31 Desember 2025

Bintang 2025: PT PAL dan Kaharuddin Djenot

31 Desember 2025

Fregat Merah Putih dan KSOT (kapal selam otonom tempur) (photo: FMI)

Berita terbaik sepanjang tahun 2025 adalah ini: PT PAL dengan dirutnya, Kaharuddin Djenot. Itulah ''Bintang 2025''. Anda bisa punya bintang sendiri. Silakan pilih.

Perusahaan pembuat kapal perang itu berubah drastis: bukan hanya kinerja perusahaannya, juga artinya bagi Indonesia.

Lokasi perusahaan itu di dekat pangkalan TNI-AL, Ujung, Perak, Surabaya. Saat Kaharuddin menerima amanah sebagai dirut baru, PT PAL dalam kondisi Kol 5 (kolektibilitas 5). Artinya: macet. Sudah waktunya dinyatakan pailit, dilelang, dan dilikuidasi. PT PAL sudah lama tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada bank dan pihak ketiga lainnya.

Hanya dalam tiga tahun keuangan PT PAL bisa kembali sehat. Bukan saja sembuh tapi sudah bisa lari cepat.

Dibanding zaman paling sehatnya dulu pun sudah lebih baik 10 kali lipatnya. PT PAL pernah sehat, lalu sakit kronis yang amat akut –saya pun tidak mampu menyehatkannya.

Loading torpedo ke KSOT (photo: Kemhan)

Baru-baru ini saya meninjau PT PAL –sebelum Natalan ke Sidikalang, Sumut. Saya bertemu Dirut Kaharuddin Djenot. Saya ingin tahu apakah yang dikatakan Kaharuddin empat tahun lalu berhasil diwujudkan. Waktu itu saya ajak Kaharuddin podcast. Ia mengungkapkan begitu banyak rencana kerja. Sangat muluk. Ambisius.

Ternyata semua yang ia katakan terlaksana. Bahkan jauh lebih maju. Ia seperti menyulap rongsokan PT PAL menjadi emas. Itu karena ia bukan dirut biasa. Ia dirut perusahaan kapal yang punya keahlian mendesain kapal. Kapal apa saja. Termasuk kapal perang. Bahkan mahkotanya kapal perang: kapal selam.

Ibarat petani ia bisa mencangkul, membajak, menyemai benih, menanam, memanen, menggilingnya jadi beras, memasaknya jadi nasi, sekaligus mampu menjual nasi itu.

Menuju produksi 30 kapal selam tanpa awak
Kalau yang ia buat kapal selam konvensional mungkin tidak tercipta sejarah baru. Yang ia buat di PT PAL adalah kapal selam era baru: kapal selam tanpa awak atau kapal selam autonomous (KSOT). Biaya produksinya pun menjadi sangat murah. Biaya membuat satu kapal selam konvensional bisa untuk memproduksi 30 kapal selam tanpa awak made in Kaharuddin.

KSOT dalam kondisi menyelam (image: Medef)

Tahun depan, dimulai lusa, PT PAL akan memproduksi 30 kapal selam tanpa awak. Produk pertamanya sudah selesai diuji coba Oktober lalu. Sukses. Termasuk ketika meluncurkan senjata torpedo ke sasaran tembak di bawah permukaan air.

Bayangkan: tiba-tiba saja Indonesia punya 30 kapal selam. Siapa yang mengira. Negara konsumen ini bisa menjadi produsen.

Dengan 30 kapal selam praktis semua ''pintu masuk'' perairan Indonesia bisa dijaga oleh kapal selam bertorpedo.

Di produk pertama yang saya lihat itu, satu kapal selam membawa empat torpedo. Dua di kanan, dua di kiri. Di produksi selanjutnya, satu kapal selam bisa membawa delapan torpedo. Torpedonya pun buatan PAL sendiri.

KSOT nomor 003 (photo: IKMI)

Kapal selam tanpa awak itu bisa diparkir di bawah laut berbulan-bulan. Tanpa perlu mengapung. Tidak perlu takut kehabisan oksigen. Atau kehabisan bahan pangan. Tidak ada manusia di dalamnya. Mata dan telinga di kapal itu semuanya artificial intelligence.

Tenaga di kapal itu mengandalkan baterai. Tidak perlu takut low bat. Kalau isi baterainya berkurang bisa di-charging di bawah laut. Charging terjadi otomatis setiap saat diperlukan.

Di bagian bawah kapal selam dilengkapi turbin. Penggerak turbinnya alami: arus bawah laut. Arus air laut itulah yang memutar turbin. Turbin yang memutar membuat generator memutar: menghasilkan listrik –dipakai charging baterai kapal selam tanpa awak.

Tiba-tiba saja Indonesia menjadi negara produsen kapal selam. Secara masif pula. Tiba-tiba saja kapal selam model lama tidak begitu relevan lagi. Negara-negara yang tidak kaya pun akan bisa membeli kapal selam. Indonesia langsung bisa menjadi eksporter kapal selam.

Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (photo: FMI)

Menuju produksi 100 blok kapal perbulan
Kini seluruh galangan kapal yang ada di PT PAL sedang diperbarui. Kapasitasnya dinaikkan. Kalau dulu sebulan hanya bisa membuat 15 blok, kini sudah bisa 40 blok. Tahun 2027 meningkat menjadi 100 blok/bulan.

