perusahaan kedirgantaraan asal Jepang yang dikenal sebagai produsen komponen aerostructure dengan kapabilitas engineering dan manufaktur berstandar Original Equipment Manufacturer (OEM) global.

Purchase Agreement ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan President Aircraft Division ShinMaywa Industries, Hideyuki Mochida, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan di booth PTDI A-L31, Changi Exhibition Center.

Melalui kerja sama ini, PTDI akan berperan sebagai global supply chain dalam program manufacturing part pesawat commercial jet seperti Boeing, Airbus dan Bombadier, dengan memproduksi sejumlah komponen aerostructure berdimensi besar yang menutut tingkat presisi tinggi, serta kepatuhan terhadap standar kualitas dan sertifikasi kedirgantaraan internasional. Keterlibatan PTDI dalam program pesawat jet bisnis kelas long-range ini menunjukkan kepercayaan OEM global terhadap kapabilitas teknis, kualitas sistem manufaktur yang dimiliki PTDI.

“Kolaborasi ini mencerminkan kepercayaan industri global terhadap kapabilitas manufaktur dan engineering aerostructure PTDI, sekaligus memperkuat peran PTDI dalam rantai pasok global OEM terkemuka di industri dirgantara,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kerja sama antara PTDI dan ShinMaywa diharapkan dapat menciptakan sinergi kapabilitas teknis dan industrial, sekaligus memperluas kontribusi kedua Perusahaan dalam rantai nilai industri kedirgantaraan global. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis yang menegaskan komitmen PTDI untuk terus mengembangkan kolaborasi internasional yang berkelanjutan, mendorong transfer pengetahuan, serta memperkuat kemandirian dan nilai tambah industri kedirgantaraan nasional. (PT DI)

Penanda-tanganan MoU PT DI - FROGS Indonesia (photo: PT DI)

PTDI Gandeng FROGS Indonesia Dorong Ekspansi Drone ke Pasar Ekspor
Singapura (04/02) – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sepakati Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (FROGS Indonesia) tentang pemasaran dan produksi drone untuk pasar ekspor. MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Direktur FROGS Indonesia, Asro Nasiri, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di booth PTDI A-L31.

FROGS Indonesia merupakan Perusahaan yang berfokus pada bidang pengembangan dan manufaktur teknologi drone, khususnya untuk sektor pertanian (drone sprayer), pemetaan udara, pengawasan kargo, hingga drone penumpang. Kolaborasi ini sejalan dengan pengalaman PTDI dalam pengembangan platform udara nirawak (drone) untuk berbagai aplikasi, sehingga sinergi kedua belah pihak diharapkan dapat memperkuat pengembangan solusi drone yang aplikatif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. 

Melalui MoU ini, PTDI dan FROGS Indonesia menyepakati kegiatan pemasaran dan promosi bersama produk drone untuk pasar luar negeri, joint manufacturing, transfer teknologi, serta research & development untuk peningkatan kinerja dan kemampuan sistem drone. Kolaborasi ini juga mencakup eksplorasi kapabilitas masing-masing pihak, di mana PTDI akan berperan dalam penguatan pengembangan sistem, pemanfaatan fasilitas manufaktur, serta dukungan jejaring pemasaran internasional, termasuk potensi dukungan KBRI di luar negeri yang membutuhkan pemanfaatan drone di sektor pertanian dan peternakan. 

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis PTDI dalam memperluas kapabilitas sistem udara nirawak, khususnya pada aspek pengembangan platform, integrasi sistem, dan kesiapan manufaktur untuk pasar global. Melalui kolaborasi ini, PTDI mendorong pengembangan drone yang tidak hanya unggul secara aeronautika, tetapi juga andal dari sisi performa sistem, fleksibilitas misi, serta kesiapan untuk berbagai kebutuhan operasional, termasuk pengawasan, pemetaan, dan dukungan misi non-tempur. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri drone nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” kata Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kolaborasi PTDI dengan FROGS Indonesia melengkapi rangkaian kapabilitas PTDI dalam pengembangan Unmanned Aircraft System (UAS) di berbagai segmen aplikasi. Sebelumnya, PTDI telah mengembangkan sejumlah platform UAS, di antaranya UAS Wulung dan Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE “Elang Hitam”, yang mencerminkan komitmen PTDI dalam membangun kompetensi teknologi wahana udara nirawak secara berkelanjutan.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PTDI mengadopsi pendekatan komprehensif dalam pengembangan UAS, mulai dari aplikasi sipil seperti drone pertanian hingga pengembangan sistem UAS berteknologi lebih lanjut, guna mendukung penguatan ekosistem industri dirgantara nasional. (PT DI)

