Tampilkan postingan dengan label TNI-AD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI-AD. Tampilkan semua postingan

21 September 2026

KSAD Akui TNI AD Kerahkan Dua Helikopter Baru untuk Antar Logistik ke Papua

21 September 2026

Helikopter baru Mi-35M TNI AD (photo: Keris Reborn)

Jakarta (ANTARA) - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) akan mengerahkan dua helikopter baru yang dibeli dari Rusia untuk mengantar logistik ke wilayah Papua.

Dua helikopter tersebut, yakni Mi-35M yang saat ini sudah berada di pangkalan Pusat Penerbang Angkatan Darat (Puspenerbad) Semarang pada awal September 2026 lalu.

"Mungkin operasional bulan 10 ada dua jenis yang bisa, jenis Kamov (angkut) yang bisa untuk membantu masyarakat," kata Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat ditemui di acara TNI Fair 2026 di Silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu.

Maruli menjelaskan selama ini pihaknya selalu mengerahkan helikopter untuk memberikan logistik berupa kebutuhan sandang, pangan, dan papan di wilayah Papua.

TNI AD menggunakan helikopter karena kondisi medan di wilayah Papua dipenuhi bukit dan pegunungan sehingga sulit untuk ditempuh menggunakan kendaraan darat.

"Kan ketinggian-ketinggian (dataran tinggi) itu sampai 2.000 kaki lebih di Papua itu," ungkap Maruli.

Helikopter Kamov Ka-32T masih menggunakan camo Rosavia (photo: Keris Reborn)

Kendati demikian, dia mengaku selama ini helikopter yang digunakan bukanlah milik TNI melainkan dari negara lain.

"Jadi, selama ini kita ini hanya bisa menyewa heli yang orang luar negeri punya. Sudah berpuluh tahun, ya," kata dia.

Saat ini, usai TNI AD memiliki dua helikopter baru itu, Maruli meyakini pengiriman logistik dapat dapat dilakukan dengan maksimal.

Helikopter tersebut, lanjut dia, mampu mengangkut muatan tiga sampai lima ton. Kemampuan tersebut membuat helikopter jenis tempur tersebut juga bisa mengangkut personel dalam jumlah banyak.

"Sehingga ini juga bisa sekalian dipakai untuk mendukung personil kita dalam membantu masyarakat," ucapnya.

Dengan adanya helikopter itu, Maruli mengharapkan operasi kemanusiaan yang dijalankan TNI AD di wilayah Papua bisa lebih maksimal.

(Antara)

17 September 2026

First Vehicle Pre-delivery Acceptance Tests Successfully Completed in the Kaplan APC Program Developed by FNSS and PT Pindad

17 September 2026

Kaplan APC (Harimau APC) tracked armoured personnel carrier (photos: FNSS)

Following the contract signed between PT Pindad and the Indonesian Ministry of Defense to meet the Indonesian army's requirement for a 30-ton class tracked armoured personnel carrier, the first KAPLAN APC (HARIMAU APC) was manufactured at FNSS facilities under the "KAPLAN Armoured Personnel Carrier (KAPLAN APC) Development and Production Agreement" signed between PT Pindad and FNSS. The vehicle's pre-delivery acceptance tests were successfully carried out in Türkiye with the participation of PT Pindad.

Following the shipment of the HARIMAU APC to Indonesia, final acceptance tests will be carried out together with the end user. Production activities for the second vehicle, to be manufactured at PT Pindad's facilities in Indonesia, are also continuing at the same time.


The KAPLAN APC (HARIMAU APC) Project, a continuation of the success achieved in the KAPLAN MT (HARIMAU) Project, has once again demonstrated FNSS's experience and success in technology transfer and local production.

Kaplan APC 
The structural design will enable vehicle to accommodate a crew of 13 personnel, including driver, commander, and a gunner. The vehicle will be developed to operate under all terrain and weather conditions. Its advanced suspension system will reduce internal vibration and improve traction. The vehicle will feature an open architecture electronics infrastructure, facilitating easy integration of various mission-critical systems, including a Battlefield Management System and 360° Situational Awareness System that provides both day and night vision for the crew.


The KAPLAN APC will be equipped with modular protection systems to effectively counter evolving battlefield challenges, providing a unique protection against ballistic and mine threats. In addition to its high personnel carrying capacity, the KAPLAN APC will be designed as the fastest vehicle in its class. Additionally, based on user requirements, the KAPLAN APC can be optionally fitted with an active protection system to defend against anti-tank missiles and rocket-propelled grenades.

