15 April 2025
Indonesia Pertimbangkan Opsi Setelah Rusia Minta Akses ke Lanud Manuhua, Biak
12 Januari 2025
Kisah, Squadron Pembom Jet Diresmikan
05 Januari 2025
Kisah: Kapal Induk "Doorman" ke Irian Barat untuk Imbangi MiG dan Iljusjin
20 Juni 2023
Latma Bomber Landing, Tiga F-16 TNI AU Kawal Pembomb Strategis B-52H USAF
25 Desember 2022
Kisah Misi Rahasia TNI AU Hendak Turunkan Bom di Pangkalan Jet Tempur Musuh
25 Desember 2022
Pesawat pembom B-25 Mitchel (photo : Wiki)
Merdeka.com - Kisah ini terjadi tahun 1965, saat hubungan Indonesia dan Malaysia tengah memanas. Satu misi rahasia disiapkan komando TNI AU untuk menghancurkan pangkalan udara lawan.
Tak mampu menghadapi Indonesia sendirian, Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Permintaan itu langsung dijawab. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka dikirim ke perbatasan dengan Indonesia.
Inggris membangun Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base di Singapura. Mereka menempatkan jet tempur di sana untuk menandingi kekuatan udara Indonesia.
Saat itu Indonesia masih menjadi negara dengan kekuatan udara terbaik di Asia dengan pesawat tempur buatan Blok Timur.
TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) menyiapkan rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.
Siapa Siap Berjibaku?
Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing para perwira senior Angkatan Udara di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.
Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.
"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.
Tantangan itu dijawab Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.
Pedet Soedarman kenyang pengalaman operasi. Dia menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai pemberontakan yang terjadi di tanah air.
Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber yang diterbitkan tahun 2003.
Walau menggunakan pesawat yang terbilang sudah tua, Kolonel Pedet yakin misi tersebut akan berjalan dengan sukses. Saat konflik dengan Belanda di Irian Barat, Pedet juga yang menghancurkan kapal angkatan Laut Belanda.
"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.
Angin Politik Berubah
Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi dan siap melaksanakan tugas berbahaya itu.
Namun situasi berubah cepat. Peristiwa 30 September mengubah peta politik Indonesia. Presiden Sukarno jatuh. Penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.
Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era keemasan tentara langit Indonesia.
Sejarah mencatat misi pengeboman pangkalan jet tempur di Singapura itu tak pernah dilaksanakan.
(Merdeka)
18 Desember 2022
Mengenang Kebesaran TNI AU Lewat Pembom Ilyusin-28
18 Desember 2022
Pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" (photo : TNI AU)Pesawat pembom Ilyusin-28 memang hanya lima tahun dioperasikan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) periode 1960-an sebelum dihibahkan ke ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) akhir 1964.
Meskipun hanya sebentar dioperasikan dalam satuan Skadron XXI, namun kaya cerita yang belum terungkap. Mulai pengiriman calon awak pesawat, pelatihan di luar negeri dan kesiagaan saat bergabung dalam Operasi Djajawidjaja dalam merebut Irian Barat.
Mereka para penerbang Il-28 yang dikelompokkan ke dalam Tjakra-I dan II, dilatih di Cekoslovakia untuk mengawaki pesawat ini.
Dalam buku sejarah TNI AU, pesawat pembom Il-28 terbang pertama kali di Indonesia pada 4 Oktober 1959 dari pangkalan udara Kemayoran, Jakarta.
Penerbangan perdana ini menyusul pengiriman lewat laut 8 unit Il-28 sebulan sebelumnya. Kala itu di Kemayoran telah ada pesawat tempur jet MiG-15 dan MiG-17 yang tergabung dalam Skadron XI, yang sebelumnya dinamai Kesatuan Pancar Gas (KPG).
Mengingat jenis pembom ini bermesin pancar gas, maka tidak salah bila digabungkan jadi satu di bawah badge Skadron XI dan berpangkalan di Kemayoran juga.
Baru pada 1 Juni 1960 diresmikan berdirinya Skadron XXI berdasar Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara bernomor 432 tahun 1960 yang ditandatangani oleh Laksamana Udara Suryadi Suryadarma.
Dalam keputusannya terdapat dua penekanan yaitu pertama, tentang pemisahan dari induk sebelumnya Skadron XI dan kedua, penegasan berdirinya Skadron XXI yang berkedudukan di Kemayoran dan masuk Wing Operasional 3.
