29 Maret 2026

Anschütz Passes Critical Design Review for Hunter-class Navigation Systems

29 Maret 2026

Hunter class frigate (image: BAE Systems)

Anschütz has successfully passed the Critical Design Review (CDR) with its Warship Integrated Navigation and Bridge Systems (WINBSs) for the Royal Australian Navy’s Hunter Class Frigate Programme. This milestone confirms the maturity of the system design and marks the transition to the production and integration phase of the programme.

The CDR is a pivotal step in naval system development, validating that the design meets all technical and operational requirements. It ensures that the architecture, interfaces, safety features and integration pathways are robust and ready for implementation. For a complex and mission-critical system such as the WINBS, the CDR provides assurance to stakeholders that the system will perform reliably in demanding operational environments.

Anschütz is delivering the WINBS under a contract with BAE Systems Maritime Australia, the prime contractor for the Hunter Class Frigate Program. Close collaboration with the company and local partners has been instrumental in achieving this milestone and ensuring alignment with programme requirements.

Successful integration of Aegis Combat Management System
A key feature of Anschütz’s WINBS for the Hunter class is its integration with the Aegis combat system. This integration enables seamless distribution of validated navigational data across the ship, supporting tactical decision making and enhancing situational awareness. The interface between navigation and combat systems is essential for modern naval operations, where real-time data fusion and system interoperability are critical.

DBM Filipina Keluarkan Pendanaan untuk Kapal OPV dan LCU

29 Maret 2026

Filipina memesan 6 kapal OPV kelas BRP Rajah Sulayman (PS-20) (image: PDE)

Kapal Patroli Lepas Pantai/Offshore Patrol Vessel (OPV) Project
Modernisasi Angkatan Laut Filipina semakin diperkuat setelah Department of Budget and Management (DBM) mengeluarkan Surat Perintah Alokasi Khusus/Special Allotment Release Order (SARO) lainnya pada 23 Maret 2026 untuk Proyek Akuisisi Kapal Patroli Lepas Pantai (OPV).

Dana baru yang dialokasikan untuk proyek ini, yang dianggap sebagai pembayaran tonggak kelima, mencapai ₱5,79 miliar. Ini menunjukkan dukungan berkelanjutan pemerintah untuk pengembangan kemampuan angkatan laut kita.

Total dana yang telah dikeluarkan adalah ₱20,52 miliar dari total kontrak ₱30 miliar, atau hampir 75%. Ini berarti masih ada ₱9,48 miliar yang diharapkan akan dikeluarkan dalam beberapa tahun mendatang, yang difokuskan pada fase akhir proyek. Targetnya adalah menyelesaikan dan mengirimkan enam kapal pada tahun 2028.

Seiring berlanjutnya pendanaan, konstruksi dan pengiriman aktual juga terus berjalan. Kapal pertama, BRP Rajah Sulayman (PS-20), sudah beroperasi, sedangkan BRP Rajah Lakandula (PS-21) saat ini sedang menjalani uji coba laut dan akan segera dikirim ke negara ini. Meskipun kapal-kapal ini merupakan kapal multi-peran yang akan menggunakan peralatan misi dalam kontainer. Tiga dari kapal-kapal ini mungkin akan fokus pada peperangan anti-kapal selam dengan sonar array yang ditarik. (PDE)

LCU untuk kapal LPD (photo: Tesco)

Kapal Pendaratan Serbaguna (Landing Craft Utility/LCU)
Department of Budget and Management (DBM) mengeluarkan SARO (Special Allotment Release Order/Perintah Alokasi Khusus) untuk Proyek Akuisisi Kapal Pendaratan Serbaguna (LCU) Angkatan Laut Filipina pada Maret 2026.

Dengan nilai alokasi sebesar ₱320 juta, proyek ini sekarang memasuki fase pengadaan,  Angkatan Laut telah lama membutuhkan LCU untuk operasi amfibi dan logistik.

Berdasarkan berita sebelumnya, ini terkait dengan pembelian kapal yang lebih besar seperti LPD (Landing Platform Dock).

Pendanaan sebenarnya baru saja diamankan. Belum ada kontraktor resmi (belum melalui proses tender), tetapi ini adalah beberapa kandidat yang mungkin:
-Pembuat Kapal Lokal Filipina
Negara ini sudah memiliki preseden dalam membangun LCU (kelas Tagbanua). Kemungkinan membeli secara lokal atau membangun secara lokal + desain asing.

-Indonesia (PT PAL)
Membangun kapal kelas Tarlac dan kapal amfibi lainnya untuk Angkatan Laut. Salah satu kandidat terkuat karena kemitraan yang sudah ada.

