Tampilkan postingan dengan label TNI-AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI-AL. Tampilkan semua postingan

10 Oktober 2026

Pemasangan Rudal Aster 30 Bikin Kapal PPA TNI AL Mampu Tangkis Rudal Balistik

10 Oktober 2026

Kapal PPA  Giovanni delle Bande Nere (P 434) ketika berlatih menembakkan rudal permukaan-ke-udara ASTER 30 (photo: Marina Militare)

Lompatan Teknologi TNI AL: Rudal Aster 30 Bikin Kapal PPA Mampu Tangkis Rudal Balistik

Paris, IDM – Pemasangan rudal Aster 30 pada dua kapal perang Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) bakal mendongkrak kemampuan pertahanan udara TNI AL. Senjata ini menggeser kapasitas tempur armada laut Indonesia dari perlindungan jarak dekat menjadi penangkis rudal balistik (anti-ballistic missile).

Head of Naval Systems MBDA, Stefano Bertuzzi, menyebut Aster 30 sebagai satu-satunya amunisi di portofolio perusahaan yang sanggup merontokkan ancaman rudal balistik di udara.

“Satu-satunya senjata yang kami punya untuk mengatasi ancaman rudal balistik cuma Aster. Kami tidak punya senjata lain untuk kebutuhan itu,” kata Bertuzzi di Paris, Prancis, Senin (5/10).

Bertuzzi menjelaskan, kemampuan mencegat rudal balistik butuh pemandu berakurasi tinggi. Pengembangan varian terbaru Aster 30 B1NT membekali rudal dengan komponen pencari sasaran (seeker) berbasis gelombang radio frekuensi tinggi (Ku-band) buatan Thales.

“Pengembangan utama pada B1NT ada di bagian pemandunya. Kami mengganti pemandu lama dengan seeker radio gelombang Ku-band buatan Thales. Perubahan ini meningkatkan akurasi tembakan secara signifikan,” ujar Bertuzzi.

Rudal Aster 30 versi standar mempunyai jangkauan 100-120 km (photo: Seaforces)

Ia menambahkan, varian B1NT bahkan sanggup memburu sasaran balistik hingga jarak 1.500 kilometer. Kehadiran pemandu baru tersebut membuat rudal lebih responsif menyasar objek bergerak cepat.

“Varian B1NT dirancang mampu mencegat sasaran balistik sampai jarak 1.500 kilometer. Jadi, Aster memang solusi utama untuk menangkal rudal balistik,” tutur Bertuzzi.

Meski punya kemampuan teruji, pemboyongan rudal ini harus berhadapan dengan ketatnya antrean produksi di Eropa. MBDA memberlakukan aturan prioritas pemesanan (first contract, first served), yang menempatkan pemesan awal seperti Prancis dan Italia di daftar teratas. Pembuatan komponen seeker Thales sendiri butuh waktu di atas dua tahun.

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengincar amunisi penangkis serangan udara ini sejak 10 tahun lalu. Keputusan memboyong dua kapal PPA, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, dari galangan Fincantieri Italia kini membuka jalan bagi MBDA dan Indonesia untuk menuntaskan negosiasi kontrak rudal Aster 30.

(IDM)

08 Oktober 2026

MBDA Menawarkan SM39 Block 2 Mod 2 untuk Kapal Selam Scorpène Indonesia

08 Oktober 2026

Rudal SM-39 Exocet varian submarine-launched memiliki jangkauan 50 km (photo: MBDA)

Dalam rangkaian kegiatan Press Tour EURONAVAL 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Industri Maritim Prancis (GICAN), MBDA mengonfirmasi bahwa perusahaan tersebut menawarkan rudal anti-kapal Exocet varian peluncuran kapal selam untuk kapal selam Scorpène Evolved milik Indonesia di masa depan.

Menanggapi pertanyaan dari Naval News, MBDA menyatakan pihaknya menawarkan SM39 Block 2 Mod 2, varian Exocet peluncuran kapal selam terbaru yang saat ini sedang dalam tahap produksi penuh. Perusahaan juga mengonfirmasi bahwa kontrak pengadaan dua kapal selam Scorpène Evolved yang sedang berjalan telah mencakup kemampuan peluncuran SM39, sebagaimana dilaporkan sebelumnya oleh Naval News.

MBDA menyatakan bahwa mereka menawarkan SM39 - dan bukan SM40 generasi berikutnya yang masih dalam tahap pengembangan - karena mempertimbangkan jadwal produksi kapal selam Indonesia.

Kapal selam Scorpène Evolved pertama dan kedua milik Indonesia dijadwalkan untuk diserahterimakan masing-masing pada tahun 2032 dan 2033. MBDA ingin memastikan bahwa TNI Angkatan Laut dapat melengkapi kapal-kapal tersebut dengan rudal anti-kapal peluncuran kapal selam pada saat serah terima atau segera setelahnya, jika diperlukan.

Sementara itu, SM40 yang masih dalam pengembangan mungkin tidak akan tersedia tepat waktu untuk memenuhi jadwal tersebut.

