17 September 2026
First Vehicle Pre-delivery Acceptance Tests Successfully Completed in the Kaplan APC Program Developed by FNSS and PT Pindad
12 Januari 2026
Kunjungi Aselsan, Menhan Dapat Helm Pilot KAAN
12 Januari 2026
Menhan Sjafrie diberikan cenderamata helm pilot KAAN (photo: Kemhan)REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin melakukan kunjungan ke kompleks industri pertahanan Aselsan, Ankara, Turki, Jumat (10/1/2026). Sjafrie melihat berbagai produk Aselsan, termasuk sistem antidrone, sistem pertahanan udara (hanud), radar dan torpedo, hingga mock up jet tempur KAAN.
Dalam video yang dilihat Republika, didampingi Menhan Turki Yasar Guler, Sjafrie dengan saksama memerhatikan berbagai produk terkini Aselsan. Kunjungan diakhiri dengan pemberian cenderamata helm pilot jet tempur generasi kelima KAAN yang diserahkan Guler ke Sjafrie. Bahkan, helm karya Aselsan tersebut tertulis nama "Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin" dan bendera Turki-Indonesia.
"Helm pilot (KAAN)," kata Karo Infohan Setjen Kemenhan Brigjen Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi Republika di Jakarta, Sabtu (10/1/2026). Momen penyerahan helm dilakukan Guler ke Sjafrie didampingi CEO Aselsan Ahmet Akyol dan Sekretaris Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Gorgun.
Dik urip dari akun X @avionot, kontrak pembelian 48 unit jet KAAN sudah mencakup masalah mesin. "Indonesia bergantung pada persetujuan mesin AS untuk menerima pengiriman pesawat KAAN yang telah dibelinya? Perjanjian ekspor final yang ditandatangani dengan Indonesia merencanakan pengiriman pesawat tersebut dengan mesin TEI-TF35000 buatan Turki," demikian keterangannya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas penguatan kerja sama pertahanan Indonesia-Turki yang telah terjalin erat selama ini. Baik Sjafrie dan Guler sepakat mengembangkan industri pertahanan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta penguatan hubungan antarlembaga pertahanan kedua negara.
Indonesia dan Turki menegaskan komitmen untuk terus mendorong kerja sama yang saling menguntungkan dan berorientasi jangka panjang. Menhan Sjafrie menekankan, Indonesia memandang Turki sebagai mitra strategis dalam upaya memperkuat kemandirian pertahanan nasional.

Menteri Luar Negeri turut serta membahas kerjasama pertahanan (photo: Kemlu)
"Kerja sama diarahkan untuk mendukung pembangunan ekosistem industri pertahanan yang berkelanjutan, peningkatan profesionalisme prajurit, serta penguatan kapasitas pertahanan dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis global," ucap Sjafrie dalam siaran pers.
Sekretaris SSB Haluk Gorgun di akun media sosialnya menjelaskan tentang makna kehadiran Menhan Sjafrie di fasilitas Aselsan. Menurut dia, selama kunjungan tersebut, kedua pihak melakukan penilaian komprehensif terhadap kemampuan pengembangan dalam negeri Turki di industri pertahanan.
"Kami membahas kolaborasi yang ada serta peluang kemitraan baru yang dapat diimplementasikan dalam waktu dekat. Kami percaya bahwa peningkatan dialog antara Turki dan Indonesia di bidang industri pertahanan akan semakin diperkuat berdasarkan kepercayaan timbal balik dan visi strategis jangka panjang. Teknologi, infrastruktur produksi, dan keahlian teknik yang ditampilkan di Aselsan memberikan landasan penting untuk mengembangkan kolaborasi yang berkelanjutan, konkret, dan saling menguntungkan di industri pertahanan antara kedua negara. Saya berterima kasih kepada Menteri atas kunjungan dan penilaian konstruktifnya," kata Gorgun.
Kunjungan Sjafrie ke Ankara didampingi wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Dubes RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama, Kabaloghan Kemenhan Marsdya Yusuf Jauhari, Dirjen Strahan Kemenhan Mayjen Agus Widodo, serta delegasi Kemenhan. Adapun agenda Sjafrie dan Menlu Sugiono di Turki adalah melakukan pertemuan perdana 2+2 dengan Menhan Guler dan Menlu Turki Hakan Fidan.
10 Januari 2026
Menhan RI Awali Kunjungan Kerja di Turki, Perkuat Kerja Sama Pertahanan Indonesia–Turki
24 Juli 2025
DENİZHAN Naval Gun from MKE to the Indonesian Navy
24 Juli 2025
Three Denizhan 76 mm calibre naval gun will equip Indonesian Navy (infographic: MKE)Türkiye’s first naval gun export contract has been signed!
