11 Juli 2026

Two Rigid Inflatable Boats from U.S. to the PMC

11 Juli 2026


Two RIB for Philippines (photo: US Embassy)

The U.S. government handed over two Rigid Inflatable Boats worth $3.2M to the Philippine Marine Corps 2nd Marine Brigade in Tawi-Tawi, Mindanao boosting their maritime mobility. Together, we sail toward a Free And Open IndoPacific. 

ADF Completes Successful Firing of SM-2 from Ground-Based Derringer Launch System

11 Juli 2026

Firing of SM-2 missile (all photos: Aus DoD)

A Royal Australian Navy Standard Missile 2 (SM-2) is fired from the Derringer trailer-mounted Expeditionary Launch System during Taipan Strike 26 at the Woomera Test Range, in South Australia.


Exercise Taipan Strike 2026 (TSTK26) was an Active Missile Defence test activity culminating in a live fire event at the Woomera Test Range. 

TSTK26 reduced technical and integration risks, and validated system performance of a candidate option for a future ground-based medium-range air defence solution.


The System Under Test included CEA sensors, Virtualised Aegis Weapon System and a trailer-mounted Expeditionary Launch System (Derringer) firing a RAN surface to air missile. 

This RAAF-sponsored activity was conducted in collaboration with the Navy, Capability Acquisition and Sustainment Group, US Government agencies, and US and Australian Industry partners.


Derringer trailer-mounted Expeditionary Launch System 
The long range Derringer trailer-mounted Expeditionary Launch System is visited by a group of VIPs during Exercise Taipan Strike 2026 activities held at the Woomera Test Range, in South Australia.


CEA Phased Array Antenna
The CEA Technologies Phased Array Antenna system set up for Exercise Taipan Strike 2026 activities held at the Woomera Test Range, South Australia.

Retractable Landing Gear BRIN, Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam

11 Juli 2026

Retracable landing gear BRIN pada UAV Elang Hitam (photo: BRIN)

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

“Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

UAV Elang Hitam menggunakan Retracable landing gear (photo: Bambang Haryanta)

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Proses pengujian Retractable Landing Gear (photo: BRIN)

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

UAV Elang Hitamj (photo: PT DI)

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

“Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

10 Juli 2026

Satelit NEO 1 Siap Meluncur 1 Januari 2027

10 Juli 2026

Satelit Nusantara Earth Observation (NEO 1) (photo: BRIN)

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan siap meluncurkan satelit bernama Nusantara Earth Observation (NEO 1) pada Januari 2027 sebagai satelit observasi bumi buatan para peneliti asal Indonesia dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 65 persen.

Kepala BRIN Arif Satria menyatakan satelit itu menjadi bukti bahwa Indonesia mampu melakukan regenerasi inovasi di bidang satelit dan meneruskan pengembangan beragam jenis satelit di dalam negeri.

Satelit Nusantara Earth Observation (NEO 1) (photo: Antara)

"Peluncuran NEO 1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit," kata Arif dalam perayaan 50 tahun Satelit Indonesia di Jakarta, Rabu.

Arif mengatakan BRIN menyiapkan semua aset NEO 1 mengandalkan inovasi anak bangsa mulai dari perancangan misi, desain sistem, pengujian software, operasi satelit, hingga dukungan stasiun bumi.

Malaysia Hentikan Semua Kontrak Pertahanan dengan Norwegia

10 Juli 2026

Fire Control System pada CMS SETIS kapal perang Maharaja Lela-class (LCS) disuplai oleh Kongsberg Defence, Norwegia (photo & infographic: Naval Group)

Tindakan henti perolehan peralatan pertahanan dari Norway wajar, tepat - Mohamed Khaled
KOTA TINGGI: Tindakan kerajaan untuk tidak lagi meneruskan sebarang perolehan dan kontrak dengan Norway adalah wajar dan tepat berikutan negara itu dilihat tidak menghormati Malaysia, kata Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin.

