Tampilkan postingan dengan label MALAYSIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MALAYSIA. Tampilkan semua postingan

05 September 2026

G7 Aerospace Kunjungi Infoglobal, Bahas Penguatan Kolaborasi Avionik

05 September 2026

G7 Aerospace Malaysia kunjungi Infoglobal di Surabaya (photos: Infoglobal)

Infoglobal menerima kunjungan G7 Aerospace untuk membahas peluang penguatan kolaborasi di bidang avionik.

Kunjungan ini meliputi diskusi peluang kerja sama jangka pendek, menengah, dan panjang, facility tour dan pemaparan teknologi yang dikembangkan Infoglobal, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan solusi avionik yang andal dan berkelanjutan di Asia Tenggara.


Agenda dilanjutkan dengan kunjungan fasilitas dan pemaparan teknologi yang sedang dikembangkan Infoglobal. Melalui pertemuan ini, kedua pihak diharapkan dapat memperkuat sinergi dan mengidentifikasi langkah-langkah kerjasama yang kongkret dalam mendukung ketersediaan, keandalan dan pengembangan sistem avionik pada masa mendatang. Infoglobal berkomitmen untuk terus membangun kolaborasi strategis dengan mitra industri dalam menghadirkan solusi avionik yang andal, relevan dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat rantai pasok avionik di Asia Tenggara.

03 September 2026

263 Unit TEDUNG dan KALA akan Diserahkan kepada ATM

03 September 2026

Tedung HMV (photo: Agrale)

KUALA LUMPUR – Angkatan Bersenjata Malaysia (ATM) akan menerima 263 unit aset mobilitas tinggi baru, yang mencakup TEDUNG dan KALA, dengan nilai total RM164,91 juta untuk memperkuat kemampuan pergerakan taktis dan pengintaian di berbagai medan operasi.

Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin, meluncurkan aset-aset tersebut setelah meresmikan Upacara Peluncuran Bulan Kebangsaan dan Pengibaran Jalur Gemilang 2026 tingkat Kementerian Pertahanan di Dataran Wisma Pertahanan, hari ini.

TEDUNG adalah platform Kendaraan Mobilitas Tinggi (High Mobility Vehicle) berbasis Agrale Marruá AM250 Double Cab yang dikembangkan untuk menawarkan ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan manuver di berbagai lingkungan operasi.

Sebanyak 163 unit TEDUNG akan dipasok, yang terdiri dari 80 unit Kendaraan Pembawa Senjata (KPS) AGL dan 83 unit KPS HMG, dengan total nilai kontrak sebesar RM92,91 juta.
TEDUNG ditenagai oleh mesin diesel Cummins F3.8 Intercooled Turbo yang menghasilkan tenaga maksimum 170 cv (125 kW) dan torsi 600 Nm, serta dilengkapi dengan sistem penggerak 4×4 *full-time*. Kendaraan ini juga memiliki jarak terendah ke tanah (*ground clearance*) sebesar 350 milimeter, sudut datang (*approach angle*) 58 derajat, dan kemampuan menanjak hingga 60 persen di jalan beraspal serta 40 persen di medan *off-road* (lintas alam).

Kala HMV (photo: Agrale)

Sementara itu, KALA adalah Kendaraan Pengintai Mobilitas Tinggi (*High Mobility Reconnaissance Vehicle* atau HMRV) yang dikembangkan untuk memberikan mobilitas taktis, kelincahan, dan kemampuan melintasi berbagai medan guna mendukung beragam kebutuhan operasi.

Sebanyak 100 unit KALA akan dipasok melalui kontrak senilai RM72 juta. KALA ditenagai oleh mesin Rotax 900cc ACE *Turbocharged* dengan tenaga hingga 200 HP serta dilengkapi dengan sistem penggerak 2WD/4WD, pengunci diferensial depan, dan suspensi khusus medan *off-road*. KALA juga memiliki jarak bebas ke tanah (*ground clearance*) sebesar 330 milimeter dan mampu melintasi genangan air sedalam 500 milimeter, mengatasi rintangan vertikal setinggi 300 milimeter, serta melintasi parit selebar 500 milimeter. Kendaraan ini memiliki kapasitas untuk mengangkut seorang pengemudi dan tiga orang awak lengkap.

Pengadaan kedua aset ini juga memungkinkan TEDUNG dikonfigurasi ke dalam berbagai varian sesuai kebutuhan misi, termasuk KPS, *Fitted for Radio* (FFR), Kendaraan Penarik Meriam (KPM), dan Kendaraan Komando.

Langkah ini mencerminkan upaya berkelanjutan ATM untuk memperkuat kemampuan dan kesiapan aset guna memenuhi kebutuhan operasional saat ini maupun di masa depan. 

(ATM)

29 Agustus 2026

Kapal LCS Keempat akan Diluncurkan pada Januari 2027

29 Agustus 2026

Progres kapal LCS keempat pada Januari lalu (photo: LUNAS)

Lumut Naval Shipyard (LUNAS) milik Malaysia berencana meluncurkan kapal tempur pesisir (*littoral combat ship*/LCS) kelas Maharaja Lela keempat pada Januari 2027—sebuah tonggak pencapaian yang mengindikasikan bahwa program yang sempat tertunda lama ini tetap berjalan sesuai jadwal revisi terbaru.


Rencana peluncuran pada Januari 2027 ini menyusul serangkaian pencapaian penting yang diraih pada tahun 2026, termasuk peluncuran kapal ketiga (calon KD Sharif Mashor) pada bulan Februari, serta dimulainya uji coba laut (*sea trials*) oleh kapal pertama (calon KD Maharaja Lela) pada awal tahun yang sama.


