17 Agustus 2026

Bushmaster Diposisikan untuk Peran 'Kapal Induk' bagi Sistem Darat Otonom

17 Agustus 2026

UGV Guardian Angel buatan Thales Australia bersanding dengan Bushmaster PMV (photos: Thales)

Thales Australia memosisikan kendaraan mobilitas terlindung (PMV) Bushmaster 4x4 sebagai "kapal induk" untuk operasi darat otonom di masa depan, demikian disampaikan juru bicara perusahaan kepada Janes.

Konsep ini terkait dengan kendaraan darat tak berawak (UGV) Guardian Angel buatan Thales Australia, yang diperkenalkan pada bulan Agustus 2026.

Menurut juru bicara tersebut, Guardian Angel telah menjalani uji coba penembakan langsung serta dapat dikerahkan, dikendalikan, dan didukung dari kendaraan Bushmaster, tergantung pada kebutuhan misi dan tingkat otonomi yang diterapkan pada UGV tersebut.

Juru bicara itu mengatakan bahwa Bushmaster 5.6—yang juga dikenal sebagai varian utilitas Bushmaster Mulga—telah dirancang dengan kemampuan "interoperabilitas dalam sistem kerja sama tim yang kompleks", seraya menambahkan bahwa armada Bushmaster yang saat ini beroperasi tetap "sangat mudah disesuaikan di berbagai varian".

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa varian utilitas Bushmaster Mulga juga dapat bertindak "sebagai titik kendali, sekaligus platform transportasi untuk mengerahkan UGV tersebut".


Bushmaster Mulga diperkenalkan oleh Thales Australia pada bulan Juni di ajang Eurosatory 2026 di Paris; dalam acara tersebut, perusahaan menampilkan kendaraan ini sebagai anggota generasi berikutnya dari keluarga Bushmaster.

Menurut juru bicara Thales Australia, UGV Guardian Angel yang baru ini merupakan "prototipe pembuktian konsep" yang dikembangkan melalui kerja sama dengan perusahaan lokal, Chaos 1 dan W&E Platt, untuk menunjukkan kemampuan Australia dalam mengembangkan teknologi otonom.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa pelajaran yang diperoleh dari program ini telah diterapkan pada "platform otonom yang lebih kompleks dan berkemampuan tinggi".

Menurut juru bicara tersebut, UGV Guardian Angel mampu mengintegrasikan stasiun senjata kendali jarak jauh (RWS) dan efektor lainnya, termasuk minigun buatan W&E Platt. Ia menambahkan bahwa desain modular platform ini memungkinkannya dikonfigurasi untuk keperluan logistik, evakuasi korban, dan peran pendukung lainnya.

Batekhan Kemhan Teken MoU Pengembangan Teknologi Rantis Fortes H.V 9.0.

17 Agustus 2026

Rantis Fortes H.V 9.0. lansiran PT ESM yang akan dikembangkan (photo: ESM, Batekhan)

Kabatekhan hadiri Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Mengenai kerja sama pengembangan Teknologi Kendaraan Taktis Militer Terbaru Fortes H.V 9.0.


Prosesi Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh pihak Batekhan Kemhan bersama jajaran Direksi PT. ESM (Elang Sukses Mardika) selaku mitra industri Pertahaanan dalam negeri.


Langkah taktis ini diharapkan dapat mengakselerasi kesiapan teknologi serta modernisasi alutsista TNI, sekaligus mempromosikan industri Pertahanan Nasional menjadi lebih kompetitif di kancah global.

PAF, JASDF Strengthen Air Interoperability through Joint Flight

17 Agustus 2026

PAF’s FA-50 and a JASDF E-2D (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF) and Japan Air Self-Defense Force (JASDF) reinforced their growing defense partnership through a joint flight involving PAF’s FA-50 and a JASDF E-2D within Philippine airspace, as the Japanese contingent returned home following its participation in Exercise Pitch Black 2026.