Kalau itu terwujud, kata Kaharuddin, PT PAL sudah setara dengan galangan kapal terbesar milik Jepang –tempat Kaharuddin memperoleh gelar S-1, S2, dan S-3 di bidang perkapalan.

Anda sudah tahu: pembuatan kapal itu dilakukan per blok. Dikerjakannya di atas tanah. Setelah semua blok selesai dibuat, barulah disambung-sambung menjadi satu kapal. Satu kapal kecil terdiri dari 20 blok. Kapal besar, kelas Panamax (bisa melewati terusan Panama), terdiri dari sekitar 110 blok.

Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (photo: FMI)

Rencana PAL selanjutnya: seluruh galangan kapal milik BUMN digabung ke dalam PT PAL. Bahkan PAL berencana menggandeng seluruh galangan kapal swasta di Indonesia. Mereka akan menjadi satu koordinasi: Indonesia Maritime Incorporated.

Pasar kapal Indonesia sangat besar. Selama ini lebih banyak impor. Kalau semua kapal yang diperlukan Indonesia buatan Indonesia maka industri maritim akan hidup –BUMN maupun swastanya.

Diam-diam saya bersyukur Kaharuddin Djenot batal jadi pimpinan Danantara. Ia sudah pernah di-SK-kan menjadi CEO Danantara. Tapi batal sebelum dilantik.

"Bolehkah saya bersyukur seperti itu –meskipun Anda sendiri mungkin sempat kecewa?"

"Boleh," katanya lantas tersenyum. Saya sulit memaknai senyumannya itu.(Dahlan Iskan)

Project Summary: “Completion of the Design and Manufacturing of the XCB-01 Infantry Fighting Vehicle”

31 Desember 2025

General Pham Hoai Nam and delegates visited the XCB-01 infantry fighting vehicle models on display at the sidelines of the conference (photo: QDND)

On the morning of December 30th, at the Z189 Factory in Hai Phong, the General Department of Defense Industry held a conference to summarize the Ministry of Defense-level science and technology project "Completing the design and manufacturing of the XCB-01 infantry fighting vehicle". Lieutenant General Pham Hoai Nam, Member of the Central Committee of the Communist Party of Vietnam and Deputy Minister of Defense, attended and delivered a speech at the conference.

This project is of great political, military, and scientific-technological significance, and has received special attention and trust from the Central Military Commission and the Ministry of National Defense  , who have assigned the General Department of Defense Industry to lead and coordinate with units throughout the military in its implementation.

XCB-01 infantry fighting vehicle (photo: Kỹ thuật quân sự Hải Quân)

The project "Completing the design and manufacturing of the XCB-01 infantry fighting vehicle  " has basically completed its objectives and contents approved by the Ministry of National Defence. For the first time, Vietnam has researched, designed, and manufactured a complete, integrated infantry fighting vehicle, a strategically significant piece of equipment with a very high localization rate and modern technical features.

The project's product has successfully completed task A80 and has been selected by the Ministry of Science and Technology as one of the outstanding achievements in science, technology, and innovation of the country in 2025.

XCB-01 infantry fighting vehicle during a joint training exercise of forces performing A80 duties, July 17 (photo: Phu Son)

In his remarks at the conference, Lieutenant General Pham Hoai Nam emphasized: "The project's results have affirmed the effectiveness and capability of mastering the research, design, and manufacturing of new weapons and technical equipment, creating a highly integrated combat system; mastering several core and foundational technologies and gradually achieving self-reliance in the design and manufacturing of modern weapons and technical equipment."

According to General Pham Hoai Nam 's assessment  , the project's results provide a solid practical basis for building mechanisms and policies for the Law on National Defense and Security Industry and Industrial Mobilization, as well as regulations on mechanisms and policies to promote science and technology activities and innovation serving the national defense industry, and to promote the development of strategically important weapons and technical equipment.

On this occasion, Lieutenant General Pham Hoai Nam and other leaders of the General Department of Defense Industry presented Certificates of Commendation from the Minister of National Defense to 22 collectives and 41 individuals for their outstanding achievements in implementing the project (photo: QDND)

On behalf of the Central Military Commission and the Ministry of National Defence, Senior General Pham Hoai Nam congratulated and commended the General Department of Defence Industry, the Department of Military Science, the Project Management Board, and the units in charge of and leading the research topics and tasks under the project for their efforts in overcoming difficulties, being proactive, innovative, and implementing effective solutions to achieve the project's objectives.

In the coming period, the need for research, design, and manufacturing of new weapons and technical equipment, integrated combat systems, guided weapons, and high-tech weapons to meet the requirements of building a modern army is enormous. Emphasizing this, Lieutenant General Pham Hoai Nam requested that agencies and units within the Ministry of National Defense continue to build upon achievements, overcome all difficulties, and proactively improve the effectiveness of scientific and technological research, contributing to building a self-reliant, self-sufficient, dual-use, and modern Vietnamese defense industry that is increasingly closely integrated and becomes a spearhead of the national industry.

Peningkatan Kekuatan PAF di Tahun 2025 dan 2026

31 Desember 2025

Filipina akan memiliki 32 helikopter S-70 Black Hawk (photo: AFP)

Helikopter Black Hawk Tambahan
MANILA – Angkatan Udara Filipina (PAF) menghabiskan tahun 2025 secara diam-diam untuk meningkatkan kemampuannya dalam melindungi wilayah udara negara yang luas, serta kapasitasnya untuk melakukan misi bantuan bencana.

