Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2026

PT PAL Jajaki Retrofit Kapal Selam Nagapasa Class Bersama Naval Group

28 Oktober 2026

Penjajakan kerjasama retrofit kapal selam Nagapasa class (photo: PAL)

Jakarta – PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki kerja sama Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) kapal selam. Penandatanganan berlangsung pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10).

Penjajakan ini membuka peluang pengembangan kemampuan teknis PT PAL dalam menangani perbaikan dan pemeliharaan kapal selam, mulai dari penguasaan teknologi hingga peningkatan kompetensi insinyur dan teknisi. Lingkup kolaborasi selanjutnya akan ditentukan berdasarkan kebutuhan pengguna dan kesepakatan kedua pihak.

PT PAL memiliki pengalaman dalam pekerjaan overhaul kapal selam, salah satunya pada KRI Cakra-401. Pekerjaan tersebut mencakup penanganan badan tekan, sistem mekanik dan elektrik, sensor, navigasi, hingga sistem persenjataan. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus mengembangkan keahlian rekayasa dan kapasitas fasilitas dalam menangani kompleksitas pemeliharaan kapal selam.

Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero), Diana Rosa, mengatakan penguasaan kemampuan MRO kapal selam merupakan bagian penting dari upaya membangun kemandirian industri pertahanan nasional.

“Melalui kolaborasi dengan Naval Group, kami berharap dapat memperkuat keahlian teknis dan kompetensi SDM Indonesia, sehingga PT PAL semakin mampu mendukung kesiapan operasional TNI AL sekaligus membangun kemampuan pemeliharaan kapal selam di dalam negeri,” ujar Rosa.

Pengembangan kapabilitas MRO kapal selam membutuhkan kesinambungan dalam penguasaan teknologi, kesiapan fasilitas, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli. Melalui kerja sama ini, PT PAL mendorong penguatan kapasitas industri nasional agar semakin mampu menangani kebutuhan pemeliharaan kapal selam di dalam negeri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap dukungan luar negeri.

Retrofit kapal selam Nagapasa class
PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group menjajaki kerjasama retrofit kapal selam Nagapasa. Kerjasama ini merupakan bagian dari upaya PT PAL Indonesia (Persero) mendukung kesiapan armada TNI Angkatan Laut melalui penguatan kolaborasi dengan mitra strategis.

Menhan RI Tinjau Progres Produksi dan Modernisasi Alutsista di PTDI

28 Oktober 2026

Kunjungan kerja Menhan RI ke PT DI di Bandung (photos: PT DI)

Bandung  – Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakil Menteri Pertahanan Bidang Logistik, Industri Pertahanan & Teknologi, Marsekal TNI Yusuf Jauhari, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Letjen TNI Gabriel Lema, serta Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan RI, Laksda TNI Sri Yanto, beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI). Rombongan diterima langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi, Wakil Komisaris Utama PTDI, Marsdya TNI (Purn.) Bagus Puruhito, Komisaris PTDI, Yusron Ihza, serta jajaran manajemen PTDI di Hanggar Final Assembly Line (FAL) Fixed Wing PTDI, Bandung.

Pada kesempatan ini, Menhan RI meninjau langsung perkembangan sejumlah program Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang tengah dikerjakan PTDI, meliputi program produksi, peningkatan sistem misi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat. Menhan RI dan rombongan mengawali kunjungannya dengan peninjauan pekerjaan upgrade mission system terhadap pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) milik TNI AL. Selanjutnya, Menhan RI juga meninjau proses produksi pesawat CN235-220 Military Transport (serial number N71) untuk end user TNI AL yang ditargetkan selesai pada awal tahun 2027.

Agenda peninjauan berlanjut ke program modernisasi pesawat C-130 TNI Angkatan Udara (AU), serta pekerjaan rekondisi struktur dan pemeliharaan & perawatan (Harwat) 2 unit pesawat NC212-200 milik TNI AL. Dalam kesempatan yang sama, Menhan RI juga meninjau pekerjaan Service Life Extension Program (SLEP) dan avionics upgrade terhadap 3 unit pesawat CN235-100 milik Uni Emirat Arab (UAE Air Force) yang ditargetkan seluruhnya selesai pada akhir tahun 2027. Pekerjaan ini mencerminkan kapabilitas PTDI dalam memperpanjang usia pakai pesawat sekaligus meningkatkan kemampuan sistem avioniknya melalui program peningkatan dan modernisasi pesawat. Rangkaian peninjauan diakhiri di Hanggar FAL N219.

Kunjungan ini menegaskan peran strategis PTDI dalam mendukung pelaksanaan program Kemhan RI melalui pengembangan kapabilitas produksi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat militer. Berbagai program yang tengah berjalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri kedirgantaraan nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista Indonesia, sekaligus mewujudkan kemandirian pertahanan nasional. 

(PT DI)

27 Oktober 2026

Government Arsenal Menargetkan Produksi Amunisi Jenis 'Crew-served Weapons'

27 Oktober 2026

Produksi munisi Goverment Arsenal saat ini (photos: GA)

Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro Jr. telah mengonfirmasi bahwa Government Arsenal (GA) sedang dipersiapkan untuk beralih dari fokus tradisionalnya pada amunisi senjata ringan menuju produksi amunisi yang lebih canggih.