Namun, MBDA menegaskan bahwa Indonesia masih dapat mengakuisisi SM40 di masa mendatang. Perusahaan menyatakan hanya diperlukan penyesuaian minimal untuk menggunakan rudal yang lebih baru tersebut, karena SM39 dan SM40 menggunakan kapsul penyimpanan dan peluncuran yang sama, serta keduanya kompatibel dengan tabung torpedo kapal selam standar ukuran 533 mm. SM40 memiliki jangkauan 120 km dan dilengkapi dengan pencari (seeker) J-band generasi baru yang awalnya dirancang untuk MM40 B3c.

MBDA memperkirakan Indonesia akan melakukan pemesanan resmi untuk SM39 pada awal tahun 2027.


Tentang SM39 Block 2 Mod 2
SM39 diluncurkan dari tabung torpedo di dalam kapsul kedap air yang membawa rudal tersebut ke permukaan sebelum melepaskannya untuk terbang pada ketinggian rendah—menyusur permukaan laut (sea-skimming)—dengan kecepatan subsonik tinggi.

MBDA mencatat spesifikasi rudal ini memiliki berat 655 kilogram, panjang 4,69 meter, dan diameter 350 mm, dengan jangkauan operasional lebih dari 50 km. Rudal ini menggunakan navigasi inersia yang kemudian beralih ke pencari (seeker) RF aktif untuk pemandu fase terminal (terminal guidance).

Rudal ini membawa hulu ledak berdaya ledak tinggi (high-explosive) yang dilengkapi dengan sekering benturan (impact fuse) dan sekering jarak dekat (proximity fuse).

Varian Block 2 Mod 2 merupakan standar produksi terkini dari SM39, yang mencakup pembaruan sistem elektronik, peningkatan kinerja pencari sasaran, serta kemampuan penanggulangan tindakan elektronik (electronic counter-countermeasure) yang lebih baik dibandingkan versi-versi sebelumnya.

Rudal ini telah digunakan pada kapal selam keluarga Scorpène sebelumnya, termasuk kelas Riachuelo milik Brasil, serta kapal selam bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Prancis.

07 Oktober 2026

Presiden Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru TNI pada Peringatan HUT ke-81 TNI

07 Oktober 2026

6 Kodam baru yang dibentuk (infographic: Antara)

Presiden Prabowo Subianto meresmikan 204 satuan baru Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam rangkaian Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI. Upacara dilangsungkan di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Senin (05/10/2026).

Dalam prosesi tersebut, Presiden Prabowo selaku inspektur upacara menyampaikan pernyataan peresmian 204 satuan baru yang terdiri atas satuan TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, Senin 5 Oktober 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan 204 satuan baru TNI,” ujar Presiden Prabowo.

Enam Kodam Baru
Sebanyak enam Komando Daerah Militer (Kodam) menjadi bagian dari satuan baru yang diresmikan. Keenam Kodam tersebut yakni Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah di Kepulauan Riau, Kodam XXVI/Mataram di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kodam XXVII/Sobe Sonbai di Nusa Tenggara Timur, Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha di Maluku Utara, Kodam XXIX/Mambruk di Papua Tengah, serta Kodam XXX/Rinambora di Nusa Tenggara Barat.

Divisi dan Brigade
Selain enam Kodam, Presiden juga meresmikan 1 Divisi Parako II Pasgat, 1 Brigade Infanteri Marinir, 1 Brigade Parako Pasgat, 30 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan, serta 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan. 

Batalyon Bantuan Tempur
Satuan baru lainnya meliputi 3 Batalyon Bantuan Tempur TNI AD yang terdiri atas satu batalyon kavaleri, satu batalyon artileri medan, dan satu batalyon artileri pertahanan udara. 

Skadron dan Satuan Radar
Presiden juga meresmikan 4 Batalyon Infanteri Marinir, 3 Batalyon Parako Pasgat, 2 Skadron Udara TNI AU, 2 Satuan Radar TNI AU, serta 1 Skadron Pendidikan TNI AU.

Pernyataan peresmian kemudian dilanjutkan dengan penekanan tombol sirene oleh Presiden Prabowo. Momen tersebut diiringi satu kali tembakan kehormatan meriam Armed yang menandai secara resmi peresmian 204 satuan baru TNI.

Setelah prosesi peresmian, Presiden menyerahkan tongkat komando dan lambang satuan baru kepada tujuh perwakilan pimpinan satuan. Mereka yakni Pangdam XXIX/Mambruk Mayjen TNI Aminton Manurung, Pangdam XXVI/Mataram Mayjen TNI Drajad Brima Yoga, Pangdam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah Mayjen TNI Rionardo, Pangdam XXVII/Sobe Sonbai Mayjen TNI Thevi Angandowa, Pangdam XXX/Rinambora Mayjen TNI Edi Saputra, Pangdam XXVIII/Moloku Kie Raha Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus, serta Pangdiv Parako II Pasgat Kolonel Pas Harry Nugroho.

Penyerahan masing-masing lambang satuan turut diiringi dengan tembakan kehormatan meriam Armed. Peresmian 204 satuan baru tersebut menjadi salah satu rangkaian utama dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI tahun 2026 yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo sebagai inspektur upacara.


06 Oktober 2026

EDA: Pola Baru Pengadaan Senjata Asal Amerika Serikat?

