Tampilkan postingan dengan label Kapal Pengangkut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Pengangkut. Tampilkan semua postingan

08 Februari 2022

Textron Systems Unveils SECAT for Expeditionary Warfare Logistics

08 Februari 2022

SECAT offers high-speed transport (50 knots) for 500 tons of cargo (images : Textron Systems)

Modern Solution Expeditionary Warfare Logistics SECAT

As focus shifts from land-based competitions to large sea-based operations, there is an increased capability requirement for executing expeditionary logistics at sea and ashore. As an industry leader and key integrator for marine specialty craft for over 50 years, Textron Systems believes that Surface Effect Ship (SES) technology can be utilized to provide specialized performance capabilities that traditional monohulls can’t when it comes to logistical support operations.


Building on our unique technical expertise, we are proud to introduce a new, innovative design, called the Surface Effect Cargo Amphibious Transport (SECAT). This platform, based on SES technology, can deliver the advanced logistic capabilities required for Expeditionary Advanced Base Operations (EABO) & Distributed Maritime Operations (DMO). Designed as a survivable, low-profile, high-speed connector, SECAT can carry 500 tons of cargo at 50 knots for 500 nautical miles in high sea states. This innovative design enables performance capabilities such as survivability, at sea rolling stock cargo transfer, “feet dry” cargo offload/load ashore, high speed shallow and deepwater operations, and the versatility to carry a wide range of cargos- all of which could greatly enhance the U.S Navy and the U.S. Marine Corps’ ability to successfully execute EABO and DMO.

As a surface craft, our SECAT concept has an aluminum catamaran hull with a flexible bow and stern seals to contain an air cushion between the ridge side hulls. This design allows for reduced resistance for high-speed maneuvers and is inherently less susceptible to underwater shockwaves, sea mines, submarine targeting and torpedoes, increasing overall survivability for the craft.


Textron Systems has extensive experience within the marine specialty craft space. With our CUSV® system, our Common Unmanned Surface Vehicle, our Ship-to-Shore Connector and more, our team continues to build upon our expertise and knowledge to support our customer with modern solutions and next-generation technology to ensure they are successful today and tomorrow.

17 April 2021

KRI Karang Tekok-982 Resmi Pensiun dari Dinas Aktif TNI AL

17 April 2021

KRI Karang Tekok 982 tampak depan (photo : gambar transportasi)

Pangkoarmada II Laksda TNI I N.G. Sudihartawan didampingi Inspektorat Koarmada II, Kapok Sahli serta Danguspurla Koarmada II memimpin Upacara Pelepasan KRI Karang Tekok (KTK-982) dari Dinas Aktif TNI AL yang dilaksanakan di Dermaga Tengah Mako Koarmada II, Ujung, Surabaya pada Jum’at (16/04).

Karang Tekok diambil dari sebuah nama daerah provinsi Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Banyuwangi yang merupakan tempat basis marinir dalam membentuk insan prajurit yang tangguh, tanggap, tanggon dan trengginas dalam melaksanakan tugas untuk mempertahankan keutuhan wilayah NKRI.

Kapal Karang Tekok class tampak samping (photo : Lensa Indonesia)

KRI KTK-982 dibuat digalangan Kapal Laurzen Jerman pada tahun 1998. Pada tahun 2005 diserahkan operasionalnya dari PT. ASDP kepada TNI AL dan diresmikan pada tanggal 18 Oktober 2006 oleh Panglima TNI dan statusnya resmi menjadi Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dimana pembinaanya dibawah jajaran Satuan Kapal Bantu (SATBAN) Komando Armada RI Kawasan Timur .

Dalam sambutannya Pangkoarmada II Laksda TNI I N.G. Sudihartawan mengatakan, “ KRI Karang Tekok-982 yang menjadi salah satu unsur satuan kapal bantu Koarmada II, hari ini telah sampai pada batas akhir pengabdiannya. Berkaitan hal tersebut, maka kita melaksanakan upacara militer sebagai penghormatan terakhir terhadap pengabdian yang telah diberikan oleh KRI ini, “ Jelas Laksda Sudihartawan.

KRI Karang Tekok 982 tampak belakang (photo : TNI AL)

Lebih lanjut, “ Harus diakui bahwa semua prestasi yang telah dicapai KRI Karang Tekok-982 hanya dapat dicapai melalui kerja keras, dedikasi, loyalitas serta tanggung jawab serta profesionalisme seluruh ABK. Kinerja ABK KRI tersebut, merupakan hasil pembinaan yang panjang sejak kapal ini pertama kali masuk jajaran TNI AL hingga saat ini. Untuk itu, kepada seluruh mantan komandan, prajurit yang saat ini masih bertugas di KRI tersebut, atas nama pemimpin TNI AL dan seluruh jajaran, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, “ pungkas Laksda Sudihartawan.

16 Agustus 2020

Factory X55 Handed Over the Multi-Purpose Transport Ship to Military Region 9

16 Agustus 2020

VN-150 ship (photo : QDND)

QDND Online - Morning of August 14, at Can Tho City, X55 Factory, the Technical Department, the Navy Service Department organized the handover of the multi-purpose transport vessel VDN-150 to Regiment 659 (Logistics Department, Military Region 9) .

Attending the handover meeting were Major General Le Hong Dung, Deputy Director of the General Department of Logistics; Major General Nguyen Duc Tung, Director of Transportation Department, General Department of Logistics; Major General Nguyen Minh Trieu, Deputy Commander of Military Region 9 and a number of related agencies and units.

VDN-150 is a military ship built according to modern technology, constructed according to national standards on steel hull shipbuilding QCVN 21: 2015 / BGTVT. Ships have the duty of transporting means and materials or carrying troops and coordinating in search and rescue on rivers and at sea; Can carry 120 tons of vehicles and goods.

Delegates visiting the ship (photo : QDND)

After more than 11 months of construction, on February 3, 2020, the ship was launched on the 90th anniversary of the establishment of the Communist Party of Vietnam. To ensure the schedule of launching ships, the agencies and units of the X55 Factory have coordinated closely and uniformly deployed tasks; Team of cadres and workers are assigned the task of urgently construction of items, especially during the Lunar New Year of Canh Ty 2020.

After launching the ship, Naval X55 Factory continued to perfect the following items: Test explosion and load test of 2 ship's generators; tilt test, check ship stability; explosion test, test 2 main machines; testing, checking and acceptance of internal equipment and systems on board; inspection and separation of internal berths ... Crew members of the ship were trained, tested and issued by the X55 Factory in accordance with regulations.

After nearly 18 months of construction, the VDN-150 vessel has been completed on schedule, ensuring quality, technical features according to design. The completion of the new building and handover of the VDN-150 has affirmed the new military shipbuilding capabilities of the Naval X55 Factory; At the same time, it is the basis for the Factory to build new larger and more modern ships for the Navy Corps and for the armed forces in Military Region 9.

(QDND)

06 Februari 2020

Polri Pesan Kapal Besar Multifungsi ke PT PAL Surabaya

06 Februari 2020


Kapal Polisi Hanoman KP-7011, kapal besar Polri saat ini digunakan sebagai Kapal Angkut Personel Polisi Perairan (photo : KKIP)

Merdeka.com - Polisi memesan sebuah kapal besar yang multi fungsi ke PT PAL Surabaya. Kapal tersebut fungsinya bukan hanya untuk mengangkut pasukan, tapi juga untuk bantuan logistik, maupun operasi kemanusiaan.

Pembelian kapal untuk Polri ini disampaikan oleh Kepala Badan Pemelihara Keamanan Negara (Baharkam) Polri, Komjen Pol Agus Andrianto. Ia mengatakan, Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu mengunjungi PT PAL di Surabaya. Usai kunjungan, Jokowi memberi instruksi ke Polri untuk membeli salah satu kapal dari PT PAL.

"Sesuai arahan presiden, Polri diminta untuk mendukung industri nasional, dengan memesan kapalnya dari PT PAL. Tadi kami memesan ke sana, untuk melihat spesifikasi apa yang bisa dibutuhkan oleh institusi polri," katanya, di Mapolda Jatim, Selasa (4/3).

