31 Mei 2024

TNI AU dan RAAF Latih Kemampuan Deteksi dan Identifikasi Target di Laut

31 Mei 2024

Latma Albatros Ausindo 2024 TNI AU dan RAAF (photos: TNI AU)

Memasuki hari kedua latihan bersama TNI AU dan Royal Australian Air Force (RAAF) dengan sandi AMX Albatros Ausindo 2024, kedua angkatan udara melaksanakan Joint Maritime Patrol Surface Picture (Surpic) Exercise di perairan selatan Laut Bali, Rabu (29/05/2024).

Latihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan deteksi dan identifikasi target di laut menggunakan teknologi canggih, antara lain Automatic Identification System (AIS), Kamera, dan Radar. TNI AU mengerahkan pesawat Intai Strategis jenis B-737 dari Skadud 5 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, yang dipimpin Letkol Pnb Devi Oktaviandra. Sementara, RAAF menggunakan pesawat patroli maritim multi misi jenis Boeing P-8A Poseidon dari 11 Sqn 92 Wing RAAF Base Edinburgh, pimpinan Sqn Ldr Phillip David Southwood.

Kedua angkatan udara bekerja sama memantau dan mengidentifikasi secara cepat dan akurat setiap kapal yang ada di perairan. Teknologi AIS berfungsi mengenali kapal-kapal yang memiliki sistem identifikasi otomatis, sementara kamera dan radar memberikan data visual dan elektronik untuk analisis terhadap obyek yang dipantau.

Kolonel Pnb Achmad Iwan Retmawan selaku _Safety Officer_ AMX Albatros Ausindo 2024 menekankan pentingnya faktor keselamatan terbang dan kerja selama latihan berlangsung. Seluruh personel yang terlibat diinstruksikan mematuhi setiap prosedur keselamatan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.

Latma AMX Albatros Ausindo 2024 tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis dan operasional kedua angkatan udara, tetapi juga meningkatkan hubungan bilateral, sekaligus meningkatkan kesiapan dan interoperabilitas dalam menghadapi tantangan keamanan di wilayah maritim.

(TNI AU)

PCG Received UAV and Related Equipment from US

31 Mei 2024


PCG received grant PUMA RQ-20 UAV and other related equipments from United States (photos: PCG)

The Philippine Coast Guard (PCG) received grant equipment from United State government during a turn-over ceremony at the National Headquarters, Port Area, Manila yesterday, 29 May 2024.

The Coast Guard Special Operations Force Commander, CG Rear Admiral Inocencio Rosario Jr, Coast Guard Weapons, Communications, Electronics, And Information Systems Command Commander, CG Commodore Joeven Fabul and Representative from the Joint United States Military Assistance Group – Philippines (JUSMAG-PHIL), Lieutenant Commander Nathan Penka graced the turn-over ceremony.

 “The pieces of equipment strongly support the agency’s current initiatives of enhancing capabilities for surveillance and communications operations in the country’s maritime jurisdiction, particularly in the West Philippine Sea and nearby areas,” CG Commodore Fabul said during his opening remarks.


For his part, LCDR Penka stated “This is just a small token of our commitment to the Philippines, and we have no intention of slowing down to provide assistance in enhancing the capabilities of the PCG.”

Moreover, CG Rear Admiral Rosario Jr on behalf of the Philippine Coast Guard Commandant, CG Admiral Ronnie Gil Gavan extended his gratitude and appreciation to the US government for their continued support and donation to the PCG that will greatly help with the enforcement of the mandated function of the organization. 

(PCG)

KASAL Diundang Hadir Ke Atas Kapal Induk Italia

31 Mei 2024

ITS Giuseppe Garibaldi adalah kapal induk kecil dengan panjang 180,2m dan bobot penuh setelah MLU 2023 14.150ton serta mempunyai kapasitas membawa 18 pesawat VSTOL dan heli (photo: Marina Militare)

Dalam kunjungan kerjanya ke Italia pekan lalu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali diundang oleh Angkatan Laut Italia guna melaksanakan kunjungan di atas Kapal Induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi yang sedang melaksanakan Latihan. Kedatangan pimpinan tertinggi TNI AL ke atas kapal Induk Italia disambut oleh Deputy Chief of the Italian Navy, Admiral Giuseppe Berutti Bergotto. 

Dalam pertemuan ini keduanya membahas berbagai kerjasama terkait pertahanan matra laut, menurut Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali bahwa, Kunjungan ke Italia ini merupakan bentuk komitmen TNI AL untuk mempererat hubungan dengan Angkatan Laut negara sahabat, sekaligus sebagai bentuk Naval Diplomacy.

