Tampilkan postingan dengan label Howitzer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Howitzer. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2026

Angkatan Darat Australia Mengerahkan AS9 Huntsman dalam Latihan untuk Pertama Kalinya

28 Agustus 2026

AS9 Hunstman SPH beroperasi bersama AS10 Armoured Ammunition Resupply Vehicle (AARV) (photos: Aus DoD)

Angkatan Darat Australia telah mengerahkan howitzer swa-gerak (SPH) beroda rantai AS9 Huntsman kaliber 155 mm/52—yang diproduksi di dalam negeri—dalam latihan lapangan untuk pertama kalinya; hal ini diumumkan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada tanggal 20 Agustus.

Menurut DoD, AS9 tersebut berpartisipasi dalam Latihan 'Pozieres Run', sebuah kegiatan Divisi ke-1 (Australia) yang diselenggarakan di Area Latihan Lapangan Townsville, Queensland, mulai 30 Juli hingga 23 Agustus.


Personel dari Resimen ke-4 Artileri Kerajaan Australia (4 RAA) di bawah Brigade ke-3 menguji platform tersebut dalam serangkaian kegiatan latihan terintegrasi selama latihan berlangsung. Resimen ini bermarkas di Barak Lavarack, Townsville.

Letnan Kolonel Simon Frewin, komandan 4 RAA, menyatakan bahwa transisi dari artileri tarik (*towed artillery*) ke platform swa-gerak akan meningkatkan kemampuan resimen serta memberikan fleksibilitas operasional yang lebih besar bagi para komandan.

Menurut Letkol Frewin, AS9 menawarkan mobilitas dan daya tanggap yang lebih baik dibandingkan howitzer tarik M777 yang saat ini digunakan, sekaligus meningkatkan kemampuan dukungan tembakan brigade.


"Kendaraan ini dapat bergerak dari posisi perlindungan ke posisi tembak dalam hitungan detik, menembakkan peluru lebih cepat daripada M777, dan kembali dengan sangat cepat ke posisi perlindungan. Artinya, jika musuh mendeteksi keberadaan kami, mereka tidak akan sempat merespons sebelum AS9 berpindah ke posisi baru," ujar Letkol Frewin.

Sebelumnya pada bulan Agustus 2026, sebuah upacara resmi di Barak Lavarack, Townsville, menandai dimulainya masa tugas Baterai 106, 4 RAA, sebagai baterai tembakan bergerak terlindung pertama Angkatan Darat Australia. Baterai tersebut telah menerima enam unit SPH AS9 dan satu kendaraan lapis baja pengangkut amunisi AS10.

06 Agustus 2026

Korps Marinir Adakan Kajian Meriam Howitzer 105mm LG1 MK III

06 Agustus 2026

Presentasi howitzer 105 mm LG1 MK III (photo: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Jakarta) -- Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., berkenan menerima Presentasi dan Diskusi Teknis Meriam Howitzer 105 mm LG1 MK III produk KNDS Prancis yang berlangsung di Golf Driving Range Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (03/08/2026).

Pada kegiatan tersebut, Pangkormar didampingi Kepala Staf Korps Marinir, Mayjen TNI (Mar) Suherlan, Ir. Kormar, Komandan Pasmar 1 yang diwakili oleh Aslog Danpasmar 1, Asrena Pangkormar, Aster Pangkormar, Sahli A Bidang Operasi Kormar, Waaslog Kormar, Waasrena Kormar, Kadisenlekal Kormar, Danmenart 1 Mar, serta Danyon Howitzer 1 Mar.


Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Direktur PT Lentera Sumber Makmur Mayjen TNI (Purn) Dwi Jati Utomo mengenai kemampuan, spesifikasi teknis, serta perkembangan teknologi Meriam Howitzer 105 mm LG1 MK III. Sistem senjata artileri medan ringan ini memiliki mobilitas tinggi, bobot yang ringan, laju tembak yang optimal, serta dirancang untuk memberikan dukungan tembakan secara efektif dalam berbagai operasi tempur.

Dalam suasana diskusi yang berlangsung interaktif, dibahas berbagai aspek teknis, operasional, hingga dukungan logistik dan pemeliharaan sistem senjata. Kegiatan ini menjadi sarana bertukar informasi dan pengetahuan mengenai perkembangan teknologi alutsista modern yang dapat menjadi bahan kajian dalam mendukung peningkatan kemampuan tempur Korps Marinir TNI Angkatan Laut.


Pada kesempatan tersebut, Pangkormar menekankan bahwa setiap pengembangan kemampuan tempur Korps Marinir harus didukung oleh alutsista yang modern, andal, dan sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan. Oleh karena itu, setiap pemaparan teknologi pertahanan harus dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek kemampuan tempur, interoperabilitas, dukungan logistik, pemeliharaan, serta efektivitas penggunaannya dalam mendukung pelaksanaan tugas Korps Marinir di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, Korps Marinir terus berupaya mengikuti perkembangan teknologi pertahanan modern sebagai bagian

17 Juni 2026

Malaysia Becomes the 15th Caesar Customer Country with an Initial Order of 18 Artillery Systems

17 Juni 2026

Malaysia orders 18 Caesar self propelled howitzer (photo: ShahrulNews)

Paris, June – On the occasion of the Eurosatory 2026 international defence and security exhibition, KNDS announces the acquisition of 18 CAESAR artillery systems by the Malaysian Ministry of Defence, marking a major milestone in its commitment alongside the Malaysian Armed Forces.