Kapal Polisi Yudistira KP-8003, kapal terbesar Polri saat ini dengan panjang 73m  (photo : DRU)

Agus menambahkan, Polri memesan kapal yang multifungsi. Dengan maksud, agar kapal ini nantinya bisa digunakan untuk segala keperluan.

"Fungsinya bukan hanya untuk mengangkut pasukan, tapi bisa juga untuk bantuan logistik, serta untuk operasi kemanusiaan. Kapal multifungsi, yang cukup besar, yang bisa digunakan patroli maupun untuk geser logistik ke tempat bencana. Misalnya mengubah fungsi kapal itu untuk RS, atau bantuan Polri, pada saat kejadian bencana," tegasnya.

Terkait dengan spesifikasi kapal yang diminta itu, pihak PT PAL sudah menyanggupi untuk membuatkannya. Lalu berapa kapal yang dipesan? Agus menyebut pihaknya hanya membeli satu kapal saja karena harganya yang cukup mahal.

"Untuk merumuskan kebutuhan kapal yang seperti yang kami mau, sudah kita bicarakan dengan PT PAL. Kami pesan 1 aja, cukup mahal, dan kami sedang cari sumber dana seperti apa, jadi gak bisa pakai rupiah murni, ataupun APBN," tambahnya.

(Merdeka)

25 Januari 2020

KRI Tanjung Nusanive 973 Akhiri Masa Tugas

25 Januari 2020

KRI Nusanive 973 Kapal Bantu Angkut Penumpang (BAP) (photo : port of arar)

Jakarta --- Satya Wira Jala Dharma. Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jenis Bantu Angkut Personel di bawah pembinaan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) dilepas dari jajaran alusista (alat utama sistem senjata) TNI AL. Akhir masa tugas KRI Tanjung Nusanive 973, ditandai dengan Upacara Penurunan Ular-ular Perang yang dilaksanakan Jumat (24/1), di Dermaga Pelindo JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Merujuk ke sejarahnya, kapal berbobot 14.000 ton ini awalnya adalah KM (Kapal Motor) Kambuna. Kapal dengan kapasitas 1.556 penumpang ini resmi digunakan oleh PT Pelni sejak 25 Maret 1984. Berdasarkan catatan, KM Kambuna dibangun oleh galangan Jos L Meyer GmbH yang berlokasi di Papenburg, Jerman.

Dari spesifikasi, KM Kambuna punya panjang 144 meter, lebar 23 meter, tinggi 40 meter, 9 level deck dan draft 5,9 meter. Dan sejak 13 Mei 2005, KM Kambuna resmi beralih nama menjadi KRI Tanjung Nusanive 973 dengan upacara penyerahan saat itu di Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok. Dengan nama KRI Tanjung Nusanive 973, kapal penumpang ini mendapat sentuhan upgrade, diantaranya disematkannya dua pucuk kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Rheinmetall Rh202 laras tunggal kaliber 20 mm buatan Jerman.

Kapal ini memiliki ukuran panjang seluruh 144 m, lebar 23 m, draft 5,9 m, DWT 3400 ton, GRT 3947,80 ton, dan NRT 8583,82 ton, dengan kapasitas penumpang (sewaktu menjadi kapal sipil) Kelas 1: 100 orang, Kelas 2: 200 orang, Kelas 3: 300 orang, Kelas 4: 472 orang, dan Kelas Ekonomi: 500 orang.

KRI Tanjung Nusanive 973 (photo : Kolinlamil)

Selain dioperasikan untuk misi pergeseran pasukan dan logistik, KRI Tanjung Nusanive 972 juga dilengkapi fasilitas sekelas hotel bintang lima. Pasalnya kapal ini kerap digunakan pejabat tinggi, seperti presiden dalam melakukan inspeksi. Maka wajar di kapal ini ada kamar VVIP dan VIP dengan fasilitas mewah dan lengkap.

Dalam kondisi pertempuran maka posisi kapal ini akan berada di tengah dengan kawalan masing-masing dua kapal eskorta di bagian kiri, kanan, haluan, dan buritan.

Selama 15 tahun lebih, kapal perang itu banyak dilibatkan dalam operasi militer, antara lain Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya, TNI/ABRI Masuk Desa, Angkutan Laut Militer (Anglamil) pasukan penjaga wilayah perbatasan RI, dan operasi penanggulangan bencana alam serta bantuan angkutan laut dalam mendukung pembangunan nasional.

Panglima Kolinlamil Laksda TNI Ahmadi Heru Purwanto, S.E., M.M. menyampaikan amanat Kasal, 15 tahun yang lalu, Upacara Penaikan Ular-ular Perang bagi KRI Tanjung Nusanive merupakan tanda dimulainya pengabdian sebagai kapal perang dan selalu berkibar di tiang gapel, maka Upacara Penurunan Ular-ular Perang nanti merupakan upacara resmi yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian sebuah KRI sebagai unsur kekuatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.

Lebih lanjut dikatakan bahwa beban tugas yang dipercayakan pada KRI begitu banyak, dan berhasil dengan baik. Oleh karena itu pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia melalui Kolinlamil yang cukup lama tersebut patut kita kenang dan kita banggakan. Selain itu, penghapusan KRI Tanjung Nusanive 973 telah berdasarkan pertimbangan efisiensi dan efektifitas baik dari segi operasi dan pemeliharaan. Turut hadir pada upacara tersebut Kepala Staf Kolinlamil, Irkolinlamil, Asisten dan Kadis Kolinlamil, Dansatlinlamil Jakarta dan para Komandan KRI jajaran Satlinlamil Jakarta.

(Kolinlamil)

18 Maret 2013

Modernisasi KRI Karang Pilang-981 Koarmatim

18 Maret 2013


KRI Karang Pilang 981 (photo : Kaskus)

Untuk mendukung blue print TNI Angkatan Laut tahun 2014 menuju Minimum Essential Force (MEF), Koarmatim melakukan modernisasi unsur-unsur yang berada dibawah jajarannya. Salah satu unsur tersebut adalah KRI Karang Pilang-981 yang berada dijajaran Satuan Kapal Bantu (Satban) Koarmatim. Modernisasi yang dilakukan meliputi penggantian sistem pendorongan  (propulsi), perbaikan interior kapal serta persenjataannya dengan menambah dua pucuk meriam kaliber 20mm. Perbaikan ini dilakukan di DockShip Lift Divisi Kapal Perang PT. PAL

KRI Karang Pilang akan ditambah persenjataan dengan dua meriam kaliber 20mm (photo : Armada Timur)

Dalam perbaikan ini sistem permesinan KRI Karang Pilang yang tadinya menggunakan empat Mesin Pendorong Pokok (MPK) bertenaga Water Jet direvitalisasi menjadi dua MPK Shaft Propeler. Dengan adanya penggantian sistem pendorong pokok ini secara teknis dapat mengurangi laju kecepatan kapal, namun disisi lain dari segi operasional sangat positif dalam efisiensi bahan bakar.Memang dengan dua MPK Shaft Propelerkecepatan kapal akan turun dari 40 knot menjadi 18 knot, namun dari segi pemakaian bahan bakar dapat menghemat pemakaian dari 2 ton per jam menjadi 2 ton per hari.


KRI Karang Pilang sewaktu masih jadi feri cepat KM Ambulu (photo : ASDP)

Melihat sejarah KRI Karang Pilang-981,awalnya adalah kapal penumpang milik PT. Pelni dengan nama KM. Ambulu, dibuat pada tahun 1996 di galangan kapal Lurrsen Jerman. Kemudian pada tanggal 07 April 2006 kapal tersebut dihibahkan ke Angkatan Laut dan dipercayakan memperkuat jajaran Satban Koarmatim.Kapal perang ini sangat efektif dalam melaksanakan opersi tempur laut, hal ini disebabkan oleh bangunan kapal perang terbuat dari aluminium, yang sulit dideteksi oleh radar kapal perang musuh. Dominasi platform kapal dari alminiumsecara teknis jika terdeteksi radar kapal perang musuh, akan tampak samar. Hal itu dapat dijadikan sebagai sarana kamuflase dan pengelabuahan terhadap lawan.