ITS Giuseppe Garibaldi pada tahun 2024 ini akan pensiun dan digantikan oleh ITS Trieste kapal terbesar di AL Italia dengan panjang 245,0m dan bobot penuh 38.000ton (photo: Marina Militare)

ITS Giuseppe Garibaldi adalah kapal penerbangan dek pertama yang pernah dibangun untuk Angkatan Laut Italia , dan kapal Italia pertama yang dibangun untuk mengoperasikan pesawat sayap tetap. Kapal induk yang mulai dioperasionalkan oleh Angkatan Laut Italia pada tahun 1985 ini, memliki memiliki Panjang 180,2 meter, dengan kecepatan 30 Knot serta daya jangkau hingga 7.000 mil laut (13.000 km). 

Dalam lawatannya ke Italia ini, selain menghadiri undangan dari Angkatan laut Italia, Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali beserta sejumlah delegasi TNI AL juga berkesempatan melaksanakan peninjauan ke fasilitas produksi helikopter Anti Kapal Selam (AKS) dan proses pembuatan kapal frigate PPA.

KASAL diatas kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi (photo: TNI AL)

Seperti diketahui Pembangunan kekuatan matra laut merupakan salah satu prioritas yang mutlak harus diwujudkan dimana merupakan bagian integral dari pertahanan nasional Indonesia. 

Mengutip statmen Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto saat bertemu dengan Kasal beberapa waktu lalu, Dimana Menhan RI menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kemampuan operasional dan pertahanan laut Indonesia dalam menghadapi dinamika keamanan maritim di wilayah perairan Indonesia.

(TNI AL)

30 Mei 2024

LPD ke-2 Filipina Masuki Tahapan Keel Laying di PT PAL

30 Mei 2024

Upacara keel laying LPD ke-2 AL Filipina (photos: PAL)

PT PAL Indonesia Masuki Milestone Keel Laying, Proyek Ekspor Kapal Perang ke-2 Angkatan Laut Filipina

Surabaya -- PT PAL Indonesia mencatat capaian Keel Laying pembangunan kapal kedua Landing Dock Philippines. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan inspeksi dan peninjauan kemajuan progres proyek. Dipimpin oleh Capt Leo Amor A. Vidal selaku Technical Inspection and Acceptance Committee (TIAC) dan tim serta didampingi Capt Emerson F Oxales PN (GSC) selaku Chairman Philippines Navy Owner Representatives (PNOR). Disambut langsung oleh COO PT PAL Indonesia Iqbal Fikri bersama GM Divisi Kapal Niaga Supriono dan jajaran Project Management Team.


Tahapan Keel Laying ini sebagai simbol perhitungan awal dari usia kapal, serta sebagai momen penanda hari kelahiran kapal. Milestone pembangunan kapal Landing Dock Philippines#2 menjadi bukti dedikasi, dan upaya tiada henti PT PAL Indonesia dalam membangun armada laut andalan angkatan laut Filipina.

(PAL)

Will Australia’s Next Frigates Come from Japan?

30 Mei 2024

 JS Yahagi fifth Mogami class frigate (photo: Reddit)

As Australia prepares to replace some of its aging frigates, Canberra has identified Japan's advanced Mogami-class multimission warships, operated by the Maritime Self-Defense Force, as one of up to five potential candidates for that role.

The Mogami frigates were shortlisted in a February report by the Australian government stating that the RAN is seeking between seven and 11 general-purpose frigates optimized for undersea warfare as part of Canberra’s efforts to more than double the size of its surface combatant fleet to address potential threats farther away from its national borders.

Also identified in the report were Germany’s Meko A-200, South Korea’s Daegu-class FFX Batch II and III, and Spain’s Navantia ALFA 3000, with the report pointing to these ships as “exemplars to form the basis of a selection process.”

Among the broad requirements set by Canberra are the vessels’ ability to embark a combat helicopter, deploy lightweight torpedoes, feature air defenses as well as maritime and land strike capabilities, while also maintaining smaller crews than the Anzac frigates it commissioned in the 1990s and early 2000s.

The new FFM was unveiled at Indo Pacific 2023 in Syndey (photo: NavalNews)

The Mogami ships are also in a cycle of continued modification as the MSDF is acquiring them in two batches of 12 ships each, with the second batch — a more capable version — to be procured from 2024 until 2028.

To get the frigates as quickly as possible — the first one needs to be in the water by 2029 — the three initial vessels would be built overseas in the yard of the designer while manufacturing of the remaining ships would transition to Henderson in Western Australia.

Canberra’s decision to co-develop the frigate with Japan would mark “a massive leap forward for this bilateral engagement,” Dean said.

Analysts say that the winner will need to be chosen within the next 12 months.

“This is unprecedented speed in Australia with a defense system known to be slow and cumbersome,” said Bergmann, noting what he said were successive Australian governments’ failures to make timely decisions about the RAN’s future.

See full article Japan Times

KSAL Sebut Kapal Fregat FDI Perancis Jadi Opsi untuk Perkuat TNI AL

30 Mei 2024

Fregat FDI disebut juga Belhara class, kapal pertama untuk AL Prancis D660 Amiral Ronarc'h (all photos: Naval Group)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan, kapal perang fregat berjenis Fregate de Defense et d’Intervention (FDI) buatan Naval Group, Perancis, bisa menjadi opsi untuk memperkuat armada TNI AL. 