Dalam keputusan yang tertulis dalam ejaan lama ini juga masih menyebut istilah Pembom Pantjar Gas untuk pesawat pembom bermotor dua yang baru dimiliki AURI ini.
Pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" versi latih (photo : TNI AU/Aviahistoria)
Sebagai komandan pertama ditunjuk Mayor Udara Cuk Surosohurip yang mantan pilot pembom B-26 Invader.
Tidak tanggung-tanggung, jumlah pesawat yang dikirim Soviet ke Indonesia mencapai 20 unit. Terdiri dari empat jenis latih Il-28U, dua unit berkemampuan reconnaissance Il-28R dan 14 jenis pembom seri Il-28.
Belakangan juga dikirim jenis Il-28T berkemampuan torpedo sebanyak dua unit saat Operasi Djajawidjaja sedang gawat-gawatnya. Sehingga total Il-28 yang pernah berada di Indonesia sebanyak 22 unit.
Padahal kala itu pilot yang berkualifikasi baru segelintir, di antaranya Sujitno Soekirno, S. Ch. Lantang, Soetopo serta Sujitno dan tentunya komandan skadronnya.
Sedangkan navigator merangkap bombardir adalah Saleh Basarah, Aried Rijadi, Dasio, Madihardjo, Soekojo, Yuamardi, dan Iskandar. Mereka umumnya telah berpengalaman sebagai awak pesawat B-25/26 dari Skadron Pengebom 1. Mereka dididik di Indonesia oleh instruktur Soviet.
Baru pada pertengahan 1960 setelah Skadron XXI diresmikan, siswa penerbang Tjakra 1 yang didik di Cekoslowakia tiba sebagai calon pilot pembom pesawat jet. Mereka adalah Soeparman Natawikarta, Efendi Siagian, Oloan Silalahi, Wakidjan, dan Soedarto.
Sementara navigator adalah Aris Mertodipo, Noorkusadi, Soeharno, Hadi Poernomo, dan Willy Kahuripan. Mereka adalah sebagian dari 46 siswa AURI yang diberangkatkan ke Ceko pada 1958.
Sebagian dijuruskan ke pesawat pemburu yang disebut Tjakra A-1, pembom disebut Tjakra 1-B dan navigator sebagai Tjakra 1-C.
Para kadet dari Indonesia ini awalnya dilatih di kota Stichovice pada Czechoslovak Military Flying College pimpinan Kapten Horky mantan pilot Perang Dunia II dibantu Kapten Blaha dan Kapten Dolezal. Untuk latihan fase advance mereka dididik di Hradec Kralove wilayah Bohemia dan Prerov di wilayah Moravia.
Sekembalinya di tanah air mereka harus melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan brevet sebagai pilot sebelum masuk pendidikan transisi sesuai jurusan.
Bagi Tjakra 1-A mereka melanjutkan pendidikan di Skadron XI dengan pesawat MiG-15 UTI Midget sebelum terbang ke pesaway MiG-17 Fresco. Sedang Tjakra 1-B jurusan pembom jet masuk ke Skadron XXI untuk terbang di Il-28 sejenis yang digunakan di Ceko.
Baru di Indonesia para calon pilot mengenal adanya x-helmet untuk pilot. Sebelumnya selama pendidikan di Ceko, baik instruktur ataupun siswa, semua memakai tutup kepala yang dilengkapi throat mike layaknya pilot zaman PD II.
Skadron pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" (photo : LIFE)
Perlengkapan perorangan juga dibagi mulai dari sepatu, gloves, night bag hingga coverall berwarna abu-abu. Hanya pilot senior dan test pilot yang berhak memakai coverall jingga.
Pelatihan terbang yang berlaku di Ceko dan di Indonesia sama kecuali penerapan looging jam terbang. Saat di Ceko yang dimaksud jam terbang adalah waktu terbang antara saat tingal landas dan saat mendarat, sedang di Indonesia jam terbang dihitung mulai saat taxi out hingga taxi in dan lebih dikenal dengan istilah block on block off.
Perhitungan jam terbang dengan sistem block on block off ini masih digunakan TNI AU hingga kini. Sedangkan para siswa Tjakra 1 semenjak dididik sebagai pilot selalu menulis jam terbang di log-book dengan sistem take of landing.
