12 Februari 2026

KSAL Targetkan Kapal Induk Pertama Indonesia Hadir Sebelum HUT TNI

12 Februari 2026

ITS Guiseppe Garibaldi (photo: Marina Difesa)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal induk pertama milik Indonesia buatan Italia, Giuseppe Garibaldi ditargetkan tiba di Indonesia sebelum HUT TNI yakni 5 Oktober 2026.

"Untuk Garibaldi, masih dalam proses ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI," kata Ali saat jumpa pers di Markas Pus Pom AL, Jakarta Pusat, Kamis.

Ali menjelaskan hingga saat ini pemerintah melalui Kementerian Pertahanan masih melakukan negoisasi dengan galang kapal Italia Fincantieri selaku pihak yang memproduksi Garibaldi.

Dia melanjutkan, negoisasi antara Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut Italia selaku pihak yang sebelumnya menggunakan kapal tersebut hingga saat ini juga masih berlangsung.

Namun demikian, Ali tidak menjelaskan secara rinci seperti apa proses negoisasi yang saat ini masih berlangsung.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Tunggul mengatakan pihaknya menghadirkan kapal induk Giuseppe Garibaldi untuk kepentingan misi operasi militer selain perang (OMSP).

"Kapal Induk tersebut akan digunakan dalam pelaksanaan OMSP," kata Tunggul kepada ANTARA di Jakarta.

OMSP merupakan misi kemanusiaan yang kerap dilakukan TNI dalam situasi darurat seperti membantu warga dalam proses evakuasi saat bencana alam ataupun kecelakaan dalam skala besar.

Tidak hanya itu, pengiriman prajurit perdamaian ke daerah-daerah konflik juga dikategorikan sebagai OMSP.

Menurut Tunggul, kapal tersebut cocok untuk misi OMSP karena dapat mengangkut kebutuhan logistik dalam jumlah besar. Tidak hanya itu, kapal tersebut juga memiliki daya jelajah yang tinggi dan dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang mumpuni.

Namun demikian, dirinya tidak menutup kemungkinan kapal tersebut nantinya juga dipakai untuk misi operasi perang.

Saat ini, kata Tunggul, pihaknya sedang berupaya mengakuisisi kapal induk milik AL Italia. Namun, dia tidak menjelaskan dengan rinci seperti apa proses akuisisi yang tengah berlangsung antara TNI AL dan AL Italia.

Tunggul juga tidak menjelaskan berapa uang yang harus digelontorkan Kementerian Pertahanan untuk mengakuisisi kapal induk tersebut.

Untuk diketahui, kapal induk ini memiliki kesamaan dengan dua KRI baru milik TNI AL yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yakni sama sama dibuat oleh perusahaan asal Italia Fincantieri.

Kapal induk dengan panjang 180,2 meter ini dilengkapi dengan mesin penggerak super yang dapat menggerakkan kapal dengan kecepatan 30 knot atau 56 kilometer per jam.

Kapal pengangkut pesawat tempur ini juga dilengkapi beberapa radar jamming hingga senjata seperti peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow / Selenia Aspide , Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, 324 mm tabung torpedo rangkap tiga dan Otomat Mk 2 SSM.

Boeing MQ-28 Ghost Bat Block 3 Menambahkan Internal Weapons Bays dan Extended Range

11 Februari 2026

Boeing MQ-28 Ghos Bat UCAV (photo: Aus DoD)

Boeing telah menguraikan peningkatan Block 3 utama untuk MQ-28 Ghost Bat, memperkenalkan ruang senjata internal, bentang sayap yang lebih luas, dan peningkatan otonomi seiring program tersebut beralih ke layanan yang dapat dikerahkan.

Boeing MQ-28A Ghost Bat sedang bertransisi dari pesawat tempur kolaboratif eksperimental menjadi sistem yang mendekati kredibilitas operasional, dengan para pemimpin program menguraikan kemajuan dalam integrasi senjata, peningkatan struktural, dan tonggak otonomi pada Singapore Airshow pekan lalu.

Pada 8 Desember 2025, sebuah MQ-28A meluncurkan rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih AIM-120 selama uji coba kompleks di atas Woomera Test Range. Pesawat tersebut beroperasi dalam paket kontra-udara jaringan yang mencakup F/A-18F Super Hornet Angkatan Udara Kerajaan Australia dan pesawat peringatan dini udara E-7A Wedgetail.

“Itu adalah misi yang rumit,” kata Ferguson. “Kami melakukan uji tembak rudal yang terintegrasi ke dalam sistem senjata lengkap, termasuk integrasi dengan F-18 yang menargetkan dan E-7 yang mengotorisasi dan mengelola elemen-elemen alur tersebut.”

Hornet mendeteksi dan melacak target udara tak berawak Phoenix Jet sebelum mengirimkan data penargetan melalui jaringan. E-7 mengelola otoritas penembakan, sementara MQ-28 secara otonom mengeksekusi pencegatan dan pelepasan rudal.

Menurut Ferguson, pesawat hanya menerima empat perintah tingkat tinggi selama misi: lepas landas, membangun orbit pertahanan udara, meninggalkan orbit untuk mencegat, dan mempersenjatai serta melepaskan rudal ketika parameter penembakan terpenuhi.

“Semua hal lainnya dilakukan MQ-28 sendiri,” katanya.

MQ-28 Ghost Bat berhasil meluncurkan AIM-120 AMRAAM (photo: Aus DoD)

Uji coba tersebut menunjukkan otonomi dalam kerangka pengambilan keputusan mematikan yang dikendalikan manusia, sebuah persyaratan utama untuk operasi pesawat tempur kolaboratif di masa depan.

Berbicara kepada media, direktur program MQ-28 Glen Ferguson menggambarkan uji tembak rudal udara-ke-udara langsung pesawat tersebut pada Desember 2025 sebagai validasi arsitektur platform, sekaligus mengkonfirmasi pekerjaan pengembangan di bawah Blok 3 yang akan memperkenalkan ruang senjata internal dan bentang sayap yang lebih besar.

