Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

30 September 2026

Elbit Systems Mengirimkan Munisi D11A ke Thailand

30 September 2026

D11A adalah sistem peluncur roket ganda (multi-purpose self-propelled multiple rocket launcher) hasil kerja sama antara Thailand dan Elbit Systems, Israel (photo: Deepbluesea)

Reporter urusan militer Thailand, Wassana Nanuam, melaporkan bahwa perusahaan pertahanan Israel, Elbit Systems, telah mengirimkan amunisi roket D11A ke Thailand, termasuk sistem dengan jangkauan yang dilaporkan hingga 450 km.

Ia mengatakan roket-roket tersebut telah diserahkan kepada Angkatan Darat Kerajaan Thailand untuk persiapan jika diperlukan.

Wassana juga melaporkan bahwa China telah mengirimkan munisi DTI 1G ke Thailand. (Khaosod)

Mengapa roket D11A dapat memiliki jangkauan hingga 450 km?

Menyusul perdebatan tentang rudal D11A, yang diteliti, dikembangkan, dan diproduksi bersama oleh Defence Technology Institute (DTI) dan Israel, dengan jangkauan hingga 450 km, dan setelah laporan bahwa Israel telah mengirimkan berbagai rudal dengan jangkauan berbeda ke Angkatan Darat Kerajaan Thailand,

informasi dari DTI menunjukkan bahwa jangkauan 450 km dari D11A berarti bahwa dengan menambahkan perpanjangan jangkauan 150 km ke amunisi jangkauan 300 km, ia dapat mencapai hingga 450 km. Namun, kita mungkin tidak membutuhkan jangkauan 450 km; itu adalah kemampuan, karena 300 km sudah cukup untuk mencapai target penting, jantung musuh.

DTI 1G adalah sistem peluncur roket ganda berpandu berkaliber besar milik dari Thailand yang dikembangkan melalui kerja sama alih teknologi dengan China (photo: Oryx)

Karena meskipun Angkatan Darat Kerajaan Thailand membeli rudal Himars dari AS di masa depan, belum dipastikan apakah AS akan menjual amunisi dengan jangkauan 300 km.

Namun Angkatan Darat Kerajaan Thailand sudah memiliki rudal D11A dengan jangkauan 300 km dalam stok.

Laporan menunjukkan bahwa lebih banyak rudal D11A sedang diproduksi saat ini. 

(Wassana Nanuam)

27 September 2026

Hanwha dan KAI Mengintegrasikan Rudal Udara-ke-udara Jarak Jauh pada KF-21 Boramae

27 September 2026

KF-21 Boramae pertama yang telah bertugas di AU Korea Selatan (photo: KAI)

Hanwha Aerospace dan Korea Aerospace Industries (KAI) akan memperkuat kerja sama untuk mengintegrasikan rudal udara-ke-udara jarak jauh yang dikembangkan secara domestik ke dalam pesawat KF-21 Boramae.

Pada tanggal 23, Hanwha Aerospace dan KAI mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman (MOU) mengenai kerja sama untuk menyukseskan program pengembangan sistem rudal udara-ke-udara jarak jauh. Kedua perusahaan berencana mendukung pengembangan senjata yang diluncurkan dari udara (air-launched weapons) buatan dalam negeri serta pengerahan operasional KF-21 melalui kerja sama dalam pengembangan rudal udara-ke-udara jarak jauh dan integrasinya dengan pesawat serta sistem persenjataan.

Sejak Februari tahun ini, kedua perusahaan telah memperluas cakupan kerja sama di bidang pesawat terbang dan senjata udara buatan dalam negeri. Di Seoul, mereka menandatangani perjanjian kerja sama untuk program-program inti masa depan guna memperkuat daya saing global "K-defense" (industri pertahanan Korea), serta sepakat untuk melakukan pemasaran bersama secara internasional bagi pesawat buatan dalam negeri dan berbagi rantai pasokan komponen. Pada bulan yang sama, di ajang World Defense Show (WDS) yang diselenggarakan di Riyadh, Arab Saudi, mereka juga menandatangani perjanjian bisnis terkait integrasi pesawat dan persenjataan serta pemasaran bersama untuk tujuan ekspor.

Detail rudal udara-ke udara jarak jauh (image: Naver)

Hanwha juga telah memasok berbagai komponen utama untuk KF-21, yang telah menyelesaikan tahap pengembangan sistem pada bulan Juni lalu. Hanwha Aerospace bertanggung jawab atas mesin pesawat, roda pendarat (landing gear), dan sistem kendali penerbangan. Sementara itu, Hanwha Systems memasok radar AESA (active electronically scanned array), peralatan pelacakan target (EO-TGP, IRST), dan komputer misi (MC).

Hanwha Aerospace juga tengah menguasai teknologi yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam program pengembangan sistem rudal udara-ke-udara jarak jauh. Perusahaan ini terlibat dalam program pengembangan yang dipimpin pemerintah untuk "teknologi desain interoperabilitas antar-rudal udara-ke-udara demi integrasi pesawat" dan menargetkan untuk menguasai teknologi terkait pada paruh pertama tahun depan. Di bidang propulsi, sejak tahun 2021 perusahaan telah melaksanakan lima dari enam tugas terkait mesin *solid ducted ramjet* yang diaplikasikan pada rudal udara-ke-udara jarak jauh. Tugas-tugas tersebut mencakup pekerjaan yang berkaitan dengan rudal udara-ke-udara supersonik dan *drone* target jelajah supersonik.

