Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pembom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pembom. Tampilkan semua postingan

15 April 2025

Indonesia Pertimbangkan Opsi Setelah Rusia Minta Akses ke Lanud Manuhua, Biak

15 April 2025

Pesawat pembom Tu-95 Bear dan pesawat angkut-tanker Il-76 (photo: Reddit)

Jakarta telah menerima permintaan resmi dari Moskow, yang meminta izin bagi pesawat Angkatan Udara Rusia (VKS/Vozdushno-kosmicheskiye Sily) untuk ditempatkan di fasilitas provinsi paling timur Indonesia.

Sumber terpisah dari pemerintah Indonesia telah mengonfirmasi kepada Janes bahwa permintaan tersebut diterima oleh kantor Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin setelah pertemuannya dengan Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia Sergei Shoigu pada Februari 2025.

Dalam permintaan tersebut, Rusia berupaya untuk menempatkan beberapa pesawat jarak jauh di Pangkalan Angkatan Udara Manuhua, yang berbagi landasan pacu dengan Bandara Frans Kaisiepo, dokumen yang telah diserahkan kepada Janes mengungkapkan.

Pangkalan udara tersebut terletak di Biak Numfor di provinsi Papua, Indonesia, dan merupakan rumah bagi Skadron Udara 27 TNI AU, yang mengoperasikan armada pesawat pengintai CN235.

Pangkalan udara ini juga menjadi tempat bagi Wing Udara ke-9 TNI AU yang baru didirikan, yang belum ditetapkan jenis pesawatnya.

Dalam permintaan tersebut, tidak disebutkan secara rinci mengenai jumlah pesawat atau jenis pesawat yang akan ditempatkan VKS di Biak Numfor.

Namun, Janes memahami bahwa selama beberapa tahun terakhir, VKS telah mengajukan beberapa permintaan ad hoc untuk mendaratkan pesawat pembom Tupolev Tu-95 dan pesawat angkut Il-76 di pangkalan udara yang sama.

Beberapa permintaan ini telah disetujui oleh Angkatan Udara Indonesia.

12 Januari 2025

Kisah, Squadron Pembom Jet Diresmikan

12 Januari 2025

Angkatan Udara Republik Indonesia (sekarang TNI AU) disebutkan pernah memiliki 26 pesawat pembom Tupolev Tu-16 (kode NATO: Badger) (photo: TNI AU)

Pembentukan Squadron 41 jang merupakan suatu squadron pembom jet strategis djarak djauh TU 16 AURI hari ini diresmikan Menteri/KSAU Laksamana Udara Suryadarma dlm suatu upatjara militer di pangkalan Kemajoran Djakarta. Dengan diresmikannya squadron tsb disamping squadron2 lainnja, berarti AURI selangkah lebih madju lagi dalam rangka menjempurnakan dan memperlengkapi dirinja sbg suatu Angkatan Udara jg modern sesuai dengan taraf negara RI sbg suatu negara merdeka berdaulat.

Versi yang dimiliki Indonesia waktu itu adalah Tu-16KS-1 (Badger-B) yang dapat membawa rudal anti kapal KS-1 (AS-1 Kennel) (photo: TNI AU)

Terbang djauh setjara nonstop
TU 16 merupakan suatu pesawat type jet jg diperlengkapi dengan a-l dg 7 kanon kaliber 23 mm, peluru kendali, perlengkapan2 radar dsbnja dan mempunjai daja terbang besar sekali, hingga dapat diterbangkan setjara nonstop tidak sadja keseluruh pendjuru tanah air, tapi sampai djauh diluar batas negara kita.

Pesawat Tu-16 memiliki jangkauan terbang 7.200 km, memiliki kecepatan maksimum 1.050 km/jam dan ketinggian terbang hingga 12.800 m (photo: TNI AU)

Komandannja Saroso Hurip
Kepala Hubungan Masjarakat Dept AURI Major Udara Agus Suroto menerangkan sebagai Komd Squadon 41 menurut keputusan KSAU telah diangkat Major Udara Penerbang Saroso Hurip jang dilantik  resmi sebagai Komd Squadron 41 pada upatjara pagi ini di Kemajoran.

Dari 26 unit Tu-16 yang dimiki Indonesia disebar dalam 2 skadron, 14 unit Tu-16 tergabung dalam Skadron 41 dan 12 sisanya di Skadron 42 (photo: TNI AU)

Sedjumlah TU 16 akan tiba
Major Agus Suroto tidak bersedia menerangkan berapa djumlah pesawat TU 16 jg telah kita miliki sampai sekarang. Tapi ia tegaskan dalam waktu singkat ini akan tiba ditanah air kita sedjumlah pesawat pembom TU 16 jang telah kita beli dari Uni Sovjet untuk memperlengkapi dan menjempurnakan "Squadron 41" jang merupakan suatu pesawat udara pembom jet strategis djarak djauh.


Menurut keterangan selandjutnja, TU 16 termasuk diantara alat2 perlengkapan militer jang kita peroleh dari Uni Sovjet dlm rangka perdjandjian tentang pembelian alat2 untuk AURI jg telah ditanda tangani di Moskow belum lama berselang oleh M KN Djend. Nasution. --- Ant.

Harian Kedaulatan Rakyat, versi cetak 10 Agustus 1961

05 Januari 2025

Kisah: Kapal Induk "Doorman" ke Irian Barat untuk Imbangi MiG dan Iljusjin

05 Januari 2025

HNMLS Karel Doorman R81 tahun 1960 (photo: Destination Journey)

Menurut berita2 pers Belanda, Markas Besar Angkatan Perang Belanda kini sedang menjiapkan rentjana pengiriman satu detasemen Angkatan Darat ke Irian Barat. Detasemen tsb terdiri 4 sampai 5 ratus ribu orang, sebagian besar terdiri dari satuan2 meriam penangkis serangan udara. Selandjutnja didapat keterangan, bahwa perlengkapan2 teknis jang dimaksudkan dalam komunikasi resmi pemerintah Belanda itu ialah antara lain untuk menjiapkan lapangan2 terbang bagi pesawat2 pemburu pantjargas.

