Tampilkan postingan dengan label UCAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UCAV. Tampilkan semua postingan

02 Agustus 2026

Kogabwilhan I dan Pasmar 1 Kembangkan Drone Serbu Otomatis

02 Agustus 2026

Drone serbu otomatis hasil kolaborasi Kogabwilhan I dan Pasmar 1 (photos: PasMar1)

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Kogabwilhan I) bersama Pasmar 1 berkolaborasi mengembangkan drone serbu otomatis sebagai inovasi teknologi pertahanan. Alutsista ini rencananya akan diuji pada Latihan TNI Terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.


Pengembangan drone ini ditujukan untuk mendukung operasi di medan sulit dijangkau, mempercepat respons terhadap sasaran, dan mengoptimalkan teknologi modern bagi prajurit. Uji coba difokuskan pada keandalan sistem, mobilitas, dan efektivitas di berbagai medan dengan melibatkan unsur darat, laut, dan udara.


Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Danpasmar 1 Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., meninjau langsung uji coba di Lapangan Tembak Jusman Puger, Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (29/07/2026). Kolaborasi ini wujud sinergi modernisasi pertahanan untuk meningkatkan kesiapan operasional prajurit menghadapi tantangan tugas yang dinamis.

11 Juli 2026

Retractable Landing Gear BRIN, Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam

11 Juli 2026

Retracable landing gear BRIN pada UAV Elang Hitam (photo: BRIN)

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

“Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

UAV Elang Hitam menggunakan Retracable landing gear (photo: Bambang Haryanta)

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Proses pengujian Retractable Landing Gear (photo: BRIN)

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

UAV Elang Hitamj (photo: PT DI)

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

“Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

18 Juni 2026

Malaysia Berencana Menambah 3 Lagi Drone Anka-S Tahap Kedua

18 Juni 2026

Drone MALE Anka-S buatan Turki (photo: NST)

Kementerian Pertahanan Berencana Memperluas Armada Drone Anka untuk Jangkauan Pengawasan yang Lebih Luas

LABUAN: Kementerian Pertahanan berencana untuk mengakuisisi sistem pesawat tanpa awak (UAS) Anka tambahan di bawah pengadaan tahap kedua untuk lebih memperkuat kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) negara, terutama di Laut Cina Selatan.

Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin mengatakan kementerian berencana untuk mengakuisisi tiga unit lagi, yang akan menggandakan armada drone Angkatan Udara Kerajaan Malaysia.

Ia mengatakan akuisisi tambahan ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Malaysia dalam memantau area kepentingan nasional dan meningkatkan cakupan operasional di seluruh negeri.

Drone MALE Anka-S buatan Turki (photos: MYKemhan)

"Kami memang memiliki proposal untuk membeli tiga unit Anka lagi di bawah Tahap Dua... itu sudah termasuk dalam Rencana Malaysia saat ini, bahwa kami akan mengajukan permohonan untuk unit tambahan.

"Saat ini, kami mengoperasikan dua pesawat secara bergantian." “Jika kita memiliki tiga unit lagi, itu berarti kita mungkin dapat mencakup seluruh negeri,” katanya dalam konferensi pers setelah upacara penyerahan Anka-S Angkatan Udara Malaysia (TUDM) di pangkalan udara Labuan hari ini.

Tiga unit Anka-S pertama, yang diperoleh dengan biaya RM423,8 juta, dilengkapi dengan stasiun kendali darat dan dukungan pelatihan untuk personel TUDM.


Kontrak untuk pengadaan tiga drone Anka dan peralatan pendukung terkaitnya ditandatangani di Pameran Langkawi International Maritime and Aerospace pada tahun 2023.

Khaled mengatakan Anka-S, yang mampu beroperasi selama lebih dari 24 jam pada ketinggian hingga 30.000 kaki, akan berfungsi sebagai 'mata dan telinga' Malaysia dalam memantau wilayah maritim negara tersebut.

Ia mengatakan drone tersebut akan berbasis di pangkalan udara Labuan untuk melakukan operasi pengawasan di Laut Cina Selatan, khususnya di daerah-daerah di mana Malaysia memiliki klaim yang tumpang tindih, sambil mendeteksi aktivitas yang dapat mengancam keamanan nasional.


“(Anka-S) memberikan cakupan operasional yang belum pernah ada sebelumnya.” "Sebelumnya di salah satu wilayah maritim yang paling diperebutkan di dunia, hal ini memberi Malaysia keunggulan informasi penting yang dapat membantu kita dalam merumuskan kebijakan keamanan nasional," katanya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan drone untuk mengidentifikasi dan melacak kapal secara akurat akan memungkinkan pihak berwenang untuk mengerahkan aset secara lebih efisien tanpa melakukan patroli yang tidak perlu.

Pangkalan Udara TUDM Labuan (image: GoogleMaps)

"Ini memungkinkan kita untuk merencanakan dan mengerahkan aset secara lebih efisien dan akurat ke lokasi intrusi, tanpa harus melakukan patroli yang tidak terfokus atau patroli buta yang membuang sumber daya," katanya.

Khaled mengatakan Anka-S juga mampu membawa senjata, tetapi Malaysia memilih untuk tidak melengkapi pesawat tersebut dengan senjata karena postur pertahanan negara difokuskan pada perlindungan kedaulatan daripada berada di garis depan. ofensif.

