24 Mei 2026

GMFI Catatkan Laba Bersih Sebesar 33,9 Juta Dolar AS

24 Mei 2026

GMF ketika melakukan maintenance pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo: IDM)

Jakarta (ANTARA) - Anak usaha Garuda Indonesia Group, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), membukukan laba bersih sebesar 33,9 juta dolar AS atau sekitar Rp570 miliar sepanjang tahun 2025.

"Pada tahun 2025, perseroan membukukan laba bersih sebesar 33,9 juta dolar AS (Rp570 miliar), naik signifikan sebanyak 26,3 persen dibanding tahun 2024 sebesar 26,9 juta dolar AS (Rp451 miliar)," kata Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

GMFI sebagai bagian dari Garuda Indonesia Group, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Jumat (22/05).

RUPSLB dihadiri oleh 117.047.128.927 suara atau sebesar  93,76 persen pemegang saham, sementara RUPST dihadiri oleh 117.437.717.575suara atau sebesar 94,07 persen pemegang saham, dengan sejumlah keputusan strategis yang disetujui dalam rapat.

GMFI juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja finansial yang solid dengan pendapatan usaha mencapai 491,9 juta dolar AS (Rp8,25 triliun) pada tahun 2025, tumbuh 16,8 persen dari tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, kinerja perseroan juga meningkat dari sisi neraca dengan total aset melesat menjadi 813 juta dolar AS (Rp13,6 triliun) atau tumbuh 91,5 persen dari tahun sebelumnya.

Struktur permodalan juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan ekuitas berbalik dari yang sebelumnya negatif sebesar 257,9 juta dolar AS (-Rp4,33 triliun) menjadi positif sebesar 114,6 juta dolar AS (Rp1,92 triliun).

GMFI melakukan maintenance pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo: GMFI)

Peningkatan kinerja disebut turut didukung oleh aksi korporasi berupa inbreng lahan senilai Rp5,6 triliun yang memperkuat nilai aset tetap Perseroan serta mengembalikan posisi ekuitas menjadi positif.

Peningkatan kinerja finansial Perseroan ditopang oleh transformasi operasional yang dijalankan secara konsisten sepanjang tahun 2025, mulai dari peningkatan produktivitas operasional, percepatan turnaround time (TAT), penguatan infrastruktur, hingga pemenuhan berbagai sertifikasi dan kualifikasi internasional.

"Tahun 2025 menjadi momentum pembuktian GMF dalam mengeksekusi berbagai langkah transformasi dan aksi korporasi strategis secara agresif sekaligus terukur. Pencapaian positif ini tentu tidak akan terwujud tanpa fundamental operasional yang semakin solid," ujarnya.

Pada tahun 2025, GMFI berhasil menjaga momentum pertumbuhan dengan kontribusi pendapatan dari segmen non-group-afiliasi yang mencapai 141,3 juta dolar AS atau setara 28,7 persen dari total pendapatan.

Pada sektor perawatan pesawat komersial, GMFI berhasil mempertahankan kepercayaan existing customer seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific, sekaligus memperluas basis customer baru seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air.

Sepanjang tahun 2025, GMFI juga berhasil menyelesaikan reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia sebagai bagian dari sinergi Garuda Indonesia Group dalam mengoptimalisasi kesiapan armada penerbangan nasional.

Pada sektor pertahanan, GMFI berhasil menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat dan dua pesawat VIP Boeing 737-800.

Perseroan memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation dalam implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) untuk pesawat Rafale.

GMFI juga melakukan maintenance helikopter Bell 412 TNI AD (photo: Fahmun)

Lini bisnis non-commercial aircraft, khususnya SBU Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services, turut mencatatkan pertumbuhan positif dengan capaian pendapatan sebesar 36,7 juta dolar AS atau tumbuh 59,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan efektivitas strategi diversifikasi perseroan.

Di sisi pengembangan kapabilitas dan ekspansi bisnis, GMFI mencatatkan sejumlah tonggak strategis, termasuk groundbreaking Kertajati Aerospace Park bersama Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) serta dimulainya kerja sama dengan Pelita Air dalam pemanfaatan hanggar milik Pelita Air Service di Bandar Udara Pondok Cabe untuk layanan perawatan pesawat tipe propeller.

Perseroan juga berhasil menyelesaikan pembangunan hangar door di Hanggar 1 guna memperkuat kapasitas operasional yang selaras dengan standar internasional, khususnya European Union Aviation Safety Agency (EASA).

