Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

30 September 2026

Elbit Systems Mengirimkan Munisi D11A ke Thailand

30 September 2026

D11A adalah sistem peluncur roket ganda (multi-purpose self-propelled multiple rocket launcher) hasil kerja sama antara Thailand dan Elbit Systems, Israel (photo: Deepbluesea)

Reporter urusan militer Thailand, Wassana Nanuam, melaporkan bahwa perusahaan pertahanan Israel, Elbit Systems, telah mengirimkan amunisi roket D11A ke Thailand, termasuk sistem dengan jangkauan yang dilaporkan hingga 450 km.

Ia mengatakan roket-roket tersebut telah diserahkan kepada Angkatan Darat Kerajaan Thailand untuk persiapan jika diperlukan.

Wassana juga melaporkan bahwa China telah mengirimkan munisi DTI 1G ke Thailand. (Khaosod)

Mengapa roket D11A dapat memiliki jangkauan hingga 450 km?

Menyusul perdebatan tentang rudal D11A, yang diteliti, dikembangkan, dan diproduksi bersama oleh Defence Technology Institute (DTI) dan Israel, dengan jangkauan hingga 450 km, dan setelah laporan bahwa Israel telah mengirimkan berbagai rudal dengan jangkauan berbeda ke Angkatan Darat Kerajaan Thailand,

informasi dari DTI menunjukkan bahwa jangkauan 450 km dari D11A berarti bahwa dengan menambahkan perpanjangan jangkauan 150 km ke amunisi jangkauan 300 km, ia dapat mencapai hingga 450 km. Namun, kita mungkin tidak membutuhkan jangkauan 450 km; itu adalah kemampuan, karena 300 km sudah cukup untuk mencapai target penting, jantung musuh.

DTI 1G adalah sistem peluncur roket ganda berpandu berkaliber besar milik dari Thailand yang dikembangkan melalui kerja sama alih teknologi dengan China (photo: Oryx)

Karena meskipun Angkatan Darat Kerajaan Thailand membeli rudal Himars dari AS di masa depan, belum dipastikan apakah AS akan menjual amunisi dengan jangkauan 300 km.

Namun Angkatan Darat Kerajaan Thailand sudah memiliki rudal D11A dengan jangkauan 300 km dalam stok.

Laporan menunjukkan bahwa lebih banyak rudal D11A sedang diproduksi saat ini. 

(Wassana Nanuam)

02 September 2026

Peresmian Batalyon Armed 22/Kesumawira

02 September 2026

Rudal balistik taktis Khan/ITBM-600 berjangkauan 280 km melengkapi YonArmed 22 (photos: YonArmed 22, Polri)

Kutai Kartanegara, Pada tanggal 19/08/2026 Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi meresmikan Batalyon Armed 22/Kesumawira yang bertempat di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan peresmian turut dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI dan Polri serta unsur Forkopimda di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Danpussenarmed, Danrem 091/ASN, Danrem 092/MRL, Bupati Kutai Kartanegara, unsur Muspida, serta para Mitra satuan.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi melaksanakan penyerahan Tunggul Batalyon Armed 22/Kesumawira kepada Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., selaku Komandan Batalyon Armed 22/Kesumawira.

Penyerahan Tunggul tersebut menjadi simbol resmi berdirinya Batalyon Armed 22/Kesumawira sekaligus menjadi tonggak awal dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian satuan di wilayah Kalimantan Timur.


Dengan diresmikannya Batalyon Armed 22/Kesumawira, diharapkan satuan ini mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

Sebagai satuan baru, Batalyon Armed 22/Kesumawira akan terus membangun soliditas, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan seluruh komponen masyarakat.


Momentum peresmian ini menjadi awal perjalanan pengabdian Batalyon Armed 22/Kesumawira dalam menjaga kehormatan satuan, melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

29 Agustus 2026

New Zealand Membeli Recoilless Rifle Carl Gustaf M4

29 Agustus 2026

Carl-Gustaf M4 Multi-Role Weapon System (photo: Reddit)

Kementerian Pertahanan (MoD) New Zealand telah memberikan kontrak kepada Saab untuk memasok 26 sistem senjata tanpa tolak balik Carl Gustaf M4 bagi Angkatan Darat New Zealand; hal ini disampaikan oleh juru bicara New Zealand Defence Force (NZDF) kepada Janes.

Sistem tersebut diperkirakan akan dikirimkan pada kuartal pertama tahun 2027, tambah juru bicara tersebut. Nilai kontrak, yang juga mencakup peralatan pendukung, tidak diungkapkan.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa setelah mulai digunakan oleh Angkatan Darat New Zealand, M4 akan menggantikan varian M3 yang telah beroperasi sejak awal tahun 2010-an. "Sistem M3 telah mencapai akhir masa pakainya yang telah dijadwalkan," tambah juru bicara itu.