Pada tahun 1958 AURI telah mendapatkan pesawat pemburu MiG-15 Fagot dan MiG-17 Fresco (photo: TNI AU)

Takut kekuatan Indonesia
Kalangan2 Belanda menerangkan, bahwa tindakan2 demikian sangat rapat hubungannja dengan "tibanja di Indonesia pesawat2 pemburu MiG dan pembom Iljusjin". Dalam hubungan ini diperingatkan kepada suatu pernjataan Menteri Pertahanan Belanda di Madjelis Tinggi achir Mei j.l. bahwa Nederland memperhitungkan kemungkinan serangan bersendjata Indonesia atas Irian Barat.  Menteri berkata waktu itu bahwa, bahaja demikian makin besar kalau pemberontakan tertindas, lebih2 setelah Indonesia mendapatkan persendjataan baru jang kuat".

Pesawat pembom Ilyushin Il-28 Beagle baru datang di Indonesia pada tahun 1959 (photo: Life)

Kalangan2 Den Haag menganggap tidak tertutup kemungkinan, bahwa, apabila keadaan begitu menghendakinja, pemerintah Belanda akan mengambil keputusan untuk mengirimkan kapal induk pesawat "Doorman" ke perairan Irian Barat.


Menurut "Volkstrant" kalangan2 Den Haag menamakan reaksi Indonesia atas komunike pemerintah Belanda itu chas Indonesia seperti jang dapat diduga. Reaksi itu, katanja akan terdiri dari "kegiatan2 propaganda menghasut." Kalangan2 jang sama itu mengatakan bahwa pengiriman detasemen angkatan darat itu hanja berarti, bahwa Nederland berwaspada.

Harian Nasional edisi cetak 07 Juli 1958

20 Juni 2023

Latma Bomber Landing, Tiga F-16 TNI AU Kawal Pembomb Strategis B-52H USAF

20 Juni 2023

Dua pesawat pembom B-52 Stratofortress mendarat di bandara Kualanamu, Mrdan (photos : TNI AU)

Tiga pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 16 "Rydder" TNI Angkatan Udara, mengawal kedatangan dua pesawat bomber milik Angkatan Udara Amerika Serikat (United State Air Force USAF) jenis B-52 Stratofortress yang terbang dari Pangkalan Udara AS di Guam, menuju Bandara Internasional Kualanamu di Medan, Sumatera Utara, Senin (19/6/2023).

Pesawat pembom strategis tersebut akan berpartisipasi dalam latihan bersama TNI AU dan US PACAF, bertajuk Interoperability Bomber Landing 2023 yang mulai dilaksanakan hari ini, Senin (19/6) hingga 23 Juni 2023 mendatang.


Dua pesawat B-52  Stratofortress yang berasal dari Skadron pembom ke-23 USAF, menempuh penerbangan selama 7 jam sebelum akhirnya memasuki wilayah udara Indonesia.

 Flight F-16 dengan call sign Rydder-11 Flight terbang dari Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru "menyambut" kedatangan dua Bomber B-52 Stratofortress pada ketinggian 20.000 kaki, di wilayah udara Indonesia, hingga mendarat di Bandara Kualanamu, Medan.


Ketiga pesawat F-16 tersebut diawaki oleh Mayor Pnb Bambang Aulia Yudhistira, Mayor Pnb Yusuf Atmaraga, Kapten Pnb Hendra Zaimuddin dan Lettu Pnb Defry Utama.

Latihan bersama Interoperability Bomber Landing 2023 merupakan momentum yang bersejarah, karena untuk pertama kalinya pesawat B-52 Stratofortress USAF dapat mendarat dan beroperasi di Indonesia. Latihan ini juga meningkatkan kemampuan dan kerjasama taktis antar kedua angkatan udara, sekaligus meningkatkan hubungan bilateral antar negara yang sudah terjalin baik selama ini dalam menjaga stabilitas di kawasan Asia Pasifik.

25 Desember 2022

Kisah Misi Rahasia TNI AU Hendak Turunkan Bom di Pangkalan Jet Tempur Musuh

25 Desember 2022

Pesawat pembom B-25 Mitchel (photo : Wiki)

Merdeka.com - Kisah ini terjadi tahun 1965, saat hubungan Indonesia dan Malaysia tengah memanas. Satu misi rahasia disiapkan komando TNI AU untuk menghancurkan pangkalan udara lawan.

Tak mampu menghadapi Indonesia sendirian, Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Permintaan itu langsung dijawab. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka dikirim ke perbatasan dengan Indonesia.

Inggris membangun Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base di Singapura. Mereka menempatkan jet tempur di sana untuk menandingi kekuatan udara Indonesia.

Saat itu Indonesia masih menjadi negara dengan kekuatan udara terbaik di Asia dengan pesawat tempur buatan Blok Timur.

TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) menyiapkan rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.

Siapa Siap Berjibaku?

Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing para perwira senior Angkatan Udara di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.

Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.

"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.

Pesawat pembom B-26 Invander (photo : Kaskus Militer)

Tantangan itu dijawab Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.

Pedet Soedarman kenyang pengalaman operasi. Dia menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai pemberontakan yang terjadi di tanah air.

Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber yang diterbitkan tahun 2003.

Walau menggunakan pesawat yang terbilang sudah tua, Kolonel Pedet yakin misi tersebut akan berjalan dengan sukses. Saat konflik dengan Belanda di Irian Barat, Pedet juga yang menghancurkan kapal angkatan Laut Belanda.

"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.

Angin Politik Berubah

Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi dan siap melaksanakan tugas berbahaya itu.

Namun situasi berubah cepat. Peristiwa 30 September mengubah peta politik Indonesia. Presiden Sukarno jatuh. Penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.

Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era keemasan tentara langit Indonesia.

Sejarah mencatat misi pengeboman pangkalan jet tempur di Singapura itu tak pernah dilaksanakan.

(Merdeka)

18 Desember 2022

Mengenang Kebesaran TNI AU Lewat Pembom Ilyusin-28

18 Desember 2022

Pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" (photo : TNI AU)

Pesawat pembom Ilyusin-28 memang hanya lima tahun dioperasikan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) periode 1960-an sebelum dihibahkan ke ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) akhir 1964.

