08 September 2026

Super Garuda Shield: Joint Land Strike

08 September 2026

AH-64E Apache from TNI and US Army on Joint Land Strike during Super Garuda Shield 2026 (photos: Garuda Shield, Antara)

U.S. Army, Indonesian Air Force and Australian Terminal Attack Controllers conducted a multi-day, Joint Land Strike exercise during Super Garuda Shield 25 in Baturaja, Indonesia.

The Joint Land Strike underscores continued partnership and interoperability amongst the partner nation forces. (Garuda Shield)


TNI, US Army conduct night flight training
Jakarta (ANTARA) - Pilots from the Indonesian National Armed Forces (TNI) and the US Army conducted joint night flight training as part of the massive Super Garuda Shield 2026 exercises.

Operating side-by-side in Boeing AH-64 Apache combat helicopters, the TNI and US Army pilots executed complex tactical maneuvers and target engagements under cover of darkness at the Indonesian Army Training Center in Martapura, South Sumatra, on Wednesday (September 2).


According to a press statement released Friday by the TNI Headquarters Information Center, the nocturnal exercise targeted low-light combat proficiency and joint operational capability.

Military officials confirmed the flight drills were completed smoothly without incident, adhering strictly to international flight safety protocols.

The night flight training is aimed at honing individual pilot proficiencies while fostering technical cooperation and tactical knowledge exchange between the two armed forces.


The 2026 iteration of Super Garuda Shield involves 4,743 personnel from 21 participating and observing countries, aimed at testing operational readiness, strengthening defense diplomacy, and improving joint responses to regional security challenges.

Speaking earlier in Bandung, West Java, TNI Commander General Agus Subiyanto detailed the expanding international scope of the training program, which encompasses 12 specialized defense topics.


"Super Garuda Shield is held annually in Indonesia. This year, 21 countries participated... covering 12 topics,” Gen. Subiyanto stated.

The multi-week multinational exercise spans major strategic hubs across the archipelago, including training areas in Jakarta, Bandung, Lampung, North Kalimantan's Nunukan region, and the Baturaja combat center in South Sumatra.


Participating forces include troops and observers from Australia, Brazil, Brunei Darussalam, Cambodia, Canada, France, Germany, India, Italy, Japan, Laos, the Netherlands, New Zealand, Singapore, South Korea, Thailand, Timor-Leste, the United Kingdom, the United States, Vietnam, and host nation Indonesia.

Super Garuda Shield 2026 is scheduled to formally conclude in Jakarta on September 11.

PCG, Spain Explore Maritime Cooperation, Modernization, and Training Exchanges

08 September 2026

Officials from Airbus Defense and Space and the Spanish Embassy proposed C-295 maritime surveillance aircraft for the PCG (photo: PCG)

The Philippine Coast Guard (PCG) welcomed the Economic and Commercial Counsellor of the Embassy of Spain, Mr. John MacDonald, with Airbus Defence and Space representatives, through a courtesy visit at the PCG National Headquarters in Port Area, Manila, on September 2, 2026. 

Mr. MacDonald’s visit focused on opportunities for cooperation in support of the PCG’s ongoing modernization program. Among those are potential capability acquisitions, technological partnerships, and the exchange of expertise in maritime capabilities and infrastructure.

Both sides explored opportunities for training and capacity-building programs, including personnel exchanges, to improve the technical skills, professional competence, and operational readiness of PCG personnel.

The meeting also discussed the possible establishment of a Memorandum of Cooperation (MOC) between the PCG and its Spanish maritime counterpart. The proposed MOC would build on the existing bilateral framework between the Philippines and Spain and strengthen cooperation through knowledge-sharing, best-practice exchanges, and long-term maritime collaboration.

The visit reaffirmed the shared commitment of the PCG and Spain to strengthening maritime cooperation, developing capabilities, and enhancing personnel training for a safer, more secure, and resilient maritime domain.

(PCG)

Vietnam Sedang Bernegosiasi untuk Membeli Jet Tempur Rafale dari Prancis

08 Agustus 2026

Pesawat tempur Dassault Rafale (photo: Philippe Amiel)

Setelah berpuluh-puluh tahun terutama menggunakan jet tempur buatan Uni Soviet dan Rusia, Vietnam dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi lain: jet tempur multiperan Rafale yang diproduksi oleh perusahaan Prancis, Dassault Aviation.

