20 September 2026

Global Military Products Unveils Scorpion Medium 120mm Mobile Mortar System on Army’s Infantry Squad Vehicle

20 September 2026

Auto-lay 120mm mobile mortar system integrated on an Infantry Squad Vehicle-Utility (ISV-U) (photos: GMP)

TAMPA, Fla.  — Global Military Products is unveiling the first and only auto-lay 120mm mobile mortar system integrated on an Infantry Squad Vehicle-Utility (ISV-U) this week: the Scorpion Medium. The new system combines lightweight electric components from the Scorpion Light with components from the Scorpion Heavy, including the larger non-seating baseplate and mortar barrel. The all-new Scorpion Medium will be displayed with the 75th Ranger Regiment at the Army Maneuver Warfighter Conference at Fort Benning, Georgia.

Built with mobility in mind, the Scorpion Medium 120mm mobile mortar system is light enough for the Army’s ISV-U and still carries 16 mortar rounds. The all-electric system has the same architecture and upgrade capability of the Scorpion Light 81mm mobile mortar system, which streamlines training and logistics and capitalizes on Army investments in modernizing mortar technology. The Scorpion Medium is compatible with U.S. government fire control requirements and has more than 95% parts commonality with the Scorpion Light, currently on contract with the U.S. Army.


“There is an incredible amount of value to this system, and we’re excited to unveil the Scorpion Medium at Fort Benning this week. Operationally, it provides soldiers with a new capability – the first and only 120mm solution on an Army ISV that is all-electric and easy to operate,” said James Knight, director of Business Development, Global Military Products. “And because of the commonality with the Scorpion Light, which is already under contract, the Army can leverage architecture investments for quicker, less costly integration of U.S. fire control while securing a much-needed capability for light infantry units.”

A single button controls the emplacement and displacement of the Scorpion Medium 120mm mobile mortar system, taking roughly 10 seconds. The autonomous targeting and auto-lay capabilities and single-operator functions remain the same. Its patented non-seating baseplate allows it to fire from almost any surface – even concrete or paved ground.


Scorpion mobile mortar systems have unique characteristics that have already made them invaluable to Army soldiers. Designed to enhance expeditionary indirect fire capabilities, the next-generation Scorpion mobile mortar systems deliver a highly mobile, digitally enabled mortar platform capable of rapid emplacement, autonomous targeting and precision engagement in support of distributed operations. The integration of advanced fire control architecture significantly accelerates the sensor-to-shooter kill chain, enabling faster target acquisition, digital fire mission processing, and rapid engagement of multiple targets with reduced crew workload and increased survivability.

Over the past two years, the U.S. Army and Global Military Products have collaborated through Soldier Enhancement Program (SEP) initiatives and Cooperative Research and Development Agreement (CRADA) efforts to refine and test the Scorpion Light Mobile Mortar System and incorporate direct soldier feedback into its development. These iterative efforts have significantly advanced the platform’s mobility, lethality, survivability and operational effectiveness – and that investment directly benefits the Scorpion Medium 120mm mobile mortar system.

Global Military Products will also display the Scorpion Light 81mm mobile mortar system on the Army’s ISV-U at the Maneuver Warfighter Conference in booths 805 and 806. The company was recently awarded a $13 million contract from the Army for this system and has already begun shipping fully integrated systems for Army test and evaluation.

Delegasi Malaysia Tinjau Ex-USCGC Valiant, Bakal Dihibahkan ke APMM

20 September 2026

Peninjauan ke Ex-USCGC Valiant di USA (photo: taubmansonline)

Ketua Setiausaha KDN tinjau Ex-USCGC Valiant, bakal perkukuh keupayaan aset Maritim Malaysia
Baltimore – Ketua Setiausaha Kementerian Dalam Negeri, Datuk Dr. Haji Awang Alik bin Jeman bersama Ketua Pengarah Maritim, Laksamana Maritim Datuk Haji Mohd Rosli bin Abdullah, telah mengadakan lawatan kerja rasmi ke Waterfront Operations Training Center (WOTC), United States Coast Guard (USCG) bagi meninjau dan menilai tawaran penerimaan sebuah kapal ex-USCGC VALIANT daripada Kerajaan Amerika Syarikat.


Lawatan merupakan sebahagian daripada usaha Kerajaan untuk memperkukuh keupayaan aset Maritim Malaysia menerusi kerjasama strategik antara Malaysia dan Amerika Syarikat, susulan kejayaan pelaksanaan penerimaan KM BENDAHARA pada tahun 2025.