Perkembangan ini menandai pergeseran penekanan, dari membuktikan konsep operasi pendamping setia (loyal wingman) menjadi membentuk kemampuan yang dapat dikerahkan yang ditargetkan untuk layanan sekitar tahun 2028.

MQ-28 Ghost Bat Blok 3 menambahkan ruang senjata internal dan jangkauan yang lebih luas
Meskipun uji tembak rudal tersebut mengkonfirmasi integrasi senjata eksternal, pengembangan sekarang sedang menuju konfigurasi yang lebih tahan banting.

Modifikasi Blok 3 mencakup pengenalan ruang senjata internal dan bentang sayap yang lebih luas, perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi aerodinamis, daya tahan, dan kinerja siluman.

Ruang senjata internal merupakan langkah signifikan di luar konfigurasi uji sebelumnya, mengurangi hambatan dan jejak radar sekaligus memperluas fleksibilitas misi. Bentang sayap yang lebih besar dimaksudkan untuk memberikan jangkauan yang lebih luas, faktor yang sangat relevan untuk jarak operasi di Indo-Pasifik.

Ferguson mencatat bahwa arsitektur sistem terbuka pesawat memungkinkan adaptasi cepat untuk uji coba rudal, termasuk integrasi peluncur senjata, komputer manajemen penyimpanan, tautan data taktis dan senjata, serta perangkat lunak perencanaan misi pihak ketiga.

“MQ-28 sesuai dengan standar AS dan sekutu serta sepenuhnya terwakili dalam lingkungan digital,” katanya, menambahkan bahwa pengembangan perangkat lunak terdistribusi antara Australia dan Amerika Serikat memungkinkan kemajuan yang hampir berkelanjutan.

Operasi otonom merupakan inti dari konsep MQ-28 Ghost Bat
Ferguson membingkai keterlibatan bulan Desember tersebut di sekitar empat elemen yang membentuk peperangan udara masa depan: otonomi, peran manusia, arsitektur sistem terbuka, dan pengembangan kolaboratif.

MQ-28 Ghost Bat Block 3 mempunyai fitur Internal Weapons Bays dan Extended Range (image: Boeing)

Otonomi, menurutnya, sangat mendasar. MQ-28 beroperasi sebagai pesawat yang sepenuhnya otonom dan mampu mengeksekusi profil intersepsi kompleks setelah diberi maksud misi.

Namun, otoritas mematikan tetap berada di dalam platform berawak. Selama uji coba bulan Desember, E-7A mempertahankan kendali keterlibatan, menggarisbawahi bahwa pesawat tempur kolaboratif dirancang untuk memperluas, bukan menggantikan, pengambilan keputusan manusia.

MQ-28 Ghost Bat bergerak menuju layanan operasional pada tahun 2028
MQ-28 dimaksudkan untuk beroperasi bersama aset berawak seperti F/A-18F, E-7A, dan pada akhirnya pesawat tempur generasi kelima, melakukan peran pengawasan, peperangan elektronik, dan dukungan serangan.

Serangan rudal pada bulan Desember, dikombinasikan dengan peningkatan struktural yang sedang berlangsung di bawah Blok 3, menempatkan pesawat ini di antara upaya pesawat tempur kolaboratif paling matang secara global.

Investasi dalam sistem tanpa awak dan otonom merupakan inti dari Strategi Pertahanan Nasional Australia 2024, dan program Ghost Bat mendukung lebih dari 440 pekerjaan berketerampilan tinggi di seluruh negeri, termasuk lebih dari 200 pemasok Australia.

“Yang sangat saya sukai dari program Ghost Bat adalah ini adalah kecerdasan Australia dengan kepemimpinan teknis yang berani,” kata Ferguson. “Ini menunjukkan bahwa kita memahami seperti apa medan pertempuran masa depan yang dibutuhkan.”

Dengan integrasi senjata internal yang sedang berlangsung dan otonomi yang telah divalidasi dalam kondisi tembak langsung, MQ-28 bukan lagi sekadar demonstrator teori "pendamping setia". Pesawat ini semakin dibentuk menjadi sistem yang dapat dikerahkan dan dirancang untuk beroperasi dalam arsitektur pertempuran udara sekutu dengan kemampuan operasional yang ditargetkan sebelum akhir dekade ini.


Kemenhan Siapkan Peta Jalan Tol Dirancang Sebagai Landasan Darurat

12 Februari 2026

Penggunaan jalan tol sebagai runway pesawat F-16 dan Super Tucano TNI AU (all photos: TNI AU)

Bandarlampung (ANTARA) - Kementerian Pertahanan menyiapkan peta jalan agar sejumlah ruas jalan tol dan jalan nasional di berbagai wilayah Indonesia dapat dirancang memenuhi spesifikasi teknis sebagai landasan darurat pesawat.

"Konsep ini penting untuk menjaga kesiapsiagaan pertahanan di wilayah kepulauan," kata Wakil Menteri Pertahanan Marsekal Madya TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Lampung, Rabu.


Menurutnya, dengan banyak titik alternatif pendaratan, operasional pesawat tempur tetap berjalan meski pangkalan utama terganggu.

"Kita ingin di setiap pulau besar memiliki banyak alternatif pangkalan. Kalau satu pangkalan diserang, masih ada opsi lain. Karena itu, beberapa ruas jalan tol ke depan akan kita desain agar bisa difungsikan sebagai runway," katanya.


Donny menambahkan pembangunan infrastruktur ke depan akan diselaraskan dengan kebutuhan pertahanan.

Kementerian Pertahanan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum serta pihak pengelola jalan tol agar spesifikasi teknis landasan darurat dapat terpenuhi.