Menurut majalah Prancis L'Express, pembicaraan antara Vietnam dan Prancis telah berkembang cukup jauh; salah satu indikasi pentingnya adalah laporan bahwa seorang pilot Vietnam dijadwalkan akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan uji terbang Rafale pada Februari 2026.

Baru-baru ini, muncul pula laporan bahwa Vietnam sedang mempertimbangkan pembelian jet tempur F-16 dari Amerika Serikat, meskipun belum ada pengumuman resmi terkait hal tersebut.

Pilot Vietnam uji terbang Rafale
Menurut sumber berita Prancis, para ahli pertahanan menyatakan bahwa pemberian izin bagi pilot asing untuk melakukan uji terbang jet tempur selama proses penjualan biasanya terjadi setelah calon pembeli melewati tahap kontak awal dan memasuki tahap evaluasi teknis serta operasional.

Estimasi dari sumber terbuka menunjukkan bahwa kesepakatan ini dapat mencakup sekitar dua skuadron, atau 24 hingga 40 pesawat, dengan nilai total antara 4 hingga 6 miliar dolar AS. Pesawat pertama diperkirakan dapat dikirimkan antara tahun 2028 dan 2030.

Namun, baik pemerintah Vietnam maupun produsen pesawat asal Prancis tersebut belum memberikan konfirmasi secara terbuka mengenai kesepakatan Rafale ini.

Prancis sebelumnya pernah mengerahkan Rafale ke Vietnam sebagai bagian dari penerbangan pengerahan Angkatan Udara Prancis.

Menurut Kementerian Pertahanan Prancis, pada tahun 2018, tiga pesawat Rafale milik Angkatan Udara Prancis mendarat di Bandara Noi Bai, Hanoi, sebagai bagian dari operasi PEGASE Prancis di kawasan Asia-Pasifik.

Vietnam sedang bernegosiasi untuk 2 skuadron Rafale atau sekitar 20-40 unit (photo: Krystian Wilusz)

Migflug, sebuah perusahaan yang berbasis di Swiss dan berspesialisasi dalam uji terbang jet tempur, berkomentar bahwa hal ini bukan sekadar keputusan pembelian, melainkan juga mencerminkan arah kebijakan yang dipilih Vietnam.

Dengan demikian, pemilihan Rafale berarti Vietnam untuk pertama kalinya memasukkan jet tempur buatan Barat ke dalam kekuatan tempur utamanya (tidak termasuk pesawat rampasan dari Perang Vietnam yang kini sudah dipensiunkan), sehingga mendiversifikasi pasokan persenjataannya alih-alih terlalu bergantung pada Moskow.

Risiko ketergantungan berlebih pada persenjataan buatan Rusia - yang semakin nyata sejak pecahnya perang di Ukraina - dianggap sebagai faktor kunci yang mendorong Hanoi untuk memperkuat strategi diversifikasinya. Selain itu, tekanan geopolitik di Laut China Selatan kian meningkat.

Menurut Reuters, China tengah meningkatkan kemampuan militernya dengan pesat dan telah mengerahkan pesawat tempur serang J-16, pesawat tempur siluman J-20, pesawat pengebom H-6, pesawat angkut Y-20, serta pesawat peringatan dini KJ-500 untuk beroperasi di berbagai wilayah perairan, termasuk wilayah yang diklaim oleh Vietnam atau berada di bawah yurisdiksinya. Menurut para pengamat, hal ini segera mendorong Hanoi untuk berupaya memodernisasi angkatan udaranya.

Armada pesawat tempur Rusia yang dimiliki Vietnam kini sudah mulai menua.
Saat ini, armada pesawat tempur Vietnam sebagian besar terdiri dari model Sukhoi buatan Rusia.

Sumber data pertahanan publik menyajikan angka yang sedikit berbeda, namun secara umum menunjukkan bahwa Vietnam saat ini memiliki sekitar 35 unit Su-30MK2, serta sekitar 5-10 unit Su-27 dan 25-30 unit Su-22 yang masih beroperasi. Di antara pesawat-pesawat tersebut, Su-30MK2 merupakan pesawat tempur multiperan paling modern milik Vietnam.

Vietnam mulai menerima Su-30MK2 pada tahun 2004 dan telah membeli total 36 unit, namun satu unit jatuh dalam kecelakaan pada tahun 2016, sehingga menyisakan 35 unit. Sementara itu, Vietnam membeli Su-27 pada pertengahan tahun 1990-an.

