25 Mei 2026

Hulu Ledak GMLRS Sukses Diuji Coba di Australia

25 Mei 2026

Uji coba hulu ledak GMLRS di Australia (photo: Australian Defender)

Anak perusahaan Australia dari Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Thales telah melakukan peledakan langsung hulu ledak yang dikembangkan bersama di lapangan uji dekat Bourke, New South Wales, demikian diumumkan pada 22 Mei.

Lockheed Martin mengatakan ketiga perusahaan tersebut memproduksi dan mendemonstrasikan hulu ledak tersebut dalam 11 minggu. Hulu ledak tersebut, yang diproduksi oleh Northrop Grumman dengan dukungan dari Thales, dimaksudkan untuk diintegrasikan dengan amunisi presisi Guided Multiple Launch Rocket System (GMLRS) milik Lockheed Martin.

Angkatan Darat Australia menggunakan GMLRS melalui peluncur High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS), yang dapat menyerang target pada jarak lebih dari 70 km, kata Lockheed Martin. Australia memesan 42 HIMARS dalam dua gelombang pada tahun 2022 dan 2023 dan menerima dua HIMARS pertama dari Amerika Serikat pada Maret 2025.

Tim uji coba menyaksikan uji coba hulu ledak GMLRS (photo: LM, NG & Thales)

Inisiatif bersama ini mewakili upaya Australia untuk membangun kemampuan produksi hulu ledak senjata berpemandu dalam negeri, kata Lockheed Martin. “Demonstrasi yang sukses ini menyoroti jalur yang cepat dan berisiko rendah menuju kemampuan tersebut sekaligus menggarisbawahi kekuatan kolaborasi di antara mitra industri pertahanan Australia,” tambah perusahaan itu.

Kepala Eksekutif Lockheed Martin Australia dan Selandia Baru, Jeremy King, mengatakan demonstrasi tersebut menunjukkan kemampuan Canberra untuk merancang, memproduksi, dan menguji teknologi hulu ledak berkualitas produksi secara lokal. “Ini menandai langkah penting ke depan menuju pencapaian tujuan Senjata Berpemandu dan Amunisi Peledak (GWEO) Persemakmuran,” tambahnya.

Sejalan dengan tujuan GWEO, Lockheed Martin memulai produksi amunisi lengkap GMLRS (AUR) dan kontainer peluncur di fasilitas perakitan rudal baru di Port Wakefield, Australia Selatan, pada Desember 2025. Pada bulan April, Australia melakukan uji tembak GMLRS buatan lokal pertama di Woomera Test Range di Australia Selatan.

Athan Warsawa Lakukan Kunjungan ke Industri Pertahanan Polandia

25 Mei 2026

Kunjungan ke industri pertahanan Polandia (photos: Athan Warsawa)

Pada 19–20 Mei 2026, Atase Pertahanan RI di Warsawa melaksanakan kunjungan ke industri pertahanan Polandia, BBT Holding LLC di Warsawa dan Mista Sp. z o.o., dalam rangka menjajaki peluang kerja sama di bidang pertahanan.

MISTA memproduksi berbagai peralatan militer, termasuk kendaraan lapis baja (seperti keluarga ONCILLA dan kendaraan evakuasi), modul senjata, sistem anti-drone, robot darat tanpa awak, serta berbagai sistem pendukung tempur seperti UAV dan perlengkapan kendaraan militer. Produk-produk tersebut dirancang untuk mendukung operasi militer modern, khususnya dalam aspek mobilitas, perlindungan, dan pengintaian di medan operasi.


Diharapkan kunjungan ini dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama yang konkret dan meningkatkan kekuatan alutsista indonesia.

(Athan Warsawa)

LMS Batch 2 Pertama Diluncurkan

25 Mei 2026

KD Tunku Laksamana Abdul Jalil diluncurkan di Turkiye (photos: MY Kemhan)

ISTANBUL — Malaysia melakar satu lagi pencapaian penting dalam memperkukuh pertahanan maritim negara menerusi Upacara Penamaan dan Pelancaran Kapal Misi Pesisir Batch 2 (LMSB2) pertama, TUNKU LAKSAMANA ABDUL JALIL, di Istanbul Shipyard, Türkiye.

Upacara bersejarah ini disempurnakan oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong Raja Zarith Sofiah dan turut dihadiri Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin.


