Tampilkan postingan dengan label Pesawat Latih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Latih. Tampilkan semua postingan

30 Agustus 2026

Kisah Pesawat Lockheed T-33 T-Bird TNI AU

30 Agustus 2026

Satu skadron pesawat Lockheed T-33 T-Bird yang terdiri dari 16 pesawat diserahkan kepada TNI AU (photos: TNI AU)

Satu skadron Lockheed T-33 T-Bird resmi diserahkan kepada Indonesia sebagai penguat kemampuan pembinaan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara. Pesawat ini kemudian berperan penting dalam pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kemampuan tempur, bahkan berhasil dimodifikasi menjadi pesawat bersenjata oleh insan TNI AU.

Meski telah mengakhiri masa operasionalnya pada 1980, jejak pengabdian Lockheed T-33 T-Bird tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah kekuatan udara Indonesia dan kini diabadikan sebagai koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Pada 23 Agustus 1973, TNI Angkatan Udara menerima satu skadron pesawat latih jet Lockheed T-33 T-Bird di Lanud Iswahjudi, Madiun. Pesawat-pesawat tersebut diterbangkan langsung oleh pilot-pilot Angkatan Udara Amerika Serikat dalam empat gelombang yang tiba pada 17 April hingga 22 Juni 1973.

Sebagai pesawat latih, Lockheed T-33 T-Bird semula direncanakan berada di bawah Komando Pendidikan Angkatan Udara (Kodikau). Namun berdasarkan kebutuhan organisasi dan kondisi operasional saat itu, pesawat ini kemudian ditempatkan di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Melalui Keputusan Kasau Nomor Kep/33/V/1974 tanggal 1 Mei 1974, Lockheed T-Bird ditetapkan sebagai pesawat untuk proficiency training bagi penerbang jet tempur serta transition training bagi penerbang yang akan mengoperasikan pesawat F-86 Sabre. 

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Pangkohanudnas Nomor Skep/A/V/1974 tanggal 10 Mei 1974, pesawat tersebut dimasukkan ke dalam unsur organik Komando Satuan Buru Sergap dengan nama Satuan Buru Sergap (Satsergap) T-33 T-Bird. 

T-33 T-Bird ketika mengemban misi tempur (photo: Marsda Holki BA)

Pada tahun 1978, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara berhasil memodifikasi pesawat Lockheed T-33 T-Bird menjadi pesawat yang mampu mengemban misi tempur. 

Melalui serangkaian uji coba para peneliti berhasil mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan, meliputi peluncur roket KB-13 yang menggunakan roket FFAR, bom udara serta senapan mesin kaliber 12,7mm. Keberhasilan tersebut merupakan tonggak penting dalam pengembangan kemandirian teknologi pertahanan TNI Angkatan Udara, karena mampu mengintegrasikan sistem persenjataan yang tidak termasuk dalam konfigurasi asli T-33 T-Bird.

Fungsi asalnya, pesawat T-33 T-Bird digunakan untuk transition training bagi penerbang F-86 Sabre sebagaimana foto diatas (photo: Gideon PY)

Pada tahun 1979, Satsergap T-33 direorganisasi menjadi Skadron Tempur T-33 di bawah Wing Tempur 300, kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Skadron Operasional T-33 Bird. Setelah memberikan kontribusi dalam pembinaan kemampuan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara, pesawat Lockheed T-33 T-Bird resmi mengakhiri masa operasionalnya pada tahun 1980.

Kini salah satu diantaranya menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta sejak tahun 1985 sebagai warisan sejarah perkembangan kekuatan udara Indonesia.

(TNI AU)

28 Mei 2026

PAF Hentikan Operasi Armada SF-260 Setelah Kecelakaan di Benguet

28 Mei 2026


10 pesawat SF-260 pesawat training PAF dilakukan grounded di Loakan Airport (photo: Conrad Rotor)

MANILA — Angkatan Udara Filipina (PAF) untuk sementara menghentikan operasi pesawat latih SIAI-Marchetti SF-260 yang tersisa dan menangguhkan kegiatan pelatihan yang melibatkan platform tersebut menyusul kecelakaan di Tuba, Benguet yang menewaskan dua pilotnya.

“Ke-16 pesawat [SF-260] yang tersisa dihentikan operasinya sambil menunggu penyelidikan,” kata juru bicara PAF Kolonel Ma. Christina Basco kepada ABS-CBN News melalui pesan teks pada hari Kamis.

PAF berduka atas kehilangan pilot instruktur Letnan Satu Ruth Angelique Pasos dan siswa penerbangan Letnan Dua Cherky Embudo, yang berada di dalam SF-260 selama penerbangan pelatihan navigasi pada hari Rabu.


Basco mengatakan pesawat tersebut jatuh sekitar pukul 10:30 pagi di Sitio Cabuyao saat dalam perjalanan menuju Kota Baguio.

Pesawat tersebut merupakan bagian dari kelompok 11 pesawat latih SF-260 yang berangkat dari Pangkalan Udara Fernando di Kota Lipa, Batangas untuk misi pelatihan.

Namun, hanya sepuluh pesawat yang sampai ke tujuan.

Investigasi sedang dilakukan untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut.

