03 September 2026

Soal Alutsista TNI yang Menua, Modernisasi Harus Diikuti Strategi Pensiun

03 Agustus 2026

6 Fregat Ahmad Yani class, 2 unit sudah diganti Sigma 105, 2 unit diganti PPA dan 2 unit diganti dengan Arrowhead 140 (photo: TNI AL)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pensiunnya KRI Ki Hajar Dewantara-364 menjadi gambaran bahwa modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia tak hanya soal mendatangkan armada baru. 

Saat bersamaan, pemerintah juga harus menentukan kapan alutsista lama sudah tak lagi layak dipertahankan dan bagaimana mengakhiri masa pakainya. 

Komisi I DPR menyetujui rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara-364 dalam rapat kerja bersama Kemenhan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Panglima TNI, dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Kamis (27/8/2026).

Kapal yang dibangun pada 1980 itu dinilai sudah tidak memenuhi persyaratan untuk menjalankan tugas pokok TNI AL.

Korvet Fatahillah class, 2 dari 3 kapal telah dilakukan Mid-life Upgrade (photo: TNI AL) 

Usianya juga telah melampaui masa manfaat ekonomis dan teknis.

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto mengatakan, mempertahankan kapal tersebut justru akan menjadikannya dead stock karena sudah tidak memiliki manfaat operasional.

"Sudah tidak memiliki manfaat operasional akan menyebabkan aset tersebut menjadi dead stock, serta berpotensi menimbulkan biaya penyimpanan dan pemeliharaan tanpa memberikan manfaat yang sebanding," kata Donny saat rapat bersama Komisi I DPR. 

Persetujuan pelelangan diberikan setelah DPR menerima Surat Presiden (Surpres) Nomor R-33/Presiden/07/2026 tertanggal 14 Juli 2026. 

4 Kapal Cepat Rudal Mandau class sudah dipesankan KCR-70 dari Turki (photo: TNI AL)
 
Berkaca kasus KRI Ki Hajar Dewantara yang masuk usia tua kemudian dilelang, lantas seperti apa persoalan pengelolaan alutsista Indonesia selama ini?

Kapan tepatnya alutsista dikatakan sudah usia "uzur" dan siap dipensiunkan?

Usia 30 tahun dinilai mulai jadi titik evaluasi 
Pengamat pertahanan sekaligus Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko, mengatakan usia pakai alutsista, khususnya kapal perang, dipengaruhi oleh dua hal utama, yakni kualitas perawatan dan perkembangan teknologi. 

Kapal yang dirawat dengan baik dapat memiliki usia operasional lebih panjang. Namun, kemampuan fisik kapal bukan satu-satunya ukuran kelayakan.

16 Korvet Anti Kapal Selam Parchim class penggantiinya menunggu keputusan (photo: TNI AL)

"Persoalannya bukan hanya apakah kapal masih bisa berlayar, tetapi untuk misi apa kapal tersebut masih layak digunakan," kata Dwi kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2026). 

Dalam Operasi Militer Perang (OMP), misalnya, kapal dituntut memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi peperangan modern. 

Salah satu faktor penting adalah sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR).

Sebuah kapal mungkin masih mampu berlayar, tetapi apabila sistem elektronika, sensor, komunikasi, serta kemampuan integrasi datanya sudah tertinggal, efektivitasnya ketika beroperasi dalam sebuah gugus tugas juga ikut menurun. 

14 unit kapal FPB 57 class sudah diganti secara bertahap dengan KCR-60 (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, secara umum sekitar 30 tahun dapat menjadi patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang. 

"Secara umum, 30 tahun dapat dijadikan patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang," ungkapnya.

"Di atas usia tersebut kapal masih mungkin dioperasikan, tetapi kemampuan dan efektivitasnya biasanya akan menurun secara bertahap, tergantung kondisi kapal, tingkat perawatan, serta modernisasi yang dilakukan," lanjutnya.

Sebagian kapal TNI AL sudah di atas 30 tahun 
Persoalannya, kondisi alutsista TNI saat ini masih diwarnai sejumlah aset yang telah berusia sangat tua. 

