17 Februari 2026

RTAF Tested its SATCOM Satellite Communication System with the Domestically Developed SIKAN UAV

17 Februari 2026

The satellite communication (SATCOM) system testing on SIKAN Unmanned Aerial Vehicle (UAV) developed by RDC RTAF with THAICOM PUBLIC COMPANY LIMITED, at RTAF Small Airfield (Thung Sikan) on 12 February 2026 (photos: RTAF)

According to information from the Research and Development Center for Space and Aeronautical Science and Technology (RDC) of the Royal Thai Air Force (RTAF). At the Defense & Security 2025 exhibition of defense equipment and technology, held at IMPACT Muang Thong Thani, Bangkok, Thailand, from November 10-13, 2025. The SIKAN Unmanned Aerial Vehicle (UAV) is a radio-controlled training aircraft used as a training aid for external pilots before they train with real-world UAVs (Unmanned Aircraft Systems), thereby saving training costs.


The SIKAN UAV has dimensions of 3.58m in length, a wingspan of 4.58m, and a height of 1.16m. It is powered by a 170cc two-stroke piston engine producing 17.5hp, and also features an integrated motor. It has an empty weight of 65kg and a maximum take-off weight (MTOW) of 80kg.


The SIKAN UAV has a cruising speed of 110 km/h, a maximum speed of 180 km/h, a flight duration of 1 hour, a maximum altitude of 1,000 m, and an operational range of 2 km. It uses a Flight Control System (FLCS) operating on 2.4 GHz and 900 Hz radio waves.


The SIKAN UAV (unmanned aerial vehicle) was manufactured and put into service at the Royal Thai Air Force-Unmanned Aircraft System Training Center (RTAF-UTC) at Wing 3, Watthana Nakhon, Sa Kaeo Province, Thailand, which is the first UAV unit of the Royal Thai Air Force.


Testing of the Satellite Communication (SATCOM) system installation with the SIKAN unmanned aerial vehicle took place at the Royal Thai Air Force airfield (Thung Si Kan), Si Kan Subdistrict, Don Mueang District, Bangkok on 12 February 2026, with Air Chief Marshal Seksan Kantha, Commander-in-Chief of the Royal Thai Air Force, visiting.


This is a collaboration between the Royal Thai Air Force's Research and Development Center (RTAF RDDC) and Thaicom Public Company Limited (Thaicom PLC) to install a SATCOM satellite communication system using encrypted communication channels on the Thaicom 4 satellite. This overcomes the limitations of line-of-sight (LOS) transmission and will be further developed for application with other unmanned aerial vehicles (UAVs) developed domestically by the Royal Thai Air Force.

(AAG)

Kemhan Pastikan TNI Telah Siapkan Personel Untuk Jadi Awak Kapal Induk

17 Februari 2026

ITS Guiseppe Garibaldi (photo: Reddit)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan sejauh ini TNI sudah mempersiapkan prajurit yang akan menjadi awak kapal induk Giuseppe Garibaldi.

"Kemhan bersama TNI juga sudah menyiapkan calon awak kapal untuk membawa dan mengawaki kapal tersebut, termasuk pembinaan dan pelatihan yang diperlukan," kata Rico saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Namun demikian, Rico tidak menjelaskan secara rinci berapa jumlah awak kapal yang telah di siapkan dan di mana program pelatihan tersebut berlangsung.

Dia hanya memastikan awak kapal induk yang telah dipersiapkan merupakan prajurit terlatih dan berpengalaman di bidang perkapalan.

Hingga saat ini, lanjut Rico, Kementerian Pertahanan masih membahas proses hibah kapal induk tersebut oleh pemerintah Italia.

Rico melanjutkan, penerimaan kapal secara hibah tidak berarti membuat Kementerian Pertahanan tidak mengeluarkan uang sepeserpun.

Pemerintah tetap harus merogoh kocek untuk memodifikasi mesin dan teknologi kapal bekas angkatan laut Italia itu.

"Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia. Anggaran yang disiapkan pemerintah Indonesia dialokasikan untuk kebutuhan retrofit atau penyesuaian agar sesuai kebutuhan operasi TNI AL," kata Rico saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Namun demikian, Rico kembali tidak menjelaskan secara rinci berapa anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk penyesuaian teknologi kapal induk.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal induk pertama milik Indonesia buatan Italia, Giuseppe Garibaldi ditargetkan tiba di Indonesia sebelum HUT TNI yakni 5 Oktober 2026.

"Untuk Garibaldi, masih dalam proses ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI," kata Ali saat jumpa pers di Markas Puspom AL, Jakarta Pusat, Kamis (12/2)

Ali menjelaskan hingga saat ini pemerintah melalui Kementerian Pertahanan masih melakukan negoisasi dengan galang kapal Italia Fincantieri selaku pihak yang memproduksi Garibaldi.

