07 Februari 2026

ST Engineering Partners Airbus Defence and Space for Airbus A330 MRTT+ Cabin Modification

07 Februari 2026

Signing of MoU between ST Engineering and Airbus Defence and Space (photo: ST Eng)

Singapore – ST Engineering today announced that its Commercial Aerospace business has entered into an MoU with Airbus Defence and Space to carry out a cabin modification programme for an Airbus A330 Multi Role Tanker Transport Plus (A330 MRTT+) aircraft in support of the latter’s customer.

The A330 MRTT+ is the A330neo-based evolution of the combat-proven A330 MRTT aerial refuelling and transport platform. This MoU sets forth the preliminary understanding between both companies regarding the provision of engineering design, certification and aircraft modification services for the cabin modification programme.

 
Airbus has retained around 95 per cent commonality with the existing MRTT (image: Airbus)

Kevin Chow, Head of Aerostructures and Systems, ST Engineering, said, “This A330 MRTT+ cabin modification marks the latest milestone in our longstanding partnership with Airbus, which includes passenger-to-freighter conversion through our joint venture in Germany. We will build on our successful partnership in freighter conversion and tap on our extensive capabilities in integrated cabin interiors solutions to deliver a product that meets the operator’s exact specifications and mission requirements, executed to the highest standards of quality.”

Through a global network of MRO facilities and partners, ST Engineering’s Commercial Aerospace business provides integrated lifecycle solutions for cabin interiors including design and engineering, product development, cabin reconfiguration and refurbishment. It possesses rich experience and expertise in developing customised aircraft engineering programmes from bespoke engineering design to certification, supply chain management and aftersales support.
Integrated Lifecycle Solutions for Cabin Interiors (image: ST Eng)

ST Engineering is showcasing its multi-disciplinary capabilities, technology leadership and engineering excellence across the air, land, sea, digital and emerging domains at the Singapore Airshow from 3 - 8 February 2026 at the ST Engineering Pavilion (G01).

06 Februari 2026

ST Engineering Luncurkan Seri Senjata Infanteri AME

06 Februari 2026

AME-A514, dari seri senjata infanteri AME buatan ST Engineering (photo: EDR Magz)

ST Engineering secara resmi meluncurkan seri senjata infanteri AME di Singapore Airshow 2026, menandai debut publik penuh pertama dari seri ini setelah sebelumnya diperkenalkan secara terbatas di DSEI 2025 di Inggris.

Berbicara kepada Janes di pameran tersebut, Tay Han Koon, kepala Senjata Ringan di ST Engineering, menggambarkan seri AME sebagai lini yang dikembangkan sebagai respons terhadap permintaan pasar luar negeri untuk senapan yang sangat modular.

Seri AME terdiri dari beberapa model berbeda, masing-masing menggunakan peluru NATO 5.56×45 mm dan beroperasi dengan sistem impinging langsung.

Semua model memiliki kontrol yang sepenuhnya ambidextrous, termasuk pemilih pengaman tembakan, pelepas magazin, pelepas baut, dan tuas pengisian, memastikan kemudahan penggunaan bagi operator kidal maupun kanan.

Desainnya juga menggabungkan popor yang dapat disesuaikan enam posisi, harmonik laras yang disetel untuk stabilitas dan bobot optimal, dan ergonomi kontrol senjata yang ditingkatkan.

Seri senjata AME (photo: ST Engineering)

AME-A510 adalah varian kompak, menampilkan laras 10 inci, panjang keseluruhan 700 mm, dan berat kosong 2,6 kg.

Senapan ini memiliki kecepatan peluru 770 m/s dan laju tembakan antara 700 dan 950 peluru per menit, menjadikannya ideal untuk pasukan yang beroperasi di lingkungan terbatas, kata Tay.

AME-A514 berfungsi sebagai senapan serbu standar, dilengkapi dengan laras 14 inci, panjang keseluruhan 820 mm, dan berat kosong 2,7 kg.

Senapan ini menghasilkan kecepatan peluru 850 m/s dan mempertahankan laju tembakan yang sama dengan varian terkaitnya.

Senapan ini dioptimalkan untuk penggunaan infanteri umum, menyeimbangkan jangkauan, akurasi, dan kemampuan manuver.

PT Pindad & BRIN Jalin Kerja Sama Riset Material Laras Senjata, Perkuat Kemandirian Indhan

06 Februari 2026

Apabila material laras senjata telah dapat dibikin sendiri di dalam negeri maka akan meningkatkan nilai TKDN yang saat ini telah mencapai 60-70% (photo: Pindad)

PT Pindad bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani perjanjian kerja sama dalam rangkaian kegiatan BRIN Goes to Industry pada Kamis, 5 Februari 2026 berlokasi di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Penandatanganan dilaksanakan oleh Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma dengan Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN, Ika Kartika. Kerja sama antara PT Pindad dengan BRIN bernilai strategis dalam rangka mengakselerasi hilirisasi riset menuju kemandirian industri strategis nasional.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini mengenai Riset Pengembangan Material untuk Laras Senjata Berbasis Baja Paduan. Tujuan kerja sama ini adalah peningkatan kemandirian industri pertahanan melalui penggunaan material dan proses dalam negeri. Laras merupakan komponen utama dalam senjata api yang memerlukan ketahanan tinggi dari ledakan serta gesekan dengan amunisi yang meluncur.