Dengan demikian jam terbang yang didapat di Ceko rata-rata 200 jam terbang merupakan jam terbang yang telah cukup banyak bagi seorang siswa pilot.
Selama di Indonesia mereka diberi pangkat Sersan Mayor Kadet dan selanjutnya menjadi Letnan Moeda Oedara Kadet.
Setelah selesai transisi dan standarisasi di Indonesia, para calon pilot akhirnya dilantik sebagai Letnan Oedara II dan wing day pada 15 Juli 1961.
Dari 46 kadet Tjakra 1, masuk sebagai pilot pemburu jet sebanyak enam orang dari 17 siswa dan pembom jet lulus sembilan dari 15 siswa. Sisanya masuk ke skadron heli dan angkut. Beberapa mengulang untuk menjadi navigator atau teknisi.
Salah kalkulasi
Dari buku panduan Ilyushin-28 disebutkan bahwa pesawat dengan berat maksimum 21.200 kg dengan dua mesin jenis Klinov VK-1 turbojet ini mempunyai aksi radius 2.180 km.
Sebagai pilot muda mereka mempraktikkan kemampuan terbang ini guna menghadapi tugas yang akan dibebankan kepadanya pasca Trikora yang dikumandangkan Bung Karno di Yogyakarta.
Mereka mulai melatih diri untuk tugas operasi, meliputi latihan navigasi jarak jauh, bombing, terbang malam serta recce dengan foto. Dari latihan inilah diketahui bahwa performa Il-28 tidaklah sehebat yang tertulis di buku, terkait jarak jelajah.
Hal ini disebabkan pesawat diterbangkan di daerah tropis, padahal semua perhitungan rancang bangun dan uji coba dilakukan di negeri sub tropis.
Selain itu bila pesawat membawa beban penuh lepas landas (MTOW) seberat 21 ton maka diperlukan panjang landasan minimal 1.800 m.
Pesawat pembom Ilyushin Il-28 "Beagle" (photo : TNI AU/Aviahistoria)Selain itu pesawat ini semuanya dikendalikan dengan mekanisme kontrol tanpa adanya servo, sehingga beban pilot sangatlah berat utamanya saat lepas landas dan mendarat.
Hanya pilot bernyali besar dan mempunyai feeling yang baiklah yang mampu menerbangkan pesawat ini. Saat itu para pilot Il-28 rata-rata berumur 24 tahun.
Selain itu dengan sistem pneumatik maka para teknisi sangatlah sulit menemukan kebocoran. Lain halnya pesawat yang dikendalikan dengan sistem hidrolik, setiap kebocoran akan terlihat dengan jelas.
Pesawat Il-28 diawaki oleh tiga orang terdiri dari pilot, navigator merangkap bombardier dan gunner yang ada di tail section.
Dengan senapan laras ganda kaliber 23 mm yang terletak di nose dan tail, Il-28 dirancang sebagai pesawat pembom taktis yang mandiri dalam arti kata mampu beroperasi tanpa lindungan pesawat tempur.
Kemampuan terbang tinggi (40.000 kaki) dengan kecepatan 900 km per jam serta wing loading sebesar 291 kg per meter dan thrust/weight ratio sebesar 1:3,2 menjadikan pesawat yang oleh NATO dijuluki Beagle ini hanya mampu disaingi oleh English Electric Canberra yang terbang perdana pada 21 April 1950.
Hingga akhir hayat pada 1990, pempom Ilyushin-28 telah diproduksi hampir 6.000 unit yang tersebar di 20 angkatan udara utamanya di belahan Timur.
Selain di Rusia, pesawat ini juga diproduksi di Cuba, Ceko dan China dengan merek dagang H-5 Harbin. Tidak tanggung-tanggung China mengembangkan pesawat ini dalam 10 varian termasuk jenis Harbin H-5A yang dirancang mampu membawa bom nuklir.
Sedang untuk ekspor mereka memasarkan dengan nama Harbin BT-5 dan B-5 utamanya untuk Korea Utara.
Bagi pemuda Indonesia adanya pesawat Il-28 telah mempuyai arti sendiri, mengingat ini adalah pembom jet pertama di belahan Bumi Selatan. Dengan semangat menyala mereka berangkat ke Morotai untuk bergabung dengan Satgas Senopati.
