Tampilkan postingan dengan label Operasi Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Operasi Militer. Tampilkan semua postingan

14 Desember 2025

Perang Thailand & Kamboja 2025 Karena Apa?

14 Desember 2025

Jika perang berlanjut, Kamboja praktis tidak punya dukungan udara dari pesawat tempur atau helikopter tempur (infographic: Khaosod)

Jakarta, CNN Indonesia -- Thailand dan Kamboja menjadi sorotan dunia saat konflik di perbatasan kedua negara kembali membara sejak pekan lalu.

Konflik ini menewaskan sembilan tentara dan tiga warga sipil di Thailand. Sementara itu, dari pihak Kamboja sebanyak 10 orang tewas dan 60 terluka. Akibat perang itu pula, sekitar 230.000 orang yang tinggal di kedua perbatasan terpaksa mengungsi.

Sebelum perang kali ini berkobar, Thailand dan Kamboja juga sempat bertempur pada Juli lalu.

Mungkin Kamboja hanya mengandalkan perang darat mengingat kemampuan artileri jarak jauh melalui roket menunjukkan keunggulan dari Thailand (infographic: Defence Learning)

Apa penyebabnya?
Thailand Lapor ke DK PBB Pakai Pasal Bela Diri Balas Serang Kamboja
Dalam perang Juli lalu, perang berkobar usai satu tentara Kamboja tewas saat baku tembak dengan pasukan Thailand di area Segitiga Zamrud, lokasi perbatasan Thailand, Kamboja, dan Laos. Kedua pihak saling tuduh dan mengeklaim tindakan itu diperlukan untuk membela diri.

Thailand memperketat pengawasan di perbatasan, membatasi mobilitas warga, sementara Kamboja menghentikan impor buah dan sayuran dari negara musuhnya.

Situasi kian buruk usai rentetan ledakan ranjau terjadi. Ledakan pertama pada 16 Juli dan menyebabkan satu tentara kehilangan kakinya.

Kondisi tersebut menguntungkan Thailand untuk menggunakan superioritas udaranya atas Kamboja (photo: RTAF)

Ledakan kedua melukai lima tentara Thailand. Kedua negara akhirnya saling meluncurkan serangan balasan.

Sementara itu, Kamboja menuduh Angkatan Bersenjata Thailand melancarkan serangan ke negara ini di sepanjang wilayah perbatasan pada 24 Juli.

Gempuran tersebut termasuk ke Kuil Tamone Thom, Kuil Ta Krabey, dan Mom Bei, di provinsi Preah Vihear dan Oddar Meanchey.

Berdasarkan sumber terpercaya, China tidak mengijinkan KS-1C/HQ-12 yang berjangkauan hingga 70km untuk digunakan dalam konflik Kamboja-Thailand pada Juli lalu (photo: SPS)

Kamboja mengutuk sekeras-kerasnya dan menyatakan kemarahan yang mendalam atas agresi militer yang tidak beralasan dan terencana oleh Thailand.

"Menghadapi agresi yang terang-terangan ini, pasukan Kamboja tak punya pilihan selain merespons dengan membela diri guna menjaga kedaulatan dan integritas teritorial Kamboja," kata Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, dalam surat yang dikirim ke PBB pada Juli.

Beberapa hari usai perang, Thailand dan Kamboja sepakat gencatan senjata setelah dimediasi Malaysia yang dibantu China serta Amerika Serikat.

Dalam konflik Kamboja-Thailand kedua, Kamboja diaporkan menggunakan sistem peluncur roket ganda (MLRS) PHL-03 buatan China dengan jangkauan 70 hingga 130 km (photo: SPS)

Dalam kesepakatan itu, kedua negara harus menghentikan tindakan permusuhan. Namun, Thailand dan Kamboja saling tuding masing-masing negara melanggar gencatan.

Lima bulan setelah itu tepatnya pada awal Desember, perang kembali berkobar antara Thailand dan Kamboja.

Thailand menuduh Kamboja lah yang memulai serangan dan mereka harus membela diri dengan membalas. Sementara itu, Kamboja mengeklaim Thailand memproduksi berita palsu untuk memicu ketegangan.

Kamboja memang mengoperasikan ratusan artileri peluncur roket kaliber 122mm berbagai varian yaitu: BM-21, RM-70, PHL-81 dan Type 90B (photo: Cambodia MoD)

"Tentara Thailand Area 1 aktif menyebarkan berita palsu yang jauh dari fakta, dengan mempublikasikan bahwa Kamboja memindahkan senjata berat di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja," demikian rilis resmi Kementerian Pertahanan.

Lebih lanjut, Kemenhan Kamboja menyatakan berita semacam itu palsu. Militer negara ini, kata mereka, tak pernah memindahkan senjata berat apapun dan menghormati kesepakatan gencatan senjata dan perjanjian damai kedua negara.

(CNN)

28 April 2024

Kisah Scramble Hawk 209 TNI AU Kejar F-111 Aardvark di Kupang yang Belum Pernah Diungkap (2)

28 April 2024

Hawk 209 TT 0207 dengan camo tahun 1999 (photo: Peter De Jong)

Disamber F-111 Aardvark
Setelah kejadian 16 September yang penuh ketegangan itu, suasana kembali normal. Selama tiga hari berikutnya tidak ada lagi laporan pelanggaran udara oleh pesawat asing.

Dalam kondisi landai dan tenang menghanyutkan itu, disikapi penerbang dengan tetap siaga mengingat situasi di Timor Timur belum stabil. Setiap hari mereka selalu siaga di dekat pesawat dari pagi sampai siang. Sore baru terbang dengan kondisi tubuh sudah lelah.

“Jam 6 pagi sudah pakai coverall, terus standby sampai malam, setiap hari,” kata Mayor (Pur) Hasbullah, penerbang Skadron Udara 12 yang saat ini terbang di Garuda Indonesia.

Mereka standby hingga pukul 9 malam, rebahan di veldbeld di bawah pesawat sambil melihat puluhan pesawat berseliweran mengirim bantuan ke Dili.

“Saya tertua sehingga terus on seat, padahal sesungguhnya kondisi tubuh mulai menurun,” ujar Henri.

Sore itu, 23 September, tiba-tiba sirene kembali meraung dan suara petugas di radio seketika ribut. Scrambleeeee……!!!

Sebagian anggota yang baru selesai dan akan shalat Magrib, langsung lari ke ruang persiapan. Henri hanya mengenakan coverall dilipat di pinggang. Mereka langsung naik mobil dan ngebut ke arah pesawat diparkir. Terpal penutup pesawat dibuka dan langsung start engine lalu lepas landas.

