15 Agustus 2026

Australia dan AS Uji Kemampuan Komunikasi dan Wahana Bawah Laut Nirawak

15 Agustus 2026

ADV Guidance dalam RIMPAC 2026 (photos: dvids)

Australia dan Amerika Serikat bersama-sama menguji wahana maritim nirawak serta teknologi terkait—termasuk sistem komunikasi akustik—selama Latihan 'Rim of the Pacific' ('RIMPAC') 2026 yang berlangsung dari 24 Juni hingga 31 Juli di wilayah Kepulauan Hawaii dan sekitarnya.


Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memajukan kemampuan peperangan bawah laut gabungan di bawah Pilar 2 kemitraan AUKUS yang melibatkan Australia, Inggris, dan AS, demikian disampaikan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada 13 Agustus.


DoD menyatakan bahwa personel dari Defence Science and Technology Group (DSTG), Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN), dan Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) bersama-sama mendemonstrasikan operasi wahana maritim nirawak dari kapal Australian Defence Vessel (ADV) Guidance.

USV Seasats Lightfish (photo: Seasats)

Menurut DoD, kapal Guidance yang memiliki panjang 107 meter ini mendukung pengerahan dan pengujian platform bawah laut robotik dan otonom serta sistem pengawasan bawah laut. Kapal ini memiliki lebar 22 meter dan bobot benaman (displacement) sebesar 7.400 ton.

UUV Hugen Superior (photo: Kongsberg)

Sistem milik Australia yang diuji coba selama latihan tersebut meliputi wahana bawah laut nirawak (UUV) Kongsberg Hugin Superior, remotely operated vehicle (ROV) kelas kerja Schilling, wahana permukaan nirawak (USV) Seasats Lightfish, serta sistem relai komunikasi akustik bawah laut yang dapat dikerahkan, Rock Lobster.

ROV Schilling (photo: Schiling Robotics)

DoD menyebutkan bahwa Hugin Superior dan ROV Schilling dikerahkan secara bersamaan untuk melaksanakan misi navigasi dan pencarian bawah laut yang kompleks di dalam area latihan. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana mitra AUKUS meningkatkan kemampuan mereka dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman maritim.

APMM Terima Helikopter AW-189 Pertamanya

15 Agustus 2026
 
APMM total akan menerima empat AW189 medium lift helicopter (infographic: APMM)

Penerimaan AW189 perkukuh keupayaan Maritim Malaysia jaga kseselamatan kedaulatan perairan negara
SUBANG – Menteri Dalam Negeri, YB Datuk Seri Saifuddin Nasution, hari ini menyempurnakan Majlis Penerimaan Helikopter AW189 Maritim Malaysia, menandakan penerimaan helikopter pertama daripada empat buah helikopter Medium Lift AW189 yang diperoleh Kerajaan bagi memperkukuh keupayaan udara Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia).

Majlis tersebut menjadi satu lagi langkah penting dalam usaha Kerajaan MADANI memodenkan aset keselamatan negara serta memperkukuh keupayaan Maritim Malaysia dalam melaksanakan penguatkuasaan, pengawasan udara, operasi mencari dan menyelamat (CARILAMAT), MEDEVAC dan operasi khas.

Dalam ucapan pada majlis berkenaan, Menteri Dalam Negeri berkata penerimaan AW189 bukan sekadar penambahan aset kepada armada Maritim Malaysia, tetapi mencerminkan iltizam Kerajaan untuk memastikan keselamatan rakyat, kedaulatan negara dan kepentingan nasional sentiasa terpelihara.

“Pelaburan dalam keselamatan merupakan pelaburan strategik bagi mempertahankan kedaulatan, melindungi rakyat serta menyokong kestabilan dan kemakmuran ekonomi negara.” Beliau berkata, Malaysia sebagai sebuah negara maritim dengan keluasan Zon Maritim Malaysia mencecah 556,285 kilometer persegi memerlukan keupayaan pengawasan dan tindak balas yang pantas bagi menghadapi cabaran keselamatan maritim yang semakin kompleks.

