13 Juni 2026

Boeing Unveils Advanced MQ-28 Capabilities, Extended Combat Reach

13 Juni 2026

Evolved Ghost Bat with extended combat capabilities (photo: Boeing)

BERLIN – Boeing [NYSE: BA] unveiled extended combat capabilities of the MQ-28 Ghost Bat at the ILA Berlin Air Show in Germany. The new features within the MQ-28 technology roadmap further enhance the platform’s flexibility, range and capacity for global customers. 

The enhancements include an increased wingspan, which allows the MQ-28 to carry an additional 2,000 pounds of fuel, stores, and mission payloads. It can also be provisioned to carry two AMRAAM missiles or four small diameter bombs (SDBs) internally. 

“That additional capacity gives operators freedom to balance payload and endurance to configure for the mission at hand, whether that means carrying extra fuel for longer-range operations, increasing weapons carriage, or any combination of both,” said Glen Ferguson, MQ-28 global program director. 

“These features, developed in partnership with the Royal Australian Air Force, will be progressively released to the fleet through a spiral upgrade program, and are available to interested allied countries.”  

Other new MQ-28 capabilities include: 
-Significant software development upgrades compliant with Government Reference Architecture – open standards enable operators to tailor weapons, payloads, command and control, and mission autonomy to suit their operational requirements.
-Upgraded modular, missionised nose – provides enhanced payload configuration options and supports insertion of third-party capability.
-Introduction of Beyond Line of Sight (BLOS) communication links – enabling the MQ-28 custodian to operate from a crewed aircraft, ground station or Naval vessel at unlimited standoff distances.
-Two internal weapons stations with capacity for one AMRAAM missile or two SDBs each side, plus provision for three external weapons stations – providing mission flexibility for combat operations.  
 
“Inclusion of features such as BLOS capability are a direct result of our learnings to date along with feedback from Air Forces as they understand more about the role and integration of CCAs into joint force operations,” said Ferguson. 

“The advanced maturity of the MQ-28 systems is what allows us to continually adapt to the changing operational environment and minimise the risk as we transition to operations,” said Amy List, vice president and managing director of Boeing Defence Australia. 

“Combined with the MQ-28’s confirmed low observability characteristics, and survivability upgrades, these capability enhancements support more flexible mission concepts and further allow Defence customers to distribute operational risk.” 

They improve interchangeability and interoperability with Boeing and non-Boeing platforms for allied forces and give operators a highly configurable, mission-adaptable solution that can be tailored to meet their sovereign operational needs.  

Key statistics
-Maximum take-off weight – increased from 10,000lb to 12,000lb (one ton)
25% percent larger wing 
-Useful load – >4,500lb
-Internal stores capacity – 2 x AMRAAM or 4 x SDB (plus option for three external weapon stations if needed)

Infoglobal Dapatkan Kontrak Ekspor Avionik C-130 Hercules AU Bangladesh

13 Juni 2026

Infoglobal berhasil mendapatkan pesanan 6 unit EFD-5.5 ke Bangladesh (photo: Infoglobal)

Infoglobalavionics -- Pada 11 Juni 2026 di Dhaka, Bangladesh, Infoglobal resmi menandatangani kontrak ekspor avionik untuk pesawat C-130 milik Angkatan Udara Bangladesh.

Melalui kontrak ini, Infoglobal akan mengekspor 6 unit Electronic Flight Display 5.5 (EFD-5.5), sebuah instrumen avionik yang menyediakan informasi penerbangan utama bagi pilot untuk meningkatkan keselamatan, kesadaran situasional, dan efektivitas operasi pesawat.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa teknologi avionik yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pengguna internasional serta bersaing di pasar global.

Kontrak ini juga memperkuat rekam jejak ekspor Infoglobal sekaligus menjadi langkah penting dalam memperluas kehadiran teknologi pertahanan Indonesia di dunia.

Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Infoglobal. Kami akan terus berinovasi untuk menghadirkan solusi avionik dan teknologi pertahanan yang andal bagi pengguna di dalam maupun luar negeri.

(Infoglobal)

PT PAL Akan Meluncurkan LPD Ketiga Angkatan Laut Filipina Akhir Juni

13 Juni 2026

Progres kapal LPD ketiga Filipina (photo: Jane's)

PT PAL Indonesia akan meluncurkan kapal Strategic Sealift Vessel (SSV) jenis landing platform dock (LPD) ketiga Angkatan Laut Filipina pada 30 Juni, dengan program yang kini kembali berjalan setelah penundaan sebelumnya dan revisi tahapan kontrak.

Berbicara kepada Janes selama kunjungan baru-baru ini ke fasilitas perusahaan di Surabaya, CEO Kaharuddin Djenod mengatakan gangguan jadwal sebelumnya telah diselesaikan melalui penyesuaian yang disepakati bersama dengan pemerintah Filipina.

Penyesuaian ini memungkinkan pembangunan untuk dilanjutkan dengan jadwal yang dipercepat, dengan kapal tersebut berkembang dari pemasangan blok lambung hingga peluncuran yang direncanakan dalam waktu enam bulan, kata Djenod.

Kapal tersebut, yang pertama dari dua kapal yang dipesan berdasarkan kontrak lanjutan tahun 2022, diperkirakan akan menjalani peluncuran dan pemasangan perlengkapan sebelum pengiriman pada tahun 2027.

