19 April 2026

Pemerintah Kaji Rencana Pembelian 24 Pesawat Tempur Rafale

19 April 2026

Pesawat tempur Rafale dengan persenjataan penuh (photo: Aviacion Militar)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan opsi pembelian 24 pesawat tempur Rafale dari Prancis masih dalam tahap kajian.

Hal tersebut dikatakan Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Jumat soal rencana membeli 24 pesawat tempur Rafale.

"Opsi penambahan masih dalam tahap kajian oleh pemerintah," kata Rico.

Rico menyampaikan pengkajian tersebut dilakukan untuk memastikan pembelian tersebut sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia.

Untuk itu, Rico memastikan hingga saat ini belum ada kontrak baru antara Pemerintah Indonesia dan Prancis terkait penambahan sebanyak 24 Rafale.

Seperti diketahui, Indonesia dan Prancis dikabarkan membuat opsi transaksi 24 pesawat tempur Rafael. Berdasarkan informasi yang diunggah akun Instagram khusus informasi pertahanan @isds.indonesia, dijelaskan bahwa pembahasan opsi itu muncul saat pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.

Indonesia sendiri sudah memilik tiga pesawat Rafale, hasil dari kontrak pembelian 42 pesawat yang telah ditandatangani Prabowo Subianto saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Ke-42 pesawat tersebut datang secara bertahap, dimulai dari gelombang pertama kedatangan tiga pesawat tempur pada awal 2026 lalu.

18 April 2026

PT PAL Indonesia Incar Pasar Ekspor Afrika hingga Eropa

18 April 2026

Produk-Produk pertahanan matra laut buatan PT PAL (infograhics: PAL)

jatimnow.com - PT PAL Indonesia menandai hari jadinya yang ke-46 pada Rabu (15/4/2026) dengan misi besar memperkuat kemandirian industri pertahanan (Indhan) tanah air. 

Perusahaan plat merah ini tidak lagi sekadar membangun kapal, melainkan memposisikan diri sebagai konsolidator nasional yang mengintegrasikan seluruh kekuatan maritim Indonesia agar mampu bersaing di panggung global. 

Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik dunia yang kian kompleks. PT PAL kini melebarkan sayapnya melampaui batas wilayah Asia Tenggara, dengan membidik peluang kerja sama strategis di Asia Barat, Afrika, hingga Eropa. Ekspansi tersebut mencakup ekspor alutsista laut, skema transfer teknologi, hingga pengembangan industri bersama dengan mitra internasional. 

Menghadapi tuntutan zaman, perusahaan yang berbasis di Surabaya ini mulai mengadopsi teknologi digital dalam proses produksinya.


Inisiatif digital shipyard diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi pembangunan kapal, baik untuk kebutuhan militer maupun komersial. 

Selain digitalisasi, PT PAL juga mulai menggarap konsep green shipyard. Langkah ini menjadi respons terhadap tren industri berat yang dituntut lebih ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Penguatan riset dan inovasi masa depan menjadi motor utama untuk memastikan produk lokal tidak kalah saing dengan galangan kapal raksasa dari Korea Selatan maupun Eropa. 

Direktur Utama PT PAL Indonesia menyatakan bahwa usia hampir setengah abad ini menjadi titik balik untuk mengakselerasi visi perusahaan. 

"Kami sudah membuktikan bahwa Indonesia sanggup membangun industri maritim yang membanggakan. Namun, perjalanan belum usai. Perubahan teknologi dan tantangan global mengharuskan kami terus berinovasi dan memperluas peran di kancah internasional," jelasnya.


Sebagai konsolidator, peran PT PAL memiliki dampak berganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal. Dengan membangun ekosistem maritim yang terintegrasi, perusahaan ini membuka pintu bagi vendor-vendor lokal dan industri pendukung untuk ikut terlibat dalam rantai pasok global.

Hingga saat ini, PT PAL tetap menjadi pilar utama dalam menjaga konektivitas antar-pulau serta memperkuat kedaulatan laut Indonesia. 

Target ke depan sangat jelas, yakni meningkatkan kontribusi ekspor dan memastikan industri maritim nasional berdiri sejajar dengan pemain utama dunia. 

Dengan pengalaman empat dekade lebih, PT PAL kini bertransformasi dari sekadar bengkel kapal nasional menjadi pusat inovasi teknologi maritim yang siap menjawab kebutuhan pertahanan dan ekonomi biru di masa depan.

