01 September 2026

Proyeksi Perdagangan Pertahanan Indonesia-Amerika Serikat

01 September 2026

TNI AU masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan C-130B maupun L-100-300 (photo: Antara)

Perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat mengalami kemunduran sejak era Presiden Joko Widodo setelah mengecap arus pasang pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Parameter yang digunakan dalam menilai pasang surut aktivitas tersebut ialah pembelian peralatan pertahanan utama (major defense equipment) yang mencakup wahana beserta subsistem pendukung.

Akuisisi sistem senjata seperti AH-64E, F-16C/D Blok 25 dan sejumlah rudal bagi TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat selama Minimum Essential Force (MEF) tahap pertama menandai menggeliatnya kembali kegiatan perdagangan kedua negara pascapencabutan embargo Amerika Serikat terhadap Indonesia pada 2005. Sedangkan pada MEF fase kedua, pengadaan signifikan oleh Indonesia terhadap produk pertahanan Amerika Serikat hanya berupa lima C-130J yang didanai oleh sindikasi sebuah bank BUMN dan sebuah bank asal Prancis.

Saat MEF babak ketiga dieksekusi, tidak ada program pembelian peralatan pertahanan utama buatan Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Indonesia. Program akuisisi beberapa rudal bagi F-16 dicoret dari Blue Book, sementara rencana mengimpor F-15EX juga hilang dari Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2020-2024.

Selain itu, sebuah kontrak pembelian sistem senjata asal Amerika Serikat tidak dapat dieksekusi sebab terjadi perubahan pemikiran di Kementerian Pertahanan. Padahal pada MEF tahap ketiga, Kementerian Keuangan menyediakan alokasi Pinjaman Luar Negeri untuk Kementerian Pertahanan nyaris lima kali lipat daripada MEF fase kedua.

Ketika Indonesia memasuki Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029, sulit mengharapkan akan ada pembelian dengan nilai kontrak yang besar dari Amerika Serikat. Seumpama akal sehat masih mewarnai dalam pengambilan keputusan, Indonesia setidaknya harus melakukan pengadaan munisi bagi F-16 dan AH-4E, termasuk rudal dan kit bom pintar agar armada jet tempur dan helikopter serang itu siap tempur dan tidak hanya siap untuk acara seremonial saja.

Tentu menjadi pertanyaan mengapa Jakarta tidak bersemangat untuk berbelanja peralatan perang dari Washington walaupun beberapa tahun lalu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pernah menyatakan bahwa prioritas belanja peralatan pertahanan Indonesia adalah pada negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Terhadap pertanyaan demikian, beberapa hal berikut patut diduga berkontribusi pada arus surut perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat. Pertama, perencanaan akuisisi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perencanaan pembelian sistem senjata tidak dilakukan secara matang, bahkan ada pihak yang menilai bahwa tidak ada perencanaan sama sekali.

Persenjataan F-16 standar Viper (photo: Reddit)

Padahal seandainya perencanaan dilaksanakan secara matang, faktor-faktor seperti geopolitik, ekonomi maupun kondisi peralatan pertahanan yang digunakan saat ini, besar kemungkinan akan mempengaruhi keputusan mengenai akuisisi pertahanan. Sebagai contoh, perencanaan yang matang tidak akan membuat suatu wahana yang dioperasikan nyaris kekurangan munisi dan suku cadang karena tidak ada pembelian baru.

Kedua, aturan perdagangan pertahanan. Aturan perdagangan pertahanan Amerika Serikat yang ketat, di mana produsen senjata negara itu dapat dikenai denda oleh Departemen Kehakiman apabila melanggar aturan, membuat aktivitas perdagangan dengan Amerika Serikat tidak menarik bagi Indonesia.

Walaupun terdapat skema Direct Commercial Sales (DCS) bagi sejumlah sistem senjata, skema tersebut terhitung cukup ketat, meskipun tidak sekeras skema Foreign Military Sales (FMS). Misalnya, DCS tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor senjata Amerika Serikat ke negara lain, selain nilai fee bagi mitra lokal firma pertahanan Amerika Serikat telah diatur.

Ketiga, daya saing harga jual. Penjualan sistem senjata Amerika Serikat ke luar negeri selalu dirangkai dengan paket Integrated Logistics System (ILS) atau dikenal juga sebagai initial spare minimal hingga dua tahun ke depan agar pembeli dapat memakai secara optimal dalam jangka waktu tertentu. Biaya pengadaan akan menjadi lebih mahal lagi seumpama Indonesia meminta paket offset sebagai implementasi dari aturan yang berlaku.

