16 Agustus 2026

HIMARS Arrives at the School of Artillery

16 Agustus 2026

HIMARS arrives at the Australian Army - School of Artillery (photo: Australian Army

The School of Artillery has welcomed the arrival of High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) platforms, marking another significant step in the evolution of the Australian Army’s long-range fires capability.

With HIMARS now incorporated into full-time training at the School of Artillery, our people will develop the knowledge and skills required to operate, support and employ this capability as it continues to be introduced into service.

The integration of HIMARS into training represents an important shift for Australian Artillery—building the workforce, expertise and readiness required to deliver long-range precision fires in support of the future force.

New capability. New skills. Greater reach.

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV) PT PAL Indonesia

16 Agustus 2026

USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (photos & video:  PAL)

Surabaya, (13/08) – Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.


Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.


“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.


“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.


Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

(PAL)

15 Agustus 2026

Australia dan AS Uji Kemampuan Komunikasi dan Wahana Bawah Laut Nirawak

15 Agustus 2026

ADV Guidance dalam RIMPAC 2026 (photos: dvids)

Australia dan Amerika Serikat bersama-sama menguji wahana maritim nirawak serta teknologi terkait—termasuk sistem komunikasi akustik—selama Latihan 'Rim of the Pacific' ('RIMPAC') 2026 yang berlangsung dari 24 Juni hingga 31 Juli di wilayah Kepulauan Hawaii dan sekitarnya.


Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memajukan kemampuan peperangan bawah laut gabungan di bawah Pilar 2 kemitraan AUKUS yang melibatkan Australia, Inggris, dan AS, demikian disampaikan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada 13 Agustus.


DoD menyatakan bahwa personel dari Defence Science and Technology Group (DSTG), Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN), dan Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) bersama-sama mendemonstrasikan operasi wahana maritim nirawak dari kapal Australian Defence Vessel (ADV) Guidance.

USV Seasats Lightfish (photo: Seasats)

Menurut DoD, kapal Guidance yang memiliki panjang 107 meter ini mendukung pengerahan dan pengujian platform bawah laut robotik dan otonom serta sistem pengawasan bawah laut. Kapal ini memiliki lebar 22 meter dan bobot benaman (displacement) sebesar 7.400 ton.

UUV Hugen Superior (photo: Kongsberg)

Sistem milik Australia yang diuji coba selama latihan tersebut meliputi wahana bawah laut nirawak (UUV) Kongsberg Hugin Superior, remotely operated vehicle (ROV) kelas kerja Schilling, wahana permukaan nirawak (USV) Seasats Lightfish, serta sistem relai komunikasi akustik bawah laut yang dapat dikerahkan, Rock Lobster.

ROV Schilling (photo: Schiling Robotics)

DoD menyebutkan bahwa Hugin Superior dan ROV Schilling dikerahkan secara bersamaan untuk melaksanakan misi navigasi dan pencarian bawah laut yang kompleks di dalam area latihan. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana mitra AUKUS meningkatkan kemampuan mereka dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman maritim.

APMM Terima Helikopter AW-189 Pertamanya

15 Agustus 2026
 
APMM total akan menerima empat AW189 medium lift helicopter (infographic: APMM)

Penerimaan AW189 perkukuh keupayaan Maritim Malaysia jaga kseselamatan kedaulatan perairan negara
SUBANG – Menteri Dalam Negeri, YB Datuk Seri Saifuddin Nasution, hari ini menyempurnakan Majlis Penerimaan Helikopter AW189 Maritim Malaysia, menandakan penerimaan helikopter pertama daripada empat buah helikopter Medium Lift AW189 yang diperoleh Kerajaan bagi memperkukuh keupayaan udara Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia).

Majlis tersebut menjadi satu lagi langkah penting dalam usaha Kerajaan MADANI memodenkan aset keselamatan negara serta memperkukuh keupayaan Maritim Malaysia dalam melaksanakan penguatkuasaan, pengawasan udara, operasi mencari dan menyelamat (CARILAMAT), MEDEVAC dan operasi khas.

Dalam ucapan pada majlis berkenaan, Menteri Dalam Negeri berkata penerimaan AW189 bukan sekadar penambahan aset kepada armada Maritim Malaysia, tetapi mencerminkan iltizam Kerajaan untuk memastikan keselamatan rakyat, kedaulatan negara dan kepentingan nasional sentiasa terpelihara.