Meskipun hanya sebentar dioperasikan dalam satuan Skadron XXI, namun kaya cerita yang belum terungkap. Mulai pengiriman calon awak pesawat, pelatihan di luar negeri dan kesiagaan saat bergabung dalam Operasi Djajawidjaja dalam merebut Irian Barat.

Mereka para penerbang Il-28 yang dikelompokkan ke dalam Tjakra-I dan II, dilatih di Cekoslovakia untuk mengawaki pesawat ini.

Dalam buku sejarah TNI AU, pesawat pembom Il-28 terbang pertama kali di Indonesia pada 4 Oktober 1959 dari pangkalan udara Kemayoran, Jakarta.

Penerbangan perdana ini menyusul pengiriman lewat laut 8 unit Il-28 sebulan sebelumnya. Kala itu di Kemayoran telah ada pesawat tempur jet MiG-15 dan MiG-17 yang tergabung dalam Skadron XI, yang sebelumnya dinamai Kesatuan Pancar Gas (KPG).

Mengingat jenis pembom ini bermesin pancar gas, maka tidak salah bila digabungkan jadi satu di bawah badge Skadron XI dan berpangkalan di Kemayoran juga.

Baru pada 1 Juni 1960 diresmikan berdirinya Skadron XXI berdasar Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara bernomor 432 tahun 1960 yang ditandatangani oleh Laksamana Udara Suryadi Suryadarma.

Dalam keputusannya terdapat dua penekanan yaitu pertama, tentang pemisahan dari induk sebelumnya Skadron XI dan kedua, penegasan berdirinya Skadron XXI yang berkedudukan di Kemayoran dan masuk Wing Operasional 3.

Dalam keputusan yang tertulis dalam ejaan lama ini juga masih menyebut istilah Pembom Pantjar Gas untuk pesawat pembom bermotor dua yang baru dimiliki AURI ini.

Pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" versi latih (photo : TNI AU/Aviahistoria)

Sebagai komandan pertama ditunjuk Mayor Udara Cuk Surosohurip yang mantan pilot pembom B-26 Invader.

Tidak tanggung-tanggung, jumlah pesawat yang dikirim Soviet ke Indonesia mencapai 20 unit. Terdiri dari empat jenis latih Il-28U, dua unit berkemampuan reconnaissance Il-28R dan 14 jenis pembom seri Il-28.

Belakangan juga dikirim jenis Il-28T berkemampuan torpedo sebanyak dua unit saat Operasi Djajawidjaja sedang gawat-gawatnya. Sehingga total Il-28 yang pernah berada di Indonesia sebanyak 22 unit.

Padahal kala itu pilot yang berkualifikasi baru segelintir, di antaranya Sujitno Soekirno, S. Ch. Lantang, Soetopo serta Sujitno dan tentunya komandan skadronnya.

Sedangkan navigator merangkap bombardir adalah Saleh Basarah, Aried Rijadi, Dasio, Madihardjo, Soekojo, Yuamardi, dan Iskandar. Mereka umumnya telah berpengalaman sebagai awak pesawat B-25/26 dari Skadron Pengebom 1. Mereka dididik di Indonesia oleh instruktur Soviet.

Baru pada pertengahan 1960 setelah Skadron XXI diresmikan, siswa penerbang Tjakra 1 yang didik di Cekoslowakia tiba sebagai calon pilot pembom pesawat jet. Mereka adalah Soeparman Natawikarta, Efendi Siagian, Oloan Silalahi, Wakidjan, dan Soedarto.

Sementara navigator adalah Aris Mertodipo, Noorkusadi, Soeharno, Hadi Poernomo, dan Willy Kahuripan. Mereka adalah sebagian dari 46 siswa AURI yang diberangkatkan ke Ceko pada 1958.

Sebagian dijuruskan ke pesawat pemburu yang disebut Tjakra A-1, pembom disebut Tjakra 1-B dan navigator sebagai Tjakra 1-C.

Para kadet dari Indonesia ini awalnya dilatih di kota Stichovice pada Czechoslovak Military Flying College pimpinan Kapten Horky mantan pilot Perang Dunia II dibantu Kapten Blaha dan Kapten Dolezal. Untuk latihan fase advance mereka dididik di Hradec Kralove wilayah Bohemia dan Prerov di wilayah Moravia.

Sekembalinya di tanah air mereka harus melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan brevet sebagai pilot sebelum masuk pendidikan transisi sesuai jurusan.

Bagi Tjakra 1-A mereka melanjutkan pendidikan di Skadron XI dengan pesawat MiG-15 UTI Midget sebelum terbang ke pesaway MiG-17 Fresco. Sedang Tjakra 1-B jurusan pembom jet masuk ke Skadron XXI untuk terbang di Il-28 sejenis yang digunakan di Ceko.

Baru di Indonesia para calon pilot mengenal adanya x-helmet untuk pilot. Sebelumnya selama pendidikan di Ceko, baik instruktur ataupun siswa, semua memakai tutup kepala yang dilengkapi throat mike layaknya pilot zaman PD II.

Skadron pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" (photo : LIFE)

Perlengkapan perorangan juga dibagi mulai dari sepatu, gloves, night bag hingga coverall berwarna abu-abu.  Hanya pilot senior dan test pilot yang berhak memakai coverall jingga.

Pelatihan terbang yang berlaku di Ceko dan di Indonesia sama kecuali penerapan looging jam terbang. Saat di Ceko yang dimaksud jam terbang adalah waktu terbang antara saat tingal landas dan saat mendarat, sedang di Indonesia jam terbang dihitung mulai saat taxi out hingga taxi in dan lebih dikenal dengan istilah block on block off.

Perhitungan jam terbang dengan sistem block on block off ini masih digunakan TNI AU hingga kini. Sedangkan para siswa Tjakra 1 semenjak dididik sebagai pilot selalu menulis jam terbang di log-book dengan sistem take of landing.