Dia melanjutkan, negoisasi antara Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut Italia selaku pihak yang sebelumnya menggunakan kapal tersebut hingga saat ini juga masih berlangsung.

Untuk diketahui, kapal induk ini memiliki kesamaan dengan dua KRI baru milik TNI AL yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yakni sama sama dibuat oleh perusahaan asal Italia Fincantieri.

Kapal induk dengan panjang 180,2 meter ini dilengkapi dengan mesin penggerak super yang dapat menggerakkan kapal dengan kecepatan 30 knot atau 56 kilometer per jam.

Kapal pengangkut pesawat tempur ini juga dilengkapi beberapa radar jamming hingga senjata seperti peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow / Selenia Aspide , Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, 324 mm tabung torpedo rangkap tiga dan Otomat Mk 2 SSM.

(Antara)

TUDM Mungkin Akan Mengirim Su-30MKM ke India untuk Perawatan

17 Februari 2026

Fasilitas HAL untuk Su-30MKI di Nashik, India (photo: DefenceIN) 

KUALA LUMPUR: Malaysia sedang menjajaki kemungkinan mengirim jet tempur Sukhoi milik Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) ke India untuk pekerjaan perawatan, perbaikan, dan balik-pulih/upgrade (MRO) menyusul kesulitan mendapatkan layanan di Rusia karena sanksi internasional.

Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan India telah menawarkan alternatif untuk pesawat buatan Rusia, karena negara tersebut memiliki kapasitas untuk memproduksi suku cadang dan merawat pesawat.

Ia mengatakan masalah ini dibahas dan diputuskan selama kunjungan resmi Perdana Menteri India Narendra Modi ke Malaysia akhir pekan lalu.

Malaysia, India, dan Vietnam juga memiliki banyak kesamaan dalam hal aset, terutama aset TUDM, termasuk penggunaan pesawat Sukhoi.

"Kami sedang membahas bagaimana kami dapat mengirim dan membangun hubungan, terutama dalam hal MRO karena India memiliki banyak aset Sukhoi dan negara tersebut dapat memproduksi suku cadang.

"Kami mengalami masalah dalam mengirim suku cadang atau merawat mesin jet tempur Sukhoi ke Rusia." Kita bisa mengirim, tetapi kita tidak bisa membayar karena Rusia dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS), dan kita tidak bisa membayar melalui 'swift' atau pembayaran biasa.

"Sekarang, India memberi kita kesempatan untuk mengirim dan memperbaiki (suku cadang) atau melakukan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) mesin jet tempur Sukhoi ini di India," katanya saat Sesi Tanya Jawab Menteri di Dewan Rakyat, di sini, hari ini.

Ia menjawab pertanyaan asli dari Lim Guan Eng (PH-Bagan) tentang hasil perdagangan dan keamanan regional setelah kunjungan Modi ke Malaysia pekan lalu dan sejauh mana Malaysia dan India dapat mengambil langkah bersama untuk melawan penerapan tarif oleh AS.

Saat ini, Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) memiliki 18 pesawat Sukhoi Su-30MKM yang bersertifikasi operasional hingga tahun 2035.

Malaysia menandatangani kontrak senilai US$900 juta pada Agustus 2003 untuk membeli 18 jet tempur tersebut dari Rusia, dengan pengiriman dimulai pada tahun 2007.

Pada Agustus tahun lalu, Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin mengumumkan bahwa Kementerian Pertahanan akan meng-upgrade jet tempur Sukhoi jika akuisisi jet tempur F/A-18 Hornet bekas dari Kuwait memakan waktu lama.

Ia mengatakan kementeriannya berencana untuk melakukan upgrade pesawat Sukhoi pada tahun 2030 jika Malaysia belum mengakuisisi pesawat tersebut.

(Berita Harian)

16 Februari 2026

Pangkoarmada II Pimpin Serial Latihan Unsur Kogasgabfib Latopshantai 2025

16 Februari 2026

KRI John Lie 358, KRI Brawijaya 320, dan KRI Martadinata 331 (photo: TNI AL)

TNI AL. Koarmada II -- Dalam rangka Latihan Operasi Pertahanan Pantai (Latopshantai) Tahun 2025, unsur Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib) yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Raden Eddy Martadinata-331, serta KRI Pulau Fani-731 melaksanakan serial latihan saat menuju daerah latihan (Rahlat) di Perairan Bangka Belitung, Sabtu (14/2). 

KRI Pulau Fani 731 (photo: TNI AL)

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, KRI John Lie-358 merupakan unsur yang turut tergabung dalam Latopshantai 2025.