Hanwha Aerospace telah mengumpulkan pengalaman teknologi selama lebih dari 20 tahun dalam bidang propulsi *solid ducted ramjet* dan komponen sistem rudal, serta lebih dari 40 tahun dalam teknologi propulsi berbahan bakar padat. Menurut perusahaan, mereka adalah satu-satunya perusahaan di Korea yang mampu melaksanakan seluruh proses secara mandiri, mulai dari sintesis bahan baku propelan hingga manufaktur komponen-komponen utama.

Seorang pejabat Hanwha Aerospace menyatakan, "Sebagai perusahaan terkemuka di Korea dalam pengembangan dan produksi rudal berpemandu berbahan bakar padat, kami akan mengerahkan upaya seluruh perusahaan untuk berhasil melokalisasi rudal udara-ke-udara jarak jauh, yang berkaitan erat dengan daya saing inti jet tempur dalam negeri." Ia menambahkan, "Melalui kerja sama yang berkelanjutan antarperusahaan, kami juga akan turut memperkuat daya saing senjata yang diluncurkan dari udara buatan dalam negeri."

19 September 2026

Raytheon Mengonfirmasi Kompatibilitas Rudal AMRAAM-ER dengan NASAMS Australia

19 September 2026

Rudal AMRAAM-ER kompatibel dengan sistem NASAMS Australia (photo: Raytheon)

Raytheon Australia, anak perusahaan RTX, telah menyatakan bahwa rudal AIM-120 *Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile* varian jarak jauh (*extended range* atau AMRAAM-ER) kompatibel dengan sistem *National Advanced Surface-to-Air Missile System* (NASAMS) milik Australia.

Dalam siaran pers yang diterbitkan pada 16 September untuk mengumumkan pencapaian kemampuan operasional penuh (*Final Operational Capability* atau FOC) NASAMS, Raytheon menyatakan, "Konfigurasi Australia ini dikembangkan berdasarkan sistem dasar dengan penyesuaian untuk lingkungan operasi dan kebutuhan misi setempat, serta mengintegrasikan teknologi radar rancangan Australia."

Raytheon menyebutkan bahwa varian NASAMS Australia mencakup rangkaian efektor yang terdiri dari AIM-9X Sidewinder, AIM-120 *Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile* (AMRAAM), dan AMRAAM-ER.

Angkatan Darat Australia pertama kali menembakkan AIM-120 AMRAAM dari NASAMS pada November 2023 dan kemudian melakukan uji tembak langsung AIM-9X Sidewinder dalam kegiatan sertifikasi di Woomera Test Range pada Mei 2025. Siaran pers Raytheon tanggal 16 September tersebut merupakan pengumuman publik pertama yang mengidentifikasi AMRAAM-ER sebagai bagian dari rangkaian efektor dalam konfigurasi NASAMS Australia.

Menurut Raytheon, konfigurasi NASAMS Australia mencakup radar buatan dalam negeri dari CEA Technologies, *Fire Distribution Centre* (FDC) dari Kongsberg, peluncur *High Mobility Launcher* buatan Raytheon yang dipasang pada kendaraan Hawkei, serta sistem darat multispektral buatan Raytheon Australia.

Pengumuman Raytheon ini menyusul pengumuman terpisah dari Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada 9 September 2026. DoD menyatakan bahwa NASAMS telah mencapai FOC, memenuhi "seluruh persyaratan untuk layanan operasional", dan siap mendukung operasi Angkatan Pertahanan Australia (ADF).

NASAMS diadakan melalui program Pertahanan Udara Berbasis Darat Jarak Pendek (*Short-Range Ground-Based Air Defence* atau SRGBAD) Australia dan menjadi lapisan terdalam dalam jaringan pertahanan udara dan rudal terintegrasi ADF. 

14 September 2026

Malaysia Pertimbang Peroleh Peluru Berpandu BrahMos - Anwar

15 September 2026

Analis memprediksi bahwa tipe yang diincar Malaysia adalah BrahMos versi air-launched untuk mempersenjatai Su-30MKM (photo: IndiaTV)

NEW DELHI: Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim mengesahkan Malaysia sedang meneroka kemungkinan untuk memperoleh sistem peluru berpandu udara ke permukaan BrahMos India.

Beliau menekankan perbincangan itu masih dijalankan walaupun tiada keputusan muktamad yang dibuat setakat ini.

Dalam satu temu bual dengan NDTV India, beliau berkata perbincangan mengenai perkara itu dibuat semasa mesyuarat dua hala dengan rakan sejawatnya dari India, Narendra Modi, namun pihak yang berhak membuat keputusan adalah Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

“(Kami) telah berbincang, namun lazimnya kedudukan saya adalah melibatkan jabatan atau agensi yang berkenaan, mereka yang mempunyai kepakaran dalam tentera udara, mereka sepatutnya meneruskan perbincangan.

“Mereka telah mengadakan perbincangan awal dan saya memberitahu Perdana Menteri Modi yang saya sangat menyokong kerana hubungan ini dibina atas kepercayaan dan kami ingin mengukuhkannya dalam semua bidang,” katanya.

Anwar, yang juga Menteri Kewangan, mengakui keupayaan pertahanan India.