Selama tahun tersebut, PAF menerima 10 helikopter tempur utilitas S-70 Black Hawk tambahan – lima di antaranya diresmikan pada 13 Agustus dan lima lainnya pada 14 November.

Kesepuluh helikopter tersebut — yang dikirim pada 15 Juli dan 20 Oktober — merupakan pengiriman ketiga dan keempat dari 32 unit S-70i Black Hawk yang diperoleh melalui Program Modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), kata juru bicara PAF Kolonel Ma Christina Basco dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Dua pengiriman sebelumnya dilakukan pada 10 Juni dan 9 Desember tahun lalu. Kontrak senilai PHP32 miliar untuk pengadaan tersebut ditandatangani pada 22 Februari 2022 oleh Menteri Pertahanan saat itu, Delfin Lorenzana.

"Melalui Rencana Penerbangan PAF 2040 dan penyelarasan dengan Program Modernisasi AFP, Angkatan Udara mengikuti jalur yang jelas dan disiplin menuju pengembangan kemampuan jangka panjang," kata Basco.

Filipina telah mempersiapkan pembelian tambahan 8 helikopter Bell 412 EP yang akan direalisasikan tahun 2026 (photo: Noel Morota)

"Ini memastikan bahwa upaya modernisasi mendukung kebutuhan operasional dan berkontribusi pada AFP yang kredibel, tangkas, dan siap menjalankan misi."

Rencana Penerbangan PAF 2040 adalah peta jalan strategis jangka panjang untuk menjadi angkatan udara yang modern, kredibel, dan tangkas pada tahun 2040.

"Dengan penambahan terbaru ini, PAF terus memperkuat kemampuan mobilitas udaranya dan memenuhi mandatnya untuk melindungi bangsa dan melayani rakyat Filipina — baik dalam masa krisis kemanusiaan maupun konflik," kata Basco.

Saat ini, PAF memiliki armada sekitar 35 helikopter Black Hawk, yang dikenal karena keserbagunaan, kecepatan, dan keandalannya, dan biasanya digunakan untuk bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, pengangkutan pasukan dan kargo, serta operasi dukungan taktis.

Beberapa helikopter digunakan dalam pengiriman bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak siklon dahsyat Uwan, Nando, dan Tino, antara lain, tahun ini.

Filipina telah menanda-tangani tambahan 12 unit FA-50PH pada Juni 2025 lalu (image: KAI)

Pesawat tempur ringan FA-50 PH
Untuk tahun 2026, Basco mengatakan PAF tetap berkomitmen untuk memperkuat kemampuannya.

Secara khusus, Basco mengatakan PAF berharap dapat meningkatkan aset pesawat tempur dan pengawasannya melalui perluasan armada FA-50PH dan sensor serta sistem pendukungnya.

"Ini telah memulihkan kemampuan jet tempur cepat yang andal untuk pertahanan udara, patroli maritim, dan dukungan udara jarak dekat, membantu AFP melindungi wilayah kita dengan lebih baik," katanya.

Pada 3 Juni, PAF menandatangani kontrak dengan Korea Aerospace Industries (KAI) untuk 12 jet tempur ringan FA-50PH berkemampuan Mach 1.5 tambahan, sebuah perkembangan yang menyoroti tekad Filipina untuk mempertahankan wilayah udaranya.

Filipina telah menanda-tangani pesanan tiga C-130J pada 2023 (photo: Lockheed Martin)

Bernilai sekitar USD700 juta atau sekitar PHP40 miliar pada saat penandatanganan, kontrak tersebut mencakup dukungan logistik yang komprehensif.

Unit FA-50PH baru — lebih canggih daripada 11 unit yang saat ini dimiliki PAF — akan menampilkan peningkatan signifikan seperti kemampuan pengisian bahan bakar di udara, sistem radar canggih, dan integrasi senjata yang lebih baik. Pengiriman diharapkan dari tahun 2026 hingga 2030.

A-29B Super Tucano
Sementara itu, sejalan dengan pergeseran menuju pertahanan teritorial di bawah Konsep Pertahanan Kepulauan Komprehensif, Basco mengatakan PAF mengharapkan kedatangan lebih banyak pesawat pendukung udara jarak dekat A-29B Super Tucano.

Filipina telah menanda-tangani pesanan enam NC-212i tambahan pada 2023 (photo: Gerard Belvis)

"Unit-unit ini akan semakin memperkuat kemampuan serangan presisi dan pencegahan maritim kami," katanya.

Pesawat Lainnya
Pesawat tambahan seperti C-130J, NC-212i, dan Bell 412, serta batch terakhir helikopter Black Hawk juga diharapkan akan tiba pada tahun 2026 dan seterusnya.

Dengan pesawat-pesawat ini, Basco mengatakan PAF pasti akan meningkatkan kapasitasnya untuk pergerakan pasukan, logistik, dan operasi kemanusiaan.

(PNA)

30 Desember 2025

SIPER: Langkah Turki Membina Pengganti S-400 Rusia

30 Desember 2025

S-400 rudal anti pesawat udara jarak jauh (photo: AA)

Turki sedang berada di fasa kritikal dalam membangunkan sistem pertahanan udara jarak jauh generasi baharu yang dikenali sebagai SIPER. Sistem yang dibangunkan secara bersama oleh ASELSAN, ROKETSAN dan TÜBİTAK SAGE, ini akan menjadi tonggak utama usaha Ankara untuk memiliki perisai udara strategik yang sepenuhnya dihasilkan dalam negara.