Meskipun operasi yang melibatkan armada SF-260 tetap ditangguhkan, Basco mengatakan model pesawat lain yang digunakan oleh PAF untuk kegiatan pelatihan akan terus digunakan.

31 Maret 2026

The Indonesian Ministry of Defense Selects the PC-24 with an Order for Twelve Aircraft

31 Maret 2026

PC-24 Super Versatile Jet (photo: Pilatus)

Contract for 12 PC-24 aircraft
The Indonesian Ministry of Defense has selected the PC-24 to support the Indonesian Air Force transport pilot training, air transport and liaison missions. A contract for twelve PC-24s has been signed with PT E-System Solutions Indonesia, the authorized defense contractor by the Ministry of Defense. The contract includes an option for additional aircraft, ground support equipment, tools, spare parts, training, and technical support from Pilatus headquarters in Stans, Switzerland.

The PC-24 was developed for exceptional operational flexibility and is certified for single-pilot operation. It is equipped with a standard cargo door and is approved for use on unpaved runways. These features make the aircraft ideal for a variety of government missions, including instrument flight rules (IFR) pilot training, transport, and liaison duties. Pilatus will provide its integrated support program to ensure maximum fleet availability and efficient maintenance.

PC-24 Super Versatile Jet (photo: Pilatus)

With the selection by the Indonesian Ministry of Defense, Pilatus has further strengthened its presence in Southeast Asia. The planned usage demonstrates the great versatility of the PC-24. Above all, however its ability to take off and land at short airfields and operate from unpaved runways, which increases accessibility to more remote islands in the 17,000-island nation, was a decisive selection criterion. 

Loi for 24 PC-21 trainers
Markus Bucher, CEO of Pilatus, commented: “We appreciate the trust placed in Pilatus by the Indonesian Ministry of Defense. This program marks the beginning of a long-term relationship, and our priority is to support Indonesia in putting the fleet into service smoothly.” 

PC-21 trainer (photo: Pilatus)

Ioannis Papachristofilou, Vice President of Government Aviation at Pilatus, added: “The selection by the Indonesian Air Force emphasizes the growing interest of  government operators in our PC-24 Super Versatile Jet. We remain focused on supplying solutions to facilitate various missions ranging from training to transport.” 

At the same time, a Letter of Intent (LOI) has been signed among the parties for the supply of 24 PC-21 trainers. This package also includes Ground Based Training Equipment, spare parts, ground support equipment and technical support.

16 Maret 2026

Myanmar Lakukan Komisioning Empat Jet Tempur Buatan Rusia dan China

16 Maret 2026

Pesawat tempur Su-30 SME nomor 1901 dan 1902 serta pesawat latih K-8W nomor 3939 dan 3940 (photos: Myanmar MIO)

Angkatan udara rezim Myanmar pada hari Kamis mengadakan upacara peresmian empat jet tempur, termasuk dua jet tempur multiperan Su-30 buatan Rusia pada upacara di Pangkalan Udara Meiktila Mandalay,

Rezim tidak merilis detail spesifik tentang jet tempur yang baru diresmikan, tetapi berdasarkan foto-foto acara tersebut, mantan personel angkatan udara mengatakan bahwa keempat pesawat tersebut terdiri dari dua jet tempur Su-30 dan dua jet tempur K-8W buatan China.


Militer Myanmar telah membeli enam jet tempur multiperan Su-30 SME buatan Rusia untuk angkatan udaranya berdasarkan kontrak tahun 2018 senilai US$400 juta, yang dibiayai oleh pinjaman Rusia.

Mantan Sersan Angkatan Udara Nay Win Aung, yang bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM) setelah kudeta militer 2021, mengatakan kepada The Irrawaddy bahwa pesawat yang berpartisipasi dalam upacara Kamis lalu sebenarnya bukanlah pesawat yang baru dioperasikan; melainkan jet yang lebih tua, yang sebelumnya telah dioperasikan, katanya.


Sersan tersebut mengatakan rezim memiliki tujuh jet tempur Su-30 dengan nomor lambung 1901 hingga 1907; semakin rendah nomornya, semakin lama masa dinasnya. Pada upacara Kamis lalu, dua Su-30 bernomor 1901 dan 1902 dipamerkan.

Army Recognition Group (ARG) melaporkan pada Januari 2025 bahwa Rusia telah menyelesaikan pengiriman keenam jet tempur Su-30 ke militer Myanmar, dengan dua pesawat tempur terakhir dalam pengiriman tersebut diresmikan di Pangkalan Udara Meiktila selama upacara pada 15 Desember 2024 untuk menandai ulang tahun ke-77 Angkatan Udara, yang dipimpin oleh kepala junta Min Aung Hlaing.


Mantan sersan angkatan udara tersebut mengatakan bahwa nomor dua pesawat tempur K-8W yang hadir pada upacara Kamis adalah nomor 3939 dan 3940 menunjukkan bahwa pesawat tersebut juga merupakan pesawat yang lebih tua, karena pesawat dengan nomor yang lebih baru, 3942, ditembak jatuh oleh kelompok perlawanan di Negara Bagian Karenni pada November 2023.

Namun, The Irrawaddy tidak dapat memverifikasi secara independen apakah pesawat yang diresmikan pada hari Kamis tersebut adalah pesawat lama atau baru.