More than a coordinated flight, the activity demonstrated the two air forces’ growing interoperability, operational coordination, and readiness to work alongside one another—capabilities essential to strengthening collective responses to evolving regional security challenges.

The joint activity further underscores the PAF’s commitment to expanding engagements with like-minded partners, enhancing its operational capabilities, and contributing to a more secure, stable, and resilient regional air environment.

(PAF)

16 Agustus 2026

HIMARS Arrives at the School of Artillery

16 Agustus 2026

HIMARS arrives at the Australian Army - School of Artillery (photo: Australian Army

The School of Artillery has welcomed the arrival of High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) platforms, marking another significant step in the evolution of the Australian Army’s long-range fires capability.

With HIMARS now incorporated into full-time training at the School of Artillery, our people will develop the knowledge and skills required to operate, support and employ this capability as it continues to be introduced into service.

The integration of HIMARS into training represents an important shift for Australian Artillery—building the workforce, expertise and readiness required to deliver long-range precision fires in support of the future force.

New capability. New skills. Greater reach.

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV) PT PAL Indonesia

16 Agustus 2026

USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (photos & video:  PAL)

Surabaya, (13/08) – Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.


Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.


“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.


“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.


Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

(PAL)

15 Agustus 2026

Australia dan AS Uji Kemampuan Komunikasi dan Wahana Bawah Laut Nirawak

15 Agustus 2026

ADV Guidance dalam RIMPAC 2026 (photos: dvids)

Australia dan Amerika Serikat bersama-sama menguji wahana maritim nirawak serta teknologi terkait—termasuk sistem komunikasi akustik—selama Latihan 'Rim of the Pacific' ('RIMPAC') 2026 yang berlangsung dari 24 Juni hingga 31 Juli di wilayah Kepulauan Hawaii dan sekitarnya.


Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memajukan kemampuan peperangan bawah laut gabungan di bawah Pilar 2 kemitraan AUKUS yang melibatkan Australia, Inggris, dan AS, demikian disampaikan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada 13 Agustus.


DoD menyatakan bahwa personel dari Defence Science and Technology Group (DSTG), Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN), dan Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) bersama-sama mendemonstrasikan operasi wahana maritim nirawak dari kapal Australian Defence Vessel (ADV) Guidance.

USV Seasats Lightfish (photo: Seasats)

Menurut DoD, kapal Guidance yang memiliki panjang 107 meter ini mendukung pengerahan dan pengujian platform bawah laut robotik dan otonom serta sistem pengawasan bawah laut. Kapal ini memiliki lebar 22 meter dan bobot benaman (displacement) sebesar 7.400 ton.

UUV Hugen Superior (photo: Kongsberg)

Sistem milik Australia yang diuji coba selama latihan tersebut meliputi wahana bawah laut nirawak (UUV) Kongsberg Hugin Superior, remotely operated vehicle (ROV) kelas kerja Schilling, wahana permukaan nirawak (USV) Seasats Lightfish, serta sistem relai komunikasi akustik bawah laut yang dapat dikerahkan, Rock Lobster.

ROV Schilling (photo: Schiling Robotics)

DoD menyebutkan bahwa Hugin Superior dan ROV Schilling dikerahkan secara bersamaan untuk melaksanakan misi navigasi dan pencarian bawah laut yang kompleks di dalam area latihan. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana mitra AUKUS meningkatkan kemampuan mereka dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman maritim.

APMM Terima Helikopter AW-189 Pertamanya

15 Agustus 2026
 
APMM total akan menerima empat AW189 medium lift helicopter (infographic: APMM)

Penerimaan AW189 perkukuh keupayaan Maritim Malaysia jaga kseselamatan kedaulatan perairan negara
SUBANG – Menteri Dalam Negeri, YB Datuk Seri Saifuddin Nasution, hari ini menyempurnakan Majlis Penerimaan Helikopter AW189 Maritim Malaysia, menandakan penerimaan helikopter pertama daripada empat buah helikopter Medium Lift AW189 yang diperoleh Kerajaan bagi memperkukuh keupayaan udara Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia).