Mengawali kegiatan, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen penandatanganan kerja sama strategis antara BRIN dengan berbagai pihak. 

“Selanjutnya akan ada penandatanganan antara BRIN dengan PT Len Industri (Persero), lalu PT Pindad, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Chroma International dan PT Nuon Digital Indonesia dengan Asosiasi Game Indonesia. Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi, bahwa hari ini kita mengumpulkan periset-periset, universitas hingga industri strategis dan menjalin kerja sama. Kita berharap dengan berbagai kerja sama ini dapat mengakselerasi hilirisasi kemandirian industri strategis nasional.” Ucap Hendrian.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas mewakili Kepala BRIN menyampaikan permohonan maaf karena berhalangan hadir pada penandatanganan kerja sama hari ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang mendorong kemandirian industri strategis nasional. 

“Saya mengucapkan permohonan maaf dari Kepala BRIN yang sedianya hadir pada pagi hari ini namun berhalangan karena ada kegiatan mendesak. Kami menyampaikan apresiasi terhadap seluruh mitra industri, perguruan tinggi, dan asosiasi insinyur professional atas kerja samanya dalam hilirisasi dan komersialisasi riset inovasi terkait industri mineral, industri proses, industri pertahanan maupun industri nuklir.” Jelas Sekretaris Utama BRIN.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menyampaikan bahwa kerja sama kali ini dengan BRIN bukanlah kali pertama. Beliau juga berharap bahwa hasil penelitian bersama ini dapat memaksimalkan tingkat kandungan dalam negeri terlebih bahan baku yang dibutuhkan ada di Indonesia.

“Sebelumnya, PT Pindad dengan BRIN sudah memiliki rekam jejak kerja sama bernilai strategis yang sudah menjadi produk, antara lain teknologi modifikasi cuaca dan Roket Rhan 122. Kerja sama kali ini juga bersifat strategis karena di Indonesia belum ada yang memproduksi material laras dan Pindad mendapatkan nilai manfaat yang besar. Apabila kita melihat TKDN produk senjata Pindad sudah mencapai 60-70%, dan hasilnya akan lebih maksimal dengan material laras senjata hasil dalam negeri.”  Jelas Prima Kharisma. 

Melalui kerja sama dengan BRIN, PT Pindad memperkuat sinergi antara industri pertahanan dan Lembaga riset nasional dalam mendorong penguasaan teknologi material strategis. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi riset menjadi produk serta mendukung terwujudnya kemandirian industri pertahanan nasional.

Embraer Positions Thai Aviation Industries for Local Maintenance and Support to the Royal Thai Armed Forces

06 Februari 2026

Embraer ERJ135 of the Royal Thai Navy (photo: Suparat Chairatprasert)

Singapore – Embraer (NYSE: EMBJ / B3: EMBJ3) has advanced discussions with Thai Aviation Industries (TAI) for a potential partnership aimed at establishing TAI as a future local authorized service center. The initiative could enhance in country maintenance capabilities for the Royal Thai Armed Forces’ (RTARF) ERJ135 fleet. The initiative may be implemented by the end of 2026.

This collaboration marks the next phase of the Memorandum of Understanding between Embraer and TAI, reinforcing the importance of joint contribution to build a solid aerospace and defense ecosystem in Thailand through local industrial engagement and strategic partnerships.


“The ERJ135s continue to be a useful asset to the Thai government and we are impressed by Embraer’s growing portfolio of aircraft,” said Air Chief Marshal Piboon Vorravanpreecha, Managing Director of TAI. “Our partnership with Embraer demonstrates Thailand's growing capabilities in aerospace support services. We're proud to be Embraer's trusted partner in the region and look forward to exploring broader opportunities as our relationship deepens.”

"This partnership with TAI is about building long-term self-reliance and capability in Thailand's aviation industry," said Carlos Naufel, President and CEO, Embraer Services & Support. "By investing in local partnerships, we're creating the foundation for deeper collaboration across our portfolio, including opportunities for future platforms. We see strong potential for the KC‑390 Millennium’s advanced multi‑mission capabilities to support Thailand’s long‑term strategic defense requirements."