Sejak kudeta 2021, pasukan anti-rezim telah menembak jatuh 13 pesawat rezim yang total nilainya sekitar US$170 juta.

04 Maret 2026

E-System Solution FZ Dipilih untuk Akuisisi 24 Pesawat Latih PC-21 NG

04 Maret 2026

PC-21 Angkatan Udara Prancis (photo: Michael Brazier)

PC-21 secara khusus dipilih oleh Prancis untuk pelatihan pilot tempur tingkat lanjut: Angkatan Udara Prancis mengoperasikan 26 pesawat ini di Sekolah Pelatihan Pilot Angkatan Udara (EFOPAA) di Cognac.

PC-21 terkenal dengan kokpit digital dan sistem simulasi onboard-nya, yang memungkinkan pelatihan untuk misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat. Sangat lincah, pesawat ini tetap jauh lebih murah untuk dioperasikan daripada pesawat bertenaga jet.

Versi NG adalah yang paling canggih, dan Indonesia akan menjadi pelanggan ekspor pertamanya.

PC-24 mampu mendarat di landasan kasar (photo: Pilatus)

E-System Solutions akan memanfaatkan PC-21NG ini untuk menciptakan Pusat Pelatihan Lanjutan yang didedikasikan untuk pelatihan pilot tempur, yang mencakup fase 2 hingga 4. Pelatihan tempur akan berlanjut di Pusat Perang Udara yang telah direncanakan oleh E-System Solutions, yang dilengkapi untuk peran agresor dengan MiG-29 dan drone Ultra Maneuverable Subsonik Tinggi.

Keputusan Indonesia ini menyusul dua keputusan lain yang secara resmi diumumkan bulan lalu di Singapore Air Show, mengenai 36 Leonardo M346FI (12 di antaranya opsional) dan 12 Pilatus PC-24. PC-24 akan digunakan untuk melatih pilot transportasi dan pilot Kementerian Perhubungan.

Indonesia memiliki rencana ambisius dan berinvestasi dalam kemampuan pelatihan yang komprehensif. Selain pilot Indonesia, rencananya juga akan melatih pilot asing, yang menunjukkan ambisi Indonesia untuk kemitraan internasional.

02 Maret 2026

Chief of Defence Force Visited 150 SQN in France

02 Maret 2026

150 SQN airmen and women, as well as their counterparts from the French Air and Space Force (FASF) in front of RSAF’s M-346 advance jet trainer (photos: RSAF)

Earlier this month, Chief of Defence Force (CDF) VADM Aaron Beng visited 150 SQN at Cazaux Air Base, France.

VADM Beng toured the squadron’s facilities, where he observed various learning tools and tried the flight simulators. He rounded off the visit with an engagement session with detachment personnel, interacting with them and gaining insights into their training experiences.

At the Cazouk Airbase, France stationed 12 Alenia Aermacchi M-346 Master as Overseas Detachment (photo: RSAF)

Cazaux Air Base is home to 150 SQN and its personnel, including Pilots, Air Force Engineers, trainees and support staff.

The RSAF has conducted flying training in France since 1998, and the airspace is 32 times Singapore's size! This allows our pilots to hone their flying and combat skills.


16 Februari 2026

Vulcanair A-VIATOR Aircraft for the Indonesian Navy

16 Februari 2026

A-VIATOR turboprop aircraft (photo: Vulcanair)

After a market survey, in 2022 the Indonesian Ministry of Defence reached out to Vulcanair for the purchase of a number of A-VIATOR turboprop aircraft for the purpose of modernizing the fleet of the Indonesian Navy composed of old and costly large twin-engine turboprop and obsolete single engine piston aircraft.

More particularly the Navy need was a certified and available modern yet cost effective aircraft to cover a wide range of missions from twin engine turboprop training, transport, surveillance and maritime patrol.

In December 2023 a contract was signed for the supply of four initial aircraft with a series of ancillary services such as pilot and maintenance training, and a dedicated customized simulator. After the setting up of the proper financing the contract was activated on January 29th 2026 and the construction of the aircraft has commenced in Vulcanair’s facilities in Casoria (Naples) Italy.

The A-VIATOR (AP.68TP-600) is certified under normal category by EASA [Ref. TCDS EASA.A.385], high-wing twin turboprop, non-pressurized aircraft. The structures of fuselage, wing, empennages are all metal construction with stressed skin, and the tricycle landing gear is retractable. The latest version of the A-VIATOR will be powered by the RR 250 B17/F powerplants and the latest avionic suite.

The sleek yet simple fuselage allow the aircraft to be fast, efficient and cost effective. The aircraft can be configured for a vast number of missions and sensor installations making it the perfect candidate for a scalable maritime patrol and surveillance platform.

In addition, the aircraft has very benign flight characteristic and can be easily operated in and out of remote areas using un-prepared short runways. The twin engine configuration ensures the necessary level of safety for over-the-water operations to reach the vast Indonesian archipelagic state.

The A-VIATOR is a variant of the Vulcanair P.68 Series with a fleet of over 500 aircraft manufactured and flying globally.