Our Company and the Indonesian firm Republikorp have signed a contract for the supply of the DENİZHAN Naval Gun to the Indonesian Navy.
About MKE
The Mechanical and Chemical Industry Corporation (Turkish: Makine ve Kimya Endüstrisi or MKE for short), established in 1950, is a reorganization of government-controlled group of factories in Turkey that supplied the Turkish Armed Forces with military products.
The company's legal status has changed from state-owned enterprise to a corporation, with the Law Nr. 7330 dated July 3, 2021.
(MKE)
12 Juni 2025
Indonesia Menandatangani Perjanjian untuk Akuisisi Pesawat Tempur Kaan
19 Mei 2025
Menhan Sjafrie Menerima Secretary of Defense Industry Turki, H.E. Haluk Görgün di Kantor Kemhan
23 Oktober 2024
FNSS Showcases the Newest Member of the Tracked Vehicle Family, KAPLAN APC’s Conceptual Design; Joint Development and Production Program with PT PINDAD
11 Desember 2021
Rencana Kolaborasi Antara Pindad dengan FNSS dalam Kendaraan Amphibi
19 Oktober 2021
KAPLAN YN-ZMA : The Powerful Platform of the Modern Battlefield
19 Oktober 2021
Kaplan New Generation Armored Fighting Vehicle (NG-AFV) (photos : FNSS)
Developed by FNSS, taking into account the needs of the modern battlefield, KAPLAN YN-ZMA draws attention with its original design and modular structure.
KAPLAN YN-ZMA is a modular vehicle designed to integrate 120 mm manned and unmanned turret systems, especially small and medium caliber, with high mobility and growth potential, taking into account not only the present but also the future.
Coming to the fore as a "Yeni Nesil Zırhlı Muharebe Aracı" (YN-ZMA)/New Generation Armored Fighting Vehicle (NG-AFV), KAPLAN; It is also possible to produce configurations that will perform a wide variety of tasks such as armored personnel carrier, command vehicle, rescue vehicle, mortar vehicle, engineer reconnaissance vehicle, ambulance.
KAPLAN YN-ZMA, depending on the task it undertakes; It is a new generation armored fighting vehicle with a power-to-weight ratio of at least 20 Hp/ton, automatic transmission, and joint action with main battle tanks. It is resistant to all kinds of climate and terrain conditions and has the ability to move at high speed on asphalt or stabilized roads. The advanced suspension system is designed to reduce vehicle vibration and increase road holding. KAPLAN has an open-architecture vehicle electronics infrastructure that allows easy integration of different mission equipment according to needs.
There is a personnel (squad) section for 8 people in the personnel carrier version and 6 people in the version with gun turrets (photo : FNSS)Built on FNSS' more than 35 years of experience in the field of land systems, KAPLAN YN-ZMA is equipped with modular survivability systems to offer an effective solution to the changing threats of the battlefield. There are protection packages against ballistic, mine and improvised explosive threats. KAPLAN also offers an active protection system option against anti-tank missiles.
04 Oktober 2021
Teknofest 2021: Turki Tertarik dengan Proyek R-80?
19 Agustus 2021
Sejumlah Pesanan Telah Menanti bagi Tank Medium FNSS-Pindad
16 Agustus 2021
The Serial Production of Kaplan Tank (Harimau Tank) will Appear at IDEF
03 Agustus 2020
Menristek Indonesia, Turki Mulai Gelar Pembahasan Kerja Sama Teknologi
Pesawat angkut R80 (image : RAI)
Menteri Riset dan Teknologi Indonesia Bambang Brodjonegoro melakukan virtual meeting dengan Menteri Teknologi dan Industri Turki Mustafa Varank pada Selasa.
Lalu Muhamad Iqbal, Duta Besar RI untuk Turki, menyampaikan pertemuan ini merupakan pertemuan pendahuluan untuk memulai kerja sama teknologi pada bidang-bidang yang sudah dijajaki.
“Ini akan diikuti dengan berbagai pertemuan lanjutan, baik pada level menteri maupun level teknis. Kedua pihak sangat antusias untuk bekerja sama,” ujar Lalu Muhamad Iqbal, dalam keterangan persnya kepada Anadolu Agency, Selasa sore.
Dalam pertemuan itu, kedua Menteri membahas perkembangan teknologi serta peluang kerja sama di bidang pengembangan vaksin serta obat Covid-19, industri pesawat terbang komersial (N-219 dan R-80), satelit dan peluncuran satelit (roket) serta pengembangan teknologi pesawat tanpa awak (drone).