Menurut juru bicara tersebut, M4 akan menggantikan M3 di seluruh unit Angkatan Darat New Zealand  yang saat ini dilengkapi dengan senjata tersebut, termasuk Batalion ke-1 dan Batalion ke-2/1 dari Resimen Infanteri Kerajaan New Zealand (Royal New Zealand Infantry Regiment), Resimen Lapangan ke-16 (16 Field Regiment), dan Sekolah Tempur (Combat School).

Pengadaan ini mendukung program modernisasi pertahanan New Zealand yang lebih luas di bawah Rencana Kapabilitas Pertahanan 2025 (2025 Defence Capability Plan), yang mengalokasikan dana sebesar NZD12 miliar (USD7,1 miliar) untuk investasi kapabilitas dari tahun 2025 hingga 2028. Belum ada pengumuman mengenai pesanan lanjutan untuk M4.

Kedua varian tersebut menggunakan amunisi kaliber 84 mm dan mampu menyerang kendaraan lapis baja, bangunan, serta personel. M4 memiliki berat 6,7 kg dan panjang kurang dari 1 meter, dibandingkan dengan M3 yang memiliki berat sekitar 10 kg dan panjang 1,13 meter.

24 Agustus 2026

Indonesia-China Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Misil dan Roket

24 Agustus 2026

Rudal antikapal C-705 buatan China yang baru saja ditembakkan dari KRI Sampari 628 di Dabo Singkep pada 5/8/2026 (photos: TNI AL)

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia akan menjajaki kerja sama dengan China (Tiongkok) untuk mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk teknologi pembuatan misil dan roket. Kerja sama tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan 2+2 antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan RI-RRT, Jumat, 21 Agustus 2026 di Kemlu RI, Jakarta.

Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama industri pertahanan Indonesia-Tiongkok akan melanjutkan sejumlah pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya mencakup kerja sama pembangunan pabrik amunisi di Indonesia.

"Kita akan kerja sama di dalam pabrik amunisi. Kita akan kerja sama dengan misil, roket dan sebagainya yang belum kita buat," kata Sjafrie seusai pertemuan 2+2 yang berlangsung di Gedung Nusantara.


Menurut Sjafrie, Tiongkok juga diharapkan dapat membantu Indonesia melalui transfer teknologi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memperoleh produk pertahanan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi serupa secara mandiri.

"Dia (Tiongkok-red) bantu dan dia akan kirim transfer teknologi. Agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia," ujarnya menambahkan.

Sjafrie menegaskan, transfer teknologi menjadi salah satu hal yang ditekankan Indonesia dalam pembahasan kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia ingin mengembangkan kemampuan teknologi militernya dengan memanfaatkan pengalaman dan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa. Dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh RRT," ucap Sjafrie.

UCAV CH-4 Rainbow milik TNI AU dipersenjatai dengan rudal AR-1 dan AR-2 (photo: Jane's)

Ia menyebut, pengembangan teknologi misil dan roket tersebut ditargetkan mulai direalisasikan di Indonesia paling lambat pada 2027. Kerja sama itu akan dilakukan dalam bentuk pengembangan bersama atau joint development.

"Ini paling lambat 2027 (dimulai-red). Jadi joint development yang pindah pasti PT Pindad," ujar Sjafrie.

Selain industri pertahanan, Indonesia dan Tiongkok juga terus mengembangkan kerja sama di bidang latihan militer. Salah satunya melalui Heping Garuda yang dijadwalkan berlangsung sekitar September-Oktober 2026.

Rudal AR-1 dan AR-2 pada UCAV CH-4 Rainbow (photo: GlobalSecurity)

Sjafrie mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari pembinaan dan peningkatan kerja sama militer kedua negara. Termasuk melalui pertukaran personel baik secara individu maupun satuan.

“Heping Garuda di tahun 2026 ini sama dengan Garuda Shield yang dilaksanakan bulan September. Jadi di dalam pembinaan latihan kemudian tukar-menukar personel, itu kita lakukan baik secara perorangan maupun secara kesatuan,” ucap Menhan RI.

“Heping Garuda di sekitar September-Oktober. Saya kurang jelas (lokasi-red), mungkin di sekitar Sumatra.”

Pertemuan 2+2 RI-RRT turut dihadiri Menhan Dong Jun, Menlu Sugiono serta Menlu Wang Yi. Pelaksanaannya dilakukan setelah Dialog Strategis Komprehensif (CSD) pertama RI-RRT di Kemlu RI, Jakarta.

