18 Mei 2026

Delegasi Thailand Meninjau Produksi Pesanan Pesawat Gripen E/F ke Swedia

18 Mei 2026

Delegasi Thailand dipimpin Panglima Angkatan Udara Kerajaaan Thailand (RTAF) mengunjungi produksi Gripen E/F pesanan Thailand (photos: RTAF)

Marsekal Udara Seksan Kantha, Panglima Tertinggi Angkatan Udara Kerajaan Thailand dan Ketua Komite Eksekutif Proyek Gabungan Thailand-Swedia di tingkat pemerintah, bersama dengan Komite Eksekutif Proyek Pengadaan Pesawat Tempur/Serang Pengganti Fase 1 (Gripen E/F), memantau kemajuan produksi di Pangkalan Udara Saab di Linköping, Kerajaan Swedia.


Pesawat Gripen E/F yang akan dibeli oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand telah memasuki jalur produksi. Mereka juga mengunjungi Simulator Gripen E/F dan menerima informasi tentang peningkatan kemampuan SAAB 340 AEW, yang akan ditingkatkan ke model AEW&C di masa mendatang.


Pada kesempatan ini, mereka mengadakan diskusi tingkat tinggi dengan Mr Lars Tossman, Wakil Presiden Senior dan Kepala Bidang Bisnis Penerbangan, Saab AB, untuk menindaklanjuti kemajuan, dengan fokus pada pengendalian mutu yang ketat dan pengawasan proses produksi di setiap tahap, mengelola proyek dengan transparan, dan membangun kepercayaan maksimal di antara masyarakat Thailand.


Selain pengadaan pesawat tempur berkinerja tinggi, Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga sangat mementingkan kebijakan offset impor untuk peralatan militer melalui transfer teknologi canggih. 


Ini bukan hanya tentang mengembangkan kemampuan udara, tetapi juga tentang memperluas potensi personel dan meletakkan fondasi yang kuat bagi industri pertahanan negara di masa depan.

17 Mei 2026

Hanwha Luncurkan Pengembangan Rudal Udara-ke-Udara Jarak Jauh

17 Mei 2026

Konsep desain Rudal Udara-ke-Udara Jarak Jauh (LRAAM) Korea Selatan (photo: Jane's)

Hanwha Aerospace sedang melanjutkan pengembangan rudal udara-ke-udara jarak jauh/long-range air-to-air missile (LRAAM) Korea Selatan, yang dimaksudkan untuk memiliki kinerja yang sebanding dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh MBDA Meteor (BVRAAM), kata juru bicara perusahaan.

Rudal ini dimaksudkan untuk menggantikan Meteor yang digunakan oleh Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) setelah berhasil diselesaikan, kata juru bicara tersebut kepada Janes.

Model konsep LRAAM yang dipamerkan oleh perusahaan di Aerospace and Defense Exhibition Seoul (ADEX) pada Oktober 2025 menunjukkan rudal berbadan sempit dengan dua saluran masuk udara motor ramjet asimetris. Meskipun secara visual mirip dengan Meteor BVRAAM, konsep ini menampilkan sirip stabilisasi pada saluran masuk udara, elemen desain yang tidak ada pada Meteor.

Konsep desain Rudal Udara-ke-Udara Jarak Jauh (LRAAM) Korea Selatan (image: IDA)

Agency for Defense Development  Korea Selatan (ADD) memimpin pengembangan LRAAM. “Pengembangan rudal itu sendiri merupakan program yang dipimpin pemerintah yang dijadwalkan berlangsung dari tahun 2026 hingga 2033, di mana Hanwha Aerospace akan berpartisipasi,” kata juru bicara Hanwha Aerospace.

Namun, program tersebut akan memanfaatkan penelitian Hanwha Aerospace dalam teknologi propulsi ramjet. Menurut juru bicara tersebut, perusahaan memulai penelitian dan pengembangan (R&D) awal dalam propulsi ramjet saluran – termasuk propelan, generator gas, dan ruang bakar – pada tahun 2005. Juru bicara tersebut menambahkan bahwa rudal tersebut akan ditenagai oleh mesin ramjet saluran berbahan bakar padat.

Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) pertama kali mengumumkan program rudal tersebut pada April 2024. Pada saat itu, tujuannya adalah untuk memulai program senilai 1,57 triliun won Korea (1 miliar dolar AS) pada tahun 2025 dan menyelesaikan pengembangannya pada tahun 2038. Namun, Janes memahami bahwa program tersebut dimulai pada awal tahun 2026 setelah mendapat persetujuan dari Defense Acquisition Program Committee, yang beroperasi di bawah DAPA, pada September 2025.

Awal Hingga Akhir, Perjalanan OV-10 Bronco di Langit Indonesia

17 Mei 2026

OV-10F Bronco TNI AU (photo: TNI AU)

OV-10 Bronco merupakan pesawat tempur ringan bermesin ganda dengan baling-baling, buatan North American Rockwell. Dirancang khusus untuk misi Counter Intergency atau anti gerilya, pesawat ini dikenal memiliki karakter lincah dan responsif, menjangkau jarak yang relatif jauh, serta unggul dalam efisiensi dan keandalan di berbagai kondisi operasi.

Dengan kecepatan sekitar 560 km/jam, daya angkut hingga 3 ton dan jaya jelajah lebih dari tiga jam, serta didukung visibilitas kokpit yang luas, kemampuan operasi di landasan pendek, termasuk landasan rumput, dan biaya operasional rendah, OV-10 Bronco sangat fleksibel untuk berbagai misi.

Indonesia mendatangkan pesawat ini sebanyak 16 unit secara bertahap antara tahun 1976 hingga 1977 untuk menggantikan peran P-51D Mustang.

OV-10F Bronco TNI AU (photo: TNI AU)

Dari segi persenjataan OV-10 Bronco dilengkapi empat senapan mesin kaliber 7,62 mm dan mampu membawa persenjataan eksternal hingga sekitar 750 kg, mulai dari bom 100-250 kg, hingga peluncur roket FFAR.

Kemampuan tersebut kemudian ditingkatkan oleh Indonesia dengan mengganti senapan mesin M60 kaliber 7,62 mm menjadi 12,7 mm, sebuah langkah progresif yang semakin memperkuat daya tempur pesawat bermesin ganda ini.

Awal kedatangannya pesawat ini menggunakan registrasi "S" atau Serang dan pada tahun 1979 diubah menjadi "TT" atau Tempur Taktis sesuai dengan perannya. Sejalan dengan pegadaannya, para penerbang dan teknisi juga diperispkan melalui pendidikan di Amerika Serikat.

OV-10F Bronco TNI AU (photo: DCS Indonesia)

Dalam perjalanannya, OV-10 Bronco menjadi kekuatan utama Skadron Udara 3 yang ber-home base di Lanud Abdulrahman Saleh. Seiring masuknya F-16 Fighting Falcon pada tahun 1989, pesawat ini kemudian ditetapkan sebagai Unit OV-10 Bronco pada 1 Mei 1990.

Selanjutnya, dengan diaktifkannya kembali Skadron Udara 1 pada 18 Desember 1990, OV-10 Bronco menjadi bagian dari kekuatan skadron tersebut hingga datangnya pesawat Hawk 100 dan 200 di tahun 1999.

Pada 18 Agustus 2004, pimpinan TNI AU melikuidasi Unit OV-10 Bronco dan mengaktifkan kembali Skadron Udara 21 dengan kekuatan pesawat OV-10 Bronco.

OV-10F Bronco TNI AU (photo: Museum Soesilo Soedarman)

Di lingkungan TNI AU, pesawat ini dikenal dengan dua julukan khas: "Kuda Liar" dan "Si Kampret". Julukan tersebut mencerminkan karakteristiknya yang tangguh, agresif, serta mampu terbang rendah dengan lincah dan gesit dalam menjalankan misi tempur taktis.

Sepanjang masa tugasnya, OV-10 Bronco terlibat dalam berbagai operasi dan latihan. Pada tahun 2007, pesawat ini resmi digrounded karena faktor usia, perannya digantikan EMB-314 Super Tucano.