“Lagi shalat, belum selesai rakaat pertama, sirine bunyi dan kita langsung lari. Pakai coverall di pesawat, pakai sepatu di pesawat, pakai seat belt pun sambil start engine, kondisi gelap, start engine langsung taxi dan bahkan arming saat sudah di line up position,” kenang Hasbullah yang menjadi Wingman.

“Saya hitung scramble dari perintah sampai terbang 12 menit, sudah airborne,” aku Henri. Karena betul-betul dadakan, saat lepas petugas bandara belum sempat menyalakan lampu landasan.

Kedua pesawat terbang dalam status navigation off untuk menjaga kerahasiaan. “Mas, mau kemana,” tanya Wingman Lettu Pnb Hasbullah “Havoc” membuka pembicaraan. Sebelum terbang mereka belum sempat briefing.

“Menggok kiwo,” jawab Henri spontan dalam Bahasa Jawa.

“Apa itu mas,” balik ditanya dan dijawab Henri, kiri, kiri.

“Heading selikur,” ucap Henri lagi menyebut arah navigasinya. Kembali ditanya, “Mas, selikur itu apa.”

“Rongpuluh siji,” balas Henri rada kesal.

Pesawat pembom tempur bersayap ayun F-111 Aardvark RAAF (photo: ADF)

Sedetik kemudian Henri baru menyadari kalau wingman-nya Hasbullah berasal dari Makassar. “Jadi dia nggak ngerti Bahasa Jawa, padahal saya sudah bilang Australia itu bisa Bahasa Indonesia jadi kita pakai bahasa daerah saja,” cerita Henri penuh tawa.

Kedua Hawk 209 terbang sampai utara untuk mengejar pesawat yang tidak dikenal itu agar tidak sampai memasuki border.

Saat kedua Hawk 209 terbang patroli malam, tiba-tiba dari bawah yaitu anggota Satrad 251 memberitahu melalui radio sambil setengah berteriak. Apa yang membuat mereka berteriak seperti melihat hantu?

Rupanya dari arah Dili melesat kencang pesawat F-111 Aardvark dengan terbang rendah dan lalu nyamber di atas landasan El Tari, Kupang.

Henri dan Hasbullah yang alumni IDP 7 itu sudah tidak sempat untuk mengejar, karena memang F-111, sekali lagi, bukanlah tandingan Hawk 209.

Aardvark adalah pembom-tempur yang mampu terbang supersonik, yang membuatnya dengan cepat meninggalkan wilayah Kupang.

Dalam kenangan Henri, terbang malam saat itu cukup mengerikan. Karena mereka tidak pernah melaksanakan terbang malam di Kupang, sehingga penerbang hanya mengandalkan check point dalam kegelapan malam.

Insiden ini segera menjadi berita utama media saat itu. Mereka para pelaku pun disambut bak pahlawan, dan menerima Well Done Certificate dari Panglima Kohanudnas Marsda TNI Soni Rizani.

1 Oktober 1999 di Kupang, Henri menerima kenaikan pangkat menjadi mayor. Pangkatnya disematkan oleh Pangkosekau Marsma Hari Kamdani. Dua hari setelah itu, 3 Oktober, mereka disambut meriah di Jakarta.

Mengenang masa penugasan di Kupang tahun 1999 itu, Marsda Henri mengaku bangga. Meski fasilitas terbatas dan seadanya, mereka tetap melaksanakan tugas dengan semangat juang tinggi. Mereka tidur di mess, bahkan velbeld pun disusun berjejer di ruang makan.

“Apa yang kita miliki saat itu hanyalah militansi, itu yang ditakutkan orang asing,” ucap Henri yang merasa beruntung memiliki pengalaman tempur sehingga tahu seperti apa sensasi perang.

Sepuluh tahun kemudian Kolonel Pnb Henri Alfiandi mendapat penugasan luar negeri sebagai Atase Udara Indonesia di Kedubes RI di Washington DC, Amerika Serikat.

Suatu hari Henri menghadiri gathering para atase yang, di antaranya dimeriahkan dengan golf bersama.

Tengah ancang-ancang untuk melakukan pukulan swing, tiba-tiba seorang atase menegurnya.

“Henri, where were you in September 1999,” ceplosnya. Kaget dan langsung paham maksud pertanyaan ini, Henri spontan membalas, “Is that you.”

Kedua penerbang tempur inipun larut dalam nostalgia 10 tahun silam, saat keduanya beradu muka di wilayah udara Kupang.

Henri kemudian menanyakan kepada Atase Udara Australia itu, kenapa melakukannya saat itu.

“I just want to see your combat readiness,” ujarnya. Keduanya hanyut dalam diskusi yang terkadang diselingi canda tawa. Kisah-kisah seperti ini lazim terjadi di antara penerbang tempur.

“So, what do you think,” pancing Henri lagi.

“Excellent,” ujar penerbang F-111 Aardvark itu.

“Dia mancing kita keluar lalu dia masuk dari utara dan nyamber, gila itu. Ini yang tidak pernah diceritakan,” aku Marsda TNI Henri Alfiandi yang saat ini menjabat sebagai Asisten Operasi KSAU.

See full article MyLesat

Kisah Scramble Hawk 209 TNI AU Kejar F-111 Aardvark di Kupang yang Belum Pernah Diungkap (1)

28 April 2024

Kapten Pnb Henri Alfiandi, foto diambil sebulan sebelum berangkat ke Kupang (photo: Henri Alfiandi)

MYLESAT.COM – Scramble ada satu kata yang sangat dikhawatirkan para penerbang tempur. Membayangkan sirine meraung-raung dan para penerbang harus bergegas ke ruang ganti pakaian untuk memakai baju terbang, dan kemudian berlari ke apron. Pesawat dihidupkan, penerbang onboard, segera taxi dan airborne. Semakin cepat lepas landas akan semakin baik.

Dalam banyak kisah selama Perang Dunia II, tak jarang keterlambatan mengakibatkan kematian dan pangkalan porak poranda dihantam bom serta roket dari pesawat musuh.

Penerbang TNI AU memang tidak sesering pilot tempur negara-negara NATO, Jepang, Korea Selatan, dan Rusia menghadap situasi scramble.

Scramble adalah memobilisasi pesawat militer secara cepat untuk menghadapi ancaman udara. Karena itu scramble selalu dilatihkan di skadron-skadron tempur TNI AU. Bagaimana jika menghadapi situasi sesungguhnya?

“Saya luck. Itu zamannya Top Gun dan saya terbang di A-4 tidak mau kalah dengan F-16, film Top Gun mempengaruhi saya sebagai penerbang tempur dan meninggikan proudness. Saya juga masuk Top Gun Indonesia yaitu Fighter Weapon Instructure Course (FWIC) tahun 1999,” tutur Marsda TNI Henri Alfiandi membuka kisahnya.