Helikopter AW189 pertama APMM (photo: APMM)

Helikopter AW189 mempunyai jarak operasi sehingga 1,166 kilometer, kelajuan maksimum 313 kilometer sejam dan endurance sehingga lima jam, serta mampu beroperasi siang dan malam dalam pelbagai keadaan cuaca. Dikendalikan oleh lima kru dan mampu membawa sehingga 14 penumpang, aset berkenaan memberikan keupayaan dan fleksibiliti lebih tinggi, khususnya bagi operasi di perairan yang jauh dari pesisir.

Menurut Menteri Dalam Negeri, keupayaan tersebut amat penting dalam operasi CARILAMAT kerana setiap minit amat berharga dalam usaha menyelamatkan nyawa di laut. Penerimaan empat buah AW189 ini merupakan sebahagian daripada usaha berterusan Kerajaan memodenkan aset udara Maritim Malaysia agar kekal relevan dengan keperluan operasi semasa.

Sehingga 24 Julai 2026, Maritim Malaysia telah melaksanakan 116,192 pemeriksaan, 26,253 penggeledahan dan 562 tangkapan, dengan nilai rampasan melebihi RM4.38 bilion. Bagi operasi CARILAMAT pula, sebanyak 129 kes melibatkan 638 mangsa telah dilaksanakan.
Perolehan empat buah AW189 diluluskan melalui Rolling Plan Keempat (RP4), Rancangan Malaysia Kesebelas (RMKe-11) dengan tempoh kontrak dari 19 Januari 2024 hingga 18 Januari 2029.

Menteri Dalam Negeri berkata peningkatan keupayaan aset ini akan memberi manfaat kepada nelayan, komuniti maritim, industri perkapalan, sektor pelancongan serta semua pengguna perairan negara melalui peningkatan tahap keselamatan dan keupayaan tindak balas terhadap kecemasan di laut.

Beliau turut merakamkan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam menjayakan proses perolehan, penghantaran, penerimaan dan pengoperasian helikopter AW189 Maritim Malaysia.

“Aset boleh dibeli, teknologi boleh diperoleh tetapi yang menentukan kejayaan sesebuah organisasi ialah profesionalisme, integriti dan semangat juang warganya.” Penerimaan AW189 ini diharap dapat terus memperkukuh Maritim Malaysia sebagai benteng hadapan negara dalam memastikan keselamatan perairan, menyelamatkan nyawa serta mempertahankan kedaulatan Malaysia di lautan.

14 Agustus 2026

TNI AL Melaksanakan Uji Tembak MLRS Pertama dari Flight Deck Kapal PPA

14 Agustus 2026

Flight deck kapal PPA KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

TNI Angkatan Laut telah melaksanakan uji tembak pertama sistem peluncur roket ganda (multiple-launch rocket system atau MLRS) dari geladak penerbangan salah satu kapal perang kelas Brawijaya, yakni jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA).

Uji tembak tersebut dilakukan dari kapal kedua di kelasnya, KRI Prabu Siliwangi 321, dalam sebuah latihan angkatan laut di wilayah Kepulauan Riau antara akhir Juli dan awal Agustus 2026.

MLRS RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir TNI AL menembakkan roket dari flight deck/geladak penerbangan KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

Gambar-gambar yang dirilis oleh TNI AL menunjukkan bahwa MLRS yang dikerahkan di atas kapal PPA tersebut adalah sistem RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir Indonesia, yang sebelumnya telah terlihat di atas kapal tersebut sejak Mei 2026.

RM-70 Vampire merupakan sistem roket artileri berbasis truk yang dikembangkan dari keluarga BM-21 Grad.

Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa uji tembak MLRS ini menggunakan roket kendali TRG-122 yang pada bulan Mei 2026 lalu baru diterima dari Turkiye (photo: Roketsan) 

Sistem ini menembakkan roket kaliber 122 mm dalam salvo cepat untuk menyasar target area, memberikan daya tembak masif (saturation fire) terhadap posisi pertahanan dan sasaran darat lainnya.

KRI Prabu Siliwangi adalah satu dari dua kapal PPA yang dibeli Indonesia dari perusahaan galangan kapal Italia, Fincantieri, melalui kesepakatan senilai 1,18 miliar euro (1,36 miliar dolar AS).