"Ke depan, dalam pembangunan jalan tol, kami akan sesuaikan spesifikasinya agar memenuhi persyaratan sebagai runway. Ini bagian dari roadmap pertahanan nasional," kata Donny.

Ia juga mengapresiasi kemampuan penerbang TNI Angkatan Udara yang mampu mendaratkan pesawat tempur di ruas tol dengan lebar terbatas sebab pendaratan di jalan tol memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan di pangkalan udara.


"Lebar jalan tol hanya sekitar 24 meter, jauh lebih sempit dibanding runway bandara yang bisa mencapai 45 sampai 60 meter. Ini cukup riskan, tapi penerbang TNI AU sudah dilatih untuk kondisi sempit dan hasilnya aman," ujar Donny.

PH Gets 5 Coastal Surveillance Radars from Japan's Security Aid

12 Februari 2026

Ceremonial turnover of five coastal surveillance radar systems to Philippines (photo: DND)

MANILA – Security ties between the Philippines and Japan got a further boost following the Japanese government's "ceremonial turnover" of five coastal surveillance radar systems to the country's defense establishment Wednesday.

The equipment was provided to the Philippines under Japan's Official Security Assistance (OSA) Framework.

It was finalized during the November 2023 visit of then Japanese Prime Minister Kishida Fumio to Manila, where Japan and the Philippines exchanged notes for JPY600 million (around PHP228 million) in OSA for the provision of coastal radar systems to the Philippine Navy (PN).

The project includes radar units, surveillance and monitoring equipment, and other support components designed to strengthen coastal monitoring and maritime security operations.

During the turnover ceremony at Camp Aguinaldo, Quezon City, DND Secretary Gilberto Teodoro Jr. thanked Tokyo for its "concrete contributions in widening and deepening our bilateral and multilateral ties" with the Philippines, with the end view of a free and open Indo-Pacific Region and maintaining regional peace and stability.

He also expressed confidence that the Philippines' relationship with Japan will continue to grow stronger in the coming years due to the "mutual trust and sincerity" enjoyed by the two nations.

"Japan's approach to its bilateral relations with the Philippines has been rooted in fundamental sincerity and values," the DND chief said.

Teodoro said Filipinos strongly welcome any partnership with Japan.

"So I think it is appropriate merely to state to the people of Japan represented by His Excellency Ambassador Endo Kazuya, maraming salamat po sa inyong pagtitiwala. (thank you very much for your trust) Domo arigato gozaimasu. Thank you," the DND chief said.

Earlier, the Japanese ambassador called the turnover of the five coastal surveillance radars a "meaningful milestone" in line with the deepening relationship between the Philippines and Japan.


"It is a great honor to join you today for the handover ceremony of the five coastal surveillance radar systems provided under Japan's OSA framework. This occasion marks not only the transfer of critical equipment from Japan to the Philippines but also a meaningful milestone in the steadily deepening partnership between our two countries," Endo said.

He added the OSA Framework reflects Japan's resolute commitment to working closely with like-minded partners to maintain peace and security across the Indo-Pacific.

"At a time when the security environment is becoming increasingly complex and difficult, strategic challenges in the region serve as a clear reminder that peace and stability cannot be taken for granted. It must be actively and collectively sustained. As maritime democracies positioned along vital sea lanes, Japan and the Philippines are natural partners," Endo said.

Likewise, the Japanese envoy said Tokyo places the utmost value on its collaboration with Manila, a strategic partner that shares the vision for realizing a free and open Indo-Pacific.

"Against this backdrop, I am pleased that the coastal surveillance radar systems provided under Japan's OSA for Fiscal Year 2023 successfully arrived in the Philippines. Today's handover ceremony marks the culmination of our close coordination and cooperation," he added.

Once made operational by the PN, these coastal radar systems are expected to significantly enhance the country's maritime domain awareness by improving the ability to monitor activities in the surrounding waters.

Endo said such capabilities are indispensable for safeguarding maritime security, protecting lawful activities at sea, and responding effectively to potential risks.

"The South China Sea is a vital sea lane for many countries through which a large portion of our trade and energy supplies pass. Safety, openness, and stability of these waters are therefore of direct importance to our own security and prosperity. Enhancing the Philippines' maritime domain capability is not only an investment in the Philippines' security, but also a meaningful contribution to regional and global stability," he added.

Since the launch of the OSA in 2023, Endo said the Philippines has been the only country to receive OSA for three consecutive years, underscoring the high level of trust and strategic significance Japan places on its partnership with the country. 

(PNA)

11 Februari 2026

TNI AU Uji Coba Pendaratan Pesawat Tempur di Jalan Tol Trans Sumatera

11 Februari 2026

Pesawat tempur F-16 TNI AU menguji coba pendaratan dan lepas landas di Jalan Tol Trans Sumatera. Provinsi Lampung (photo: Antara)

Bandarlampung (ANTARA) - TNI AU menggelar uji coba pendaratan dua pesawat tempur yakni EMB-314 Super Tucano dan F-16, pertama kali di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Ruas Terbanggi Besar-Pematanag Panggang-Kayu Agung (Terpeka) KM228-KM231 Provinsi Lampung.

"Uji coba pendaratan pesawat tempur berjalan sukses. Begitu pula dengan lepas landasnya berjalan aman. Uji coba ini menjadi yang pertama dilakukan di jalan tol di Indonesia," kata Wakil Menteri Pertahanan, Marsekal Madya TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto, dalam keterangan yang diterima di Provinsi Lampung, Rabu.

Menurut dia, uji coba ini menjadi penanda penting penguatan sistem pertahanan negara, khususnya dalam menyiapkan infrastruktur sipil yang dapat difungsikan untuk kepentingan pertahanan saat kondisi darurat.

“Dilaksanakan pada hari ini, ini untuk yang pertama kali ya, uji coba pendaratan pesawat tempur di jalan tol. Alhamdulillah, hari ini dapat kita laksanakan dengan aman dan lancar,” kata dia.