Singapore dan Epirus Sepakat untuk Mempelajari Kemampuan Counter-UAS dengan High-Power Microwave

05 Februari 2026

Epirus memproduksi "Leonidas" yaitu susunan HPM berbasis galium nitrida (photos: Epirus)

SINGAPORE - Defense Science and Technology Agency (DSTA) Singapore dan Epirus yang berbasis di AS telah menandatangani nota kesepahaman untuk memajukan kemampuan anti-drone gelombang mikro daya tinggi/high-power microwave (HPM).

Pakta ini menandai kolaborasi pertama Epirus di kawasan Asia-Pasifik setelah serangkaian program dengan militer AS.

Berdasarkan perjanjian tersebut, para mitra akan berkolaborasi dalam penelitian, pengujian, dan evaluasi teknologi HPM terhadap ancaman drone canggih dalam berbagai skenario penyebaran. Kedua pihak mengatakan upaya tersebut akan mencakup pengujian terhadap drone yang dipandu serat optik dan yang didukung kecerdasan buatan, yang semakin dirancang untuk menghindari pengacauan frekuensi radio konvensional dan sistem peperangan elektronik.

DSTA menambahkan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk “memperkuat kemampuan Singapore dalam penanggulangan elektronik dan perlindungan aset penting.”

Epirus memproduksi susunan HPM berbasis galium nitrida Leonidas, yang dipilih oleh Angkatan Darat AS untuk program Kemampuan Perlindungan Tembakan Tidak Langsung - Gelombang Mikro Daya Tinggi/Indirect Fire Protection Capability-High Power Microwave. Perusahaan ini juga bermitra dengan General Dynamics Land Systems untuk mengintegrasikan Leonidas ke platform bergerak berbasis kendaraan lapis baja Stryker 8x8.

Meskipun parameter kinerja terperinci dari sistem Leonidas sebagian besar masih dirahasiakan, Epirus mengungkapkan bahwa pada Agustus 2025 sistem tersebut menunjukkan kemampuan untuk mengalahkan 49 drone dalam satu serangan gelombang mikro berenergi tinggi. Perusahaan ini juga sedang mengembangkan varian pod yang lebih kecil yang dirancang untuk diintegrasikan ke sistem pesawat tanpa awak (UAS), menyediakan opsi anti-drone HPM udara ketinggian rendah.

Kolaborasi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas proliferasi UAS kecil, otonom, dan berkemampuan kawanan/berkelompok/swarm di kawasan Asia-Pasifik, khususnya yang menggunakan metode panduan non-tradisional yang mengurangi kerentanan terhadap serangan elektronik.

Waktu penandatanganan perjanjian ini menyusul akuisisi baru-baru ini oleh Singapore atas sejumlah kendaraan tempur infanteri beroda Terrex s5 8 x 8 dari ST Engineering. Kementerian Pertahanan mengatakan kendaraan tersebut—yang diberi nama Titan—akan dipersenjatai dengan meriam 30mm dan dilengkapi dengan fitur anti-UAS, yang menunjukkan dorongan yang lebih luas untuk mengintegrasikan pertahanan udara berlapis dan kemampuan anti-drone di tingkat taktis.