06 Oktober 2026

105 kendaraan tempur AAV7A1 bekas USMC akan melengkapi Korps Marinir TNI AL (photo: military.com)

Selama Kementerian Pertahanan dipimpin oleh Prabowo Subianto, tidak ada akuisisi sistem senjata yang signifikan dari Amerika Serikat, walaupun kebijakan pengadaan saat itu adalah memprioritaskan pembelian dari negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Impor lima C-130J-30 dengan nilai program US$500 juta merupakan warisan program Minimum Essential Force (MEF) tahap kedua yang baru dieksekusi setelah Kementerian Pertahanan mengalami pergantian kepemimpinan pada pertengahan Oktober 2019.

Janji yang dibuat di St. Louis pada 21 Agustus 2023 untuk membeli F-15EX sampai kini hanya tinggal janji walaupun menteri pertahanan periode 2019-2024 telah berpindah kantor ke Istana Merdeka. Tentu menjadi pertanyaan apakah absennya akuisisi signifikan dari Amerika Serikat karena alasan paranoid mengenai trauma embargo ataukah ada alasan lain yang sukar dijelaskan secara rasional?

Trauma embargo kini sudah berubah menjadi alasan yang paranoid sebab pada dasarnya semua produsen peralatan pertahanan bisa melakukan embargo berdasarkan kepentingan nasional mereka. Merupakan pandangan yang sangat keliru andaikata hanya menetapkan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara yang dapat menerapkan embargo kepada Indonesia.

Negara-negara eksportir senjata ke Indonesia seperti Prancis, Italia, Turki, Rusia dan China pun bisa mengaplikasikan kebijakan serupa terhadap Indonesia bila suatu saat mereka memandang negara ini tidak selaras dengan kepentingan nasional mereka dalam kancah internasional.

12 C-130J Australia akan dipensiunkan bertahap seiring dengan datangnya pesanan 20 pesawat C-130J baru mulai tahun 2027 (photo: RAAF)

Seumpama Indonesia tidak ingin diembargo lagi oleh negara lain, nasihat paling bijak yang dapat diberikan adalah memproduksi semua peralatan perang di dalam negeri dengan semua bahan baku dan bahan penolong juga berasal dari Indonesia.

Sesudah pertemuan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada 13 April 2026 di Pentagon yang menghasilkan kesepakatan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP), nampaknya terjadi percepatan proses pengadaan sistem senjata dari Amerika Serikat. Di antara pilar dasar dalam MDCP ialah modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, suatu penopang bagi beragam aktivitas yang terkait dengan perdagangan pertahanan.

Setelah lahir MDCP, rencana pembelian kendaraan pendarat amfibi AAV7A1 bekas USMC berjalan dengan cepat, padahal sejak 2016 sampai April 2026 penawaran Amerika Serikat atas wahana tempur itu selalu menemui ketidakpastian di Kementerian Pertahanan. Sementara Korps Marinir sangat membutuhkan kendaraan lapis baja tersebut guna memenuhi kebutuhan operasional pasca validasi organisasi dan kegagalan impor BT-3F dari Rusia karena CAATSA.

Dalam program senilai US$23 juta, Indonesia menerima 35 AAV7A1 yang telah menjalani program refurbishment sebelumnya. Skema program itu adalah Excess Defense Article (EDA) yang dikombinasikan dengan Foreign Miltary Sales (FMS) di mana peralatan tersebut dijual ke Indonesia dengan harga rabat sehingga biaya pengadaan tergolong murah.

AAV7A1 kini tidak diproduksi lagi dan di lingkungan USMC digantikan oleh ACV 8x8 buatan BAE Systems/Iveco. Sebelum mendapatkan AAV7A1, Korps Marinir sudah mengoperasikan 15 KAAV7A1 yang diproduksi secara lisensi oleh Samsung Techwin, Korea Selatan sehingga tidak dibutuhkan masa adaptasi ketika menggunakan kendaraan pendarat amfibi asal Amerika Serikat.

53 unit F-16AM/BM AU Belgia akan dipensiunkan mulai tahun 2026 untuk digantikan pesawat temur F-35A, namun kemungkinan sebagian besar akan dihibahkan ke Ukraina (photo: EuropeanAirshows)

Selain akuisisi AAV7A1, berdasarkan keterangan beberapa sumber yang mengetahui tentang diskusi perdagangan pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat, Indonesia sempat pula menjajaki pengadaan sistem senjata lainnya dengan skema EDA. Hanya saja beberapa peralatan pertahanan yang diincar oleh Indonesia tidak ada yang tersedia untuk dikategorikan sebagai EDA yang bisa dialihkan ke negara lain.

Di antara hal menarik tentang penjajakan demikian ialah peralatan perang yang dikehendaki oleh Indonesia masih berstatus diproduksi oleh pabrikan masing-masing dan bukan berstatus discontinued. Sehingga menjadi pertanyaan apakah sekarang mulai tercipta pola baru pembelian senjata dari Amerika Serikat yaitu EDA daripada peralatan baru?

EDA F-16 dan C-130J
Akuisisi dengan skema EDA bukan hal yang harus dihindari dan sebaiknya berdasarkan pertimbangan kasus per kasus. Dalam konteks AAV7A1, EDA merupakan skema paling masuk akal guna memenuhi keperluan operasional Korps Marinir mengingat bahwa tidak banyak lagi pembuat kendaraan pendarat amfibi di dunia. Di samping itu, dengan populasi wahana lapis baja tersebut yang masih banyak, begitu pula dengan suku cadang masih cukup tersedia sehingga tidak ada tantangan terkait sustainment.