Pesawat tempur Super Tucano TNI AU menguji coba pendaratan dan lepas landas di Jalan Tol Trans Sumatera. Provinsi Lampung (photo: Gakorpan)

Ia menjelaskan, dua jenis pesawat tempur yang diuji memiliki karakteristik berbeda. Super Tucano merupakan pesawat turboprop yang digunakan TNI AU untuk patroli udara, pengintaian, serta dukungan udara jarak dekat. Sementara F-16 merupakan pesawat tempur supersonik yang berfungsi sebagai garda terdepan pertahanan udara nasional.

“Kedua pesawat tempur yang diuji, Super Tucano dan F-16, dilaporkan dalam kondisi aman. Artinya, apa yang kita rencanakan berhasil dan berjalan sesuai skenario,” kata dia.

Ia menegaskan, uji coba ini bukan sekadar atraksi, melainkan bagian dari konsep besar pertahanan negara yang melibatkan seluruh elemen, termasuk infrastruktur sipil.

"Jalan tol disiapkan sebagai alternatif landasan pacu ketika pangkalan udara tidak dapat digunakan," kata dia.

Ia menyebut konsep ini sejalan dengan sistem pertahanan semesta yang menempatkan seluruh komponen bangsa sebagai bagian dari upaya bela negara, termasuk kementerian teknis, operator jalan tol, hingga masyarakat.

“Ini adalah perwujudan sistem pertahanan semesta. Pertahanan negara bukan hanya urusan TNI, tetapi melibatkan kementerian, pengelola jalan tol, dan masyarakat yang hari ini bersedia mengalah menggunakan jalur alternatif,” ujar dia.

Dua Pesawat T-50i Pesanan Indonesia Tiba Lanud Iswahjudi

11 Februari 2026

Dua truk trailer membawa fuselage pesawat T-50i TNI AU (photo ssv: SM22)

Setelah mengalami penundaan dari jadwal awal November 2025, pesawat latih tempur T-50i Golden Eagle tambahan pesanan TNI AU akhirnya dilaporkan tiba pada 5 Februari di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun.

Pesawat dikirim dari Korea Selatan dalam kondisi terurai dan akan dirakit terlebih dahulu sebelum uji terbang.

Kehadiran ini memperkuat Wing Udara 3 Tempur sebagai tulang punggung regenerasi pilot tempur nasional.

(SnappyMoment22)

Malaysia Memberi Nama Kapal LCS 3

10 Februari 2026

Kapal LCS ke-3 diberi nama KD Sharif Mashor 2503 (photos: MYKemhan)

LUMUT – Timbalan Menteri Pertahanan, YB Adly Zahari telah hadir mewakili Menteri Pertahanan ke Upacara Penamaan dan Pelancaran Kapal Tempur Pesisir (LCS) ketiga Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM), LCS3 SHARIF MASHOR, yang berlangsung di Limbungan Lumut Naval Shipyard Sdn Bhd (LUNAS) hari ini.


Upacara penuh istiadat ini diserikan dengan keberangkatan Tuan Yang Terutama Yang di-Pertua Negeri Sarawak, Tun Pehin Sri Dr. Haji Wan Junaidi bin Tuanku Jaafar, manakala penamaan dan pelancaran kapal telah disempurnakan oleh Yang Amat Berbahagia Toh Puan Datuk Patinggi Fauziah binti Mohd Sanusi. Penamaan SHARIF MASHOR mengangkat semangat kepahlawanan dan keberanian tokoh Sarawak tersebut sebagai simbol kekuatan serta keazaman TLDM dalam mempertahankan kedaulatan maritim negara.


Majlis ini mencerminkan kemajuan berstruktur Program LCS serta komitmen Kerajaan MADANI dalam memperkukuh keupayaan pertahanan laut negara melalui pembangunan aset berteknologi tinggi dan pemerkasaan industri pertahanan tempatan. LCS3 turut menjadi simbol kebanggaan negara sebagai kapal kelas frigat pertama yang dibina sepenuhnya oleh syarikat tempatan, sekali gus memperkukuh ekosistem industri maritim dan keselamatan negara.


Turut hadir ialah Ketua Setiausaha Kementerian Pertahanan, YBhg. Datuk Lokman Hakim Ali, Panglima Tentera Laut, Laksamana Tan Sri (Dr.) Zulhelmy bin Ithnain, pengurusan tertinggi Lumut Naval 

10 Februari 2026

Brigif 1 Marinir Selenggarakan Pelatihan Penembakan Mortir Berbasis Komputer

10 Februari 2026

Penembakan mortir berbasis komputer di Pasmar 1 (photo: Pasmar 1)

TNI AL, Dispen Kormar, Pasmar 1 -- Prajurit Brigade Infanteri 1 Marinir (Brigif 1 Mar) telah melaksanakan pelatihan sistem penembakan Mortir berbasis komputer yang diselenggarakan oleh PT. Hariff Dipa Persada. Kegiatan ini resmi ditutup oleh Asisten Logistik Komandan Pasmar 1 (Aslog Danpasmar 1) Kolonel Marinir Yasri Sani Pulungan bertempat di Brigif 1 Marinir, Kesatriaan Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, kamis (05/02/2026).

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit dalam mengoperasikan sistem penembakan mortir secara modern, akurat, dan efektif dengan memanfaatkan teknologi berbasis komputer. Melalui pelatihan ini, prajurit diharapkan mampu mengaplikasikan sistem penembakan mortir secara tepat guna mendukung tugas pokok satuan di medan operasi.


Di lain tempat, Danbrigif 1 Marinir Kolonel Marinir Alim Firdaus, S.H., M.T.r Hanla., M.M., menyampaikan bahwa perkembangan teknologi militer menuntut setiap prajurit Marinir untuk terus meningkatkan kemampuan dan wawasan, khususnya dalam penguasaan alutsista berbasis teknologi.