Malaysia expands its artillery capabilities
Representatives of KNDS and its local industrial partner Advanced Defense System (ADS Sdn Bhd) formalized an order for 18 CAESAR artillery systems on Tuesday, 16 June 2026, during the 2026 edition of Eurosatory. The contract includes the granting of a licence providing for technology transfer and the assembly of the systems in Malaysia.

Malaysia thus becomes the 15th country to acquire this global reference in wheeled artillery, proven in high-intensity combat, with 800 systems already ordered or delivered worldwide.

This self-propelled system offers unrivalled mobility, rate of fire and accuracy in its category. It can fire six rounds in less than one minute at a range of 40 km and relocate in less than two and a half minutes, providing a major strategic advantage.

This landmark acquisition demonstrates the confidence of the Malaysian Armed Forces in KNDS’s expertise and in the ability of its partner ADS Sdn Bhd to locally integrate and maintain the CAESAR system.

KNDS, a trusted partner of the Malaysian Army and defence industry
KNDS’s presence in Malaysia is part of a long-term partnership with the country’s authorities. This cooperation had already reached a major milestone in 2018 with the signing of a strategic partnership covering the supply and local assembly of 105LG lightweight towed artillery guns. This flagship program illustrates KNDS’s ability to support its partners in developing sovereign capabilities and implementing long-term industrial projects. Thanks to its high mobility and ability to rapidly reposition, the 105LG gun ensures discretion and survivability even in the most complex operational environments and contexts, demonstrating KNDS’s expertise in artillery systems.

Today, Malaysia’s order of 18 CAESAR systems in a regimental configuration directly contributes to strengthening the capabilities of the Malaysian Armed Forces. Through a program of know-how transfer and advanced industrial localization with ADS, this contract also aligns with the Malaysian National Defence Industry Policy (NDIP), which aims to develop an autonomous, sustainable and resilient national defence industry.

“We are particularly proud to support the Malaysian Army through the delivery of world-class artillery systems that meet the highest operational standards. This new milestone in KNDS’s history in Malaysia reflects our determination to support our partners over the long term in developing their defence capabilities and to meet their expectations in terms of industrial localization,” said Nicolas Groult, Chief Executive Officer of KNDS France.

05 Juni 2026

First Time AS9 Huntsman Fires during Training Course

05 Juni 2026

AS9 Huntsman systems fires during live-fire serials at Puckapunyal Training Area during Army’s inaugural AS9 operator course (photos: Aus DoD)

Australian Army soldiers from the 4th Regiment, Royal Australian Artillery, conducted the first live-fire of an Australian-built AS9 Huntsman self-propelled howitzer at the School of Artillery, Victoria on 26 May 2026.

As part of Introduction into Service training, crews fired up to 150 rounds from multiple AS9 platforms, demonstrating the system’s ability to deliver accurate long-range fires while operating from protected, mobile platforms. 

Conducted less than two months after the weapons rolled off the production line, the activity marks a significant milestone in the delivery of Army’s Protected Mobile Fires capability. 

It highlights the rapid transition from Australian manufacturing to in-service use while supporting local defence industry outcomes in support of Army modernisation.

(Aus DoD)

01 Juni 2026

Technical Representative Pemeliharaan Meriam Caesar

01 Juni 2026

Meriam Caesar 155mm di Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara (photo: TNI AD)

Dalam upaya menjaga kesiapan operasional alutsista serta meningkatkan profesionalisme prajurit Artileri Medan, kegiatan Technical Representative Meriam Caesar dilaksanakan di Yonarmed 9 dan Yonarmed 12. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen dalam memastikan setiap sistem persenjataan tetap berada pada kondisi terbaik, siap operasional, dan mampu mendukung pelaksanaan tugas satuan secara maksimal.

Pemeliharaan berkala meriam GS Caesar TNI AD (photo: BengPusArmed)

Meriam Caesar sebagai salah satu alutsista modern TNI AD memiliki kemampuan tempur yang mengandalkan kecepatan, akurasi, dan teknologi tinggi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus melalui pendampingan teknis, pemeriksaan menyeluruh, pemeliharaan berkala, serta evaluasi sistem secara profesional guna menjaga performa dan ketahanan alutsista di medan tugas.


Melalui kegiatan Technical Representative ini, personel teknis dan prajurit pengawak mendapatkan pendalaman materi serta pendampingan langsung terkait sistem kerja, penanganan teknis, hingga troubleshooting pada Meriam Caesar. Hal tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia sekaligus memperkuat kesiapan tempur satuan Armed dalam menghadapi dinamika tugas yang semakin kompleks dan modern.


