Tampilkan postingan dengan label Helikopter Angkut Sedang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helikopter Angkut Sedang. Tampilkan semua postingan

23 September 2026

Royal Thai Aviation Army Recived Delivery of Four Black Hawk Helicopters

23 September 2026

Four UH-60M Black Hawk joined the 9th Aviation Battalion (photos: Thai Army Aviation)

On September 18, 2026, the 9th Aviation Battalion held a ceremony to accept delivery of four UH-60M helicopters.


The Commander of the Army Aviation Center presided over the event, attended by the command team and personnel of the 9th Aviation Battalion.


This delivery marks another significant milestone in enhancing the unit's operational capabilities and advancing Army aviation potential, ensuring combat readiness to support the Royal Thai Army's missions.

17 September 2026

PAF Accepts Second Batch of Bell 412EPX Aircraft

17 September 2026

PAF accepts two newly acquired Bell 412EPX helicopter (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF) continues to advance its modernization efforts with the formal acceptance and blessing of two newly acquired Bell 412EPX aircraft on September 15, 2026. The ceremony, held at Colonel Jesus Villamor Air Bashe, marks te formal acceptance of the second batch of aircraft under the PAF’s Additional Utility Helicopter Project.


The event was organized by the Systems Engineering and Modernization Office (SEMO, PAF) and presided over by Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, Commanding General of the Philippine Air Force, who served as the Guest of Honor.


These newly acquired assets are expected to significantly enhance the PAF’s operational capabilities, specifically in the areas of air mobility and Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) operations.


During his address, LtGen Cordura stressed the necessity of diligent care and strategic employment of the helicopters. He urged all personnel involved in the operation and maintenance of the aircraft to embody professionalism, competence, and accountability, ensuring that these assets are maximized to fulfill the PAF’s organizational mandate.

(PAF)

10 September 2026

Meninjau Ulang Pasar Helikopter Militer Indonesia Sampai Tahun 2029

10 September 2026

Helikopter S-70 Black Hawk (photo: Sikorsky)

Beragam tantangan dihadapi dalam program modernisasi kekuatan pertahanan Indonesia sejak tahun 2020, satu di antaranya ialah keinginan pengambil keputusan agar sistem senjata yang dibeli dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Padahal kondisi industri dirgantara dan pertahanan dunia mengalami gangguan rantai pasok akibat pandemi Covid-19 yang disusul dengan invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. Perang dagang yang ditabuhkan oleh Amerika Serikat sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada awal 2025 menambah pukulan terhadap rantai pasok global, sebab terdapat negara-negara yang melakukan tindakan balasan terhadap Amerika Serikat sehingga mempengaruhi juga pasokan bahan baku maupun bahan olahan.

Konflik terbuka Amerika Serikat dan Israel versus Iran sejak 28 Februari 2026 memberikan gejolak terhadap terhadap industri dirgantara dan pertahanan internasional sebab menciptakan gangguan rantai pasok seperti helium cair, sulfur dan nafta.

Karena perkara keinginan agar peralatan pertahanan yang diimpor dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kontrak pengadaan 22 S-70M senilai US$585 juta antara PT Dirgantara Indonesia dan Sikorsky gagal memasuki tahap efektif.

AW-149M pesaing langsung dari S-70M pada kelas medium-heavy helikopter (photo: Leonardo)

Sesuai dengan kesepakatan kedua firma, waktu penyerahan gelombang pertama S-70M sebanyak lima unit adalah T0+32 bulan. Adapun keinginan Kementerian Pertahanan ialah helikopter buatan Amerika Serikat tersebut dapat diserahkan dalam 24 bulan setelah aktivasi kontrak, suatu hal yang mustahil mempertimbangkan berbagai faktor dalam kegiatan manufaktur.

Sebagai dampak kegagalan kegiatan akuisisi S-70M, PT Dirgantara Indonesia sebagai penerima program Helikopter Angkut Serbaguna dan Dukungannya harus mencari pemasok lain yang bisa memenuhi aspirasi Kementerian Pertahanan, termasuk jumlah minimal 30 unit dan bukan pesawat sayap putar bekas.

Peristiwa demikian sekaligus menandai perubahan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia sampai 2029, walaupun program Helikopter Angkut Serbaguna dan Dukungannya merupakan program Minimum Essential Force (MEF) 2020-2024. Sikorsky diperkirakan tidak akan dapat mengisi peluang pasar pada Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029 mengingat pengalaman yang dialami pada MEF 2020-2024.

Selain itu, karakter perseroan seperti Sikorsky yang menerapkan secara ketat good governance and compliance tidak cocok dengan kondisi pasar helikopter militer Indonesia hingga ujung dasarwarsa ini. Mengapa terjadi perubahan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia sampai 2029?

Bell 412EPX dapat melanjutkan kebutuhan akan medium lift helicopter (photo: Bell Textron)

Pertama, perencanaan akuisisi. Perencanaan akuisisi yang dianut saat ini selain bersifat top-down juga bersifat tertutup walaupun dana yang dipakai dalam belanja peralatan perang adalah Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan bukan uang pribadi pejabat pemerintah.

Dengan alokasi PLN yang bersifat gelondongan yakni US$34,8 miliar dan semuanya telah menerima Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) dari Menteri Keuangan, tidak tersedia informasi detail program helikopter yang diakomodasi oleh pemerintah guna mendapatkan pembiayaan. Andaikata informasi itu tersedia, dapat dipastikan pabrikan rotorcraft mana saja yang mungkin akan bersaing di pasar Indonesia.