Di jajaran Koarmatim,KRI Karang Pilang memilki fungsi sebagai Kapal Cepat Angkut Personel (KCP), diawakai sekitar 30 personel dengan Komandan Mayor Laut (P) Basuki Mulyo Wibowo. Kapal ini naik dock PT. PALpada tanggal 19 Februari 2013, dan sempat ditinjau oleh Irjen TNI Letnan Jenderal TNI Gerhan Lantara, Rabu (13/3) kemarin.

(Armada Timur)

07 Oktober 2011

Vietnam Navy Launched K122 Ships

07 Oktober 2011

K122 ship at launch ceremony - (photo: Nguyen Van Xuan)

Morning 5 /10, General Factory Z189 defense industry has celebrated and successful launch K122 passenger ship.

Passenger ship K122 is the biggest and most modern Vietnam Navy today by design and construction.

Vessels 71 meters in length, width 13.2 m, range 2,500 nautical miles, carrying the 180 guests (sleeping).

On the construction process, the factory has applied several technical solutions with quality standards and modern technologies of the European partners.

The building and launching successful passenger ship K122 ensure the technical features, good quality will contribute to building the Vietnam People's Navy increasingly formal, well-trained and modern.

14 Juli 2011

Austal would build U.S. Navy Ships at Cebu - Phillipines

14 Juli 2011

JHSV for USNavy ships (photo : Austal)

Aussie Firm to Create 2,000 Balamban Jobs

An Australian shipbuilding company, Austal, will soon build US Navy ships in Balamban town, west Cebu.

The operation will generate at least 2,000 jobs in the town, said Cebu Provincial Board Member Alex Binghay, who is Balamban’s former mayor.

Austal, which manufactures aluminum-hulled vessels, has started developing a part of the site of FBMA Marine Inc, an Aboitiz-owned shipbuilding plant inside the West Cebu Industrial Park in Balamban.

Binghay said Austal signed a $10-billion contract with the United States Navy to build military support ships and would sign an agreement with the municipality of Balamban within two months for the formal operation of the firm in Cebu.

He said this would be a “big investment” for the town.

Officials of Austal visited Balamban town last Saturday to discuss site developments.

Austal also reached an agreement with FBMA on the use of part of its facility.

Since the site is in an export processing zone, two percent of the gross income of Austal will go the municipality, said Binghay.

Binghay said one ship manufactured by Austal would cost at least $100 million while three percent of the gross income would also go to the national government.

Austal is a member of the Australian Association of Shipbuilders.

Other products of Austal include high-speed passenger and vehicle-passenger ferries, cruise vessels and a range of patrol, fast freight and offshore support vessels.

Balamban is also home to Tsuneishi Heavy Industries Inc., another ship building firm which employs 14,000 highly skilled workers.

(Inquirer)

17 Februari 2011

Fast Ferry Solution Urged for Navy to Plug Hole in Amphibious Fleet

17 Februari 2011

In the period of 1997-2001, RAN leased high speed ferry catamaran as HMAS Jervis Bay AKR-45 (photo : Idris Welch)

THE federal government should move quickly to plug a hole in the navy's amphibious ship-lift capability by leasing or buying a locally-built high-speed catamaran, a respected defence think tank says.

The acquisition of a catamaran like the Tasmanian-built Jervis Bay, leased during the 1999 East Timor crisis, would be a useful addition to the Royal Australian Navy fleet, the Australian Strategic Policy Institute's Andrew Davies said.

Yesterday, Defence Minister Stephen Smith lashed his own department over its failure to keep its ships seaworthy and maintain a deployable heavy-lift amphibious capability.

Dr Davies, director of ASPI's operations and capability program, said experience gained during the five-year lease of the Jervis Bay was proof of the military viability of commercial high-speed catamarans.

“This seems to be a situation where considerable national capability can be acquired for a relatively small outlay,” he said.


It would take more than 12 months for the lease or purchase of a surplus Royal Navy bay class amphibious support vessel from Britain, Dr Davies warned.
He said the Jervis Bay example showed the capability could be achieved more easily through the lease of a high-speed commercial vessel.


“The RAN could acquire a capability that is not just useful for the smaller jobs that do not require the capabilities of a large vessel, but would gain considerable flexibility in terms of the speed and concurrency of deployments, including the wherewithal to augment the LHDs (new Canberra class) with what is essentially a fast ferry service.”


(The Australian)

15 Februari 2011

Sri Gaya class : Fast Troop Vessel Angkatan Laut Malaysia

15 Februari 2011


KD Sri Tiga 331, kapal cepat pengangkut pasukan Malaysia (photo : TLDM)

Proses Pembangunan

Angkatan Laut Malaysia mempunyai 2 kapal cepat pengangkut pasukan (fast troop vessel) yang masing-masing diberi nama KD Sri Gaya 331 dan KD Sri Tiga 332.

Pembangunan kapal ini dilaukukan oleh BHI/Boustead Heavy Industries (dahulu PSC-NDSB/Penang Shipbuilding & Construction - Naval Dock Yard Sdn Bhd) dimulai pada tahun 1998, dan komisioning pada tahun 2001.

Kapal dengan biaya RM 16 juta ini semula merupakan kapal feri cepat untuk sebuah perusahaan jasa ferry local namun tidak diteruskan karena perlambatan ekonomi yang melanda Asia Tenggara. Order kemudian diubah menjadi kapal cepat pengangkut pasukan (FTV) untuk Angkatan Laut Malaysia/TLDM.

Dalam mengerjakan kapal ini, Boustead yang berada di Lumut, Perak sebelumnya mengerjakan perawatan dan perbaikan kapal-kapal TLDM. Kerjasama kemudian dilakukan dengan Wavemaster International sebuah perusahaan asal Australia yang biasa membuat kapal ferry aluminium baik lambung tunggal maupun lambung/hull ganda (double hull = catamaran).

BHI mempunyai 2 dok berukuran panjang 160m dengan lebar 30m yang memungkinkan untuk dapat membangun 2 kapal ini secara bersamaan. Dengan dibangun di Malaysia terjadi penghematan 10-12 persen pada biaya pembangunan kapal ini.

Di BHI kapal dibangun dengan tenaga dan konten lokal, modifikasi oleh TLDM dilakukan dengan memperkuat struktur kapal untuk operasi militer dan kemudahan bermanuver di perairan yang dangkal.

Kedua kapal ini ditempatkan di Labuan, masuk ke jajaran skuadron 33 untuk melayani pergerakan pasukan yang cepat ke lokasi yang dibutuhkan dari Sabah dan Serawak.

Wavemaster International

Kapal ferry Wavemaster (photo : Sea Team Images)

Perusahaan dari Australia Barat ini telah berpengalaman lebih dari 50 tahun khusus membangun kapal feri dan feri aluminium berkecepatan tinggi baik dengan konstruksi lambung tunggal maupun catamaran.

Versi sipil kapal ini diberi nama Wavemaster yaitu Wavemaster 3 hingga 9 digunakan sebagai hi speed mono ferry yaitu Wavemaster 3,5 (Langkawi, Malaysia) dan Wavemaster 6,7,8,9 (Singapore).

Ferry dengan panjang 37 meter dapat mengangkut penumpang 170, dengan kecepatan 30 knot, dan draft 1 meter.

Produk Wavemaster lainnya adalah Speedy ferry mono hull dengan panjang 50m dan lebar 9m. Versi ini dapat mengangkut 324 penumpang dengan kecepatan 30 knot lebih.

Produk catamaran dari Wavemaster adalah tipe Nurshah dengan panjang 42 meter, dan lebar 12 meter dengan kemampuan mengangkut 378 penumpang. Yang mencengangkan adalah kecepatan kapalnya yang mampu mencapai 41 knot lebih.

Wavemaster International tutup karena kesulitan keuangan pada bisnisnya di luar Australia pada tahun 2004. Beberapa petingginya kemudian mendirikan Wavemaster Design pada tahun 2010 dengan fokus tetap pada kapal ferry berkecepatan tinggi.