(NST)

13 Juni 2026

Boeing Unveils Advanced MQ-28 Capabilities, Extended Combat Reach

13 Juni 2026

Evolved Ghost Bat with extended combat capabilities (photo: Boeing)

BERLIN – Boeing [NYSE: BA] unveiled extended combat capabilities of the MQ-28 Ghost Bat at the ILA Berlin Air Show in Germany. The new features within the MQ-28 technology roadmap further enhance the platform’s flexibility, range and capacity for global customers. 

The enhancements include an increased wingspan, which allows the MQ-28 to carry an additional 2,000 pounds of fuel, stores, and mission payloads. It can also be provisioned to carry two AMRAAM missiles or four small diameter bombs (SDBs) internally. 

“That additional capacity gives operators freedom to balance payload and endurance to configure for the mission at hand, whether that means carrying extra fuel for longer-range operations, increasing weapons carriage, or any combination of both,” said Glen Ferguson, MQ-28 global program director. 

“These features, developed in partnership with the Royal Australian Air Force, will be progressively released to the fleet through a spiral upgrade program, and are available to interested allied countries.”  

Other new MQ-28 capabilities include: 
-Significant software development upgrades compliant with Government Reference Architecture – open standards enable operators to tailor weapons, payloads, command and control, and mission autonomy to suit their operational requirements.
-Upgraded modular, missionised nose – provides enhanced payload configuration options and supports insertion of third-party capability.
-Introduction of Beyond Line of Sight (BLOS) communication links – enabling the MQ-28 custodian to operate from a crewed aircraft, ground station or Naval vessel at unlimited standoff distances.
-Two internal weapons stations with capacity for one AMRAAM missile or two SDBs each side, plus provision for three external weapons stations – providing mission flexibility for combat operations.

The new weapon bays of the MQ-28 as show in the video released at ILA 2026 (Image: Boeing)
 
“Inclusion of features such as BLOS capability are a direct result of our learnings to date along with feedback from Air Forces as they understand more about the role and integration of CCAs into joint force operations,” said Ferguson. 

“The advanced maturity of the MQ-28 systems is what allows us to continually adapt to the changing operational environment and minimise the risk as we transition to operations,” said Amy List, vice president and managing director of Boeing Defence Australia. 

“Combined with the MQ-28’s confirmed low observability characteristics, and survivability upgrades, these capability enhancements support more flexible mission concepts and further allow Defence customers to distribute operational risk.” 

They improve interchangeability and interoperability with Boeing and non-Boeing platforms for allied forces and give operators a highly configurable, mission-adaptable solution that can be tailored to meet their sovereign operational needs.  

Key statistics
-Maximum take-off weight – increased from 10,000lb to 12,000lb (one ton)
25% percent larger wing 
-Useful load – >4,500lb
-Internal stores capacity – 2 x AMRAAM or 4 x SDB (plus option for three external weapon stations if needed)

10 Juni 2026

Quadrotor Thailand Sukses Tembakkan Roket 2,75 inch

10 Juni 2026

Quadrotor NAC Drone VTOL buatan NAC Drone Thailand sukses menembakkan roket udara-ke-darat 2,75 inch (photos: Pop Petasen)

Angkatan Udara Kerajaan Thailand terus membuat kemajuan dalam pengembangan sistem pesawat nirawak (UAV), termasuk prototipe NP Interceptor Drone, yang dikembangkan di Pusat Latihan Angkatan Udara Kerajaan Thailand Nam Phong di provinsi Khon Kaen bekerja sama dengan Fakultas Teknik, Universitas Khon Kaen.


Ini akan menjadi sistem anti-pesawat nirawak (CUAS) berbiaya rendah, berkecepatan tinggi, dan berdaya hancur tinggi dengan efektor yang dicetak 3D dan sistem kontrol siap pakai. Contoh sistem ini telah digunakan oleh Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia. Sebuah prototipe diperlihatkan kepada Marsekal Kepala Angkatan Udara Seksan. Kantha, Panglima Tertinggi Angkatan Udara Kerajaan Thailand, pada 30 April 2026.


Sebuah pesawat tanpa awak lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) yang dikembangkan oleh perusahaan Thailand NAC Drone, yang diketahui telah digunakan dalam pertempuran di perbatasan Thailand-Kamboja pada tahun 2025, diuji untuk pemasangan dan penembakan roket udara-ke-permukaan 2,75 inci yang diproduksi oleh Direktorat Persenjataan Angkatan Udara Kerajaan Thailand di Lapangan Latihan Senjata Udara Chai Badan, Provinsi Lopburi pada 1 Mei 2026. 


Hal ini menunjukkan dukungan Angkatan Udara Kerajaan Thailand untuk penelitian kolaboratif dengan lembaga pendidikan Thailand dan perusahaan swasta dalam mencapai kemandirian.

(AAG)

11 Mei 2026

Lanudal Tanjungpinang Terima Kunjungan Tim Survey Rencana Pembangunan Hanggar UCAV MALE Light Anka

11 Mei 2026

Pangkalan Udara TNI AL di Tanjung Pinang, Batam, Kepulauan Riau (image: GoogleMaps)

TNI AL -- Lanudal Tanjungpinang menerima kunjungan Tim Survey Kementerian Pertahanan RI dalam rangka pelaksanaan survei rencana pembangunan Hanggar Unmanned Combat Air Vehicle (UCAV) Medium Altitude Long Endurance (MALE) Light Anka, Jumat (8/5/2026).