14 unit Frosch class Landing Ship Tank tipe medium, belum ada penggantinya (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, riset ISDS menemukan sekitar 60 persen kapal TNI AL telah berusia lebih dari 30 tahun. 

"Rata-rata alutsista TNI sudah tua. Riset ISDS diantaranya pernah menemukan bahwa usia rata-rata kapal TNI AL 60 persen sudah di atas 30 tahun," beber Dwi. 

Bahkan, menurutnya TNI AL masih mengoperasikan KRI Teluk Amboina yang telah berusia sekitar 65 tahun.

Kondisi serupa juga ditemukan di matra lain. TNI AD, misalnya, masih mengoperasikan meriam Gunung M-48 kaliber 76 milimeter buatan Yugoslavia tahun 1948. 

12 unit LST besar buatan AS dan 6 unit LST buatan Korsel secara bertahap telah diganti dengan LST 117m dan juga kapal LPD (photo: Poros Nusantara) 
 
"Realitasnya, banyak kapal TNI AL sudah uzur. Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh," ujar Dwi. 

Menurut dia, apabila biaya mempertahankan sebuah alutsista sudah terlalu besar dibandingkan kemampuan yang diberikan, pemerintah harus mulai mempertimbangkan opsi pensiun atau penggantian.

Begitu pula ketika kondisi teknisnya sudah tidak memenuhi standar keselamatan maupun tugas pokok. 

Pensiun alutsista melalui proses berlapis 
Keputusan memensiunkan alutsista juga bukan kewenangan satu lembaga saja.

3 kapal tanker telah selesai dibangun namun kapal tanker kecil tidak diteruskan dan kapal fleet tanker belum ada penggantinya (photo: Lakhtikov Dmitiy)

Dwi menjelaskan, prosesnya dimulai dari Kepala Staf Angkatan yang bersangkutan. Usulan tersebut kemudian diajukan kepada Panglima TNI. 

Panglima TNI selanjutnya meneruskan permohonan kepada Kemenhan untuk diproses lebih lanjut. 

Kemenhan berkoordinasi dengan Kemenkeu sebagai pengelola aset negara. Dokumen tersebut kemudian diteruskan kepada Presiden. 

Setelah itu, pemerintah dan Panglima TNI melakukan pembahasan bersama Komisi I DPR untuk mendapatkan persetujuan dalam proses pemindahtanganan atau penghapusan aset.

9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor II telah datang penggantinya 2 unit dari Jerman (photo: Antara)

Dengan mekanisme tersebut, alutsista yang sudah tidak layak operasional tidak serta-merta bisa dihapus atau dijual. 

Ada proses administratif yang harus dilalui untuk memastikan status aset negara tersebut dapat dipertanggungjawabkan. 

KRI Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu contoh bagaimana proses tersebut berjalan. 

Setelah dinilai tidak lagi memenuhi kebutuhan operasional dan telah melewati masa manfaat ekonomis maupun teknis, pemerintah mengajukan pemindahtanganannya melalui mekanisme lelang hingga akhirnya memperoleh persetujuan Komisi I DPR. 

BTR50 dan PT-76 Korps Marinir telah bertahap dibelikan LVT-7 dan BMP-3F namun jumlahnya belum mencukupi (photo: Antara)
 
Tak harus berakhir jadi besi tua 
Alutsista yang memasuki masa pensiun juga tidak selalu harus berakhir sebagai besi tua. 

Untuk aset tertentu yang memiliki nilai sejarah, pemerintah dapat mempertahankannya sebagai bagian dari museum, monumen, atau sarana pendidikan. 

Alutsista yang masih memiliki nilai guna tertentu juga dapat dialihfungsikan untuk kepentingan nonoperasional setelah melalui proses demiliterisasi dan perubahan status. 

Pilihan tersebut membuka kemungkinan agar aset yang sudah tidak layak digunakan untuk perang tetap memberikan manfaat. 