Rangkaian serial latihan tersebut dipimpin langsung oleh Panglima Komando Armada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., selaku Panglima Kogasgabfib, yang on board di KRI Brawijaya-320. 

Seluruh serial latihan merupakan bagian penting dalam skenario Latopshantai 2025 guna meningkatkan interoperabilitas serta kesiapan tempur unsur-unsur yang terlibat, dalam mendukung pelaksanaan operasi pertahanan pantai secara optimal dan profesional.

(Koarmada II)

Australia Opens Drone Faclity at RAAF Base Tindal for Northern Defense

16 Februari 2026

Triton facility opening RAAF Base Tindal (photos: Aus DoD)

Strengthening northern air power

The recent completion of the new MQ‑4C Triton facilities at RAAF Base Tindal is a major boost to Australia’s northern air power and marks a significant milestone for Defence with the introduction of next‑generation uncrewed capability.

Opened by Assistant Minister for Defence Peter Khalil, the $355.7 million AIR7000 Phase 1B Project has delivered purpose‑built facilities to support the MQ‑4C Triton, including maintenance hangars, new airfield pavements, working accommodation and essential supporting infrastructure.

During the opening ceremony, Mr Khalil praised the collaboration between Defence and industry partners, acknowledging their essential role in strengthening Australia’s defence posture.

“What you see here is a whole‑of‑country effort,” Mr Khalil said. 

“Industry, Defence, contractors and our men and women in uniform working together towards a common goal – protecting our national interests.”

Commencing construction in May 2023, the project was designed by BVN architects and delivered by Sitzler Pty Ltd, with Jacobs Pty Ltd engaged as the project manager and contract administrator. The project injected more than $166 million into Northern Territory businesses through awarded work packages, with a significant amount directed to Indigenous subcontractors.

Mr Khalil highlighted that this milestone ensured Defence was better positioned to deliver on the priorities outlined in the 2024 National Defence Strategy, such as strengthening northern bases and enhancing Defence’s ability to respond to evolving security challenges.

“The defence of Australia’s national interests depends on our ability to protect and monitor the northern maritime approaches,” Mr Khalil said.

“The work the Tritons will do contributes directly to the security and stability of our region, and that underpins the prosperity of our nation as a trading country.”

'It provides us with our permanent home at RAAF Base Tindal – a facility that has been designed, conceived and built with our people in mind, and will serve the squadron for many years to come.'

While the Triton aircraft will be operated remotely by aircrew from 9 Squadron based at RAAF Base Edinburgh, they will be launched, recovered and maintained at RAAF Base Tindal. The newly formed squadron will occupy the facility, supported by Northrop Grumman Australia.

Commander Surveillance and Reconnaissance Group Air Commodore Michael Durant stated that a key attribute of the MQ-4C Triton was its ability to operate independently, and from a range of locations.

“The Triton does not need the controllers to be co-located with the aircraft itself,” Air Commodore Durant said.

“Our intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR) hub at RAAF Base Edinburgh provides the ideal location for 9 Squadron aircrew to access and integrate with our full range of ISR capabilities.”

Air Commodore Durant emphasised that the new facilities were established at RAAF Base Tindal for several key reasons, including enabling operations within our primary area of strategic interest and supporting the priorities outlined in the 2024 National Defence Strategy. 

“Locating the aircraft inland at RAAF Base Tindal provides a northern operating position while also reducing our exposure to the coastal weather systems that frequently affect northern Australia,” Air Commodore Durant said. 

Commanding Officer 9 Squadron Wing Commander Neale Thompson said the completion of the new facility also marked an important milestone for the squadron.

“It’s incredibly satisfying to see this facility finished,” Wing Commander Thompson said. 

“It provides us with our permanent home at RAAF Base Tindal – a facility that has been designed, conceived and built with our people in mind, and will serve the squadron for many years to come.”

(Aus DoD)

Vulcanair A-VIATOR Aircraft for the Indonesian Navy

16 Februari 2026

A-VIATOR turboprop aircraft (photo: Vulcanair)

After a market survey, in 2022 the Indonesian Ministry of Defence reached out to Vulcanair for the purchase of a number of A-VIATOR turboprop aircraft for the purpose of modernizing the fleet of the Indonesian Navy composed of old and costly large twin-engine turboprop and obsolete single engine piston aircraft.

More particularly the Navy need was a certified and available modern yet cost effective aircraft to cover a wide range of missions from twin engine turboprop training, transport, surveillance and maritime patrol.

In December 2023 a contract was signed for the supply of four initial aircraft with a series of ancillary services such as pilot and maintenance training, and a dedicated customized simulator. After the setting up of the proper financing the contract was activated on January 29th 2026 and the construction of the aircraft has commenced in Vulcanair’s facilities in Casoria (Naples) Italy.

