04 Juli 2026

Army Chief Vows More Modernization for Artillery, Missile Unit

04 Juli 2026

1st Ground-Launched Missile Battalion prepared to receive and operate one or a combination of the following missile systems BrahMos Supersonic Missile System (complementing with PMC) and K239 Chunmoo MLRS multiple rocket launcher system (photo: Philippine Army)

MANILA – Philippine Army (PA) chief Lt. Gen. Antonio Nafarrete on Monday said he will do everything he can to support the ongoing modernization of the Army Artillery Regiment (AAR) to make it more capable in defending the country against all forms of threats.

"We will continue to invest in modernization, professional development, operational readiness, and innovation to ensure that the Philippine Artillery remains highly capable, adaptive, and always mission-ready," he said in a statement.

Nafarrete stressed the need for sustained modernization and readiness amid a rapidly evolving security environment, noting that today's threats demand agility, competence and the capacity to act with precision and decisiveness.

The PA chief also challenged the AAR to press forward in deepening professional development and strengthening operational readiness.

Among the recent modernization and organizational updates from the AAR were the provisional activation of the 1st Ground-Launched Missile Battalion which enhances the PA’s ability to deter threats and defend national sovereignty and the strengthening of its Light Deployable Battery Communication System.

"We will meet the challenges together. We will remain relentless in our pursuit of excellence," the PA chief said.

Incidentally, the AAR celebrated its 128th founding anniversary on June 27 at Fort Magsaysay in Nueva Ecija.

The event was jointly celebrated with the Artillery Foundation of the Philippines Inc. which honored the long line of PA cannoneers who have defined the legacy of the AAR, also known for its moniker "King of Battle." 

(PNA)

Technical Refuelling Pesawat E-2D Jepang di Lanud Sam Ratulangi

04 Juli 2026

Latihan dukungan technical refuelling terhadap pesawat E-2D Hawkeye JASDF (photos: TNI AU)

MANADO, LANUD SAM RATULANGI. Lanud Sam Ratulangi melaksanakan dukungan technical refuelling terhadap pesawat E-2D Hawkeye milik Japan Air Self-Defense Force (JASDF) yang singgah di Lanud Sam Ratulangi. Jum'at (3/7/2026).


Kegiatan technical refuelling ini merupakan bagian dari dukungan operasional yang diberikan TNI Angkatan Udara melalui Lanud Sam Ratulangi guna memastikan kelancaran penerbangan pesawat. Seluruh proses pengisian bahan bakar dan pelayanan darat dilaksanakan secara profesional, aman, dan sesuai prosedur yang berlaku.


Kedatangan pesawat E-2D Hawkeye di Lanud Sam Ratulangi menjadi salah satu bentuk kepercayaan negara sahabat terhadap kesiapan fasilitas dan kemampuan Lanud Sam Ratulangi dalam memberikan dukungan logistik penerbangan bagi pesawat militer asing yang melaksanakan misi dengan izin Pemerintah Republik Indonesia.


Melalui dukungan ini, Lanud Sam Ratulangi terus menunjukkan profesionalisme serta kesiapan dalam mendukung berbagai kegiatan kerja sama militer internasional, sejalan dengan upaya mempererat hubungan pertahanan dan persahabatan antarnegara di kawasan Indo-Pasifik.

Aset Udara Dilibatkan dalam Latihan Kuasa Tembakan 2026 untuk Pertingkat Keupayaan Tempur

04 Juli 2026

Aset udara LKT 2026 yang dilibatkan adalah (TLDM) Super Lynx dengan 12,7mm FN M3M HMG, AW139 Long Nose variant, (TDM) MD 530G dengan senapan Gatling M134D 7,62mm, peluncur roket FZ220 dan pod senapan FN M3P HMG 12,7mm,  AW109 dengan senapan 7.62mm M134D Gatling, EC725 AP untuk penyisipan dan ekstraksi Special Force  serta termasuk penggunaan UAV FlyEye (photos: BTDM, PMBTD, ATM, TUDM)

Latihan Kuasa Tembakan 2026 Pertingkat Keupayaan Tempur dan Operasi Gabungan ATM

GEMAS – Latihan Kuasa Tembakan (LKT) 2026 yang berlangsung di Lapang Sasar Gemas Kem Syed Sirajuddin telah memperlihatkan keupayaan tempur serta kesiagaan Angkatan Tentera Malaysia (ATM) menerusi demonstrasi operasi gabungan melibatkan Tentera Darat Malaysia (TDM), Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dan Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

Latihan tahunan anjuran TDM ini dijadikan sebagai platform untuk memperagakan keupayaan, kesiagaan dan interoperabiliti aset ATM dalam menghadapi cabaran keselamatan semasa.

TDM menampilkan keupayaan tempur darat melalui pengoperasian aset utama seperti PT-91M Pendekar, Malaysian Infantry Fighting Vehicle (MIFV), AV8 Gempita Surveillance serta sistem artileri dalam melaksanakan operasi ofensif yang melibatkan elemen armor, mekanis, risikan dan sokongan tembakan.