(PDE)

RNZAF, Australian and US C-130J Hercules Crews Train Together in South Island Exercise

29 Maret 2026

RNZAF C-130J Hercules (photo: NZDF)

C-130J Hercules crews from New Zealand, Australia and the United States are conducting precision air mobility training in the skies above the upper South Island over the coming days.

The aircraft will be flying across the upper South Island, as Royal New Zealand Air Force (RNZAF) crews train alongside Royal Australian Air Force (RAAF) and United States Air Force (USAF) counterparts during Exercise Mobility Astra 2026.

The 10-day exercise, which began on Monday at Marlborough’s RNZAF Base Woodbourne, brings together C-130J Hercules aircraft and crews from all three nations to conduct scenario-based training focused on low-level navigation and targeted load drops.

USAF C-130J Hercules (photo: NZDF)

Working as a combined force, crews plan and execute missions to deliver cargo accurately onto designated drop zones, often within tight timeframes and confined landing areas. 

Success relies on close coordination between pilots, loadmasters and ground teams, where timing, communication and precision are critical.

Detachment Commander, Squadron Leader Adam Palmer, said the exercise provided valuable opportunities to strengthen how crews operate together.

RAAF C-130J Hercules (photo: RAAF)

“Training alongside RAAF and USAF partners, all operating the same aircraft, allows our crews to align procedures, share expertise, and work together to achieve different mission sets confidently when required."

Operating from Base Woodbourne introduced a different training environment, with terrain, weather and unfamiliar airspace adding complexity to each mission.

“The complex terrain surrounding Woodbourne presents crews with challenges they must overcome during mission planning, and we’ve had great support from local landowners to use their properties as drop zones,” Squadron Leader Palmer said.


For those involved, the exercise reflects the realities of operational flying, where crews must make decisions quickly while working closely as a team. 

“As detachment commander, what stands out is the high level of skill and professionalism of personnel from across the wider New Zealand Defence Force supporting Mobility Astra to deliver high-tempo flying operations from a deployed location,” he said.

“Mobility Astra allows everyone deployed to refine their skills and test their readiness to ensure we respond immediately and effectively when called upon.”

28 Maret 2026

Pesawat Airbus A400M (A-4002) Telah Mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta

28 Maret 2026

Airbus A400M A-4002 (photos: Airbus Defence)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah menempuh rute panjang memutar demi menghindari perang di kawasan Teluk, pesawat Airbus A400M Atlas akhirnya tiba di Indonesia. Pesawat Airbus A400M kedua pesanan Kementerian Pertahanan RI sudah mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (28/3/2026) sore WIB.

Pesawat transport dengan nomor registrasi A-4002 tersebut menempuh rute Sevilla di Spanyol ke St John di Kanada. Berikutnya pesawat terbang dan transit di Jepang. Kemudian, pesawat kedua TNI AU ini menyambang Lanud Johannes Abraham Dimara di Merauke, dan mampir di Lanud Anang Bursa (Tarakan), sebelum menuju tujuan terakhir di Jakarta.

Hal itu berbeda dengan penerbangan Airbus A400M (A-4001) yang menempuh rute dari Sevilla transit di Dubai (Uni Emirat Arab), dan Lanud Soewondo, Medan. Kedua pesawat A400M tersebut akan bergabung sebagai armada di Skadron Udara (Skadud) 31 Lanud Wing Udara 1 Lanud Halim Perdanakusuma.


Sebelumnya, Karo Infohan Setjen Kemenhan Brigjen Rico Ricardo Sirait memastikan kedatangan pesawat Airbus A400M dalam waktu tidak lama lagi. "Airbus A400 yang kedua akan tiba di akhir bulan Maret ini," ucap Rico singkat kepada Republika di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Adapun Kemenhan menandatangani kontrak pemesanan dua pesawat Airbus A400M Atlas untuk TNI AU dalam konfigurasi multirole tanker dan transport. Kontrak yang disaksikan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto tersebut ditandatangani di sela Dubai Airshow 2021.

Setelah itu, Kemenhan juga meneken Letter of Intent (LoI) untuk akuisisi empat A400M pada masa mendatang. Airbus A400M adalah pesawat multiperan yang dapat meningkatkan kemampuan taktis udara ke udara TNI AU.

Menhan Prabowo menjelaskan, pesawat angkut itu memainkan peran kunci dalam misi utama lainnya termasuk terjun payung dan transportasi kargo berat. "Selain kemampuan taktis dan udara ke udara, A400M akan menjadi aset nasional dan berperan penting untuk misi bantuan manusia dan tanggap bencana," kata Prabowo kala itu.

Pesawat KF-21 Produksi Pertama Diluncurkan

28 Maret 2026

Pesawat KF-21 produksi pertama dengan nomor ekor resmi RoKAF 26-001 (photo: KAI)

Korea Aerospace Industries (KAI) telah meluncurkan pesawat tempur generasi 4.5 KF-21 ‘Boramae’ produksi pertama, yang akan mulai beroperasi dengan Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) pada akhir tahun 2026.