“Manfaatkan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan ini dengan sebaik-baiknya. Terus berlatih dan tingkatkan kemampuan agar senantiasa siap melaksanakan tugas operasi maupun latihan,” tegas Danbrigif 1 Marinir.

KAI Raih Kontrak Pemeliharaan Jet FA-50PH Senilai 101,4 Miliar Won dari Filipina

10 Februari 2026

Pesawat FA50 dalam pengecekan akhir sebelum serah terima (photo: Defense24)

SEOUL (Yonhap) -- Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd. pada hari Jumat mengumumkan telah mengamankan kontrak logistik berbasis kinerja/performance-based logistics (PBL) senilai 101,4 miliar won (US$69,1 juta) dari Filipina untuk menyediakan dukungan pemeliharaan dan logistik jangka panjang bagi jet tempur FA-50PH yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Filipina.

Berdasarkan kontrak tiga tahun tersebut, KAI akan menyediakan dukungan pemeliharaan dan logistik untuk jet tempur tersebut hingga tahun 2028. FA-50PH adalah varian modifikasi dari jet FA-50 KAI yang dirancang khusus untuk militer Filipina.

PBL dianggap sebagai model dukungan logistik canggih yang dirancang untuk memastikan dukungan yang stabil dan efisien sepanjang masa pakai pesawat sekitar 30 hingga 40 tahun.

Kesepakatan ini menyusul kontrak percontohan PBL satu tahun sebelumnya senilai sekitar 27 miliar won yang ditandatangani KAI dengan Filipina pada Desember 2024.

KAI mengatakan keberhasilan pelaksanaan program percontohan tersebut mengarah pada penandatanganan kontrak terbaru ini.

Filipina adalah salah satu operator luar negeri utama pesawat FA-50 KAI. Negara ini awalnya membeli 12 unit FA-50PH pada tahun 2014 dan telah memesan tambahan 12 unit tahun lalu.

Singapura Akan Membeli Radar Giraffe 1X

10 Februari 2026

(photo: Saab)

Singapura membeli Saab Giraffe 1X untuk menggantikan Radar Pencarian dan Akuisisi Target Portabel/Portable Search and Target Acquisition Radar (PSTAR) miliknya.

Pengembangan ini diungkapkan oleh Kepala Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) Mayor Jenderal Kelvin Fan Sui Siong, dalam jawaban tertulis atas pertanyaan dari media menjelang Singapore Airshow 2026.

“Giraffe 1X akan meningkatkan kemampuan kita untuk mendeteksi berbagai ancaman udara yang lebih luas, termasuk drone kecil, dan akan memberikan pengawasan jarak pendek yang vital untuk mendukung operasi militer,” kata Mayjen Fan.

“Untuk lebih meningkatkan mobilitas dan memperluas cakupan pertahanan udara, kami juga akan mengakuisisi kendaraan URO Vehículo de Alta Movilidad Táctico (VAMTAC), yang akan memasang RBS-70 atau Giraffe 1X kami,” tambah kepala tersebut.

PSTAR adalah radar medan perang portabel yang dikembangkan oleh Lockheed Martin dan juga disebut sebagai AN/PPQ-2.

Ini adalah radar pita L yang ringkas dan ringan yang dirancang untuk tujuan peringatan dini dan akuisisi target.

Dalam layanan Angkatan Darat Singapura, PSTAR biasanya bekerja bersama unit yang menggunakan sistem pertahanan udara jarak pendek portabel RBS-70.

Sementara itu, Giraffe 1X adalah radar yang ringkas dan ringan yang dirancang untuk penyebaran cepat dan mobilitas tinggi.

Dengan berat kurang dari 150 kg dan mampu dipasang pada kendaraan ringan seperti VAMTAC, ia menawarkan kemampuan pengawasan 360° terhadap berbagai ancaman udara termasuk drone kecil yang terbang rendah; helikopter; dan pesawat terbang yang bergerak cepat.

Radar Giraffe 1X juga dapat memberikan peringatan dini terhadap roket, artileri, dan mortir yang datang.

(Jane's)

09 Februari 2026

Alih Bina KRI, Untuk Efektifkan Operasi dan Pemeliharaan

09 Februari 2026

Alih Bina KRI tiga tipe kapal ke Komando Armada I (photo: Komando Armada RI)

TNI Angkatan Laut, Koarmada RI -- Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada RI) Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M., meresmikan alih bina dua kapal buru ranjau kelas KRI Pulau Rengat (PRE 711) KRI Pulau Rupat (PRP 712) dari Komando Armada II ke Komando Armada I.

Alih bina dua unit Kapal Korvet kelas KRI Fatahilah (FTH 361) KRI Malahayati (MLH) 362 dari Koarmada III ke Koarmada I.

Alih bina dua unit kapal latih KRI Arung Samudera (ARS 930), KRI Dewaruci (DWR 900) dari Koarmada II ke Koarmada I Jumat (6/2/2026 ) bertempat di Geladak KRI Dewaruci yang sandar di Kesatrian Pondok Dayung Jakarta Utara yang dihadiri Pangkoarmada I II dan III beserta jajaran.

Pangkoarmada RI dalam amanatnya menyampaikan bahwa alih bina KRI merupakan langkah strategis Koarmada RI dalam rangka menata kekuatan, mengoptimalkan pola operasi, serta meningkatkan kesiapsiagaan unsur TNI Angkatan Laut guna menjamin keamanan wilayah laut dan jalur pelayaran strategis Nasional.

Lebih lanjut disampaikan bahwa seluruh unsur yang dialihbina agar segera menyesuaikan diri,meningkatkan soliditas, serta melaksanakan tugas dengan profesional, disiplin, dan penuh tanggung jawab demi mendukung keberhasilan tugas pokok TNI Angkatan Laut.