“Dari presentasi-presentasi yang disampaikan kedua delegasi, semakin jelas bahwa peluang konkrit kerja sama teknologi di berbagai bidang di antara Indonesia dan Turki sangat menjanjikan. Kita harus segera menindaklanjuti,” ujar Menteri Varank.
MALE UAV (image : BPPT)
Sementara itu, Menteri Bambang mengatakan Indonesia sangat terbuka untuk memperkuat kerja sama dalam bidang-bidang yang sudah dibahas.
Karena itu, lanjut dia, kedua negara setuju membahas memorandum kesepakatan di masing-masing bidang sesegera mungkin dan juga menandatangani perjanjian di antara kedua menteri yang akan menjadi payung bagi kerja sama-kerja sama tersebut.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan informasi WHO, Turki adalah satu dari empat negara di dunia yang sudah mencapai kemajuan paling berarti dalam pengembangan vaksin di dunia. Sementara itu PT. Bio Farma adalah salah satu industri vaksin paling besar di dunia Islam.
Berdasarkan data pemerintah Indonesia, saat ini terdapat 3 proyek pengembangan pesawat terbang yang sedang dilakukan Indonesia yaitu N-219 dan N-245 oleh PT. Dirgantara Indonesia serta R-80 oleh PT. RAI.
Di bidang satelit dan roket, Turki sudah mulai mengembangkan satelit komunikasi skala besar yang sepenuhnya merupakan buatan dalam negeri dan merupakan salah satu negara maju dalam industri roket, khususnya untuk keperluan militer.
“Kedua negara melihat terdapat peluang besar bagi kedua negara untuk bekerja sama mengembangkan teknologi satelit, roket serta peluncuran satelit,” ujar Lalu Muhammad Iqbal.
07 Maret 2020
Indonesia dan Turki Sepakat Kembangkan APC Roda Rantai dan Amfibi
Hull tank medium Harimau akan dikembangkan menjadi APC roda rantai (photo : defence.pk)
Indonesia dan Turki kembangkan jenis baru medium tank
Perusahaan milik pemerintah Indonesia di bidang pertahanan, Pindad, dan Perusahaan Turki FNSS akan kembali melakukan kerja sama pengembangan alat utama sistem pertahanan (Alutsista).
Vice President Inovasi PT Pindad Windu Paramata mengatakan setelah sukses membuat medium tank, kedua perusahaan milik Indonesia dan Turki itu akan kembali bekerja sama mengembangkan jenis baru Harimau Medium Tank atau Kaplan MT, berupa kendaraan angkut personel dan tank amfibi.
Selain itu, Pindad dan FNSS akan melengkapi kendaraan itu dengan Unmaned Turret atau senjata khusus tank dengan kaliber 30 mm.
"Jadi turret 30 mm tanpa awak, berupa remote control weapon system yang digunakan untuk perlindungan atau menyerang kendaraan ataupun pertahanan musuh," kata Windu, kepada Anadolu Agency.
Diharapkan pada tahun ini Pindad rampung membuat desain senjata itu.
Platform kendaraan amfibi juga ZAHA pernah ditawarkan oleh FNSS (photo : EDR Magz)
"Jadi skemanya hampir sama dengan pengembangan prototipe tank medium, dimana FNSS dengan pindad melakukan pertukaran informasi, pertukaran proses design kerja sehingga kita mendapatkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dari pengguna di Indonesia," tambah dia.
Sebelumnya, Pindad Indonesia dan FNSS Turki sepakat menandatangani kerja sama pembuatan purwarupa medium tank pada 2015 lalu. Perancangan tank ini dimulai Februari 2016.
Setelah selesai diproduksi di Turki, medium tank ini diberi nama Kaplan MT.
Kaplan MT sempat dikirim ke Indonesia dan dipamerkan pada hari ulang tahun TNI 5 Oktober 2017 lalu di Cilegon, Banten.
Indonesia pun memberi nama Harimau Medium Tank.
Tank ini dilengkapi dengan two-man turret kaliber 105 mm serta senapan mesin kaliber 7,62 mm.
Harimau Medium Tank didesain khusus untuk daerah operasi tropis seperti hutan karena memiliki bobot yang lebih ringan dari Main Battle Tank.
