31 Agustus 2026

HMAS Hobart Rampungkan Upgrade Sistem Aegis dan Tomahawk

31 Agustus 2026

HMAS Hobart - AWD 39 (photo: Aus DoD)

Angkatan Laut Kerajaan Australia (Royal Australian Navy) telah mencapai tonggak sejarah penting dalam pertahanan laut dengan rampungnya tahap pengerjaan di galangan kapal untuk program peningkatan kemampuan kapal perusak berpeluru kendali HMAS Hobart. Kapal ini dimodernisasi di Galangan Kapal Angkatan Laut Osborne di bawah inisiatif SEA 4000 Fase 6 senilai A$4,29 miliar. HMAS Hobart merupakan kapal pertama dari tiga kapal perusak kelas Hobart milik Australia yang menerima sistem pertahanan rudal Aegis yang canggih serta senjata serangan jarak jauh Tomahawk.

Pembaruan paruh baya (*mid-life refit*) ini mengubah HMAS Hobart dari kapal pertahanan udara menjadi kapal kombatan permukaan multi-misi. Inti dari peningkatan ini adalah transisi ke sistem tempur Aegis Baseline 9, yang diintegrasikan dengan antarmuka tempur baru buatan Australia.

Rudal SM-6 (photo: US Navy)

Kapal ini kini mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk yang dapat menghantam target darat pada jarak lebih dari 1.500 kilometer, sementara integrasi pencegat Standard Missile 6 (SM-6) memberikan kemampuan pertahanan terhadap rudal balistik pada fase terminal. Naval Strike Missile yang diluncurkan dari tabung peluncur (*canister*) juga ditambahkan untuk memperkuat kemampuan anti-kapal tanpa memakan ruang di dalam sel peluncur vertikal internal kapal.

Dari sisi pengadaan pertahanan, peningkatan ini menciptakan keseragaman perangkat lunak tempur di seluruh armada permukaan utama Australia. Peningkatan ketiga kapal perusak secara bertahap memastikan Angkatan Laut tetap dapat menjaga cakupan operasional armada sembari melakukan modernisasi. Inisiatif ini juga memperkuat kemampuan pemeliharaan armada dalam negeri dengan memanfaatkan infrastruktur galangan kapal lokal, yang nantinya akan mendukung pembangunan fregat kelas Hunter di masa depan.

Rudal jelajah Tomahawk (photo: Navair)

Secara geopolitik, penggunaan kemampuan serangan presisi jarak jauh dan pencegat rudal balistik sejalan dengan strategi Australia untuk mencegah agresi regional di kawasan Indo-Pasifik. Rudal jarak jauh memungkinkan komandan angkatan laut untuk mengancam aset musuh dari jarak aman (*standoff*), melindungi jalur perdagangan vital, serta mendukung misi operasi gabungan bersama armada Amerika Serikat dan sekutunya.

Secara operasional, peningkatan ini menghadirkan pertimbangan strategis antara daya tembak multi-misi dan kapasitas penyimpanan senjata internal (*magazine*). Meskipun radar dan perangkat lunak kapal mampu melacak dan menghadapi berbagai ancaman udara, darat, dan rudal balistik secara bersamaan, kapal ini tetap mempertahankan sistem peluncur vertikal 48-sel yang sudah ada. Komandan angkatan laut harus menyeimbangkan komposisi muatan senjata berdasarkan profil misi, dengan memilih antara rudal jelajah serangan darat, pencegat pertahanan udara, atau rudal anti-balistik. 

Peningkatan kemampuan HMAS Hobart memberikan kemampuan serangan jarak jauh yang strategis serta pertahanan terhadap rudal balistik pada fase terminal bagi Angkatan Laut Kerajaan Australia, guna memperkuat keamanan kawasan Indo-Pasifik.

(TMC)

Media Jepang Laporkan Indonesia Tertarik Akuisisi Fregat Mogami Upgrade

31 Agustus 2026

Fregat Mogami varian Upgrade (image: Naval Power)

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- The Japan Times melaporkan, Jakarta juga telah menyatakan minat untuk membeli fregat kelas Mogami dari Jepang yang telah ditingkatkan (New FFM). Namun, keputusan mengenai kapal-kapal tersebut diperkirakan baru akan diambil setelah kesepakatan kapal perusak kelas Asagiri diselesaikan untuk dikirimkan ke Indonesia.