(RRI)

23 Agustus 2026

BRIN Optimistis Kuasai Teknologi Roket Dua Tingkat, Bidik Uji Terbang 2029

23 Agustus 2026

Platform yang akan digunakan untuk roket dua tingkat adalah RX 450 (photos: BRIN)

Bogor – Humas. Pengembangan roket dua tingkat menjadi salah satu fokus riset teknologi roket BRIN menuju target uji terbang pada 2029. Dalam peta jalan terbaru, sejumlah teknologi kunci disiapkan secara bertahap, mulai dari motor roket RX 450, sistem separasi, sistem kontrol, hingga telemetri.

Pengembangan tersebut mendapat dukungan melalui Program Riset Invitasi Strategis (PRIS). Skema pendanaan ini memberikan ruang bagi periset untuk menjalankan tahapan riset sesuai dengan target yang telah disusun dalam peta jalan pengembangan roket dua tingkat.

“Kehadiran PRIS sangat membantu dan membuat teman-teman periset semakin bersemangat dalam menjalankan riset. Dukungan ini turut membuka ruang bagi periset untuk fokus pada pencapaian teknologi kunci. Salah satunya adalah pengembangan motor roket RX 450 yang menjadi bagian penting dalam peta jalan pengembangan roket dua tingkat,” kata Kepala Pusat Riset Teknologi Roket (PRTR) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Nur Hakim, dalam Town Hall Meeting Peta Jalan Penerbangan dan Keantariksaan, Jumat (14/8).


Dalam pertemuan tersebut, Arif memaparkan peta jalan terbaru pengembangan roket dua tingkat yang disusun berdasarkan evaluasi capaian teknologi terkini. Peta jalan tersebut menargetkan uji terbang pada 2029. Ia menjelaskan, penyesuaian tahapan dilakukan sebagai bagian dari proses pematangan riset agar peta jalan lebih solid dan realistis, terutama dalam penguasaan teknologi kunci seperti sistem kontrol dan telemetri.

“Peta jalan tersebut disusun berdasarkan asumsi dan tingkat penguasaan teknologi pada saat itu. Setelah dilakukan evaluasi, setiap tahapan perlu dipastikan dapat dikuasai dengan baik, terutama dalam mendukung pencapaian dan perolehan data yang dibutuhkan,” ia menjelaskan.

Menurut Arif, tahapan menuju 2029 sudah disusun secara bertahap dan terukur. Pada 2026, tim akan merampungkan desain roket dua tingkat secara keseluruhan sekaligus desain sistem separasi, dengan dukungan anggaran PRIS untuk mengembangkan motor roket RX 450 berjangkau 100 km. Kemudian, dilanjutkan dengan review desain kritis (Critical Design Review/CDR) roket dua tingkat, uji statis motor roket berperforma tinggi, serta uji terbang sistem separasi pada 2027.

Tahapan berlanjut pada 2028 dengan uji terbang roket tingkat pertama dan tingkat kedua secara terpisah. Pengujian tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum pelaksanaan uji terbang roket dua tingkat secara utuh pada 2029. Hal ini merupakan pencapaian yang akan menjadi tonggak penting kemandirian teknologi roket nasional.


Selain program roket, Arif juga memaparkan perkembangan pembangunan Bandar Antariksa yang diamanatkan undang-undang. Untuk mempercepat realisasinya, BRIN kini menggandeng mitra investor strategis, dengan dua mitra yang saat ini tengah aktif bergerak. Satu berfokus pada segmen roket besar, dan satu lagi pada segmen roket kecil.

Arif menjelaskan, kolaborasi ini kini memasuki tahap konsolidasi kesepakatan antara BRIN dan para mitra. Tahun ini, tim menargetkan penyelesaian desain dasar Bandar Antariksa, yang akan dilanjutkan dengan pemagaran lahan dan pembangunan fasilitas dasar pada tahun berikutnya, seiring proses penyelesaian regulasi dan perjanjian kerja sama dengan negara mitra.

Ia menegaskan, proses konsolidasi lintas negara dalam proyek strategis seperti pembangunan bandar antariksa membutuhkan kehati-hatian dan waktu. Proses tersebut juga lazim dilakukan oleh berbagai negara dalam membangun kapabilitas keantariksaan. 

Pemaparan Kepala PRTR dalam Town Hall Meeting Peta Jalan Penerbangan dan Keantariksaan menunjukkan upaya BRIN dalam memperkuat peta jalan riset roket dan pembangunan bandar antariksa. Upaya tersebut sejalan dengan agenda strategis penguatan pertahanan dan kemandirian teknologi keantariksaan nasional.

16 Agustus 2026

HIMARS Arrives at the School of Artillery

16 Agustus 2026

HIMARS arrives at the Australian Army - School of Artillery (photo: Australian Army

The School of Artillery has welcomed the arrival of High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) platforms, marking another significant step in the evolution of the Australian Army’s long-range fires capability.

