22 Oktober 2026

Latihan Puncak Keris Woomera 2026, Marinir dan ADF Kerahkan HIMARS Hingga Vampire, Gempur Sasaran

22 Oktober 2026

Latihan Keris Woomera 2026 TNI dan ADF (photos: Marinir, ADF)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta).  Korps Marinir TNI Angkatan Laut bersama Australian Defence Force (ADF) mengerahkan sederet senjata tempur dalam latihan puncak Combined Arms Live Fire Exercise (CALFEX) Latgabma Keris Woomera 2026.


Latihan berlangsung di PLP 5 Marinir Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur, Selasa (20/10/2026).


Dalam latihan tersebut, pasukan Indonesia dan Australia menyimulasikan operasi penyerbuan ke wilayah yang dikuasai musuh.


Berbagai alutsista dikerahkan secara terpadu untuk menghancurkan sasaran sekaligus menguji koordinasi dan kemampuan tempur gabungan kedua negara.


Sejumlah senjata andalan turut dikerahkan, mulai dari MLRS Vampire milik Korps Marinir, sistem roket HIMARS M142 milik Australia, hingga meriam Howitzer kaliber 105 milimeter dari kedua negara.


Serangan udara menggunakan pesawat Tucano juga menjadi bagian dari skenario latihan tersebut.


Tidak hanya itu, Marinir Indonesia mengerahkan RPG-7, sementara Australia menggunakan rudal antitank Javelin FGM-148. 


Kedua senjata ini melengkapi daya gempur pasukan dalam latihan operasi gabungan.


Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP. menegaskan bahwa Latgabma Keris Woomera 2026 bertujuan meningkatkan profesionalisme prajurit, memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia-Australia, serta memantapkan kesiapan operasi gabungan.

Infoglobal dan Terafulk Jajaki Kolaborasi Pengembangan Naval Systems

21 Oktober 2026

Infoglobal dan Terafulk jajaki pengembangan teknologi dan integrasi sistem yang dapat mendukung kebutuhan operasional pertahanan maritim (photo: Infoglobal)

PT Infoglobal Teknologi Semesta (Infoglobal) menerima kunjungan Terafulk di Workshop Infoglobal pada 15 Oktober 2026. Kunjungan yang dipimpin oleh Direktur Terafulk, Eko Prasetyanto, beserta jajaran manajemennya tersebut disambut oleh COO Infoglobal, Bagoes Soediarto.

Dalam dunia marionics (marine electronics) masih didominasi pemain besar dunia seperti Garmin, Sperry Marine, Raymarine, Navico, Furuno dan lain-lain, mungkin dengan kolaborasi ini Infoglobal akan memasuki industri ini (photos: Infoglobal) 

Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kedua perusahaan untuk bertukar wawasan, mengenal kapabilitas masing-masing, serta menjajaki peluang kolaborasi dalam pengembangan naval systems dan teknologi pertahanan maritim.

Dalam pertemuan tersebut, Infoglobal memperkenalkan kompetensi dan pengalamannya dalam pengembangan teknologi pertahanan, meliputi avionik, pemrosesan data radar, serta rekayasa dan integrasi perangkat keras dan perangkat lunak. Sementara itu, Terafulk memiliki kompetensi di bidang desain kapal, mencakup berbagai jenis platform, mulai dari kapal feri, kapal pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR) hingga unmanned surface vehicle (USV) atau kapal permukaan tanpa awak.


Perbedaan kompetensi tersebut membuka ruang untuk mengeksplorasi potensi sinergi, khususnya dalam pengembangan teknologi dan integrasi sistem yang dapat mendukung kebutuhan operasional pertahanan maritim. Melalui diskusi dan pertukaran pengetahuan, kedua perusahaan berupaya mengidentifikasi area kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan operasional serta perkembangan teknologi pertahanan.

Bagi Infoglobal, penjajakan ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk memperluas penerapan kompetensi rekayasa ke berbagai domain pertahanan, termasuk maritim.


Ke depan, Infoglobal berharap penjajakan ini dapat membuka peluang kolaborasi yang konstruktif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pengembangan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan pertahanan maritim dan kemajuan industri pertahanan nasional.

