21 Mei 2026

PAF Bolster Tactical Helilift Capability with Blessing of Two New Bell 412EPX Helicopters

21 Mei 2026

 Two new Bell 412EPX helicopters (photos: PAF)

The Philippine Air Force formally held the Formal Blessing Ceremony for two (2) newly acquired/ accepted Bell 412EPX Utility Helicopters on May 19, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City, marking another significant milestone in the ongoing modernization and capability enhancement efforts of the PAF.

The two aircraft arrived in the country on February 27, 2026, representing the first batch delivery under the Additional Utility Helicopter Acquisition Project, which involves the procurement of eight Bell 412EPX helicopters from Bell Textron Inc. The completion of all deliveries is expected by 2027.


These helicopters will be operated by the 205ᵗʰ Tactical Helicopter Wing and are expected to significantly enhance the PAF’s tactical helilift and multi-mission operational capabilities. The aircraft will primarily support troop transport for counterinsurgency and internal security operations, disaster relief and humanitarian assistance missions during calamities such as typhoons and earthquakes, as well as medical evacuation and logistics support in geographically isolated and remote areas.

With the addition of these new aircraft, the PAF now operates a total fleet of 16 Bell 412 helicopters, further strengthening its capability to conduct rapid deployment and sustain critical operations nationwide.

In his message during the ceremony, the Commanding General of the Philippine Air Force, Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, highlighted the strategic importance of the newly acquired helicopters in advancing mission readiness and operational effectiveness.


“The arrival of these Bell 412EPX helicopters represents a clear and tangible investment in our ability to respond, to sustain, and to prevail. These aircraft will carry our troops into mission areas, bring relief to communities in times of disaster, and extend the reach of the PAF wherever it is needed most,” LtGen Cordura stated.

The acquisition reflects the PAF’s continuing commitment to build a more capable, more responsive, and more resilient Air Force that is prepared to address the evolving demands of national security and humanitarian operations. More than symbols of modernization, these aircraft serve as vital instruments of public service, reinforcing the PAF’s dedication to protecting the Filipino people and supporting national development efforts. 

(PAF)

Pemerintah Berencana Bangun MRO Pesawat Hercules di Bandara Kertajati

21 Mei 2026

Elephant Walk C-130 Hercules TNI AU (photo: TNI AU)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) berencana menyiapkan Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia.

Hal tersebut dilakukan Kemhan RI setelah sebelumnya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Pentagon, Amerika Serikat itu, Pete menyampaikan niatnya untuk membangun pusat pemeliharaan mesin pesawat Hercules.

"Saat ini, terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat MRO pesawat C-130/Hercules. Pemilihan Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan yang sudah memadai," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Rico menilai langkah tersebut sangat strategis karena akan memberikan dampak baik bagi penguatan pertahanan Indonesia.

Salah satu dampak baiknya, yakni Indonesia menjadi semakin mudah dalam membangun kerja sama dan hubungan diplomasi dengan negara-negara Asia pengguna pesawat angkut Hercules.

"Langkah ini juga sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional," ungkap dia.

Kendati demikian, Rico tidak menjelaskan secara rinci seperti apa progres pembangunan MRO itu. Dia juga tidak menjelaskan tenggat waktu pembangunannya.

LCS: Pembinaan Kapal Terus Berjalan, Isu NSM Diurus

21 Mei 2026

Kapal LCS1 KD Maharaja Lela (photo: LUNAS)

LUMUT – Program Kapal Tempur Pesisir (LCS) mencatatkan kemajuan fizikal keseluruhan sebanyak 77.46 peratus setakat April 2026 ujar Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin semasa lawatan kerja ke Lumut Naval Shipyard (LUNAS) bagi meninjau perkembangan terkini pelaksanaan projek berkenaan.

Lawatan tersebut turut memberi tumpuan kepada kemajuan setiap kapal LCS, termasuk LCS1 yang kini sedang menjalani ujian laut (sea trials) sebagai fasa pengesahan akhir sebelum pelaksanaan Sea Acceptance Trials bersama Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM). Sementara itu, LCS2 dijadualkan melaksanakan pelayaran pertama pada suku keempat tahun ini.

