20 April 2026

PT PAL Ekspansi ke Lamongan

20 April 2026

Tugu identitas PT PAL telah dipasang (photo: PAL)

jatimnow.com - Raksasa industri pertahanan maritim, PT PAL Indonesia, mulai menancapkan kuku bisnisnya lebih dalam di wilayah pesisir Jawa Timur.

Memomentumkan hari jadinya yang ke-46, perusahaan plat merah ini resmi mengambil alih pengelolaan area workshop di Paciran, Lamongan, sebagai bagian dari strategi memperkuat kapasitas produksi kapal nasional.

Langkah ekspansi ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) area workshop dari PT Lamongan Marine Industry kepada PT PAL Indonesia di Desa Sidokelar, Sabtu (18/4/2026).

Penandatanganan prasasti Tugu Identitas oleh jajaran direksi menjadi simbol bahwa operasional manufaktur PAL kini punya titik tumpu baru di Lamongan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyatakan bahwa pertumbuhan industri kapal tidak boleh meninggalkan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Menurutnya, kehadiran fisik perusahaan di wilayah baru harus berdampak langsung pada kualitas hidup warga.

Area workshop PT Lamongan Marine Industry di Paciran, Lamongan, Jawa Timur (image: GoogleMaps)

"Kemajuan industri ini mesti berjalan lurus dengan perbaikan ekonomi warga sekitar. Kami memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi agar anak-anak muda di sini punya peluang lebar untuk sukses. Harapannya, mereka nanti yang akan memajukan daerahnya sendiri sekaligus memperkuat industri maritim kita," ungkap Kaharuddin di sela acara.

Selain urusan manufaktur, PT PAL juga mulai memikirkan daya dukung lingkungan di area operasional barunya. Hal ini dibuktikan dengan jalinan kerja sama dengan Universitas Trunojoyo Madura untuk menjaga ekosistem pesisir.

Kaharuddin menilai, menjaga keseimbangan alam adalah komitmen jangka panjang agar aktivitas industri tidak merugikan nelayan dan warga lokal.

Kehadiran unit usaha di Lamongan ini diproyeksikan bakal menyerap tenaga kerja dan menghidupkan ekosistem usaha mikro di sekitar galangan.

Sebagai bentuk syukuran atas dibukanya fasilitas baru tersebut, perusahaan menggelar pesta rakyat dan bazar makanan yang melibatkan pedagang setempat.

Dengan tambahan fasilitas workshop di Lamongan, PT PAL Indonesia kini memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk mengejar target penyelesaian proyek-proyek kapal strategis, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pesanan pasar global.

Seperti Apa Kendaraan XCB-01 dan XTC-02, yang akan Segera Diproduksi Massal oleh Kementerian Pertahanan Vietnam?

20 April 2026

Kendaraan Tempur Infanteri XCB-01 (all photos:  ThanhNien)

Kendaraan tempur infanteri XCB-01 dan kendaraan pengangkut personel lapis baja XTC-02, keduanya diproduksi di Vietnam dan akan segera diproduksi secara massal oleh Kementerian Pertahanan, adalah kendaraan modern dengan mobilitas tinggi.

Menurut Surat Kabar Tentara Rakyat, pada tanggal 7 April, Kementerian Pertahanan Nasional mengadakan konferensi untuk menetapkan tugas produksi massal kendaraan tempur infanteri XCB-01 dan kendaraan pengangkut personel lapis baja XTC-02.


Menurut Direktorat Jenderal Industri Pertahanan, proyek kendaraan XCB-01 secara resmi telah menyelesaikan fase pengujian kedua, dengan indikator teknis dan taktis yang sepenuhnya memenuhi persyaratan. Di luar hasil pengujian, semua pekerjaan persiapan kini telah diaktifkan secara bersamaan, mulai dari sistem dokumentasi teknis dan jalur produksi hingga pasokan material yang stabil baik di dalam maupun luar negeri.

Menurut peta jalan, proses penerimaan tingkat Kementerian Pertahanan Nasional akan selesai pada April 2026. Hingga saat ini, puluhan kendaraan telah diproduksi dan diuji coba di unit-unit serta berpartisipasi dalam parade dan pawai pada peringatan 80 tahun keberhasilan Revolusi Agustus dan Hari Nasional pada tanggal 2 September. Ini adalah langkah verifikasi terpenting sebelum beralih ke fase produksi massal.