8 unit NC-212 seri angkut dan patroli maritim kini sebagian telah didatangkan dengan seri CN-235 (photo: Puspenerbal)

Namun, untuk aset yang sudah tidak memiliki nilai operasional maupun historis, pelelangan dapat menjadi pilihan.

Dwi menilai langkah pemerintah melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara merupakan terobosan karena aset yang sudah tidak digunakan masih dapat memberikan nilai ekonomi bagi negara. 

"Selama ini, alutsista yang sudah tidak digunakan sering kali hanya dipotong-potong atau dijadikan sasaran tembak dalam latihan. Dengan mekanisme penjualan atau lelang, aset yang sudah tidak digunakan masih memiliki nilai ekonomi dan dapat memberikan penerimaan bagi negara," ujarnya. 

Jangan menunggu sampai benar-benar uzur 
Bagi Dwi, persoalan utama bukan hanya bagaimana menyelesaikan alutsista yang sudah pensiun, tetapi bagaimana pemerintah mengantisipasi masa pensiun tersebut sejak jauh hari.

KRI Cakra 401 telah dipesankan dua kapal selam Scorpene LIB namun karena selesainya lama dibutuhkan kapal selam interim (photo: Antara)

Alutsista yang mendekati akhir masa pakainya perlu dievaluasi secara berkala. 

Evaluasi mencakup kondisi teknis, sisa usia pakai, kemampuan operasional, kebutuhan modernisasi, hingga biaya pemeliharaan. 

Dari evaluasi tersebut, pemerintah dapat menentukan apakah sebuah alutsista masih layak dipertahankan, dimodernisasi, diperpanjang usia pakainya, atau mulai disiapkan untuk dipensiunkan. 

"Strateginya harus dimulai dari pemeliharaan yang disiplin dan perencanaan sejak dini," kata Dwi.

Korvet latih KRI Ki Hajar Dewantara 364, perhatikan bahwa sebagai kapal latih mempunyai 2 bridge (photo: TNI AL)

Menurut dia, anggaran pemeliharaan juga harus diawasi agar benar-benar digunakan sesuai peruntukan. 

"Anggaran pemeliharaan juga harus dijaga agar benar-benar digunakan sesuai peruntukannya dan tidak disalahgunakan oleh oknum, karena menyangkut langsung keselamatan prajurit dan kesiapan pertahanan," ujarnya. 

Alutsista yang sudah tua pun tidak boleh dipaksakan beroperasi di luar kemampuan teknisnya. 

Sebab, mempertahankan alutsista hanya demi mengejar jumlah justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan kerusakan.


263 Unit TEDUNG dan KALA akan Diserahkan kepada ATM

03 September 2026

Tedung HMV (photo: Agrale)

KUALA LUMPUR – Angkatan Bersenjata Malaysia (ATM) akan menerima 263 unit aset mobilitas tinggi baru, yang mencakup TEDUNG dan KALA, dengan nilai total RM164,91 juta untuk memperkuat kemampuan pergerakan taktis dan pengintaian di berbagai medan operasi.

Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin, meluncurkan aset-aset tersebut setelah meresmikan Upacara Peluncuran Bulan Kebangsaan dan Pengibaran Jalur Gemilang 2026 tingkat Kementerian Pertahanan di Dataran Wisma Pertahanan, hari ini.

TEDUNG adalah platform Kendaraan Mobilitas Tinggi (High Mobility Vehicle) berbasis Agrale Marruá AM250 Double Cab yang dikembangkan untuk menawarkan ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan manuver di berbagai lingkungan operasi.

Sebanyak 163 unit TEDUNG akan dipasok, yang terdiri dari 80 unit Kendaraan Pembawa Senjata (KPS) AGL dan 83 unit KPS HMG, dengan total nilai kontrak sebesar RM92,91 juta.
TEDUNG ditenagai oleh mesin diesel Cummins F3.8 Intercooled Turbo yang menghasilkan tenaga maksimum 170 cv (125 kW) dan torsi 600 Nm, serta dilengkapi dengan sistem penggerak 4×4 *full-time*. Kendaraan ini juga memiliki jarak terendah ke tanah (*ground clearance*) sebesar 350 milimeter, sudut datang (*approach angle*) 58 derajat, dan kemampuan menanjak hingga 60 persen di jalan beraspal serta 40 persen di medan *off-road* (lintas alam).