The vehicle will be equipped with an automatic fire suppression system, an A/C system, and CBRN system, achieved through maintaining a sealed internal environment. These features will be designed to ensure the crew's survival and maintain their combat effectiveness in most challenging conditions.


The KAPLAN APC will be designed as a modular vehicle capable of integrating both manned and unmanned turret systems. It can be equipped with light and medium calibers such as 30 mm or 35 mm as well as 120 mm mortars and anti-tank guided missile systems.

This modular design will enable the KAPLAN APC to be configured for a wide array of missions, including mechanized infantry, reconnaissance, command and control, force protection, medical evacuation, rescue operations, combat engineering, and both direct and indirect fire support.


All these configurations are built on an armored combat vehicle platform that is equipped with a powerful engine and an automatic transmission, ensuring mobility capabilities compatible with modern main battle tanks.

The extensive use of identical parts and subsystems in the KAPLAN APC, with KAPLAN MT and other configurations within the KAPLAN tracked vehicle family, will offer significant advantages. Additionally, the vehicle will share common subsystems with the Armored Amphibious Assault Vehicle (ZAHA), which FNSS has deployed to the Turkish Naval Forces Marine Infantry Brigade. These features will ensure the KAPLAN APC's reliability, logistical integration, and ease of service, leveraging proven components from a battle-proven vehicle family used by the Turkish and Indonesian armies. This advantage will also reduce logistical burdens for global users, improve mean time between failures (MTBF), and enhance combat readiness.

11 September 2026

Rudal Mistral dan Stinger Siap Hadapi Target Udara di SGS 2026

11 September 2026

Latihan penembakanb sasaran udara dengan Manpads rudal Mistral (TNI AD) dan Stinger (US Army) dalam Super Garuda Shield 2026 (photos: TNI, DVIDS)

(Puspen TNI). Prajurit Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI Angkatan Darat bersama personel Air Defense US Army melaksanakan latihan penembakan sasaran udara menggunakan pesawat tanpa awak dalam rangka Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di *Lapangan Tembak Staling Armed* Puslatpur Kodiklat TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan, Rabu (9/9/2026).

Dalam latihan tersebut, Batalyon Arhanud 10/Dam Jaya mengoperasikan Rudal Mistral, sedangkan US Army menggunakan Rudal Stinger untuk menguji kesiapan dan kemampuan unsur pertahanan udara menghadapi ancaman dari udara. 

Usai penembakan, kegiatan dilanjutkan dengan penyematan Brevet Air Defence Indonesia kepada personel US Army dan Brevet Air Defence US Army kepada prajurit TNI. Penyematan brevet menjadi bentuk penghargaan atas kemampuan, dedikasi, dan profesionalisme prajurit sekaligus simbol kualifikasi dalam bidang pertahanan udara.

Latihan dan penyematan brevet tersebut memperkuat interoperabilitas serta kesamaan prosedur TNI dan US Army. 

Melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan, kedua negara terus meningkatkan kemampuan serta profesionalisme prajurit dalam membangun kesiapan pertahanan udara guna mendukung keberhasilan SGS 2026.

(ТNI)

10 September 2026

Meninjau Ulang Pasar Helikopter Militer Indonesia Sampai Tahun 2029

10 September 2026

Helikopter S-70 Black Hawk (photo: Sikorsky)

Beragam tantangan dihadapi dalam program modernisasi kekuatan pertahanan Indonesia sejak tahun 2020, satu di antaranya ialah keinginan pengambil keputusan agar sistem senjata yang dibeli dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Padahal kondisi industri dirgantara dan pertahanan dunia mengalami gangguan rantai pasok akibat pandemi Covid-19 yang disusul dengan invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. Perang dagang yang ditabuhkan oleh Amerika Serikat sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada awal 2025 menambah pukulan terhadap rantai pasok global, sebab terdapat negara-negara yang melakukan tindakan balasan terhadap Amerika Serikat sehingga mempengaruhi juga pasokan bahan baku maupun bahan olahan.

Konflik terbuka Amerika Serikat dan Israel versus Iran sejak 28 Februari 2026 memberikan gejolak terhadap terhadap industri dirgantara dan pertahanan internasional sebab menciptakan gangguan rantai pasok seperti helium cair, sulfur dan nafta.

Karena perkara keinginan agar peralatan pertahanan yang diimpor dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kontrak pengadaan 22 S-70M senilai US$585 juta antara PT Dirgantara Indonesia dan Sikorsky gagal memasuki tahap efektif.