Sementara itu, proyek XTC-02, sebuah kendaraan pengangkut personel lapis baja tempur, juga telah mencapai kemajuan yang signifikan. Ini adalah teknologi yang kompleks, yang pertama dari jenisnya yang diteliti dan diproduksi di dalam negeri. Proyek XTC-02 akan segera menyelesaikan persetujuan ulang konfigurasi, fitur teknis dan taktisnya, serta pengujian penerimaan, dengan jadwal produksi yang mirip dengan proyek XCB-01.

Pada konferensi tersebut, Letnan Jenderal Pham Hoai Nam, Wakil Menteri Pertahanan Nasional, meminta Direktorat Jenderal Industri Pertahanan untuk memberikan tugas-tugas spesifik kepada unit-unit agar mempersiapkan secara cermat dalam segala aspek untuk produksi massal kendaraan tersebut; instansi dan unit terkait harus segera mengkoordinasikan pengujian penerimaan kendaraan XCB-01 dan XTC-02 di tingkat Kementerian Pertahanan Nasional paling lambat April 2026; dan memastikan jalur produksi, sumber daya manusia, dan material teknis yang terstandarisasi dan modern... untuk memproduksi peralatan secara massal bagi unit-unit tersebut.


Seberapa modernkah kendaraan XCB-01?
Menurut informasi yang dipublikasikan, kendaraan tempur infanteri XCB-01 dilengkapi dengan meriam utama 73 mm dengan 40 butir amunisi, senapan mesin paralel PTK 7,62 mm dengan 2.000 butir amunisi, dan senapan mesin anti-pesawat 12,7 mm di atap turet dengan 200 butir amunisi. Selain itu, kendaraan ini memiliki rudal anti-tank B72 dan meriam laras halus 72 mm.

Kendaraan ini memiliki kecepatan maksimum hingga 65 km/jam, kecepatan berenang 7 km/jam, dan mesin 300 tenaga kuda. Ia mampu mendaki tanjakan hingga 30 derajat dan mengatasi berbagai medan.

XCB-01 memiliki awak tiga orang: satu pengemudi, satu komandan, dan satu penembak untuk mengendalikan daya tembak kendaraan. Selain itu, kendaraan ini dapat membawa delapan prajurit infanteri dengan perlengkapan lengkap. Saat berada di dalam kendaraan, para prajurit infanteri ini dapat bekerja bersama awak untuk meningkatkan daya tembak dan menekan musuh menggunakan sistem yang disediakan untuk mereka.

Kendaraan Pengangkut Personel Lapis Baja Tempur XTC-02 (all photos: ThanhNien)

Keunggulan kendaraan ini adalah mobilitasnya yang sangat tinggi, kecepatannya yang sangat tinggi, dan kemampuannya untuk bertempur di semua medan, dari dataran dan perbukitan hingga bawah air. Selama pertempuran, kendaraan ini dengan cepat mengangkut infanteri untuk menembus jauh ke wilayah musuh dan menduduki posisi. Dalam kasus pengepungan, kendaraan ini dapat dengan cepat memberikan dukungan, menarik mundur infanteri dengan aman ke belakang dan menempatkannya dalam rencana pertempuran yang lebih tepat.

Ketika kendaraan menjadi sasaran radiasi laser, kendaraan akan mengeluarkan peringatan; jika diserang musuh, granat asap akan ditembakkan untuk mengaburkan pandangan musuh, dan sistem pencitraan termal kendaraan akan membelokkan proyektil, memastikan keamanan kendaraan selama operasi.


Seberapa modernkah kendaraan XTC-02?
Sementara itu, kendaraan pengangkut personel lapis baja XTC-02 memiliki panjang 7,185 m, lebar 2,76 m, dan tinggi 2,225 m, dengan jarak bebas tanah 400 mm. Kendaraan ini dilengkapi dengan senapan mesin anti-pesawat 12,7 mm dan senapan mesin berat 7,62 mm; awaknya terdiri dari 3 orang dan dapat membawa 9 tentara, dengan berat tempur 12,7 ton.

XTC-02 memiliki kecepatan maksimum 95 km/jam di jalan beraspal, kecepatan berenang maksimum 12 km/jam, dan jangkauan hingga 800 km.