TLDM Bakal Peroleh 2 Kapal Hidrografi Baru dengan Belanjawan 2027

22 Oktober 2026

KD Perantau 151 satu-satunya kapal survei hidrografi TLDM saat ini (photos: TLDM)

KUALA LUMPUR: Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dijangka dapat mempercepat pemetaan dasar laut menerusi perolehan dua kapal hidrografi baharu jenis Survey Motor Launch (SML), yang diluluskan di bawah Belanjawan 2027.

Panglima TLDM, Laksamana Tan Sri Dr Zulhelmy Ithnain berkata perolehan itu diluluskan di bawah Rolling Plan Kedua Rancangan Malaysia Ke-13 (RMK13), namun proses untuk mendapatkan kapal berkenaan belum dimulakan.

Beliau berkata penambahan aset hidrografi itu penting bagi meningkatkan keupayaan pemetaan dasar laut, yang menjadi asas kepada penyelidikan saintifik, pembangunan dan keselamatan negara.

"Buat masa ini kita ada satu sahaja kapal hidrografi untuk membuat pemetaan. Jadi, untuk meliputi seluruh perairan Malaysia agak sukar.

"Dengan perolehan dua SML ini, proses itu akan boleh dipercepat. Kita harap pemetaan sepenuhnya menjelang 2050," katanya kepada pemberita selepas merasmikan program Seabed 2030 Indo-pacific Ocean Mapping Meeting & Data Sprint 2026 di sini hari ini.

Terdahulu dalam ucapannya, beliau berkata laporan Seabed 2030 mendapati hanya 28.7 peratus dasar laut dunia telah dipetakan mengikut piawaian moden, manakala lebih 70 peratus masih belum dipetakan dengan secukupnya.

Beliau berkata jurang itu mempunyai implikasi terhadap bidang sains, pembangunan dan keselamatan, sekali gus mengukuhkan keperluan Malaysia untuk meningkatkan keupayaan hidrografi negara.

Selain dua aset berkenaan, beliau berkata TLDM masih perlu bergantung kepada kapal sewaan bagi mempercepat proses pemetaan dasar laut, kerana aset sedia ada iaitu KD Perantau sudah berusia.

Dalam pada itu, Zulhelmy berkata pihaknya berpuas hati dengan peruntukan diumumkan dalam Belanjawan 2027, kerana membolehkan TLDM melaksanakan operasi yang diperlukan serta memperoleh aset baharu.

"Ada peningkatan daripada apa yang kita minta sebelum ini, tetapi kena faham juga bahawa harga sebelum ini dengan masa akan datang tidak sama. Jadi bajet itu stabil pada saya," katanya.

Mengenai perolehan aset lain, beliau berkata sebahagian keperluan yang dimohon sebelum ini masih dalam proses pelaksanaan dan perlu diselesaikan terlebih dahulu, sebelum TLDM memberi tumpuan kepada keperluan seterusnya.

Dalam perkembangan lain, Zulhelmy berkata cadangan bagi mewujudkan Akta Hidrografi yang bertujuan memberikan sandaran undang-undang kepada Pusat Hidrografi Nasional (PHN), masih dalam perbincangan.

Media sebelum ini melaporkan Ketua Pengarah PHN, Laksamana Muda Dr Najhan Md Said berkata akta khusus diperlukan, bagi menetapkan pusat itu sebagai pihak berkuasa nasional tunggal yang bertanggungjawab terhadap penghasilan carta nautika rasmi, tadbir urus data batimetri, serta pengisytiharan keselamatan maritim.

21 Oktober 2026

Australia Advances Undersea Warfare Capabilities

21 Oktober 2026

Australia has disclosed that Ghost Shark can be armed with advanced heavyweight and lightweight torpedoes to autonomously attack vessels and submarines as well as seamines and light strike drones (photos: Aus DoD)

The Albanese Government will this week mark a major milestone in the development and testing of advanced undersea warfare capabilities for the Australian Defence Force (ADF) at Maritime Big Play Pacific – an AUKUS Pillar II exercise – in San Diego.

For the first time, the Government is today unveiling the development and integration of payloads into the Ghost Shark and Speartooth Uncrewed Underwater Vehicles and BlueBottle. Some of these payloads will take part in Exercise Maritime Big Play Pacific.

The modular design of these platforms allows them to operate a range of different payloads, customised to the required mission. Payload examples include the remote delivery of supply caches, sea mines and uncrewed aerial vehicles.

These technologies directly deliver on the Royal Australian Navy’s mission requirements and will contribute to enhanced undersea warfare capabilities, seabed operations, sea denial and the protection of critical undersea infrastructure.