Kegiatan survei rencana pembangunan hanggar ANKA UCAV untuk TNI AL (photos: TNI AL)

Rombongan Tim Survey tiba di VIP Room Lanudal Tanjungpinang dipimpin Katim Kolonel Kal M. Zainul Arif disambut langsung oleh Komandan Lanudal Tanjungpinang Kolonel Laut (P) Tatang Yanuar Ristanto, M.Tr.Opsla., beserta jajaran Perwira Staf Lanudal Tanjungpinang dan Wing Udara 1.


Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tahapan survei dan peninjauan lokasi pembangunan hanggar yang direncanakan menjadi fasilitas pendukung operasional UCAV MALE Light ANKA di Lanudal Tanjungpinang.

07 Mei 2026

Baykar and Indonesia Sign 12 KIZILELMA Export Agreement

07 Mei 2026

Indonesia purchase 12 Kizilelma UCAV and 4 for option (photo: SavunmaSanayiST)

SAHA 2026, one of the largest global gatherings of the Turkish defense industry, witnessed a strategic export success. A formal contract was signed between Baykar, Türkiye's leading force in unmanned platforms, and Indonesia-based PT Republik Aero Dirgantara (Republikorp) for the supply of the Bayraktar KIZILELMA Unmanned Combat Aircraft.

The signing ceremony, held at the Istanbul Exhibition Center, was attended by senior executives from both companies and representatives from the defense industry. Haluk BAYRAKTAR signed the agreement on behalf of BAYKAR.

Kizilelma UCAV (photo: Baykar)

In his speech at the signing ceremony, Haluk Bayraktar stated, “We have signed our first export agreement for Bayraktar KIZILELMA with Indonesia. Under the agreement, deliveries of a fleet of 12 Bayraktar KIZILELMA drones are targeted to begin in 2028. The agreement also includes an option for an additional 4 fleets.”

The agreement covers not only the supply of the system but also the establishment of a local production and maintenance center in Indonesia for upkeep and maintenance.

Indonesia had previously signed contracts for Bayraktar AKINCI and Bayraktar TB2. KIZILELMA became the third different type of UAV exported to that country.

Kizilelma UCAV (photo: Baykar)

With serial production activities accelerating by 2026 , Bayraktar KIZILELMA is expected to play a critical role in the modernization process of the Indonesian Air Force under this contract.

Strategic Partnership and Technology Transfer
The agreement covers not only the supply of products but also the integration of the technological ecosystem between the two countries. PT Republik Aero Dirgantara, as a strategic player offering defense solutions in the Southeast Asian market, will contribute to KIZILELMA's operational sustainability in the region.

Spesifikasi Kizilelma UCAV (infographic: Baykar)

The Pioneer of Next-Generation Air Warfare: KIZILELMA
Bayraktar KIZILELMA is a platform developed within the scope of Türkiye's Combat Unmanned Aircraft System (MİUS) project, distinguished by its low radar visibility and high maneuverability. With a maximum takeoff weight of 8.5 tons and a payload capacity of 1.5 tons, the aircraft maintains its "stealth" characteristics thanks to its ability to carry internal ammunition.

KIZILELMA holds the distinction of being the first unmanned combat aircraft in world aviation history to detect an air target using its own radar system (AESA) and shoot it down with its own domestically produced air-to-air missile. With its AI-powered autonomous formation flight and intelligent fleet operations, it is shaping the future of air combat doctrine.

03 Mei 2026

Jepang dan Australia Bekerja Sama Mengembangkan MQ-28A untuk Konsep MUM-T di JASDF

03 Mei 2026

Boeing MQ-28A Ghost Bat dan RAAF F-35A (photo: Aus DoD0

Angkatan Udara Bela Diri Jepang/Japan Air Self-Defence Force (JASDF) akan meningkatkan pemahamannya tentang teknologi kerja sama pesawat tempur berawak dan tanpa awak/manned-unmanned-teaming (MUM-T) setelah kesepakatan dengan Australia untuk bersama-sama melakukan aktivitas pesawat tempur kolaboratif/collaborative combat aircraft (CCA), demikian disampaikan Kementerian Pertahanan (MoD) di Tokyo kepada Janes.

Seorang juru bicara MoD mengatakan pada akhir April bahwa kolaborasi ini juga akan memungkinkan JASDF untuk mendapatkan wawasan tentang tantangan yang terkait dengan pengoperasian sistem 'pendamping setia' bersama pesawat berawak.

Proyek bersama ini didukung oleh penandatanganan perjanjian implementasi untuk Boeing MQ-28A Ghost Bat yang ditandatangani pada 18 April oleh Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan mitranya dari Jepang, Koizumi Shinjiro.

Menurut para menteri, kesepakatan tersebut menetapkan kerangka kerja yang memungkinkan Jepang dan Australia untuk melakukan kegiatan terkait CCA (Combined Combat Aircraft) di bawah perjanjian berbagi peralatan dan layanan pertahanan yang ada yang ditandatangani pada Mei 2025.

Kesepakatan implementasi ini mendukung upaya JASDF (Angkatan Pertahanan Bela Diri Jepang) untuk mengevaluasi kelayakan penggunaan pesawat tanpa awak dalam koordinasi dengan pesawat berawak, kata juru bicara Kementerian Pertahanan.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Jepang dan Australia akan melakukan penelitian terkait MQ-28A di Australia pada tahun fiskal Jepang 2026. Kegiatan ini diharapkan mencakup pendidikan dan pelatihan terkait proses uji terbang, tambah juru bicara tersebut.