Akan tetapi konteks AAV7A1 tidak dapat diterapkan pada sistem senjata yang sampai saat ini masih diproduksi seperti F-16 dan atau C-130J. Amerika Serikat mempunyai skema ekspor senjata selain EDA, yakni Foreign Military Sales (FMS), Direct Commercial Sales (DCS) dan hibrida yang merupakan gabungan antara FMS dan DCS. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Indonesia tidak menyukai skema FMS karena tidak ada ruang bagi peran makelar.

Adapun bagi skema DCS, pabrikan Amerika Serikat diwajibkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk langsung menjalin kontrak dengan pemerintah negara pembeli, sehingga menutup peran pedagang perantara. Nilai kontrak dalam DCS pun sulit untuk digelembungkan hingga menjadi tidak masuk akal sebab terdapat bentangan angka kontrak berdasarkan subsistem apa saja yang diadopsi dalam suatu senjata yang didatangkan dari Amerika Serikat.

81 pesawat tempur F-16C Block 30 (Barak 1) AU Israel dipensiunkan sejak 2024 lalu untuk digantikan F-35A, sebagian akan dibeli oleh perusahaan Top Aces dari Kanada dan sebagian lagi masih belum ada pembelinya (photo: Times of Israel)

Bila skema EDA menjadi pola pilihan favorit Indonesia dalam perdagangan pertahanan dengan Amerika Serikat, apakah hal demikian tidak merugikan negeri ini ketika kesiapan operasional peralatan pertahanan dipertaruhkan dibandingkan membeli baru dengan skema FMS, DCS atau hibrida?


Untuk peralatan seperti pesawat terbang, walaupun terdapat program regenerasi pada airframe, sepanjang pengetahuan penulis tidak dapat lagi dilaksanakan program regenerasi untuk kedua kalinya setelah usia jam terbang airframe habis.

Apakah skema EDA dipilih agar tercipta transaksi perdagangan pertahanan antara kedua negara sebagai sebuah formalitas belaka? Ataukah hal tersebut diambil demi kepentingan elektoral menjelang pemilu 2029, di mana peralatan perang yang diimpor bisa diserahterimakan pada 2028?

Di antara kelebihan skema EDA, yakni kualitas sistem senjata yang diserahkan oleh Amerika Serikat kepada negara mitra dalam kondisi bagus dan siap digunakan bagi kepentingan operasional. Akan tetapi kebutuhan peralatan perang Indonesia yang dapat dipasok oleh Amerika Serikat sebagian besar tidak dapat mengandalkan pada skema itu, apalagi tingkat pemakaian per tahun peralatan pertahanan Amerika Serikat seperti kapal perang, pesawat udara dan helikopter jauh lebih tinggi daripada yang dioperasikan oleh Indonesia.

Oleh sebab itu, amat disayangkan andaikata pertanyaan bahwa skema EDA menjadi pilihan kesukaan Indonesia saat ini benar adanya. Akuisisi sistem senjata hendaknya didasarkan pada pertimbangan jangka panjang lintas pemerintahan dan tidak berdasarkan kepentingan jangka pendek pihak yang saat ini dipilih oleh rakyat guna memimpin mereka. (Alman Helvas Ali)


(CNBC)

01 Oktober 2026

Marinir Uji Thermal Weapon Sight Buatan Ceko

01 Oktober 2026

Uji fungsi Thermal Meotherm SARF 01 DF-V2 Weapon Sight buatan Ceko (photos: PasMar2)

Danbrigif 2 Marinir Uji Langsung Thermal Weapon Sight Buatan Ceko
Dispen Kormar, TNI AL (Madura). Komandan Brigade Infanteri 2 Marinir (Danbrigif 2 Mar) Kolonel Marinir Eko Budi Prasetyo Adi Saputro mengikuti Uji Fungsi Pengadaan Thermal Meotherm SARF 01 DF-V2 Weapon Sight buatan Republik Ceko di Lorong Tembak Laboratorium Induk Senjata (Labinsen), Jl. Sukolilo Barat No. 147, Desa Sukolilo, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura, Selasa (29/09). Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk melihat secara langsung kemampuan dan kinerja perangkat weapon sight berbasis termal dalam mendukung kemampuan pengamatan dan pembidikan.


Dalam kegiatan tersebut, Danbrigif 2 Marinir turut mengikuti rangkaian pengujian guna memastikan perangkat dapat berfungsi sesuai spesifikasi dan kebutuhan operasional satuan. “Uji fungsi ini menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan dan kemampuan Thermal Meotherm SARF 01 DF-V2 Weapon Sight dalam mendukung tugas operasional prajurit. Melalui pengujian secara langsung, kita dapat mengetahui kemampuan perangkat sekaligus memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan prajurit Korps Marinir,” ujar Kolonel Marinir Eko Budi Prasetyo Adi Saputro.


Danbrigif 2 Marinir menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dan peralatan modern perlu diimbangi dengan kesiapan personel dalam mengoperasikan serta memanfaatkan peralatan secara optimal. “Yang tidak kalah penting adalah kesiapan prajurit dalam mengoperasikan peralatan ini. Teknologi harus diikuti dengan peningkatan kemampuan dan profesionalisme personel sehingga dapat memberikan dukungan optimal terhadap pelaksanaan tugas,” tegas Danbrigif 2 Marinir.