Vulcanair is a privately held company founded by the late Ing. Carlo De Feo in 1996 who through Vulcanair acquired the assets of Partenavia and of the Siai Marchetti SF600A programs. Since 1999 Vulcanair has been delivering special mission aircraft globally, which is the main focus of the company thanks to its aircraft attributes and portfolio. 

11 Februari 2026

Dua Pesawat T-50i Pesanan Indonesia Tiba Lanud Iswahjudi

11 Februari 2026

Dua truk trailer membawa fuselage pesawat T-50i TNI AU (photo ssv: SM22)

Setelah mengalami penundaan dari jadwal awal November 2025, pesawat latih tempur T-50i Golden Eagle tambahan pesanan TNI AU akhirnya dilaporkan tiba pada 5 Februari di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun.

Pesawat dikirim dari Korea Selatan dalam kondisi terurai dan akan dirakit terlebih dahulu sebelum uji terbang.

Kehadiran ini memperkuat Wing Udara 3 Tempur sebagai tulang punggung regenerasi pilot tempur nasional.

(SnappyMoment22)

04 Februari 2026

Leonardo, PT ESystem Solutions and the MoD of the RI Sign M-346 F Aircraft LOI to Meet Indonesian Air Force Training and Combat Requirements

04 Februari 2026

M-346 F Block 20 aircraft and its full armed (photo: AFP)

At Singapore Airshow 2026, Leonardo announced the signing of a Letter of Intent (LOI) with PT ESystem Solutions Indonesia and the Ministry of Defence (MoD) of the Republic of Indonesia aimed at cooperating for the supply and support of the Leonardo M-346 F “Block 20” aircraft to meet Indonesian Air Force operational requirements. 

The LOI follows the selection of the M-346 by the MoD to respond to Indonesia’s training and combat capability needs. The programme will provide a major contribution to the MoD pursuing an aircraft fleet modernization plan leveraging on the M-346 advanced technology and performance to replace ageing types, such as the Hawk, among others.  

The LOI also includes the localization of a range of support, maintenance, overhaul, training capabilities as well as human capital development. The parties will now move into the next stage of discussions, intended to achieve a procurement contract signing soon. 

The new M-346 F “Block 20” light fighter configuration standard will be equipped with cockpits featuring a Large Area Display (LAD), active electronically scanned radar, a Link 16 data-link, electronic countermeasures, and new weapons systems.  Leonardo's platform simultaneously offers a complete, integrated advanced flight training system - including a GBTS (Ground Based Training System), combined simulated elements and scenarios with real flights according to a Live, Virtual and Constructive (LVC) logic - with additional light combat capabilities for air-to-air and air-to-surface missions, enabled by advanced mission systems, equipment and sensors, also including aerial refuelling capability.

The M-346 is the core element of a cutting-edge and continuously evolving advanced flight-training system that has already demonstrated its effectiveness: a success story that has logged over 150,000 hours in flight with nearly 160 aircraft sold to date, enabling several air forces worldwide – including Asia - to train pilots for flying high-performance, latest generation fighters and to prepare transition towards the next-generation ‘combat air systems’.

20 countries already train their pilots on the M-346 – including those leveraging Italy’s I International Flight Training School - or have chosen this aircraft, in the fighter version, as a light multirole fighter. Thanks to its high-performance capabilities and manoeuvrability, the M 346 has also been chosen by the Italian Air Force as the future aircraft for the “Frecce Tricolori”, Italy’s national aerobatic team.

(Leonardo)

24 Januari 2026

SF260FH Number 029 Back Into Service

24 Januari 2026

SF260FH Number 029 training aircraft (photo: PAF)

The 410th Maintenance Wing headed by BGEN JOSE BONIFACIO F CALUB PAF conducted a Blessing and Turn-over Ceremony for the SF260FH Nr 029 upon the successful completion of its scheduled 3,000 hour inspection. The ceremony was held at Bay 1 Hangar, 410th Maintenance Wing, Clark Air Base (CAB) on 22 January 2026. The said activity was graced by the Commander Air Logistics Command (ALC), MGEN DENNIS G ESTRELLA PAF who served as the Guest of Honor. 

The ceremony serves as the formal and ceremonial acceptance of the completed aircraft project by the end-user. The Commander, Air Education and Training Command (AETC), MGEN JESUS NELSON B MORALES PAF and the Acting Group Commander, 440th (AMG) LTC RYAN JOSEPH MAGBOHOS PAF attended the activity and officially received the SF260H Nr 029. 

This event highlights the 410th Maintenance Wing’s technical proficiency and unwavering commitment to ensuring aircraft safety, reliability, and operational effectiveness in support of Philippine Air Force objectives. It likewise exemplifies the strong collaboration between the Air Logistics Command (ALC) and the Air Education and Training Command (AETC) toward the quality and sustainment of operational readiness in the accomplishment of the PAF mission.

(PAF)

22 Desember 2025

Kemhan Bahas Pembelian Jet Tempur M-346FA Asal Italia

22 Desember 2025

Pesawat M-346 FA (photo: David Chua)

Kementerian Pertahanan mengatakan belum ada keputusan ihwal pembelian jet tempur M-346FA asal Italia untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara atau TNI AU. Klarifikasi ini disampaikan menyusul beredarnya informasi di media sosial yang menyebut RI tengah bernegosiasi membeli 18 unit pesawat tersebut.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan pembahasan mengenai pesawat M-346FA masih berada pada tahap awal.