Pesawat tersebut dipresentasikan di fasilitas produksi KAI di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan bagian tenggara, pada 25 Maret 2026. Pesawat produksi pertama, yang merupakan pesawat dua tempat duduk, memiliki nomor ekor resmi RoKAF 26-001.

Pesawat KF-21 mampu mencapai kecepatan maksimum Mach 1,8 dan membawa persenjataan hingga 7,7 ton. Setelah diserahkan kepada Angkatan Udara Korea Selatan (RoKAF), pesawat tersebut akan dikirimkan ke layanan pada paruh kedua tahun 2026, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional (MND) sebelumnya.


Janes sebelumnya melaporkan bahwa pembuatan pesawat produksi pertama dimulai pada Juli 2024. Unit tersebut mencapai tahap perakitan akhir pada Mei 2025, menurut KPN Korea Selatan.

Presiden Lee Jae-myung, yang menghadiri upacara peluncuran, mengatakan bahwa KF-21 telah menarik minat dari negara-negara lain di seluruh dunia bahkan sebelum peluncuran unit pertama. Ia menghubungkan minat eksternal tersebut dengan “kinerja pesawat, biaya perawatan yang rendah, dan skalabilitas platform rangka pesawat yang tinggi”.

Laporan media lokal menyebutkan bahwa Indonesia akan menandatangani kontrak untuk 16 pesawat KF-21 selama kunjungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Seoul dari 31 Maret hingga 2 April.

First Australian-built Boxer Combat Reconnaissance Vehicles Roll Off Assembly Line

28 Maret 2026

Australian‑built Boxer Combat Reconnaissance Vehicles (CRV) (photo: Aus DoD)

The Albanese Government is delivering on its commitment to deliver capabilities to the Australian Defence Force (ADF) at pace with the first batch of Australian‑built Boxer Combat Reconnaissance Vehicles (CRV) already rolling off the assembly line.

The first seven Boxers built at Rheinmetall Defence Australia’s facility at Redbank in Queensland have now been completed, marking a major milestone for our sovereign defence industry. A total of 211 Boxers will be built for the ADF under the partnership with Rheinmetall Defence Australia (RDA) that is boosting domestic supply chains and creating high-skilled jobs nationwide. This includes the 25 Boxer CRVs built in Germany and already in service with the Australian Army.

The partnership with RDA also underscores growing defence industry collaboration between Australia and Germany to deliver critical capabilities for both of our militaries. More than 50 Australian companies have been contracted to support RDA in delivering the new fleet of Boxers, providing work for more than 500 people around the country. 

In addition to these Boxers, RDA will also produce more than 100 Australian‑made Boxer Heavy Weapon Carrier vehicles for the German Army, in a contract worth more than $1 billion to the Australian economy. 

The partnership between Australia and Germany will see more than 100 Boxers exported to Germany (photo: Rheinmetall)

The Boxer is one of the world’s most advanced armoured vehicles – designed to keep soldiers safe in the toughest conditions. The new vehicles will provide superior protection, firepower and mobility, supporting new long-range strike capabilities that are protected and enabled by a credible, amphibious-capable combined arms land system. 

Boxer CRV variants include reconnaissance, command and control, joint fires and surveillance, repair, and recovery. The reconnaissance variant features a turret fitted with a 30mm automatic cannon and an anti‑tank guided missile system.

Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
“This announcement reflects the Albanese Government’s commitment to a future made in Australia that is providing superior protection and firepower to our ADF personnel but also supporting industry and creating jobs around the country.

“We proudly welcome the first seven Australian-built Boxer Combat Reconnaissance Vehicles, a world-class capability forged with Australian expertise and Australian steel to protect our soldiers on operations.

“Rheinmetall Defence Australia, their industry partners and a highly skilled Aussie workforce have partnered to deliver this home-grown capability for our ADF. But this partnership with Rheinmetall also shows how closely Germany and Australia are working together on critical military capabilities.”

27 Maret 2026

Rheinmetall Bidik Indonesia untuk Akuisisi Kendaraan Tempur Lynx KF41

27 Maret 2026

Panglima TNI ketika melihat dari dekat ranpur Lynx KF41 saat menghadiri Pameran Eurosatory 2024 di Paris (photo: TNI)

Perusahaan pertahanan Rheinmetall yang berbasis di Düsseldorf pertama kali memperkenalkan kendaraan tempur infanteri Lynx KF41 pada musim panas 2018. Perusahaan kini melihatnya sebagai "bintang" barunya dan mengantisipasi potensi pasar lebih dari 6.000 kendaraan dalam beberapa tahun mendatang, seperti yang diungkapkan dalam presentasi perusahaan di "Capital Markets Day".