Semangat loyalitas, dedikasi, disiplin, dan militansi terus ditunjukkan oleh seluruh personel dalam setiap pelaksanaan tugas. Karena di balik kekuatan daya gempur Artileri Medan, terdapat prajurit-prajurit teknis yang bekerja penuh tanggung jawab demi memastikan setiap alutsista selalu siap digerakkan kapan pun negara memanggil.


Kegiatan ini juga menjadi simbol sinergi, profesionalisme, dan transformasi modernisasi TNI AD dalam mewujudkan sistem pertahanan yang tangguh, adaptif, dan berdaya tempur tinggi. Dengan penguasaan teknologi yang semakin baik, prajurit Armed siap menjaga kehormatan korps serta mengawal kekuatan pertahanan negara dengan penuh kebanggaan.

12 Mei 2026

MKE Uran: Boran’s Power is Now on the Vehicle!

12 Mei 2026

URAN, 105mm vehicle-mounted howitzer (photos: MKE)

The vehicle-mounted version of BORAN, Türkiye’s leading export-success howitzer, the 105 mm MKE URAN Vehicle-Mounted Howitzer, has been developed for rapid land mobility.

-10–12 rounds per minute firing rate
-Effective range of up to 18 km
-Maximum stability across all terrains with hydraulic supports and an advanced stabilizer system


Discover our boundary-pushing technology at SAHA2026.

(MKE)

02 Mei 2026

Hyundai WIA's KH-178 105mm Towed Howitzer is being Evaluated for the Malaysian Army

02 Mei 2026

WIA KH-178 towed 105/38 mm howitzer (photo: WIA)

South Korea's Hyundai WIA KH-178 towed 105/38 mm howitzer is being evaluated in Malaysia as part of an acquisition program for the country's Army.

A representative of Hyundai's local partner WIA (who asked not to provide details) told RID on the sidelines of last week's DSA 2026 exhibition in Kuala Lumpur that the KH-178 is competing in the Malaysian Army's tender for 36 new 105 mm towed howitzers , intended to equip two artillery regiments. Evaluations and tests are currently underway in Malaysia, with results expected by July 2026.

Also at DSA 2026 , Hyundai WIA exhibited its 105 mm wheeled self-propelled gun for the first time in Southeast Asia , having been first shown to the public at the KADEX exhibition in South Korea in October 2024. The gun is mounted on South Korea's Kia Light Tactical Vehicle ( KLTV ), with serial production scheduled to begin in late 2026 or early 2027.

For the KH-178, Hyundai WIA and its local partner also offer the possibility of local assembly of the vehicles from Complete Knock Down (CKD) kits and the creation of a local MRO (Maintenance, Repair and Overhaul) capability. Additional services, valued at approximately 150 million Malaysian ringgit (MYR, approximately $38 million), will include towing vehicles, a Korean-made Integrated Fire Control System (IFCS), various accessories, and training support.

In terms of performance, the KH-178 has a range of 14 km with HE ammunition and 18 km with RAP (Rocket Assisted Projectile) ammunition. The maximum rate of fire is 15 rounds per minute, with a sustained rate of 3 rounds per minute, for a total system weight of 2,650 kg.

The Malaysian Army currently operates 18 LG1 Mk III 105mm light howitzers , ordered from KNDS in 2018 and assembled locally by Advance Defence Systems Sdn Bhd (ADS). The acquisition of an additional 36 105/38mm howitzers is part of the broader modernization of the Malaysian Land Forces' field artillery capabilities.

(RID)

23 April 2026

ADS Teken MoU dengan KNDS dan Thales untuk Howitzer dan Radio

23 April 2026

ADS bersama KNDS France yang telah berhasil memasok Howitzer tarik LG1 MKIII untuk AD Malaysia akan memajukan Caesar 155mm SPH untuk pengadaan howitzer gerak sendiri kaliber 155mm (photo: Khaled Nordin)

Berkesempatan menyaksikan pemeteraian Memorandum Persefahaman antara Advanced Defence Systems Sdn Bhd bersama KNDS France dan Thales Six GTS France SAS sempena DSA & NATSEC Asia 2026 hari ini.

Kerjasama bersama KNDS memberi tumpuan kepada sistem artileri 105mm LG1 MKIII serta Caesar 155mm Self-Propelled Howitzer, termasuk pemasangan, integrasi dan ujian tempatan di Malaysia.

Kerjasama bersama Thales pula melibatkan penawaran sistem komunikasi taktikal HF XL serta pembangunan talian pemasangan radio tempatan.

Ia memperlihatkan komitmen syarikat OEM antarabangsa dalam menyokong pembangunan industri pertahanan tempatan melalui pemindahan teknologi, pembangunan vendor tempatan dan pengukuhan keupayaan strategik negara.

Langkah ini selaras aspirasi Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) untuk membina ekosistem pertahanan yang lebih berdaya saing, berteknologi tinggi dan mampan.

Turut serta dalam acara ini syarikat-syarikat tempatan yang menjadi vendor ADS untuk meningkatkan kandungan tempatan sistem meriam dan radio.

11 Maret 2026

Menhan Malaysia Lakukan Lawatan ke ADS Sdn. Bhd.