Kedua hal itu dapat membuat harga yang ditawarkan oleh Amerika Serikat lebih mahal daripada yang disodorkan oleh pesaing, sebab kompetitor dapat saja mengurangi paket ILS agar harga yang diajukan lebih murah. Selama ini Indonesia kurang memberikan perhatian khusus pada paket ILS dalam akuisisi sistem senjata, antara lain tercermin dalam pembelian Rafale F4i.

Bertolak dari situasi sekarang, bagaimana proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat sampai akhir dekade ini? Apakah Indonesia akan menyisihkan sebagian kecil anggaran modernisasi kekuatan pertahanan guna dibelanjakan di Amerika Serikat? Pertanyaan itu tidak mencakup pembelian rutin untuk suku cadang sejumlah produk pertahanan Amerika Serikat yang saat ini dioperasikan oleh Indonesia.

Kemhan dapat mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional helikopter serang (photo: Antara)

Memperhatikan secara seksama dinamika kerjasama pertahanan saat ini, apalagi setelah kedua belah pihak menyepakati Major Defense Cooperation Partnership yang mencakup pula modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat ialah sebagai berikut.

Pertama, kemungkinan pembelian C-130J-30. Bila mengacu pada rencana kebutuhan TNI Angkatan Udara, matra tersebut masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan sejumlah C-130B yang dipensiunkan maupun C-130H dan L-100-300 yang mengalami total loss akibat kecelakaan.

Apalagi saat ini TNI Angkatan Udara sudah mempunyai tiga skadron udara untuk pesawat angkut buatan Lockheed Martin, di mana terdapat jumlah standar C-130 yang harus dipenuhi pada setiap skadron udara. Pengadaan C-130J-30 dapat menggunakan skema DCS, namun Amerika Serikat tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor pesawat turboprop itu ke Indonesia.

Kedua, peluang pengadaan munisi dan kit bom pintar. Apabila Indonesia benar-benar menyiapkan sistem senjata seperti AH-64E dan F-16 siap tempur dan bukan hanya bisa fly past di acara-acara seremonial, akuisisi rudal seperti AIM-9X, AIM-120C-7, AGM-65K2 dan AGM-114R-3 beserta kit bom pintar wajib dilakukan.

Terdapat dugaan terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan munisi dengan jumlah wahana yang dipunyai sehingga berpotensi menjadi masalah besar jika terhadap konflik bersenjata di kawasan Indo Pasifik. Memperhatikan karakteristik rudal dan kit tersebut, satu-satunya skema yang tersedia seumpama Indonesia hendak membeli adalah FMS, sehingga menutup rapat kemungkinan Indonesia memanfaatkan jasa makelar.

Di luar impor F-15EX yang pintunya telah tertutup rapat sesudah Indonesia tidak menandatangani Letter of Offer and Acceptance pada Desember 2025, Jakarta perlu mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional pesawat sayap putar buatan Boeing itu berdasarkan siklus operasi dan pemeliharaan sistem senjata.

Sebenarnya terdapat kebutuhan TNI Angkatan Darat terhadap tambahan helikopter serang tersebut, namun apakah akan dipenuhi tergantung pada Kementerian Pertahanan. Sebagaimana rudal, pengadaan AH-64E kurang menarik sebab hanya bisa lewat skema FMS yang bebas makelar. (Alman Helvas Ali)

31 Agustus 2026

Kemhan Pastikan RI Belum Teken Kontrak Pengadaan Jet Tempur F-15 Eagle dari AS

31 Agustus 2026

Pesawat tempur F-15EX (photo: QEAF)

Jakarta, IDM – Kementerian Pertahanan RI memastikan pemerintah Indonesia belum meneken kontrak pengadaan jet tempur F-15 Eagle atau F-15EX produksi perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat (AS), Boeing.

Hal ini disampaikan Kemhan RI menanggapi daftar kontrak industri-industri pertahanan AS terkait penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Daftar itu dirilis oleh Departemen Perang AS melalui laman mereka, Senin (24/8).

“Terkait F-15, sampai saat ini belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai rencana pengadaannya. Kemhan juga belum memiliki kontrak aktif maupun LOA (letter of offer and acceptance) yang diaktifkan untuk pengadaan F-15,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangannya, Jumat (28/8).

Dalam rilis yang disampaikan Departemen Perang AS, disebut Indonesia sebagai salah satu negara yang dilibatkan dalam kontrak pengadaan pesawat tempur F-15EX.

