05 Oktober 2026
Hanwha System Perbarui Penawaran Kapal Selam untuk Filipina dengan KSS III Bertenaga Baterai Litium-ion
02 Oktober 2026
Signing a Military Assistance Agreement and Accelerating of the S26T Submarine Project
01 Oktober 2026
Steel Cutting for Fifth and Sixth Invincible-class Submarines
01 Oktober 2026
Steel cutting ceremony of fifth and sixth Invinsible-class submarines of the Republic of Singapore Navy (photos: RSN, TKMS)Earlier today, our Chief of Navy RADM Sean Wat officiated the Steel-Cutting ceremony of our fifth and sixth Invincible-Class submarines at the TKMS Wismar Shipyard in Germany. The event was attended by representatives from the RSN, DSTA Defence Science and Technology Agency and senior German defence and military representatives. (RSN)
The first steel cutting of a submarine in Wismar was a major milestone for the site. The traditional ceremony took place in the presence of the TKMS Management Board, the Wismar site management, and many guests of honor. At the same time, this marks another important step in the long-standing partnership with the Southeast Asian customer. This represents the beginning of the next phase for the transformation of the shipyard.
With Wismar, TKMS is creating the conditions to reliably process the high order backlog and deliver projects on time. More than 500 colleagues at the site are currently behind this progress. With their expertise and commitment, they are making a decisive contribution to turning the vision of a modern hybrid shipyard into reality.
23 September 2026
PT PAL dan Naval Group Bersiap untuk Pesanan Lanjutan Kapal Selam Scorpene dan Fregat FDI
12 September 2026
KSAL Sebut RI Ditawari Kapal Selam Interim (Sementara) oleh Negara-negara Lain
06 September 2026
HD Hyundai dan Hanwha Ocean Bersaing Sengit untuk Pesanan Kapal Selam Filipina Senilai 2 Triliun Won
11 Agustus 2026
Lockheed Martin Partners With Australian Submarine Agency on Combat Systems Integration for Virginia‑Class Fleet
07 Agustus 2026
PT PAL Mulai Bangun Kapal Selam Scorpene yang Bisa Nyelam Lebih Lama
07 Agustus 2026
Seremoni first steel cutting dimulainya pembangunan membangun kapal selam Scorpene oleh PT PAL Indonesia di Surabaya (photos: PAL, Antara)Surabaya (ANTARA) - PT PAL Indonesia mulai membangun kapal selam Scorpene untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) melalui seremoni first steel cutting di Surabaya, Jawa Timur, dengan target penyelesaian selama 96 bulan atau sekitar delapan tahun.
"Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali di Surabaya, Jumat.
Ali mengatakan first steel cutting dilakukan sekitar 12 bulan setelah kontrak pembangunan kapal selam tersebut efektif. Saat ini progres pembangunan kapal selam Scorpene telah mencapai sekitar 20,5 persen.
Kasal berharap pembangunan kapal selam Scorpene dapat selesai sesuai jadwal sehingga proses penyerahan kepada TNI AL juga berlangsung tepat waktu.
"Kami berharap ini bisa terbangun dengan tepat waktu. Jadi, delivery time-nya bisa tepat waktu," ujarnya.
Ali menegaskan pembangunan kapal selam Scorpene melibatkan putra-putri terbaik Indonesia dengan dukungan dan pendampingan dari Naval Group Prancis.
Menurut dia, kapal selam yang dibangun di Indonesia merupakan generasi terbaru Scorpene.
"Scorpene yang kita bangun ini lebih maju dibandingkan dengan Scorpene-Scorpene sebelumnya yang dibangun di beberapa negara. Ini yang terakhir, keluaran terakhir," katanya.
Ia menjelaskan kapal selam Scorpene memiliki panjang hampir 72 meter atau sekitar 10 meter lebih panjang dibandingkan kapal selam TNI AL sebelumnya. Kapal selam tersebut juga memiliki kemampuan menyelam lebih lama dan lebih dalam.
Dari sisi persenjataan, Scorpene tidak hanya dilengkapi torpedo, tetapi juga peluru kendali.
"Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air," katanya.
Ali menambahkan TNI AL telah menyiapkan satuan tugas pengawak kapal selam tersebut, termasuk mengirim personel secara bertahap ke Prancis untuk mengikuti pelatihan bersama Angkatan Laut Prancis dan Naval Group.
Menurut dia, pembangunan kapal selam Scorpene di dalam negeri merupakan langkah penting untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan Indonesia.
"Ini merupakan hal yang sangat bagus sekali. Ini pertama kali kita membangun kapal selam dari awal, dari awal di Indonesia. Di negara-negara ASEAN mungkin kita yang pertama kali membangun kapal selam di dalam negerinya," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan first steel cutting menjadi bukti kerja sama konsorsium antara PT PAL Indonesia dan Naval Group Prancis berjalan baik.
"First steel cutting ini juga menunjukkan bagaimana konsorsium kerja sama antara Naval Group dan PT PAL Indonesia berlangsung dengan sangat baik," kata Djenod.
Ia menilai kerja sama tersebut tidak hanya terkait pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi sarana transfer teknologi antara Indonesia dan Prancis.
(Antara)
04 Agustus 2026
Fincantieri akan Memasok Peralatan Tambahan untuk Kapal Selam U212 NFS Italia
02 Agustus 2026
Australia Selects Leidos Australia for AUKUS Dry Dock Design
31 Juli 2026
Indonesia Berencana Akuisisi Tambahan Fregat dan Kapal Selam Baru dari Italia
30 Juli 2026
Australian Steel to Support Virginia-class Submarine Construction
19 Juli 2026
Inggris akan Mulai Membangun Kapal Selam SSN-AUKUS Tahun 2027
08 Juli 2026
Ditjen Pothan Buka Workshop Submarine Phase 2 TA. 2026
03 Juli 2026
Ini Analisis Janes Tentang Kapal Selam Myanmar dari Citra Satelit
03 Juli 2026
Citra satelit kapal selam Myanmar (photo: Jane's)Citra satelit yang dianalisis oleh Janes memberikan indikasi terkuat hingga saat ini bahwa program kapal selam pesisir Myanmar yang kurang dikenal, yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2024, tetap aktif dan beroperasi.
Citra tersebut, yang diambil pada Maret 2026 tetapi baru-baru ini tersedia, menunjukkan kapal selam pesisir terdampar di tempat yang tampaknya merupakan alat pengangkat sinkrolift di Galangan Kapal Angkatan Laut Sinmailik di Thanlyin, menunjukkan bahwa kapal tersebut sedang menjalani perawatan atau perbaikan.
Berdasarkan pengukuran yang diambil dari citra satelit, kapal selam tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 37 m dan memiliki susunan kemudi berbentuk salib.
Karakteristik ini sesuai dengan kapal selam pesisir yang terlihat di Sungai Yangon dalam citra satelit yang diambil pada April 2023.
Dalam citra terbaru, kapal selam tersebut berada di samping kapal patroli kelas Yan Nyein Aung, dengan kedua kapal tersebut tampak sedang menjalani perawatan atau servis.
Citra satelit kapal selam Myanmar (photo: DDFNews)
Janes menilai bahwa penampakan ini menunjukkan bahwa kapal selam tersebut bukan sekadar demonstrator teknologi, platform evaluasi, atau kapal yang dipinjam untuk tujuan pengenalan.
Sebaliknya, keberadaan kapal selam di fasilitas perawatan angkatan laut menunjukkan bahwa kapal tersebut dipertahankan dalam struktur kekuatan Angkatan Laut Myanmar, yang menyiratkan setidaknya beberapa tingkat penggunaan operasional dan dukungan kelembagaan.
Dimensi kapal selam tersebut jauh lebih kecil daripada kapal kelas Kilo bekas India milik Angkatan Laut Myanmar, yang berukuran sekitar 72,6 m panjangnya, dan kapal selam Tipe 035B yang ditransfer dari Tiongkok, yang berukuran sekitar 76 m panjangnya.