“Rencana pembelian pesawat M-346FA asal Italia, hingga saat ini belum ada keputusan yang ditetapkan. Proses pembahasan masih berlangsung dan belum sampai pada tahap penetapan,” kata Rico kepada Tempo, Sabtu, 20 Desember 2025.

Isu pembelian M-346FA mencuat setelah sebuah unggahan di platform X menyebutkan Indonesia tengah menjajaki pembelian 18 unit pesawat tempur ringan tersebut. Unggahan itu juga menyebut pesawat dilengkapi radar active electronically scanned array (AESA) Grifo-EK serta didukung pelatihan tempur udara dan peperangan elektronik. 

Rico menegaskan, hingga kini Kementerian Pertahanan belum dapat menyampaikan detail apa pun terkait rencana pengadaan tersebut. Menurut dia, pembahasan yang masih berjalan membuat pemerintah belum bisa memastikan waktu pengadaan, jumlah unit, maupun perkiraan harga satuan pesawat. 

“Mengenai waktu pengadaan, jumlah unit, serta perkiraan harga satuan, belum dapat disampaikan, mengingat masih dalam proses pembahasan,” ujar dia. 

Ia juga menambahkan setiap keputusan pengadaan alat utama sistem persenjataan akan diumumkan secara resmi oleh pemerintah setelah melalui seluruh tahapan yang ditetapkan. “Apabila nantinya sudah ada keputusan, akan disampaikan melalui kanal resmi pemerintah,” kata Rico.

27 November 2025

PTU Hadiri Pertunjukan Udara DUBAI 2025, Perkuatkan Hubungan Diploma Pertahanan dan Menikmati Teknologi Pertahanan Terbaru

27 November 2025

Kunjungan Panglima Tentera Udara Malaysia ke Dubai Airshow menyaksikan teknologi baru pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat latih, UCAV dan munisi udara (photos: TUDM)

Panglima Angkatan Udara, Jenderal Dato' Sri Haji Muhamad Norazlan bin Aris TUDM telah melaksanakan Kunjungan Kerja ke Uni Emirat Arab (UEA) mulai 16 hingga 21 November 2025 bersamaan dengan menghadiri Pameran Udara Dubai 2025 yang berlangsung di Dubai World Central (DWC). Kehadirannya di pameran internasional ini merupakan lanjutan dari upaya TUDM untuk menilai perkembangan terkini di industri kedirgantara dan memperkuat jaringan diplomasi pertahanan dengan negara-negara asing.


Perjalanan kerja dimulai dengan partisipasi dalam Konferensi Kepala Udara Internasional Dubai ke-12 (DIACC 2025) yang berlangsung di Atlantis, The Palm Dubai. Konferensi ini dibuka dengan "pepatah sambutan" oleh Mayor Jenderal Mohamed Salem Al Hameli, Wakil Komandan Angkatan Udara & Pertahanan Udara UEA. DIACC 2025 menyatukan para komandan angkatan udara dari seluruh dunia untuk berbagi wawasan tentang tema kali ini Hypersonic Edge: Re-Envisioning Airpower Across Asimetrik Spaces. Konferensi ini menekankan perlunya tenaga udara untuk beradaptasi dengan teknologi baru seperti hypersonics, UAV dan AI, memperkuat terintegrasi beberapa domain dan memastikan anggota siap menghadapi tantangan operasional di masa depan.


Sepanjang pertunangannya di Pameran Udara Dubai 2025, Komandan Angkatan Udara juga mengulas beberapa pameran yang melibatkan lebih dari 1.500 peserta pameran industri pertahanan internasional dan lebih dari 200 pesawat yang dipamerkan melalui pameran udara dan pameran statis. Pameran ini memberikan ruang bagi TUDM untuk melihat dari dekat inovasi terbaru termasuk pesawat tempur, pesawat angkut, UAV, sistem avionik, sensor, teknologi jaringan misi serta berbagai platform pertahanan generasi berikutnya. Paparan teknologi tersebut penting dalam mendukung upaya TUDM untuk menilai potensi pengembangan kemampuan ke depan sesuai dengan kebutuhan operasional TUDM dan arah strategis.


Selain meninjau pameran, kehadiran Panglima Angkatan Udara juga dimanfaatkan dengan mengadakan pertemuan dengan para pimpinan Angkatan Udara negara yang hadir termasuk Mayor Jenderal Mohamed Salem Al Hameli. Pertemuan tersebut membuka ruang diskusi penguatan hubungan bilateral sejalan dengan komitmen TUDM untuk terus memperkuat jaringan diplomasi pertahanan internasional.


Dalam pertemuan dengan Mayor Jenderal Mohamed Salem Al Hameli, Panglima Angkatan Udara juga mengambil kesempatan untuk mengundang Angkatan Udara & Pertahanan Udara UEA dan Tim Aerobatic Al Fursan untuk berpartisipasi dan memeriahkan acara LIMA 2027 mendatang.


Turut mendampingi Panglima Angkatan Udara selama kunjungan adalah Kolonel Suhaidi bin Saad, Panglima Pertahanan Malaysia di UEA, Kolonel Razali bin Ahmad Jumali TUDM, Penasihat Militer PTU dan Letnan Kolonel Fairul bin Mohd Rustham TUDM, Komandan No. 12 Skn.