AW-149M pesaing langsung dari S-70M pada kelas medium-heavy helikopter (photo: Leonardo)

Sesuai dengan kesepakatan kedua firma, waktu penyerahan gelombang pertama S-70M sebanyak lima unit adalah T0+32 bulan. Adapun keinginan Kementerian Pertahanan ialah helikopter buatan Amerika Serikat tersebut dapat diserahkan dalam 24 bulan setelah aktivasi kontrak, suatu hal yang mustahil mempertimbangkan berbagai faktor dalam kegiatan manufaktur.

Sebagai dampak kegagalan kegiatan akuisisi S-70M, PT Dirgantara Indonesia sebagai penerima program Helikopter Angkut Serbaguna dan Dukungannya harus mencari pemasok lain yang bisa memenuhi aspirasi Kementerian Pertahanan, termasuk jumlah minimal 30 unit dan bukan pesawat sayap putar bekas.

Peristiwa demikian sekaligus menandai perubahan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia sampai 2029, walaupun program Helikopter Angkut Serbaguna dan Dukungannya merupakan program Minimum Essential Force (MEF) 2020-2024. Sikorsky diperkirakan tidak akan dapat mengisi peluang pasar pada Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029 mengingat pengalaman yang dialami pada MEF 2020-2024.

Selain itu, karakter perseroan seperti Sikorsky yang menerapkan secara ketat good governance and compliance tidak cocok dengan kondisi pasar helikopter militer Indonesia hingga ujung dasarwarsa ini. Mengapa terjadi perubahan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia sampai 2029?

Bell 412EPX dapat melanjutkan kebutuhan akan medium lift helicopter (photo: Bell Textron)

Pertama, perencanaan akuisisi. Perencanaan akuisisi yang dianut saat ini selain bersifat top-down juga bersifat tertutup walaupun dana yang dipakai dalam belanja peralatan perang adalah Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan bukan uang pribadi pejabat pemerintah.

Dengan alokasi PLN yang bersifat gelondongan yakni US$34,8 miliar dan semuanya telah menerima Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) dari Menteri Keuangan, tidak tersedia informasi detail program helikopter yang diakomodasi oleh pemerintah guna mendapatkan pembiayaan. Andaikata informasi itu tersedia, dapat dipastikan pabrikan rotorcraft mana saja yang mungkin akan bersaing di pasar Indonesia.

Kedua, alokasi anggaran program. Mengingat bahwa tidak tersedia data lengkap mengenai kegiatan akuisisi pesawat sayap putar bagi TNI dalam OEF 2025-2029, maka tidak diketahui berapa nilai pasar helikopter militer Indonesia hingga dasawarsa ini selesai.

Nilai pasar dapat diketahui dari alokasi anggaran total yang disiapkan bagi pembelian wahana terbang yang tidak membutuhkan landas pacu tersebut. Sebagai ilustrasi, pada MEF 2020-2024 kuota pengadaan helikopter dalam PLN lebih dari US$1,5 miliar, di mana angka itu sudah termasuk PSP tahun 2025.

Helikopter Mi-17V5 baru dengan nomor HA-5235 terlihat di lanud Husein Sastranegara, Bandung (photo: Arafina)

Ketiga, preferensi skema akuisisi. Uraian pada butir kesatu dan butir kedua berimplikasi pula pada perubahan preferensi skema pembelian rotorcraft bagi kepentingan pertahanan. Bila sebelumnya pengadaan pesawat sayap putar dilakukan lewat kerja sama antara BUMN industri dirgantara dan mitra asing BUMN itu, kini kecenderungan yang lebih disukai ialah akuisisi melalui peran makelar. Dengan kondisi seperti itu, beberapa produsen helikopter global diprediksi akan menemui kesukaran dalam mempertahankan posisi pasar dan atau melaksanakan penetrasi pasar di Indonesia.

Lalu seperti apa proyeksi pasar rotorcraft militer Indonesia dalam beberapa tahun ke depan? Seberapa besar peluang pemain lama mempertahankan posisi di pasar negeri ini? Seberapa besar pemain baru dapat memiliki pijakan di pasar Indonesia yang penuh tantangan? Apa dampak dinamika pasar yang terjadi saat ini terhadap industri manufaktur pesawat terbang Indonesia?

Pertama, proyeksi pasar. Sebagai dampak tidak ada transparansi dalam rencana belanja pertahanan yang dibiayai oleh PLN, sulit untuk menetapkan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia selama OEF 2025-2029 berikut nilai pasar dalam denominasi dolar Amerika Serikat.