Dengan demikian jam terbang yang didapat di Ceko rata-rata 200 jam terbang merupakan jam terbang yang telah cukup banyak bagi seorang siswa pilot.

Selama di Indonesia mereka diberi pangkat Sersan Mayor Kadet dan selanjutnya menjadi Letnan Moeda Oedara Kadet.

Setelah selesai transisi dan standarisasi di Indonesia, para calon pilot akhirnya dilantik sebagai Letnan Oedara II dan wing day pada 15 Juli 1961.

Dari 46 kadet Tjakra 1, masuk sebagai pilot pemburu jet sebanyak enam orang dari 17 siswa dan pembom jet lulus sembilan dari 15 siswa. Sisanya masuk ke skadron heli dan angkut. Beberapa mengulang untuk menjadi navigator atau teknisi.

Salah kalkulasi

Dari buku panduan Ilyushin-28 disebutkan bahwa pesawat dengan berat maksimum 21.200 kg dengan dua mesin jenis Klinov VK-1 turbojet ini mempunyai aksi radius 2.180 km.

Sebagai pilot muda mereka mempraktikkan kemampuan terbang ini guna menghadapi tugas yang akan dibebankan kepadanya pasca Trikora yang dikumandangkan Bung Karno di Yogyakarta.

Mereka mulai melatih diri untuk tugas operasi, meliputi latihan navigasi jarak jauh, bombing, terbang malam serta recce dengan foto. Dari latihan inilah diketahui bahwa performa Il-28 tidaklah sehebat yang tertulis di buku, terkait jarak jelajah.

Hal ini disebabkan pesawat diterbangkan di daerah tropis, padahal semua perhitungan rancang bangun dan uji coba dilakukan di negeri sub tropis.

Selain itu bila pesawat membawa beban penuh lepas landas (MTOW) seberat 21 ton maka diperlukan panjang landasan minimal 1.800 m.

Pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" (photo : TNI AU/Aviahistoria)

Selain itu pesawat ini semuanya dikendalikan dengan mekanisme kontrol tanpa adanya servo, sehingga beban pilot sangatlah berat utamanya saat lepas landas dan mendarat.

Hanya pilot bernyali besar dan mempunyai feeling yang baiklah yang mampu menerbangkan pesawat ini. Saat itu para pilot Il-28 rata-rata berumur 24 tahun.

Selain itu dengan sistem pneumatik maka para teknisi sangatlah sulit menemukan kebocoran. Lain halnya pesawat yang dikendalikan dengan sistem hidrolik, setiap kebocoran akan terlihat dengan jelas.

Pesawat Il-28 diawaki oleh tiga orang terdiri dari pilot, navigator merangkap bombardier dan gunner yang ada di tail section.

Dengan senapan laras ganda kaliber 23 mm yang terletak di nose dan tail, Il-28 dirancang sebagai pesawat pembom taktis yang mandiri dalam arti kata mampu beroperasi tanpa lindungan pesawat tempur.

Kemampuan terbang tinggi (40.000 kaki) dengan kecepatan 900 km per jam serta wing loading sebesar 291 kg per meter dan thrust/weight ratio sebesar 1:3,2 menjadikan pesawat yang oleh NATO dijuluki Beagle ini hanya mampu disaingi oleh English Electric Canberra yang terbang perdana pada 21 April 1950.

Hingga akhir hayat pada 1990, pempom Ilyushin-28 telah diproduksi hampir 6.000 unit yang tersebar di 20 angkatan udara utamanya di belahan Timur.

Selain di Rusia, pesawat ini juga diproduksi di Cuba, Ceko dan China dengan merek dagang H-5 Harbin.  Tidak tanggung-tanggung China mengembangkan pesawat ini dalam 10 varian termasuk jenis Harbin H-5A yang dirancang mampu membawa bom nuklir.

Sedang untuk ekspor mereka memasarkan dengan nama Harbin BT-5 dan B-5 utamanya untuk Korea Utara.

Bagi pemuda Indonesia adanya pesawat Il-28 telah mempuyai arti sendiri, mengingat ini adalah pembom jet pertama di belahan Bumi Selatan. Dengan semangat menyala mereka berangkat ke Morotai untuk bergabung dengan Satgas Senopati.

Bersama MiG-17 dari Skadron 11, Satgas Senopati melaksanakan misi deception dalam rangka infiltrasi ke Irian Barat periode 1962. Dalam tugas ini sebuah Il-28 yang dipiloti LU II Wakidjan, LU II Hadi Poernomo/Navigator dan Gunner LMU I Jost Toisutta, jatuh di laut menjelang mendarat di Morotai.

Kejadian pada 14 Agustus 1962 pukul 03.00 pagi ini terjadi selepas Il-28 melakukan deception saat dua C-130 Hercules melaksanakan penerjunan di daerah Klamano, Sorong dengan hasil baik.

Kecelakaan juga menimpa Skadron 21 saat beroperasi dengan home base Patimura, Ambon.   Sebuah Il-28 jenis latih tail number M-848 mengalami bouncing dan hard landing yang berakibat total lost.

Untungnya semua awak termasuk pilot LU I Efendi Siagian selamat.

Selama tugas operasi Djajawidjaja, Il-28 yang semula dipangkalkan di Morotai dan Patimura untuk selanjutnya mulai Juni 1962 digeser ke Amahai untuk mendekati daerah operasi.

Di tempat inilah LU I Soeparman dengan Il-28 dan LU I Nursalim di MiG-17 menembak sebuah kapal asing di daerah yang telah dinyatakan sebagai restricted area. Tembakan dilakukan dari senapan laras ganda kaliber 23 mm baik yang ada di nose maupun tail gunner.

Bahkan menurut Soeparman, MiG pun ikut menembak. Meskipun sempat menjadi isu internasional karena pesawat militer menembak kapal sipil, belakangan diketahui bahwa kapal tersebut adalah kapal ikan milik Jepang.

Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa meskipun kapal akhirnya harus ditarik ke pelabuhan terdekat karena lumpuh.