Hal itu disampaikan Ali seusai kunjungan kerja ke galangan kapal, Naval Group di Lorient, Perancis, beberapa waktu lalu. Unggahan akun Instagram Naval Group menulis bahwa KSAL mengunjungi galangan kapal pada Jumat (17/5/2024). 

Ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi armada, karena mengingat Indonesia adalah negara kepulauan besar yang tentu saja membutuhkan banyak armada kapal perang maupun kapal selam,” kata Ali dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/5/2024).


Dalam kunjungan ke Naval Group, Ali menerima paparan tentang kapal fregat Belharra atau FDI, mulai tahapan pembangunan kapal mulai dari tahap desain hingga finishing. 

Kunjungan Ali itu dalam rangka membangun kekuatan serta memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL, sekaligus sebagai bentuk komitmen TNI AL mendukung pembangunan kekuatan matra laut Perancis. 

Adapun kapal fregat Belharra atau FDI merupakan kapal perang kelas fregat terbaru yang telah dipesan oleh Angkatan Laut Perancis dan Yunani. 

Kapal perang itu akan beroperasi secara penuh pada tahun ini. 


Sebagai informasi, TNI AL yang diwakili Wakil Kepala Staf TNI AL (Wakasal) Laksdya Erwin S Aldedharma juga telah menerima paparan kecanggihan kapal fregat FDI saat kapal FREMM Bretagne (D655) bersandar di Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (22/5/2024). 

Selain ke Naval Group, Ali beserta delegasi TNI AL juga mengunjungi galangan kapal OCEA di Les Sables d'Olonne, Perancis. 

Galangan kapal tersebut merupakan spesialis pembangunan kapal berbahan aluminium alloy dan telah bekerja sama dengan TNI AL dalam pembangunan kapal survei hidro-oseanografi TNI AL yaitu KRI Rigel-933 dan KRI Spica-934.

29 Mei 2024

Australian Company Wins Contract for LARS for Submarine Rescue Operations

29 Mei 2024

Launch and Recovery Systems (LARS) or Submarine Rescue Operations (photo: Thrust)

Thrust Maritime wins Multi-Million-Dollar export Contract for Submarine Rescue Operations

We’re delighted to share the exciting news that Thrust Maritime, an Australian veteran-owned company renowned for its high integrity Launch and Recovery Systems (LARS), has secured a significant multi-million-dollar defence contract. This contract involves supplying a cutting edge LARS for submarine rescue operations to a major European Navy. 

The LARS is designed to deploy a special umbilical that enables emergency ventilation and decompression for a disabled submarine, significantly enhancing the survivability of the personnel onboard. This innovative solution is a pivotal component of a broader system provided by our client, Phoenix International. 

The availability of an Submarine Emergency Ventilation and Decompression System (SEVDS) not only enhances the submarine force's response capabilities but also positively impacts morale, addressing critical challenges such as recruitment and retention. These aspects are crucial for many nations striving to maintain their naval strength. 

Thrust Maritime is proud to showcase our commitment to innovation and the development of world-class solutions. This achievement is testament to our unique capabilities and recognition of our contributions to the defence sector. We are honoured to collaborate once again with Phoenix International, who are global leaders in submarine rescue. 

Kendaraan Lapis Baja dan Pistol Buatan Thailand, Dikirim ke Bhutan

29 Mei 2024

Serah terima kendraan First Win 4x4 (photo: DTI Thailand, Chaiseri)

Menteri Pertahanan Sutin Klungsang pada hari Senin memimpin upacara penyerahan 10 kendaraan lapis baja dan 230 pistol yang dibuat oleh dua perusahaan Thailand kepada polisi Bhutani.

Upacara digelar di depan gedung kantor Sekretaris Tetap Kementerian Pertahanan.

Duta Besar Bhutani untuk Thailand mewakili pemerintahnya untuk menerima senjata yang dibuat oleh dua perusahaan Thailand yang bekerja sama dengan Defence Technology Institute, sebuah organisasi publik Kementerian Pertahanan.

Sepuluh kendaraan taktis lapis baja “First Win 4x4” dibuat oleh Thai Defense Industry Co Ltd (TDI) di bawah usaha patungan dengan institut tersebut, sedangkan pistolnya diproduksi oleh Weapons Manufacturing Industries Co Ltd (WMI).

Sutin mengatakan ekspor senjata yang dibuat oleh dua perusahaan Thailand yang bekerja sama dengan lembaga tersebut akan meningkatkan kepercayaan terhadap industri pertahanan Thailand.


Ia mengatakan ekspor tersebut juga membuktikan pentingnya peran lembaga tersebut dalam meningkatkan industri pertahanan negara. Nopparat Kulhiran, CEO TDI, mewakili perusahaannya pada upacara penyerahan tersebut.