Kedua, alokasi anggaran program. Mengingat bahwa tidak tersedia data lengkap mengenai kegiatan akuisisi pesawat sayap putar bagi TNI dalam OEF 2025-2029, maka tidak diketahui berapa nilai pasar helikopter militer Indonesia hingga dasawarsa ini selesai.

Nilai pasar dapat diketahui dari alokasi anggaran total yang disiapkan bagi pembelian wahana terbang yang tidak membutuhkan landas pacu tersebut. Sebagai ilustrasi, pada MEF 2020-2024 kuota pengadaan helikopter dalam PLN lebih dari US$1,5 miliar, di mana angka itu sudah termasuk PSP tahun 2025.

Helikopter Mi-17V5 baru dengan nomor HA-5235 terlihat di lanud Husein Sastranegara, Bandung (photo: Arafina)

Ketiga, preferensi skema akuisisi. Uraian pada butir kesatu dan butir kedua berimplikasi pula pada perubahan preferensi skema pembelian rotorcraft bagi kepentingan pertahanan. Bila sebelumnya pengadaan pesawat sayap putar dilakukan lewat kerja sama antara BUMN industri dirgantara dan mitra asing BUMN itu, kini kecenderungan yang lebih disukai ialah akuisisi melalui peran makelar. Dengan kondisi seperti itu, beberapa produsen helikopter global diprediksi akan menemui kesukaran dalam mempertahankan posisi pasar dan atau melaksanakan penetrasi pasar di Indonesia.

Lalu seperti apa proyeksi pasar rotorcraft militer Indonesia dalam beberapa tahun ke depan? Seberapa besar peluang pemain lama mempertahankan posisi di pasar negeri ini? Seberapa besar pemain baru dapat memiliki pijakan di pasar Indonesia yang penuh tantangan? Apa dampak dinamika pasar yang terjadi saat ini terhadap industri manufaktur pesawat terbang Indonesia?

Pertama, proyeksi pasar. Sebagai dampak tidak ada transparansi dalam rencana belanja pertahanan yang dibiayai oleh PLN, sulit untuk menetapkan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia selama OEF 2025-2029 berikut nilai pasar dalam denominasi dolar Amerika Serikat.

Ketertutupan rencana belanja pula memungkinkan terjadi perubahan anggaran maupun kuantitas pesawat sayap putar yang akan dibeli. Salah satu hal yang dapat diproyeksikan adalah kemungkinan akuisisi merupakan gabungan dari unit baru dan unit bekas, apalagi fakta menunjukkan keinginan pembeli agar rotorcraft dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Helikopter Mi-35M terlihat menggunakan camo TNI AD di area apron Pangkalan Udara Angkatan Darat Ahmad Yani, Semarang, sebelumnya TNI AD merupakan pengguna helikopter Mi-35P (photo: Keris Reborn)

Kedua, pergantian dominasi pabrikan. Airbus Helicopters nampaknya sulit mempertahankan posisi di pasar militer Indonesia mengingat kebijakan perusahaan itu terkait good governance and compliance, sementara Bell Textron berpeluang kembali mempertahankan pasar di negeri ini lewat Bell 412 jika bermitra dengan perusahaan lokal seperti PT Dirgantara Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia semakin berani mengabaikan CAATSA sebagaimana ditandai dengan pembelian sejumlah helikopter bekas Mil Mi-17 buatan Rusia tahun ini lewat jasa makelar. Leonardo akan menjadi pemain baru berkat penjualan ke pemerintah Indonesia melalui peran makelar, sedangkan Sikorsky dan Boeing sukar mengikuti jejak pabrikan Inggris-Italia di Indonesia karena alasan good governance and compliance.

Ketiga, dampak bagi industri pesawat terbang domestik. Apakah program pengadaan pesawat putar pada OEF 2025-2029 akan memberikan porsi pekerjaan yang signifikan di bidang aerostructure bagi PT Dirgantara Indonesia? Terdapat keraguan terhadap hal tersebut, apalagi seumpama pengadaan unit baru dilakukan oleh makelar, begitu juga jika unit yang diimpor ialah rotorcraft bekas.

Di sisi lain, PT Dirgantara Indonesia nampaknya tidak berminat untuk memperdalam kemitraan dengan Airbus Helicopters, walaupun masih memproduksi sejumlah komponen H225M, karena sejumlah alasan yang berakar pada rasa percaya (trust). Mengacu pada proyeksi yang sudah diuraikan, nampaknya sulit menjadikan pasar helikopter militer Indonesia atraktif bagi semua produsen karena tidak ada level playing field.

Airbus Helicopters mungkin saja dapat mempertahankan posisi di pasar Indonesia bila ada dukungan politik dari pemerintah Prancis, khususnya bagi H225M yang berakar pada SA330 buatan Aerospatiale. Tanpa dukungan politik dari pemerintah Amerika Serikat, sulit mengharapkan Sikorsky dan Boeing mempunyai pijakan di pasar yang sama, baik untuk S-70M maupun CH-47F. (Alman Helvas Ali)

29 Agustus 2026

Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired, PAF Completes Delivery of 32 S-70i Black Hawak Helicopters

29 Agustus 2026

Acceptance, Turnover and Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired Black Hawk Helicopters at Colonel Jesus Villamor Air Base in Pasay City on August 26, 2026 (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF) has completed the delivery of all 32 S-70i Black Hawk helicopters during the Acceptance, Turnover, and Blessing Ceremony for seven newly acquired S-70i Black Hawk helicopters with Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, Commanding General, PAF, as Guest of Honor on August 26, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City.

The acquisition forms part of Horizon 2 of the Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program, pursuant to Republic Act No. 10349, which aims to develop and modernize the AFP’s capabilities.


With the completion of the 32-aircraft acquisition, the PAF further strengthens its capability to conduct air transport, humanitarian assistance and disaster response, search and rescue, medical evacuation, and other critical air operations.