Pengumuman ini disampaikan dalam sidang dengar pendapat mengenai usulan anggaran Departemen Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2027 di Senat. Dalam wawancara terpisah, Teodoro mengindikasikan bahwa lembaga tersebut tengah menjajaki produksi amunisi untuk senjata yang dioperasikan oleh kru (crew-served weapons), yang kemungkinan mencakup granat 40mm, amunisi senapan mesin berat 12,7mm, amunisi mortir 60mm dan 81mm, granat tangan maupun granat senapan, serta amunisi untuk peluncur roket (RPG).

Saat ini, GA secara rutin memproduksi amunisi standar NATO 5,56×45mm dan 9mm Parabellum, sementara amunisi kaliber 7,62×51mm dan .45 diproduksi berdasarkan permintaan khusus. GA juga dimungkinkan memiliki kapabilitas untuk memproduksi amunisi 7,62×39mm yang digunakan oleh senapan jenis AK, meskipun hal ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.


Perluasan yang diusulkan ini nantinya dapat mencakup amunisi untuk meriam otomatis (autocannon) kaliber 20mm, 25mm, dan 30mm; meriam angkatan laut 76mm; howitzer 105mm; roket udara 2,75 inci; serta bom udara berdiameter kecil.

Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi kemajuan signifikan dalam memperkuat basis industri pertahanan dalam negeri Filipina, mengurangi ketergantungan pada pemasok amunisi asing, serta meningkatkan kemampuan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) untuk mempertahankan operasi selama krisis yang berkepanjangan.

Namun, rencana lini produksi ini belum dapat dianggap sebagai proyek yang sudah pasti. Implementasinya akan bergantung pada kelayakan teknis, pendanaan, infrastruktur, serta rencana pengadaan dan produksi resmi.

Industri amunisi dalam negeri yang lebih kuat sangat penting bagi kesiapan militer. Modernisasi AFP tidak hanya menuntut pengadaan persenjataan canggih, tetapi juga memastikan bahwa Filipina mampu mendukung operasional persenjataan tersebut jika rantai pasok dari luar negeri mengalami gangguan.

25 Oktober 2026

PT Barata Indonesia (Persero) dan PT DAHANA Jajaki Potensi Kerja Sama Pemenuhan Peralatan Industri Strategis

25 Oktober 2026

PT Barata Indonesia dan PT Dahana jajaki kerjasama untuk pemenuhan peralatan industri strategis (photos: Barata Indonesia)

GRESIK – PT Barata Indonesia (Persero) menerima kunjungan kehormatan dari jajaran manajemen PT DAHANA di workshop kantor pusat Barata Indonesia, Gresik, pada Kamis (1/10). Kunjungan industri ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi BUMN, khususnya pada sektor manufaktur berat dan industri pertahanan terintegrasi, guna mendukung kemandirian industri nasional.

Dalam agenda kunjungan tersebut, Direktur Utama PT DAHANA, Hary Irmawan, diajak berkeliling langsung (field tour) oleh Direktur PT Barata Indonesia (Persero), Hertyoso Nursasongko, untuk meninjau berbagai fasilitas yang dimiliki Barata Indonesia. Rombongan melihat secara dekat kapasitas manufaktur fasilitas workshop yang mencakup divisi pengecoran (foundry), fabrikasi, hingga perakitan peralatan industri milik Divisi Industri Komponen Permesinan.


Kunjungan ini berfokus pada upaya DAHANA dalam mengeksplorasi dan mencari solusi pemenuhan kebutuhan peralatan serta infrastruktur industri pendukung operasionalnya. Sebagai perusahaan penyedia bahan peledak terpadu, DAHANA membutuhkan dukungan komponen manufaktur dan pengerjaan mekanis presisi tinggi yang andal guna menunjang keberlangsungan proses produksi fasilitas operasinya di seluruh wilayah Indonesia.

Direktur Utama DAHANA, Hary Irmawan, menyampaikan bahwa pihaknya yakin bahwa kapabilitas dan rekam jejak manufaktur yang dimiliki Barata Indonesia mampu menjawab standar tinggi dan spesifikasi teknis khusus yang dibutuhkan oleh DAHANA dalam memperkuat rantai pasok operasinya.


Sementara itu, Direktur PT Barata Indonesia (Persero), Hertyoso Nursasongko, menegaskan kesiapan Barata Indonesia untuk memberikan kontribusi terbaik dalam mendukung kebutuhan peralatan industri DAHANA. Melalui kolaborasi ini, diharapkan kedua BUMN dapat menciptakan nilai tambah berkelanjutan sekaligus mengoptimalkan potensi penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) demi kemajuan industri nasional.

Pesawat N219 Pesanan Kemhan untuk TNI AD Akan Terbang Perdana Desember 2026

25 Oktober 2026

Salah satu pesawat N219 yang dipajang di hanggar Final Assembly Line PTDI (photo: TribunNews)

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI memesan enam unit pesawat produksi anak bangsa buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yakni N219 untuk TNI Angkatan Darat.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan mengungkapkan rencananya pesawat tersebut akan terbang perdana pada Desember 2026.

Rencananya, kata dia, pesawat itu akan mulai diserahterimakan ke TNI AD pada Februari 2027.

Hal itu diungkapkannya dalam kegiatan Eksplorasi Industri Pertahanan yang digelar Biro Infohan Setjen Kemhan.

"Insyaallah di Desember (2026) ini untuk Angkatan Darat enam buah kita akan first flight (terbang perdana) dan mungkin delivery-nya (diserahterimakan) di Februari (2027)," ujar Gita saat ditemui di hanggar Final Assembly Line PTDI, Bandung, Jawa Barat pada Senin (20/10/2026).

Dia menjelaskan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pesawat tersebut mencapai 44,69 persen.

