12 September 2026
Preparing the Diponegoro Class for Future Missions
HJ Heavy Industries will Receive Orders from Southeast Asia for High-Speed Patrol Boats
KSAL Sebut RI Ditawari Kapal Selam Interim (Sementara) oleh Negara-negara Lain
11 September 2026
Prabowo Rencana Tambah Lebih Banyak Kapal-kapal LCM dan LCVP
11 September 2026
LPD KRI Semarang 594 (photo: Vovashap)Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto berencana menambah lebih banyak kapal-kapal berjenis kapal pendarat mekanis (LCM) dan kapal pendarat kendaraan dan personel (LCVP) mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak gugusan pulau-pulau yang kecil.
Prabowo saat rapat terbatas (ratas) melalui sambungan video-conference di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, menjelaskan keberadaan kapal-kapal itu berguna untuk mengirimkan bantuan dan personel ke pulau-pulau kecil manakala daerah tersebut terdampak bencana.
"Catatan bagi kita, bagi Angkatan Laut ya, saya kira dari sekarang kita perlu pesan lebih banyak LCVP ya, dan LCM, saya kira kita butuh lebih banyak karena pulau-pulau kita banyak dan kecil-kecil, supaya (terbuka, red.) aksesnya," kata Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat terbatas membahas penanggulangan bencana gempa di NTT.
Pembahasan mengenai rencana pembelian LCM dan LCVP itu diawali dengan permintaan tambahan kapal untuk kepentingan mitigasi bencana di NTT, yang disampaikan oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Permintaan kapal itu kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VII Laksamana Muda (Laksda) TNI Joni Sudianto.
LCM LPD KRI Makassar 590 (photo: Kolinlamil)"Saat ini, kami di Kodaeral VII ada dua kapal patroli, Pak. Namun, posisinya dua kapal tersebut ada di Surabaya. Kami mohon dapatnya ada paling tidak dua kapal patroli jenis FPB yang stand by di Kupang sehingga apabila terjadi sesuatu dan butuh bantuan kita bisa gerakkan dua kapal tersebut," kata Laksda Joni kepada Presiden.
Presiden langsung memerintahkan jajarannya untuk mencatat permohonan dari Dankodaeral VII tersebut. "Baik, ya tolong dicatat," ujar Presiden kepada jajarannya.
Presiden mengatakan pengerahan itu nanti berkoordinasi lebih lanjut dengan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
"Ya nanti kita koordinasi dengan Panglima TNI ya. Di sini ada Kepala (Badan) Logistik (Pertahanan) nanti bisa dikirim ya? Jadi dua kapal patroli jenis FPB 57 ya. Itu cukup? Dua kapal itu cukup?" tanya Presiden ke Dankodaeral VII.
LCVP LPD KRI Banda Aceh 593 (photo: Kolinlamil)Menurut Laksda Joni, dua kapal patroli FPB 57 cukup untuk kebutuhan mitigasi dampak bencana.
"Di NTT dan NTB sendiri kondisinya pulau-pulau kecil sehingga apabila kapalnya terlalu besar kesulitan untuk fasilitas labuhnya sehingga menurut kami dengan analisis operasional dua kapal FPB sudah cukup Bapak Presiden," ujar Dankodaeral VII menjawab pertanyaan Presiden.
Dalam rapat yang sama, Presiden juga menanyakan keberadaan LCM kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.
"Di LPD itu dua LCM, biasanya stand by di dalam LPD. Sekarang, ada KRI Semarang, kalau tidak salah dia ada di sana (perairan NTT, red.)," kata Laksamana Ali menjawab pertanyaan Presiden.
Ali menyebutkan total ada dua kapal yang bersiaga di perairan NTT, sekitar wilayah Manggarai, yaitu satu LPD, yaitu KRI Semarang-594 dan satu LST berjenis Frosch.
Rudal Mistral dan Stinger Siap Hadapi Target Udara di SGS 2026
11 September 2026
Latihan penembakanb sasaran udara dengan Manpads rudal Mistral (TNI AD) dan Stinger (US Army) dalam Super Garuda Shield 2026 (photos: TNI, DVIDS)(Puspen TNI). Prajurit Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI Angkatan Darat bersama personel Air Defense US Army melaksanakan latihan penembakan sasaran udara menggunakan pesawat tanpa awak dalam rangka Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di *Lapangan Tembak Staling Armed* Puslatpur Kodiklat TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan, Rabu (9/9/2026).
Dalam latihan tersebut, Batalyon Arhanud 10/Dam Jaya mengoperasikan Rudal Mistral, sedangkan US Army menggunakan Rudal Stinger untuk menguji kesiapan dan kemampuan unsur pertahanan udara menghadapi ancaman dari udara.
Usai penembakan, kegiatan dilanjutkan dengan penyematan Brevet Air Defence Indonesia kepada personel US Army dan Brevet Air Defence US Army kepada prajurit TNI. Penyematan brevet menjadi bentuk penghargaan atas kemampuan, dedikasi, dan profesionalisme prajurit sekaligus simbol kualifikasi dalam bidang pertahanan udara.
Latihan dan penyematan brevet tersebut memperkuat interoperabilitas serta kesamaan prosedur TNI dan US Army.
Melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan, kedua negara terus meningkatkan kemampuan serta profesionalisme prajurit dalam membangun kesiapan pertahanan udara guna mendukung keberhasilan SGS 2026.
(ТNI)

%20fotografiado%20en%20astillero%20Mitsubis.jpg)