Penamaan kapal ini sebagai TUNKU LAKSAMANA ABDUL JALIL merupakan penghormatan kepada Almarhum Tunku Abdul Jalil, yang dikenang atas keberanian, ketabahan dan semangat juang luar biasa yang diabadikan menerusi slogan “Fight Like Jalil”, serta legasi kebajikan baginda melalui Yayasan Kanser Tunku Laksamana Johor.

Kapal Kelas Tunku berasaskan reka bentuk korvet ADA Class oleh STM ini merupakan aset tempur terkini TLDM yang direka untuk operasi pelbagai dimensi. Selepas pelancaran, kapal ini akan memasuki fasa Setting to Work (STW) serta integrasi sistem peperangan dan penderia sebelum diserahkan kepada TLDM.

Pelancaran LMSB2 pertama ini turut mencerminkan kejayaan kerjasama strategik Malaysia–Türkiye dalam pembangunan keupayaan pertahanan dan pemindahan teknologi, sekali gus memperkukuh kesiapsiagaan TLDM dalam menghadapi cabaran keselamatan maritim yang semakin kompleks.

(MYKemhan)

24 Mei 2026

GMFI Catatkan Laba Bersih Sebesar 33,9 Juta Dolar AS

24 Mei 2026

GMF ketika melakukan maintenance pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo: IDM)

Jakarta (ANTARA) - Anak usaha Garuda Indonesia Group, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), membukukan laba bersih sebesar 33,9 juta dolar AS atau sekitar Rp570 miliar sepanjang tahun 2025.

"Pada tahun 2025, perseroan membukukan laba bersih sebesar 33,9 juta dolar AS (Rp570 miliar), naik signifikan sebanyak 26,3 persen dibanding tahun 2024 sebesar 26,9 juta dolar AS (Rp451 miliar)," kata Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

GMFI sebagai bagian dari Garuda Indonesia Group, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Jumat (22/05).

RUPSLB dihadiri oleh 117.047.128.927 suara atau sebesar  93,76 persen pemegang saham, sementara RUPST dihadiri oleh 117.437.717.575suara atau sebesar 94,07 persen pemegang saham, dengan sejumlah keputusan strategis yang disetujui dalam rapat.

GMFI juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja finansial yang solid dengan pendapatan usaha mencapai 491,9 juta dolar AS (Rp8,25 triliun) pada tahun 2025, tumbuh 16,8 persen dari tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, kinerja perseroan juga meningkat dari sisi neraca dengan total aset melesat menjadi 813 juta dolar AS (Rp13,6 triliun) atau tumbuh 91,5 persen dari tahun sebelumnya.

Struktur permodalan juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan ekuitas berbalik dari yang sebelumnya negatif sebesar 257,9 juta dolar AS (-Rp4,33 triliun) menjadi positif sebesar 114,6 juta dolar AS (Rp1,92 triliun).

GMFI melakukan maintenance pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo: GMFI)

Peningkatan kinerja disebut turut didukung oleh aksi korporasi berupa inbreng lahan senilai Rp5,6 triliun yang memperkuat nilai aset tetap Perseroan serta mengembalikan posisi ekuitas menjadi positif.

Peningkatan kinerja finansial Perseroan ditopang oleh transformasi operasional yang dijalankan secara konsisten sepanjang tahun 2025, mulai dari peningkatan produktivitas operasional, percepatan turnaround time (TAT), penguatan infrastruktur, hingga pemenuhan berbagai sertifikasi dan kualifikasi internasional.

"Tahun 2025 menjadi momentum pembuktian GMF dalam mengeksekusi berbagai langkah transformasi dan aksi korporasi strategis secara agresif sekaligus terukur. Pencapaian positif ini tentu tidak akan terwujud tanpa fundamental operasional yang semakin solid," ujarnya.

Pada tahun 2025, GMFI berhasil menjaga momentum pertumbuhan dengan kontribusi pendapatan dari segmen non-group-afiliasi yang mencapai 141,3 juta dolar AS atau setara 28,7 persen dari total pendapatan.

Pada sektor perawatan pesawat komersial, GMFI berhasil mempertahankan kepercayaan existing customer seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific, sekaligus memperluas basis customer baru seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air.