Medio 1962 masuk gelombang pilot eks Tjakra 2 sebanyak 12 orang, di antaranya Bambang Sugeng, Jumalib, dan Intan Napitupulu serta empat navigator yaitu Mardjuki, Wahono, Syamsudin, Â dan Sardjan. Nanti pada 3 Maret 1964 pesawat Il-28 disiagakan di Medan dalam rangka operasi Dwikora.

Dalam penugasan ini pesawat menjadi satu kelompok dengan Tu-16 dan MiG-21, jenis pesawat terbaru yang dimiliki AURI. Kekuatan ini masuk dalam Komando Siaga dengan Panglima Laksamana Madya Omar Dani.

Diserahkan ke ALRI

Pasca operasi Dwikora, sisa Il-28 sebanyak 10 unit diserahkan ke ALRI dikarenakan AURI telah dilengkapi dengan 22 unit pembom jarak jauh Tu-16B di Skadron 41 dan Tu-16KS di Skadron 42.

Semuanya berpangkalan di Madiun. Dengan surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara nomor: 110 tahun 1964 tertanggal 19 Desember 1964, Skadron 21 dilikuidasi. Keputusan ini diteken oleh Laksamana Madya Omad Dani.

Sejak itu berakhir pula kiprah Il-28 selama diterbangkan para pilot muda AURI, berakhir pula kejayaan Skadron 21 Pembom. Belakangan badge Skadron 21 digunakan oleh pesawat OV-10 Bronco periode 2005 sampai 2007.

Nantinya pada tahun 2012 badge ini akan dipakai oleh pesawat EMB-314 Super Tucano asal pabrikan Embraer dari Brasil sebagai pesawat COIN. Bergulir lagi kejayaan TNI AU dengan pesawat barunya untuk membela Tanah Air tercinta.

(MyLesat)

04 Desember 2022

Kisah Pesawat Pengebom Tu-16 AURI, Menembus Jantung Benua Australia Tanpa Terdeteksi Radar

04 Desember 2022

Pembom Tu-16 TNI AU (AURI) di Lanud Madiun (photo : Kompas)

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia pernah menyandang sebagai negara dengan angkatan bersenjata terkuat di bumi bagian selatan pada dekade 1960-an. 

Kala itu, kekuatan militer Indonesia sangatlah diperhitungkan karena mempunyai berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir pada zamannya. 

Salah satu alutsista yang membuat Indonesia ditakuti oleh musuh-musuhnya adalah kepemilikan pesawat pengebom Tupolev Tu-16. 

Pengebom ini dioperasikan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), kini bernama TNI Angkatan Udara, yang didatangkan dari Uni Soviet, sekarang Rusia.

Koleksi pesawat pengebom Indonesia berjumlah 24 unit, masing-masing 12 Tu-16 versi bomber (Badger A) dan 12 Tu-16 KS-1 (Badger B). 

Deretan pesawat pembom Tu-16 (photo : TNI AU)

Pada era itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai armada pengebom selain Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat. 

China yang saat ini menjadi salah satu negara dengan kemampuan militer terkuat pun ketika itu belum memiliki pesawat pengebom, begitu juga dengan Ausralia.

Spesifikasi

Dikutip dari Majalah Angkasa berjudul “Pesawat Kombatan TNI AU”, Tu-16 mampu mengangkut 6 sampai 7 kru. 

Pengebom ini memiliki panjang 34,80 meter, tinggi 10,36 meter, berat kosong 37.200 kilogram, dan berat landas maksimum 79.000 kilogram. 

Tu-16 dilengkapi dengan mesin 2 x Mikulin AM-3M-500 turbojet dan 93.2 KN thrust each.

Deretan pesawat pembom Tu-16 (photo : David Roeth)

Persenjataan Tu-16 meliputi, 6-7 kanon 23 milimeter (mm) Nudelman-RikhterNR-23, Rudal 2X Raduga KS-1 Komet (AS-2 Kennel) anti-ship missile, 1X Raduga X K-10S (AS-Kipper) anti-ship missile semi-recessed di bomb bay, 2X Raduga KSR-5 (AS-Kingfisf) anti-ship missile, dan bom 9.000 kilogram.

Adapun Tu-16 versi KS-1 mampu membawa sepasang rudal antikapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Belanda yang saat itu masih menduduki Irian Barat sangatlah ketakutan dengan rudal ini. 

Sebab, enam rudal KS-1 yang dilepaskan dari Tu-16 cukup untuk menenggelamkan kapal induk kebanggaannya, Karel Doorman. 

Menembus Jantung Benua Australia 

Masih dari Majalah Angkasa, Tu-16 pernah menunjukkan kemampuannya pada pertengahan 1963 atau ketika di masa Operasi Dwikora. 

Ketika itu, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh.

Deretan pesawat Tu-16 (photo : Henk Schakelaar)

Dua pesawat pertama terbang ke Serawak, serta Sandakan dan Kinibalu yang masuk wilayah Malaysia.  

Sedangkan satu pesawat lainnya diterbangkan ke Australia yang dipiloti Komodor Udara Suwondo. Ia terbang membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi, dan makanan kaleng. 

Suwondo bersama tunggangannya menyiapkan skenario untuk menurunkan barang-barang di Alice Springs yang berada tepat di tengah benua Australia. 

Skenario ini untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua Australia. 

Menjelang pelaksanaan misi tersebut, semua kru dikumpulkan di Wing 003, Lanud Iswahyudi, Madiun, sekitar pukul 23.00 WIB, untuk briefing sebentar.

Pesawat Tu-16 dengan nomor bodi 1620 (photo : TNI AU)

Pada pukul 01.00 WIB, pesawat pengebom terbang di langit Madiun menuju Australia. 

Dalam penerbangannya, Tu-16 yang dipiloti Suwondo terbang rendah untuk menghindari over the horizon radar system. Radar ini mampu memantau seluruh kawasan Asia-Pasifik. 

Pesawat pun sukses menembus Australia dan men-drop barang bawaannya. Skenario berjalan lancar tanpa ada hambatan. 

Pesawat pencegat F-86 Sabre pun tak terlihat aktivitasnya. Begitu pun rudal antipesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga tertidur lelap. 