With HIMARS now incorporated into full-time training at the School of Artillery, our people will develop the knowledge and skills required to operate, support and employ this capability as it continues to be introduced into service.

The integration of HIMARS into training represents an important shift for Australian Artillery—building the workforce, expertise and readiness required to deliver long-range precision fires in support of the future force.

New capability. New skills. Greater reach.

14 Agustus 2026

TNI AL Melaksanakan Uji Tembak MLRS Pertama dari Flight Deck Kapal PPA

14 Agustus 2026

Flight deck kapal PPA KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

TNI Angkatan Laut telah melaksanakan uji tembak pertama sistem peluncur roket ganda (multiple-launch rocket system atau MLRS) dari geladak penerbangan salah satu kapal perang kelas Brawijaya, yakni jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA).

Uji tembak tersebut dilakukan dari kapal kedua di kelasnya, KRI Prabu Siliwangi 321, dalam sebuah latihan angkatan laut di wilayah Kepulauan Riau antara akhir Juli dan awal Agustus 2026.

MLRS RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir TNI AL menembakkan roket dari flight deck/geladak penerbangan KRI Prabu Siliwangi 321 (photo: TNI AL)

Gambar-gambar yang dirilis oleh TNI AL menunjukkan bahwa MLRS yang dikerahkan di atas kapal PPA tersebut adalah sistem RM-70 Vampire kaliber 122 mm milik Korps Marinir Indonesia, yang sebelumnya telah terlihat di atas kapal tersebut sejak Mei 2026.

RM-70 Vampire merupakan sistem roket artileri berbasis truk yang dikembangkan dari keluarga BM-21 Grad.

Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa uji tembak MLRS ini menggunakan roket kendali TRG-122 yang pada bulan Mei 2026 lalu baru diterima dari Turkiye (photo: Roketsan) 

Sistem ini menembakkan roket kaliber 122 mm dalam salvo cepat untuk menyasar target area, memberikan daya tembak masif (saturation fire) terhadap posisi pertahanan dan sasaran darat lainnya.

KRI Prabu Siliwangi adalah satu dari dua kapal PPA yang dibeli Indonesia dari perusahaan galangan kapal Italia, Fincantieri, melalui kesepakatan senilai 1,18 miliar euro (1,36 miliar dolar AS).

Spesifikasi teknik TRG-122 roket kendali kaliber 122mm buatan Roketsan, Turkiye (image: Roketsan)

Kapal ini mulai beroperasi secara resmi pada Desember 2025, sementara kapal saudaranya yang merupakan kapal pertama di kelas tersebut, KRI Brawijaya 320, telah lebih dulu masuk dalam jajaran armada Indonesia pada Juli 2025.

Kedua kapal tersebut dilengkapi dengan meriam utama kaliber 127 mm, meriam kaliber 76 mm, serta sel sistem peluncur vertikal (vertical launch system atau VLS) yang mampu meluncurkan senjata anti-udara dan anti-permukaan.

08 Agustus 2026

Lembing Sakti 2026 Bermula: Kesiagaan dan Kecekapan Warga Briged Artileri Roket Diuji

08 Agustus 2026

Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 (all photos: TDM)

GEMAS – Panglima Briged Artileri Roket, Brig Jen Dato’ Mohd Tawil bin Haji Daud telah menyempurnakan Upacara Pembukaan Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 yang berlangsung mulai 1 hingga 6 Ogos 2026. Upacara tersebut telah diadakan di perkarangan Garaj B Bateri, Rejimen Ke-51 Artileri Diraja (51 RAD). Perbarisan yang melibatkan seramai 28 pegawai dan 200 anggota Lain-lain Pangkat (LLP) telah diketuai oleh Mej Mohamad Yusri bin Maliki, Penolong Pegawai Memerintah 51 RAD.


Upacara diteruskan dengan pemakaian toha kepada barisan kepimpinan dan pegawai utama eksesais, melibatkan Lt Kol Hanasrul Imran bin Ghazali sebagai Pengarah Eksesais/Pelaku; Lt Kol Affandi bin Hussain sebagai Exercise Controller (EXCON); Lt Kol Eugene Gnanaratchagar Gnanakkan sebagai Ketua Tim Keselamatan; Lt Kol Yunos bin Abu Bakar sebagai Ketua Real Life Support (RLS); Mej Mohamad Yusri bin Maliki sebagai Ketua Tim Staff Planning Exercise (SPE) dan Mej Faizan bin Mohd Sapri sebagai Ketua Tim Evaluasi.