Pesawat tersebut mampu mengangkut 19 penumpang.

Kelebihannya, ujar Gita, pesawat itu mampu lepas landas dalam jarak sekira 600 sampai 800 meter tanpa diaspal.

Dia juga menjelaskan sertifikasi N219 untuk militer dikeluarkan oleh Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) atau Otoritas Kelaikudaraan Militer Indonesia.

Sementara sertifikasi N219 untuk kebutuhan komersil dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan.

Selain itu, N219 untuk militer juga akan disesuaikan penyesuaian dengan kebutuhan militer.

Ia mencontohkan diantaranya terkait pintu penumpang.

"Jadi nanti akan ada penyesuaian, akan ada syarat khusus dari pelanggan untuk tugas-tugas khusus. Misalnya untuk penerjunan. Nah ini yang nanti dalam perkembangannya akan kita sesuaikan. Itu yang nanti akan membedakan military (dengan komersil), tapi basic-nya ini adalah sama, ya," pungkasnya.

(TribunNews)

24 Oktober 2026

National Reconstruction Fund Invests $245 million in Australian Shipbuilder Austal Limited to Help Strengthen Country’s Military Shipbuilding Capabilities

24 Oktober 2026

The 100 m LCH that will be constructed by Austal, based on the Damen LST100 design (image: Austal)

The National Reconstruction Fund Corporation (NRFC) is providing $245 million of debt to Austal Defence Shipbuilding Australia Pty Ltd (Austal Defence Australia (ADA)) to build an advanced manufacturing facility that will enable local production of Landing Craft Heavy (LCH) for the Australian Army at Western Australia’s Australian Marine Complex (AMC).

ADA is a subsidiary of Austal Limited (ASX: ASB), an Australia-based shipbuilder and Defence prime contractor that specialises in the design, construction and support of defence and commercial vessels. The Commonwealth of Australia (CoA) and ADA executed the Strategic Shipbuilding Agreement (SSA) in 2025, making ADA Defence’s Strategic Shipbuilder in Western Australia. 

Under the Agreement ADA has been contracted to manufacture eight Landing Craft Heavy (LCH) vessels by 2038. The LCH will be capable of transporting more than 500 tonnes of embarked personnel, vehicles and equipment by sea, including long-range precision strike weapons and other units. This will greatly enhance the Australian Defence Force’s littoral capability, and support humanitarian and disaster relief.

NRFC funding will be used to construct and fit out ADA’s AMC facilities with modular manufacturing capabilities to ensure delivery of the LCH project. 

Austal already employs around 1,200 people in Australia and NRFC investment in the LCH project is expected to create an additional 780 Western Australia based roles in skilled trades, engineering and advanced manufacturing. 

NRFC’s investment is subject to completion of finance documentation and satisfaction of conditions customary for a transaction of this nature.

(NRF)

Hasil Sea Trial KD Maharaja Lela Dapat Mencapai Kecepatan 27,5 Knot

24 Oktober 2026

KD Maharaja Lela 2501 (photos: Lunas)

Terlepas dari berbagai kendala yang terjadi, pekerjaan terus berjalan dan uji coba laut untuk LCS 1 tetap dilanjutkan.

Pada tanggal 20 Oktober, KD Maharaja Lela diuji lebih lanjut dan dapat mencapai kecepatan 27,5 knot di sepanjang Selat Malaka.

Menggunakan sistem propulsi CODAD dengan empat mesin MTU 20V 1163 M94, fregat turunan dari desain kelas Gowind ini dirancang untuk mencapai kecepatan maksimum 28 knot.


Satu lagi pencapaian penting telah diraih, dan diharapkan akan ada lebih banyak lagi pencapaian di masa mendatang.

Saat ini di Lumut Naval Shipyard lebih dari seribu personel bekerja dalam tiga giliran (shift), tidak hanya untuk merampungkan lima unit kapal LCS, tetapi juga untuk melakukan perbaikan dan pembaruan (refit) pada sejumlah kapal milik Tentera Laut Diraja Malaysia.

23 Oktober 2026

Contract Signing for the Procurement of Support Vehicles for Self-Propelled Howitzer Systems Between Chaiseri/TDI and SHAFLEENA (Malaysia)

23 Oktober 2026

Signing of contract between TDI and Shafleena (photo: Sompong Nondhasa)

On October 20, General Napont Sangsomwong, Chairman of the Board of the Defence Technology Institute (DTI), had the honor of witnessing the signing of a contract for the procurement of support vehicles for the CAESAR self-propelled howitzer system for the Malaysian Army. The ceremony took place at the Grand Ballroom of the Chatrium Grand Hotel, Bangkok.

The agreement marks a collaborative effort within the defense industry between Chaiseri Metal & Rubber Co., Ltd. / Thai Defence Industry Co., Ltd. (TDI) - represented by Managing Director Mr. Karn Kulhiran - and the Malaysian firm SHAFLEENA Sdn. Bhd., represented by its Managing Director, Dato’ Shafii Hj Roshad.

Total of 34 vehicles will be provided by Chaiseri/TDI (image: TDI)

This procurement project is part of an initiative to enhance the operational capabilities of the Malaysian Army’s CAESAR self-propelled howitzer systems. It involves a total of 34 vehicles across five categories: Ammunition Supply Vehicles (ASV), Forward Repair Vehicles (FRV), Fire Control Coordinating Vehicles (FCC), Medium Recovery Vehicles (MRV), and JACKAL 4x4 armored forward reconnaissance vehicles.