Program LCS Malaysia ini mengadopsi desain dasar Gowind dari Naval Group dan menjadi elemen kunci dalam upaya modernisasi armada permukaan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (RMN).


Kapal ini memiliki panjang keseluruhan sekitar 111 meter dengan bobot benaman (*displacement*) sekitar 3.000 ton pada muatan standar.


Persenjataan yang melengkapi kapal ini meliputi rudal pertahanan udara MBDA VL MICA, meriam laut BAE Systems 57 mm Mk 3, meriam MSI-Defence Seahawk 30 mm, serta peluncur torpedo tiga tabung J+S 324 mm.


Awalnya, kapal-kapal ini direncanakan untuk dipersenjatai dengan rudal Naval Strike Missile buatan Kongsberg, namun rencana tersebut terdampak oleh peraturan pengendalian ekspor terbaru dari Norwegia.


Perangkat sensor kapal ini mencakup radar Thales SMART-S Mk 2, sistem kendali tembakan Rheinmetall TMEO Mk 2 TMX/EO, serta sonar frekuensi rendah dengan kedalaman variabel Thales Captas-2 untuk operasi peperangan anti-kapal selam.


(Jane's)

27 Agustus 2026

MOF Tinjau Tadbir Urus dan Kesiapsiagaan Aset Su-30MKM di Gong Kedak

27 Agustus 2026

Rudal udara-ke-udara, rudal anti radiasi dan rudal anti kapal yang melengkapi Su-30MKM (photo: TUDM)

GONG KEDAK - Pengurusan aset, alat ganti serta tahap kesiapsiagaan pesawat Su-30MKM menjadi fokus lawatan pemantauan Bahagian Pengurusan Aset Awam (PAM), Kementerian Kewangan (MOF) ke Pangkalan Udara Gong Kedak.

Pemantauan dilaksanakan bagi menilai aspek tadbir urus, pengurusan dan penyelenggaraan aset agar terus mematuhi dasar serta tatacara pengurusan aset Kerajaan yang berkuat kuasa. Lawatan ini juga memberi peluang kepada MOF untuk melihat secara langsung peranan aset TUDM dalam mendukung keupayaan pertahanan udara serta menjaga keselamatan dan kedaulatan negara.

Delegasi seramai 20 orang pegawai itu diketuai oleh Setiausaha Bahagian Pengurusan Aset Awam, YBhg. Datuk Alan bin Abdul Rahim serta melibatkan wakil Bahagian Perolehan Kerajaan (BPK) dan Pejabat Belanjawan Negara (NBO).

Lawatan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Kementerian Pertahanan (MINDEF), YBhg. Datin Roszanina binti Wahab bersama Timbalan Setiausaha Bahagian Kewangan, Puan Mas Sakdah binti Kamaruzzaman dan Ketua Penolong Setiausaha Cawangan Pengurusan Aset, Encik Zul Azri bin Abdullah.

TUDM pula diwakili oleh Panglima Operasi Udara, Leftenan Jeneral Dato’ Masro bin Kaliwon TUDM, Panglima Bantuan Udara, Mejar Jeneral Dato’ Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM dan Asisten Ketua Staf Materiel, Brigedier Jeneral Norizan binti Wahab TUDM.

Ketibaan delegasi telah disambut oleh Komander Pangkalan Udara Gong Kedak, Kolonel Hasfa Nyzam bin Abdul Hamid TUDM bersama Pegawai Eksekutif Pangkalan.

Selepas menerima taklimat ringkas mengenai pengoperasian pangkalan, delegasi dibawa meninjau pesawat Su-30MKM di Tactical Shelter No. 12 Skn dan Sistem Misil di Terminal Peluru 4.

Delegasi turut meninjau kemudahan Automated Storage and Retrieval System (ASRS) di MATRA 3 yang digunakan bagi pengurusan alat ganti serta Pusat Simulator Su-30MKM.

Tinjauan secara langsung ini memperkukuh kefahaman bersama antara MOF, MINDEF dan TUDM mengenai keperluan pengurusan aset pertahanan, sekali gus memastikan aset strategik negara diurus secara berkesan, berintegriti dan sentiasa berada pada tahap kesiapsiagaan yang optimum.

18 Agustus 2026

Australian Army Tigers ARH in Malaysia for Exercise Keris Strike 26

18 Agustus 2026

Australian Army Tiger ARH pilots from 1st Aviation Regiment prepare for a flying mission during Exercise Keris Strike 26 in Sabah, Malaysia (photos: Aus DoD)

Tigers show their stripes in Malaysia
Members of Task Unit Marlin and 2/30 Training Group contributed aviation and ground-based capabilities respectively to Exercise Keris Strike for three weeks in July.

The annual multilateral army exercise comprised units and assets from Malaysia, the United States and Australia.

CO 2/30 Training Group Lt-Col Adam Seary has seen the exercise grow from a modest infantry contribution as part of the Rifle Company Butterworth (RCB) rotations, to the deployment of a combined arms regional combat team.

This year it was supported by an aviation unit of armed reconnaissance helicopters.


“This year we're very pleased to have the opportunity to return to Kota Belud with a more capable and credible infantry combat team, augmented with attack aviation elements from Aviation Command,” Lt-Col Seary said.

Maj Rhys Davies, of 1st Aviation Regiment, led Task Unit Marlin, which largely comprised of members from 162 Reconnaissance Squadron out of Darwin.

“The ARH Tiger can perform offensive air support reconnaissance roles, and escort roles – it’s a pretty versatile aircraft,” Maj Davies said.

“The reason we brought Tigers to Keris Strike is to fit into a larger aviation task force.”


The task force was led by the US Army’s 2nd Combat Aviation Brigade, which brought UH-60M Black Hawks and HH-60M medevac helicopters.