11 Maret 2026

Perusahaan ini terlihat melakukan baik pulih howitzer tarik Nexter LG1Mk III 105mm dan Denel G-5 155mm milik TDM (photo: MYKemhan)

SEGAMAT – Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin telah mengadakan lawatan industri ke Advanced Defence Systems Sdn. Bhd. (ADS).

ADS merupakan antara pemain industri pertahanan tempatan yang menyediakan pelbagai penyelesaian dalam bidang pertahanan dan keselamatan, termasuk melalui kerjasama strategik bersama pengeluar peralatan asal (OEM) antarabangsa.

Perusahaan ini juga melakukan baik pulih howitzer Oto Melara Mod 56 105mm nilik TDM (photo: MYKemhan)

Syarikat ini turut menyokong beberapa sistem pertahanan Tentera Darat Malaysia (TDM) melibatkan sistem artileri, radar kawalan tembakan pertahanan udara, sistem komunikasi taktikal serta pelaksanaan kerja penyelenggaraan, pembaikan dan baik pulih persenjataan.

Antara sistem yang terlibat termasuk meriam 105mm LG1 MKIII serta sokongan kepada beberapa sistem artileri 155mm yang digunakan oleh TDM.

Perusahaan ini juga mengageni howitzer tarik Nexter LG1 Mk III yang telah mendapatkan pesanan 18 unit untuk TDM (photo: ADS)

Semasa lawatan tersebut, Menteri Pertahanan telah menerima taklimat mengenai operasi, projek semasa serta hala tuju syarikat daripada Pengerusi ADS, Brigedier Jeneral (B) Dato’ Abdul Hadi Abdul Razak bersama Pengarah Pembangunan Perniagaan ADS, Leftenan Kolonel (B) Shane Chin.

Perbincangan turut menyentuh usaha memperluas keupayaan pemasangan dan penyelenggaraan sistem persenjataan dalam negara melalui pelaksanaan Program Kolaborasi Industri (ICP) bagi memperkukuh pemindahan teknologi serta pembangunan kepakaran tempatan.

Perusahaan ini juga mengageni SPH Caesar 105mm buatan Prancis (photo: ADS)

Turut hadir Ketua Setiausaha Kementerian Pertahanan, YBhg. Datuk Lokman Hakim Ali.

27 Februari 2026

First Australian-made AS9s Debut in Geelong

27 Februari 2026

The first Australian-made AS9 HuntsmanSelf-Propelled Howitzers (SPH) (photos: HDA)

Hanwha Defence Australia (HDA) has welcomed the first three Australian-made AS9 HuntsmanSelf-Propelled Howitzers (SPH) made at the Hanwha Armoured Vehicle Centre of Excellence (H-ACE) in Victoria.

Joining the three vehicles (Batch 1 consisting of two AS9s and one AS10, made in South Korea) announced in February last year, these new vehicles represent high technology vehicle manufacturing coming back to the Geelong region.

Thanks to HDA’s supply chain of local and international partners, the vehicles will now go through further testing and training activities as the capability prepares to come into service. HDA is working with soldiers from the Australian Army in the H-ACE training wing, preparing operators and maintainers.

“Seeing the first Australian made AS9s come off the production line and drive their first laps around our test track is a milestone that we’re all very proud of,” HDA and UK/Europe CEO Mr Ben Hudson said. “This program will see a game changing capability introduced to the Australian Army underpinned by a strategic partner in Hanwha Defence Australia. With the K9 User Community now 11 nations strong, the AS9 variant pushes the boundaries of the platform.”

The Batch 1vehicles have been undertaking driver and maintainer training alongside further testing and verification including firing trials for the past 12 months, ensuring that operators are familiar with the vehicles. New vehicles are being added to this training program as they become available.

The AS9 and AS10 Huntsman have been developed to incorporate learnings and experience from the global fleet of over 2,400 K9s and K10s, the most popular SPH globally.


With the AS9 Huntsman, Hanwha has a proven 52-calibre 155mm gun system that is in service with multiple nations around the world, including the NATO alliance.

The AS10 Huntsman Armoured Ammunition Resupply Vehicle (AARV) is highly protected and manoeuvrable, with a unique loading system that reduces risk to soldiers from enemy fire while protecting the long-term health and fitness of soldiers operating the vehicle.

Manufactured with Australian supply chain partners like AME, Aurizn, Axalta, Bisalloy Steel, CBG Systems, Defcon, and DVR, Elphinstone, Eylex, HIFraser, Kongsberg Defence Australia, Maser, MMCLD, Redline Engineering, Rojone, Safran Electronics andDefence Australasia, Stahl Metal, TEi, Thales Australia, and Thomas Warburton working alongside the international supply chain base, Hanwha has made a significant ongoing investment in the Australian market.

“The technology transfer on the LAND 8116 program between South Korea and Australia has been a pilot program in many ways, demonstrating the deepening relationship between the two nations,” Mr Hudson said.

“This experience provides the foundation to succeed on our other Defence vehicle programs.