Furthermore, the signing ceremony... Held as part of the 93rd-anniversary celebrations of the Malaysian Armed Forces, the event was presided over by H.E. Datuk Wan Zaidi Wan Abdullah, Ambassador of Malaysia to Thailand.

Jackal 4x4 (photo: Defense Info)

This occasion serves to further strengthen the relationship and security cooperation between Thailand and Malaysia, as well as to foster the development of the defense industry in both nations.

22 Oktober 2026

Infoglobal dan Terafulk Jajaki Kolaborasi Pengembangan Naval Systems

21 Oktober 2026

Infoglobal dan Terafulk jajaki pengembangan teknologi dan integrasi sistem yang dapat mendukung kebutuhan operasional pertahanan maritim (photo: Infoglobal)

PT Infoglobal Teknologi Semesta (Infoglobal) menerima kunjungan Terafulk di Workshop Infoglobal pada 15 Oktober 2026. Kunjungan yang dipimpin oleh Direktur Terafulk, Eko Prasetyanto, beserta jajaran manajemennya tersebut disambut oleh COO Infoglobal, Bagoes Soediarto.

Dalam dunia marionics (marine electronics) masih didominasi pemain besar dunia seperti Garmin, Sperry Marine, Raymarine, Navico, Furuno dan lain-lain, mungkin dengan kolaborasi ini Infoglobal akan memasuki industri ini (photos: Infoglobal) 

Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kedua perusahaan untuk bertukar wawasan, mengenal kapabilitas masing-masing, serta menjajaki peluang kolaborasi dalam pengembangan naval systems dan teknologi pertahanan maritim.

Dalam pertemuan tersebut, Infoglobal memperkenalkan kompetensi dan pengalamannya dalam pengembangan teknologi pertahanan, meliputi avionik, pemrosesan data radar, serta rekayasa dan integrasi perangkat keras dan perangkat lunak. Sementara itu, Terafulk memiliki kompetensi di bidang desain kapal, mencakup berbagai jenis platform, mulai dari kapal feri, kapal pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR) hingga unmanned surface vehicle (USV) atau kapal permukaan tanpa awak.


Perbedaan kompetensi tersebut membuka ruang untuk mengeksplorasi potensi sinergi, khususnya dalam pengembangan teknologi dan integrasi sistem yang dapat mendukung kebutuhan operasional pertahanan maritim. Melalui diskusi dan pertukaran pengetahuan, kedua perusahaan berupaya mengidentifikasi area kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan operasional serta perkembangan teknologi pertahanan.

Bagi Infoglobal, penjajakan ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk memperluas penerapan kompetensi rekayasa ke berbagai domain pertahanan, termasuk maritim.


Ke depan, Infoglobal berharap penjajakan ini dapat membuka peluang kolaborasi yang konstruktif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pengembangan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan pertahanan maritim dan kemajuan industri pertahanan nasional.

21 Oktober 2026

Launch of Two River Tugs for the Vietnamese Engineer Corps

21 Oktober 2026

Launch of the first TK300-class tugboat, featuring a 300-horsepower engine, for the Engineer Corps (photos: QDND)

QDND – On October 15, in Hai Phong, the Department of Military and Service Branch Technical Affairs (under the General Department of Logistics and Technical Affairs) held a launch ceremony for two 300-horsepower river tugs intended for the Engineer Corps. The vessels were newly constructed by Hong Ha Shipbuilding Company Limited (under the General Department of Defense Industry). Major General Do Anh Tuan, Deputy Director of the General Department of Logistics and Technical Affairs, presided over the ceremony.

The two 300-horsepower river tugs were commissioned by the Department of Military and Service Branch Technical Affairs, following approval from higher authorities for their construction and subsequent assignment to the Engineer Corps.


Speaking at the ceremony, Colonel Huynh Van Dong, Deputy Director of the Department of Military and Service Branch Technical Affairs, commended the efforts of the staff and workers at Hong Ha Shipbuilding Company Limited. He also highlighted the close coordination among design consultants, supervisory consultants, and the registry authority throughout the construction, inspection, monitoring, and technical acceptance phases—all of which were completed on schedule and in compliance with technical requirements.

Colonel Huynh Van Dong instructed the construction unit to finalize the remaining components and to coordinate with relevant agencies and units to conduct inspections and formal acceptance, ensuring that the project meets all quality standards, timelines, and regulatory requirements.


Once completed and put into service, the two tugs will perform towing, pushing, and maneuvering tasks for ferries. They will also support riverine mobility operations at key locations along the Red River, the Duong River, and other waterways in Northern Vietnam. The two newly built vessels (design designation TK300) have an overall length of 17.26m, a maximum beam of 5.95m, and a full-load displacement of 74.9 tons. Each is equipped with a main engine with a power output of 257kW, capable of reaching a maximum speed of 9.5 knots, and is operated by a crew of five.

The construction of these two vessels is of significant importance, serving to incrementally enhance technical support capabilities and meet the requirements for training, combat readiness, flood and storm prevention, search and rescue operations, and other ad-hoc missions undertaken by the Engineer Corps.

PT Len Targetkan Instalasi 13 Radar GCI Rampung Pada 2027

21 Oktober 2026

Radar GCI GM 400 TNI AU (photos: LEN)

Bandung (ANTARA) - PT Len Industri (Persero) menargetkan instalasi 13 unit radar ground control intercept (GCI) yang akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan udara nasional, selesai pada 2027.

“Khusus radar sedang berjalan … [targetnya] tahun depan,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri Dwi Sulistiani di Bandung, Jawa Barat, Selasa.