“Kami telah bertumbuh secara signifikan dan berkelanjutan. Dengan kapabilitas semakin kuat dan adaptif, GMFI akan terus membuka peluang baru untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional maupun global,” ujar Andi.

Kinerja keuangan GMFI di awal tahun 2026 menunjukkan performa yang solid, didorong oleh fundamental operasional yang semakin sehat. Pada Kuartal I 2026, Perseroan berhasil membukukan laba berjalan sebesar 6,76 juta dolar AS dan pendapatan usaha sebesar 114,94 juta dolar AS.

GMFI menargetkan total pendapatan tahunan sebesar 542,8 juta dolar AS dengan estimasi laba bersih mencapai 35,1 juta dolar AS. Target ini akan dicapai melalui keberlanjutan transformasi korporasi, penguatan fundamental operasional, dan pertumbuhan bisnis profitable.

“Melalui pencapaian positif dan efisiensi yang terjaga di tengah dinamika pasar dan tantangan industri, GMFI siap melangkah lebih jauh dalam menghadirkan solusi terintegrasi bagi industri aviasi maupun sektor lainnya,” kata Andi.

Adapun pada RUPSLB tersebut, rapat menyetujui penyesuaian, penambahan, dan/atau perubahan anggaran dasar perseroan sesuai dengan surat BP BUMN, surat Danantara asset management.

Selain itu penyesuaian Peraturan Badan Pusat Statistik Nomor 7 Tahun 2025 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI 2025), dan penyelarasan dengan Anggaran Dasar PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Pada RUPST, rapat menyetujui sejumlah mata acara di antaranya Persetujuan Laporan Tahunan dan Pengesahan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan Tahun Buku 2025, Penetapan Penggunaan Laba Bersih Tahun Buku 2025.

Kemudian penetapan gaji honorarium berikut fasilitas dan tunjangan tahun buku 2026 serta remunerasi atas kinerja tahun buku 2025 bagi pengurus perseroan, penunjukan kantor akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2026.

Selanjutnya persetujuan pelimpahan wewenang dan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan dalam menyetujui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2026 – 2030 dan rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Perseroan Tahun 2027 termasuk perubahannya,

Kemudian penerimaan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk.

(AntaraNews)

Roadmap KF-21 untuk Kemampuan Generasi Keenam yang Didukung AI

24 Mei 2026

Prototipe KF-21 keenam menguji kinerja udara-ke-darat dari radar AESA (photo: Yonhap)

Pesawat tempur KF-21 ‘Boramae’ dari Korea Aerospace Industries (KAI) akan menjadi landasan kemampuan tempur masa depan Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) dan pada akhirnya akan menggabungkan teknologi generasi keenam, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan (MND).

Varian awal KF-21, platform tempur generasi 4.5, dijadwalkan memasuki layanan RoKAF pada paruh kedua tahun 2026. Menurut MND, angkatan udara berencana untuk mengembangkan platform tersebut menjadi “pesawat tempur generasi kelima dengan kinerja siluman penuh, dan selanjutnya menjadi sistem tempur generasi keenam”.

Janes sebelumnya telah melaporkan upaya KAI untuk mengurangi penampang radar platform guna meningkatkan karakteristik kemampuan deteksi rendahnya. Transisi ke platform generasi keenam akan melibatkan “penggabungan kecerdasan buatan (AI) dan sistem tempur gabungan berawak/tak berawak (MUM-T)”, kata Kementerian Pertahanan Nasional pada 15 Mei.

Perakitan KF-21 dalam lini produksi (photo: Yonhap)

Unit pertama
Pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional tersebut menyusul acara media di pabrik KAI di Sacheon, di mana perusahaan tersebut merinci infrastruktur produksi KF-21 dan tujuan program jangka panjangnya. Produksi KF-21 dimulai pada awal tahun 2026, dengan KAI meluncurkan pesawat pertama yang ditujukan untuk Angkatan Udara Korea Selatan (RoKAF) pada 25 Maret 2026.

Pesawat produksi pertama adalah varian dua tempat duduk dengan nomor ekor RoKAF 26-001. Pesawat ini melakukan penerbangan perdananya pada 22 April dan sejak itu telah menyelesaikan tiga penerbangan uji, kata Kementerian Pertahanan Nasional, menambahkan bahwa KF-21 produksi kedua juga telah dirakit. “Unit 2, yang dijadwalkan melakukan penerbangan perdananya [pada bulan Juni], saat ini sedang menjalani uji kinerja mesin di darat,” kata Kementerian Pertahanan Nasional.