The full delivery underscores the PAF’s continuing commitment to modernization and mission readiness, providing the nation with a more capable and responsive rotary-wing fleet in support of national defense and the Filipino people.

With 32 Black Hawks now in its fleet, the Philippine Air Force takes another significant step toward a more credible, agile, and mission-ready air force—ready to protect, respond, and serve whenever and wherever needed.

(PAF)

10 Agustus 2026

Filipina Menerima Kiriman Terakhir Helikopter Blackhawk

10 Agustis 2026

Lima helikopter S-70i PAF tiba setelah diangkit dengan pesawat Antonov An-124 Ruslan (photo: Antonov Airlines)

Angkata Udara Filipina masih memiliki batch terakhir yang terdiri dari lima unit helikopter combat utility S-70i Black Hawk, bagian dari total 32 unit yang dipesan oleh Departemen Pertahanan Nasional dari PZL Mielec, anak perusahaan Lockheed Martin di Polandia.

Sebuah pesawat angkut kargo berat komersial Antonov An-124 Ruslan mendarat kemarin di Pangkalan Udara Clark membawa kelima helikopter terakhir tersebut. Helikopter-helikopter ini selanjutnya akan menjalani perakitan akhir dan pemasangan perlengkapan, uji darat dan uji terbang, serta pemeriksaan lainnya sebelum resmi masuk dalam jajaran operasional Angkatan Udara Filipina (PAF).

Setelah resmi beroperasi, jumlah total armada S-70i Black Hawk milik PAF akan mencapai 47 unit. Selain itu, PAF masih mengoperasikan satu unit helikopter S-70A-5 Black Hawk era 1980-an yang digunakan oleh Grup Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue Group)  ke 505.

24 Juli 2026

Helikopter Mi-17V5 TNI AD Laksanakan Muatan Gantung (Sling Load)

24 Juli 2026

Mi-17V5 TNI AD latihan sling load (photos: Skadron 31/AYC)

Latihan sling load merupakan bagian penting dalam menjaga kesiapan awak dan alutsista untuk mendukung mobilitas logistik serta berbagai misi operasi. 

Setiap prosedur dilaksanakan dengan standar keselamatan tinggi demi tercapainya keberhasilan tugas.

Skadron Udara 31/Amur Yudha Cakti (atau Skadron 31/Serbu) merupakan skadron udara dibawah kendali Pusat Penerbangan Angkatan Darat yang bermarkas di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. 

Skadron 31/Amur Yudha Cakti selain berperan sebagai satuan penerbangan TNI Angkatan Darat dalam Operasi Militer Perang (OMP), juga berperan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

(Skadron 31/AYC | Wiki)

22 Juli 2026

Leonardo, PT ESystem Solutions and the Indonesia MoD Sign Letter of Intent for AW149 Helicopters to Meet Naval Rotorcraft Requirements

22 Juli 2026

AW149 helicopter for search and disaster relief for the Indonesian Navy (photo: Leonardo)

Farnborough, Leonardo, PT ESystem Solutions and the Ministry of Defence of the Republic of Indonesia (MoD) today announced the signing of a Letter of Intent (LOI) for the supply and support of naval helicopters for the Indonesian Navy. The agreement also includes plans to develop local technical assistance, maintenance, completion and training capabilities.
 
If followed by a contract, this could lead to the supply of AW149 helicopters for search and rescue and disaster relief, for both land-based and embarked operations. The programme supports Indonesia's naval modernisation programme, strengthening its emergency response capabilities. It would also further expand the presence of Leonardo in the Indonesian helicopter market particularly in rescue, law enforcement and passenger transport requirements.
 
The LOI highlights the growing partnership between Leonardo and PT ESystem Solutions, following the launch of the Indonesia’s M-346 F Block 20 light fighter programme. It shows continued confidence by Indonesia's MoD in Leonardo’s products and technologies as well as in the company’s commitment to providing a major contribution to the growth of the country's national aerospace and defence industry.
 
The AW149 is a latest generation multirole medium weight military helicopter designed to meet the most demanding needs of armed forces and is in service internationally to perform a wide range of mission including tactical transport, utility, close support, MEDEVAC/CASEVAC, SAR and Combat Search and Rescue. Its selection in Indonesia would further strengthen its presence in Southeast Asia.

16 Juli 2026

Kunjungan Danpuspenerbad ke Skadron 31/AYC Dalam Rangka Operasional Alutsista Baru

16 Juli 2026

Helikopter brand news Puspenerbad Mi-17V5 nomor HA-5234 dan HA-5235 (photos: Skadron 31/AYC)

Dalam rangka meningkatkan kesiapan dan keselamatan operasional penerbangan, Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Danpuspenerbad) melaksanakan kunjungan kerja yang dirangkaikan dengan doa bersama sebagai wujud ikhtiar memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh personel serta Alutsista helikopter yang baru.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, kebersamaan, dan profesionalisme dalam mendukung tugas pokok Penerbad. Dengan harapan, setiap pelaksanaan operasi penerbangan senantiasa diberikan kelancaran, keamanan, serta keberhasilan dalam mengemban setiap tugas demi kepentingan bangsa dan negara.


Proff Flight Helikopter Mi-17V5 No HA-5234 & HA-5235
Dalam rangka mendukung kesiapan pelaksanaan tugas operasi, Helikopter Mi-17V5 HA-5234 dan HA-5235 melaksanakan Proof Flight sebagai bagian dari tahapan untuk memastikan kesiapan alutsista dalam mengemban berbagai misi penerbangan.