Pesawat kembali ke Madiun pada pukul 08.00 WIB, hari yang sama dalam penerbangan dari Madiun menuju Australia. 

Sementara, misi di Sandakan, Tu-16 berangkat dari Lanud Iswahyudi pukul 00.00 WIB, satu jam sebelum keberangkatan Tu-16 ke Australia. 

Pesawat Tu-16 dengan nomor bodi 1625 (photo : TNI AU)

Pesawat ini menuju Sandakan dengan membubung hingga 11.000 meter dan sampai ke daerah misi menjelang azan subuh.

Saat itu, lampu-lampu rumah penduduk setempat masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 meter. 

Persis di atas target, ruang bom atau bomb bay dibuka untuk menurunkan pamflet. Pamflet pun berhamburan keluar, disedot angin yang berembus kencang. 

Usai satu sortie, pesawat berputar, dan kembali ke lokasi semula. Sekembalinya ke lokasi, lampu-lampu rumah penduduk yang sebelumnya menyala seketika gelap gulita. 

Rupanya, penduduk setempat telah diajari Inggris untuk mengantisipasi apabila terjadi serangan udara. Pesawat pun kembali ke pangkalan pukul 08.30 WIB.

03 Desember 2022

B-21 Raider Makes Public Debut; will Become Backbone of Air Force’s Bomber Fleet

03 Desember 2022

B-21 Raider bomber aircraft (photos : USAF)

PALMDALE, Calif. (AFNS) --  In a tangible display of the nation’s resolve in meeting security threats, the U.S. Air Force, on Dec. 2, publicly unveiled the B-21 Raider, the first new, long-range strike bomber in a generation and an aircraft specifically designed to be the multifunctional backbone of the modernized bomber fleet.

While the B-21 isn’t expected to be operational and introduced into service for several more years, the formal unveiling ceremony hosted by Northrop Grumman Corporation at its production facilities in California is a significant milestone in the Air Force’s effort to modernize combat capabilities. The B-21 is designed to be a more capable and adaptable, state-of-the-art aircraft that will gradually replace aging B-1 Lancer and B-2 Spirit bombers now in service.

According to design requirements, the B-21 is a long-range, highly survivable stealth bomber capable of delivering a mix of conventional and nuclear munitions. The aircraft will play a major role supporting national security objectives and assuring U.S. allies and partners across the globe.

Senior defense officials note that the National Defense Strategy and other analyses make clear the need for the B-21 and its capabilities.


“The B-21 Raider is the first strategic bomber in more than three decades,” Secretary of Defense Lloyd J. Austin said during the ceremony. “It is a testament to America’s enduring advantages in ingenuity and innovation. And it’s proof of the Department’s long-term commitment to building advanced capabilities that will fortify America’s ability to deter aggression, today and into the future.”

The B-21, Austin said, “is deterrence the American way. … This isn’t just another airplane. It’s not just another acquisition. … It’s the embodiment of America’s determination to defend the republic that we all love. It’s a testament to our strategy of deterrence—with the capabilities to back it up, every time and everywhere.”

The world and its threats have changed dramatically since the last new bomber was introduced in 1988, as has the way the Air Force, other U.S. military services and allies work together as a joint, multi-domain force. Senior defense officials say that new thinking and innovation are needed to meet the new and emerging threats.

“That innovative spirit is sitting behind us right now,” Air Force Chief of Staff Gen. CQ Brown, Jr., told reporters shortly before the plane was unveiled.

“You think about what we're able to do in the amount of time with the workforce here from Northrop Grumman, the collaboration with the United States Air Force to bring in a capability using a digital approach which is new and different from anything we've done any major program, that's part of the Raider spirit,” he said.

Construction of B-2 Spirit and B-21 Raider (image : Topwar)

The B-21 is the first new bomber to be introduced since the end of the Cold War. Air Force officials envision an ultimate fleet of at least 100 aircraft with an average procurement unit cost requirement of $692 million (base year 2022 dollars).

“When I think about accelerate change, this is exactly what it means to be able to bring this kind of capability very quickly and be able to adapt it vis-à-vis the threat,” Brown said in his meeting with reporters. “And so today, I'm really excited that we bring the B-21 Raider into the future. It'll be the backbone of our bomber fleet.”

The aircraft is designed with updated stealth qualities and mission flexibility that senior leaders in the Air Force and across the Department of Defense say are necessary to achieve the U.S. goal of achieving integrated deterrence, and if necessary, capabilities required to successfully respond to aggression anywhere in the world at any time.

The specific B-21 unveiled Dec. 2 is one of six under production. Each is considered a test aircraft, but each is being built on the same production line, using the same tools, processes, and technicians who will build production aircraft. This approach has enabled production engineers and technicians to capture lessons learned and apply them directly to follow-on aircraft, driving home a focus on repeatability, producibility and quality.

Comparison of B-2 and B-21 (infographic : Quora)

The timing for first flight will be data and event, not date driven.

While the precise date when the B-21 will enter service is unknown, basing decisions have been made. Ellsworth AFB, South Dakota will become the first Main Operating Base and formal training unit for the B-21. Whiteman AFB, Missouri, and Dyess AFB, Texas, are the preferred locations for the remaining home bases. Each will receive aircraft as they become available.

In addition to building a bomber with state-of-the-art technology and capabilities, Air Force officials emphasized the focus on containing costs while simultaneously allowing for maximum flexibility.

For example, the B-21 is designed with an open systems architecture that will enable rapid future capability integration to keep pace with the highly contested threat environment.

The B-21 design is based on firm requirements with existing and mature technology to control program costs. In fact, the plane’s prime contractor, Northrop Grumman, has been directed to use production processes, production tooling, and a production workforce that ensures sustained and seamless production while avoiding unnecessary costs.

“Leveraging innovative manufacturing techniques, open systems architectures and active management allows us to integrate new technology as it matures and ensures the B-21 can adapt to future threats and be successful when and where we need it,” Assistant Secretary of the Air Force for Acquisition, Technology and Logistics Andrew P. Hunter, said.

