28 Oktober 2026
PT PAL Jajaki Retrofit Kapal Selam Nagapasa Class Bersama Naval Group
Menhan RI Tinjau Progres Produksi dan Modernisasi Alutsista di PTDI
28 Oktober 2026
Kunjungan kerja Menhan RI ke PT DI di Bandung (photos: PT DI)Bandung – Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakil Menteri Pertahanan Bidang Logistik, Industri Pertahanan & Teknologi, Marsekal TNI Yusuf Jauhari, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Letjen TNI Gabriel Lema, serta Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan RI, Laksda TNI Sri Yanto, beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI). Rombongan diterima langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi, Wakil Komisaris Utama PTDI, Marsdya TNI (Purn.) Bagus Puruhito, Komisaris PTDI, Yusron Ihza, serta jajaran manajemen PTDI di Hanggar Final Assembly Line (FAL) Fixed Wing PTDI, Bandung.
Pada kesempatan ini, Menhan RI meninjau langsung perkembangan sejumlah program Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang tengah dikerjakan PTDI, meliputi program produksi, peningkatan sistem misi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat. Menhan RI dan rombongan mengawali kunjungannya dengan peninjauan pekerjaan upgrade mission system terhadap pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) milik TNI AL. Selanjutnya, Menhan RI juga meninjau proses produksi pesawat CN235-220 Military Transport (serial number N71) untuk end user TNI AL yang ditargetkan selesai pada awal tahun 2027.
Agenda peninjauan berlanjut ke program modernisasi pesawat C-130 TNI Angkatan Udara (AU), serta pekerjaan rekondisi struktur dan pemeliharaan & perawatan (Harwat) 2 unit pesawat NC212-200 milik TNI AL. Dalam kesempatan yang sama, Menhan RI juga meninjau pekerjaan Service Life Extension Program (SLEP) dan avionics upgrade terhadap 3 unit pesawat CN235-100 milik Uni Emirat Arab (UAE Air Force) yang ditargetkan seluruhnya selesai pada akhir tahun 2027. Pekerjaan ini mencerminkan kapabilitas PTDI dalam memperpanjang usia pakai pesawat sekaligus meningkatkan kemampuan sistem avioniknya melalui program peningkatan dan modernisasi pesawat. Rangkaian peninjauan diakhiri di Hanggar FAL N219.
Kunjungan ini menegaskan peran strategis PTDI dalam mendukung pelaksanaan program Kemhan RI melalui pengembangan kapabilitas produksi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat militer. Berbagai program yang tengah berjalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri kedirgantaraan nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista Indonesia, sekaligus mewujudkan kemandirian pertahanan nasional.
(PT DI)
27 Oktober 2026
Government Arsenal Menargetkan Produksi Amunisi Jenis 'Crew-served Weapons'
25 Oktober 2026
PT Barata Indonesia (Persero) dan PT DAHANA Jajaki Potensi Kerja Sama Pemenuhan Peralatan Industri Strategis
Pesawat N219 Pesanan Kemhan untuk TNI AD Akan Terbang Perdana Desember 2026
25 Oktober 2026
Salah satu pesawat N219 yang dipajang di hanggar Final Assembly Line PTDI (photo: TribunNews)
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI memesan enam unit pesawat produksi anak bangsa buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yakni N219 untuk TNI Angkatan Darat.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan mengungkapkan rencananya pesawat tersebut akan terbang perdana pada Desember 2026.
Rencananya, kata dia, pesawat itu akan mulai diserahterimakan ke TNI AD pada Februari 2027.
Hal itu diungkapkannya dalam kegiatan Eksplorasi Industri Pertahanan yang digelar Biro Infohan Setjen Kemhan.
"Insyaallah di Desember (2026) ini untuk Angkatan Darat enam buah kita akan first flight (terbang perdana) dan mungkin delivery-nya (diserahterimakan) di Februari (2027)," ujar Gita saat ditemui di hanggar Final Assembly Line PTDI, Bandung, Jawa Barat pada Senin (20/10/2026).