Kerangka penelitian ini dimaksudkan untuk memungkinkan JASDF memperoleh pengetahuan operasional tentang penggunaan pesawat tanpa awak bersama platform berawak dan mengidentifikasi tantangan teknis dan operasional terkait.

Namun, belum jelas kapan kegiatan tersebut akan dimulai. Juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan diskusi tentang koordinasi saat ini sedang berlangsung. Rincian penjadwalan lebih lanjut tidak tersedia karena sifat sensitif proyek tersebut, tambah juru bicara tersebut.

06 April 2026

Ujian Penerbangan Pertama ANKA-THS di Pangkalan Udara Labuan

06 April 2026

Penerbangan pertama ANKA-THS TUDM (photo: MMR)

LABUAN – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) melalui No 11 Skuadron telah melakar sejarah baru dalam pemodenan TUDM dimana ujian penerbangan pertama pesawat ANKA-THS telah berjaya dilaksanakan di Pangkalan Udara Labuan pada petang semalam.

Ujian penerbangan selama 3 jam tersebut merupakan sebahagian daripada persediaan sebelum penyerahan aset baharu kepada pihak TUDM. Kejayaan penerbangan sulung pesawat ANKA-THS ini adalah hasil kerjasama dan koordinasi yang jitu antara Markas Pemerintahan Operasi Udara (MPOU), Markas Wilayah Udara 2 (MAWILUD 2), MTU-Perancangan & Pembangunan, Pangkalan Udara Labuan serta agensi lain seperti Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM), Bahagian Geospatial Pertahanan (BGSP), Suruhanjaya Komunikasi dan Multimedia Malaysia (SKMM) dan Jabatan Kaji Cuaca Malaysia (MET Malaysia).

Penerbangan pertama ANKA-THS TUDM (photo: TUDM)

Sistem pesawat ANKA-THS yang dibangunkan oleh Turkish Aerospace Industries (TAI) bakal memperkukuh keupayaan Intelligence, Surveillance, Target Acquisition and Reconnaissance (ISTAR) TUDM dalam melaksanakan pemantauan strategik di Wilayah Timur serta kawasan kepentingan negara seperti Laut China Selatan.

Pesawat ANKA-THS ini mampu melaksanakan pemantauan secara tepat dalam pelbagai keadaan cuaca, siang dan malam dengan keupayaan durasi penerbangan melebihi 20 jam. Pesawat ini merupakan sebahagian daripada Fasa 1 Pelan Perolehan Strategik Pertahanan Negara (PSPN) di bawah Rancangan Malaysia Ke-12 (RMK12) serta selari dengan pelan pembangunan keupayaan TUDM melalui CAP55.

Penerbangan pertama ANKA-THS TUDM (photo: TUDM)

Perolehan aset baharu ini juga secara langsung akan meningkatkan keupayaan TUDM dan Angkatan Tentera Malaysia (ATM) dalam melaksanakan operasi pemantauan strategik, pengawasan maritim serta pengumpulan maklumat perisikan, sekali gus memperkukuh kesiapsiagaan pertahanan dan kedaulatan negara.

(TUDM)

05 April 2026

Rheinmetall and Boeing Defence Australia Partner on German MQ-28 Ghost Bat

05 April 2026

MQ-28 Ghost Bat will make a significant contribution to the operational capability of the German Air Force (photo: Aus DoD)

Rheinmetall and Boeing Australia have entered into a strategic partnership to offer the MQ-28 Ghost Bat as a mature solution for the Bundeswehr’s procurement of collaborative combat aircraft (CCA) into Germany by 2029. 

Boeing’s MQ-28 Ghost Bat has completed more than 150 flights and has been designed, developed and manufactured in Australia for the Royal Australian Air Force and other allied nations.  

A proven autonomous CCA, it will act as a force multiplier, teaming with manned platforms to provide critical combat mass in highly contested airspace. Its modular design and autonomous behaviours support a broad range of mission capabilities, including reconnaissance, electronic warfare, and the integration of weapons systems.  

Under the partnership, Rheinmetall, with its experience in 5th-generation fighter aircraft and unmanned systems and its strong industrial base, will be the system manager for MQ-28 in Germany, overseeing system integration into existing and future command and weapon systems of the Bundeswehr, adaptation to national requirements and ensuring operational, maintenance, and logistical support.  

“With Boeing Defence Australia as a partner, we are laying the groundwork to optimally tailor the MQ-28 to the Bundeswehr’s requirements,” said Armin Papperger, CEO of Rheinmetall AG. “As a system integrator, we ensure that integration, operation, and further development come from a single source while simultaneously strengthening industrial value creation in the form of an industrial hub in Germany and Europe. We see revenue potential for Rheinmetall in the range of three-digit millions of euros.”  

The strategic partnership ensures a high level of national and sovereign value creation and supply security in Germany. 

The MQ-28 Ghost Bat’s open, modular system architecture allows for continuous upgrades and rapid capability growth. Rheinmetall will support a dedicated digital environment in country, where engineers from both Germany and Australia contribute, test and validate new software and hardware innovations. 