Selesai FWIC, persisnya 12 September 1999, Kapten Pnb Henri Alfiandi berangkat tugas ke Kupang. Ia datang untuk menggantikan kelompok penerbang terdahulu yang melaksanakan standby operasi setelah Dili dilanda konflik pasca jajak pendapat.

Saat itu diberlakukan pergantian penerbang setiap dua minggu sekali. “Saat ke Kupang dengan Hercules, saya satu pesawat dengan Pak Marie Muhammad sebagai Ketua PMI,” kenangnya.

Di hari keempat, Kamis, 16 September, satu flight pesawat BAe Hawk 109/209 disiapkan di flight line Lanud El Tari, Kupang. Misi rutin patroli (Combat Air Patrol) sesuai arahan Panglima Koopsau II yang memerintahkan tembak jatuh pesawat apapun yang melintasi wilayah udara Indonesia tanpa izin karena situasi ‘panas’ saat itu.

Bertindak sebagai flight leader hari itu Kapten Pnb Azhar “Gundala” Aditama dengan wingman Kapten Pnb Henri “Tucano” Alfiandi bersama Lettu Pnb Anton “Tomcat” Mengko.

Kapten Azhar menerbangkan Hawk 209 TT-1207 kursi tunggal. Sedangkan Kapten Henri dan Lettu Anton menggunakan Hawk 109 TL-0501 kursi tandem. TNI AU hanya menempatkan tiga Hawk 109/209 di Kupang.Kedua pesawat lepas landas sekitar pukul 9 pagi.

Patroli dilaksanakan ke arah tenggara (225 derajat) menuju batas FIR (Flight Information Region) Darwin, Australia.

Lettu Pnb Hasbullah saat berdinas Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak (photo Hasbullah)

Koordinasi dilakukan dengan Satuan Radar (Satrad) 251 Kupang yang mengoperasikan radar GCI (Ground Control Interception) dipimpin Mayor Lek Haposan.

Dalam tiga hari patroli di lokasi yang sama, Henri selalu melihat kejanggalan di wilayah perairan di depan muka Kupang. “Lewat di situ saya selalu lihat ada kapal layar. Saya laporkan. Kapal ini (sepertinya) memancarkan berita radio dan berperan sebagai hub. Kapal layar itu mesti di situ, seperti kapal pesiar,” jelas Henri.

Situasi aman tidak bertahan lama. Mayor Haposan melaporkan kepada Kapten Azhar bahwa dua pesawat tak dikenal melewati batas FIR Darwin pada ketinggian 8.000 kaki dengan kecepatan 160 knot.

Kata Henri, Satrad 251 meminta untuk mengecek sebuah helikopter yang tengah menuju Dili tapi mengarahnya ke Satrad. “Saya bilang ke wingman Lettu Azhar untuk cek, karena pesawatnya pakai radar,” ujar Henri.

Hawk 209 TT-1207 menggunakan radar AN/APG-66H, sehingga bertindak sebagai leader.  “Siap mas, locked,” ujar Azhar.

“Berapa kecepatannya,” tanya Henri mulai bimbang. Azhar mengatakan 150 knot, sebelum tiba-tiba ia berteriak.

“Kecepatannya nambah , naik terus 160, 170, 200, loh kecepatannya sama (dengan kita),” jelas Henri. Jarak di antara Hawk dan pesawat yang belum diketahui identitasnya ini semakin mendekat sekitat 80 mil.

“Tahu begitu, saya langsung naik ke atas dan ambil posisi dog fight untuk melindungi Azhar karena saya tidak pakai radar. Saya di belakang dia,” ungkap Henri.

Kedua Hawk dari Skadron Udara 12 itu naik hingga ketinggian 28.000 kaki, mencapai ketinggian maksimumnya hingga badan pesawat bergetar. Mereka mulai sadar bahwa yang dihadapi bukanlah helikopter melainkan pesawat tempur.

Manuver tempur dilakukan kedua Hawk 109/209, termasuk mengaktifkan radar. Dalam kondisi sangat genting itu tiba-tiba pesawat musuh berbalik arah menuju dua Hawk TNI AU ini.

Pada saat itulah Kapten Azhar bisa melihat secara jelas pesawat apa yang sedang mereka buru. “Hornet,” teriaknya menyebut F/A-18 Hornet milik Australia.

“Mas, locked mas, tembak mas,” katanya kepada Henri.

“Jangan, kita tidak ada declared perang,” teriak Henri keras. Saat itu radar di pesawat sudah berbunyi, toot… toot… toot, menandakan sudah mengunci target.

Insiden berakhir sampai di sini. Kedua Hornet berbalik Kembali ke Selatan menuju FIR Darwin. Sebaliknya kedua Hawk kembali ke Lanud Lanud El Tari. Ternyata ceritanya belum selesai seperti selama ini sudah dikutip banyak media.

F/A-18 A/B Angkatan Udara Australia (photo: Luke Priestly)

“Begitu Hornet ini pulang, dari sana airborne 4 pesawat disusul pesawat lebih besar sepertinya tanker lalu airborne 4 pesawat lagi sehingga total 8 pesawat tambah tanker,” ungkap Henri.

Waktu mereka tidak banyak.

Begitu mendarat, Henri sebagai yang tertua langsung memerintahkan untuk menyiapkan pesawat yang dilengkapi radar. “Saya minta hot refueling tapi tidak bisa,” jelasnya.

Akhirnya begitu mendarat, langsung engine shut down dan mengisi bahan bakar untuk kemudian langsung alignment dan terbang.

“Begitu landing saya langsung turun dan lari ganti pesawat, saya sempat ambil satu lemper dan minum teh. Lari lagi dan airborne dua pesawat,” kata Henri. Dua rudal AIM-9 Sidewinder masih menggantung ke dua sayap pesawatnya.

Begitu terbang, radar di pesawat langsung aktif. Terjadi perang elektronika yang tidak seimbang. Radar di Hawk mulai kacau karena mendapat serangan dari seberang sana.

Menurut Henri, radar di Hawk cuma bisa main di delapan frekuensi. Sementara pesawat yang tengah diincar 18 frekuensi sehingga duel elektronika itu menjadi tidak seimbang. Pesawat dari arah Australia dalam jumlah yang jauh lebih banyak itu semakin mendekati dua Hawk yang terbang dari Kupang.

60 mil, 50 mil, 40 mil, 30 mil, anggota di Satrad 251 sudah tegang dan ribut. Pesawat heading ke depan terus. “Begitu 20 mil, ada teriakan kembaliiiiiiii…..,” kenang Henri.

Henri baru sadar kalau drop tank di pesawatnya tidak bisa feeding alias tidak bisa menyalurkan bahan bakar ke mesin. Akibatnya pesawatnya menjadi tidak simetris, miring.