Sikorsky Offers New Armed BLACK HAWK Helicopter Kits to Deliver Additional Mission Capabilities

18 April 2026

Sikorsky’s new production-ready kits enable a single Black Hawk aircraft to perform air-assault, close-support, medevac, ISR and tactical lift (image: Lockheed Martin)

NASHVILLE, Tenn – Sikorsky, a Lockheed Martin company (NYSE: LMT), announced its new Armed Black Hawk helicopter kits, expanding the capabilities of this proven workhorse. The kits extend the role of the Black Hawk into new mission sets including airmobile assault, close support, medical evacuation, ISR and tactical lift, in a single, battle-tested airframe, giving commanders greater flexibility and eliminating the need for separate fleet types.​

“The new Armed Black Hawk kits give warfighters one aircraft that can do it all: a single, versatile, combat-proven platform where ground units can quickly switch out the commercially-produced kits, keeping mission readiness high,” said Sikorsky Vice President and General Manager Rich Benton. “Offering these upgraded kits is another example of our commitment to delivering 21st Century Security solutions that deliver unmatched performance, lifecycle savings and gives soldiers the reliable, interoperable capability they need to win today and tomorrow.”

Sikorsky Black Hawk helicopter outfitted with the two new Armed Black Hawk kit options on display at the Army Aviation Warfighting Summit in Nashville, Tenn (photo: Lockheed Martin)

The Armed Black Hawk kits enable:
-Multirole Capability – A single fleet delivers assault, transport and support functions, cutting acquisition and sustainment costs.
-Production-Ready Kits – Operators can select from two production-ready kits for close support or precision strike capabilities. Choose an integrated solution now or upgrade later via modular armament wings.
-Rapid Reconfiguration – Three-hour mission reconfiguration, allowing rapid role changes.
-Unmatched Value – A cost-effective, single-fleet solution backed by a robust supply chain and Black Hawk operations beyond 2070, delivering meaningful lifecycle savings in maintenance and training.

The kits are available via Foreign Military Sale (FMS) or Direct Commercial Sale (DCS), for seamless integration into FMS fleets supported by Lockheed Martin in the United States, or direct commercial sale options installed by PZL Mielec, a Lockheed Martin company, in Poland.


Building on years of experience supporting an armed Black Hawk fleet in the Middle East, Sikorsky is uniquely positioned to provide next-generation kits for tomorrow’s mission. The Black Hawk helicopter continues to lead multi-mission performance across medium-lift operations, delivering modern, affordable capability for today’s and tomorrow’s missions. Its flexibility to operate at extended ranges and in the most demanding environments enhances survivability and overall mission effectiveness for 21st Century Security® missions.

The Black Hawk is a continuously evolving platform, with each upgrade since the "M" model was introduced in 2006 building on hard-earned lessons from the most demanding missions. Sikorsky is accelerating this evolution—installing higher output engines, integrating a digital architecture and adding an autonomy system that help pilots operate safely and efficiently in the toughest conditions.

Pilot TUDM Ikut Pelatihan Bersama ROKAF, Persiapan Mengoperasikan Pesawat FA-50M

18 April 2026

Pelatihan T-50/TA-50 bersama pilot TUDM (photos ssv: TUDM)

Sebanyak enam pilot Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (TUDM) sedang menjalani pelatihan penerbangan T-50/TA-50 bersama Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) di Republik Korea sebagai bagian dari persiapan pengoperasian pesawat FA-50M Light Combat (LCA) yang akan memasuki inventaris TUDM.

Program pelatihan telah dilaksanakan selama kurang lebih 15 minggu mulai tanggal 26 Januari hingga 8 Mei di Fighter Wing ke-16 ROKAF, melibatkan pelatihan sekolah dasar, sesi simulator serta pelatihan penerbangan nyata. Sepanjang masa pelatihan, pilot TUDM melakukan studi mendalam tentang sistem pesawat keluarga T-50 melalui kelas teori sebelum menjalani 18 sesi simulator dalam lingkungan pelatihan yang realistis.

Selain itu, para pilot juga melakukan 13 sorti pelatihan penerbangan yang meliputi pelatihan manuver udara, penerbangan instrumen, penerbangan formasi serta operasi penerbangan malam untuk mengembangkan keterampilan penerbangan taktis keseluruhan pesawat.

Program pelatihan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan terbang pesawat tersebut, tetapi juga menekankan pengembangan kemampuan operasional taktis yang dibutuhkan untuk pesawat FA-50M yang berfungsi sebagai Light Combat Craft (LCA). Melalui bimbingan pilot-pilot ROKAF yang berpengalaman, pilot-pilot TUDM juga terpapar prosedur operasional dan doktrin-doktrin penerbangan taktis yang dilaksanakan oleh ROKAF.