“Celebrating this milestone with our government, Defence, supply chain partners and our own exceptional team in our purpose-built facility is an honour,” Mr Hudson concluded.

The firstAustralian-made AS10 is scheduled to come off the H-ACE production line this year.

14 Januari 2026

LG1 Mk III Gantikan Meriam OTO Melara Mod 56 di Resimen Artileri Kerajaan ke-1 (Para) TDM

14 Januari 2026

Resimen Artileri Diraja ke-1 (1 RAD) telah mendapatkan 18 unit howitzer ringan KNDS 105mm LG1 Mk III menggantikan howitzer OTO Melara Mod 56 (all photos: TDM)

Howitzer ringan 105mm LG1 Mk III mewakili peningkatan generasi yang menentukan atas OTO Melara Mod 56 yang sudah ada, secara fundamental mengubah Resimen Artileri Kerajaan ke-1 (Para) Tentera Darat Malaysia - "1 RAD" menjadi kekuatan pendukung tembakan yang jauh lebih mematikan, responsif, dan terintegrasi secara teknologi.

Inti dari transformasi ini adalah peningkatan substansial dalam jangkauan efektif maksimum, dengan LG1 Mk III mampu menyerang target pada jarak hingga 17 kilometer, dibandingkan dengan jangkauan OTO Melara yang hanya 10 kilometer, memungkinkan tembakan artileri untuk membentuk medan pertempuran jauh melampaui garis depan unit manuver.

Jangkauan yang lebih luas ini sangat penting di lingkungan operasional Malaysia—yang dicirikan oleh medan hutan, pegunungan, dan pesisir—di mana kemampuan untuk memproyeksikan daya tembak lebih dalam memungkinkan komandan untuk mendukung pasukan yang tersebar dan membatasi ruang gerak musuh.

Di luar jangkauan, LG1 Mk III memberikan laju tembakan yang jauh lebih tinggi, yang dimungkinkan oleh desain laras yang lebih baik, konstruksi ruang tembak yang diperkuat, dan mekanisme rekoil yang dioptimalkan yang memungkinkan baterai untuk menghasilkan salvo yang lebih padat dan lebih mematikan dalam jangka waktu yang singkat.


Daya tembak berkecepatan tinggi seperti itu sangat penting selama penyusupan udara (airborne insertions) dan kemajuan cepat (rapid advances)
, di mana kecepatan artileri dalam menekan, menetralisir, atau mengganggu posisi musuh seringkali menentukan kelangsungan hidup elemen penyerang.

Akurasi merupakan peningkatan besar lainnya dibandingkan OTO Melara, karena pengurangan dispersi memastikan peluru mendarat lebih dekat ke target yang dituju, secara signifikan meningkatkan efektivitas terhadap target titik, posisi yang dibentengi, dan pasukan musuh yang bergerak di medan yang kompleks.

Kombinasi jangkauan, laju tembakan, dan akurasi ini memberi 1 RAD fleksibilitas operasional yang lebih besar, memungkinkan perpindahan cepat antara beberapa target sekaligus mempertahankan daya hancur selama operasi yang berkepanjangan.

Kunci keberhasilan peningkatan efektivitas ini adalah integrasi Sistem Kontrol Tembakan digital Thales AS4000 pada LG1 Mk III, yang menggantikan proses analog manual yang menjadi ciri khas operasi OTO Melara.

Melalui perhitungan balistik otomatis, penempatan senjata digital, dan pertukaran data waktu nyata antara pengamat, pusat pengarah tembakan, dan awak senjata, sistem ini secara drastis mempersingkat waktu dari sensor ke penembak dan meningkatkan akurasi tembakan pertama.


Penghapusan data penembakan berbasis suara dan penyelarasan manual mengurangi latensi dan kesalahan di bawah tekanan pertempuran, memungkinkan unit artileri untuk merespons target yang muncul dalam hitungan detik, bukan menit.

Kontrol tembakan yang terhubung jaringan juga memungkinkan beberapa baterai untuk memberikan tembakan yang sinkron, menghasilkan efek terkoordinasi di medan pertempuran yang lebih luas daripada yang dimungkinkan dengan sistem era analog.

Otomatisasi lebih lanjut mengurangi kebutuhan awak dan waktu penembakan, meningkatkan efisiensi tenaga kerja sekaligus memungkinkan penempatan dan perpindahan cepat yang penting untuk operasi tembak-dan-lari (shoot-and-scoot) di lingkungan ancaman artileri balasan.

Dari sudut pandang strategis, peningkatan daya tembak dan digital ini secara signifikan memperkuat postur pencegahan Malaysia dengan memastikan pasukan pengerahan cepatnya didukung oleh kemampuan tembakan tidak langsung yang kredibel dan berkecepatan tinggi.

Profil kinerja LG1 Mk III juga meningkatkan kegunaan resimen dalam latihan multinasional, operasi koalisi, dan misi perdamaian, di mana presisi, interoperabilitas, dan daya tanggap semakin diprioritaskan.