This latest milestone builds on the testing of payloads and enabling systems with Australia’s AUKUS partners at previous iterations of Exercise Maritime Big Play over the past three years.

It also complements the announcement by AUKUS Defence Ministers in May of the first Pillar II Signature Project: developing cutting-edge payloads and enabling systems for AUKUS partners’ uncrewed undersea vehicles.  

Through the 2026 National Defence Strategy (NDS) and Integrated Investment Program (IIP), the Albanese Government is investing up to $5.8 billion over the decade for autonomous and uncrewed undersea warfare capabilities, including $1.7 billion to acquire a new fleet of Australian­‑designed and built Ghost Shark platforms for the Royal Australian Navy.

Today’s announcement, at Anduril’s facility in New South Wales, demonstrates Australia’s growing leadership in autonomous undersea technologies and ability to translate cutting‑edge innovation into operational capability.


The advancement and design of payloads and enabling systems is a collaboration between the Royal Australian Navy, Defence Science and Technology Group, Advanced Strategic Capabilities Accelerator and defence industry.

Quotes attributable to Deputy Prime Minister, Richard Marles:
“In an increasingly complex strategic environment, the Albanese Government is committed to delivering practical outcomes that strengthen Australia's defence capability and build our sovereign defence industry.

“The development of advanced, cutting‑edge payloads under AUKUS Pillar II is a critical part of our work alongside the United States and the United Kingdom.

“Australia will again have the opportunity to showcase its sovereign developments at Exercise Maritime Big Play Pacific this week, and our work behind the scenes means we can be more open about our work to deliver these important technologies.”


Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy MP:
"Ghost Shark is a flagship Australian success story that showcases the ingenuity of our defence industry and the value of investing in sovereign capability. Our Government opened this factory less than a year ago and Ghost Sharks capable of a range of complex missions operating far from our shores are now rolling off the line at an increasing rate into the hands of the Australian Navy.

"This announcement is yet another landmark moment that underscores Australia is a world leader in the development of autonomous undersea capabilities. It also underscores the Albanese Government’s commitment to supporting our sovereign defence industry and a future made in Australia.

“The Albanese Government is committed to building a strong sovereign industrial base that delivers advanced capability for Defence while creating highly skilled jobs for Australians."

Launch of Two River Tugs for the Vietnamese Engineer Corps

21 Oktober 2026

Launch of the first TK300-class tugboat, featuring a 300-horsepower engine, for the Engineer Corps (photos: QDND)

QDND – On October 15, in Hai Phong, the Department of Military and Service Branch Technical Affairs (under the General Department of Logistics and Technical Affairs) held a launch ceremony for two 300-horsepower river tugs intended for the Engineer Corps. The vessels were newly constructed by Hong Ha Shipbuilding Company Limited (under the General Department of Defense Industry). Major General Do Anh Tuan, Deputy Director of the General Department of Logistics and Technical Affairs, presided over the ceremony.

The two 300-horsepower river tugs were commissioned by the Department of Military and Service Branch Technical Affairs, following approval from higher authorities for their construction and subsequent assignment to the Engineer Corps.


Speaking at the ceremony, Colonel Huynh Van Dong, Deputy Director of the Department of Military and Service Branch Technical Affairs, commended the efforts of the staff and workers at Hong Ha Shipbuilding Company Limited. He also highlighted the close coordination among design consultants, supervisory consultants, and the registry authority throughout the construction, inspection, monitoring, and technical acceptance phases—all of which were completed on schedule and in compliance with technical requirements.

Colonel Huynh Van Dong instructed the construction unit to finalize the remaining components and to coordinate with relevant agencies and units to conduct inspections and formal acceptance, ensuring that the project meets all quality standards, timelines, and regulatory requirements.


Once completed and put into service, the two tugs will perform towing, pushing, and maneuvering tasks for ferries. They will also support riverine mobility operations at key locations along the Red River, the Duong River, and other waterways in Northern Vietnam. The two newly built vessels (design designation TK300) have an overall length of 17.26m, a maximum beam of 5.95m, and a full-load displacement of 74.9 tons. Each is equipped with a main engine with a power output of 257kW, capable of reaching a maximum speed of 9.5 knots, and is operated by a crew of five.

The construction of these two vessels is of significant importance, serving to incrementally enhance technical support capabilities and meet the requirements for training, combat readiness, flood and storm prevention, search and rescue operations, and other ad-hoc missions undertaken by the Engineer Corps.