Demonstrasi turut memperlihatkan keupayaan operasi gabungan ATM melalui penglibatan aset udara dan sokongan bersama, termasuk penggunaan UAV FlyEye, aset penerbangan serta elemen sokongan TLDM dan TUDM dalam memperkukuhkan kesedaran medan tempur, pemerolehan sasaran dan kuasa serangan.

Melalui konsep peperangan gabungan, latihan ini menggambarkan bagaimana elemen darat, udara dan laut disepadukan bagi menghasilkan kesan operasi yang maksimum. 

Keupayaan TDM dalam melaksanakan manuver tempur disokong oleh kuasa tembakan artileri, risikan medan serta sokongan udara dan laut bagi memastikan kejayaan misi.

Kemuncak LKT 2026 menyaksikan demonstrasi kuasa tembakan bersepadu melibatkan pelbagai sistem persenjataan yang membuktikan tahap profesionalisme, disiplin dan kesiagaan pasukan dalam melaksanakan operasi bersama secara tersusun dan berkesan.

LKT ini menjadi bukti komitmen ATM dalam memperkukuhkan keupayaan tempur, integrasi bersama serta kesiapsiagaan menghadapi persekitaran operasi moden.

(TDM)

03 Juli 2026

Ini Analisis Janes Tentang Kapal Selam Myanmar dari Citra Satelit

03 Juli 2026

Citra satelit kapal selam Myanmar (photo: Jane's)

Citra satelit yang dianalisis oleh Janes memberikan indikasi terkuat hingga saat ini bahwa program kapal selam pesisir Myanmar yang kurang dikenal, yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2024, tetap aktif dan beroperasi.

Citra tersebut, yang diambil pada Maret 2026 tetapi baru-baru ini tersedia, menunjukkan kapal selam pesisir terdampar di tempat yang tampaknya merupakan alat pengangkat sinkrolift di Galangan Kapal Angkatan Laut Sinmailik di Thanlyin, menunjukkan bahwa kapal tersebut sedang menjalani perawatan atau perbaikan.

Berdasarkan pengukuran yang diambil dari citra satelit, kapal selam tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 37 m dan memiliki susunan kemudi berbentuk salib.

Karakteristik ini sesuai dengan kapal selam pesisir yang terlihat di Sungai Yangon dalam citra satelit yang diambil pada April 2023.

Dalam citra terbaru, kapal selam tersebut berada di samping kapal patroli kelas Yan Nyein Aung, dengan kedua kapal tersebut tampak sedang menjalani perawatan atau servis.

Citra satelit kapal selam Myanmar (photo: DDFNews)

Janes menilai bahwa penampakan ini menunjukkan bahwa kapal selam tersebut bukan sekadar demonstrator teknologi, platform evaluasi, atau kapal yang dipinjam untuk tujuan pengenalan.

Sebaliknya, keberadaan kapal selam di fasilitas perawatan angkatan laut menunjukkan bahwa kapal tersebut dipertahankan dalam struktur kekuatan Angkatan Laut Myanmar, yang menyiratkan setidaknya beberapa tingkat penggunaan operasional dan dukungan kelembagaan.

Dimensi kapal selam tersebut jauh lebih kecil daripada kapal kelas Kilo bekas India milik Angkatan Laut Myanmar, yang berukuran sekitar 72,6 m panjangnya, dan kapal selam Tipe 035B yang ditransfer dari Tiongkok, yang berukuran sekitar 76 m panjangnya.

Dimensi kapal selam pesisir yang jauh lebih kecil menunjukkan bahwa kapal tersebut dirancang untuk peran operasional yang berbeda.

Janes menilai bahwa kapal tersebut kemungkinan besar digunakan oleh Angkatan Laut Myanmar untuk pengawasan rahasia, penyisipan pasukan khusus, pengumpulan intelijen, dan misi pelatihan.

(Jane's)

The Philippine Navy Selected Chaiseri AWAV 8x8 for its Marine Corps

03 Juli 2026

Chaiseri AWAV 8x8 armored vehicle (photo: TNNTech)

On June 30, the Philippine Navy announced the selection of the AWAV 8x8 amphibious wheeled armored vehicle from Chaiseri Corporation of Thailand for deployment in its Marine Corps.

This project is part of the Philippine Armed Forces modernization plan, focusing on amphibious assault capabilities for the Marine Corps. The use of wheeled armored vehicles capable of operating both on land and at sea is crucial for transporting personnel from landing craft to shore, a key mission for maintaining security in the Philippines, which comprises numerous islands and maritime territories.

This first phase of the procurement includes five AWAV 8x8 vehicles, scheduled for delivery by 2027. The Philippine Navy is the second user of this vehicle model, after the Royal Thai Navy's Marine Corps, and the first foreign user of the AWAV 8x8.


The AWAV 8x8 armored vehicle is manufactured by Chaiseri Corporation. Manufactured to meet the demand for wheeled armored vehicles capable of performing modern missions both on land and in water, these vehicles boast high mobility, robust armor protection, and an automated turret weapon system. They can reach speeds of 105 kilometers per hour on land and 10 kilometers per hour in the sea using a waterjet engine, with a crew of 14.