Nopparat, yang dikenal secara internasional sebagai “Madame Tank”, mengatakan Bhutan akan menggunakan 10 kendaraan lapis baja tersebut dalam misi penjaga perdamaiannya di Afrika Tengah.

Dia mengatakan TDI telah mengirimkan 45 kendaraan lapis baja ke Bhutan pada tahun 2001, dan negara Arab juga mengirimkan personel untuk mempelajari cara melakukan perawatan pada kendaraan tersebut.

Dia menambahkan bahwa Filipina telah memberi tahu perusahaannya bahwa pihaknya berencana memesan total 900 kendaraan lapis baja dari TDI, dengan lot pertama sebanyak 200 kendaraan.

Nopparat juga merupakan wakil presiden Chaiseri Metal and Rubber Company. Dia mengatakan tentara dari 46 negara lain juga telah membeli kendaraan lapis baja dari Chaiseri.


Kendaraan lapis baja telah dirancang dengan bagian atas terlindung untuk bertahan dari serangan pesawat tak berawak, tambahnya.

Nopparat mengatakan badan keamanan setempat, termasuk Komando Operasi Internal, Angkatan Laut Kerajaan Thailand, dan Biro Polisi Patroli Perbatasan, juga tertarik untuk membeli kendaraan lapis baja dari perusahaannya.

Dia mengatakan First Win 4x4 ATV perusahaannya telah melewati Standardisation Agreement 4569, seperangkat standar yang ditetapkan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk melindungi penumpang kendaraan logistik dan lapis baja ringan.

Menurut Sutin, Bhutan juga membeli 30 pistol MI-9 9mm dan 200 pistol MI-47 7.62mm dari WMI.

Armed TNI AD Sedang Bidik Kecanggihan Radar Penemu Sasaran

29 Mei 2024

Antena dan display radar Weapon Locating Radar PT WSB tahun 2022 (photo: Viva)

Cimahi. Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Medan Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, S.Sos., M.M. terima paparan dari PT. Wahana Sarana Baladika tentang WLR (Weapon Locating Radar), kegiatan ini dihadiri juga oleh PJU Pussenarmed, Danpusdikarmed serta Komisaris PT. Wahana Sarana Baladika Bapak Davy Lityo dan staf. Selasa (21/05/2024)

Dalam sambutannya Danpussenarmed Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, S.Sos., M.M. menyampaikan bahwa salah satu bagian yang harus ada di dalam kesisteman Alutsista Armed yaitu “Pencari dan Penemu Sasaran (Surveillance and Target Acquisitions)”, yang dalam orgasnya berada dibawah kendali dari Pleton Observasi (Tonobs). 


Adapun material yang harus ada didalam Tonobs berupa Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) dan Weapon Locating Radar (WLR) yang memiliki kemampuan untuk mencari kedudukan artileri musuh untuk selanjutnya melakukan penembakan (Contra Batery Radar) serta dapat memperhitungkan arah tembakan senjata artileri lawan secepatnya, sehingga dapat diantisipasi dengan segera.

Selanjutnya, sambutan dari Bapak Davy Lityo selaku Komisaris Utama PT. Wahana Sarana yang menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan yang hangat dari Pussenarmed, serta telah diberikan kesemparan untuk melaksanakan Diskusi Teknis Artillery Command Defense System.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan paparan tentang WLR (Weapon Locating Radar) dan sejumlah kesisteman pendukung oleh PT. Wahana Sarana Baladika, serta dilanjutkan dengan diskusi serta tanya jawab.

28 Mei 2024

New Zealand Memulai Pekerjaan Perbaikan Fregat kelas Te Kaha Setelah Kecelakaan Berlabuh

28 Mei 2024

Fregat HMNZS Te Kaha F77 (photo: RNZN)

New Zealand telah memulai pekerjaan perbaikan fregat kelas Te Kaha (Anzac), HMNZS Te Kaha, setelah kapal tersebut rusak saat mencoba berlabuh pada 16 Mei.

Menanggapi pertanyaan dari Janes, juru bicara New Zealand Defence Force (NZDF)  mengungkapkan pada tanggal 27 Mei bahwa fregat tersebut berusaha untuk berlabuh di Kauri Point di Auckland ketika haluannya bersentuhan dengan dermaga sebagai akibat dari “kekuatan angin kencang”.

Akibat kejadian tersebut, Te Kaha mengalami kerusakan ringan pada haluannya, kata juru bicara NZDF, seraya menambahkan bahwa lambung kapal tersebut terbelah berukuran 60 cm di atas permukaan air.

“Tidak ada personel yang terluka dalam insiden tersebut. Kapal tunda Pelabuhan Auckland hadir pada saat itu, membantu kapal untuk berlabuh,” kata juru bicara tersebut.

Sejak itu Te Kaha kembali ke Pangkalan Angkatan Laut Devonport, “dan perbaikan telah dimulai, yang akan selesai dalam 10 hari ke depan”.