Kontrak tersebut sebelumnya mengalami penundaan yang pertama kali dilaporkan oleh Janes pada Agustus 2025. Pada saat itu, dokumen menunjukkan bahwa PT PAL telah melewatkan empat tonggak penting, termasuk tanggal peluncuran dan pengiriman untuk kedua kapal.

Berdasarkan jadwal awal, kapal ketiga akan diluncurkan pada 22 Agustus 2024 dan dikirim pada 22 Januari 2025, sedangkan kapal keempat dijadwalkan untuk diluncurkan pada 22 Februari 2025 dan dikirim pada 22 Juli 2025.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada September 2025, PT PAL mengakui adanya keterlambatan jadwal. Perusahaan tersebut menghubungkan penundaan tersebut dengan kondisi geopolitik global yang memengaruhi rantai pasokan dan produksi, termasuk gangguan terhadap ketersediaan bahan baku, yang diperparah oleh distorsi terkait tarif dan kemacetan pelabuhan.

Kontrak lanjutan untuk SSV ketiga dan keempat ini mengulangi pesanan sebelumnya senilai USD92 juta yang diberikan pada tahun 2014. Dua SSV dari kontrak tersebut diresmikan sebagai BRP Tarlac pada Juni 2016 dan BRP Davao del Sur pada Mei 2017.

12 Juni 2026

Australia Bangun Fasilitas Kedua untuk Mendukung Produksi Amunisi Kaliber Besar

12 Juni 2026

Pabrik kedua ini akan mampu memproduksi 15.000 butir amunisi per tahun (photos: Aus DoD)

Pemerintah Albania telah menandatangani kontrak senilai $72 juta dengan Rheinmetall NIOA Munitions untuk membangun fasilitas penempaan (forging) baru guna memproduksi amunisi kaliber besar untuk Angkatan Pertahanan Australia (ADF) di Queensland, melanjutkan komitmennya terhadap senjata berpemandu dan amunisi peledak/guided weapons and explosive ordnance (GWEO) yang diproduksi secara lokal.

Kemampuan penempaan baru untuk proyektil 155mm M795 akan dibangun di pabrik penempaan milik kontraktor dan dioperasikan oleh kontraktor di Maryborough, Queensland. Pabrik ini akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2028 dan diharapkan dapat memproduksi 15.000 butir amunisi per tahun, dengan kapasitas untuk ditingkatkan ke volume yang lebih tinggi.

Pembangunan kemampuan ini akan menciptakan hingga 50 pekerjaan dengan keterampilan tinggi dan gaji yang baik selama pembangunan dan pengoperasian awal pabrik penempaan, serta akan meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kerja yang ada di lokasi Maryborough.

Proyektil 155mm M795 yang diproduksi di fasilitas ini akan secara langsung mendukung ADF (Angkatan Pertahanan Australia), untuk digunakan dalam platform militer termasuk pada Howitzer Tarik Ringan M777A2 dan howitzer swa-gerak AS9 Huntsman.

Pengumuman hari ini berarti bahwa pada akhir tahun 2028, Australia akan memiliki dua kemampuan penempaan kaliber besar yang memastikan kemampuan manufaktur yang mandiri, andal, dan modern yang mendukung produk buatan Australia untuk ADF kita dan memberikan peluang ekspor kepada mitra internasional.

Ini adalah investasi langsung dalam industri manufaktur Australia, dan mewujudkan komitmen Pemerintah Albanese terhadap Masa Depan Buatan Australia.

Penempaan domestik juga memastikan Australia memiliki kendali atas rantai pasokan dan akan selalu memiliki akses ke proyektil tempa, mengurangi waktu tunggu dan melengkapi ADF dengan lebih baik di masa konflik, sejalan dengan fokus Strategi Pertahanan Nasional 2026 dan Program Investasi Terpadu pada ketahanan dan kemandirian.


Pemerintah juga mengumumkan investasi sebesar $9,2 juta di Thales Australia untuk memodernisasi dan memperbaiki lini produksi amunisi 5 inci angkatan laut yang ada di fasilitas di Benalla, Victoria. Investasi ini akan mencakup peralatan dan mesin bubut otomatis baru yang diintegrasikan ke dalam lini produksi.

Inisiatif ini didukung oleh investasi sebesar $26-36 miliar selama dekade berikutnya melalui Program Investasi Terpadu 2026. Proyek-proyek ini mewujudkan prioritas Strategi Pertahanan Nasional 2026 untuk membangun stok GWEO, memperkuat rantai pasokan, dan mendukung kemampuan manufaktur dalam negeri.

Kutipan dari Wakil Perdana Menteri, Richard Marles:
“Kami bangga bermitra dengan Rheinmetall NIOA Munitions untuk meningkatkan manufaktur dalam negeri proyektil artileri 155mm M795 di Australia, semakin memperkuat kemampuan kedaulatan kita dan mendukung pekerjaan berketerampilan tinggi dan bergaji tinggi.

“Modernisasi dan perbaikan lini produksi amunisi 5 inci angkatan laut kami di fasilitas kami di Benalla menyoroti kemitraan abadi dan jangka panjang kami dengan Thales Australia.”

“Bersama-sama, kedua kemampuan penempaan industri ini akan semakin meningkatkan kemandirian Australia.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan Rheinmetall NIOA Munitions dalam langkah pertama yang signifikan ini, yang akan membentuk kembali masa depan manufaktur amunisi di Australia.”