The Royal Thai Navy has already acquired 14 AWAV 8x8 vehicles under two contracts. The first batch of 7 vehicles has passed testing, entered service, and commenced operations to protect Thailand's borders amidst conflict in the eastern region, proving the vehicle's capability in real-world missions.

The Philippine Navy's order further reinforces the capabilities of Thailand's defense industry in the field of military vehicles, which has been recognized in numerous procurement projects with foreign armed forces.

Indonesia Mulai Pembangunan Dua Kapal Selam Scorpène

03 Juli 2026

Engineer PT PAL Indonesia melakukan pengelasan pertama plat HLES Proyek Kapal Selam Scorpene RI (photos: Antara, PAL)

Jakarta (ANTARA) - Indonesia mulai memasuki tahap pembangunan fisik dua unit kapal selam Scorpène setelah PT PAL Indonesia bersama perusahaan pertahanan Prancis, Naval Group, memulai proses first steel cutting pada Juli 2026.

Tahap tersebut dimulai lebih cepat dari target semula yang dijadwalkan pada September tahun ini.

Direktur Produksi PT PAL Indonesia Diana Rosa dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, mengatakan percepatan pembangunan fisik dilakukan setelah PT PAL bersama Naval Group berhasil menyelesaikan qualification section, yakni tahapan verifikasi yang memastikan kesiapan sumber daya manusia, proses manufaktur, fasilitas produksi, serta sistem pengendalian mutu sesuai standar pembangunan kapal selam kelas dunia.

"Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi engineer Indonesia, memperkuat industri nasional, dan membangun ekosistem manufaktur berteknologi tinggi yang mampu bersaing di tingkat global,” ujar Diana.

Menurut dia, keberhasilan menyelesaikan tahap tersebut menunjukkan proses alih teknologi telah berjalan efektif dan meningkatkan kemampuan insinyur Indonesia dalam menguasai teknologi manufaktur berpresisi tinggi.

Sebagai bagian dari proses tersebut, PT PAL telah mengirimkan puluhan insinyur ke fasilitas Naval Group di Prancis untuk mengikuti pelatihan intensif di berbagai bidang, mulai dari pengelasan, rekayasa konstruksi, sistem mekanikal, sistem kelistrikan, hingga pengendalian mutu.

Kompetensi tersebut kemudian diterapkan secara langsung dalam pelaksanaan qualification section yang diverifikasi oleh tim Naval Group.

Sementara itu, Program Director Naval Group Vincent Vimont mengatakan keberhasilan tahap qualification section menunjukkan kesiapan PT PAL sebagai mitra strategis dalam pembangunan kapal selam modern.

"Kolaborasi ini bukan sekadar membangun dua unit kapal selam, tetapi membangun fondasi kemampuan industri yang berkelanjutan," ujar Vincent.

Program Kapal Selam Scorpène Republik Indonesia merupakan tindak lanjut kontrak antara Kementerian Pertahanan, Naval Group, dan PT PAL Indonesia yang ditandatangani pada 2024 untuk membangun dua unit kapal selam kelas 1.800-2.800 ton.

Seluruh proses pembangunan akan dilaksanakan di Indonesia oleh insinyur Indonesia melalui skema alih teknologi yang komprehensif.

Program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat penguasaan teknologi strategis nasional, tetapi juga meningkatkan kapasitas industri pertahanan, kompetensi sumber daya manusia, serta mendorong terbentuknya ekosistem manufaktur berteknologi tinggi di dalam negeri.

Melalui proyek ini, PT PAL ditargetkan meningkatkan kemampuan hingga mencapai whole local production, yakni membangun kapal selam secara utuh di dalam negeri dengan dukungan penguasaan teknologi dari Naval Group.

Selain memperkuat kemampuan industri pertahanan, pembangunan dua kapal selam Scorpène diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas dengan menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja dan melibatkan berbagai industri dalam negeri sebagai bagian dari rantai pasok nasional.

(AntaraNews)

02 Juli 2026

Marine Protector-class Patrol Boat Undergoes Pre-Transfer Training Ahead of Delivery to the PCG

02 Juli 2026

U.S. Coast Guard Marine Protector-Class Patrol Boat (photos: PCG)

On 25 June 2026, a former U.S. Coast Guard Marine Protector-Class Patrol Boat scheduled for transfer to the Philippine Coast Guard (PCG) is conducting a series of training and operational drills in Curtis Bay, Maryland, as part of its pre-transfer preparations. The activities are designed to verify the vessel’s operational readiness while familiarizing its future crew with the boat’s systems, capabilities, and standard operating procedures prior to its official turnover.


The training is being conducted by Coast Guard Fleet personnel, who are currently undergoing an intensive qualification program in the United States. Throughout the exercise, the crew performs a wide range of practical evolutions, including vessel handling, engineering operations, navigation, communications, damage control, firefighting, and emergency response procedures.

The hands-on drills ensure that the personnel acquire the technical knowledge and operational proficiency necessary to safety and effectively operate the Marine Protector-Class Patrol Boat upon its delivery to the Philippine Coast Guard, further enhancing the organization’s maritime law enforcement, search and rescue, and maritime security capabilities.