“Pekerjaan (pembuatan F-15 Eagle) akan dilakukan di St. Louis, Missouri, dan diharapkan selesai pada Agustus 2037. Periode pemesanan diperkirakan akan berakhir pada 24 Agustus 2031, dengan opsi perpanjangan periode pemesanan hingga 24 Agustus 2036. Kontrak ini melibatkan penjualan ke Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, Indonesia, dan Polandia,” tulis Departemen Perang AS.

Kontrak tersebut meliputi produksi pesawat, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan kemampuan, retrofit, pemeliharaan, dan pembentukan kemampuan pemeliharaan depot terhadap pesawat F-15.

“Pencantuman Indonesia dalam rilis kontrak F-15 dari pihak AS tersebut tidak dapat diartikan bahwa Indonesia telah melakukan atau mengaktifkan kontrak pengadaan F-15,” kata Rico.

(IDM)

HMAS Hobart Rampungkan Upgrade Sistem Aegis dan Tomahawk

31 Agustus 2026

HMAS Hobart - AWD 39 (photo: Aus DoD)

Angkatan Laut Kerajaan Australia (Royal Australian Navy) telah mencapai tonggak sejarah penting dalam pertahanan laut dengan rampungnya tahap pengerjaan di galangan kapal untuk program peningkatan kemampuan kapal perusak berpeluru kendali HMAS Hobart. Kapal ini dimodernisasi di Galangan Kapal Angkatan Laut Osborne di bawah inisiatif SEA 4000 Fase 6 senilai A$4,29 miliar. HMAS Hobart merupakan kapal pertama dari tiga kapal perusak kelas Hobart milik Australia yang menerima sistem pertahanan rudal Aegis yang canggih serta senjata serangan jarak jauh Tomahawk.

Pembaruan paruh baya (*mid-life refit*) ini mengubah HMAS Hobart dari kapal pertahanan udara menjadi kapal kombatan permukaan multi-misi. Inti dari peningkatan ini adalah transisi ke sistem tempur Aegis Baseline 9, yang diintegrasikan dengan antarmuka tempur baru buatan Australia.

Rudal SM-6 (photo: US Navy)

Kapal ini kini mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk yang dapat menghantam target darat pada jarak lebih dari 1.500 kilometer, sementara integrasi pencegat Standard Missile 6 (SM-6) memberikan kemampuan pertahanan terhadap rudal balistik pada fase terminal. Naval Strike Missile yang diluncurkan dari tabung peluncur (*canister*) juga ditambahkan untuk memperkuat kemampuan anti-kapal tanpa memakan ruang di dalam sel peluncur vertikal internal kapal.

Dari sisi pengadaan pertahanan, peningkatan ini menciptakan keseragaman perangkat lunak tempur di seluruh armada permukaan utama Australia. Peningkatan ketiga kapal perusak secara bertahap memastikan Angkatan Laut tetap dapat menjaga cakupan operasional armada sembari melakukan modernisasi. Inisiatif ini juga memperkuat kemampuan pemeliharaan armada dalam negeri dengan memanfaatkan infrastruktur galangan kapal lokal, yang nantinya akan mendukung pembangunan fregat kelas Hunter di masa depan.

Rudal jelajah Tomahawk (photo: Navair)

Secara geopolitik, penggunaan kemampuan serangan presisi jarak jauh dan pencegat rudal balistik sejalan dengan strategi Australia untuk mencegah agresi regional di kawasan Indo-Pasifik. Rudal jarak jauh memungkinkan komandan angkatan laut untuk mengancam aset musuh dari jarak aman (*standoff*), melindungi jalur perdagangan vital, serta mendukung misi operasi gabungan bersama armada Amerika Serikat dan sekutunya.

Secara operasional, peningkatan ini menghadirkan pertimbangan strategis antara daya tembak multi-misi dan kapasitas penyimpanan senjata internal (*magazine*). Meskipun radar dan perangkat lunak kapal mampu melacak dan menghadapi berbagai ancaman udara, darat, dan rudal balistik secara bersamaan, kapal ini tetap mempertahankan sistem peluncur vertikal 48-sel yang sudah ada. Komandan angkatan laut harus menyeimbangkan komposisi muatan senjata berdasarkan profil misi, dengan memilih antara rudal jelajah serangan darat, pencegat pertahanan udara, atau rudal anti-balistik. 

Peningkatan kemampuan HMAS Hobart memberikan kemampuan serangan jarak jauh yang strategis serta pertahanan terhadap rudal balistik pada fase terminal bagi Angkatan Laut Kerajaan Australia, guna memperkuat keamanan kawasan Indo-Pasifik.