US Lt-Col Mike Poling, Cmdr of Task Force Nightcard, said the Black Hawk as their all-utility mover of equipment and personnel.

“It is the most proliferated helicopter in the United States Army, and it can do a wide range of things – from air assault to standard movement of cargo,” Lt-Col Poling said.

“We also have specially outfitted medevac helicopters.


“Combined rehearsals are just an invaluable way to see those tactics, techniques and procedures brought together in real life.”

Exercising in this region also exposed the US and Australian participants to a more challenging battlespace.

'Being able to come out to exercise the live-fire, for example, is not something we would normally be able to do back home.'


Brig. Gen. Karin Watson, Adjutant General Guam National Guard
On a visit to her troops, Adjutant General of the Guam National Guard Brig. Gen. Karin Watson said it was a great opportunity for them to do what they normally did – in a garrison environment – in a field environment at a much larger scale.

“One of the challenges that we have in Guam is space and land,” Brig. Gen. Watson said.

“Being able to come out to exercise the live-fire, for example, is not something we would normally be able to do back home.


“Being able to come out here and really hone our skills in an austere environment – that maybe work on a tactical level and bring it up to a more collective level – pays huge dividends for us.”

The exercise also engendered cohesion building.

“Working with the Malaysians has been fantastic. Malaysian Army, and not to mention the Malaysian civilian organisations, have provided a great deal of assistance throughout the exercise,” Maj Davies said.

“We are continuing to develop the coalition relationship we have with the US Army as well. Working with them is very smooth, just like plugging in and getting on with the job.”
 
Director Malaysian Army Aviation Brigadier General Mohd Zaki bin Abu visits Australian Army personnel to tour the Tiger ARH during Exercise Keris Strike in Sabah, Malaysia (photo: Aus DoD)

Lt-Col Poling concurred.

“Just through shared hardships we naturally form friendships, which ultimately on the battlefield or through humanitarian relief will pay dividends if we ever were called on in a real-world scenario,” he said.

The exercise culminated with a live-fire demonstration, comprising infantry and artillery live-fire on the ground, and a live-fire and flight from the Black Hawks and Tigers in the air. 


15 Agustus 2026

APMM Terima Helikopter AW-189 Pertamanya

15 Agustus 2026
 
APMM total akan menerima empat AW189 medium lift helicopter (infographic: APMM)

Penerimaan AW189 perkukuh keupayaan Maritim Malaysia jaga kseselamatan kedaulatan perairan negara
SUBANG – Menteri Dalam Negeri, YB Datuk Seri Saifuddin Nasution, hari ini menyempurnakan Majlis Penerimaan Helikopter AW189 Maritim Malaysia, menandakan penerimaan helikopter pertama daripada empat buah helikopter Medium Lift AW189 yang diperoleh Kerajaan bagi memperkukuh keupayaan udara Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia).

Majlis tersebut menjadi satu lagi langkah penting dalam usaha Kerajaan MADANI memodenkan aset keselamatan negara serta memperkukuh keupayaan Maritim Malaysia dalam melaksanakan penguatkuasaan, pengawasan udara, operasi mencari dan menyelamat (CARILAMAT), MEDEVAC dan operasi khas.

Dalam ucapan pada majlis berkenaan, Menteri Dalam Negeri berkata penerimaan AW189 bukan sekadar penambahan aset kepada armada Maritim Malaysia, tetapi mencerminkan iltizam Kerajaan untuk memastikan keselamatan rakyat, kedaulatan negara dan kepentingan nasional sentiasa terpelihara.

“Pelaburan dalam keselamatan merupakan pelaburan strategik bagi mempertahankan kedaulatan, melindungi rakyat serta menyokong kestabilan dan kemakmuran ekonomi negara.” Beliau berkata, Malaysia sebagai sebuah negara maritim dengan keluasan Zon Maritim Malaysia mencecah 556,285 kilometer persegi memerlukan keupayaan pengawasan dan tindak balas yang pantas bagi menghadapi cabaran keselamatan maritim yang semakin kompleks.

Helikopter AW189 pertama APMM (photo: APMM)

Helikopter AW189 mempunyai jarak operasi sehingga 1,166 kilometer, kelajuan maksimum 313 kilometer sejam dan endurance sehingga lima jam, serta mampu beroperasi siang dan malam dalam pelbagai keadaan cuaca. Dikendalikan oleh lima kru dan mampu membawa sehingga 14 penumpang, aset berkenaan memberikan keupayaan dan fleksibiliti lebih tinggi, khususnya bagi operasi di perairan yang jauh dari pesisir.

Menurut Menteri Dalam Negeri, keupayaan tersebut amat penting dalam operasi CARILAMAT kerana setiap minit amat berharga dalam usaha menyelamatkan nyawa di laut. Penerimaan empat buah AW189 ini merupakan sebahagian daripada usaha berterusan Kerajaan memodenkan aset udara Maritim Malaysia agar kekal relevan dengan keperluan operasi semasa.

Sehingga 24 Julai 2026, Maritim Malaysia telah melaksanakan 116,192 pemeriksaan, 26,253 penggeledahan dan 562 tangkapan, dengan nilai rampasan melebihi RM4.38 bilion. Bagi operasi CARILAMAT pula, sebanyak 129 kes melibatkan 638 mangsa telah dilaksanakan.
Perolehan empat buah AW189 diluluskan melalui Rolling Plan Keempat (RP4), Rancangan Malaysia Kesebelas (RMKe-11) dengan tempoh kontrak dari 19 Januari 2024 hingga 18 Januari 2029.

Menteri Dalam Negeri berkata peningkatan keupayaan aset ini akan memberi manfaat kepada nelayan, komuniti maritim, industri perkapalan, sektor pelancongan serta semua pengguna perairan negara melalui peningkatan tahap keselamatan dan keupayaan tindak balas terhadap kecemasan di laut.