“Sementara pekerjaan perbaikan sedang dilakukan, pemeliharaan dan pelatihan lainnya akan dilakukan, yang berarti tidak akan ada dampak yang berarti terhadap program jangka panjang kapal”, kata juru bicara tersebut.

Royal New Zealand Navy (RNZN) juga telah memulai penyelidikan internal atas kecelakaan tersebut tepat pada hari kecelakaan itu terjadi, dan pihak Angkatan Laut tidak dapat mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai hal ini pada saat berita ini dimuat.

Ini Profil Pesawat Tanker KC-130B Milik TNI-AU

28 Mei 2024

Pasca jatuhnya pesawat A-1310 di Medan kini tinggal satu pesawat tanker A-1309 yang masih beroperasi (photo: TNI AU)

Beberapa waktu yang lalu akun twitter/X Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), memposting 2 video yang memperlihatkan latihan TNI-AU dengan menggunakan pesawat tempur kelas berat asal Rusia, yakn Sukhoi SU-27. Uniknya, dalam latihan kali ini juga diperlihatkan pesawat tanker legendaris milik TNI-AU, yakni Lockheed-Martin KC-130B yang juga turut digunakan dalam latihan tersebut.

Pesawat tanker A-1309 dengan peralatan drogue yang dipasang di kedua ujung sayap (photo: TNI AU)

“Para Penerbang Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, melaksanakan Latihan Air Refueling (Pengisian Bakan Bakar di Udara) pada siang hari dan malam hari di langit Makassar beberapa waktu lalu. Latihan melibatkan beberapa pesawat, antara lain pesawat Tempur Sukhoi Su-27/30 Skadron Udara 11, dan pesawat Tanker KC-130 Hercules dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh,” tulis dalam unggahan akun twitter/X resmi milik Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (@kemhan_RI).

Tabung bahan bakar stainless steel yang dimuat di dalam ruang kargo A-1309 untuk mengalirkan bahan bakar dengan peralatan drogue (photo: TNI AU)

Latihan ini sendiri bertujuan untuk menjaga kesiapan awak pesawat tempur, khususnya para pilot agar tetap menjaga kecapakan dalam mengoperasikan alutsista milik TNI-AU dan demi menjaga kesadaran situasional dalam berbagai kondisi. Salah satunya adalah saat misi pengisian bahan bakar pesawat di udara.

Air refueling dengan drogue dapat digunakan untuk pesawat Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU (photo: TNI AU) 

Sudah Dioperasikan Sejak Dekade 1960-an

Melansir dari laman indomiliter.com, pesawat KC-130B Hercules yang dioperasikan oleh TNI-AU sudah mulai berdinas sejak dekade 1960-an ataua saat masa-masa awal TNI-AU atau kala itu yang bernama AURI mengoperasikan pesawat angkut C-130 Hercules. Varian KC-130B sendiri sejatinya merupakan hasil modifikasi dari C-130 standar yang dikonfigurasi agar mampu membawa tabung bahan bakar dan alat pengisian bahan bakar di udara.

Pesawat KC-130B TNI AU bersiap melakukan air refueling pada pesawat Hawk 109/209 TNI AU (photo: TNI AU)

Meskipun telah diubah menjadi pesawat tanker, namun KC-130B tetap mampu melayani misi penerjunan pasukan dan misi angkut logistik sesuai keperluan. Hal ini dikarenakan komponen pengisian bahan bakar tersebut dapat dibongkar-pasang sesuai kebutuhan. Tentunya hal ini karena pesawat C-130 memang menjadi pesawat multi-role yang mampu mengemban banyak misi.

Air refueling dengan drogue dapat digunakan untuk pesawat Hawk 109/209 TNI AU (photo: TNI AU)

Pesawat KC-130B sendiri mampu membawa bahan bakar cadangan sebanyak 25.000 kg dan mampu mengisi 2 pesawat bersamaan. Pesawat yang dioperasikan oleh 2 orang pilot dan 2 orang kru pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 670 km/jam dan memiliki jarak jangkauan sekitar 6.000 km. Hal ini dikarenakan pesawat ini ditenagai oleh 4 mesin Allison T56 Turboprop.

Pesawat KC-130B TNI AU juga mampu melaksanakan air refueling di malam hari (photo: TNI AU)

Indonesia sendiri memiliki 1 unit pesawat KC-130B yang masih berdinas bersama TNI-AU. Sejatinya pesawat ini memiliki jumlah 2 unit, akan tetapi salah satu unitnya jatuh saat melakukan penerbangan di tahun 2015 silam. Kini, pesawat ini direncanakan akan digantikan oleh Airbus A400 yang dibeli dari Prancis dan direncanakan mulai beroperasi pada kurun waktu 2026-2027 nanti. (Zahir Zahir)

(Suara)

PH, Sweden Sign Pact on Fighter Purchases

28 Mei 2024

SAAB JAS-39 Gripen fighter (photo: SAAB)

MANILA, Philippines — The Philippines and Sweden have signed a key agreement to support Manila’s planned acquisition of multi-role fighter (MRF) aircraft for the Philippine Air Force (PAF).