Sepanjang lawatan, delegasi telah diberikan taklimat komprehensif berhubung status serta kebolehupayaan kapal yang meliputi sistem pendorongan dan jentera utama, janakuasa, sistem navigasi dan komunikasi, sistem persenjataan, alat ganti serta pelbagai aspek teknikal dan logistik yang berkaitan.


Delegasi turut mengadakan pemeriksaan fizikal ke atas kapal bagi menilai tahap kesiapsiagaan, keupayaan operasi serta kesesuaiannya untuk memenuhi keperluan pengoperasian Maritim Malaysia dalam melaksanakan tugas penguatkuasaan undang-undang, keselamatan maritim dan operasi mencari dan menyelamat (CARILAMAT).

Lawatan turut membuka ruang kepada kedua-dua pihak untuk bertukar pandangan mengenai aspek pengoperasian, penyelenggaraan serta sokongan teknikal, sekali gus memperkukuh hubungan kerjasama strategik yang telah sekian lama terjalin antara Maritim Malaysia dan United States Coast Guard.


Usaha penilaian ini mencerminkan komitmen berterusan Kerajaan dalam memperkasakan keupayaan aset Maritim, sekali gus meningkatkan kesiapsiagaan operasi bagi memastikan keselamatan, kedaulatan dan kepentingan maritim negara terus terpelihara.

19 September 2026

KSAL Sebut PT. PAL dan Fincantieri akan Memodernisasi Kapal Induk

19 September 2026


Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan PT. PAL dan perusahaan kapal asal Italia Fincantieri akan bertanggungjawab memodernisasi atau retrofit kapal induk Giuseppe Garibaldi.

"Kita akan kerja sama antara PT PAL dengan Fincantieri ya," kata Ali saat jumpa pers usai meninjau kapal induk Giuseppe Garibaldi yang sedang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat.

Menurut dia, kapal tersebut harus dimodernisasi agar mesin dan teknologi kapal sesuai dengan kebutuhan dan doktrin operasi TNI AL.

Ali melanjutkan, kerja sama itu akan menjadi ajang bagi ke dua industri pertahanan (indhan) untuk bertukar informasi teknologi atau transfer of technology (ToT).

Dengan adanya ToT ini, Ali meyakini PT. PAL selaku indhan dalam negeri akan mendapatkan keuntungan berupa peningkatan kualitas produk pertahanan.

Saat ditanya berapa biaya retrofit yang dikeluarkan pemerintah dan kapan prosesnya akan berjalan, Ali tidak menjelaskan hal tersebut secara rinci.


"Sudah disiapkan (anggaran) oleh Kementerian Pertahanan. Kalau jumlahnya saya kurang tahu silakan tanyakan ke Kementerian Pertahanan," kata Ali.

Sebelumnya, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Indonesia mendapatkan kapal induk pertama yakni Giuseppe Garibaldi secara hibah dari pemerintah Italia.

Kapal buatan galangan asal Italia, Fincantieri itu sebelumnya telah dipakai untuk mendukung kekuatan angkatan laut Italia.

Rico melanjutkan, penerimaan secara hibah itu tidak berarti membuat Kementerian Pertahanan tidak mengeluarkan uang sepeserpun.

"Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia. Anggaran yang disiapkan pemerintah Indonesia dialokasikan untuk kebutuhan retrofit atau penyesuaian agar sesuai kebutuhan operasi TNI AL," kata Rico saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat (13/2).

(AntaraNews)

Raytheon Mengonfirmasi Kompatibilitas Rudal AMRAAM-ER dengan NASAMS Australia

19 September 2026

Rudal AMRAAM-ER kompatibel dengan sistem NASAMS Australia (photo: Raytheon)

Raytheon Australia, anak perusahaan RTX, telah menyatakan bahwa rudal AIM-120 *Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile* varian jarak jauh (*extended range* atau AMRAAM-ER) kompatibel dengan sistem *National Advanced Surface-to-Air Missile System* (NASAMS) milik Australia.

Dalam siaran pers yang diterbitkan pada 16 September untuk mengumumkan pencapaian kemampuan operasional penuh (*Final Operational Capability* atau FOC) NASAMS, Raytheon menyatakan, "Konfigurasi Australia ini dikembangkan berdasarkan sistem dasar dengan penyesuaian untuk lingkungan operasi dan kebutuhan misi setempat, serta mengintegrasikan teknologi radar rancangan Australia."

