25 September 2026

AMX Pegase 2026, TNI AU dan FASF Perkuat Interoperabilitas Kekuatan Udara

25 September 2026

Latihan AMX Pegase 2026 FASF bersama TNI AU (photos: TNI AU)

TNI AU. TNI Angkatan Udara bersama French Air and Space Force (FASF) memperkuat interoperabilitas kekuatan udara melalui pelaksanaan Air Maneuver Exercise (AMX) Pegase Tahun Anggaran 2026 di Terminal Selatan Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (21/9/2026).


Latihan diawali dengan penerjunan 10 personel dari Denmatra 1 Brigade Parako 1 Pasgat menggunakan pesawat Airbus A 400 M TNI AU. Rangkaian latihan kemudian dilanjutkan dengan simulasi Air-to-Air Refueling (AAR) yang melibatkan pesawat Airbus A 330 Multi Role Tanker Transport (MRTT), dua pesawat Rafale FASF, serta dua pesawat Rafale TNI AU.


Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb Arie Prasetyo menjelaskan bahwa simulasi AAR merupakan salah satu materi latihan untuk meningkatkan interoperabilitas antarkekuatan udara sekaligus memperluas jangkauan operasional pesawat.


“Dalam latihan ini, kita mencoba simulasi air refueling untuk meningkatkan kemampuan interoperabilitas sekaligus menambah jangkauan pesawat,” ujarnya.


Pelaksanaan AMX Pegase 2026 menjadi bagian dari kerja sama pertahanan antara TNI AU dan FASF melalui latihan bersama yang melibatkan berbagai unsur kekuatan udara. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan personel dalam melaksanakan operasi udara secara terintegrasi.


Melalui latihan bersama tersebut, TNI AU dan FASF terus memperkuat kemampuan interoperabilitas, kesiapan operasional, serta pemahaman prosedur dalam pelaksanaan operasi udara bersama.

MQ-4C Triton and MC-55A Peregrine Achieved Initial Operational Capability

25 September 2026

A Royal Australian Air Force P-8A Poseidon aircraft representing No. 11, No. 12, and No. 292 Squadrons (centre), an MQ-4C Triton from No. 9 Squadron (left), and an MC-55A Peregrine from No. 10 Squadron representing the Air "ISR Family" of jets in No. 92 Wing at RAAF Base Edinburgh, South Australia (photo: Aus DoD)

Major milestones for Australia's air intelligence, surveillance and reconnaissance capabilities

The Albanese Government is delivering a major uplift to Australia’s air intelligence, surveillance and reconnaissance capabilities, with three key Royal Australian Air Force platforms reaching significant milestones within six months.

Together, these milestones represent a significant strengthening of the Australian Defence Force’s (ADF) ability to monitor and understand activity across Australia’s region and respond to emerging threats.

Consistent with the 2026 National Defence Strategy, these investments are delivering a complementary mix of crewed and uncrewed aircraft able to provide persistent surveillance, intelligence collection, maritime patrol and electronic warfare effects across Australia’s primary area of military interest.

A Royal Australian Air Force MQ-4C Triton taxies at RAAF Base Tindal (photo: Aus DoD)

MQ-4C Triton: Initial Operational Capability

The MQ-4C Triton has achieved Initial Operational Capability (IOC), following extensive operational testing and evaluation.

Operating from RAAF Bases Tindal and Edinburgh and supported by Northrop Grumman Australia, the MQ-4C Triton fleet is now providing a powerful new contribution to Australia’s long-range surveillance capability.

With the MQ-4C Triton now at IOC, Air Force has significantly strengthened its ability to deliver persistent intelligence, surveillance and reconnaissance effects across Australia’s primary area of military interest. 

The MQ-4C Triton is based at RAAF Base Tindal and operated by Air Force’s Number 9 Squadron, located at RAAF Base Edinburgh, South Australia.