Eksesais LEMBING SAKTI Tahun 2026 merupakan latihan tembakan Sistem Roket Lancar Berganda (SRLB) ASTROS II serta pengoperasian aset FLYEYE UAS oleh Trup Pesawat Tanpa Pemandu. Eksesais ini bertujuan menguji dan menilai tahap kesiagaan, kecekapan serta kompetensi anggota dalam pengendalian sistem berkenaan berpandukan Sistem Latihan dan Penilaian Tentera Darat (ARTEP).


Dalam ucapan pembukaannya, Panglima Briged Artileri Roket menekankan aspek Force Protection dengan mengingatkan seluruh peserta agar sentiasa mengutamakan keselamatan diri, anggota dan peralatan sepanjang eksesais berlangsung. Beliau turut menyeru semua peserta supaya mengekalkan sikap profesional, saling membantu serta memanfaatkan peluang yang tersedia untuk bertukar ilmu, pengalaman dan Taktik, Teknik dan Prosedur (TTP).


Seusai upacara pembukaan, Panglima Briged Artileri Roket menghadiri sesi penyampaian Perintah Pegawai Memerintah, Perintah Ketua Bateri dan Perintah Trup Pesawat Tanpa Pemandu yang diadakan di garaj. Sesi tersebut bertujuan menilai tahap kesiagaan setiap elemen serta memastikan semua perancangan, penyelarasan dan persiapan akhir telah dilaksanakan dengan teratur sebelum memasuki fasa utama eksesais.

(TDM)

06 Juli 2026

Kerjasama Weststar-RTI Australia Memperkuat Kemampuan Teknologi Roket dan Rudal Malaysia

06 Juli 2026

Penanda-tanganan kemitraan strategis Weststar-RTI (photo: MYKemhan)

Selama kunjungan kerja ke Australia, Menteri Pertahanan menyaksikan upacara penandatanganan kemitraan strategis antara
Weststar Defence Industries Sdn Bhd dan Rocket Technologies International Pty Ltd (RTI) di Canberra.

Kemitraan strategis ini merupakan perkembangan penting dalam upaya memperkuat kemampuan industri pertahanan negara, khususnya di bidang teknologi roket dan rudal. Keahlian RTI akan membuka ruang untuk transfer teknologi, penelitian dan pengembangan (R&D), pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan lembaga pendidikan tinggi.

Jangka waktu dua tahun
Pemerintah menyambut dan sepenuhnya mendukung kolaborasi ini, yang juga mencakup pembangunan fasilitas produksi di Malaysia. Produksi roket diharapkan dimulai dalam dua tahun sebelum diperluas ke produksi rudal di masa mendatang.

Investasi oleh Weststar juga akan memungkinkan Malaysia untuk bergabung dengan rantai pasokan global RTI, sehingga membuka peluang bagi industri lokal untuk tumbuh dalam ekosistem pertahanan internasional. Inisiatif ini sejalan dengan aspirasi Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) untuk memperkuat kemampuan pertahanan kedaulatan negara.

Apresiasi kepada Pemerintah Australia atas dukungan dan persetujuannya terhadap kolaborasi dan transfer teknologi ini. Selamat kepada Weststar atas kepercayaan dan komitmennya untuk berinvestasi di bidang strategis yang akan memperkuat kemampuan pertahanan negara untuk generasi mendatang.

30 Juni 2026

TNI AU Juga Lakukan Uji Performa Roket WAFAR RD-702

30 Juni 2026

Uji performa roket WAFAR RD-702 kaliber 70mm buatan PT DI (photos: TNI AU)

TNI AU. Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Dislitbangau) berhasil mendemonstrasikan penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) RD-702 Practice kaliber 70 mm produksi PT Dirgantara Indonesia di Lapangan Tembak Nanggala, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (18/6/2026). Pengujian tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan performa dan keandalan alutsista produksi dalam negeri sekaligus mendukung proses sertifikasi dan pengembangan roket nasional.


Roket WAFAR RD-702 Practice kaliber 70 mm merupakan salah satu produk PT Dirgantara Indonesia yang memiliki fleksibilitas tinggi dan dapat diintegrasikan pada berbagai platform udara, termasuk helikopter dan pesawat tempur.


Kadislitbangau Kolonel Tek Rachmadi Anggoro, S.E., M.Sc., M.S.S., yang diwakili Sesdislitbangau Kolonel Tek Sapta Jengkar P., M.Sc., M.I.Pol. menyampaikan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bagian dari tugas Dislitbangau untuk memastikan setiap alutsista hasil produksi dalam negeri memiliki performa dan keandalan yang teruji sebagai wujud nyata dukungan terhadap kemandirian industri pertahanan nasional.


Pengujian dilakukan untuk mengamati performa roket yang meliputi aspek keandalan peluncuran, karakteristik terbang, serta efektivitas sistem secara keseluruhan sebagai bagian dari pelaksanaan tugas pokok Dislitbangau. Keberhasilan uji tembak tersebut menjadi tolok ukur penting dalam proses sertifikasi dan pengembangan roket nasional, sementara hasil pengujian akan menjadi bahan evaluasi bagi penyempurnaan sistem pada tahap berikutnya.