The A-VIATOR (AP.68TP-600) is certified under normal category by EASA [Ref. TCDS EASA.A.385], high-wing twin turboprop, non-pressurized aircraft. The structures of fuselage, wing, empennages are all metal construction with stressed skin, and the tricycle landing gear is retractable. The latest version of the A-VIATOR will be powered by the RR 250 B17/F powerplants and the latest avionic suite.

The sleek yet simple fuselage allow the aircraft to be fast, efficient and cost effective. The aircraft can be configured for a vast number of missions and sensor installations making it the perfect candidate for a scalable maritime patrol and surveillance platform.

In addition, the aircraft has very benign flight characteristic and can be easily operated in and out of remote areas using un-prepared short runways. The twin engine configuration ensures the necessary level of safety for over-the-water operations to reach the vast Indonesian archipelagic state.

The A-VIATOR is a variant of the Vulcanair P.68 Series with a fleet of over 500 aircraft manufactured and flying globally.

Vulcanair is a privately held company founded by the late Ing. Carlo De Feo in 1996 who through Vulcanair acquired the assets of Partenavia and of the Siai Marchetti SF600A programs. Since 1999 Vulcanair has been delivering special mission aircraft globally, which is the main focus of the company thanks to its aircraft attributes and portfolio. 

15 Februari 2026

PTS-M, Kendaraan Amfibi Khusus Korps Zeni Angkatan Darat Vietnam

15 Februari 2026

PTS-M yang dioperasikan oleh Wilayah Militer 3 dan Wilayah Militer 4 masih sering terlihat dalam latihan (photos: QDND)

Untuk mengangkut personel, peralatan militer, dan kendaraan bermotor ringan melintasi rintangan air, Korps Zeni Angkatan Darat Vietnam dilengkapi dengan kendaraan amfibi beroda rantai PTS-M yang diproduksi oleh Uni Soviet/Rusia.

Misi
PTS-M adalah kendaraan beroda rantai berukuran sedang khusus yang dirancang untuk mengangkut orang, sepeda motor, artileri, peralatan, dan kargo dengan berat kurang dari 10 ton melintasi rintangan air seperti sungai, aliran air, dan danau besar.


Dalam kondisi tertentu, PTS-M juga mampu berenang di laut, dan oleh karena itu juga dilengkapi untuk beberapa unit teknik angkatan laut atau unit pertahanan pulau.

Selain memiliki cadangan daya apung yang besar (hingga 60% saat membawa beban 10 ton), berkat mesinnya yang bertenaga, PTS-M memiliki kemampuan off-road yang baik, dapat bermanuver di berbagai jenis medan yang kompleks, dan dapat mengikuti formasi pasukan dengan dekat untuk memastikan penyeberangan sungai bila diperlukan.


Dengan dua landasan yang membuka dan menutup menggunakan mekanisme engkol tangan, kendaraan bermotor dapat dengan mudah mengakses platform kendaraan.

Peralatan standar pada kendaraan PTS-M meliputi lampu inframerah untuk pertempuran malam hari dalam kondisi cahaya redup, kompas (sangat berguna saat berenang di laut), peralatan komunikasi, alat pengukur radiasi, dan perangkat pelindung gelombang.


Selain itu, kendaraan ini dilengkapi dengan sistem pompa untuk digunakan jika terjadi masuknya air, memastikan kendaraan tetap beroperasi normal.

Spesifikasi Teknis
Muatan: Di darat: 5 ton; Di bawah air (untuk jarak di bawah 3 km): 10 ton.


Kapasitas angkut: Hingga 70 orang dengan perlengkapan pribadi lengkap atau hingga 12 tandu (dipasang pada kendaraan saat melakukan tugas medis, penyelamatan, atau bantuan); Awak operasi: 2 orang, termasuk 1 komandan dan 1 pengemudi.

Dimensi platform kendaraan (panjang x lebar): 7,9 x 2,6 m; Mesin: 350 tenaga kuda, bertenaga diesel; Kapasitas penarik kendaraan dengan dua baling-baling: 1.950 kg.


Kecepatan arus air yang dapat diatasi: hingga 2,5 m/s; Kemampuan melintasi gelombang: hingga level 4; Ketahanan angin: hingga 18 m/s; Kemampuan melintasi parit: hingga 2,5 m; Kemampuan melintasi dinding: hingga 0,65 m; Sudut pendekatan/pendaratan maksimum (dengan beban maksimum): 10°.

Kecepatan jelajah maksimum: Di jalan beraspal: hingga 40 km/jam; Di bawah air dengan beban 10 ton: 11 km/jam.

Jangkauan bahan bakar untuk operasi darat (dengan muatan 5 ton): hingga 500 km; Jangkauan bahan bakar untuk operasi bawah air (dengan muatan 10 ton): 15 jam.