31 Agustus 2026
HMAS Hobart Rampungkan Upgrade Sistem Aegis dan Tomahawk
28 Juni 2026
Korea Utara Lakukan Komisioning Kapal Perusak Kelas Choe Hyon Pertama
06 Juni 2026
Jepang Akan Mulai Bahas Ekspor Kapal Perang ke Indonesia
06 Juni 2026
Asagiri class destroyer (photo: Seaforces)
Tokyo (ANTARA) - Jepang dan Indonesia sepakat untuk memulai pembicaraan tentang potensi ekspor kapal penghancur (destroyer) kelas Asagiri ke Jakarta.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan Menhan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin mencapai kesepakatan tersebut selama pembicaraan di Tokyo, Jumat, demikian keterangan Kementerian Pertahanan Jepang.
Jepang telah berupaya memperdalam kerja sama peralatan pertahanan, termasuk dengan mitra keamanan seperti Filipina dan Selandia Baru, sejak melonggarkan pembatasan ekspor senjata mematikan pada April.
Kapal latih JS Yamagiri (TV-3515) ex destroyer Asagiri class (DD-152) ketika berkunjung ke Indonesia Februari 2026 (photo: Warships cam)
Selama pertemuan tersebut, Sjafrie menyampaikan niat Indonesia untuk memajukan kerja sama peralatan dan teknologi pertahanan, termasuk potensi transfer kapal perusak serbaguna Angkatan Laut Bela Diri Jepang, kata kementerian.
Kedua menteri kemudian sepakat untuk membahas kerja sama ini melalui kerangka kerja tingkat kerja yang dibentuk bulan lalu.
Asagiri adalah kapal destroyer milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang yang kini difungsikan sebagai kapal latih.
Kapal berbobot 3.500 ton yang memiliki panjang 137 meter ini pernah berkunjung ke Indonesia pada awal 2023 dalam misi diplomatik.
(Antara)
07 Mei 2026
Statement by the Defense Ministers of Japan and the Philippines on the Further Promotion of Defense Equipment and Technology Cooperation
02 Mei 2026
Menjelang Amandemen UU JGSDF: Peralatan Pertahanan Jepang Bekas akan Dapat Dihibahkan atau DIbeli dengan Biaya Rendah
18 Maret 2026
HMAS Hobart Destroyer Start the Upgrade Program
18 Maret 2026
The guided missile destroyer (DDG), HMAS Hobart at South Australia’s Osborne Naval Shipyard (photos: BAE Systems)
The docking of frontline guided missile destroyer (DDG), HMAS Hobart, at South Australia’s Osborne Naval Shipyard signified the official start of the production phase of its upgrade program.
Under the Destroyer Capability Enhancement (DCE) program, Australia’s Hobart class destroyers — HMA Ships Hobart, Brisbane and Sydney — will receive advancements that will boost capability. This includes new state-of-the-art technology, integration of a Tomahawk cruise missile system and an upgraded Aegis combat system.
“Hobart’s arrival was the accumulation of many months of hard work and since the milestone, the DCE teams have continued moving at pace with efficiency,” Shaun Connelly, BAE Systems Australia – Maritime’s DDG Program Director, said.
“I’d like to acknowledge the close collaboration with our customer and industry partners helping lead this incredible body of work.”