Meski telah dinonaktifkan, jejak perjalanan OV-10 Bronco terpatri abadi di berbagai monumen dan museum, menjadi pengingat atas pengabdian panjangnya dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia, diantaranya di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Australia and Norway Sign MoU for Missile Manufacturing

17 Mei 2026

HMAS Sydney fires Royal Australian Navy’s first Naval Strike Missile during a SINKEX off the coast of Oahu, Hawaii as a part of Exercise Rim of the Pacific (RIMPAC) 2024 (photos: Aus DoD)

Albanese Government signs Defence MOU with Norway, helping make Australia more self reliant and boosting regional security

The Albanese Government has signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Norwegian government, to further support the acquisition and domestic manufacturing of missiles in Australia.

The multilateral arrangement will enhance information sharing and collaboration between Australia, Norway and 10 other countries that use the Naval Strike Missile and Joint Strike Missile, which are developed by Norwegian defence company Kongsberg. The arrangement will support Australia to become a regional missile production hub.  

The Strike Missile Family MoU supports Australia’s efforts to acquire, manufacture and maintain the Naval Strike Missile and Joint Strike Missile, in line with the 2026 National Defence Strategy and 2024 Australian Guided Weapons and Explosive Ordnance Plan. 

The Albanese Government is investing up to $850 million to enable Australia to locally manufacture and maintain the Naval Strike Missile, Joint Strike Missile and priority missile components. This includes the construction of a new missile factory in Newcastle, which will be able to produce missiles for the Australian Defence Force and partner nations from 2027. 

These initiatives form part of the Albanese Government’s investment of up to $36 billion over the decade to accelerate the acquisition and manufacture of longer-range munitions in Australia, in line with the 2026 Integrated Investment Program.

Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:

“The Albanese Government is investing up to $36 billion over the next decade to make missiles in Australia and uplift our weapons stocks, making our nation more self-reliant and resilient.

“This arrangement will support local jobs and a defence future made in Australia by enabling domestic manufacturing through cooperation with international partners.”

(Aus DoD)

16 Mei 2026

FNSS dan CSG Meluncurkan Tank Medium CFL-120 Karpat

16 Mei 2026

Tank Medium CFL-120 Karpat mempunyai bobot tempur 34 ton (Kaplan 105MT bobot tempur 30-32,5 ton), meriam 120 mm laras halus (smoothbore) dengan jarak tembak 4 km dan daya mesin 20,9 hp/tonne (all photos: FNSS)

FNSS dan CSG telah meluncurkan Tank Medium CFL-120 Karpat untuk pertama kalinya di IDEB 2026 sekaligus mengumumkan kerja sama strategis yang berfokus pada pengembangan dan produksi bersama platform lapis baja generasi berikutnya untuk pasar Eropa dan internasional.


Menggabungkan keahlian FNSS yang telah terbukti dalam kendaraan lapis baja beroda rantai, kemampuan industri CSG di Slovakia, dan teknologi turet HITFACT® MkII dari Leonardo, CFL-120 Karpat menyatukan mobilitas, daya tahan, daya tembak, dan kemampuan adaptasi misi untuk memenuhi kebutuhan medan perang modern yang terus berkembang.


Berdasarkan platform KAPLAN MT, tank medium generasi baru ini dirancang untuk memberikan daya tembak setara tank tempur utama dengan fleksibilitas operasional yang ditingkatkan dan beban logistik yang lebih rendah.

Kemenko Polkam Pastikan Kesiapan PT MPI Dukung Kebutuhan Munisi Nasional

16 Mei 2026

Fasilitas produksi munisi di PT MPI di kabupaten OKI, Sumsel (photos: Polkam, MPI)

Polkam, Ogan Komering Ilir – Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) memastikan kesiapan operasional PT Multipar Pertahanan Indonesia (MPI) dalam mendukung pemenuhan kebutuhan munisi nasional melalui peninjauan langsung fasilitas produksi munisi kaliber 5,56 mm di kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada Kamis (7/5/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin oleh Kolonel Cke Edi Surohmat S.T.B., M.Sc. selaku Kepala Bidang Kerja Sama Pertahanan (Kabid Kermahan), yang mewakili Asisten Deputi Bidang Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan.
\

Dalam sambutannya, Kabid Kermahan menegaskan pentingnya peran Kemenko Polkam dalam membangun fungsi koordinasi dan sinkronisasi kebijakan di bidang penguatan industri pertahanan nasional, sebagai bagian dari upaya penguatan kekuatan, kemampuan, dan kerja sama pertahanan.