18 pesawat yang tersisa dalam kontrak sedang dirakit di aula produksi pesawat sayap tetap KAI di Sacheon.

Hanwha Aerospace Memperkenalkan Prototipe KAAV II Next Gen

24 Mei 2026

KAAV II buatan Hanwha Aerospace mampu bergerak di air dan darat dengan kecepatan tinggi (photos: Yoo Yong-won)

Tampilan pertama prototipe Kendaraan Serangan Amfibi Korea II (KAAV II) yang sedang dikembangkan oleh Hanwha Aerospace muncul pada 18 Mei 2026, yang merupakan pengumuman resmi pertama tentang kemajuan program tersebut.

KAAV II telah dalam tahap pengembangan konsep sejak 2015, dengan model skala yang dipamerkan pada tahun 2019 di Seoul ADEX. Pengujian prototipe terganggu oleh insiden tenggelam pada tahun 2023 yang mengakibatkan dua korban jiwa. Kemajuan program terus berlanjut di bawah kendali ketat.


KAAV II dimaksudkan untuk menggantikan armada KAAV Korps Marinir Republik Korea (ROKMC) saat ini, yang merupakan versi produksi lokal dari AAV7 rancangan AS yang diperkenalkan pada tahun 1970-an.

Informasi yang diberikan masih terbatas. Namun, fitur kinerja dan kemajuan operasional terpenting dari KAAV II adalah peningkatan kecepatan di air yang signifikan dibandingkan dengan KAAV. Dilaporkan dapat mencapai kecepatan lebih dari 20 km/jam, dibandingkan dengan 13,2 km/jam untuk kendaraan aslinya. Hal ini dicapai dengan menggabungkan haluan tiga tahap yang diperpanjang, sirip trim buritan, dan flap samping yang menutupi bagian bawah trek dalam operasi di laut lepas.


Fitur-fitur ini meningkatkan permukaan luncur bagian bawah kendaraan. Dipadukan dengan waterjet aliran tinggi dan paket daya yang meningkatkan output mesin standar 850 hp di darat menjadi 2.700 hp dalam mode amfibi, ini memungkinkan KAAV II untuk naik dari laut dan meluncur di permukaan.

Kecepatan di air yang tinggi tersebut memungkinkan peluncuran dari kapal serbu amfibi yang lebih jauh dari pantai. Kendaraan amfibi mencapai pantai lebih cepat, sehingga mengurangi risiko terkena serangan musuh.


KAAV II akan membawa 18 personel infanteri, dan diperkirakan akan memiliki tiga awak. Kendaraan ini mengambil elemen dari K-NIFV, desain kendaraan tempur infanteri baru Korea Selatan. Kerja sama antara Hanwha dan Soucy Defence menghasilkan kendaraan yang menggunakan trek karet komposit. Kendaraan ini memiliki kecepatan darat 70 km/jam dan dapat beroperasi dalam operasi tempur darat yang berkepanjangan.

Prototipe KAAV II juga memiliki stasiun senjata tanpa awak yang memasang meriam otomatis 40 mm dengan amunisi teleskopik (CTA). Desain CTA meminimalkan ruang yang dibutuhkan di menara, menawarkan amunisi yang lebih ringkas, dan efek terminal yang lebih tinggi.

KAAV II ketika melakukan serbuan amfibi (image: Reddit)

Senjata utama memiliki laju tembakan 200 butir per menit, dan menembakkan amunisi penembus lapis baja, berdaya ledak tinggi, ledakan udara, dan anti-drone. Meriam dapat diangkat hingga 85°, memungkinkan penembakan yang efektif terhadap target udara dan target dengan elevasi tinggi.

Defence Acquisition Program Administration (DAPA) secara resmi menyetujui akuisisi KAAV II pada September 2021. Sekitar US$1,78 miliar telah dialokasikan untuk program ini.

KAAV II (image: Sheldon)

Produksi awal dijadwalkan dimulai pada tahun 2029, dengan pengoperasian yang direncanakan selesai pada tahun 2036. KAAV II akan memberi Angkatan Laut Korea Selatan (ROKMC) kemampuan serang amfibi lapis baja berkecepatan tinggi dari kapal ke pantai yang setara dengan keluarga ZBD-05 milik China.