29 September 2026

Agreement for Modernization of KRI Sriwijaya

29 September 2026

KRI Sriwijaya 100 aircraft carrier (former Giuseppe Garibaldi C-551) (photo: Fincantieri)

We are proud to announce we signed a Memorandum of Understanding (MoU) with PT PAL Indonesia, the country's leading state-owned shipbuilder, establishing a framework for cooperation on the future modernization program of the Indonesian Navy’s KRI SRIWIJAYA (former Giuseppe Garibaldi).

With this agreement, signed in Jakarta by our VP Sales of Naval Vessels Division Mauro Manzini, and Djenod #Kaharuddin, President Director of PT PAL Indonesia, we will collaborate on the vessel’s modernization program, combining our respective expertise and jointly defining the scope of activities and responsibilities within the cooperation.
 

The program is intended to maximize the vessel’s operational effectiveness across a broad range of missions, from defense and maritime security operations to humanitarian assistance and emergency response activities, while supporting the long-term capability development objectives of the Indonesian Navy.

A commitment built on the long-standing experience in the naval sector of the two companies, creating opportunities for broader industrial cooperation between Italy and Indonesia, including the involvement of leading industrial players and technology partners from both countries, confirming our vision of a more innovative future based on collaboration and sharing.

Menhan RI Resmikan AAV M-35 untuk Marinir, 35 Ranpur Amfibi Masuk 2026 dan 70 unit Tahun 2027

29 September 2026

Korps Marinir total akan memiliki 105 ranpur AAV M-35. Arti seri M-35 adalah: M berarti Marines/Marinir, angka 3 mempunyai arti 3 awak (komandan, pengemudi dan penembak) serta angka 5 berarti mempunyai kemampuan operasi Sea State 5 (photos: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta). Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI)  Jenderal TNI (Purn) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin, memimpin acara penerimaan dan penyerahan kendaraan tempur amfibi AAV M-35 untuk Korps Marinir TNI Angkatan Laut (TNI AL). Kegiatan digelar di Lapangan Apel Brigif 1 Marinir, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin, (28/09/2026). 


Sejumlah pejabat tinggi TNI turut hadir, di antaranya Panglima TNI Jenderal TNI  Agus Subiyanto,  Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, S.E., M.M. serta Direktur International Narcotics and Law Enforcement (INL) sekaligus Penjabat Wakil Duta Besar AS di Jakarta, Aqueelah T. Johnson.


Sebanyak 12 unit AAV M-35 telah tiba di Indonesia pada Selasa, 22 September 2026. Kedatangan tahap pertama ini merupakan bagian dari pemenuhan 35 unit AAV M-35 pada 2026, dengan 23 unit lainnya akan dipenuhi secara bertahap hingga akhir tahun 2026. Kendaraan tempur amfibi tersebut akan memperkuat kemampuan mobilitas pasukan, daya angkut, perlindungan, serta manuver pasukan Korps Marinir dari laut menuju pantai pendaratan hingga sasaran di darat.

Ranpur AAV M-35 Korps Marinir (photo: Kompas)

AAV M-35 merupakan varian AAV-7A1 RAM/RS asal Amerika Serikat yang menggunakan sistem penggerak roda rantai. Ranpur ini dirancang mampu beroperasi di wilayah perairan maupun daratan dan dapat membawa hingga 21 prajurit beserta perlengkapannya, dengan tiga awak kendaraan yang terdiri atas komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak.

Ranpur AAV M-35 Korps Marinir (photo: Detik)

Dari sisi kemampuan, AAV M-35 menggunakan mesin Cummins V903 berkekuatan 525 horsepower. Kendaraan ini mampu mencapai kecepatan sekitar 15 kilometer per jam di air dan sekitar 75 kilometer per jam di darat. AAV M-35 juga memiliki kemampuan operasi perairan hingga Sea State 5, serta dilengkapi persenjataan berupa senapan mesin 12,7 mm dan pelontar granat otomatis 40 mm untuk mendukung pelaksanaan tugas operasi.

26 September 2026

Pangkormar Tinjau Ranpur AAV, Perkuat Kesiapan Kekuatan Amfibi Korps Marinir

26 Mei 2026

Pangkormar meninjau ranpur AAV ke Pasmar 1 (photos: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta). Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., memastikan kesiapan awal 12 unit Ranpur Amfibi AAV M-35 gelombang pertama yang telah tiba di Garase Menkav 1 Marinir, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (23/09/2026). Kehadiran kendaraan tempur tersebut merupakan bagian dari pemenuhan 35 unit AAV untuk memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir TNI Angkatan Laut.


Didampingi Pejabat Utama Korps Marinir, Pangkormar meninjau langsung kondisi 12 unit AAV M-35 yang sehari sebelumnya tiba melalui Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hadir dalam kegiatan tersebut Kas Kormar Mayjen TNI (Mar) Suherlan, Danpasmar 1 Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., para Asisten Pangkormar, Sahli A Bid Ops Pangkormar, perwakilan US Marines, perwakilan Kementerian Pertahanan RI, perwakilan Disadal, para Dankolak, serta Dansatlak Resimen Kavaleri Korps Marinir.