Kemampuan kendaraan dalam melewati rintangan meliputi tanjakan 31 derajat, lereng 25 derajat, parit selebar 0,8 meter, dan dinding vertikal setinggi 0,4 meter; lambung kendaraan terlindungi dari peluru 7,62 x 39 mm yang dapat menembus inti baja; dan jendela terlindungi dari peluru 7,62 x 54 mm yang dapat menembus inti paduan logam.

Kendaraan ini menggunakan transmisi mekanis dengan 9 gigi maju dan 1 gigi mundur; kendaraan ini memiliki sistem pengendalian tembakan yang menstabilkan diri sendiri yang melacak target dan dapat menembak saat bergerak, baik siang maupun malam.


Rentang sudut elevasi adalah -13 derajat hingga 65 derajat, rentang sudut lintasan adalah 360 derajat, alat ini melacak target ketika kecepatan kendaraan kurang dari atau sama dengan 30 km/jam, dan mengenai target ketika kecepatan kendaraan kurang dari 20 km/jam.

Kendaraan ini dilengkapi dengan sistem deteksi dan pencegahan agen kimia dan radioaktif, sistem deteksi dan peringatan radiasi laser, sistem pemadam kebakaran otomatis, dan peluncur granat asap. Selain itu, kendaraan ini memiliki radio lompatan frekuensi ultra-pendek kelas taktis VRU812S dan sistem komunikasi internal.

Eks KRI Teluk Hading-538 Akan Jadi Sasaran Tembak Rudal di Latopslagab 2026

20 April 2026

KRI Teluk Hading 538 (photo: TNI AL)

Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Dermaga Baru Kodaeral VI Siang ini. Di bawah langit biru yang saksi bisu pengabdiannya, Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut VI (Komandan Kodaeral VI) Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M secara resmi memimpin tradisi pelepasan dan penghormatan terakhir bagi Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538, kapal angkut tank legendaris ini  kini purnatugas dari jajaran alutsista TNI Angkatan Laut. Kamis (16/04/2026)

Tradisi TNI AL ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi tanpa batas yang telah ditunjukkan oleh kapal perang ini selama puluhan tahun menjaga kedaulatan NKRI. Eks KRI Teluk Hading-538 dikenal tangguh, melintasi ribuan mil laut dalam berbagai operasi militer, misi kemanusiaan, hingga pengangkutan logistik ke pelosok negeri.

Komandan Kodaeral VI menyampaikan Penghormatan terakhir diberikan melalui jajar kehormatan sebagai simbol rasa hormat kepada "Sang Veteran Samudera". Kepergian Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538 dari dermaga Kodaeral VI menandai akhir dari sebuah era, namun sejarah kegagahannya akan selalu tercatat dalam tinta emas sejarah maritim Indonesia.

"Selamat jalan, Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538. Terima kasih atas darma baktimu. Jalesveva Jayamahe", ucap Komandan Kodaeral VI

Sasaran tembak rudal di Latopslagab 2026
Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538 nantinya akan ditarik oleh Kapal Perang Republik Indonesia Leuser-924 menuju lautan lepas untuk dijadikan sasaran tembak dalam Latopslagab (Latihan Operasi Laut Gabungan) TNI AL Tahun 2026 guna menguji kesiapan tempur alutsista dan meningkatkan profesionalisme prajurit. 

Dalam momen yang penuh nilai heroik ini, Komandan Kodaeral VI didampingi oleh jajaran pejabat teras Kodaeral VI, di antaranya Wadan Kodaeral VI Laksamana Pertama TNI Dr. Arya Delano, S.E., M.Pd., M.Han, Para Pejabat Utama (PJU) Kodaeral VI, Dansatlinlamil-3, Para Kadis/Kasatker Kodaeral VI, Para Staf Inspektorat Kodaeral VI, dan Para Sahli Poksahli Kodaeral VI serta tim merpluq Kodaeral VI.

19 April 2026

UK Secures £128 Million Submarine Rescue Deals with Indonesia, Boosting British Industry

19 April 2026

SMP SRV-F Mk3 submarine rescue vehicle systems (SRVS) (photos & images: SMP

Today, UK Export Finance (UKEF) announces two multi-million-pound export deals to supply the Indonesian Navy with state-of-the-art submarine rescue vehicle systems (SRVS), amounting to a combined £128 million.