TLDM Tutup Pangkalan Seabase Tun Sharifah Rodziah di Sabah

12 Juni 2026

Pangkalan seabase Tun Sharifah Rodziah adalah pangkalan operasi yang terletak di perairan Pantai Timur Sabah, khususnya di sekitar kawasan Semporna, Sabah (photos: TLDM)

Majlis Pembubaran Pangkalan Laut Tun Sharifah Rodziah
SEMPORNA - Markas Wilayah Laut 2, Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) hari ini telah dengan rasminya melaksanakan Majlis Pembubaran Pangkalan Laut Tun Sharifah Rodziah (PL TSR) sebagai simbolik penamatan perkhidmatan pangkalan tersebut selepas hampir sedekad menjadi benteng hadapan dalam menjaga keselamatan dan kedaulatan perairan negara di Sabah Timur. Majlis yang penuh istiadat ketenteraan ini telah disempurnakan oleh Yang Berbahagia Laksamana Madya Dato’ Khir Junaidi bin Idris, Panglima Armada Timur.


Pangkalan ini pada asalnya merupakan sebuah Platform Mobile Offshore Production Unit yang dikenali sebagai Hercules 259 dan telah dibina di Houston, Amerika Syarikat pada tahun 1973. Melalui usaha sama strategik antara TLDM, PETRONAS dan Sapura Kencana, platform ini telah ditransformasikan menjadi sebuah Pangkalan Laut Hadapan berteraskan keperluan strategik negara bagi memastikan kehadiran berterusan TLDM di kawasan berkepentingan tinggi di perairan Sabah Timur.


PL TSR mula beroperasi pada 31 Julai 2015 dan seterusnya telah dirasmikan oleh Perdana Menteri Malaysia Ke-6 pada 28 Mei 2016. Pangkalan ini dinamakan bersempena nama isteri kepada Perdana Menteri Malaysia yang pertama, Allahyarhamah Yang Amat Berbahagia Tun Dato' Seri Hajah Sharifah Rodziah binti Syed Alwi Barakbah.


Sepanjang tempoh perkhidmatannya, PL TSR telah digunakan sebagai sebuah platform strategik yang menyokong pelaksanaan operasi keselamatan maritim, pemantauan zon berkepentingan maritim serta memperkukuhkan kehadiran pasukan keselamatan di Eastern Sabah Security Zone (ESSZONE). Lokasinya yang strategik membolehkan tindak balas yang pantas terhadap sebarang ancaman keselamatan, sekali gus menjadi simbol komitmen berterusan TLDM dalam mempertahankan kedaulatan negara.


Walaupun operasi PL TSR ditamatkan, fungsi dan peranannya sebagai pangkalan hadapan akan diambil alih oleh Kapal Auksiliari Tun Azizan (KA TAZ) bagi memastikan kesinambungan kehadiran dan kesiagaan operasi TLDM di kawasan strategik Sabah Timur. TLDM akan terus memperkukuhkan keupayaan operasinya selaras dengan keperluan semasa serta perkembangan landskap keselamatan maritim demi menjamin kedaulatan dan keselamatan perairan negara sentiasa terpelihara.

PT PAL Raih Kontrak Kapal Selam Otonom KSOT

12 Juni 2026

KSOT buatan PT PAL (photo: RRI)

PT PAL Indonesia telah meraih kontrak dari Kementerian Pertahanan (KMD) Indonesia untuk sejumlah kapal selam otonom Kapal Selam Otonom (KSOT) yang jumlahnya tidak diungkapkan, demikian disampaikan CEO perusahaan, Kaharuddin Djenod, kepada Janes.

Djenod mengungkapkan kontrak tersebut dalam sebuah wawancara baru-baru ini di kantor perusahaan di Surabaya. Komentarnya menandai konfirmasi pertama bahwa KSOT telah melewati tahap prototipe dan demonstrasi menuju pengadaan evaluasi.

Detailnya masih terbatas, tetapi Djenod mengatakan varian yang dikontrak akan jauh lebih besar daripada prototipe yang didemonstrasikan pada Oktober 2025 dan akan membawa delapan torpedo ringan.

Detail tambahan tentang kontrak dan kapal selam yang akan dipasok akan diungkapkan pada Oktober 2026 bertepatan dengan peringatan 81 tahun Tentara Nasional Indonesia, kata Djenod.

Program KSOT Indonesia diresmikan oleh PT PAL di Indo Defence 2022 sebagai bagian dari upaya pengembangan kemampuan perang bawah laut dalam negeri.

Torpedo Piranha buatan PAL (photo: Kemhan)

Konsep awal berpusat pada platform berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk melakukan misi termasuk pengawasan, pengintaian, dan serangan, sambil mengurangi risiko terhadap personel.

Sistem ini kemudian dibingkai sebagai kemampuan perang asimetris berbasis bawah laut, memungkinkan Angkatan Laut Indonesia untuk menghadapi musuh yang lebih besar dengan platform berbiaya rendah yang mampu meluncurkan torpedo dari jarak jauh.

Varian KSOT dengan panjang sekitar 15 m, dengan bobot sekitar 37 ton, telah digunakan dalam uji coba baru-baru ini, termasuk penembakan torpedo yang dilakukan di fasilitas Angkatan Laut Indonesia di Surabaya pada Oktober 2025.

Demonstrasi tersebut melibatkan peluncuran torpedo ringan dari apa yang tampak seperti tabung yang dipasang di luar.