23 Mei 2026

Albanese Government to Commence Collins Class Life of Type Extension

23 Mei 2026

HMAS Rankin conducts helicopter transfers in Cockburn Sound, Western Australia, as part of Rankin's training assessments (photo: AUs DoD)

The Albanese Government is enhancing Australia’s fleet of Collins class submarines, through a life of type extension that will reduce risk, enhance capability and maximise availability for the Royal Australian Navy as Australia transitions to a conventionally armed, nuclear-powered submarine fleet. 

The life of type extension will commence with HMAS Farncomb at the end of the month, the first of six submarines to receive an extension. ASC, as the Government’s sovereign submarine sustainment partner, will continue to be responsible for delivering the program. 

Informed by independent expert advice, detailed planning and industry engagement Defence will undertake a conditions-based sustainment approach across the life of type extension program. This will see Defence and ASC retain and restore base components, while continuing to upgrade critical weapons and systems. 

This will reduce engineering and schedule risks and ensure the Collins class remains a formidable deterrent for years to come. 

As one of the oldest boats in the Collins class fleet with the highest number of sea days and distance travelled, HMAS Farncomb’s life of type extension will also include a detailed engineering assessment period to tailor its life of type extension upgrades and inform work required across the class. 

The program will also accelerate and prioritise sustainment work on the fleet’s youngest submarines, commencing with HMAS Rankin. 

Deputy Prime Minister, the Hon Richard Marles MP inspects a cutaway model of the Collins class submarine during his visit to the Osborne Naval Shipyard (photo: Aus DoD)

Safety will not be compromised and the Collins class will be supported by increased investment of up to $11 billion over the next decade for sustainment, including life of type extension maintenance and the skilled workforce and infrastructure required to maintain this capability. 

In 2024, the Government listed the Collins class submarine capability as a Product of Concern to increase ministerial oversight and management of the capability. This is now driving improvements in process and productivity across Defence and industry. 

Defence industry will continue to play a central role, with both Osborne in South Australia and Henderson in Western Australia remaining integral to sustaining the Collins class fleet. 

Quotes attributable to Deputy Prime Minister Richard Marles: 
“These decisions reaffirm the Albanese Government’s commitment to keeping the Collins class a potent and highly capable strike and deterrent capability today, and for years to come. 

“Extending the life of all six Collins class submarines is critical to maintaining that edge as we transition the Navy from conventional to nuclear-powered submarines.” 

Quotes attributable to Minister for Defence Industry Pat Conroy: 
“The Collins life of type extension is a critical capability decision and a major investment in Australia’s sovereign defence industrial base and submarine supply chain. 

“Strong collaboration with Defence industry partners will be essential to keeping the Collins class fleet available as we move towards a nuclear-powered submarine capability.” 

Berkat “Offset” Rafale, Kemampuan Link PT Len Meningkat karena Bisa Terhubung Antarpesawat Tempur TNI AU

23 Mei 2026

Link ID dari PT Len (infographic: Len)

Jakarta, IDM – Kemampuan PT Len Industri (Persero) dalam hal interoperabilitas meningkat berkat pengadaan 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis.

Interoperabilitas merupakan kemampuan berbagai sistem, perangkat, atau aplikasi yang berbeda untuk berkomunikasi, bertukar data, dan menggunakan informasi tersebut dalam militer.

Sebelumnya, kemampuan link dari PT Len hanya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat surveillance atau patroli.

Setelah ini, interoperabilitas Link ID yang dimiliki PT Len bisa terhubung ke komunikasi antarpesawat tempur TNI Angkatan Udara.

Pesawat tempur Rafale TNI AU (photo: Raphael Savry)

“Kemampuan Link ID yang dimiliki Len sebelumnya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat surveillance. Ke depan, kemampuan tersebut akan berkembang hingga mampu mendukung komunikasi data link antarpesawat tempur, sehingga memperkuat integrasi sistem pertahanan udara nasional secara lebih menyeluruh,” tulis siaran pers PT Len, dikutip Rabu (20/5).

Peningkatan kemampuan interoperabilitas ini merupakan bagian dari program training offset jet tempur Rafale.

Offset merupakan kewajiban produsen senjata asing, dalam hal ini Dassault Aviation, untuk memberikan kompensasi atau investasi timbal balik seperti alih teknologi, produksi lokal suku cadang, atau pelatihan kepada negara pembeli.