Projek pembangunan sistem pertahanan ini bermula sebagai respons terhadap keperluan strategik Turki bagi mengurangkan kebergantungan kepada pembekal asing, khususnya selepas ketegangan diplomatik yang tercetus berikutan pembelian sistem S-400 pada 2019. Melalui SIPER, Ankara berhasrat untuk membina keupayaan tempatan yang tidak terikat dengan sekatan atau kawalan eksport luar.



SIPER direka sebagai komponen lapisan tertinggi dalam rangkaian pertahanan udara bersepadu Turki, dengan keupayaan memintas pelbagai ancaman termasuk pesawat pejuang generasi kelima, peluru berpandu jelajah, peluru berpandu balistik jarak sederhana serta dron berkelajuan tinggi.

Sistem ini disasarkan mencapai jarak efektif sehingga 100 kilometer dengan altitud operasi melebihi 30 kilometer, meletakkannya setara dengan kategori sistem jarak jauh antarabangsa berpotensi menjadi alternatif kepada S-400 Triumf buatan Rusia yang kini dioperasikan oleh Angkatan Bersenjata Turki.

SIPER sistem pertahanan udara jarak jauh Turki (photo: Turdef)

Kerjasama antara ASELSAN, ROKETSAN dan TÜBİTAK SAGE membolehkan setiap pihak memberi sumbangan kepakaran tersendiri.ASELSAN bertanggungjawab membangunkan radar pelbagai fungsi, sistem kawalan tembakan dan pautan data taktikal. ROKETSAN memfokuskan pembangunan peluru berpandu termasuk sistem pendorong dan kepala peledak, manakala TÜBİTAK SAGE menyumbang kepakaran dalam teknologi panduan, penderiaan sasaran dan perlindungan terhadap gangguan elektronik.

Ujian penerbangan pertama SIPER dilaksanakan pada 2021, diikuti siri penembakan pada 2022 yang berjaya memintas sasaran udara pada jarak yang signifikan. Sejak itu, prototaip sistem terus ditambah baik dari segi jangkauan, ketepatan dan daya tahan terhadap serangan peperangan elektronik. Pihak industri menyasarkan ujian akhir sistem dapat dilaksanakan sebelum penghujung dekad ini.

SIPER sistem pertahanan udara jarak jauh (image: SSB)

SIPER akan diintegrasikan bersama sistem pertahanan udara lain seperti HİSAR-A, HİSAR-O, Korkut dan Gökdeniz, membentuk pertahanan berlapis yang mampu memberikan liputan penuh dari jarak dekat sehingga jarak jauh. Integrasi ini akan membolehkan Turki mempertahankan aset strategik, pangkalan udara, pusat industri dan kawasan bandar utama daripada serangan udara berskala besar.

Selain kepentingan domestik, SIPER berpotensi membuka ruang eksport ke negara-negara yang memerlukan sistem pertahanan udara moden tetapi berdepan sekatan politik untuk mendapatkan teknologi Barat atau Rusia. Walaupun begitu, penganalisis menjangka pemasaran ke luar negara akan dikawal secara ketat bergantung kepada polisi eksport senjata Turki dan sensitiviti geopolitik serantau.

Komponen rudal SIPER (infographic: Kaan Azman)

Kejayaan projek ini akan memberi Ankara satu kelebihan strategik yang signifikan. Ia bukan sahaja mengurangkan risiko diplomatik seperti yang dialami ketika pembelian S-400, malah membuktikan kemampuan industri pertahanan tempatan menghasilkan sistem kompleks bertaraf global. Lebih penting, SIPER bakal menjadi simbol kedaulatan teknologi dan daya tahan strategik Turki di tengah-tengah landskap keselamatan antarabangsa yang semakin tidak menentu.

Sekiranya semua mengikut jadual, SIPER dijangka memasuki perkhidmatan operasi penuh menjelang 2026, menggantikan secara berperingkat peranan S-400 dalam perkhidmatan Angkatan Bersenjata Turki.

Rudal SIPER block 1 dan block 2 (image: Secret Projects)

Apabila siap sepenuhnya, sistem ini akan mengukuhkan kedudukan Turki sebagai antara pemain utama dalam bidang pertahanan udara jarak jauh di peringkat global.

Pesawat dan Kapal Perkuat Pertahanan Indonesia 2025

30 Desember 2025

Alutsista yang datang tahun 2025 (infographic: Antara)

Indonesia diperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa pesawat dan kapal yang tiba pada 2025, seperti berikut.

Mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto, "TNI harus kuat, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara. Kami ingin memperkuat jajaran operasional riil TNI, kami akan perkuat TNI."

Hyundai Heavy Industries Raih Pesanan Dua Kapal Fregat Senilai KRW 844,7 Miliar dari Filipina

30 Desember 2025

Kapal fregat 3.200 ton, BRP Diego Silang (Miguel Malvar class) yang diserahkan HD Hyundai Heavy Industries kepada Angkatan Laut Filipina pada Oktober 2025 (photo: HD Hyundai  Heavy Industries)

[Industry News] HD Hyundai Heavy Industries berhasil mendapatkan pesanan tambahan untuk kapal fregat Filipina berbobot 3.200 ton, mencetak rekor ekspor sebanyak 20 kapal.

Hyundai Heavy Industries mengumumkan pada tanggal 27 bahwa mereka telah menandatangani kontrak dengan Departemen Pertahanan Filipina pada tanggal 26 untuk membangun dua kapal fregat berbobot 3.200 ton.