BrahMos merupakan peluru berpandu krus supersonik berkuasa ramjet jarak jauh yang boleh dilancarkan dari kapal selam, kapal, pesawat pejuang atau pelancar mudah alih (TEL).

Ia merupakan usaha sama antara Pertubuhan Penyelidikan dan Pembangunan Pertahanan (DRDO) India dan NPO Mashinostroyeniya Persekutuan Rusia, yang bersama-sama membentuk BrahMos Aerospace.

Australia Declares JASSM-ER and LRASM Long-Range Missiles is Operational

14 September 2026

JASSM-ER loaded to a Royal Australian Air Force F/A-18F Super Hornet at RAAF Base Amberley, Queensland (photo: Aus DoD)

Air Force modernises air-launched strike
The Royal Australian Air Force has delivered a significant milestone for advanced long-range strike capabilities, with initial operational capability declared for the AGM-158C Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) and the AGM-158B Joint Air-to-Surface Standoff Missile – Extended Range (JASSM-ER). 

The LRASM is an air-launched precision guided, semi-autonomous missile, designed to destroy high-value, well-defended maritime targets at ranges in excess of 370 kilometres.

A Royal Australian Air Force F/A-18F Super Hornet carrying a JASSM-ER Missile departs RAAF Base Amberley, Queensland (photo: Aus DoD)

The JASSM-ER is an air-launched precision guided, long-range land strike cruise missile, designed to locate, identify and defeat targets from ranges of up to 900 kilometres from the launch aircraft.

Chief of Air Force, Air Marshal Stephen Chappell, DSC, CSC, OAM said the Royal Australian Air Force has demonstrated it is ready to conduct long-range, survivable and lethal maritime and land strike, from F/A-18F Super Hornet aircraft, against highly defended targets. 

An AGM-158C Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) loaded to a P-8A Poseidon during Exercise Medusa Fury, at Marine Corps Base Hawaii (photo: Aus DoD)

“By acquiring a suite of long-range maritime and land strike missiles Air Force will increase the lethality of our air combat aircraft and avoid increasingly sophisticated air defences.”

“We are continuing to develop and grow Air Force’s ability to precisely strike targets at long-range.”

“This will allow Air Force, as part of the integrated, focused force, to further enhance deterrence by holding potential adversary forces and infrastructure at risk from a greater distance.”

In July 2026, a P-8A Poseidon aircraft and personnel from No 92 Wing deployed on Exercise Medusa Fury 26 to Hawaii to conduct testing of the AGM-158C Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) (photo: Aus DoD)

Operational testing includes validation of weapons preparation and loading, as well as targeting and successful weapon engagement by F/A-18F Super Hornet aircraft. In February 2025, two LRASM were successfully test fired at the Point Mugu Sea Range in the United States, followed by two JASSM-ER being successfully test fired at the Woomera Test Range in South Australia, in November.

More recently, during Exercise Rim of the Pacific 26 (RIMPAC), operational testing has further expanded these capabilities, when a P-8A Poseidon successfully fired an LRASM hitting its target.

An AGM-158C Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) is released from a No.92 Wing P-8A Poseidon hits its target during Exercise Medusa Fury, at Hawaii (photo: Aus DoD)

Introducing both these complex weapons into service required close collaboration between the Royal Australian Air Force, Defence Delivery Group, Joint Capabilities Group, whole-of-government, and United States military and industry partners.

The expansion of long-range strike capabilities, as identified in the National Defence Strategy, further enhances Defence’s ability to deliver deterrence through denial as an integrated, focused force. 

10 September 2026

Army's NASAMS Ready for Operations

10 September 2026

NASAMS integrated air and missile defence (photos: Australian Army)

Army's world-class air defence capability ready for operations
Australia’s integrated air and missile defence capability has been strengthened with the achievement of Final Operational Capability for Army’s National Advanced Surface to Air Missile System (NASAMS) capability.

This milestone confirms the NASAMS has met all requirements for operational service and is ready to support Australian Defence Force (ADF) operations. 

NASAMS provides Army with a world-leading, networked air defence capability designed to detect, track and defeat a range of airborne threats, including cruise missiles, aircraft, helicopters, and drones.

The capability, delivered under the Short Range Ground Based Air Defence (SRGBAD) project, forms part of the inner layer of Defence's integrated air and missile defence architecture, which combines ships, fighter aircraft and surface-to-air missile systems to protect ADF personnel, assets and critical infrastructure.


The project also incorporates Australian-designed radar technology developed by CEA Technologies, enhancing Defence’s ability to monitor and respond to emerging threats. 

Australian industry has played a central role in delivering the capability, from integrating key components through to providing ongoing sustainment and support in Australia.

This achievement follows a phased introduction into service that included successful live-fire activities and training undertaken by soldiers from Adelaide’s 16 Regiment, Royal Australian Artillery, demonstrating the capability’s readiness for operational employment. 


Quotes attributable to Deputy Prime Minister and Minister for Defence, Richard Marles:
"The achievement of Final Operational Capability for NASAMS marks a significant milestone in strengthening Australia’s integrated air and missile defence capability.

"NASAMS provides Army with a modern, highly capable air defence system that enhances our ability to protect Australian Defence Force personnel, critical assets and infrastructure from a range of airborne threats.

"This capability reflects Defence’s commitment to ensuring the Australian Defence Force remains equipped to respond to an increasingly complex strategic environment.”


Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
"The achievement of Final Operational Capability delivers a world-leading capability for Defence and provides a major boost to Australia's integrated air and missile defence.