A Royal Australian Air Force P-8A Poseidon Aircraft (A47-008) at Clark Air Base, Philippines during a Maritime Domain Awareness Activity (photo: Aus DoD)

P-8A Poseidon: Completion of the fleet, arrival of the first enhanced aircraft and commencement of the first domestic modification of the aircraft

The 14th and final P-8A Poseidon aircraft arrived in Australia in May, completing delivery of the P-8A Poseidon fleet and strengthening the ADF’s maritime patrol, anti-submarine warfare and anti-surface warfare capabilities. 

The first of two P-8A Poseidon aircraft upgraded with Increment 3 Block 2 enhancements has also arrived in Australia, providing enhanced operational capability while maintaining interoperability with the United States Navy.

The remaining 12 P-8A Poseidon fleet will undergo these upgrades in Australia, supported by Boeing Defence Australia and local industry partners at the recently opened $200 million Deep Maintenance and Modification Facility at RAAF Base Edinburgh.

This work will build sovereign capacity to maintain and upgrade this critical capability in Australia while creating further opportunities for Australian defence industry.

Australia operates 14 P-8A Poseidon aircraft, based at RAAF Base Edinburgh in South Australia, and operated by Numbers 11, 12 and 292 Squadrons.

The third Royal Australian Air Force MC-55A Peregrine lands for the first time at RAAF Base Edinburgh, South Australia (photo: Aus DoD)

MC-55A Peregrine: Initial Operational Capability and upcoming arrival of the fourth and final aircraft 

The MC-55A Peregrine has achieved IOC, following extensive operational testing and evaluation.

The first three MC-55A Peregrine aircraft have now been delivered, with the fourth and final aircraft due to arrive later this year.

This will further expand Air Force’s ability to deliver integrated intelligence, surveillance, reconnaissance and electronic warfare effects in support of Defence operations.

The MC-55A Peregrine is based at RAAF Base Edinburgh, South Australia and operated by Air Force’s Number 10 Squadron.

These milestones also reinforce South Australia’s growing importance to Australia’s national defence.

RAAF Base Edinburgh is at the centre of Australia’s air intelligence, surveillance and reconnaissance enterprise, supporting advanced Defence capabilities, highly skilled jobs and an increasingly sophisticated sovereign defence industry.

South Australia’s defence industry generated a record $2 billion in economic activity last financial year.

Quotes attributable to the Acting Prime Minister and Minister for Defence, the Hon Richard Marles MP:

“These significant air intelligence, surveillance and reconnaissance milestones demonstrate the Albanese Government’s commitment to our air intelligence, surveillance end reconnaissance.

“South Australia is central to this effort. RAAF Base Edinburgh is becoming one of the most important hubs for advanced Defence capability in the country, supporting our national security and highly skilled Australian jobs.

“The Albanese Government is investing approximately $5.5 billion over the decade to continue to enhance the ADF’s air intelligence, surveillance and reconnaissance and maritime patrol and response capabilities that will create additional opportunities for Australian industry well into the future.”

Quotes attributable to the Chief of Air Force, Air Marshal Stephen Chappell DSC, CSC, OAM:

“Our people have been at the heart of delivering the air intelligence, surveillance and reconnaissance capability for Australia, demonstrating exceptional skill, professionalism and dedication in bringing these complex systems into service.

“I congratulate our whole Air Domain team, from across industry, the public service and Air Force for their exceptional work to deliver these cutting edge capabilities for Australia. 

“The achievements announced today mark a significant step forward in Air Force capability, delivering persistent, long-range maritime surveillance that strengthens our ability to protect Australia’s interests and deliver highly effective air power as part of the integrated, focused force.”

(Aus DoD)

TNI AL Harap Kapal Induk Dilengkapi Pesawat Yang Bisa "Take Off" Vertikal

25 September 2026

Pesawat tempur F-35B dan Sea Harrier AL Italia (photo: Marina Militare)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali berharap pihaknya bisa mendapatkan pesawat tempur yang memiliki kemampuan take off atau lepas landas secara vertikal untuk melengkapi kekuatan KRI Sriwijaya-100.