In addition to the M346F, the Indonesian Air Force Pilot Training will also be Equipped with the MiG-29C/UB for Agressor Squadron

06 Februari 2026

ESS will provide TNI AU with modernized MiG-29C/UB as agressor squadron (photo: Military Watch Magz)

Indonesia Air Force Pilot Training Modernization
PT E System Solutions (ESS) is proud and honored to deploy Advanced Training System solutions for the Indonesia Air Force and Army Rotary Aircraft Units.

The large modernization plan initiated by the then Ministry of Defense 5 years ago under the leadership of Mr Prabowo Subianto, continued by Mr Sjafrie Sjamsoeddin, focused initialy on the acquisition of 4+ and 5th generation platforms, highlithed the need for advanced training system solutions that are capable to cost effectively train young pilots to fly and develop tactics associated with the introduction of new combat functionalities associated with those new advanced combat platform.

Therefore ESS long term relationship with Leonardo in North Africa and the Middle East, teamed up with Leonardo in order to provide an advanced Lead In Fighter Training full combat capable aircraft with the M-346F Block 20.

ESS jointly with Leonardo will introduce and field this remarquable aircraft to provide the much required training platform associated with a full ground training simulation and logistic support for this aircraft.

Modernized Mig-29C/UB for Agressor Squadron 
ESS Indonesia is working now since 4 years, providing depot level maintenance and upgrade system integration on different platforms in service within the Indonesian Armed forces.

ESS part of the modernization training system of the Indonesia Air Force will also provide a much needed Aggressor Squadron in the form of a mix of modernized Mig-29C/UB associated with Unmanned Aggressor High Subsonic Aerial Target, using Manned /Unmanned Combat Training scenarios.

This will be the first fully dedicated Aggressor Squadron in Indonesia using advanced technologies and software system to teach advanced complex tactical engagement.

(ESS)

05 Februari 2026

ST Engineering Luncurkan EagleStrike Munisi Loitering

05 Januari 2026

Munisi loitering/jelajah EagleStrike dari ST Engineering (photo: Aviation Week)

SINGAPORE - ST Engineering telah meluncurkan amunisi loitering EagleStrike di Singapore Airshow, menawarkan sistem ini sebagai opsi serangan taktis untuk pasukan darat yang beroperasi di lingkungan yang semakin diperebutkan.

Chua Jin Kiat, wakil presiden eksekutif bisnis pertahanan internasional ST Engineering, mengatakan sistem ini mencerminkan kebutuhan medan perang yang berkembang untuk kemampuan bertahan hidup, mobilitas, dan daya tembak organik, seiring dengan perluasan portofolio sistem tak berawak kecil untuk pasukan darat oleh perusahaan pertahanan utama Singapura ini.

EagleStrike adalah amunisi loitering/jelajah bertenaga baling-baling yang diluncurkan dari kendaraan, dilengkapi dengan sensor elektro-optik yang tersedia secara komersial yang dipasangkan dengan algoritma penargetan yang dikembangkan sendiri oleh ST Engineering. Sistem ini memiliki jangkauan yang dinyatakan sejauh 20 km (12 mil) dan daya tahan hingga 30 menit, dengan kecepatan maksimum sekitar 30 m/detik (67 mph).

Munisi loitering/jelajah EagleStrike dari ST Engineering (photo: Jane's)

Jackson Tean, juga dari unit bisnis internasional perusahaan, mengatakan kepada Aviation Week bahwa EagleStrike membawa hulu ledak muatan berbentuk mode ganda 200 g (7 oz.). Muatan tersebut dapat disesuaikan, memanfaatkan kemampuan desain amunisi dan hulu ledak ST Engineering yang lebih luas, tambahnya.

Uji terbang sistem dimulai pada tahun 2025 di lokasi yang dirahasiakan. Tean mengatakan amunisi tersebut telah menunjukkan akurasi yang "tajam", meskipun belum ada data kinerja yang diungkapkan. Sistem ini saat ini dinilai pada Tingkat Kesiapan Teknologi (TRL) 7, yang menunjukkan demonstrasi di lingkungan operasional. Konsep potensi serangan berkelompok akan menjadi salah satu tahap pengembangan selanjutnya.

Belum ada pelanggan peluncuran untuk EagleStrike, namun Chua secara terpisah mengatakan bahwa misi ST Engineering tetap untuk mendukung kebutuhan Angkatan Bersenjata Singapura, dan melalui interaksinya dengan angkatan bersenjata internasional, mengambil pelajaran dan persyaratan untuk mengembangkan sistem senjata yang dapat dipasarkan dan mumpuni.