Tokyo telah memasok tiga kapal pertama dari rencana armada 11 fregat kelas Mogami yang telah ditingkatkan untuk menggantikan kapal perang kelas Anzac ke Angkatan Laut Australia yang sudah tua. Mogami termasuk ke dalam pembicaraan trilateral antara ketiga menteri pertahanan (menhan), dengan Tokyo memberikan wawasan kepada Jakarta mengenai pembelian serupa.

Sebelumnya, Menhan Shinjiro Koizumi, Menhan RI, dan Menhan Australia Richard Marles menggelar pembicaraan trilateral. Ketiganya sepakat untuk mempromosikan kerja sama pertahanan bilateral dan trilateral, menurut Kementerian Pertahanan di Tokyo.

Langkah Menhan Koizumi dilakukan tidak lama setelah Menhan RI menggelar pertemuan dengan Menhan China Laksamana Dong Jun di Jakarta. Pun sebelumnya Angkatan Laut China dan TNI AL menggelar latihan melewati laut timur Taiwan, sepulang kapal perang Indonesia dari Vladivostok, Rusia.

Jepang telah melonggarkan aturan mengenai transfer alutsista ke-17 negara, termasuk Indonesia. Langkah itu dilakukan Jepang untuk semakin mendekatkan diri dengan negara-negara yang bisa diajak kerja sama, khususnya dalam mengantisipasi ancaman China. Menhan Koizumi secara pribadi juga memperkuat hubungan personal dengan Menhan Sjafrie.

30 Agustus 2026

New Zealand Launches Long-range Uncrewed Aircraft Acquisition Programme

30 Agustus 2026

The Long range UAVs will supplement four P-8A Poseidon aircraft and several King Air platforms in the intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) role (photo: USAF)

Defence launches market research into long-range uncrewed aircraft systems
Defence has issued a request for information to industry focused on long-range uncrewed aircraft systems (UAS), which can operate up to 1,400 nautical miles from base for at least six hours.

The information gathered will provide Defence with indicative costs and timeframes for the potential delivery of a system to conduct maritime surveillance activities across the South West Pacific. The UAS will not be armed. 

“This request for information is a market research tool that aims to inform the next stage of the Persistent Surveillance Air project. It does not initiate a procurement process nor a commitment to acquire new systems. No decisions have been made,” Sarah Minson, Deputy Secretary, Capability Delivery, said.  

“We are looking for solutions that have high-definition imaging systems and a maritime search radar, with the ability to provide near real time imagery back to the ground control station in all weather conditions, and during the day or night. We are currently planning a commercially owned and commercially operated delivery model.  

“Defence encourages New Zealand businesses to provide a response to this request for information, describing how they could meet the needs of the New Zealand Defence Force.” 

The notice has been published on the Government Electronic Tender Service.

Kisah Pesawat Lockheed T-33 T-Bird TNI AU

30 Agustus 2026

Satu skadron pesawat Lockheed T-33 T-Bird yang terdiri dari 16 pesawat diserahkan kepada TNI AU (photos: TNI AU)

Satu skadron Lockheed T-33 T-Bird resmi diserahkan kepada Indonesia sebagai penguat kemampuan pembinaan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara. Pesawat ini kemudian berperan penting dalam pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kemampuan tempur, bahkan berhasil dimodifikasi menjadi pesawat bersenjata oleh insan TNI AU.

Meski telah mengakhiri masa operasionalnya pada 1980, jejak pengabdian Lockheed T-33 T-Bird tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah kekuatan udara Indonesia dan kini diabadikan sebagai koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Pada 23 Agustus 1973, TNI Angkatan Udara menerima satu skadron pesawat latih jet Lockheed T-33 T-Bird di Lanud Iswahjudi, Madiun. Pesawat-pesawat tersebut diterbangkan langsung oleh pilot-pilot Angkatan Udara Amerika Serikat dalam empat gelombang yang tiba pada 17 April hingga 22 Juni 1973.