As a result of the deals, over £67 million in supply contracts have been awarded to UK suppliers led by Bristol-based Submarine Manufacturing and Products Limited (SMP Ltd) and York-headquartered Forum Energy Technologies Ltd (FET). Both deals will protect jobs and support the UK supply chain.


SMP Ltd will contribute over £39 million to the UK supply chain by contracting multiple UK based companies to supply goods and services including training and ship design. Established as one of the world’s leading commercial diving and subsea engineering specialists, the contract will also lead to an increase in job creation for the company’s workforce.

Under a separate contract, FET will supply a submarine rescue system to the Indonesian Navy, valued at approximately £30 million. Across its supply chain and shipyard in York, FET has already seen a 50% increase in its workforce in the last 12 months, mostly due to this contract. FET is a leading expert designer and manufacturer of subsea vehicles, with more than 45 years of experience supporting military and naval organisations worldwide. During this time, FET has delivered over 900 manned and unmanned systems, including four submarine rescue vehicles.


Ben Sharples, Managing Director at SMP said:
SMP Ltd is proud to support the Indonesian Navy with our 50-person submarine rescue vehicle (SRV-F), that can be deployed by air and by sea. Supported by a new build mothership, SRV-F is able to provide rescue coverage across Indonesia’s extensive archipelago. UKEF’s backing and the support of its financial partners has been critical to contracting this vital capability.

Chris Buckle, Commercial Manager at FET added:
FET is proud to be working with the Indonesian Navy on the supply of a 610m rated submarine rescue system. This award reflects the Navy’s commitment to enhancing submarine safety and rescue preparedness, and we are honoured to contribute our proven expertise, technology and operational experience to this critical capability. We also extend our thanks to our partners in Indonesia, ANK, and to UK Export Finance for their invaluable support in enabling this project.


Tim Reid, CEO at UKEF said:  “These two landmark deals demonstrate exactly what UK Export Finance exists to do – back British exporters to win major contracts on the world stage, while delivering real economic benefits at home. Together, these deals will generate over £67m for the UK economy and support jobs across our supply chain, from Bristol to York.

“We are proud to be helping Indonesia develop a vital submarine rescue capability, and to be doing so by showcasing the very best of British expertise in subsea engineering. This is UKEF’s first dive into submarine rescue contracts of this kind, and I hope it marks the beginning of an even stronger UK-Indonesia partnership.”

Across the two deals, UKEF has provided two loan guarantees. The first, worth £76m, supports the export of an SRVS supplied by SMP Ltd alongside their Indonesian partner PT BTI Indo Tekno (BTI), with financing provided by JP Morgan Chase, Singapore Branch. The second, worth £52m, supports the export of an SRVS supplied by FET, working with Indonesian partner PT Agrapana Nugraha Katara (ANK), with financing arranged through Banco Santander.

FET LR 600 submarine rescue vehicle (SRV) (photos: FET)

With the backing of UKEF, these transactions mark an important milestone in enhancing Indonesia’s submarine safety procedures following the KRI Nanggala submarine tragedy in 2021. The combined project will see UK suppliers SMP Ltd and FET working alongside their respective Indonesian partners BTI and ANK to deliver a safety-critical capability designed for the Indonesian Navy.

Xian Lin Mah, APAC head of Export & Agency Finance at J.P. Morgan Payments said: “J.P. Morgan is pleased to have arranged the Buyer Credit Facility supporting the export of the Submarine Rescue Vehicle System to the Indonesian Navy. This financing enables the delivery of highly specialised, safety-critical capabilities and underscores the importance of long-term funding solutions for complex, large-scale projects.”


Patrick McAweeney, head of Export & Agency Finance UK at Banco Santander said:
“Banco Santander is pleased to have supported the financing of Indonesia’s Deep Submarine Rescue Vehicle (DSRV) programme, an important project which enhances Indonesia’s maritime safety and response capabilities. This transaction reflects our commitment to supporting UK exporters while strengthening international collaboration.”

This transaction represents the first time UKEF has worked with both BTI and SMP Ltd, extending UKEF’s reach into the Indonesian market and strengthening the UK-Indonesian partnership, while encouraging greater use of UK content to qualify for UKEF support.