Sri Gaya Class

KD Sri Gaya 331 (photo : TLDM)

Meskipun design awal kapal ini bermula dari kapal ferry Wavemaster namun tampak luar versi militer ini sudah sangat jauh berbeda. Kesan sangar mewarnai kapal cepat pengangkut pasukan ini.

Kapal ini terbuat dari aluminium, bahan yang lebih ringan dari pada pelat baja namun lebih aman dibandingkan fiberglass dan juga hanya perlu perawatan minimal, bahkan crew kapal ini hanya 8-9 orang.

KD Sri Gaya (photo : fnreng)

Tenaga kapal ini diperoleh dari empat waterjet dan empat mesin, namun untuk menghemat bahan baker tidak semua waterjet harus dinyalakan.

Kecepatan kapal ini dapat mencapai 25-28 knot, suatu kecepatan yang terbilang tinggi untuk ukuran kapal angkut pasukan bagi militer.

Kapal yang mempunyai bobot max 116,5 ton ini mempunyai panjang 37,5 m dan lebar 7,2 m dengan kemampuan jelajah kapal ini mencapai 1000 km pada kecepatan 14 knot, kapal ini dapat membawa 32 pasukan bersenjata lengkap plus segala perlengkapannya. Untuk penggunaan ferry mampu membawa orang mendekati versi sipilnya.

Untuk membela diri kapal ini dilengkapi dengan senjata 20mm, bukan tidak mungkin persenjataannya akan ditambah mengingat fungsi strategis kapal ini.

Dengan design modular kapal ini dapat menjalankan multi fungsi : fast troop vessel, light logistic vessel 4x20 feet containers, general cargo, marine ambulance, diving platforms, dan patroli.

Spesifikasi Teknis

Tampak samping Sri Gaya class (image : Secure Malaysia)

Bobot penuh : 116.5 ton
Ukuran (meter) : 37.5 x 7.0 x 1.1 (panjang, lebar, draft)
Mesin : 4 MAN D2842 LE 408 diesel, 4 water-jets Hamilton 521
Kecepatan : 25-28 knot
Jangkauan : 1000 km pada kecepatan 40 knot

Awak : 8-9 orang
Kemampuan angkut militer : 32 pasukan + strores
Radar : Navigation radar Furuno, I-band.

(Defense Studies)

01 Februari 2011

TNI AL Hibahkan KRI Karang Unarang Kepada Kab Sangihe

01 Februari 2011

KRI Karang Unarang 985 (photo : Kaskus Militer)

Jakarta, (Kominfo-Newsroom) Kapal eks KRI Karang Unarang-985 milik TNI Angkatan Laut dihibahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara untuk dijadikan sebagai kapal penumpang yang akan melayani masyarakat di pulau-pulau terluar Tahuna-Kahakitan-Tagulandang-Miangas-Marore dan Manado setiap hari.

Kapal cepat buatan Jerman tahun 1997 telah dioperasikan TNI AL sejak tahun 2006 dengan nama KRI Karang Unarang-985, Setelah dihibahkan kapal tersebut kepada Pemda Kabupaten Sangihe, berganti nama menjadi KM Bawangun Nusa-1.

Menurut Kadispenal Laksamana Pertama TNI Tri Parsodjo, penyerahan hibah kapal tersebut, ditandai dengan penandatanganan berita acara penyerahan kapal oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno dan Bupati Kabupaten Sangihe Drs. Winsulangi Salindeho, di atas KM Bawangun Nusa-1 yang sandar di pelabuhan Tahuna, Kab. Sangihe, Sulawesi Utara, Senin (31/1).

“Acara serah terima hibah kapal tersebut disaksikan Gubernur Sulawesi Utara Dr. Sinyo Harry Sarundajang bersama sejumlah pejabat Pemda setempat,” katanya di Jakarta, Selasa (1/2).
Sementara dari TNI AL hadir Aspam Kasal Laksda TNI Soleman B. Ponto, Pangarmatim Laksda TNI Bambang Suwarto, Kadispenal Laksma TNI Tri Prasodjo serta Komandan Lantamal VIII Laksma TNI Agus Purwoto.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparnomengatakan bahwa penyerahan kapal eks KRI Karang Unarang-985 kepada Pemda Kabupaten Sangihe merupakan bentuk kepedulian TNI Angkatan Laut dalam mendukung sarana transportasi di wilayah perbatasan yang saat ini masih minim.

“Diharapkan dengan beroperasinya kapal KM Bawangun Nusa-1 di wilayah ini, akan dapat membantu kepentingan sarana transportasi bagi masyarakat, sehingga dapat menumbuhkan kehidupan perekonomian,” kata Kasal.

Adapun maksud dan tujuan proses hibah kapal tersebut sejalan dengan peran TNI AL dalam mendukung pembangunan di wilayah perbatasan. Dengan dimilikinya KM Bawangun Nusa-1 oleh Pemda Sangihe, diharapkan proses pembangunan di wilayah kepulauan Sangihe Talaud dapat lebih meningkat. “Ke depan masyarakat di pulau-pulau terluar Provinsi Sulut dapat menikmati sarana transportasi yang melayani pulau-pulau di Sangihe Talaud, hal ini akan mendorong kemajuan pembangunan di wilayah perbatasan khususnya di kepulauan Sangihe,” tambah Kasal.

KM Bawangun Nusa-1 sebagai kapal cepat penyeberangan memiliki panjang 69,8 meter, lebar 10,4 meter, tonage 493 ton. Dengan ukuran tersebut, kapal penumpang ini berkapasitas 1.000 penumpang, 500 kursi, 100 kamar dan 500 kasur cadangan. Setelah acara serah terima kapal, Kasal Laksamana TNI Soeparno beserta para pejabat TNI AL dan Gubernur Sulut Dr. Sinyo Harry Sarundajang melaksanakan peninjauan kapal dan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. (Yr/rm)

02 Oktober 2010

Operational Pause for 2 Amphibious Ships

02 Oktober 2010

HMAS Kanimbla (photo : Militaryphotos)

HMA Ships Manoora and Kanimbla alongside for maintenance

Information provided to the Chief of Navy by the Landing Platform Amphibious (LPA) Sea‑Worthiness Board, an independent body that provides robust governance advice to the Chief of Navy, about platform sea-worthiness and potential risks associated with operating the ship class has resulted in an “operational pause” being initiated for the Navy’s two LPAs, HMA Ships Manoora and Kanimbla.

The Chief of Navy, Vice Admiral Russ Crane AO, CSM, RAN, said while the decision to keep both ships alongside is precautionary, the safety of those on board must come first.

“Our LPAs are a key element of Navy capability, but if their operation has potential to impact on safety then this must be addressed quickly and openly,” VADM Crane said.
HMAS Manoora (photo : Wiki)

Specialist engineers and the Navy’s Sea Training Group will now carry out a closer inspection of each ship’s engineering systems, maintenance arrangements and general condition, to ensure that they can be operated safely and effectively to meet national requirements.

“We will make every effort to get both ships back to sea as soon as possible,” Vice Admiral Crane said. “But we won’t be cutting corners. While I acknowledge the significant effort to improve the state of the LPAs during 2010, the ships will now remain alongside until I am convinced potential problems highlighted by the LPA Sea-Worthiness Board have been addressed.”

The operational pause is not related to the recent small fire on board HMAS Kanimbla. That incident remains under separate investigation.

HMA Ships Manoora and Kanimbla will remain alongside in Sydney until given the all clear.

20 Maret 2010

PT PAL Launching LPD 125 Meter

20 Maret 2010


LPD ke-4 untuk TNI-AL (photo : PAL)

PAL INDONESIA Melaksanakan Launching Kapal LPD 125 Meter Hull No.W000240

PAL INDONESIA melaksanakan launching kapal Landing Platform Dock 125 Meter (LPD 125 M) Hull no W000240 kapal yang ke empat pesanan Kementrian Pertahanan Republik Indonesia. Pemesanan kapal ini merupakan bentuk nyata dukungan Kementrian Pertahanan R.I dalam rangka mendukung kemandirian industri dalam negeri dalam membangun ALUTSISTA.