One aspect of the DCE program is the Combat Systems Integration – Integrated Project Team (CSI-IPT). This collaboration between the Commonwealth of Australia, BAE Systems Australia, Saab Australia and Lockheed Martin Australia is delivering the updated Aegis combat system for the Hobarts.
The CSI-IPT is increasing the DDGs’ combat systems capability from Aegis Baseline 8 to 9, as well as introducing Saab’s new Australian Interface and incorporating a Tomahawk Weapon System into the vessels.
The upgraded Aegis will also be included on the Hunter class frigates upon entering service.
Now leading the DCE and Hunter class frigate build programs, the Osborne shipyard truly has become a multi-program Tier 1 surface combatant facility.
“Osborne shares a 40 year history with the Royal Australian Navy and this legacy includes construction of the three Hobart class destroyers,” Mr Connelly said.
“The shipyard is state of the art, continues to evolve and now with supporting both the DCE and Hunter programs, this versatility makes it a premier asset for the Continuous Naval Shipbuilding and Sustainment Enterprise.
“Not only in Osborne but we have the best people, located in nearly every state, supporting this Australia—wide endeavour now and into the future,” Mr Connelly said.
BAE Systems Australia is an industry partner in the Destroyer Enterprise (also including the Commonwealth of Australia, Lockheed Martin Australia, Thales Australia, Saab Australia, Raytheon Australia and Navantia Australia) that is sustaining the DDGs at their homeport of Garden Island in Sydney. In 2024, the company was announced as the ships’ Capability Life Cycle Manager, meaning it overseas sustainment activities, such as engineering, maintenance, supply chain and project management.
The DCE program was announced in the Commonwealth’s 2024 Naval Shipbuilding and Sustainment Plan.
Coming full circle, HMAS Hobart is now docked for the upgrade work on the very spot it was first built nearly a decade ago.
26 Juni 2025
Korea Utara Luncurkan Destroyer Kedua yang Sempat Mengalami Insiden
11 Juni 2025
Studi GICAT Tentang Prediksi Alutsista Laut Indonesia
11 Juni 2025
Fregat KRI RE Martadinata 331 dan LPD KRI dr Wahidin Sudiro Husodo 991 (photo: TNI AL)Group of French Industries for Land and Air Land Defence and Security atau yang lebih dikenal sebagai GICAT adalah kelompok profesional yang didirikan pada tahun 1978, memiliki lebih dari 480 anggota, kelompok besar, perusahaan menengah, dan UKM. Anggotanya mencakup spektrum luas kegiatan industri, penelitian, layanan, dan konsultasi untuk kepentingan komponen militer dan sipil nasional dan internasional yang terlibat dalam keamanan dan/atau pertahanan darat atau udara.
Pengaruh internasional GICAT didasarkan pada pameran dagang internasional EUROSATORY di Prancis dan Expodefensa di Kolombia, yang diselenggarakan oleh anak perusahaannya COGES Events, serta pada pameran dagang pertahanan dan/atau keamanan internasional dengan menyatukan sekitar sepuluh Paviliun Prancis per tahun.
Kali ini GICAT membuat kajian tentang alutsista yang akan muncul pada Blue Book Kementerian Pertahanan Indonesia tahun 2025, bukan dalam bidang alutsista darat dan udara namun dalam bidang alutsista laut dan marinir. Kita lihat alutsista apa saja yang masuk nominasi Kementerian Pertahanan Indonesia dalam kacamata GICAT.
Kapal Selam Interim
Kapal selam Type 212NFS (photo: Fincantieri)
Kementerian Pertahanan membutuhkan kapal selam interim untuk menunggu 2 kapal selam Lithium Ion Battery selesai yang dibuat oleh Naval Group bersama dengan PT PAL Indonesia. Dalam studi GICAT terdapat 5 kapal selam yang masuk nominasi sebagai kapal selam interim yaitu: S26T (CSSC-China), Type 212 CD (TKMS-Jerman), U214 TN (STM-Turki), Kapal selam dari Hanwha Ocean Korea Selatan yang belum diketahui tipenya, serta U212 NFS (Fincantieri-Italia).
Modernisasi kapal selam
Galangan kapal selam STM Turki mampu membuat dan memperbaiki kapal selam Type 209 dan Type 214 lansiran Jerman (photo: Turdef)
Kementerian Pertahanan mampunyai program Operational Readiness Enhancement (ORE) bagi 3 kapal selam Nagapasa class dari tipe DSME 209/1400. Dalam studi GICAT tercatat ada 4 galangan kapal yang masuk nominasi yaitu: STM (Turki), Fincantieri (Italia), TKMS (Jerman), dan Hanwha Ocean (Korea Selatan).
Kementerian Pertahanan membutuhkan kapal destroyer sebagai kapal kombatan permukaan dengan kemampuan blue water navy yang lebih gahar. Dalam studi GICAT tercatat ada 3 nominasi yaitu: Type 052D (CSSC-China), DDX (Fincantieri-Italia), serta KDX II (Hanwha Ocean-Korea).
Kapal selam mini
Kementerian Pertahanan membutuhkan kapal selam mini/midget untuk perang bawah air pada laut dangkal dan penyusupan pasukan khusus. Dalam studi GICAT tercatat ada 2 nominasi untuk kapal selam mini ini yaitu: STM 500 (STM-Turki) dan DGK (Drass-Italia).











%20(ex%20destroye%20(1).jpg)


.jpg)

.webp)

