Titled “Implementing Arrangement Concerning the Procurement of Defense Materiel and Equipment,” the deal provides the government framework for the Philippines to purchase Swedish-made defense equipment.

The two countries signed the accord on May 17, the Embassy of Sweden in Manila said on its official Facebook page. An accompanying photo showed Joakim Wallin, Swedish defense materiel head of exports and Joselito Ramos, Philippines’ assistant secretary for logistics, acquisitions and self-reliant defense posture of the Department of National Defense, leading the signing.

Currently Sweden's Saab produces only the new GlobalEye as the AEW&C aircraft (photo: Saab)

According to a separate statement from the Swedish Defense Materiel Administration, the Philippines has expressed “great interest in Swedish systems” including fighter aircraft, command systems and airborne early-warning aircraft.

Last year, PAF chief Lt. Gen. Stephen Parreño led a small delegation to Sweden, where they engaged with the Swedish Air Force and toured the Saab facility to check the JAS-39 and Saab 340 airborne early warning and control aircraft.

See full article Inquirer

27 Mei 2024

Marking 110 Years of Australian Silent Service

26 Mei 2024

USS Santa Fe of US Navy transits in formation with Royal Australian Navy submarines HMA Ships Collins, Farncomb, Dechaineux and Sheean in the West Australian Exercise Area in 2019 (photo: Aus DoD)

It’s been 110 years since the Royal Australian Navy took delivery of its first submersible vessels, and while the technology has changed dramatically, the mission and purpose of the nation’s ‘silent service’ remains the same. 

At the turn of the twentieth century, the British and German Empires were locked in an epic global arms race that gave birth to two of the greatest naval forces ever established. 

In the face of two superpowers exerting influence in a global geopolitical chess match, the fledgling Royal Australian Navy knew that the security of the newly minted island nation depended on its embracing new submarine technology.

Upon sailing into Sydney Harbour on May 24, 1914, HMAS AE1 and AE2 became the first submarines in the service of the Royal Australian Navy, commanded by Royal Navy officers, with a mixture of British and Australian crew. 

The two vessels quickly became central to naval strategy, deploying immediately to aid in the capture of German Pacific colonies at the outbreak of The Great War.

HMAS AE1 and HMAS AE2 submarines are E-class submarine made by Vickers Limited, UK, length 55m and displacement (surfaced) 750 long tons (photo: Aus DoD)

Just seven months into service, AE1 was lost with its entire complement of 35 crew off the coast of the Duke of York Island Group in what is now Papua New Guinea. The vessel remained on eternal patrol until discovered 300m deep in 2017. 

Not only was this first vessel lost by the newly created Royal Australian Navy, AE1 was also the first submarine lost by any allied nation in The Great War.

Its sister vessel, AE2 continued to serve with distinction across the Pacific until November 1914, when it was ordered to return to Australia, to be deployed to the Northern Hemisphere.

Australia’s last remaining Great War submarine, AE2 then achieved legend status by becoming the first submersible vessel to successfully run the mine-infested Dardanelles Strait on April 25, 1915, cementing its place in Anzac folklore. 

AE2 went on to harass the enemy in the Sea of Marmara for five days, before taking fire and being scuttled to avoid being captured. 

HMAS AE1 submarine (photo: Aus DoD)

While the crew escaped the wreck, they were captured and detained for the remainder of the war, with four dying before Armistice Day. 

Despite being in service just over a year, the first generation of Australian submarines proved their strategic value to the fleet as a ‘force multiplier’, assisting the Royal Australian Navy to gain an advantage over nations with much larger blue water navies. 

Over the short course of their service, their presence proved crucial for fleet protection, surveillance and intelligence collection.   

Since their inception, the Royal Australian Navy has also seen in service the Royal Navy Odin- and Oberon-class submarines, and the Swedish-designed and locally made Collins-class submarines. 

This experience demonstrated the most practical and cost-effective way to deliver a fit-for-purpose Australian submarine capability was to source the best designs from around the globe and adapt and build the technology for Australia’s needs.

HMAS AE2 submarine (photo: Aus DoD)

The delivery of AE1 and AE2 was the very first demonstration of this global alliance to produce an effective naval deterrence capability to protect Australian shores. 

The two vessels were constructed by Vickers Shipbuilding and Engineering in Northwest England and transported to Australia in what was the longest submarine voyage ever attempted at the time.

Vickers Shipbuilding and Engineering went on to become a part of the modern-day multinational known as BAE systems, meaning the company that first delivered submarine technology to Australia in the twentieth century will continue to support Australian needs well into the twenty-first century. 

May 24 is a significant anniversary of Australia drawing on the skills and expertise of its allies and harnessing local innovation, to achieve a unique capability. 