15 November 2025

NZ Army Teams up with Local Jet Company in Training First

15 November 2025

Close air support missions for training with NZ Army (photos: NZDF)

Soldiers from the New Zealand Army, Ngāti Tūmatauenga have carried out a significant training first when local defence contractor, Fighter Jets NZ, was used to simulate realistic close air support missions with jet aircraft.

Previously, the NZ Army has had to travel internationally for all close air support training, so to be able to call on physical air assets – in the form of two civilian-owned Aero L-39 Albatros jets – was invaluable training for personnel.

The training involved soldiers from 16th Field Regiment, where four Joint Fires Teams coordinated land, maritime and air attacks on an enemy on a fictional island under occupation and martial law.

The Joint Fires Teams, made up of highly trained Joint Terminal Attack Controllers (JTAC) and Joint Fires Officers play a crucial role of enabling the New Zealand Defence Force to coordinate and control strikes. They can carry out reconnaissance missions, clear opposing air defences and “strike the enemy in depth”, says Major Jake Boersen, 163 Battery Commander, 16th Field Regiment.


A senior NZ Army JTAC was aboard the jet to provide a military eye in the sky. His role was to bridge the gap between the civilian pilots and what is expected of a military fighter jet pilot.

Lieutenant Colonel Brent Morris, Commanding Officer of 16th Field Regiment, says the Joint Fires Teams receive excellent training overseas with New Zealand’s partners, but that does limit the ability to test tactical skills in a complex and hostile environment.

Tauranga-based Fighter Jets NZ was an experienced and professional organisation that can draw on experience from across the aviation industry to support the NZ Army’s training objectives, Lieutenant Colonel Morris said.

“Having the means to simulate attack aircraft during domestic training significantly enhances the trained state of our personnel and increases our lethality on the battlefield.”

L-39 Albatros jets for training with New Zealand Army (photo: FighterJets NZ)

During the training, the soldiers also had to navigate extremely challenging environments and terrain after being winched into remote forests from Royal New Zealand Air Force NH90 helicopters.

The soldiers, each carrying up to 45kg of equipment, were required to manoeuvre through the difficult terrain for three days, before reaching the location to call in a simulated naval strike, followed up with the fighter jet runs.

Chief of Army, Major General Rose King, says this exercise provides invaluable training for both the personnel involved and wider 1st (New Zealand) Brigade, and also demonstrates the capability and value that the NZ Army is able to provide as a crucial force-multiplier in a multinational setting.

“The New Zealand Army’s greatest strength lies in the competence and professionalism of our people – soldiers who can think, adapt and lead in complex environments. Having the ability to strike from across all domains is extremely important in the contemporary operating environment, and it is reassuring to see us further refine skillsets in a domestic setting alongside the New Zealand defence industry,” she said.

04 November 2025

KT-1B Akan Diproduksi di Bandung, Inilah Avionik Infoglobal untuk KT-1B

04 November 2025

Produk avionik Infoglobal untuk pesawat latih KT-1B (photos: Infoglobal)

Langit Indonesia dijaga dengan teknologi karya anak bangsa. Avionik Infoglobal untuk pesawat latih KT-1B Wong Bee menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mandiri dalam teknologi pertahanan udara.


Pesawat KT-1B merupakan pesawat latih dasar turboprop dengan dua kursi yang digunakan TNI AU sejak 2003, termasuk tim aerobatik Jupiter.


Pesawat yang juga memiliki kemampuan misi tempur ringan (COIN) ini, kabarnya akan diproduksi penuh di Bandung.


Dilansir dari indonesianaerospace.com, kerjasama yang ditandatangani antara PTDI dan Korea Aerospace Industries (KAI) memungkinkan Indonesia melanjutkan produksi penuh pesawat tersebut, sekaligus melayani perawatan dan ekspor ke negara-negara pengguna seperti Korea Selatan, Turki dan Peru.

02 November 2025

Royal New Zealand Air Force T-6C Texan II Fleet Hits Milestone

02 November 2025

T-6C Texan II of the Royal New Zealand Air Force (photos: RNZAF)

Since its introduction in 2015, the aircraft have been central to the RNZAF’s pilot training programme at No. 14 Squadron and are also flown by the Black Falcons aerobatic team.

Since the Texans’ arrival, 97 pilots have successfully earned their brevets. Of those, 91 were from the RNZAF and Royal New Zealand Navy, and six were from the Royal Australian Air Force.

Flight Lieutenant Corey Fothergill was on the first course, learning to fly the Texans in 2016. A decade on he is now an instructor on the same course.

“It’s definitely a full-circle sort of moment, which is cool,” Flight Lieutenant Corey Fothergill says. 

Recalling the moment he first sat in a Texan as a beginner pilot was “overwhelming”. 


“It's a very powerful training aircraft for someone who hadn't done flying before. It was a humbling moment.”

Flight Lieutenant Fothergill went from the Texans to flying NH90 helicopters with No. 3 Squadron, which provided career highlights including flying in Australia and Solomon Islands, as well as being involved in search and rescues around the country.