Ketertutupan rencana belanja pula memungkinkan terjadi perubahan anggaran maupun kuantitas pesawat sayap putar yang akan dibeli. Salah satu hal yang dapat diproyeksikan adalah kemungkinan akuisisi merupakan gabungan dari unit baru dan unit bekas, apalagi fakta menunjukkan keinginan pembeli agar rotorcraft dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Helikopter Mi-35M terlihat menggunakan camo TNI AD di area apron Pangkalan Udara Angkatan Darat Ahmad Yani, Semarang, sebelumnya TNI AD merupakan pengguna helikopter Mi-35P (photo: Keris Reborn)

Kedua, pergantian dominasi pabrikan. Airbus Helicopters nampaknya sulit mempertahankan posisi di pasar militer Indonesia mengingat kebijakan perusahaan itu terkait good governance and compliance, sementara Bell Textron berpeluang kembali mempertahankan pasar di negeri ini lewat Bell 412 jika bermitra dengan perusahaan lokal seperti PT Dirgantara Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia semakin berani mengabaikan CAATSA sebagaimana ditandai dengan pembelian sejumlah helikopter bekas Mil Mi-17 buatan Rusia tahun ini lewat jasa makelar. Leonardo akan menjadi pemain baru berkat penjualan ke pemerintah Indonesia melalui peran makelar, sedangkan Sikorsky dan Boeing sukar mengikuti jejak pabrikan Inggris-Italia di Indonesia karena alasan good governance and compliance.

Ketiga, dampak bagi industri pesawat terbang domestik. Apakah program pengadaan pesawat putar pada OEF 2025-2029 akan memberikan porsi pekerjaan yang signifikan di bidang aerostructure bagi PT Dirgantara Indonesia? Terdapat keraguan terhadap hal tersebut, apalagi seumpama pengadaan unit baru dilakukan oleh makelar, begitu juga jika unit yang diimpor ialah rotorcraft bekas.

Di sisi lain, PT Dirgantara Indonesia nampaknya tidak berminat untuk memperdalam kemitraan dengan Airbus Helicopters, walaupun masih memproduksi sejumlah komponen H225M, karena sejumlah alasan yang berakar pada rasa percaya (trust). Mengacu pada proyeksi yang sudah diuraikan, nampaknya sulit menjadikan pasar helikopter militer Indonesia atraktif bagi semua produsen karena tidak ada level playing field.

Airbus Helicopters mungkin saja dapat mempertahankan posisi di pasar Indonesia bila ada dukungan politik dari pemerintah Prancis, khususnya bagi H225M yang berakar pada SA330 buatan Aerospatiale. Tanpa dukungan politik dari pemerintah Amerika Serikat, sulit mengharapkan Sikorsky dan Boeing mempunyai pijakan di pasar yang sama, baik untuk S-70M maupun CH-47F. (Alman Helvas Ali)

08 September 2026

Super Garuda Shield: Joint Land Strike

08 September 2026

AH-64E Apache from TNI and US Army on Joint Land Strike during Super Garuda Shield 2026 (photos: Garuda Shield, Antara)

U.S. Army, Indonesian Air Force and Australian Terminal Attack Controllers conducted a multi-day, Joint Land Strike exercise during Super Garuda Shield 25 in Baturaja, Indonesia.

The Joint Land Strike underscores continued partnership and interoperability amongst the partner nation forces. (Garuda Shield)


TNI, US Army conduct night flight training
Jakarta (ANTARA) - Pilots from the Indonesian National Armed Forces (TNI) and the US Army conducted joint night flight training as part of the massive Super Garuda Shield 2026 exercises.

Operating side-by-side in Boeing AH-64 Apache combat helicopters, the TNI and US Army pilots executed complex tactical maneuvers and target engagements under cover of darkness at the Indonesian Army Training Center in Martapura, South Sumatra, on Wednesday (September 2).


According to a press statement released Friday by the TNI Headquarters Information Center, the nocturnal exercise targeted low-light combat proficiency and joint operational capability.

Military officials confirmed the flight drills were completed smoothly without incident, adhering strictly to international flight safety protocols.

The night flight training is aimed at honing individual pilot proficiencies while fostering technical cooperation and tactical knowledge exchange between the two armed forces.


The 2026 iteration of Super Garuda Shield involves 4,743 personnel from 21 participating and observing countries, aimed at testing operational readiness, strengthening defense diplomacy, and improving joint responses to regional security challenges.