Bersama MiG-17 dari Skadron 11, Satgas Senopati melaksanakan misi deception dalam rangka infiltrasi ke Irian Barat periode 1962. Dalam tugas ini sebuah Il-28 yang dipiloti LU II Wakidjan, LU II Hadi Poernomo/Navigator dan Gunner LMU I Jost Toisutta, jatuh di laut menjelang mendarat di Morotai.
Kejadian pada 14 Agustus 1962 pukul 03.00 pagi ini terjadi selepas Il-28 melakukan deception saat dua C-130 Hercules melaksanakan penerjunan di daerah Klamano, Sorong dengan hasil baik.
Kecelakaan juga menimpa Skadron 21 saat beroperasi dengan home base Patimura, Ambon.  Sebuah Il-28 jenis latih tail number M-848 mengalami bouncing dan hard landing yang berakibat total lost.
Untungnya semua awak termasuk pilot LU I Efendi Siagian selamat.
Selama tugas operasi Djajawidjaja, Il-28 yang semula dipangkalkan di Morotai dan Patimura untuk selanjutnya mulai Juni 1962 digeser ke Amahai untuk mendekati daerah operasi.
Di tempat inilah LU I Soeparman dengan Il-28 dan LU I Nursalim di MiG-17 menembak sebuah kapal asing di daerah yang telah dinyatakan sebagai restricted area. Tembakan dilakukan dari senapan laras ganda kaliber 23 mm baik yang ada di nose maupun tail gunner.
Bahkan menurut Soeparman, MiG pun ikut menembak. Meskipun sempat menjadi isu internasional karena pesawat militer menembak kapal sipil, belakangan diketahui bahwa kapal tersebut adalah kapal ikan milik Jepang.
Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa meskipun kapal akhirnya harus ditarik ke pelabuhan terdekat karena lumpuh.
Medio 1962 masuk gelombang pilot eks Tjakra 2 sebanyak 12 orang, di antaranya Bambang Sugeng, Jumalib, dan Intan Napitupulu serta empat navigator yaitu Mardjuki, Wahono, Syamsudin, Â dan Sardjan. Nanti pada 3 Maret 1964 pesawat Il-28 disiagakan di Medan dalam rangka operasi Dwikora.
Dalam penugasan ini pesawat menjadi satu kelompok dengan Tu-16 dan MiG-21, jenis pesawat terbaru yang dimiliki AURI. Kekuatan ini masuk dalam Komando Siaga dengan Panglima Laksamana Madya Omar Dani.
Diserahkan ke ALRI
Pasca operasi Dwikora, sisa Il-28 sebanyak 10 unit diserahkan ke ALRI dikarenakan AURI telah dilengkapi dengan 22 unit pembom jarak jauh Tu-16B di Skadron 41 dan Tu-16KS di Skadron 42.
Semuanya berpangkalan di Madiun. Dengan surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara nomor: 110 tahun 1964 tertanggal 19 Desember 1964, Skadron 21 dilikuidasi. Keputusan ini diteken oleh Laksamana Madya Omad Dani.
Sejak itu berakhir pula kiprah Il-28 selama diterbangkan para pilot muda AURI, berakhir pula kejayaan Skadron 21 Pembom. Belakangan badge Skadron 21 digunakan oleh pesawat OV-10 Bronco periode 2005 sampai 2007.
Nantinya pada tahun 2012 badge ini akan dipakai oleh pesawat EMB-314 Super Tucano asal pabrikan Embraer dari Brasil sebagai pesawat COIN. Bergulir lagi kejayaan TNI AU dengan pesawat barunya untuk membela Tanah Air tercinta.
(MyLesat)
04 Desember 2022
Kisah Pesawat Pengebom Tu-16 AURI, Menembus Jantung Benua Australia Tanpa Terdeteksi Radar
03 Desember 2022
B-21 Raider Makes Public Debut; will Become Backbone of Air Force’s Bomber Fleet
01 November 2022
AS Berencana Untuk Mengerahkan Pembom B-52 ke Australia Utara
07 September 2022
Defence Minister Marles : Australia Could Buy B-21 Raider Bomber
11 Agustus 2022
US B-1B Participate in Australian Top End exercise
13 Juli 2022
B-2 Spirit Stealth Bombers Deploy to RAAF Base Amberley, Australia
23 Juli 2021
ASPI : Australia Needs the B21 Bomber
23 Juli 2021
B-21 Raider bomber aircraft (image : Northrop Grumman)Re-establishing Australia’s bomber fleet: the case for the B-21s
The government’s 2020 Defence Strategic Update provided refreshing clarity about our deteriorating strategic environment and the need for new military capabilities to address it.