Pelaksanaan kegiatan ini mencerminkan komitmen Penerbad TNI Angkatan Darat dalam menjaga profesionalisme, kesiapan operasional, serta keselamatan terbang, sehingga setiap alutsista senantiasa siap digerakkan kapan pun dan di mana pun negara memanggil.

Dengan semangat “Mental Juara”, Skadron-31/Amur Yudha Cakti terus berkomitmen menghadirkan kemampuan terbaik dalam mendukung setiap tugas operasi demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Skadron 31/AYC)

10 Juli 2026

Ambassador Visits PZL Mielec, Explore Possibilities of co-manufacturing in the Philippines

10 Juli 2026

Philippine Embassy visited PZL Mielec, Poland (photos: PH Embassy)

The Philippine Embassy visited the supplier of the world-famous Blackhawk helicopters PZL Mielec (Polskie Zakłady Lotnicze - Polish Aviation Works) in the city of Mielec, an industrial area located in the Subcarpathian Voivodeship in south-eastern Poland.

PZL Mielec is the largest aerospace manufacturer in postwar Poland and is part of American company Sikorsky Aircraft.


Ambassador Alan L. Deniega met PZL Mielec President and General Director Janusz Zakrecki, along with Vice President and Legal Director Wojciech Stromczynski and Director of Business Development and Programs Piotr Niedbała to discuss acquisition projects related to national security and disaster management concerns of the Philippines. Discussions today also involved possibilities of co-manufacturing in the Philippines, and certain human resources needs.

The Ambassador was accompanied by First Secretary Geronimo Suliguin, while PZL Mielec Program Manager for Business Development and Programs Ewa Maziarska arranged the tour of the facilities. 

21 Juni 2026

TUDM Terima Sistem Persenjataan FN MAG 58M 7.62MM Bagi Memperkasa Keupayaan Helikopter EC 725AP/H225M Dalam Misi CSAR

21 Juni 2026

Sistem Persenjataan FN MAG 58M 7.62mm bagi helikopter EC 725 AP/H225M TUDM (photos: TUDM)

KUANTAN – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) hari ini menerima penyerahan rasmi Sistem Persenjataan FN MAG 58M 7.62mm bagi helikopter EC 725 AP/H225M sebagai langkah memperkukuhkan keupayaan operasi Combat Search and Rescue (CSAR) dalam melaksanakan misi menyelamat di kawasan berisiko tinggi.

Perolehan sistem persenjataan ini merupakan sebahagian daripada usaha berterusan TUDM dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan keberkesanan aset udara selaras dengan Pelan Pembangunan Keupayaan TUDM 2055 (CAP 55). Helikopter EC 725 AP/H225M merupakan aset utama TUDM yang berkeupayaan melaksanakan pelbagai misi termasuk operasi CSAR, bantuan kemanusiaan, pengangkutan taktikal dan operasi khas.


Bagi memenuhi keperluan operasi CSAR yang memerlukan perlindungan kendiri semasa berada di kawasan ancaman, TUDM telah melaksanakan perolehan awal sistem persenjataan untuk dipasang pada helikopter EC 725 AP/H225M. Sistem ini akan meningkatkan tahap keselamatan anak kapal dan anggota yang terlibat dalam misi menyelamat, sekali gus membolehkan operasi dilaksanakan dengan lebih berkesan dan selamat.

Kerajaan Malaysia telah menandatangani Letter of Acceptance (LOA) bersama syarikat pembuat senjata terkemuka dari Belgium, FN HERSTAL, bagi perolehan lima unit mesingan FN MAG 58M berkaliber 7.62mm. Senjata ini merupakan antara sistem persenjataan yang telah terbukti keberkesanannya dan digunakan secara meluas oleh angkatan tentera di seluruh dunia.


Sebelum penyerahan rasmi dilaksanakan, proses Final Acceptance Test (FAT) telah dijalankan bermula 30 Mac 2026 hingga 4 Jun 2026 melibatkan No 10 Skuadron di Pangkalan Udara Kuantan dan No 5 Skuadron di Pangkalan Udara Labuan. Pengujian tersebut bertujuan memastikan setiap sistem memenuhi spesifikasi teknikal, standard keselamatan dan keperluan operasi yang ditetapkan oleh TUDM.

Majlis penyerahan rasmi sistem persenjataan tersebut telah disampaikan oleh wakil syarikat Airbus Helicopters, Mr Axel de Pascal (Managing Director) kepada Panglima Tentera Udara, Jeneral Tan Sri Dato' Sri Haji Muhamad Norazlan bin Aris TUDM bertempat di Pangkalan Udara Kuantan.

10 Juni 2026

Vitnamese Air Force Officer School: 100% of International Students Achieved Good or Excellent Results in the Graduation Exam

10 Juni 2026

Student from Lao and Cambodia also achieved in the graduation exam (photo: Khanh Hoa)

From May 29th to June 5th, the Aircraft Engine Department of the Air Force Officer School organized the graduation exam for international students specializing in Aircraft Engines.

These are students from the Aviation Engineering College of the Lao People's Army (Class 13) and the Royal Cambodian Army (Class 18). The candidates participated in two graduation exams: a specialized theory exam assessing knowledge of the Mi-8 helicopter and the TB2-117 engine; and a specialized practical exam to comprehensively test each student's theoretical knowledge of aviation engineering and practical skills.

Mi-8 of the Vietnam People's Air Force (photo: VTC News)

Thanks to thorough preparation and close coordination among relevant units and agencies, the exam was conducted seriously, objectively, and in accordance with regulations. 100% of the students achieved good or excellent results.

The success of the exam not only affirms the quality of training at the Air Force Officer School but also contributes to strengthening solidarity and friendship between the armies of Vietnam, Laos, and Cambodia.