"This air and missile defence capability strengthens Defence's ability to protect Australian forces from modern airborne threats, including cruise missiles, aircraft, and drones."

"NASAMS demonstrates how Defence and industry are working together to deliver advanced capability and operational outcomes for the Australian Defence Force."

"Australian-designed radar technology is a key part of this capability, highlighting the important contribution local industry makes to Australia's national security."

"This milestone marks the culmination of years of collaboration between Defence, Australian industry and international partners to deliver a world-class air defence system for the Australian Army."

03 September 2026

Rafale TNI AU KIni Dilengkapi AT730 Triple Ejector Rack

03 September 2026

AT730 Triple Ejector Rack yang melengkapi Rafale TNI AU (photo: Jatosint)

Jet tempur Rafale TNI AU akan memiliki kemampuan membawa persenjataan udara-ke-permukaan dalam jumlah besar berkat penggunaan AT730 Triple Ejector Rack. 

AT730 Triple Ejector Rack (photo: Akela Freedom)

Rak peluncur ini memungkinkan satu titik gantung Rafale membawa hingga tiga amunisi kelas 250 kg, seperti bom berpemandu presisi AASM/HAMMER.

AT730 Triple Ejector Rack tampak dari bawah (photo: Akela Freedom)

Dengan dua rak AT730 di bawah sayap, Rafale dapat membawa hingga enam amunisi hanya menggunakan dua titik gantung.

AT730 Triple Ejector Rack untuk membawa AASM HAMMER (image: Akela Freedom)

Penggunaan AT730 memberikan fleksibilitas lebih besar dalam konfigurasi tempur karena titik gantung lainnya masih dapat digunakan untuk membawa rudal udara-ke-udara, tangki bahan bakar eksternal, maupun persenjataan tambahan. 

AT730 Triple Ejector Rack untuk membawa munisi presisi (image: Akela Freedom)

Selain AASM/HAMMER, AT730 juga dapat dikonfigurasi untuk beberapa jenis bom berpemandu lainnya. Kehadiran sistem ini akan meningkatkan kapasitas serangan presisi Rafale sekaligus memperkuat kemampuan multirole armada tempur TNI AU.

(Garis Depan)

02 September 2026

Peresmian Batalyon Armed 22/Kesumawira

02 September 2026

Rudal balistik taktis Khan/ITBM-600 berjangkauan 280 km melengkapi YonArmed 22 (photos: YonArmed 22, Polri)

Kutai Kartanegara, Pada tanggal 19/08/2026 Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi meresmikan Batalyon Armed 22/Kesumawira yang bertempat di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan peresmian turut dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI dan Polri serta unsur Forkopimda di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Danpussenarmed, Danrem 091/ASN, Danrem 092/MRL, Bupati Kutai Kartanegara, unsur Muspida, serta para Mitra satuan.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi melaksanakan penyerahan Tunggul Batalyon Armed 22/Kesumawira kepada Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., selaku Komandan Batalyon Armed 22/Kesumawira.

Penyerahan Tunggul tersebut menjadi simbol resmi berdirinya Batalyon Armed 22/Kesumawira sekaligus menjadi tonggak awal dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian satuan di wilayah Kalimantan Timur.


Dengan diresmikannya Batalyon Armed 22/Kesumawira, diharapkan satuan ini mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

Sebagai satuan baru, Batalyon Armed 22/Kesumawira akan terus membangun soliditas, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan seluruh komponen masyarakat.


Momentum peresmian ini menjadi awal perjalanan pengabdian Batalyon Armed 22/Kesumawira dalam menjaga kehormatan satuan, melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

01 September 2026

Proyeksi Perdagangan Pertahanan Indonesia-Amerika Serikat

01 September 2026

TNI AU masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan C-130B maupun L-100-300 (photo: Antara)

Perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat mengalami kemunduran sejak era Presiden Joko Widodo setelah mengecap arus pasang pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Parameter yang digunakan dalam menilai pasang surut aktivitas tersebut ialah pembelian peralatan pertahanan utama (major defense equipment) yang mencakup wahana beserta subsistem pendukung.

Akuisisi sistem senjata seperti AH-64E, F-16C/D Blok 25 dan sejumlah rudal bagi TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat selama Minimum Essential Force (MEF) tahap pertama menandai menggeliatnya kembali kegiatan perdagangan kedua negara pascapencabutan embargo Amerika Serikat terhadap Indonesia pada 2005. Sedangkan pada MEF fase kedua, pengadaan signifikan oleh Indonesia terhadap produk pertahanan Amerika Serikat hanya berupa lima C-130J yang didanai oleh sindikasi sebuah bank BUMN dan sebuah bank asal Prancis.

Saat MEF babak ketiga dieksekusi, tidak ada program pembelian peralatan pertahanan utama buatan Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Indonesia. Program akuisisi beberapa rudal bagi F-16 dicoret dari Blue Book, sementara rencana mengimpor F-15EX juga hilang dari Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2020-2024.

Selain itu, sebuah kontrak pembelian sistem senjata asal Amerika Serikat tidak dapat dieksekusi sebab terjadi perubahan pemikiran di Kementerian Pertahanan. Padahal pada MEF tahap ketiga, Kementerian Keuangan menyediakan alokasi Pinjaman Luar Negeri untuk Kementerian Pertahanan nyaris lima kali lipat daripada MEF fase kedua.