“Kunjungan ini dilakukan untuk melihat langsung kesiapan fasilitas dan kapasitas PT MPI sebagai bagian dari ekosistem industri pertahanan nasional; memperoleh gambaran terkait peluang, tantangan, dan kebutuhan dukungan kebijakan guna pengembangan industri pertahanan ke depan,” ujar Edi.


Pembangunan pabrik amunisi PT MPI berawal dari pengalaman perusahaan sebagai mitra TNI dan Polri dalam pengadaan senjata serta amunisi ringan sejak 2009, termasuk menjalin kerja sama dengan sejumlah produsen luar negeri.

Selain itu, kehadiran pabrik tersebut turut didukung oleh terbitnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kebijakan Kementerian Pertahanan RI yang memberikan ruang bagi sektor swasta untuk membangun industri amunisi di pulau-pulau besar di luar Pulau Jawa.


Dalam hal ini, Kemenko Polkam memandang pengembangan industri pertahanan perlu berjalan sejalan dengan kebijakan strategis nasional. Karena itu, dibutuhkan sinergi antar lembaga serta koordinasi lintas sektor yang lebih kuat agar kapasitas industri pertahanan nasional dapat dimanfaatkan secara maksimal guna mendukung kepentingan pertahanan negara.

“Kami berharap pengembangan industri pertahanan nasional tidak hanya memperkuat kemandirian alutsista, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem industri yang terintegrasi, berdaya saing, dan mendukung kepentingan strategis nasional,” tambah Edi.

Hyundai Undang Media Dalam Rangka Pengajuan Fregat HDF 4000 untuk Thailand

16 Mei 2026

Fregat HDF 4000 yang diajukan untuk Angkatan Laut Thailand mempunyai panjang 129m dan displacement 4.000 ton (photo: HHI)

Hyundai Heavy Industries (HHI), salah satu dari enam perusahaan dari empat negara dan salah satu dari hanya dua perusahaan Korea yang mengajukan penawaran untuk proyek pembangunan kapal frigat Angkatan Laut Kerajaan Thailand pada tahun 2026 (dengan anggaran 17 miliar baht), membuka galangan kapal dan fasilitasnya untuk tur media Thailand.

Galangan kapal HHI, yang membentang lebih dari 9,3 juta meter persegi (lebih dari 5.000 rai), adalah fasilitas canggih yang mampu membangun kapal besar. Satu kapal per minggu, lebih dari 50 kapal per tahun. Sejak tahun 1972, HHI telah membangun lebih dari 5.000 kapal untuk berbagai negara di seluruh dunia, dengan target membangun 108+ kapal per tahun. HHI membangun kapal komersial dan kapal perang, dan Galangan Kapal Angkatan Lautnya telah membangun kapal untuk Angkatan Laut Korea. Armada tersebut mencakup 8 kapal perusak, 19 fregat, 40 kapal patroli lepas pantai (OPV), dan 9 kapal selam.


Untuk pertama kalinya HHI mengungkapkan informasi tentang fregat HDF 4000 TH, yang telah diusulkan untuk dipertimbangkan oleh Angkatan Laut Kerajaan Thailand. Wakil Presiden Senior, Bapak Sangbong Lee, Kepala Desain Kapal di HHI, menyatakan bahwa kapal tersebut dikembangkan dari fregat Kelas Chungnam dan Kelas Ulsan, dan dari FFX Batch III 3600 Kelas Chungnam yang dibangun untuk Angkatan Laut Peru. Pengembangan ini didasarkan pada peningkatan berkelanjutan yang dilakukan oleh HHI untuk Angkatan Laut Korea Selatan, menggabungkan dan mengadaptasi desain yang ada untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Kerajaan Thailand, menghasilkan "HDF 4000 TH," atau Frigat Hyundai 4000 Thailand.

Bukan radar putar
Sementara itu, Manajer Senior Brian Kwon, Pemimpin Tim Pemasaran & Penjualan - Timur Tengah & Asia, menyatakan bahwa HHI bertujuan untuk memodernisasi Angkatan Laut Kerajaan Thailand sejalan dengan Visi Global 2030 plus, yang tercermin dalam kapal-kapal dari banyak negara. Amerika Serikat, misalnya, tidak lagi menggunakan radar putar tetapi telah beralih ke radar multifungsi (MFR), terutama 4 Radar Multifungsi Panel Tetap (fixed-face) seperti: AS: Constellation; Korea: FFX-Batch III, FFX-Batch V; Jepang: Mogami; India: Nilgiri; Australia: Hunter; Israel: SRRA; Jerman: F125, F126; Polandia: Miecznik; Spanyol: F110; dan Prancis: FDI. 