21 Mei 2026

PAF Bolster Tactical Helilift Capability with Blessing of Two New Bell 412EPX Helicopters

21 Mei 2026

 Two new Bell 412EPX helicopters (photos: PAF)

The Philippine Air Force formally held the Formal Blessing Ceremony for two (2) newly acquired/ accepted Bell 412EPX Utility Helicopters on May 19, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City, marking another significant milestone in the ongoing modernization and capability enhancement efforts of the PAF.

The two aircraft arrived in the country on February 27, 2026, representing the first batch delivery under the Additional Utility Helicopter Acquisition Project, which involves the procurement of eight Bell 412EPX helicopters from Bell Textron Inc. The completion of all deliveries is expected by 2027.


These helicopters will be operated by the 205ᵗʰ Tactical Helicopter Wing and are expected to significantly enhance the PAF’s tactical helilift and multi-mission operational capabilities. The aircraft will primarily support troop transport for counterinsurgency and internal security operations, disaster relief and humanitarian assistance missions during calamities such as typhoons and earthquakes, as well as medical evacuation and logistics support in geographically isolated and remote areas.

With the addition of these new aircraft, the PAF now operates a total fleet of 16 Bell 412 helicopters, further strengthening its capability to conduct rapid deployment and sustain critical operations nationwide.

In his message during the ceremony, the Commanding General of the Philippine Air Force, Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, highlighted the strategic importance of the newly acquired helicopters in advancing mission readiness and operational effectiveness.


“The arrival of these Bell 412EPX helicopters represents a clear and tangible investment in our ability to respond, to sustain, and to prevail. These aircraft will carry our troops into mission areas, bring relief to communities in times of disaster, and extend the reach of the PAF wherever it is needed most,” LtGen Cordura stated.

The acquisition reflects the PAF’s continuing commitment to build a more capable, more responsive, and more resilient Air Force that is prepared to address the evolving demands of national security and humanitarian operations. More than symbols of modernization, these aircraft serve as vital instruments of public service, reinforcing the PAF’s dedication to protecting the Filipino people and supporting national development efforts. 

(PAF)

22 April 2026

Lima Syarikat Tempatan Jalin Kerjasama Strategik dengan Airbus untuk MRO A400M dan Simulator H225

22 April 2026

Pesawat angkut A400M dan H225 (photo: AIrbus)

Berkesempatan menyaksikan pemeteraian MoU dan Letter of Intent antara Airbus Defence and Space serta Airbus Helicopters bersama lima syarikat tempatan sempena DSA & NATSEC Asia 2026.


Kerjasama ini meliputi latihan berkaitan satelit, peluasan keupayaan helikopter ketenteraan, peningkatan keupayaan MRO pesawat A400M TUDM, pengukuhan penyelenggaraan pesawat tentera serta penaiktarafan simulator H225.

Ini membuktikan syarikat OEM global seperti Airbus bukan sekadar membekalkan aset, malah komited menyokong syarikat tempatan melalui pemindahan teknologi, pembangunan bakat, penyelenggaraan bernilai tinggi dan peluasan rantaian bekalan global.

Langkah ini selaras aspirasi Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) untuk memperkasa industri tempatan ke tahap lebih tinggi.

18 April 2026

Sikorsky Offers New Armed BLACK HAWK Helicopter Kits to Deliver Additional Mission Capabilities

18 April 2026

Sikorsky’s new production-ready kits enable a single Black Hawk aircraft to perform air-assault, close-support, medevac, ISR and tactical lift (image: Lockheed Martin)

NASHVILLE, Tenn – Sikorsky, a Lockheed Martin company (NYSE: LMT), announced its new Armed Black Hawk helicopter kits, expanding the capabilities of this proven workhorse. The kits extend the role of the Black Hawk into new mission sets including airmobile assault, close support, medical evacuation, ISR and tactical lift, in a single, battle-tested airframe, giving commanders greater flexibility and eliminating the need for separate fleet types.​

“The new Armed Black Hawk kits give warfighters one aircraft that can do it all: a single, versatile, combat-proven platform where ground units can quickly switch out the commercially-produced kits, keeping mission readiness high,” said Sikorsky Vice President and General Manager Rich Benton. “Offering these upgraded kits is another example of our commitment to delivering 21st Century Security solutions that deliver unmatched performance, lifecycle savings and gives soldiers the reliable, interoperable capability they need to win today and tomorrow.”

Sikorsky Black Hawk helicopter outfitted with the two new Armed Black Hawk kit options on display at the Army Aviation Warfighting Summit in Nashville, Tenn (photo: Lockheed Martin)

The Armed Black Hawk kits enable:
-Multirole Capability – A single fleet delivers assault, transport and support functions, cutting acquisition and sustainment costs.
-Production-Ready Kits – Operators can select from two production-ready kits for close support or precision strike capabilities. Choose an integrated solution now or upgrade later via modular armament wings.
-Rapid Reconfiguration – Three-hour mission reconfiguration, allowing rapid role changes.
-Unmatched Value – A cost-effective, single-fleet solution backed by a robust supply chain and Black Hawk operations beyond 2070, delivering meaningful lifecycle savings in maintenance and training.

The kits are available via Foreign Military Sale (FMS) or Direct Commercial Sale (DCS), for seamless integration into FMS fleets supported by Lockheed Martin in the United States, or direct commercial sale options installed by PZL Mielec, a Lockheed Martin company, in Poland.


Building on years of experience supporting an armed Black Hawk fleet in the Middle East, Sikorsky is uniquely positioned to provide next-generation kits for tomorrow’s mission. The Black Hawk helicopter continues to lead multi-mission performance across medium-lift operations, delivering modern, affordable capability for today’s and tomorrow’s missions. Its flexibility to operate at extended ranges and in the most demanding environments enhances survivability and overall mission effectiveness for 21st Century Security® missions.