The special partnership that started more than a century ago continues to support Navy to deliver the protection of Australia and its national interests. 

Armada Barat dan Timur TLDM Sukses Selenggarakan Operational Sea Training Exercise (OSTEX)

27 Mei 2024

OSTEX 1/24 Armada Barat TLDM (photos: TLDM)

OSTEX West 1/24 Pertingkatkan Kesiapsiagaan Armada Barat TLDM

TLDM terus memperkasakan kesiagaan armadanya melalui Operational Sea Training Exercise (OSTEX) West Siri 1 Tahun 2024 yang telah berlangsung dari 12 hingga 20 Mei.

Panglima Armada Barat, Laksamana Madya Dato’ Ts. Shamsuddin bin Hj Ludin telah menyempurnakan Majlis Penutup OSTEX West 1/24 di Dewan Tun Rahah, Markas Wilayah Laut 3 (MAWILLA 3), Langkawi hari ini. Turut hadir, Panglima Wilayah Laut 3, Laksamana Pertama Roslee bin Isa.

OSTEX West 1/24 terbahagi kepada 3 fasa. Fasa Pelabuhan, iaitu fasa pertama eksesais telah berlangsung dari 12 hingga 14 Mei di Pangkalan TLDM Lumut. Fasa ini melibatkan Majlis Pembukaan, Pembincangan Pegawai Operasi, Taklimat Eksesais dan Taklimat Officer Conducting Serial bagi mendapatkan kejituan angkatan semasa Fasa Laut.


Seterusnya, sebanyak sembilan buah aset permukaan iaitu KD MAHAWANGSA, KD LEKIU, KD SRI INDERA SAKTI, KD LAKSAMANA HANG NADIM, KD LAKSAMANA TUN ABDUL JAMIL, KD LAKSAMANA TAN PUSMAH, KD MAHAMIRU, KD GEMPITA dan KD KINABALU telah diuji dari 15 hingga 18 Mei semasa Fasa Laut yang berkonsepkan peperangan maritim di utara perairan Selat Melaka. Fasa ini turut dijayakan dengan penglibatan Fast Combat Boat (FCB) selaku aset sokongan dan penyertaan dua buah pesawat F/A 18 dari No 18 Skuadron Tentera Udara Diraja Malaysia.

Pelbagai siri latihan yang memfokuskan peningkatan kompetensi daripada aspek People, Platform and Process (3P) telah dilaksanakan. OSTEX West kali ini mendokong matlamat strategik TLDM iaitu keutamaan terhadap kesiagaan armada selain berfungsi sebagai aktiviti "show of presence" di perairan Selat Melaka. Bagi menilai keberkesanan latihan yang dijalankan, Post Exercise Debrief telah dilaksanakan di MAWILLA 3, Langkawi semasa Fasa Penutup dari 19 hingga 20 Mei.

OSTEX West adalah sebahagian daripada usaha berterusan TLDM dalam memastikan keselamatan dan kedaulatan negara sentiasa terpelihara. Latihan ini juga merupakan satu langkah penting untuk memastikan Armada Barat TLDM sentiasa berada di tahap kesiapsiagaan yang tinggi, selaras dengan keperluan pertahanan negara. OSTEX West juga merupakan platform terbaik Armada Barat bagi mempersiapkan aset dan warganya menghadapi Eksesais KERISMAS iaitu latihan intra TLDM yang akan turut disertai Armada Timur TLDM kelak. (TLDM)

OSTEX 1/24 Armada Timur TLDM (photos: TLDM)

Majlis Penutup OSTEX EAST 1/24 telah berjaya dilaksanakan pada hari ini

Kuching -- OSTEX EAST siri 1/24 ini telah bermula sejak 16 Mei 24 yang lalu di Kota Kinabalu, Sabah dan berakhir pada 26 Mei 24 di Kuching, Sarawak. Pelbagai pengisian telah dilaksanakan dengan penglibatan 9 buah kapal permukaan, 2 buah bot tempur dan sebuah pesawat ScanEagle UAS. Selain itu, eksesais ini turut mendapat kerjasama baik dari Tentera Udara Diraja Malaysia dengan penyertaan 2 buah pesawat HAWK dan sebuah helikopter EC725.  

Eksesais ini merupakan eksesais intra-TLDM yang dilaksanakan secara berkala dengan objektifnya untuk menguji tahap kompetensi warga dan aset di Armada Timur.  Pelbagai siri latihan telah berjaya dilaksanakan sepanjang latihan meliputi aspek latihan navigasi, peperangan permukaan, peperangan udara, peperangan elektronik, komunikasi dan ilmu kelautan.

Eksesais ini turut menjadi platform kepada Armada Timur memperagakan kehadiran di perairan Zon Maritim Malaysia di Sabah dan Sarawak dalam memastikan keselamatan dan kedaulatan perairan Sabah dan Sarawak serta kepentingan maritim negara sentiasa terpelihara.