Spesifikasi teknik TRG-122 roket kendali kaliber 122mm buatan Roketsan, Turkiye (image: Roketsan)

Kapal ini mulai beroperasi secara resmi pada Desember 2025, sementara kapal saudaranya yang merupakan kapal pertama di kelas tersebut, KRI Brawijaya 320, telah lebih dulu masuk dalam jajaran armada Indonesia pada Juli 2025.

Kedua kapal tersebut dilengkapi dengan meriam utama kaliber 127 mm, meriam kaliber 76 mm, serta sel sistem peluncur vertikal (vertical launch system atau VLS) yang mampu meluncurkan senjata anti-udara dan anti-permukaan.

Leonardo can Customize PH Multi-role Fighters

14 Agustus 2026

Leonardo Eurofighter Typhoon (photo: Ismael Jorda)

MANILA – Multinational aerospace and defense manufacturer Leonardo S.p.A (Leonardo) is very capable of customizing its twin-engine Eurofighter Typhoon to suit Philippine operational standards and conditions once the country formalizes an order for its multi-role fighter (MRF).

"The Eurofighter program has consistently configured the aircraft to meet each operator's specific environmental and operational conditions, a reflection of the platform's design flexibility and the depth of engineering experience behind it," Enrico Fossatti, head of Leonardo's Eurofighter Export Campaigns for marketing and sales, said in an email reply to the Philippine News Agency on Tuesday.

Eurofighter Typhoon, manufactured by the consortium of Leonardo, Airbus and BAE System, is among the options being looked into by the Department of National Defense (DND) for its MRF program.

Other options are Sweden's SAAB JAS-39 "Gripen", South Korea's KF-21 "Boramae", US-based Lockheed's F-16V "Viper" MRF, the Rafale of France-based Dassault Aviation.

Fossatti said the Eurofighter Typhoon's twin-engine configuration and safety record were built to demonstrate strength in demanding weather conditions such as operations over water and in extreme weather.

"So far, the Eurofighter (has) been flying in very different climate environments, from the Falklands to Iceland, from the Baltic to Australia, with demonstrated exceptional track records. The Philippines' tropical, maritime setting would naturally inform any configuration work. Should the Philippines proceed with the program, Leonardo and the partner nations would work directly with the Department of National Defense and the Philippine Air Force to tailor the aircraft accordingly, subject to possible bilateral agreements and the relevant approvals," he said.

Advanced weaponry
Aside from this, Fossatti said the Eurofighter Typhoon's weapons package or systems is one of the platform's core strengths.

He said the fighter jet is made to work "beyond-visual-range air-to-air missile for long-range engagement, alongside a comprehensive electronic warfare suite that allows the aircraft to operate effectively across a wide range of threat environments."

He said the precise composition of the weapons package for the Philippines will be determined by the final requirements and agreements reached with the Philippine government should the contract be finalized.

"What we can assure is that the aircraft will be equipped to fulfill the full range of missions required by the Philippine Air Force, drawing on a weapons integration pedigree that has been proven across multiple Eurofighter operators, subject to applicable approvals," he added.

Earlier, DND Secretary Gilberto Teodoro Jr. said the Philippines is looking for at least five possible suppliers for its MRF program to further improve the AFP's defensive capabilities.

He said the program is pegged to have an initial PHP60 billion to PHP150 billion budget and is under the Armed Forces of the Philippines Rehorizon Three. 

(PNA)

13 Agustus 2026

Kunjungan Kerja Komandan Batalyon Ranratfib 2 Marinir Di Skuadron Udara 700 Puspenerbal

13 Agustus 2026

Kunjungan kerja Komandan Batalyon Ranratfib 2 Marinir di Skuadron Udara 700 Puspenerbal (photos: PasMar2)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Surabaya). menyongsong era modernisasi Alutsista berbasis teknologi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) Komandan Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi 2 Marinir (Yonranratfib 2 Mar), Mayor Mar Ferry Prasetiadi menyambangi Skuadron Udara 700 Puspenerbal yang merupakan satuan khusus Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) / Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di bawah jajaran Wing Udara 2 Puspenerbal yang berlokasi di Juanda Surabaya Jawa timur. Senin (10/08)


Langkah strategis ini diambil untuk mempelajari dan menyerap kapabilitas teknologi drone intai guna memperkuat referensi kebutuhan taktis Kavaleri Marinir di medan operasi.