The Black Hawk is a continuously evolving platform, with each upgrade since the "M" model was introduced in 2006 building on hard-earned lessons from the most demanding missions. Sikorsky is accelerating this evolution—installing higher output engines, integrating a digital architecture and adding an autonomy system that help pilots operate safely and efficiently in the toughest conditions.

14 April 2026

Malaysian Army to Receive 4 AW149 Helicopters by August 2027

14 April 2026

AW-149 utility helicopter (photo: Wiki)

KUALA LUMPUR – The country’s tactical operational airspace will be strengthened when the Malaysian Army (TDM) is scheduled to receive four AW149 utility helicopters starting next year.
​
Army Chief, General Datuk Azhan Md Othman explained that the acquisition of assets under the control of the Army Air Force (PUTD) does not involve direct purchase, but rather is implemented through a long-term lease contract from the government for 15 years.
​
This acquisition step is a critical phase in fulfilling the air mobility operational needs of the force, especially in facing regional geopolitical security threats that demand rapid maneuvering.
​
In fact, the air fleet modernization plan does not stop there. The military is now formulating a follow-up acquisition plan to lease four additional helicopters with the same lease period.

​Commenting further on the development, General Azhan explained that the entry of the assets will significantly increase the readiness of PUTD.

"For the development of the Army Air Force, we are expected to receive four AW149 helicopters through the government's 15-year lease program. We are also planning another procurement of four additional helicopters for the same period.

"This procurement is expected to enter service next year, perhaps in August or by the end of the year," he said at a press conference in conjunction with the 93rd Army Anniversary Parade at Sungai Besi Camp, today.

This approach to leasing military assets is seen as a two-pronged option. It allows the military to acquire the latest assets immediately for operational deployment, while the heavy maintenance and upkeep costs are usually absorbed by the service provider throughout the lease period.

Self-Propelled Howitzer (SPH) mobile artillery system
In a separate development that has also attracted the attention of defense observers, the Army confirmed the status of the procurement of the Self-Propelled Howitzer (SPH) mobile artillery system.

The process of acquiring the high-destructive artillery system is currently progressing smoothly. The long-range firing assets are also expected to begin arriving and entering the TDM inventory service in next year.
​
The inclusion of the SPH will change the country's infantry artillery combat doctrine, as this system offers the advantage of "shoot and run" mobility that makes it difficult for the enemy to detect the location of the attack compared to the use of conventional towed artillery.
​
The entire acquisition of this heavy and tactical asset is in line with the direction of the TDM which is now entering its 93rd year. The top leadership of the force has set a multi-pronged target to surpass the conventional capability line, thus structuring the ground defense machinery into a future-ready force.
​
This preparation is very urgent to ensure that military personnel are equipped with the right instruments in dealing with the reality of modern warfare which is now dominated by hybrid threats and multi-domain warfare tactics.

09 Maret 2026

Helikopter Bell 412EPX Kedua untuk Angkatan Udara Filipina Jalani Uji Terbang

09 Maret 2026

Subaru Bell 412 EPX kedua Angkatan Udara Filipina menjalani uji terbang (photos: Drew Tapican)

Hanya beberapa hari setelah pesawat pertama menjadi berita utama, helikopter tempur utilitas Bell 412EPX kedua dari delapan unit baru untuk Angkatan Udara Filipina kini telah menyelesaikan perakitan dan memulai uji terbang serta uji mesinnya sendiri di Filipina.


Terlihat melakukan pemeriksaan penerbangan di Lapangan Penerbangan Umum dekat Bandara Internasional Clark, pesawat ini menandai langkah maju lainnya dalam Proyek Akuisisi Helikopter Utilitas Tambahan di bawah program modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina.


Seperti yang dilaporkan sebelumnya, delapan helikopter Bell 412EPX diperoleh melalui kesepakatan antar pemerintah senilai ₱6,39 miliar, yang ditandatangani pada akhir tahun 2023 di bawah Horizon 2 dari Revised AFP Modernization Program.


Pengiriman dimulai pada bulan Februari ini — dan dengan dua pesawat yang kini telah dirakit dan terbang, program ini jelas semakin bertambah. Enam helikopter yang tersisa diharapkan tiba sepanjang tahun 2026.

05 Maret 2026

Uji Terbang Helikopter Subaru-Bell 412EPX Filipina

05 Maret 2026

Uji terbang helikopter Subaru Bell 412 EPX Angkatan Udara Filipina (photos: Para Belum)

Akun Para Bellum pada tanggal 26 Februari 2026 lalu membuat posting Helikopter tempur utilitas Subaru Bell 412EPX baru yang baru saja dikirim dan dirakit oleh Angkatan Udara Filipina (Phillipine Air Force).


Selesai perakitan, helikopter dari Jepang ini sedang melakukan uji terbang dan uji coba mesin. Dua helikopter pertama dari delapan helikopter Subaru Bell 412EPX telah dirakit di Filipina, setelah pengiriman pada tanggal 20 Februari 2026 lalu.


Kontrak pengadaan 8 helikopter Bell 412 EPX telah ditanda-tangani pada tahun 2023 lalu, namun ada progres signifikan pada pertengahan Desember 2025 lalu saat dilakukan pembayaran ketiga atau terakhir yang dilakukan oleh Department of Budget and Management Filipina yang menandai momen untuk siap dilakukannya pengiriman pesanan helikopter ini. 