Latihan berterusan TLDM di Zon Maritim Malaysia (ZMM) terutamanya di perairan Sarawak ini turut membuktikan komitmen TLDM bagi mempertahankan kedaulatan maritim negara melalui show of presence pada skalar besar secara berterusan. (TLDM)

The Royal Thai Navy Holds an Anointing Ceremony for the HTMS Chang Type 071ET LPD

27 Mei 2024

Royal Thai Navy (RTN) held ship anointing ceremony for LPD-792 HTMS Chang (III), the Type 071ET Landing Platform Dock (LPD) at Chuk Samet Pier, Sattahip Naval Base, Chonburi Province, Thailand on 18 May 2024 (all photos: Royal Thai Navy)

Large multi-purpose landing craft The Royal Chang Ship (III) received overwhelming grace from His Majesty King Vajiralongkorn. His Majesty came to perform the royal boat anointing ceremony on 18 May 2024 at Chuk Samet Pier, Sattahip Naval Base, Sattahip District, Chonburi Province It is considered the most auspicious blessing for the naval personnel and the Royal Thai Navy.

The previous anointing ceremony for the royal ship of the Royal Thai Navy was the anointing ceremony for the frigate HMS Bhumibol Adulyadej on October 16, 2019 at Chuk Samet Pier. Sattahip Naval Base which His Majesty King Vajiralongkorn His Majesty the King came to perform the royal ceremony as well which was approximately a time apart 5 years in the ship anointing ceremony for the new capital ship of the Royal Thai Navy.

Type 071ET LPD (Landing Platform Dock) HTMS Chang (III) that is stationed in the Amphibious and Combat Support Service Squadron (ACSSS) Royal Thai Fleet (RTF),  Royal Thai Navy is an export version of the Type 071 class landing craft of the People's Liberation Army Navy (PLAN). 


Since traveling from the shipyard Hudong-Zhonghua Shipbuilding Group (HZ), metropolitan Shanghai, is a subsidiary of China State Shipbuilding Corporation (CSSC), a Chinese state-owned shipbuilding enterprise. came to Thailand in April 2023. The floating dock landing ship HMS Chang also performed a qualification testing mission of the ship and participate in various training exercises continuously.

On the past April, 4 2024, Mahidol Adulyadej Naval Dockyard Naval Dockyard Department, Sattahip District, Chonburi Province Proceed with bringing the HTMS Chang into dry dock for limited repairs in order to check the condition of the ship below the water line. before the end of the warranty period from China Shipbuilding Trading Company(CSTC), the trading division of CSSC, a Chinese shipbuilder. The results of inspection and maintenance of the boat did not find any problems.

Later, the website of the Government Procurement System, Comptroller General's Department, Ministry of Finance of Thailand has published an announcement document of Naval Equipment Procurement Office Royal Thai Navy on May, 15 2024. Regarding the table showing the allocated budget amount and details of procurement expenses that do not use procurement. Project to purchase a combat management system, surveillance system, fire control system, weapon system, and gyro system along with related supporting equipment For the project to increase the capability of combat systems for naval operations, 1 system, by selection method. Budget limit allocated 920,000,000 baht ($25,330,406) date of setting the median price (reference price) as of 14 May 2024, source of the median price (reference price) uses the price obtained from investigating prices from the market. Quantity 7 companies as follows:

1.Leonardo SpA Company, Italy
2. Thales Nedeland BV, Netherlands
3. Navantia SASME Company, Spain
4. Aselsan Elektronik Sanayi Ticaret AS Türkiye Company
5. Israel Aerospace Industry (IAI) Company, Israel
6. Hartech Technologies Ltd., Israel
7. Rafael Advanced Defense Systems Ltd., Israel


Although no additional details were specified, from the budget and the name of the project it is understood that this is a project to purchase various systems to increase the capability of the combat system for the amphibious landing craft at the HTMS Chang (III).  Since the ship was delivered, it has not yet been fully equipped with a combat management system (CMS), a surveillance radar, a fire control system (FCS), and a weapon system.

According to plans released by the Royal Thai Navy to Thai media, HMS Chang is currently armed with weapons already operational in Thailand, consisting of four M2 .50cal heavy machine guns on the ship's left and starboard and an Oerlikon machine gun. GAM-CO1 20mm 2 launch platforms on starboard and right in front of the bridge. Other weapons systems planned include one 76mm gun at the bow, two 30mm or 40mm machine gun launchers, and four decoy launchers.

The seven companies listed have products in demand, including Leonardo, the Italian manufacturer of the 76/62 naval guns used on a series of ships in the Royal Thai Navy, including the Royal Ang Thong landing craft, Thales Europe, Navantia Company Spain, ASELSAN Company Turkey, IAI Company Israel, Hartech Company Israel, and Rafael Company Israel also have various types of CMS, Radar, FCS, weapons and Gyro systems.

(AAG)