Kadislitbangau juga menekankan kepada seluruh personel pelaksana agar senantiasa mengutamakan keselamatan terbang dan kerja, melaksanakan seluruh prosedur sesuai ketentuan, serta mendokumentasikan hasil pengujian secara lengkap dan akurat.


Kegiatan demonstrasi penembakan roket WAFAR RD-702 Practice kaliber 70 mm berlangsung dengan aman dan lancar. Diharapkan hasil pengujian tersebut semakin memperkuat ekosistem industri roket nasional melalui sinergi antara industri pertahanan, pengguna, lembaga penelitian, dan mitra strategis nasional dalam mendukung terwujudnya TNI AU yang AMPUH.

20 Juni 2026

Lockheed Martin Launches HIMARS FLEX - Modernized for Mission Flexibility

20 Juni 2026

HIMARS FLEX increases firepower with expanded offensive and defensive munitions options (photo: Lockheed Martin)

A New Benchmark for Offensive and Defensive Fires
The future of adaptable fires is here. Introducing HIMARS FLEX, a modular evolution of the legendary HIMARS launcher. Utilizing the all-new FLEXFires technology ecosystem, HIMARS FLEX will provide new munition and autonomy options, enabling more mission capability while retaining the precision and proven deterrence HIMARS delivers.

GMLRS rocket (image: Lockheed Martin)

Proven Heritage, Expanded Capability
Combat Proven – HIMARS FLEX is the next chapter in the iconic story of HIMARS and its more than 2.5 million operating hours worldwide.

Interoperable – HIMARS FLEX can share munitions with NATO stockpiles (GMLRS, ER GMLRS, PrSM, ATACMS, PAC-3) and integrate into joint-fire-control networks, creating a deterrence multiplier while staying C-130 transportable on the XM1140 chassis.

ER GMLRS rocket (image: Lockheed Martin)

Modular Loadout – Dual-pod configurations can carry double the offensive firepower as well as seamlessly configure for air and missile defense munitions such as PAC-3, IFPC and beyond. 

Tailored for New and Existing Customers
Built-in modularity allows new and current partners to implement the FLEXFires technology necessary for their needs: single-pod baseline, dual-pod “FLEX” loadout, multiple platform options (mobile and containerized), as well as autonomy. The result is reduced training and sustainment costs while preserving the ability to adapt to regional needs.

PrSM missile (image: Lockheed Martin)

“HIMARS FLEX will be a game changer in the future of offensive and defensive fires,” said Tim Cahill, president, Lockheed Martin Missiles & Fire Control. “Our FLEXFires technology suite will let operators scale loadout and add autonomous capabilities without sacrificing speed or accuracy.”  

Mobility and Distributed Operations
The shoot-and-scoot  nature of HIMARS FLEX, combined with increased munitions loadout, rapid reloading and optional autonomy, delivers distributed, survivable fire across contested environments – complicating adversary targeting and strengthening deterrence.

ATACMS missile (image: Lockheed Martin)

“Flexibility, interoperability and proven performance are the three pillars defining today’s most effective deterrent capabilities,” said Gaylia Campbell, vice president and general manager, Lockheed Martin Tactical Missiles. “HIMARS FLEX brings our allies the ability to tailor offensive and defensive firepower to their specific needs while staying connected to a common, battle-proven ecosystem.”

PAC-3 missile (image: Lockheed Martin) 

Bottom Line
HIMARS FLEX is modernized for mission flexibility with more munitions and autonomy options, delivering unparalleled precision, mobility and NATO-compatible interoperability. It will shape the future of allied artillery and air defense, provide a decisive edge to coalition forces and uphold the promise of rapid, accurate fires and protection wherever it is needed.

Korps Marinir Uji Coba Roket WAFAR RD70 di Tepi Laut Selatan

20 Juni 2026

Uji coba penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) RD70 di Pacitan, Jawa Timur (photos: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Pacitan) -- Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto menyaksikan uji coba penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (Wafar) RD70 di Lapangan Tembak Nanggala Depohar 60 Desa Poko, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kamis (18/06)


Roket Wafar RD70 merupakan karya anak bangsa, diproduksi dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia. Komoditas ini merupakan bagian vital dari alutsista TNI dan sedang dikembangkan menuju kemandirian penuh melalui proyek roket berpemandu.


Roket produksi PT Dirgantara Indonesia dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional. Dengan teknologi canggih, roket ini memiliki daya ledak tinggi dan presisi yang akurat, menjadikannya efektif untuk operasi militer dalam berbagai kondisi medan. PTDI memastikan bahwa setiap roket diproduksi dengan standar kualitas tinggi serta sesuai dengan kebutuhan strategis angkatan bersenjata Indonesia.