Ia menjelaskan sejauh ini instalasi radar telah rampung di dua lokasi. “Ini memang mendukung pertahanan di kawasan timur, khususnya, yang notabene ini menjadi fokus dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.

Menurut dia, tantangan aktivasi radar tidak hanya berkaitan dengan perangkat dan teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung meliputi fasilitas operasional bagi prajurit, tempat tinggal, fasilitas pemantauan, serta ruang kendali operasi.

Namun Dwi menilai bahwa dalam pelaksanaannya, holding industri pertahanan Indonesia (Defend ID) itu mendapat dukungan Kementerian Pertahanan serta pemangku kepentingan lain, termasuk pemerintah daerah.

“Di dalam aktivasi radar ini tentunya harus bisa komunikasi, minimal di lingkup matra udara itu sudah. Tantangannya memang kita harus menuntaskan dengan matra yang lain, salah satunya laut,” ujarnya.

Radar GCI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Perancis. GCI tercatat menjadi radar dengan jangkauan terjauh di Indonesia, yakni lebih dari 400 kilometer.

Radar itu disebut memiliki kemampuan mendeteksi, mengukur jarak, dan mengidentifikasi objek pesawat dengan keakuratan tinggi serta dilengkapi kemampuan mengidentifikasi objek yang menjadi kawan maupun lawan/musuh atau identification friend or foe (IFF).

Pada Juli lalu, PT Len memperkenalkan implementasi radar GCI generasi terkini pertama di Indonesia yang dipasang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kemampuan deteksi jarak jauh tercatat mencapai radius 515 kilometer.

(AntaraNews)

18 Oktober 2026

GMF Terima A-1316 sebagai Proyek CWBR Kelima untuk Modernisasi Armada C-130

18 Oktober 2026

Pesawat C-130 Hercules A-1316 (photo: GMF)

Tangerang — Komitmen PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) dalam mendukung modernisasi armada C-130 Kementerian Pertahanan terus berlanjut. GMF menerima pesawat C-130 Hercules dengan tail number A-1316 untuk menjalani perawatan Center Wing Box Replacement (CWBR). Pesawat tersebut berangkat dari Lanud Abdurrachman Saleh, Malang, dan tiba di GMF pada Selasa (15/09) untuk kemudian diserahterimakan melalui penandatanganan Berita Acara oleh Production Division Head SBU Defense Industry GMF, Imam Solikhin, dan Pengelola Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ) Madya Pus Alpalhan Baloghan Kemhan, Kolonel Kal. Ronny Syah Faiza, M.Han.

Kedatangan A-1316 menjadi proyek CWBR C-130 kelima yang ditangani GMF dari total delapan pesawat yang telah direncanakan. Dengan masuknya A-1316, saat ini terdapat empat pesawat C-130 yang tengah menjalani berbagai pekerjaan perawatan di Hanggar 4 GMF.

Pesawat C-130 Hercules A-1316 (photo: Moh Bagusov2)

Dalam acara serah terima, Kasatgas Modernisasi C-130, Marsma TNI Arif Djoko Nugroho, S.T., mengapresiasi kontribusi GMF dalam menjaga kesiapan skuadron melalui program modernisasi C-130. Berbekal pengalaman dalam menangani proyek CWBR sebelumnya, ia berharap pengerjaan A-1316 dapat diselesaikan tepat waktu. Menyambut hal tersebut, GMF menegaskan komitmen untuk terus mendukung kesiapan pesawat di masing-masing skuadron, sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan dan memperpendek lead time.

Keberlanjutan proyek CWBR C-130 menjadi bagian dari kontribusi GMF dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Pelaksanaannya juga mencerminkan sinergi antara GMF, Kementerian Pertahanan RI, dan TNI Angkatan Udara dalam mengoptimalkan kemampuan industri dalam negeri untuk mendukung pemeliharaan dan modernisasi alutsista.

(GMF)

16 Oktober 2026

GMF Kembangkan Kapabilitas Maintenance Falcon 8X melalui Program Offset

16 Oktober 2026

Pesawat Falcon 8X nomor registrasi A-0801 (photo: Kangpotret)

Tangerang — PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) menerima pesawat Falcon 8X milik TNI Angkatan Udara di Hanggar 4 GMF pada (06/10). Pesawat dengan registrasi A-0801 tersebut menjadi pesawat Falcon 8X pertama yang menjalani perawatan di Fasilitas GMF, menjadi bagian dari total enam pesawat Falcon 8X untuk pelaksanaan scheduled maintenance.

Pesawat A-0801 akan menjalani rangkaian perawatan dalam program FalconCare hingga 2029. Program ini menjadi bagian dari proses pengembangan kapabilitas GMF dalam melakukan perawatan Falcon 8X, dengan target agar GMF dapat melaksanakan pekerjaan maintenance Falcon 8X secara mandiri di masa mendatang.

Pengembangan kapabilitas maintenance Falcon 8X menjadi bagian dari upaya GMF dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Program ini juga mencerminkan sinergi antara GMF dan TNI Angkatan Udara dalam mengembangkan kemampuan industri dalam negeri untuk mendukung keberlanjutan pemeliharaan dan kesiapan operasional alutsista.

(GMF)

15 Oktober 2026

Pengujian Penerimaan Sistem Artileri Swagerak PTH-152 dan PTH-130

15 Oktober 2026

Prototipe sistem artileri swagerak PTH-152 dan PTH-130 Vietnam (photos: QPVN, QDND)

Pada pagi hari tanggal 14 Oktober, delegasi dari Kementerian Pertahanan Nasional, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Pham Hoai Nam, Anggota Komite Sentral Partai Komunis Vietnam, Anggota Komite Tetap Komisi Militer Pusat, dan Wakil Menteri Pertahanan Nasional, memeriksa hasil penelitian, desain, manufaktur, dan pengujian sistem artileri swagerak PTH-152 dan PTH-130.