“Pelaburan dalam keselamatan merupakan pelaburan strategik bagi mempertahankan kedaulatan, melindungi rakyat serta menyokong kestabilan dan kemakmuran ekonomi negara.” Beliau berkata, Malaysia sebagai sebuah negara maritim dengan keluasan Zon Maritim Malaysia mencecah 556,285 kilometer persegi memerlukan keupayaan pengawasan dan tindak balas yang pantas bagi menghadapi cabaran keselamatan maritim yang semakin kompleks.

Helikopter AW189 pertama APMM (photo: APMM)

Helikopter AW189 mempunyai jarak operasi sehingga 1,166 kilometer, kelajuan maksimum 313 kilometer sejam dan endurance sehingga lima jam, serta mampu beroperasi siang dan malam dalam pelbagai keadaan cuaca. Dikendalikan oleh lima kru dan mampu membawa sehingga 14 penumpang, aset berkenaan memberikan keupayaan dan fleksibiliti lebih tinggi, khususnya bagi operasi di perairan yang jauh dari pesisir.

Menurut Menteri Dalam Negeri, keupayaan tersebut amat penting dalam operasi CARILAMAT kerana setiap minit amat berharga dalam usaha menyelamatkan nyawa di laut. Penerimaan empat buah AW189 ini merupakan sebahagian daripada usaha berterusan Kerajaan memodenkan aset udara Maritim Malaysia agar kekal relevan dengan keperluan operasi semasa.

Sehingga 24 Julai 2026, Maritim Malaysia telah melaksanakan 116,192 pemeriksaan, 26,253 penggeledahan dan 562 tangkapan, dengan nilai rampasan melebihi RM4.38 bilion. Bagi operasi CARILAMAT pula, sebanyak 129 kes melibatkan 638 mangsa telah dilaksanakan.
Perolehan empat buah AW189 diluluskan melalui Rolling Plan Keempat (RP4), Rancangan Malaysia Kesebelas (RMKe-11) dengan tempoh kontrak dari 19 Januari 2024 hingga 18 Januari 2029.

Menteri Dalam Negeri berkata peningkatan keupayaan aset ini akan memberi manfaat kepada nelayan, komuniti maritim, industri perkapalan, sektor pelancongan serta semua pengguna perairan negara melalui peningkatan tahap keselamatan dan keupayaan tindak balas terhadap kecemasan di laut.

Beliau turut merakamkan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam menjayakan proses perolehan, penghantaran, penerimaan dan pengoperasian helikopter AW189 Maritim Malaysia.

“Aset boleh dibeli, teknologi boleh diperoleh tetapi yang menentukan kejayaan sesebuah organisasi ialah profesionalisme, integriti dan semangat juang warganya.” Penerimaan AW189 ini diharap dapat terus memperkukuh Maritim Malaysia sebagai benteng hadapan negara dalam memastikan keselamatan perairan, menyelamatkan nyawa serta mempertahankan kedaulatan Malaysia di lautan.

14 Agustus 2026

TNI AL Melaksanakan Uji Tembak MLRS Pertama dari Flight Deck Kapal PPA

14 Agustus 2026

Flight deck kapal PPA KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

TNI Angkatan Laut telah melaksanakan uji tembak pertama sistem peluncur roket ganda (multiple-launch rocket system atau MLRS) dari geladak penerbangan salah satu kapal perang kelas Brawijaya, yakni jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA).

Uji tembak tersebut dilakukan dari kapal kedua di kelasnya, KRI Prabu Siliwangi 321, dalam sebuah latihan angkatan laut di wilayah Kepulauan Riau antara akhir Juli dan awal Agustus 2026.

MLRS RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir TNI AL menembakkan roket dari flight deck/geladak penerbangan KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

Gambar-gambar yang dirilis oleh TNI AL menunjukkan bahwa MLRS yang dikerahkan di atas kapal PPA tersebut adalah sistem RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir Indonesia, yang sebelumnya telah terlihat di atas kapal tersebut sejak Mei 2026.

RM-70 Vampire merupakan sistem roket artileri berbasis truk yang dikembangkan dari keluarga BM-21 Grad.

Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa uji tembak MLRS ini menggunakan roket kendali TRG-122 yang pada bulan Mei 2026 lalu baru diterima dari Turkiye (photo: Roketsan) 

Sistem ini menembakkan roket kaliber 122 mm dalam salvo cepat untuk menyasar target area, memberikan daya tembak masif (saturation fire) terhadap posisi pertahanan dan sasaran darat lainnya.

KRI Prabu Siliwangi adalah satu dari dua kapal PPA yang dibeli Indonesia dari perusahaan galangan kapal Italia, Fincantieri, melalui kesepakatan senilai 1,18 miliar euro (1,36 miliar dolar AS).