“But being back at No. 14 Squadron for the past six months has been really rewarding.”

One of the squadron’s latest graduates, Flying Officer Robert Petch, received his Wings in June.

He described flying the aircraft as “learning to drive in a sports car”.


“No. 14 Squadron takes you from having zero aviation experience to navigating at 250 feet at speeds of 210 knots [389km/h].” 

Ensuring the pin was pulled from his seat to enable ejection in case of an emergency was a sobering moment on his first flying day, Flying Officer Petch said.

The new pilot will now put his lessons into practice, also as an instructor at No. 14 Squadron, before moving to a frontline squadron in a couple of years.

Reaching 40,000 flying hours for the fleet was impressive and reflected the large number of sorties – about 18, but up to 24 – scheduled each day, he said. 

Officer Commanding No. 14 Squadron, Squadron Leader Simon Isemonger said the serviceability rates of the aircraft were among the highest in the world.


“We've worked through several significant issues over the past 10 years that have been resolved by an amazing team.”

The aircraft was ideal as a training plane with its modern flight deck and multi-function displays, he said. 

“It also has pretty decent range to get around New Zealand so that the pilots can experience what we have to offer at home in terms of different locations.

“It offers a broad spectrum of flying disciplines, preparing pilots well for their future employment on New Zealand Defence Force operational fleets, and also provides a capable platform for display flying by the Black Falcons.”

This milestone also highlights the strength of the squadron’s international partnerships with Textron Aviation Defence, for providing the training aircraft, engineering, and logistical support; Airbus, for ensuring fleet readiness through maintenance and support; and CAE, for delivering and taking care of the simulation and training systems.

Pilatus PC-9 Calon Pesawat Latih Baru TNI AU

02 November 2025

Pesawat latih Pilatus PC-9 Australia yang saat ini telah dipensiunkan dan diganti dengan PC-21 (photo: Wiki)

Kementerian Pertahanan dikabarkan akan menambah pesawat latih baru untuk mempersiapkan pilot-pilot baru seiring dengan pembelian beberapa jenis pesawat tempur baru untuk menambah jumlah skadron tempur udara hingga tahapan ideal.

Berdasarkan informasi dari sumber, pesawat latih yang dipilih adalah Pilatus PC-9 buatan Swiss. Uniknya pesawat ini memiliki mesin turboprop 1 × Pratt & Whitney Canada PT6A-62 yang sama dengan pesawat latih KT-1B yang dimiliki TNI AU.

Pilihan pada PC-9 terlihat kompromis karena akan terjadi interoperability dengan KT-1B. Mengingat kebutuhan telah mendesak maka pesawat yang dibututuhkan adalah pesawat yang  telah tersedia saat ini alias bekas pakai. Total produksi pesawat PC-9 mencapai 265 unit sebelum produksi dialihkan menjadi PC-21 yang menggunakan jenis mesin yang berbeda.

Pesawat bekas pakai jenis KT-1 juga tidak memungkinkan mengingat produksi pesawat ini baru mencapai 100 unit yang digunakan oleh Angkatan Udara Korea Selatan (KT-1A), Indonesia (KT-1B), Turki (KT-1C), Peru (KT-1P), dan Senegal (KT-1S).

Mengingat usia pesawat bekas tidak akan bertahan lama layaknya pesawat baru maka akan menempatkan pesawat PC-9 ini sebagai pesawat interim bagi TNI AU sedangkan pesawat latih definitifnya dapat dibuat sendiri oleh PT DI yang sebentar lagi akan jadi pusat produksi pesawat latih KT-1 sesuai dengan perjanjian bersama KAI Korea Selatan baru-baru ini. 

Dengan bergabungnya Indonesia sebagai pengguna pesawat latih Pilatus PC series, maka di kawasan ASEAN-Oceania tinggal Filipina, Kamboja dan Laos saja yang tidak mengoperasikannya. Angkatan Udara sisanya mengoperasikan pesawat latih Pilatus PC series yaitu PC-7 (Brunei, Malaysia, Myanmar), PC-9 (Myanmar), PC-21 (Australia, Singapore) serta varian Pilatus PC yang diproduksi Amerika Serikat dengan nama Textron T-6C (Vietnam, New Zealand, dan Thailand).

23 Oktober 2025

Pesawat KT-1B Woong Bee Bakal Dikembangkan di Bandung

23 Oktober 2025

Lini perakitan KT-1B di KAI (photo: daum)

SEOUL, KOMPAS — PT Dirgantara Indonesia dan Korean Aerospace Industries (KAI), Senin (20/10/2025), sepakat memperkokoh kerja sama. Langkah itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerangka kerja terkait program pengembangan pesawat KT-1B Woong Bee. Perjanjian tersebut ditandatangani di sela-sela pameran kedirgantaraan dan industri pertahanan ADEX 2025 di Seoul, Korea Selatan.

PT Dirgantara Indonesia diwakili oleh Direktur Niaga, Teknologi, dan Pengembangan Moh Arief Faisal, sementara KAI diwakili oleh EVP Divisi Pengembangan Bisnis Global, Cho Woo Rae. Seusai penandatanganan, Arief menjelaskan, perjanjian tersebut merupakan bagian awal dari proses produksi bersama KT-1B Woong Bee.