Saat itu dari kedua belah pihak belum visual sehingga tidak bisa melihat satu sama lainnya. Tak lama kemudian kedua belah pihak berbalik arah kembali ke pangkalan masing-masing.

Setelah kembali ke Kupang, beberapa waktu kemudian Henri di telepon Komandan Skadron 3 Letkol Pnb M. Syaugi. Henri diomelin habis oleh seniornya itu yang menilainya ngawur karena nekad menantang Hornet.

“Di situ saya sadar kenapa bisa begitu nekad, saat itu saya teringat mungkin begitulah semangat perang 10 November 45,” ucap alumni AAU 88B yang memegang callsign Jupiter-329 di lingkungan instruktur penerbang TNI AU.

See full article MyLesat

10 April 2024

Indonesia Berhasil Kirim Bantuan ke Gaza, Palestina dengan Metode Airdrop

10 April 2024

Metode Airdrop dilakukan dengan menggunakan C-130J Super Hercules TNI AU ke Gaza, Palestina bekerjama dengan Royal Jordanian Air Force (all photos: TNI AU)

Indonesia Berhasil Kirim Bantuan ke Gaza via Pesawat Hercules C130 TNI AU, Kolaborasi dengan Yordania

Jakarta – Bantuan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk warga Palestina di Gaza telah berhasil sampai langsung ke Gaza via udara dengan pesawat Hercules C130 J (A-1340) milik TNI AU, yang berkolaborasi dengan tentara Yordania.


Bantuan tersebut merupakan realisasi dari pernyataan Presiden RI Joko Widodo di Madiun pada 8 Maret lalu bahwa pemerintah Indonesia akan segera mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina di Gaza.


Bantuan kemanusiaan ke Gaza yang diterjunkan ini berupa paket bantuan sebanyak 20 paket seberat masing-masing 160 kg, yang berangkat dari King Abdullah II (KA2) Airbase Airport (OJKA) di Zarqa, Yordania. Pengiriman bantuan dilakukan dengan metode penerjunan low cost low altitude (LCLA), dengan rute KA2-SAS-KA2. Bantuan bergerak pada pukul 11.36 waktu setempat (15.36 WIB) dan mencapai lokasi penerjunan (dropping zone / DZ) di Gaza pada pukul 12.50 waktu setempat (16.50 WIB).


Kemudian, pesawat Hercules C130 J (A-1340) telah berhasil mendarat kembali di King Abdullah II pada pukul 13.47 waktu setempat (17.47 WIB) setelah melaksanakan Airdrop atau penerjunan bantuaan logistik di DZ Gaza. Semua berjalan dengan baik dan Crew serta pesawat dalam keadaan aman.


“Alhamdulillah, terima kasih atas kerja sama semua pihak yang terlibat dalam kolaborasi yang baik antara TNI dan tentara Yordania ini,” ujar Komandan Misi Pengiriman Bantuan (Dansatgas) Kolonel Pnb Noto Casnoto.


Pengiriman bantuan via udara ini merupakan hasil dari diplomasi dan hubungan baik antara Indonesia dengan Yordania melalui kolaborasi yang dimotori oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan Raja Yordania Abdullah II yang merupakan sahabat lama.


“Pada 12 Maret 2024 via telepon, Menhan Prabowo menyampaikan kepada Raja Abdullah II mengenai keinginan Presiden Jokowi agar Indonesia bisa mengirimkan bantuan langsung ke Gaza,” kata Kepala Biro Humas Kemhan Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha.


Setelahnya, pada 21 Maret Menhan Prabowo menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Yordania untuk Indonesia Sudqi Al Omoush, di Kemhan, Jakarta di mana disampaikan undangan bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam operasi peluncuran bantuan kemanusiaan ke Gaza via udara dari Raja Abdullah II.


“Indonesia mengakui persahabatan abadi dengan Yordania karena kedua negara tetap berkomitmen untuk memupuk perdamaian dunia, khususnya di Timur Tengah, dan meningkatkan kerja sama bilateral untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama,” ujar Menhan Prabowo dalam pertemuan tersebut.


Setelahnya, TNI bersama The Royal Jordanian Armed Forces (RJAF) pun memutuskan untuk melakukan misi dropping bantuan ke Gaza via udara bersama.


Bantuan logistik dari RI untuk Gaza via udara ini berangkat dari Tanah Air pada 29 Maret 2024, yang dilepas oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo di Apron Lanud Halim Perdanakusuma.


Adapun sebelumnya, pada 24 Januari 2024, dengan disaksikan oleh Presiden Jokowi, Menhan Prabowo menyerahkan secara simbolis Pesawat C-130J-30 Super Hercules baru yang keempat kepada TNI AU, yang merupakan pesawat keempat dari lima pesawat yang dipesan oleh RI untuk memperkuat armada pesawat angkut TNI AU.

04 Desember 2022

Kisah Pesawat Pengebom Tu-16 AURI, Menembus Jantung Benua Australia Tanpa Terdeteksi Radar

04 Desember 2022

Pembom Tu-16 TNI AU (AURI) di Lanud Madiun (photo : Kompas)

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia pernah menyandang sebagai negara dengan angkatan bersenjata terkuat di bumi bagian selatan pada dekade 1960-an. 

Kala itu, kekuatan militer Indonesia sangatlah diperhitungkan karena mempunyai berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir pada zamannya. 

Salah satu alutsista yang membuat Indonesia ditakuti oleh musuh-musuhnya adalah kepemilikan pesawat pengebom Tupolev Tu-16. 

Pengebom ini dioperasikan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), kini bernama TNI Angkatan Udara, yang didatangkan dari Uni Soviet, sekarang Rusia.

Koleksi pesawat pengebom Indonesia berjumlah 24 unit, masing-masing 12 Tu-16 versi bomber (Badger A) dan 12 Tu-16 KS-1 (Badger B). 

Deretan pesawat pembom Tu-16 (photo : TNI AU)

Pada era itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai armada pengebom selain Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat. 

China yang saat ini menjadi salah satu negara dengan kemampuan militer terkuat pun ketika itu belum memiliki pesawat pengebom, begitu juga dengan Ausralia.

Spesifikasi

Dikutip dari Majalah Angkasa berjudul “Pesawat Kombatan TNI AU”, Tu-16 mampu mengangkut 6 sampai 7 kru. 

Pengebom ini memiliki panjang 34,80 meter, tinggi 10,36 meter, berat kosong 37.200 kilogram, dan berat landas maksimum 79.000 kilogram. 

Tu-16 dilengkapi dengan mesin 2 x Mikulin AM-3M-500 turbojet dan 93.2 KN thrust each.