“This is not just a partnership between our companies but between two great countries, Germany and Australia, who share a similar strategy for integrating collaborative combat aircraft into their air forces,” said Dr. Brendan Nelson, president of Boeing Global. “Our partnership will see Germany’s industrial base leverage years of Australian innovation and investment to field and evolve MQ-28 for the Bundeswehr.” 

The collaboration supports joint development, testing and the systematic growth of German content on the Australian-developed platform and offers the Bundeswehr considerable time savings in the deployment of a CCA capability by 2029.

03 April 2026

Infrastruktur, Penempatan UAV di Pangkalan Udara Labuan Diperkukuh: Mohamed Khaled

03 Februari 2026

ANKA MALE UAV TUDM (photo: MMR)

LABUAN: Penempatan tiga sistem pesawat tanpa pemandu (UAV) di Pangkalan Udara Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) Labuan akan membantu memperkukuh keupayaan pangkalan berkenaan.

Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin berkata sistem UAV ANKA, yang dibangunkan oleh Turkish Aerospace Industries, akan meningkatkan kemampuan pengawasan perairan negara, manakala infrastruktur pangkalan pula sedang diperkukuh bagi mempertingkat kesiapsiagaan operasi serta kebajikan anggota.

“Daripada perspektif taktikal, sistem ANKA (dibangunkan oleh Turkish Aerospace Industries) berfungsi sebagai aset pemantauan strategik di wilayah timur.

“Langkah itu mengukuhkan lagi keupayaan perisikan, pengawasan dan peninjauan (ISR) TUDM dalam memantau ruang udara dan keselamatan maritim, selain memastikan kedaulatan negara terpelihara,” katanya ketika mengadakan lawatan kerja ke Pangkalan Udara TUDM Labuan di Membedai, hari ini.

Pangkalan Udara Labuan TUDM (image: GoogleMaps)

Beliau berkata UAV berkenaan boleh beroperasi lebih 20 jam tanpa henti, suatu yang mustahil dilaksanakan oleh pesawat konvensional, dan jumlahnya mungkin akan ditambah pada masa hadapan.

Mohamed Khaled berkata struktur asfalt di No. 14 Skuadron yang mengalami kerosakan akan digantikan dengan Pavement Quality Concrete (PQC) yang lebih tahan lama, melibatkan kos bernilai RM22.5 juta dan kemajuan kerja-kerja berkenaan telah mencapai 51.77 peratus. 

“Selain itu, projek Rumah Keluarga Angkatan Tentera (RKAT) di pangkalan yang bernilai RM57.3 juta pula melibatkan pembinaan pelbagai jenis kuarters, termasuk blok Kelas E dan Kelas G, serta kemudahan sokongan,” katanya sambil menambah kedua-dua projek dijangka siap antara April hingga Julai.

Beliau berkata penempatan sistem UAV berserta memperkukuh infrastruktur pangkalan membolehkan ia terus memainkan peranan penting sebagai pangkalan utama tentera udara Malaysia di wilayah timur, selari dengan keselamatan yang semakin mencabar di Laut China Selatan.

05 Maret 2026

Australia Menjajaki Integrasi Persenjataan Eropa untuk Ghost Bat

05 Maret 2026

MQ-28A Ghost Bat sedang membawa rudal AIM-120 AMRAAM (photo: Aus DoD)

Beberapa bulan setelah Royal Australian Air Force (RAAF) dan Boeing melaksanakan uji tembak senjata perdana pesawat tempur kolaboratif MQ-28A Ghost Bat (CCA) dengan rudal udara-ke-udara AS, pemerintah Australia mengumumkan bahwa mereka sedang menjajaki integrasi senjata asal Inggris ke dalam platform tersebut.

Berbicara setelah Dialog Industri Pertahanan Australia-Inggris (AUKDID) di London pada 23 Februari, Pat Conroy, Menteri Industri Pertahanan Australia, mengatakan bahwa pemerintah sedang berupaya memperluas kemampuan senjata Ghost Bat “ke dalam keluarga senjata Eropa”.

Menurut Conroy, peningkatan kerja sama Australia-Inggris dalam CCA adalah salah satu "hasil penting dari dialog [AUKDID]". Meskipun Conroy menolak berkomentar tentang jenis rudal apa yang sedang dipertimbangkan untuk diuji di lapangan tembak Australia, ia mengatakan bahwa senjata tersebut akan berupa sistem jarak jauh.

Uji coba senjata awal Ghost Bat, yang dilakukan pada Desember 2025, melibatkan rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih Raytheon AIM-120 (AMRAAM). RAAF adalah operator varian C dan D dari rudal tersebut, yang diperoleh dari AS.

Fokus Eropa
Memperluas portofolio senjata Ghost Bat ke keluarga senjata Eropa juga akan "berpotensi memfasilitasi ekspor Ghost Bat ke negara-negara Eropa", menurut Conroy.

"Sifat senjata-senjata ini adalah bahwa mereka seringkali merupakan konsorsium. Itu berarti senjata-senjata ini digunakan oleh banyak negara Eropa," katanya. “Saya tidak akan mengatakan bahwa ini adalah pertanda bagi negara tertentu untuk membeli Ghost Bat. Ini tentang kita melakukan investasi lebih lanjut. Sehingga Ghost Bat siap diekspor ke berbagai negara.”