Kontrak tersebut bernilai 844,7 miliar won, dan kedua kapal tersebut dijadwalkan akan diserahkan kepada Angkatan Laut Filipina pada paruh kedua tahun 2029.

Pesanan ini didasarkan pada keberhasilan kinerja operasional kapal fregat kelas Jose Rizal berbobot 2.600 ton dan kapal fregat kelas Miguel Malvar berbobot 3.200 ton yang telah diserahkan ke Filipina oleh HD Hyundai Heavy Industries.

Hal ini penting karena merupakan pesanan tambahan yang didasarkan pada kualitas dan kemampuan teknologi kapal yang sudah ada.

Dibangun di atas kepercayaan yang mendalam antara pemerintah Korea dan Filipina, dukungan penuh dari kementerian terkait, termasuk Kementerian Pertahanan Nasional, Administrasi Program Akuisisi Pertahanan, dan Angkatan Laut, juga diberikan. Komunikasi dan kerja sama yang erat dengan Kedutaan Besar Korea di Filipina juga memainkan peran kunci dalam memastikan kelancaran proyek.

Filipina sedang menjalankan Proyek Horizon, program modernisasi angkatan laut, untuk mengatasi lingkungan keamanan maritim yang kompleks di kawasan ini dan mengamankan kemampuan operasional maritim yang stabil.

2 new frigate for Philippine Navy (infographic: NGP)

Kapal fregat tambahan yang dipesan kali ini diharapkan dibangun berdasarkan spesifikasi yang sama dengan fregat kelas Miguel Malvar yang dikirim tahun ini, memastikan kompatibilitas tinggi dengan sistem komando, kendali, dan operasional yang saat ini dioperasikan oleh Angkatan Laut Filipina.

Dengan pesanan ini, HDHyundai Heavy Industries telah memperkuat posisinya sebagai mitra kunci dalam modernisasi Angkatan Laut Filipina dengan menandatangani kontrak untuk membangun dua fregat tambahan, di samping sepuluh kapal yang telah dibangun di bawah Proyek Horizon, termasuk fregat 2.600 ton dan 3.200 ton serta enam kapal patroli 2.400 ton.

Joo Won-ho, Presiden dan CEO HDHyundai Heavy Industries (Kepala Divisi Kapal dan Kapal Berukuran Sedang), mengatakan, “Kontrak ini adalah hasil dari kemitraan strategis yang kuat antara Korea dan Filipina yang didasarkan pada kepercayaan, dan merupakan validasi dari kehebatan teknologi dan kemampuan manajemen proyek HD Hyundai Heavy Industries. Kami akan terus bekerja sama sebagai mitra kunci tepercaya Angkatan Laut Filipina dengan memasok kapal berkualitas tinggi dan memberikan dukungan tindak lanjut yang stabil.”

HD Hyundai Heavy Industries baru-baru ini menyelesaikan penggabungannya dengan HD Hyundai Mipo dan sedang berupaya meningkatkan daya saingnya di sektor angkatan laut.

Dengan menggabungkan dermaga, fasilitas, dan sumber daya manusia HD Hyundai Mipo yang sesuai untuk pembuatan kapal dengan pengetahuan teknologi pembuatan kapal yang telah dikumpulkan sebelumnya, kami berencana untuk lebih memperkuat daya saing pembuatan kapal kami.

29 Desember 2025

Viettel Distributes Aircraft Simulators and Pilots Training System in Indonesia

29 Desember 2025

Signing of agreement between Viettel Hight Tech and PT Bandara Praniagatama (photo: Viettel)

PANO - Viettel High Technology Industries Corporation (Viettel High Tech), an affiliate of the Military Industry-Telecoms Group (Viettel), and PT. Bandara Praniagatama of Indonesia have signed an agreement to distribute Viettel's aircraft simulators and pilots training system in Indonesia.

According to the agreement, PT. Bandara Praniagatama will be the sole distributor of Viettel's aircraft simulators and pilot training systems in the Indonesian market for two years and in other international markets where the Indonesian business is a service provider. This agreement is a significant milestone in the Vietnamese military business's efforts in expanding its export market for Viettel's aircraft simulators, with expected revenues reaching tens of millions of USD.

As the foremost pilot training company in Indonesia with many years of experience in cooperation with well-known international partners, PT. Bandara Praniagatama has been specifically assigned to seeking cooperation opportunities and providing training for the country's air force by the Indonesian Defense Ministry.

Viettel's flight training simulator system. (Viettel High Tech)

In Vietnam, Viettel is a trailblazer in applying simulation technology to military training, and the aircraft simulators and pilots training system developed by Viettel have approved to meet all requirements of training of the Vietnam People's Army and other militaries. Viettel has now mastered all aspects, ranging from research and design to manufacturing and core technologies. Through this agreement, Viettel expects to export its flight simulation products to the Indonesian market as well as other promising markets in the region.

General Director of Viettel High Tech Nguyen Vu Ha said that since Viettel masters core technology, it enables the military business to swiftly adapt and promptly address requests from users without depending on external partners. This will not interrupt the training process of air force, thus ensuring absolute safety for pilots and enhancing the combat readiness capability of the Indonesian air force.

Viettel's flight training simulator system. (Viettel High Tech)

Viettel's system boasts numerous advantages and is expected to be successful in the international market. Firstly, the system ensures pilot training in any weather conditions and terrains, from simple to complex scenarios in both day and night. Secondly, it operates effectively and saves costs. This simulation system can reduce costs by hundreds of times and minimize the number of operators by dozens of times in comparison to training on real aircraft.