(TMC)

Media Jepang Laporkan Indonesia Tertarik Akuisisi Fregat Mogami Upgrade

31 Agustus 2026

Fregat Mogami varian Upgrade (image: Naval Power)

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- The Japan Times melaporkan, Jakarta juga telah menyatakan minat untuk membeli fregat kelas Mogami dari Jepang yang telah ditingkatkan (New FFM). Namun, keputusan mengenai kapal-kapal tersebut diperkirakan baru akan diambil setelah kesepakatan kapal perusak kelas Asagiri diselesaikan untuk dikirimkan ke Indonesia.

Tokyo telah memasok tiga kapal pertama dari rencana armada 11 fregat kelas Mogami yang telah ditingkatkan untuk menggantikan kapal perang kelas Anzac ke Angkatan Laut Australia yang sudah tua. Mogami termasuk ke dalam pembicaraan trilateral antara ketiga menteri pertahanan (menhan), dengan Tokyo memberikan wawasan kepada Jakarta mengenai pembelian serupa.

Sebelumnya, Menhan Shinjiro Koizumi, Menhan RI, dan Menhan Australia Richard Marles menggelar pembicaraan trilateral. Ketiganya sepakat untuk mempromosikan kerja sama pertahanan bilateral dan trilateral, menurut Kementerian Pertahanan di Tokyo.

Langkah Menhan Koizumi dilakukan tidak lama setelah Menhan RI menggelar pertemuan dengan Menhan China Laksamana Dong Jun di Jakarta. Pun sebelumnya Angkatan Laut China dan TNI AL menggelar latihan melewati laut timur Taiwan, sepulang kapal perang Indonesia dari Vladivostok, Rusia.

Jepang telah melonggarkan aturan mengenai transfer alutsista ke-17 negara, termasuk Indonesia. Langkah itu dilakukan Jepang untuk semakin mendekatkan diri dengan negara-negara yang bisa diajak kerja sama, khususnya dalam mengantisipasi ancaman China. Menhan Koizumi secara pribadi juga memperkuat hubungan personal dengan Menhan Sjafrie.

30 Agustus 2026

New Zealand Launches Long-range Uncrewed Aircraft Acquisition Programme

30 Agustus 2026

The Long range UAVs will supplement four P-8A Poseidon aircraft and several King Air platforms in the intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) role (photo: USAF)

Defence launches market research into long-range uncrewed aircraft systems
Defence has issued a request for information to industry focused on long-range uncrewed aircraft systems (UAS), which can operate up to 1,400 nautical miles from base for at least six hours.

The information gathered will provide Defence with indicative costs and timeframes for the potential delivery of a system to conduct maritime surveillance activities across the South West Pacific. The UAS will not be armed. 

“This request for information is a market research tool that aims to inform the next stage of the Persistent Surveillance Air project. It does not initiate a procurement process nor a commitment to acquire new systems. No decisions have been made,” Sarah Minson, Deputy Secretary, Capability Delivery, said.  

“We are looking for solutions that have high-definition imaging systems and a maritime search radar, with the ability to provide near real time imagery back to the ground control station in all weather conditions, and during the day or night. We are currently planning a commercially owned and commercially operated delivery model.  

“Defence encourages New Zealand businesses to provide a response to this request for information, describing how they could meet the needs of the New Zealand Defence Force.” 

The notice has been published on the Government Electronic Tender Service.

Kisah Pesawat Lockheed T-33 T-Bird TNI AU

30 Agustus 2026

Satu skadron pesawat Lockheed T-33 T-Bird yang terdiri dari 16 pesawat diserahkan kepada TNI AU (photos: TNI AU)

Satu skadron Lockheed T-33 T-Bird resmi diserahkan kepada Indonesia sebagai penguat kemampuan pembinaan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara. Pesawat ini kemudian berperan penting dalam pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kemampuan tempur, bahkan berhasil dimodifikasi menjadi pesawat bersenjata oleh insan TNI AU.

Meski telah mengakhiri masa operasionalnya pada 1980, jejak pengabdian Lockheed T-33 T-Bird tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah kekuatan udara Indonesia dan kini diabadikan sebagai koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Pada 23 Agustus 1973, TNI Angkatan Udara menerima satu skadron pesawat latih jet Lockheed T-33 T-Bird di Lanud Iswahjudi, Madiun. Pesawat-pesawat tersebut diterbangkan langsung oleh pilot-pilot Angkatan Udara Amerika Serikat dalam empat gelombang yang tiba pada 17 April hingga 22 Juni 1973.