Mohamed Khaled keputusan itu dipersetujui Kabinet selepas Kementerian Pertahanan mencadangkan supaya tiada lagi perolehan aset pertahanan dibuat daripada Norway susulan tindakan negara itu membatalkan lesen eksport sistem peluru berpandu yang telah ditempah Malaysia.

Beliau berkata Kabinet turut meneliti sama ada pendirian itu akan diperluaskan kepada kementerian lain, namun buat masa ini melibatkan Kementerian Pertahanan.

“Apabila mana-mana kontrak yang melibatkan Norway tamat, kerajaan mungkin tidak akan mendapatkan khidmat mereka atau menyambung kontrak itu.

“Ini satu usaha dan tindakan yang saya percaya sangat wajar dan tepat kerana Norway seolah-olah tidak menghormati negara kita dan saya berharap rakyat memahami serta memberikan sokongan,” katanya kepada pemberita pada program Ziarah Kasih di Felda Pasak di sini hari ini.


Semalam, jurucakap Kerajaan Perpaduan Datuk Fahmi Fadzil dilaporkan berkata kerajaan memutuskan untuk menghentikan serta-merta sebarang perolehan peralatan atau kelengkapan pertahanan baharu dari Norway susulan tindakan negara itu membatalkan lesen eksport peluru berpandu yang sepatutnya dilengkapkan pada Kapal Tempur Pesisir (LCS) milik Tentera Laut Diraja Malaysia.

Kerajaan Norway sebelum ini dilaporkan membatalkan lesen eksport peluru berpandu antikapal (NSM) kepada Malaysia serta sistem pelancar berkaitan atas alasan untuk melindungi keselamatan negara itu.

Mohamed Khaled berkata Malaysia kesal dengan tindakan Norway kerana kontrak berkenaan telah dimeterai sejak 2018, termasuk pembayaran yang telah dibuat sebelum lesen eksport dibatalkan secara unilateral pada saat akhir tanpa sebarang makluman atau perbincangan dengan Malaysia.

Beliau berkata alasan Norway bahawa sistem peluru berpandu itu hanya dijual kepada negara anggota Pertubuhan Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dan sekutunya, juga tidak meyakinkan kerana negara itu mengetahui keperluan Malaysia untuk memperkukuh keupayaan pertahanan, khususnya melibatkan rondaan dan keselamatan di Laut China Selatan.

Ahli Parlimen Kota Tinggi itu berkata pendirian Malaysia itu telah dimaklumkan kepada Timbalan Menteri Luar Norway dan duta negara berkenaan kerana hubungan antara kedua-dua negara perlu berasaskan kepercayaan dan saling menghormati.

“Kita sudah tidak lagi percaya kepada Norway,” katanya.

Ambassador Visits PZL Mielec, Explore Possibilities of co-manufacturing in the Philippines

10 Juli 2026

Philippine Embassy visited PZL Mielec, Poland (photos: PH Embassy)

The Philippine Embassy visited the supplier of the world-famous Blackhawk helicopters PZL Mielec (Polskie Zakłady Lotnicze - Polish Aviation Works) in the city of Mielec, an industrial area located in the Subcarpathian Voivodeship in south-eastern Poland.

PZL Mielec is the largest aerospace manufacturer in postwar Poland and is part of American company Sikorsky Aircraft.


Ambassador Alan L. Deniega met PZL Mielec President and General Director Janusz Zakrecki, along with Vice President and Legal Director Wojciech Stromczynski and Director of Business Development and Programs Piotr Niedbała to discuss acquisition projects related to national security and disaster management concerns of the Philippines. Discussions today also involved possibilities of co-manufacturing in the Philippines, and certain human resources needs.

The Ambassador was accompanied by First Secretary Geronimo Suliguin, while PZL Mielec Program Manager for Business Development and Programs Ewa Maziarska arranged the tour of the facilities. 