Ketika Indonesia memasuki Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029, sulit mengharapkan akan ada pembelian dengan nilai kontrak yang besar dari Amerika Serikat. Seumpama akal sehat masih mewarnai dalam pengambilan keputusan, Indonesia setidaknya harus melakukan pengadaan munisi bagi F-16 dan AH-4E, termasuk rudal dan kit bom pintar agar armada jet tempur dan helikopter serang itu siap tempur dan tidak hanya siap untuk acara seremonial saja.

Tentu menjadi pertanyaan mengapa Jakarta tidak bersemangat untuk berbelanja peralatan perang dari Washington walaupun beberapa tahun lalu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pernah menyatakan bahwa prioritas belanja peralatan pertahanan Indonesia adalah pada negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Terhadap pertanyaan demikian, beberapa hal berikut patut diduga berkontribusi pada arus surut perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat. Pertama, perencanaan akuisisi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perencanaan pembelian sistem senjata tidak dilakukan secara matang, bahkan ada pihak yang menilai bahwa tidak ada perencanaan sama sekali.

Persenjataan F-16 standar Viper (photo: Reddit)

Padahal seandainya perencanaan dilaksanakan secara matang, faktor-faktor seperti geopolitik, ekonomi maupun kondisi peralatan pertahanan yang digunakan saat ini, besar kemungkinan akan mempengaruhi keputusan mengenai akuisisi pertahanan. Sebagai contoh, perencanaan yang matang tidak akan membuat suatu wahana yang dioperasikan nyaris kekurangan munisi dan suku cadang karena tidak ada pembelian baru.

Kedua, aturan perdagangan pertahanan. Aturan perdagangan pertahanan Amerika Serikat yang ketat, di mana produsen senjata negara itu dapat dikenai denda oleh Departemen Kehakiman apabila melanggar aturan, membuat aktivitas perdagangan dengan Amerika Serikat tidak menarik bagi Indonesia.

Walaupun terdapat skema Direct Commercial Sales (DCS) bagi sejumlah sistem senjata, skema tersebut terhitung cukup ketat, meskipun tidak sekeras skema Foreign Military Sales (FMS). Misalnya, DCS tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor senjata Amerika Serikat ke negara lain, selain nilai fee bagi mitra lokal firma pertahanan Amerika Serikat telah diatur.

Ketiga, daya saing harga jual. Penjualan sistem senjata Amerika Serikat ke luar negeri selalu dirangkai dengan paket Integrated Logistics System (ILS) atau dikenal juga sebagai initial spare minimal hingga dua tahun ke depan agar pembeli dapat memakai secara optimal dalam jangka waktu tertentu. Biaya pengadaan akan menjadi lebih mahal lagi seumpama Indonesia meminta paket offset sebagai implementasi dari aturan yang berlaku.

Kedua hal itu dapat membuat harga yang ditawarkan oleh Amerika Serikat lebih mahal daripada yang disodorkan oleh pesaing, sebab kompetitor dapat saja mengurangi paket ILS agar harga yang diajukan lebih murah. Selama ini Indonesia kurang memberikan perhatian khusus pada paket ILS dalam akuisisi sistem senjata, antara lain tercermin dalam pembelian Rafale F4i.

Bertolak dari situasi sekarang, bagaimana proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat sampai akhir dekade ini? Apakah Indonesia akan menyisihkan sebagian kecil anggaran modernisasi kekuatan pertahanan guna dibelanjakan di Amerika Serikat? Pertanyaan itu tidak mencakup pembelian rutin untuk suku cadang sejumlah produk pertahanan Amerika Serikat yang saat ini dioperasikan oleh Indonesia.

Kemhan dapat mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional helikopter serang (photo: Antara)

Memperhatikan secara seksama dinamika kerjasama pertahanan saat ini, apalagi setelah kedua belah pihak menyepakati Major Defense Cooperation Partnership yang mencakup pula modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat ialah sebagai berikut.

Pertama, kemungkinan pembelian C-130J-30. Bila mengacu pada rencana kebutuhan TNI Angkatan Udara, matra tersebut masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan sejumlah C-130B yang dipensiunkan maupun C-130H dan L-100-300 yang mengalami total loss akibat kecelakaan.

Apalagi saat ini TNI Angkatan Udara sudah mempunyai tiga skadron udara untuk pesawat angkut buatan Lockheed Martin, di mana terdapat jumlah standar C-130 yang harus dipenuhi pada setiap skadron udara. Pengadaan C-130J-30 dapat menggunakan skema DCS, namun Amerika Serikat tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor pesawat turboprop itu ke Indonesia.

Kedua, peluang pengadaan munisi dan kit bom pintar. Apabila Indonesia benar-benar menyiapkan sistem senjata seperti AH-64E dan F-16 siap tempur dan bukan hanya bisa fly past di acara-acara seremonial, akuisisi rudal seperti AIM-9X, AIM-120C-7, AGM-65K2 dan AGM-114R-3 beserta kit bom pintar wajib dilakukan.

Terdapat dugaan terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan munisi dengan jumlah wahana yang dipunyai sehingga berpotensi menjadi masalah besar jika terhadap konflik bersenjata di kawasan Indo Pasifik. Memperhatikan karakteristik rudal dan kit tersebut, satu-satunya skema yang tersedia seumpama Indonesia hendak membeli adalah FMS, sehingga menutup rapat kemungkinan Indonesia memanfaatkan jasa makelar.