Sebagai pesawat latih, Lockheed T-33 T-Bird semula direncanakan berada di bawah Komando Pendidikan Angkatan Udara (Kodikau). Namun berdasarkan kebutuhan organisasi dan kondisi operasional saat itu, pesawat ini kemudian ditempatkan di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Melalui Keputusan Kasau Nomor Kep/33/V/1974 tanggal 1 Mei 1974, Lockheed T-Bird ditetapkan sebagai pesawat untuk proficiency training bagi penerbang jet tempur serta transition training bagi penerbang yang akan mengoperasikan pesawat F-86 Sabre. 

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Pangkohanudnas Nomor Skep/A/V/1974 tanggal 10 Mei 1974, pesawat tersebut dimasukkan ke dalam unsur organik Komando Satuan Buru Sergap dengan nama Satuan Buru Sergap (Satsergap) T-33 T-Bird. 

T-33 T-Bird ketika mengemban misi tempur (photo: Marsda Holki BA)

Pada tahun 1978, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara berhasil memodifikasi pesawat Lockheed T-33 T-Bird menjadi pesawat yang mampu mengemban misi tempur. 

Melalui serangkaian uji coba para peneliti berhasil mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan, meliputi peluncur roket KB-13 yang menggunakan roket FFAR, bom udara serta senapan mesin kaliber 12,7mm. Keberhasilan tersebut merupakan tonggak penting dalam pengembangan kemandirian teknologi pertahanan TNI Angkatan Udara, karena mampu mengintegrasikan sistem persenjataan yang tidak termasuk dalam konfigurasi asli T-33 T-Bird.

Fungsi asalnya, pesawat T-33 T-Bird digunakan untuk transition training bagi penerbang F-86 Sabre sebagaimana foto diatas (photo: Gideon PY)

Pada tahun 1979, Satsergap T-33 direorganisasi menjadi Skadron Tempur T-33 di bawah Wing Tempur 300, kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Skadron Operasional T-33 Bird. Setelah memberikan kontribusi dalam pembinaan kemampuan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara, pesawat Lockheed T-33 T-Bird resmi mengakhiri masa operasionalnya pada tahun 1980.

Kini salah satu diantaranya menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta sejak tahun 1985 sebagai warisan sejarah perkembangan kekuatan udara Indonesia.

(TNI AU)

Royal Australian Navy Commissions New Patrol Boats to Protect Australia's Maritime Security

30 Agustus 2026

HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke (photos: Aus DoD)

The Royal Australian Navy has welcomed HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke into service, in a commissioning ceremony at HMAS Cairns.

The 58.1-metre long Evolved Cape class patrol boats will strengthen the Australian Defence Force’s ability to protect Australia's maritime approaches and contribute to maritime security.

Commander Surface Force, Commodore Antony Pisani, said the dual commissioning ceremony marked an important milestone in Navy’s ongoing growth and modernisation.

"Today's commissioning formally welcomes HMAS Cape Spencer and HMAS Cape Hawke into service and represents another important step in growing and modernising Navy’s fleet to meet Australia’s future maritime security requirements,” Commodore Pisani said.

“The ceremony today recognises the commitment and professionalism of the sailors who will take these ships to sea and deliver outcomes for their country.

"Every new ship brought into service contributes to a more lethal and resilient Navy, ensuring we are ready to respond to emerging challenges across our maritime domain."

Evolved Cape Class patrol boats support Australia's maritime security objectives through border protection, maritime constabulary operations, law enforcement support, and international engagement activities.


With a range of more than 4,000 nautical miles, these new boats provide increased endurance and improved accommodation, enabling crews to remain at sea longer.First commanding officer of HMAS Cape Spencer, Lieutenant Commander Marita Knack, reinforced the significance of the occasion.

"The commissioning of HMAS Cape Spencer marks the beginning of the ship's service to Australia and is a significant occasion for not only every member of the crew but all who supported this journey," Lieutenant Commander Knack said.

Commanding officer HMAS Cape Hawke, Lieutenant Commander Harrison Ingham continued this sentiment and said it was a proud day for his ship’s company.