(Aviation Week)

Menjajaki Teknologi Pertahanan Global, Danmenkav 3 Marinir Kunjungi Yugoimport Serbia

05 Februari 2026

Factory Acceptance Class munisi kaliber 122 mm di Yugoimport, Serbia (photos: Korps Marinir)

TNI AL, Dispen Kormar -- Dalam rangka menjajaki perkembangan teknologi pertahanan global serta memperluas wawasan terkait Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) modern, Danmenkav 3 Marinir Kolonel Mar Fachrul Ahmadi, S.H., mewakili Komandan Pasmar 3 Mayjen TNI (Mar) Andi Rahmat M., melaksanakan kunjungan ke perusahaan industri pertahanan Yugoimport SDPR yang berlokasi di Serbia, Eropa Tenggara, Selasa (03/02/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya TNI, khususnya Korps Marinir TNI Angkatan Laut, dalam memperoleh gambaran secara langsung mengenai pengembangan teknologi sistem persenjataan, sekaligus pelaksanaan kegiatan Sertifikasi Kelaikan dan Factory Acceptance Test (FAT) munisi kaliber 122 mm.


Dalam kegiatan tersebut, Danmenkav 3 Marinir tergabung dalam Tim Sertifikasi Kelaikan dan FAT Munisi 122 mm yang terdiri dari beberapa perwira lintas instansi, yakni Kolonel Cpl Argo Ponco Yuwono, S.E. selaku Dosen Utama Seskoad, Letkol Kav I Ketut Biomantara, S.T., M.Si. sebagai Kasubbid Kelaikan Fasprodhar Bidang Laik Darat Puslaik Kemhan, Letkol Mar Y.D. Wawan Setiawan, S.Pd. selaku Kabagum Setdis Puslaikmatlamjaal, serta Mayor Cpl Herry Wahyudi, S.T. selaku Penelaah Teknis Kebijakan Subbid Kelaikan Produk dan Hasil Pemeliharaan Bidang Laik Darat Puslaik Kemhan.

Yugoimport SDPR merupakan perusahaan industri pertahanan milik negara Serbia yang didirikan pada tahun 1949 dan secara resmi mulai mengekspor persenjataan pada tahun 1953. Perusahaan yang berkantor pusat di Beograd tersebut bergerak dalam bidang produksi dan perdagangan sistem persenjataan, antara lain kendaraan lapis baja, sistem artileri, pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV), serta amunisi kaliber kecil hingga besar.


Ditempat terpisah, Danpasmar 3 dalam keterangannya menyampaikan bahwa keikutsertaan Pasmar 3 dalam kegiatan ini merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan, sekaligus bentuk kepercayaan untuk mewakili Korps Marinir TNI AL dalam kegiatan strategis di bidang pertahanan. Diharapkan, hasil dari kunjungan ini dapat memberikan manfaat positif dalam mendukung peningkatan kemampuan tempur serta modernisasi Alutsista Korps Marinir TNI AL.

Adapun Tim Sertifikasi Kelaikan dan FAT Munisi 122 mm berangkat dari Indonesia menuju Serbia pada tanggal 25 Januari 2026 dan melaksanakan kegiatan selama enam hari. Selanjutnya, tim dijadwalkan kembali ke Indonesia pada tanggal 31 Januari 2026 dengan menggunakan pesawat udara.

04 Februari 2026

Leonardo, PT ESystem Solutions and the MoD of the RI Sign M-346 F Aircraft LOI to Meet Indonesian Air Force Training and Combat Requirements

04 Februari 2026

M-346 F Block 20 aircraft and its full armed (photo: AFP)

At Singapore Airshow 2026, Leonardo announced the signing of a Letter of Intent (LOI) with PT ESystem Solutions Indonesia and the Ministry of Defence (MoD) of the Republic of Indonesia aimed at cooperating for the supply and support of the Leonardo M-346 F “Block 20” aircraft to meet Indonesian Air Force operational requirements. 

The LOI follows the selection of the M-346 by the MoD to respond to Indonesia’s training and combat capability needs. The programme will provide a major contribution to the MoD pursuing an aircraft fleet modernization plan leveraging on the M-346 advanced technology and performance to replace ageing types, such as the Hawk, among others.  

The LOI also includes the localization of a range of support, maintenance, overhaul, training capabilities as well as human capital development. The parties will now move into the next stage of discussions, intended to achieve a procurement contract signing soon. 

The new M-346 F “Block 20” light fighter configuration standard will be equipped with cockpits featuring a Large Area Display (LAD), active electronically scanned radar, a Link 16 data-link, electronic countermeasures, and new weapons systems.  Leonardo's platform simultaneously offers a complete, integrated advanced flight training system - including a GBTS (Ground Based Training System), combined simulated elements and scenarios with real flights according to a Live, Virtual and Constructive (LVC) logic - with additional light combat capabilities for air-to-air and air-to-surface missions, enabled by advanced mission systems, equipment and sensors, also including aerial refuelling capability.