Bagi LCS3, kapal tersebut kini berada dalam fasa pembinaan berintensiti tinggi, manakala LCS4 dijangka menjalani first downslip pada penghujung tahun ini. LCS5 pula terus menunjukkan kemajuan stabil dengan kejayaan pemasangan empat Main Diesel Generator serta pelaksanaan Factory Acceptance Test bagi Combat Management System.

Pelaksanaan Program Kapal Tempur Pesisir (LCS) terus berjalan selaras dengan jadual penyerahan yang telah dimaklumkan di Parlimen, dengan LCS1 dijadualkan diserahkan pada Disember 2026. Dalam masa yang sama, pembinaan kapal ini turut mencerminkan komitmen kerajaan dalam memperkukuh industri pertahanan negara apabila kira-kira 30 peratus komponen tempatan telah digunakan setakat ini, sekali gus mempertingkat keupayaan domestik serta mengurangkan kebergantungan kepada pembekal luar negara.

Turut hadir, Ketua Setiausaha Kementerian Pertahanan, Datuk Lokman Hakim Ali; Panglima Tentera Laut, Laksamana Tan Sri (Dr.) Zulhelmy bin Ithnain serta pengurusan tertinggi Lumut Naval Shipyard (LUNAS). (MYKemhan)

Tiga kapal LCS terlihat telah diluncurkan di galangan LUNAS (photo: LUNAS)

Kunjungan Menhan Khaled Nordin ke LUNAS Shipyard

Saya tiba di Pangkalan TLDM Lumut dan meninjau perkembangan projek Littoral Combat Ship (LCS) di Lumut Naval Shipyard.

Setakat April 2026, kemajuan pembinaan kapal berada pada tahap memuaskan dengan LCS 1 mencapai 84.30%, LCS 2 (79.48%), LCS 3 (71.22%), LCS 4 (60.52%) dan LCS 5 (49.71%).

Jadual penyerahan kapal juga kekal seperti dirancang iaitu LCS 1 pada Disember tahun ini, diikuti LCS 2 pada Ogos 2027, LCS 3 pada Disember 2027, LCS 4 pada Ogos 2028 dan LCS 5 pada April 2029.

Saya turut diberikan taklimat mengenai perkembangan isu Naval Strike Missile (NSM) susulan keputusan Kerajaan Norway membatalkan lesen eksport secara unilateral walaupun Malaysia telah memenuhi obligasi kontrak dan membuat hampir keseluruhan pembayaran.

Walaupun ia menjejaskan sistem Surface-to-Surface Missile, tiga lagi sistem persenjataan utama kapal tidak terjejas dan TLDM sedang berusaha mencari alternatif terbaik bagi memastikan kapal dapat dilengkapkan seperti dirancang.

Kementerian Pertahanan juga telah menghantar notis tuntutan kepada syarikat Norway melibatkan kos langsung dan kos tidak langsung susulan pembatalan tersebut.

Apa yang berlaku bukan sekadar isu perolehan pertahanan, tetapi turut menimbulkan persoalan tentang kebolehpercayaan komitmen antarabangsa.

Insiden ini juga mengukuhkan komitmen untuk memperkasa industri pertahanan tempatan dan mengurangkan kebergantungan kepada pembekal luar. Ketika ini, sekitar 30% komponen projek LCS melibatkan penyertaan tempatan. (Khaled Nordin)

20 Mei 2026

Viettel's BTM-250 Guidance Tail Kit Successfully Tested on Su-30MK2

20 Mei 2026

Su-30MK2 with BTM-250 bomb (photos: Nguyen Son Tung)

The Su-30MK2, equipped with the BTM-250 glide bomb on its left wing, is a small configuration, but it reflects a significant advancement in Vietnam's precision strike capabilities.