Spesifikasi teknik TRG-122 roket kendali kaliber 122mm buatan Roketsan, Turkiye (image: Roketsan)

Kapal ini mulai beroperasi secara resmi pada Desember 2025, sementara kapal saudaranya yang merupakan kapal pertama di kelas tersebut, KRI Brawijaya 320, telah lebih dulu masuk dalam jajaran armada Indonesia pada Juli 2025.

Kedua kapal tersebut dilengkapi dengan meriam utama kaliber 127 mm, meriam kaliber 76 mm, serta sel sistem peluncur vertikal (vertical launch system atau VLS) yang mampu meluncurkan senjata anti-udara dan anti-permukaan.

Leonardo can Customize PH Multi-role Fighters

14 Agustus 2026

Leonardo Eurofighter Typhoon (photo: Ismael Jorda)

MANILA – Multinational aerospace and defense manufacturer Leonardo S.p.A (Leonardo) is very capable of customizing its twin-engine Eurofighter Typhoon to suit Philippine operational standards and conditions once the country formalizes an order for its multi-role fighter (MRF).

"The Eurofighter program has consistently configured the aircraft to meet each operator's specific environmental and operational conditions, a reflection of the platform's design flexibility and the depth of engineering experience behind it," Enrico Fossatti, head of Leonardo's Eurofighter Export Campaigns for marketing and sales, said in an email reply to the Philippine News Agency on Tuesday.

Eurofighter Typhoon, manufactured by the consortium of Leonardo, Airbus and BAE System, is among the options being looked into by the Department of National Defense (DND) for its MRF program.

Other options are Sweden's SAAB JAS-39 "Gripen", South Korea's KF-21 "Boramae", US-based Lockheed's F-16V "Viper" MRF, the Rafale of France-based Dassault Aviation.

Fossatti said the Eurofighter Typhoon's twin-engine configuration and safety record were built to demonstrate strength in demanding weather conditions such as operations over water and in extreme weather.

"So far, the Eurofighter (has) been flying in very different climate environments, from the Falklands to Iceland, from the Baltic to Australia, with demonstrated exceptional track records. The Philippines' tropical, maritime setting would naturally inform any configuration work. Should the Philippines proceed with the program, Leonardo and the partner nations would work directly with the Department of National Defense and the Philippine Air Force to tailor the aircraft accordingly, subject to possible bilateral agreements and the relevant approvals," he said.

Advanced weaponry
Aside from this, Fossatti said the Eurofighter Typhoon's weapons package or systems is one of the platform's core strengths.

He said the fighter jet is made to work "beyond-visual-range air-to-air missile for long-range engagement, alongside a comprehensive electronic warfare suite that allows the aircraft to operate effectively across a wide range of threat environments."

He said the precise composition of the weapons package for the Philippines will be determined by the final requirements and agreements reached with the Philippine government should the contract be finalized.

"What we can assure is that the aircraft will be equipped to fulfill the full range of missions required by the Philippine Air Force, drawing on a weapons integration pedigree that has been proven across multiple Eurofighter operators, subject to applicable approvals," he added.

Earlier, DND Secretary Gilberto Teodoro Jr. said the Philippines is looking for at least five possible suppliers for its MRF program to further improve the AFP's defensive capabilities.

He said the program is pegged to have an initial PHP60 billion to PHP150 billion budget and is under the Armed Forces of the Philippines Rehorizon Three. 

(PNA)

13 Agustus 2026

Kunjungan Kerja Komandan Batalyon Ranratfib 2 Marinir Di Skuadron Udara 700 Puspenerbal

13 Agustus 2026

Kunjungan kerja Komandan Batalyon Ranratfib 2 Marinir di Skuadron Udara 700 Puspenerbal (photos: PasMar2)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Surabaya). menyongsong era modernisasi Alutsista berbasis teknologi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) Komandan Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi 2 Marinir (Yonranratfib 2 Mar), Mayor Mar Ferry Prasetiadi menyambangi Skuadron Udara 700 Puspenerbal yang merupakan satuan khusus Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) / Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di bawah jajaran Wing Udara 2 Puspenerbal yang berlokasi di Juanda Surabaya Jawa timur. Senin (10/08)


Langkah strategis ini diambil untuk mempelajari dan menyerap kapabilitas teknologi drone intai guna memperkuat referensi kebutuhan taktis Kavaleri Marinir di medan operasi.


​Kegiatan ini selaras dengan misi komandan, yaitu membangun batalyon yang profesional, berkarakter, modern dan siap terintegrasi dengan teknologi mutakhir.