Beliau turut merakamkan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam menjayakan proses perolehan, penghantaran, penerimaan dan pengoperasian helikopter AW189 Maritim Malaysia.

“Aset boleh dibeli, teknologi boleh diperoleh tetapi yang menentukan kejayaan sesebuah organisasi ialah profesionalisme, integriti dan semangat juang warganya.” Penerimaan AW189 ini diharap dapat terus memperkukuh Maritim Malaysia sebagai benteng hadapan negara dalam memastikan keselamatan perairan, menyelamatkan nyawa serta mempertahankan kedaulatan Malaysia di lautan.

10 Agustus 2026

Kapal Ketiga LMS Batch 2 Tunku Osman Jewa Diluncurkan

10 Agustus 2026

Seremoni peluncuran LMS Batch 2 kapal ketiga KD Tunku Osman Jewa 143 (photos: TLDM)

ISTANBUL - Industri pertahanan dan ketenteraan maritim negara melakar satu lagi pencapaian bersejarah hari ini dengan terlaksananya Majlis Penamaan dan Pelancaran kapal ketiga Littoral Mission Ship Batch 2 (LMSB2) bagi Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM). 

Majlis penuh tradisi ketenteraan ini telah berlangsung di Istanbul Shipyard, TĂĽrkiye dengan disaksikan oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Sultan Kedah, Al Aminul Karim Sultan Sallehuddin Ibni Almarhum Sultan Badlishah, dan disempurnakan oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Sultanah Kedah, Sultanah Maliha binti Almarhum Tengku Ariff selaku Royal Sponsor. Kerabat diraja Negeri Kedah turut berangkat mengiringi baginda berdua.

Delegasi Kementerian Pertahanan pula diketuai oleh Panglima Angkatan Tentera, Jeneral Tan Sri Dato’ Seri Haji Malek Razak bin Sulaiman, dan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Datin Roszanina binti Wahab dan Timbalan Panglima Tentera Laut, Laksamana Madya Datuk Ts. Badarudin bin Taha mewakili Panglima Tentera Laut.


Kapal perang moden ketiga dalam siri LMSB2 ini secara rasminya dinamakan sebagai "TUNKU OSMAN JEWA" dengan nombor pennant 143. Penamaan ini merupakan penghormatan tertinggi negara bagi mengenang jasa serta mengabadikan legasi Almarhum Jeneral Tan Sri Tunku Osman bin Tunku Mohammad Jewa, seorang kerabat diraja Kedah dan merupakan Panglima Angkatan Tentera pertama yang dilantik di kalangan anak watan.

Upacara bersejarah pada hari ini melengkapkan tiga siri pelancaran bagi kapal LMSB2 di Istanbul Shipyard. Kemuncak pelancaran kapal ketiga ini menyaksikan ketiga-tiga aset tempur strategik tersebut iaitu TUNKU LAKSAMANA ABDUL JALIL (141), RAJA LAUT (142), dan TUNKU OSMAN JEWA (143) kini bersedia sepenuhnya untuk melangkah ke fasa seterusnya secara serentak.

Kesemua kapal ini akan mula menjalani fasa integrasi sistem penderia, pemasangan sistem peperangan dan persenjataan moden, serta melalui siri penilaian ujian pelabuhan (Harbour Acceptance Trials) dan ujian laut (Sea Acceptance Trials). Momentum pembinaan mengikut jadual ini meletakkan ketiga-tiga kapal ini berada pada landasan yang tepat untuk diserahkan secara rasmi kepada TLDM pada penghujung tahun hadapan.

08 Agustus 2026

Lembing Sakti 2026 Bermula: Kesiagaan dan Kecekapan Warga Briged Artileri Roket Diuji

08 Agustus 2026

Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 (all photos: TDM)

GEMAS – Panglima Briged Artileri Roket, Brig Jen Dato’ Mohd Tawil bin Haji Daud telah menyempurnakan Upacara Pembukaan Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 yang berlangsung mulai 1 hingga 6 Ogos 2026. Upacara tersebut telah diadakan di perkarangan Garaj B Bateri, Rejimen Ke-51 Artileri Diraja (51 RAD). Perbarisan yang melibatkan seramai 28 pegawai dan 200 anggota Lain-lain Pangkat (LLP) telah diketuai oleh Mej Mohamad Yusri bin Maliki, Penolong Pegawai Memerintah 51 RAD.


Upacara diteruskan dengan pemakaian toha kepada barisan kepimpinan dan pegawai utama eksesais, melibatkan Lt Kol Hanasrul Imran bin Ghazali sebagai Pengarah Eksesais/Pelaku; Lt Kol Affandi bin Hussain sebagai Exercise Controller (EXCON); Lt Kol Eugene Gnanaratchagar Gnanakkan sebagai Ketua Tim Keselamatan; Lt Kol Yunos bin Abu Bakar sebagai Ketua Real Life Support (RLS); Mej Mohamad Yusri bin Maliki sebagai Ketua Tim Staff Planning Exercise (SPE) dan Mej Faizan bin Mohd Sapri sebagai Ketua Tim Evaluasi.


Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 merupakan latihan tembakan Sistem Roket Lancar Berganda (SRLB) ASTROS II serta pengoperasian aset FLYEYE UAS oleh Trup Pesawat Tanpa Pemandu. Eksesais ini bertujuan menguji dan menilai tahap kesiagaan, kecekapan serta kompetensi anggota dalam pengendalian sistem berkenaan berpandukan Sistem Latihan dan Penilaian Tentera Darat (ARTEP).