In addition, by simulating real-life combat situations, it can help pilots effectively handle unexpected circumstances during flight. Moreover, the ability of connecting with the flight command crew training simulation system will facilitate the simultaneous training for both air force (pilots) and ground forces (flight commanders, navigation crews) in the same scenario.

Highlighting the cooperation with Viettel, General Director of PT. Bandara Praniagatama Rengga Dina Permana said that the partnership with Viettel, a leading high-tech company in Vietnam, will help the Indonesian business to fully meet the Indonesian market’s demand for simulation training system.

BRP Emilio Jacinto Conducts Patrols, Test Fires 76mm Gun Off Zambales

29 Desember 2025

BRP Emilio Jacinto (PS-35) first of five patrol vessels of the Peacock class, she was originally part of the Hong Kong Squadron of the Royal Navy (photos: PN)

MANILA – The Philippine Navy (PN) announced that one of its offshore patrol vessels, BRP Emilio Jacinto (PS-35), conducted a maritime patrol off Los Frailes Island, Zambales, where it also successfully test-fired its 76mm main gun on Dec. 18.

BRP Emilio Jacinto is assigned to the PN's Northern Luzon Naval Command (NLNC) based in Naval Station Ernesto Ogbinar, Poro Point, San Fernando City, La Union.


"During the patrol, PS-35 maintained heightened maritime domain awareness while monitoring vessel movements and engaging in presence operations in key sea lanes, particularly in areas vulnerable to transnational maritime threats," the PN said in a statement Sunday night.

It added that the test firing of the ship's 76mm Oto Melara main gun was to ensure operability, accuracy, and effective operation of the weapon and "amplify the operator’s skill proficiency."

The PN added that all NLNC and its assets will continue to monitor the area and ensure the safety of Filipino fisherfolk within the West Philippine Sea.


In a related development, the Western Naval Command, based in Naval Station Carlito Cunanan, Barangay Macarascas, Puerto Princesa City, Palawan, conducted an arrival and welcoming ceremony for the outgoing security personnel from Lawak and Patag Islands in the Kalayaan Island Group following their safe arrival at WNC headquarters last Dec. 17.

"The activity marked the successful completion of the rotation and resupply (RORE) mission and recognized the dedicated service of personnel deployed in forward areas," it added.

(PNA)

PT DI Berhasil Terbangkan Kembali CN-235 Nomor A-2305

29 Desember 2025

Pesawat angkut CN-235 nomor A-2305 (photo ssv: PT DI)

Melalui unggahan PT DI tanggal 25 Desember 2025 lalu, PT Dirgantara Indonesia berhasil menerbangkan kembali pesawat CN-235 dengan nomor registrasi A-2305 yang menjalani restorasi dengan kontrak efektif yang dimulai sejak Oktober 2022.

Dalam program restorasi ini disebutkan bahwa A-2305 mengalami modifikasi besar dan pemeliharaan komprehensif yang dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan kesiapan operasional armada pesawat TNI AU ini.

A-2305 merupakan pesawat CN-235-100 yang diserah-terimakan dari PT DI (dahulu PT IPTN) dan masuk di Skadron Udara 2 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta pada sekitar tahun 1995-1996.

Pesawat angkut CN-235 nomor A-2305 (photo ssv: PT DI)

PT DI mendapatkan kontrak untuk memproduksi 9 pesawat angkut taktis CN-235 versi 100 pada akhir 1980an. Pesawat pertama A-2301 diserahkan pada Januari 1993 dan pesawat terakhir A-2309 diserahkan pada Januari 1997, seluruh pesawat ini dioperasikan oleh Skadron Udara 2.

Saat ini di Skadron Udara 2 tercatat masih mempunyai beberapa pesawat CN-235 selain A-2306 dan A-2309 yang sudah berstatus written off (dihapus) karena kecelakaan yang dialaminya. Tercatat ada 5 pesawat CN-235 dengan nomor registrasi A-2301, A-2303, 
A-2305, A-2308 dan A-2321. Khusus A-2321 (diserahkan pada Maret 2021) dalam dinamika operasional TNI AU, meskipun pernah bertugas di Skadron Udara 27 (Biak), pesawat ini sering kali ditarik kembali atau disiagakan di Skadron Udara 2 (Halim) untuk mendukung kebutuhan angkut taktis di wilayah Barat atau sebagai unit cadangan strategis nasional karena statusnya sebagai salah satu unit CN235 yang paling muda secara usia pakai.

Pesawat angkut CN-235 nomor A-2305 (photo: Fahmi Imadudin)

Pesawat angkut taktis dengan nomor registrasi A-2302, A-2304, dan A-2307 serta pesawat dengan konfigurasi MPA dengan nomor A-2317 dan A-2318 telah dipindah-tugaskan ke Skadron Udara 27 di Biak, Papua. Adapun A-2317, A-2318 dan A-2321 merupakan pesawat CN-235 versi 200.

Pada tahun 2012 hingga 2014 TNI AU menerima 9 pesawat CN-295 yang seluruhnya dioperasikan di Skadron Udara 2 sebagai pesawat angkut sedang.

Belum jelas apakah A-2305 nantinya akan terus dioperasikan oleh Skadron Udara 2 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta bersama CN-295 ataukah akan dipindah tugaskan ke Skadron Udara 27 di Lanud Manuhua, Biak, Papua yang khusus mengoperasikan CN-235. 