Kala HMV (photo: Agrale)

Sementara itu, KALA adalah Kendaraan Pengintai Mobilitas Tinggi (*High Mobility Reconnaissance Vehicle* atau HMRV) yang dikembangkan untuk memberikan mobilitas taktis, kelincahan, dan kemampuan melintasi berbagai medan guna mendukung beragam kebutuhan operasi.

Sebanyak 100 unit KALA akan dipasok melalui kontrak senilai RM72 juta. KALA ditenagai oleh mesin Rotax 900cc ACE *Turbocharged* dengan tenaga hingga 200 HP serta dilengkapi dengan sistem penggerak 2WD/4WD, pengunci diferensial depan, dan suspensi khusus medan *off-road*. KALA juga memiliki jarak bebas ke tanah (*ground clearance*) sebesar 330 milimeter dan mampu melintasi genangan air sedalam 500 milimeter, mengatasi rintangan vertikal setinggi 300 milimeter, serta melintasi parit selebar 500 milimeter. Kendaraan ini memiliki kapasitas untuk mengangkut seorang pengemudi dan tiga orang awak lengkap.

Pengadaan kedua aset ini juga memungkinkan TEDUNG dikonfigurasi ke dalam berbagai varian sesuai kebutuhan misi, termasuk KPS, *Fitted for Radio* (FFR), Kendaraan Penarik Meriam (KPM), dan Kendaraan Komando.

Langkah ini mencerminkan upaya berkelanjutan ATM untuk memperkuat kemampuan dan kesiapan aset guna memenuhi kebutuhan operasional saat ini maupun di masa depan. 

(ATM)

02 September 2026

RSN and JMSDF Successfully Conclude Exercise Singapan

02 September 2026

Singapore-Japan on Exercise Singapan 2026 (photos: Sing Mindef)

The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) concluded Exercise Singapan, a bilateral naval exercise between the two countries.


The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) concluded Exercise Singapan, a bilateral naval exercise between the two countries. Held from 27 to 28 August 2026 in the waters off Japan in the Pacific Ocean, the exercise saw the participation of the RSN’s Formidable-class frigate RSS Steadfast and the JMSDF’s Asagiri-class destroyer JS Hamagiri and Akizuki-class destroyer JS Teruzuki.


During the exercise, both sides exchanged sea riders and conducted a series of conventional warfare serials. These included gunnery firings, communication exercises, and manoeuvring serials. Personnel from both sides also engaged in exercise planning and ship visits ashore.


Commander First Flotilla, Colonel (COL) Carlin Song, and Commander Surface Warfare Squadron Nine, Captain (CAPT) Iwade Yohei, co-officiated at the opening ceremony at Yokosuka Naval Base on 27 August 2026. Highlighting the importance of continued cooperation, COL Song said, “The RSN and JMSDF share a warm and friendly relationship, built on professional exchanges, exercises, and ship visits. This bilateral exercise reflects our commitment to deepening cooperation and strengthening friendships.”


RSS Steadfast recently hosted Navy at Tokyo from 21 to 22 August 2026, before the commencement of Exercise Singapan.

Peresmian Batalyon Armed 22/Kesumawira

02 September 2026

Rudal balistik taktis Khan/ITBM-600 berjangkauan 280 km melengkapi YonArmed 22 (photos: YonArmed 22, Polri)

Kutai Kartanegara, Pada tanggal 19/08/2026 Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi meresmikan Batalyon Armed 22/Kesumawira yang bertempat di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan peresmian turut dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI dan Polri serta unsur Forkopimda di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Danpussenarmed, Danrem 091/ASN, Danrem 092/MRL, Bupati Kutai Kartanegara, unsur Muspida, serta para Mitra satuan.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi melaksanakan penyerahan Tunggul Batalyon Armed 22/Kesumawira kepada Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., selaku Komandan Batalyon Armed 22/Kesumawira.