“This is a big moment for our commissioning crew who are ready to contribute to the important work Navy undertakes every day in protecting Australia's interests,” Lieutenant Commander Ingham said.

A commissioning ceremony is one of Navy's oldest traditions and signifies a ship's transition into active service as part of the Royal Australian Navy Fleet.

HMA Ships Cape Spencer and Cape Hawke will join the six commissioned Evolved Cape Class Patrol Boats already in service: Cape Schanck, Cape Solander,Cape Pillar, Cape Naturaliste, Cape Woolamai, and Cape Capricorn.

All vessels are named after prominent capes around Australia’s coastline.

29 Agustus 2026

Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired, PAF Completes Delivery of 32 S-70i Black Hawak Helicopters

29 Agustus 2026

Acceptance, Turnover and Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired Black Hawk Helicopters at Colonel Jesus Villamor Air Base in Pasay City on August 26, 2026 (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF) has completed the delivery of all 32 S-70i Black Hawk helicopters during the Acceptance, Turnover, and Blessing Ceremony for seven newly acquired S-70i Black Hawk helicopters with Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, Commanding General, PAF, as Guest of Honor on August 26, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City.

The acquisition forms part of Horizon 2 of the Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program, pursuant to Republic Act No. 10349, which aims to develop and modernize the AFP’s capabilities.


With the completion of the 32-aircraft acquisition, the PAF further strengthens its capability to conduct air transport, humanitarian assistance and disaster response, search and rescue, medical evacuation, and other critical air operations.

The full delivery underscores the PAF’s continuing commitment to modernization and mission readiness, providing the nation with a more capable and responsive rotary-wing fleet in support of national defense and the Filipino people.

With 32 Black Hawks now in its fleet, the Philippine Air Force takes another significant step toward a more credible, agile, and mission-ready air force—ready to protect, respond, and serve whenever and wherever needed.

(PAF)

New Zealand Membeli Recoilless Rifle Carl Gustaf M4

29 Agustus 2026

Carl-Gustaf M4 Multi-Role Weapon System (photo: Reddit)

Kementerian Pertahanan (MoD) New Zealand telah memberikan kontrak kepada Saab untuk memasok 26 sistem senjata tanpa tolak balik Carl Gustaf M4 bagi Angkatan Darat New Zealand; hal ini disampaikan oleh juru bicara New Zealand Defence Force (NZDF) kepada Janes.

Sistem tersebut diperkirakan akan dikirimkan pada kuartal pertama tahun 2027, tambah juru bicara tersebut. Nilai kontrak, yang juga mencakup peralatan pendukung, tidak diungkapkan.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa setelah mulai digunakan oleh Angkatan Darat New Zealand, M4 akan menggantikan varian M3 yang telah beroperasi sejak awal tahun 2010-an. "Sistem M3 telah mencapai akhir masa pakainya yang telah dijadwalkan," tambah juru bicara itu.

Menurut juru bicara tersebut, M4 akan menggantikan M3 di seluruh unit Angkatan Darat New Zealand  yang saat ini dilengkapi dengan senjata tersebut, termasuk Batalion ke-1 dan Batalion ke-2/1 dari Resimen Infanteri Kerajaan New Zealand (Royal New Zealand Infantry Regiment), Resimen Lapangan ke-16 (16 Field Regiment), dan Sekolah Tempur (Combat School).

Pengadaan ini mendukung program modernisasi pertahanan New Zealand yang lebih luas di bawah Rencana Kapabilitas Pertahanan 2025 (2025 Defence Capability Plan), yang mengalokasikan dana sebesar NZD12 miliar (USD7,1 miliar) untuk investasi kapabilitas dari tahun 2025 hingga 2028. Belum ada pengumuman mengenai pesanan lanjutan untuk M4.

Kedua varian tersebut menggunakan amunisi kaliber 84 mm dan mampu menyerang kendaraan lapis baja, bangunan, serta personel. M4 memiliki berat 6,7 kg dan panjang kurang dari 1 meter, dibandingkan dengan M3 yang memiliki berat sekitar 10 kg dan panjang 1,13 meter.