(AA)
10 Desember 2019
The 8th Defence Industry Cooperation Meeting DICM RI Turki
The 8th Defence Industry Cooperation Meeting between RI–Turki merupakan forum kerjasama bilateral antara kedua negara bidang Industri Pertahanan yang telah berlangsung sejak tahun 2011 berdasarkan Agreement on Defence Industry Cooperation between the government of the Republic of indonesia and the Government of the Republic of Turkey. Keberhasilan forum tersebut menjadi tanda semakin eratnya hubungan kerja sama pertahanan antara RI dan Republik Turki. Kemhan RI berharap bahwa Defence Industry Cooperation Meeting yang ke–8 yang dilaksanakan di Hotel Orchardz, Jalan Industri, Jakarta Pusat pada tanggal 5 s.d. 6 Desember 2019 juga dapat memperkuat kerja sama bilateral pertahanan kedua negara seperti yang diharapkan bersama. Kedua negara telah sepakat melanjutkan kerja sama bidang Industri Pertahanan lebih intensif melalui “Indonesia–Turkey Towards an Enhanced Partnership in a New World Setting” yang telah disepakati oleh kedua negara pada tahun 2011.
Dirjen Pothan Kemhan Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M. Si memimpin kegiatan The 8th Defence Industry Cooperation Meeting between RI–Turki pada 5 s.d 6 Desember 2019, bertempat di Hotel Orchardz Jakarta Pusat, Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari pejabat Kemhan, KKIP, Angkatan, Kementerian/Lembaga Terkait dan Industri Pertahanan (PT. Pindad, PT. Dirgantara Indonesia, PT. Dahana, PT. LEN, PT.PAL, PT.NTP, PT. Garda Persada, PT. Jala Berikat, PT. Bhimasena, PT. Ridho Agung Mitra Abadi, PT. T & E Simulation dan PT. Lundin Sedangkan Delegasi Turki dipimpin oleh Vice President of Presidency of Defenc Industries (SSB) of the Republic of Turkey, Mr. Serdar Demirel beserta 31 orang.
STM naval mini drone (photo : Armada International)
Forum kerjasama bilateral antara kedua negara bidang Industri Pertahanan yang telah berlangsung sejak tahun 2011 berdasarkan Agreement on Defence Industry Cooperation between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Turkey. Keberhasilan forum tersebut menjadi tanda semakin eratnya hubungan kerja sama pertahanan antara RI dan Republik Turki. Kemhan RI berharap bahwa Defence Industry Cooperation Meeting yang ke–8 yang juga dapat memperkuat kerja sama bilateral pertahanan kedua negara seperti yang diharapkan bersama. Kedua negara telah sepakat melanjutkan kerja sama bidang Industri Pertahanan lebih intensif melalui “Indonesia–Turkey Towards an Enhanced Partnership in a New World Setting yang telah disepakati oleh kedua negara pada tahun 2011.
Pada kesempatan tersebut Dirjen Pothan Kemhan Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si, menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:
*Program produksi bersama untuk Tank kelas menengah (Medium Tank) telah selesai dan sedang memasuki tahap produksi massal.
*Kerjasama antara PT. Dirgantara Indonesia dan TAI pada pesawat N219, N245 yang MoM nya telah ditanda-tangani pada tanggal 30 april 2019 namun masih perlu diskusi lebih lanjut.
*Selanjutnya kerjasama antara ASELSAN dan PT. LEN di mana memasuki tahap proses produksi,
*Pelatihan pilot Indonesia pesawat CN–235 masih dilakukan pada tahun 2019. Hannya 16 pilot dari rencana 40 pilot yang dilatih dan 12 pilot direncanakan untuk tahun 2020.
*Sementara itu, produksi bersama terhadap roket berkaliber 122 mm dan kaliber lainnya antara ROKETSAN dan PT. PINDAD/PT. Dirgantara Indonesia telah disepakati.
*Kerjasama antara STM dan Angkatan Laut Indonesia dalam Attack Drone telah dilakukan oleh Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut pada 4 – 6 Juli 2019 di Golcuk.
Roketsan roket kaliber 122mm dan kaliber lainnya di pameran Indodefence 2014 (photo : thearmedforcesoftheworld)
Industri Pertahanan Indonesia saat ini juga telah mampu menyediakan dan memproduksi peralatan dan dukungan sistem yang digunakan oleh TNI. Industri Pertahanan Indonesia siap untuk berkolaborasi dan bahkan sudah ada yang telah berkolaborasi dengan industri pertahanan Turki, perusahaan tersebut antara lain: PT. Pindad, PT Len, PT. Bhimasena dan PT. ITS.