Sebagai pesawat latih, Lockheed T-33 T-Bird semula direncanakan berada di bawah Komando Pendidikan Angkatan Udara (Kodikau). Namun berdasarkan kebutuhan organisasi dan kondisi operasional saat itu, pesawat ini kemudian ditempatkan di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Melalui Keputusan Kasau Nomor Kep/33/V/1974 tanggal 1 Mei 1974, Lockheed T-Bird ditetapkan sebagai pesawat untuk proficiency training bagi penerbang jet tempur serta transition training bagi penerbang yang akan mengoperasikan pesawat F-86 Sabre. 

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Pangkohanudnas Nomor Skep/A/V/1974 tanggal 10 Mei 1974, pesawat tersebut dimasukkan ke dalam unsur organik Komando Satuan Buru Sergap dengan nama Satuan Buru Sergap (Satsergap) T-33 T-Bird. 

T-33 T-Bird ketika mengemban misi tempur (photo: Marsda Holki BA)

Pada tahun 1978, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara berhasil memodifikasi pesawat Lockheed T-33 T-Bird menjadi pesawat yang mampu mengemban misi tempur. 

Melalui serangkaian uji coba para peneliti berhasil mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan, meliputi peluncur roket KB-13 yang menggunakan roket FFAR, bom udara serta senapan mesin kaliber 12,7mm. Keberhasilan tersebut merupakan tonggak penting dalam pengembangan kemandirian teknologi pertahanan TNI Angkatan Udara, karena mampu mengintegrasikan sistem persenjataan yang tidak termasuk dalam konfigurasi asli T-33 T-Bird.

Fungsi asalnya, pesawat T-33 T-Bird digunakan untuk transition training bagi penerbang F-86 Sabre sebagaimana foto diatas (photo: Gideon PY)

Pada tahun 1979, Satsergap T-33 direorganisasi menjadi Skadron Tempur T-33 di bawah Wing Tempur 300, kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Skadron Operasional T-33 Bird. Setelah memberikan kontribusi dalam pembinaan kemampuan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara, pesawat Lockheed T-33 T-Bird resmi mengakhiri masa operasionalnya pada tahun 1980.

Kini salah satu diantaranya menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta sejak tahun 1985 sebagai warisan sejarah perkembangan kekuatan udara Indonesia.

(TNI AU)

Royal Australian Navy Commissions New Patrol Boats to Protect Australia's Maritime Security

30 Agustus 2026

HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke (photos: Aus DoD)

The Royal Australian Navy has welcomed HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke into service, in a commissioning ceremony at HMAS Cairns.

The 58.1-metre long Evolved Cape class patrol boats will strengthen the Australian Defence Force’s ability to protect Australia's maritime approaches and contribute to maritime security.

Commander Surface Force, Commodore Antony Pisani, said the dual commissioning ceremony marked an important milestone in Navy’s ongoing growth and modernisation.

"Today's commissioning formally welcomes HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke into service and represents another important step in growing and modernising Navy’s fleet to meet Australia’s future maritime security requirements,” Commodore Pisani said.

“The ceremony today recognises the commitment and professionalism of the sailors who will take these ships to sea and deliver outcomes for their country.

"Every new ship brought into service contributes to a more lethal and resilient Navy, ensuring we are ready to respond to emerging challenges across our maritime domain."

Evolved Cape Class patrol boats support Australia's maritime security objectives through border protection, maritime constabulary operations, law enforcement support, and international engagement activities.


With a range of more than 4,000 nautical miles, these new boats provide increased endurance and improved accommodation, enabling crews to remain at sea longer.First commanding officer of HMAS Cape Spencer, Lieutenant Commander Marita Knack, reinforced the significance of the occasion.

"The commissioning of HMAS Cape Spencer marks the beginning of the ship's service to Australia and is a significant occasion for not only every member of the crew but all who supported this journey," Lieutenant Commander Knack said.

Commanding officer HMAS Cape Hawke, Lieutenant Commander Harrison Ingham continued this sentiment and said it was a proud day for his ship’s company.

“This is a big moment for our commissioning crew who are ready to contribute to the important work Navy undertakes every day in protecting Australia's interests,” Lieutenant Commander Ingham said.

A commissioning ceremony is one of Navy's oldest traditions and signifies a ship's transition into active service as part of the Royal Australian Navy Fleet.

HMA Ships Cape Spencer and Cape Hawke will join the six commissioned Evolved Cape Class Patrol Boats already in service: Cape Schanck, Cape Solander,Cape Pillar, Cape Naturaliste, Cape Woolamai, and Cape Capricorn.

All vessels are named after prominent capes around Australia’s coastline.