02 Juni 2026

Albanese Government Signs Contract for More Aussie Parts for Aussie-made Missiles

02 Juni 2026

Guided Multiple Launch Rocket System (GMLRS) missile system (photo: Aus DoD)

Missiles made in Australia will now include more locally-made components as Australia takes the next step in establishing a domestic missile manufacturing industry.

The Albanese Government has signed a contract with Lockheed Martin Australia to begin domestic manufacturing key guided weapons components, reinforcing the Government’s commitment to establish a sovereign guided weapons industry and a future made in Australia.

Lockheed Martin will initially work with two Melbourne companies, Moog Australia and AW Bell, to deliver key parts for the Guided Multiple Launch Rocket System (GMLRS) missile system. Worth $120 million in total, the contract will create dozens of new jobs and open pathways for Australian‑made components to enter the global supply chain, supporting export opportunities and long-term industry growth.

Moog Australia has been selected to design and build a GMLRS Control Actuation System. This system helps steer the missile accurately during flight to hit long-range targets with precision. Engineers from Australia and the United States will take part in an exchange program to share critical knowledge and skills, supporting long‑term sovereign capability development.

AW Bell has been selected to manufacture the missile’s canards – or exterior fins – and housing for the Control Actuation System. AW Bell is currently developing test versions of the canards.

A Guided Multiple Launch Rocket System (GMLRS) rocket (image: TB&P)

The contract signing follows the start of domestic missile manufacturing in December 2025 and the first test firing of the Australian-made precision surface-to-surface missiles earlier this year.

Under the Government’s 2024 Australian Guided Weapons and Explosive Ordnance Plan, more than $500 million will be invested through to 2030 to boost local manufacturing and increase the use of Australian‑made components.

Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
“This is another example of the Albanese Government’s commitment to a future made in Australia and jobs for locals. This contract backs Australian industry and its capacity to contribute to making world-class capabilities right here at home.

“The domestic manufacturing of missiles will be complemented by the development of these key component-manufacturing capabilities.

“This will boost sovereign manufacturing, creating secure jobs and strengthen our national security.”

15 Mei 2026

Australian Army Proves HIMARS Deployability from Ship to Shore

15 Mei 2026

HMAS Choules Landing Ship Dock (LSD) launched LCM-8 landing craft (photo: Aus DoD)

In northern Queensland, 10th Fires Brigade’s high mobility artillery rocket system (HIMARS) took to the beach with the help of HMAS Choules.

Having earlier exceeded expectations by firing various missile types ahead of schedule, and at distances new to Army, attention has turned to the deployability of HIMARS on aircraft and ships to extend the ADF’s ability to defend Australia’s northern approaches.

The platform has been certified to deploy on Royal Australian Air Force C-130 and C-17 aircraft and on board the Royal Australian Navy’s landing helicopter docks (LHDs). Now it was time to prove the ability to transport the platform from ship to shore.

Using the landing craft mechanised Mark 8 (LCM-8) and the Mexeflote, the HIMARS, its resupply vehicle, munition pods and support trailers were transported between Choules and Cowley Beach Training Area. 

HIMARS successfully deployed from ship to shore (photo: Aus DoD)

Australian HIMARS are now capable of being projected by all major in-service lift platforms and ship-to-shore connectors. Future work will be undertaken for transport on Army’s future littoral manoeuvre vessels when they enter service.

'From here, things will only get bigger and better as we receive more platforms.'

For Commander 10th Fires Brigade Brigadier Corey Shillabeer it was a milestone that provided options for the joint force. 

“When we receive a new platform it is important to test it thoroughly,” Brigadier Shillabeer said. 

“It’s vital that we test our procedures to develop safe and efficient means to deploy Army’s long-range fires capability.

“Firing the HIMARS is one thing, but being able to deploy and manoeuvre across Australia and beyond is vital to contributing to the defence of Australia’s northern approaches. 

“14th Regiment, Royal Australian Artillery, along with the project team, are progressing well into the introduction into service of the weapon system, offering a viable option today for the joint force.”

Commanding Officer 14th Regiment, Royal Australian Artillery, Lieutenant Colonel Nicholas Barletta, said he was proud of what his team has been able to achieve.

“For such a young group of soldiers, they have been challenged daily when asked to rapidly introduce this new capability. With support from the project team and our United States counterparts, they have demonstrated their professionalism and dedication to Australia’s defence,” Lieutenant Colonel Barletta said.

“From here, things will only get bigger and better as we receive more platforms from the United States and the new littoral manoeuvre vessels are delivered.”