Speaking earlier in Bandung, West Java, TNI Commander General Agus Subiyanto detailed the expanding international scope of the training program, which encompasses 12 specialized defense topics.


"Super Garuda Shield is held annually in Indonesia. This year, 21 countries participated... covering 12 topics,” Gen. Subiyanto stated.

The multi-week multinational exercise spans major strategic hubs across the archipelago, including training areas in Jakarta, Bandung, Lampung, North Kalimantan's Nunukan region, and the Baturaja combat center in South Sumatra.


Participating forces include troops and observers from Australia, Brazil, Brunei Darussalam, Cambodia, Canada, France, Germany, India, Italy, Japan, Laos, the Netherlands, New Zealand, Singapore, South Korea, Thailand, Timor-Leste, the United Kingdom, the United States, Vietnam, and host nation Indonesia.

Super Garuda Shield 2026 is scheduled to formally conclude in Jakarta on September 11.

02 September 2026

Peresmian Batalyon Armed 22/Kesumawira

02 September 2026

Rudal balistik taktis Khan/ITBM-600 berjangkauan 280 km melengkapi YonArmed 22 (photos: YonArmed 22, Polri)

Kutai Kartanegara, Pada tanggal 19/08/2026 Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi meresmikan Batalyon Armed 22/Kesumawira yang bertempat di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan peresmian turut dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI dan Polri serta unsur Forkopimda di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Danpussenarmed, Danrem 091/ASN, Danrem 092/MRL, Bupati Kutai Kartanegara, unsur Muspida, serta para Mitra satuan.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi melaksanakan penyerahan Tunggul Batalyon Armed 22/Kesumawira kepada Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., selaku Komandan Batalyon Armed 22/Kesumawira.

Penyerahan Tunggul tersebut menjadi simbol resmi berdirinya Batalyon Armed 22/Kesumawira sekaligus menjadi tonggak awal dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian satuan di wilayah Kalimantan Timur.


Dengan diresmikannya Batalyon Armed 22/Kesumawira, diharapkan satuan ini mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

Sebagai satuan baru, Batalyon Armed 22/Kesumawira akan terus membangun soliditas, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan seluruh komponen masyarakat.


Momentum peresmian ini menjadi awal perjalanan pengabdian Batalyon Armed 22/Kesumawira dalam menjaga kehormatan satuan, melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

02 Agustus 2026

Kogabwilhan I dan Pasmar 1 Kembangkan Drone Serbu Otomatis

02 Agustus 2026

Drone serbu otomatis hasil kolaborasi Kogabwilhan I dan Pasmar 1 (photos: PasMar1)

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Kogabwilhan I) bersama Pasmar 1 berkolaborasi mengembangkan drone serbu otomatis sebagai inovasi teknologi pertahanan. Alutsista ini rencananya akan diuji pada Latihan TNI Terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.


Pengembangan drone ini ditujukan untuk mendukung operasi di medan sulit dijangkau, mempercepat respons terhadap sasaran, dan mengoptimalkan teknologi modern bagi prajurit. Uji coba difokuskan pada keandalan sistem, mobilitas, dan efektivitas di berbagai medan dengan melibatkan unsur darat, laut, dan udara.


Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Danpasmar 1 Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., meninjau langsung uji coba di Lapangan Tembak Jusman Puger, Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (29/07/2026). Kolaborasi ini wujud sinergi modernisasi pertahanan untuk meningkatkan kesiapan operasional prajurit menghadapi tantangan tugas yang dinamis.

24 Juli 2026

Helikopter Mi-17V5 TNI AD Laksanakan Muatan Gantung (Sling Load)

24 Juli 2026

Mi-17V5 TNI AD latihan sling load (photos: Skadron 31/AYC)

Latihan sling load merupakan bagian penting dalam menjaga kesiapan awak dan alutsista untuk mendukung mobilitas logistik serta berbagai misi operasi. 

Setiap prosedur dilaksanakan dengan standar keselamatan tinggi demi tercapainya keberhasilan tugas.

Skadron Udara 31/Amur Yudha Cakti (atau Skadron 31/Serbu) merupakan skadron udara dibawah kendali Pusat Penerbangan Angkatan Darat yang bermarkas di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. 