Sepanjang tahun 2025, GMFI juga berhasil menyelesaikan reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia sebagai bagian dari sinergi Garuda Indonesia Group dalam mengoptimalisasi kesiapan armada penerbangan nasional.

Pada sektor pertahanan, GMFI berhasil menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat dan dua pesawat VIP Boeing 737-800.

Perseroan memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation dalam implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) untuk pesawat Rafale.

GMFI juga melakukan maintenance helikopter Bell 412 TNI AD (photo: Fahmun)

Lini bisnis non-commercial aircraft, khususnya SBU Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services, turut mencatatkan pertumbuhan positif dengan capaian pendapatan sebesar 36,7 juta dolar AS atau tumbuh 59,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan efektivitas strategi diversifikasi perseroan.

Di sisi pengembangan kapabilitas dan ekspansi bisnis, GMFI mencatatkan sejumlah tonggak strategis, termasuk groundbreaking Kertajati Aerospace Park bersama Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) serta dimulainya kerja sama dengan Pelita Air dalam pemanfaatan hanggar milik Pelita Air Service di Bandar Udara Pondok Cabe untuk layanan perawatan pesawat tipe propeller.

Perseroan juga berhasil menyelesaikan pembangunan hangar door di Hanggar 1 guna memperkuat kapasitas operasional yang selaras dengan standar internasional, khususnya European Union Aviation Safety Agency (EASA).

“Kami telah bertumbuh secara signifikan dan berkelanjutan. Dengan kapabilitas semakin kuat dan adaptif, GMFI akan terus membuka peluang baru untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional maupun global,” ujar Andi.

Kinerja keuangan GMFI di awal tahun 2026 menunjukkan performa yang solid, didorong oleh fundamental operasional yang semakin sehat. Pada Kuartal I 2026, Perseroan berhasil membukukan laba berjalan sebesar 6,76 juta dolar AS dan pendapatan usaha sebesar 114,94 juta dolar AS.

GMFI menargetkan total pendapatan tahunan sebesar 542,8 juta dolar AS dengan estimasi laba bersih mencapai 35,1 juta dolar AS. Target ini akan dicapai melalui keberlanjutan transformasi korporasi, penguatan fundamental operasional, dan pertumbuhan bisnis profitable.

“Melalui pencapaian positif dan efisiensi yang terjaga di tengah dinamika pasar dan tantangan industri, GMFI siap melangkah lebih jauh dalam menghadirkan solusi terintegrasi bagi industri aviasi maupun sektor lainnya,” kata Andi.

Adapun pada RUPSLB tersebut, rapat menyetujui penyesuaian, penambahan, dan/atau perubahan anggaran dasar perseroan sesuai dengan surat BP BUMN, surat Danantara asset management.

Selain itu penyesuaian Peraturan Badan Pusat Statistik Nomor 7 Tahun 2025 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI 2025), dan penyelarasan dengan Anggaran Dasar PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Pada RUPST, rapat menyetujui sejumlah mata acara di antaranya Persetujuan Laporan Tahunan dan Pengesahan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan Tahun Buku 2025, Penetapan Penggunaan Laba Bersih Tahun Buku 2025.

Kemudian penetapan gaji honorarium berikut fasilitas dan tunjangan tahun buku 2026 serta remunerasi atas kinerja tahun buku 2025 bagi pengurus perseroan, penunjukan kantor akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2026.

Selanjutnya persetujuan pelimpahan wewenang dan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan dalam menyetujui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2026 – 2030 dan rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Perseroan Tahun 2027 termasuk perubahannya,

Kemudian penerimaan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk.

(AntaraNews)

Roadmap KF-21 untuk Kemampuan Generasi Keenam yang Didukung AI

24 Mei 2026

Prototipe KF-21 keenam menguji kinerja udara-ke-darat dari radar AESA (photo: Yonhap)

Pesawat tempur KF-21 ‘Boramae’ dari Korea Aerospace Industries (KAI) akan menjadi landasan kemampuan tempur masa depan Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) dan pada akhirnya akan menggabungkan teknologi generasi keenam, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan (MND).

Varian awal KF-21, platform tempur generasi 4.5, dijadwalkan memasuki layanan RoKAF pada paruh kedua tahun 2026. Menurut MND, angkatan udara berencana untuk mengembangkan platform tersebut menjadi “pesawat tempur generasi kelima dengan kinerja siluman penuh, dan selanjutnya menjadi sistem tempur generasi keenam”.