Kunjungan media Thailand ke pabrik Hyundai Heavy Industry, Korea Selatan (photos: SiamRath)

HHI telah mengusulkan pemasangan sistem radar ini dari LIG Korea Selatan pada fregat HDF 4000 TH yang akan dibangun untuk Angkatan Laut Kerajaan Thailand. Yang penting, mereka juga akan memasang sistem pertahanan udara, khususnya Barak dari Israel, untuk diselaraskan dengan sistem Angkatan Udara Kerajaan Thailand, yang telah mereka kontrak tahun lalu. Hal ini karena fregat baru tersebut perlu diintegrasikan dengan sistem pertahanan udara Angkatan Udara Kerajaan Thailand, termasuk pesawat, kendaraan, dan sistem berbasis jaringan.

Mengenai pembuatan kapal, HHI bertujuan untuk "membangun kemampuan Anda" dalam pembuatan kapal. Kapal tersebut tidak akan dibangun sepenuhnya di Thailand, tetapi di Thailand dan Korea Selatan. Konstruksi akan dimulai pada Hari 1 di Thailand terlebih dahulu.

HHI menegaskan bahwa memasang sistem senjata, sistem manajemen tempur, dan sistem lain yang berkualitas tinggi, dari Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa, semuanya memenuhi standar NATO, pada kapal yang sama. (SiamRath)

Kunjungan media Thailand ke pabrik LIG Defense & Aerospace, Korea Selatan (photos: Sompong N)

Delegasi media Thailand mengunjungi pabrik LIG, produsen radar multifungsi, sistem manajemen tempur, dan sistem peperangan elektronik untuk fregat HDF 4000 TH

Sebuah delegasi media Thailand mengunjungi LIG Defense & Aerospace di Gumi, Korea Selatan pada 13 Mei 2026, untuk menilai kemampuan LIG terkait dengan proyek pengadaan fregat Angkatan Laut Kerajaan Thailand yang sedang berlangsung.

Jun Hong, General Manager Asia dan Oceania (Australia dan Selandia Baru) Business di LIG, mempresentasikan dan melakukan tur pabrik yang menampilkan tiga produk yang dipasang pada fregat HDF 4000 TH yang ditawarkan kepada Angkatan Laut Kerajaan Thailand: radar multifungsi, sistem manajemen tempur, dan sistem peperangan elektronik.

Radar multifungsi SPY 200k LIG adalah radar AESA 4 sisi digital sepenuhnya, yang menjanjikan solusi radar yang andal dan kuat untuk Angkatan Laut Kerajaan Thailand. 

Dibandingkan dengan radar putar 3D tradisional, radar multifungsi ini menggunakan modul TR berkinerja tinggi, yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bertahan hidup dan kesiapan operasional kapal. Delegasi media Thailand juga mengunjungi pabrik yang memproduksi berbagai jenis radar dan radar AESA, beserta fasilitas terkait. 


Mengenai sistem CMS, perusahaan tersebut mendemonstrasikan integrasi berkelanjutan dengan sistem sensor dan penembakan, memanfaatkan kemampuan integrasi sistem tempur HHI yang andal. Hal ini disebabkan oleh kerja sama strategis kedua perusahaan tidak hanya di pasar domestik tetapi juga dalam proyek pengadaan fregat angkatan laut asing. 

Lebih lanjut, LIG ​​menunjukkan kemauan yang besar untuk menawarkan kompensasi atau transfer teknologi yang luas, dengan mempertimbangkan penyediaan keahlian CMS yang memadai untuk industri domestik, yang mengarah pada pengembangan bersama untuk produksi domestik.

Terakhir, sistem EW yang dipasang di kapal LIG tampaknya telah terbukti oleh angkatan laut Korea Selatan dan internasional, mampu menangkal ancaman drone.  Kunjungan juga dilakukan ke fasilitas terkait EW. (Sompong Nondhasa)