Djenod mengatakan PT PAL juga mengantisipasi kontrak terpisah untuk torpedo ringan Piranha yang dikembangkan di dalam negeri.

11 Juni 2026

Kemenhan Usulkan Tambahan Anggaran Menjadi Rp334 T untuk 2027

11 Juni 2026

Indonesia diketahui berencana menembah pesanan 2 kapal selam Scorpene (photo: Indian Navy)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengusulkan penambahan anggaran untuk tahun 2027 menjadi Rp334 triliun untuk mendukung kesiapan operasional, modernisasi alutsista, pembangunan kekuatan pertahanan, serta program-program prioritas lainnya.

"Kami tadi sudah mengusulkan anggaran tambahan melalui Komisi I DPR RI untuk diteruskan kepada Badan Anggaran agar kami bisa menambah anggaran sebanyak Rp195 triliun," kata Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai rapat Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) bersama Komisi I DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan pagu anggaran Kemenhan untuk 2027 sebesar Rp139 triliun.

Namun, dia mengusulkan tambahan sebesar Rp195 triliun agar totalnya menjadi Rp334 triliun.

Dia menyampaikan bahwa sebenarnya rencana kebutuhan (renbut) anggaran untuk Kemenhan pada 2027 adalah sebesar Rp667 triliun.

Menurut dia, rencana kebutuhan anggaran itu didasari konsep skala prioritas dan dinamika tugas yang diberikan kepada Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia sebagai instrumen dari pertahanan negara.

Maka dari itu, dia mengatakan usulan penambahan anggaran menjadi Rp334 triliun itu disampaikan agar angkanya tidak beda jauh dengan kebutuhan Kemenhan sebesar Rp667 triliun.

"Yang disetujui berdasarkan surat dari Bappenas dan Kementerian Keuangan hanya Rp139 triliun, jadi bedanya jauh. Oleh karena itu kita mengusulkan tambahan untuk mendekati kebutuhan maksimal Rp667 triliun itu," katanya.

Indonesia juga disebutkan akan menambah jumlah pesanan pesawat Rafale (photo: Raihan Aulia)

Dia mengatakan bahwa penambahan anggaran itu memiliki makna yang besar untuk kedaulatan negara karena sistem pertahanan negara itu ibaratkan "sabuk pengaman" bagi pembangunan nasional.

Pada 2027, dia mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan memiliki sebanyak 20 daftar kerja yang dibagi ke dalam enam program.

Menurut dia, TNI sebagai alat pertahanan harus siap menghadapi dinamika tugas untuk mendukung tugas-tugas pemerintah, di samping tugas-tugas sistem pertahanan negara.

Sejumlah contoh tugas yang harus dihadapi TNI antara lain soal dinamika konflik di Papua, hingga wilayah-wilayah lainnya. Selain itu, kini TNI juga perlu mendukung pemerintah dalam pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

"Kita sudah ketahui, bekas akibat dari bencana alam. Jadi, sekarang TNI juga sedang menjalankan tugas untuk membangun jembatan dan sebagainya," katanya.

Sebelumnya, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menyampaikan bahwa pagu anggaran Kemenhan untuk 2027 sebesar Rp139 itu menurun dibandingkan anggaran yang disetujui untuk tahun 2026 sebesar Rp187 triliun.

Setelah melakukan simulasi untuk menjaga akselerasi dan kekuatan TNI dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menurut dia, Kemenhan merasa perlu adanya tambahan.

"Tambahan ini tentu bukan Komisi I yang menentukan, tetapi Komisi I menyetujui dan mendukung usulan tambahan itu untuk diteruskan ke Badan Anggaran," kata Utut.

First Evolved Cape-class Patrol Boat for Australian Border Force Launched

11 Juni 2026

The first Evolved Cape–class Patrol Boat (ECCPB) for the Australian Border Force (photo: Austal)

Austal has launched the first Evolved Cape–class Patrol Boat (ECCPB) for the Australian Border Force (ABF).

The event marks a key milestone in the ongoing relationship between Austal, the ABF and the Commonwealth of Australia.

This is the first of six ECCPBs Austal is contracted to deliver to the ABF, with two vessels added to the existing order of four in early May 2026.  

All six will be built at Henderson, supported by Austal’s national and local supply chain and other partnerships. 

The launch follows the recent delivery of the last of 10 ECCPBs for the Royal Australian Navy, with Australian Defence Vessel Cape Hawke handed over in March 2026.

Austal CEO Paddy Gregg said it confirmed both the effectiveness and key role of the ECCPB in supporting ABF to protect Australia’s borders. 

“Constructed by our experienced workforce, with the benefit of our demonstrated partnerships, and incorporating Austal’s commitment to innovation, orders like these for the ABF recognise this platform as a core component of national maritime security.” Paddy Gregg, Austal CEO

“Austal is enthusiastically contributing to the expansion of the ABF fleet once again and looks forward to delivering a vessel that will satisfy its important mission requirements," Mr Gregg said.

“We remain grateful to the ABF and the Commonwealth of Australia for their confidence in Austal and collaboration with us.”

The 58.1 metre ECCPBs are designed to support a wide range of missions, including border protection, and feature enhanced quality-of-life systems and sustainment technologies.

Austal delivered eight original Cape–class Patrol Boats (CCPB) to the ABF between 2012 and 2015, also constructing CCPBs for the Royal Australian Navy and the Trinidad and Tobago Coast Guard.