Peter Tjahjono, Director at PT BTI Indo Tekno said:
This collaboration underscores our steadfast commitment to advancing Indonesia’s maritime defence capabilities. Through the development of the SRVS, we are not only modernizing the Indonesian Navy (TNI AL) fleet but also establishing the highest safety standards for our submarine personnel. This project is a testament to our dedication to the nation’s strategic interests.

This builds on the Business Secretary’s announcement yesterday of the UK’s Modern Industrial Strategy, detailing that 4,200 jobs have been secured following over £700 million of investment in battery manufacturers, auto firms and SMEs across the advanced manufacturing sector in Britain.


UK Export Finance has already backed over £6.6 billion in advanced manufacturing investment over the past two years and will announce plans this summer to go further still, expanding UKEF’s capacity to help British companies seize opportunities in international markets.

The deal between the UK and Indonesia for these two contracts demonstrates UKEF’s function in backing businesses, actively providing finance for developing and emerging markets, creating mutual benefits for communities overseas and in the UK.

By 2029, UKEF aims to back £10 billion of finance in low and middle-income countries, supporting sustainable infrastructure, clean growth and economic development in the countries that need it most, while securing vital export wins for British businesses.

Australia Locks in Delivery of First Three Upgraded Mogami Class Frigates

19 April 2026

The upgraded Japanese Mogami class frigate scheduled to be delivered in 2029 (photos: Aus DoD)

The Albanese Government has taken a major step towards delivering a larger and more lethal surface combatant fleet with contracts now signed for Australia’s first three general purpose frigates.

Built by Mitsubishi Heavy Industries (MHI), the ships will be of the upgraded Japanese Mogami class frigate design, with the first scheduled to be delivered to the Royal Australian Navy in 2029.

The Albanese Government is working closely with the Japanese Government and industry with future ships to be constructed in Western Australia, subject to consolidation of the Henderson Defence Precinct, in line with the Government’s commitment to continuous naval shipbuilding.

Defence is also working with Japanese industry and the Japan Maritime Self-Defense Force to develop an initial capability to sustain and operate the upgraded Mogami class frigates in Australia, supported by Australian industry and workers.

The upgraded Mogami class frigate has a range of up to 10,000 nautical miles and a 32-cell Vertical Launch System. It will be equipped with surface-to-air and anti-ship missiles, crewed by 92 Royal Australian Navy sailors and officers, and capable of operating Navy’s MH-60R Seahawk maritime combat helicopter.

The decision to acquire upgraded Japanese Mogami class frigates accords with the Albanese Government’s commitment to more than double the size of Navy’s surface combatant fleet, following the 2024 independent analysis of Navy’s surface combatant fleet. In the 2026 Integrated Investment Program released this week, the Government committed to the investment of up to $20 billion over the decade into general purpose frigates.


The contract-signing was marked by the Deputy Prime Minister and his counterpart, the Japanese Minister of Defense, Koizumi Shinjirō signing the ‘Mogami Memorandum’, reaffirming the Australian and Japanese Governments’ shared commitment to the successful delivery of Australia’s general purpose frigates and deeper defence industry cooperation.

Royal Australian Navy personnel trained with the Japanese Maritime Self-Defense Force aboard the Mogami class frigate Japan Ship Kumano during its transit to Australia for Exercise Kakadu, further strengthening interoperability and the longstanding defence relationship between Australia and Japan.

The next two decades will see tens of billions of dollars invested in defence capabilities in Western Australia, including the build of future upgraded Mogami class frigates at the Henderson Defence Precinct, supporting around 10,000 high-skilled jobs.

Quotes attributable to Deputy Prime Minister, Richard Marles:
“Acquiring upgraded-Mogami class frigates demonstrates the Albanese Government’s focus on investing in the capabilities we need to keep Australians safe.

“Our surface fleet is more important than at any time in decades. These general purpose frigates will help secure our maritime trade routes and northern approaches as part of a larger and more lethal surface combatant fleet.”

Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
“This is the fastest acquisition for the Royal Australian Navy in peacetime. We are working closely with Japanese and Australian industry partners as we acquire one of the most, if not the most, advanced general-purpose frigate in the world.

“We are delivering these commitments at pace, supporting and creating jobs for Australians, and deepening Australia’s industrial base. The first three frigates will be built offshore in Japan. We will then transition to an onshore build in line with the Government’s commitment to continuous naval shipbuilding and a future made in Australia.”