PT Len Targetkan Instalasi 13 Radar GCI Rampung Pada 2027

21 Oktober 2026

Radar GCI GM 400 TNI AU (photos: LEN)

Bandung (ANTARA) - PT Len Industri (Persero) menargetkan instalasi 13 unit radar ground control intercept (GCI) yang akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan udara nasional, selesai pada 2027.

“Khusus radar sedang berjalan … [targetnya] tahun depan,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri Dwi Sulistiani di Bandung, Jawa Barat, Selasa.

Ia menjelaskan sejauh ini instalasi radar telah rampung di dua lokasi. “Ini memang mendukung pertahanan di kawasan timur, khususnya, yang notabene ini menjadi fokus dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.

Menurut dia, tantangan aktivasi radar tidak hanya berkaitan dengan perangkat dan teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung meliputi fasilitas operasional bagi prajurit, tempat tinggal, fasilitas pemantauan, serta ruang kendali operasi.

Namun Dwi menilai bahwa dalam pelaksanaannya, holding industri pertahanan Indonesia (Defend ID) itu mendapat dukungan Kementerian Pertahanan serta pemangku kepentingan lain, termasuk pemerintah daerah.

“Di dalam aktivasi radar ini tentunya harus bisa komunikasi, minimal di lingkup matra udara itu sudah. Tantangannya memang kita harus menuntaskan dengan matra yang lain, salah satunya laut,” ujarnya.

Radar GCI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Perancis. GCI tercatat menjadi radar dengan jangkauan terjauh di Indonesia, yakni lebih dari 400 kilometer.

Radar itu disebut memiliki kemampuan mendeteksi, mengukur jarak, dan mengidentifikasi objek pesawat dengan keakuratan tinggi serta dilengkapi kemampuan mengidentifikasi objek yang menjadi kawan maupun lawan/musuh atau identification friend or foe (IFF).

Pada Juli lalu, PT Len memperkenalkan implementasi radar GCI generasi terkini pertama di Indonesia yang dipasang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kemampuan deteksi jarak jauh tercatat mencapai radius 515 kilometer.

(AntaraNews)

20 Oktober 2026

G7 Aerospace Paparkan Konsep Malaysian Tactical Data Link (M-Link)

20 Oktober 2026

Presentasi M-Link oleh G7 Aerospace kepada ATM (photos: BPP ATM)

Persembahan Taklimat Pembangunan Sistem Indigeneous Malaysia Tactical Data Link kepada Angkatan Tentera Malaysia dan Lawatan Fasiliti G7 Aerospace Sdn Bhd

SEPANG – Angkatan Tentera Malaysia (ATM) telah menerima satu sesi persembahan daripada Syarikat G7 Aerospace Sdn. Bhd. (G7A) berkaitan cadangan pembangunan Indigenous Malaysian Tactical Data Link (M-Link) bagi meningkatkan keupayaan perkongsian maklumat taktikal serta kesalingoperasian antara pelbagai platform ATM. Sesi tersebut telah dipengerusikan oleh Mej Jen Omar bin Hj Dawami TUDM, Ketua Pengarah Perancang Pembangunan, MK ATM – BPP.

Sesi tersebut memberikan gambaran umum berkaitan konsep M-Link sebagai sistem Tactical Data Link (TDL) tempatan yang bertujuan mewujudkan format dan protokol data taktikal yang seragam bagi menyokong perkongsian maklumat antara pelbagai platform ATM.

Cadangan pembangunan turut menekankan usaha membangunkan ekosistem teknologi tempatan secara berperingkat bagi menyokong keperluan dan pembangunan keupayaan TDL ATM. Sesi ini turut dihadiri oleh wakil daripada perkhidmatan dan bahagian ATM, iaitu TDM, TLDM, TUDM, BGSP dan STRIDE.

Sesi tersebut turut disusuli dengan lawatan ke fasiliti G7A bagi memberi pendedahan kepada pihak ATM berhubung kemudahan, teknologi dan keupayaan yang dimiliki oleh syarikat. Secara keseluruhannya, sesi ini menjadi platform kepada ATM untuk mendapatkan maklumat awal serta meneliti potensi keupayaan G7A dalam menyokong pembangunan National Tactical Data Link (NTDL) ATM pada masa hadapan.

(BPP-ATM)