The new ABF vessel is expected to be completed in the final quarter of 2026.

Indonesia Siap Terima Prototipe Jet Tempur KF-21 Boramae

11 Juni 2026

Pesawat tempur KF-21 Boramae (photos: Reddit)

Seoul (ANTARA) - Indonesia bersiap menerima satu unit prototipe jet tempur KF-21 Boramae dari Korea Selatan setelah menyelesaikan kewajiban kontribusi pembiayaan dalam proyek pengembangan bersama pesawat tempur generasi baru tersebut.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, mengatakan pengembangan bersama KF-21 yang telah berlangsung lebih dari satu dekade resmi rampung pada Juni 2026. Salah satu hasil kesepakatan antara kedua negara adalah penyerahan satu prototipe dari enam pesawat KF-21 yang telah diproduksi.

“Prototipe dari enam pesawat KF-21 itu sudah disepakati dan akan diserahkan ke Indonesia yang pesawat prototipe dari enam, satu itu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa direalisasikan,” kata Cecep dalam acara Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan, Selasa (10/6/2026).

Menurut Cecep, tahap pengembangan bersama telah selesai dan selanjutnya pembahasan akan berfokus pada pemanfaatan hasil proyek tersebut, termasuk berbagai opsi kerja sama lanjutan.

“Bagaimana ke depannya, tentunya kami menyerahkan kepada pengambil keputusan di Indonesia,” sambungnya.

Cecep menilai Indonesia merupakan salah satu mitra strategis Korea Selatan di sektor industri pertahanan. Hubungan kerja sama kedua negara di bidang ini telah terjalin selama puluhan tahun, dengan Indonesia tercatat sebagai pelanggan pertama berbagai produk industri pertahanan Korea sejak 1979.

Pada 2003, Indonesia membeli pesawat latih KT-1 Woongbi yang kini digunakan oleh Tim Jupiter TNI Angkatan Udara. Kemudian pada 2011, Indonesia juga mengakuisisi pesawat yang dikenal sebagai Mini F-16. Kerja sama pertahanan kedua negara berlanjut pada 2017 melalui proyek pembangunan kapal selam.


Selain pengadaan alat utama sistem persenjataan, Cecep menekankan bahwa transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia menjadi nilai penting dalam kemitraan pertahanan Indonesia-Korea Selatan.

“Korea memang belajar industri pertahanan dari Amerika. Dan kita belajar industri pertahanan yang sudah dipelajari Korea dari Amerika ke Korea. Dan banyak hal yang off the record teman-teman Korea menyampaikan ke kami bagaimana cara memperoleh teknologi dengan baik dan less sensitive,” kata Cecep.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Asosiasi Persahabatan Anggota Parlemen Korea Selatan-Indonesia, Kim Gi-Hyeon, menilai industri pertahanan Korea Selatan saat ini termasuk yang paling maju secara teknologi di dunia dengan biaya yang relatif kompetitif.

Ia menyebut berbagai sistem persenjataan Korea Selatan telah menunjukkan kinerja yang baik dalam sejumlah konflik internasional, termasuk perang Rusia-Ukraina dan ketegangan Iran-Israel.

“Saya percaya bahwa akan sangat bermanfaat bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Korea. Korea Selatan tidak hanya menyediakan transfer teknologi, tetapi juga turut mengembangkan dan melatih sumber daya manusia untuk mengoperasikan serta mengelola sistem-sistem tersebut,” kata Kim.

Indonesia dan Korea Selatan sebelumnya telah menyepakati penyerahan satu prototipe KF-21 kursi tunggal yang digunakan untuk berbagai uji verifikasi, termasuk pengisian bahan bakar di udara.

Paket penyerahan tersebut bernilai sekitar 600 miliar won Korea Selatan, yang mencakup pesawat tempur senilai 350 miliar won serta berbagai komponen biaya pengembangan lainnya.

10 Juni 2026

Yon Parako 472 Pasgat Ikuti Latihan Kesiagaan II Kodau II "Sikatan Daya" TA 2026

10 Juni 2026

Kendaraan taktis P2 dan P6 ATAV digunakan untuk Sikatan Daya 2026 (photos: Kopasgat)

Pen Yon Parako 472 Pasgat Nanggala. Malang --- Suasana tenang di Apron VIP/400 Lanud Abdulrachman Saleh mendadak berubah menjadi zona operasi taktis yang tegang. Sekelompok prajurit dari Batalyon Para Komando 472 Pasgat Nanggala bergerak cepat dengan presisi tinggi guna menatralisir ancaman bom yang di skenariokan mengancam keamanan pangkalan udara strategis tersebut.

Aksi tersebut merupakan bagian dari skenario Latihan Kesiagaan II KODAU II " Sikatan Daya " TA 2026, latihan ini dirancang untuk menguji kecepatan rekasi, koordinasi antar unsur dan kemampuan teknis prajurit dalam menghadapi kontingensi terorisme dan sabotase di objek vital nasional.


Latihan yang bertajuk "KODAU II Beserta Satuan Jajaran Melaksanakan Dukungan Operasi Udara Pengamanan Alki II di Wilayah KODAU II Dalam Rangka Mendukung Tugas Pokok TNI " ini didisaksikan oleh Kaskodau II Marsma TNI Hermawan Widhianto, S.E., M.M., Danlanud Abdulrachman Saleh serta para pejabat Lanud maupun Insub.