Deretan pesawat pembom Tu-16 (photo : David Roeth)

Persenjataan Tu-16 meliputi, 6-7 kanon 23 milimeter (mm) Nudelman-RikhterNR-23, Rudal 2X Raduga KS-1 Komet (AS-2 Kennel) anti-ship missile, 1X Raduga X K-10S (AS-Kipper) anti-ship missile semi-recessed di bomb bay, 2X Raduga KSR-5 (AS-Kingfisf) anti-ship missile, dan bom 9.000 kilogram.

Adapun Tu-16 versi KS-1 mampu membawa sepasang rudal antikapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Belanda yang saat itu masih menduduki Irian Barat sangatlah ketakutan dengan rudal ini. 

Sebab, enam rudal KS-1 yang dilepaskan dari Tu-16 cukup untuk menenggelamkan kapal induk kebanggaannya, Karel Doorman. 

Menembus Jantung Benua Australia 

Masih dari Majalah Angkasa, Tu-16 pernah menunjukkan kemampuannya pada pertengahan 1963 atau ketika di masa Operasi Dwikora. 

Ketika itu, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh.

Deretan pesawat Tu-16 (photo : Henk Schakelaar)

Dua pesawat pertama terbang ke Serawak, serta Sandakan dan Kinibalu yang masuk wilayah Malaysia.  

Sedangkan satu pesawat lainnya diterbangkan ke Australia yang dipiloti Komodor Udara Suwondo. Ia terbang membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi, dan makanan kaleng. 

Suwondo bersama tunggangannya menyiapkan skenario untuk menurunkan barang-barang di Alice Springs yang berada tepat di tengah benua Australia. 

Skenario ini untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua Australia. 

Menjelang pelaksanaan misi tersebut, semua kru dikumpulkan di Wing 003, Lanud Iswahyudi, Madiun, sekitar pukul 23.00 WIB, untuk briefing sebentar.

Pesawat Tu-16 dengan nomor bodi 1620 (photo : TNI AU)

Pada pukul 01.00 WIB, pesawat pengebom terbang di langit Madiun menuju Australia. 

Dalam penerbangannya, Tu-16 yang dipiloti Suwondo terbang rendah untuk menghindari over the horizon radar system. Radar ini mampu memantau seluruh kawasan Asia-Pasifik. 

Pesawat pun sukses menembus Australia dan men-drop barang bawaannya. Skenario berjalan lancar tanpa ada hambatan. 

Pesawat pencegat F-86 Sabre pun tak terlihat aktivitasnya. Begitu pun rudal antipesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga tertidur lelap. 

Pesawat kembali ke Madiun pada pukul 08.00 WIB, hari yang sama dalam penerbangan dari Madiun menuju Australia. 

Sementara, misi di Sandakan, Tu-16 berangkat dari Lanud Iswahyudi pukul 00.00 WIB, satu jam sebelum keberangkatan Tu-16 ke Australia. 

Pesawat Tu-16 dengan nomor bodi 1625 (photo : TNI AU)

Pesawat ini menuju Sandakan dengan membubung hingga 11.000 meter dan sampai ke daerah misi menjelang azan subuh.

Saat itu, lampu-lampu rumah penduduk setempat masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 meter. 

Persis di atas target, ruang bom atau bomb bay dibuka untuk menurunkan pamflet. Pamflet pun berhamburan keluar, disedot angin yang berembus kencang. 

Usai satu sortie, pesawat berputar, dan kembali ke lokasi semula. Sekembalinya ke lokasi, lampu-lampu rumah penduduk yang sebelumnya menyala seketika gelap gulita. 

Rupanya, penduduk setempat telah diajari Inggris untuk mengantisipasi apabila terjadi serangan udara. Pesawat pun kembali ke pangkalan pukul 08.30 WIB.

23 Oktober 2022

Mengenang Misi Penerbang Bomber TNI AU Hancurkan Kapal Perang Belanda

23 Oktober 2022

Mitchell B-25 TNI AU mengebom kapal perang Belanda (image : Merdeka)

Merdeka.com - Sebuah misi berbahaya diberikan untuk pilot pesawat pengebom Angkatan Udara Republik Indonesia. Menghancurkan kapal milik angkatan laut milik Belanda yang dijaga ketat.

Pesawat angkut C-47 Dakota mendarat pagi itu di Pangkalan Udara Morotai. Penumpangnya Panglima Komando Regional Udara IV Letnan Kolonel Udara I Dewanto. Dia datang dengan membawa misi khusus dari Panglima Mandala, Mayor Jenderal Soeharto.

Komandan Lanud Morotai Mayor Udara Pedet Soedarman diperintahkan untuk menghancurkan kapal milik Angkatan Laut Belanda di Pulau Gag yang terletak di perairan Irian Barat. Keberadaan kapal perang itu dianggap merintangi misi militer RI merebut Irian Barat.

"Kapan To?" tanya Mayor Pedet pada rekannya itu.

"Sesegera mungkin," jawab Letkol Dewanto.

"Kalau begitu sekarang saja ya," tegas Mayor Pedet.

Bukan tanpa alasan perintah itu diberikan pada Mayor Pedet Soedarman. Pengalaman dan keberaniannya sebagai bomber andalan AURI telah terbukti di berbagai palagan tempur.

Pesawat Pengebom

Segera setelah disetujui, persiapan langsung dilakukan. Pesawat Pengebom B-25 nomor 434 dimuati aneka persenjataan dan siap tinggal landas menjalankan misi.

Sebenarnya sebagian kru Angkatan Udara merasa terkejut. Apalagi misi penting dan berbahaya harus dilakukan hari itu juga. Namun tidak ada komentar yang keluar dari mulut mereka. Semuanya siap melaksanakan tugas tempur.

Peristiwa ini dikisahkan dalam Buku Pedet Soedarman, Pengalaman Heroik Penerbang Bomber.
Mitchell B-25 TNI AU (photo : Joe Evans)

Pulau Gag ketika itu masih berada dalam kekuasaan Belanda. Kapal perang milik Belanda dikawal oleh pesawat patroli Neptune yang siap menghancurkan pesawat pengebom AURI. Dari segi kecepatan, Neptune berada di atas angin daripada B-25.

Kapal Belanda Diberondong Peluru Hingga Hancur

Tanggal 24 Maret 1962, pesawat B-25 meninggalkan lapangan udara Morotai. Mereka harus terbang rendah di atas permukaan laut untuk menghindari radar Belanda yang berada di Sorong.

Setelah menyusuri bagian selatan Pulau Gag, Pedet Soedarman melihat targetnya. Kapal perang Belanda itu berada di sebuah teluk dan tersamar pepohonan.

Pedet membawa pesawatnya naik ke ketinggian 1.000 kaki. Siap mengebom kapal perang itu. Namun niat tersebut diurungkan karena dari ketinggian, target tidak terlihat jelas.