Kehadiran AAV M-35 memperkuat kemampuan pasukan pendarat dalam melaksanakan pergerakan dari laut menuju darat. Dengan kemampuan membawa personel dan perlengkapan tempur serta mobilitas di medan perairan dan daratan, AAV menjadi salah satu unsur penting dalam meningkatkan kemampuan operasi amfibi Korps Marinir melalui Resimen Kavaleri Korps Marinir.


Setelah kedatangan 12 unit gelombang pertama, pemenuhan AAV akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai 35 unit. Kehadiran kendaraan tempur amfibi tersebut menjadi langkah nyata Korps Marinir TNI Angkatan Laut dalam memperkuat kekuatan pendarat yang modern, memiliki mobilitas tinggi, dan siap melaksanakan operasi dari laut menuju sasaran di darat.

25 September 2026

TNI AL Harap Kapal Induk Dilengkapi Pesawat Yang Bisa "Take Off" Vertikal

25 September 2026

Pesawat tempur F-35B dan Sea Harrier AL Italia (photo: Marina Militare)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali berharap pihaknya bisa mendapatkan pesawat tempur yang memiliki kemampuan take off atau lepas landas secara vertikal untuk melengkapi kekuatan KRI Sriwijaya-100.

"Ya harapannya sih seperti itu. Kalau Angkatan Laut maunya seperti itu. Tapi tergantung kondisi anggaran dan lain-lain ya," kata Ali saat ditanya wartawan soal rencana mengincar pesawat tempur Harrier untuk kapal induk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis.

Menurut Ali, landasan pesawat yang ada di deck KRI Sriwijaya-100 memungkinkan untuk dipakai pesawat tempur lepas landas.

"Kapal ini mampu untuk didaratkan dan melepaslandaskan pesawat tempur. Dulu (saat masih digunakan AL Italia) digunakan untuk Sea Harrier dan F35B ya," kata Ali.

ITS Garibaldi ketika masih membawa pesawat Sea Harrier (photo: Marina Militare)

Kendati demikian, Ali menilai kehadiran pesawat tempur belum terlalu dibutuhkan karena kapal induk ini difokuskan untuk menjalankan misi kemanusiaan atau operasi militer selain perang (OMSP).

Ali lebih memfokuskan untuk menempatkan banyak helikopter dan pesawat tanpa awak atau drone di atas kapal.

Dengan demikian, helikopter yang ada di atas kapal induk bisa dikerahkan untuk membawa logistik dari kapal induk ke lokasi-lokasi bencana atau operasi OMSP lainnya.

"Semua jenis helikopter dan helikopter Angkatan Laut, Angkatan Darat dan Angkatan Udara bisa take off dan landing dari kapal ini," kata Ali. (Antara)

KRI Sriwijaya-100 (photo: Aktualita)

KRI Sriwijaya-100 Resmi Perkuat TNI AL
KRI Sriwijaya (SWJ)-100 resmi memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut setelah diresmikan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9). Peresmian turut dirangkaikan dengan pengukuhan Komandan KRI Sriwijaya-100.

Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi ini menjadi kapal induk pertama TNI AL sekaligus bagian dari modernisasi kekuatan pertahanan nasional. Kehadiran KRI Sriwijaya-100 memperkuat kemampuan sebagai pusat komando operasi laut, sarana diplomasi pertahanan, dan dukungan misi kemanusiaan.

Momentum ini menandai langkah strategis Indonesia membangun kekuatan maritim yang modern dan berdaya tangkal untuk menjaga kedaulatan serta memperkuat peran Indonesia di tingkat regional dan global. (Kemhan)

24 September 2026

12 Ranpur AAV Gelombang Pertama Tiba, Korps Marinir Perkuat Kemampuan Operasi Amfibi

24 September 2026

Kedatangan 12 ranpur AAV7 untuk Korps Marinir di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (photos: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta). Sebanyak 12 unit Ranpur Amfibi AAV tiba di Indonesia dan menjalani proses pembongkaran di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/09/2026). Kedatangan tahap pertama ini menjadi bagian dari pemenuhan 35 unit AAV untuk memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir TNI Angkatan Laut.


Kedatangan Ranpur disambut Aslog Pangkormar Brigadir Jenderal TNI (Mar) Efhardian, M.Tr.Opsla., didampingi Sahli A Bid Ops Pangkormar Kolonel Marinir Didiet Hendra Wijaya, M.Mp., Danmenkav 1 Marinir Kolonel Marinir Agus Setiyo Budi, M.Tr.Opsla., serta Danyon Ranratfib 1 Marinir Letkol Marinir Muhan Solihan, M.M.Tr.Opsla. Rombongan meninjau kondisi dan proses penerimaan Ranpur yang kemudian diturunkan ke truk oplegger untuk diberangkatkan ke Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, dengan sistem pengikatan guna menjamin keamanan selama perjalanan.


Kehadiran AAV menjadi tonggak penting bagi Korps Marinir setelah sebelumnya menerima 10 unit LVT-7A1 dari Korea Selatan pada 7 Desember 2009. Sebagai kendaraan pendarat amfibi, AAV memperkuat kemampuan pasukan dalam melaksanakan operasi dari laut menuju pantai hingga mencapai sasaran di darat.


AAV dirancang membawa pasukan melintasi zona tempur perairan dan mampu menghadapi gelombang serta arus hingga Sea State 5. Ranpur ini menggunakan mesin Cummins V903 berdaya 525 horsepower, memiliki panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, tinggi 3,26 meter, dan bobot 23 ton, dengan kecepatan hingga 15 km/jam di laut dan 75 km/jam di darat.