Selama presentasinya pada 18 November, CEO Rheinmetall, Armin Papperger, menggambarkan kendaraan tersebut sebagai "bintang baru." Menurut daftarnya, perusahaan saat ini melihat peluang untuk kendaraan tersebut di delapan pasar, dua di antaranya telah dikembangkan: Hongaria dan Italia. Secara total, permintaan hingga 6.148 kendaraan Lynx tercantum – dengan AS dan Italia saja menyumbang hampir 5.000 kendaraan.

KF41 adalah penerus Infantry Fighting Vehicle "Marder" yang juga dimiliki TNI AD (photo: Rheinmetall)

Papperger tidak memberikan informasi mengenai jangka waktu spesifik atau probabilitas potensi pasar masing-masing. Meskipun demikian, tampaknya ia membuat dua kesalahan. Pada suatu saat, ia salah menyebut Indonesia dengan Polandia. Lebih jauh lagi, ia menyatakan bahwa kontrak pengadaan pesawat Lynx telah ditandatangani di Rumania. Pernyataan ini kemudian dikutip oleh kantor berita Bloomberg dan selanjutnya dibantah oleh pemerintah Rumania.

Lynx KF41
Rheinmetall pertama kali mempresentasikan Lynx KF41 secara publik pada Juni 2018 di Eurosatory di Paris. Sejauh ini, hanya Hongaria dan Italia yang telah memutuskan untuk membeli kendaraan tempur infanteri berbasis platform ini untuk angkatan bersenjata mereka sendiri.

Potensi pasar untuk 6.000 KF41 Lynx di seluruh dunia (infographic: Rheinmetall)

Kendaraan seberat lebih dari 40 ton ini ditenagai oleh mesin diesel Liebherr D9612 12 silinder 1.140 hp dan transmisi Renk. Kendaraan tempur infanteri Lynx dilengkapi dengan turret berawak "Lance 2.0" berawak yang dipersenjatai dengan meriam 30 mm MK 30-2/ABM. Kendaraan ini juga dapat dilengkapi dengan peluncur terintegrasi untuk sistem rudal anti-tank berpemandu Spike LR2. Dengan volume interior yang besar, Lynx menawarkan ruang untuk tiga awak dan satu regu infanteri dengan kekuatan penghantaran hingga sembilan tentara. Menurut publikasi Angkatan Bersenjata Hongaria, dimensi eksternal kendaraan ini juga cukup besar: tinggi 3,73 m, panjang 8,49 m, dan lebar 3,8 m.

Pada September 2020, Kementerian Pertahanan Hongaria memberikan kontrak kepada Rheinmetall untuk pengiriman kendaraan tempur infanteri Lynx dan layanan terkait senilai lebih dari dua miliar euro. Selain varian kendaraan tempur infanteri dan kendaraan komando Lynx yang sudah ada, kendaraan masa depan akan mencakup varian lebih lanjut: Selain kedua varian ini, Hongaria juga berencana untuk memperkenalkan varian pengintaian, kendaraan mortir, kendaraan identifikasi target, varian evakuasi medis, dan akhirnya kendaraan pelatihan pengemudi berdasarkan varian Lynx KF41. Hungaria juga sedang mengerjakan pengembangan varian baru Lynx, yang dipersenjatai dengan turet Skyranger 30 buatan Rheinmetall, yang kontrak pengembangannya diberikan pada tahun 2023.

Rincian potensi pasar untuk 6.000 KF41 Lynx di seluruh dunia (infographic: Hartpunkt)

Pada awal November 2025, Italia mengikuti jejak Hungaria dengan memesan batch awal 21 kendaraan tempur infanteri Lynx melalui Leonardo Rheinmetall Military Vehicles, sebuah usaha patungan 50:50 antara Leonardo dan Rheinmetall. Pengiriman kendaraan pertama dijadwalkan akan dimulai pada akhir tahun 2025. Menurut informasi terkini, angkatan bersenjata Italia berencana untuk membeli lima varian berbeda dari Lynx, yang dimaksudkan untuk memenuhi 16 peran berbeda. Varian berikut telah disebutkan: dengan meriam 120mm sebagai tank tempur utama ringan, dengan meriam 30mm (dengan turet HITFIST-30 tanpa awak), sebagai pembawa mortir (Nemo), sebagai kendaraan anti-pesawat (Skyranger), dan tanpa turet. Leonardo akan memasok tidak hanya menara Hitfist tanpa awak dengan meriam X-Gun 30×173mm bertenaga listrik, tetapi juga sistem C4I, sensor elektro-optik dan radar, serta teknologi radio.