Royal Thai Navy Begins Submarine Crew Recruitment

09 Februari 2026

China State Shipbuilding Corporation (CSSC) S26T submarine is 2,600 ton equipped with Air-independent propulsion (AIP) (photo: CSSC)

The Submarine Squadron, Royal Thai Fleet (RTF), has opened applications for the selection of submarine personnel, instructor training courses, and combat staff training courses under the S26T submarine procurement project to fill 42 vacant positions. Applications will be accepted from December 30, 2025 to January 9, 2026.

The submarine crew consists of 28 personnel, including 11 commissioned officers: Navigation Officer and Third Navigator, and Weapons Officer (5 positions); Second Engineer and Third and Fourth Engineer (3 positions); Medical Officer (2 positions); and Sonar Officer, with ranks between Lieutenant Commander and Lieutenant. And 17 non-commissioned officer positions: 1 Quartermaster, 1 Underwater Weapons Technician, 11 Engineer Technicians, 2 Petty Officers, 1 Radio Operator, and 2 Sonar Operators, with ranks between Chief Petty Officer First Class and Petty Officer First Class.

The instructor training course has 2 positions, including a submarine escape instructor (Safety Training Section, rank of Lieutenant Commander) – 1 position, and a mechanical engineering instructor (Electrical and Electronics Training Section, rank of Lieutenant Commander) – 1 position. There are also 12 positions for the combat staff course, with ranks between Commodore and Lieutenant Commander.

The Wuchang shipyard in Wuhan, China, has completed the construction of the first four of eight Hangor-class submarines for the Pakistan Navy (PN) during the 2024-2025 period. Three submarines are expected to be launched in 2025, and sea trials are currently underway before the first delivery in 2026. It is understood that Wuchang will now have more time, manpower, and resources available to construct the first S26T submarine for the Royal Thai Navy.

Thailand signed an amendment to the contract in September 2025 to accept the CHD620 diesel engine for the generator instead of the German MTU 396. A Thai Navy delegation recently visited China from December 9-19, 2025, to monitor the project's progress. The launching ceremony for the Royal Thai Navy's first S26T submarine may take place sooner than expected if no further problems arise.

(AAG)

TLDM akan Operasikan Dua Jenis Misil Antipermukaan Pengganti Exocet - Khaled Nordin

09 Februari 2026

Rudal Kongsberg NSM berjangkauan 250km dan kecepatan Mach 0,93 dengan hulu ledak 120 kg (photo: Kongsberg)

KUALA LUMPUR: Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) akan mengoperasikan dua jenis Surface to Surface Missiles (SSM) atau misil antipermukaan termasuk Naval Strike Missile (NSM) dari Norway yang akan diterima pada Mac ini.

Kementerian Pertahanan (MINDEF) memaklumkan selain itu misil ATMACA dari Turkiye pula sedang dalam proses perolehan dan dijangka diterima pada 2028.

"MINDEF telah merangka pelan penggantian secara berperingkat bagi keupayaan peluru berpandu antikapal TLDM, dengan menilai platform peluru berpandu generasi baharu termasuk NSM yang mempunyai keupayaan jarak lebih jauh, kebolehan menghindari radar yang lebih tinggi serta integrasi rangkaian sensor moden.

"Pendekatan berperingkat dan berhemah ini mencerminkan komitmen kerajaan untuk memodenkan keupayaan TLDM secara realistik dan mampan, selaras dengan keperluan keselamatan maritim negara dan kemampuan fiskal semasa," menurut MINDEF dalam jawapan bertulis menerusi laman rasmi Parlimen.

Rudal Roketsan Atmaca berjangkauan 220km dan kecepatan Mach 0,90 dengan hulu ledak 250kg (image: DefTurk)

Jawapan itu dikemukakan kepada Datuk Seri Ikmal Hisham Abdul Aziz (PN-Tanah Merah) yang ingin tahu rancangan penggantian peluru berpandu jenis Exocet MM40 Blok II (berusia 29 tahun) yang usang dan tidak relevan lagi digunakan untuk kapal tempur milik TLDM serta jangkaan program penggantian itu selesai.

Dalam soalan berasingan, MINDEF memaklumkan jadual pentauliahan Kapal Tempur Pesisir 1 (LCS 1) dipinda ke Disember 2026 manakala LCS 2 pula pada Ogos tahun hadapan, berdasarkan maklum balas oleh Lumut Naval Shipyard (LUNAS) yang dikemukan kepada Pasukan Projek LCS TLDM.

Menurut kementerian itu, bagi kapal berikutnya pentauliahan LCS 3 kekal pada Disember 2027, LCS 4 (Ogos 2028) dan LCS 5 (April 2029).

"Hingga 25 Dis 2025, kementerian dimaklumkan oleh LUNAS bahawa kemajuan keseluruhan Projek LCS telah mencapai 75.73 peratus sebenar berbanding 81.57 peratus perancangan," menurut jawapan MINDEF kepada Nik Nazmi Nik Ahmad (PH-Setiawangsa) yang ingin tahu status terkini proses ujian dan pentauliahan LCS.

08 Februari 2026

PTDI dan Sari Bahari Jajaki Ekspansi Pasar Global Roket Nasional

08 Februari 2026

Penanda-tanganan LoI PT DI dan PT Sari Bahari (photo: PT DI)

Singapura  – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Sari Bahari menyepakati penandatanganan Letter of Intent (LoI) pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, dan Vice President Director PT Sari Bahari, Putra Prathama Nugraha, bertempat di booth PTDI A-L31.

Kesepakatan ini mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan. “Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen PTDI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai lead integrator industri dirgantara nasional, PTDI memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan dan integrasi sistem senjata, termasuk pada platform udara dan sistem pendukungnya. Dengan kapabilitas rekayasa, pengujian, serta sertifikasi yang dimiliki, PTDI terus mengembangkan perannya tidak hanya sebagai produsen pesawat, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan sistem persenjataan terpadu. Kerja sama dengan PT Sari Bahari ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing produk pertahanan nasional di pasar global.