"Ya harapannya sih seperti itu. Kalau Angkatan Laut maunya seperti itu. Tapi tergantung kondisi anggaran dan lain-lain ya," kata Ali saat ditanya wartawan soal rencana mengincar pesawat tempur Harrier untuk kapal induk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis.

Menurut Ali, landasan pesawat yang ada di deck KRI Sriwijaya-100 memungkinkan untuk dipakai pesawat tempur lepas landas.

"Kapal ini mampu untuk didaratkan dan melepaslandaskan pesawat tempur. Dulu (saat masih digunakan AL Italia) digunakan untuk Sea Harrier dan F35B ya," kata Ali.

ITS Garibaldi ketika masih membawa pesawat Sea Harrier (photo: Marina Militare)

Kendati demikian, Ali menilai kehadiran pesawat tempur belum terlalu dibutuhkan karena kapal induk ini difokuskan untuk menjalankan misi kemanusiaan atau operasi militer selain perang (OMSP).

Ali lebih memfokuskan untuk menempatkan banyak helikopter dan pesawat tanpa awak atau drone di atas kapal.

Dengan demikian, helikopter yang ada di atas kapal induk bisa dikerahkan untuk membawa logistik dari kapal induk ke lokasi-lokasi bencana atau operasi OMSP lainnya.

"Semua jenis helikopter dan helikopter Angkatan Laut, Angkatan Darat dan Angkatan Udara bisa take off dan landing dari kapal ini," kata Ali. (Antara)

KRI Sriwijaya-100 (photo: Aktualita)

KRI Sriwijaya-100 Resmi Perkuat TNI AL
KRI Sriwijaya (SWJ)-100 resmi memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut setelah diresmikan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9). Peresmian turut dirangkaikan dengan pengukuhan Komandan KRI Sriwijaya-100.

Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi ini menjadi kapal induk pertama TNI AL sekaligus bagian dari modernisasi kekuatan pertahanan nasional. Kehadiran KRI Sriwijaya-100 memperkuat kemampuan sebagai pusat komando operasi laut, sarana diplomasi pertahanan, dan dukungan misi kemanusiaan.

Momentum ini menandai langkah strategis Indonesia membangun kekuatan maritim yang modern dan berdaya tangkal untuk menjaga kedaulatan serta memperkuat peran Indonesia di tingkat regional dan global. (Kemhan)

24 September 2026

PT DI Teken Kontrak Pemeliharaan CN235 PNGDF

24 September 2026

CN235-100 PNGDF (photo: France in PNG)

Port Moresby, Papua Nugini – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) menyepakati kontrak maintenance untuk 1 (satu) unit pesawat CN235-100 milik Angkatan Pertahanan Papua Nugini (Papua New Guinea Defence Force/PNGDF). Kontrak ini mencakup pelaksanaan sejumlah pekerjaan pemeliharaan, termasuk C-Check Inspection, sebagai bagian dari upaya menjaga kesiapan operasional pesawat.

Pesawat tersebut sebelumnya mengalami grounded sejak tahun 2015. Setelah menjalani proses pemeliharaan dan maintenance flight oleh tim PTDI, pesawat kembali mengudara pada akhir tahun 2025. Adapun kontrak yang disepakati hari ini (23/09) menjadi tindak lanjut dukungan teknis PTDI terhadap pesawat milik PNGDF tersebut, sekaligus melanjutkan proses pemeliharaannya.

Penanda-tanganan kontrak pemeliharaan CN235-100 PNGDF (photo: PT DI)

Pesawat CN235-100 milik PNGDF tersebut diperoleh dari Airbus Defence & Space (ADS) pada tahun 1992. Kerja sama ini menjadi langkah awal PTDI dalam membangun dukungan MRO untuk pesawat tersebut, sekaligus membuka peluang pengembangan kerja sama pemeliharaan secara berkelanjutan.