Diputuskannya untuk menggunakan delapan pucuk senjata mitraliur 12,7 mm yang merupakan andalan B-25. Pedet membuang bom ke laut untuk membuat bobot pesawat lebih ringan.

Pesawat berputar dan mulai memberondong kapal Belanda tanpa ampun. Tepat sasaran. Cukup banyak peluru dilepaskan hingga kapal Belanda itu terbakar dan asap hitam mulai mengepul.

Belanda berusaha memberikan tembakan balasan, namun berondongan delapan senapan mesin dari moncong B-25 dan empat mitraliur dari sayap pesawat, membuat usaha itu sia-sia.

Dari kokpit pesawatnya, Mayor Pedet bisa melihat pasukan Marinir Belanda yang kocar-kacir akibat serangan tersebut.

Begitu yakin targetnya sudah tak berdaya, Mayor Pedet segera meninggalkan Pulau Gag menuju Lanud Ambon.

Lockheed P-2 Neptune Belanda (photo : Ronaldderoij)

Dikejar Neptune Belanda

Perjalanan pulang mereka tidak mulus. Sebuah pesawat Neptune Belanda ternyata mengejar mereka. Terbang di atas ketinggian 1.000 kaki.

Lockheed P-2 Neptune adalah pesawat buatan Amerika Serikat yang dirancang khusus untuk patroli maritim dan antikapal selam. Seluruh kru AURI tahu pesawat ini sangat berbahaya karena bisa terbang lebih cepat dan dilengkapi senjata kaliber 2 cm.

Suasa tegang terasa di dalam kabin. Pedet memacu pesawatnya hingga kecepatan maksimal 250 mph, sampai terasa bergetar. Dia memerintahkan anak buahnya bersiap menghadapi Neptune itu dengan senapan mesin yang berada di bagian ekor B-25.

Celaka. Baru ditembakan sekali, senjata belakang itu macet dan tidak berfungsi. Neptune terus mengejar dengan kecepatan tinggi. Tak ada pilihan selain menghadapinya langsung.

"Kalau pesawat Neptune kira-kira sudah dekat, saya akan menghadapinya dan menembaknya," kata Pedet kepada kopilot Letnan Muda Udara I Sutarno yang duduk di sampingnya.

Suasana tegang itu tidak berlangsung lama. Awak pesawat di belakang melapor pesawat Neptune tidak melanjutkan pengejarannya. Suasana ceria langsung memenuhi kabin pesawat. Mereka lolos dari pertempuran hidup dan mati.

Di darat, Mayor Pedet mendapat laporan kapal Belanda terbakar, sementara beberapa orang tewas, termasuk dua orang Marinir Belanda.

Operasi pengeboman itu berhasil tanpa korban seorang pun di pihak AURI.

27 Juni 2021

Kisah Kapal Perang Indonesia Buru Kapal Selam Asing yang Terobos Teritori Laut NKRI

27 Juni 2021

KRI Samadikun 341 destroyer escort Claud Jones class (photo : TNI AL)

Sosok.ID - Tenggelamnya KRI Nanggala-402 menjadi sebuah pelajaran berharga bagi TNI AL.

Jika dilihat dari sudut pandang lain maka saat pencarian KRI Nanggala-402 TNI AL kesulitan melacak dimana kapal selam tersebut.

Di sini bisa diasumsikan aspek peperangan Anti Kapal Selam (AKS) masih sangat terbatas.

Contoh saja kisah dibawah ini.

Mengutip lib.ui.ac.id, seperti diceritakan oleh Laksda TNI (Purn) Ir. Budiman Djoko Said, MM, suatu hari pada tahun 1981, sebuah Gugus Tugas (GT) Eskader dibawah pimpinan Laksma TNI Iman Taufiq dengan salah satu unsurnya yakni KRI Samadikun mendeteksi kehadiran kapal selam asing di perairan Bawean.

"Dini hari di dekat perairan Bawean dilaporkan KRI Samadikun kontak (tidak jelas kontak KRI Samadikun dengan kapal selam, entah Probable, Possible atau positive Submarine) kapal selam, jelas bukan kapal selam RI," ujar Laksda Budiman.

Tampak belakang Samadikun-class destroyer escort (photo : Keris)

Awak kapal KRI Samadikun yakin satu yang pasti, kapal selam yang mereka dapati bukan milik Indonesia.

Mendapati hal itu Laksma Iman Taufiq memanggil Laksda Budiman untuk menanyakan saran terbaik guna menyikapi hal ini.

"Tembak saja komandan!," jawab Laksda Budiman.

Keputusan untuk mengeksekusi kapal selam tersebut terang Budiman berdasarkan waktu pengambilan keputusan sudah lebih dari 1 jam dan kontak dengan kapal selam asing tersebut melalui komunikasi bawah air (WUT) hanya terjadi 2 kali dengan isyarat morse atau istilahnya "Randu Jawab Nihil."

Dan Eskader Laksma TNI Iman Taufiq lantas mengambil keputusan untuk menembak kapal selam asing tersebut.

Segera semua unsur Gugus Tugas Eskader pimpinan Laksma TNI Iman Taufiq siaga tempur anti peperangan kapal selam.

Persenjtaan anti kapal selam KRI Samadikun 341 terdiri dari 2 peluncur torpedo Mk 32 (masing-masing tiga tabung) dan 2 pucuk mortar anti kapal selam Hedgehog Mk 11 (photo : TNI AL)

Setelahnya bom-bom laut diceburkan dengan kecermatan tinggi agar mengenai sasaran.

Dua jam lamanya KRI Samadikun dan unsur anti kapal selam TNI AL lainnya melacak dan membombardir kapal selam asing tersebut.

Setelah dirasa sudah cukup, pemboman dihentikan.

Selang waktu beberapa bulan kemudian, baru hasil pengeboman laut itu kelihatan.

"Beberapa bulan kemudian saya dipanggil oleh Laksma Iman Taufiq dan menyampaikan pesan singkat hasil beliau menghadap petinggi intelijen nasional waktu itu yang menyatakan bahwa ada kapal selam aktor negara yang masuk dok untuk perbaikan," kata Laksda (Purn) Ir. Budiman Djoko Said, MM.

Jika saja peperangan AKS TNI AL saat itu lebih mumpuni mungkin saja kapal selam asing tersebut bisa ditenggelamkan.