04 Maret 2026

Mindef Laksana Tender Terbuka Sewaan Helikopter Tempur Utiliti untuk PUTD

04 Maret 2026

Helikopter tempur utiliti Black Hawk (photo: Lockheed Martin)

Kementerian Pertahanan (MINDEF) melaksanakan Tender Terbuka bagi perolehan perkhidmatan sewaan helikopter Combat Utility Helicopter (CUH) selama lima tahun.

Langkah tersebut diambil susulan pembatalan kontrak perolehan helikopter Black Hawk sebelum ini.

"Kementerian Pertahanan telah mengambil tindakan susulan secara berperingkat bagi memastikan keupayaan operasi Pasukan Udara Tentera Darat (PUTD) tidak terjejas," katanya dalam jawaban lisan di Dewan Rakyat.

Beliau berkata demikian, bagi menjawab soalan Ahli Parlemen Setiawangsa, Nik Nazmi Nik Ahmad berhubung tindakan lanjut kementerian dalam memperoleh helikopter baharu untuk PUTD susulan pembatalan kontrak Black Hawk sebelum ini.

23 Februari 2026

Helikopter Subaru-Bell 412EPX Pertama untuk PAF Telah Tiba

23 Februari 2026

Kedatangan helikopter Bell 412EPX (photo ssv: Batanguenong CM)

Dua helikopter utility tempur Subaru-Bell 412EPX pertama untuk Angkatan Udara Filipina telah tiba, tetapi perlu menyelesaikan perakitan akhir sebelum dikirimkan ke Angakatan Udara Filipina (PAF).

Video menunjukkan badan Bell 412 yang sedang diturunkan dari truk trailer, namun tidak disebutkan tanggalnya.

8 helikopter diperoleh di bawah Proyek Akuisisi Helikopter Utilitas Tambahan (Bell 412) di bawah Daftar ke-2 fase Horizon 2 RAFPMP.

13 Februari 2026

Mi-8 Helikopter Angkatan Bersenjata Vietnam yang Sangat Tangguh

13 Februari 2026

Formasi helikopter Mi-8MT dan Mi-171 terbang bersamaan (photo: ThanhNien)

Setelah mengalami lebih dari 70 tahun pengembangan dan pertumbuhan, dan terkait erat dengan tradisi heroik Tentara Rakyat Vietnam selama 81 tahun, Angkatan Udara Vietnam telah mencapai kemajuan yang luar biasa, dengan helikopter bersenjatanya yang terus dimodernisasi untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional di setiap periode.

Helikopter Mi-8, yang secara resmi bertugas di Angkatan Udara Rakyat Vietnam sejak tahun 1973, telah berpartisipasi dalam berbagai pertempuran untuk mempertahankan tanah air dan masih bertugas di unit-unit helikopter.

Kunci dalam transportasi udara jarak pendek
Pada Juni 1972, Resimen Angkut Udara ke-919 (sekarang Grup Penerbangan ke-919, di bawah Perusahaan Vietnam Airlines) mengirim perwira ke Uni Soviet untuk berlatih mengoperasikan helikopter angkut militer Mi-8. Pada Januari 1973, kami menerima 5 helikopter Mi-8 dari Uni Soviet.

Sejak akhir tahun 1973, penerbangan misi pertama helikopter Mi-8 dilakukan, mengangkut para perwira untuk memeriksa medan perang. Pada tanggal 19 Desember 1975, Resimen Udara Helikopter ke-916 (thuá»™c Divisi Udara ke-371) didirikan, yang khusus menggunakan helikopter Mi-6 dan Mi-8. Pada saat itu, meskipun Resimen Udara Helikopter ke-917 (menggunakan pesawat buatan Amerika yang disita) sudah ada di Selatan, helikopter Mi-8 dari Resimen ke-916 masih harus bergantian bertugas dalam pertempuran.

Sebuah helikopter Mi-8MT (Mi-17) yang dilengkapi dengan roket latihan di lapangan terbang Hoa Lac (photo: ThanhNien)

Pada tahun 1979, Uni Soviet memberi kami banyak helikopter Mi-8T bersenjata, yang sebagian besar dipersenjatai untuk Resimen Udara Helikopter ke-916. Hanya dua Mi-8 yang dipindahkan ke Selatan untuk Resimen Udara Helikopter ke-917 (sekarang bagian dari Divisi Udara ke-370).

Selama periode 1979-1983, dukungan tembakan yang diberikan oleh helikopter bersenjata dalam pertempuran mempertahankan perbatasan barat daya dan memenuhi tugas internasional di medan perang Kamboja ditangani oleh helikopter UH-1 (diproduksi oleh AS, direbut dari pemerintah Vietnam Selatan setelah 30 April 1975). Oleh karena itu, sebagian besar helikopter bersenjata Mi-8T Angkatan Udara Rakyat Vietnam dilepas tiang senjatanya dan digunakan untuk transportasi militer, layanan medis darurat, komando udara, dan melayani pesawat VIP.

Menembak dan melempar granat secara bersamaan sambil mengangkut orang
Pada awal tahun 1983, semua helikopter bersenjata UH-1 dinonaktifkan untuk inspeksi teknis komprehensif dan perpanjangan masa operasionalnya. Karena tuntutan mendesak di medan perang Kamboja, Kementerian Pertahanan mengerahkan semua helikopter bersenjata Mi-8T dari Resimen ke-916 yang ditempatkan di Hoa Lac ke Tan Son Nhat untuk Resimen ke-917, guna memberikan dukungan tembakan darat.

Pada awal Februari 1984, untuk pertama kalinya, helikopter bersenjata Mi-8T Angkatan Udara Vietnam memberikan dukungan tembakan kepada infanteri dalam Operasi BH-1-84, menyapu bersih sisa-sisa pasukan Pol Pot dan Ieng Sary, membantu Kamboja mengkonsolidasikan pemerintahannya di barat laut Kamboja.