Janes sebelumnya telah melaporkan upaya KAI untuk mengurangi penampang radar platform guna meningkatkan karakteristik kemampuan deteksi rendahnya. Transisi ke platform generasi keenam akan melibatkan “penggabungan kecerdasan buatan (AI) dan sistem tempur gabungan berawak/tak berawak (MUM-T)”, kata Kementerian Pertahanan Nasional pada 15 Mei.

Perakitan KF-21 dalam lini produksi (photo: Yonhap)

Unit pertama
Pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional tersebut menyusul acara media di pabrik KAI di Sacheon, di mana perusahaan tersebut merinci infrastruktur produksi KF-21 dan tujuan program jangka panjangnya. Produksi KF-21 dimulai pada awal tahun 2026, dengan KAI meluncurkan pesawat pertama yang ditujukan untuk Angkatan Udara Korea Selatan (RoKAF) pada 25 Maret 2026.

Pesawat produksi pertama adalah varian dua tempat duduk dengan nomor ekor RoKAF 26-001. Pesawat ini melakukan penerbangan perdananya pada 22 April dan sejak itu telah menyelesaikan tiga penerbangan uji, kata Kementerian Pertahanan Nasional, menambahkan bahwa KF-21 produksi kedua juga telah dirakit. “Unit 2, yang dijadwalkan melakukan penerbangan perdananya [pada bulan Juni], saat ini sedang menjalani uji kinerja mesin di darat,” kata Kementerian Pertahanan Nasional.

18 pesawat yang tersisa dalam kontrak sedang dirakit di aula produksi pesawat sayap tetap KAI di Sacheon.

Hanwha Aerospace Memperkenalkan Prototipe KAAV II Next Gen

24 Mei 2026

KAAV II buatan Hanwha Aerospace mampu bergerak di air dan darat dengan kecepatan tinggi (photos: Yoo Yong-won)

Tampilan pertama prototipe Kendaraan Serangan Amfibi Korea II (KAAV II) yang sedang dikembangkan oleh Hanwha Aerospace muncul pada 18 Mei 2026, yang merupakan pengumuman resmi pertama tentang kemajuan program tersebut.

KAAV II telah dalam tahap pengembangan konsep sejak 2015, dengan model skala yang dipamerkan pada tahun 2019 di Seoul ADEX. Pengujian prototipe terganggu oleh insiden tenggelam pada tahun 2023 yang mengakibatkan dua korban jiwa. Kemajuan program terus berlanjut di bawah kendali ketat.


KAAV II dimaksudkan untuk menggantikan armada KAAV Korps Marinir Republik Korea (ROKMC) saat ini, yang merupakan versi produksi lokal dari AAV7 rancangan AS yang diperkenalkan pada tahun 1970-an.

Informasi yang diberikan masih terbatas. Namun, fitur kinerja dan kemajuan operasional terpenting dari KAAV II adalah peningkatan kecepatan di air yang signifikan dibandingkan dengan KAAV. Dilaporkan dapat mencapai kecepatan lebih dari 20 km/jam, dibandingkan dengan 13,2 km/jam untuk kendaraan aslinya. Hal ini dicapai dengan menggabungkan haluan tiga tahap yang diperpanjang, sirip trim buritan, dan flap samping yang menutupi bagian bawah trek dalam operasi di laut lepas.


Fitur-fitur ini meningkatkan permukaan luncur bagian bawah kendaraan. Dipadukan dengan waterjet aliran tinggi dan paket daya yang meningkatkan output mesin standar 850 hp di darat menjadi 2.700 hp dalam mode amfibi, ini memungkinkan KAAV II untuk naik dari laut dan meluncur di permukaan.

Kecepatan di air yang tinggi tersebut memungkinkan peluncuran dari kapal serbu amfibi yang lebih jauh dari pantai. Kendaraan amfibi mencapai pantai lebih cepat, sehingga mengurangi risiko terkena serangan musuh.


KAAV II akan membawa 18 personel infanteri, dan diperkirakan akan memiliki tiga awak. Kendaraan ini mengambil elemen dari K-NIFV, desain kendaraan tempur infanteri baru Korea Selatan. Kerja sama antara Hanwha dan Soucy Defence menghasilkan kendaraan yang menggunakan trek karet komposit. Kendaraan ini memiliki kecepatan darat 70 km/jam dan dapat beroperasi dalam operasi tempur darat yang berkepanjangan.