Pemerintah Kaji Rencana Pembelian 24 Pesawat Tempur Rafale

19 April 2026

Pesawat tempur Rafale dengan persenjataan penuh (photo: Aviacion Militar)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan opsi pembelian 24 pesawat tempur Rafale dari Prancis masih dalam tahap kajian.

Hal tersebut dikatakan Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Jumat soal rencana membeli 24 pesawat tempur Rafale.

"Opsi penambahan masih dalam tahap kajian oleh pemerintah," kata Rico.

Rico menyampaikan pengkajian tersebut dilakukan untuk memastikan pembelian tersebut sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia.

Untuk itu, Rico memastikan hingga saat ini belum ada kontrak baru antara Pemerintah Indonesia dan Prancis terkait penambahan sebanyak 24 Rafale.

Seperti diketahui, Indonesia dan Prancis dikabarkan membuat opsi transaksi 24 pesawat tempur Rafael. Berdasarkan informasi yang diunggah akun Instagram khusus informasi pertahanan @isds.indonesia, dijelaskan bahwa pembahasan opsi itu muncul saat pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.

Indonesia sendiri sudah memilik tiga pesawat Rafale, hasil dari kontrak pembelian 42 pesawat yang telah ditandatangani Prabowo Subianto saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Ke-42 pesawat tersebut datang secara bertahap, dimulai dari gelombang pertama kedatangan tiga pesawat tempur pada awal 2026 lalu.

18 April 2026

PT PAL Indonesia Incar Pasar Ekspor Afrika hingga Eropa

18 April 2026

Produk-Produk pertahanan matra laut buatan PT PAL (infograhics: PAL)

jatimnow.com - PT PAL Indonesia menandai hari jadinya yang ke-46 pada Rabu (15/4/2026) dengan misi besar memperkuat kemandirian industri pertahanan (Indhan) tanah air. 

Perusahaan plat merah ini tidak lagi sekadar membangun kapal, melainkan memposisikan diri sebagai konsolidator nasional yang mengintegrasikan seluruh kekuatan maritim Indonesia agar mampu bersaing di panggung global. 

Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik dunia yang kian kompleks. PT PAL kini melebarkan sayapnya melampaui batas wilayah Asia Tenggara, dengan membidik peluang kerja sama strategis di Asia Barat, Afrika, hingga Eropa. Ekspansi tersebut mencakup ekspor alutsista laut, skema transfer teknologi, hingga pengembangan industri bersama dengan mitra internasional. 

Menghadapi tuntutan zaman, perusahaan yang berbasis di Surabaya ini mulai mengadopsi teknologi digital dalam proses produksinya.


Inisiatif digital shipyard diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi pembangunan kapal, baik untuk kebutuhan militer maupun komersial. 

Selain digitalisasi, PT PAL juga mulai menggarap konsep green shipyard. Langkah ini menjadi respons terhadap tren industri berat yang dituntut lebih ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Penguatan riset dan inovasi masa depan menjadi motor utama untuk memastikan produk lokal tidak kalah saing dengan galangan kapal raksasa dari Korea Selatan maupun Eropa. 

Direktur Utama PT PAL Indonesia menyatakan bahwa usia hampir setengah abad ini menjadi titik balik untuk mengakselerasi visi perusahaan. 

"Kami sudah membuktikan bahwa Indonesia sanggup membangun industri maritim yang membanggakan. Namun, perjalanan belum usai. Perubahan teknologi dan tantangan global mengharuskan kami terus berinovasi dan memperluas peran di kancah internasional," jelasnya.


Sebagai konsolidator, peran PT PAL memiliki dampak berganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal. Dengan membangun ekosistem maritim yang terintegrasi, perusahaan ini membuka pintu bagi vendor-vendor lokal dan industri pendukung untuk ikut terlibat dalam rantai pasok global.

Hingga saat ini, PT PAL tetap menjadi pilar utama dalam menjaga konektivitas antar-pulau serta memperkuat kedaulatan laut Indonesia. 

Target ke depan sangat jelas, yakni meningkatkan kontribusi ekspor dan memastikan industri maritim nasional berdiri sejajar dengan pemain utama dunia. 

Dengan pengalaman empat dekade lebih, PT PAL kini bertransformasi dari sekadar bengkel kapal nasional menjadi pusat inovasi teknologi maritim yang siap menjawab kebutuhan pertahanan dan ekonomi biru di masa depan.