01 November 2022

AS Berencana Untuk Mengerahkan Pembom B-52 ke Australia Utara

01 November 2022

Pembom B-52 (photo : The Times)

Amerika Serikat sedang bersiap untuk mengirim enam pembom B-52 berkemampuan nuklir ke sebuah pangkalan udara di Australia utara, menurut Australian Broadcasting Corporation (ABC).

Mengutip dokumen AS, ABC melaporkan pada hari Senin bahwa Washington telah menyusun rencana terperinci untuk membangun fasilitas khusus untuk pesawat di Pangkalan Udara Tindal, sekitar 300 km (185 mil) selatan kota Darwin di Wilayah Utara Australia.

Departemen Pertahanan Australia tidak mengomentari laporan itu, tetapi Angkatan Udara AS mengatakan kepada penyiar bahwa kemampuannya untuk mengerahkan pembom ke “Australia mengirimkan pesan yang kuat kepada musuh kita tentang kemampuan kita untuk memproyeksikan kekuatan udara yang mematikan”.

Analis mengatakan kepada ABC bahwa langkah itu merupakan peringatan bagi China di tengah kekhawatiran akan menyerang pulau Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri.

“Memiliki pembom yang dapat menjangkau dan berpotensi menyerang daratan China bisa menjadi sangat penting dalam mengirim sinyal ke China bahwa tindakannya atas Taiwan juga dapat berkembang lebih jauh,” kata Becca Wasser dari Center for New American Security.

Ketegangan dengan China telah membuat Australia utara menjadi pusat pertahanan penting bagi AS dan telah berkomitmen untuk menghabiskan $ 1 miliar untuk meningkatkan aset militernya di kawasan itu, kata laporan ABC.

Rencana Washington untuk Tindal termasuk "fasilitas operasi skuadron" untuk digunakan selama musim kemarau Northern Territory, pusat pemeliharaan yang berdampingan, dan area parkir untuk enam B-52, katanya.

B-52, yang dirancang dan dibangun oleh Boeing, adalah pembom paling berkemampuan tempur dalam inventaris AS, menurut pembuat pesawat.

Pembom berat jarak jauh telah menjadi tulang punggung Angkatan Udara AS dan mampu menggunakan senjata nuklir dan konvensional.

ABC mengutip Angkatan Udara AS yang mengatakan bahwa kemampuan Australia untuk menjadi tuan rumah bagi para pembom dan melakukan latihan bersama menunjukkan "seberapa terintegrasinya kedua angkatan udara kami".

Langkah yang dilaporkan kemungkinan akan mengobarkan ketegangan dengan China.

Beijing dengan cepat mengutuk pakta pertahanan sebelumnya yang ditandatangani antara Australia, AS dan Inggris pada tahun 2021 yang mengusulkan untuk memberi Canberra teknologi untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir untuk pertama kalinya.

Pada saat itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pakta AUKUS yang bersejarah berisiko "sangat merusak perdamaian regional" dan "mengintensifkan perlombaan senjata".

07 September 2022

Defence Minister Marles : Australia Could Buy B-21 Raider Bomber

07 September 2022

B-21 Raider bomber aircraft (photo : USAF)

Marles hints RAAF could buy B-21 Raider Bomber

Defence Minister Richard Marles has given his strongest hint yet that Australia could purchase the in-development B-21 Raider.

In an interview with The Australia yesterday, he was reported to have said the next-generation stealth bomber was “being examined”.

It comes days after US Air Force Secretary Frank Kendall surprisingly said his country would be “willing to talk about anything that there was an interest in from the Australian perspective that we could help them with”.

The B-21 is the ‘sequel’ to the UFO-like B-2 Spirit, which can carry nuclear weapons and costs $2 billion each.

Introduced in the late Eighties, the batwing bomber is seen as the US’ most prestigious and prized aircraft, with only 20 in active service.

It come weeks after five of the originals arrived at Base Amberley for a month of training with RAAF F-35s, in what was certainly its biggest ever deployment to the region.

See full article Australian Aviation

11 Agustus 2022

US B-1B Participate in Australian Top End exercise

11 Agustus 2022

A United States Air Force B-1B Lancer bomber aircraft prepares to refuel from a KC-30A Multi-Role Tanker Transport aircraft over the Northern Territory (all photos : Aus DoD)

US Lancers sweep into the Top End

A pair of United States Air Force (USAF) B-1B Lancer bombers recently swept into the skies of the Northern Territory.

Commonly referred to as the ‘Bone’, the B-1B is the backbone of the United States long-range bomber force, and can carry a conventional payload of up to 34 tonnes of guided and unguided ordnance.

Flying over the Top End, their mission included refuelling practice with a Royal Australian Air Force (RAAF) KC-30A Multi-Role Tanker Transport, which helped to maintain the bombers’ global reach capability.


The practice provided RAAF aviators an important opportunity to demonstrate their professional mastery and exercise their interoperability in challenging yet realistic conditions.

Following the air-to-air refuelling, the pair landed at RAAF Base Darwin where they conducted a hot pit refuel supported by No. 13 Squadron aviation refuellers and USAF maintenance staff.

Air Base Executive Officer and No. 13 Squadron Executive Officer, Squadron Leader Michael Moroney, said this was the first time that USAF B-1Bs have been hot turn refuelled by RAAF using a JP157 hydrant cart.


“The safe and successful refuel highlights continued steps in our interoperability and provides validation for future USAF activities at RAAF Base Darwin,” Squadron Leader Moroney said.

“This was also the first use of the in-ground refuelling pits for USAF aircraft on the US-funded extension of the bomber replenishment apron.

“The operational use of this infrastructure, which was designed to be used by USAF and RAAF refuel equipment, is an important milestone for both Air Forces.”


US bombers have been visiting RAAF Base Darwin for 80 years most recently as part of the Enhanced Air Cooperation activities which commenced in February 2017.

The purpose of these is to build on the broad range of combined air exercises and training activities undertaken between the United States and Australia to strengthen bilateral collaboration through increased participation and joint training.

These activities include integration of fifth generation capabilities, aero-medical evacuation interoperability training, and integrated aircraft maintenance activities.