Dalam ucapan pembukaannya, Panglima Briged Artileri Roket menekankan aspek Force Protection dengan mengingatkan seluruh peserta agar sentiasa mengutamakan keselamatan diri, anggota dan peralatan sepanjang eksesais berlangsung. Beliau turut menyeru semua peserta supaya mengekalkan sikap profesional, saling membantu serta memanfaatkan peluang yang tersedia untuk bertukar ilmu, pengalaman dan Taktik, Teknik dan Prosedur (TTP).


Seusai upacara pembukaan, Panglima Briged Artileri Roket menghadiri sesi penyampaian Perintah Pegawai Memerintah, Perintah Ketua Bateri dan Perintah Trup Pesawat Tanpa Pemandu yang diadakan di garaj. Sesi tersebut bertujuan menilai tahap kesiagaan setiap elemen serta memastikan semua perancangan, penyelarasan dan persiapan akhir telah dilaksanakan dengan teratur sebelum memasuki fasa utama eksesais.

(TDM)

05 Agustus 2026

Thai Navy and Malaysian Navy Hold Joint Thai-Malaysian Patrol

05 Agustus 2026

HTMS Thayan Chon (FS-532) (photo: RTN)

The Royal Thai Navy Area 2 dispatched HTMS Thayan Chon to participate in a joint Thai-Malaysian patrol to enhance maritime border security.

HTMS Thayan Chon (FS-532) joined a joint patrol between the Royal Thai Navy and the Royal Malaysian Navy in the maritime border area between Narathiwat and Kelantan. The Royal Malaysian Navy also participated with KD Sri Sabah (46). This operation falls under the ongoing cooperation framework between the two navies to strengthen security, safety, and good relations along the maritime border.

KD Sri Sabah 46, patrol vessel (photo: RMN)

The objectives of this joint patrol were to enhance security and safety in the maritime border area, prevent and suppress illegal maritime activities, and develop cooperation in security, information exchange, and coordination between the two navies. The patrol also included training exercises such as a Communication Exercise (COMEX), a Maneuvering Exercise (MANEX), and a Plotting Exercise (PLOTEX) to improve readiness, familiarity with procedures, and enhance the effectiveness of joint operations between the two navies. 

The Thai-Malaysian joint patrol is a crucial mechanism for strengthening maritime security cooperation. This reflects the commitment of both countries to jointly maintain peace and order, protect maritime interests, and create stability in maritime border areas for the mutual benefit of their people and the sustainable security of the region.

31 Juli 2026

Menhan Khaled Nordin Kunjungi KETECH Asia, Perkukuh Industri Tempatan

31 Juli 22026

Kunjungan Khaled Nordin ke KETECH Asia di Pahang (photos: Khaled Nordin)

Mengadakan lawatan industri ke kilang peluru KETECH Asia Sdn Bhd di Kuala Lipis, Pahang. KETECH Asia merupakan syarikat pengeluar peluru tempatan yang dapat memenuhi keperluan peluru negara, sekali gus mengurangkan kebergantungan kepada import dan menjimatkan perbelanjaan negara bagi perolehan peluru.


KETECH Asia kini mengeluarkan peluru berkaliber 5.56mm dan 9mm yang memenuhi piawaian global berasaskan standard NATO.


Satu lagi kejayaan usaha membangunkan indastri pertahanan negara.

29 Juli 2026

TUDM Perkuat Intermediate Level Maintenance (ILM) Support FA-50M Melalui Perjanjian STIA dengan KAI

29 Juli 2026

Penandatanganan ILM Support bagi FA-50M TUDM (photo: TUDM)

KUALA LUMPUR – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dan Korea Aerospace Industries (KAI) telah melangsungkan Majlis Menandatangani Second Tier ICP Agreement (STIA) bagi Project No. 1: FA-50M Intermediate Level Maintenance (ILM) Support bertempat di Hotel Ritz-Carlton, Kuala Lumpur.

Majlis tersebut telah disempurnakan oleh Asisten Ketua Staf Kejuruteraan, Mej Jen Muhd Aznor bin Hj Md Ghazali TUDM, yang mewakili TUDM, bersama Mr. Jo Hyunjun, Director and Head of Asia Marketing, yang mewakili Syarikat KAI.

Turut hadir ialah Timbalan Asisten Ketua Staf Perancangan dan Pembangunan, Brig Jen Mohd Faizal bin Abu Bakar TUDM; Pengarah Materiel, Kol Ramli bin Hj Endut TUDM; Pengarah Pembangunan Kejuruteraan, Lt Kol Saiful Nubli bin Abdul Ghani TUDM; KPSU Unit ICP Darat/Udara Bahagian Industri Pertahanan (BIP), Lt Kol Mohamad Saifuddin bin Surip TUDM; serta Mr. Michael Park, Malaysia ICP Team Leader dari KAI.

Majlis menandatangani STIA ini merupakan salah satu inisiatif di bawah Industrial Collaboration Program (ICP) bagi kontrak perolehan pesawat FA-50M bersama Syarikat KAI. Objektif utama pelaksanaan ICP ini adalah untuk membangunkan keupayaan Intermediate Level Maintenance (ILM) secara in house di Cawangan Kejuruteraan Pangkalan Udara Kuantan.

M58-01, pesawat FA-50M TUDM yang pertama (photo: TUDM)

Melalui inisiatif ini, TUDM akan diperkasakan dengan keupayaan menyelenggara empat sistem utama pesawat yang merangkumi wheel and brake system, gun system, alternate mission equipment (AME) dan avionics system. Kesemua keupayaan tersebut dijangka mula beroperasi sepenuhnya sebelum ketibaan pesawat FA-50M pada Oktober nanti.