Yang turut serta dalam delegasi tersebut adalah Letnan Jenderal Le Van Huong, Wakil Kepala Staf Umum.

Yang hadir dalam inspeksi tersebut adalah Mayor Jenderal Nguyen Hong Phong, Komandan Komando Artileri dan Rudal.


Sistem artileri swagerak PTH-152 dan PTH-130 masing-masing ditugaskan oleh Kementerian Pertahanan Nasional kepada Viettel High-Tech Industry Corporation (bagian dari Grup Industri dan Telekomunikasi Militer) dan Akademi Teknik Militer.

Sistem artileri swa-gerak PTH-152 dan PTH-130 masing-masing dikerjakan oleh Viettel High-Tech Industry Corporation (bagian dari Grup Industri dan Telekomunikasi Militer) dan Akademi Teknik Militer.

Hingga saat ini, setiap proyek telah menyelesaikan penelitian, desain, manufaktur, dan perakitan sistem; melakukan pengujian mobilitas dan beberapa uji tembak, dengan hasil yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.


Unit-unit utama menyerahkan konfigurasi dan fitur teknis tempur dasar kepada Staf Umum untuk persetujuan; menyelesaikan produk, memastikan sistem beroperasi secara stabil dan andal, serta melayani proses evaluasi dan penerimaan di semua tingkatan.

Secara paralel, Komando Artileri-Rudal secara aktif berkoordinasi dengan unit-unit utama selama pelaksanaan tugas; secara teratur memantau situasi dan kemajuan proyek; dan secara langsung mengawasi uji tembak produk.

Sistem artileri swa-gerak PTH-152 dan sistem artileri swa-gerak PTH-130 masing-masing ditugaskan oleh Kementerian Pertahanan Nasional kepada Viettel High-Tech Industry Corporation (bagian dari Grup Industri Telekomunikasi Militer) dan Akademi Teknik Militer.


Hingga saat ini, setiap proyek telah menyelesaikan penelitian, desain, manufaktur, dan perakitan sistem; melakukan pengujian mobilitas dan beberapa uji tembak, dengan hasil yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Unit-unit utama saat ini sedang mengajukan konfigurasi dan fitur taktis dan teknis dasar kepada Staf Umum untuk persetujuan; menyelesaikan produk untuk memastikan pengoperasian sistem yang stabil dan andal, serta melayani proses evaluasi dan penerimaan di semua tingkatan.

Selain itu, Komando Artileri-Rudal telah aktif berkoordinasi dengan unit-unit utama selama pelaksanaan proyek; secara teratur memantau situasi dan kemajuan proyek; dan secara langsung mengawasi uji tembak produk.


Setelah memeriksa sistem dan mendengarkan masukan dari instansi dan unit terkait, Letnan Jenderal Pham Hoai Nam menilai: Unit-unit utama telah menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi, secara proaktif mengembangkan rencana dan secara serius menerapkan isi penelitian untuk menguasai teknologi perancangan dan pembuatan produk; berfokus pada pemenuhan kebutuhan unit pengguna dan mengikuti perkembangan baru dalam penggunaan artileri dalam peperangan modern. Mereka telah berkoordinasi erat dengan Komando Artileri-Rudal untuk mengembangkan rencana pengujian produk yang ilmiah dan sinkron, mematuhi indikator kinerja dasar; dan secara ketat mematuhi peraturan dan ketentuan keselamatan selama proses pengujian.

Ke depannya, Letnan Jenderal Pham Hoai Nam meminta agar unit-unit tersebut segera berkoordinasi untuk menyelenggarakan pengujian, menyelesaikan produk, dan melakukan evaluasi dan penerimaan di semua tingkatan sebelum menyerahkannya kepada Komando Artileri-Rudal untuk digunakan dalam pelatihan dan kesiapan tempur. Pada saat yang sama, mereka harus melaksanakan berkas tugas produksi serial sesuai rencana. Berkoordinasi dengan instansi terkait Kementerian Pertahanan Nasional, Kementerian Pertahanan Nasional menetapkan standar dukungan logistik dan teknis yang sesuai untuk sistem artileri swa-gerak yang baru diperkenalkan.


Berdasarkan peningkatan desain dan teknologi manufaktur, Letnan Jenderal Pham Hoai Nam meminta unit-unit utama untuk terus mengkoordinasikan penelitian dan pengembangan sistem artileri swa-gerak PTH-152 dan PTH-130, dengan menggabungkan komando dan pengendalian tembakan otomatis.

Wakil Menteri Pertahanan Nasional juga menginstruksikan unit-unit tersebut untuk terus meneliti dan mengembangkan peluru artileri pintar, peluru jarak jauh, dan pesawat tanpa awak (UAV) untuk pengintaian guna mendukung komando penembakan artileri dan rudal.


09 Oktober 2026

LCS 1 Dijangka Terima April 2027 Tanpa Sistem Pelancar Peluru Berpandu Antikapal - Khaled Nordin

09 Oktober 2026

LCS 1 KD Maharaja Lela 2501 (photos: LUNAS)

KUALA LUMPUR: Kapal Tempur Pesisir (LCS) 1 dijangka diserahkan kepada Kementerian Pertahanan pada April 2027.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin, berkata tarikh baharu itu diberikan Lumut Naval Shipyard (LUNAS) selepas kontraktor dipertanggungjawabkan tidak dapat memenuhi komitmen asal untuk menyerahkan kapal berkenaan pada Disember 2026.