These include long-range strike capabilities to impose greater cost on potential great power adversaries at greater range from Australia. The government also included a shopping list of those capabilities giving a broad outline of schedule and the scale of investment.
But there’s a big gap between where we are today and where we need to be, and the shopping list crosses that gap achingly slowly. In the vast reaches of the Indo-Pacific, range is crucial and the ADF’s long-range strike cupboard is bare.
The F-35A Joint Strike Fighter has an effective combat radius of about 1000km. That can be boosted to about 1500km with the use of expensive and vulnerable tanker aircraft. But even that doesn’t cover much of our neighbourhood. It’s also easily out-ranged by Chinese missiles — it doesn’t matter how good the F-35A is if it’s taken out on the ground or its airbases destroyed.
The navy doesn’t have much to offer either. Its six submarines provide only two for operations, which doesn’t guarantee one on station to our north. They can only carry a few strike missiles and once they’re fired, it’s a one-month turnaround back to Australia to reload. And on the current Attack-class submarine schedule, it could be close to 2040 before the number of boats in our submarine fleet grows.
B-21 Raider bomber aircraft (image : USAF)With the government providing Defence with $575bn over the coming decade, the department has to do better at getting effective strike capability into service sooner.
One option that could deliver formidable long-range strike power well before the future submarine arrives are bombers. It’s strange that bombers don’t get much attention as a military option for Australia, considering we have a long history operating them. We flew bombers out of northern Australia during WWII against the Japanese to telling effect, and it was only a decade ago that the F-111, long a mainstay of Australia’s deterrent capability, was retired.
12 B-21 stealth bomber for Australia
The only real candidate for a crewed long-range bomber is the United States’ B-21 stealth bomber, currently under development and planned to enter service late this decade. Remarkably for a developmental project, the B-21 seems to be roughly on schedule and on budget by leveraging the technologies used in earlier stealth aircraft projects. It’s using two F-35 engines, for example, but this will give it three or four times the range of the F-35. That will allow it to reach far out into the Indo-Pacific, greatly complicating the planning of any adversary operating against us or our friends. It also means it can be based deep inside Australia, far from threats, and still not need to rely on tanker aircraft.
If Australia had a squadron of 12 aircraft, it could dispatch a flight of three aircraft carrying around 30 long-range anti-ship missiles in the morning and follow it up with another in the afternoon. Unlike submarines, they can do it all again the next day. If the mission was to strike ground targets, they could each carry 50 guided bombs.
RAAF operated 2 squadron (24 units) of F-111C bomber and retired them in 2010 (photo : AeroCorner)Granted, bombers can’t do everything that submarines can do (and the reverse is also the case). But they can potentially deliver similar results differently, for example by destroying enemy submarines in port, rather than hunting them down at sea. Or by dropping sophisticated sea mines off the enemy’s naval bases.
Certainly, that kind of capability doesn’t come cheap. The US is aiming for a unit price under $1bn. A squadron of 12 aircraft will likely total around $20-25bn once we add in bases, support systems such as simulators and maintenance facilities, and so on. That’s a lot, but compared to the $45bn to be spent on the future frigates, the $89bn on submarines, or indeed the $30bn on armoured vehicles, it’s a price worth considering. It also means we are only sending a crew of two into danger, as opposed to more than 60 on an Attack class submarine or 180 on a future frigate.
Of course, if we buy B-21s from America, not a lot of money will be spent here on local industry in their acquisition. But the Defence budget shouldn’t be seen primarily as an industry program. Moreover, the bulk of spending over the life of a military aircraft is in its sustainment, and much of that will be spent here.
There’s one other potential option, a Goldilocks solution with greater range than a F-35 but less capability and cost than the B-21. It would involve developing a bigger, multi-engined version of the Loyal Wingman uncrewed combat aircraft recently test flown by Boeing Australia. That would take a commitment from the government and Defence to invest in its development, as well as trust that autonomous systems can deliver lethal effects at long range.
But we could pursue both approaches as an insurance policy to hedge the risks we are facing.













.jpg)

