Su-22 bahkan jauh lebih tua lagi. Pesawat ini merupakan varian yang dikembangkan dari seri Su-17, yang mulai digunakan oleh Uni Soviet pada tahun 1970-an.

Beberapa pesawat yang lebih tua telah menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketergantungan yang terus-menerus pada model pesawat yang sudah tua menimbulkan kekhawatiran terkait pemeliharaan, suku cadang, serta kemampuan untuk mempertahankan efektivitas tempur dalam jangka panjang.

07 September 2026

New Fighting Vehicles Tested at Sea

07 September 2026

AS21 Redback IFV, AS9 Huntsman SPH and AS10 armoured ammunition resupply vehicle were loaded on landing craft and HMAS Canberra (photos: Aus DoD)

Huntsman and Redback armoured vehicles took part in sea trials on and around Garden Island, Sydney Harbour, in July.

The next-generation AS21 Redback infantry fighting vehicle, AS9 Huntsman self-propelled howitzer and AS10 armoured ammunition resupply vehicle were loaded on and off HMAS Canberra and her landing craft.


Project Director for LAND 400 Phase 3 (infantry fighting vehicles), Col Marek Janiszewski, said the trials proved the deployability and interoperability of the new vehicles.

“These trials have demonstrated that the vehicles are able to undertake littoral operations,” Col Janiszewski said.


He said the testing showed the vehicles were optimised for littoral operations and were able to be projected into the region.

Introduction of the new vehicles is part of the largest recapitalisation of capability for the Army since World War II, with significant investment in littoral vessels, long-range fires and battlefield aviation.


Col Janiszewski said the Redback was one of the most lethal, modern and best-protected infantry fighting vehicles available, and a major uplift in capability for the combined arms land system.

“We are stepping forward in leaps and bounds with a new upgraded system to provide our soldiers the best ability to fight, succeed at their missions and come home safely to their families,” he said.


The first Australian-made Redbacks are expected to roll off the production line next year.

8 dari 20 jet F-35 Singapura akan Ditempatkan di Pangkalan Udara Tengah, Sisanya di AS

07 September 2026

Tengah AFB, Singapore (image: GoogleMaps)

SINGAPURA – Pembelian 20 jet tempur siluman F-35 beserta peralatan terkait oleh Singapura menelan biaya sebesar US$4,06 miliar (S$5,17 miliar), menurut laporan Departemen Pertahanan AS.

Ini merupakan pengungkapan resmi pertama mengenai total nilai kontrak tersebut. Laporan yang diterbitkan pada bulan April dan dirilis ke publik pada 3 Agustus itu juga merinci jadwal pengiriman jet tempur generasi kelima tersebut serta lokasi penempatannya.

Jet tempur F-35 pertama untuk Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) akan dikirim ke pangkalan udara AS pada akhir tahun 2026, sementara Singapura diperkirakan baru akan menempatkan pesawat-pesawat tersebut di dalam negeri pada tahun 2029.

Sebanyak 12 unit di antaranya adalah varian F-35B, yang semuanya akan ditempatkan secara permanen di Pangkalan Ebbing Air National Guard di Fort Smith, Arkansas, menurut laporan tersebut. Pelatihan F-35 bagi personel RSAF akan dilaksanakan di lokasi ini.

Komparasi kebutuhan runway F-35A dan F-35B (image: The Straits Times)

F-35B memiliki kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal, yang memungkinkannya lepas landas dari landasan pacu yang lebih pendek, serta melayang dan mendarat layaknya helikopter.

Fitur-fitur ini memberikan "fleksibilitas operasional yang lebih besar" bagi Singapura yang memiliki keterbatasan lahan, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ng Eng Hen di Parlemen pada Februari 2024 saat debat anggaran.

Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) awalnya membeli empat unit pesawat tersebut pada tahun 2019, dengan opsi untuk membeli delapan unit tambahan; nilai penjualan saat itu mencapai sekitar US$2,75 miliar menurut pemerintah AS.

Kementerian tersebut kemudian menggunakan opsi pembelian untuk delapan pesawat tambahan itu pada tahun 2023.

Delapan unit sisanya dari total 20 jet F-35 yang dibeli MINDEF akan ditempatkan di Pangkalan Udara Tengah. Pesawat-pesawat ini merupakan varian F-35A.