Raytheon menyebutkan bahwa varian NASAMS Australia mencakup rangkaian efektor yang terdiri dari AIM-9X Sidewinder, AIM-120 *Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile* (AMRAAM), dan AMRAAM-ER.

Angkatan Darat Australia pertama kali menembakkan AIM-120 AMRAAM dari NASAMS pada November 2023 dan kemudian melakukan uji tembak langsung AIM-9X Sidewinder dalam kegiatan sertifikasi di Woomera Test Range pada Mei 2025. Siaran pers Raytheon tanggal 16 September tersebut merupakan pengumuman publik pertama yang mengidentifikasi AMRAAM-ER sebagai bagian dari rangkaian efektor dalam konfigurasi NASAMS Australia.

Menurut Raytheon, konfigurasi NASAMS Australia mencakup radar buatan dalam negeri dari CEA Technologies, *Fire Distribution Centre* (FDC) dari Kongsberg, peluncur *High Mobility Launcher* buatan Raytheon yang dipasang pada kendaraan Hawkei, serta sistem darat multispektral buatan Raytheon Australia.

Pengumuman Raytheon ini menyusul pengumuman terpisah dari Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada 9 September 2026. DoD menyatakan bahwa NASAMS telah mencapai FOC, memenuhi "seluruh persyaratan untuk layanan operasional", dan siap mendukung operasi Angkatan Pertahanan Australia (ADF).

NASAMS diadakan melalui program Pertahanan Udara Berbasis Darat Jarak Pendek (*Short-Range Ground-Based Air Defence* atau SRGBAD) Australia dan menjadi lapisan terdalam dalam jaringan pertahanan udara dan rudal terintegrasi ADF. 

PT DI Dapatkan Kontrak Harwat Pesawat Terbang/Helikopter TNI AU

19 September 2026

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Koharrmatau dan PT DI (photo: PT DI)

Bandung (17/09) – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) dan Komando Pemeliharaan Materiel Angkatan Udara (Koharmatau) memperkuat kolaborasi dalam mendukung keberlanjutan pemeliharaan pesawat terbang dan helikopter milik TNI Angkatan Udara (TNI AU). Kolaborasi ini diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pendayagunaan Sumber Daya dan Pemanfaatan Fasilitas Pemeliharaan Pesawat Terbang/Helikopter.

PKS ini ditandatangani oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, dan Komandan Koharmatau, Rudolf P. Buulolo di Ruang Rapat Basir Surya, Koharmatau, Kamis (17/09). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan kapabilitas industri PTDI dengan sumber daya dan fasilitas yang dimiliki TNI AU untuk memperkuat dukungan terhadap pemeliharaan armada udara TNI AU.

Pada kesempatan ini, kedua pihak juga menandatangani dokumen perjanjian Side Letter sebagai tindak lanjut terhadap kerja sama pemeliharaan pesawat terbang/helikopter, serta kerja sama pengadaan suku cadang dan Harwat pesawat CN235 milik TNI AU. Dalam hal ini, Koharmatau akan memberikan dukungan berupa penyediaan personel, peralatan, fasilitas, dan Ground Support Equipment (GSE). Sementara itu, PTDI akan menyediakan personel yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan, termasuk dukungan teknis dan pemeliharaan guna menjaga kesiapan operasional pesawat milik TNI AU.

Armada pesawat CN-235 TNI AU (photo: TNI AU)

Kolaborasi ini  mencerminkan komitmen PTDI sebagai industri pertahanan untuk memberikan dukungan berkelanjutan terhadap pesawat yang telah diproduksi dan dioptimalkan pemanfaatannya bagi pengguna (end-user), dalam hal ini, TNI AU. ”Kerja sama ini menjadi hal penting untuk memastikan kemampuan armada tetap terjaga dan memenuhi Optimum Essential Force TNI AU. Bagi kami, kerja sama ini juga merupakan bentuk komitmen untuk terus mendukung kebutuhan pemeliharaan alutsista TNI AU, melalui kemampuan teknis sumber daya manusia, serta fasilitas yang dimiliki masing-masing pihak, diharapkan kegiatan pemeliharaan dapat dilaksanakan secara lebih terkoordinasi sesuai dengan kebutuhan,” ujar Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI. 