Di luar impor F-15EX yang pintunya telah tertutup rapat sesudah Indonesia tidak menandatangani Letter of Offer and Acceptance pada Desember 2025, Jakarta perlu mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional pesawat sayap putar buatan Boeing itu berdasarkan siklus operasi dan pemeliharaan sistem senjata.

Sebenarnya terdapat kebutuhan TNI Angkatan Darat terhadap tambahan helikopter serang tersebut, namun apakah akan dipenuhi tergantung pada Kementerian Pertahanan. Sebagaimana rudal, pengadaan AH-64E kurang menarik sebab hanya bisa lewat skema FMS yang bebas makelar. (Alman Helvas Ali)

28 Agustus 2026

BrahMos Memasuki Tahap Akhir Pengiriman

28 Agustus 2026

Pengiriman rudal tahap terakhir ke Filipina (photos: Reddit)

Sistem rudal BrahMos dilaporkan sedang dikirim ke Filipina seiring dengan hampir rampungnya pengiriman tahap akhir dalam kesepakatan pertahanan pesisir.

Sistem ini merupakan bagian dari kontrak India untuk memasok baterai pertahanan pesisir BrahMos kepada Manila.


Pengiriman terbaru ini menandakan bahwa proses penyerahan sedang memasuki tahap akhir.

Pengerahan ini akan memperkuat kemampuan pertahanan pesisir anti-kapal jarak jauh Filipina.

Kesepakatan ini juga menyoroti peningkatan ekspor pertahanan India serta kemitraan strategisnya dengan Filipina.

27 Agustus 2026

MOF Tinjau Tadbir Urus dan Kesiapsiagaan Aset Su-30MKM di Gong Kedak

27 Agustus 2026

Rudal udara-ke-udara, rudal anti radiasi dan rudal anti kapal yang melengkapi Su-30MKM (photo: TUDM)

GONG KEDAK - Pengurusan aset, alat ganti serta tahap kesiapsiagaan pesawat Su-30MKM menjadi fokus lawatan pemantauan Bahagian Pengurusan Aset Awam (PAM), Kementerian Kewangan (MOF) ke Pangkalan Udara Gong Kedak.

Pemantauan dilaksanakan bagi menilai aspek tadbir urus, pengurusan dan penyelenggaraan aset agar terus mematuhi dasar serta tatacara pengurusan aset Kerajaan yang berkuat kuasa. Lawatan ini juga memberi peluang kepada MOF untuk melihat secara langsung peranan aset TUDM dalam mendukung keupayaan pertahanan udara serta menjaga keselamatan dan kedaulatan negara.

Delegasi seramai 20 orang pegawai itu diketuai oleh Setiausaha Bahagian Pengurusan Aset Awam, YBhg. Datuk Alan bin Abdul Rahim serta melibatkan wakil Bahagian Perolehan Kerajaan (BPK) dan Pejabat Belanjawan Negara (NBO).

Lawatan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Kementerian Pertahanan (MINDEF), YBhg. Datin Roszanina binti Wahab bersama Timbalan Setiausaha Bahagian Kewangan, Puan Mas Sakdah binti Kamaruzzaman dan Ketua Penolong Setiausaha Cawangan Pengurusan Aset, Encik Zul Azri bin Abdullah.

TUDM pula diwakili oleh Panglima Operasi Udara, Leftenan Jeneral Dato’ Masro bin Kaliwon TUDM, Panglima Bantuan Udara, Mejar Jeneral Dato’ Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM dan Asisten Ketua Staf Materiel, Brigedier Jeneral Norizan binti Wahab TUDM.

Ketibaan delegasi telah disambut oleh Komander Pangkalan Udara Gong Kedak, Kolonel Hasfa Nyzam bin Abdul Hamid TUDM bersama Pegawai Eksekutif Pangkalan.

Selepas menerima taklimat ringkas mengenai pengoperasian pangkalan, delegasi dibawa meninjau pesawat Su-30MKM di Tactical Shelter No. 12 Skn dan Sistem Misil di Terminal Peluru 4.

Delegasi turut meninjau kemudahan Automated Storage and Retrieval System (ASRS) di MATRA 3 yang digunakan bagi pengurusan alat ganti serta Pusat Simulator Su-30MKM.

Tinjauan secara langsung ini memperkukuh kefahaman bersama antara MOF, MINDEF dan TUDM mengenai keperluan pengurusan aset pertahanan, sekali gus memastikan aset strategik negara diurus secara berkesan, berintegriti dan sentiasa berada pada tahap kesiapsiagaan yang optimum.

24 Agustus 2026

U.S. Navy Unveils AIM-424 'Malice' Very Long-Range Air-to-Air Missile

24 Agustus 2026

AIM-424 'Malice' very long-range air-to-air missile with range: in excess of 250 nm (463km) (photos: US Navy)

The Department of Navy is developing the Air Intercept Missile (AIM)-424 Long Range Air to Air Missile (LRAAM), a next-generation missile intended to strengthen fleet defense and maintain a decisive air domain overmatch against advanced threats. Also known as Malice, LRAAM directly supports the Department’s contribution to integrated deterrence by increasing range, lethality, and combat effectiveness for Marine and Naval aviation forces that are defending our fleets, our interests, and our homeland.