"Kelewatan itu berpunca daripada rangkaian kerja yang masih belum selesai, termasuk kerja perpaipan, pemasangan kabel, pemasangan dan pemeriksaan peralatan serta aktiviti pengujian dan pentauliahan yang seterusnya.

"Di pihak Kementerian Pertahanan, mewakili Angkatan Tentera Malaysia (ATM) dan juga Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) khususnya, kita sangat berasa dukacita, kecewa dan tidak selesa dengan kelewatan dan prestasi pembinaan LCS yang dipertanggungjawabkan kepada LUNAS.

"Perubahan tarikh penyiapan dan kelewatan ini adalah sesuatu yang sememangnya memberi kesan kepada kesiagaan ATM dan juga pertahanan negara," katanya Ketika menggulung perbahasan mengenai Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) di Dewan Rakyat, hari ini.


Laporan Ketua Audit Negara (LKAN) 2/2026 mendapati projek LCS lewat 7.55 peratus daripada jadual sehingga 25 Jun lalu, sekali gus menimbulkan risiko terhadap penyerahan fizikal (PHO) LCS 1, yang dijangka turut memberi kesan kepada PHO LCS 2 hingga LCS 5.

Kelewatan itu dilaporkan berlaku susulan sistem pelancar peluru berpandu antikapal (NSM) yang masih belum tersedia selepas permit eksportnya dibatalkan secara kekal oleh Kerajaan Norway.

Susulan itu, Mohamed Khaled berkata, pihak kementerian mengakui penerimaan LCS pada April 2027 adalah tanpa NSM.

Laporan Ketua Audit Negara sebelum ini mengunjurkan bahawa kelewatan penyiapan LCS 1 sehingga Disember 2035.

"Tetapi kalau kita mencari alternatif kepada pembelian-pembelian misil yang sudah kita, sedang dan akan lakukan daripada LIG Korea, Roketsan Turkiye ataupun daripada MBDA Perancis, masa yang diambil untuk penghantaran hanya tiga tahun.


"Jadi kita sedang timbang semua ini dan akan pastikan supaya masa penghantaran, pemasangan tidak lebih ataupun tidak terlalu lama seperti kontrak Norway," katanya.

Jelasnya lagi, walaupun kapal LCS ini tidak ada NSM namun ia dilengkapi sistem persenjataan lain.

"LCS akan tetap dilengkapi dengan beberapa jenis sistem persenjataan yang lain, antaranya misil dari permukaan ke udara, misil daripada permukaan ke laut dalam selain berhadapan ancaman daripada kapal selam.

"Kita juga mempunyai sistem peperangan elektromagnetik untuk menggagalkan segala serangan-serangan yang akan dilakukan dan juga Combat Management System yang mengintegrasikan semua keupayaan ini dengan sistem radar dan pengesan kapal," katanya.

06 Oktober 2026

Seremoni Keel Laying Fregat Anti-Kapal Selam Serbaguna Baru

06 Oktober 2026

Seremoni keel-laying fregat anti kapal selam Vietnam (photos: HQ VN)

HQ Online - Pada pagi hari tanggal 5 Oktober, di Kota Da Nang, Angkatan Laut Vietnam—bekerja sama dengan Song Thu Corporation dan Departemen Umum Industri Pertahanan (GDDI)—menyelenggarakan upacara keel-laying/peletakan lunas untuk kapal fregat anti-kapal selam serbaguna yang baru.

Hadir dalam upacara tersebut adalah: Laksamana Muda Nguyen Thien Quan, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut; Kolonel Nguyen Viet Ha, Kepala Departemen Logistik dan Teknis, Departemen Umum Pertahanan; serta Kolonel Dinh Truong Son, Direktur Utama Song Thu Corporation.

Turut hadir pula perwakilan dari Dewan Direksi Song Thu Corporation, berbagai instansi dan departemen fungsional Angkatan Laut, serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam proyek pembangunan kapal tersebut.


Kapal fregat anti-kapal selam serbaguna ini secara resmi mulai dikerjakan pada tanggal 10 Agustus 2026. Kapal ini dirancang secara mandiri oleh Vietnam dan memiliki tingkat lokalisasi senjata serta peralatan tertinggi yang pernah dicapai.

Kapal ini memiliki panjang 108 meter, lebar 13,6 meter, bobot benaman (displacement) lebih dari 2.000 ton, dan kecepatan maksimum 28 knot.

Selama periode sebelumnya, Song Thu Corporation telah secara aktif berkoordinasi dengan badan manajemen proyek pihak pemesan (Angkatan Laut), unit konsultan dan pengawas, serta otoritas registrasi untuk memfinalisasi rencana dan peraturan terkait koordinasi konstruksi, inspeksi, pengawasan, serta perencanaan pembangunan kapal.

Perusahaan juga sedang melakukan percepatan penyusunan dokumen desain konstruksi, pengadaan material dan peralatan, serta melakukan persiapan menyeluruh di segala aspek untuk melanjutkan tahap peletakan lunas kapal baru tersebut.