28 Desember 2025

TRUVELO Infantry Weapons Manufacturing Acquired by E-System Solutions

28 Desember 2025

Several Truvelo sniper rifles are used by the Indonesian military (all photos: Truvelo)

PT E-System Solutions Indonesia is pleased and blessed to have announce the successful closure of a major strategic transaction through which we have acquired a significant interest in TRUVELO SPECIALSED MANUFACTURING the legendary South African precision rifle and infantry arms manufacturer.


The transaction marks a major milestone for both organisations and establishes a strong platform for international expansion, advanced manufacturing, and long term collaboration in the global defence and security sector.


This acquisition represents a highly strategic investment for E-System Solutions. TRUVELO is globally recognized for its engineering excellence, precision manufacturing, and combat-proven products. By bringing together E-System Solutions advanced technology capabilities and international footprint with TRUVELO’s world class weapons design and manufacturing expertise, we are creating a powerful eco-system for growth, innovation, and sovereign manufacturing partnerships.


We plan to add to our capacities a production facility in the UAE and INDONESIA to reflect our shared vision of building resilient, regionalised manufacturing capabilities that support allied nations and meet growing global demand for high-quality, reliable defence equipment.


This critical acquisition, will allow now E-System Solutions to provide a complete production capability ranging from Loitering Munitions, FPV drones, Multi Purpose DART Rocket, Infantry Assault Rifle, Sniper Rifles, and 60/81mm Mortar support, 20mm Gun, weapons equipment and associated ammunition manufacturing.


Looking Ahead
Both Companies emphasized that TRUVELO will continue to operate under its established brand, maintaining its long heritage, engineering culture, and commitment to precision, while benefiting from E-System Solutions capital support, system technology integration, and access to new international markets.

TRUVELO’s legacy of precision and performance aligns and complement perfectly with our values. 

Together, we are well positioned to shape the future of specialized manufacturing in the global defence sector.

(ESS)

Australian Army Tests Counter-drone Technology

28 Desember 2025

Royal Australian Regiment, engages simulated drones with the Applied Virtual Simulation system at the Cultana Training Area, South Australia (photos: Aus DoD)

Army is delivering world-class counter-drone equipment to protect the Australian Defence Force from drone attacks.

Defence personnel and industry specialists gathered in South Australia early in December at the Cultana urban training facility to assess a number of counter-uncrewed aircraft systems (CUAS) during Exercise Southern Arrow.

Lieutenant Colonel Josh Mickle, of Land Capability Division, said drones posed the most fundamental threat to forces that militaries had seen in a long time.

“It is an asymmetric threat, the technology advances at an extremely fast rate, and the counter measures to those drones must keep up,” Lieutenant Colonel Mickle said.


The exercise culminated with a live-fire demonstration – the first iteration of the LAND 156 integrated CUAS acquisition, refresh and upgrade schedule (ICARUS) featuring a command and control system integrated with multiple sensors and effectors. 

This version includes the DART RF detection system and EchoGuard active radar, Vampire rocket launcher, R400 Slinger armed with an M134D mini-gun, and MAG-58 and M230LF mounted on Hawkeye vehicles.

“Countering drones is not an air defence problem, it is an everybody problem, and what we saw was the future of force protection,” Lieutenant Colonel Mickle said. 

'It is an asymmetric threat, the technology advances at an extremely fast rate, and the counter measures to those drones must keep up'


“This is a developmental project and we are moving extremely fast.

“ICARUS is a complex system and it has required a massive effort from the team, from both the Commonwealth and industry partners.

“To integrate advanced sensors and effectors into a combat management system to neutralise the drone threat that we just engaged is a pretty impressive undertaking.

“The team that has been able to pull this together in an extremely quick time is nothing short of remarkable.”


The ICARUS demonstration was the culmination of an intense period of testing and evaluation, which will continue in 2026.

“Over the past six to eight weeks the project has been conducting evaluations and assessments of the best dismounted systems in the world to find the best of the best, that we can introduce rapidly,” Lieutenant Colonel Mickle said.

“We’ve taken into account technical assessment, cyber assessment and soldier usability assessment, to identify the most suitable systems that we will acquire more of. We’ll be training the dismounted forces on these systems from early 2026.”

The Philippines' DND Plans to Purchase New Frigates from the Republic of Korea

28 Desember 2025

BRP Diego Silang (FFG-07) a Miguel Malvar HDC-3200 class frigate (photo: PN)

TSAMTO, --- The Philippine Department of National Defense is preparing to sign a contract with a South Korean company to supply the country's navy with two new frigates, the cost of which is estimated at 34 billion pesos (585 million dollars).

According to Naval News, citing anonymous sources, the contract award notification was sent to shipbuilder HD Hyundai Heavy Industries (HHI) on December 22. This follows the allocation of additional funds by the Philippines' Department of Budget and Management (DBM) for the modernization of the Armed Forces. The new ships are expected to be delivered in 2029.

The contract adds to HD HHI's growing portfolio of projects for the Philippine Navy. Over the past five years, the South Korean shipbuilder has delivered four frigates to the Philippine Navy. The company is also building six Offshore Patrol Vessel (OPV), the first of which, the PS-20 Rajah Sulaiman, is scheduled for delivery in January 2026. Upon completion, HD HHI will deliver a total of 12 warships to the Philippine Navy.