02 Juni 2021

TUDM Kirimkan Jet Tempur untuk Pintas 16 Pesawat Militer China

02 Juni 2021

16 Pesawat PLAAF memasuki zona udara Malaysia (all photos : TUDM)

Kenyataan Media Panglima Tentera Udara Berkenaan Pengesanan Penerbangan Mencurigakan 16 Buah Pesawat Tentera Udara Republik Rakyat China/People's Liberation Army- Air Force (PLAAF) Memasuki Ruang Udara Zon Maritim Malaysia (ZMM), Kota  Kinabalu Flight Information Region (FIR) dan Menghampiri Ruang Udara Nasional pada 31 Mei 2021

TUDM telah mengesan penerbangan mencurigakan sebanyak 16 buah pesawat Tentera Udara Republik Rakyat China/ People’s Liberation Army- Air Force (PLAAF) memasuki ruang udara ZMM, Kota Kinabalu FIR dan menghampiri ruang udara nasional pada 31 Mei 2021. Penerbangan pesawat-pesawat PLAAF tersebut telah dikesan oleh Radar Pertahanan Udara TUDM daripada Pusat Pertahanan Udara (CRC 2) di Sarawak pada jam 1153H. Pesawat- pesawat tersebut  telah dikesan terbang secara formasi taktikal in-trail pada jarak 60 batu nautika di antara satu sama lain. Formasi panjang tersebut juga telah terbang dengan paten dan haluan yang sama menggunakan satu titik laluan masuk dan keluar. Mereka kemudiannya didapati mengubah arah penerbangan di ruang udara Beting Patinggi Ali yang berkepentingan kepada negara.

Pesawat-pesawat tersebut telah dikesan terbang pada ketinggian di antara 23,000 kaki sehingga 27,000 kaki dengan kelajuan 290 knots melalui Singapore FIR sebelum memasuki ruang udara ZMM, KK FIR dan seterusnya terbang menghala menghampiri 60 batu nautika daripada pesisir pantai Wilayah Sarawak yang dikhuatiri akan mengancam KEDAULATAN NEGARA. Pihak TUDM telah meletakkan pesawat Hawk 208 daripada No. 6 Skuadron, Pangkalan Udara Labuan di dalam keadaan siap sedia melalui Operasi Curiga TUDM. 

Pemantauan menerusi radar pertahanan udara diteruskan ke atas pesawat-pesawat tersebut disamping beberapa percubaan untuk mengarahkan mereka menghubungi kawalan trafik udara KK FIR. Apabila arahan tidak dipatuhi dan didapati melangkaui persempadanan KK FIR menghala ke ruang udara nasional, TUDM telah melancarkan pesawat-pesawat pemintas pada jam 1333H untuk melakukan identifikasi visual. Hasil daripada pemintasan udara yang dilaksanakan, TUDM telah mengenalpasti pesawat-pesawat tersebut adalah daripada jenis Ilyushin Il-76 dan pesawat Xian Y-20. Pesawat-pesawat jenis ini merupakan pesawat pengangkut strategik dan berupaya melaksanakan pelbagai misi.

Insiden ini merupakan perkara yang serius terhadap ancaman KEDAULATAN NEGARA dan KESELAMATAN PENERBANGAN berdasarkan kepadatan trafik udara di dalam laluan penerbangan (Airways) di dalam KK FIR. Insiden ini telah dikendalikan oleh TUDM khasnya dan ATM amnya berlandaskan undang-undang dan peraturan penerbangan antarabangsa International Civil Aviation Organization (ICAO) serta Strategi Pertahanan Udara Nasional (SPUN). Kementerian Luar Negeri telah mengambil maklum tentang perkara ini melalui Kementerian Pertahanan.

18 April 2021

HUT ke-69 Kopassus, Ini Kisah Heroik Prajurit Korps Baret Merah di Medan Operasi

18 April 2021

Operasi Woyla, Thailand 1981 (image : Historia)

JAKARTA - Hari ini, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merayakan hari jadinya yang ke 69 tahun. Di rentang usianya tersebut, Kopassus telah banyak melahirkan prajurit-prajurit handal, terbaik dan heroik yang siap mempertaruhkan jiwa dan raganya dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai pasukan yang memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan antiteror membuat pasukan ini selalu berhasil dalam menjalankan tugas-tugas berat di medan operasi, tidak hanya di dalam tapi juga di luar negeri. Tak heran jika pasukan elite TNI Angkatan Darat (AD) ini semakin disegani dan masuk dalam jajaran pasukan elite dunia.

Sejarah membuktikan, sejak dibentuk pada 16 April 1952, kesatuan elite yang awalnya bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ini memiliki kemampuan tempur dan taktik perang yang sangat mumpuni. Berikut ini kisah-kisah heroik prajurit Kopassus di medan operasi.

Operasi Pembebasan 1.300 Sandera di Tembagapura, Papua (2017)

Berawal dari penyanderaan terhadap 1.300 warga di Kampung Banti 1, Banti 2 Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika Papua yang dilakukan oleh separatis bersenjata.

Sebanyak 13 anggota Kopassus bersama 30 personel Yonif Raider 751/Vira Jaya Sakti kemudian bergerak melakukan operasi pembebasan pada Jumat, 17 November 2017 pagi. Operasi pembebasan pada pagi buta tersebut berlangsung dramatis.

Sebelum melakukan pembebasan, para prajurit Kopassus telah melakukan pengintaian selama lima hari. Mereka bergerak dengan sangat senyap, mengendap, membeku sambil mempelajari situasi. Secara perlahan mereka sampai di titik sasaran. Bahkan, selama satu hari mereka tidak makan pada hari H dan jam J operasi pembebasan.

Dalam operasi pembebasan tesebut dua anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) tewas. Sedangkan enam lainnya mengalami luka-luka.

Operasi Sinar Kudus, Somalia 2011 (photo : SindoNews)

Operasi Pembebasan KM Sinar Kudus dari Perompak Somalia (2011)

Operasi pembebasan kapal KM Sinar Kudus berawal ketika kapal yang membawa empat Warga Negara Indonesia (WNI) dan 22 orang warga negara asing yang sedang melakukan pelayaran dari Kolaka, Sulawesi Selatan menuju Rotterdam, Belanda dibajak oleh perompak Somalia di Kepulauan Seychelles, Somalia pada 16 Maret 2011.

Kabar pembajakan ini langsung mendapat tanggapan dari pemerintahan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung menggelar rapat terbatas dan memutuskan untuk mengambil opsi militer terhadap para perompak. Satgas Merah Putih yang terdiri dari Sat-81 Gultor Kopassus, Denjaka, Kopaska dan Batalyon Taifib Marinir kemudian melakukan operasi pembebasan.

Kontak tembak dengan para perompak pun tak terelakkan. Dalam operasi tersebut, empat perompak berhasil ditembak mati dan jatuh ke laut. Dari tangan para perompak, disita sejumlah peralatan seperti 1 unit speead boat, GPS Garmin, amunisi tajam kaliber 7,62 mm, selongsongamunisi kaliber 7,62 mm, baju loreng dan sebagainya.