Dalam ucapannya, Mr. Jo Hyunjun menzahirkan komitmen penuh KAI untuk memastikan program ini mencapai objektif yang telah ditetapkan. Beliau turut menegaskan bahawa syarikat KAI akan terus memberikan sokongan teknikal secara berterusan bagi memastikan pengoperasian pesawat FA-50M dapat dilaksanakan secara optimum.

Sementara itu, Asisten Ketua Staf Kejuruteraan menegaskan bahawa pemeteraian Second Tier ICP Agreement (STIA) ini bukan sekadar satu dokumentasi, malah merupakan manifestasi kepada perkongsian strategik yang kukuh antara TUDM dan KAI. Beliau turut menyatakan bahawa pembangunan keupayaan penyelenggaraan secara dalaman merupakan langkah proaktif TUDM ke arah self reliance dalam aspek penyelenggaraan aset.

Secara keseluruhannya, pelaksanaan Industrial Collaboration Program (ICP) ini dijangka mampu mengurangkan kebergantungan TUDM terhadap perkhidmatan luar bagi kerja-kerja penyelenggaraan. Langkah strategik ini bukan sahaja akan menjimatkan masa pembaikan sistem, malah memastikan rantaian logistik yang lebih efisien serta meningkatkan kesiagaan aset pertahanan negara, selaras dengan aspirasi Pelan Pembangunan Keupayaan TUDM 2055 (CAP55).

28 Juli 2026

Pengadaan Jembatan Taktis untuk TDM Berjalan Sesuai Jadwal, Diperkirakan Diterima 2028

28 Juli 2026

Sistem Jembatan Taktis Tentera Darat Malaysia (TDM) (photo: AirTimes)

Kementerian Pertahanan telah mengumumkan bahwa pengadaan Sistem Jembatan Taktis untuk Tentera Darat Malaysia (TDM) sedang dilaksanakan sesuai jadwal, dengan aset tersebut diharapkan diterima pada April 2028.

Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin mengatakan proyek ini termasuk dalam pengadaan yang disetujui di bawah Rencana Pembangunan Berkelanjutan Keempat (RP4), Rencana Malaysia Kedua Belas (Rencana Malaysia ke-12) Tahun 2024 dengan alokasi maksimal sebesar RM280 juta.

25 Juli 2026

Kemhan Malaysia Tanda-tangani LOA untuk Sistem Rudal SAM bagi Kapal LCS

25 Juli 2026

Kementerian Pertahanan Malaysia bersama MBDA Prancis lakukan penanda-tanganan Letter of Acceptance (photo: MBDA)

KSU Tanda-tangani Surat Setuju Terima (SST) Bersama MBDA France Sempena Farnborough International Airshow (FIA) 2026
UNITED KINGDOM – Ketua Setiausaha Kementerian Pertahanan, YBhg. Datuk Lokman Hakim Ali menandatangani Surat Setuju Terima (SST) bersama MBDA France sempena Farnborough International Airshow (FIA) 2026.

Sistem rudal SAM VL Mica bagi kapal LCS Maharaja class (photo: MBDA)

SST tersebut melibatkan perolehan sistem peluru berpandu permukaan ke udara (Surface-to-Air Missile – SAM) bagi melengkapkan keupayaan persenjataan Littoral Combat Ship (LCS) Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM).

Kapal LCS Maharaja class (photo: LUNAS)

Perolehan ini juga merupakan kontrak pelengkap penting bagi projek LCS untuk memastikan kapal berkenaan memiliki keupayaan pertahanan udara yang memenuhi keperluan operasi TLDM. Pemeteraian SST ini mencerminkan komitmen berterusan Kerajaan dalam memperkukuh keupayaan strategik pertahanan maritim negara bagi mendepani cabaran dengan geopolitik semasa. 

19 Juli 2026

Pesawat Pejuang TUDM dan TNI-AU Laksana Rondaan Udara Bersama Menerusi Patkor Malindo Siri 1/26

19 Juli 2026

Patkor Malindo Siri 1/26 (photos: TUDM)

KUANTAN – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) melaksanakan Patroli Terkoordinasi (PATKOR) MALINDO Siri 1/26 bersama Tentera Nasional Indonesia – Angkatan Udara (TNI-AU) di ruang udara Selat Melaka.

Operasi siri pertama bagi tahun 2026 ini dilaksanakan bagi meningkatkan tahap pemantauan bersama dan kesiagaan operasi kedua-dua angkatan udara di kawasan strategik persempadanan Selat Melaka. Pelaksanaannya turut menjadi platform penting dalam memperkukuh kerjasama dua hala secara lebih bersepadu dan strategik, sekali gus terus mengeratkan hubungan diplomasi pertahanan yang telah lama terjalin antara Malaysia dan Indonesia.


Rondaan udara bersama ini juga berperanan sebagai Show of Presence yang menzahirkan komitmen teguh kedua-dua negara terhadap pemeliharaan keamanan, kedaulatan dan integriti ruang udara di perairan Selat Melaka.

Bagi rondaan kali ini, TUDM telah mengaturgerakkan 3 buah pesawat F/A-18D dari No. 18 Skuadron, Pangkalan Udara Kuantan dengan panggilan “Angkasa 108 A/B/C”, yang diterbangkan oleh Mej Khairul Asyraf bin Abd Aziz TUDM bersama Kapt Ahmad Nazhan bin  Ahmad Nazrin TUDM bagi Angkasa 108A, Kapt Muhammad Amirul Adly bin  Abdul Majid TUDM bersama Mej Mohd Azlan bin Kasiah TUDM bagi Angkasa 108B dan Mej Mohd Zahir bin Anuar TUDM bersama Lt Mohammad Alif Aiman bin Arhan TUDM bagi Angkasa 108C. Bagi pihak TNI AU pula, dua buah pesawat F-16C dari Skuadron Udara 16 berpangkalan di LANUD Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru, telah terlibat menggunakan panggilan “Rydder”, diterbangkan oleh Kapten Pnb Wawan Setiawan bagi Rydder 1 dan Kapten Pnb Satriya Kristanto Wicaksono bagi Rydder 2.