Namun, Arief tidak menjelaskan kapan tepatnya proses produksi tersebut akan dilakukan. KT-1B Woong Bee adalah pesawat latih yang sejak beberapa dekade lalu telah digunakan oleh TNI Angkatan Udara. Saat ini varian KT-1B digunakan oleh tim aerobatik Jupiter TNI Angkatan Udara.

”Karena KAI tidak akan memproduksinya lagi, melalui kerja sama ini, nanti PT DI yang akan melanjutkan produksi KT-1B Woong Bee,” kata Arief. Secara bertahap, lanjutnya, lini produksi pesawat tersebut akan dipindahkan ke pusat produksi milik PT DI di Bandung.

Selanjutnya, PT DI akan melayani baik perawatan maupun pemenuhan pesanan pesawat tersebut, khususnya di kawasan Asia. Saat ini, selain Indonesia, KT-1B Woong Bee, antara lain, digunakan oleh Angkatan Udara Korea Selatan, Peru, dan Turki.

Lebih lanjut Arief mengatakan, kerja sama ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pengetahuan, khususnya dalam lini pesawat latih dan militer. Hal serupa diharapkan dapat diterapkan dalam pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae.

Harapan serupa diungkapkan oleh KAI. Kesepakatan tersebut merupakan salah satu wujud kepercayaan lembaga itu pada Indonesia. Mereka melihat, Indonesia memiliki kapasitas dan pengalaman yang memadai, sekaligus mitra yang dapat diandalkan.

KT-1B TNI AU (photo: TNI AU)

Tercatat, Indonesia mulai menggunakan KT-1 Woong Bee sejak 2003. Pesawat tersebut digunakan untuk menggantikan pesawat latih T-34 Charlie. Pesawat yang mulai digunakan pada 1979 itu awalnya diproduksi oleh pabrikan asal AS, Beechcraft Corporation.

Dalam dunia militer, pesawat latih itu juga dikembangkan tujuan tempur. Pesawat itu khususnya untuk mengemban misi lawan gerilya atau counter insurgency (COIN).

Dalam sejarah industri militer Korea Selatan, KT-1 Woong Bee merupakan salah satu langkah awal untuk mewujudkan kemandirian. Kepala Staf Angkatan Udara Korea Selatan Marsekal Son Sug-rag mengatakan, KT-1 Woong Bee dan T-50 Golden Eagle—juga digunakan oleh TNI Angkatan Udara—adalah wujud dari kemajuan teknologi kedirgantaraan negeri itu.

Son mengatakan, kedua pesawat tersebut merupakan bagian integral dari pencapaian industri pertahanan Korea Selatan. Selain memperkuat pertahanan negeri itu, keberadaannya menunjang ekspor produk militer Korea Selatan.

Bahkan, T-50 yang kemudian dikembangkan menjadi FA-50 atau versi tempur, telah mencatatkan predikat battle proven. Di tangan pilot-pilot Angkatan Udara Filipina, FA-50 membuktikan ketangguhannya di palagan Marawi.

Kepala Staf Angkatan Udara Filipina Fabian Pedregosa mengatakan, FA-50 Angkatan Udara Filipina terlibat dalam misi Liberation of Marawi tahun 2017. ”Pesawat ini menjadi bagian dari upaya untuk menjaga stabilitas di kawasan,” kata jenderal berbintang dua itu.

30 September 2025

Wakasau Pimpin Commander Inspection Pengadaan Enam Unit Pesawat T-50i di KAI

30 September 2025

Progres pesanan 6 pesawat latih T-50i ditinjau Wakasau (photos: TNI AU)

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S., M.M., memimpin Commander Inspection pengadaan enam unit pesawat T-50i di Korean Aerospace Industries (KAI), Sacheon, Korea Selatan, Senin (29/9/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan untuk meninjau langsung perkembangan pengadaan enam unit pesawat T-50i yang nantinya akan memperkuat TNI Angkatan Udara.


Dalam kunjungan tersebut, Wakasau dan delegasi disambut oleh Senior Executive Vice President KAI, Mr. Jae-Byoung Cha, yang memberikan penjelasan terkait program produksi enam unit pesawat T-50i. Selanjutnya, delegasi meninjau dan melihat secara langsung pesawat T-50i beserta fasilitas yang dimiliki KAI.

2 pesawat T-50i dikirimkan November
Pengiriman enam unit pesawat tempur T-50i akan dilakukan secara bertahap. Dua pesawat pertama direncanakan tiba pada November 2025, disusul pengiriman berikutnya. Penambahan kekuatan ini merupakan bagian dari program modernisasi Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) untuk meningkatkan kesiapan tempur TNI Angkatan Udara.


Langkah tersebut sejalan dengan tekad Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., dalam mewujudkan TNI Angkatan Udara yang Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis (AMPUH).

Turut mendampingi Wakasau Dankoharmatau Marsda TNI Ir. Suryanto, Kapus BMN Baranahan Kemhan RI Marsma TNI Tisna Kurniawan, Dangrup 3 Tempur Koopsau Marsma TNI David Tamboto, Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Madya Pus Alpalhan Baranahan Kemhan Kolonel Lek Dwi Anggoro serta Athan di Seoul Kolonel Pnb Muhammad Arif.