Saat berbicara dalam upacara peletakan lunas kapal baru ini, Laksamana Muda Nguyen Thien Quan menegaskan: Dengan tradisi pembangunan dan pengembangan selama 50 tahun, Song Thu Corporation telah membangun banyak kapal militer modern dan kapal khusus yang berteknologi tinggi. Kapal-kapal yang dibangun oleh perusahaan dan telah dioperasikan tersebut turut berkontribusi dalam membantu angkatan bersenjata melaksanakan tugas perlindungan kedaulatan maritim secara efektif. Demi menyelesaikan proyek sesuai jadwal, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut meminta Song Thu Corporation untuk memusatkan sumber dayanya secara efektif guna mempercepat pembangunan kapal, serta memastikan adanya sinkronisasi, kepatuhan terhadap spesifikasi desain, dan pemenuhan kemampuan teknis maupun taktis.

Para pejabat dan karyawan perusahaan harus menunjukkan tekad kuat dalam menerapkan pendekatan "3 shift, 4 tim"; memahami sepenuhnya enam prinsip yang jelas: "penanggung jawab yang jelas, tugas yang jelas, jadwal yang jelas, hasil yang jelas, tanggung jawab yang jelas, dan prosedur yang jelas"; serta berupaya menyelesaikan uji penerimaan fregat anti-kapal selam tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.

Instansi terkait di lingkungan Komando Angkatan Laut memantau secara berkala dan mengawasi dengan ketat proses pembangunan; menyelenggarakan prosedur penerimaan kapal sesuai dengan peraturan yang berlaku—dengan memastikan kemajuan, kualitas, keselamatan, dan kesesuaian dengan desain yang telah disetujui; serta segera melaporkan setiap masalah atau kendala yang muncul selama proses pembangunan kepada pihak investor untuk diselesaikan.

04 Oktober 2026

Visionary Machines and Hanwha Defence Australia Advance Joint Counter-Drone Capability Assessment for Redback IFV

04 Oktober 2026

HDA’s AS21 Redback Infantry Fighting Vehicle used in the joint development activity (photo: HDA)

Australian counter-drone technology company, Visionary Machines, and Hanwha Defence Australia (HDA) have entered into a new phase of joint development, assessing counter-drone sensing capability on HDA’s Redback Infantry Fighting Vehicle (IFV) using Visionary Machines’ Pandion™ Sentinel drone detection and tracking technology.

Uncrewed aerial systems have become one of the most persistent threats facing land forces, changing how armies plan, move and fight on the modern battlefield. Global demand for counter-drone capability reflects that shift. For Visionary Machines and HDA, that growth curve represents a significant opportunity to assess sovereign Australian sensing technology integrated to a combat platform with a heritage proven on the international stage.

The joint development activity is focused on exploring how Pandion™ Sentinel autonomous sensing capabilities could support force protection and situational awareness for land combat vehicles operating in increasingly complex environments.

This work builds on the Memorandum of Understanding (MOU) signed by Visionary Machines, HDA and Hanwha Systems at the Avalon International Airshow in March 2025, which established a framework for identifying and developing opportunities that bring together Australian innovation and leading defence platforms. Through this relationship, the companies have been working together to assess how sovereign technologies can contribute to future defence capability outcomes.

The activity reflects a shared commitment to advancing solutions that address emerging global threats, while supporting the continued growth of Australia’s sovereign defence industry. By combining Visionary Machines’ drone detection expertise with HDA’s Redback IFV, the companies are working to demonstrate the potential for enhanced counter-drone awareness in land combat environments.

The collaboration underscores both companies’ commitment to local capability, industry partnership, and the development of advanced technologies within Australia’s defence ecosystem.

Visionary Machines and HDA will be represented at the Land Forces International Land Defence Exposition, running from 6 to 8 October 2026 at the Perth Convention and Exhibition Centre.

“Drones now pose one of the most persistent threats to land forces anywhere in the world and this collaboration with Hanwha Defence Australia is about making sure Australia stays at the forefront of this innovation.”

“For Visionary Machines, it’s a chance to demonstrate how sovereign Australian technology can be matched with a platform already proven on the international stage, and we’re pleased to be continuing that work with HDA.”

03 Oktober 2026

The Launching Ceremony of New Tugboat of the Royal Thai Navy

03 Oktober 2026

The Royal Thai Navy (RTN) held launching ceremony of the new Tug boat "Sattahip Commercial Port-RTN 26" at Asian Marine Service PCL (ASIMAR) shipyard in Samut Prakan Province (photos: Royal Thai Navy)

The Royal Thai Navy launched its new tugboat, HTMS-RTN.26, at the shipyard of Asian Marine Services PCL (ASIMAR) in Laem Fa Pha Subdistrict, Phra Samut Chedi District, Samut Prakan Province on September 24, 2026. 

This is another example of the Royal Thai Navy's continued support of the domestic shipbuilding industry by Thai private sector companies.


The ceremony was presided over by Admiral Pairoj Fuengchan, Commander-in-Chief of the Royal Thai Navy, along with Mrs. Ariya Fuengchan, President of the Royal Thai Navy Wives Association, and other dignitaries. The keel-laying ceremony for the tugboat, HTMS-RTN.26, measuring 31.5m in length, 12.6m in width, with a draft of 5.49m and a displacement of 35 tonnes, took place at the ASIMAR shipyard in Thailand on November 21, 2025. 

The new tugboat, model HTMS-RTN.26, has a minimum power of 3,000 horsepower, a maximum speed of 12.1 knots, and an operational range of at least 1,000 nautical miles at 8 knots at full displacement. It is also capable of withstanding sea conditions up to Sea State 3. This new vessel is intended for use at Sattahip Commercial Port, Royal Thai Navy, as part of the port's modernization development.

(AAG)