Dalam simulasi tersebut, Yon Parako 472 tidak hanya mengandalkan kemampuan infanteri komando, tetapi juga mengerahkan kendaraan taktis untuk melakukan blokade dan perlindungan area(perimeter), rantis tersebut meluncur cepat menuju Apron VIP untuk memberikan perlindungan bagi tim penjinak bahan peledak dan unit pengamanan area, sinergi antara manuver kendaraan tempur dan gerak infanteri menjadi kunci keberhasilan netralisasi ancaman dalam waktu kurang dari 15 menit.


Di sesi lain Komandan Batalyon Para Komando 472 Pasgat Letkol Pas Riwan Sugiyono, M.Han melalui Wadanyon Parako 472 Kapten Pas Rico Falcon Kurniawan., S.T.Han menyampaikan, apresiasi tinggi bagi seluruh prajurit yang terlibat, beliau menekankan bahwa latihan bukan sekedar rutinitas, melainkan cermin dari jati diri prajurit Pasgat, selain itu juga merupakan ajang pembuktian kesiapan mental dan fisik prajurit Nanggala di tengah dinamika global yang semakin kompleks, prajurit Parako harus memiliki insting tempur yang tajam

Ancaman sabotase seperti teror bom menuntut kita untuk bertindak tenang namun mematikan, jangan pernah ada keraguan di lapangan, setiap detik yang kalian ambil adalah keselamatan bagi pangkalan dan negara, latihan ini membuktikan bahwa Yon Parako 472 Pasgat Nanggala selalu dalam kondisi combat-ready kapanpun negara memanggil, tegasnya.


Usai rangkaian latihan terlaksana semua dengan aman dan lancar, kegiatan diakhiri dengan pengantaran Pangkodau II Marsda TNI M. Untung Suropati, S.E., beserta rombongan di VIP room/400 Lanud Abdulrachman Saleh, dimana Wadanyon Parako 472 turut hadir mewakili Komandan Batalyon Para Komando 472 Pasgat.

Quadrotor Thailand Sukses Tembakkan Roket 2,75 inch

10 Juni 2026

Quadrotor NAC Drone VTOL buatan NAC Drone Thailand sukses menembakkan roket udara-ke-darat 2,75 inch (photos: Pop Petasen)

Angkatan Udara Kerajaan Thailand terus membuat kemajuan dalam pengembangan sistem pesawat nirawak (UAV), termasuk prototipe NP Interceptor Drone, yang dikembangkan di Pusat Latihan Angkatan Udara Kerajaan Thailand Nam Phong di provinsi Khon Kaen bekerja sama dengan Fakultas Teknik, Universitas Khon Kaen.


Ini akan menjadi sistem anti-pesawat nirawak (CUAS) berbiaya rendah, berkecepatan tinggi, dan berdaya hancur tinggi dengan efektor yang dicetak 3D dan sistem kontrol siap pakai. Contoh sistem ini telah digunakan oleh Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia. Sebuah prototipe diperlihatkan kepada Marsekal Kepala Angkatan Udara Seksan. Kantha, Panglima Tertinggi Angkatan Udara Kerajaan Thailand, pada 30 April 2026.


Sebuah pesawat tanpa awak lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) yang dikembangkan oleh perusahaan Thailand NAC Drone, yang diketahui telah digunakan dalam pertempuran di perbatasan Thailand-Kamboja pada tahun 2025, diuji untuk pemasangan dan penembakan roket udara-ke-permukaan 2,75 inci yang diproduksi oleh Direktorat Persenjataan Angkatan Udara Kerajaan Thailand di Lapangan Latihan Senjata Udara Chai Badan, Provinsi Lopburi pada 1 Mei 2026. 


Hal ini menunjukkan dukungan Angkatan Udara Kerajaan Thailand untuk penelitian kolaboratif dengan lembaga pendidikan Thailand dan perusahaan swasta dalam mencapai kemandirian.

(AAG)

Vitnamese Air Force Officer School: 100% of International Students Achieved Good or Excellent Results in the Graduation Exam

10 Juni 2026

Student from Lao and Cambodia also achieved in the graduation exam (photo: Khanh Hoa)

From May 29th to June 5th, the Aircraft Engine Department of the Air Force Officer School organized the graduation exam for international students specializing in Aircraft Engines.

These are students from the Aviation Engineering College of the Lao People's Army (Class 13) and the Royal Cambodian Army (Class 18). The candidates participated in two graduation exams: a specialized theory exam assessing knowledge of the Mi-8 helicopter and the TB2-117 engine; and a specialized practical exam to comprehensively test each student's theoretical knowledge of aviation engineering and practical skills.

Mi-8 of the Vietnam People's Air Force (photo: VTC News)

Thanks to thorough preparation and close coordination among relevant units and agencies, the exam was conducted seriously, objectively, and in accordance with regulations. 100% of the students achieved good or excellent results.

The success of the exam not only affirms the quality of training at the Air Force Officer School but also contributes to strengthening solidarity and friendship between the armies of Vietnam, Laos, and Cambodia.

09 Juni 2026

Turki Perkenalkan Pesawat Pengacau Sinyal Jarak Jauh Baru

09 Juni 2026

Hava SOJ berbasis pesawat Bombardier Global 6000 (image: Turkish MoD)

Kementerian Pertahanan Nasional Turki (MND) untuk pertama kalinya menunjukkan Hava Stand-Off Jammer (SOJ), dengan pesawat perang elektronik (EW) berbasis jet bisnis Bombardier Global 6000 yang muncul sekilas dalam video resmi yang diposting pada 1 Juni 2026.