Skadron 31/Amur Yudha Cakti selain berperan sebagai satuan penerbangan TNI Angkatan Darat dalam Operasi Militer Perang (OMP), juga berperan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

(Skadron 31/AYC | Wiki)

16 Juli 2026

Kunjungan Danpuspenerbad ke Skadron 31/AYC Dalam Rangka Operasional Alutsista Baru

16 Juli 2026

Helikopter brand news Puspenerbad Mi-17V5 nomor HA-5234 dan HA-5235 (photos: Skadron 31/AYC)

Dalam rangka meningkatkan kesiapan dan keselamatan operasional penerbangan, Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Danpuspenerbad) melaksanakan kunjungan kerja yang dirangkaikan dengan doa bersama sebagai wujud ikhtiar memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh personel serta Alutsista helikopter yang baru.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, kebersamaan, dan profesionalisme dalam mendukung tugas pokok Penerbad. Dengan harapan, setiap pelaksanaan operasi penerbangan senantiasa diberikan kelancaran, keamanan, serta keberhasilan dalam mengemban setiap tugas demi kepentingan bangsa dan negara.


Proff Flight Helikopter Mi-17V5 No HA-5234 & HA-5235
Dalam rangka mendukung kesiapan pelaksanaan tugas operasi, Helikopter Mi-17V5 HA-5234 dan HA-5235 melaksanakan Proof Flight sebagai bagian dari tahapan untuk memastikan kesiapan alutsista dalam mengemban berbagai misi penerbangan.

Pelaksanaan kegiatan ini mencerminkan komitmen Penerbad TNI Angkatan Darat dalam menjaga profesionalisme, kesiapan operasional, serta keselamatan terbang, sehingga setiap alutsista senantiasa siap digerakkan kapan pun dan di mana pun negara memanggil.

Dengan semangat “Mental Juara”, Skadron-31/Amur Yudha Cakti terus berkomitmen menghadirkan kemampuan terbaik dalam mendukung setiap tugas operasi demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Skadron 31/AYC)

08 Juli 2026

Gandeng NVLS, Pindad Jalin Kemitraan Kembangkan Night Vision Googles

07 Juli 2026

Kerjasama Pindad-NVLS meliputi produksi lokal dan pengembangan NVG monokular dan binokular (photo: Pindad)

PT Pindad (Persero), manufaktur pertahanan terkemuka di Indonesia menjalin kemitraan dengan Nightvisions Lasers Spain (NVLS), produsen sistem penglihatan malam terkemuka dari Eropa untuk produksi lokal dan pengembangan Night Vision Googles (NVG) monokular dan binokular. Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan Technical Assistance and Commercial Collaboration Contract oleh Direktur Teknologi, Pengembangan dan Manajemen Risiko (Dirtekbang & MR), Prima Kharisma yang mewakili Direktur Utama Pindad dan CEO NVLS, Jorge de la Torre pada Eurosatory, 15 Juni 2026 di Paris, Perancis. 

Kerja sama antara Pindad dan NVLS meliputi produksi lokal dan alih teknologi dalam manufaktur NVG, serta dukungan teknis NVLS. Kemitraan ini akan memperkuat kapabilitas nasional Indonesia di bidang penglihatan malam serta meningkatkan kapasitas Pindad dalam memenuhi kebutuhan operasional TNI yang terus berkembang.

Dirtekbang & MR, Prima Kharisma menegaskan komitmen Pindad untuk terus berinovasi dan memperkuat kerja sama strategis untuk mendukung kemandirian industri pertahanan nasional. "Sebagai industri pertahanan dalam negeri, Pindad berkomitmen untuk dapat mendukung kebutuhan alpalhankam TNI di berbagai operasi, melalui inovasi dan kerja sama strategis. Kerja sama ini juga akan meningkatkan kompetensi kita sebagian bagian dari upaya mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Prima. 


Produk NVG ini dapat meningkatkan fleksibilitas operasi dengan menyediakan kemampuan penglihatan malam  hari dan deteksi cahaya rendah yang canggih bagi operasi yang dilaksanakan di lingkungan dengan kondisi visual yang terbatas atau terdegradasi. Sebagai produsen alpalhankam nasional, Pindad akan dapat menawarkan kepada TNI platform persenjataannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan penglihatan malam modern sesuai kebutuhan operasi pada malam hari maupun dalam kondisi minim cahaya.

NVLS merupakan produsen NVG dan  malam terkemuka di dunia dengan sistem penglihatan malam canggih yang diakui secara global, dengan produk yang sudah digunakan oleh berbagai institusi pertahanan dan keamanan di Eropa serta pasar internasional lainnya. Produk NVLS menawarkan bidang pandang (field of view) yang lebih luas, yaitu 52°, dibandingkan dengan 40° yang umumnya terdapat pada NVG konvensional, sehingga memberikan kesadaran situasional yang lebih baik bagi personel yang beroperasi di lapangan. 