Komparasi kemampuan pesawat F-35A dan F-35B (image: The Straits Times)

Saat dihubungi, kementerian tersebut mengarahkan The Straits Times pada tanggapan media yang mereka keluarkan pada 9 Februari mengenai pengiriman ke dalam negeri dan lokasi pangkalan jet tempur tersebut. Saat itu, pihak kementerian menyatakan akan membagikan informasi lebih lanjut setelah rinciannya dipastikan, dengan menyebutkan bahwa jadwal pengiriman lokal pesawat F-35 serta lokasi pangkalan utamanya akan bergantung pada jadwal keseluruhan proyek dan kebutuhan pelatihan.

MINDEF juga menambahkan saat itu bahwa rincian spesifik belum difinalisasi karena proses perencanaan dan produksi masih berlangsung.

Varian F-35A mampu membawa muatan senjata yang lebih besar, yakni 8.160 kg, dibandingkan dengan F-35B yang berkapasitas 6.800 kg. Pesawat ini juga memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih besar dan mampu menempuh jarak terbang hingga 2.200 km. Sebagai perbandingan, F-35B memiliki jangkauan terbang yang lebih pendek, yaitu 1.667 km.

Laporan Departemen Pertahanan AS menambahkan bahwa MINDEF telah mulai merancang pangkalan operasi utama bagi F-35A di Singapura, yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun fiskal AS 2029. Tahun fiskal AS tersebut berlangsung dari 1 Oktober 2028 hingga 30 September 2029.

MINDEF belum mengungkapkan secara terbuka biaya pengadaan jet tempur siluman tersebut, yang ditujukan untuk menggantikan armada F-16 yang sudah tua.

Peresmian Hanggar Final Assemby Line (FAL) N219 dan First Cutting N219 Komersial

07 September 2026

Peresmian hanggar Final Assembly Line N219 (photos: PT DI)

Rangkaian acara peresmian Hanggar Final Assemby Line (FAL) N219 ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Wamen PPN/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, disaksikan oleh Wamenkes, Benjamin Paulus Octavianus, Wagub Jawa Barat, Erwan Setiawan, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Ditjen Pothan Kemhan, Sri Yanto, Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Joga Dharma Setiawan, Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, dan Wakil Komisaris Utama PTDI, Bagus Puruhito. Peresmian tersebut turut diisi dengan penyerahan simbolis Part hasil First Cutting N219 Komersial kepada Direktur Utama PT Mitra Aviasi Perkasa (PT MAP).

Peresmian Hanggar FAL N219 dan dimulainya First Cutting N219 Komersial menjadi bagian dari langkah PTDI dalam memperkuat kesiapan manufaktur sekaligus mendukung pengembangan N219 sebagai salah satu solusi konektivitas udara nasional, khususnya di wilayah dengan karakteristik geografis yang menantang.

Penyerahan simbolis part hasil First Cutting N219 Komersial (photo: PT DI)

Perkuat Kolaborasi Strategis untuk Pengembangan Ekosistem Dirgantara
Pada kesempatan ini, PTDI juga menyepakati sejumlah kerja sama strategis dengan pemerintah daerah, kementerian, serta mitra industri dan Original Equipment Manufacturer (OEM) global. Kerja sama tersebut mencakup penguatan bisnis dan investasi, pengembangan kapabilitas industri, pemanfaatan produk PTDI untuk konektivitas udara dan pelayanan kesehatan, hingga penguatan kerja sama industri dan komersial di tingkat global.

Penandatanganan diawali dengan kontrak jual beli 3 (tiga) unit pesawat N219 antara PTDI dan PT BIBU Panji Sakti sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan N219 untuk kebutuhan konektivitas udara. Selanjutnya, PTDI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Mamberano Raya yang diwakili oleh Bupati Mamberano Raya, Robby W. Rumansara, mengenai kerja sama operasionalisasi pesawat N219 di Kabupaten Mamberano Raya. PTDI juga menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terkait pengadaan 1 (satu) unit pesawat N219 guna mendukung penyelenggaraan penerbangan perintis di wilayah Kepri.


Untuk mendukung pengembangan bisnis dan kapabilitas industri, PTDI menandatangani kerja sama dengan Ravelware serta MoU dengan PT Cipta Teknologi Mandiri mengenai rencana pengembangan bisnis dan kapabilitas pada sektor produksi dan aerostructure. PTDI juga menandatangani MoU dengan PT Invest Indo International mengenai kerja sama strategis di bidang pengembangan bisnis, investasi, rantai pasok, dan operasional.