27 Februari 2026

Malaysia Terima 3 Unit Drone Anka-S dari Turki

27 Februari 2026

Kedatangan 3 drone Anka-S di lanud Labuan (photo: Yerli Milli)

Akun X Yerli MIlli pada 21 Januari 2026 lalu melaporkan bahwa Malaysia telah menerima pengiriman drone/pesawat tanpa awak ANKA-S buatan Turkish Aerospace Industries (TAI).

Jumlah drone MALE yang diterima dalam adalah 3 unit sesuai pesanan yang diteken pada  Mei 2023 di LIMA 2023 dan telah tiba di Pangkalan Udara Labuan di Malaysia Timur. Drone akan operasikan oleh Skuadron No. 11 Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) yang berbasis di pangkalan ini.

Misi Utama drone ini adalah untuk pengawasan maritim di Laut China Selatan dan Sabah Utara untuk memantau intrusi asing dan mengamankan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia.

12 Februari 2026

Boeing MQ-28 Ghost Bat Block 3 Menambahkan Internal Weapons Bays dan Extended Range

11 Februari 2026

Boeing MQ-28 Ghos Bat UCAV (photo: Aus DoD)

Boeing telah menguraikan peningkatan Block 3 utama untuk MQ-28 Ghost Bat, memperkenalkan ruang senjata internal, bentang sayap yang lebih luas, dan peningkatan otonomi seiring program tersebut beralih ke layanan yang dapat dikerahkan.

Boeing MQ-28A Ghost Bat sedang bertransisi dari pesawat tempur kolaboratif eksperimental menjadi sistem yang mendekati kredibilitas operasional, dengan para pemimpin program menguraikan kemajuan dalam integrasi senjata, peningkatan struktural, dan tonggak otonomi pada Singapore Airshow pekan lalu.

Pada 8 Desember 2025, sebuah MQ-28A meluncurkan rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih AIM-120 selama uji coba kompleks di atas Woomera Test Range. Pesawat tersebut beroperasi dalam paket kontra-udara jaringan yang mencakup F/A-18F Super Hornet Angkatan Udara Kerajaan Australia dan pesawat peringatan dini udara E-7A Wedgetail.

“Itu adalah misi yang rumit,” kata Ferguson. “Kami melakukan uji tembak rudal yang terintegrasi ke dalam sistem senjata lengkap, termasuk integrasi dengan F-18 yang menargetkan dan E-7 yang mengotorisasi dan mengelola elemen-elemen alur tersebut.”

Hornet mendeteksi dan melacak target udara tak berawak Phoenix Jet sebelum mengirimkan data penargetan melalui jaringan. E-7 mengelola otoritas penembakan, sementara MQ-28 secara otonom mengeksekusi pencegatan dan pelepasan rudal.

Menurut Ferguson, pesawat hanya menerima empat perintah tingkat tinggi selama misi: lepas landas, membangun orbit pertahanan udara, meninggalkan orbit untuk mencegat, dan mempersenjatai serta melepaskan rudal ketika parameter penembakan terpenuhi.

“Semua hal lainnya dilakukan MQ-28 sendiri,” katanya.

MQ-28 Ghost Bat berhasil meluncurkan AIM-120 AMRAAM (photo: Aus DoD)

Uji coba tersebut menunjukkan otonomi dalam kerangka pengambilan keputusan mematikan yang dikendalikan manusia, sebuah persyaratan utama untuk operasi pesawat tempur kolaboratif di masa depan.

Berbicara kepada media, direktur program MQ-28 Glen Ferguson menggambarkan uji tembak rudal udara-ke-udara langsung pesawat tersebut pada Desember 2025 sebagai validasi arsitektur platform, sekaligus mengkonfirmasi pekerjaan pengembangan di bawah Blok 3 yang akan memperkenalkan ruang senjata internal dan bentang sayap yang lebih besar.

Perkembangan ini menandai pergeseran penekanan, dari membuktikan konsep operasi pendamping setia (loyal wingman) menjadi membentuk kemampuan yang dapat dikerahkan yang ditargetkan untuk layanan sekitar tahun 2028.

MQ-28 Ghost Bat Blok 3 menambahkan ruang senjata internal dan jangkauan yang lebih luas
Meskipun uji tembak rudal tersebut mengkonfirmasi integrasi senjata eksternal, pengembangan sekarang sedang menuju konfigurasi yang lebih tahan banting.

Modifikasi Blok 3 mencakup pengenalan ruang senjata internal dan bentang sayap yang lebih luas, perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi aerodinamis, daya tahan, dan kinerja siluman.

Ruang senjata internal merupakan langkah signifikan di luar konfigurasi uji sebelumnya, mengurangi hambatan dan jejak radar sekaligus memperluas fleksibilitas misi. Bentang sayap yang lebih besar dimaksudkan untuk memberikan jangkauan yang lebih luas, faktor yang sangat relevan untuk jarak operasi di Indo-Pasifik.

Ferguson mencatat bahwa arsitektur sistem terbuka pesawat memungkinkan adaptasi cepat untuk uji coba rudal, termasuk integrasi peluncur senjata, komputer manajemen penyimpanan, tautan data taktis dan senjata, serta perangkat lunak perencanaan misi pihak ketiga.

“MQ-28 sesuai dengan standar AS dan sekutu serta sepenuhnya terwakili dalam lingkungan digital,” katanya, menambahkan bahwa pengembangan perangkat lunak terdistribusi antara Australia dan Amerika Serikat memungkinkan kemajuan yang hampir berkelanjutan.