Penyerahan Tunggul tersebut menjadi simbol resmi berdirinya Batalyon Armed 22/Kesumawira sekaligus menjadi tonggak awal dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian satuan di wilayah Kalimantan Timur.


Dengan diresmikannya Batalyon Armed 22/Kesumawira, diharapkan satuan ini mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

Sebagai satuan baru, Batalyon Armed 22/Kesumawira akan terus membangun soliditas, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan seluruh komponen masyarakat.


Momentum peresmian ini menjadi awal perjalanan pengabdian Batalyon Armed 22/Kesumawira dalam menjaga kehormatan satuan, melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

Royal Thai Army Conducted Live-fire Test of Hard Kill UAV System

02 Agustus 2026

Live-fire Test of Hard Kill UAV System at Khao Phu Lon Artillery Range, Lopburi (photos: Royal Thai Army)

On August 27, 2026, Maj. Gen. Rawee Tangpitakkul, Director of the Army Research and Development Office (ARDO), and his team observed a live-fire test. The system being tested—an anti-UAV (Unmanned Aerial Vehicle) turret—was developed through a joint research project involving Assoc. Prof. Dr. Chana Raksiri and a research team from Kasetsart University, in collaboration with the Royal Thai Army, ArmySys Co., Ltd., and Thai Rung Co., Ltd. The test took place at the Khao Phu Lon Artillery Range, Artillery Center, Lopburi Province.


This live-fire test utilized a 12.7mm machine gun against an aerial target (a drone towing a balloon). The objective was to evaluate the performance of the turret's control and command software across two developed configurations:
1. Vehicle-mounted turret (Mobile type)
2. Ground-based turret (Stationary type)


Test results demonstrated that the turret could automatically track targets detected by EO/IR cameras and accurately destroy moving targets—as designed in the Automatic Tracking and Fire Control software. This developed platform serves as a crucial foundation, ready to be adapted for broader anti-drone and moving-target defense systems capable of handling various engagement ranges and mission profiles.

01 September 2026

KRI Makassar-590 Laksanakan Latihan SBO Heli Trimatra

01 September 2026

Latihan Ship Board Operation (SBO) heli Bell 412 dari TNI AD, H 3218 Superpuma dari TNI AU, dan AS565 MBe Panther dari TNI AL (photos: Satfib Koarmada2)

KRI Makassar-590, bagian dari Satuan Kapal Amfibi Koarmada II, melaksanakan latihan Ship Board Operation (SBO) Heli pada 26 Agustus 2026 untuk meningkatkan kemampuan operasional penerbangan helikopter dari kapal. 

Latihan ini melibatkan TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara dengan KRI Makassar-590 berfungsi sebagai kapal Landing Platform Dock (LPD).


Tiga jenis helikopter yang digunakan adalah Bell 412 dari TNI AD, H 3218 Superpuma dari TNI AU, dan AS565 MBe Panther dari TNI AL. Kegiatan ini merupakan bagian dari Naval Parade untuk merayakan Hari Ulang Tahun TNI dan bertujuan meningkatkan koordinasi, interoperabilitas, dan integrasi operasi. 

Latihan ini juga menguji kesiapan personel dan prosedur operasi. KRI Makassar-590 berperan penting dalam mendukung operasi amfibi dan siaga untuk menjaga keamanan wilayah Indonesia.


KRI Makassar-590 siap mendukung operasi dan latihan gabungan TNI secara profesional dan terintegrasi.

Coast Guard Radar Station in Pangutaran, Sulu Reaches 100% Completion

01 September 2026

Coast Guard radar station at Pangutaran, Sulu (photos: PCG)

 The CGWCEIS Sulu personnel successfully installed the radar scanner, including the obstruction light (OB Light), at the top of the Coast Guard Radar Tower at Coast Guard Radar Station Pangutaran, Sulu, today August 26, 2026.

This significant milestone marks the completion of the remaining installation works, bringing the Coast Guard Radar Station Pangutaran project to 100% completion.

The newly completed facility will further enhance maritime domain awareness, safety, security, and monitoring capabilities within the area.

(PCG)