Masih dalam kondisi cat dasar pabrik, pesawat yang dikembangkan oleh Turkish Aerospace dan Aselsan untuk dukungan elektronik jarak jauh dan serangan elektronik (EA), ditunjukkan dalam cuplikan video kurang dari satu detik yang melakukan uji coba pra-pengiriman.

Tampak samping pesawat Hava SOJ (image: Voyage2Victory)

Seperti yang dicatat oleh Janes C4ISR & Mission Systems: Air, Hava SOJ dirancang untuk menekan sistem pengawasan pertahanan udara musuh dalam peran penekanan/penghancuran pertahanan udara musuh (SEAD/DEAD).

Platform SOJ akan digunakan oleh Angkatan Udara Turki (TuAF) untuk mengidentifikasi pemancar radar/komunikasi berbasis udara, darat, dan laut musuh dan mengelabui/ mengganggu mereka tanpa memasuki zona ancaman. Dengan menekan radar dan sistem komunikasi pertahanan udara musuh, hal ini memungkinkan pesawat tempur sekutu untuk masuk dan keluar dari wilayah udara musuh dengan menciptakan koridor aman untuk melakukan misi serangan yang ditargetkan.

Interior Hava SOJ (photo: MilliSavunma)

Meskipun detail sistem belum diungkapkan, arsitektur Hava SOJ kemungkinan akan terdiri dari subsistem dukungan elektronik radar dan komunikasi/serangan elektronik, rangkaian alat bantu pertahanan, paket komunikasi dan tautan data taktis, dan subsistem manajemen misi, dengan peralatan misi penting, perangkat lunak, dan algoritma khusus yang disediakan oleh Aselsan.

Royal Thai Army Developed Hard Kill Anti-Drone Turret

09 Juni 2026

Testing of domestic Hard Kill Anti Drone automatic turret with fire control system armed M2 .50caliber heavy machinegun at tank gun firing range, Cavalry Center, Adisorn Camp, Saraburi Province (photos: Royal Thai Army)

On May 29, 2026 Colonel Monchai Duangpanya, Deputy Director of the Army Research and Development Center, along with his team from the Army Research and Development Center, observed live-fire testing of a turret designed for anti-unmanned aerial vehicles (UAVs) as part of a research and development project led by Associate Professor Dr. Chana Rakshiri and a research team from Kasetsart University. The testing took place at the Prem Tinsulanonda Tank and Artillery Firing Range, Cavalry Center, Saraburi Province. 

This test involved firing live ammunition to test the turret and fire control system, evaluate deviations and projectile trajectories. The test results were satisfactory and achieved the set objectives. 

The research and development project for a turret to be used in countering unmanned aerial vehicles (UAVs), a collaboration between the Army Research and Development Office (ARDO) of the Royal Thai Army and Kasetsart University, has made significant progress with the latest live-fire testing.

The installation of the M2 .50 caliber heavy machine gun, along with a Remotely Controlled Weapon System (RCWS) and Fire Control System (FCS), took place at the Prem Tinsulanonda Tank Firing Range, Cavalry Center, Adisorn Camp, Saraburi Province on May 29, 2026.

This is a continuation of the research and development project to maintain and enhance the performance of the fire control system for the Bofors 40mm L/70 anti-aircraft gun. It represents another step in Thailand's self-reliance in national defense to counter evolving threats from unmanned aerial vehicles (UAVs).

(AAG)

Indonesia Menerbitkan Surat Pernyataan Minat (LOI) untuk Sistem Pertahanan Udara MSAM-II

09 Juni 2026

Sistem rudal Cheongung II (M-SAM II) (image: LG D&A)

Kementerian Pertahanan Indonesia telah menerbitkan Surat Pernyataan MInat (LOI) kepada LIG Defense & Aerospace untuk pengadaan sistem pertahanan udara MSAM-II (rudal permukaan-ke-udara jarak menengah).

LOI, tertanggal 18 Mei 2026, diberikan kepada Janes oleh sumber industri. Surat tersebut menandakan niat Indonesia untuk melakukan pengadaan langsung MSAM-II untuk memperkuat arsitektur pertahanan udara nasionalnya.

Surat tersebut menetapkan pengadaan dua baterai dalam konfigurasi operasional penuh, termasuk stasiun kontrol penembakan, radar multifungsi, sistem peluncuran vertikal, dan kendaraan pemuat rudal.

LOI menyatakan bahwa akuisisi tersebut tunduk pada alokasi anggaran dan pengaturan pembiayaan yang telah dikonfirmasi, termasuk perjanjian pinjaman sesuai dengan peraturan Kementerian Keuangan.

Surat tersebut juga menguraikan persyaratan untuk jaminan penawaran dan kinerja, jaminan pembayaran di muka, dan pembayaran berbasis tonggak pencapaian (milestone) yang menunjukkan ketergantungan pada pembiayaan eksternal.

MSAM-II, juga dikenal sebagai Cheongung II, adalah sistem rudal permukaan-ke-udara semi-mobile yang dikembangkan oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan dan diproduksi oleh LIG Defense & Aerospace.

Sistem ini berbasis pada platform KIA Military Vehicles KM1500 8×8 dan dilengkapi dengan rudal Cheongung.