Operasi otonom merupakan inti dari konsep MQ-28 Ghost Bat
Ferguson membingkai keterlibatan bulan Desember tersebut di sekitar empat elemen yang membentuk peperangan udara masa depan: otonomi, peran manusia, arsitektur sistem terbuka, dan pengembangan kolaboratif.

MQ-28 Ghost Bat Block 3 mempunyai fitur Internal Weapons Bays dan Extended Range (image: Boeing)

Otonomi, menurutnya, sangat mendasar. MQ-28 beroperasi sebagai pesawat yang sepenuhnya otonom dan mampu mengeksekusi profil intersepsi kompleks setelah diberi maksud misi.

Namun, otoritas mematikan tetap berada di dalam platform berawak. Selama uji coba bulan Desember, E-7A mempertahankan kendali keterlibatan, menggarisbawahi bahwa pesawat tempur kolaboratif dirancang untuk memperluas, bukan menggantikan, pengambilan keputusan manusia.

MQ-28 Ghost Bat bergerak menuju layanan operasional pada tahun 2028
MQ-28 dimaksudkan untuk beroperasi bersama aset berawak seperti F/A-18F, E-7A, dan pada akhirnya pesawat tempur generasi kelima, melakukan peran pengawasan, peperangan elektronik, dan dukungan serangan.

Serangan rudal pada bulan Desember, dikombinasikan dengan peningkatan struktural yang sedang berlangsung di bawah Blok 3, menempatkan pesawat ini di antara upaya pesawat tempur kolaboratif paling matang secara global.

Investasi dalam sistem tanpa awak dan otonom merupakan inti dari Strategi Pertahanan Nasional Australia 2024, dan program Ghost Bat mendukung lebih dari 440 pekerjaan berketerampilan tinggi di seluruh negeri, termasuk lebih dari 200 pemasok Australia.

“Yang sangat saya sukai dari program Ghost Bat adalah ini adalah kecerdasan Australia dengan kepemimpinan teknis yang berani,” kata Ferguson. “Ini menunjukkan bahwa kita memahami seperti apa medan pertempuran masa depan yang dibutuhkan.”

Dengan integrasi senjata internal yang sedang berlangsung dan otonomi yang telah divalidasi dalam kondisi tembak langsung, MQ-28 bukan lagi sekadar demonstrator teori "pendamping setia". Pesawat ini semakin dibentuk menjadi sistem yang dapat dikerahkan dan dirancang untuk beroperasi dalam arsitektur pertempuran udara sekutu dengan kemampuan operasional yang ditargetkan sebelum akhir dekade ini.


17 Januari 2026

Kemenhan Respons Isu Indonesia Diminta Beli Drone Maritim AS

17 Januari 2026

Drone maritim MQ-9B Sea Guardian yang dikabarkan diminta AS untuk digunakan di dekat perairan Laut China Selatan (photo: General Atomics)

KEMENTERIAN Pertahanan atau Kemenhan menegaskan pengadaan alat pertahanan tidak ditentukan oleh kepentingan pihak luar. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menjelaskan penyediaan alat untuk menjaga kedaulatan negara dilakukan berdasarkan kepentingan maupun kebijakan pemerintah Indonesia.

Rico merespons kabar bahwa Amerika Serikat meminta Indonesia membeli drone pengawasan maritim buatan AS untuk digunakan di perairan dekat Laut Cina Selatan. Dilansir The Straits Times, tuntutan Negeri Abang Sam itu sebagai syarat untuk menurunkan tarif dagang AS.

Rico berujar, Kementerian Pertahanan belum menerima informasi resmi atau penjelasan langsung ihwal laporan media tersebut. “Sampai saat ini, belum terdapat pembahasan khusus mengenai permintaan pembelian drone pengawasan maritim, maupun keputusan yang diambil terkait isu tersebut,” kata Rico melalui jawaban tertulis kepada Tempo, Kamis, 15 Januari 2026.

The Strait Times 14 Januari 2026 (image: Straits Times)

Rico menerangkan pengawasan wilayah laut merupakan bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan keamanan perairan Indonesia. Menurut Rico, dalam pertemuan dengan Duta Besar AS beberapa waktu lalu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menekankan pentingnya penguatan kemampuan pengawasan maritim melalui berbagai sarana yang dimiliki.

Pemanfaatan teknologi, termasuk wahana tanpa awak, bisa menjadi salah satu pendukung pengawasan maritim. “Namun, pengadaan alat pertahanan selalu disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kebijakan pemerintah, serta tidak ditentukan oleh kepentingan pihak luar,” ujar Rico.

Rico menekankan Kementerian akan terus memantau perkembangan isu itu dan berkoordinasi dengan kementerian maupun lembaga yang berkaitan sesuai kewenangannya. Ia menyebut Kementerian Pertahanan masih mencermati dan mendalami informasi dari pemberitaan tersebut.

Adapun Indonesia dan AS kini berada pada tahap akhir penyelesaian pembahasan perjanjian dagang dan negosiasi tarif. Menurut dokumen tertanggal 10 Oktober 2025 yang dilihat oleh The Straits Times, AS meminta Indonesia untuk menyesuaikan kembali kebijakannya soal Laut Cina Selatan. Selain itu, AS mensyaratkan Indonesia untuk mengumumkan secara terbuka mengenai pengadaan sistem pesawat tanpa awak yang diproduksi AS “untuk memperkuat keamanan maritimnya”.