Pada hari pertama kedua negara mempresentasikan Industri Pertahanannya masing–masing tentang kemampuan memproduksi, kerjasama yang telah dijalani selama ini dan peluang kerjasama kedepan. Dari Indonesia di awakili oleh TNI, PT.Pindad, PT. Dirgantara Indonesia, PT. LEN, PT. Garda Persada, PT. NTP. Sedangkan dari Turki, dipresentasikan oleh ASEAF, STM, TAI, BAYKAR, ROKETSAN, HAVELSAN, ASELSAN, FNSS, BMC, KOLUMAN, GOKSER MAKINA, SARSILMAZ. Setelah melaksanakan presentasi antara kedua negara, dilanjutkan dengan Diskusi dan pembahasan Items Action List yang akan disepakati. Items Action List merupakan hasil meeting yang akan dilaksanakan sampai dengan DICM RI–Turki ke–9 nanti di Turki. Agenda pada hari kedua yaitu melaksanakan penadatanganan MoM hasil meeting hari pertama, B to B antara Industri kedua negara, Courtesy Call dengan Sekjen Kemhan dan kunjungan ke PT. Jala Berikat dan PT. Ridho Agung Mitra Abadi.
Kegiatan The 8th Defence Industry Cooperation Meeting between RI–Turki berjalan dengan tertib, aman dan lancar.
(Kemhan)
03 Mei 2019
Marine Assault Vehicle (MAV) Makes First Appearance at IDEF’19
IDEF’19 will witness the unveiling of the MAV Marine Assault Vehicle, which has been greatly anticipated by the sector due to limited number of comparable vehicles in the same class, principally because of the challenging requirements and highly specialised mission definition associated with these vehicles.
ZAHA Marine Assault Vehicle (photo : ptisidiastima)
Visitors to the FNSS stand will have opportunity to see the first prototype MAV, whose main role is to support the combat capabilities of marine forces in line with the requirements of the 21st century combat environments.
ZAHA Marine Assault Vehicle (photo : Anadolu)
MAV is being developed as part of the Armoured Amphibious Assault Vehicles (Zırhlı Amfibi Hücum Araçları, ZAHA) Project being conducted by the Presidency of Defence Industries (SSB) to meet a need of Turkish Naval Forces Command. Within the project, FNSS will deliver a total of 27 vehicles, including 23 personnel carriers, two command and control vehicles and two recovery vehicles.
ZAHA Marine Assault Vehicle (photo : Star)
In addition to enabling the safe landing of units during amphibious operations, the armoured amphibious assault vehicles also serve as armoured personnel carriers after reaching the shore. During the amphibious assault phase of an operation, these vehicles are launched from Landing Helicopter Dock (LHD) and rapidly cover the distance between the vessel and shore, allowing forces to land under protection and with minimum delay. Once on land, these vehicles can continue taking part in operations side-by-side with other armoured vehicles. As vehicles with a dual role due to their mission requirements, armoured amphibious assault vehicles need to exhibit superior performance both at sea and on land, and only a few countries around the world have such vehicles in their inventories. Among the NATO countries and allies, there is only one company other than FNSS producing vehicles of this class.
ZAHA Marine Assault Vehicle (photo : hurriyet)
Compared to similar examples, MAV is expected to be superior in the following aspects:
-Number of personnel transported by the vehicle,
-Level of ballistic and mine protection, and Performance criteria on land and in water,
-With ZAHA, FNSS takes armoured amphibious assault vehicles into the 21st century, and the project has now reached the Critical Design Review phase. Venturing outside classical approaches within the defence projects, FNSS has completed its evaluation of the vehicle’s design not only on paper, but also on the prototype, for this review. The review will be on executed on the prototype vehicle in the integration hall.
ZAHA Marine Assault Vehicle cannon (photo : EDR)
-K. Nail Kurt, General Manager and CEO of FNSS, emphasises that MAV is a very special vehicle: “MAV has to make sure that marines reach the shore in the shortest time possible, both to ensure rapid movement and to minimize their exposure to threats while at sea. Once ashore, it should be able to operate effectively as an armoured combat vehicle, while also safeguarding the troops inside with superior ballistic and mine protection. To put it briefly, until the MAV made its appearance, there was no such vehicle on the market. We are developing MAV in response to the requirements of the Turkish Naval Forces, which carried out one of the most important amphibious operations in the last 50 years with great success. We are confident that friendly and allied nations with high amphibious operational requirements, particularly island countries like Indonesia, will also look to take advantage of MAV’s superior characteristics; and we look forward to working with them in the future.”









.jpg)



