Dia menjelaskan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pesawat tersebut mencapai 44,69 persen.
Pesawat tersebut mampu mengangkut 19 penumpang.
Kelebihannya, ujar Gita, pesawat itu mampu lepas landas dalam jarak sekira 600 sampai 800 meter tanpa diaspal.
Dia juga menjelaskan sertifikasi N219 untuk militer dikeluarkan oleh Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) atau Otoritas Kelaikudaraan Militer Indonesia.
Sementara sertifikasi N219 untuk kebutuhan komersil dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan.
Selain itu, N219 untuk militer juga akan disesuaikan penyesuaian dengan kebutuhan militer.
Ia mencontohkan diantaranya terkait pintu penumpang.
"Jadi nanti akan ada penyesuaian, akan ada syarat khusus dari pelanggan untuk tugas-tugas khusus. Misalnya untuk penerjunan. Nah ini yang nanti dalam perkembangannya akan kita sesuaikan. Itu yang nanti akan membedakan military (dengan komersil), tapi basic-nya ini adalah sama, ya," pungkasnya.
24 Oktober 2026
National Reconstruction Fund Invests $245 million in Australian Shipbuilder Austal Limited to Help Strengthen Country’s Military Shipbuilding Capabilities
Hasil Sea Trial KD Maharaja Lela Dapat Mencapai Kecepatan 27,5 Knot
23 Oktober 2026
Contract Signing for the Procurement of Support Vehicles for Self-Propelled Howitzer Systems Between Chaiseri/TDI and SHAFLEENA (Malaysia)
22 Oktober 2026
Infoglobal dan Terafulk Jajaki Kolaborasi Pengembangan Naval Systems
21 Oktober 2026
Launch of Two River Tugs for the Vietnamese Engineer Corps
PT Len Targetkan Instalasi 13 Radar GCI Rampung Pada 2027
Radar GCI GM 400 TNI AU (photos: LEN)
Bandung (ANTARA) - PT Len Industri (Persero) menargetkan instalasi 13 unit radar ground control intercept (GCI) yang akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan udara nasional, selesai pada 2027.
“Khusus radar sedang berjalan … [targetnya] tahun depan,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri Dwi Sulistiani di Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Ia menjelaskan sejauh ini instalasi radar telah rampung di dua lokasi. “Ini memang mendukung pertahanan di kawasan timur, khususnya, yang notabene ini menjadi fokus dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.
Menurut dia, tantangan aktivasi radar tidak hanya berkaitan dengan perangkat dan teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung meliputi fasilitas operasional bagi prajurit, tempat tinggal, fasilitas pemantauan, serta ruang kendali operasi.
Namun Dwi menilai bahwa dalam pelaksanaannya, holding industri pertahanan Indonesia (Defend ID) itu mendapat dukungan Kementerian Pertahanan serta pemangku kepentingan lain, termasuk pemerintah daerah.
“Di dalam aktivasi radar ini tentunya harus bisa komunikasi, minimal di lingkup matra udara itu sudah. Tantangannya memang kita harus menuntaskan dengan matra yang lain, salah satunya laut,” ujarnya.
Radar GCI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Perancis. GCI tercatat menjadi radar dengan jangkauan terjauh di Indonesia, yakni lebih dari 400 kilometer.
Radar itu disebut memiliki kemampuan mendeteksi, mengukur jarak, dan mengidentifikasi objek pesawat dengan keakuratan tinggi serta dilengkapi kemampuan mengidentifikasi objek yang menjadi kawan maupun lawan/musuh atau identification friend or foe (IFF).
Pada Juli lalu, PT Len memperkenalkan implementasi radar GCI generasi terkini pertama di Indonesia yang dipasang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kemampuan deteksi jarak jauh tercatat mencapai radius 515 kilometer.






