Secara kolektif, transisi dari OTO Melara Mod 56 ke LG1 Mk III mengangkat 1 RAD dari formasi artileri yang terbatas jangkauan dan padat tenaga kerja menjadi unit pendukung tembakan modern, ekspedisioner, dan berkemampuan digital yang dioptimalkan untuk medan perang kontemporer dan masa depan.

Secara keseluruhan, jangkauan superior LG1, laju tembakan yang lebih tinggi, integrasi kontrol tembakan digital, kemampuan penyebaran cepat, dan kerangka kerja pemeliharaan yang didukung secara domestik menjadikannya bukan hanya pengganti OTO Melara, tetapi sistem artileri yang jauh lebih mumpuni yang dirancang untuk operasi udara dan ekspedisi modern dengan tempo tinggi.

105 LG1 Mk III dirancang dengan tingkat kemudahan penggunaan yang tinggi, hanya membutuhkan setengah hari bagi penembak untuk menyelesaikan pelatihan adaptasi dan mencapai kemahiran operasional dasar.

Salah satu keunggulan utamanya dalam operasi mobil udara adalah dapat diservis hanya oleh tiga personel, karena desainnya menghilangkan kebutuhan akan platform pengangkat melingkar.

Howitzer OTO Melara Mod 56 (photo: TDM)

Sistem ini juga sekitar 200 kg lebih ringan daripada artileri sebanding teringan di kelasnya, pengurangan berat yang secara substansial meningkatkan jangkauan operasional atau ketinggian maksimum helikopter pengangkut.

Pelajaran operasional dari perang di Ukraina telah dengan jelas menunjukkan kerentanan sistem tembakan tidak langsung jarak pendek—khususnya mortir 120 mm—terhadap drone FPV dan ancaman udara tak berawak lainnya.

Dalam konteks ini, jangkauan tambahan 10 km yang ditawarkan oleh 105 LG1 Mk III dibandingkan dengan mortir 120 mm secara signifikan mengurangi risiko serangan balasan dan kerugian akibat drone di medan perang.

Jarak aman yang lebih jauh juga memberikan keuntungan logistik yang signifikan, karena pengisian ulang amunisi dapat dilakukan dari posisi yang lebih jauh dari garis depan, menyederhanakan transportasi dan mengurangi risiko secara keseluruhan.

(DSA)

07 Desember 2025

Korps Marinir Terima Tim Uji Alat Optik Sistem Artileri

07 Desember 2025

Tim Uji Alat Optik Sistem Artileri dari Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) TNI AL uji kelayakan alat optik artileri (photos: Korps Marinir)

Dispen Kormar TNI AL (Surabaya). Asisten Logistik (Aslog) Komandan Pasmar 2, Kolonel Marinir Bayu Aji Alambhana Wannaw W., menerima kedatangan Tim Uji Alat Optik Sistem Artileri dari Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) TNI AL di lapangan apel Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra, Karangpilang, Surabaya. Jumat (31/10).


Tim penguji Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) TNI AL yang dipimpin oleh Laksamana Pertama TNI Frandinanto Suwarno, S.T., melaksanakan evaluasi dan uji kelayakan terhadap alat optik artileri yang akan digunakan oleh satuan jajaran Korps Marinir.


Pengujian ini meliputi pemeriksaan teknis, uji fungsi, serta penyesuaian alat dengan kebutuhan operasional prajurit di lapangan. Pengujian ini dilaksanakan untuk meyakinkan setiap alat optik artileri benar-benar siap pakai dan mampu memberikan dukungan maksimal dalam setiap pelaksanaan tugas.


Kegiatan ini dilaksanakan secara terukur dan profesional dengan tetap memperhatikan standar Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3). 


Diharapkan hasil uji coba ini dapat menjadi dasar rekomendasi dalam proses pengadaan dan distribusi peralatan artileri yang lebih efektif dan efisien di lingkungan Korps Marinir.

28 November 2025

Tentera Darat Malaysia Akan Mendapatkan SPH 155 mm Tahun Depan

28 November 2025

Tahun 2015 Malaysia ditawari EDA SPH beroda rantai M109A5 155mm dari Amerika Syarikat (AS) (photo: BAE Systems)

Perolehan aset MALBATT ambil kira keperluan operasi domestik - Adly
KUALA LUMPUR: Perolehan aset bagi pasukan Malaysian Battalion (MALBATT) bukan hanya bertujuan menyokong operasi misi pengaman antarabangsa, sebaliknya menjadi sebahagian daripada langkah memperkukuh kesiapsiagaan serta keupayaan Angkatan Tentera Malaysia (ATM), kata Timbalan Menteri Pertahanan Adly Zahari.

Beliau berkata walaupun misi pengaman MALBATT di Lubnan akan berakhir pada hujung 2026, perolehan baharu melibatkan 10 unit kenderaan MALBATT dalam Belanjawan 2026 mengambil kira keperluan jangka panjang Tentera Darat.

Tahun 2004 SPH beroda rantai K9 Thunder pernah diuji coba di hutan Malaysia (photo: Finland MoD)

Adly berkata perolehan aset baharu itu akan dioptimumkan bagi kegunaan operasi dalam negara, selain penugasan pengaman di lokasi baharu pada masa depan, bergantung pada keperluan operasi dan hala tuju strategik ATM.