Sementara itu, melalui Industrial and Commercial Agreement (ICA) dengan Bell Textron Inc., PTDI memperkuat kerja sama produksi dan komersial melalui kolaborasi penjualan dan pemasaran helikopter, kustomisasi helikopter sesuai kebutuhan pelanggan, serta penguatan peran PTDI sebagai delivery center dan Bell Authorized Maintenance Center (AMC) untuk helikopter Bell 505 dan Bell 412. Perjanjian ini juga menjadi landasan bagi pengembangan kerja sama industri lebih lanjut, termasuk pemenuhan dan pengakuan local content, countertrade, dan/atau offset di Indonesia.


Dalam bidang pelayanan kesehatan, PTDI juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI melalui MoU mengenai pemberdayaan pesawat NC212i Air Ambulance untuk mendukung pelayanan kesehatan. Selain penandatanganan kerja sama, rangkaian kegiatan juga mencakup penayangan video signing ceremony LoI dengan Lassac, sebagai bagian dari penguatan jejaring kerja sama PTDI dengan mitra strategis.

Melalui Simposium Nasional HUT ke-50, PTDI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, operator penerbangan, mitra industri, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong pemerataan akses transportasi udara sekaligus memperkuat ekosistem dirgantara nasional. Dengan penguatan kapabilitas manufaktur, inovasi produk, serta kerja sama strategis yang dibangun, PTDI optimistis dapat menghadirkan solusi penerbangan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia serta berkontribusi terhadap terwujudnya kemandirian dan daya saing industri dirgantara nasional. 

06 September 2026

Australia Awards Babcock & Saab Sustainment Contract for Anzac-class Frigates

06 September 2026

Australia appoints Babcock Australia and Saab as capability life-cycle manager (CLCM) for the seven-ship Anzac-class frigate (photo: Aus DoD)

Babcock and Saab awarded Frigate Capability Life Cycle Manager contract to ensure Anzacs are safe, ready and available into the future
Babcock Australasia (Babcock), partnering with Saab Australia (Saab), has been selected as the Frigate Capability Life Cycle Manager (CLCM) to deliver critical asset management, engineering and supply chain services to ensure the Royal Australian Navy’s (RAN) Anzac class frigates remain seaworthy, materially ready and available into the future.

The new, five-year contract is valued at around $117.5 million. Babcock and Saab will work closely with Defence to manage the critical Anzac capability through the remainder of their lifecycle as the RAN transitions to a new fleet of surface combatants.

Offering proven asset management capability, Babcock and Saab’s partnership delivers unmatched knowledge of the Anzac class platform and its combat system and an established sovereign workforce.

The Babcock and Saab strategic collaboration reflects decades of warship sustainment experience at the Henderson maritime precinct. Both companies have supported Anzac sustainment as key members of the Warship Asset Management Agreement (WAMA) and through Babcock’s long-term partnership with the New Zealand Defence Force as Strategic Maritime Partner, maintaining 100 per cent of the Royal New Zealand Navy fleet. Babcock is also the Regional Maintenance Provider West (RMP-West), supporting the RAN deliver maintenance to the Anzac Class fleet and other vital vessels.

Babcock Australasia Acting CEO Leah Grantham said:
“We are delighted to be continuing our long-standing support for critical maritime sustainment for the Royal Australian Navy from Henderson, Western Australia, in partnership with Saab. 

“Babcock is proud to deliver this vital work uplifting sovereign capability, creating local jobs, strengthening the economy and ensuring the Anzacs remain operational, seaworthy and ready to meet Australia’s defence needs now and into the future.

“Babcock remains steadfast in our commitment to Western Australia. We have been delivering critical programs and services for Defence there since 1991 and annually, contribute more than $250m to the state, supporting more than 850 full-time equivalent jobs.” 

Saab Australia Managing Director Andy Keough CSC said:
“This contract reflects the strength of our partnership with Babcock, bringing together complementary capabilities to deliver sovereign and future‑focused sustainment outcomes for the Royal Australian Navy.

“Building on more than 35 years supporting Australia’s naval capability, Saab brings deep expertise in combat systems integration and sustainment, together with our role as the Australian Combat Management System (AusCMS) provider, to ensure the Navy’s frigate fleet remains ready to meet current and future demands.”