Setelah menyelesaikan pelatihan pesawat T-50, pilot TUDM akan melanjutkan pelatihan Lead-In Fighter Training (LIFT) di 1st Fighter Wing ROKAF menggunakan pesawat TA-50 Blok 2. Latihan ini berfokus pada pengembangan keterampilan tempur termasuk latihan udara-ke-udara dan udara-ke-darat dalam lingkungan pelatihan yang lebih kompleks dan realistis.

Akuisisi pesawat FA-50M merupakan bagian dari pelaksanaan rencana pengembangan kemampuan jangka panjang atau Rencana Pengembangan Kapabilitas 2055 (CAP55) Fase 1 TUDM untuk memperkuat kemampuan pertahanan udara negara. Pada tahun 2023 Kementerian Pertahanan Malaysia telah menutup kontrak dengan Korea Aergantara Industri (KAI) untuk pembelian 18 pesawat FA-50M LCA/FLIT untuk penggunaan TUDM. TUDM diperkirakan akan menerima dua pesawat pertama pada Oktober 2026, sedangkan sisanya akan diterima secara bertahap.

Pesawat FA-50M ini akan berperan dalam melaksanakan berbagai misi antara lain pertahanan udara, pelatihan pilot tempur, pengawasan serta operasi serangan, serta meningkatkan tingkat kesiapan dan kemampuan operasional TUDM.

Melalui program pelatihan gabungan ROKAF ini, pilot TUDM tidak hanya memperoleh keterampilan penanganan pesawat baru, tetapi juga mempelajari sistem pelatihan dan pengalaman operasional yang telah dikembangkan Korea Selatan selama beberapa dekade.

Setelah semua pelatihan ini selesai, para pilot TUDM akan kembali ke tanah air dengan keahlian baru untuk mengoperasikan pesawat FA-50M, sekaligus mendukung upaya modernisasi TUDM sejalan dengan aspirasi CAP55 dalam memperkuat kemampuan pertahanan udara negara.

Prajurit Yonif 3 Marinir Asah Presisi Tembakan Senjata Bantuan di Baluran

18 April 2026

Latihan tembakan senjata bantuan Korps Marinir (photos: PasMar2)

Dispen Kormar, TNI AL (Situbondo). Prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 3 Marinir terus mengasah kemampuan tempur melalui Latihan Perorangan Kesenjataan (LPK) Tahun Anggaran 2026 dengan fokus pada uji ketepatan dan presisi senjata bantuan. Kegiatan ini dilaksanakan di daerah latihan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) 5 Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (11/04/2026).


Latihan tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan profesionalisme prajurit sekaligus memastikan kesiapan teknis seluruh alutsista yang digunakan. Melalui kegiatan ini, Yonif 3 Marinir berupaya menstandarisasi kemampuan tempur prajurit sebelum diterjunkan dalam berbagai penugasan ke depan.


Dalam pelaksanaannya, materi utama yang diberikan adalah penembakan lintas lengkung menggunakan mortir kaliber 81 mm produksi Pindad dan Serbia, serta mortir 60 mm varian Tampella, Serbia, dan Long Range. Penggunaan teknologi optik sistem bidik mortir juga dioptimalkan guna menjamin akurasi tembakan hingga jarak 2 kilometer. Hal ini bertujuan agar setiap proyektil yang ditembakkan mampu mengenai sasaran secara tepat dan efektif dalam mendukung pasukan di garis depan.


Tak hanya mortir, latihan juga mencakup peningkatan intensitas tembakan menggunakan senjata GPMG dan MK 3. Sementara itu, kemampuan penghancuran target diperkuat melalui penggunaan senjata RPG-7, MGL, RXGL, dan GLM. Kombinasi berbagai senjata bantuan tersebut dirancang untuk melumpuhkan konsentrasi musuh, menghancurkan kendaraan lapis baja, hingga meruntuhkan posisi pertahanan yang kuat melalui pola serangan terintegrasi.


Komandan Batalyon Infanteri 3 Marinir, Letkol Marinir Iskandar Muda, menegaskan bahwa melalui latihan yang intensif dan terukur, seluruh prajurit ‘Hiu Petarung’ diharapkan memiliki kepercayaan diri tinggi terhadap alutsista yang digunakan. Dengan demikian, kesiapan tempur satuan akan semakin optimal dalam menghadapi berbagai tugas operasi ke depan.