Kesiapan PAL INDONESIA menerima order ini berdasarkan pengalaman sejak tahun 1980 PAL INDONESIA telah menyelesaikan lebih dari 200 kapal berbagai jenis dan ukuran. Untuk produk kapal Niaga s/d ukuran 50.000 DWT, sedangkan untuk Kapal Perang di antaranya: Kapal Patroli Cepat 14 meter, 28 meter dan Kapal FPB 57 meter dari berbagai versi.dan kapal Landing Platform Dock 125 Meter.

Acara Launching Kapal Landing Paltform Dock 125 Meter pada hari ini, merupakan kapal ke Empat dari dua kapal pesanan Kemhan & Daewoo International Corporation, yang dibuat di PAL INDONESIA. Sedangkan dua Unit kapal lainnya yaitu kapal ke satu dan ke dua dibangun di Korsel.

Kapal Landing Platform Dock 125 M ini dirancang secara khusus untuk mampu dipasang senjata meriam sampai dengan kaliber 57mm dan dilengkapi dengan ruang CIC untuk sistem kendali senjata (Fire Control System) yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan self defence dengan komunikasi kapal ke kapal combatan untuk melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan taktis serta tempur untuk pengendalian pendaratan helicopter.

Kapal ini dibangun dengan kelas Loyd Register + 100A1 dan menggunakan konstruksi dasar ganda (double bottom). Untuk memudahkan manouver kapal ini dilengkapi dengan bow thruster yang berfungsi untuk memecah gelombang. Untuk mengoperasikan kapal ini mesin dapat dioperasikan dari ruang control dan bisa langsung dari ruang mesin serta dilengkapi peralatan rumah sakit darurat dan bisa di fungsikan untuk pertolongan pertama.

LPD ke-3 buatan PT. PAL (photo : PAL)

Adapun kapal LPD 125 M di desain dan dibangun untuk memenuhi tugas operasi di antaranya untuk Landing Craft Carrier (23 meter Class Landing Craft Unit,untuk pendaratan pasukan, operasi amphibi, tank carrier, combat vehicle 22 unit dan tactical vehicle 13 unit, total embarkasi 507 personil termasuk troop carrier 354 troop, crew, guest dan officer), operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana dan helicopter platform samapai 5 unit. Untuk hely jenis Mi-2 atau BELL 412. serta mampu berlayar selama 30 hari secara terus menerus.

Kepercayaan yang diberikan kepada PT PAL oleh Kementerian pertahanan, dan TNI-AL, serta semangat yang tinggi yang dimiliki oleh INSAN PAL disertai koordinasi yang semakin meningkat antara PAL Indonesia dengan Kementerian Pertahanan & TNI –AL, maka pada hari ini telah kita lewati suatu tahapan yang cukup berarti yakni diluncurkannya Kapal LPD 125 M di Galangan PT PAL INDONESIA (PERSERO).

Adapun Ukuran Utama Kapal LPD 125 M :
-Length Over All : 125 MeterLength
-Between Perpendicular : 109,2 Meter
-Breath : 22.00 Meter
-Depth (Tank Deck) : 6.7 Meter
-(Truck Deck) : 11.3 Meter
-Draft Max : 4.9 Meter
-Displacement : 7.300 Ton
-Kecepatan Maximum : 15 Knots
-Endurance days : 30 Days
-Cruising Range : 10.000 Miles
-Max embarcation : 344 Person terdiri dari :
-Crew : 126 Person
-Troops & Guest : 218 Person
-Helicopter : 5 Unit
-LCVP : 2 Unit

Dengan pelaksanaan Launching kapal LPD 125 M ke 4 ini diharapkan di masa yang akan datang kerjasama yang sudah terjalin ini dapat lebih ditingkatkan lagi, sehingga kebutuhan ALUTSISTA Kementrian Pertahanan dan TNI AL dapat dipenuhi di dalam negeri, yang secara langsung turut membangun kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (ALUTSISTA) sekaligus berperan dalam penghematan devisa negara.

Sinergi antara PAL INDONESIA, dengan Kementrian Pertahanan dan TNI-AL, dalam penguasaan teknologi tinggi hendaknya terus dikembangkan tidak hanya untuk pembangunan kapal baru tapi juga di bidang perbaikan dan pemeliharaan kapal-kapal perang R.I dalam rangka ikut mendukung kesiapan kapal untuk tugas operasi menjaga keamanan dan pengamanan perairan wilayah yuridiksi Indonesia.

(PAL)

17 Februari 2010

Mencari Pengganti Inderapura

17 Februari 2010

TLDM tinggal mempunyai satu kapal pengangkut yaitu KD Sri Indera Sakti (photo : Ed Early)

PEMODENAN aset-aset ketenteraan merupakan langkah ke arah mentransformasikan sesebuah pasukan angkatan tentera menjadi pasukan yang seimbang, berwibawa, bersepadu dan bersedia menghadapi cabaran dalam menghadapi sebarang konflik.

Tidak ketinggalan Angkatan Tentera Malaysia (ATM), yang kini semakin giat melaksanakan pemodenan ketenteraan dengan penuh profesionalisme dalam usaha memperkukuhkan lagi struktur angkatannya.

Keunggulan ATM jelas terserlah apabila angkatan itu kini memiliki aset yang kukuh dengan bilangan kapal perang dan pesawat pejuang terbaru.

Perolehan kapal selam KD Tunku Abdul Rahman dalam inventori terkini angkatan itu misalnya menjadikan ATM semakin gah di mata dunia.

Pembelian beberapa aset untuk cabang-cabang perkhidmatan ATM juga amat tepat selaras dengan hasrat angkatan itu untuk menjadi satu organisasi yang cekap dan siapsiaga.

Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) misalnya sedang berusaha untuk membuat perolehan baru untuk keperluan operasi kerana faktor keusangan kapal-kapal perang yang telah dimamah usia melebihi 25 tahun dan penyerahan sebahagian kapal-kapal ronda sedia ada kepada Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM).

Aset Terkini

KD Lekiu frigat serbaguna milik TLDM (photo : A. Zainul)

Justeru, TLDM kini giat berusaha menambah aset terkini seperti perolehan kapal selam, kapal frigat pelbagai guna, kapal kecil 'Littoral Combatant Ship (LCS)', kapal frigat latihan, kapal penangkis periuk api dan helikopter anti kapal selam demi mempertingkatkan tahap kesiagaan setanding negara jiran.

Sehubungan itu, TLDM sejak lima tahun lalu telah pun merencanakan program memperoleh kapal logistik pelbagai guna terutama bagi melengkapi kegunaan Pasukan Angkatan Bersama (PAB) kerana kapal-kapal sedia ada tidak mampu menampung keperluan tersebut.

Malah, kegunaan mendesak bagi Operasi Fajar mengawasi keselamatan kapal-kapal dagang di Teluk Aden di Somalia menyaksikan TLDM melalui Majlis Keselamatan Negara (MKN) terpaksa mengubah suai kapal kontena Bunga Mas 5 milik MISC Bhd. sebagai kapal bantuan pelbagai guna.

Sehubungan itu, Pameran Udara dan Maritim Antarabangsa Langkawi (LIMA) 2009 yang berlangsung di Pusat Pameran Antarabangsa (MIEC) Langkawi pada 1 hingga 5 Disember lalu dilihat sebagai platform terbaik untuk TLDM mencari aset barunya dengan menjadikan kapal-kapal perang asing yang hadir sebagai panduan.

Kebanyakan kapal asing yang datang berlabuh di Awana Porto Malai di Pulau Langkawi itu merupakan kapal sokongan pelbagai guna (MSS) yang mempunyai pelbagai fungsi dan TLDM dilihat perlu memilikinya sebagai aset ketenteraan negara yang baru.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi berkata, kerajaan sememangnya sedang mempertimbangkan untuk memiliki tiga kapal MSS menjelang 2015 bagi memperkukuhkan kawalan keselamatan di perairan negara.