Kedepan, terdapat potensi pengembangan sustainment program dalam bentuk paket MRO selama 3 (tiga) tahun, dimana PTDI juga melihat peluang dukungan MRO terhadap unit CN235-100 lainnya yang dioperasikan oleh PNGDF sebagai bagian dari pengembangan kerja sama pemeliharaan pesawat secara berkelanjutan.


Bagi PTDI, dukungan terhadap operasional CN235-100 milik PNGDF menjadi bagian dari kontribusi Perusahaan dalam membangun kerja sama industri dirgantara yang saling memberikan manfaat bagi kedua negara.

12 Ranpur AAV Gelombang Pertama Tiba, Korps Marinir Perkuat Kemampuan Operasi Amfibi

24 September 2026

Kedatangan 12 ranpur AAV7 untuk Korps Marinir di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (photos: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta). Sebanyak 12 unit Ranpur Amfibi AAV tiba di Indonesia dan menjalani proses pembongkaran di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/09/2026). Kedatangan tahap pertama ini menjadi bagian dari pemenuhan 35 unit AAV untuk memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir TNI Angkatan Laut.


Kedatangan Ranpur disambut Aslog Pangkormar Brigadir Jenderal TNI (Mar) Efhardian, M.Tr.Opsla., didampingi Sahli A Bid Ops Pangkormar Kolonel Marinir Didiet Hendra Wijaya, M.Mp., Danmenkav 1 Marinir Kolonel Marinir Agus Setiyo Budi, M.Tr.Opsla., serta Danyon Ranratfib 1 Marinir Letkol Marinir Muhan Solihan, M.M.Tr.Opsla. Rombongan meninjau kondisi dan proses penerimaan Ranpur yang kemudian diturunkan ke truk oplegger untuk diberangkatkan ke Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, dengan sistem pengikatan guna menjamin keamanan selama perjalanan.


Kehadiran AAV menjadi tonggak penting bagi Korps Marinir setelah sebelumnya menerima 10 unit LVT-7A1 dari Korea Selatan pada 7 Desember 2009. Sebagai kendaraan pendarat amfibi, AAV memperkuat kemampuan pasukan dalam melaksanakan operasi dari laut menuju pantai hingga mencapai sasaran di darat.


AAV dirancang membawa pasukan melintasi zona tempur perairan dan mampu menghadapi gelombang serta arus hingga Sea State 5. Ranpur ini menggunakan mesin Cummins V903 berdaya 525 horsepower, memiliki panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, tinggi 3,26 meter, dan bobot 23 ton, dengan kecepatan hingga 15 km/jam di laut dan 75 km/jam di darat.


AAV diawaki tiga personel dan mampu membawa 21 prajurit infanteri Marinir beserta perlengkapan siap tempur. Kehadirannya bukan sekadar penambahan alutsista, tetapi juga meningkatkan mobilitas laut ke darat, perlindungan lapis baja, daya angkut pasukan, dan kecepatan manuver dalam mendukung kemampuan amfibi Resimen Kavaleri Korps Marinir di negara kepulauan.


Panglima Korps Marinir Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., menegaskan bahwa kehadiran AAV akan semakin memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir, khususnya

TNI AU Incar Pesawat A330 MRTT untuk Operasi Militer

24 September 2026

A330 MRTT memberi pasokan bahan bakar pesawat Rafale (photo: Kompas)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi mengatakan pihaknya memang mengincar pesawat Airbus A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT) seperti yang dimiliki French Air and Space Force atau AU Prancis.

Hal tersebut dikatakan Tedi setelah dirinya meninjau pesawat A330 MRTT yang dimiliki AU Prancis saat sedang berada di Lanud Halim Perdanakusuma melakoni latihan bersama misi Pegase 2026, Selasa.

"Sesuai dengan rencana strategis (renstra) kita, memang kita akan memiliki MRTT," kata Tedi kepada awak media di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Menurut Tedi, pesawat itu sangat berguna untuk mendukung ragam operasi militer yang dilakukan TNI AU.