AAV diawaki tiga personel dan mampu membawa 21 prajurit infanteri Marinir beserta perlengkapan siap tempur. Kehadirannya bukan sekadar penambahan alutsista, tetapi juga meningkatkan mobilitas laut ke darat, perlindungan lapis baja, daya angkut pasukan, dan kecepatan manuver dalam mendukung kemampuan amfibi Resimen Kavaleri Korps Marinir di negara kepulauan.


Panglima Korps Marinir Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., menegaskan bahwa kehadiran AAV akan semakin memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir, khususnya

23 September 2026

PT PAL dan Naval Group Bersiap untuk Pesanan Lanjutan Kapal Selam Scorpene dan Fregat FDI

23 September 2026

Kapal selam Scorpene (photo: Indian Navy)

Perusahaan galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL, dan perusahaan galangan kapal asal Prancis, Naval Group, akan menandatangani perjanjian kerja sama pembuatan kapal yang mencakup pembangunan kapal perang *Frégate de Défense et d'Intervention* (FDI) dan dua kapal selam Scorpene Evolved tambahan.

Sumber-sumber yang mengetahui masalah ini menginformasikan kepada Janes bahwa upacara penandatanganan perjanjian tersebut akan diselenggarakan di kantor pusat PT PAL di Surabaya pada tanggal 24 September.

Perjanjian-perjanjian ini akan menetapkan kerangka kerja sama seandainya Indonesia melanjutkan rencana untuk mengakuisisi gelombang kedua kapal selam Scorpene Evolved dan fregat FDI, ujar sumber-sumber tersebut.

Informasi lebih lanjut yang diperoleh Janes menunjukkan bahwa perjanjian tersebut akan berfokus pada pengaturan pembagian kerja, alih teknologi, peluang pembangunan di dalam negeri, serta mekanisme partisipasi industri yang dapat diterapkan jika program akuisisi tersebut terealisasi.

Program Scorpene Indonesia diresmikan melalui kontrak yang ditandatangani pada Maret 2024, yang mencakup akuisisi dua kapal selam serang diesel-elektrik Scorpene Evolved untuk TNI Angkatan Laut.

Fregat FDI/Belharra (image: EnnuiShao)

Program ini mencapai tonggak sejarah penting pada 7 Agustus 2026 ketika pembangunan kapal pertama secara resmi dimulai melalui upacara pemotongan pelat baja di galangan kapal PT PAL Indonesia di Surabaya.

Dalam program ini, kedua kapal selam tersebut dibangun di Indonesia melalui pengaturan alih kemampuan antara Naval Group dan PT PAL Indonesia.

PT PAL Indonesia bertanggung jawab atas kegiatan pembangunan, integrasi, pengujian, perakitan akhir, dan penyerahan kapal, sementara Naval Group menyediakan keahlian desain kapal selam, dukungan rekayasa, alih teknologi, dan bantuan teknis.

Scorpene Evolved merupakan varian terbaru dari desain kapal selam konvensional Naval Group yang ditujukan untuk pasar ekspor.

Kapal selam ini menggunakan baterai litium-ion berkapasitas tinggi yang dirancang untuk memberikan daya tahan lebih lama saat beroperasi di bawah air, fleksibilitas operasional yang lebih besar, serta kebutuhan perawatan yang lebih rendah.

19 September 2026

KSAL Sebut PT. PAL dan Fincantieri akan Memodernisasi Kapal Induk

19 September 2026


Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan PT. PAL dan perusahaan kapal asal Italia Fincantieri akan bertanggungjawab memodernisasi atau retrofit kapal induk Giuseppe Garibaldi.

"Kita akan kerja sama antara PT PAL dengan Fincantieri ya," kata Ali saat jumpa pers usai meninjau kapal induk Giuseppe Garibaldi yang sedang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat.

Menurut dia, kapal tersebut harus dimodernisasi agar mesin dan teknologi kapal sesuai dengan kebutuhan dan doktrin operasi TNI AL.

Ali melanjutkan, kerja sama itu akan menjadi ajang bagi ke dua industri pertahanan (indhan) untuk bertukar informasi teknologi atau transfer of technology (ToT).

Dengan adanya ToT ini, Ali meyakini PT. PAL selaku indhan dalam negeri akan mendapatkan keuntungan berupa peningkatan kualitas produk pertahanan.

Saat ditanya berapa biaya retrofit yang dikeluarkan pemerintah dan kapan prosesnya akan berjalan, Ali tidak menjelaskan hal tersebut secara rinci.


"Sudah disiapkan (anggaran) oleh Kementerian Pertahanan. Kalau jumlahnya saya kurang tahu silakan tanyakan ke Kementerian Pertahanan," kata Ali.

Sebelumnya, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Indonesia mendapatkan kapal induk pertama yakni Giuseppe Garibaldi secara hibah dari pemerintah Italia.

Kapal buatan galangan asal Italia, Fincantieri itu sebelumnya telah dipakai untuk mendukung kekuatan angkatan laut Italia.

Rico melanjutkan, penerimaan secara hibah itu tidak berarti membuat Kementerian Pertahanan tidak mengeluarkan uang sepeserpun.

"Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia. Anggaran yang disiapkan pemerintah Indonesia dialokasikan untuk kebutuhan retrofit atau penyesuaian agar sesuai kebutuhan operasi TNI AL," kata Rico saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat (13/2).

(AntaraNews)

18 September 2026

Indonesia Menargetkan Produksi Massal Torpedo Piranha Mulai Tahun 2027

18 September 2026

Torpedo Piranha yang akan diproduksi PT PAL (image: PT PAL)

Perusahaan galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL Indonesia, telah memaparkan rencana untuk memulai produksi massal torpedo ringan Piranha—produk dalam negeri—pada bulan Januari 2027.

PT PAL memaparkan rencana tersebut pada tanggal 9 September dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh asosiasi awak kapal selam TNI Angkatan Laut dan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal).

Materi presentasi dari seminar tersebut diperoleh Janes dari seorang sumber yang menghadiri acara itu.

Baik PT PAL maupun Kementerian Pertahanan RI belum mengumumkan secara resmi adanya kontrak produksi untuk senjata tersebut.

Dalam slide presentasi, PT PAL mendeskripsikan Piranha sebagai torpedo ringan untuk peperangan anti-kapal selam (ASW) dengan jarak jangkau lebih dari 15 km, kecepatan maksimum 40 knot, dan hulu ledak seberat 50 kg.

Torpedo Piranha disebutkan memiliki kecepatan maksimal 40 not, sebagai perbandingan kecepatan torpedo ringan TNI AL A244/S Mod 3 mempunyai kecepatan maks 38 knot, sedangkan torpedo kelas berat SUT mempunyai kecepatan maks 35 knot dan torpedo Black Shark mencapai kecepatan maks 50 knot (photo: Lintas Pikiran)

Senjata ini ditampilkan sebagai upaya pengembangan mandiri yang bertujuan mendukung ambisi Indonesia untuk mencapai kemandirian lebih besar dalam teknologi peperangan bawah air.

Menanggapi pertanyaan dari Janes, PT PAL menyebut partisipasinya dalam seminar tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan pergeseran arah perusahaan yang sedang berlangsung, dari pengembangan platform menuju kemampuan sistem terintegrasi.

"Sejalan dengan arah pengembangan ini, PT PAL Indonesia terus mendorong kemajuan teknologi pertahanan maritim melalui wahana permukaan tanpa awak (USV), wahana bawah air otonom (AUV), dan torpedo Piranha," ujar pihak PT PAL.

"Pengembangan ketiga sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasional dengan memanfaatkan teknologi tanpa awak dan otonom, serta integrasi sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan misi," tambah perusahaan tersebut.

Pada bulan Oktober 2025, PT PAL melakukan uji coba penembakan torpedo Piranha dari prototipe kapal selam otonom (KSOT) miliknya.

Uji coba tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, yang menyebut penembakan itu sebagai tonggak pencapaian penting bagi negara.

KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 Kawal Kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi di Perairan Indonesia

18 September 2026

KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 mengawal ITS Giuseppe Garibaldi (photos: TNI AL, AntaraNews)

TNI AL. Koarmada II -- KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, unsur Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada II, melaksanakan penyambutan dan pengawalan kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi saat memasuki Perairan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, Kamis (17/9). Pengawalan dilaksanakan dalam rangka kedatangan kapal induk tersebut ke Indonesia setelah sebelumnya berlayar dari Italia pada 24 Agustus 2026 dan saat ini tengah menuju Jakarta.

ITS Giuseppe Garibaldi dijadwalkan tiba di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026 yang rencananya akan disambut oleh Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.


Kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi ke Tanah Air menjadi bagian penting dalam upaya penguatan Alutsista TNI AL, khususnya dalam mendukung pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), termasuk penanggulangan bencana dan pelaksanaan misi kemanusiaan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah. Pengawalan oleh KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian penyambutan kedatangan kapal tersebut hingga menuju Jakarta. (Koarmada 2)

Melihat formasi kapal induk RI dikawal dua KRI dan pesawat TNI AL
Jakarta (ANTARA) - Kapal induk atau ITS Giuseppe Garibaldi telah memasuki perairan Bangka, Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dengan dikawal oleh dua kapal perang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).


Dari pantauan foto ANTARA yang diambil di laut Bangka, Kamis, terlihat Garibaldi berada di posisi tengah, diapit oleh KRI Brawijaya-320 di sisi kiri dan KRI Prabu Siliwangi-321 di sisi kanan.

Dua kapal pengawal Giuseppe Garibaldi itu memasang bendera Merah Putih di bagian atasnya. Sedangkan untuk kapal Giuseppe Garibaldi masih memasang bendera Italia.


Hal tersebut dikarenakan kapal itu memang buatan perusahaan kapal asal Italia, Fincantieri. Kapal tersebut juga telah dipakai AL Italia selama puluhan tahun.

Di atas kapal induk bagian landasan pacu, terlihat banyak personel berbaris TNI AL dan AL Italia berbaris.


Tidak hanya dikawal kapal perang, kapal induk pertama milik RI itu juga dikawal oleh dua pesawat dari Korps Pusat Penerbang AL (Puspenerbal), yakni CN-235 dan NC-212.

Kapal induk tersebut direncanakan akan tiba di dermaga Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9) dan akan diterima langsung oleh jajaran pejabat tinggi TNI dan Kementerian Pertahanan RI. (AntaraNews)