Langkah itu, katanya, diperkukuhkan lagi dengan kejadian kapal pengangkut milik TLDM, iaitu KD Sri Inderapura yang terbakar ketika berlabuh di Pangkalan TLDM Lumut pada 8 Oktober tahun lalu.
"Jadi ketika ini negara hanya memiliki sebuah kapal pengangkut iaitu KD Sri Indera Sakti dan dengan itu ATM berpendapat negara harus memiliki kapal lain yang mempunyai pelbagai fungsi selain kapal pengangkut," katanya.

Antara kapal perang asing yang hadir memeriahkan segmen maritim sempena LIMA 2009 lalu ialah dua kapal dari Pakistan iaitu PNS Khaibar dan PNS Moawin, ROKS Chungmugong Yi Sun Shin dan ROKS Dokdo dari Korea dan BRP Quezon dan BRP Dagupan City dari Filipina.
Tentera Laut Amerika Syarikat (AS) pula menghantar kapal pemusnah USS Mustin, Singapura pula dengan Formidable, Australia dengan HMAS Glenelg, Thailand (HTMS Songkhla) dan INS Kesari dari India.

Kesemua kapal asing itu mempunyai kelebihan dan kecanggihannya yang tersendiri.
Persoalannya, adakah Malaysia terutamanya melalui TLDM sudah menemui kapal yang sesuai untuk dijadikan aset terbaru pasukan itu bukan sahaja untuk mencari pengganti KD Sri Inderapura tetapi dalam usaha TLDM memiliki sebuah kapal MSS yang canggih dan mencapai tahap dominan bagi mengawasi perairan negara jika berlaku ancaman hebat.

KD Sri Inderapura kini telah musnah dan tidak boleh digunakan lagi akibat kerosakan total dalam kejadian kebakaran itu dan ia seperti sukar diperoleh di pasaran selain faktor alat ganti terlalu mahal.

Adakah TLDM akan membeli kapal baru itu dari Korea Selatan, Jerman atau Perancis bagi menggantikan KD Seri Inderapura. Kerajaan Korea Selatan juga dikatakan bersedia memberi sebuah kapal pendarat sebelum kapal baru disiapkan.

Ahmad Zahid berkata, kerajaan akan membuka tender termasuk di peringkat antarabangsa untuk membuat penilaian mengenai harga, reka bentuk dan spesifikasi kapal sebelum membuat pembelian.

"Buat masa ini kita juga telah menghantar pegawai ke beberapa negara untuk meninjau dan membuat penilaian mengenai kapal tersebut," katanya.

Menurutnya, jika tiada sebarang masalah, kemungkinan kerajaan akan memulakan pembelian kapal menggantikan Inderapura pada pertengahan tahun ini.

Dalam Rancangan Malaysia Kesembilan (RMK-9) sememangnya sudah ada perancangan ATM untuk memiliki kapal MSS bagi menyediakan keperluan ketiga-tiga perkhidmatannya dalam sesuatu misi.

Selepas tragedi kebakaran yang menimpa KD Sri Inderapura, hanya dua kapal logistik iaitu KD Sri Indera Sakti dan KD Mahawangsa yang tinggal dan situasi ini sangat meruncing untuk mengatur gerak keperluan-keperluan semasa yang sangat mendesak.

Sebagai peningkatan terhadap aset sedia ada di samping memperkasakan keupayaan mobiliti Angkatan Bersama ATM, kapal MSS sepatutnya berupaya untuk mengangkut pesawat helikopter, kenderaan-kenderaan seperti kereta kebal, kereta perisai dan anggota tentera dalam jumlah yang besar ke lokasi operasi yang dirancang.

Kapal logistik terbesar yang pernah dimiliki TLDM setakat ini ialah KD Sri Inderapura.
Kini, sudah tiba masanya negara memiliki sekurang-kurangnya sebuah kapal sokongan pelbagai guna atau MSS ke arah mengoptimumkan keupayaan pertahanan negara.

Walaupun bebas dan selamat daripada ancaman musuh, negara masih memerlukan peralatan dan kelengkapan yang gah. Jika tidak, negara akan ketinggalan dalam aspek kecanggihan teknologi perkapalan terkini.

Sekiranya perkara demikian tidak diambil kira, tidakkah negara luar akan melihat Malaysia masih menggunakan kapal lama dalam usaha menjaga perairan negara sekali gus beranggapan negara tidak serius dan mengambil ringan aspek keselamatan perairan negara.

09 September 2009

Tujuh Nomad Sementara Di-Grounded

09 September 2009

Nomad N24 TNI-AL (photo : Jetphotos)

Tujuh Nomad Sementara Tak Boleh Terbang

Terhalang kabut asap akibat kebakaran hutan, evakuasi pesawat diundur.
TNI AL memutuskan tidak mengoperasikan tujuh pesawat Nomad yang kondisinya masih laik terbang. Perintah diamanatkan Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno menyusul jatuhnya Nomad P-837 di Kecamatan Sekatak Bengarai, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, dua hari lalu.

"Diperintahkan tidak terbang sementara waktu," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma Iskandar Sitompul di Jakarta, Selasa (8/9). Matra Laut memiliki 19 Nomad yang masih dapat dioperasionalkan. Tapi keterbatasan anggaran membuat hanya delapan unit yang saat ini dinyatakan sudah laik terbang, termasuk pesawat naas itu.

Iskandar mengatakan, saat ini tim investigasi TNI AL masih penyelidiki penyebab jatuhnya pesawat. Laporan awal pilot ke Tower Bandara Tarakan memang mengindikasikan adanya kerusakan mesin pada pesawat buatan Australia tahun 1982 itu.

Dari lokasi jatuhnya pesawat dilaporkan, proses evakuasi bangkai pesawat akhirnya diundur. Pasalnya, Bandara Juwata di Tarakan, Kaltim tengah diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan. Menurut Komandan Pangkalan TNI-AL (Danlanal) Tarakan, Letkol Laut (P) Bambang Irwanto, proses evakuasi Tim Salvage atau Search and Rescue (SAR) dari Armada RI Kawasan Timur (Armatim) yang berada di Surabaya, Jawa Timur seharusnya sudah mulai tiba di Tarakan Selasa (8/9). Evakuasi bangkai pesawat Nomad dijadwalkan Rabu (9/9), hari ini.

Nomad TNI-AL dalam suatu atraksi udara (photo : TNI-AL)

"Untuk menuju ke Sekatak melalui Tarakan. Karena kondisi bandara di Tarakan berkabut asap evakuasi terpaksa diundur," kata Irwanto kemarin. Proses evakuasi tim Salvage akan melalui perairan dengan menggunakan speed boat dari kota Tarakan menuju Sekatak, Bulungan.

Siaran pers Dinas Penerangan TNI AL menyatakan seluruh korban sembilan orang telah dievakuasi ke Tarakan oleh Satuan Tugas SAR, termasuk lima korban selamat. Mereka telah berada di Rumah Sakit TNI AL Tarakan untuk mendapatkan perawatan intensif. Empat korban meninggal dalam proses penyerahan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Di Istana Negara, Presiden SBY menyampaikan bela sungkawa atas tewasnya empat penumpang sipil dalam peristiwa jatuhnya pesawat intai TNI Angkatan
Laut di Sungai Sukun Mentadan, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan,
Kalimantan Timur, Senin (7/9) siang. n Rusli/Rizky Andriati Pohan/Adhitya Cahya Utama

(Jurnal Nasional)

15 Juni 2009

Bunga Mas Lima TLDM Awasi Perairan Teluk Aden

10 Juni 2009
Bunga Mas Lima saat diluncurkan (photo : Militaryphotos)

TENTERA Laut Diraja Malaysia (TLDM) melakukan pelbagai inisiatif dalam usaha mencari penyelesaian untuk melindungi kapal-kapal dagang Malaysia terutamanya kapal milik MISC Bhd. yang melalui perairan Teluk Aden, Somalia.