(Aus DoD)

29 April 2026

Australia Establish for Second HIMARS Regiment

29 April 2026

Australian High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) fires Precision Strike Missile (PrSM) (photo: Aus DoD)

In a major enhancement to the Australian Army’s long-range strike capability, the Albanese Government has selected the High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) and the Precision Strike Missile (PrSM), investing $2.3 billion over the decade and delivering a second long‑range fires regiment at the Edinburgh Defence Precinct in South Australia.

This decision follows a comprehensive competitive evaluation process by Defence.

As the 2026 National Defence Strategy sets out, the Australian Defence Force (ADF) requires greater capacity for long-range strike to defend Australia.

A second long‑range fires regiment will significantly enhance the ADF’s ability to engage targets at ranges of up to 500kms, transforming to more than 1,000kms with future increments of PrSM. This will increase our capacity to respond effectively to contingencies in our region and work with our allies and partners.

As set out in the recently released 2026 Integrated Investment Program, the Albanese Government is investing up to $37 billion over the next decade, including enabling data and systems, to develop and enhance the Royal Australian Navy, Army and the Royal Australian Air Force’s targeting and long-range strike capabilities.

HIMARS are already in service with the Australian Army as part of the first long-range fires regiment. These launchers were used at Exercise Talisman Sabre 25, firing a PrSM two years earlier than planned. The second regiment will complement Army’s existing HIMARS capability – delivering a proven, highly mobile and lethal strike system aligned with Australia’s strategic and operational requirements.

The Albanese Government is establishing a sovereign missile manufacturing industry in Australia, including missiles fired from the HIMARS launcher.

The first Australian-made Guided Multiple Launch Rocket System (GMLRS) missile was test-fired by an Australian HIMARS this month, and last year Australia and the United States established a cooperative program for PrSM to pave the way for future domestic production.

Both missiles will have Australian industry participation in their supply chains, including for locally manufactured components and sub-components.

Quotes attributable to Deputy Prime Minister, Richard Marles:

“This is a decisive investment in Australia’s long‑range strike capability that will bolster our Defence Force and help keep Australians safe.”

“This capability delivers on the National Defence Strategy direction to accelerate and expand the acquisition of land-based long-range fires to provide the ADF with a deployable strike capability to protect Australia’s northern approaches and contribute to sea control and sea denial.” 

“This is another significant milestone as the Albanese Government continues to invest in an integrated, focused force that meets our strategic circumstances.”

Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:

“To defend Australia, our Army needs a stronger long-range strike capability – and we’re delivering it.”

“The Albanese Government is investing up to $37 billion over the next decade on targeting and long-range strike capabilities for the ADF.”

“We’re already making missiles that can be fired from the HIMARS – and this decision will create even more demand for PrSM missiles within the Australian Army and deliver more opportunities for PrSM manufacture in Australia.” 

(Aus DoD)

03 April 2026

BRIN Uji Lagi RKX-200TJ dengan Turbojet Berkecepatan Tinggi

03 April 2026

RKX-200TJ saat diluncurkan roket booster memberi dorongan awal hingga pesawat stabil di udara setelah itu mesin turbojet mengambil alih untuk melanjutkan penerbangan (photo: BRIN)

BRIN buat inovasi wahana uji RKX-200TJ, pesawat turbojet berkecepatan tinggi yang diluncurkan menggunakan roket booster sebelum melanjutkan penerbangan dengan mesin jet.

Inovasi ini dimanfaatkan sebagai platform riset untuk menguji teknologi penerbangan, sistem autopilot, hingga pengembangan pesawat tanpa awak berkecepatan tinggi.

Melalui pengembangan RKX-200TJ, BRIN menunjukkan peran penting riset dirgantara dalam memperkuat kemampuan teknologi penerbangan nasional.

19 Februari 2026

Penanda-tanganan Kontrak Kerjasama Rocket Launcher Badan Teknologi Pertahanan Kemhan RI

19 Februari 06

Penanda-tanganan Kontrak pengembangan rocket launcher (photos: Kemhan)

Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melaksanakan penandatanganan kontrak kerja sama pengembangan dan pengadaan sistem rocket launcher sebagai bagian dari upaya strategis penguatan Alutsista nasional. 13/02/2026.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Kemhan RI dalam meningkatkan kemandirian industri pertahanan, memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri, serta mendukung modernisasi sistem persenjataan TNI secara berkelanjutan.

Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong percepatan transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem riset dan inovasi pertahanan nasional. Dengan sinergi yang solid antara pemerintah dan mitra strategis, pembangunan kekuatan pertahanan negara terus dilaksanakan secara terukur, profesional, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem pertahanan negara yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global. Bertekad Kuat, Berteknologi Maju, untuk Pertahanan Negara yang Mandiri.

(Batekhan)