Sementara itu, Komandan Koharmatau, Rudolf P. Buulolo, mengatakan, ”Saya memandang bahwa kerja sama ini memiliki arti penting, bukan hanya dalam mendukung pelaksanaan pemeliharaan, tetapi juga dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, memperkuat transfer pengetahuan dan pengalaman, serta membangun kemampuan pemeliharaan yang semakin mandiri dan berkelanjutan.”

18 September 2026

The 74th SEAEX THAMAL Joint Maritime Exercise between Thai and Malaysian Maritime Security Agencies

18 September 2026

The 74th SEAEX THAMAL Joint Maritime Exercise (photos: Royal Thai Navy)

On September 15, 2026, the Second Naval Area Command—through the Thai-Malaysian joint maritime exercise task group—conducted exercises in the waters spanning from Songkhla Province, Thailand, to Kuantan, Pahang, Malaysia.


A total of eight naval vessels and 133 personnel from both nations participated. The Thai contingent included HTMS Thayan Chon, Patrol Boat T.995, Patrol Boat T.111 (from the Second Naval Area Command), and Marine Police Boat RN.817.


The Malaysian contingent included KD Handalan and KD Sri Sabah (Royal Malaysian Navy), KM Amanah (Malaysian Maritime Enforcement Agency), and Marine Police Boat PA6. Exercise activities included screen maneuvering, parallel sailing, formation maneuvering, and visual signaling (using international signal lamps).


Earlier, on September 11, 2026, Rear Admiral Pisit Jaturatkornpat, Deputy Commander of the Second Naval Area Command (representing the Commander of the Second Naval Area Command), and Rear Admiral Dato’ Azman bin Rabani, Commander of Naval Area 1 (Royal Malaysian Navy), presided over the closing ceremony of the 74th SEAEX THAMAL exercise at Kuantan Naval Base, Naval Area 1 Command, Kuantan, Pahang, Malaysia.

Indonesia Menargetkan Produksi Massal Torpedo Piranha Mulai Tahun 2027

18 September 2026

Torpedo Piranha yang akan diproduksi PT PAL (image: PT PAL)

Perusahaan galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL Indonesia, telah memaparkan rencana untuk memulai produksi massal torpedo ringan Piranha—produk dalam negeri—pada bulan Januari 2027.

PT PAL memaparkan rencana tersebut pada tanggal 9 September dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh asosiasi awak kapal selam TNI Angkatan Laut dan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal).

Materi presentasi dari seminar tersebut diperoleh Janes dari seorang sumber yang menghadiri acara itu.

Baik PT PAL maupun Kementerian Pertahanan RI belum mengumumkan secara resmi adanya kontrak produksi untuk senjata tersebut.

Dalam slide presentasi, PT PAL mendeskripsikan Piranha sebagai torpedo ringan untuk peperangan anti-kapal selam (ASW) dengan jarak jangkau lebih dari 15 km, kecepatan maksimum 40 knot, dan hulu ledak seberat 50 kg.

Torpedo Piranha disebutkan memiliki kecepatan maksimal 40 not, sebagai perbandingan kecepatan torpedo ringan TNI AL A244/S Mod 3 mempunyai kecepatan maks 38 knot, sedangkan torpedo kelas berat SUT mempunyai kecepatan maks 35 knot dan torpedo Black Shark mencapai kecepatan maks 50 knot (photo: Lintas Pikiran)

Senjata ini ditampilkan sebagai upaya pengembangan mandiri yang bertujuan mendukung ambisi Indonesia untuk mencapai kemandirian lebih besar dalam teknologi peperangan bawah air.

Menanggapi pertanyaan dari Janes, PT PAL menyebut partisipasinya dalam seminar tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan pergeseran arah perusahaan yang sedang berlangsung, dari pengembangan platform menuju kemampuan sistem terintegrasi.

"Sejalan dengan arah pengembangan ini, PT PAL Indonesia terus mendorong kemajuan teknologi pertahanan maritim melalui wahana permukaan tanpa awak (USV), wahana bawah air otonom (AUV), dan torpedo Piranha," ujar pihak PT PAL.

"Pengembangan ketiga sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasional dengan memanfaatkan teknologi tanpa awak dan otonom, serta integrasi sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan misi," tambah perusahaan tersebut.

Pada bulan Oktober 2025, PT PAL melakukan uji coba penembakan torpedo Piranha dari prototipe kapal selam otonom (KSOT) miliknya.

Uji coba tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, yang menyebut penembakan itu sebagai tonggak pencapaian penting bagi negara.