Penyelarasan operasi turut melibatkan CRC Kuantan (panggilan “Kilau”) selaku Pusat Kawalan Operasi TUDM, bersama Joint Airspace Management Coordination Centre (JAMCC) Sepang dan Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM) sebagai penyelaras ruang udara negara. Di pihak TNI AU, Komando Sektor 1 (KOSEK 1) Medan (panggilan “Petir”) memainkan peranan sebagai Pusat Kawalan Operasi, memastikan keseluruhan pelaksanaan rondaan udara dilaksanakan secara teratur, selamat dan efektif.

Selain meningkatkan tahap kesiapsiagaan operasi kedua-dua angkatan udara, pelaksanaan rondaan bersama ini turut memperkukuhkan interoperabiliti, koordinasi, dan hubungan profesional antara TUDM dan TNI-AU dalam menangani sebarang ancaman keselamatan serta aktiviti rentas sempadan yang menyalahi undang-undang di kawasan Selat Melaka.


TUDM komited untuk terus memperkukuhkan kerjasama strategik bersama negara jiran menerusi pelaksanaan operasi bersama yang mampu meningkatkan keupayaan pertahanan udara serantau, sekali gus menyumbang kepada kestabilan dan keselamatan kawasan.

15 Juli 2026

Kemhan Malaysia Tanda-tangani Kontrak RM150 Juta dengan Ketech Asia untuk Pasokan Amunisi

15 Juli 2026

Amunisi produksi Ketech Asia (photos: Ketech Asia)

Kuala Lumpur – Kementerian Pertahanan telah mengambil langkah untuk memperkuat rantai pasokan amunisi lokal melalui mekanisme Kontrak Pusat dengan Ketech Asia Sdn Bhd untuk mengatasi masalah kekurangan amunisi di Angkatan Tentera Malaysia (ATM).

Menurut tanggapan tertulis dari Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin di Dewan Rakyat, kontrak yang dikoordinasikan oleh Kementerian Keuangan ini melibatkan pasokan amunisi senjata ringan, yaitu amunisi 9mm dan 5.56mm, kepada instansi pemerintah di seluruh negeri.

“Kontrak ini diperkirakan bernilai RM150 juta untuk jangka waktu tiga tahun,” kata Khaled Nordin.


Langkah ini dinyatakan sebagai tanggapan atas pertanyaan dari Dato’ Khlir Mohd Nor (kota Ketereh) yang meminta Kementerian Pertahanan untuk menyatakan tindakan yang telah diambil untuk menyelesaikan masalah kekurangan amunisi di ATM.

Pada saat yang sama, kementerian juga memperkuat kemampuan industri pertahanan lokal melalui pengoperasian pabrik pembuatan amunisi oleh Ketech Asia di Lipis, Pahang.

"Pabrik tersebut saat ini mampu memproduksi hingga 120 juta butir amunisi kaliber 9mm dan 5,56mm per tahun, selain rencana untuk memproduksi amunisi kaliber 7,62mm dan 12,7mm," jelasnya.


Oleh karena itu, untuk memastikan kualitas amunisi yang dipasok memenuhi kebutuhan operasional ATM, Institut Penyelidikan Sains dan Teknologi Pertahanan (STRIDE) menerapkan keahlian teknis, pengujian, dan layanan evaluasi pada amunisi yang diproduksi.

Menurut kementerian, langkah ini untuk memastikan bahwa amunisi memenuhi spesifikasi dan standar yang ditetapkan oleh ATM.

Sementara itu, kementerian juga mendorong pengembangan komponen amunisi penting oleh industri lokal sesuai dengan Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN).

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan pada sumber eksternal.

10 Juli 2026

Malaysia Hentikan Semua Kontrak Pertahanan dengan Norwegia

10 Juli 2026

Fire Control System pada CMS SETIS kapal perang Maharaja Lela-class (LCS) disuplai oleh Kongsberg Defence, Norwegia (photo & infographic: Naval Group)

Tindakan henti perolehan peralatan pertahanan dari Norway wajar, tepat - Mohamed Khaled
KOTA TINGGI: Tindakan kerajaan untuk tidak lagi meneruskan sebarang perolehan dan kontrak dengan Norway adalah wajar dan tepat berikutan negara itu dilihat tidak menghormati Malaysia, kata Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin.

Mohamed Khaled keputusan itu dipersetujui Kabinet selepas Kementerian Pertahanan mencadangkan supaya tiada lagi perolehan aset pertahanan dibuat daripada Norway susulan tindakan negara itu membatalkan lesen eksport sistem peluru berpandu yang telah ditempah Malaysia.

Beliau berkata Kabinet turut meneliti sama ada pendirian itu akan diperluaskan kepada kementerian lain, namun buat masa ini melibatkan Kementerian Pertahanan.

“Apabila mana-mana kontrak yang melibatkan Norway tamat, kerajaan mungkin tidak akan mendapatkan khidmat mereka atau menyambung kontrak itu.

“Ini satu usaha dan tindakan yang saya percaya sangat wajar dan tepat kerana Norway seolah-olah tidak menghormati negara kita dan saya berharap rakyat memahami serta memberikan sokongan,” katanya kepada pemberita pada program Ziarah Kasih di Felda Pasak di sini hari ini.