PTDI Tanda-tangani 2 Kesepakatan dengan ShinMaywa dan FROGS Indonesia

05 Februari 2026

Penanda-tanganan Purchase Agreement PT DI-ShinMaywa Industries (photo: PT DI)

PTDI-ShinMaywa Jepang Teken Kontrak Pengadaan Komponen Aerostructure Untuk Pesawat Komersil
Singapura  – Pada perhelatan Singapore Airshow 2026 hari kedua, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tanda tangani Purchase Agreement (PA) dengan ShinMaywa Industries, Perusahaan kedirgantaraan asal Jepang yang dikenal sebagai produsen komponen aerostructure dengan kapabilitas engineering dan manufaktur berstandar Original Equipment Manufacturer (OEM) global.

Purchase Agreement ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan President Aircraft Division ShinMaywa Industries, Hideyuki Mochida, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan di booth PTDI A-L31, Changi Exhibition Center.

Melalui kerja sama ini, PTDI akan berperan sebagai global supply chain dalam program manufacturing part pesawat commercial jet seperti Boeing, Airbus dan Bombadier, dengan memproduksi sejumlah komponen aerostructure berdimensi besar yang menutut tingkat presisi tinggi, serta kepatuhan terhadap standar kualitas dan sertifikasi kedirgantaraan internasional. Keterlibatan PTDI dalam program pesawat jet bisnis kelas long-range ini menunjukkan kepercayaan OEM global terhadap kapabilitas teknis, kualitas sistem manufaktur yang dimiliki PTDI.

“Kolaborasi ini mencerminkan kepercayaan industri global terhadap kapabilitas manufaktur dan engineering aerostructure PTDI, sekaligus memperkuat peran PTDI dalam rantai pasok global OEM terkemuka di industri dirgantara,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kerja sama antara PTDI dan ShinMaywa diharapkan dapat menciptakan sinergi kapabilitas teknis dan industrial, sekaligus memperluas kontribusi kedua Perusahaan dalam rantai nilai industri kedirgantaraan global. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis yang menegaskan komitmen PTDI untuk terus mengembangkan kolaborasi internasional yang berkelanjutan, mendorong transfer pengetahuan, serta memperkuat kemandirian dan nilai tambah industri kedirgantaraan nasional. (PT DI)

Penanda-tanganan MoU PT DI - FROGS Indonesia (photo: PT DI)

PTDI Gandeng FROGS Indonesia Dorong Ekspansi Drone ke Pasar Ekspor
Singapura (04/02) – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sepakati Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (FROGS Indonesia) tentang pemasaran dan produksi drone untuk pasar ekspor. MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Direktur FROGS Indonesia, Asro Nasiri, disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di booth PTDI A-L31.

FROGS Indonesia merupakan Perusahaan yang berfokus pada bidang pengembangan dan manufaktur teknologi drone, khususnya untuk sektor pertanian (drone sprayer), pemetaan udara, pengawasan kargo, hingga drone penumpang. Kolaborasi ini sejalan dengan pengalaman PTDI dalam pengembangan platform udara nirawak (drone) untuk berbagai aplikasi, sehingga sinergi kedua belah pihak diharapkan dapat memperkuat pengembangan solusi drone yang aplikatif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. 

Melalui MoU ini, PTDI dan FROGS Indonesia menyepakati kegiatan pemasaran dan promosi bersama produk drone untuk pasar luar negeri, joint manufacturing, transfer teknologi, serta research & development untuk peningkatan kinerja dan kemampuan sistem drone. Kolaborasi ini juga mencakup eksplorasi kapabilitas masing-masing pihak, di mana PTDI akan berperan dalam penguatan pengembangan sistem, pemanfaatan fasilitas manufaktur, serta dukungan jejaring pemasaran internasional, termasuk potensi dukungan KBRI di luar negeri yang membutuhkan pemanfaatan drone di sektor pertanian dan peternakan. 

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis PTDI dalam memperluas kapabilitas sistem udara nirawak, khususnya pada aspek pengembangan platform, integrasi sistem, dan kesiapan manufaktur untuk pasar global. Melalui kolaborasi ini, PTDI mendorong pengembangan drone yang tidak hanya unggul secara aeronautika, tetapi juga andal dari sisi performa sistem, fleksibilitas misi, serta kesiapan untuk berbagai kebutuhan operasional, termasuk pengawasan, pemetaan, dan dukungan misi non-tempur. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri drone nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” kata Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Kolaborasi PTDI dengan FROGS Indonesia melengkapi rangkaian kapabilitas PTDI dalam pengembangan Unmanned Aircraft System (UAS) di berbagai segmen aplikasi. Sebelumnya, PTDI telah mengembangkan sejumlah platform UAS, di antaranya UAS Wulung dan Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE “Elang Hitam”, yang mencerminkan komitmen PTDI dalam membangun kompetensi teknologi wahana udara nirawak secara berkelanjutan.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PTDI mengadopsi pendekatan komprehensif dalam pengembangan UAS, mulai dari aplikasi sipil seperti drone pertanian hingga pengembangan sistem UAS berteknologi lebih lanjut, guna mendukung penguatan ekosistem industri dirgantara nasional. (PT DI)