Berawal dari penyanderaan terhadap 1.300 warga di Kampung Banti 1, Banti 2 Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika Papua yang dilakukan oleh separatis bersenjata.

Sebanyak 13 anggota Kopassus bersama 30 personel Yonif Raider 751/Vira Jaya Sakti kemudian bergerak melakukan operasi pembebasan pada Jumat, 17 November 2017 pagi. Operasi pembebasan pada pagi buta tersebut berlangsung dramatis.

Selanjutnya, para sandera kemudian dibawa ke sebuah kapal di Hobyo, sekitar 511 dari Ibu Kota Somalia, Mogadishu. Mereka kemudian dibawa ke safe house di Golkayo Town untuk selanjutnya menuju Wajir Airport yang berada di perbatasan Kenya dan Somalia. Mereka kemudian dibawa ke Bandara Nairobi, Kenya dan selanjutnya berhasil dibawa ke luar dari Somalia.

Operasi Mapenduma, Papua (1996)

Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma adalah operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya.

Aksi penculikan ini menyita perhatian dunia internasional. Bahkan, Sekjen PBB saat itu, Boutros Boutros Ghali dan Paus Johanes II ikut andil dalam upaya membujuk para penculik dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk membebaskan sandera. Selama 129 hari berbagai upaya mediasi dilakukan untuk membebaskan para sandera tersebut.

Namun karena menemukan titik buntu. Akhirnya, operasi pembebasan oleh Kopassus pada 8 Januari 1996 yang dipimpin langsung Komandan Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto digelar. Operasi berakhir 9 Mei 1996 setelah penyerbuan Kopassus ke markas OPM di Desa Geselama, Mimika. Dalam penyerbuan ini, 2 dari 11 sandera ditemukan tewas.

Operasi Woyla, Thailand 1981 (photo : Tempo)

Operasi Woyla, di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand (1981)

Operasi pembebasan sandera penumpang pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand ini berlangsung pada 31 Maret 1981. Berawal saat pesawat yang terbang dari Bandara Talangbetutu, Palembang menuju ke Bandara Polonia, Medan dibajak oleh lima orang teroris yang tergabung dalam kelompok Komando Jihad pada 28 Maret 1981.

Pesawat yang dipiloti Kapten Pilot Herman Rante ini diminta untuk menerbangkan pesawat ke Kolombo, Sri Langka. Namun karena terkendala bahan bakar, pesawat kemudian dialihkan ke Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar avtur. Selanjutnya pesawat melanjutkan penerbangan ke Thailand. Informasi pembajakan itu kemudian ditanggapi cepat oleh pemerintah Indonesia.

Kemudian disiapkanlah sejumlah prajurit Kopassandha yang kini bernama Kopassus untuk melakukan operasi pembebasan. Dipimpin langsung oleh Letkol Sintong Panjaitan, tim kecil yang terdiri dari prajurit terbaik Kopassandha dibentuk. Selanjutnya, pada 30 Maret 1981 Perdana Menteri Thailand, Prem Tinsulanonda memberikan lampu hijau terkait operasi militer pembebasan awak pesawat yang disandera.

Selanjutnya, pada 31 Maret 1981 pukul 03.00 waktu setempat, operasi penyerbuan dilakukan. Dalam operasi yang berlangsung sangat cepat yakni 3 menit, seluruh penumpang yang disandera berhasil dibebaskan. Sedangkan lima pembajak tewas ditembak. Tiga orang tewas di luar pesawat sedangkan dua lainnya tewas di dalam pesawat. Dalam operasi tersebut, calon perwira (Capa) Kopassus Lettu Ahmad Kirang gugur.

Operasi Mapenduma, Papua 1996 (photo : SindoNews)

Pratu Suparlan, Habisi Puluhan Musuh Sendirian (1983)

Keberanian dan Kepahlawanan Pratu Suparlan ini berawal saat dia ditugaskan dalam operasi Timor Timur (saat ini Timor Leste) pada 9 Januari 1983. Kala itu, Suparlan yang tergabung dalam unit Nanggala L-II Kopassandha, pimpinan Letnan Poniman Dasuki tengah melakukan patroli di KV 34-34/Komplek Liasidi. Daerah tersebut sangat rawan karena merupakan sarang dari pemberontak Fretilin, sayap militer Timor Timur terlatih karena memiliki pengalaman perang di Angola, Mozambik dan sebagainya sehingga dikenal sangat sadis dan kejam.

Saat sedang berpatroli, tiba-tiba 300-an Fretilin lengkap dengan senapan serbu, GLM, mortir menghadang tim kecil yang tengah berpatroli tersebut. Kontak tembak antara pasukan kecil yang berjumlah 9 orang, terdiri dari 4 Kopassus dan 5 Kostrad dengan ratusan Fretilin pun terjadi. Pertempuran berlangsung tidak seimbang dimana Fretilin berada di ketinggian sedangkan Pratu Suparlan berada di pinggir jurang. Satu persatu anggota pasukan kecil ini gugur dimangsa peluru Fretilin.

Menyadari hal ini, Dantim kemudian memerintahkan pasukan untuk meloloskan diri ke celah bukit. Namun waktu yang tersedia hanya sedikit. Saat itulah, keberanian dan kepahlawanan Pratu Suparlan untuk menyelamatkan teman-temannya kemudian membuang senjatanya dan mengambil senapan mesin milik temannya yang telah gugur. Tanpa gentar sedikitpun, Pratu Suparlan menerjang ke arah musuh.

Saat bersamaan hujan peluru senapan mesin musuh juga mengoyak tubuh Pratu Suparlan, hingga baju lorengnya berubah warna menjadi merah karena darah yang mengalir dari tubuhnya. Bagai banteng ketaton, Pratu Suparlan mengamuk membalas dengan rententan peluru hingga amunisinya habis.

Bukannya roboh, Pratu Suparlan justru menghunus pisau komandonya lalu mengejar musuhnya ke semak belukar hingga berhasil menewaskan 6 pasukan Fretilin. Hingga tiba pada ambang kesanggupannya, Pratu Suparlan terduduk dan tak lagi mampu menggenggam pisau komandonya. Mengetahui prajurit Kopassus tersebut kehabisan daya, pasukan Fretilin mengerumuninya dan memberikan tembakan di lehernya.

Di antara sisa-sisa tenaganya, Pratu Suparlan mencabut pin granat yang diambil dari kantongnya. Sambil berteriak Allahu Akbar, Pratu Suparlan melompat ke arah kerumunan pasukan Fretilin di depannya. Ledakan keras membahana mengiringi robohnya puluhan prajurit komunis bersama seorang prajurit Kopassus bernama Pratu Suparlan. Sang Prajurit Komando itu gugur demi Ibu Pertiwi yang dicintainya.