Melalui kerja sama ini Pindad diharapkan dapat mendukung operasional TNI dalam berbagai kondisi serta meningkatkan kapabilitas produksi alpalhankam nasional dalam bidang sistem penglihatan malam dan deteksi cahaya rendah yang canggih.

23 Juni 2026

CSG Presented the Trident Multi-layered Air Defence System at Eurosatory 2026

23 Juni 2026

In April 2026 CSG recorded contracts for the delivery of air defense systems worth nearly $2.5 billion for customers in Southeast Asia, could be Indonesia (photo: CSG)

The industrial and technology group CSG, together with its partners, presented the new Trident multi-layered air defence system at the international defence and security technology trade fair Eurosatory 2026 in Paris. The system is designed to protect military formations, strategic facilities and larger territorial units against a broad spectrum of aerial threats, including aircraft, helicopters, guided missiles, unmanned aerial vehicles and other types of targets.

The Trident system is designed as a modular short-, medium- and long-range air defence system. Its specific configuration may vary depending on the customer’s operational requirements. In addition to surface-to-air guided missiles, the system can also integrate assets using gun-based weapon systems, systems designed to counter drones and other unmanned aerial vehicles, as well as electronic warfare or jamming elements.

“The presentation of the Trident system at Eurosatory is proof of the continued development of our capabilities in the field of air defence. CSG Group has long demonstrated that it is able to execute complex international projects, integrate cutting-edge technologies from its own companies and foreign partners, and offer customers tailor-made solutions including financing, logistics and long-term support,” said Viktor Loužil, CSO at Excalibur International, which plays a main role within CSG group in the field of air defence systems.

Trident Multi-layered Air Defence System (photo: DefenseMagz)

A multi-layered air defence system as the result of international cooperation
Several companies from CSG Group, as well as a traditional foreign partner, are involved in the production and integration of the Trident system. Excalibur International is the architect and main integrator of the system and offers it to its customers worldwide. Retia manufactures radars for the Trident system and also supplies the command and control system. Tatra Trucks provides the Tatra Force chassis platforms on which the individual elements of the system are mounted. Tatra Defence is responsible for the development and production of armoured cabins for Tatra Force platform, superstructures and launcher systems for surface-to-air missiles. Cooperation’s strategic partner, Roketsan of Türkiye, supplies state of the art short-, medium- and long-range surface-to-air air defence missiles and launching structures.

This cooperation has created a solution that combines the experience of the Czech defence industry in vehicle platforms, radar technologies, system integration and command and control systems with the missile technologies of the Turkish strategic partner. A similar model of cooperation has already proven successful in previous Excalibur International projects, where Czech companies supplied, among other things, radars and Tatra chassis and played a key role in system architecture and integration.

In its standard configuration, the Trident system uses various types of surface-to-air missiles covering ranges up to 100 km utilizing IIR and Active RF Seekers. Thanks to this combination, the system can create a multi-layered air defence solution against various types of targets and respond to the changing conditions and requirements of the modern battlefield.


A Trident system battery includes several specialised vehicles on Tatra platforms. These include the FCC – Fire Control Center system in the form of the modular ReCUBE platform; the MLV – Missile Launching Vehicle; the MRV – Missile Reloading Vehicle; cutting-edge mobile 3D AESA radars ReSAURION – RSB21 with a range of 200 km and RSB41 with a range of 470 km; and the MSV – Maintenance Support Vehicle. In an expanded configuration, the Trident system can also be enhanced with C-UAS elements for protection against drones, such as the ReGUARD radar, gun-based weapon systems with airburst ammunition, and C-UAS interceptors, which are miniature surface-to-air guided missiles whose task is to kinetically engage enemy drones and thereby conserve the powerful surface-to-air missiles of the basic configuration.

Mobile reconnaissance, command, control and communication centre
The basic element of the Trident air defence system is the modular ReCUBE platform, developed and manufactured by Retia. ReCUBE is a mobile command, control and communication centre that provides integrated real-time control of the Trident system’s sensors, such as radars, electro-optical search and targeting elements, and effectors, such as surface-to-air launch platforms and gun-based weapon systems, using optical, radio and ground data links.

ReCUBE mobile command, control and communication centre of Trident (photo: EDR Magz)

ReCUBE integrates state-of-the-art technologies for air reconnaissance, command, control and communication. The platform supports both standard and classified operating modes and meets strict requirements for electromagnetic compatibility, EMC, and protection against weapons of mass destruction. The architecture of the ReCUBE platform also enables its operational deployment not only within the Trident system, but also at other levels of air defence command, both tactical and strategic.