Setiap baterai biasanya terdiri dari empat hingga enam pengangkut-pemasang-peluncur, kendaraan radar multifungsi, pusat kendali tembakan, pengangkut ulang, dan kendaraan pembangkit listrik.

Rudal Cheongung memiliki panduan radar pelacak aktif, motor roket propelan padat satu tahap, dan hulu ledak fragmentasi berdaya ledak tinggi yang dipicu oleh sumbu jarak dekat.

Jangkauan maksimum sistem diperkirakan mencapai 40 km, dengan ketinggian jangkauan hingga 20 km.

Surat Pernyataan Minat (LOI) tersebut juga menyerukan pelatihan, dukungan logistik terintegrasi, suku cadang, peralatan pendukung darat, dokumentasi teknis, dan paket offset dan transfer teknologi.

08 Juni 2026

Kapal Kedua LMS Batch 2 Diluncurkan

08 Juni 2026

Kapal Kedua LMS Batch 2 diberi nama KD Raja Laut -142 (photos: TLDM)

ISTANBUL - Industri pertahanan maritim negara melakar satu lagi sejarah penting hari ini dengan terlaksananya Majlis Penamaan dan Pelancaran kapal kedua Littoral Mission Ship Batch 2 (LMSB2) bagi Tentera Laut Diraja Malaysia.

Majlis penuh tradisi ketenteraan ini telah disaksikan oleh Kepten Yang Dipertua TLDM, Duli Yang Maha Mulia Sultan Selangor Sultan Sharafuddin Idris Shah Alhaj, dan disempurnakan Duli Yang Maha Mulia Tengku Permaisuri Selangor, Tengku Permaisuri Hajah Norashikin selaku Royal Sponsor di Istanbul Shipyard.

Keberangkatan tiba DYMM Sultan Selangor dan Tengku Permaisuri Selangor disambut Timbalan Menteri Pertahanan, YB Adly bin Zahari; Panglima Tentera Laut, Laksamana Tan Sri (Dr.) Zulhelmy bin Ithnain dan Ketua Setiausaha Kementerian Pertahanan, Datuk Lokman Hakim bin Ali.

Kapal perang moden kedua dalam siri LMSB2 ini secara rasminya telah dinamakan sebagai "RAJA LAUT", mengambil nama sempena tokoh bangsawan dan pentadbir berwawasan Selangor dari akhir abad ke-19. Raja Laut merupakan putera kedua kepada Sultan Muhammad Shah (Sultan Selangor ketiga) daripada titisan keturunan Bugis Opu Daeng Chelak. Gelaran "Laut" dikurniakan oleh pihak istana kerana baginda dilahirkan ketika bondanya sedang dalam pelayaran di perairan berhampiran Lukut.

Baginda merupakan mantan Penghulu Kuala Lumpur yang mempelopori asas perbandaran moden menerusi penubuhan Kuala Lumpur Sanitary Board pada tahun 1890, serta merintis pendidikan tempatan dengan menubuhkan sekolah Melayu vernakular pertama di ibu kota. Baginda telah dilantik sebagai Raja Muda Selangor pada tahun 1898 sebelum mangkat pada 9 Jun 1913.

Penerapan nama pada aset strategik TLDM merupakan simbol keberanian dan penghormatan tinggi terhadap identiti maritim negara. Kehadiran kapal ini bakal memperkasakan lagi kesiapsiagaan armada TLDM dalam memelihara keselamatan, kedaulatan, dan perlindungan ruang perairan negara secara komprehensif.

(TLDM)

US-PH Marines Conduct Marine Exercise 2026 in Maguindanao Norte

08 Juni 2026

U.S. Marines with 1st Battalion, 5th Marine Regiment, Marine Rotational Force – Darwin 26, and members of the Armed Forces of the Philippines pose for a group photo after finishing the culminating event of Marine Exercise 2026 near Cotabato City, Mindanao, Philippines (photo: Dvids)

COTABATO CITY – Members of the Philippine Navy, through the Philippine Marine Corps, together with the United States Marine Corps under the Marine Expeditionary Force, are in the thick of training for the Marine Exercise 2026 (MAREX26) at Camp Iranun in Barangay Togaig, Barira, Maguindanao del Norte.

Marine Exercise 2026 (MAREX26) (photos: AFP)

The exercise began on May 18 until May 29.

It is the third time MAREX has been held in Maguindanao del Norte, underscoring the strong alliance between the Philippines and the United States to promote regional security, operational readiness, and collective defense cooperation.

MAREX26 is being held under the Mutual Defense Board - Security Engagement Board framework, with participation by personnel from the Philippine Marines, US Marine Corps, Philippine Army, Philippine National Police, Philippine Coast Guard, Philippine Air Force, and Marine Reservists.

In a statement Thursday, Brig. Gen. Larry Batalla, commander of the 1st Marine Brigade based in Barira town, said the training activities include maritime security operations, amphibious and mechanized maneuvers, littoral live-fire drills, and special operations training to strengthen interoperability and coordinated response capabilities in increasingly complex operational environments.

“The MAREX26 is more than just a joint exercise; it is a gathering of warriors united by trust, discipline, and a shared mission,” he said.

Battalla noted that although soldier-participants come from different nations and wear different uniforms, they remain united in their goal of strengthening readiness, partnership, and regional stability.

He also expressed hope that future MAREX exercises would evolve into a broader multilateral platform for cooperation. (PNA)