Semalam, jurucakap Kerajaan Perpaduan Datuk Fahmi Fadzil dilaporkan berkata kerajaan memutuskan untuk menghentikan serta-merta sebarang perolehan peralatan atau kelengkapan pertahanan baharu dari Norway susulan tindakan negara itu membatalkan lesen eksport peluru berpandu yang sepatutnya dilengkapkan pada Kapal Tempur Pesisir (LCS) milik Tentera Laut Diraja Malaysia.

Kerajaan Norway sebelum ini dilaporkan membatalkan lesen eksport peluru berpandu antikapal (NSM) kepada Malaysia serta sistem pelancar berkaitan atas alasan untuk melindungi keselamatan negara itu.

Mohamed Khaled berkata Malaysia kesal dengan tindakan Norway kerana kontrak berkenaan telah dimeterai sejak 2018, termasuk pembayaran yang telah dibuat sebelum lesen eksport dibatalkan secara unilateral pada saat akhir tanpa sebarang makluman atau perbincangan dengan Malaysia.

Beliau berkata alasan Norway bahawa sistem peluru berpandu itu hanya dijual kepada negara anggota Pertubuhan Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dan sekutunya, juga tidak meyakinkan kerana negara itu mengetahui keperluan Malaysia untuk memperkukuh keupayaan pertahanan, khususnya melibatkan rondaan dan keselamatan di Laut China Selatan.

Ahli Parlimen Kota Tinggi itu berkata pendirian Malaysia itu telah dimaklumkan kepada Timbalan Menteri Luar Norway dan duta negara berkenaan kerana hubungan antara kedua-dua negara perlu berasaskan kepercayaan dan saling menghormati.

“Kita sudah tidak lagi percaya kepada Norway,” katanya.

07 Juli 2026

Penilaian Teknikal MINDEF, TLDM Pilih Pengganti NSM Dijangka Selesai Akhir Bulan Julai

07 Juli 2026

Kapal Tempur Pesisir (LCS) yang semula akan dilengkapi rudal Naval Strike Missile (NSM) (photo: Lumut)

KUALA LUMPUR: Penilaian teknikal peringkat Kementerian Pertahanan (MINDEF) dan Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) bagi memilih sistem peluru berpandu sebagai pengganti sistem Naval Strike Missile (NSM) untuk Kapal Tempur Pesisir (LCS) akan diselesaikan pada akhir bulan ini.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin, berkata TLDM dan MINDEF sedang menjalankan penilaian terhadap beberapa sistem peluru berpandu surface-to-surface daripada pengeluar peralatan asal (OEM) oleh negara berpotensi bagi menggantikan sistem NSM, yang dibatalkan lesen eksportnya oleh Norway.

Beliau berkata, tawaran serta cadangan daripada syarikat-syarikat berkenaan akan dinilai secara komprehensif berdasarkan keperluan operasi TLDM.

"Ia merangkumi beberapa aspek iaitu keupayaan sistem untuk disepadukan dengan Combat Management System kapal LCS, tempoh penghantaran sistem itu, kos keseluruhan perolehan dan terakhir tahap teknologi dan keupayaan operasi yang setanding atau lebih baik daripada NSM.

"Insya-Allah sekiranya semua berjalan lancar, penilaian teknikal di peringkat TLDM dan Kementerian Pertahanan siap pada akhir Julai ini sebelum diangkat ke peringkat penilaian seterusnya," kata beliau ketika sesi Penerangan Menteri di Dewan Rakyat hari ini.

Mohamed Khaled berkata, Beliau menjelaskan proses perolehan NSM itu bermula sejak 2011 sebelum kontrak perolehan senilai €128.7 juta dimeterai pada 2018 bagi melengkapkan keupayaan kapal-kapal LCS, manakala satu lagi kontrak senilai €9.19 juta dimeterai pada 2023 bagi dua set pelancar untuk KD Jebat dan KD Lekiu, menjadikan jumlah kira-kira RM642.6 juta (€137.91 juta). 

Mohamed Khaled berkata, meskipun ketiadaan NSM mengehadkan keupayaan peperangan anti-kapal LCS yang hanya dapat menggunakan meriam 57 milimeter dengan jarak tembakan sekitar 10 kilometer, perkembangan itu tidak menjejaskan jadual mengirimkan kapal LCS kepada TLDM.

Ahli Parlimen Kota Tinggi itu berkata Angkatan Tentera Malaysia (ATM) juga terus melaksanakan operasi mempertahankan perairan, ruang udara dan sempadan negara seperti biasa sementara kementerian mencari penyelesaian terbaik bagi memulihkan keupayaan berkenaan.

Sementara itu, beliau berkata, kerajaan akan mempertahankan hak dan kepentingan Malaysia, apabila MINDEF mengemukakan notis tuntutan kepada KDA berjumlah €226.1 juta atau kira-kira RM1.05 bilion, merangkumi pembayaran yang telah dibuat serta kerugian langsung dan tidak langsung akibat pembatalan lesen eksport itu.

Mohamed Khaled berkata, berdasarkan nasihat Jabatan Peguam Negara, kerajaan akan terlebih dahulu berusaha mendapatkan penyelesaian secara baik dengan syarikat berkenaan menerusi rundingan yang dijadualkan berlangsung pada pertengahan Ogos ini sebelum mempertimbangkan tindakan selanjutnya.

Sementara itu, Mohamed Khaled berkata, episod berkenaan membuktikan kebergantungan yang tinggi kepada rantaian bekalan luar negara membawa risiko strategik kepada pertahanan negara.

Sehubungan itu, katanya, kerajaan sedang memperkukuh pelaksanaan Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) bagi meningkatkan kapasiti industri pertahanan tempatan, termasuk keupayaan menghasilkan roket dan peluru berpandu agar Malaysia lebih berdaya tahan serta mampu mempertahankan kedaulatannya secara berdikari pada masa hadapan.

(Bernama)