"Perancangan ke depan perlu jelas. Kita memang mempromosikan misi pengaman pada peringkat antarabangsa, bukan sahaja di Lubnan (Lebanon)

Malaysia pernah melakukan ujicoba SPH Caesar 6x6 buatan Prancis pada tahun 1995 (photo: KNDS)

"Untuk pembelian aset baharu, lokasi kita beroperasi sebagai misi pengaman, kita bawa aset Tentera Darat dari dalam negara dan perolehan kenderaan itu boleh dimanfaatkan sebagai keperluan aset dalam negara," katanya ketika menggulung perbahasan Rang Undang-Undang Perbekalan (Belanjawan) 2026 peringkat jawatankuasa bagi Kementerian Pertahanan di Dewan Rakyat hari ini.

Mengulas tentang cadangan penggunaan aset sama untuk misi pengaman berpotensi seperti di Gaza, Adly berkata peruntukan sedia ada boleh disesuaikan dengan keperluan operasi baharu sekiranya kerajaan memutuskan penyertaan ATM dalam misi terbabit.

Malaysia menerima seluruh pesanan howitzer tarik Denel G5 155mm pada tahun 2002 untuk kemudian ditawari versi SPH Denel T52 155mm (photo: Denel)

Self Propelled Howitzer (SPH) 155 mm
Sementara itu, Adly berkata Tentera Darat telah menerima kelulusan bagi perolehan aset meriam artileri Self Propelled Howitzer (SPH) 155 mm daripada Bahagian Perolehan pada 17 Nov lepas dan status semasa perolehan kini pada peringkat rundingan harga sebelum kertas perolehan dikemukakan kepada Kementerian Kewangan.

"Saya fikir proses ini boleh dimuktamadkan menjelang tahun hadapan atau mungkin seawal penghujung tahun ini," katanya sambil menambah sebanyak RM50 juta diperuntukkan tahun depan bagi meneruskan perolehan SPH berkenaan.

Tahun 2022 delegasi Malaysia menyaksikan dari dekat SPH Yavuz 155mm 6x6 buatan MKE Turkiye (photo: MKE)

Beliau berkata Tentera Darat telah melaksanakan uji nilai terhadap enam sistem SPH yang ada di pasaran dan keputusan uji nilai telah dibentangkan kepada Lembaga Perolehan sebelum diangkat untuk perakuan Kementerian Kewangan.

Uji nilai itu katanya, penting untuk memastikan Tentera Darat memperoleh sistem yang benar-benar memenuhi keperluan operasi dan latihan, selain memilih aset yang terbukti berkesan (battle-proven).

Tahun 2024 Malaysia melakukan ujicoba SPH 155mm 6x6 buatan Konstrukta Defence Slovakia (photo: Konstrukta)

Dewan Rakyat kemudiannya meluluskan anggaran perbelanjaan mengurus dan pembangunan berjumlah RM21,746,268,300 bagi kementerian itu dalam Belanjawan 2026, dengan majoriti suara bersetuju selepas dibahas 13 Ahli Parlimen.

Persidangan bersambung esok.

24 November 2025

Leopard 2A8 Pertama dan PzH 2000 A4 SPH Diluncurkan

24 November 2025

MBT Leopard 2A8 pertama untuk Jerman (kanan) dan Norwegia (kiri) dan PzH 2000 A4 SPH (tengah) diluncurkan di KNDS di München (photos: Bundeswehr)

Tank tempur utama (MBT) Leopard 2A8 pertama untuk Jerman dan Norwegia serta howitzer gerak sendiri (SPH) Panzerhaubitze (PzH) 2000 A4 diluncurkan di KNDS Deutschland di München pada 19 November, Kementerian Pertahanan Federal Jerman (BMVg) dan Badan Materiel Pertahanan Norwegia (NDMA) mengumumkan di situs web mereka pada hari yang sama.


BMVg mencatat bahwa Leopard 2A8 dilengkapi dengan sistem proteksi aktif (APS) Trophy dan penyempurnaan pada sistem kendali tembakan, kontrol, dan mesin versi sebelumnya. NDMA menyatakan bahwa tank tersebut, yang oleh Norwegia disebut sebagai Leopard 2A8 NOR, merupakan salah satu MBT paling modern dan terdigitalisasi yang pernah diproduksi.


PzH 2000 A4 akan menggantikan SPH versi sebelumnya yang disumbangkan ke Ukraina. Jerman memesan 10 unit PzH 2000 pada 31 Maret 2023.


Meskipun versi Leopard 2 sebelumnya merupakan peningkatan dari tank yang sudah ada, Leopard 2A8 merupakan tank baru pertama Panzertruppe (dinas persenjataan) Jerman sejak 1992. Leopard 2A7A1, versi sebelumnya yang diluncurkan pada 2024, merupakan kendaraan lapis baja Bundeswehr pertama yang dilengkapi dengan APS, sistem Trophy yang sama dengan Leopard 2A8. Kedua versi dilengkapi dengan meriam L55A1 120 mm buatan Rheinmetall yang dapat menembakkan peluru penetrator energi kinetik DM73 dan peluru fragmentasi berdaya ledak tinggi DM11. Keduanya juga dilengkapi dengan dua senapan mesin 7,62 mm dan sebuah peluncur granat asap. Leopard 2A8 memiliki periskop baru yang disempurnakan untuk komandan tank dan kontrol yang disederhanakan untuk penembaknya.