13 Juli 2022

B-2 Spirit Stealth Bombers Deploy to RAAF Base Amberley, Australia

13 Juli 2022

B-2 Spirit stealth bombers at RAAF Base Amberley, Australia (photo : Joe Thomas)

ROYAL AUSTRALIAN AIR FORCE BASE AMBERLEY, Australia -- U.S. Air Force B-2 Spirit stealth bombers arrived from the 509th Bomb Wing, Whiteman Air Force Base, Missouri, to support a Pacific Air Forces Bomber Task Force deployment, here July 10.

The bomber aircraft deployed as part of a rotational Bomber Task Force, supporting the Enhanced Cooperation Initiative under the Force Posture Agreement between the United States and Australia. The Airmen will employ the B-2 to conduct training missions and strategic deterrence missions with allies, partners and joint forces in support of a free and open Indo-Pacific.

B-2 Spirit stealth bombers at RAAF Base Amberley, Australia (photo : PACAF)

"This deployment of the B-2 to Australia demonstrates and enhances the readiness and lethality of our long-range penetrating strike force,” said Lt. Col. Andrew Kousgaard, 393rd Expeditionary Bomb Squadron commander. “We look forward to training and enhancing our interoperability with our RAAF teammates, as well as partners and allies across the Indo-Pacific as we meet PACAF objectives.”

U.S. Strategic Command routinely conducts Bomber Task Force operations across the globe as a demonstration of U.S. commitment to collective defense and to integrate with Geographic Combatant Command operations and activities.

This deployment is in line with the National Defense Strategy’s objectives of strategic predictability and operational unpredictability. The BTF enables different types of strategic bombers to operate forward in the Indo-Pacific region from a broad array of overseas and Continental U.S. locations with greater operational resilience.

23 Juli 2021

ASPI : Australia Needs the B21 Bomber

23 Juli 2021

B-21 Raider bomber aircraft (image : Northrop Grumman)

Re-establishing Australia’s bomber fleet: the case for the B-21s

The government’s 2020 Defence Strategic Update provided refreshing clarity about our deteriorating strategic environment and the need for new military capabilities to address it.

These include long-range strike capabilities to impose greater cost on potential great power adversaries at greater range from Australia. The government also included a shopping list of those capabilities giving a broad outline of schedule and the scale of investment.

But there’s a big gap between where we are today and where we need to be, and the shopping list crosses that gap achingly slowly. In the vast reaches of the Indo-Pacific, range is crucial and the ADF’s long-range strike cupboard is bare.

The F-35A Joint Strike Fighter has an effective combat radius of about 1000km. That can be boosted to about 1500km with the use of expensive and vulnerable tanker aircraft. But even that doesn’t cover much of our neighbourhood. It’s also easily out-ranged by Chinese missiles — it doesn’t matter how good the F-35A is if it’s taken out on the ground or its airbases destroyed.

The navy doesn’t have much to offer either. Its six submarines provide only two for operations, which doesn’t guarantee one on station to our north. They can only carry a few strike missiles and once they’re fired, it’s a one-month turnaround back to Australia to reload. And on the current Attack-class submarine schedule, it could be close to 2040 before the number of boats in our submarine fleet grows.

B-21 Raider bomber aircraft (image : USAF)

With the government providing Defence with $575bn over the coming decade, the department has to do better at getting effective strike capability into service sooner.

One option that could deliver formidable long-range strike power well before the future submarine arrives are bombers. It’s strange that bombers don’t get much attention as a military option for Australia, considering we have a long history operating them. We flew bombers out of northern Australia during WWII against the Japanese to telling effect, and it was only a decade ago that the F-111, long a mainstay of Australia’s deterrent capability, was retired.

12 B-21 stealth bomber for Australia

The only real candidate for a crewed long-range bomber is the United States’ B-21 stealth bomber, currently under development and planned to enter service late this decade. Remarkably for a developmental project, the B-21 seems to be roughly on schedule and on budget by leveraging the technologies used in earlier stealth aircraft projects. It’s using two F-35 engines, for example, but this will give it three or four times the range of the F-35. That will allow it to reach far out into the Indo-Pacific, greatly complicating the planning of any adversary operating against us or our friends. It also means it can be based deep inside Australia, far from threats, and still not need to rely on tanker aircraft.

If Australia had a squadron of 12 aircraft, it could dispatch a flight of three aircraft carrying around 30 long-range anti-ship missiles in the morning and follow it up with another in the afternoon. Unlike submarines, they can do it all again the next day. If the mission was to strike ground targets, they could each carry 50 guided bombs.

RAAF operated 2 squadron (24 units) of F-111C bomber and retired them in 2010 (photo : AeroCorner)

Granted, bombers can’t do everything that submarines can do (and the reverse is also the case). But they can potentially deliver similar results differently, for example by destroying enemy submarines in port, rather than hunting them down at sea. Or by dropping sophisticated sea mines off the enemy’s naval bases.

Certainly, that kind of capability doesn’t come cheap. The US is aiming for a unit price under $1bn. A squadron of 12 aircraft will likely total around $20-25bn once we add in bases, support systems such as simulators and maintenance facilities, and so on. That’s a lot, but compared to the $45bn to be spent on the future frigates, the $89bn on submarines, or indeed the $30bn on armoured vehicles, it’s a price worth considering. It also means we are only sending a crew of two into danger, as opposed to more than 60 on an Attack class submarine or 180 on a future frigate.

Of course, if we buy B-21s from America, not a lot of money will be spent here on local industry in their acquisition. But the Defence budget shouldn’t be seen primarily as an industry program. Moreover, the bulk of spending over the life of a military aircraft is in its sustainment, and much of that will be spent here.

There’s one other potential option, a Goldilocks solution with greater range than a F-35 but less capability and cost than the B-21. It would involve developing a bigger, multi-engined version of the Loyal Wingman uncrewed combat aircraft recently test flown by Boeing Australia. That would take a commitment from the government and Defence to invest in its development, as well as trust that autonomous systems can deliver lethal effects at long range.

But we could pursue both approaches as an insurance policy to hedge the risks we are facing.

(The Australian)