New Zealand Eksplorasi P-8A Poseidon Sebagai Platform Serang Maritim

08 Februari 2026

New Zealand akan uji tembak rudal Harpoon dari armada P-8A Poseidon miliknya pada pertengahan 2026 (photo: Florida Times Union)

SINGAPURA - New Zealand Defense Force (NZDF) telah membentuk Proyek "Serangan yang ditingkatkan" serta Proyek "Intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) berkelanjutan untuk meneliti senjata udara-ke-permukaan masa depan, kemampuan penargetan, dan opsi penginderaan".

Langkah ini menyusul rilis Rencana Kemampuan Pertahanan/Defense Capability Plan (DCP) New Zealand pada Agustus lalu. DCP mengidentifikasi persyaratan awal untuk kemampuan serangan, tanpa awak, dan terkait ruang angkasa karena Wellington berupaya membangun kembali elemen kekuatan tempur yang hilang lebih dari dua dekade lalu.

Peluncuran rudal Harpoon dari P-8A Poseidon
Kepala Angkatan Udara Kerajaan Selandia Baru (RNZAF), Marsekal Madya Darryn Webb, mengatakan kepada Aviation Week pada 4 Februari di Singapore Airshow bahwa Boeing P-8A Poseidon akan berfungsi sebagai platform integrasi logis untuk kemampuan serangan dan ISR. Angkatan udara bekerja sama dengan rekan-rekan Australia dan AS untuk menjadikan pesawat tersebut mampu membawa senjata.

RNZAF P-8A Poseidon (photo: RNZAF)

Webb mengungkapkan bahwa RNZAF bertujuan untuk melakukan peluncuran rudal anti-kapal Harpoon pertama dari Poseidon pada pertengahan tahun 2026. Selandia Baru sebagian besar melepaskan peran serangan sayap tetapnya setelah pensiunnya pesawat tempur A-4K Skyhawk pada awal tahun 2000-an.

“Itu adalah langkah baik pertama, dan kemudian kami akan mengeksplorasi peluang untuk apa yang mungkin sesuai dengan kebutuhan kami,” kata Webb.

Platform ISR maritim tak berawak 
Secara paralel, proyek ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) yang berkelanjutan sedang menilai campuran sistem pesawat tanpa awak dan solusi berbasis ruang angkasa potensial untuk memantau wilayah maritim Selandia Baru yang luas, yang mencakup area yang setara dengan sekitar seperduabelas permukaan laut Bumi.

Webb menambahkan bahwa RNZAF sedang membangun keahlian terkait ruang angkasa, dimulai dengan kesadaran domain ruang angkasa dan berpotensi berkembang ke stasiun bumi uplink satelit untuk mendukung kebutuhan nasional dan mitra.

Upaya ini akan dipandu oleh DCP (Distance Competence Project), yang akan diperbarui dalam siklus dua tahun.

Webb mengatakan bahwa RNZAF saat ini tidak mengantisipasi investasi dalam kemampuan tempur udara berawak konvensional, tetapi mengisyaratkan opsi tanpa awak di masa depan.

“Itu tidak ada dalam agenda Rencana Kemampuan Pertahanan saat ini, tetapi setiap tahun kita melihat peningkatan dalam teknologi sistem tanpa awak dan kemampuan untuk mengangkat kemampuan tersebut, termasuk pengembangan oleh Australia dan negara lain,” katanya, menambahkan bahwa sistem tersebut secara hipotetis dapat diintegrasikan dengan armada Poseidon RNZAF.

PT DI Tanda-tangani Kesepakatan di Sektor Hulu dan Hilir

08 Februari 2026

Penanda-tanganan perjanjian PT DI dan Honeywell (photo: PT DI)

PTDI Sepakati Pembelian Sejumlah Komponen Pesawat Dengan Honeywell di Singapore Airshow 2026
Singapura - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Honeywell menandatangani dokumen five-year purchase agreement untuk pengadaan sejumlah komponen pesawat yang diproduksi PTDI, mencakup platform NC212i, CN235, dan N219. Kesepakatan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kerja sama industri antara kedua perusahaan di sektor dirgantara.

Penandatanganan tersebut berlangsung di sela-sela hari kedua penyelenggaraan Singapore Airshow 2026, bertempat di booth PTDI A-L31. Kesepakatan ini menandai komitmen PTDI dan Honeywell dalam membangun kemitraan strategis berjangka panjang, yang tidak hanya berfokus pada aspek komersial, tetapi juga mencakup industrial cooperation serta dukungan terhadap pengembangan produk dirgantara PTDI yang berkelanjutan (sustainable aerospace product development).

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan upaya PTDI untuk terus memperkuat keandalan rantai pasok serta meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.

"Kolaborasi jangka panjang dengan mitra global seperti Honeywell menjadi bagian dari strategi PTDI dalam memastikan keberlanjutan program pesawat, sekaligus mendorong penguatan industri dirgantara nasional melalui kemitraan yang saling menguntungkan," ujarnya.

Ke depan, purchase agreement ini diharapkan menjadi landasan yang kuat bagi kesinambungan kerja sama antara PTDI dan Honeywell, khususnya dalam mendukung stabilitas pasokan komponen, kesinambungan program pesawat PTDI, serta peningkatan efisiensi dan konsistensi kualitas produk dalam jangka panjang. (PTDI)

Penanda-tanganan MoU PT DI dengan INAEC Aviation Filipina (photo: PT DI)

Perkuat Jejaring MRO Asia Pasifik, PTDI Teken MoU Dengan INAEC Aviation Filipina
Singapura (04/02) — PTDI sepakati Memorandum of Understanding (MoU) dengan INAEC Aviation Corporation, Perusahaan layanan penerbangan dan kedirgantaraan yang berbasis di Filipina. MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan dan President INAEC Aviation Corporation, Benjamin R. Lopez, disaksikan langsung oleh Undersecretary for Defense Technology Research & Industry Development DND Philippines, Rene S. Diaz. 