LRAAM sustains the Department’s first look, first shot, first kill advantage by providing our aviators greater reach, greater survivability, and greater tactical flexibility in the air-to-air fight. Built for 4th, 5th, and 6th generation platforms, LRAAM is designed for the air wing of today and the future.


Specifications
Primary Function: Air-to-Air Missile
Contractor: Raytheon
Propulsion: Solid-propellant rocket motor
Length: 13.5 feet (4.11 meters)
Diameter: 13.5 inches (0.34 meters)
Wingspan: 26.2 inches (0.67 meters)
Weight: 1500 pounds (680.4 kg)
Range: In excess of 250 nm (463 km)
Warhead: Blast fragmentation

Persenjataan Udara RTAF yang Dirilis saat Kunjungan PM ke Wing 1

24 Agustus 2026

PM Anutin menerbangkan sendiri pesawat pribadinya jenis Socata TBM 930 dengan dikawal 3 pesawat F-16 (photos: RTAF)

Dari gambar yang dirilis oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand pada hari Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengunjungi Wing 1 (14 Agustus 2026) di Korat AFB, senjata-senjata tersebut disusun dari kiri ke kanan pada gambar di bawah adalah:
- AIM-120C-5 AMRAAM
- GBU-10 PAVEWAY II
- GBU-12 PAVEWAY II
- Mk 82 dengan sumbu tunda M905
- Mk 82 dengan sirip Snakeye untuk meningkatkan hambatan udara
- Mk 82 dengan ballute BSU-49 untuk meningkatkan hambatan udara
- KGGB
- Lizard III
- AGM-65D Maverick
- AIM-9M Sidewinder

Persenjataan udara RTAF yang diperlihatkan di Wing 1 (photos: RTAF)

Pesawat-pesawat disusun dari kiri ke kanan: F-5TH, Alpha Jet-TH, F-16 OCU, Saab 340 AEW, Gripen D, T-50TH, AT-6TH, dan Aerostar-BP (paling depan)

Pengamatan:
1. Set senjata ini terutama untuk F-16 OCU di Wing 1, Korat.

2. IRIS-T belum ada. Meskipun ada gambar-gambar terbaru yang menunjukkan pengujiannya dengan F-16 di Korat, skuadron terdekat yang memiliki rudal IRIS-T adalah Wing 21 di Ubon Ratchathani, yang menggunakannya dengan F-5.


3. AGM-65 masih dipajang, yang mungkin berarti masih dapat digunakan, tetapi kemungkinan besar sudah sangat tua.

4. Mk 82 adalah seri yang diproduksi oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand sendiri.


5. M905 adalah sumbu ekor detonasi tunda yang dirancang untuk meledak di dalam target, mirip dengan bom Bunker Buster. Namun, seri Mk tidak memiliki selubung keras untuk menembus bunker, dan bentuknya yang meruncing berarti tidak memiliki sifat-sifat Bunker Buster. Penetrasi tidak akan sedalam itu, bahkan dengan sumbu khusus, yang merupakan celah yang harus diatasi di masa depan, terutama setelah kesulitan yang dihadapi dalam menghancurkan bunker Kamboja.

6. Ada dua jenis bom Mk 82 yang mungkin tidak digunakan dalam bentrokan di  Perbatasan Thailand-Kamboja baru-baru ini: satu dengan sumbu ekor yang meningkatkan hambatan, digunakan untuk menjatuhkan bom di ketinggian rendah untuk memperlambat penurunan bom dan mencegah ledakan mempengaruhi pesawat yang menjatuhkan bom. Diperkirakan bahwa kekuatan udara Angkatan Udara Kerajaan Thailand pada saat itu tidak menggunakan jenis ini. Karena potensi risiko menghadapi tembakan balasan, lebih disukai untuk menjatuhkan bom di ketinggian menengah atau lebih tinggi.

(TAF)

Indonesia-China Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Misil dan Roket

24 Agustus 2026

Rudal antikapal C-705 buatan China yang baru saja ditembakkan dari KRI Sampari 628 di Dabo Singkep pada 5/8/2026 (photos: TNI AL)

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia akan menjajaki kerja sama dengan China (Tiongkok) untuk mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk teknologi pembuatan misil dan roket. Kerja sama tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan 2+2 antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan RI-RRT, Jumat, 21 Agustus 2026 di Kemlu RI, Jakarta.

Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama industri pertahanan Indonesia-Tiongkok akan melanjutkan sejumlah pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya mencakup kerja sama pembangunan pabrik amunisi di Indonesia.

"Kita akan kerja sama di dalam pabrik amunisi. Kita akan kerja sama dengan misil, roket dan sebagainya yang belum kita buat," kata Sjafrie seusai pertemuan 2+2 yang berlangsung di Gedung Nusantara.


Menurut Sjafrie, Tiongkok juga diharapkan dapat membantu Indonesia melalui transfer teknologi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memperoleh produk pertahanan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi serupa secara mandiri.

"Dia (Tiongkok-red) bantu dan dia akan kirim transfer teknologi. Agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia," ujarnya menambahkan.

Sjafrie menegaskan, transfer teknologi menjadi salah satu hal yang ditekankan Indonesia dalam pembahasan kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia ingin mengembangkan kemampuan teknologi militernya dengan memanfaatkan pengalaman dan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa. Dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh RRT," ucap Sjafrie.