​Kegiatan ini selaras dengan misi komandan, yaitu membangun batalyon yang profesional, berkarakter, modern dan siap terintegrasi dengan teknologi mutakhir.

F-16 RSAF yang Digunakan dalam Pitch Black 2026 adalah Varian Upgrade F-16DU+

13 Agustus 2026

Pesawat tempur RSAF F-16DU+ (photo: Aviation Week)

DARWIN, Australia—Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) memanfaatkan kemampuan yang telah ditingkatkan pada pesawat tempur Lockheed Martin F-16C/D Blk. 52 mereka selama Latihan Pitch Black, sekaligus menggunakan latihan multinasional ini untuk bersiap menyambut kedatangan Lockheed Martin F-35B mulai akhir tahun 2026.

Pesawat yang telah ditingkatkan kemampuannya—dengan kode varian F-16CU/DU/DU+—ini dilengkapi dengan radar Northrop Grumman AN/APG-83 Scalable Agile Beam Radar (SABR) dan avionik yang diperbarui, serta telah disertifikasi untuk menggunakan rudal udara-ke-udara jarak pendek Rafael Python 5 dan bom berpemandu presisi Joint Direct Attack Munition (JDAM).

"Ini adalah radar yang bagus dan memiliki jangkauan deteksi target yang baik," ujar Kolonel Benjamin Fu, direktur latihan RSAF, kepada Aviation Week di lokasi Latihan Pitch Black.

"Pitch Black secara khusus mencakup wilayah udara yang sangat luas," tambah Fu. "Anda bisa tersesat jika tidak memiliki kesadaran situasional yang memadai. Peningkatan ini memungkinkan kami bertempur secara lebih efektif dengan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai posisi kami dan posisi ancaman."

F-16DU+ dalam Pitch Black 2026 (photo: Aus DoD)

Radar Active Electronically Scanned Array (AESA) AN/APG-83 SABR dilaporkan mampu memindai dan melacak antara 20 hingga 35 target secara bersamaan, sehingga secara signifikan meningkatkan kesadaran situasional F-16 dalam skenario pertempuran udara yang kompleks.

Fu tidak membahas kinerja operasional rudal Python 5, seraya mencatat bahwa penggunaannya "dibatasi" selama latihan multinasional yang bersifat tidak rahasia (unclassified) ini. Ia mengatakan bahwa sebagian besar pertempuran selama fase pengerahan kekuatan besar (large-force employment) dalam Pitch Black dilakukan menggunakan rudal jarak jauh (beyond-visual-range) RTX AIM-120 AMRAAM dan MBDA Meteor pada jarak sekitar 30-40 mil.

Python 5 terutama digunakan selama fase awal latihan manuver tempur dasar (basic fighter maneuver), meskipun Fu menyebutkan bahwa kombinasi antara Python 5 dan AIM-120 memberikan kemampuan tempur udara yang seimbang bagi F-16, baik dalam pertempuran jarak dekat (within-visual-range) maupun jarak jauh (beyond-visual-range). Pesawat F-16 tersebut juga menjatuhkan bom GBU-49 Enhanced Paveway dan GBU-31 JDAM dalam kondisi "lingkungan yang diperebutkan" (contested environments).

Rudal Rafael Python 5 (image: AeroContact)

Selain untuk memvalidasi peningkatan kemampuan F-16, RSAF juga memanfaatkan latihan Pitch Black untuk mempelajari penggunaan pesawat tempur generasi kelima menjelang penerimaan F-35B pertama mereka akhir tahun ini.

"Bagaimana cara kita mengintegrasikan pesawat tempur generasi keempat dengan generasi kelima? Terkait taktiknya—siapa yang berada di depan, siapa di belakang, serta bagaimana kita mengintegrasikan pertempuran secara efektif sebagai satu tim," ujar Fu.