09 Juli 2026

Brigade ke-171 (Naval Region 2) Angkatan Laut Vietnam Latihan Rutin dengan Fregat Petya

09 Juli 2026

5 fregat ASW kelas Petya (Project 159) sengaja dikonsentrasikan di bawah komando Brigade ke-171 Wilayah Angkatan Laut 2 untuk memperkuat pertahanan laut bagian selatan dan menjaga platform lepas pantai strategis DK1 (Nhà giàn DK1) (all photos: QDND)

Brigade ke-171 (Wilayah Angkatan Laut 2) didirikan pada tanggal 9 Juli 1966. Selama lebih dari 60 tahun membangun, berjuang, dan berkembang, generasi perwira dan prajurit Brigade selalu bersatu, mengatasi semua kesulitan, dan menuliskan tradisi "Berjuang dengan gagah berani, mengatasi kesulitan, terus bertahan di laut, bertekad untuk berjuang dan menang." Pada kesempatan ini, seorang reporter dari Surat Kabar Tentara Rakyat mewawancarai Letnan Kolonel Tran Thanh Vu, Komisaris Politik Brigade ke-171, tentang tradisi heroik Brigade.

Reporter (PV): Bisakah Anda merangkum beberapa aspek khas dari tradisi Brigade?

Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Pendahulu Brigade ke-171 adalah Resimen Patroli dan Perburuan Kapal Selam ke-171. Pembentukan Resimen ini terkait dengan kemenangan tentara dan rakyat Vietnam Utara dalam mengalahkan perang penghancuran pertama yang dilancarkan oleh imperialis AS; Unit ini berpartisipasi dalam mengalahkan kampanye blokade ranjau dan bom magnetik oleh imperialis AS selama Perang Dunia Kedua yang penuh kehancuran. Secara khusus, selama Serangan Musim Semi tahun 1975, unit ini, bersama dengan pasukan lain, membebaskan dan merebut pelabuhan Son Tra-Da Nang, Nha Trang, dan Cam Ranh, membuka jalur air Vung Tau-Saigon; mengawal, mengangkut, dan mencegah evakuasi laut selama Kampanye Ho Chi Minh. Selama perang untuk mempertahankan perbatasan barat daya, unit ini, yang saat itu merupakan Armada ke-171, berpartisipasi dalam pertempuran untuk melindungi laut dan pulau-pulau barat daya, melaksanakan tugas internasional, dan kemudian, bersama dengan pasukan lain, berpartisipasi dalam tugas melindungi laut selatan, pulau-pulau, dan landas kontinen Tanah Air.


PV: Beroperasi dalam lingkungan yang unik, sulit, dan kompleks, apa yang membantu para perwira dan prajurit Brigade selalu berhasil menyelesaikan semua tugas? Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Singkatnya, faktor kunci yang berkontribusi pada kemenangan dan pencapaian Brigade adalah tekad yang teguh dan keteguhan politik para perwira dan prajuritnya. Terlepas dari kondisi atau keadaan apa pun, para perwira dan prajurit Brigade 171 secara konsisten menunjukkan semangat juang yang teguh, pola pikir revolusioner yang menyeluruh, dan sikap pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan, tantangan, dan bahaya; dengan teguh dan gigih melaksanakan tugas mereka hingga akhir untuk mencapai kemenangan.

Dalam pertempuran melawan musuh, baik di darat maupun di laut, para perwira dan prajurit Brigade selalu membuktikan diri sebagai kekuatan dengan tekad yang teguh, kemauan yang tak tergoyahkan, dan kesediaan untuk menanggung kesulitan dan pengorbanan. Dalam situasi berbahaya, di mana garis antara hidup dan mati sangat tipis, para perwira dan prajurit Brigade tetap setia pada perjuangan revolusioner, kepada Tanah Air dan rakyat, siap mengorbankan diri mereka untuk perjuangan pembebasan nasional dan perlindungan kedaulatan maritim dan pulau-pulau Tanah Air. Kehadiran terus-menerus di laut ini sepenuhnya mencerminkan kemauan dan keberanian para perwira dan prajurit selama 60 tahun terakhir.