“Momentum ini juga menegaskan peran strategis PT Len Industri (Persero) sebagai induk holding industri pertahanan DEFEND ID dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguasaan teknologi dan penguatan interoperabilitas antarsistem pertahanan,” kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan dalam keterangannya. 

(IDM)

The Royal Thai Air Force Orders Two Airbus C295 Tactical Transport Aircraft

23 Mei 2026

Thailand already has three C295s operated by the Royal Thai Army since 2016 (image: Airbus)

Getafe, Spain — The Royal Thai Air Force has acquired two Airbus C295 in tactical transport configuration, which will enhance Thailand’s defence capabilities. The two C295s will be operated by the 46th Wing Division of the Royal Thai Air Force from the Phitsanulok air base.


Thailand already has three C295s operated by the Royal Thai Army, performing cargo and troop transport missions since 2016.


The aircraft will be assembled at the Airbus Defence and Space facilities in Seville, Spain, with the first delivery scheduled in the first half of 2029.


The C295s in transport configuration have the capacity to carry 70 troops or 49 paratroopers, take off and land on unprepared runways, perform cargo and paratrooper drops, as well as undertake medical evacuation. 


Airbus contributes to the Thai defence industry through a partnership with Thai Aviation Industries (TAI) for their support in the maintenance of the C295 fleet through advanced training means.

 

Thailand is one of the seven countries in the Asia-Pacific region that operates the C295. As the global leader in its segment, the C295 holds 85% of the market share with a total of 333 orders from 39 countries across four continents. To date, the global C295 fleet has achieved 750,000 flight hours. 

22 Mei 2026

NZ Army Platoon Trains with Republic of Korea Marine Corps in Landing Operation

22 Mei 2026

Landing platform helicopter ship ROKS Marado (LPH-6112) (photo: RoKN)

It’s the first time NZ Army soldiers had been attached to a ROK MC landing battalion in support of maritime operations, and continues New Zealand’s longstanding commitment to efforts to maintain peace on the Korean Peninsula. 

The training formed part of a biannual Republic of Korea-led exercise involving approximately 3,200 personnel from South Korea’s Army, Navy, Air Force and Marine Corps. 

The exercise culminated with an assault on Doksok-ri Beach, where combined forces conducted a landing operation and seized a coastal objective. The operation involved high-speed landing craft and Korean Amphibious Assault Vehicles (KAAV) moving troops ashore under simulated naval gunfire and air support, before transitioning into ground operations inland.

MUH-1 Marineon marine utility helicopter (photo: RoKMC)

The exercise formed part of New Zealand’s current three-month deployment to South Korea. In March 2026, the NZ Army sent a 33-strong infantry platoon and four personnel to provide a contingent headquarters.

Last year marked the first time New Zealand had deployed a combat-ready infantry platoon to train under the Republic of Korea Army and United States 2nd Infantry Division, in Korea.

Captain Matt Peri, the Platoon Officer Commanding, says this deployment supports training with South Korean and United States forces across urban, littoral and close-country environments, with activities taking place in Seoul, Pohang and several training areas, including the Korean Combat Training Centre. 

Landing operation exercise (photos: NZDF)

“During the training, Kiwi soldiers worked alongside Republic of Korea Marine Corps personnel on urban operations, live-fire drills, landing rehearsals and KAAV embarkation and disembarkation procedures,” said Captain Peri. 

“The platoon also integrated into combined planning and command activities throughout the exercise. 

“The professional environment established by the ROK MC made this an outstanding experience for learning new skills and sharing our own expertise with our partners."


About 20 naval vessels supported the task group, including the landing platform helicopter ship ROKS Marado (LPH-6112). Other assets involved included MUH-1 Marineon marine utility helicopter, P-8A maritime patrol aircraft, KF-16 fighter jets, AH-64E attack helicopters and unmanned aerial systems. 

The deployment also continues New Zealand’s longstanding commitment to the Korean Peninsula through the United Nations Command (UNC), building on the legacy of the New Zealand “K-Force” deployment during the Korean War. The New Zealand Defence Force has deployed personnel to UNC and the United Nations Command Military Armistice Commission since 1998, to help keep the peace between North and South Korea.

This current training reinforced interoperability between New Zealand and Republic of Korea forces and reflected a shared commitment through the UNC, to regional stability security on the Korean Peninsula and in the wider Indo-Pacific.