Dia menjelaskan pesawat ini bisa menjadi pusat komando pengendalian (Puskodal) berjalan yang berfungsi mengkoordinasikan pesawat tempur dan angkut dalam menjalankan operasi tempur.

Dengan adanya puskodal ini, sistem komunikasi antar pesawat bisa terintegrasi dan dapat terpantau langsung dari dalam A330.

A330 MRTT French Air and Space Force (photo: IDN Times)

Selain itu, pesawat tersebut juga mampu mengangkut 88 prajurit dan barang bawaan yang berkaitan dengan kebutuhan operasi tempur

Tidak hanya itu, pesawat ini juga dikerahkan untuk mengisi bahan bakar pesawat tempur di udara atau air to air refuiling.

Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena pesawat tanker ini dapat mengangkut 110 ton bahan bakar minyak (BMM) untuk pesawat.

Deretan kemampuan itulah yang membuat TNI AU ingin memiliki pesawat pesawat ini lebih dari satu buah.

"Dengan luas wilayah kita yang sangat luas, itu minimal kita butuh 3 MRTT. Karena pesawat tempur kita sangat banyak," kata dia.

Kendati demikian, dia tidak mau berkomentar terlalu jauh soal upaya pembelian pesawat tersebut. Dia menyerahkan urusan pengadaan pesawat kepada pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan).

23 September 2026

PT PAL dan Naval Group Bersiap untuk Pesanan Lanjutan Kapal Selam Scorpene dan Fregat FDI

23 September 2026

Kapal selam Scorpene (photo: Indian Navy)

Perusahaan galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL, dan perusahaan galangan kapal asal Prancis, Naval Group, akan menandatangani perjanjian kerja sama pembuatan kapal yang mencakup pembangunan kapal perang *Frégate de Défense et d'Intervention* (FDI) dan dua kapal selam Scorpene Evolved tambahan.

Sumber-sumber yang mengetahui masalah ini menginformasikan kepada Janes bahwa upacara penandatanganan perjanjian tersebut akan diselenggarakan di kantor pusat PT PAL di Surabaya pada tanggal 24 September.

Perjanjian-perjanjian ini akan menetapkan kerangka kerja sama seandainya Indonesia melanjutkan rencana untuk mengakuisisi gelombang kedua kapal selam Scorpene Evolved dan fregat FDI, ujar sumber-sumber tersebut.

Informasi lebih lanjut yang diperoleh Janes menunjukkan bahwa perjanjian tersebut akan berfokus pada pengaturan pembagian kerja, alih teknologi, peluang pembangunan di dalam negeri, serta mekanisme partisipasi industri yang dapat diterapkan jika program akuisisi tersebut terealisasi.

Program Scorpene Indonesia diresmikan melalui kontrak yang ditandatangani pada Maret 2024, yang mencakup akuisisi dua kapal selam serang diesel-elektrik Scorpene Evolved untuk TNI Angkatan Laut.

Fregat FDI/Belharra (image: EnnuiShao)

Program ini mencapai tonggak sejarah penting pada 7 Agustus 2026 ketika pembangunan kapal pertama secara resmi dimulai melalui upacara pemotongan pelat baja di galangan kapal PT PAL Indonesia di Surabaya.

Dalam program ini, kedua kapal selam tersebut dibangun di Indonesia melalui pengaturan alih kemampuan antara Naval Group dan PT PAL Indonesia.

PT PAL Indonesia bertanggung jawab atas kegiatan pembangunan, integrasi, pengujian, perakitan akhir, dan penyerahan kapal, sementara Naval Group menyediakan keahlian desain kapal selam, dukungan rekayasa, alih teknologi, dan bantuan teknis.

Scorpene Evolved merupakan varian terbaru dari desain kapal selam konvensional Naval Group yang ditujukan untuk pasar ekspor.

Kapal selam ini menggunakan baterai litium-ion berkapasitas tinggi yang dirancang untuk memberikan daya tahan lebih lama saat beroperasi di bawah air, fleksibilitas operasional yang lebih besar, serta kebutuhan perawatan yang lebih rendah.