Excalibur International’s business successes in air defence systems
Trident builds on Excalibur International’s long-term activities in the field of complex air defence systems. In recent years, the company has been particularly successful in Southeast Asian markets, where it is carrying out major air defence projects. These experiences were followed by additional business contracts announced in April 2026, when Excalibur International concluded contracts in Southeast Asia worth nearly USD 2.5 billion for the supply of several batteries of multi-layered air defence systems on Tatra chassis. The contracts include not only the systems themselves, but also extensive logistics support, personnel training, spare parts deliveries, support infrastructure and the arrangement of export financing.

(CSG)

15 Juni 2026

Yoarmed 22 Adakan Pelatihan MLRS ITBM

15 Juni 2026

Batalyon Artileri Medan 22/Kesumawira adalah batalyon artileri TNI Angkatan Darat di bawah Kodam VI/Mulawarman yang bwrmarkas di Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang mengoperasikan alutsista strategis terbaru berupa MLRS ITBM (Indonesia Tactical Ballistic Missile) dengan rudal darat-ke-darat KHAN (photos: Yonarmed 22)

Tenggarong — Danyonarmed 22/Kesumawira, Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., memimpin acara pembukaan latihan Incountry Training Transfer of Knowledge Trak MLRS ITBM menandai secara resmi kegiatan pelatihan dimulai. 

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperdalam pengetahuan, meningkatkan kompetensi teknis, serta memperkuat pemahaman operasional sistem MLRS ITBM.


Pelaksanaan Incountry Training TA. 2026 melibatkan professional instructor dan expertise dari tiga korporasi berbeda yaitu Excalibur International, Tatra Defense Vehicle Systems, dan Roketsan International. Kegiatan Incountry Training dijadwalkan akan berlangsung hingga akhir bulan Juli 2026.

Melalui transfer ilmu dan pengalaman yang berkelanjutan, diharapkan seluruh peserta mampu menguasai teknologi yang ada secara optimal guna mendukung kesiapan satuan dalam menjalankan setiap tugas yang diemban.


“Belajar hari ini untuk kesiapan yang lebih baik esok hari. Profesional, kompeten, dan siap mengabdi untuk bangsa dan negara.” 

01 Juni 2026

Technical Representative Pemeliharaan Meriam Caesar

01 Juni 2026

Meriam Caesar 155mm di Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara (photo: TNI AD)

Dalam upaya menjaga kesiapan operasional alutsista serta meningkatkan profesionalisme prajurit Artileri Medan, kegiatan Technical Representative Meriam Caesar dilaksanakan di Yonarmed 9 dan Yonarmed 12. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen dalam memastikan setiap sistem persenjataan tetap berada pada kondisi terbaik, siap operasional, dan mampu mendukung pelaksanaan tugas satuan secara maksimal.

Pemeliharaan berkala meriam GS Caesar TNI AD (photo: BengPusArmed)

Meriam Caesar sebagai salah satu alutsista modern TNI AD memiliki kemampuan tempur yang mengandalkan kecepatan, akurasi, dan teknologi tinggi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus melalui pendampingan teknis, pemeriksaan menyeluruh, pemeliharaan berkala, serta evaluasi sistem secara profesional guna menjaga performa dan ketahanan alutsista di medan tugas.


Melalui kegiatan Technical Representative ini, personel teknis dan prajurit pengawak mendapatkan pendalaman materi serta pendampingan langsung terkait sistem kerja, penanganan teknis, hingga troubleshooting pada Meriam Caesar. Hal tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia sekaligus memperkuat kesiapan tempur satuan Armed dalam menghadapi dinamika tugas yang semakin kompleks dan modern.


Semangat loyalitas, dedikasi, disiplin, dan militansi terus ditunjukkan oleh seluruh personel dalam setiap pelaksanaan tugas. Karena di balik kekuatan daya gempur Artileri Medan, terdapat prajurit-prajurit teknis yang bekerja penuh tanggung jawab demi memastikan setiap alutsista selalu siap digerakkan kapan pun negara memanggil.


Kegiatan ini juga menjadi simbol sinergi, profesionalisme, dan transformasi modernisasi TNI AD dalam mewujudkan sistem pertahanan yang tangguh, adaptif, dan berdaya tempur tinggi. Dengan penguasaan teknologi yang semakin baik, prajurit Armed siap menjaga kehormatan korps serta mengawal kekuatan pertahanan negara dengan penuh kebanggaan.