Dimensi kapal selam pesisir yang jauh lebih kecil menunjukkan bahwa kapal tersebut dirancang untuk peran operasional yang berbeda.
Janes menilai bahwa kapal tersebut kemungkinan besar digunakan oleh Angkatan Laut Myanmar untuk pengawasan rahasia, penyisipan pasukan khusus, pengumpulan intelijen, dan misi pelatihan.
(Jane's)
Indonesia Mulai Pembangunan Dua Kapal Selam Scorpène
03 Juli 2026
Engineer PT PAL Indonesia melakukan pengelasan pertama plat HLES Proyek Kapal Selam Scorpene RI (photos: Antara, PAL)
Jakarta (ANTARA) - Indonesia mulai memasuki tahap pembangunan fisik dua unit kapal selam Scorpène setelah PT PAL Indonesia bersama perusahaan pertahanan Prancis, Naval Group, memulai proses first steel cutting pada Juli 2026.
Tahap tersebut dimulai lebih cepat dari target semula yang dijadwalkan pada September tahun ini.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia Diana Rosa dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, mengatakan percepatan pembangunan fisik dilakukan setelah PT PAL bersama Naval Group berhasil menyelesaikan qualification section, yakni tahapan verifikasi yang memastikan kesiapan sumber daya manusia, proses manufaktur, fasilitas produksi, serta sistem pengendalian mutu sesuai standar pembangunan kapal selam kelas dunia.
"Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi engineer Indonesia, memperkuat industri nasional, dan membangun ekosistem manufaktur berteknologi tinggi yang mampu bersaing di tingkat global,” ujar Diana.
Menurut dia, keberhasilan menyelesaikan tahap tersebut menunjukkan proses alih teknologi telah berjalan efektif dan meningkatkan kemampuan insinyur Indonesia dalam menguasai teknologi manufaktur berpresisi tinggi.
Sebagai bagian dari proses tersebut, PT PAL telah mengirimkan puluhan insinyur ke fasilitas Naval Group di Prancis untuk mengikuti pelatihan intensif di berbagai bidang, mulai dari pengelasan, rekayasa konstruksi, sistem mekanikal, sistem kelistrikan, hingga pengendalian mutu.
Kompetensi tersebut kemudian diterapkan secara langsung dalam pelaksanaan qualification section yang diverifikasi oleh tim Naval Group.
Sementara itu, Program Director Naval Group Vincent Vimont mengatakan keberhasilan tahap qualification section menunjukkan kesiapan PT PAL sebagai mitra strategis dalam pembangunan kapal selam modern.
"Kolaborasi ini bukan sekadar membangun dua unit kapal selam, tetapi membangun fondasi kemampuan industri yang berkelanjutan," ujar Vincent.
Program Kapal Selam Scorpène Republik Indonesia merupakan tindak lanjut kontrak antara Kementerian Pertahanan, Naval Group, dan PT PAL Indonesia yang ditandatangani pada 2024 untuk membangun dua unit kapal selam kelas 1.800-2.800 ton.
Seluruh proses pembangunan akan dilaksanakan di Indonesia oleh insinyur Indonesia melalui skema alih teknologi yang komprehensif.
Program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat penguasaan teknologi strategis nasional, tetapi juga meningkatkan kapasitas industri pertahanan, kompetensi sumber daya manusia, serta mendorong terbentuknya ekosistem manufaktur berteknologi tinggi di dalam negeri.
Melalui proyek ini, PT PAL ditargetkan meningkatkan kemampuan hingga mencapai whole local production, yakni membangun kapal selam secara utuh di dalam negeri dengan dukungan penguasaan teknologi dari Naval Group.
Selain memperkuat kemampuan industri pertahanan, pembangunan dua kapal selam Scorpène diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas dengan menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja dan melibatkan berbagai industri dalam negeri sebagai bagian dari rantai pasok nasional.






_at_sea.jpg)


%20fotografiado%20en%20astillero%20Mitsubis.jpg)

