Kerja sama ini mencakup pengembangan dan pelaksanaan kegiatan Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) pesawat dan helikopter di wilayah Filipina, termasuk technical support dan training. Berbekal pengalaman dan kapabilitas PTDI di bidang MRO pesawat dan helikopter, serta komitmen Perusahaan dalam menjaga sustainability program, kerja sama ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan operator, baik di sektor sipil, Pemerintah, maupun militer di wilayah Filipina, serta menjadi peluang bagi PTDI dalam penguatan jejaring MRO di kawasan Asia Pasifik.

“Kolaborasi dengan INAEC Aviation Corporation merupakan langkah strategis PTDI dalam memperkuat peran sebagai penyedia layanan MRO regional. Dengan mengedepankan aspek sustainability, technical support, dan pengembangan SDM, kerja sama ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan operator di Filipina secara berkelanjutan,” ujar Gita Amperiawan. (PT DI)

Singapura dan Airbus Selesaikan Uji Coba Helikopter MUM-T

08 Februari 2026

Helikopter H225M RSAF (photo: Lucas009)

Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) dan Airbus Helicopters telah menyelesaikan uji coba penerbangan tim gabungan berawak-tak berawak (MUM-T) yang melibatkan pesawat angkut menengah H225M dan sistem pesawat tak berawak (UAS) Flexrotor.

Uji coba tersebut dilakukan pada Januari 2026 dan memperlihatkan sebuah helikopter RSAF H225M bekerja sama dengan Flexrotor dalam simulasi operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), kata Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (DSTA) dalam pernyataan yang dirilis pada 5 Februari selama Singapore Airshow 2026.

Uji coba tersebut dilakukan di pangkalan udara yang dirahasiakan, dan mengikuti perjanjian yang ditandatangani pada Juni 2025 untuk uji coba tersebut, yang menggunakan sistem helikopter MUM-T Airbus yang dikenal sebagai HTeaming.

Integrasi sistem HTeaming ke helikopter H225M (photo: Airbus)

Airbus mengelola desain dan integrasi sistem HTeaming ke dalam H225M, termasuk pengembangan arsitektur tautan data khusus.

“[Uji coba] memvalidasi bagaimana helikopter berawak dapat memanfaatkan data waktu nyata dari drone tak berawak untuk meningkatkan misi pencarian dan penyelamatan, secara signifikan memperluas jangkauan visual pesawat dan efektivitas misi secara keseluruhan,” kata DSTA dalam pernyataannya.

“Integrasi ini memungkinkan awak helikopter untuk menerima dan memproses data waktu nyata dari Flexrotor sambil mempertahankan kendali dan kontrol langsung [C2] dari UAS, memfasilitasi pengambilan keputusan yang cepat dan pelaksanaan misi sambil meminimalkan paparan awak di lingkungan berisiko tinggi,” tambah lembaga tersebut.

UAS Flexrotor yang digunakan uji coba (photo ssv: Airbus)

Flexrotor adalah UAS lepas landas dan pendaratan vertikal (VTOL). Pesawat ini dapat beroperasi selama lebih dari 12 jam dalam konfigurasi tipikal dan dapat diluncurkan dan diambil kembali secara otonom dari area yang sempit.

Sementara itu, helikopter H225M Singapura menggantikan helikopter AS332M Super Puma milik RSAF yang mulai beroperasi pada tahun 1983. H225M pertama dikirim ke RSAF pada Maret 2021.

07 Februari 2026

RAAF Deploys to Nevada for Exercises with United States and United Kingdom

07 Februari 2026

Six F-35A Lightning II deployed to the exercises (photo: Aus DoD)

The Royal Australian Air Force (RAAF) has deployed up to six F-35A Lightning II aircraft, an E-7A Wedgetail, and around 227 aviators to Nellis Air Force Base in Nevada to participate in two of the world’s most advanced air combat training exercises. 

From 2 February 2026, Exercises Red Flag Nellis and Bamboo Eagle 26-1 will bring together aviators from Australia, the United States and United Kingdom in one of the most challenging and realistic air training environments available.

Wing Commander Matthew Deveson is leading the Australian contingent, which includes both aircraft and a Tactical Command and Control team.

“These exercises provide a highly realistic training environment where we can integrate different capabilities and strengthen our ability to operate with key allies and partners,” Wing Commander Deveson said.

“The RAAF’s F-35A Lightning remains at the cutting edge of air combat technology as a highly advanced, multi-role, supersonic stealth fighter, and our E-7A Wedgetail is one of the world’s premier airborne battle management platforms.”

An E-7A Wedgetail deployed to the exercises (photo: Aus DoD)

Established in 1975, Exercise Red Flag Nellis focuses on high-intensity air operations conducted throughout the Nevada Test and Training Range. Exercise Bamboo Eagle, introduced in 2024, expands this training to include long-range missions across both land and maritime environments in the western United States.

Both exercises simulate a broad range of modern threats including air, land and maritime capabilities as well as space and cyber-domain threats.

“These exercises involve large force employment missions with a high number of multinational aircraft in the air at the same time,” Wing Commander Deveson said.

“Each nation brings unique capabilities and experience, with no single aircraft or unit able to accomplish all the mission objectives on its own.”

Australia’s involvement in these exercises strengthens deterrence, contributes to regional security and stability, and reinforces long-standing partnerships. 

“Australia was the first non-NATO country to participate in Exercise Red Flag Nellis in 1980, and we have been part of Exercise Bamboo Eagle since its inception in 2024,” Wing Commander Deveson said.

“These exercises ensure we remain ready to operate seamlessly with two of our most important strategic partners, now and into the future.”