Prototipe KAAV II juga memiliki stasiun senjata tanpa awak yang memasang meriam otomatis 40 mm dengan amunisi teleskopik (CTA). Desain CTA meminimalkan ruang yang dibutuhkan di menara, menawarkan amunisi yang lebih ringkas, dan efek terminal yang lebih tinggi.

KAAV II ketika melakukan serbuan amfibi (image: Reddit)

Senjata utama memiliki laju tembakan 200 butir per menit, dan menembakkan amunisi penembus lapis baja, berdaya ledak tinggi, ledakan udara, dan anti-drone. Meriam dapat diangkat hingga 85°, memungkinkan penembakan yang efektif terhadap target udara dan target dengan elevasi tinggi.

Defence Acquisition Program Administration (DAPA) secara resmi menyetujui akuisisi KAAV II pada September 2021. Sekitar US$1,78 miliar telah dialokasikan untuk program ini.

KAAV II (image: Sheldon)

Produksi awal dijadwalkan dimulai pada tahun 2029, dengan pengoperasian yang direncanakan selesai pada tahun 2036. KAAV II akan memberi Angkatan Laut Korea Selatan (ROKMC) kemampuan serang amfibi lapis baja berkecepatan tinggi dari kapal ke pantai yang setara dengan keluarga ZBD-05 milik China.

23 Mei 2026

Albanese Government to Commence Collins Class Life of Type Extension

23 Mei 2026

HMAS Rankin conducts helicopter transfers in Cockburn Sound, Western Australia, as part of Rankin's training assessments (photo: AUs DoD)

The Albanese Government is enhancing Australia’s fleet of Collins class submarines, through a life of type extension that will reduce risk, enhance capability and maximise availability for the Royal Australian Navy as Australia transitions to a conventionally armed, nuclear-powered submarine fleet. 

The life of type extension will commence with HMAS Farncomb at the end of the month, the first of six submarines to receive an extension. ASC, as the Government’s sovereign submarine sustainment partner, will continue to be responsible for delivering the program. 

Informed by independent expert advice, detailed planning and industry engagement Defence will undertake a conditions-based sustainment approach across the life of type extension program. This will see Defence and ASC retain and restore base components, while continuing to upgrade critical weapons and systems. 

This will reduce engineering and schedule risks and ensure the Collins class remains a formidable deterrent for years to come. 

As one of the oldest boats in the Collins class fleet with the highest number of sea days and distance travelled, HMAS Farncomb’s life of type extension will also include a detailed engineering assessment period to tailor its life of type extension upgrades and inform work required across the class. 

The program will also accelerate and prioritise sustainment work on the fleet’s youngest submarines, commencing with HMAS Rankin. 

Deputy Prime Minister, the Hon Richard Marles MP inspects a cutaway model of the Collins class submarine during his visit to the Osborne Naval Shipyard (photo: Aus DoD)

Safety will not be compromised and the Collins class will be supported by increased investment of up to $11 billion over the next decade for sustainment, including life of type extension maintenance and the skilled workforce and infrastructure required to maintain this capability. 

In 2024, the Government listed the Collins class submarine capability as a Product of Concern to increase ministerial oversight and management of the capability. This is now driving improvements in process and productivity across Defence and industry. 

Defence industry will continue to play a central role, with both Osborne in South Australia and Henderson in Western Australia remaining integral to sustaining the Collins class fleet. 

Quotes attributable to Deputy Prime Minister Richard Marles: 
“These decisions reaffirm the Albanese Government’s commitment to keeping the Collins class a potent and highly capable strike and deterrent capability today, and for years to come. 

“Extending the life of all six Collins class submarines is critical to maintaining that edge as we transition the Navy from conventional to nuclear-powered submarines.” 

Quotes attributable to Minister for Defence Industry Pat Conroy: 
“The Collins life of type extension is a critical capability decision and a major investment in Australia’s sovereign defence industrial base and submarine supply chain. 

“Strong collaboration with Defence industry partners will be essential to keeping the Collins class fleet available as we move towards a nuclear-powered submarine capability.”