Angkatan udara tersebut juga mengamati bagaimana operator F-35 yang lebih berpengalaman merencanakan dan melaksanakan operasi dengan formasi campuran (mixed-force packages), yang mencakup aspek di luar taktik udara, seperti perencanaan misi serta proses komando dan kendali.

"Hal ini akan memberikan kami keunggulan saat menerima F-35 nanti pada akhir tahun ini," kata Fu.

(Aviation Week)

12 Agustus 2026

Vietnam Memulai Pembangunan Korvet Anti-kapal Selam Serbaguna

12 Agustus 2026

Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menyampaikan pidato pengarahan (photos: QDND)

Pada pagi hari tanggal 10 Agustus, Song Thu Corporation (di bawah naungan Departemen Umum Industri Pertahanan), bekerja sama dengan Angkatan Laut Rakyat Vietnam, menyelenggarakan upacara peletakan batu pertama pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna. Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam—Anggota Komite Sentral Partai, Anggota Komite Tetap Komisi Militer Pusat, dan Wakil Menteri Pertahanan Nasional—hadir serta menyampaikan pidato pengarahan.

Para hadirin dalam upacara tersebut antara lain: Letnan Jenderal Le Ngoc Hai, Anggota Komite Sentral Partai dan Komandan Wilayah Militer 5; Laksamana Madya Tran Thanh Nghiem, Anggota Komite Sentral Partai dan Komandan Angkatan Laut Rakyat Vietnam; Nguyen Khac Toan, Anggota Komite Sentral Partai dan Wakil Sekretaris Tetap Komite Partai Kota Da Nang; Letnan Jenderal Dinh Quoc Hung, Sekretaris Komite Partai dan Komisaris Politik Departemen Umum Industri Pertahanan; serta Mayor Jenderal Pham Thanh Khiet, Wakil Direktur dan Kepala Staf Departemen Umum Industri Pertahanan.


Korvet anti-kapal selam serbaguna ini merupakan kapal perang terbesar dan paling modern yang pernah dibangun oleh Vietnam. Kapal ini merupakan produk yang dirancang dan dibangun secara mandiri oleh Vietnam, di mana negara tersebut menguasai sebagian besar teknologi persenjataan dan peralatan yang dipasang di dalamnya. Proyek ini mencerminkan kecerdasan, ketangguhan, aspirasi, serta semangat kemandirian dan penguatan diri bangsa; proyek ini menandai tonggak sejarah penting dalam pengembangan industri pembuatan kapal pertahanan dan militer, serta dalam kemampuan menguasai teknologi inti dan dasar, serta kemampuan meneliti, merancang, dan memproduksi senjata dan peralatan teknis di dalam negeri.

Pada saat yang sama, proyek ini menegaskan kebijakan tepat dari Partai dan Negara terkait pengembangan industri pertahanan yang "otonom, mandiri, memperkuat diri, memiliki fungsi ganda, dan modern." Ini merupakan peristiwa penting di bidang pembuatan kapal militer yang menunjukkan kemampuan sumber daya manusia Vietnam—termasuk para pejabat, ilmuwan, insinyur, dan tenaga teknis—dalam merancang, membangun, dan mengintegrasikan sistem senjata serta peralatan modern yang sangat terpadu di atas kapal tersebut. Dalam pidato utamanya pada upacara peletakan batu pertama, Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menegaskan bahwa tugas pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna ini telah dipercayakan kepada Song Thu Corporation oleh Kementerian Pertahanan Nasional, Departemen Umum Industri Pertahanan, dan Angkatan Laut Rakyat Vietnam. Song Thu Corporation merupakan salah satu fasilitas pembuatan kapal militer terkemuka, dengan sejarah pengembangan dan pertumbuhan selama 50 tahun yang membanggakan. Sepanjang kiprahnya, perusahaan ini terus berupaya mencapai keunggulan, membangun merek dan reputasi yang kuat dalam pembangunan serta pemeliharaan teknis kapal militer, maupun dalam pengembangan ekonomi dan ekspor, sehingga memberikan kontribusi vital bagi pertumbuhan industri pertahanan.


Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam sangat mengapresiasi tekad yang ditunjukkan oleh Angkatan Laut Rakyat Vietnam, Departemen Umum Industri Pertahanan, serta berbagai badan dan unit di bawah Kementerian Pertahanan Nasional; beliau memuji upaya cepat dan proaktif mereka dalam melaksanakan prosedur investasi yang sepenuhnya mematuhi peraturan. Beliau juga mengakui kerja keras dan dedikasi Song Thu Corporation dalam mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna tersebut. Terpilihnya Song Thu Corporation untuk membangun kapal perang strategis ini merupakan kehormatan besar, sekaligus menegaskan kompetensi, reputasi, dan posisi merek perusahaan tersebut, baik di sektor pembuatan kapal militer secara khusus maupun dalam industri pembuatan kapal dalam negeri secara keseluruhan.

Untuk memastikan pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna berjalan sesuai jadwal serta memenuhi seluruh persyaratan teknis dan kualitas, Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menginstruksikan badan dan unit terkait untuk memandang hal ini sebagai misi politik prioritas, serta mendesak mereka untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang ada dan melakukan koordinasi erat selama pelaksanaan. Terkait Angkatan Laut, Wakil Menteri Pertahanan Nasional menginstruksikan agar kekuatan tersebut menjalankan peran dan tugasnya secara efektif selaku pemilik proyek. Mereka harus terus berkoordinasi erat dengan badan-badan Kementerian Pertahanan Nasional dan unit-unit terkait untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, mereka diwajibkan untuk menerapkan manajemen yang ketat atas proses pembuatan kapal—memastikan konsistensi dan kesinambungan mulai dari tahap desain, manufaktur, integrasi sistem, pengujian, penerimaan, hingga serah terima—sembari memperkuat inspeksi dan pengawasan selama masa pembangunan, serta segera mengidentifikasi dan mengusulkan solusi atas setiap kesulitan atau masalah yang mungkin timbul.


Song Thu Corporation didesak untuk terus menjunjung tinggi tradisi solidaritas, kreativitas, dan disiplin, serta memandang kualitas produk sebagai cerminan kehormatan dan reputasi unit tersebut. Perusahaan harus mengerahkan seluruh sumber daya serta mendayagunakan kecerdasan kolektif, tekad, dan warisan pengalamannya; menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi teknis dalam produksi; serta mendorong inovasi dan transformasi digital dalam manajemen konstruksi. Selain itu, perusahaan wajib meninjau dan mengoptimalkan tahapan produksi secara berkala, mematuhi prosedur teknis secara ketat, menjamin keselamatan mutlak, serta memenuhi seluruh persyaratan teknis dan estetika sepenuhnya.

Military Industry-Telecoms Group (Viettel) beserta unit-unit yang bertanggung jawab atas penelitian, produksi, manufaktur, dan pemasangan peralatan, persenjataan, serta perangkat keras militer harus berkoordinasi erat dengan Angkatan Laut dan Song Thu Corporation selama proses pelaksanaan berlangsung. Mereka ditugaskan untuk mempercepat penelitian dan manufaktur produk, merampungkan prosedur yang diperlukan agar siap melakukan pemasangan, serta memastikan kualitas, kepatuhan terhadap ketentuan hukum, dan keselarasan dengan jadwal pembangunan kapal.


Instansi-instansi di bawah Kementerian Pertahanan Nasional ditugaskan untuk mengelola, membimbing, dan mengarahkan Angkatan Laut serta Song Thu Corporation guna memastikan proyek dilaksanakan secara cermat dan sepenuhnya mematuhi peraturan; mereka juga harus segera mengajukan solusi untuk mengatasi setiap kesulitan atau hambatan yang muncul demi menjamin keberhasilan pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna sesuai dengan rencana yang telah disetujui.

Letnan Jenderal Senior Pham Hoai Nam menyatakan keyakinannya bahwa berkat solidaritas, persatuan, dan tekad seluruh pihak yang terlibat—terutama melalui keahlian dan kecerdasan para pembuat kapal di Song Thu—misi pembangunan korvet anti-kapal selam serbaguna yang diamanatkan oleh Partai, Negara, dan Militer akan berhasil dituntaskan.