The M-346 is the core element of a cutting-edge and continuously evolving advanced flight-training system that has already demonstrated its effectiveness: a success story that has logged over 150,000 hours in flight with nearly 160 aircraft sold to date, enabling several air forces worldwide – including Asia - to train pilots for flying high-performance, latest generation fighters and to prepare transition towards the next-generation ‘combat air systems’.

20 countries already train their pilots on the M-346 – including those leveraging Italy’s I International Flight Training School - or have chosen this aircraft, in the fighter version, as a light multirole fighter. Thanks to its high-performance capabilities and manoeuvrability, the M 346 has also been chosen by the Italian Air Force as the future aircraft for the “Frecce Tricolori”, Italy’s national aerobatic team.

(Leonardo)

Boeing Select Ferra for HAAWC Torpedo Wing Kit

04 Februari 2026

Boeing's HAAWC torpedo wing kit, in partnership with Ferra Engineering, enhances P-8A aircraft capabilities by enabling high-altitude submarine engagement. (Image: Boeing)

Boeing Expands Precision Aerial Munition Partnership with Ferra

BRISBANE, Queensland — Boeing has selected Ferra Engineering to produce wing kits for its High Altitude Anti-Submarine Warfare Weapon Capability (HAAWC). The contract extends the existing partnership between Boeing and Ferra and establishes a local production line for the advanced system, further strengthening Australia’s sovereign defence capabilities.

The HAAWC is designed to be deployed from Boeing’s P-8A multi-mission maritime patrol aircraft. This all-weather, air-launched torpedo kit allows operators to engage submarines from high altitudes, significantly enhancing operational effectiveness and ensuring crew safety.

“Local HAAWC production with Ferra means more skilled jobs in Australia and deeper sovereign manufacturing capability,” said Bob Ciesla, vice president, Boeing Precision Engagement Systems. “This partnership serves as a practical investment in national defence and regional security aligned to Australia’s Guided Weapons and Explosive Ordnance Enterprise sovereign objectives.”

Ferra supplies precision components to various Boeing programs — including the Australian manufactured MQ-28 Ghost Bat as well as exporting components to the US for the F/A-18F Super Hornet, AH-64E Apache and P-8A Poseidon — developed as part of the Australian Defence Force’s Global Supply Chain Program. In 2023, the companies signed a Memorandum of Understanding to produce wing kits for Joint Direct Attack Munition Extended Range (JDAM ER) and Joint Direct Attack Munition Long Range (JDAM LR).

“We are honored to continue our 17-year-long partnership with Boeing on the HAAWC program,” said Aaron Thompson, CEO of Ferra Engineering. “This contract not only reinforces our commitment to delivering high-quality, Australian-made defence solutions but also highlights the importance of collaboration in advancing our nation’s defense capabilities. Together, we are paving the way for innovation and excellence in aerospace manufacturing.”

Boeing's involvement in the Global Supply Chain program has significantly enhanced opportunities for the Australian industry to export products, services, and technology within Boeing's worldwide supply chain. Boeing's partnership with the Australian industry bolsters its commercial aircraft and defence products, space and satellite systems, as well as research and development initiatives, alongside the company’s operations based in Australia.

Vietnam akan Memproduksi Munisi Loiter Rafael Spike Firefly Secara Lokal Dalam Kesepakatan Senilai $250 Juta

04 Januari 2026

Kesepakatan tersebut mencakup transfer teknologi dan pendirian fasilitas manufaktur di wilayah Vietnam (infograpic: Rafel)

Tentara Vietnam akan dilengkapi dengan munisi loiter Spike Firefly yang diproduksi oleh Rafael Advanced Defense Systems dalam kesepakatan senilai sekitar $250 juta. Perjanjian tersebut ditandatangani beberapa hari lalu antara Kementerian Pertahanan Vietnam dan Rafael dan mencakup ketentuan agar rudal tersebut diproduksi di pabrik yang akan didirikan di Vietnam, dengan transfer pengetahuan yang diperlukan dari Israel. Fasilitas tersebut akan dioperasikan oleh perusahaan lokal yang akan menerima lisensi produksi dari Rafael.