UCAV CH-4 Rainbow milik TNI AU dipersenjatai dengan rudal AR-1 dan AR-2 (photo: Jane's)

Ia menyebut, pengembangan teknologi misil dan roket tersebut ditargetkan mulai direalisasikan di Indonesia paling lambat pada 2027. Kerja sama itu akan dilakukan dalam bentuk pengembangan bersama atau joint development.

"Ini paling lambat 2027 (dimulai-red). Jadi joint development yang pindah pasti PT Pindad," ujar Sjafrie.

Selain industri pertahanan, Indonesia dan Tiongkok juga terus mengembangkan kerja sama di bidang latihan militer. Salah satunya melalui Heping Garuda yang dijadwalkan berlangsung sekitar September-Oktober 2026.

Rudal AR-1 dan AR-2 pada UCAV CH-4 Rainbow (photo: GlobalSecurity)

Sjafrie mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari pembinaan dan peningkatan kerja sama militer kedua negara. Termasuk melalui pertukaran personel baik secara individu maupun satuan.

“Heping Garuda di tahun 2026 ini sama dengan Garuda Shield yang dilaksanakan bulan September. Jadi di dalam pembinaan latihan kemudian tukar-menukar personel, itu kita lakukan baik secara perorangan maupun secara kesatuan,” ucap Menhan RI.

“Heping Garuda di sekitar September-Oktober. Saya kurang jelas (lokasi-red), mungkin di sekitar Sumatra.”

Pertemuan 2+2 RI-RRT turut dihadiri Menhan Dong Jun, Menlu Sugiono serta Menlu Wang Yi. Pelaksanaannya dilakukan setelah Dialog Strategis Komprehensif (CSD) pertama RI-RRT di Kemlu RI, Jakarta.

(RRI)

23 Agustus 2026

Hyundai Rotem and KAI Collaborate on Long-Range Air-to-Air Missile Development

23 Agustus 2026

KF-21 with air-to-air missile (photo: KAI)

Hyundai Rotem is partnering with Korea Aerospace Industries (KAI) to internalize aviation weapon technology, including long-range air-to-air missiles to be mounted on the KF-21.

Hyundai Rotem announced on the 13th that it signed a Memorandum of Understanding (MOU) on aviation armament business cooperation with KAI at the KAI headquarters in Sacheon, Gyeongnam on the 12th to enhance the global competitiveness of the K-defense industry and develop aviation armament.

The signing ceremony for the MOU, held in the presence of officials including Cho Hyung-joon, Head of Hyundai Rotem’s AD&RH Business Division, and Kim Yong-min, Head of KAI’s Business Division, was organized to expand technological cooperation and mutual exchange in the field of aviation armament based on the core competencies of both companies and to enhance competitiveness in the global market.

Through this agreement, the two companies plan to expand cooperation in various fields, including: 
▲ technical cooperation for the development and system integration of aircraft platforms, such as the Korean supersonic fighter KF-21, and air armaments, including long-range air-to-air missiles; 
▲ identification of package-type export models linking aircraft platforms and onboard armaments; and 
▲ joint identification of domestic and international business opportunities and global marketing.


This collaboration aims to secure a competitive edge in providing a "Total Solution" that offers aircraft and weapons as a single unit by combining Hyundai Rotem's guided weapon and propulsion system technologies with KAI's aircraft platform technology, in response to the recent trend in the global defense market of expanding package-type exports that offer integrated aircraft and weapons. In addition to this agreement, Hyundai Rotem plans to contribute to strengthening the competitiveness of the domestic space industry and expanding domestic and international markets through its diverse space business capabilities.

Meanwhile, Hyundai Rotem has continuously expanded its business scope beyond ground weapon systems into the aerospace sector. The company has accumulated independent aerospace technological capabilities by conducting R&D on various future propulsion systems, including the development of hypersonic propulsion systems, a core technology for aircraft armament. Last year, the company secured various key technology R&D projects, such as the development of methane engine technology for reusable launch vehicles led by the Agency for Defense Development (ADD), and the development of a long-range air-to-air guided weapon prototype and the hypersonic vehicle 'HyCore' led by the Agency for Defense Development (ADD), thereby expanding its position as a key player in the future aerospace field.

"This agreement will serve as an opportunity to further strengthen competitiveness in the future aviation armament sector by combining the core technologies of both companies," said a Hyundai Rotem official. "Based on the expertise and business capabilities of both companies, we will contribute to strengthening national defense and enhancing self-reliant defense capabilities through healthy competition, and strive to help the domestic defense industry develop based on diversity."

21 Agustus 2026

First Image of the Blue Spear Missile

21 Agustus 2026

RSS Steadfas 70 Formidable class with Blue Spear missile launcher on board (photos: Koji)

An image of the Blue Spear anti-ship missile mounted on the Republic of Singapore Navy frigate RSS Steadfast (70) during its port call in Tokyo, Japan.


Blue Spear is an anti-ship missile developed through a collaboration between IAI (Israel) and ST Engineering (Singapore), based on the Gabriel V system. It features an electronic counter-countermeasure (ECCM) guidance system, is capable of sea-skimming flight to evade radar detection, and can engage both surface and land-based targets. It has a maximum range of 290 km - more than double the range of the Harpoon missiles currently used by Singapore.


Singapore is adopting this missile as the primary anti-ship weapon for its naval fleet; it is replacing the Harpoon missiles on Formidable-class frigates with Blue Spear and will also install the system on the new Victory-class vessels currently under construction.

(TAF)