The BTM-250, developed by Viettel, is not simply a kit, but a complete solution, incorporating glide wings, inertial guidance systems, and satellite-based guidance, allowing conventional bombs to be transformed into precision strike weapons operating outside air defense zones. When integrated into the Su-30MK2, its effectiveness stems not only from the bomb itself but also from its synchronization with the aircraft's targeting and fire control systems.


The core point lies in Vietnam's complete mastery of the entire process, from design and manufacturing to integration on a real combat platform. This represents a shift from dependence to proactiveness, from procurement to self-development tailored to specific operational needs.

FOB 250 dumb bomb (photo: M Tin Tức 24)

In the context of modern warfare, where accuracy determines effectiveness, possessing a fully developed domestic glide bomb system means far more than just a weapon.

Marinir Sukses Laksanakan Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 BMP-3F Asal China

20 Mei 2026

Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 asal China dibandingkan amunisi 3UOF17 dari Rusia pada Ranpur Tank BMP-3F (photos: Menkav 2)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Situbondo) -- Untuk mengetahui kondisi dan kemampuan Amunisi kaliber 100 mm BTE1 China, Batalyon Tank Amfibi 2 Marinir terpilih sebagai pelaksana dalam penyelenggaraan Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 asal China yang di aplikasikan langsung pada Ranpur Tank BMP-3F di Daerah Latihan (Rahlat) Puslatpurmar 5 Baluran, Kab. Situbondo. Selasa (12/05/2026).


Turut hadir meninjau langsung kesiapan material dan pelaksanaan Uji Fungsi Amunisi tersebut, Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar) Mayjen TNI (Mar) Suherlan, S.E., M.M., M.Sc., CHRMP., didampingi oleh Asintel Pangkormar Brigjen TNI (Mar) Nanang Saefulloh, S.E., M.M., Waaslog Pangkormar Kolonel Marinir Imron Safei, S.E., M.M., M.Tr.Hanla., serta Kadismat Kormar Kolonel Marinir Tommy Dwijanto, CRMP. Disamping itu dalam Uji Fungsi Amunisi ini juga melibatkan Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AL sebagai lembaga utama TNI AL yang bertanggung jawab atas penelitian, pengembangan, pengujian, dan evaluasi material serta teknologi peralatan Angklatan Laut.


Uji Fungsi Amunisi diawali dengan pengecekan data dimensi amunisi kaliber 100 mm BTE1 China sebagai amunisi uji serta amunisi kaliber 100 mm 3UOF17 Rusia sebagai amunisi pembanding. Kegiatan dilanjutkan pengecekan Sistem Kendali Senjata yang terintegrasi pada Ranpur Tank BMP-3F, kemudian pelaksanaan penembakan amunisi uji yang seluruhnya berfungsi dengan baik dan tepat sasaran dijarak 1000 m, 1200 m, hingga 4000 dalam rangka zeroing, uji Fuze (pemicu ledak) dan uji Safety Distance sebagai parameter jarak aman ledakan.


Komandan Batalyon Tank Amfibi 2 Marinir Letkol Marinir Hayat Tegar, M.Tr.Opsla., selaku Palak Uji menyampaikan bahwa, kegiatan Uji Fungsi Amunisi yang dilakukan saat ini merupakan langkah penting untuk menjamin keselamatan personel dan material yang dimiliki Korps Marinir dimasa yang akan datang. “Kesiapan kru pengawak Ranpur dan material tempur sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan Uji Fungsi Amunisi, di sisi lain dengan berhasilnya Uji Fungsi Amunisi ini diharapkan kedepanya dapat menunjang efektivitas operasional.

Mindef Claiming RM1 Bil in Compensation from Norwegian Firm Over Missile Deal

20 Mei 2026

NSM stealth missile, the NSM utilizing a U.S.-made gyroscope component. Gyroscopes are used to measure orientation angles and the rate of change in missiles with the data used to keep the missile on course. U.S. is now restricting its component exportation of to third parties (image: Akela Freedom)

LUMUT (May 19): The Ministry of Defence (Mindef) has issued a notice of demand to a Norwegian manufacturer following the cancellation of an export licence for the Naval Strike Missile (NSM) anti-ship and land-attack missile system.