Spike Firefly, juga dikenal sebagai L-Spike 1X, dirancang untuk digunakan di lingkungan perkotaan dan kompleks (infograpic: Rafel)

Menurut laporan dari situs web Prancis Intelligence Online, yang meliput urusan pertahanan dan intelijen, tentara Vietnam akan menerima salah satu versi terbaru dari munisi Spike - Firefly. Sistem ini adalah munisi loiter yang dirancang untuk digunakan oleh pasukan darat, khususnya di lingkungan perkotaan, dan mampu menyerang target pada jarak hingga 5 kilometer.

PT DI Tanda-tangani 2 Kesepakatan untuk Spesial Mission Aircraft

04 Februari 2026

Penanda-tanganan MoU PT DI dengan RSG Aerodesign untuk special mission pada pesawat CN-235, N-219, dan Bell 412 EPX (photo: PT DI)

PTDI Perluas Kolaborasi Special Mission Aircraft Melalui MoU Dengan RSG Aerodesign
Singapura  - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan RSG Aerodesign, Perusahaan asal Amerika Serikat, sebagai upaya perluasan kolaborasi dalam penyediaan pesawat terbang dan helikopter special mission. MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Director of Business Development, Tom King, disaksikan oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, serta Dewan Komisaris PTDI, Bonar Halomoan Hutagaol dan Yusron Ihza, pada gelaran Singapore Airshow 2026 hari pertama di booth PTDI A-L31. 

RSG Aerodesign merupakan mitra strategis PTDI yang telah memiliki rekam jejak kerja sama panjang, khususnya dalam pengembangan dan integrasi sistem misi helikopter untuk kebutuhan pertahanan. Melalui MoU ini, kedua Perusahaan sepakat untuk menjajaki dan mengembangkan peluang penyediaan pesawat terbang dan helikopter special mission bagi Angkatan Bersenjata dan instansi Pemerintah di Indonesia, serta sejumlah potensi pasar di kawasan ASEAN, yang dilengkapi dengan sistem misi terintegrasi, special mission kits, serta layanan teknis dan instalasi untuk berbagai peran khusus, termasuk namun tidak terbatas pada Search and Rescue (SAR), Medical Evacuation (MEDEVAC), VVIP, Anti-Submarine Warfare (ASW), Anti-Surface Warfare (ASUW), Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR), dan sebagainya. 

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen PTDI dalam memperkuat kapabilitas pengembangan dan modifikasi pesawat dan helikopter special mission, sekaligus meningkatkan daya saing produk dan membuka peluang akses ke potensi pasar baru. (PT DI)

Penanda-tanganan MoU PT DI dengan Scytays untuk pengembangan special mission pada pesawat CN-235 dan N-219 (photo: PT DI)

PTDI Perkuat Kapabilitas Special Mission N219 dan CN235 Dengan Scytalys
Singapura (03/02) — PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Scytalys-Perusahaan asal Yunani, sebagai langkah strategis dalam memperkuat penetrasi pasar bersama dan integrasi mission system pada pesawat N219 dan CN235. MoU ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Director Scytalys, Dimitris Karantzavelos, disaksikan oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, serta Dewan Komisaris PTDI, Bonar Halomoan Hutagaol dan Yusron Ihza, pada gelaran Singapore Airshow 2026 hari pertama di booth PTDI A-L31. 

Kesepakatan ini merupakan perluasan kemitraan strategis PTDI dan Scytalys dalam pengembangan solusi pesawat special mission, termasuk integrasi Mission Integration and Management System (MIMS) dan sistem Command and Control (C2) pada pesawat produksi PTDI untuk mendukung misi pengawasan dan patroli maritim, dengan target pasar Asia Pasifik.

“Kolaborasi ini akan memperkuat kapabilitas operasional pesawat N219 dan CN235, yang tentunya juga akan membuka peluang pasar baru bagi pesawat unggulan PTDI melalui solusi special mission yang kompetitif dan sesuai kebutuhan operasional pengguna,” kata Moh Arif Faisal. (PT DI)