Usaha ini juga ekoran daripada berlakunya rampasan dua buah kapal milik MISC iaitu Bunga Melati Dua dan Bunga Melati Lima di perairan Teluk Aden pada tahun lalu. Selain itu juga TLDM turut mengendalikan Operasi Fajar sejak 29 Ogos tahun lalu bagi melindungi kapal-kapal dagang Malaysia. Sehingga kini TLDM telah menghantar lima buah kapal iaitu KD Lekiu, KD Sri Inderapura, KD Mahawangsa, KD Sri Indera Sakti dan KD Hang Tuah dalam menyokong misi tersebut.

Operasi yang telah melalui fasa keempatnya di mana kapal KD Sri Inderapura dipertanggungjawabkan menjaga perairan dan kapal-kapal dagang Malaysia akan berakhir 20 Jun nanti.

Berdasarkan kepada penilaian ancaman lanun di kawasan tersebut, penugasan ini dijangka akan berlarutan ke satu tempoh yang tidak dapat dipastikan.
Pelaksanaan operasi yang akan berlarutan ini telah menjejaskan keupayaan pengoperasian TLDM akibat daripada kekangan aset dan ketiadaan peruntukan yang khusus untuk melaksanakan operasi 'ad hoc' ini.

Selaras dengan kerumitan dan ancaman lanun yang sering berlaku di perairan Teluk Aden, MISC Berhad, dengan kerjasama TLDM dan Majlis Keselamatan Negara (MKN), telah berjaya mengubahsuai kapal kontena Bunga Mas Lima (BM5) kepada sebuah kapal auxiliary (bantuan dan tugas-tugas khas)TLDM bagi tujuan mengiringi dan melindungi kapal-kapal MISC yang melalui Teluk Aden.
Pengubahsuaian ini juga berikutan insiden rampasan dua kapal MISC, Bunga Melati Dua dan Bunga Melati Lima.

BM5 ialah sebuah kapal kontena bersaiz 699 TEU dan kapal dagang pertama di Malaysia yang diubahsuai sebagai sebuah kapal auxiliary TLDM. Kerja-kerja pengubahsuaian telah dijalankan oleh Malaysia Marine and Heavy Engineering Sdn. Bhd. (MMHE), anak syarikat MISC, di limbungan kapal MMHE, Pasir Gudang, Johor.

Melalui pengoperasian BM5, kapal tersebut dikenali sebagai kapal auxiliary TLDM. Sejajar dengan perkembangan ini, KD Sri Inderapura yang kini bertugas di Teluk Aden akan kembali ke Malaysia pada akhir bulan Jun nanti dan tugasnya akan diambil alih oleh BM5.

Berdasarkan undang-undang antarabangsa, kapal auxiliary adalah kapal selain dari kapal perang yang dimiliki atau di bawah kawalan pemerintahan tentera. Ia dioperasikan oleh kerajaan dan diberi keistimewaan 'sovereign immunity'.
Kapal auxiliary TLDM dianggotai oleh krew MISC dan anggota tetap Angkatan Tentera Malaysia (ATM). Kesemua krew MISC telah diserap sebagai anggota Pasukan Simpanan Sukarela TLDM (PSSTLDM) dan telah menjalani latihan asas ketenteraan.
Bunga Mas Lima akan memulai perjalanannya (photo : Militaryphotos)



Krew MISC akan menjalankan urusan navigasi dan senggaraan terhadap kapal manakala pegawai dan anggota TLDM yang berada di kapal pula bertanggungjawab bagi semua operasi yang melibatkan keselamatan.

Bagi MISC, projek pengubahsuaian dan pengoperasian kapal BM5 membuktikan komitmen syarikat tersebut terhadap keselamatan para pekerja serta kapal-kapal MISC terutama dari segi ancaman lanun yang semakin meningkat juga membahayakan operasi MISC di Teluk Aden.


Bagi TLDM pula, konsep pengoperasian kapal auxiliary TLDM merupakan salah satu komponen penting dalam merealisasikan hasrat dan impian negara khususnya ATM yang mengamalkan konsep Pertahanan Menyeluruh seperti yang terkandung di dalam Dasar Pertahanan Negara.


Majlis pengoperasian kapal auxiliary TLDM telah diadakan di limbungan kapal MMHE di Pasir Gudang baru-baru ini bagi meraikan kejayaan projek pengubahsuaiannya.


Turut hadir di majlis tersebut adalah Timbalan Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Dr. Abdul Latif Ahmad; Panglima Tentera Laut, Laksamana Datuk Sri Abdul Aziz Jaafar dan Ketua Pegawai Eksekutif MISC Berhad, Amir Hamzah Azizan dan Pegawai Memerintah BM5 dari PSSTLDM, Komander Ahmad Zaki Abdullah.

Sementara itu, Abdul Aziz dalam ucapannya berkata, sehingga kini TLDM telah membelanjakan lebih daripada RM48.5 juta untuk menjayakan misi nasional ini.
Menurutnya, berdasarkan kekangan-kekangan yang timbul, TLDM akhirnya membentuk satu perkongsian strategik dengan MISC untuk mencari penyelesaian jangka panjang dengan menyerapkan salah satu kapal MISC ke dalam inventori TLDM bagi melaksanakan operasi memantau dan menjaga kapal-kapal dagang Malaysia di perairan Teluk Aden, Somalia.

Bunga Mas Lima akan diikutkan dalam Operasi Fajar di Teluk Aden (photo : Militaryphotos)

"Pada hakikatnya, konsep kapal auxiliary TLDM bukan suatu perkara baru dan ia telah wujud sejak perang dunia yang pertama. Sejarah Malaysia telah menunjukkan bahawa semasa perang dunia yang kedua, kesemua kapal-kapal dagang yang dimiliki oleh Tanah Melayu pada ketika itu, Singapura dan Hong Kong telah diubahsuai ke kapal dagang bersenjata melalui pewartaan authority of shipping di antara pihak admirality dan Kementerian Pengangkutan di London," katanya.

Abdul Aziz berkata, konsep kerjasama antara TLDM dan syarikat perkapalan negara yang wujud sejak sekian lama ini masih lagi diteruskan oleh kebanyakan negara membangun terutamanya negara-negara kuasa besar maritim.
Katanya, ia bertujuan memastikan agenda pembangunan negara dapat diteruskan baik semasa aman mahupun konflik.

Beliau berkata, berdasarkan kepada konsep tersebut, TLDM bersama-sama MISC telah mencari jalan alternatif dalam mencari penyelesaian terbaik dalam mempertahankan aset-aset berkepentingan negara di perairan Teluk Aden.
"Perbincangan berterusan antara kedua-dua pihak telah membuahkan hasil apabila kapal BM5 telah dipilih untuk menjayakan rancangan ini.

"Kini, kapal tersebut telah diubahsuai dan bersedia sebagai sebuah platform yang bersesuaian untuk melaksanakan operasi ketenteraan ini," jelasnya.
Tambahnya lagi, antara penambahan dan pengubahsuaian yang telah dilaksanakan adalah seperti berikut:
1. Penukaran warna kapal mengikut spesifikasi warna kapal TLDM
2. Penambahan kemudahan untuk menempatkan anggota ATM
3. Penambahan ruang senjata ringan
4. Penambahan ruang komunikasi dan perubatan
5. Kemudahan tapak pendaratan helikopter dan bot untuk kegunaan pasukan elit TLDM.

Jelasnya, kapal auxiliary TLDM akan diletakkan di bawah pemerintahan TLDM di mana pegawai memerintah BM5 bertanggungjawab ke atas pengendalian dan pengoperasian kapal manakala tugasan operasi dan keselamatan Operasi Fajar di bawah tanggungjawab pasukan ATM yang ditempatkan.

Katanya, BM5 ini juga akan dilengkapi dengan peralatan-peralatan seperti Helikopter Super Lynx dan Bot Tempur yang akan dianggotai oleh anggota tetap ATM dari KD Panglima Hitam, pasukan udara TLDM, pasukan bantuan TLDM dan pasukan perubatan ATM bagi melaksanakan operasi defensif mahupun ofensif jika diperlukan.