25 Desember 2025

PT DI Menerima Kunjungan Kepala dan Wakil Kepala BRIN

25 Desember 2025

Kunjungan Kepala dan Wakil Kepala BRIN ke PT DI di Bandung (photos: PT DI)

Bandung  – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menerima kunjungan kerja Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, bersama Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, disambut langsung oleh Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi dan manajemen PTDI di hanggar Final Assembly Line (FAL) PTDI, Bandung. Dalam kunjungan tersebut, rombongan BRIN meninjau sejumlah produk dan program strategis PTDI, antara lain pesawat CN235, N219, program MALE UCAV serta UAS Wulung, sekaligus mendengarkan paparan mengenai perkembangan dan timeline program N219 Amphibious dan MALE UCAV sebagai bagian dari program strategis nasional.


Pengembangan N219 Amphibious dilakukan melalui kerja sama PTDI dengan Momentum (USA) dalam penyediaan float kit. Sementara itu, pada program MALE UCAV, PTDI akan mengeksplorasi potensi kerja sama dengan ALIT (China) dalam pengintegrasian sistem persenjataan (weapon integration), serta dengan Milkor (Afrika Selatan) dalam pengembangan prototipe airframe berbahan komposit penuh (full composite airframe prototyping) beserta subsistem yang telah teruji.


Melalui kunjungan ini, PTDI berharap memperoleh dukungan BRIN dalam bentuk pemanfaatan fasilitas pengujian dan kepakaran (expertise), pelaksanaan design review untuk subsistem dan teknologi kunci, pengembangan teknologi strategis, penyediaan fasilitas kualifikasi komponen dalam negeri, serta dukungan anggaran guna mempercepat pengembangan program MALE UCAV.

“Kami berharap pengembangan pesawat N219 tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pemerintah, tetapi juga dapat menembus pasar komersial. Dengan meningkatnya keterlibatan pasar swasta, skala ekonomi dapat tercapai sehingga harga menjadi lebih kompetitif. Setelah pasar domestik terpenuhi, pengembangan dapat diperluas ke kawasan Asia Tenggara hingga Afrika yang memiliki banyak wilayah terpencil. BRIN siap mendukung PTDI melalui kolaborasi riset, pemanfaatan fasilitas pengujian, serta penugasan peneliti agar pengembangan dapat berjalan lebih efektif dan produktif, sebagai langkah menuju era baru PTDI di pasar domestik dan global,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria.

20 Desember 2025

TUDM Terima Tiga Dron ANKA Februari Ini, Perkukuh Pengawasan di Laut China Selatan

20 Desember 2025

Tiga dron ANKA akan diterima Malaysia pada awal tahun 2026 (photo: TUDM)

TUDM akan terima tiga dron ANKA dari Turkiye pada Februari untuk perisikan dan pengawasan di Laut China Selatan, tambah aset di Pangkalan Udara Labuan.
SUBANG: Tiga pesawat tanpa pemandu ANKA buatan Turkiye akan diterima Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) pada Februari depan.

Panglima TUDM Jeneral Datuk Seri Muhamad Norazlan Aris berkata aset itu akan memperkukuh keupayaan perisikan, pengawasan dan peninjauan di Laut China Selatan.

Ketiga-tiga dron Medium Altitude Long Endurance-Unmanned Aerial System (MALE-UAS) bersama Ground Station Control (GCS) sedang dalam perjalanan laut dari Turkiye.

“Aset berkenaan kini berada di atas kapal untuk penghantaran ke Malaysia,” katanya pada sidang media sempena Hari Kecemerlangan TUDM.

Beliau menjangkakan perjalanan itu mengambil masa kira-kira 45 hari.

“Insya-Allah menjelang akhir Januari ketiga-tiga pesawat bersama GCS itu akan tiba di Labuan.”

Dron ANKA itu akan ditempatkan di Pangkalan Udara Labuan sebagai pelengkap kepada pesawat pengawasan maritim CN-235 (MSA) sedia ada.

Fokus operasi aset baru itu adalah di utara Sabah.

Muhamad Norazlan menjelaskan pesawat CN-235 MSA mempunyai had dalam misi tertentu.

“Kehadiran ANKA merupakan peningkatan keupayaan yang penting,” katanya.

“Dengan atur gerak ini, kita akan dapat memantau kawasan sekitar dan mengambil tindakan susulan yang berkesan jika perlu.”

TUDM berhasrat untuk membuat perolehan lebih banyak dron di bawah Fasa Dua Pelan Pembangunan Keupayaan 2055 (CAP55).

Program ini distrukturkan dalam tiga fasa dengan sasaran awal sembilan buah dron.

“Selepas menilai prestasi pesawat yang diterima sekarang, kita akan menentukan jumlah sebenar yang diperlukan,” katanya.

“Buat masa ini sasaran kita kekal sembilan buah.”

Dalam perkembangan lain, projek pesawat peronda maritim Leonardo ATR-72 berjalan lancar dengan kemajuan kerja 60% setakat ini.

Kerja pengubahsuaian dan memperkukuh struktur sedang dijalankan bagi menempatkan sensor canggih.

Pesawat itu dijangka siap sebelum April 2027, tertakluk kepada penghantaran dua sistem utama dari Amerika Syarikat.

Sekiranya berjalan lancar, ia dijangka diperkenalkan kepada umum semasa LIMA ‘27.