BRP Antonio Luna FF-151 a Jose Rizal HDF-2600 class frigate (photo: PN)

In 2025, the Philippine Navy commissioned two modern HDC-3200-class frigates, built by HD Hyundai Heavy Industries under a contract signed in December 2021. The procurement is valued at PHP 28 billion (US$551 million). The lead ship of the class, (FFG-06) Miguel Malvar, was commissioned on May 20, 2025. The commissioning of (FFG-07) Diego Silang took place on December 2, 2025.

According to sources, the additional frigates, which could cost approximately 42 billion pesos including weapons systems, will be built based on the Miguel Malvar-class (HDC-3200) design. A Ministry of National Defense report published in July described the planned frigate acquisition as "based on existing assets," suggesting a repeat order.

BRP Rajah Sulayman PS-20 a Miguel Malvar HDP-1500 Neo class Offshore Patrol Vessel (photo: PN)

The HDC-3200 project is an improved version of the HDF-2600 frigate, which has already been sold to the Philippine Navy and is in service under the name Jose Rizal.

The Miguel Malvar-class frigate is 118.4 meters long, 14.9 meters wide, and displaces 3,200 tons. It can reach a maximum speed of 25 knots, and has a cruising range of 4,500 nautical miles at 15 knots. Its armament includes a 76mm gun mount, an Aselsan 35mm Gokdeniz CIWS, a 16-container launcher for the VL-MICA air defense system, two four-container launchers with C-Star anti-ship missiles, and two triple-tube torpedo launchers with Blue Shark torpedoes.

27 Desember 2025

Fregat KRI Balaputradewa Menggunakan V-bracket Produksi Barata Indonesia

27 Desember 2025

V-bracket produksi Barata Indonesia (photo: Barata Indonesia)

PT Barata Indonesia (Persero) turut menghadiri kegiatan launching kapal frigate yang diselenggarakan oleh PT PAL Indonesia sebagai bagian dari penguatan industri pertahanan maritim nasional (18/12). Kehadiran Barata Indonesia dalam acara tersebut menegaskan peran aktif perusahaan sebagai salah satu perusahaan manufaktur nasional yang berkontribusi dalam pembangunan komponen kapal frigate buatan dalam negeri.

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang manufaktur, Barata Indonesia berperan dalam penyediaan komponen kapal yakni V-bracket yang diproduksi dengan mengedepankan standar kualitas tinggi serta ketepatan spesifikasi teknis. Kontribusi ini merupakan bagian dari komitmen Barata Indonesia dalam mendukung pengembangan alutsista nasional melalui kemampuan produksi dan rekayasa manufaktur yang dimiliki perusahaan.

Keterlibatan Barata Indonesia dalam proyek kapal frigate PT PAL Indonesia mencerminkan sinergi antar perusahaan BUMN dalam memperkuat rantai pasok industri pertahanan dalam negeri. Kolaborasi ini juga berkontribusi pada peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sekaligus memperkuat kemandirian industri manufaktur nasional, khususnya di sektor maritim dan pertahanan.

Melalui partisipasi dalam pembangunan komponen kapal frigate ini, Barata Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam proyek-proyek strategis nasional. Ke depan, Barata Indonesia akan terus mendorong inovasi, peningkatan kapasitas produksi, serta penguatan kolaborasi industri guna mendukung pengembangan industri pertahanan dan maritim Indonesia secara berkelanjutan.

Pesawat Tempur KF-21 akan Dilengkapi dengan Kemampuan Serangan Darat Mulai Tahun 2027

27 Desember 2025

Kontrak produksi 20 unit KF-21 untuk Angkatan Udara Korsel diteken pada 26 Juni 2024 senilai 1,96 triliun won ($1,41 miliar), unit perdana dijadwalkan akan diserahkan pada paruh kedua tahun 2026 (photo: KAI)

SEOUL -- Pesawat tempur KF-21 Boramae buatan Korea Selatan yang sedang dikembangkan akan dilengkapi dengan kemampuan serangan udara-ke-darat mulai tahun 2027, lebih cepat dari jadwal, demikian kata DAPA  pada hari Selasa.

Rencana ini muncul seiring dengan rencana pemerintah untuk menghabiskan sekitar 700 miliar won (US$472 juta) untuk melakukan serangkaian uji coba yang melibatkan 10 jenis senjata udara-ke-darat yang berbeda hingga akhir tahun 2028, menurut Defense Acquisition Program Administration (DAPA).

Kontrak tambahan untuk 20 unit berikutnya diteken pada 26 Juni 2025 senilai 2,39 triliun won ($1,76 miliar), total 40 unit pesanan tahap pertama dan kedua dapat selesai dikirimkan seluruhnya pada tahun 2028 (photo: KAI)

Rencana ini diharapkan dapat mengamankan kemampuan serangan darat untuk pesawat tempur buatan dalam negeri sekitar 1 1/2 tahun lebih cepat dari yang direncanakan, dalam langkah yang memperkuat kekuatan Angkatan Udara dan berdampak positif pada potensi ekspor, kata DAPA.

Korea Selatan meluncurkan program pengembangan KF-21 pada tahun 2015 untuk memperoleh pesawat tempur supersonik buatan dalam negeri guna menggantikan armada jet buatan AS yang sudah tua milik Angkatan Udara, termasuk F-5. Model produksi pertama jet tempur buatan dalam negeri tersebut memasuki tahap perakitan akhir pada bulan Mei 2026.