(Utusan Malaysia)

21 Mei 2009

KRI dr. Suharso-990, Rumah Sakit Terapung TNI AL

8 Agustus 2007
KRI dr Suharso (990) TNI Angkatan Laut (photo : TNI-AL)

Kapal perang dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) jenis Bantu Angkut Personel (BAP) KRI Tanjung Dalpele-972 akan berubah nama menjadi Kapal Rumah Sakit TNI AL yang diberi nama KRI dr Suharso-990.

Kesiapan untuk menjadi kapal rumah sakit ini tengah dituntaskan Koarmatim meliputi mengecatan perubahan nama kapal di lambung kapal serta pemberian tanda palang merah dengan dasar putih yang akan di lambung dan di atas siap mengemban misi kemanusiaan.

Kapal memiliki panjang keseluruhan 122 meter, daya angkut sebesar 11.300 ton, berbobot mati 2480 ton dan kecepatan maksimum 15 knot. Disamping itu juga memiliki ciri khas lain yakni berupa Dockwell yang dapat dijadikan sebagaimana layaknya dock terapung untuk dua buah LCU-23M. Mobilitas kapal ini cukup tinggi karena dilengkapi dengan Stern Ramp dan Side Ramp. Selain itu kapal tersebut dilengkapi dengan fasilitas kesehatan mulai dari Ruang Bedah, Poliklinik, Penunjang Klinik hingga Fasilitas Tempat Tidur dan Ruang Perawatan. Fasilitas akomodasi di kapal ini dirancang untuk mampu menampung 75 orang ABK, 65 orang tenaga para medis, 40/100 orang pasien dalam keadaan darurat dan 400 orang pasukan.

Sebagai Rumah sakit terapung KRI dr Suharso-990, sebelumnyamemiliki nama KRI- Tanjung Dalpele 972 yang tergabung sebagai unsur Satuan Kapal Amphibi (Satfib) Komando Armada RI Kawasan Timur, kapal ini diproduksi Daesun Korea Selatan, dan tiba di Indonesia (Surabaya) tanggal 21 September 2003.

Disamping itu juga Rumah Sakit Terapung KRI dr.Suharso-990 memiliki ciri khas lain seperti memiliki dua Helli Pad yang mampu menampung 2 buah Helicopter secara bersamaan juga dilengkapi dengan meriam 57mm dan 2 unit senjata Metraliur serta memiliki Dockwell yang dapat dijadikan sebagaimana layaknya dock terapung untuk dua buah LCU-23M.

Eks KRI Tanjung Dalpele (972) TNI Angkatan Laut (photo : Kaskus Militer)
Nama kapal perang rumah sakit dr. Suharso-990 adalah merupakan nama yang diambil dari nama salah satu dokter yang banyak berjasa perjuangan Ia dokter pejuang dan dokternya para pejuang. Sebagai dokter Palang Merah , ia terjun ke medan juang merawat penderita yang cedera dalam pertempuran. Para penderita itu banyak yang sudah kehilangan tangan atau kaki, menjadi orang cacat untuk selama-lamanya. Untuk meringankan penderitaan mereka, dokter Suharso berupaya membuat tangan dan kaki tiruan.

Dokter kelahiran desa Kembang, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada tanggal 13 Mei 1912, ini sungguh merasa kasihan melihat keadaan para pejuang yang cedera dalam pertempuran itu. Dalam benaknya timbul tekad untuk menolong mereka. Jangan sampai orang-orang yang cacat itu merasa tidak berguna dan menjadi sampah masyarakat. Mereka tidak boleh kehilangan harga diri.

Atas pengabdiannya, ia pun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No.088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973 . Ia memang seorang pejuang. Semenjak menyelesaikan studi di AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) Bagian B di Yogyakarta, lalu melanjut ke Nederlandsch Indische Artsen School di Surabaya dan lulus sebagai Indisch Arts tahun 1939, ia bekerja sebagai asisten di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Surabaya. Karena bertengkar dengan seorang suster Belanda, ia dipindahkan ke Sambas (Kalimantan Barat). Di sana ia bertugas sampai saat Jepang mendarat di Indonesia .

Ada yang unik terhadap tampilan luar Kapal Rumah Sakit dr. Suharso ini, dimana gambar Red Cross mera putih atau biasa kita kenal sebagai ciri atau lambang Palang Merah terpampang besar dilambung kiri dan kanan kapal rumah sakit ini sebagai ciri khas rumah sakit terapung TNI AL.

Kapal Rumah Sakit ini merupakan kapal yang dapat difungsikan untuk penanganan korban bencana alam, operasi kemanusiaan lainya serta kapal yang difungsikan sebagai kapal penanganan korban perang .

05 Mei 2009

Daewoo International to Export 4 Warships to Indonesia

21 Desember 2004
Makassar class-landing platform dock (photo : Kaskus Militer)

Staff Reporter Daewoo International Corp, a major Korean trading company, said Tuesday it has signed a $150-million contract to provide four warships to the Indonesian navy in what is viewed as a major step in boosting its presence in the naval technology business in Southeast Asian countries.

The four warships _ three common landing platform docks (LPDs) and a command ship will be exported to Indonesia from January for use by its navy in warfare and practice missions, the firm said.

The LPD is designed to transport troops into a war zone by sea using landing craft. It embarks, transports and lands soldiers and landing craft and can also be used for landings by helicopters. Daewoo International said in a statement that the contract was a result of the know-how and capabilities it and its partners have built up in the military ship business. South Korea’s Dae Sun Shipbuilding & Engineering has manufactured two of the LPDs and will give technological support to Indonesian firms for the building of the remaining two, Daewoo said. LPDs are emerging as key military items for Southeast Asian countries for enhancing naval defense capabilities, Daewoo International said, adding it expects mega deals from other nations in the coming months. Daewoo International has been playing a bridging role between South Korean shipbuilding firms and the Indonesian navy for exports of naval technology.

The firm signed a contract worth $50 million in 2000 to provide a multi-purpose hospital ship and tug boats to the Indonesian navy. In 2003 it won a $60-million Indonesian military project to enhance submarine facilities and naval warfare capabilities.

(Korea Times)

TNI Angkatan Laut Mendapat Hibah Tujuh Kapal

9 Agustus 2004

KRI Tanjung Nusanive (973) eks KM kambuna (photo : TNI-AL)

TNI Angkatan Laut mendapatkan hibah dua kapal dari PT Pelni dan lima kapal feri dari ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan). Rencananya, dua kapal hibah dari PT Pelni itu akan dijadikan kapal angkut pasukan. Sedangkan lima kapal sisanya akan dialih fungsikan untuk kapal angkut logistik jarak pendek.

"Kapal-kapal itu masih dalam proses penghibahan untuk dijadikan kapal TNI Angkatan Laut," kata Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Bernard Kent Sondakh, di dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Kamis (19/8). Pernyataan Bernard itu diucapkan usai serah terima jabatan Panglima Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer) dari Laksamana Muda Djoko Agoes Hanoeng ke Laksamana Pertama Muryono, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Komando Armada RI kawasan timur. Djoko akan menjabat sebagai Komandan Kepala Staf dan Komando TNI Angkatan Laut.

Menurut Bernard, kapal-kapal yang akan dihibahkan itu masih dalam proses pengecatan kembali. Namun, dua kapal hibah dari PT Pelni, yakni KM Rinjani dan KM Kambuna direncanakan akan melakukan pelayaran perdana 10 September mendatang dari Jakarta ke Surabaya.

Pada kesempatan itu, Bernard mengungkapkan penghargaannya atas bertambahnya alokasi anggaran untuk TNI pada RAPBN 2004/2005. "Hal itu bagus karena anggaran Angkatan Laut akan naik secara signifikan," kata dia. Menurutnya, bertambahnya anggaran untuk Angkatan Laut itu sangat membantu TNI AL untuk mengamankan wilayah laut Indonesia.

Sejauh ini, menurut dia, hasil patroli terkoordinasi antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura untuk mengamankan selat Malaysia sudah menunjukan hasil yang signifikan. "Beberapa kali kita sudah menenggelamkan kapal-kapal perompak. Jumlah perompak sendiri sudah menurun," katanya.

(TempoInteraktif)