Majlis tersebut menjadi satu lagi langkah penting dalam usaha Kerajaan MADANI memodenkan aset keselamatan negara serta memperkukuh keupayaan Maritim Malaysia dalam melaksanakan penguatkuasaan, pengawasan udara, operasi mencari dan menyelamat (CARILAMAT), MEDEVAC dan operasi khas.

Dalam ucapan pada majlis berkenaan, Menteri Dalam Negeri berkata penerimaan AW189 bukan sekadar penambahan aset kepada armada Maritim Malaysia, tetapi mencerminkan iltizam Kerajaan untuk memastikan keselamatan rakyat, kedaulatan negara dan kepentingan nasional sentiasa terpelihara.

“Pelaburan dalam keselamatan merupakan pelaburan strategik bagi mempertahankan kedaulatan, melindungi rakyat serta menyokong kestabilan dan kemakmuran ekonomi negara.” Beliau berkata, Malaysia sebagai sebuah negara maritim dengan keluasan Zon Maritim Malaysia mencecah 556,285 kilometer persegi memerlukan keupayaan pengawasan dan tindak balas yang pantas bagi menghadapi cabaran keselamatan maritim yang semakin kompleks.

Helikopter AW189 pertama APMM (photo: APMM)

Helikopter AW189 mempunyai jarak operasi sehingga 1,166 kilometer, kelajuan maksimum 313 kilometer sejam dan endurance sehingga lima jam, serta mampu beroperasi siang dan malam dalam pelbagai keadaan cuaca. Dikendalikan oleh lima kru dan mampu membawa sehingga 14 penumpang, aset berkenaan memberikan keupayaan dan fleksibiliti lebih tinggi, khususnya bagi operasi di perairan yang jauh dari pesisir.

Menurut Menteri Dalam Negeri, keupayaan tersebut amat penting dalam operasi CARILAMAT kerana setiap minit amat berharga dalam usaha menyelamatkan nyawa di laut. Penerimaan empat buah AW189 ini merupakan sebahagian daripada usaha berterusan Kerajaan memodenkan aset udara Maritim Malaysia agar kekal relevan dengan keperluan operasi semasa.

Sehingga 24 Julai 2026, Maritim Malaysia telah melaksanakan 116,192 pemeriksaan, 26,253 penggeledahan dan 562 tangkapan, dengan nilai rampasan melebihi RM4.38 bilion. Bagi operasi CARILAMAT pula, sebanyak 129 kes melibatkan 638 mangsa telah dilaksanakan.
Perolehan empat buah AW189 diluluskan melalui Rolling Plan Keempat (RP4), Rancangan Malaysia Kesebelas (RMKe-11) dengan tempoh kontrak dari 19 Januari 2024 hingga 18 Januari 2029.

Menteri Dalam Negeri berkata peningkatan keupayaan aset ini akan memberi manfaat kepada nelayan, komuniti maritim, industri perkapalan, sektor pelancongan serta semua pengguna perairan negara melalui peningkatan tahap keselamatan dan keupayaan tindak balas terhadap kecemasan di laut.

Beliau turut merakamkan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam menjayakan proses perolehan, penghantaran, penerimaan dan pengoperasian helikopter AW189 Maritim Malaysia.

“Aset boleh dibeli, teknologi boleh diperoleh tetapi yang menentukan kejayaan sesebuah organisasi ialah profesionalisme, integriti dan semangat juang warganya.” Penerimaan AW189 ini diharap dapat terus memperkukuh Maritim Malaysia sebagai benteng hadapan negara dalam memastikan keselamatan perairan, menyelamatkan nyawa serta mempertahankan kedaulatan Malaysia di lautan.