17 April 2026

NFEM Receives Donated Speedboat from PMFTC, Bolstering Maritime Security Operations

17 April 2026

Donated speedboat from Philip Morris Fortune Tobacco Corporation (photos: NFEM)

Panacan, Davao City — The Naval Forces Eastern Mindanao (NFEM) formally received a donated speedboat from Philip Morris Fortune Tobacco Corporation (PMFTC) during a Turnover and Blessing Ceremony held at Naval Station Felix Apolinario Beach Park on April 14, 2026. The acquisition strengthens the unit’s capability to carry out its maritime security and law enforcement mandates.

The ceremony commenced with the formal turnover and signing of the Deed of Donation, symbolizing the official transfer of the vessel from PMFTC to NFEM. This was followed by a blessing ceremony, invoking safety, protection, and operational success for the speedboat and its future missions.


The donated asset is a high-speed patrol boat designed for maritime security operations. It is a center-console type vessel with a full hardtop, measuring approximately 42 feet in length and powered by twin high-horsepower outboard engines. Built for speed and maneuverability, it will enhance NFEM’s capability in coastal patrol, law enforcement support, and rapid maritime response operations.

In his remarks, Mr. Jerel Palomata, Manager for Local Regulatory and Enforcement, Corporate Affairs of PMFTC, underscored the company’s recognition of the Philippine Navy’s unwavering commitment to duty. He highlighted the dedication, sacrifices, and steadfast service of naval personnel in safeguarding the nation’s maritime domain. He noted that the donation of the speedboat represents PMFTC’s tangible expression of gratitude and continued support for the Navy’s vital role in ensuring security and stability in the region.


In response, Commodore Ireneo D. Battung PN, Commander of NFEM, expressed his sincere appreciation to PMFTC for its generosity and sustained partnership with the Philippine Navy, particularly with Naval Forces Eastern Mindanao and Joint Task Force Sinaya. He emphasized that the newly acquired speedboat will significantly enhance the unit’s operational capability, especially in deterring illegal maritime activities such as smuggling within the Eastern Mindanao seaboard. He also reaffirmed the Navy’s commitment to maximizing the use of the asset in support of its mission to secure the maritime environment.

The addition of this capability further strengthens Joint Task Force Sinaya’s capacity to conduct maritime security operations, patrols, search and rescue missions, and rapid response efforts across the Eastern Mindanao area. Moreover, it reflects the strong collaboration between the Command and its stakeholders, underscoring a shared commitment to protecting the nation’s maritime domain.

Pesawat Angkut C-27J Spartan Australia Akan Dipensiunkan Dini

17 April 2026

Pesawat angkut taktis C-27J Spartan Angkatan Udara Australia (photos: RAAF)

Dalam berita hari ini, Menteri Industri Pertahanan, Pat Conroy, mengumumkan dalam sebuah wawancara media di ABC mengenai dokumen Strategi Pertahanan Nasional.

"MENTERI CONROY:" Jadi yang terbesar adalah kita akan mempensiunkan pesawat taktis ringan C-27 Spartan karena pesawat ini sangat mahal untuk dioperasikan untuk tujuan penggunaannya saat ini, yaitu untuk mendukung negara-negara Pasifik dan transportasi. Dan kita akan menggantinya melalui program penerbangan Pasifik".

"Jadi itu adalah penyesuaian ruang lingkup terbesar, dan itu bukan pemotongan. Mereka sebenarnya mengatakan, "Proyek ini tidak dapat kita benarkan dalam keadaan strategis saat ini, kita akan mempensiunkan kemampuan itu lebih awal dan berinvestasi dalam hal lain". Itu adalah manajemen keuangan yang bijaksana dan wajib pajak akan mengharapkan kita tidak hanya meminta lebih banyak uang, tetapi juga memastikan bahwa uang yang kita miliki kita gunakan seefektif mungkin". 


"Jadi, operasi Skuadron 35 akan dihentikan, dengan armada C-27 yang masih sangat muda berjumlah 10 unit, kita akan melihat mereka dikeluarkan dari layanan aktif....kapan kita belum mengetahuinya. Akankah mereka disimpan untuk digunakan kembali di masa depan atau dijual ke luar negeri?

Mungkin saja operasi C-130J Hercules yang direncanakan diperluas di pangkalan RAAF Richmond akan mengambil alih peran C-27 ini. Tetapi jika anggota parlemen Pemerintah Federal menganggap C-27 mahal, lalu sampai di mana "pemikiran" itu berhenti... aset pertahanan termahal apa selanjutnya yang perlu disingkirkan dan disiapkan untuk penarikan di masa depan?