Minister Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin said the notice, seeking compensation for both direct and indirect losses, was sent to the company on Tuesday.

“We are claiming both direct and indirect costs. The direct cost amounts to EUR126 million (RM583.47 million), which has already been paid, and we are also seeking substantial indirect costs, bringing the total claim to about RM1 billion.”

He said this to reporters after a working visit to inspect the progress of the littoral combat ship (LCS) project at the Lumut Naval Shipyard at the Royal Malaysian Navy (RMN) base here on Tuesday.

Also present was Navy chief Admiral Tan Sri Dr Zulhelmy Ithnain.

Mohamed Khaled said the direct claim of EUR126 million represented 95% of payments already made under the RM634.7 million contract involving weapons systems for the LCS fleet, as well as two other naval vessels, KD Jebat and KD Lekiu.

He said the Norwegian government had unilaterally revoked the export licence without prior discussions with Malaysia, despite the government having fulfilled all contractual obligations.

“We have paid 95% of the contract value. But at the final stage, based on the chronology of events, the Norwegian government cancelled the export licence for the system unilaterally.

“They refused to issue the export licence because their new policy restricts the export of sensitive defence technology only to allies and close strategic partners.

“Meaning that the export is limited to members of the Nato (North Atlantic Treaty Organization) and countries regarded by Norway as strategic partners,” he said.

Mohamed Khaled said the cancellation had triggered a crisis of confidence over international commitments and should serve as a lesson for Malaysia and its Asean partners in future dealings with Norway.

“When commitments can be cancelled unilaterally, confidence in the entire system will begin to erode. We hope Asean countries and nations that are not close allies of Norway will learn from Malaysia’s experience and avoid purchasing or dealing with Norway.

“For the Defence Ministry, I have also reminded them that future purchases, whether ammunition or otherwise, should no longer be sourced from Norway. We must be cautious when procuring from countries that may take similar action against us,” he added.

19 Mei 2026

PT Len Serahkan Radar GCI kepada Kemhan

19 Mei 2026

Radar Ground Control Interceptiom (photos: LEN)

PT Len Industri (Persero) menyerahkan Radar Ground Control Interception dalam agenda penyerahan alutsista strategis nasional yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Apron Pandawa Lanud Lanus Halim Perdanaksuma, Jakarta. Agenda ini dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, sebagai bagian dari langkah strategis modernisasi pertahanan nasional dan penguatan sistem pertahanan udara Indonesia.

Komitmen untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional terus kami wujudkan melalui inovasi, kolaborasi, dan pengembangan sistem yang terintegrasi.

Penguatan radar pengawasan udara serta interoperabilitas pertahanan menjadi langkah strategis dalam mendukung sistem pertahanan nasional yang modern, andal, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Melalui sinergi dan penguasaan teknologi dalam negeri, kami percaya industri pertahanan Indonesia mampu tumbuh semakin kuat, kompetitif, dan berdaya saing global.
Bersama, membangun masa depan pertahanan Indonesia yang lebih maju. (LEN)


Radar Ground Control Interception (GCI)
Di era pertahanan modern, menjaga kedaulatan tidak hanya dilakukan di darat dan laut, tetapi juga di ruang udara dan ruang digital. Perkembangan teknologi, dinamika geopolitik global, hingga ancaman berbasis data membuat sistem pengawasan dan pertahanan udara menjadi semakin krusial.

Melalui pengembangan teknologi Ground Control Interception (GCI) Radar, Len terus mendukung penguatan sistem pertahanan udara nasional yang lebih modern, terintegrasi, dan responsif terhadap dinamika ancaman masa depan.

Tak hanya fokus pada modernisasi sistem radar dan command center, Len juga turut memperkuat kemandirian teknologi nasional melalui kolaborasi pengembangan Radar KSO bersama Balitbang Kemhan. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam membangun kemampuan penguasaan teknologi radar dalam negeri, mulai dari pengembangan sistem, integrasi teknologi, hingga peningkatan kapabilitas sumber daya nasional di bidang pertahanan udara Indonesia (LEN)