Daya tembak roket pada helikopter serang Mi-8MT (Mi-17) (photo: ThanhNien)

Kolonel Tran Van Quang, mantan komandan Resimen Udara Helikopter ke-917, menyatakan bahwa helikopter bersenjata Mi-8T yang berpartisipasi dalam pertempuran melawan Pol Pot dan Ieng Sary di medan perang Kamboja adalah versi produksi seri pertama, yang hanya dilengkapi dengan empat gugusan roket S-5 pada empat tiang di dua tiang sayap dan dudukan senapan mesin 12,7 mm di samping.

Pada bulan Februari 1984, Resimen ke-917 juga menerima 5 helikopter tempur Mi-8T baru. Memasuki kampanye musim kemarau 1984-1985, helikopter tempur Mi-8T menjadi kekuatan utama yang memberikan dukungan tembakan kepada Front 7704 dan 579, dengan formasi 9 helikopter yang menghancurkan banyak benteng musuh. Dalam pertempuran pada tanggal 4 Maret 1984, helikopter tempur Mi-8T bernomor 827 dan 821 mengalami kerusakan tangki bahan bakar dan tangki bahan bakar tambahan akibat tembakan senapan AK dari pasukan Pol Pot dan Ieng Sary, tetapi mereka tetap kembali dan mendarat dengan selamat.

Sepanjang tahun 1984, helikopter bersenjata Mi-8T beroperasi dengan kapasitas penuh. Kadang-kadang, pilot harus lepas landas 5-6 kali sehari. Begitu pesawat mendarat, mengisi bahan bakar, dan memuat ulang, awak pesawat bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat sebelum menerima perintah untuk lepas landas lagi guna berpartisipasi dalam pertempuran sesuai permintaan dari garis depan. Baru pada akhir November 1984, ketika helikopter bersenjata Mi-24 dari Resimen ke-916 tiba dari Utara untuk "membagi beban," intensitas operasi Mi-8T berkurang.

Pada Februari 1987, setelah helikopter bersenjata Mi-24 nomor 437 jatuh dan menewaskan empat pilot, atasan memerintahkan semua Mi-24 untuk dihentikan operasinya guna pemeriksaan. Tugas dukungan tembakan darat kemudian sepenuhnya ditugaskan kepada helikopter Mi-8T. Pada 21 Oktober 1987, awak Mi-8T memulai operasi tempur, memberikan dukungan tembakan kepada pasukan di Front 719, setelah lama bertugas sebagai pengangkut militer.

Roket-roket sedang dimuat ke helikopter Mi-8MT (Mi-17) sebagai persiapan untuk latihan tembak langsung pada tahun 2023 (photo: ThanhNien)

Selama tiga tahun (1987-1989), helikopter Mi-8T tidak hanya secara langsung bertempur untuk melenyapkan pasukan Pol Pot dan Ieng Sary, mengangkut pasukan, dan membawa tentara yang terluka, tetapi juga menjaga kesiapan tempur di delapan lapangan terbang (empat lapangan terbang garis depan) dan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di Kepulauan Spratly, baik sebelum maupun sesudah pertempuran untuk mempertahankan Gac Ma, Co Lin, dan Len Dao pada 14 Maret 1988.

Pada pertengahan tahun 1985, helikopter Mi-17 (juga dikenal sebagai Mi-8MT) dipersenjatai untuk Angkatan Udara Vietnam. Ini adalah helikopter serbaguna, tetapi unggul dalam peran dukungan tembakan karena kemampuannya membawa 6 pod roket (32 peluru/pod) pada dua pylon samping, serta senjata lain seperti bom dan meriam angkatan laut UPK-23-250 (23 mm).

Saat ini, helikopter tempur Mi-8T, Mi-8MT, dan Mi-8 masih beroperasi di Resimen Helikopter Udara ke-916 (Divisi Udara ke-371), ke-917 (Divisi Udara ke-370), dan ke-930 (Divisi Udara ke-372), serta beberapa unit lain dari Komando Pertahanan Udara - Angkatan Udara. Selama hari libur nasional besar pada tahun 2025, formasi parade helikopter sebagian besar terdiri dari helikopter tempur Mi-8MT (umumnya dikenal sebagai Mi-17).

Helikopter tempur Mi-8 nomor 7818 menembakkan roket selama latihan tahun 2024 (photo: ThanhNien)

Helikopter Soviet menggunakan senjata Amerika
Untuk meningkatkan daya tembak helikopter Mi-8T yang bertempur di medan perang Kamboja, angkatan udara memasang senapan mesin M-60 buatan Amerika pada pesawat tersebut. Mulai Mei 1984, helikopter Mi-8T juga menjatuhkan peluru mortir buatan Amerika (mengganti sumbu sinkron dengan sumbu kontak, setiap peluru dikemas dengan tambahan 50 gram bahan peledak plastik). Saat menjatuhkan peluru, pilot menggunakan sistem pembidik bom OPB-1R yang tersedia di Mi-8T.

Mi-8 adalah helikopter berukuran sedang yang dirancang oleh Institut Aerodinamika dan Hidraulik Pusat Uni Soviet (TsAGI) pada tahun 1960-an dan mulai beroperasi dengan Angkatan Udara Soviet pada tahun 1968. Hingga tahun 2024, Federasi Rusia masih memproduksi pesawat ini.

Selain peran umumnya sebagai helikopter angkut, Mi-8 juga berfungsi sebagai helikopter bersenjata, helikopter pengintai, dan helikopter komando dan kendali udara, dengan banyak varian.