Dari masa-masa awal pertempuran melawan perang destruktif yang dilancarkan oleh imperialis AS hingga pertempuran untuk melindungi perbatasan barat daya, melaksanakan tugas internasional untuk membantu rakyat Kamboja; kemudian tahun-tahun perjuangan untuk melindungi kedaulatan di Kepulauan Spratly, melindungi terumbu karang dan landas kontinental di Selatan dan sistem platform DK1, hingga saat ini menguasai senjata dan peralatan modern... semuanya memiliki satu benang merah yang sama: kehadiran tak tergoyahkan dari kapal dan prajurit Brigade 171 di laut.


PV: Untuk membangun karakter pasukan, apa langkah-langkah utama yang diterapkan oleh Komite Partai dan Komando Brigade, Pak?

Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Karakter bukanlah sesuatu yang datang secara alami; karakter dibentuk melalui proses pelatihan yang panjang dan terus-menerus. Oleh karena itu, Komite Partai dan Komando Brigade memprioritaskan pendidikan, pelatihan, dan instruksi untuk memastikan bahwa pasukan memiliki pemahaman politik yang baik, kompetensi profesional, persatuan, dan fleksibilitas dalam menangani situasi; Secara aktif berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan politik dan ideologi bagi seluruh personel militer dan pegawai pertahanan, menumbuhkan patriotisme, cinta laut dan pulau, serta cinta satuan; memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan kemauan yang teguh, keberanian, dan tekad, tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.

Seiring dengan itu, Komite Partai dan Komando Brigade memfokuskan upaya untuk meningkatkan kualitas pelatihan tempur, disiplin, membangun sistem yang teratur dan tertib, memastikan keselamatan dalam semua kegiatan; dan memprioritaskan pelatihan yang komprehensif dan mendalam. Pelatihan diselaraskan erat dengan misi, sasaran, medan perang, rencana, dan pertempuran aktual. Proses pelatihan berfokus pada perlindungan kedaulatan laut, pulau, dan landas kontinen negara, dan membangun brigade yang revolusioner, teratur, elit, dan modern.


Brigade memperkuat pelatihan perwira dan prajurit dalam kesiapan tempur praktis; menciptakan situasi yang kompleks, tegang, dan bahkan berbahaya... untuk menguji dan menempa kecerdasan, kemauan, kekuatan mental, dan kesehatan fisik pasukan; Dengan demikian, membina dan mengasah karakter para perwira dan prajurit agar dapat merespons situasi apa pun dengan percaya diri dan sukses.

Reporter: Dalam waktu mendatang, apa yang harus dilakukan brigade untuk menjunjung tinggi tradisinya, Kamerad?

Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Tradisi Brigade bukan hanya sumber kebanggaan tetapi juga perintah dan motivasi spiritual yang besar bagi seluruh unit untuk terus berupaya membangun Brigade yang kuat, komprehensif, "teladan, dan luar biasa". Mengingat situasi yang kompleks di laut dan tuntutan yang semakin tinggi untuk melindungi kedaulatan maritim dan pulau-pulau, kami bertekad untuk terus mendidik, melatih, dan membangun tim perwira dan prajurit dengan tekad politik yang kuat, keterampilan profesional yang tinggi, dan penguasaan senjata modern dan peralatan teknis; meningkatkan kualitas pelatihan, kesiapan tempur, dan kekuatan keseluruhan unit. Terlepas dari kesulitan, kesengsaraan, atau situasi apa pun, Brigade akan selalu tetap bersatu, siap menerima dan menyelesaikan semua tugas dengan sukses; dengan tegas dan gigih membela kedaulatan maritim, pulau-pulau, dan landas kontinen Tanah Air yang sakral.

Reporter: Terima kasih banyak, Kamerad!