14 November 2025

DTI Thailand Serahkan 3 Prototipe Persenjataan Artileri

14 November 2025

Penyerahan secara simbolis model peluncur roket laras ganda berpemandu DTI-1G (photo: Sompong Nondhasa)

Pada tanggal 13 November 2015, Defence Technology Institute (DTI) menyerahkan tiga peralatan militer kepada Angkatan Darat Kerajaan Thailand:
1. Sebuah prototipe peluncur roket multi-laras serbaguna D11A.
2. Sebuah howitzer ringan 105mm CS/AH2 diserahkan kepada Divisi Artileri.
3. Sebuah peluncur roket multi-laras berpemandu DTI-1G diserahkan kepada Pusat Artileri.

Peluncur roket multi-laras serbaguna D11A (infographic: DTI)

Peluncur roket multi-laras serbaguna D11A
Peluncur roket multi-laras serbaguna D11A merupakan proyek penelitian dan pengembangan untuk prototipe peluncur roket multi-laras berpemandu dengan sistem kendali tembakan. 

Peluncur ini dapat membawa roket 122mm dengan jangkauan 40 km, roket 306mm dengan jangkauan 150 km, dan roket 370mm dengan jangkauan 300 km. DTI dan produsen bersama-sama merancang dan mengembangkan peluncur roket multi-laras serbaguna untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Darat Kerajaan Thailand. Senjata ini dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh di tingkat taktis, operasional, dan strategis.

 Howitzer tarik ringan 105mm CS/AH2
 (infographic: DTI)

Howitzer ringan 105mm CS/AH2
Howitzer ringan 105mm CS/AH2 adalah howitzer tarik yang dilengkapi dengan sistem pencari arah dan pemandu otomatis GPS/INS sebagai sistem pembidik utama. Sebuah pembidik panorama berfungsi sebagai cadangan. 

Senjata ini dapat ditembakkan tanpa peta dan dapat dilipat dari posisi siap ke posisi bergerak. Senjata ini memiliki jangkauan maksimum 20 km dan digunakan sebagai senjata pendukung tembakan untuk batalyon artileri lapangan.

Peluncur roket laras ganda berpemandu DTI-1G (nfographic: DTI)

Peluncur roket laras ganda berpemandu DTI-1G
Peluncur roket laras ganda berpemandu DTI-1G adalah senjata taktis untuk penghancuran target jarak jauh, termasuk instalasi militer, markas besar, depot, bandara, dan target militer penting lainnya. 

Senjata ini digunakan sebagai senjata pendukung tembakan untuk instalasi artileri musuh, sistem roket, stasiun radar, pusat komando dan kendali, serta lokasi peralatan penting. Senjata ini memiliki jangkauan 150 km. (Sompong Nondhasa)

Peluncur roket multi-laras serbaguna D11A untuk roket 122mm dan 306mm (photos: Sompong Nondhasa)

D11A Thailand Lulus Uji Coba Militer

Defence Technology Institute (DTI) milik pemerintah Thailand menyerahkan Peluncur Roket dan Rudal Serbaguna D11A pertama kepada Royal Thai Army (RTA) untuk penyebaran  operasional.


Seorang pejabat DTI mengatakan kepada Janes di pameran Defense & Security 2025 di Bangkok bahwa platform pertama yang diserahkan telah menerima akreditasi dari RTA untuk menembak pada jarak hingga 40 km.

Unit pertama ini akan dipasok ke RTA pada akhir November setelah serangkaian uji coba pengguna dan uji coba dalam beberapa tahun terakhir, yang dilakukan oleh Resimen Artileri ke-71 RTA di Lopburi.


Bersamaan dengan itu, DTI sedang mengembangkan dan membangun prototipe D11A kedua, yang dipamerkan di pameran Defense & Security 2025 dan memiliki kemampuan untuk menembakkan roket pada jarak antara 150 km dan 300 km.

Pengujian prototipe kedua ini dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026, meskipun kendala potensial adalah kurangnya fasilitas pengujian lokal yang memiliki ruang yang diperlukan untuk menguji peluncur roket pada jarak yang lebih jauh. Pejabat DTI mengatakan pengujian prototipe D11A kedua dapat dilakukan di luar Thailand, tetapi ia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.


Pejabat tersebut mengonfirmasi bahwa RTA memiliki rencana untuk membeli enam unit D11A pertama, dengan potensi akuisisi lanjutan di tahun-tahun mendatang. Meskipun DTI berkomitmen untuk membangun dua prototipe pertama, produksi unit lanjutan kemungkinan akan dilakukan oleh fasilitas manufaktur RTA sendiri. (Jane's)